You Are My Life [1.2]

YOU ARE MY LIFE

Title                 : You Are My Life Part 1

Author             : TAEMhanNIE (Hanny Wijaya)

Cast                 : Lee Taemin, Kim Taeyeon

Support Cast   : Sunny, Lee Jinki, Shin Minri & other cast

Length             : Two shot

Genre              : Family, life, sad

Rating             : G

Summary         : I promise. I’ll be there for you. Forever. I’ll never leave you alone in here.

Kim Taeyeon POV

“Oppa, kembalikan bukuku!”

“Ambil sendiri kalau bisa!” teriaknya sambil menjulurkan lidahnya mengejekku. Kibum oppa, dia adalah oppa paling nakal yang kumiliki. Tapi, aku benar-benar menyayanginya. Aku tidak mau berpisah dengannya. Tidak akan pernah.

###

Kim Taeyeon POV

Ya, semuanya sudah siap. Dengan hati gembira aku melangkahkan kakiku ke ruang keluarga. Kibum oppa akan mengajakku ke bukit kecil dekat rumahku. Aku senang sekali. Kibum oppa memang jarang sekali mengajakku bermain atau jalan-jalan. Jadi, kali ini aku sangat gembira saat tahu bisa berjalan-jalan dengan oppa tersayangku ini. Tapi… Siapa mereka? Di ruang keluarga aku melihat appa dan umma sedang berbicara serius dengan seorang lelaki berjas hitam yang menurutku sedikit misterius. Sedangkan di sebelah umma duduk Kibum oppa. Kibum oppa hanya menundukkan kepalanya. Karena aku sangat penasaran, aku memutuskan untuk mendekati mereka.

“Umma, appa. Siapa ahjussi ini?”

“Taeyeon, dia adalah keluarga Kibum oppa.” Appa menjawab pertanyaanku dengan suara lembutnya yang tenang. Sedangkan umma tampak ingin menangis.

“Keluarga oppa? Apa maksudmu appa? Bukankah kita ini keluarga oppa?”

Tapi, appa maupun umma tidak menjawab pertanyaanku. Tapi, tiba-tiba Kibum oppa berdiri dan menatap ke arahku lembut.

“Taeyeon-ah, kita memang keluarga. Aku adalah oppamu. Tapi, kita ternyata bukan saudara kandung.” Kibum oppa menjelaskan semuanya dengan tenang. Tapi, pikiranku yang masih kanak-kanak belum bisa mengerti apa yang dijelaskan Kibum oppa. Karenanya, aku bertanya sekali lagi.

“Oppa, apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti.”

Kibum oppa meghela nafas panjang saat mendengarkan pertanyaanku ini. Tapi, akhirnya dia menjawab.

“Mungkin kamu sekarang masih belum mengerti, Taeyeon. Tapi, oppa yakin suatu hari nanti saat kamu sudah mulai dewasa, kamu akan memahaminya dengan baik.”

###

Kim Kibum POV

“Oppa, apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti.”

Aku menghela nafas. Bagaimana caranya menjelaskan situasi ini kepada anak berusia empat tahun?

“Mungkin kamu sekarang masih belum mengerti, Taeyeon. Tapi, oppa yakin suatu hari nanti saat kamu sudah mulai dewasa, kamu akan memahaminya dengan baik.”

Setelah mendengarkan penjelasanku yang satu ini, dia menganggukkan kepalanya.

“Ya sudah, aku akan membawa Kibum pergi.” Ahjussi yang mengaku sebagai utusan ayah kandungku berdiri dan menarik tanganku untuk pergi dari rumah yang kutempati selama 6 tahun ini. Aku hanya mengikutinya pasrah karena memang aku harus pergi.

Sampai di halaman rumah, seseorang keluar dari mobil sedan putih yang kelihatan sangat mewah. Sepertinya dia adalah seorang supir. Lalu pria itu membuka pintu mobil bagian belakang dan mempersilahkan aku untuk masuk. Sedangkan ahjussi utusan ayahku sudah masuk ke dalam mobil. Saat aku ingin masuk ke dalam mobil, tiba-tiba ada yang menahan tanganku.

