The Reason

“THE REASON”

Author : Ekikumo

Main cast : Key (Kin Kibum), Kim Nana

Support Cast : Choi Minho

Lenght : Oneshot

Genre : Romance, Angst, Sad

Rating : General

KEY POV

 akiku melangkah tak tentu arah. Sampai aku sadari aku berdiri di sebuah tempat yang tak asing lagi bagiku. Sebuah taman pohon sakura dengan bangku-bangku di sekelilingnya. Pikiranku melayang, mengembalikanku pada memori masa lalu yang sudah sekian lama ku coba untuk menguburnya dalam-dalam namun, sampai saat ini aku tak mampu. Pandanganku tertuju pada sebuah bangku yang terletak tidak jauh dari tempatku berdiri.Dengan gontai aku berjalan menuju bangku tersebut. Di samping bangku itu, ada sebuah pohon sakura yang tumbuh paling subur diantara pohon yang lain. Masih terlihat samara-samar ukiran bertuliskan “Kibum & Nana”.

“Ukiran ini, sudah sekian lama sejak aku dan Nana membuatnya, tapi kenapa tidak kunjung hilang?” gumamku. Sama seperti cintaku saat ini padamu, Nana. Aku belum bisa melupakamu. Wajahnya yang tiba-tiba muncul di benakku, seakan sulit untuk kuhapus.

Di tempat ini aku mengenalmu,

Di tempat ini aku menyatakan perasaanku,

Dan di tempat ini pula kau meninggalkanku.

Kusandarkan tubuhku pada pohon tersebut, perlahan tubuhku jatuh. Air mata yang tak bisa kutampung lagi, perlahan membasahi pipiku. Kenapa dadaku sakit? sakiiiit sekali…… neomu apa

Nana POV

Bunga sakura berterbangan. Mereka terbang tak tentu arah mengikuti angin yang berhembus sedang. Anginlah yang menentukan dimana mereka akan berhenti. Mungkin seperti aku yang saat ini sudah kehilangan arah. Menunggu sebuah ketenangan abadi yang mungkin akan aku rasakan tidak lama lagi. Semenjak aku mengakhiri hubunganku dengan seorang pria bernama Key 1 tahun lalu, semangatku kian hari makin menurun. Sesungguhnya, aku mengakhiri hubungan tersebut bukan karena tidak beralasan. Tumor ganas di otak-ku lah alasannya. Aku tidak mau membuat hatinya tertekan karena kondisiku yang semakin hari akan semakin menurun. Sampai dimana kondisi terakhirku, hanya bisa terbaring di kasur menantikan sebuah kematian.

                                    Tanpa aku sadari, di seberang jalan, taman pohon sakura, tempat yang tidak pernah aku lupakan itu, berdiri seorang pria dengan gaya berpakaian yang menurutku tidak asing lagi. Kucoba memperjelas pandanganku dengan melangkah lebih dekat, sampai seorang siswa sekolah menengah berteriak, “Hyaa noona! Awas ada mobil!.”

Siswa sekolah menengah tersebut menarik tanganku dan aku jatuh tersungkur di pinggir trotoar. “Dasar bodoh! Kau mau mati?” ucapnya lalu pergi meninggalkanku. Aku segera bangkit dan membersihkan pakaianku yang kotor dengan tanah. Kembali kulihat tempat itu. “Dimana pria tadi? Sepertinya aku mengenalnya?.”

Kumantapkan langkahku menuju bangku disalah satu taman pohon sakura itu. Kubelai pohon disebelahnya, jari-jariku mulai mencari sesuatu. Sampai akhirnya kutemukan sebuah ukiran bertuliskan “Kibum & Nana”. Aku tersenyum pahit, ternyata belum hilang. Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundakku perlahan. Kubalikkan badan dan kulihat seorang pria. Ya, seorang pria yang aku cintai dan sampai saat ini sulit untuk kulupakan.

