The Days In Memories [2.2]

The Days In Memories ( Part II )

Tittle                :  The Days In Memories

Author             : Lee Hana

Main cast        : Choi Minho, Kim Jaeshim ( Imaginary Cast )

Support Cast    : Choi Siwon, Jaeshim Eomma

Genre              : Romance and Life

Length             : Two Shoot

Rating              : PG-13

Summary         : Sungguh, aku selalu ingat! Karena aku mengingatnya di dalam  hatiku, bahkan ketika aku tidak dapat mengingat apapun lagi dan menjadi benar-benar gila.

South Of Korea, Six Years later.

Aku berlari di lapangan hijau yang begitu luas dengan terik matahari yang membakar kulit. Menggiring bola menuju gawang, bersama teriakan para pendukung kami yang membuat aku semakin bersemangat. Berkali-kali kehilangan bola, berkali-kali terjatuh, berkali-kali mangalami cedera. Semua itu tidak pernah menyurutkan keinginanku, menepati janjiku pada Jaeshim yang kini berada di Paris. Ia sedang kuliah di sana. Sama sepertiku, sedang berusaha menggapai impian kami masing-masing.

Beberapa pemain lawan menghadangku. Aku melewati satu, dua orang kemudian mengoper pada kawanku. Terus berlari hingga aku berjarak lima meter dari gawang. Bola kembali menggelinding ke arahku dengan cepat, dan aku menendangnya dengan keras. Tendangan yang penuh dengan harapan.

“GOOL! GOOL! GOOL!”

Itu adalah teriakan para pendukung kami. Teriakan penuh kegembiraan. Dan aku berlari menuju teman-teman satu timku. Saling berpeluk atas keberhasilanku mencetak sebuah gol lagi untuk tim ini. Ini sudah kesepuluh kalinya, berarti aku sudah menepati janjiku padanya.

Ini sungguh melegakan. Aku sungguh bahagia sekarang. Selama empat tahu ini, setelah kelulusan kami memang terpisah. Terpisah begitu jauh. Berada di negara dan benua yang berbeda. Selama itu aku dan dia sering surat menyurat untuk mengabari keadaan masing-masing. Terakhir kudengar ia baik-baik saja, tetapi sudah dua tahun ia tidak lagi mengabariku. Bahkan tidak ada lagi nomor yang bisa dihubungi. Tidak ada yang aku miliki selain alamat kampusnya. Karena itu aku berencana pergi menemuinya.

Apa kau ingat Siwon? Dia sekarang adalah seorang artis yang benar-benar terkenal. Ia menjadi sebuah anggota boyband paling terkenal di Asia, atau mungkin di dunia? Entahlah. Yang pasti ia sudah mengelilingi berbagai negara di dunia, lebih banyak dari pada aku. Hari ini ia baru saja pulang dari Paris, tempat dimana Jaeshim berada. Dan kami berencana untuk bertemu.

Kau tahu? Setelah ia tahu kenyataan bahwa kami pacaran ia menjadi benar-benar sedih. Ia selalu berpikir apa kurangnya dirinya dibandingkan aku. Tetapi sebanyak apapun ia berpikir ia tidak pernah menemukan jawabannya, dan itu hanya membuatnya sakit kepala. Karena itu ia berniat menjadi bintang idola agar ia selalu mendapatkan cinta para gadis-gadis di Korea, itu yang ia katakan padaku.

Aku berjalan menuju Siwon yang sedang duduk sambil menyedot es kopinya. Aku duduk di hadapannya kemudian melihat sekitarku. “Kenapa di sini hanya ada kita berdua?” tanyaku bingung.

“Aku sudah membooking tempat ini,” jawabnya santai.

Mwo?!” pekikku. Aku tahu dia itu sangat terkenal. Tapi membooking seluruh cafe, apa itu tidak berlebihan? “Kau sudah gila!”

“Aku melakukan ini karena kau ngotot meminta bertemu di sini, Hyung! Aku tidak mau orang-orang itu mengganggu kita. Harusnya kau berterima kasih padaku,” protes Siwon kesal.

“Cih! Bukankah kau hanya ingin memamerkan uangmu di hadapanku?”

“Tentu saja tidak,” bantahnya semakin kesal. “Tapi aku dengar hari ini timmu menang lagi, dan kau memasukkan sebuah gol lagi. Cukhae!”

“Kau harusnya melihatnya, bukan mendengarnya,” protesku. “Tapi bagaimana di Paris?  Kau bertemu dengan Jaeshim? Mana nomer teleponnya? Mana? Aku sudah sangat rindu padanya,” tagihku tidak sabaran.

“Aku bilang jika aku bertemu dengannya.”

“Jadi kau tidak bertemu dengannya? Wae?!

“Aku terlalu sibuk. Aku tidak sempat,” jawabnya. Berbicara dengan Volume yang cukup kecil tetapi ketus. Saat bicara ia bahkan tidak mau menatapku.

“Kau jangan bohong! Kau sendiri yang berkata, sepulang dari sana aku pasti akan memberikan nomernya padaku, dan jika aku tidak mendapatkannya aku tidak akan memperlihatkan wajahku lagi padamu dengan begitu percaya dirinya. Mana janjimu?!”

“Aku bilang sibuk ya sibuk!” teriaknya padaku seraya berdiri dengan tiba-tiba, kemudian pergi meninggalkan aku begitu saja. Dan aku yang ditinggalakan tentu saja tentu bersungut-sungut sendirian dengan begitu kesal.

______

Berbaring di atas ranjang dengan lemas, bergeliat, termenung, memandangi langit-langit dan mendesah. Pikiran buruk menyeruak masuk tanpa ampun, memasuki ruang ingatan masa lalu yang menyedihkan, membuatku ketakutan.

Apa kau tahu kenapa aku begitu? Jaeshim, lagi-lagi dia membuatku khawatir dan membuatku terus saja berpikir. Ini sudah empat tahun setelah kepergiannya, tapi perasaan ini tidak berkurang sedikitpun, atau mungkin menjadi semakin kuat saja. Bayang wajahnya terus saja muncul. Kenapa? Kenapa dia pergi tanpa jejak?

Aku sudah pergi ke paris mencarinya. Tetapi berakhir nihil. Dan yang aku dapatkan hanya realita yang benar mencengangkan untukku. Dia, dia tidak lagi kuliah di sana. Mungkin lebih tepatnya dia dan keluarganya sudah tidak lagi tinggal di negara itu dan telah kembali ke korea. Kalau begitu kenapa dia tidak menemuiku? Kenapa dia menghindar? Apakah sekarang kau mengerti kenapa aku mengatakan dia pergi tanpa jejak? Dia benar-benar menghilang.

Tapi itu beberapa hari yang lalu. Dan sekarang, aku tengah menelusuri setiap jalan dengan penuh harap. Berdebar, jantungku tidak bisa berhenti berdebar ketika berpikir bahwa sebentar lagi aku dapat melihat wajah serta omelan khas Jaeshim yang membuatku rindu. Senyum lebar terus terukir sepanjang perjalananku menuju rumahnya.

Kenangan indah terus saja muncul. Aku hanya berpikir positif, dan ketakutanku beberapa hari yang lalu lenyap begitu saja di telan sebuah harapan kecil yang belum tentu akan terjadi. Yang sewaktu-waktu dapat bermetamorfosis menjadi sebuah kenyataan pahit.