“Taeyeon…” bisikku lemah.

“Oppa. Oppa sudah janji ‘kan kalau Kibum oppa tidak akan meninggalkan Taeyeon sendiri? Tapi, kenapa sekarang Kibum oppa akan meninggalkan Taeyeon?” kata Taeyeon sambil masih memegang tanganku dengan kedua tangan kecilnya. Matanya yang besar itu menatapku sungguh-sungguh. Kulihat dia sepertinya ingin menangis.

Tapi, aku kemudian menjawab pertanyaan dongsaeng kesayanganku ini, “Tentu saja oppa tidak akan meninggalkanmu. Tapi, sementara ini kita akan berpisah untuk sementara, Taeyeon. Ingat Taeyeon, hanya untuk sementara. Setelah itu, kita akan bertemu kembali dan bermain seperti dulu.”

Setelah berkata demikian, aku mengusap lembut air mata yang telah menetes di sekitar wajah manisnya.

“Kibum oppa janji akan kembali? Janji?” akhirnya dia berhenti menangis dan mengulurkan jari kelingkingnya.

“Janji.”

“Pakailah ini, Taeyeon. Agar kau akan selalu mengingatku.” Aku memberikan kalung berbentuk bintang dan bulan yang sangat kusukai. Taeyeon juga pernah mengatakan kalau dia juga sangat menyukai kalungku ini.

“Tapi, bukankah Kibum oppa sangat menyukainya?” kata Taeyeon sambil mengambil kalung yang kusodorkan padanya.

“Aku yakin kau jauh lebih menyukainya dari pada aku. Maka dari itu, aku mau memintamu untuk menjaganya untukku. Kau mau ‘kan?”

“Ne. Gomawo oppa,” dia lalu tersenyum manis sekali.

“Mungkin sekarang aku harus pergi, Taeyeon-ah. Jaga dirimu baik-baik. Dan, jangan bersedih lagi, ya? Oppa akan segera kembali. Tolong jaga umma dan appa juga selama aku tidak ada. Jangan pernah sekali pun membuat mereka sedih. Kau mengerti ‘kan Taeyeon?”

“Ne, oppa. Aku janji akan menuruti semua perkataan Kibum oppa.”

“Annyeong!” aku mendengar salam perpisahan dari Taeyeon di dalam mobil. Rasanya, aku tidak rela untuk pergi meninggalkannya sendirian. Tapi, aku sama sekali tidak tahu apa yang bisa kulakukan.

###

Kim Taeyeon POV

Kibum oppa sudah pergi. Aku sebenarnya sangat sedih karena kehilangan Kibum oppa. Tapi, aku selalu ingat pada pesan terakhir Kibum oppa yang disampaikannya padaku. Aku tidak boleh bersedih.

###

12 Years Later

Author POV

Seorang namja tampan yang mengenakan seragam Seoul Senior High School (ngarang :>) itu tampak sedang keluar dari dalam mobil. Dia lalu berjalan dengan tenang. Ya, dia tampak tenang sekali. Padahal, beberapa yeoja sekolah itu banyak yang melihatnya tampa berkedip ataupun membicarakannya dengan yeoja lain.

Ya, dialah Lee Taemin. Namja tampan yang digilai hampir seluruh yeoja di sekolah itu. Tapi, tiba-tiba dari arah berlawanan tampak seorang yeoja yang berjalan terburu-buru sambil membawa beberapa buku besar di tangannya.

Lalu… BRUK!

###

Kim Taeyeon POV

Huh… Berat sekali buku-buku ini. Tega sekali Kim Seongsanim menyuruhku membawa buku-buku yang sangat berat ini? Dasar! Dia ‘kan seorang namja. Seharusnya, dia yang membawa buku-buku yang isinya membosankan ini. Bukan aku.

