Inter Sexual – Part 9

Disclaimer  : We don’t own the character, they are belong to themselves.

Genre  : Teen Romance/Hurt/Comfort

Warning  : Gender bender, OOC, OC, elseword, typo dan misstypo, authorfic ^^.

Rated  : T

.

.

Aiesu © Chiyo Rokuhana

.

.

sHyning soHee collab with Eun bling-bling and Lynda

proudly present

I.S [Inter Sexual]

Lee Taemin (as boy), Lee Taehee (as girl), Choi Minho, and Lee Jieun (IU)

.

.

 

Bagian Kesembilan

Revival

Setiap aku bertanya pada eommaku.

“Kenapa tubuhku begitu aneh?”

Ia selalu diam.

Dan hanya tersenyum kearahku.

Aku sangat yakin dalam senyuman itu—

terselip rasa kesedihan.

“Kau akan tahu seiring berjalannya waktu nak.”

***

Choi Eunhee mulai membuka lembaran buku tersebut. Isinya membuat kening gadis itu berkerut bingung, “Untuk apa ia membaca buku aneh seperti ini?” Gumamnya.

Merasa bosan dengan rentetan kalimat yang tidak ia mengerti, Eunhee bermaksud mengembalikannya. Tetapi matanya menangkap sesuatu yang ganjil, terselip di antara lembaran buku.

“Apa ini?” Eunhee mengamati kertas pink yang berada di tangannya kini, “Ini tiket bioskopkan? Buat apa disimpan? Lagian sudah kumal dan sobek begini! Ada-ada saja!”

“Hei, ayo kita makan!” Ajak Taehee dari balik pintu.

“Eh? Baiklah!” Eunhee menyahut, jemarinya bergegas menyelipkan tiket kumal tersebut dan mengembalikan buku biru itu ketempatnya semula.

***

Heamin tengah mencari sosok sahabat karibnya setelah ia membereskan tumpukan piring kotor di bak cuci piring. Gadis itu mencarinya ke dapur, siapa tahu saja si Sohee itu sedang membantu Yumi memasak. Ternyata, tak satupun alam kehidupan Sohee berada di sana.

“Kemana anak itu?” Gumamnya sembari berjalan keluar dapur. Sekarang tempat tujuannya adalah ruang interior. Mungkin saja gadis cerewet itu sedang melayani pelangan.

Benar saja, ia mendapati Choi Sohee berdiri di balik counter dengan kedua tangan menumpu kepalanya. Di sebelahnya, Jieun tengah sibuk dengan catatan. Heamin perlahan mendekati Soohee, kemudian mengikuti arah pandangannya. Ia penasaran dengan apa yang tengah menyita perhatian sahabatnya itu, sampai kehadiannyapun diindahkan.

“HUAAA! TAMPAN SEKALI!” Teriak gadis itu yang tentu saja mengejutkan Soohee dan juga orang-orang yang berada di sekelilingnya, bahkan seorang Lee Jieun pun ikut terkejut karena teriakan Heamin barusan. Sohee dengan cepat membungkam mulut Heamin dan menarik gadis itu ke bawah.

“Apa yang kau lakukan! Memalukan sekali!” Hardik Soohee kesal dengan kelakuan Heamin yang notabene membuatnya ikut merasa malu. Gadis ikal tersebut segera menepis tangan Soohee yang membekap mulutnya.

“Siapa cowok itu? Dia tampan sekali!” Ucap Heamin berbinar. Sepertinya, omelan Sohee hanyalah angin lalu. Tubuhnya hendak berdiri namun segera ditahan Soohee.

“Hei, kendalikan dirimu!” Soohee menepuk pipi Heamin pelan.

“Kita ini teman bukan?” Tanya Heamin yang disambut anggukan kepala Soohee.

“Kenapa ada cowok setampan itu malah kau nikmati sendiri, huh?” Ungkap Heamin kesal, ia mencengkram bahu Soohee.

Mian, mian! Aku terlalu terpesona karismanya!” Soohee nyengir kuda. Heamin menatapnya datar.

“Siapa dia?” Tanya Heamin semangat.

Molla! Dia baru saja datang beberapa menit yang lalu!”

