Piece of Memory – Part 6

pieceofmemory

Piece of Memory [Piece 6]

Main Cast:

  • Choi Minho
  • Lee Taemin

Support Cast:

  • Kim Kibum (Key)
  • Choi Jinri (Sulli)
  • Lee Jinki (Onew)
  • Kim Jonghyun

Length: On Going

Genre: Alternate Universe, Life

Rating: Teen

Disclaimer:  I do not own the character – they belong to God and themselves. The plot and the story are mine; it also published at my own wp here . Poster belong to ART Factory ^^

Apa yang sebenarnya kupikirkan? Aku benar-benar sudah gila.

Taemin menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan. Ia sudah tiba di rumah, ia sudah memijak kamarnya sendiri, ia sudah memegang kenop pintu kamar Yeseul… tapi apa yang terjadi selanjutnya? Dengan mudah ia mengiyakan permintaan Minho untuk segera kembali ke apartemen. Astaga, Taemin nyaris tidak bisa mempercayai dirinya sendiri. Pasalnya, setelah perbincangan Minho dan Han ajumma kepalanya terasa begitu ringan dan ia membiarkan segalanya mengalir; dirinya yang segera berkemas, dirinya yang memeluk Han ajumma, dirinya yang berterima kasih pada Minho… well, itu bukan kemauannya –sesuatu mengendalikannya. Sesuatu yang kuat dan mendesak.

Pandangannya jatuh pada diary di atas meja, sekali lagi memperhatikan corak bunga pada sampul depan. Jika diingat kembali, Taemin sama sekali tidak berbicara pada Minho sepanjang perjalanan pulang ke apartemen. Bukan apa-apa, ia hanya merasa tidak nyaman setelah ucapan terima kasih diikuti sentilan suara gila di kepalanya tentang cinta – oh, Taemin bersyukur tidak mengucapkannya secara langsung.

Tangannya memainkan kancing logam diary yang sudah ia buka sedari tadi. Jujur saja ia ragu apakah dengan membaca diary kakaknya dapat membantu, tapi semua yang menyisakan kenangan adalah sesuatu yang perlu dipertimbangkan – yang berarti ia tidak punya pilihan lain jika ingin segera menyelesaikan permainan membingungkan ini.

Whoops!” Tangannya tergelincir dan membuat diary meluncur jatuh membentur meja, menghamburkan selembar kertas yang kelihatannya sengaja diselipkan di dalam karena cukup berharga. Taemin ikut turun dari kursi untuk menangkapnya sebelum terselip di bawah kaki meja.

Kertas tersebut berwarna kuning cerah bergaris-garis – tipikal kertas memo – dan diisi oleh beberapa baris tulisan tangan yang kecil dan sangat rapi. Taemin duduk bersila dan mengangkat memo ke depan wajahnya.

Minho-ya,
Aku tahu kau sangat membenciku. Aku tahu kau tidak ingin melihatku lagi selamanya. Tapi apa kau tahu semua yang kulakukan ini semata untuk dirimu dan adikku? Jika kau menerima memo ini, bisakah kau menyampaikan salamku pada Taemin? Demi Tuhan, aku sangat mencintainya sebesar rasa cintaku padamu.

Yeseul.

Tulisan dalam kertas itu mengabur; dari titik paling akhir terus tereduksi ke depan seolah film yang dimainkan mundur. Tinta-tinta biru itu menguap ke udara bersamaan dengan pusaran berwarna keunguan.

Taemin menyadari dengan terlambat dirinya berada di tempat yang benar-benar berbeda; sebuah ruangan luas yang dinominasi warna ungu pucat. Interiornya modern minimalis, tapi tetap tampak elegan. Ia menemukan punggungnya bersandar pada dinding berlapis wallpaper bercorak bunga dan matanya tepat menghadap sebuah meja tulis tempat seorang perempuan duduk.

“Kapan kau akan memaafkanku?” Taemin berjengit mendengar isakan pelan dari bibir si perempuan – terdengar begitu lelah dan putus asa.

