Him in The Mirror [3.3]

Title: Him in the Mirror [3 of 3]

Author: Bella Jo

Main Cast (Tokoh Utama) : Key, Kareen White (OC)

Support Cast (Tokoh Pembantu) : Imelda White (OC)

Length : sequel

Genre : romance, tragedy, fantasy

Rating :  PG-15

Summary : “Karena kau sudah melepaskanku, kau harus membunuhku, baby boo…”

 

A.N:  Yups, here is the last part, but not least. I hope you’ll enjoy it. This story is original by me. Key is not mine, he’s belong to SM and his family. Not copy it without my permission. And the most important thing is your comment is my oxygen, guys. (sorry for the typos)

HIM IN THE MIRROR [3 of 3]

“…aku mencintaimu, Key… Bukankah kau memang sulit diraih? Tapi …aku …tetap mencintaimu….,” bisik Kareen dalam sebelum kesadarannya hilang.

Seketika Key mendongakkan kepalanya. Matanya membelalak tak percaya. Hatinya yang merasa terkejut bukan main bisa merasakan secercah kebahagiaan. Namun semua kebahagiaan itu berganti dengan ketakutan saat ia kembali mengingat satu hal, caranya keluar dari cermin itu.

Kau hanya bisa keluar dari sana jika manusia yang kau cintai juga berbalik mencintaimu… Cintanya itu harus terungkapkan dengan kata-kata…

 

“Oh, Kareen… Tidak…”

 

Dan di saat bersamaan kau akan memberinya hidup hanya untuk satu hari lagi. Semua energi hidupnya akan terhisap olehmu… Nikmati rasa sakit itu, Key!!!

 

“Kareen….”

 

Sebuah kepulan asap meliputi tubuh Key. Semua bayangan selain dirinya langsung hilang, meninggalkan ruang kosong serba putih. Key tak dapat melihat apapun lagi setelahnya. Tubuhnya serasa melayang untuk sesaat. Tak lama kemudian Key merasakan dingin, namun dingin yang amat berbeda dengan yang biasa ia rasakan. Perlahan matanya yang tak dapat melihat apapun tadi mulai bisa melihat dengan jelas. Hidungnya yang tak bisa membaui pun bisa merasakan aroma kayu tua yang menyelimuti ruangan itu. Key mengerjap, mendapati cermin tempat ia terkurung tadi kini sudah retak menjadi beberapa bagian. Saat Key melihat posisi tubuhnya, ia sedang menjadi bantalan bagi Kareen yang tengah mendengkur pelan dengan nafas teratur. Lelaki itu menggigit bibirnya, menatap wajah anggun gadis yang sudah membebaskannya. Seketika setetes air jatuh dari pelupuk matanya. Dengan segera ia memeluk Kareen semakin erat, menenggelamkan kepalanya dalam cekungan leher gadis itu, merasakan aroma tubuh dan alkohol yang meliputinya.

Sudah lama ia ingin bebas dan keinginannya sudah terkabulkan. Namun ia tidak ingin dengan cara ini. Ia tidak ingin kehilangan gadis yang sudah mengisi ruang kosong dalam hatinya, gadis yang memberikan kehangatan nyata pada tubuhnya saat ini. Gadis itu terlalu rapuh, terlalu berharga jika dikorbankan untuk dirinya. Key ingin mereka berdua tetap bersama, tidak terpisahkan oleh kematian ataupun kenyataan bahwa mereka makhluk yang memang berbeda sejak awal.

“Aku juga mencintaimu, Kareen… Terlalu mencintaimu untuk kehilangan dirimu dalam satu hari….,” bisik Key di telinga Kareen, berharap bisikannya itu bisa sampai ke dalam hati gadis itu. Kareen menggeliat dalam tidurnya. Bibir gadis itu tersenyum, seakan mendengar pernyataan Key tadi. Key mengeratkan lagi pelukannya.

“Hanya ada satu cara untuk menyelamatkanmu, baby boo. Tapi tak ada jaminan pasti untuk keberhasilannya…dan mungkin kau akan berubah membenciku saat kau tau siapa aku….”

****

Hari menjelang pagi dengan sepi. Waktu terus berlalu tanpa sempat berkomentar ataupun menyesal. Matahari belum menampakkan cahayanya, hanya waktu yang menunjukkan pergantian hari. Suara ranting mengetuk jendela membuat Kareen terbangun dari tidurnya.

