You And Our Promise

545302_3748291671658_639998105_n

Title                 :You and Our Promise

Author             : Aretta Choi

Main Cast        : -You as Lee JiEun

: – Choi MinHo as MinHo

Support Cast    : – Lee TaeMin as TaeMin

Leght               : OneShoot

Genre              : Sad, Tragedy, Romance, Fluffy

Rating              : General

Readers annyeong.. ini ff pertama aku yang memakai cast SHINee. FF ini aku persembahkan khusus buat namja nun jauh disana, semoga dia bisa baca ff ini, kok jadi curcol ya? Hhaha.. Karena aku masih termasuk baru dalam dunia per-ff-an, makanya aku masih butuh banyak kritik. Readers jangan lupa kasih commentnyasetelah baca ff ini ya, semoga ff ini tidak mengecewakan readers semua. Mianhae for some typo. So, happy reading..

Besok, lusa dan selamanya, kami akan selalu bersama. Aku berpikir seperti itu.

>>>>>>>>>>>>

MinHo-ya, sebentar lagi hari ulang tahunku. Tahun ini kadonya yang mahal ya “ Sambil berjalan pulang dari sekolah, aku berbincang ringan dengan MinHo.

JiEun-a, kamu ini.. ckckckck “ MinHo mengacak rambutku, salah satu kebiasaan yang kusuka darinya. Ugh, tapi kan rambutku jadi berantakan.

Bercanda ko’. Tapi aku mengharapkannya sih, hahaha “ Aku bercermin untuk membetulkan rambutku pada kaca toko kue dipinggir jalan.

Aku dan MinHo pacaran sejak 5 tahun yang lalu. Hubungan kami dimulai saat masih di Junior high, saat aku dan MinHo duduk dikelas 8. Waktu aku ulangtahun, sepulang sekolah MinHo menyatakan perasaannya padaku. ‘JiEun-a, aku sayang kamu’, sejak itu kami selalu merayakan hari ulangtahunku bersama-sama. Hari itu menjadi hari yang istimewa.

Tahun ini enaknya makan kue apa ya? “ Selesai membetulkan tatanan rambutku, aku malah sibuk memilih kue yang dipajang didalam toko itu.

Nanti gendut lho, makan kue terus “ MinHo kembali mengacak rambutku yang sudah rapi.

Ugh, biarin “ Dasar MinHo, rambutku berantakan lagi kan.

Setiap tahun, dihari ulang tahunku MinHo berjanji satu hal. ‘tahun depan kita rayakan lagi sama-sama ya’ Bagiku itu lebih membuat bahagia dibandingkan dengan hadiah apapun. Kita berjanji lagi ya MinHo.

Ah, handphoneku ketinggalan di sekolah. Aku ambil dulu, tunggu disini ya “ Aku lupa kalau tadi aku meninggalkan handphoneku di kolong meja. Ugh, sekolah kan sudah sepi kalau sudah sore seperti ini.

CCCCKKIITTT..!! BBRAKKK..!!!!!!!!

“ Lee JiEun!! “ MinHo? Kenapa di berteriak sangat kencang? Tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

>>>>>>>>>

Uh, kenapa seluruh tubuhku sakit sekali? Kenapa ini? Jangan-jangan aku sudah mati. Tidak mungkin, andwae. Choi Minho!! Kupaksakan diriku untuk bangkit. Eh? Ini kan kamar MinHo. Aku mimpi aneh tadi, tapi rasanya sangat nyata.

Ceklek..

Terdengar pintu kamar terbuka, aku reflek menoleh dan ternyata itu adalah MinHo. “ Ah, MinHo-ya! Dengar, tadi aku..”

“ J, Ji, JiEun? Kaukah itu? “ Perkataanku terputus oleh MinHo. Ada apa dengannya? Kenapa dia menatapku dengan tatapan bingung begitu?