Perempuan itu mendorong kursi mundur, dengan ketegasan yang membingungkan menyambar tas tangan dan syal yang tergeletak di atas meja lantas membalikkan badan. Kepalanya terus menunduk, membuat Taemin hanya bisa melihat bulu mata lentik dan poni yang jatuh menutupi dahi.

Sekali lagi, ia merasa beberapa keping ingatan menghunjam otaknya; seperti badai menyerang tanpa ampun sehingga membuat pikirannya berkabut. Hamparan kilas balik bak rol film menjerat kedua kaki dan tangannya, memaksanya tetap membuka mata dan melihat gambaran buram tersebut.

Pemandangan yang melintas cepat seolah berada dalam suatu kendaraan. Boks telepon. Koridor. Pintu. Seruan yang saling bersahut-sahutan. Lift. Lalu gelap.

“Oh, astaga….” Taemin mengusap keringat dingin yang mulai menetes dari pelipisnya; ia kembali berada di kamar Minho, mencengkram kertas memo yang kini ikut basah oleh keringat.

Sepertinya ia sudah tahu apa yang terjadi dengan kakaknya. Ia berdiri menghadap meja, membuka cover dan membalik halaman demi halaman tanpa repot-repot membacanya. Tujuannya hanya satu: mencari dimana kertas memo itu tadinya terselip.

Gerakannya terhenti di satu halaman yang berada di tengah. Matanya bergerak ke kanan-kiri mengikuti tulisan yang terkesan tergesa. Ia terlalu berkonsentrasi pada baris terakhir hingga tanpa sadar bibirnya ikut mengucapkannya:

“‘Surat pendek ini hanya sampah, aku menyadari hal itu. Mungkin lebih baik aku sendiri yang datang kesana dan berbicara langsung. Aku lelah terus berpura-pura terus’.”

Taemin mendongak pada jendela, menerima sorot terakhir matahari yang nyaris tenggelam.