“A..ah…,” rintih gadis itu tertahan. Kepalanya terasa amat sakit, hang over setelah mabuk kemarin. Badannya juga amat lemas, entah karena apa. Kareen berusaha bangkit dari tidurnya, ia hanya ingin melihat Key yang ada dalam cermin. Semoga Key bisa menyembuhkan rasa sakit gadis itu dengan kehadirannya.

“K..Key..?” Kareen tertegun saat melihat pemandangan di depannya. Ia mengerjap beberapa kali dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun pemandangan di hadapannya tetap tak berubah. Cermin besar yang selama ini begitu dipujanya dengan kehadiran Key di dalam susunan bayangan benda lain itu sudah retak menjadi beberapa bagian. Satu garis panjang menghubungkan diagonal cermin tersebut dengan garis lainnya yang membelah cermin berukuran satu bidang dinding itu. Seketika peluh dingin Kareen mengalir. Key sempat mengatakan kalau lelaki berparas tampan itu akan langsung musnah jika cermin itu rusak. …Jadi?

“Key?!!!” Kareen berlari cepat turun dari tempat tidurnya. Ia menghampiri cermin itu dengan teramat cemas. Pikirannya sudah melayang jauh, membayangkan hidupnya tanpa sosok Key yang diam-diam dicintainya selama ini. Air mata langsung turun dari pelupuk matanya. Pikirannya kacau.

“Memanggilku, baby boo?”

“Key?” Kareen menghela nafas lega. Setidaknya Key masih ada walau cermin itu pecah. Namun di mana? Kareen masih mendekati cermin dengan rasa cemas dan penasaran.

“Jangan dekati cermin itu, baby boo. Kau bisa terluka jika kulitmu tergores…”

Kareen menghentikan langkahnya tepat di depan cermin. Matanya menyapu segala sudut cermin, mencari sosok yang berbicara dengannya tadi. “Kau di mana? Apa yang sebenarnya terjadi? Bertahanlah, mungkin…mungkin aku bisa menyelamatkanmu!!” Pekik Kareen.

“Aku di sini, baby boo…”

Tubuh Kareen tertarik ke belakang. Gadis itu terperangah kaget saat ia merasakan telapak tangan dingin menggenggam tangannya. Ia mendongak ke atas, mendapati Key yang menatapnya dengan mata teduh. Kareen membatu di tempatnya sementara Key tertawa pelan dengan gaya biasanya, “Hey, Kareen White… Merindukanku?”

“Ba..bagaimana… Kau… Di sini… Tangan..mu… sentuh?” Kareen tak mampu merangkai kata-katanya lagi. Key membelai lembut rambut gadis itu, bukan memberikan semacam sengatan lagi pada gadis itu melainkan sebuah sentuhan nyata. Kareen semakin tertegun. Key menggenggam erat tangan Kareen, mengalirkan suhu dingin tubuhnya. Kareen merasakan tangannya bergetar sementara tubuhnya merinding kedinginan. Hatinya berdebar keras, mendapati tangan Key tengah membelai wajahnya, menghilangkan sakit kepala yang tadi menyiksanya.

“Aku juga mencintaimu, baby boo…,” bisik Key di telinga Kareen. Spontan Kareen serasa disambar aliran listrik yang menyengat seluruh bagian tubuhnya, terutama jantungnya. Jantungnya terus berdebar keras sementara wajahnya memerah. Ia menatap kedua mata Key dan mendapati kehangatan serta keseriusan di sana. “A..apa maksudmu…Key?”

“Aku mencintaimu, Kareen White. Sama seperti rasa cinta yang kau lontarkan padaku kemarin malam… Perasaanmu yang mengeluarkanku dari dalam sana….,” bisik Key lagi, kali ini di depan wajah Kareen. Tangannya menangkup wajah tirus gadis jangkung yang masih lebih pendek darinya itu. “Kau yang menyelamatkanku…,” tambahnya.

Seketika air mata Kareen keluar. Ia langsung memeluk erat tubuh Key di depannya. Ia menangis sesenggukan, berusaha mencium aroma Key di tengah tangisnya. “Kau benar-benar nyata, Key… Kau nyata… Aku -aku bisa menyentuhmu…!!” Ucap Kareen girang. Saking semangatnya gadis itu, tubuh Key sampai terdorong jatuh ke belakang. Kareen tetap memeluk Key erat, meluapkan semua rasa bahagianya. Key hanya diam. Sorot matanya tak bisa dibaca. Tangannya bergerak perlahan ke rambut gadis itu, kembali membelainya lembut.