KEY POV

Setelah aku membeli sebotol air mineral, aku kembali ke tempat itu. Aku terkejut, seorang wanita dengan rambut sebahu sedang berdiri disisi ‘pohon sakura ku’. Dilihat dari postur tubuhnya sepertinya aku mengenal wanita ini. Perlahan ku dekati wanita tersebut dan kutepuk pundaknya. Tanpa berpikir panjang wanita itu membalikkan badannya.

“Nana-ssi?”, ucapku kaget.

“Oppa….”, jawabnya lirih.

Sejenak aku terpaku, bagaimana bisa aku bertemu dengan Nana? apa ini hanya sebuah kebetulan?

Aku mempersilahkannya duduk dan mengajaknya berbincang sejenak.

“Kau sudah banyak berubah, Nana”, aku membuka pembicaraan.

“Ehm… pasti rambutku ya?” jawabnya dengan senyum mengembang. Senyum itu.. senyum yang selama ini aku rindukan. Senyum yang mampu menyejukkan hatiku, hanya senyum Nana.

“Eh-eh… iya”, jawabku gugup.

“Sepertinya tempat ini juga banyak berubah sejak 1 tahun kita…….”, ia tidak melanjutkan perkataannya. Kau tidak perlu melanjutkannya, Nana. Aku tahu.

“Nana, bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja? Apa kau sudah punya namja baru?”, dibenakku muncul berbagai pertanyaan yang kurasa sulit untuk kuungkapkan satu persatu.

“Nan gwaenchana…hiihiihii. Belum. Aku yakin kau yang malah punya yeoja baru”, hatiku rasanya lega setelah mendengar jawaban Nana.

“Bagaimana kau bisa seyakin itu?” Nana hanya menunduk terdiam.

“Nana, apa kau yakin kau sudah melupakanku?” aku memang bodoh, masih sempatnya aku menanyakan hal itu kepada Nana?!

NANA POV

“Bagaimana kau bisa seyakin itu?”, aku yakin maksud jawaban Key adalah belum. Aku senang tapi, aku hanya bisa terdiam.

“Nana, apa kau yakin kau sudah melupakanku?” aku terkejut mendengar pertanyaan Key yang menurutku itu terlalu terburu-buru.

“Apa maksudmu, oppa?” aku berlagak bingung.

“Apa kau masih mencintaiku, Nana?”

Aku terdiam, tak mampu berkata.

Tes

Air mataku terjatuh. aku mencoba menyekanya sendiri namun, Key menarik tanganku dan berkata, “Nana, kau…..menangis? apa kau sakit?” ucap Key cemas.

“Ani, sepertinya aku harus pulang. Appa akan memarahiku jika aku pulang terlambat”, kulangkahkan kaki menjauhi tempat itu namun, Key masih menggenggam tanganku dengan erat lalu menarikku dan memelukku.

“Aku yakin kau masih mencintaiku, aku mohon kembalilah ke sisiku, jebal!”, aku mendengar Key menangis terisak, itu membuatku semakin sakit. Key semakin memelukku lebih erat, menenggelamkan wajahku dipelukannya. Kembali aku tersadar, dengan sekuat tenaga ku coba untuk meloloskan diri dari pelukannya.

“Darimana kau tahu? Aku sudah melupakanmu sejak jauh hari!” jawabku dengan nada meninggi.

“Lalu kenapa kau menangis, huh?” Key semakin membuatku tak mampu berbicara lagi.

Ku coba membalikkan badan dan melangkah pergi. Baru selangkah aku berjalan, Key kembali berteriak, “AKU AMAT SANGAT MEMBENCI SEORANG WANITA PENIPU SEPERTIMU! AKU BENCI SUDAH MENGENALMU, AKU BENCI MENCINTAIMU! AKU BENCI!!!”

Tiba-tiba kepalaku terasa sakit, aku hanya mampu melihat bayang-bayang Key yang semakin jauh meninggalkanku. Dunia menjadi gelap……

KEY POV

Aku sudah muak dengan semua ini, dengan berani aku berteriak kepada Nana, ” AKU AMAT SANGAT MEMBENCI SEORANG WANITA PENIPU SEPERTIMU! AKU BENCI SUDAH MENGENALMU, AKU BENCI MENCINTAIMU! AKU BENCI!!!”