“Dia datang sendiri?” Lanjut gadis itu.

“Memangnya kau lihat dia sedang bersama orang lain?” Soohee menyahut sebal.

“Bagus, berarti besar kemungkinan ia tidak punya pacar!” Ucapnya semangat.

Sohee mengangguk setuju, “Benar juga!”

Mereka berdua kemudian mengintip kegiatan si cowok tampan tersebut dari balik counter. Jieun menggeleng maklum melihat kelakuan dua seonbaenya itu.

“Hya, tampan sekali! Nggak mungkin banget dia nggak punyak kekasih!” Heamin bergumam tanpa melepaskan pandangannya, Soohee mengangguk.

Si cowok tidak menyadari kalau dirinya menjadi bahan perbincangan dua pelayan cafe tersebut. Sepertinya, seluruh fokusnya tertuju pada layar ponsel. Cowok itu mendesah pelan saat ia selesai membaca pesan. Ia menyedot milkshakenya sampai tersisa setengahnya, matanya mengedar ke penjuru cafe.

Seseorang menepuk bahunya, “Minho hyung!” Ia memandang ke arah si pelaku.

“Youngmin? Sedang apa kau di sini?” Tanyanya. Matanya menatap si kembar Jo. Youngmin nyengir sementara adik kembarnya menatap dirinya datar.

“Seharusnya aku yang tanya, sedang apa hyung di sini?” Youngmin lantas mengambil tempat di depan Minho, kembarannya duduk di sebelahnya.

“Ini tempat umumkan?” Ucapnya seraya tersenyum. Oh, andai ia tahu kalau dua gadis manis sedang melting di ujung sana.

“Iya sih! Tapi baru kali ini aku melihat hyung kemari!”

Minho tersenyum menanggapi ucapan Youngmin barusan. Matanya mengedar ke arah Kwangmin yang sedang bercinta dengan light novelnya.

“Hei, setidaknya kau memberikan salam untukku!” Sindir Minho. Kwangmin yang merasa kata-kata itu ditujukan padanya segera menundukkan sedikit kepalanya kemudian meneruskan bacaannya.

“Dia tidak berubah ya?” Youngmin mengendikan bahu.

“Jangan membicarakanku! Anggap aku tak ada!” Sahut Kwangmin tanpa mengalihkan matanya dari novel.

“Minwoo dimana?” Tanya Minho pada si kembar sulung, belum sempat Youngmin mengeluarkan suaranya dua orang pelayan cewekmenghampiri merekalebih tepatnya menghampiri Minho.

“Kau ingin pesan apa?” Tanya Heamin, gadis itu sudah siap dengan buku kecil di tangannya.

“Kami akan menyediakan apapun yang kau inginkan!” Soohee menambahi.

Dua pelayan melayani satu pelanggan? Tentu saja hal ini menarik perhatian beberapa pengunjung, termasuk Youngmin. Bahkan Kwangmin yang sedari tadi terhanyut oleh bacaannya pun mau tak mau juga harus memperhatikan peristiwa ini. Sedangkan Minho merasa bingung sekaligus terkejut dengan apa yang dilakukan dua orang cewek yang berdiri di samping kiri-kanannya itu.

“Hei, apa yang kalian lakukan?” Tanya Youngmin sebal.

Sohee menoleh dan berujar ketus, “Tentu saja melayani pelanggan!” Setelah itu ia kembali menatap Minho.

“Dia kan sudah memesan minuman! Kalian tidak lihat itu?” Kwangmin berujar sambil menunjuk milkshake milik Minho. Wajah kedua gadis itu tiba-tiba memanas, tentu saja malu tingkat dewa.

“La-lalu kenapa? Mungkin saja ia menginginkan sesuatu!” Kilah Heamin disertai anggukan semangat dari Soohee.

“Itukan menurut kalian! Lebih baik kalian catat pesanan kami!” Seru Youngmin kesal. Ia agak panas  melihat tingkah Soohee pada hyungnya itu.

“Kami sudah tau pesanan kalian! Jadi tidak perlu dicatat!” Sahut Soohee, Youngmin mendelik sebal.

“Kami ingin menu baru!” Kwangmin berujar membuat Heamin menoleh padanya. Mereka berpandangan sesaat.

