Light Become Dark

LightDark

Title : Light become Dark

Author : Keyz Wima

Main Cast : Kim Kibum  ( SHINee ) , Kim Haebum  ( OC ) , Kim Hyunbum  ( OC )

Support Cast : Tuan dan Nyonya Kim, Park Eunsang (OC), Yoo Seungmin (OC)

Length : Oneshot

Genre : AU, Family, Brothership, Friendship, Sad  ( maybe )

Rating : T  ( mungkin )

Summary : Seringkali aku merasa gelisah. Bahwa saat – saat terbaik telah pergi

Recomended Song : westlife – I cry & a total eclips of the heart  ( kalo punya n suka)

A/N: Annyeong. Ini ff keduaku n i hope this is better than before. Ini murni imajinasiku dan wish you like it.

Seberkas cahaya matahari menerobos masuk melalui sela – sela gorden berwarna putih membuat tiga namja yang tertidur pulas di balik selimut itu, menggeliat. Satu di antaranya membuka kelopak matanya. Ia melirik jam dinding. Jarum jam menunjukkan pukul setengah enam. Pandangannya beralih pada dua namja dengan kelopak mata masih terpejam. “Hey! Sudah jam setengah enam! Key! Hyunnie!” ujarnya sambil mengguncang – guncang tubuh dua namja di sampingnya.

“Lima menit lagi, hyung!” ucap salah seorang yang terlihat paling kecil.

Namja yang dipanggil hyung itu bernama Haebum. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan membuka gorden jendela. Membiarkan sinar matahari menyinari kamar yang sangat luas untuk anak seusianya.

Setelah selesai membuka gorden jendela, ia melangkahkan kaki ke kamar mandi seraya menguap.

Haebum mendudukkan diri di kursi empuk di ruang makan. Ia menenggak chocolate milknya sedikit.

“Dimana Hyunnie dan Key?” tanya Nyonya Kim pada Haebum.

Haebum menjawab, “Masih tidur. Seperti biasanya.”

Nyonya Kim itu mendengus kesal, ia berjalan ke arah pintu kayu berukiran rumit dan membukanya kasar. Haebum hanya memperhatikannya sesaat.

“Namdongsaengmu benar – benar pemalas,” komentar Tuan Kim setelah menyeruput kopinya. Haebum hanya tersenyum mendengar komentar Appanya.

‘Rutinitas sehari – hari,’ batin Haebum.

“KAJJA BANGUN! ATAU SEKOLAH TANPA UANG SAKU!” teriak Nyonya Kim berusaha membangunkan dua putra yang masih memejamkan matanya.

“Jangan! Kami bangun kok. Hyung bangun!” suara Key menyahuti teriakan Nyonya Kim.

Nyonya Kim menggerutu, “Kalian ini sampai kapan harus dibangunkan dulu, hah? Sudah umur dua belas masih aja manja.”

“Empat belas, eomma,” ralat Hyunnie.

“Dua belas itu aku, hyung.” Sahut Key.

Haebum yang mendengarkan dari ruang makan hanya menggeleng – gelengkan kepala mendengar suara dua dongsaengnya. Ya, dia anak tertua keluarga Kim.

“Kembar tidak sepenuhnya sama. Kau dan Hyunnie berbeda sifat.” Tuan Kim memecah kesunyian di ruang makan.

“Benar. Justru Hyunnie dan Key lah yang sama.”

====

Key menatap langit senja yang menampakkan semburat kemerahan. Kemudian ia mengayunkan ayunan dengan ritme pelan. Hembusan angin sore menerpa wajah tirusnya. Suara petikan gitar yang dimainkan hyungnya, Haebum membuat senyumnya mengembang. Ia mengalihkan pandangannya pada Hyunnie yang masih tenggelam dalam keasyikan melukisnya. Aktifitas sore hari yang selalu dilihat Key.

Tiba – tiba tempo ayunannya menjadi cepat. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Appanya mendorong ayunannya. “Appa!”