Aku terus saja mengeluh dalam hati. Aku tetap memperhatikan buku-buku di tanganku agar tidak terjatuh. Tapi…

BRUK

Aigo, sakit sekali! Siapa yang sudah aku tabrak, ya? Aku mendongakkan kepalaku untuk melihat orang yang sudah tidak sengaja kutabrak. Seorang namja, dia tampan. Kenapa wajahnya terasa familiar di mataku, ya?

Oh iya, ini LEE TAEMIN. Aku tidak percaya dengan penglihatanku sekarang. Namja paling populer sekaligus paling tampan ini berada di hadapanku sekarang? Apa aku sedang mimpi. Ani, Taeyeon-ah. Kau tidak sedang bermimpi.

Lalu, namja yang tidak sengaja tertabrak olehku ini berkata, “Gwaenchanayo?” katanya ramah.

“Ne. Gwaenchana,” aku lalu mencoba memunguti buku-buku yang terjatuh di lantai. Kulihat Lee Taemin juga membantuku untuk memunguti buku dan juga beberapa kertas yang berserakan. Kulihat dia melihat sampul sebuah buku yang paling tebal di antara buku-buku lain yang kubawa tadi. Lalu, ia berkata padaku sambil menunjukkan buku yang dibawanya.

“Physics is Interesting. Kau suka membaca buku ini?” dia lalu memberikan buku itu padaku.

“Tidak juga. Aku hanya disuruh membawakan buku-buku ini oleh Kim Seongsanim untuk ditaruh di laboratorium. Memangnya kenapa?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya sekedar bertanya,” Dia lalu bangkit sambil membawa beberapa buku besar yang semula kubawa itu.

“Ya! Kembalikan buku itu! Aku sudah bilang ‘kan? Aku harus mengantarkan buku itu ke laboratorium.”

Kemudian, Taemin berbalik dan menatapku dengan tatapan matanya yang sangat teduh. Kenapa sepertinya aku pernah melihat tatapan mata seperti itu, ya? Tapi, di mana?

Setelah terdiam beberapa detik, dia lalu berkata, “Dari pada membawa buku-buku berat ini sendirian. Lebih baik kalau berdua ‘kan?” katanya sambil tersenyum. Aigo! Ternyata benar kata teman satu kelasku. Senyuman Taemin benar-benar membuatku terpesona.

“Kau mau, ‘kan? Ya!”

“Ne?” Aku tidak sadar kalau aku melamun karena melihat senyumannya itu. Aigo! Apa yang telah terjadi padaku?

“Kau mau ‘kan aku membawakan buku-buku ini?”

“Ne. Gomawo,” kataku sambil tersenyum kikuk. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Omo… Apa yang harus kulakukan?

Di dalam perjalanan menuju ke laboratorium, kita saling terdiam. Lalu, namja tampan yang berjalan di sebelahku akhirnya memecahkan keheningan yang tercipta di antara kami.

“Siapa namamu?” katanya sambil menoleh ke arahku.

“Kim Taeyeon imnida.” Jawabku. Dia kemudian tertegun dan terdiam beberapa saat. Apa yang terjadi padanya?

###

Lee Taemin POV

“Siapa namamu?” tanyaku pada yeoja di sampingku.

“Kim Taeyeon imnida.”

Tunggu. Siapa namanya? Kim Taeyeon. Apa dia Taeyeon dongsaengku yang sudah lama kucari? Apa benar dia Kim Taeyeon?

“Ada apa, Taemin-ah?” tanyanya.

“Aniya. Tidak ada apa-apa.” Kataku berbohong. Aku lalu melirik ke arah lehernya. Jika memang dia adalah Taeyeon, dongsaeng kesayanganku. Dia akan memakai kalung pemberianku padanya 12 tahun yang lalu. Sial! Lehernya tidak terlihat karena dia memakai syal. Huft… aku harus mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya.

“Ehmm… Tapi, ngomong-ngomong dari mana kau bisa tahu namaku. Bukankah kita sebelumnya belum pernah saling mengenal?” kataku bingung.

“Mana mungkin aku tidak mengenal namja paling populer di seluruh sekolah ini. Semua yeoja di kelasku selalu membicarakan apapun tentangmu. Aku saja sampai bosan mendengar teman-temanku selalu mengagumimu,” katanya sambil tertawa.