“ Ada apa MinHo? “

“ A, apa ini? Kenapa JiEun ada disini? Apa kamu tidak tau? Kamu kecelakaan! Saat ini kamu dalam keadaan koma dan ada dirumah sakit “ Mwo? Maldo andwae! Apa maksud ini semua? Seseorang tolong jelaskan padaku.

MinHo bergegas berlari meninggalkan kamarnya. Akupun mengikuti MinHo, berusaha mengimbangi larinya. MinHo masih berlari kencang lalu berbelok menuju sebuah bangunan besar ditengah kota. Rumah sakit? Apa yang tadi dibicarakan MinHo itu benar?

Aku terus mengikuti tubuh MinHo yang berlari, sampai didepan sebuah kamar rawat bernomor 889 MinHo menghentikan larinya dan menatap sendu kedalam kamar rawat melalui jendela besar yang berada disamping pintu kamar itu.

Kulihat seorang yeoja terbaring tak bergerak disana dengan kepala, sebelah mata dan tangan yang penuh perban, belum lagi berbagai kabel dan selang kecil kulihat sengaja ditempelkan ditubuh yeoja itu. Siapa dia? Kenapa MinHo terlihat sangat terpukul melihatnya? Setelah kuperhatikan dengan jelas wajah yeoja itu, aku pun terbelalak kaget. Apa itu? Itu… tubuhku?

Kalau begitu, aku ini apa?

Aku berpaling menatap kearah MinHo yang masih setia dengan pandangan sedihnya itu melihat tubuhku yang tak berdaya terbaring didalam sana. “ Aku hantu? Tapi MinHo bisa melihatku kan? Kenapa? Jadi, aku akan mati begitu saja?? “ Aku berbicara dan  bertanya pada diriku sendiri.

“ Kau tidak akan mati!! “ Begitu aku selesai mengeluarkan pertanyaanku barusan, MinHo memberiku suatu pernyataan.

“ JiEun tidak akan mati!! Tidak akan! “ Kulihat MinHo mengepalkan kedua tangannya erat. Dia menangis, lalu berpaling padaku. Menatapku penuh harap sambil bertanya “ Kau tidak akan mati kan? “

Tangan MinHo yang gemetar dan tubuh yang terbaring didepan mata mataku membuatku sadar bahwa hidupku akan segera berakhir. Aku tidak pernah membayangkan akan mengalami kejadian seperti ini. Aku tidak bisa menjawab peertanyaan MinHo barusan. Aku hanya mampu diam, membuat suasana disini menjadi hening.

Sekarang yang terdengar hanya deru nafasku, isakan tangis MinHo dan bunyi alat pemberitahu kehidupan yang terpasang pada tubuhku yang terbaring didalam sana.

>>>>>>>>>>>>>>>>>

Sudah tiga hari semenjak kecelakaan naas itu terjadi. Tapi aku masih saja tinggal di apartment MinHo. Aku hanya sesekali pulang kerumahku dan beberapa kali menjenguk tubuhku dirumah sakit.

“ Kalau dipikir-pikir, aku ini seperti tokoh komik yang rohnya terpisah dari tubuhnya. Mungkin aku akan begini terus sampai tubuhku pulih ya? Hhahaha “ Aku mencoba bercermin pada kaca besar yang ada dikamar MinHo. Tidak ada bayanganku disana.

“ Hhehe, Tadinya aku sama sekali tidak percaya kalau roh gentayangan itu nyata. Tapi sekarang aku sangat percaya. Ternyata roh gentayangan itu cantik ya, hhaha “

“ Itu adalah rayuan kakek ku untuk nenek ku dulu. Kau ini sangat ketinggalan jaman sekali “

“ Geuromyeon, kenapa kamu mau menjadi yeochinku, eo? “

“ Eeem. Itu kan.. itu..”