Kareen benar-benar merasakan tubuh Key. Pria yang selama ini dilihatnya dengan batasan cermin, dengan sengatan kecil tiap kali pria itu menyentuh bayangannya kini sudah ada di hadapannya, lebih tepat lagi dalam pelukannya. Key persis seperti yang ia lihat di balik cermin selama ini. Kulitnya pucat, rambutnya kuning emas, tubuhnya tinggi tegap. Hanya saja suhu tubuh Key amat dingin, seperti diterpa angin musim gugur. Tubuh lelaki itu juga agak kaku dan berisi. Entah bagaimana pria itu tetap berpostur tubuh bagus walau tak mengkonsumsi apapun selama berada dalam cermin sana. Kareen mengeratkan pelukannya. Ia tak begitu peduli lagi bagaimana penampilan Key. Yang terpenting adalah lelaki itu sudah bisa ia gapai sekarang.

“Kalau begini… Kita bisa bersama selamanya…,” ujar Kareen di tengah pelukannya. Key diam. Lelaki itu tau Kareen pasti akan berkata seperti itu. Untuk sesaat ia memeluk Kareen seerat mungkin, seakan tidak ingin melepaskan gadis itu untuk selamanya. Ia menghirup aroma tubuh dan rambut Kareen dalam-dalam, seakan ingin menyimpan aroma itu dalam memorinya. Kareen menerima semua perlakuan Key sebagai jawaban ‘ya’. Namun perlahan Key melepaskan pelukannya. Ia menghela nafas panjang, bersiap mengatakan apa yang ada di kepalanya.

“Karena kau sudah melepaskanku, kau harus membunuhku, baby boo…”

DEG

Kareen tertegun untuk ke sekian kalinya hari itu. Matanya membelalak dan perlahan ia melepas Key. Gadis itu mengerutkan kening, menatap Key tidak percaya. “Apa…maksudmu, Key? Kau bercanda, kan?” Tanyanya dengan nada gurau. Ia menyambung ucapannya dengan tawa canggung. Key menatap mata birunya dalam-dalam, menyadarkan gadis itu bahwa ucapannya bukanlah sebuah candaan. Tawa Kareen langsung terhenti.

“Aku serius, baby boo…,” suara Key terdengar lebih berat dari biasanya. Matanya menatap Kareen terus sementara kedua tangannya menangkup wajah gadis itu. “Kau harus membunuhku sekarang juga. Ini semua demi dirimu sendiri.”

“Tapi…kenapa?” Suara Kareen kembali bergetar, menahan semua gejolak di dadanya.

“Karena kau dan aku berbeda. Aku bukan manusia, Kareen. Aku berbeda dari kalian!” Tegas Key. Kareen menggeleng keras, “Itu omong kosong! Tidak mungkin! Kau pasti berbohong padaku!!”

“Kalau begitu kau harus melihatnya sendiri!” Key kembali menahan kepala Kareen dengan kedua telapak tangan lebarnya. Kareen menatapnya dengan tampang kacau. Genangan air sudah membasahi pelupuk matanya. Namun mata gadis itu kembali membelalak lebar saat Key berubah perlahan. Mata merah lelaki itu tampak semakin merah menyala-nyala seperti api. Kuku-kukunya memanjang sementara kulitnya semakin pucat. Dan yang paling mengejutkan Kareen adalah sepasang taring panjang yang keluar dengan kokohnya dari barisan gigi putih Key, menyembul dalam lipatan bibir kemerahannya. Segalanya menjelaskan kenapa suhu tubuh Key di bawah suhu manusia normal, kenapa mata pria itu begitu merah. Semua karena Key BUKAN manusia. Dia…

“Aku VAMPIRE, baby boo…,” dan ucapan Key itu menjelaskan segalanya. Tubuh Kareen menegang kaku saat mendengarnya. “Meskipun aku tak berniat menghisap darahmu sama sekali, energi hidupmu akan terhisap olehku. Waktumu hanya satu hari dan sebelum kau kehabisan lebih banyak energi hidup, kau harus membunuhku….”