“Oh…”

###

Kim Taeyeon POV

Aku merebahkan badanku yang sudah terasa remuk ini ke kasur kesayanganku. Lee Taemin. Hah… Mengapa aku menjadi selalu memikirkannya, ya?

“Ya! Taeyeon-ah! Sampai kapan kau mau terus melamun? Kau tidak mau makan malam?” suara berat Minho oppa membuat bayangan-bayangan antara aku dan Lee Taemin tadi pagi hilang seketika.

“Ne. Aku akan segera turun, oppa.” Kataku malas sambil berjalan ke arah pintu. Minho oppa adalah sepupuku. Walau pun dia sering mengejekku. Tapi, aku sudah sangat menyayanginya.

###

Kim Taeyeon POV

“Ya! Taeyeon-ah. Kau beruntung sekali bisa bertatap muka langsung dengan Lee Taemin. Oh… Andaikan aku itu adalah kau. Aku pasti tidak akan bisa tidur nyenyak.” Shin Jihyun, sahabatku mulai dari aku kelas 1 terus mengoceh tentang kejadian kemarin yang sudah terjadi padaku.

“Tadi kau bilang. Bagaimana sikapnya, Taeyeon?

“Ya! Jihyun-ah, kau sudah tua, ya? Aku sudah mengatakannya beberapa kali. Tapi, kau terus menanyakan hal yang sama!” bentakku pura-pura kesal.

“Mianhae…” mungkin dia merasa bersalah karena telah membuatku marah.

“Eh, lihat itu!” Jihyun menyenggol tanganku dan menyuruhnya untuk melihat sesuatu. Hah? Itu kan Lee Taemin? Namja yang sedang kami bicarakan. Apa yang akan dia lakukan? Kenapa dia menuju ke arahku dan Jihyun?

Setelah sampai di meja yang sedang aku dan Jihyun tempati. Dengan santainya, dia lalu duduk di sampingku.

“Apa kabar, Taeyeon?” katanya sambil tersenyum manis padaku. Kali ini aku tidak sedang berbohong. Senyumannya sangat maniiiis.

“Aku baik. Ada apa kau kemari?” tanyaku agak gugup karena beberapa pandangan yeoja yang berada di kantin sekolah menuju pada kami.

“Aniyo. Tidak ada apa-apa. Lagian, sepertinya bangku di kantin ini sudah habis,” dia lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin. Memang sih, benar katanya. Semua bangku memang sudah ditempati.

“Oh. Kalau kamu. Siapa namamu?” tanya Taemin pada Jihyun.

“Ah, eh, Shin Jihyun imnida,” Jihyun menjawab pertanyaang Taemin dengan tegang. Pantas saja. Dia kan menyukai namja ini dari pertama masuk sekolah.

“Lee Taemin imnida,” dia mengenalkan dirinya sendiri pada Jihyun. Sedangkan sahabatku ini malah tidak bisa berhenti tersenyum karena ditatap seperti itu oleh Taemin.

“Taeyeon-ah. Ternyata, kau ikut klub musik juga, ya?”

“Ne… Dari mana kau tahu?” aku cukup kaget karena Taemin bertanya seperti itu.

“Oh… Beberapa hari yang lalu. Aku melihatmu mendaftar di klub musik,” katanya sambil tersenyum. Omona! Senyumnya itu membuatku juga ikut tersenyum.

“Oppa… Kau bilang kau akan mengantarku ke perpustakaan hari ini. Apa kau lupa?” seorang gadis tiba-tiba datang ke meja kami dan mengatakan hal itu dengan nada yang manja. Aku jadi tidak suka mendengarnya.

“Ne Sunny. Mianhae, aku lupa,” kata Taemin sambil tersenyum pada gadis yang bernama Sunny itu. Bersamaan dengan itu, dia lalu bangkit dan mengatakan salam perpisahan pada aku dan Jihyun. “Mianhae… Aku harus pergi. Annyeong!” katanya sambil sedikit membungkuk di hadapan kami. Gadis berambut coklat itu langsung menggaet lengan Taemin sambil tersenyum pada kami juga. Apa dia yeojachingunya Taemin? Kenapa aku jadi tidak suka melihat kemesraan mereka? Apa aku menyukai Lee Taemin? Tidak mungkin! Bahkan, baru kemarin kita bertemu secara tidak sengaja.