Hampir. Ia merasa hampir menyelesaikan jigsaw puzzle raksasa ini.

~~~

Kau diberi satu lagi kesempatan untuk hidup.
Cari Kim Jonghyun – ketahui apa yang harus kau ketahui dan ungkapkan apa yang harus kau ungkapkan.
Waktumu hanya dua hari terhitung dari sekarang.

Taemin terbangun dengan keringat membanjiri sekujur tubuh. Sinar matahari menembus kerai; tidak terlalu cerah tapi mampu menenangkan degup jantungnya yang tak beraturan. Ia terduduk, menutup mulut dengan satu tangan. Layaknya mendapat mimpi buruk, selama beberapa detik otaknya tak mampu memproses apa yang baru saja terjadi. Tapi tidak. Ini bukanlah sebuah mimpi buruk melainkan fakta baru yang menyelinap ke benaknya.

Bagaimana mungkin ia tidak sadar? Suara itu –suara yang selalu berbisik di pagi hari– adalah milik Lee Jinki! Jika dugaannya benar, maka pria itu-lah yang memegang peran terbesar dalam permainan ini.

Tapi ini hari Sabtu; sekolah libur dan mungkin saja Lee Jinki tidak ada di sekolah, apalagi di waktu sepagi ini. Pikiran itu menyelinap ke otak Taemin kala tangannya sudah menarik satu kemeja biru muda dari dalam lemari. Selama sepuluh detik penuh ia terdiam, membiarkan pikirannya berdebat lalu menyerah pada egonya yang ingin segera menyelesaikan teka-teki.

Ia hanya mengisi ransel kainnya dengan ponsel dan diary Yeseul –tindakan berjaga-jaga jika Jinki memang ada di sekolah dan mengerti keseluruhan peristiwa yang sebenarnya terjadi. Taemin menghampiri cermin dan menyibak poni secara asal-asalan ke samping.

“Oh, kau mau kemana?” tanya Minho saat Taemin sudah duduk di undakan dan memakai sepatu kets dengan tergesa. “Kau yakin tidak lupa bahwa ini hari Sabtu?”

Taemin mengikat tali sepatu sebelah kiri lantas menoleh pada Minho. Menatap lelaki yang membawa cangkir kopi di satu tangan dengan tajam. “Aku sepenuhnya sadar, Minho ssi.”

“Lalu kau mau kemana?”

“Sekolah.”

“Kau tidak sekolah di hari Sabtu… tapi terserahlah. Pergi kemana pun yang kau mau di hari libur yang langka ini,” desah Minho dengan nada menyerah.

“Eh?” Daftar alasan yang sudah dikarang Taemin lenyap begitu saja saat Minho menyatakan hal itu. Sebelumnya ia mengira Minho tidak akan mengizinkan ia keluar dari apartemen tanpa tujuan dan alasan yang jelas.

“Hati-hati di jalan,” pesan Minho sambil mengacak rambutnya pelan dan kembali ke ruang tengah.

Taemin menyempatkan diri melirik Minho sebelum keluar dari apartemen. Sedikit aneh mendapat nada kelewat santai dan wajah tanpa ekspresi milik Minho. Ini sungguh tidak wajar –ia merasa begitu dimudahkan.

Denting lembut terdengar saat pintu lift terbuka. Setelah mempersilakan seorang ibu dan anak perempuan keluar terlebih dulu, Taemin menyelinap masuk, menyandarkan punggung pada dinding lift yang dingin. Untuk pertama kali ia memperhatikan detail kecil lift sempit ini.

“Tidak, lepaskan!!”

“Taemin-ah! Pulang bersamaku sekarang juga!”

“Tidak, Nuna. Kumohon….”

“Kau tak pantas memohon untuk hal ini. Pilihanmu hanya satu: pulang ke rumah!”

“Aku tidak mau! Aku ingin –”

PLAKK

Taemin tersentak mendengar suara tamparan yang begitu nyata di telinganya. Ia menoleh ke kanan lalu ke kiri, memastikan bahwa dirinya benar-benar sendirian. Satu tangannya terangkat ke pelipis, memijat pelan dalam usaha meredakan pening yang kembali menyerangnya.

Ia tadi bisa melihat dengan begitu jelas dua orang yang bersitegang di dalam lift. Seorang perempuan berdiri memunggungi Taemin; wajahnya tidak terlihat tapi satu tangannya mencengkram pergelangan tangan laki-laki yang menempelkan punggung ke pintu lift, seolah berusaha kabur dari jangkauan si perempuan. Samar dan kabur, tapi siluet laki-laki itu mirip dengannya. Taemin mendesah perlahan. Jika itu benar-benar dirinya….

Pintu lift kembali terbuka, memperlihatkan lantai dasar yang lengang. Taemin mengusap rambutnya ke belakang, lalu melangkah keluar. Karena tidak berkonsentrasi ia nyaris menabrak seseorang yang hendak masuk ke dalam lift. Ia menggumamkan maaf perlahan, lantas bergegas keluar dari gedung apartemen.

~~~

Minho memelankan volume televisi, mengalihkan konsentrasi dari acara bincang-bincang pada denting bel yang terdengar samar. Ia menyingkirkan koran hari ini dari pangkuan dan berjalan ke depan pintu, membuka tanpa perlu mengintip siapa yang datang. Ya, ia sudah tahu siapa itu.

“Aku tak menyangka kau akan datang sepagi ini.”

“Sambutan yang amat menyenangkan.”

Mata Minho menyipit pada laki-laki di depannya; sosok berambut hitam jabrik dengan garis wajah tegas yang sudah sangat dihafalnya. Tidak ada senyum disana.

“Masuklah.” Minho melepaskan pegangan dari kenop pintu, tanda bahwa ia mempersilakan tamunya masuk.

Alih-alih masuk, laki-laki yang lebih pendek dari Minho itu bertanya sinis, “Kau sengaja membiarkan Taemin pergi agar tidak bertemu denganku?”

“Katakan apa yang kau inginkan,” Minho melipat lengan di depan dada. “Kim Jonghyun.”

