I’m Not Him – Part 4

imnothim2

Title : I’m Not Him Part 4

Author : AltRiseSilver

Cast : Kim Kibum Shinee, Ahn Min Hye, Shinee’s member

Genre : Romance, Sad

Rating : PG17

Mencari Jonghyun di Mokpo itu sulit, sudah hampir satu jam aku, Minho dan beberapa orang organisasi mencari sosok bengis itu.

“KYAA!!” suara teriakan seorang gadis terdengar membuatku menghentikan laju sepeda motorku. Mataku berputar mencari sumber suara saat Minho menepuk bahuku. “Blok 3!” pekiknya lalu melaju lebih dulu. Aku dan yang lainnya mengikuti Minho yang sudah berbelok ke sebuah tikungan.

Disana terlihat Jonghyun sedang mengunci pergerakan seorang gadis pada sebuah mobil. Kuperhatikan wajah ketakutan si gadis yang begitu familiar. Mataku membulat sempurna saat melihat wajah si gadis. Dia Min Hye.

Makin kudekati gerombolan tersebut hingga membuat Jonghyun, Min Hye dan beberapa orang lainnya menoleh kearah kami. “Kim Jonghyun!” pekikku sambil turun dari motor dan berjalan menghampirinya.

Kulihat senyumnya terkembang diwajahnya layaknya seorang anak kecil yang menemukan mainan lamanya. “Oppa,” bibir Min Hye bergumam memanggilku membuat Jonghyun menoleh lalu mengernyitkan keningnya.

Jonghyun mengoper Min Hye ke salah satu pria yang berdiri disampingnya lalu menghampiriku. “Kim Kibum my brother! Lama kita tidak berjumpa,” ucapnya berpura-pura ramah.

“Baru 6 bulan kita tidak bertemu Kim Jonghyun,” jawabku.

Jonghyun menatapku sinis. “Benarkah? Ah rasanya seperti sudah dua tahun kita tidak bertemu,” ucapnya lagi seraya mengelus dagunya.

“Berhenti bermain-main Jonghyun. Lepaskan gadis itu!” perintahku sambil menunjuk Min Hye.

Jonghyun menoleh kearah gadis itu sekilas lalu menatapku lagi. “Tidak semudah kau membalikkan telapak tanganmu Kibum,” ucapnya.

Lalu tiba-tiba sebuah pukulan keras menghantam wajahku hingga membuatku yang tidak siap mendapatkan pukulan tersungkur ke tanah. Jonghyun menghampiriku lalu meremas kerah bajuku. Kulihat Minho dan orang-orang dari organisasiku terlibat perkelahian dengan organisasinya.

“Kemana kekuatan memukulmu dulu Kim Kibum?!” bentaknya.

Aku menggeram. Kuhantukkan kepalaku ke kepalanya dengan keras hingga membuatnya mundur beberapa langkah dan mengaduh kesakitan. Melihatnya sibuk mengusap darah di dahinya, segera ku arahkan pukulanku ke wajahnya bertubi-tubi tanpa ampun hingga membuatnya merintih kesakitan dan tak berkutik.

Aku bangkit lalu menghampiri pria yang masih memegangi tangan Min Hye. Kuarahkan pukulanku di wajahnya hingga membuatnya tersungkur lalu menarik tangan Min Hye.

Kudengar Minho memanggil namaku. “Kibum! Cepat pulang! Polisi akan segera kemari!” pekiknya dari atas motor sebelum meninggalkan tempat ini.

Aku segera menarik tangan Min Hye menuju motorku lalu pergi sebelum mendapatkan masalah baru.

**

Min Hye masih duduk dihadapanku dengan tatapan bingungnya saat aku mengusap pelan dahi dan wajahku yang masih mengeluarkan darah.

Tak ada yang buka suara sedikitpun baik itu Minho, aku ataupun Min Hye. Anggota organisasiku-pun lebih memilih diam dan mengurus dirinya masing-masing. “Oppa,” panggilnya dengan suara lirih.

Aku menatapnya sekilas lalu kembali meneruskan kegiatanku saat ia tak kunjung mengatakan hal lainnya. “Oppa, kenapa semua orang memanggilmu Kibum?” tanyanya kemudian membuatku menghentikan kegiatanku.

Kutatap wajah penasarannya dengan seksama. “Pulanglah ke Seoul, Mokpo bukan tempatmu,” ucapku seraya bangkit dari dudukku lalu menyibukkan diriku lagi dengan membaca koran tentang pemberitaan Jonghyun beberapa bulan yang lalu.