Aku merasa keliru sudah mengatakan itu pada Nana, namun apa daya aku sudah frustasi, hanya mengucapkan kata seadanya. Tak mau lebih sakit lagi, aku membalikkan badan dan mencoba melangkah pergi. Aku tidak mau sakit lebih lama lagi.

***

Disepanjang jalan, aku masih saja memikirkan Nana. Tidak tahu kapan kesakitan ini segera berakhir. Ingin rasanya kembali dan meminta maaf pada Nana, tapi rasanya Nana tidak mungkin memaafkan perkataanku yang kurang ajar  itu. Sebuah ambulance tiba-tiba melintas, kenapa perasaanku jadi tidak enak ya? apa terjadi sesuatu pada Nana? Atau hanya perasaanku saja? Ya… ini hanya perasaanku saja. Ponselku berdering, tanpa melihat dari siapa telpon tersebut, aku segera menerimanya.

“Yoboseyo,” jawabku.

“Hya kibum-ah, cepat segera pulang. Ada kabar gembira yang ingin aku sampaikan padamu! Ppali!” suara itu tidak lain adalah suara Appa. Dengan lesu ku matikan telpon itu tanpa menjawab sepatah kata pun.

Nana POV

Perlahan kubuka mataku. Seberkas cahaya menyilaukan mataku. Ku lihat bayangan seorang wanita paruh baya dengan rambut ikal yang tak lain adalah omma-ku. Dengan terbata aku mulai memanggil, “omma, omma….”

“Tenanglah Nana, omma disini,” omma menenangkanku.

“Apa yang terjadi padaku, omma? Kenapa aku berada di rumah sakit?”

“Kau tadi pingsan di taman, lalu ambulance membawamu kemari.”

Perlahan aku mencoba mengingatnya kembali sampai akhirnya bayangan Key tiba-tiba muncul. Kembali aku teringat dengan perkataan Key di taman. Baguslah jika Key membenciku. Aku yakin Key akan menemukan wanita yang tidak akan menipunya, tidak akan membuatnya kecewa, dan bisa mendampinginya seumur hidup. Aku tersenyum pahit, menatap tirai-tirai jendela yang tertiup angin. Kurasakan hembusan angin itu, tiba-tiba kepalaku sakit. Kucoba untuk menahannya, dan seketika sakit itu hilang. Apa mungkin hari itu semakin dekat? Hari dimana ruh ku akan meninggalkan dunia ini menuju alam keabadian.

Kuambil secarik kertas dan sebuah pena di meja. Pena yang kupegang ini perlahan mulai merangakai kata-kata di kertas tersebut. Sampai tiba di akhir surat kutulis nama dan kububuhi tanda tangan. Selesai.

KEY POV

Kubuka perlahan pintu di rumahku. Appa sudah menungguku di ruang keluarga. Segara aku duduk dan memulai pembicaraan.

“Aku dengar appa akan memberitahu kabar gembira padaku. Kabar gembira apa itu, appa?” aku memulai pembicaraan.

“Kibum-ssi, tidak sia-sia aku menyekolahkanmu,” kata-kata appa kembali membuatku bingung.

“Apa maksudmu, appa?”

“Selamat, kau mendapat beasiswa dari universitas untuk melanjutkan sekolahmu ke Amerika. Bagaimana? Kau senang?” senyum appa begitu lebar, aku rasa dia lebih senang daripada aku. Aku mengangguk dengan senyum tipis.

“Baiklah, siapkan barang-barangmu, lusa kau harus berangkat ke Amerika,” ucap appa sambil menepuk-nepuk pundakku, lalu kembali ke lantai atas.

Besok lusa? apakah tidak terlalu cepat? Lalu bagaimana dengan……Nana? apa yang aku pikirkan!!