Kim Jonghyun menyeringai. “Aku hanya ingin mengucap selamat tinggal.”

~~~

Seperti yang sudah bisa diduga, sekolah begitu lengang. Selain tukang kebun yang asyik menyiram taman bunga, tidak ada tanda keberadaan manusia disana. Taemin mencengkram tali tasnya dan melangkah memasuki gerbang, melintasi lapangan dan tanpa berhenti sedikit pun memasuki gedung sekolah.

Baru kemarin ia pergi ke Ruang Data, tapi hari ini ia nyaris lupa bagaimana caranya kesana. Mempercayai instingnya, ia berjalan menyusuri koridor di sebelah kanan, melewati pintu-pintu terkunci menuju ruangan di paling ujung.

Tanpa sadar Taemin menghembuskan napas lega melihat plang ‘Ruang Data’ di atas daun pintu. Tangannya terangkat untuk mengetuk, tapi memilih menggunakan jalan pintas berupa langsung memutar kenop pintu yang tidak terkunci. Ia melongokkan kepala ke dalam.

“Permisi….”

Aneh. Jika tidak ada orang, seharusnya ruangan sepenting ini dikunci, bukan? Taemin melangkah masuk, melewati meja Mr. Jung yang kosong menuju pintu yang tertutup rapat. Ia terkesiap saat satu tangan menangkap pundaknya. Dengan cepat ia berbalik, nyaris melonjak melihat Jinki berdiri di belakangnya. Tersenyum tenang seolah tidak ada yang terjadi.

“Mr. Jung tidak ada disini. Ada yang bisa kubantu?”

Taemin menepis tangan Jinki dari bahunya. “Seharusnya kau tahu kenapa aku ada disini.”

Senyum Jinki lenyap. Ia memiringkan kepala ke samping. “Memangnya kenapa kau ada disini?”

“Ini tidak lucu; aku tahu kau yang selalu berbisik di telingaku sebelum bangun tidur!” sembur Taemin gugup. Tangannya mencengkram tali tas lebih erat.

“Oh….” Jinki kembali tersenyum – benar-benar tersenyum hingga matanya menghilang. “Lalu apa yang kau inginkan dariku?”

Taemin sedikit terkejut dengan sikap tenang Jinki. “Kau… apa maksudnya dengan hari yang tersisa? Kenapa aku harus mencari Kim Jonghyun?”

“Ah, kid these days.” Jinki mendesah dramatis. “Sebenarnya kau tidak perlu tahu mengapa, lakukan tugasmu maka kita bisa melanjutkan hidup dengan bebas.”

“Hei, jawab pertanyaanku!” desak Taemin.

“Itu adalah jawabannya, Lee Taemin. Berhentilah bermain detektif dan carilah Kim Jonghyun. Tugas mudah, bukan? Mungkin jika kau bukan orang yang cerdas, tugas ini akan lebih cepat selesai karena kau tidak perlu penasaran dengan masa lalumu.”

Taemin menghentakkan satu kaki ke lantai lantaran kesal. “Apa maksudmu dengan ini semua? Jadi kau yang membuatku seperti ini?”

Jinki terdiam sejenak, lalu tersenyum misterius. “‘Jadi seperti ini’, huh? Kalimat yang bagus dan sangat tepat.”

“Eh?”

“Kalau aku jadi kau,” Jinki memberi jeda untuk mencermati arloji di pergelangan tangannya, “aku tidak akan berada disini. Sungguh, kau sudah membuang sangat banyak waktu dengan bercakap-cakap denganku.”

“Apa lagi maksudmu?” tanya Taemin, kali ini diliputi rasa penasaran yang tinggi.

~~~

Pegangan Minho pada kenop pintu mengencang. “Kau akan pergi?”

“Sampaikan pada malaikat kecilmu itu untuk jangan berusaha menghubungiku lagi.” Jonghyun mengeluarkan ponsel, menggeser-geser layar sentuh dengan ekspresi bosan. “Tiap hari dia selalu meneleponku, juga mengirimku ratusan pesan singkat –ah, apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran anak itu? Apakah dia juga tertarik padaku?”

“Apa yang kau inginkan?” Minho tidak peduli jika suaranya kini bergetar marah.

Sepertinya Jonghyun menikmati perubahan atmosfer ini. Ia mengarahkan layar ponsel pada Minho, memberi bukti bahwa selama beberapa hari terakhir hanya ada nama Taemin yang menghubungi pria itu. “SeeIt’s his cute point, I think,” kekehnya.