Aku memarkirkan mobilku tidak jauh dari sebuah rumah. Aku kira alamat rumah itu sama seperti yang tertulis pada secarik kertas yang berada pada genggamanku saat ini. Tempat ini adalah sebuah desa kecil yang indah, yang memiliki udara sejuk dan asri. Aku tidak pernah membayangkan ia akan tinggal di tempat seperti ini, karena itu aku sedikit terkejut sebelumnya. Tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota besar.

Aku tekan sebuah bel rumah dan menunggu seseorang membukakan pintu untukku. Aku harap wajah yang pertama kali aku lihat adalah wajahnya. Tapi, ternyata Jaeshim Eomma yang membukanya. Ini sedikit mengecewakan, tapi tidak mengurangi sedikitpun rasa bahagiaku, karena aku berpikir “bukankah pada akhirnya aku bertemu dengannya juga?”

Annyeonghaseyo! Bagimana kabar anda? Sudah lama tidak bertemu,” sapaku ramah dengan segurat senyum lebar di bibirku.

Jeshim Eomma, wajahnya terlihat terkejut, dan entah kenapa aku merasa ia berharap aku tidak di sini. Tapi aku tidak mau berpikir macam-macam.

Annyeong!” jawab Jaeshim Eomma singkat dengan sedikit senyum di wajahnya yang pucat. Ia terlihat kurang sehat, dan juga kurus. Berbeda dengan terakhir kali aku melihatnya, sedikit gemuk dan begitu bugar, bahkan tatapannya juga berbeda, begitu sendu.

Ajumma, apa….”

“Ayo ikut!” perintahnya seraya keluar dari rumah dan menutup pintunya. Ia memotong kata-kataku sebelum aku sempat menyelesaikannya, seakan tahu apa yang ingin aku  katakan. Tapi aku hanya menatapnya bingung membuat Jaeshim Eomma mendesah. “Jaeshim ada di taman. Kau ingin bertemu dengannya kan?”

Aku mengangguk mantap, dan tanpa keraguan mengikutinya. Berjalan melewati setiap rumah dan pepohonan dengan penuh semangat. Memakan banyak waktu dan tenaga, tetapi semua itu tidak aku rasakan, karena kembali bayangan bahagia itu muncul, jauh lebih dalam dan kuat, seperti menjadikanku sebuah kapas yang bisa saja terbang hanya dengan angin kecil yang berhembus karena terlalu bahagianya. Aku bahkan belum benar-benar bertemu dengannya.

Aku kembali bingung ketika tiba-tiba orang yang berada di hadapanku berhenti melangkahkan kakinya. Berhenti di antara pohon-pohon rindang yang berdiri agak jarang, bersama rerumputan yang menghampar membuat warna hijau semakin memenuhi pandanganku sekarang.

“Kenapa berhenti? Dimana Jaeshim?” tanyaku seraya mengedarkan pandanganku ke seluruh tempat ini.

“Di sana,” ujar Jaeshim Eomma menunjuk sebuah pohon yang berdiri tegak dengan tinggi sekitar dua meter. Pohon itu berjarak tidak jauh dari kami. Semua itu membuat alisku kembali bertaut. “Pergilah! Temui Jaeshim!” perintahnya, tapi aku tetap berdiri tegap tanpa bergeser sedikitpun dari tempatku. “Berjalanlah menuju pohon itu!” perintahnya lagi dengan raut sedih.

Aku mulai melangkahkan kakiku. Dan entah kenapa kaki ini tersa begitu berat. Berjalan perlahan,  memperhatikan pohon itu. Mataku menyipit untuk mempertajam penglihatanku, melihat sebuah papan tipis tergantung pada sebuh ranting di pohon tersebut, membaca sebuah tulisan di sana.

Kini aku telah berada tepat di depan pohon itu, sehingga aku dapat membacanya dengan sangat, sangat jelas. “Kim Jaeshim,” ujarku lemas ketika mengucapkan sebuah goresan tinta hitam yang berada di permukaan papan tipis itu, nama seorang gadis yang masih saja aku rindukan hingga sekarang. Tidak, aku semakin merindukannya sekarang.

“Apa maksudnya ini? Ajumma, ini tidak lucu. Tolong jangan bercanda lagi!” ujarku penuh harap dengan bibir bergetar. Mataku membulat dengan raut penuh ketakutan, tetapi Jaeshim Eomma hanya menggeleng dan mulai menangis.

Mataku yang berlinang sejak tadi kini air itu mulai terjatuh satu persatu. Setetes demi setetes. Aku tidak pernah mau menangis di hadapan orang lain, tapi air mata ini keluar begitu saja. Aku ingin semua kesedihan ini keluar dari hatiku melalui cairan bening itu, berharap yang aku lihat adalah salah.

“Ini pasti mimpi. Ini pasti mimpi!” ujarku pelan kemudian berteriak sejadi-jadinya. Terus saja berusaha mengingkari sebuah kenyataan pahit. Aku mulai kehilangan kontrol, mengepalkan kuat tangan kananku kemudian aku layangkan ke pipiku. “Tidak mungkin. Ini tidak mungkin terjadi pada Jaeshim. Dia sangat kuat Ajumma. Ia sudah berjanji padaku untuk kembali,” teriakku lagi pada awalnya yang berujung dengan suara lirih penuh kesakitan di hatiku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku karena rasa sakit di pipi yang benar-benar nyata. Aku sadar semua ini nyata, tapi aku sungguh tidak bisa menerimanya.

Aku jatuh, duduk bersimpuh di hadapan Jaeshim dengan kepala tertunduk. Aku benar-benar sedih, sedih sesedih sedihnya. Seakan air mata ini akan terus keluar hingga tidak ada yang tersisa lagi.

Jaeshim Eomma yang berada di belakangku tangisannya semakin deras karena melihatku. Tiba-tiba bayangan indah yang sejak kemarin muncul kini musnah begitu saja, bagai goresan di atas pasir pantai yang di sapu ombak besar dan tak meninggalkan apapun setelahnya. Meluluhlantahkan hatiku sejadi-jadinya.

“Jaeshim pasti senang kau menemuinya,” ujar Jaeshim Eomma seraya mencekeram lembut bahu kananku. Saat ini ia telah berada tepat di sampingku. Entah sejak kapan ia berada di sini, aku tidak menyadarinya, aku tidak bisa memikirkan yang lain atau memperhatikan yang lain.

“Tentu saja. Kau pasti senang melihatku seperti ini kan Kim Jaeshim?! Membohongiku, menghilang, membuatku percaya padamu, hingga menunggumu selama ini. Kau tahu ini sangat menyakitkan?!” bentakku seraya bicara pada abu yang kini tengah terkubur di bawah pohon yang ada di hadapanku, di tengah jeritan hatiku aku menangis sejadi-jadinya, dengan tangan terkepal kuat karena begitu marahnya aku padanya.

Aku terus berpikir dan terus menangis. Sungguh itu tidak berguna, karena kesedihan itu tidak sedikitpun berkurang dari hatiku. Gadis itu telah membuatku terlalu cinta padanya, dan memberikan sebuah harapan besar untukku. Aku bahkan berharap akan menjadikannya gadis paling bahagia di sisiku, dan hidup bersama suatu saat nanti. Tapi, semua itu musnah. Api kemarahan itu kini membakar kebahagiaan itu.