“Tulis saja sendiri!” Gadis itu meletakkan buku kecil dan pulpen di tangannya ke depan Kwangmin.

Soohee menutup mulutnya yang sempat terbuka lebar dengan tangannya, tidak percaya bahwa Heamin akan melakukan hal barusan. Sedangkan Youngmin menatap khawatir pada Kwangmin yang sedari tadi hanya memandang buku dan pulpen yang di letakan Heamin.

Brakkk

Di saat semua perhatian sedang terfokus padanya, Kwangmin menggebrak meja dengan keras kemudian menyambar lengan Heamin dan membawa gadis itu pergi. Melihat hal itu, Soohee meringis sambil melambaikan tangannya, berharap sahabatnya akan selamat entah dari musibah apa.

“Kwangmin! Lepaskan!”

Gadis itu meronta, ia memukul lengan Kwangmin dengan tangannya yang bebas. Heamin semakin dongkol saja saat Kwangmin tidak menggubris ucapannya. Ia tetap menyeret gadis itu hingga keluar cafe.

“Kwangmin! Kumohon!” Pinta Heamin memelas.

Mendengar suara Heamin yang bergetar menahan perih, Kwangmin menghentikan langkahnya dan segera melepaskan cengkramannya. Gadis itu segera memegang lengannya yang tampak memerah.

Mianhae!” Kwangmin berujar tanpa memutar tubuhnya menghadap Heamin.

“Aku hanya tidak suka kau memperhatikan pria lain selain aku!” Ia melanjutkan dengan nada sebal.

“Aku menyukaimu, Park Heamin!” Ucapnya yang diiringi kecupan singkat di pipi Heamin.

***

Dua orang gadis remaja terlihat sedang duduk di balkon sebuah apartemen, menikmati pemandangan kota Seoul. Langit malam bertabur puluhan bintang dan cahaya rembulan seakan membanjiri pusat perkotaan tersebut. Di bawahnya ribuan lampu-lampu jalan ikut menambah keindahan Seoul di musim panas.

“Hoaaam… aku baru tau jika Seoul indah di malam hari!” Ujar Eunhee tanpa melepaskan pandangannya. Taehee tersenyum menyetujui.

Selama yang bisa diingatnya, ia tak pernah sekalipun menikmati pemandangan kota Seoul dari balik balkonnya. Taehee lebih senang menghabiskan malamnya dengan tidur ataupun belajar. Kegiatan yang dipikirnya akan lebih berguna daripada sekedar mengamati bintang-bintang. Apalagi pekerjaan di klub malam yang sempat ia lakoni membuatnya harus pulang di pagi buta. Boro-boro melihat bintang, tidurpun hampir tak sempat.

Bicara tentang klub malam, ia jadi teringat saat pertama kali bertemu dengan Choi Eunhee. Gadis yang ia selamatkan sekaligus membuatnya dipecat. Taehee menoleh pada Eunhee yang terlihat asyik dengan sajian di depannya.

“Hei!” Panggil Taehee, gadis di sebelahnya itu menoleh cepat.

Waeyo?” Tanya Eunhee yang mulai merasa keanehan dengan cara pandang Taehee.

“Apa yang kau lakukan di sana?” Kening Eunhee berkerut, tak mengerti arah pertanyaan Taehee. Mengerti akan respon Eunhee. Taehee memperjelas pertanyaannya. “Di klub malam! Apa yang kau lakukan di sana hingga kau berurusan dengan tua bangka itu?” Ucapnya yang membuat gadis itu mengangguk-angguk paham.

“Oh, yang itu! Sebenarnya aku tak ingin di selamatkan olehmu!” Jawaban Eunhee barusan membuat Taehee sedikit emosi. Enak saja dia bicara seperti itu? Seharusnya ia berterima kasih karena telah Taehee tolong! Bahkan Taehee sampai harus kehilangan pekerjaannya! Apa-apaan ini?

“Hei, jangan salah paham dulu!” Lanjut Eunhee.

“Sebenarnya tujuanku masuk klub malam itu, hanya untuk menguji seseorang! Aku hanya ingin tahu, seberapa besar cintanya padaku! Aku ingin dia yang menyelamatkanku waktu itu! Tak disangka ternyata malah keduluan dirimu!”