Tuan Kim tersenyum dan mendorong ayunan dengan ritme sedang. “Kenapa hanya memperhatikan hyungmu saja? Seharusnya kau punya hobi.”

“Aku lebih senang ayunan sambil memperhatikan mereka saja.”

“Huh, dasar!” Tuan Kim mencubit pipi Key gemas. Key mengerucutkan bibirnya. Tangannya mengelus pipi yang dicubit Tuan Kim. Ekspresi Key yang menggemaskan membuat Tuan Kim terkekeh. Sementara Key semakin kesal dengan Appanya meloncat turun dari ayunan.

“Kenapa masih dicubit terus sih? Gantian hyung saja dong yang dicubit,” gerutu Key. Ia berdiri dengan berkacak pinggang.

Tuan Kim membungkuk untuk menyamakan tingginya dengan Key dan berujar menggoda, “Kalo hyungmu sudah nggak asyik. Lebih cute kamu, Kibummie.”

Mendengar ucapan Tuan Kim, Hyunnie tergelak. Key menatap Hyunnie tajam dan meninggalkan taman belakang rumah. Ia menghentak – hentakkan kakinya kesal setelah mendengar tawa Hyunnie dan Appanya semakin keras. Ditambah lagi, Haebum ikut tertawa. Padahal Key tau bahwa hyungnimnya yang satu itu jarang tertawa.

====

Jam sepuluh malam, Key melangkahkan kakinya keluar kamar. Ia haus dan hendak berjalan ke dapur tapi Ia mengurungkannya setelah mendengar suara gaduh dari kamar Appa Eommanya. Pintunya sedikit terbuka, menampakkan laki – laki yang tak lain adalah Tuan Kim sedang berkacak pinggang. Key membuka pintunya sedikit lebih lebar.

Ia melihat Appanya sedang beradu mulut dengan Eommanya. Ia memang tak bisa mendengar jelas apa yang mereka debatkan. Tapi terlihat raut wajah marah Appa dan Eommanya.

“Key!” bisik seseorang di telinga Key.

Key tersentak. Ia melihat Haebum meletakkan telunjuknya di bibir seolah memberi tanda agar tak bersuara. Haebum kemudian mengandeng Key menuju kamar mereka.

Setelah berada di kamar Key bertanya, “Kenapa mereka berkelahi?”

“Aniya. Mereka tidak berkelahi. Kau salah lihat. Sudah. Sekarang waktunya tidur. Oke?” jawab Haebum. Ia membantu Key membaringkan tubuh. Dan menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur.

Sambil mengelus rambut Key pelan, Haebum menatap rembulan yang menghiasi langit malam. Ia berharap semuanya hanya mimpi ketika ia bangun esok hari.

“Hyung!” panggil Hyunnie membuat Haebum terkejut.

Ia melihat Hyunnie yang ikut duduk dengan posisi yang sama dengannya. Ia melempar tatapan bertanya pada Hyunnie setelah melirik Key sudah tertidur.

“Aku harap itu bukan kenyataan,” gumam Hyunnie yang ternyata berpikiran sama dengan Haebum. “Apa Key melihat sesuatu?”

Haebum menggeleng pelan. Tatapan mata yang ia berikan pada Hyunnie seolah mengatakan Key-tidak-tau-apa-yang-mereka-bicarakan. Hyunnie menghela nafas. Ia memperhatikan Haebum sesaat.

“Ini pertama kalinya mereka bertengkar lagi setelah dua tahun yang lalu. Benar bukan?”

Mata Haebum menjawab ya-kau-benar-dulu-mereka-bisa-menyelesaikannya-dan-aku-harap-sekarang-mereka-juga-bisa-menyelesaikannya.

Hari sudah semakin larut malam. Tapi mereka masih bisa mendengar suara adu mulut. Tak ada yang bisa mereka lakukan. Kecuali mengabaikannya.