“Key…aku…”

Key menyodorkan sebuah pancang kayu dan pisau panjang ke arah Kareen. Gadis itu menerimanya dengan bingung. “Ini, gunakan pancang kayu ini untuk menusuk jantungku. Setelah itu, penggal kepalaku dan bakar di bawah Matahari saat sudah terbit nanti. Dengan begitu, kau akan tetap selamat,” ujar Key cepat, menggenggamkan erat-erat kedua benda itu pada tangan Kareen. Kareen menatap kedua benda itu nanar lalu beralih pada Key yang menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu. Tubuh Kareen terlalu lemas mendengar gumaman Key yang lebih mirip menahan isakan. Kareen hendak berkata-kata, namun ucapannya dipotong Key, “Baby boo…kau harus hidup. Hidupmu masih panjang… Jangan sia-siakan berkah untukmu itu…

“Kaumku sudah banyak yang dimusnahkan oleh kaummu, banyak pula yang dilakukan langsung di depanku… Sekarang giliranmu, Kareen. Hanya kau yang kupercayakan untuk mengambil keabadianku…”

“Tapi, semua kebahagiaan kita baru saja dimulai…,” ujar Kareen tertahan. Bahunya naik turun sementara perih menjalari dadanya. Ini begitu menyakitkan. Seseorang yang kau cintai malah memintamu untuk membunuhnya dengan tanganmu sendiri. Itu jauh lebih menyakitkan dari pada mendapat kabar bahwa orang-orang yang tak tulus mencintainya terbunuh karena kecelakaan. “Tak bisakah…tak bisakah kita menikmati kebahagiaan ini sedikit lebih lama, Key?” Tanya Kareen terbata. Ia masih memegang kaku kedua benda di tangannya. Key menggeleng pelan, “Jika ini berhubungan dengan hidupmu, tentu jawabannya tidak, Kareen…,” ucap Key tegas.

“Kumohon, Key… Tak adakah cara lain? Jikapun hidup, aku ingin hidup bersamamu! Aku tidak butuh cinta palsu yang diberikan oleh mereka yang hanya melihat fisikku! Yang kubutuhkan hanya dirimu, Key!” Pekik Kareen. Ia memukul pelan dada Key dengan kepalan tangannya, menyampaikan rasa tak rela yang menyebar di hatinya. Key tak melawan. Ia hanya menggapai lagi wajah Kareen dan mengecup keningnya, “Hiduplah…untuk bagianku juga…,” bisiknya. Seketika gerakan Kareen terhenti dan Key menggunakan kesempatan itu untuk menempelkan pancang kayu yang digenggam Kareen semakin dekat ke dadanya. Key tersenyum lemah sementara Kareen baru mulai menyadari situasinya.

“Aku mencintaimu, baby boo…,” bisik Key penuh perasaan. Ia semakin menekankan pancang kayu itu ke dadanya dan mata Kareen membelalak lebar.

“TIDAAAAKKK!!!”

Jarum jam terus berputar, tak membiarkan sedetik pun waktu terlewatkan olehnya. Angin mengetuk jendela dan menghembus atap. Suara kayu bertimpaan dan harum cemara menyelimuti ruangan. Waktu tak pernah mau berhenti walau hanya untuk sekedar mengucapkan ‘hai’ dan ‘selamat tinggal’. Aroma cemara digantikan aroma anyir darah yang membuat perut mual, sekaligus membangkitkan sebuah nafsu yang bergejolak menggelitik perut. Gejolak itu semakin membakar, membuat si empunya membuka mata dan mendongakkan kepala, menatap kejadian sekitar yang terlewatkan oleh mata dan hidung tajamnya. Nafasnya perlahan memburu, memberikan sedikit tekanan agar pengendalian dirinya tak lepas dengan apa yang telah menggoda jiwanya.

“Ada cara lain, Key… Kau vampire, kan? Gigitlah aku dan aku akan menjadi bagian dari dirimu…”

Pria pirang itu mendapati pancang kayu yang tak lagi digenggamnya kini sudah berada jauh di sudut ruangan. Sementara gadis yang sejak tadi duduk di pangkuannya tengah berlutut dengan kulit lehernya teriris tipis oleh tajamnya pisau panjang yang tadi digenggamnya. Key terhenyak dengan kedua mata merahnya sementara si gadis tersenyum. Gadis itu menangkup kedua sisi wajahnya dan membiarkan wajah sempurna itu mencium lekat lehernya yang sudah meneteskan darah.