Nana sudah melupakanku, kenapa aku masih saja mengingatnya. Kurogoh saku celanaku untuk mengambil ponselku yang berdering. Kontak yang yang tertera pada pesan tersebut bertuliskan ‘Nana’. Tanpa pikir panjang, kubuka pesan itu.

“Oppa, bisakah kita bertemu di taman sakura besok? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu. Akan kutunggu jam 3 sore, ne? Aku amat sangat mengharapkan kehadiranmu. Annyeong ^^”

 

Kenapa dengan Nana? kenapa dia tiba-tiba berubah pikiran untuk bertemu denganku? Apa dia akan menerima cintaku lagi? Beribu pertanyaan muncul dibenakku.

***

Keesokan harinya……

Jam sudah menunjukkan pukul 03.15 sore, namun Nana tak kunjung datang. Apa ada sesuatu yang terjadi pada Nana? Belum sempat otak-ku menemukan jawabannya, dari belakang terdengar suara wanita yang tidak asing bagiku.

“Oppa!!” teriak wanita itu, ya dia adalah Nana.

“Nana-ssi,” jawabku.

Wajahnya kali ini berbeda, dia terlihat lebih cantik bahkan seakan memancarkan cahaya.

“Huh, aku lelah berlari dari rumah sampai ke taman ini. Untuk apa? untuk bertemu denganmu kekekek,” Nana kembali tersenyum.

“Tak apa, kau tetap Nana yang selalu kuat kan? bukankah kau dari dulu selalu berlari dari rumah ke taman ini untuk bertemu denganku?”

“OPPA!!” wajahnya menjadi cemberut, aku yakin dia hanya berpura-pura marah.

“Apa yang ingin kau bicarakan padaku, Nana? apakah itu begitu penting?” aku langsung ke inti pembicaraan.

“Aku hanya ingin mengatakan, BO-GO-SHI-PO!!”

“Hya, Nana-ah, kau ini jangan bercanda,” kami kembali tertawa bersama.

“Nana, besok aku harus pergi ke Amerika untuk melanjutkan kuliahku,” aku langsung berterus terang pada Nana. Wajahnya terlihat kaget, matanya terbelalak, lalu kembali tersenyum.

“Sepertinya kau tidak  merasa sedih ya? Huft….” aku menghela nafas.

“Untuk apa sedih? justru aku malah senang karena oppa-ku ini akan segara menjadi profesor terkenal di Amerika. Chukae!”

“Disetiap pertemuan pasti ada perpisahan, namun perpisahan itu bukan akhir dari segalanya. Justru perpisahan itu terjadi agar kau mampu memaknai dan lebih menghargai pertemuanmu selanjutnya. Dan aku berharap kau akan menemuka yeoja-mu yang sebenarnya disana. Aku yakin kau pasti bisa,” Nana berbicara panjang lebar.

“Apa maksudmu? Bagaimana mungkin aku menemukan yeoja yang kucintai disana sedangkan yeoja itu sedang berada di sampingku? Aku masih mengharapkanmu, Nana.”

“Oppa, oppa… kau masih saja seperti dulu. Mengucapkan kata-kata bualan hihihi.”

“Aku tidak pernah berbohong, aku benar-benar masih mencintaimu.”

“Hhmm… Jadi selama ini kau menghabiskan waktumu untuk menungguku? Itu konyol. Jangan pernah menantikan sebuah harapan yang tidak pasti, kau akan lebih kecewa. Karena siapa? Ya karena dirimu sendiri.”

“Kau pasti untukku bahkan untuk selamanya!” ucapku tak mau kalah.

“Darimana kau tahu? Lagi pula kau juga besok sudah pergi.”

“Nana-ah, aku bahkan akan membatalakan penerbanganku jika kau mau menerimaku lagi!”

“Tidak perlu, itu berlebihan, yang jelas aku…………….”

Suara ponselku memotong perkataan Nana. Telpon dari appa, mengganggu saja.

“Yoboseyo, appa!” jawabku ketus.

“Kibum-ah, dimana kau? Bukannya kau harus mempersiapkan barang-barangmu untuk besok? Cepatlah pulang. Omma mencemaskanmu,” kata appa.