====

Suasana keluarga bahagia itu sudah berubah sejak beberapa hari yang lalu. Tak ada sore hari penuh gelak tawa di taman belakang. Tak ada suara marah Key karna Tuan Kim menggodanya. Key yang bingung dengan apa yang terjadi hanya bisa duduk di sofa ruang keluarga dalam diam. Ia merasa semua orang di rumahnya berubah.

Haebum duduk diam dengan earphone terpasang di telinganya. Hyunnie sibuk menggoreskan tinta di buku sketsanya. Padahal sediam – diamnya hyungnya, tak ada yang sampai mengabaikannya seperti saat ini. Bahkan Eommanya juga jarang keluar kamar.

Key tak menyadari bahwa sebenarnya, Haebum tak memutar lagu apapun. Ia hanya tidak ingin ada yang mengajaknya bicara. Hyunnie pun hanya mencorat – coret buku sketsanya asal.

“Appa!” celetuk Key melihat Tuan Kim berjalan melewati ruang keluarga.

Tuan Kim berhenti sesaat lalu melanjutkan berjalan ke kamar. Key mengikutinya.

“Appa. Temani aku ayunan ne? Sudah beberapa hari appa nggak nemenin aku,” cetus Key manja.

“Appa capek, Key!” Suara Tuan Kim terdengar garang dan dengan kasar ia menyentakkan tangan Key yang menggelanyut manja. Ia berlalu meninggalkan Key.

Key meneteskan air matanya. Apa ia tak salah. Kenapa Appanya seperti itu. Apa itu benar Appanya?

Hyunnie bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Key sebentar, “Appa sedang capek. Besok – besok saja kalau hari libur, minta temani Appa. Sekarang ayunan denganku saja, ne?”

Hyunnie tersenyum, “Namja nggak boleh nangis. Kajja!” Ia merangkul dan mengajak Key ke taman belakang. Sesaat ia melihat Haebum. Haebum menatapnya dalam dan teduh dengan sejuta makna, yang tak pernah ia pahami. Ciri khas hyung yang lebih tua sepuluh menit darinya.

====

Hari – demi hari berlalu semakin buruk. Tak ada lagi kasih sayang seorang Appa, tak ada lagi suara Eomma cerewet membangunkan dua putra pemalasnya. Tuan Kim selalu pulang larut malam membuat Key semakin murung. Ia masih tak mengerti apa yang terjadi pada keluarganya. Key menyantap makan malamnya tanpa selera ketika Tuan Kim datang.

“Tumben sudah pulang? Biasanya kalau belum jam sebelas belum pulang. Bukannya sudah tak peduli lagi dengan keadaan rumah. Kenapa pulang cepat?” ketus Hyunnie.

Plak!!

Tamparan keras mendarat di pipi kanan Hyunnie. Tatapan tenang Hyunnie berubah menjadi tatapan tajam yang ditujukan pada Tuan Kim.

“Jangan kurang ajar, HyunBum! Aku tidak mengajarimu untuk memberi contoh buruk pada dongsaengmu,” geram Tuan Kim.

HyunBum bangkit dari kursi makannya dan berdiri seakan menantang Tuan Kim. “Oh ya? Lalu bertengkar semalaman dengan saling teriak – teriak itu contoh yang baik buat anak – anakmu, hah?”

“Kim HyunBum!” gertak Tuan Kim.

“NE! Aku Kim HyunBum!” desis Hyunnie.

“Hyunnie! Enough,” lerai Haebum. Hyunnie menoleh pada Haebum. Haebum melirik Key sebagai tanda pada Hyunnie.

Key mendorong kursinya mundur dengan kasar hingga bunyi berdecit. Ia menahan air matanya tumpah. Dan ia berlari ke kamar. Haebum meletakkan sendoknya kasar dan mengikuti Key. Hyunnie melontarkan pandangan marah pada Tuan Kim. Ia melangkahkan kaki mengikuti hyungnya dan dongsaengnya berada.