“Jadikan aku bagian dari hidup vampire bahagiamu itu juga, Key… Dan kita akan tetap bersama…,” bisik Kareen dengan tubuh memeluk lemas pria di hadapannya.

Tanpa sadar aroma itu terus mengaduk perut dan nafsu Key, membuatnya terbakar oleh keinginan mencicipi kembali cairan merah pekat itu setelah ratusan tahun lamanya, mengembalikan kembali jati dirinya sebagai makhluk malam yang selalu haus akan sumber energi kehidupannya satu itu. Ia meneguk liurnya saat aroma dan cairan yang kini sudah membasahi wajahnya itu menariknya jauh lebih dalam pada rasa lapar. Ia menginginkannya, menginginkan cairan itu masuk ke dalam mulutnya dan melewati kerongkongannya, memberikan sensasi terbakar seperti meminum sebotol rum yang dicampur ekstasi. Namun kesadaran Key masih ada walau semakin tipis. Ia masih menahan diri saat sadar gadisnyalah yang menebar aroma yang membuat dahaganya semakin tinggi itu.

“Kau akan membenciku setelah ini, baby boo…,” bisiknya.

“Rasa benci itu akan kembali berubah menjadi cinta jika itu untukmu. Sekarang telanlah darahku…dan…gigitlah aku…”

Kareen semakin mengeratkan pelukannya. Key merasakan darah Kareen secara tak sadar dan hal itu membuatnya kehilangan kendali. Matanya semakin merah menyala sementara taringya menyembul gagah keluar. Dengan sekali gerak, kedua benda setajam pisau itu merobek kulit leher Kareen semakin lebar, membiarkan darah mengalir deras keluar dari pembuluh darah gadis itu. Sementara darah yang masuk ke kerongkongan Key semakin banyak, semakin banyak pula bisa yang masuk ke tubuh Kareen, bisa yang membuat tubuh gadis itu menggelepar sakit sebagai reaksi. Bisa itu bagaikan racun yang menyebar, mengalir masuk ke jantung Kareen dan terpompa kembali ke pembuluh darah yang lain. Perlahan sel-sel tubuhnya berubah, bereaksi cepat dengan racun yang menyebar. Key menghisap cairan itu kuat-kuat, memenuhi mulut dan kerongkongannya dengan semua cairan nikmat itu. Beberapa tetes darah luput dari jilatan lidahnya, mengalir jatuh mengikuti garis leher gadis itu.

Tubuh Kareen menengang sakit. Tubuhnya serasa terbakar dan tercabik sementara energi hidupnya serasa tersedot habis. Segala rintihan keluar dari bibir merah pucatnya. Namun semua tak berpengaruh bagi pria yang tak lagi sadar siapa yang sedang dihadapinya. Erangan Kareen semakin kuat dan panjang, menggema di satu ruangan itu. Tubuhnya meronta secara spontan, tapi tetap tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.  Pagi itu berlanjut dengan semua teriakan Kareen yang menyayat hati.

Kareen merasa darahnya terkuras sementara tubuh lemasnya serasa membara. Ia terkulai begitu saja di pelukan Key yang masih belum puas menghisap cairan kehidupannya. Sampai akhirrnya kesadaran Kareen menipis dan yang bisa ia rasakan hanyalah aroma mint dan kayu manis yang ditebar Key. Gadis itu mengusahakan sebuah senyum di bibirnya. Sebenarnya ia tak tahu apa hal itu bisa berhasil atau tidak. Yang ia tahu hanyalah ia tidak ingin kehilangan Key dan ia tidak ingin membunuh pria itu dengan tangannya sendiri. Jikapun harus ada yang mati di antara mereka berdua, itu bukanlah Key melainkah Kareen White. Bukankah Kareen sudah mendapatkan waktu paling berharga dalam hidupnya selama ia bersama Key? Semua sudah cukup baginya… Bahkan walau Key yang ada di hadapannya sekarang ini pun sudah berlumuran darah miliknya…

Kesadaran Kareen benar-benar menipis dan akhirnya sebuah kegelapan pekat menghampiri dirinya.

“…K..ey….”