###

Lee Taemin POV

Gadis manis yang berada di hadapanku ini terus saja meceritakan kejadian-kejadian yang menurutnya menarik yang baru saja dia alami tadi pagi. Aku hanya bisa tersenyum mendengar nada riangnya saat menceritakan semua itu padaku. Kadang, aku menanggapi beberapa ceritanya yang menarik bagiku. Termasuk seperti cerita tentang namja yang dia sukai.

Ya, Sunny adalah adik yang paling kusayangi. Kalau orang yang tidak tahu, pasti mengganggap kami adalah sepasang kekasih. Karena kami sangat dekat satu sama lain. Sunny dan aku sepakat untuk berpura-pura menjadi sepasang kekasih. Mungkin akan terdengar aneh. Tapi, Sunny tidak mau kejadian seperti satu tahun lalu terulang kambali. Dulu, waktu di sekolahnya yang lama, dia menjadi yeoja yang digilai namja-namja di sekolahnya. Dia juga dekat dengan beberapa namja keren yang menjadi incaran banyak yeoja. Akibatnya, dia sering diteror oleh yeoja-yeoja yang tidak menyukainya. Aku tidak mau kejadian itu terjadi pada adikku lagi.

“Oppa, siapa yeoja yang berbicara denganmu di kantin tadi?” tanya Sunny mengagetkanku.

“Ehm… Dia teman baruku,”

“Oppa yakin? Jangan-jangan, oppa menyukainya?”

“Aniya! Aku tidak menyukainya. Kami hanya sebatas teman,” kataku menolak dengan tegas tuduhan Sunny.

“Kalau tidak menyukainya, oppa tidak perlu setakut itu menjawab pertanyaanku ‘kan?”

“Ah… Sudahlah. Aku pulang saja,” aku pura-pura marah agar dia tidak membahas masalah ini terus.

“Oppa… Jangan tinggalkan aku. Jangan marah!” Sunny mengejarku dan terus berteriak memohon. Aku hanya tersenyum mendengar suaranya yang masih terdengar kekanakan.

###

Kim Taeyeon POV

There’s a song that inside of my soul

It’s the one that I’ve tried to write over and over again

I’m awake in the infinite cold

But you sing to me over and over and over again

 

So I lay my head back down

And I lift my hands and pray to be only yours

I pray to be only yours

I know now you’re my only hope

 

Sing to me the song of the stars

Of your galaxy dancing and laughing and laughing again

When it feels like my dreams are

So far, sing to me of the plans that you have for me over again

 

So I lay my head back down

And I lift my hands and pray to be only yours

I pray to be only yours

I know now you’re my only hope

 

I give you my destiny

I’m giing you all of me

I want your symphony

Singin in all that I am at the top of my lungs

I’m giving it backs

 

So I lay my head back down

And I lift my hands and pray to be only yours

I pray to be only yours

I know now you’re my only hope

Suara tepuk tangan membahana ketika aku selesai menyanyikan lagu Only Hope favoritku. Sekarang aku berada di ruang klub musik. Sungguh menyenangkan berada di sini. Kau bisa bertemu dengan orang-orang yang menyukai bakat sama seperti yang kau miliki. Setidaknya, inilah yang kurasakan.

“Hebat sekali, Taeyeon,” kata seorang namja yang berdiri di belakangku. Lee Taemin! Sedang apa dia di sini?

“Ah, gomawo,” aku hanya tersenyum kecil mendengar pujiannya kepadaku. Tidak terasa semburat merah muncul di wajahku saat aku tidak sengaja melihat ke cermin di dekatku.

“Kalau begini terus, kau bisa menjadi penyanyi yang hebat, Taeyeon. Aku tidak berbohong. Suaramu benar-benar bagus.”