Ia menutup pintu perlahan. Hatinya terasa sesak melihat dongsaeng satu – satunya itu menangis lagi. Haebum yang tau Hyunnie sudah masuk ke kamar melepaskan pelukannya pada Key.

Key menghamburkan diri ke pelukan Hyunnie. Sambil terisak ia berkata, “Aku cengeng ya hyung? Padahal hyung cuma bertengkar –”

“Ssst. Mianhae. Seharusnya hyung tidak memulainya. Mianhae, Key!” ujar Hyunnie menyesal. Ia tau, hati dongsaengnya itu selembut hati yeoja bahkan mungkin lebih lembut. Haebum memperhatikan dua dongsaengnya sesaat lalu tenggelam dalam pikirannya.

‘Aku yang anak tertua saja bahkan masih empat belas tahun. Kenapa mereka seperti ini? Apa mereka akan bercerai? Kenapa tak memikirkan anak mereka?’ pikir Haebum.

====

“Haebummie!” panggil sosok yang paling dikenalnya, Appanya. “Kemarilah!”

‘Apa sekarang? Apa mereka akan mengatakannya padaku sekarang?’ pikiran – pikiran di benak Haebum yang berkecamuk.

“Haebummie!” Haebum mengikuti keinginan Appanya.

“Duduklah!” kata Tuan Kim bernada otoriter. Haebum menurut. Ia memperhatikan, Tuan Kim duduk di samping Nyonya Kim yang menunduk, menangis.

“Mianhae, Haebum. Kami sudah memutuskan untuk – ”

“Bercerai? Kapan sidang?” celetuk Haebum menyela.

Tuan Kim mengernyit lalu berusaha berbicara dengan nada datar, “Sidangnya besok.”

“Kenapa hanya memberitahuku? Kenapa hanya minta maaf padaku? Apa kau takut, Hyunnie mencacimu?” ungkap Haebum kesal dan sedikit murka.

“Ce… cerai?” Suara Key lirih di dalam kamar. Pembicaraan di ruang keluarga tertangkap telinga Key.

Cairan bening di pelupuk mata Key jatuh dan menganak sungai di pipi Key. Ia jatuh terduduk. Ia tak menyangka, semua itu terjadi.

Diantara ratusan bahkan ribuan juta keluarga di dunia, kenapa salah satu keluarga yang terpilih untuk hancur adalah keluarganya. Kenapa keluarga yang begitu harmonis tiba – tiba retak dan akan berakhir di meja sidang.

Hyunnie mendudukkan diri di lantai dan memeluk Key yang terisak. Key membenamkan wajahnya di dada bidang Hyunnie. Dadanya terasa sesak dan sakit. Ia merasa dunia tak adil. Kenapa harus keluarganya? Kenapa?

Hyunnie menahan air mata yang hendak mengalir keluar, bak awan yang siap menjatuhkan airnya dengan sangat deras. ‘Aku harus kuat. Aku tak boleh lemah di hadapan Key’

Suara pintu terbuka, sosok yang sangat dihormati Hyunnie masuk. Sosok yang berperan sebagai Appa bagi Key setelah perubahan sikap Appa. Hyunnie merasa Haebum sangat dewasa.

Haebum duduk di tepi tempat tidur dan memperhatikan mata Hyunnie berkaca – kaca. Seolah ada beberapa pisau yang menghujam jantungnya hingga ia merasa sesak. Memang tak ada air mata yang bisa keluar ataupun sekedar membuat pandangannya kabur. Tapi hatinya menangis. Menangis dalam kesunyian. Menangis melihat dongsaeng yang jarang menitikkan air mata itu hendak menangis. Menangis melihat senyum ceria si bungsu lenyap. Kenapa Appanya berubah? Apa yang membuat Appanya tak mencintai putranya seperti dulu? Kenapa cintanya pada putranya padam seperti api yang tersiram air?