“Kau –”

“Sayangnya aku masih normal.”

Minho mengepalkan tinju hingga kuku-kuku menghunjam kulit telapak tangannya.

“Aku dan Yeseul akan segera berangkat ke Paris.” Jonghyun membenamkan ponsel ke dalam saku celana dan merapikan kembali kerahnya. “Besok. Pesawatnya akan berangkat sebelum pukul enam.”

“Apa keuntunganku tahu akan hal ini?” geram Minho.

“Berpesan untuk Taemin, mungkin? Anak malang, aku selalu bertanya-tanya mengapa dia harus terjerumus bersamamu.” Jonghyun mengeluarkan sesuatu dari kantong kemeja. Menyorongkan pada Minho, ia tersenyum mengejek. “Jangan kau gunakan demi kepentingan sendiri –ini untuk Taemin, ingat? Camkan baik-baik di otak bebalmu itu.”

Amplop putih berisi uang itu jatuh begitu saja begitu Jonghyun berbalik pergi. Minho tidak sudi menyentuhnya –seperti sejak dua minggu yang lalu– dan ia jauh lebih tidak terima jika mengambil dari tangan Jonghyun sendiri. Ia melangkah lebar menuju birai, menghirup udara pagi sekaligus memandangi lapangan yang sudah tidak terawat guna meredakan gemuruh dadanya.

~~~

Cerita Key tentang sesuatu di universitas menguap begitu saja sebelum sempat memantul dalam gendang telinga Sulli. Perhatian gadis itu tertuju pada ponsel yang bergetar dalam genggamannya. Satu nama sedang berusaha menghubunginya. Taemin.

“Sulli-ya, kau mendengarkanku?” tanya Key setelah beberapa menit tidak ada yang terlontar dari bibir gadis di sebelahnya. Ia melirik spion, menaikkan satu alis karena Sulli terlihat merenung tentang sesuatu yang jauh. Barulah ketika mobil berhenti di lampu merah, Key bisa mengerti alasannya; ponsel gadis itu berkerlip-kerlip tapi sang pemilik tidak melakukan apapun.

“Aku tidak keberatan jika kau mengangkat telepon,” gumam Key. Ia memberikan senyum lebar saat Sulli menoleh padanya dengan ekspresi terkejut.

“Tidak, Oppa. Ini temanku –sekali berbicara dia tidak akan bisa berhenti. Kupikir hanya akan mengganggu kita,” dusta Sulli. Untuk alasan yang tidak diketahui ia enggan memberitahu Key bahwa Taemin-lah yang meneleponnya.

Key tampak percaya saja. Lelaki itu terkekeh pelan dan kembali menjalankan mobil. Mereka berbelok ke sebelah kiri, menjauhi pusat kota.

“Kita akan kemana?” tanya Sulli heran. Seingatnya Key mengajaknya jalan-jalan ke salah satu department store yang terkemuka di jantung kota.

“Menjemput teman – mobilnya rusak dan, sebelum kita berjalan-jalan, aku akan mengantarnya ke rumah sakit. Kau keberatan?”

“Ah, sama sekali tidak.” Sulli tertawa kikuk, bingung bagaimana menanggapi penjelasan Key –bagaimana pun ia juga bisa disebut menumpang sekarang. “Omong-omong teman Oppa sakit apa?”

“Kekasihnya yang sakit, dia ingin menjenguknya,” jawab Key setengah malu.

Sulli mengangguk-angguk pelan, mengamati deretan pertokoan dan apartemen yang berdesakan sembari bergumam pelan. “Orang yang baik.”

Mobil berhenti di depan sebuah boks telepon merah tempat seorang laki-laki menyandar di dinding luarnya. Key menurunkan kaca jendela.

Hyung, naiklah!” kata Key sambil menunjuk jok belakang. Hal ini membuat Sulli semakin tidak enak, terlebih lagi karena si laki-laki memandangnya intens. Sulli menunduk, menyembunyikan wajah dengan ikal-ikal rambutnya.

“Aku mengganggu kencan kalian, huh? Jika kau bilang sejak awal, aku bisa naik taksi.”

Sulli terkejut dengan nada ramah laki-laki berambut hitam itu. Diam-diam ia melirik ke belakang, mengamati wajah bergaris tegas tersebut.

Key kembali menjalankan mobil ke arah perkotaan. “Sulli-ya, aku sudah bercerita padamu, bukan? Dia Kim Jonghyun.”

“Kim… Jonghyun?”

Tepat saat itu, ponsel Sulli kembali bergetar. Taemin lagi-lagi berusaha berbicara dengannya.