“ Hhaha. Sudahlah, sekarang kenyataannya semua ini adalah salahmu “

“ Aku? Wae?? “

“ Karena kamu sudah membuatku jatuh cinta, makanya selama ini aku berusaha untukmembuatmu jatuh cinta padaku. Hhahaha “

“ Hhaha, eh? Tidak bisa menyentuh ya? “ Aku ingin mencubit hidungnya, kebiasaanku padanya. Tetapi tidak bisa, tanganku malah menembus kepalanya.

“ Sayang sekali “ MinHo mengembungkan pipinya, dia ngambek. Lucu sekali wajahnya saat ini.

“ Aku ingin cepat sembuh dan kembali ketubuhku karena sebentar lagi aku ulang tahun “

“ Ne “

MinHo tau kalau aku memaksakan diri untuk tertawa, karena itu dia juga tertawa. MinHo-ya, kamsahae, mianhae.

MinHo POV

“ MinHo-ya, JiEun masih belum siuman ya? “ Hampir semua siswa disini bertanya pertanyaan yang sama padaku. Sepertinya mereka kehilangan JiEun, tak heran karena JiEun mempunyai banyak teman.

Dari mulai penjaga sekolah sampai kepala sekolah. Dari mulai kutu buku sekolah sampai ketua gangster sekolah. Dari mulai kelas junior sampai senior, hampir semua orang disekolah ini mengenal JiEun. Aku saja heran, padahal JiEun tidak menduduki peranan penting apapun disekolah kami.

“ Apakah dia baik-baik saja? “ Tanya TaeMin, hoobae ku yang memang sangat dekat dengan JiEun.

“ Tentu saja. Aku butuh doamu agar noona kesayanganmu itu dapat sehat kembali dengan cepat “ Kutepuk-tepuk kepala TaeMin sehingga rambut mangkuknya itu sedikit bergoyang. Lucu sekali anak ini.

Teng.. teng.. teng.. teng teng..

“ Ah, jam pelajaran sudah dimulai. Aku kembali ke kelasku dulu ya MinHo sunbae. Annyeong “

“ Ne. Belajar yang benar ya “ Sengaja ku ucapkan pesan yang selalu JiEun berikan untuk TaeMin.

“ Tentu saja noona “ Noona? Dia mengira aku ini JiEun ya?

“ Eeem, MinHo sunbae “ Dengan cepat dia meralat perkataannya sambil tersenyum lebar.

“ Dasar kau “ Kulihat dia belari meninggalkan kelasku. Anak yang sangat aktif.

“ Aku ini benar-benar hantu ya? “ Sejak kapan JiEun ada disampingku? Sial, aku tidak bisa menjawab pertanyaan JiEun barusan karena Jung sonsaengnim sudah mulai mengajar.

“ Hanya MinHo yang dapat melihatku. Biarpun aku melakukan ini “ Kulihat JiEun berjoget tak jelas didepan kelas, membuatku ingin tertawa.

“ Atau melakukan ini “ Sekarang dia membuat wajah lucu dihadapan Jung sonsaengnim, guru killer yang paling dibenci JiEun.

“ Buuahahhaha.. “ Aku tidak bisa menahan tawaku melihat aksi konyol JiEun didepan kelas.

“ Ha? Eee, jwaesonghamnida “ Omo! Seisi kelas melihatku heran. Ah, sial. Jung sonsaengnim pasti akan menghukumku. Awas kau JiEun.

JiEun POV

“ Jangan begitu dong, yang bisa melihat kamu kan cuma aku “ Langsung kudengar protes keras dari MinHo setelah dia dihukum oleh Jung sonsaengnim, berdiri didepan kelas sambil mengangkat kedua tangannya keatas ampai jam pelajaran selesai.

“ Mianhae. Hhahaha “ Aku masih tak sanggup menahan tawa. Wajah MinHo lucu sekali tadi. Ala siswa bandel yang takut pada guru killernya.