I cry silently… I cry inside of me… I cry hopelessly… Cause I know I’ll never breathe your love again… I cry… Cause you’re not here with me… I cry Cause I’m lonely as can be… I cry hopelessly… Cause I know I’ll never breathe your love again

====

Hembusan angin malam kencang tak dipedulikan Haebum. Ia duduk di balkon kamar menatap Sang Dewi Malam berpendar indah. Langit berwarna kelabu, dan tak bertabur bintang. Awan gelap menutupi para bintang yang ingin memancarkan cahyanya. Membiarkan Rembulan menerangi bumi belahan utara sendirian.

Keadaaan langit yang nampak begitu buruk seperti ikut merasakan keadaan hati Haebum yang benar – benar buruk. Ia yakin, dirinya tak akan bisa tidur semalaman kali ini. Ia iri pada dongsaengnya yang bisa meluapkannya dengan menumpahkan cairan bening dari mata. Sesekali ia ingin menangis, tapi entah kenapa tak ada air mata berlebih yang bisa dikeluarkan. Keajaiban Tuhan yang diberikan padanya. Alunan musik alam terasa menyanyat hatinya yang benar – benar terluka. ‘Tuhan, kenapa ini terjadi?’

Every now and then I get a little bit nervous, That the best of all the years have gone by… Turn around… Every now and then I get a little bit terrified, And then I see the look in your eyes… Turn around, bright eyes Every now and then I fall apart.

Di tempat tidur, Hyunnie duduk bersandar. Dilihatnya, Key tertidur dengan air mata yang masih menetes. Hyunnie mengubah posisinya menjadi duduk memeluk lutut. Ia membenamkan wajahnya dan menangis. Tak ada isak yang terdengar keluar dari mulutnya. Hanya ada air mata yang mengalir membasahi pipinya. Mungkin ia tegar dari luar tapi hatinya terasa hancur luluh. ‘Kenapa begitu sakit? Ini bukan akhir dari segalanya. Tapi kenapa? Kenapa sakit?’

Key tak sepenuhnya tidur. Ia masih menangis. Ia takut. Ia takut berpisah. Ia takut hidupnya tak seperti dulu. Ia takut keluarganya benar – benar berantakan. Ia takut kenyataan tetap akan memberinya kepahitan hidup. Ketakutan membayanginya. Tak ada yang bisa ia ajak berbagi curahan hati karna hyungnimnya juga sudah terbebani. Ia berusaha tidur dan berharap itu hanya mimpi buruk. Dan ia akan menghadapi kenyataan yang tak buruk setelah ia terbangun. Harapan sederhana tapi mustahil terjadi, namun ia tetap berdoa. ‘Hanya mimpi.’

====

Yeoja kecil dengan rambut bergelombang yang dibiarkan terurai itu berjalan sambil bersenandung. Lagu – lagu favoritnya mengalun dari headsetnya. Pipinya chubby membuatnya terlihat imut. Ia mengenakan hoodie lengan pendek dan celana jeans ¾.

Ia berjalan santai ke arah taman bermain yang tak jauh dari rumahnya. Tempat ia biasa kunjungi. Tapi ada yang berbeda. Ia melihat seorang namja sebaya dengannya duduk di bangku taman. Namja itu menunduk.

Yeoja dengan nama panggilan Eunnie itu mendekatinya perlahan. Ia terkejut mendapati namja itu adalah teman sekelasnya.

“Kibum?” panggilnya lirih.

Namja itu mendongak, “Park Eunsang? Kenapa kau kemari?”

Eunnie melepas headset nya dan duduk di samping Key. “Justru seharusnya aku yang tanya kenapa kau di sini. Kalo aku tiap pagi selalu kesini.”

“Untuk apa kau kemari?” tanya Key menjaga nada suaranya agar terlihat biasa saja.

Eunnie menatap Key sekilas, “Untuk melihat matahari terbit. Di taman yang luas ini, aku bisa melihat matahari terbit dengan leluasa.”