****

Hujan mengguyur permukaan daerah Brecon dengan derasnya, membasahi permukaan tanah yang memang awalnya lembab. Harum tanah basah menggantikan aroma cemara dan kayu yang biasanya tercium di sepanjang arena sebuah rumah kayu besar di pinggir kota. Rumah itu hanya diterangi cahaya beberapa batang lilin yang dinyalakan di beberapa sisi rumah. Salah satu sisi dinding dalam rumah itu terpasang sebuah cermin besar yang memantulkan seisi ruangan. Perlahan hujan berhenti turun, membiarkan suara tetesan air bergemericing di sudut-sudut luar rumah.

Seorang pria berjubah hitam dengan pakaian yang serba hitam pula memasuki ruangan di mana cermin itu terpasang. Kedua mata merahnya menatap cermin dan sebuah senyum tersungging di bibir merahnya. Tangannya menyingkap tirai, membiarkan cahaya bulan menyerbu perlahan ke dalam ruangan tersebut. Ia menyenderkan tubuh di samping jendela, matanya menatap lurus ke arah cermin besar itu. Ia menghela nafas, kepalanya ia miringkan agar bisa melihat jelas bayangan sosoknya di cermin tersebut.

“Tidakkah ini sangat mirip dengan cermin kita dulu, baby boo…?” Gumamnya pelan, matanya mennyorot sendu, “Seandainya saja kau bisa melihatnya…”

“Kenapa kau berbicara seakan aku tak bisa melihatnya?” Sahut sebuah suara dari arah tempat tidur. Si pria menoleh dan tersenyum kecil, “Karena kau tidak bisa melihat jelas cermin itu jika kau berbaring terus seperti itu…”

“Key…,” panggil gadis itu dengan nada merajuk. Key tertawa pelan sementara kakinya melangkah ke arah tempat tidur. Ia membelai lembut rambut gadis itu dan mencium helaian panjang rambut hitam kemerahan itu sekilas. Gadis itu mengubah raut wajahnya menjadi sebuah senyuman dan ia menarik Key duduk di samping tempatnya berbaring.

“Bagaimana keadaanmu, Kareen?” Tanya Key dengan suara beratnya. Tangannya mengelus pipi Kareen yang warnanya sudah sepucat dirinya. Kareen memejamkan matanya sesaat dan kembali menatap Key dengan sepasang mata merahnya, “Semakin baik, Key. Sepertinya tubuhku bisa pulih dengan cepat karena aku bukan manusia lagi sekarang. Hanya saja, sekarang aku sangat haus…,” adunya. Key tersenyum, “Minum saja darahku. Kita tak mungkin pergi berburu dengan luka-luka tubuhmu yang diakibatkan para werewolf itu…”

Hening. Kareen tak mau berinisiatif menghisap darah Key sementara lelaki itu masih mengelus rambutnya dengan amat lembut. Kareen memejamkan mata, menikmati udara dingin yang akan selalu dingin bagi tubuhnya yang bersuhu rendah. Key menghentikan gerakannya dan Kareen pun membuka mata. “Ada apa, Key?”

“Apa kau tak menyesal? Kau tak menyesal hidup tanpa bisa melihat sinar matahari lagi? Kau tak menyesal hidup penuh dahaga dan harus bertarung mati-matian dengan makhluk lain hanya untuk bertahan hidup?” Key menatap Kareen dalam-dalam. Sesal tampak jelas terpancar dari matanya yang berwarna kemerahan.

“Tak pernah sekalipun, Key. Ini jauh lebih baik dari pada memandangmu dari balik cermin ataupun kehilangan dirimu dengan pancang kayu yang kugenggam dengan tanganku. Jikapun aku harus hidup, aku ingin hidup bersamamu, bukan dengan orang lain yang memberiku cinta semu.” Kareen tersenyum manis dan menarik Key semakin lekat dengan dirinya, “Cukup hanya dirimu, Key, hanya denganmu…”

“Terima kasih, baby boo…,” gumam Key pelan. Ia menarik Kareen dalam pelukannya dan Kareen hanya mengikuti gerak pasangannya pasrah. Tiba-tiba sebuah gejolak menyerbu perutnya dan Key sadar akan kebutuhan gadis itu. Keduanya melepaskan pelukan mereka dan saling pandang. Key dan Kareen tertawa kecil saat tau isi pikiran masing-masing.