“ Hajiman, kenapa cuma kamu yang bisa melihatku ya? “ Aku bertanya heran pada MinHo. Hanya satu pertanyaan itu yang belum dapat kutemukan jawabannya sampai sekarang.

“ Itu.. Tentu saja karena kekuatan cinta “ Kulihat rona merah dikedua pipi MinHo. Lucu juga melihat wajahnya saat malu seerti ini,

“ MinHo-ya, kamu cinta aku ya? Aku juga. Hhaha “ Kusambut rasa malunya dengan candaan. Dia juga ikut tertawa, perlahan rona merah dikedua pipinya itu hilang dari wajahnya.

Saranghae MinHo. Aku ingin selalu bersamamu, hajiman.. aku benar-benar bisa merasakannya, tubuhku lebih lemah dibandingkan waktu itu. Tidak aneh kalau tiba-tiba aku mati. Tubuhku lemah.

Jiwaku, kumohon! Sebentarlah, sebentar lagi. Aku ingin selalu disamping MinHo. Aku tidak mau mati, tapi aku sadar itu pasti tidak akan terwujud. Aku ingin hidup sampai hari ulangtahunku. Selain itu aku ingin menepati janjiku, itu adalah janji yang sangat penting. Jiwaku, bertahanlah sampai hari ulang tahunku tiba.

“ JiEun-a, waktu aku dihukum kamu kemana tadi? Aku pikir kamu pulang duluan “ MinHo bertanya padaku sambil memakai tasnya dipunggung.

“ Mianhae MinHo “ Aku berkata lirih.

“ Ne? “ Mungkin MinHo tidak mendengar perkataanku barusan. Aku tidak bisa terus hidup bersama MinHo. Maafkan aku MinHo, tapi aku tak sanggup mengatakannya.

“ Ayo kita pulang sambil bergandengan tangan “ Kualihkan pembicaraan kami yang tadi. Saat ini aku tidak bisa menyentuh MinHo, tapi aku pulang sambil berusaha sekuat tenaga menggenggam tangan yang tak bisa kusentuh. Aku berdoa supaya aku bisa bersama MinHo walaupun hanya sekejap.

“ MinHo-ya, saranghae “ Hari ulangtahunku tinggal sebentar lagi. Tuhan, tolong berikan aku kesempatan memenuhi janji kami, hanya sebentar lagi.

“ Aku tau. Nado saranghae JiEun-a “ MinHo tersenyum. Senyum tulus yang dapat dengan mudah meluluhkan hatiku walaupun disaat aku marah dengannya.

>>>>>>>>>>>>>>>>

Zzzzzaaarrhhhhh..

Hujan deras yang turun sejak sore belum menunjukan tanda akan berhenti walaupun jarum jam sudah menunjukan hampir pukul 10 malam sekarang. Aku berdiri dikaca jendela panjang yang ada disamping ruang tengah di apartment MinHo, memandangi hujan yang tidak tau kapan akan berhenti.

“ Hujannya lebat sekali. Mudah-mudahan besok cuacanya cerah, soalnya itu hari ulangtahunmu “ MinHo datang berdiri diam disampingku, ikut memperhatikan hujan.

“ Ne. Besok cuacnya pasti cerah “ Ucapku, lalu terdiam. Hening, kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

“ Oh iya, besok.. “ Kulihat MinHo menatapku, menunggu ucapanku yang kugantungkan. Kutarik nafas panjang lalu kulanjutkan ucapanku “ Kalau aku mati, aku tidak bisa bersama kamu MinHo “

“ Jangan bicara soal kematian! “ Sudah kuduga, nada bicaranya meninggi dengan raut wajah marah yang tidak pernah aku suka.

“ Jangan marah. Aku hanya berandai-andai “ Aku membuat alasan untuk menenangkan hatinya yang pasti sedang panas saat ini. Tiba-tiba MinHo sudah berada dihadapanku lalu dengan gerakan cepat memeluk tubuhku dan mencium bibirku.