“Baiklah. Aku akan segara pulang,” cepat-cepat kumatikan telpon appa dan melanjutkan pembicaraanku dengan Nana.

“Gantungan itu, masih kau gunakan?” tanya Nana. Ya, gantungan di ponselku ini  hadiah dari Nana untukku saat ulang tahun ke 20 tahun.

*FLASBACK*

“Oppa, aku akan memberikan sesuatu padamu,” kata Nana.

“Apa itu, chagi?” tanyaku penasaran.

“TARAAA….. Gantungan kunci berbentuk hati dengan huruf N ditengahnya hehehe. Chuahaeyo?”

“Wah…. bagus sekali, kau kah yang membuatnya?”

“Tentu! aku juga membuat untukku dengan huruf K di tengahnya. Bagus kan?” kata Nana sambil menunjukkan gantungan miliknya.

“Aku harap dengan melihat gantungan ini kau akan selalu mengingatku, oppa.”

“Tanpa melihatnya, aku juga akan selalu mengingatmu, Nana.”

*BACK*

“Ehm… iya. Ini tandanya bahwa aku akan selalu mengingatmu, Nana.”

“Mulai sekarang, lepas gantungan itu, aku mohon!” pinta Nana.

“Ke…kenapa?”

“Aku mohon lepas!!” Nana sedkit membentak.

Perlahan aku melepas gantungan itu dari ponselku dan memberikannya pada Nana.

“Aku tidak ingin kau selalu mengingatku saat kau menemukan yeoja baru. Ingatlah yeoja-mu selalu. Jangan mengingatku!” jelas Nana.

“Nana-ah…..” aku hanya bisa menuruti perkataannya.

“Baiklah, aku akan pulang, chalgayo!” Nana beranjak pergi. Aku hanya bisa melihat Nana yang berjalan semakin jauh dariku. Kenapa aku merasa bahwa ini adalah pertemuan terakhirku dengannya?

“NANA-SSI! AKU AKAN SELALU MENUNGGUMU! TUNGGU AKU!!!” aku berteriak pada Nana, namun Nana hanya berbalik dan tersenyum kepadaku.

NANA POV

Aku kembali ke rumah sakit, mungkin sekarang saatnya aku bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang. Key sudah tidak marah lagi padaku. Kepalaku menjadi sakit, darah pun mengalir dari hidungku. Seorang dokter yang tidak sengaja melihatku, segera memapahku ke UGD. Dengan nafas tersengal-sengal aku mencoba bertahan.

Tak lama kemudian kondisiku membaik. Minho, teman masa kecilku, juga ada disana.

“Hya Nana-ah, kau harus segera pulih. Aku yakin kau pasti bisa melawan penyakitmu ini,” ucap Minho kepadaku.

“Aku rasa tuhan sudah mengatur segalanya, kau tidak perlu cemas. Jika memang aku ditakdirkan untuk bisa menikmati hidup lebih lama lagi, itu pasti sudah rencana tuhan, jika tidak…….”

“TIDAK! Kau pasti bisa, Nana. Aku yakin!”

Aku hanya tersenyum, Minho memang baik, dia adalah teman yang baik.

“Sebelumnya aku ingin minta tolong padamu. Bolehkah aku menitipkan surat ini dan berikan pada Key?” aku memohon pada Minho.

“Key? surat apa? Baiklah besok akan kuberikan padanya,” jawab Minho.

“Goma……” aku menghentikan perkataanku. Kepalaku sakit, tanganku gemetar, kembali darah mengalir dari hidungku. Minho yang berada di sampingku segera memanggil dokter. Namun, sebelum ia melangkah aku menarik tangannya.