“Hanya itu?”

“Tidak juga sebenarnya. Aku kemari untuk merasakan keheningan.”

“Apa maksudmu keheningan?”

“Aku tumbuh di panti asuhan yang sangat berisik. Setiap hari selalu saja penuh keributan, padahal aku lebih nyaman jika suasana hening. Karna itu aku kemari,” jelas Eunnie. Senyum tak lepas dari bibirnya.

Eunnie lalu memasangkan headset kirinya pada telinga Key. Key tersentak dan melihat Eunnie bingung.

“Any problem? Dengarkan saja musik ini dan kau akan lupa akan masalahmu. Walau Cuma sebentar, tapi itu bisa membuatmu rileks,” terang Eunnie sambil memasang headset kanannya pada telinga kiri. Ia kemudian mengotak – atik mp3 nya. Menyetel lagu dengan ritme slow namun menyejukkan.

“Kata siapa?” tanya Key.

“Kata Yumin. Itu lho Yoo Seungmin.”

Flashback

 Eunnie melemparkan bukunya kesal ke sembarang arah. Bagaimana tidak kesal, buku tugas yang baru selesai ia kerjakan tadi malam. Dicorat – coret dongsaengnya tanpa sepengetahuannya. Padahal gurunya yang memberi tugas termasuk guru killer. Yumin yang melihat teman sekelasnya kesal. Memasangkan headset yang tadi ia pakai pada telinga Eunnie.

“Dengarkan alunan lagunya. Kau akan lupa masalah tadi. Walau cuma sebentar, setidaknya bisa membuatmu rileks. Nih, soal yang kemarin. Dan aku ada buku kosong buatmu,” ucap Yumin lembut.

Eunsang tersenyum dan memeluk yeoja sahabatnya itu. Meskipun Yumin anak orang kaya. Ia mau bergaul dengan Eunnie, anak panti asuhan. Dan Yumin sangat baik, tidak pernah sombong juga. “Gomawo, Yumin!”

Setelah Eunnie melepas pelukannya, Yumin menjawab, “Kau kan sahabatku, Eunnie.”

Flashback End

Backsound : SM Town – Dear My Family

Key menuruti perkataan Eunnie. Ia mendengarkan lagu yang diputar dan merasakan hembusan angin pagi yang sejuk. Sesekali ia membuka mata untuk melihat Sang Raja Siang beranjak dari ufuk timur naik ke atas langit. Bukan Sang Surya lah yang naik sebenarnya. Melainkan karna rotasi bumi ini yang membuat Mentari seolah naik perlahan ke langit biru.

Ia melirik Eunnie begitu menikmati pagi hari. Benar, sesaat Key lupa pada masalah yang ia hadapi sekarang. Ia ikut memejamkan mata, menikmati pagi meskipun tak ada senyum yang menghiasi wajahnya tak seperti seulas senyum yang selalu terkembang di bibir Eunnie.

====

Haebum, Key dan Hyunnie duduk di bangku kayu di tengah persidangan. Sidang yang menentukan perceraian kedua orang tua mereka. Haebum dengan wajah tanpa ekspresi dengan sorot mata tak acuh. Lingkaran hitam di sekitar matanya menandakan ia kurang tidur.

Hyunnie duduk dengan raut wajah tegas, tatapan tajamnya tertuju pada semua orang kecuali hyung dan dongsaengnya. Kebencian dan amarah tersirat di wajahnya.

Wajah murung Key mengundang tatapan iba dari banyak orang yang datang. Bukan hanya karna ekspresi wajahnya, tapi karna usianya masih terbilang anak – anak. Matanya terlihat sayu, wajahnya pucat.

Sidang berjalan sesuai rencana hingga pada saat keputusan hak asuh, Key berdiri. Ia melangkahkan kaki hendak keluar. Membuat sidang terhenti.

“Kibummie!” panggil sosok dengan suara tegas, Tuan Kim.