Wae irae? Aku tidak bisa menyentuhnya tapi kenapa aku bisa merasakan kehangatan bibirnya?

“ Jangan berandai seperti itu “ Pelahan MinHo melepaskan ciumannya dan duduk disampingku.

Mungkin karena aku bisa mengingat ciumanku dengan MinHo, jadi aku bisa merasakan kehangatannya.

“ Kita akan selalu bersama. Kau hanya butuh menunggu tubuhmu pulih baru kau bisa kembali kedalam tubuhmu lagi, iya kan?!” MinHo menatapku penuh harap.

Maafkan aku, aku ingin jawab ‘ya’ tapi, aku sudah tak mampu lagi berkata-kata. Walaupun terpisah jauh, ciuman dan kehangatan tubuh MinHo tak akan pernah kulupakan.

>>>>>>>>>>>>>>

“ Cuacanya cerah “ Dengan senyum lebar aku dan MinHo pergi berjalan-jalan keluar rumah. Ya, hari ini adalah hari ulangtahunku yang ke-18. JiEun-a, saengil chukahae. Karena saking senangnya aku sampai mengucapkan selamat untuk diriku sendiri. Terimakasih Tuhan karena sampai hari ini aku masih bisa bersama MinHo.

“ JiEun memang hebat. Seperti pawang hujan saja “ Aku teringat perkataanku semalam kalau hari ini akan cerah.

“ Iya “ Kembali kulukis senyum diwajahku.

“ Eh, orang itu bicara sendiri “ Kudengar seorang ahjuma berbisik pada ahjuma disebelahnya sambil menatap heran pada MinHo.

Oh iya, hanya MinHo yang bisa melihatku. Ugh, beberapa  hari ini aku sudah membuat MinHo menjadi orang yang aneh didepan banyak orang. Akh, tiba-tiba dadaku sakit. Apa ini.. tandanya?

“ MinHo –ya, mianhae “ Aku ingin sebentar lagi berada didekat MinHo. Aku bisa merasakan tubuhku semakin melemah. Kumohon, bertahanlah sebentar lagi.

MinHo POV

“ Babo, kamu tidak usah minta maaf. Walaupun tidak ada yang melihatmu, aku kan sedang kencan denganmu “

“ Ne “

“ Aku mau beli minuman, tunggu disini ya “ Sebenarnya hanya setengah hati aku rela meninggalkan JiEun disana sendirian. Biarpun sekarang tidak ada yang bisa melukai atau menculiknya, tetap saja ada ketakutan yang amat sangat didalam hati ini.

Segera kutepis pikiran itu, dengan cepat aku membeli minuman dan bergegas menyusul JiEun. Kulihat JiEun berdiri disana, memejamkan matanya. Berdiri disamping air mancur disiang hari seperti itu, membuat tubuhnya terlihat lebih transparan. Aku bisa melihat aliran air yang berjatuhan diseberang tubuhnya itu semakin lama semakin jelas, makin jelas dan makin jelas. JiEun akan menghilang, andwae!!

“ Jangan menghilang JiEun! “ Kupeluk tubuh JiEun yang sesungguhnya tak dapat kusentuh itu.

“ Eh, mwo? “ Kulihat JiEun mengerjap-ngerjapkan mata bulatnya.

“ Ah,aniyo. Mianhae “ Mungkin tadi itu hanya imajinasiku saja karena aku sangat takut kehilangn JiEun.

“ Aah,kamu pikir aku akan menghilang ya? “ Senyum nakal itu terukir di wajahnya. Dasar JiEun, disaat seperti ini pun penyakit jahilnya tidak hilang.

“ Eem, ani “

“ Jeongmal? “ Raut wajah itu menggodaku.

“ Aku sudah tau kau pasti tidak akan menghilang, iya kan? “ Aku tersenyum sambil mengacak rambutnya, kebiasaanku. Aku sadar bahwa JiEun yang sekarang tidak bisa kusentuh. Tapi ini hanya sementar, aku yakin tak berapa lama lagi roh JiEun akan kembali pada tubuhnya.