~~~

Seluruh dunia Taemin terasa berputar. Warna-warna kabur menjadi satu. Udara seolah menggumpal menjadi sesuatu yang terlalu berat untuk disirkulasikan dalam paru-paru. Perlu berpegangan pada pinggiran meja bagi Taemin untuk tetap berdiri tegak setelah mendengar penjelasan Jinki mengenai dirinya.

“Itu… tidak mungkin. Sama sekali tidak masuk akal!” jerit Taemin tertahan. Sebagian dirinya memberontak ingin kembali, tapi ia belum dapat mempercayai ini semua.

“Aku juga berpikir hal semacam ini hanya ada dalam fiksi. Tapi ini kenyataan,” sangkal Jinki tenang.

Taemin menatap Jinki lewat helaian poninya. “Kenyataan? Setelah semua yang kulakukan, hanya ini yang disebut kenyataan?” tanyanya sarkas. Meski kepalanya terasa melayang, tapi ia masih ingat cara untuk bersikap sinis pada orang lain.

Jinki hanya balik menatapnya, mengirim sinyal sudah-kuperingatkan-berkali-kali lewat matanya tanpa perlu penjelasan verbal. Seulas senyum tersungging di bibirnya.

“Jadi…” Jinki membuka percakapan setelah Taemin tampak lebih tenang, “apa yang akan kau lakukan? Setidak masuk akal apapun, waktu tetap berjalan dan keterlambatan sungguh tidak kusarankan.”

Hening beberapa menit selanjutnya, kemudian Taemin menghela napas dan melepas pegangan dari pinggiran meja. Ia menatap Jinki lekat-lekat.

“Aku tetap akan mencari Jonghyun.”

..::To be Continued::..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

17 thoughts on “Piece of Memory – Part 6”

    1. Maaf yaa 😦

      Kalo bingung monggo dibaca part sebelumnya. Serius aku juga nggak ngerti kenapa FF ini forgettable banget ._.

      Makasih banyak yaa ^^

  1. akhirnya muncul jg FF ini..
    karna aku sllu nunggu FF mu ini lho min..
    mkin pnasaran ni…

    next part nya jgn lama-lama y min..

    1. Ditunggu? Waah, terharu :’)

      Syip, tinggal nunggu waktu publish aja kok, makasih banyak sudah baca.

      Anyway, kenapa harus rahasia sih? :3

  2. Akhirnya, publish juga si Tetem imut..
    Haha

    Tapi2, Zaky-ssi, sbnrnya Jong itu bukan pacar dr Yeseul kan? Abisnya pas scene di mobilnya Key itu, Key bilg Jong mw jenguk kekasihnya di RS?
    Pas part kmrn2 itu si Taemin nemu surat dr Yeseul buat Minho tp alamatnya di Paris.

    Dan, sbenernya Jinki itu berperan sbg apa sih? Angel?

    1. Iyap, benaar… intinya Jjong itu pacarnya Yeseul 😀

      Untuk pertanyaan kedua… iya juga sih ._. Peran Onew sedikit absurd disini, nyehehe :3

      Makasih sudah bacaa ^^

  3. huwaa..udah ada lanjutannya di sini trnyata..
    itung2 kilas balik, aku baca part ini ulang. dan ttp feelnya gak ilang2 😀

    komen aku titip di sebelah aja ya ^o^/
    (btw, avamu naak.. *o*)

    1. HAHAHA, terpengaruh Minnie kali yak, jadi ngerasa kalo Taemin dengan rambut panjang itu jauh jauh jauh lebih menawan *mati*

      Btw, makasih udah komen (lagi). Next part ditunggu ya ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s