“Hanya untuk itu? Dan kau rela dijamah lelaki tua itu?!”

Aish! Dia itu orang bayaranku! Aku sengaja membayarnya untuk berakting seperti itu! Sebenarnya dia orang yang baik! Aku kasihan melihat hidungnya yang patah karena pukulanmu itu!”

Penuturan Eunhee membuat Taehee tertegun sejenak. Ia hanya tidak mengerti jalan pikiran lawan bicaranya ini. Apa ia ingin membuat kisah cintanya menjadi sebuah drama?

“Hei, ubah ekspresimu itu! Aku tidak suka! Kau terlihat bodoh tahu!” Eunhee memalingkan wajah Taehee dengan telunjuknya.

Neo micheoso? Kau ingin membuat drama, huh? Kau tau? Aku sampai harus dipecat gara-gara ulah konyolmu itu! Dan secara tidak langsung aku memukul orang yang tidak bersalah!” Taehee berujar sebal.

Mianhae… aku juga tidak tahu jika kejadiannya akan seperti itu!” Tutur Eunhee pelan.

Taehee segera meminum cappucinonya kemudian menarik nafas panjang.

“Lalu hasilnya? Apa kau sudah tahu seberapa besar cinta pacarmu itu?” Tanya Taehee seraya menyeruput cappucinonya lagi. Ia melirik ke arah Eunhee dan melihat perubahan ekspresi gadis cerewet itu. Eunhee menengadahkan kepalanya, menatap kosong ribuan bintang di atasnya, wajahnya terlihat murung.

“Bukannya menolongku, malah sibuk dengan bandnya! Ia beralasan ponselnya berada di dalam tas! Jadi, tidak tahu jika aku menelponnya untuk meminta tolong!”

Eunhee menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan, “Jika kejadian waktu itu bukan rekayasa, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padaku!”

Taehee menatap iba pada Eunhee. Ia meraih bahu gadis itu dan membawanya ke dalam dekapannya.

“Tenang! Jikapun itu bukan rekayasa, aku pasti akan menolongmu!” Ujar Taehee sembari mengusap punggung Eunhee.

Gomawo!” Sahutnya lirih.

***

“Jadi, kau tidak tahu jika ia menelponmu?” Tanya Minho setelah mendengar cerita Minwoo. Cowok itu mengangguk, ia menundukkan kepalanya, takut jika Minho marah setelah mendengar pernyataannya barusan.

Minho menatap Minwoo dalam diam, ia meraih milkshake yang baru dipesannya dan menyeruputnya beberapa kali.

“Ini rumit! Aku tahu kau tidak bersalah dalam hal ini! Tapi jika mengingat situasi yang dialami Eunhee, ia pasti sangat kecewa padamu! Eunhee sedang dalam kesulitan dan bahkan berada dalam bahaya sedangkan kau malah asyik bermain band! Bukankah itu sangat ironis?” Lanjut Minho, ia memandang datar Noh Minwoo yang sedang tertunduk.

“Kau sudah minta maaf padanya atau mencoba memberinya penjelasan?”

Ne! Tapi ia tak mau mendengarku!”

“Jelas saja! Aku juga akan bersikap seperti itu jika diposisinya!” Terang saja ucapan Minho seperti menikam jantungnya.

Tujuan Minwoo menceritakan hal tersebut adalah agar hyungnya itu memberinya solusi. Atau setidaknya memberikan semangat. Dan sialnya ia malah salah orang.

Choi Minho menepuk pundaknya pelan, “Tenanglah! Lama kelamaan ia juga akan mengerti! Eunhee hanya butuh sedikit waktu untuk menenangkan diri!” Minwoo menegakan kepalanya, sepertinya ucapan Minho sedikit membuatnya tenang.

“Oh ya! Apa kau kenal dengan pelayan yang bernama Lee Taemin?” Tanya Minho.

Minwo mengangguk sebelum meneruskan, “Ne! Dia pegawai baru di sini! Memangnya ada apa?”

Aniyo! Aku hanya merasa pernah melihatnya di suatu tempat!” Sahut Minho kemudian tersenyum.