“ MinHo-ya, aku ingin pergi kesuatu tempat “

>>>>>>>>>>>>>>>

“ Ini kelas kita waktu Junior High, kangen deh “ JiEun membuka pintu kelas yang kosong. Tentu saja kosong, hari ini kan hari Minggu

“ Kalau ketauan pasti akan dimarahi “ Aku  teringat penjaga sekolah yang sudah seperti zombie itu. Ahjussi tua yang galak.

“ Eh, disana tempat dudukku “ JiEun berteriak riang berlari menuju mejanya.

“ Ini tempat dudukku “ Aku duduk dimejaku dulu. Tepat disamping meja JiEun.

“ Aku jadi ingat masa lalu. Sekarang akupun masih ingat dengan jelas. MinHo menyatakan cintanya dihari ulangthunku saat pulang sekolah. Karena sama-sama tegang, kita jadi gemetar ya “ Saat itu tahun kedua kami di Junior high, JiEun sudah menarik perhatianku sejak masa orientasi. Kumantapkan hatiku untuk memilih JiEun dan tak kuduga JiEun juga punya perasaan yang sama denganku. Tak terasa senyuman kecilku mengembang.

“ MinHo-ya. Aku.. benar-benar bahagia dicintai olehmu “ Aku tidak suka tatapan itu, tatapan pasrah yang seolah-olah mengisyaratkan kalau dia akan pergi jauh.

“ Kenapa kau berkata begitu? Hentikanlah “

Krriingg.. krrriiiinngg..

“ MinHo-ya, handphonemu berbunyi “

Krringg.. kriiing..

“ Itu tidak penting “

“ Jangan begitu, angkatlah. Itu.. “ Perkataannya terputus, bersamaan dengan keluarnya setetes cairan bening disalah satu sudut matanya . “ .. adalah telepon yang mengabarkan bahwa aku sudah meninggal “ Lanjut nya masih sambil menangis.

“ JiEun! “ Maldo andwae! Tidak mungkin JiEun meninggalkan aku.

“ Kita berjanji untuk merayakan ulangtahunku bersama-sama. Aku bersyukur bisa menepati janji itu “ Satu lagi kalimat yang seolah itu adalah hal terakhir yang dapat dilakukannya kembali terucap.

“ Ka, kamu bicara apa sih?! Jangan bercanda. Apa maksudmu meninggal?? Chamkanman, aku tidak akan memaafkanmu kalau kau menghilang begitu saja “ Aku sangat berharap kalau ancaman kekanakanku barusan dapat menghentikan semua omongannya tentang kematian. Aku sudah muak dengan kematian. Sejujurnya aku takut.

“ Aku.. “

Kupotong ucapan JiEun dengan cepat. “ Kamu selalu bicara soal kematian, padahal kita selalu bersama setiap saat “

“ MinHo, setiap tahun kau merayakan ulangtahunku bersama dan berjanji untuk merayakan ulang tahunku bersama lagi tahun depan. Itu membuatku sangat bahagia. Karena itu tahun ini maukah kau berjanji satu hal? “ JiEun mendekat padaku lalu memejamkan matanya dan mencium bibirku lama lalu melepasnya perlahan.

“ Aku bahagia menjadi yeochin MinHo, maka dari itu MinHo harus membahagiakan seseorang dan kau harus lebih bahagia dibanding siapapun “ JiEun menatap mataku dalam. Mata itu adalah mata paling indah yang pernah kulihat seumur hidupku. Aku ingin mataitu selalu terbuka untuk menatapku, hanya untuk ku.

“ JiAeun-a, apa maksudmu? “ Aku sangat mengerti mengarah kemana perkataan JiEun tadi. Tapi aku tidak mau itu terjadi, itu tidak boleh terjadi.