“Jangan. Pernah. Panggil. Aku. Kibummie. Lagi. Aku. Bukan. Kibummiemu. Lagi!” geram Key dengan penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan.

Sorotan tajam namun penuh kesedihan terpampang jelas di matanya. Raut wajahnya yang sebelumnya murung berubah menjadi ekspresi frustasi.

“I don’t care about this. And. I. Don’t. Care. About. You!” ujar Key frustasi . Ia melangkahkan kakinya cepat keluar ruang sidang. Dadanya kembang kempis menahan emosi. Ia melangkahkan kakinya tanpa tujuan.

Hyunnie yang melihat Key tak pernah emosi, murka. Giginya bergemeretak. Ia melemparkan tatapan tajam, benci, marah pada Appanya dan mengikuti Key keluar ruangan. Ada yang mengomentari iba terhadap tiga bersaudara Kim itu. Ada yang berdecak melihat kemarahan tiba – tiba dua namja itu.

Haebum beranjak berdiri. Ia melangkah dengan tenang meski dengan ekspresi datar. “Appa mau menyalahkan siapa atas kekurangajaran Key? Menyalahkan Hyunnie? Atau aku?”

Haebum  menyodorkan buku gambar A5 yang ia ambil dari saku jaketnya pada Tuan Kim. “Gambar di situ adalah gambar – gambar khayalan dan. Harapan. Key. Dan. Hyunnie.” Lanjut Haebum dengan penekanan pada kata – kata di akhir kalimat.

“Aku tak berharap itu akan membuat keputusanmu berubah, aku hanya berharap kau sadar betapa sayangnya mereka padamu. Kalau aku sudah tak peduli dengan semuanya.” Haebum berlalu meninggalkan sidang sebelum Tuan Kim menjawab sepatah katapun.

====

Key melangkahkan kakinya asal. Hyunnie yang jauh berada di belakangnya, memanggil – manggil namanya. Key menghentikan langkahnya di trotoar dan menghela nafas panjang. Ia sudah meluapkan semuanya hanya dengan beberapa kalimat saja. Ada sedikit perasaan lega di tengah – tengah amarah dan sedihnya.

“Key!” Key menoleh. Ia melihat Hyunnie berjalan menyebrang setelah melihat traffic light untuk pejalan kaki menyala hijau.

Tapi suara tak asing terdengar cepat dan keras.

TIINNN!!!!

“Hyuung Awaaas!!!”

Once upon a time there was light in my life

Suatu ketika, ada cahaya dalam hidupku

But now there’s only love in the dark

Tapi kini hanya ada cinta dalam gelap

Nothing I can do

Tak ada yang bisa kulakukan

A total eclipse of the heart

Gerhana total di hatiku

END???

Gimana bagus kah? Gaje kah? Nggak seru kah? Nggak dapet feel nya kah? #authorcerewet. Gomawo udah baca. Jangan lupa kasih komentar ya.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

66 thoughts on “Light Become Dark

    1. masih bingung bikin endingnya. hehe (*¯︶¯*)
      Ntar kalo bnyak yang suka, aku bikin deh sequelnya
      Gomawo udh baca n komen yaa *^▁^*

  1. feelnya ngena banget dihati.
    jadi ikut nangis
    ngegantung sih…
    tpi klo bisa lanjutinnya feelnya masih sad. karena biar lebih berasa lagi hahah just my opinion. tergantung authornya mau bikin happy or sad.
    overall fanficnya bagus banget….
    salut sama authornya..
    keep writing…

  2. beneran dapet feel nya nih? *^▁^*
    Aku malah takut, reader nggk dapet feel nya
    soalnya ff pertamaku yah rada ancur gimana gitu #curhat #abaikan
    so, aku takut yang ff ke2 ini gagal

    Sequel nya masih sad kok kayaknya, ntar habis ff party 2012 aku sempetin bikin
    Gomawo ya mau baca n komen (*¯︶¯*)

  3. @diankey waaah ada reader baru nih asiiiikkkk °\(^▿^)/°. Rajin2 mampir yaaa 🙂 semoga bisa berpartisipasi yaaa disini :* mmuaaah muuaah .. Line berapa ???