“Minho-ah, k…kau tidak perlu memang…gil dokter. Jik…jika ini memang nafas terakhirku, biarkan ak…aku tenang,”

tubuhku terasa ringan, bayangan Minho perlahan menjadi kabur. Kupejamkan mataku perlahan. Selamat tinggal…

***

KEY POV

Jam sudah menunjukkan angka 12.00. 3 jam lagi, aku sudah harus terbang ke Amerika. Kusempatkan diri untuk mengunjungi taman sakura itu, berharap Nana disana dan mengucapkan selamat jalan untukku. Namun, sesampainya disana, tidak kutemukan seseorang yang kunanti. Hanya Minho, teman akrabku, yang sedang duduk di  salah satu bangku taman. Aku menghampirinya dan menyapanya.

“Minho-ah!” sapaku. Minho hanya memandangku dengan mata berkaca-kaca, seolah dia barusaja menangis.

“Kau… menangis? ada apa? Kau…. sepertinya baru saja mengunjungi upacara kematian.”

“Ada sebuah surat yang ditujukan kepadamu,” kata Minho lalu mengulurkan sebuah amplop kuning.

“Nugu-ya?”

“…..”

 Minho hanya terdiam, lalu pergi meninggalkanku. Perlahan kubuka amplop itu ada mulai ku baca isinya.

My Dearest, Key…

Mungkin saat kau membaca surat ini, aku sudah tidak bisa berada di sisimu lagi.

Walaupun begitu aku akan selalu ada di dalam hatimu, itu pin jika kau mengingatku.

Maafkan aku jika selama ini aku hanya bisa mengecewakanmu. Maafkan aku karena selama ini aku membohongimu. Aku menderita penyakit yang cukup parah sehingga aku memilih untuk meninggalkanmu karena aku tidak ingin membuatmu lebih kecewa. Kau pasti sekar

ang kecewa kan?

 

Selepas dari itu..

Aku ingin mengucapkan banyak terima kasih untukmu.

Terima kasih atas semua kebahagiaan yang telah kau bagi denganku.

Aku pun benar-benar senang karena sempat memiliki namja sepertimu, You’re limited edition kekekek ^^

 

Panah yang kau tancapkan di hatiku

Sekarang telah bersarang dan berakar tunggang

Meskipun sangat menyakitkan untuk mati

Namun, dirimu… dirimu yang membekas dihatiku

Tidak akan kulupakan

.

 

Aku tetap terjaga di tengah malam

Menanti sebuah jawaban cinta, terus-menerus
Itu tak akan berhenti seperti air mataku
Ingatlah bahwa aku akan selalu mencintaimu

 

Key oppa, kau benar-benar alasanku untuk hidup

 

Your Love,

Nana ^^

 

Dalam kisah ini aku dapat memetik sebuah makna, sesakit apapun keadaanmu sekarang, kau harus tetap berjuang, Key. Aku yakin Nana pasti bahagia disana jika aku juga bahagia. Dan dimanapun kau berada, kau akan selalu bersamaku, di dalam hatiku. Tak peduli seberapa sakit hatiku, aku memang harus tetap melanjutkan hidupku. Taman sakura ini akan tetap selalu menjadi bukti cinta sejatiku padamu. Selamat Jalan, Nana. Semoga kau bahagia dikeabadian.

END

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

8 thoughts on “The Reason”

  1. Alur ceritanya bagus, tapi titik, koma, tanda petik, kok banyak yg bertebaran ya? Anyway, masih banyak waktu untuk memperbaiki 😀

  2. Ehehe, awalnya rada bingung juga bacanya, krn tanda baca yg tidak pd tempatnya.

    Pas baca judulnya, aku kira ini Song Fic The Reason- Hoobastank.
    Tnyta salah.
    Hehe..

    Eky-ssi, ide ceritanya Ok. Ditunggu karya yg lain yaaa…

  3. makasih buat yg udah comment, kritik, saran. aq gargai banget.. ^^ *deep bow*

    iya ini chingu, tanda bcanya kebalik-balik. Dilain FF akan aku perbaiki, sekali lagi KAMSAHAMNIDA 😀

  4. makasih buat yg udah comment, kritik, saran. aq hargai banget.. ^^ *deep bow*

    iya ini chingu, tanda bcanya kebalik-balik. Dilain FF akan aku perbaiki, sekali lagi KAMSAHAMNIDA 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s