“ Kalau kau tidak bahagia, aku tidak dapat meninggal dengan tenang “ Kulihat tubuhnya menjadi sangat transparan dan lama-lama semakin menghilang.

“ JiEun-a! ige mWOya?!? Andwae, JiEun kajima! Jangan tinggalkan aku “ Keajaiban datanglah, tolong JiEun agar kembali padaku.

“ Dihari ulang tahunku ingatlah aku. Walaupun hanya sedikit “ Bersamaan dengan selesainya JiEun berbicara, wujudnya menghilang,

“ Selamat tinggal MinHo. Kita akan bertemu lagi saat kau suah menjadi kakek-kakek “ Suara itu. Itu adalah suara terakhir JiEun tanpa wujud, suara yang terdengar sangat riang. Suara itulah yang membuatku bahagia bersamanya selama ini.

“ JiEun!! “ Kucoba berteriak sekali lagi untuk memastikan. Harapanku akandatangnya keajaiban sudah sangat kecil, kecil sekali. Tapi tidak ada sahutan.

“ JiEun.. “ Percuma sudah. JiEun sudah benar-benar pergi sekarang. Tuhan, tolong jaga dia untukku.

>>>>>>>>>>>>>>>

10 tahun kemudian..

“ MinHo-ssi.. “ Terdengar suara lucu seorang anak kecil memanggil namaku sambil menarik-narik celana panjang bagian bawah yang kupakai.

“ Sudah kubilang, panggil aku appa “ Dasar ChunJi, sungguh tidak sopan. Padahal aku sudah sering memarahinya jika dia memanggilku seperti itu.

“ Kenapa beli bunga? Juga beli kue? Apakah appa ingin merayakan sesuatu? Apa itu appa? “ Ugh, kalau tidak ingat diaitu adalah darah dagingku sendiri, sudah kubekap dia dari tadi. Dia itu namja tapi cerewet sekali.

“ Ne. Hari ini ulang tahun seseorang yang sangat istimewa “Kulihat Chunji langung membentuk huruf O dengan bibirnya tanpa suara, dia berubah menjadi sangat meggemaskan jika begitu.

JiEun-a saengil chukhae. Bagaimana kabarmu disana? Apakau merindukan aku?

Mianhae, karena sudah 5 tahun ini aku sedikit mengkhianatimu. Sekarang aku mempunyai seorangistri dan seorang anak. Tapi itu kan permintaanmujuga, jadi bukan sepenuhnya salahku kan?! Biarpun aku mempunyi seorang istri yang sangat aku cintai, dihatiku yang terdalam hanya ada kau JiEun.Itu adalah janji bahagia yang kita ucapkan dimalam terakhir kita bertemu.

Kau lihat dia, namanya ChunJi. Itu adalah nama yang kau buat untuk anak kita di hari ulangtahunmu yang ke-16. Sekarang aku sudah menjadi namja yang paling bahagia didunia kaena sudah bisa menepati janjiku di hari terakhirmu. Kau sudah dapat pegi dengan tenang kan sekarang?

Tunggu aku disana ya, aku pasti akan menyusulmu.

Saranghae, Lee JiEun.

End~

Akh, finally selesai juga. Bagaimana ff ini menurut kalian? Ayo, aku sangat butuh comment dari readers disini. Ditunggu comment nya. Kamsahamnida udah mau baca ff aku.

#bow

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

13 thoughts on “You And Our Promise”

  1. Udah pernah dipublish? Then I have to thank God for give me a chance to read such a beautiful story ;A;

    Nggak tau kenapa ya, rasanya tersentuh banget sama karakternya Minho disini, huuks~
    Walaupun ada typo tetep aja berhasil menggetarkan hati #eaa

  2. eh, komen saya diatas blm isi nama -_-
    maaf, tapi saya pernah baca komik yg ceritanya kayak gini…mungkin bebrapa dialognya sama…alurnya juga… :\

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s