“Minho-ya, Jaeshim sangat mencintaimu. Ia bahkan memajang fotomu yang begitu besar di depan tempat tidurnya……..

Flashback On***

Seseorang memasuki kamar Jaeshim, melihat anak perempuannya tengah menengadahkan wajahnya untuk melihat gambar seseorang di hadapannya, tersenyum-senyum sendiri dengan penuh rasa bahagia. Sebuah foto besar yang ia pajang tepat di depan tempat tidurnya.

“ Jaeshim-ya!” panggil Jaeshim Eomma menghamburkan semua bayangan indah Jaeshim.

Jaeshim segera mengalihkan wajahnya ke arah Eomma-nya. “Ne, Eomma.”

Jaeshim Eomma menghampiri anaknya, dan Jeshim menarik tangan Eomma-nya untuk segera duduk merapat di sampingnya, menyandarkan kepalanya pada pahu Eomma-nya. “Dia tampan kan?” tanya Jaeshim seraya memandang Foto Minho di hadapannya.

“Tentu. Tapi apa ini tidak berlebihan? Fotonya terlalu besar Jaeshim-ya,” protes Jaeshim Eomma.

“Itu karena aku sangat merindukannya Eomma. Aku ingin selalu melihatnya ketika bangun tidur karena itu kau memajangnya di depan kasurku,” ujar Jaeshim terus memandangi wajah Minho.

“Kalau begitu bertemulah dengannya!”

Jaeshim menggeleng pelan. “Aku takut ketika bertemu aku tidak dapat mengingat wajahnya Eomma. Aku takut dia tahu betapa menyedihkannya aku sekarang.”

“Tapi…..”

Eomma,” potong Jaeshim dengan suara yang begitu lembut, melingkarkan kedua lengannya pada Lengan Eommanya erat. “Aku lebih baik pergi diam-diam. Jika aku bertemu dengannya, aku takut takkan mampu pergi darinya untuk kedua kalinya. Bagiku perasaan seperti ini begitu menyiksa,” sambung Jaeshim lagi memberi pengertian masih memandang wajah Minho dengan pandangan sendu penuh kerinduan.

Arasseo.”

Eomma, jika aku mulai melupakan semuanya, aku harap dengan foto ini aku tetap dapat mengingatnya. Bahkan jika aku lupa, aku akan bertanya padamu Eomma. Eomma, siapa laki-laki di foto itu? Dan Eomma harus menjawab, dia adalah Choi Minho, orang yang sangat kau cintai dan sangat mencintaimu. Aku, aku sungguh tidak ingin melupakan semua itu,” ujar Jaeshim pilu.

Eomma menoleh ke arah anaknya, ketika suara isakan serta tumpahan air mata Jaeshim telah membasahi bahunya melewati sela-sela kain yang terajut rapih tanpa ia sadari. Di saat itu Eomma segera memeluk anaknya. Memeluk dengan erat seakan tidak mau melepaskannya. Merasakan getaran bahu anaknya dengan tangisan yang begitu menyedihkan, membuat air mata Jaeshim Eomma ikut meluncur.

Flashback Off***

……Meski pada akhirnya ia melupakanku juga, dan melupakan dirinya sendiri. Di saat ia sudah melupakan semuanya, tapi ia masih saja menatapi fotomu Minho,” ujarnya sedih kemudian menangis tersedu-sedu. Ia tidak bisa menahan kesedihannya, sama sepertiku.

Aku merunduk diam. Entah apa yang harus aku pikirkan sekarang. Aku sungguh tidak mengerti dengan akhir seperti ini.

Jaeshim Eomma menyeka air matanya, berusaha menenangkan dirinya, menahan tangis serta kesedihannya. Berusaha mengatakan sesuatu di tengah tarikan napas yang memburu. “Jaeshim, dia meminta maaf padamu. Dia bilang dia tidak bisa memenuhi janjinya padamu dan membuatmu menuggunya sekian lama.  Ia mengatakan itu berkali-kali padaku,” ujarnya dengan parau.

Kini aku berhenti menangis, rasanya kesedihan ini telah sampai pada dasar terdalam hatiku. Aku merasa semakin lemah saja. Aku menatap Jaeshim Eomma yang menatapku juga. Wanita di hadapanku ini begitu kuat, sama seperti Jaeshim. Entah kenapa pikiranku melayang menuju beberapa hari yang lalu, ketika Siwon memberikan secarik kertas yang berisi alamat rumah Jaeshim. Saat itu sikapnya sangat aneh, karena ia begitu sopan padaku. Tidak biasanya seperti itu, bahkan ia tetap bersabar dengan tuduhan-tuduhan tidak berdasar yang aku berikan padanya. Inikah alasannya? Dia pasti sangat kasihan padaku.

“Jaeshim menitipkan ini untukmu,” ujar Jaeshim Eomma seraya memberikan secarik surat kepadaku, dan tanpa ragu aku membacanya.

Beberapa menit berlalu, aku semakin sedih setelah membacanya dan mulai menangis lagi. Sepertinya aku salah, sekarang kesedihan ini serasa tidak berdasar. Terus saja bertambah dan bertumpuk, membuatku serasa terjun menuju sebuah tempat gelap tanpa dasar. Rasanya aku ingin mati saja. Benar-benar ingin mati.

“Kau gadis jahat Kim Jaeshim,” gumamku.  Aku merasa begitu bodoh dan tidak berguna. Di saat sulitnya ia malah menjauh, tidak membiarkanku berada di sampingnya dan membantunya. Bahkan ia menjadikan impiannya itu sebagai alasan menghilang dari hadapanku. Bagaimana bisa aku tidak menyadari semua ini lebih awal?

Tiba-tiba aku seperti melayang, tubuhku terasa sangat ringan, begitu mengantuk dan lelah. Aku melihat sebuah bayangan di balik Jaeshim Eomma. Ia berdiri beberapa meter dari kami. Aku dengar ia memanggil namaku. “Minho-ya,” begitu katanya dengan begitu lembut. Ia tersenyum padaku. Senyuman itu, aku sungguh bahagia melihatnya. Tanpa sadar air mata haru mengalir di pipiku. Tanpa sedikitpun mengerjapkan mataku. Aku sungguh takut ia akan hilang dari pandanganku sekali lagi.

“Jaeshim-ya!” panggilku lemah membuat Jaeshim Eomma segera berbalik ke belakang, tapi di sana tidak ada siapapun. Aku terus menatapnya. Terus dan terus hingga tiba-tiba….

“BRUK!”

Aku ambruk. Tergeletak tidak berdaya. Tapi mataku sama sekali tak berpaling, karena rindu ini masih memenuhi hatiku. “Tidak! Jangan sekarang! Aku mohon jangan sekarang! Aku masih ingin melihatnya,” gumamku dalam hati ketika mataku mulai menutup perlahan.

Aku begitu lelah. Aku ingin tidur. Di sela kelopak mata yang terasa semakin berat, aku berusaha menyebut namanya kembali, dengan suara yang hampir tidak terdengar karena terlalu lemahnya aku saat itu. Terus kuulangi hingga mataku benar-benar tertutup dan tidak ada suara lagi yang keluar dari bibirku yang kaku. Aku tertidur dalam sebuah senyum hangat Jaeshim yang ia tunjukkan padaku.