***

“Jadi maksudmu bersembunyi, kau bersembunyi darinya?” Tanya Taehee yang dijawab anggukan kepala oleh Eunhee.

“Menurutku, ini bukan sepenuhnya kesalahannya! Kau tidak bisa menyalahkan orang yang tidak tahu! Coba pikirkan jika kau berada diposisinya?”

Eunhee tertegun, sepertinya memikirkan ucapan Taehee barusan.

“Baiklah! Aku akan berusaha untuk mengerti!” Sahut Eunhee tersenyum. Taehee membalas senyum Eunhee sembari mengusak kepala manajernya itu.

“Hehe… eonni!

Mwo?” Taehee segera menghentikan gerakan tangannya ketika mendengar ucapan Eunhee barusan.

“Dari dulu aku ingin punya kakak perempuan! Jadi, kau maukan jadi eonniku?” Pinta Eunhee penuh harap.

Taehee mengedipkan matanya beberapa kali. Gadis cerewet ini menjadi saengku?

“Aku mau asalkan gajiku naik dua kali lipat!”

“Setuju!” Sahut Eunhee semangat. Taehee terkejut, tak disangka Eunhee menyanggupi lawakannya.

“Hei, aku hanya bercanda!” Terang Taehee.

“Serius juga tidak apa! Aku kasihan melihat hidupmu! Sepertinya kau hidup serba pas-pasan! Sebagai manager aku tidak mau melihat karyawanku hidup susah!”

Tch. Apa-apaan kau ini? kau bisa bangkrut jika mekanisme kerjamu seperti itu!”

“Asal kau tau ya, aku membuka cafe itu untuk membantu orang! Bukan untuk mendapat keuntungan!”

“Hm, berarti kau orang kaya ya!” Ucap Taehee sembari bertepuk tangan.

“Tentu saja! Tapi aku tidak bercanda! Atas persetujuanmu atau tidak! Aku akan tetap menaikkan gajimu!” Eunhee bersikeras.

Taehee menatap gadis di hadapannya dengan pandangan aneh. Baru kali ini ia menemukan orang seperti Eunhee.

“Dan asal kau tau lagi! Semua pegawaiku adalah anak yatim piatu sama sepertimu! Jadi, kau jangan merasa sendirian! Kami akan membantumu kapanpun kau butuhkan! Katakan saja jika kau membutuhkan sesuatu! Aku akan berusaha untuk memenuhinya! Jika kau mengalami kesulitan katakan padaku atau pada pegawai yang lainnya! Jangan kau simpan bebanmu sendiri! Karena kita semua adalah keluarga!”

Taehee tertegun. Ia merasa takjub dengan pribadi Eunhee. Dari sekian kata yang keluar dari mulut Eunhee, baru kali ini ia merasa ucapan Eunhee bermakna.

“Kau terlihat keren barusan!” Ungkap Taehee membuat gadis bermarga Choi itu berbulshing ria.

Geure? Hyaaaa, aku memang keren!” Seru gadis itu riang, Taehee memutar bola matanya.

“Seharusnya aku tidak mengatakannya!” Gumamnya menyesal.

“Oh ya! Apa Lee Jieun itu juga yatim piatu?” Tanya Taehee membuat acara jingkrak-jingkrakkan Eunhee terhenti.

“Tentu saja, bukankah sudah kubilang! Semua pegawaiku itu anak yatim piatu! Memang kenapa?”

Aniyo! Aku hanya penasaran dengannya! Bagaimana kau bisa bertemu dengannya?”

Eun hee berpikir sejenak, “Sebenarnya pegawai pertamaku adalah Jieun! Kejadiannya sudah lama sekali! Waktu itu aku bertemu dengannya di sebuah pemakaman umum! Sejak itu, aku mencari tahu segala sesuatu tentangnya dan merekrutnya menjadi pegawai!”

“Kau mencari tahu segalanya? Berarti kau tahu kenapa ia menjadi dingin seperti itu?”

Eunhee menggeleng pelan, “Tidak semuanya aku ketahui. Kudengar ia membunuh teman dekatnya.”

“Kau… percaya dengan hal itu?”