Kenapa perkataan Taemin barusan seperti mengingatkanku pada seseorang? Ya. Perkataannya ini seperti perkataan Kibum oppa.

*FLASHBACK*

 

Twinkle-twinkle little stars

How I wonder what you are

Up above the world so high

Like a diamond in the sky

Twinkle-twinkle little stars

How I wonder what you are

Suara tepuk tangan Kibum oppa membahana di rumah pohon kami setelah aku selesai menyanyikan sebuah lagu untuknya.

“Oppa tidak bohong. Suaramu benar-benar bagus, Taeyeon kalau begini terus, kamu bisa menjadi penyanyi yang hebat, Taeyeon. Huh… Pasti menyenangkan memiliki saudara seorang penyanyi hebat. Aku bisa melihat konser-konsermu tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Hahaha…”

*FLASHBACK END*

###

Lee Taemin POV

“Bagaimana kalau kita ke taman di dekat rumahku untuk berlatih lagu baru?” tanyaku pada Taeyeon.

“Hmm… Ok.”

Selama perjalanan, kami berdua berbicara tentang banyak hal. Sebenarnya, aku sudah tidak sabar ingin menanyakan hal yang selama ini sangat ingin kuketahui darinya. Tapi, aku bingung bagaimana cara menanyakannya padanya.

Oke. Aku akan mencobanya. Kalau tidak, aku tidak akan pernah tahu.

“Ehm… Taeyeon,” aku memandang lurus ke arah matanya yang masih menyinarkan sinar kekanakan itu. “Ne?”. Jujur, kali ini aku sangat gugup. Tapi, aku akan mengatakannya.

###

Kim Taeyeon POV

“Ehm… Taeyeon,” Taemin tiba-tiba berhenti dan memandang mataku. Omona! Apa yang akan dia lakukan?

“Ne?” kataku sambil balik memandangnya. Kulihat dia tampak gugup. Keringat bercururan membasahi wajah tampannya. “Apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?”

“Tentu saja,”

Setelah beberapa saat kami terdiam. Dia akhirnya melanjutkan perkataannya, “Apa kau mempunyai seorang kakak?”

Aku terdiam beberapa saat, lalu aku menjawab pertanyaannya, “Ne. Aku memiliki seorang oppa yang sangat kusayangi. Namanya Kim Kibum. Tapi, dia tidak lagi bersamaku. Aku tidak pernah lagi berhubungan dengannya. Aku sangat merindukannya. Hanya kalung ini peninggalan satu-satunya dari Kibum oppa,” kataku sambil menunjukkan kalung yang tersembunyi di balik kemeja T-shirt hitam yang kukenakan. Kulihat, dia sedikit melirik ke arah kalung yang kutunjukkan padanya. Lalu, aku melanjutkan perkataanku, “Tapi, kenapa kau menanyakan hal itu?”

“Aniya. Aku hanya ingin tahu,” katanya sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Aku masih melihat wajahnya. Tunggu! Apa itu? Setetes cairan bening meluncur dari matanya. Dia menangis.

“Taemin-ah. Wae? Kenapa kau menangis?” aku kaget karena melihatnya menangis.

“Aniya. Aku tidak apa-apa. Maaf sudah membuatmu sedih dan mengingat kejadian yang pasti tidak ingin kau ingat lagi,” katanya sambil mengelap kasar air mata yang menetes di wajahnya dengan tangan kirinya.

“Aku juga teringat pada adik tiriku. Namanya sama sepertimu Kim Taeyeon. Aku tidak tahu sekarang dia berada di mana. Tapi, yang pasti, aku sangat menyayanginya. Aku ingin sekali bertemu lagi dengannya. Sama seperti dulu. Bermain, bercanda, dan saling berbagi. Aku selalu memimpikan kalau hal itu bisa terulang kembali. Kalau waktu bisa diputar kembali. Aku janji, aku tidak akan meninggalkannya lagi,”

Air mata Taemin lagi-lagi mengalir di wajahnya. Kuberanikan diriku untuk menghapus air matanya. Aku benar-benar tidak ingin melihatnya bersedih. Kulihat dia kaget karena perlakuanku ini padanya. Aku lalu langsung memeluknya untuk memberikan ketenangan untuknya. Kurasa, aku benar-benar menyukainya sekarang.