Aku benar-benar bahagia dapat melihatnya, meski hanya sebuah bayangan dari kerinduanku yang begitu dalam. Keinginanku sudah terkabul sekarang, yaitu melihat wajahnya. Sedangkan saat itu Jaeshim Eomma mengguncang-guncangkan tubuhku dengan paniknya, tergeletak lemas di samping pohon itu, tepat di samping Jaeshim.

Flashback On***

“Apa kau benar-benar ingin pergi?”

Jaeshim mengangguk, dan itu membuatku sangat kecewa. “Jangan beraut muram begitu! Bukankah aku bilang aku akan kembali?”

“Apa kau mau berjanji padaku?”

“Tentu. Asalkan kau berhasil mencetak sepuluh gol untukku, aku pasti akan kembali, aku janji,” ujarnya, tapi ia masih melihat ekspresi yang belum berubah juga, masih saja muram. “Issh. Kau tidak mau melihatku sukses?!” bentaknya padaku mulai kesal.

“Tentu tidak,” bantahku cepat. “Tapi kenapa harus ke Paris, tidak di negara ini saja? Bukankah itu terlalu jauh?”

“Bukankah aku sudah mengatakannya ribuan kali, aku sungguh bosan mengatakannya Choi Minho. Apa kau mengidap Alzaimer?” canda Jaeshim membuatku marah.

“Kenapa kau mudah sekali mengatakan hal mengerikan seperti itu?! Aku mengkhawatirkanmu! Aku takut kalau aku terlalu rindu padamu!” bentakku kesal.

“Bukankah ada ponsel, jejaring sosial, e-mail? Semua itu diciptakan untuk kita gunakan. Jangan kira hanya kau saja yang merindukanku! Aku yakin adikmu Choi Siwon juga akan sangat merindukanku. Kau tahu kan dia masih sangat menyukaiku?”

“Kenapa kau masih saja menyebut namanya di saat seperti ini?!” protesku keras. Dia selalu saja menyebut nama Siwon untuk membuatku cemburu. Kenapa dia begitu menyebalkan?

“Kau jangan cemburu! Karena hanya Choi Minho yang aku cintai. Aku tidak akan berpaling dan tidak akan melupakanmu sampai mati, aku bisa jamin itu. Dan, maaf aku harus pergi meninggalkanmu. Aku harap kau menjadi laki-laki yang kuat,” ujar Jaeshim dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah sendu.

“Jangan bicara seakan kau tidak akan kembali Jaeshim-ya!”

Saranghaeyo,” ujar Jaeshim seraya meraih tangan kananku yang ia letakkan di pipinya, kemudian menutup matanya perlahan.

Melihat apa yang ia lakukan aku tahu apa yang ia ingin aku lakukan. Karena itu tanpa banyak bicara aku mulai mendekatkan wajahku padanya, sama seperti saat itu. Dan perasaan itu kembali muncul. Jantung yang bergejolak serta hawa panas di sekitarku. Tapi kali ini ia tidak memalingkan wajahnya. Ia benar-benar tenang hingga terjadilah adegan yang menurutnya adalah sesuatu yang menjijikkan.

Ciuman ini adalah ciuman pertama Jaeshim sekaligus yang terkahir kali, hingga keesokkan harinya ia benar-benar pergi meninggalakan aku ke Paris hingga aku melihatnya dalam kerinduan di padang hijau. Aku sungguh tidak tahu itu adalah hadiah terkahirnya untukku.

______

To : Choi Minho

Minho-ya, apa kabar? Aku selalu berdoa agar kau selalu baik-baik saja. Pasti saat kau membaca suratku saat ini aku sudah berbahagia di sana.  Melihatmu dari atas sana. Kapanpun dan dimana pun kau berada, karena itu aku berbahagia. Meski tidak bisa bersama, tetapi melihatmu, itu sudah cukup. Sungguh, aku bahagia!

Hari itu, hari dimana aku melihatmu bermain di lapangan hijau itu aku sungguh gembira. Terlebih saat kau mencetak gol untukku. Kau benar-benar tidak akan tahu bagaimana perasaanku saat itu. Takjub. Aku tarik kata-kataku saat itu, bahwa kau tidak akan bisa menjadi pemain bola seperti ucapanmu. Tetapi ternyata, kau jauh lebih hebat dari pada yang seharusnya. Membuat iri saja.

Mian, aku sudah melanggar janjiku untuk kembali menemuimu. Tapi itu aku lakukan karena aku tidak mau kau melihatku dalam keadaan yang begitu menyedihkan seperti ini. Mengingatku sebagai Kim Jaeshim yang mengidap penyakit alzaimer. Membuatmu bersedih. Membuat kenangan indah kita terganti dengan ingatan yang menyesakkan hati, seperti saat kau menerima surat ini.

Kau ingat apa yang aku katakan terakhir kali? Aku masih mengingatnya, meski semuanya perlahan akan menghilang dari memori otakku. Tapi aku selalu mengingatmu dan selalu ingat bagaimana kau mencintaiku, bahkan sampai aku mati. Bukankah itu terdengar seperti bualan jika penderita alzaimer sepertiku yang mengatakannya? Tidak. Sungguh, aku selalu ingat! Karena aku mengingatnya di dalam hatiku, bahkan ketika aku tidak dapat mengingat apapun lagi dan menjadi benar-benar gila.

Saranghaeyo Choi Minho.

From  : Kim Jaeshim, orang yang sangat mencintaimu.

***END***

Sebenernya ni cerita terinpirasi dari diri aku sendiri yang punya penyakit pikun yang menurut aku parah, sampe-sampe aku nangis karena takut mengidap penyakit mengerikan itu. Ya, makanya ada karakter Kim Jaeshim yang menggantikan karakter aku. Ya kurang lebih aku kayak dia lah. Cuman…  e, eh cuman dia lebih tegar dari pada aku. Mungkin kalo aku jadi dia aku udah bunuh diri diem-diem kali.  (#curhat dikit. Nggak papa yah?)

Please kasih komen ya! Klo bisa yang membangun, dan jika ada kekurangan PLEASEEEEEEE banget saran dan kritiknya, nggak usah takut aku marah dll. Biar aku bisa buat yang lebih baik, dan aku sendiri bisa lebih maju. THX a lot!!!

Part II

 

 

South Of Korea, Six Years later.

Aku berlari di lapangan hijau yang begitu luas dengan terik matahari yang membakar kulit. Menggiring bola menuju gawang, bersama teriakan para pendukung kami yang membuat aku semakin bersemangat. Berkali-kali kehilangan bola, berkali-kali terjatuh, berkali-kali mangalami cedera. Semua itu tidak pernah menyurutkan keinginanku, menepati janjiku pada Jaeshim yang kini berada di Paris. Ia sedang kuliah di sana. Sama sepertiku, sedang berusaha menggapai impian kami masing-masing.

Beberapa pemain lawan menghadangku. Aku melewati satu, dua orang kemudian mengoper pada kawanku. Terus berlari hingga aku berjarak lima meter dari gawang. Bola kembali menggelinding ke arahku dengan cepat, dan aku menendangnya dengan keras. Tendangan yang penuh dengan harapan.