“Entahlah! Bisa dikatakan percaya, bisa juga tidak! Hati seseorang siapa yang tahu?”

“Lalu… kenapa kau tetap menjadikannya pegawaimu?”

“Masa lalu tetaplah masa lalu! Jieun yang kukenal sekarang bukanlah orang yang seperti itu! Jikapun dia melakukannya, ia pasti memiliki alasan tersendiri! Bukankah manusia bisa berubah? Atau mungkin saja ada unsur ketidaksengajaan?”

Taehee mengangguk setuju.

“Hoaammm, aku mengantuk! Kajja kita tidur! Bukankah besok kau harus sekolah?” Ucap Eunhee sembari menarik tangan Taehee untuk masuk ke dalam apartemennya.

***

Minho menyandarkan punggungnya, kemudian mendesah pelan.. Ia mengusap dahinya beberapa kali sembari melihat layar ponselnya. Mata tajamnya mengedar mencari sesuatu yang ia tunggu sejak tadi.

Cowok itu kembali menghela nafas ketika sesuatu yang ia tunggu tak kunjung datang. Diliriknya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 07.20. Sepuluh menit lagi kelas akan dimulai dan bus yang ia tunggu tak kunjung datang.

Keningnya berkerut mengingat kejadian beberapa menit yang lalu, saat Hara menurunkannya di sini, di halte bus. Ia bingung dengan sikap Hara yang tiba-tiba saja berubah. Mulai dari sikapnya yang terkesan dingin jika Minho mengajaknya bicara. Gadis itu hanya akan merespon dengan ucapan ‘Hn’ atau ‘Yah’, ia bahkan tak membalas satupun email ataupun telpon dari Minho sampai beberapa menit yang lalu. Saat Minho meminta penjelasan mengenai sikap Hara yang berubah. Bukannya mendapat jawaban, gadis itu malah menyuruh Minho untuk turun dari mobilnya.

“Ada apa dengannya?” Gumamnya masih mengingat kejadian kemarin, mungkin ia melakukan suatu kesalahan, mungkin.

Konsentrasinya terlalu fokus mengingat kejadian kemarin hingga tak menyadari bus yang ia tunggu telah datang.

Oppa!” Suara seseorang membuatnya meninggalkan alam imajinasinya. Ia mendongak untuk melihat siapa yang baru saja memanggilnya.

Seorang gadis remaja sedang melambai kearahnya, tak lupa senyuman lebar menghiasi bibirnya. Gadis itu berada di pintu masuk bus dan menyadarkannya kalau bus yang ia tunggu telah datang.

“Apa yang kau lamunkan? Sampai tak menyadari bus telah datang?” Tanyanya ketika Minho menaiki bus.

“Tumben kau naik bus!” Ujar Minho. Gadis itu merengut karena pertanyaannya diacuhkan.

Ishhnappun! Aku sangat tidak suka diacuhkan tahu!” Ungkap gadis itu seraya memukul lengan Minho.

“Tapi kau sangat suka mengacuhkan Minwoo!” Minho mengambil tempat duduk di sampingnya.

“Minho!”

“Eunhee! Aku lebih tua darimu!” Minho menyentil dahi Eunhee yang sukses membuatnya meringis dan segera mengusapnya.

Appu! Ya! Dari mana kau tahu aku mengacuhkan Minwoo? Apa dia mengadu padamu?”

“Aku tahu semuanya! Kau jangan bersikap kekanakan seperti ini! Dia tidak sepenuhnya bersalah! Jadi, kau harus mengerti posisinya!” Ucap Minho bijak sembari mengusak rambut ikal Eunhee.

Ne! Ne! Seonsangnim!” Eunhee tersenyum mengejek.

“Kau tumben naik bus! Mau kemana?”

“Aku baru saja dari rumah teman!”

“Teman? Ada juga yang mau berteman denganmu ya?” Minho langsung mendapat deathglare dari Eunhee.

“Dia ini eonniku! Kau mau kukenalkan? Dia yeoja yang cantik! Kurasa sangat cocok denganmu!”

“Kau pikir aku tidak bisa mencari gadisku sendiri sampai ingin kau kenalkan pada eonnimu itu! Hm, coba kutebak! Pasti dia orang yang sangat cerewet sama sepertimu kan?”