Oppa kau belum menjawab pertanyaanku,” ucapnya.

“Berhentilah bertanya! Kau pulanglah,” ucapku sedikit kasar.

Terdengar suara gaduh dari luar markas, beberapa orang keluar dari markas membuatku sedikit penasaran lalu memutuskan untuk keluar dari markas juga. Min Hye mengekor dibelakangku dengan ketakutan.

“Dasar anak kurang ajar!”

Sebuah tamparan keras mendarat di wajahku membuat luka yang belum kering kembali berkedut dan mengeluarkan darahnya lagi. Min Hye memekik di belakangku lalu berjalan kearah ayah yang mencoba menampar wajahku lagi.

“Kabur dari rumah seenaknya lalu membawa Min Hye dalam masalah!” pekiknya lagi membuat telingaku berdengung. Kukepalkan tanganku lalu memandangnya dengan bengis.

“Dia yang datang kesini tanpa sepengetahuanku! Dan kau yang mengusirku dari rumah!”

PLAK!

Sebuah tamparan mendarat lagi di wajahku. Terlihat tangan Min Hye ditarik oleh ayah dan masuk kedalam mobil mewahnya. Kuusap darah segar yang mengalir disudut bibirku lalu masuk kedalam markas.

Minho menyerahkan sebuah handuk putih saat aku akan memasuki ruangan kami untuk membersihkan lukaku.

“Ayahmu?” tanyanya saat aku duduk disebuah kursi. Aku mengangguk sekilas.

“Lalu gadis tadi? Min Hye yang kau ceritakan waktu itu?” tanyanya lagi. Aku kembali mengangguk.

Minho tak kembali bertanya apapun. “Apa aku harus kembali ke Seoul?” tanyaku pada Minho.

Bahunya terangkat naik menandakan ia tidak tahu apa yang harus dijawabnya. Aku berdecak pelan. “Aku pulang dulu Minho-ya.”

**

“Ayahmu mencarimu— astaga Kibum-a. Apa lagi yang terjadi dengan wajahmu?” nenek yang mendengar kedatanganku langsung menghampiriku ke kamar dan memekik ringan saat melihat wajahku.

Nan Gweanchana Halmeoni,” ucapku.

Kurebahkan tubuhku diatas kasur sambil memejamkan mataku menahan rasa perih di wajah dan hatiku. “Dia menyuruhmu pulang ke Seoul sekarang juga Kibum,” suara nenek terdengar memasuki kamarku lalu tubuh tua itu duduk dipinggir tempat tidurku.

“Aku tidak akan kembali kesana,” ucapku datar tanpa membuka kedua mataku.

Terdengar suara desahan nenek disampingku. “Baiklah kalau itu maumu,” ucapnya kemudian ia pergi dari kamarku.

Aku membuka mataku dan merasakan sebulir air hangat mengalir dari bola mataku. Kim Keybum, aku harus bertahan berapa lama lagi? Tidakkah kau mengerti betapa sakitnya aku harus selalu berpura-pura menjadi orang yang kubenci?

“Kenapa kau membenciku?” celetuk sebuah suara membuyarkan gumaman hatiku. Aku bangkit dari tidurku lalu menoleh kearah sumber suara. Sesosok pria yang mirip denganku tengah duduk didepan mejaku sambil mengutak-atik sebuah pulpen.

“Key?” panggilku berusaha menekan suaraku agar tidak terkejut. Sosok itu menoleh sambil menunjukkan senyumnya yang selama ini hanya bisa kulihat dari fotonya. “Hyung,” panggilnya ramah lalu bangkit dan duduk disampingku.

“Apa kau benar-benar membenciku?” tanyanya.

Aku menelan air liurku sendiri. Ini tidak mungkin terjadi. Kurasakan tangannya yang dingin menggenggam tanganku. “Hyung jawab aku,” ujarnya.

“A-Aku tidak membencimu. Aku hanya…,” aku menggantungkan kalimatku karena bingung harus mengatakan apa.

“Tidak usah berbohong Hyung, aku tahu semua perasaanmu,” timpalnya pelan lalu memalingkan wajahnya dariku.

Kami lalu terdiam, menikmati pikiran yang tertanam dikepala masing-masing. Terdengar helaan nafas perlahannya. Sejujurnya saja aku masih tak mempercayai kehadiran pria ini disampingku sambil menggenggam tanganku erat.

Hyung, berjanjilah untuk menjaga Min Hye untukku. Berjanjilah menjaga Eomma dan Appa juga,” ucapnya kemudian memecahkan keheningan kami. Aku berdehem dan menundukkan kepalaku.