  4. ya ampun bagus banget. Diksinya juga bagus. Narasinya bener-bener detil. Kalau aku liat sih ga ada typo. Kereeennn.. Sequelnya dong, pasti seru banget.

  5. ya ampun bagus banget. Diksinya juga bagus. Narasinya bener-bener detil. Kalau aku liat sih ga ada typo. Aku sampe nangis thor T.T Kereeennn.. Sequelnya dong, pasti seru banget.

  6. aah..kecee!
    bneran aku gak kepikiran loh bikin 3 tokoh dgn wajah yg mirip..haha…

    feelnya dapet kok! itu karakter si kembar bner2 waw banget!. aku suka sama dialog yg mreka utarakan 😀

    kuharap sih TBC..gmna masa depan mreka misalnya..wkwkwk..
    keep writing!

    1. Hehe, aku terinspirasi novel nya Esti Kinasih yg tokohnya anak kembar, jadilah kakak beradik itu sbg tokoh FF ku kali ini
      Syukurlah kalo dapet feel nya
      Nnti aku usahain bikin sequel nya
      Sabar ya
      and the last but not the least, gomawo

  7. Thor..
    sumpah,, cerita beda. feel nya dapet..
    aku harap ini ada sequelnya,, aku penasaran,,
    aku mohon,, sekuel yha,,
    kalo isa happy end..
    aku suka kalo cerita beginianm ngingetin masa lalu,
    apalagi ni cast nya masih dibawah umur,,
    please,, sekuel..

  8. Haaa,,,
    bagus banget ini mah, Saeng.
    Huft, masih muda bgt authornya ya!
    Salam kenal! Aku Deka. 90 Liner.
    Ditunggu karya yg lain ya!

  9. jeongmal ff ini keren banget!! feelnya dapet-bangetmalah-kok thot!!!
    sequel dong sequel dong… ntar kalo udah ada sequelnya tolong kasih tau ya …
    daebak pokonya

  10. endingnya nanggung… endingnya nanggung.. -___-

    aq msh rada ketuker key, hyunnie, ama haebum. aq ngebayangnya ketiga orng yg sama.
    tp itu endingnya hyunnie meninggal dan key semakin galau? begitu?
    ahh tp bagus. kl baca pas bgian terakhir readers jg dpt menyimpulkan kalau hyunnie meninggal. kasihan…

  11. Aih~ ending ngegantung~ jadi inget FFku yang aku post disini, endingnya ngegantung juga^^

    Author udah nyiapin ide cerita buat lanjutannya kah? Atau nggak? Kalau udah, aku harap bisa di post, tapi kalau belum… Aku nggak akan minta lanjutannya karena aku tahu kebahagiaan tersendiri kalau bikin FF ngegantung^^;;;

    Love it! FF pertama kah? Jjang!

  12. hiks… hiks…
    3 saudara. mengalami hal yang begituan? jadi inget seseorang.
    sad….
    berderai air mata nih…
    daebak!!!

  13. Pingback: rindusyurgaku
  14. Itu terus endingnya gimanaaa? Yang tabrakan siapa huhuhuhu ;A;
    Tapi seriusan lho ini sedih banget. Aku nyaris nangis pada bagian malem-malem pas mereka betiga pada merenungin nasib, huhuhu. Kasian banget mereka masih kecil-kecil gitu tapi pemikirannya udah dewasa ;u;
    Tapi… yah, emang lebih baik kalo dibikin rada gantung sih. Biar pembacanya bisa nebak-nebak sendiri akhirnya gimana sesuai dgn imajinasi masing-masing tehee~
    Overall, aku sukaaaa bgt sama ceritanya<33 fufu

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s