“GOOL! GOOL! GOOL!”

Itu adalah teriakan para pendukung kami. Teriakan penuh kegembiraan. Dan aku berlari menuju teman-teman satu timku. Saling berpeluk atas keberhasilanku mencetak sebuah gol lagi untuk tim ini. Ini sudah kesepuluh kalinya, berarti aku sudah menepati janjiku padanya.

Ini sungguh melegakan. Aku sungguh bahagia sekarang. Selama empat tahu ini, setelah kelulusan kami memang terpisah. Terpisah begitu jauh. Berada di negara dan benua yang berbeda. Selama itu aku dan dia sering surat menyurat untuk mengabari keadaan masing-masing. Terakhir kudengar ia baik-baik saja, tetapi sudah dua tahun ia tidak lagi mengabariku. Bahkan tidak ada lagi nomor yang bisa dihubungi. Tidak ada yang aku miliki selain alamat kampusnya. Karena itu aku berencana pergi menemuinya.

Apa kau ingat Siwon? Dia sekarang adalah seorang artis yang benar-benar terkenal. Ia menjadi sebuah anggota boyband paling terkenal di Asia, atau mungkin di dunia? Entahlah. Yang pasti ia sudah mengelilingi berbagai negara di dunia, lebih banyak dari pada aku. Hari ini ia baru saja pulang dari Paris, tempat dimana Jaeshim berada. Dan kami berencana untuk bertemu.

Kau tahu? Setelah ia tahu kenyataan bahwa kami pacaran ia menjadi benar-benar sedih. Ia selalu berpikir apa kurangnya dirinya dibandingkan aku. Tetapi sebanyak apapun ia berpikir ia tidak pernah menemukan jawabannya, dan itu hanya membuatnya sakit kepala. Karena itu ia berniat menjadi bintang idola agar ia selalu mendapatkan cinta para gadis-gadis di Korea, itu yang ia katakan padaku.

Aku berjalan menuju Siwon yang sedang duduk sambil menyedot es kopinya. Aku duduk di hadapannya kemudian melihat sekitarku. “Kenapa di sini hanya ada kita berdua?” tanyaku bingung.

“Aku sudah membooking tempat ini,” jawabnya santai.

Mwo?!” pekikku. Aku tahu dia itu sangat terkenal. Tapi membooking seluruh cafe, apa itu tidak berlebihan? “Kau sudah gila!”

“Aku melakukan ini karena kau ngotot meminta bertemu di sini, Hyung! Aku tidak mau orang-orang itu mengganggu kita. Harusnya kau berterima kasih padaku,” protes Siwon kesal.

“Cih! Bukankah kau hanya ingin memamerkan uangmu di hadapanku?”

“Tentu saja tidak,” bantahnya semakin kesal. “Tapi aku dengar hari ini timmu menang lagi, dan kau memasukkan sebuah gol lagi. Cukhae!”

“Kau harusnya melihatnya, bukan mendengarnya,” protesku. “Tapi bagaimana di Paris?  Kau bertemu dengan Jaeshim? Mana nomer teleponnya? Mana? Aku sudah sangat rindu padanya,” tagihku tidak sabaran.

“Aku bilang jika aku bertemu dengannya.”

“Jadi kau tidak bertemu dengannya? Wae?!

“Aku terlalu sibuk. Aku tidak sempat,” jawabnya. Berbicara dengan Volume yang cukup kecil tetapi ketus. Saat bicara ia bahkan tidak mau menatapku.

“Kau jangan bohong! Kau sendiri yang berkata, sepulang dari sana aku pasti akan memberikan nomernya padaku, dan jika aku tidak mendapatkannya aku tidak akan memperlihatkan wajahku lagi padamu dengan begitu percaya dirinya. Mana janjimu?!”

“Aku bilang sibuk ya sibuk!” teriaknya padaku seraya berdiri dengan tiba-tiba, kemudian pergi meninggalkan aku begitu saja. Dan aku yang ditinggalakan tentu saja tentu bersungut-sungut sendirian dengan begitu kesal.

______

Berbaring di atas ranjang dengan lemas, bergeliat, termenung, memandangi langit-langit dan mendesah. Pikiran buruk menyeruak masuk tanpa ampun, memasuki ruang ingatan masa lalu yang menyedihkan, membuatku ketakutan.

Apa kau tahu kenapa aku begitu? Jaeshim, lagi-lagi dia membuatku khawatir dan membuatku terus saja berpikir. Ini sudah empat tahun setelah kepergiannya, tapi perasaan ini tidak berkurang sedikitpun, atau mungkin menjadi semakin kuat saja. Bayang wajahnya terus saja muncul. Kenapa? Kenapa dia pergi tanpa jejak?

Aku sudah pergi ke paris mencarinya. Tetapi berakhir nihil. Dan yang aku dapatkan hanya realita yang benar mencengangkan untukku. Dia, dia tidak lagi kuliah di sana. Mungkin lebih tepatnya dia dan keluarganya sudah tidak lagi tinggal di negara itu dan telah kembali ke korea. Kalau begitu kenapa dia tidak menemuiku? Kenapa dia menghindar? Apakah sekarang kau mengerti kenapa aku mengatakan dia pergi tanpa jejak? Dia benar-benar menghilang.

Tapi itu beberapa hari yang lalu. Dan sekarang, aku tengah menelusuri setiap jalan dengan penuh harap. Berdebar, jantungku tidak bisa berhenti berdebar ketika berpikir bahwa sebentar lagi aku dapat melihat wajah serta omelan khas Jaeshim yang membuatku rindu. Senyum lebar terus terukir sepanjang perjalananku menuju rumahnya.

Kenangan indah terus saja muncul. Aku hanya berpikir positif, dan ketakutanku beberapa hari yang lalu lenyap begitu saja di telan sebuah harapan kecil yang belum tentu akan terjadi. Yang sewaktu-waktu dapat bermetamorfosis menjadi sebuah kenyataan pahit.

Aku memarkirkan mobilku tidak jauh dari sebuah rumah. Aku kira alamat rumah itu sama seperti yang tertulis pada secarik kertas yang berada pada genggamanku saat ini. Tempat ini adalah sebuah desa kecil yang indah, yang memiliki udara sejuk dan asri. Aku tidak pernah membayangkan ia akan tinggal di tempat seperti ini, karena itu aku sedikit terkejut sebelumnya. Tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota besar.

Aku tekan sebuah bel rumah dan menunggu seseorang membukakan pintu untukku. Aku harap wajah yang pertama kali aku lihat adalah wajahnya. Tapi, ternyata Jaeshim Eomma yang membukanya. Ini sedikit mengecewakan, tapi tidak mengurangi sedikitpun rasa bahagiaku, karena aku berpikir “bukankah pada akhirnya aku bertemu dengannya juga?”

Annyeonghaseyo! Bagimana kabar anda? Sudah lama tidak bertemu,” sapaku ramah dengan segurat senyum lebar di bibirku.

Jeshim Eomma, wajahnya terlihat terkejut, dan entah kenapa aku merasa ia berharap aku tidak di sini. Tapi aku tidak mau berpikir macam-macam.