###

Lee Taemin POV

“Ne. Aku memiliki seorang oppa yang sangat kusayangi. Namanya Kim Kibum. Tapi, dia tidak lagi bersamaku.”

Hah… Lagi-lagi aku mengingat kejadian seminggu yang lalu bersamanya. Kim Kibum, nama yang diberi oleh umma dan appa saat aku masih kecil. Tapi, sekarang aku adalah Lee Taemin. Aku bukan Kim Kibum yang selalu manja pada umma maupun appa. Aku harus benar-benar berubah. Abeoji pasti tidak ingin kalau aku seperti ini. Tapi, aku sangat ingin memberitahu Taeyeon kalau aku adalah oppanya yang telah berjanji 12 tahun yang lalu akan kembali lagi bersamanya.

###

Author POV

Seorang yeoja manis tampak menunggu seseorang di sebuah taman. Agar tidak bosan, dia mencoba menghafalkan lirik lagu baru yang diberikan oleh namja yang telah ditunggunya sekarang. Sering kali, dia melirik jam tangan merah muda yang melingkar di tangannya.

Beberapa menit kemudian ada seorang namja yang cukup tinggi dan memakai jaket hitam sedikit berlari menghampiri yeoja yang sedang menunggunya itu.

###

Lee Taemin POV

Hah… Sudah jam 10 lebih 5 menit. Lagi-lagi terlambat. Semoga saja Taeyeon masih mau memaafkanku. Kalau tidak semua rencana yang sudah kurencanakan sejak seminggu yang lalu akan hancur berantakan dan aku belum merencanakan rencana baru.

“Taeyeon-ah!” saat aku memanggil namanya, dia segera berdiri dan menatapku tajam.

“Kau tahu ‘kan kalau aku paling tidak suka menunggu, Lee Taemin? Lagi pula masih banyak tugas dari Kim sonsaengnim yang masih belum kukerjakan,” tepat seperti dugaanku. Dia pasti marah karena menunggu terlalu lama. Sedangkan aku hanya bisa tersenyum padanya dan meminta maaf, “Mianhae.”

“Untung saja aku masih bisa bersabar. Kalau tidak, aku sudah meninggalkanmu dari tadi. Hmm… Tapi, hal penting apa yang mau kau bicarakan?

“Ehmm…” lagi-lagi aku harus berpikir keras untuk mengatakannya. Tapi, aku harus mengatakannya sekarang juga atau tidak sama sekali. “Sepertinya kau adalah…” Perkataanku terhenti karena tiba-tiba ada suara ribut yang berasal dari jalan besar dekat bangku yang kami duduki. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Astaga!

###

Author POV

“Minri! Ayo cepat minggir!” Tapi, anak yang dipanggil oleh ummanya itu seakan tidak mendengar teriakan ummanya ataupun orang-orang yang memanggilnya dari pinggir jalan. Truk besar pengangkut material itu masih terus saja berjalan seolah tidak tahu ada seorang anak perempuan yang sebentar lagi akan dilindasnya.

BRUK

“Taemin…” Taeyeon hanya bisa memandang pemandangan di depannya dengan lemas. Kakinya seakan tidak kuat lagi menopang berat badannya. Taeyeon jatuh terduduk di aspal. Air matanya masih meleleh di pipi halusnya.

Ya. Taeyeon telah kehilangan Taemin untuk selamanya. Taemin telah mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan anak perempuan manis bernama Shin Minri.

Tapi, siapa yang menyangka kalau kematian Taemin akan mengubur kisahnya bersama Taeyeon begitu saja?

***To Be Continued***

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

8 thoughts on “You Are My Life [1.2]”

  1. huwaaa~ taemin kenapa mati? padahalkan dia baru mau bilang ke taeyeon kalo dia itu kibum T-T
    Daebak!! lanjut thor! 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s