“Aku tahu kau tidak bisa tapi kuharap kau mau mencobanya,” ucapnya lagi seakan tahu apa yang ada dipikiranku. “Kau yakin aku bisa?” tanyaku seakan aku meragukan diriku sendiri. Oke, aku memang meragukan diriku sendiri jika berurusan dengan keluargaku.

Kutolehkan kepalaku melihat Key yang kini sudah memandangku lagi sambil tersenyum. “Semangat Hyung!” ucapnya menunjukkan senyum lebarnya membuatku menarik senyum diwajahku juga.

Tubuh kurus itu bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju pintu kamarku. “Kau mau kemana?” tanyaku membuatnya berhenti dan berbalik.

“Pulang,” ucapnya sebelum menghilang.

Aku membuka mata dari tidur siangku yang singkat. Kulihat sekelilingku dan mencari sosok Key yang tadi duduk disampingku dan menggenggam tanganku. “Mimpi lagi,” gumamku seraya menyadari apa yang kualami tadi hanyalah sebuah bunga tidur.

Aku membuka mataku lebih lebar lalu duduk dipinggir tempat tidur sambil memikirkan apa yang dikatakan Key di mimpiku. Sedikit desahan keluar dari hidungku sebelum aku beranjak dari dudukku dan keluar kamar. Malam semakin larut ternyata.

Halmeoni sepertinya aku harus kembali ke Seoul seperti perintahmu tadi,” ucapku membuat nenek terdiam dan tak lama tersenyum.

**

Aku melangkah masuk kedalam rumah besar itu sambil menenteng tasku. Kuabaikan tatapan Pak Migyoung yang menatapku heran tanpa mengatakan apa-apa.

“Kibum,” suara wanita paruh baya yang semakin kukenali akhir-akhir ini menyapaku dari dalam rumah saat aku melewati pintu depan. Aku menghentikan langkahku dan menatap langkah kaki wanita itu mendekatiku.

“Kau kembali, Nak?” tanyanya dengan nada bahagia sambil memegang kedua wajahku sementara aku hanya menganggukkan kepalaku.

“Untuk apa kau kembali kesini?” celetuk suara berat milik orang yang sangat kubenci menahan pembicaraan Ibu padaku.

Aku menatap pria tua itu sinis. “Aku kembali untuk Min Hye. Bukan untukmu,” jawabku sambil berlalu tanpa memperdulikan teriakannya yang memanggil namaku dengan berang.

Kubanting pintu kamarku dan menyalakan DVD Player yang menganggur dengan volume kencang agar suara pria itu teredam. Aku mendesah ringan sambil memandang foto Key diatas meja sana. “Aku kembali. Karena maumu.”

**

Seminggu kemudian.

Kulihat Jinki masih betah mengutak-atik minumannya. Kudengar beberapa gadis yang duduk tak jauh dari kami berbisik-bisik sambil menyebutkan namaku. Kau tahu, aku risih diperlakukan seperti ini.

Kutolehkan kepalaku kepada mereka hingga membuat mereka sontak terkejut lalu memalingkan wajah mereka dariku. “Berhenti bersikap sinis, Key-a,” ucap Jinki seakan tahu apa yang sedang kulakukan.

Kutolehkan kepalaku lagi menatap Jinki –yang masih sibuk dengan kegiatannya. “Gadis-gadis itu hanya ingin dekat denganmu,” ucap Jinki lagi membuatku tersenyum lirih.

“Aku tidak suka diperhatikan seperti itu. Menjijikkan,” ucapku sinis.

Jinki mengangkat kepalanya memandangku dan menunjukkan senyum mata segarisnya. “Kalau aku malah suka,” ucapnya dengan nada lucu membuatku mau tak mau tertawa melihat ekspresinya.

“Berhenti tertawa, aku tidak sedang melucu,” ejeknya.

Aku berusaha meredam tawaku. “Baik-baik. Tapi jujur saja, kurangi sifat sangtae-mu itu agar gadis-gadis itu mau mendekatimu,” timpalku masih sedikit tertawa. Jinki berdecak lalu menyandarkan tubuhnya di bangku.

“Gadis-gadis itu harusnya menyukai senyumku yang menawan ini,” ucapnya lagi sambil memamerkan senyum mata segarisnya lagi kepadaku.

“Hey! Hey! Hey! Aku ini laki-laki juga jadi jangan tunjukkan hal itu padaku,” celetukku.