Annyeong!” jawab Jaeshim Eomma singkat dengan sedikit senyum di wajahnya yang pucat. Ia terlihat kurang sehat, dan juga kurus. Berbeda dengan terakhir kali aku melihatnya, sedikit gemuk dan begitu bugar, bahkan tatapannya juga berbeda, begitu sendu.

Ajumma, apa….”

“Ayo ikut!” perintahnya seraya keluar dari rumah dan menutup pintunya. Ia memotong kata-kataku sebelum aku sempat menyelesaikannya, seakan tahu apa yang ingin aku  katakan. Tapi aku hanya menatapnya bingung membuat Jaeshim Eomma mendesah. “Jaeshim ada di taman. Kau ingin bertemu dengannya kan?”

Aku mengangguk mantap, dan tanpa keraguan mengikutinya. Berjalan melewati setiap rumah dan pepohonan dengan penuh semangat. Memakan banyak waktu dan tenaga, tetapi semua itu tidak aku rasakan, karena kembali bayangan bahagia itu muncul, jauh lebih dalam dan kuat, seperti menjadikanku sebuah kapas yang bisa saja terbang hanya dengan angin kecil yang berhembus karena terlalu bahagianya. Aku bahkan belum benar-benar bertemu dengannya.

Aku kembali bingung ketika tiba-tiba orang yang berada di hadapanku berhenti melangkahkan kakinya. Berhenti di antara pohon-pohon rindang yang berdiri agak jarang, bersama rerumputan yang menghampar membuat warna hijau semakin memenuhi pandanganku sekarang.

“Kenapa berhenti? Dimana Jaeshim?” tanyaku seraya mengedarkan pandanganku ke seluruh tempat ini.

“Di sana,” ujar Jaeshim Eomma menunjuk sebuah pohon yang berdiri tegak dengan tinggi sekitar dua meter. Pohon itu berjarak tidak jauh dari kami. Semua itu membuat alisku kembali bertaut. “Pergilah! Temui Jaeshim!” perintahnya, tapi aku tetap berdiri tegap tanpa bergeser sedikitpun dari tempatku. “Berjalanlah menuju pohon itu!” perintahnya lagi dengan raut sedih.

Aku mulai melangkahkan kakiku. Dan entah kenapa kaki ini tersa begitu berat. Berjalan perlahan,  memperhatikan pohon itu. Mataku menyipit untuk mempertajam penglihatanku, melihat sebuah papan tipis tergantung pada sebuh ranting di pohon tersebut, membaca sebuah tulisan di sana.

Kini aku telah berada tepat di depan pohon itu, sehingga aku dapat membacanya dengan sangat, sangat jelas. “Kim Jaeshim,” ujarku lemas ketika mengucapkan sebuah goresan tinta hitam yang berada di permukaan papan tipis itu, nama seorang gadis yang masih saja aku rindukan hingga sekarang. Tidak, aku semakin merindukannya sekarang.

“Apa maksudnya ini? Ajumma, ini tidak lucu. Tolong jangan bercanda lagi!” ujarku penuh harap dengan bibir bergetar. Mataku membulat dengan raut penuh ketakutan, tetapi Jaeshim Eomma hanya menggeleng dan mulai menangis.

Mataku yang berlinang sejak tadi kini air itu mulai terjatuh satu persatu. Setetes demi setetes. Aku tidak pernah mau menangis di hadapan orang lain, tapi air mata ini keluar begitu saja. Aku ingin semua kesedihan ini keluar dari hatiku melalui cairan bening itu, berharap yang aku lihat adalah salah.

“Ini pasti mimpi. Ini pasti mimpi!” ujarku pelan kemudian berteriak sejadi-jadinya. Terus saja berusaha mengingkari sebuah kenyataan pahit. Aku mulai kehilangan kontrol, mengepalkan kuat tangan kananku kemudian aku layangkan ke pipiku. “Tidak mungkin. Ini tidak mungkin terjadi pada Jaeshim. Dia sangat kuat Ajumma. Ia sudah berjanji padaku untuk kembali,” teriakku lagi pada awalnya yang berujung dengan suara lirih penuh kesakitan di hatiku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku karena rasa sakit di pipi yang benar-benar nyata. Aku sadar semua ini nyata, tapi aku sungguh tidak bisa menerimanya.

Aku jatuh, duduk bersimpuh di hadapan Jaeshim dengan kepala tertunduk. Aku benar-benar sedih, sedih sesedih sedihnya. Seakan air mata ini akan terus keluar hingga tidak ada yang tersisa lagi.

Jaeshim Eomma yang berada di belakangku tangisannya semakin deras karena melihatku. Tiba-tiba bayangan indah yang sejak kemarin muncul kini musnah begitu saja, bagai goresan di atas pasir pantai yang di sapu ombak besar dan tak meninggalkan apapun setelahnya. Meluluhlantahkan hatiku sejadi-jadinya.

“Jaeshim pasti senang kau menemuinya,” ujar Jaeshim Eomma seraya mencekeram lembut bahu kananku. Saat ini ia telah berada tepat di sampingku. Entah sejak kapan ia berada di sini, aku tidak menyadarinya, aku tidak bisa memikirkan yang lain atau memperhatikan yang lain.

“Tentu saja. Kau pasti senang melihatku seperti ini kan Kim Jaeshim?! Membohongiku, menghilang, membuatku percaya padamu, hingga menunggumu selama ini. Kau tahu ini sangat menyakitkan?!” bentakku seraya bicara pada abu yang kini tengah terkubur di bawah pohon yang ada di hadapanku, di tengah jeritan hatiku aku menangis sejadi-jadinya, dengan tangan terkepal kuat karena begitu marahnya aku padanya.

Aku terus berpikir dan terus menangis. Sungguh itu tidak berguna, karena kesedihan itu tidak sedikitpun berkurang dari hatiku. Gadis itu telah membuatku terlalu cinta padanya, dan memberikan sebuah harapan besar untukku. Aku bahkan berharap akan menjadikannya gadis paling bahagia di sisiku, dan hidup bersama suatu saat nanti. Tapi, semua itu musnah. Api kemarahan itu kini membakar kebahagiaan itu.

“Minho-ya, Jaeshim sangat mencintaimu. Ia bahkan memajang fotomu yang begitu besar di depan tempat tidurnya……..

Flashback On***

Seseorang memasuki kamar Jaeshim, melihat anak perempuannya tengah menengadahkan wajahnya untuk melihat gambar seseorang di hadapannya, tersenyum-senyum sendiri dengan penuh rasa bahagia. Sebuah foto besar yang ia pajang tepat di depan tempat tidurnya.

“ Jaeshim-ya!” panggil Jaeshim Eomma menghamburkan semua bayangan indah Jaeshim.

Jaeshim segera mengalihkan wajahnya ke arah Eomma-nya. “Ne, Eomma.”

Jaeshim Eomma menghampiri anaknya, dan Jeshim menarik tangan Eomma-nya untuk segera duduk merapat di sampingnya, menyandarkan kepalanya pada pahu Eomma-nya. “Dia tampan kan?” tanya Jaeshim seraya memandang Foto Minho di hadapannya.

“Tentu. Tapi apa ini tidak berlebihan? Fotonya terlalu besar Jaeshim-ya,” protes Jaeshim Eomma.