“Salah besar tahu!” Eunhee menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Dia itu orang yang pendiam! Terlihat dingin di luar tapi sebenarnya punya hati yang lembut!” Ujar Eunhee membuat Minho teringat pada seseorang yang memiliki ciri-ciri serupa.

“Namanya Lee Taehee! Nama yang bagus bukan?” Lanjut Eunhee, mata Minho sukses membulat. Eunhee berteman dengan Taehee?

“Kau mau lihat orangnya? Itu dia!” Seru Eunhee riang seraya menunjuk sosok yang ia maksud. Minho mengikuti arah telunjuk Eunhee. Benar saja, ia melihat Taehee yang berjarak beberapa kursi darinya. Gadis itu sedang sibuk melihat pemandangan di luar bus dengan telinga yang disumbat earphone.

Eunhee beranjak dari duduknya. Minho mengikuti pergerakan Eunhee yang menghampiri Lee Taehee dan berbicara sesuatu dengannya.

Deg!

-To Be Continued-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

11 thoughts on “Inter Sexual – Part 9”

  1. Lah, Eunhee itu sepupunya Minho?
    Parah nih si Eunhee, buat ngetes cowoknya aja pke cara begitu.
    Nyeremin.

    Tp tp, aku Gak bs ngebayangin Taemin pake rok,,,,,,
    >.<

  2. ini yang nulis author 2 apa gimana? agak beda ya penulisannya. menurut aku scene di cafe haemin kwangmin dll useless, kemaren udah ke inti, sekarang berasa ada yang kurang, gak kayak pas awal2 ff ini yang bikin greget

  3. nah..
    Makin belibet dch..
    Sbenernya banyak hal yg sudah trungkap.. Tpi ntah knapa aq masih banyak bingungnya..
    Itu soohee n heamin bener2..
    Dan kwangmin nembak heamin, eoh?
    Next..

  4. sama seperti komentar lideronyu. makin lama agak riweuh.
    bagien jieun aja kurang diekspos, main cast dapat peranan kurang ini.
    penulisnya sama ato beda ya? kok tulisanny beda gini.

    makin penasaran aja sama taehee+ minho bakalan kek gimana.

  5. Aku setuju sama comment2 diatas. Tapi, aku maklum kok karena emang disini Authornya 3 ya, kalau nggak salah?

    Ngomong2 disini terlalu banyak pake tanda ‘!’ diakhir kalimat dan sifat karakter disini sama karakter di part sebelumnya keliatan beda banget.

    Tapi ini bagus kok, ceritanya jadi makin jelas^^ maaf kalau comment saya tidak berkenan di hati Author(s) *bow*

  6. itu akhirnya gimana?? Minho ma.Taehee?? aduuhhh selalu saja.bikin penasaran..
    Ceritanya sedikit rumit tapi masih bisa di mengerti kok, keren bisa bikin cerita seperti ini..

    Next part..
    fighting!!!

  7. Satu hal yg paling menonjol di part ini: tanda seru. Dilihat dari nama authornya yg lebih dari satu jadi mungkin punya karakter yg beda2 kali ya? Anyway, setuju sama yg lain kalo plotnya tiba2 muter lagi. Tapi aku tetep nunggu part 10, hehe ^^

  8. mau kasih saran aja thor.. menurut aku ceritanya beda sm part awal2.. *iyalahbeda -,-
    maksud beda disini jadi kurang menegangkan ceritanya. trus jg rada bingung sm latar tmpat & waktunya *atauakuajakaliya?* juga pas bagian Eunhee terlalu byk make ‘!’. kesannya jadi marah-marah menurut aku.. itu aja sih.. yg tbc nya emg bikin penasaran sih, tp ga beegtu tegang menurut aku..
    wajar aja sih soalnya authornya ga cuma satu, jd idenya beda-beda.. maaf ya thor kalau komennya kurang berkenan ^^

  9. Aarrrggghh!!!
    #panik

    Tuh kan, eunhee manggil minho oppa. Eottokhae?
    Gmn nih nasib taehee?
    Apa ia bakal jadian sama minho?
    Apa jati diri taehee bakal ketauan?

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s