Jinki tertawa senang. “Oh iya, kau kemana saja seminggu ini?” tanya Jinki saat tawanya reda dan memajukan lagi badannya mendekat ke meja.

Aku berdehem sebentar. “Mengistirahatkan pikiranku sejenak,” jawabku.

Seminggu berlalu semenjak kejadian itu. Aku sengaja tak menghubungi Min Hye dan datang ke kampus. Gadis itu juga tidak datang kerumah dan menghubungiku membuatku sedikit mencemaskannya. Siang ini aku berniat menemuinya dan menanyakannya soal kejelasan hubungan ini.

“Memangnya apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Jinki membuyarkan lamunanku.

“Banyak hal,” jawabku cepat.

“Kau tidak mau menceritakannya?”

Aku terdiam. Jika disuruh memilih aku mau saja menceritakan semuanya pada Jinki. Dia adalah orang ketiga yang aku percaya setelah nenek dan Minho. “Suatu saat aku akan menceritakannya padamu Jinki-ya,” jawabku lalu menyeruput minuman milikku sendiri.

**

Author Point Of View

Semilir angin menggugurkan dedaunan kering dari ranting pohon. Membuat daun-daun itu mengikuti gaya gravitasi bumi mendekati tanah. Entah apa yang ada dipikiran Min Hye saat memutuskan hubungan cintanya dengan Key sore itu.

Mereka masih terdiam –sibuk dengan pikiran dan perasaan yang berkecamuk didada masing-masing.

Key mendesah ringan kemudian melepaskan genggaman tangannya di tangan Min Hye. “Kalau kau memang ingin mengakhirinya, aku akan melepaskanmu. Tapi saat pria yang kini mengisi hatimu mulai menyakitimu, aku akan kembali merebutmu darinya,” ucap Key yang terdengar bergetar menahan tangisnya.

Min Hye menatap Key sekilas sebelum menatap langit sore yang perlahan menjingga. Sungguh, bukan keinginannya mengakhiri hubungan kisah cinta mereka yang sudah terjalin hampir dua tahun itu namun sifat Key yang perlahan berubah dan ditunjukkannya saat di Mokpo membuat Min Hye berulang kali berpikir apa yang terbaik untuknya.

Dan saat ia berpikir itulah tiba-tiba sosok seseorang yang pernah membuatnya takut datang dan menawarkan cinta yang menurut Min Hye begitu tulus. Seminggu mungkin waktu yang singkat untuk menghancurkan hubungan 2 tahun Min Hye dan Key namun gadis itu tetap yakin pada keputusannya.

Diraihnya lagi tangan Key dan menautkan jemari mereka. Keduanya saling pandang. “Maafkan aku Key,” ucapnya lirih yang disambut anggukan kepala Key.

Tangan Key terulur dan mengusap kepala si gadis dengan penuh kelembutan. Batinnya berteriak menahan gadisnya untuk pergi namun pikiran logikanya menyuruh si gadis untuk pergi dan bahagia. “Hubungi aku jika kau memang membutuhkanku,” ucapnya lalu mengecup kening si gadis dengan penuh perasaan.

To Be Continued

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

13 thoughts on “I’m Not Him – Part 4”

  1. masih belum ada bayangan tuk part berikut nya!
    kibum balik lagi ke seoul it emang demi min hye ato key~
    terus jonghyun apa mungkin masih mau balas dendam..
    ok next part nya ditunggu ya thor

  2. Suerrr deh thor itu yg bagian akir ni otak blom ngehhhh >o.< ashhhh yg jlas seruuu…crita ga ktebak..bayangin key(kibum) lg brantem yg kyk di vcr killer shinee XD kerennnnnnn

  3. Sebenernya waktu pertama baca FF ini *baru sampe part 3*, aku langsung ga sabaran pengen tau kelanjutan ceritanya. Jadi ak googling ajh, dan ternyata FF ini udh publish jg di blog lain. Nah, intinya ak udh baca FF ini sampe beres.kekek.
    tapi aku mau tetep komen ajh di sini.
    Ini FF-nya oKEY banget! aku suka sama konfliknya dan Ah! aku jatuh cinta sama Key.kekekek.

  4. What??? Min Hye memilih broke up dari Kibum..
    duuhhh beneran deh, makin penasaran banget banget.. semuanya penuh misteri! dan sampe skg keberadaan Key masih belum jelas. feelingnya sih Key lagi koma atau bahkan udah meninggal ^^v

    tanpa basa-basi lgs lanjut baca next chapter. 🙂 🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s