“Itu karena aku sangat merindukannya Eomma. Aku ingin selalu melihatnya ketika bangun tidur karena itu kau memajangnya di depan kasurku,” ujar Jaeshim terus memandangi wajah Minho.

“Kalau begitu bertemulah dengannya!”

Jaeshim menggeleng pelan. “Aku takut ketika bertemu aku tidak dapat mengingat wajahnya Eomma. Aku takut dia tahu betapa menyedihkannya aku sekarang.”

“Tapi…..”

Eomma,” potong Jaeshim dengan suara yang begitu lembut, melingkarkan kedua lengannya pada Lengan Eommanya erat. “Aku lebih baik pergi diam-diam. Jika aku bertemu dengannya, aku takut takkan mampu pergi darinya untuk kedua kalinya. Bagiku perasaan seperti ini begitu menyiksa,” sambung Jaeshim lagi memberi pengertian masih memandang wajah Minho dengan pandangan sendu penuh kerinduan.

Arasseo.”

Eomma, jika aku mulai melupakan semuanya, aku harap dengan foto ini aku tetap dapat mengingatnya. Bahkan jika aku lupa, aku akan bertanya padamu Eomma. Eomma, siapa laki-laki di foto itu? Dan Eomma harus menjawab, dia adalah Choi Minho, orang yang sangat kau cintai dan sangat mencintaimu. Aku, aku sungguh tidak ingin melupakan semua itu,” ujar Jaeshim pilu.

Eomma menoleh ke arah anaknya, ketika suara isakan serta tumpahan air mata Jaeshim telah membasahi bahunya melewati sela-sela kain yang terajut rapih tanpa ia sadari. Di saat itu Eomma segera memeluk anaknya. Memeluk dengan erat seakan tidak mau melepaskannya. Merasakan getaran bahu anaknya dengan tangisan yang begitu menyedihkan, membuat air mata Jaeshim Eomma ikut meluncur.

Flashback Off***

……Meski pada akhirnya ia melupakanku juga, dan melupakan dirinya sendiri. Di saat ia sudah melupakan semuanya, tapi ia masih saja menatapi fotomu Minho,” ujarnya sedih kemudian menangis tersedu-sedu. Ia tidak bisa menahan kesedihannya, sama sepertiku.

Aku merunduk diam. Entah apa yang harus aku pikirkan sekarang. Aku sungguh tidak mengerti dengan akhir seperti ini.

Jaeshim Eomma menyeka air matanya, berusaha menenangkan dirinya, menahan tangis serta kesedihannya. Berusaha mengatakan sesuatu di tengah tarikan napas yang memburu. “Jaeshim, dia meminta maaf padamu. Dia bilang dia tidak bisa memenuhi janjinya padamu dan membuatmu menuggunya sekian lama.  Ia mengatakan itu berkali-kali padaku,” ujarnya dengan parau.

Kini aku berhenti menangis, rasanya kesedihan ini telah sampai pada dasar terdalam hatiku. Aku merasa semakin lemah saja. Aku menatap Jaeshim Eomma yang menatapku juga. Wanita di hadapanku ini begitu kuat, sama seperti Jaeshim. Entah kenapa pikiranku melayang menuju beberapa hari yang lalu, ketika Siwon memberikan secarik kertas yang berisi alamat rumah Jaeshim. Saat itu sikapnya sangat aneh, karena ia begitu sopan padaku. Tidak biasanya seperti itu, bahkan ia tetap bersabar dengan tuduhan-tuduhan tidak berdasar yang aku berikan padanya. Inikah alasannya? Dia pasti sangat kasihan padaku.

“Jaeshim menitipkan ini untukmu,” ujar Jaeshim Eomma seraya memberikan secarik surat kepadaku, dan tanpa ragu aku membacanya.

Beberapa menit berlalu, aku semakin sedih setelah membacanya dan mulai menangis lagi. Sepertinya aku salah, sekarang kesedihan ini serasa tidak berdasar. Terus saja bertambah dan bertumpuk, membuatku serasa terjun menuju sebuah tempat gelap tanpa dasar. Rasanya aku ingin mati saja. Benar-benar ingin mati.

“Kau gadis jahat Kim Jaeshim,” gumamku.  Aku merasa begitu bodoh dan tidak berguna. Di saat sulitnya ia malah menjauh, tidak membiarkanku berada di sampingnya dan membantunya. Bahkan ia menjadikan impiannya itu sebagai alasan menghilang dari hadapanku. Bagaimana bisa aku tidak menyadari semua ini lebih awal?

Tiba-tiba aku seperti melayang, tubuhku terasa sangat ringan, begitu mengantuk dan lelah. Aku melihat sebuah bayangan di balik Jaeshim Eomma. Ia berdiri beberapa meter dari kami. Aku dengar ia memanggil namaku. “Minho-ya,” begitu katanya dengan begitu lembut. Ia tersenyum padaku. Senyuman itu, aku sungguh bahagia melihatnya. Tanpa sadar air mata haru mengalir di pipiku. Tanpa sedikitpun mengerjapkan mataku. Aku sungguh takut ia akan hilang dari pandanganku sekali lagi.

“Jaeshim-ya!” panggilku lemah membuat Jaeshim Eomma segera berbalik ke belakang, tapi di sana tidak ada siapapun. Aku terus menatapnya. Terus dan terus hingga tiba-tiba….

“BRUK!”

Aku ambruk. Tergeletak tidak berdaya. Tapi mataku sama sekali tak berpaling, karena rindu ini masih memenuhi hatiku. “Tidak! Jangan sekarang! Aku mohon jangan sekarang! Aku masih ingin melihatnya,” gumamku dalam hati ketika mataku mulai menutup perlahan.

Aku begitu lelah. Aku ingin tidur. Di sela kelopak mata yang terasa semakin berat, aku berusaha menyebut namanya kembali, dengan suara yang hampir tidak terdengar karena terlalu lemahnya aku saat itu. Terus kuulangi hingga mataku benar-benar tertutup dan tidak ada suara lagi yang keluar dari bibirku yang kaku. Aku tertidur dalam sebuah senyum hangat Jaeshim yang ia tunjukkan padaku.

Aku benar-benar bahagia dapat melihatnya, meski hanya sebuah bayangan dari kerinduanku yang begitu dalam. Keinginanku sudah terkabul sekarang, yaitu melihat wajahnya. Sedangkan saat itu Jaeshim Eomma mengguncang-guncangkan tubuhku dengan paniknya, tergeletak lemas di samping pohon itu, tepat di samping Jaeshim.

Flashback On***

“Apa kau benar-benar ingin pergi?”

Jaeshim mengangguk, dan itu membuatku sangat kecewa. “Jangan beraut muram begitu! Bukankah aku bilang aku akan kembali?”

“Apa kau mau berjanji padaku?”

“Tentu. Asalkan kau berhasil mencetak sepuluh gol untukku, aku pasti akan kembali, aku janji,” ujarnya, tapi ia masih melihat ekspresi yang belum berubah juga, masih saja muram. “Issh. Kau tidak mau melihatku sukses?!” bentaknya padaku mulai kesal.

“Tentu tidak,” bantahku cepat. “Tapi kenapa harus ke Paris, tidak di negara ini saja? Bukankah itu terlalu jauh?”