“Selamat menikmati, baby boo…”

“Terima kasih, baby…”

Dan cermin besar di hadapan mereka menjadi saksi tindakan mereka selanjutnya. Saat darah tumpah begitu sepasang taring tajam merobek kulit. Bau anyir kembali meliputi seisi ruangan. Suara angin bercekrama bersamaan suara rintihan pelan dan erangan lapar.  Sepercik nafsu dan dahaga terpenuhi, membiarkan waktu kembali menonton tanpa mau ketinggalan satu adegan pun. Suara itu berubah menjadi tawa pelan dan kesalingbutuhan pun tampak terpenuhi. Hanya hangat dalam dingin yang dapat mereka rasakan sementara si cermin dingin tak pernah bosan menjadi saksi kisah mereka, kisah inah mereka yang entah kapan kan berakhir.

–FIN–

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

29 thoughts on “Him in The Mirror [3.3]”

  1. Key vampir?? kyaaaa… 😀 Bella-ssi, kereeennn… 😉 Baca part sebelumnya kyknya bakalan tragedi beneran, udah galau aja… ternyata happy ending 😀 I love it… 🙂

  2. Breaking dawn! .kekekek.
    Nah, kan sesuai tebakanku klo end-nya ga bakalan se-tragedey genre-nya.kekekek.
    Oh iya, terus aku agak bingung sma scene akhirnya itu Kareen lagi ngisep darahnya Key, gtu? cuman nih, sesama vampire bisa saling isep darah ya? *aku agak ga mudeng.kekek.*
    oKEY deh, aku nantikan lagi karya Bella yg lainnya. Semangat ^^9

  3. jadi sebenernya key berbohong ttng penyihir itu atau bagaimana? dia dikurung karena dia vampire kan?
    wah ending yg bagus, kareen nekat jd vampire. jd mereka adlh satu2 nya vampire yg tersisa ya? ayoo key buat anak biar keturunan kalian makin byk wkwkwk #plak

    tp pas bgian akhir aq gk ngerti. kareen mengambil darah key? ntar mati dong keynya? huwwaa msh nanggung, tp kl yg devil’s game aq msh ngerti. tp yg ini membingungkan -.-“

  4. Ah, itu menjelaskan knp Key warna matanya merah menyala..
    Aku pikir mereka bakalan terpisahkan.

    Hangat dalam dingin=keinget Twilight Breaking Dawn.

    Nice FF, ditunggu karya yg lain Bella-ssi

  5. Hanya satu kata yang bisa kuucapkan,, “KEREN”
    Aku ga tau mau berkata apalagi karena sudah disebutkan semua oleh komentar komentar diatas *bahasanya*

  6. A-aaaaa ngeri sih sbenernya >.< tp daebak! Ending yg biasanya ada kisseu-annya#plakk ini d gnti dgn gigitan XD wkwkk bikin lg thor crita smacem ini~ seru :3

  7. Waaaaa….keren endingnya….
    Happy….pdhl sdh siap2 bakalan sad ending…hehe

    Nice ff *****

    Ditunggu karya berikutnya…bella^^
    Keep writing^^

  8. BAGUS BANGET AJIB GILE ASOY!
    seriusan, suka banget sm tema vampir ini. penyihir, dan semua hal yang ada dlm alur ceritany!

    aaarg, sampe speechles saya! Berani dah ngasih nilai plus untuk ff satu ini!

  9. Aaaahhhhh HAPPY ENDING !!!!
    Jadi Vampire? Keputusan yg bagus Kareen..
    Setidak’a kalian akan hidup bersama abadi selamanya~

    Ahh aku kebawa betul ama cerita’a, sampai2 tdi sempen nagis wktu Kareen di suruh bunuh Key, Fell’a dapet dapet dapett banget..
    Good Job~

  10. suka bgt ma ceritanya
    aku kira endingnya bkalan sedih ternyata happy end
    keren2, terus brkarya bkin ff yg lbh bagus ya ^^

  11. breaking dawn! kkk~
    endingnya keren gila! aaaaaah kupikir key itu makhluk apa, ternyata oh ternyata dia vampire 😯 kupikir disini si penyihir bakal muncul atau gimana, ternyata cuma mentioned aja toh~
    naisseu bella-ssi, ah jincha this story is awesome :mrgreen:

  12. aku kira bakal sad ending, tapi untung aja happy ending hehe
    aku sempat hampir nangis waktu bagian awal chapter ini LoL
    aigoo… aku pengen banget jadi Kareen White kkkk ~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s