“Bukankah aku sudah mengatakannya ribuan kali, aku sungguh bosan mengatakannya Choi Minho. Apa kau mengidap Alzaimer?” canda Jaeshim membuatku marah.

“Kenapa kau mudah sekali mengatakan hal mengerikan seperti itu?! Aku mengkhawatirkanmu! Aku takut kalau aku terlalu rindu padamu!” bentakku kesal.

“Bukankah ada ponsel, jejaring sosial, e-mail? Semua itu diciptakan untuk kita gunakan. Jangan kira hanya kau saja yang merindukanku! Aku yakin adikmu Choi Siwon juga akan sangat merindukanku. Kau tahu kan dia masih sangat menyukaiku?”

“Kenapa kau masih saja menyebut namanya di saat seperti ini?!” protesku keras. Dia selalu saja menyebut nama Siwon untuk membuatku cemburu. Kenapa dia begitu menyebalkan?

“Kau jangan cemburu! Karena hanya Choi Minho yang aku cintai. Aku tidak akan berpaling dan tidak akan melupakanmu sampai mati, aku bisa jamin itu. Dan, maaf aku harus pergi meninggalkanmu. Aku harap kau menjadi laki-laki yang kuat,” ujar Jaeshim dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah sendu.

“Jangan bicara seakan kau tidak akan kembali Jaeshim-ya!”

Saranghaeyo,” ujar Jaeshim seraya meraih tangan kananku yang ia letakkan di pipinya, kemudian menutup matanya perlahan.

Melihat apa yang ia lakukan aku tahu apa yang ia ingin aku lakukan. Karena itu tanpa banyak bicara aku mulai mendekatkan wajahku padanya, sama seperti saat itu. Dan perasaan itu kembali muncul. Jantung yang bergejolak serta hawa panas di sekitarku. Tapi kali ini ia tidak memalingkan wajahnya. Ia benar-benar tenang hingga terjadilah adegan yang menurutnya adalah sesuatu yang menjijikkan.

Ciuman ini adalah ciuman pertama Jaeshim sekaligus yang terkahir kali, hingga keesokkan harinya ia benar-benar pergi meninggalakan aku ke Paris hingga aku melihatnya dalam kerinduan di padang hijau. Aku sungguh tidak tahu itu adalah hadiah terkahirnya untukku.

______

To : Choi Minho

Minho-ya, apa kabar? Aku selalu berdoa agar kau selalu baik-baik saja. Pasti saat kau membaca suratku saat ini aku sudah berbahagia di sana.  Melihatmu dari atas sana. Kapanpun dan dimana pun kau berada, karena itu aku berbahagia. Meski tidak bisa bersama, tetapi melihatmu, itu sudah cukup. Sungguh, aku bahagia!

Hari itu, hari dimana aku melihatmu bermain di lapangan hijau itu aku sungguh gembira. Terlebih saat kau mencetak gol untukku. Kau benar-benar tidak akan tahu bagaimana perasaanku saat itu. Takjub. Aku tarik kata-kataku saat itu, bahwa kau tidak akan bisa menjadi pemain bola seperti ucapanmu. Tetapi ternyata, kau jauh lebih hebat dari pada yang seharusnya. Membuat iri saja.

Mian, aku sudah melanggar janjiku untuk kembali menemuimu. Tapi itu aku lakukan karena aku tidak mau kau melihatku dalam keadaan yang begitu menyedihkan seperti ini. Mengingatku sebagai Kim Jaeshim yang mengidap penyakit alzaimer. Membuatmu bersedih. Membuat kenangan indah kita terganti dengan ingatan yang menyesakkan hati, seperti saat kau menerima surat ini.

Kau ingat apa yang aku katakan terakhir kali? Aku masih mengingatnya, meski semuanya perlahan akan menghilang dari memori otakku. Tapi aku selalu mengingatmu dan selalu ingat bagaimana kau mencintaiku, bahkan sampai aku mati. Bukankah itu terdengar seperti bualan jika penderita alzaimer sepertiku yang mengatakannya? Tidak. Sungguh, aku selalu ingat! Karena aku mengingatnya di dalam hatiku, bahkan ketika aku tidak dapat mengingat apapun lagi dan menjadi benar-benar gila.

Saranghaeyo Choi Minho.

From  : Kim Jaeshim, orang yang sangat mencintaimu.

***END***

Sebenernya ni cerita terinpirasi dari diri aku sendiri yang punya penyakit pikun yang menurut aku parah, sampe-sampe aku nangis karena takut mengidap penyakit mengerikan itu. Ya, makanya ada karakter Kim Jaeshim yang menggantikan karakter aku. Ya kurang lebih aku kayak dia lah. Cuman…  e, eh cuman dia lebih tegar dari pada aku. Mungkin kalo aku jadi dia aku udah bunuh diri diem-diem kali.  (#curhat dikit. Nggak papa yah?)

Please kasih komen ya! Klo bisa yang membangun, dan jika ada kekurangan PLEASEEEEEEE banget saran dan kritiknya, nggak usah takut aku marah dll. Biar aku bisa buat yang lebih baik, dan aku sendiri bisa lebih maju. THX a lot!!!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

12 thoughts on “The Days In Memories [2.2]”

  1. Eh, knp double?

    Ehm, Alzheimer ya?
    Jd inget Drakor Thousand days promise.

    Keep writing ne Hana!
    Ditunggu karya yg lain.

    1. iya nih aku juga agak dag dig dug pas tahu punyaku double. mau gimana lagi dah terlanjur kirim…
      thx komennya nunadk!

    1. aku juga ngerasa aneh. sebenarnya agak bimbang mau bikin original cast tapi lagi pengen cari yang satu entert… yah berhubung yang choi cuma mereka berdua ya udah…
      jaeshim menginggal? kan sakit. belum ada obatnya tuh sampe skrng. itu sih yang aku tahu. kalo ada mungkin masih idup kali tuh… hehehe…
      thx!!!

  2. Agak bingung pas Minho tergeletak disamping pohon itu. Emangnya Minho kenapa?? *dasar bego nie aku*
    Bagus ceritanya,, walau sad ending…
    Keep writing… ^^

  3. kok double ya? hoho. bagus ceritanya. meskipun udah ketebak. tapi ceritanya tetep menarik. pencitraannya juga bagus. cuma ada sedikit typo kayaknya tadi-,-. but over all it’s nice 🙂

    1. maklum yang nulis juga manusia. saya udah acak -acak biar nggak ada typo, tapi masih ada yang sisa.
      makasih pujiannya. seneng deh…

  4. huaaaaa… kasian banget minhonya, dia sedih bgt karna jaeshimnya meninggal. tapi bagus bgt ceritanya, menyentuh hati banget.
    tapi rada bertanya2 pas si siwonnya bimang hyung ke minho, eh.. ga taunya dia itu adiknya.. ga cocok sih.. tapi keren kok ceritanya hehe.. author jjang..

    1. kapan-kapan saya nggak akan jadiin siwon adiknya minho lagi deh… saya sebenernya juga nggak srek. #authornya maksain.

      ternyata perasaannya bisa nyampe ya. syukur deh… saya bukan orang yang suka galau. jadi bikin feel sedih itu super susah…

      thx!!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s