You Are My Life [2.2]

YOU ARE MY LIFE

Title                 : You Are My Life Part 2

Author             : TAEMhanNIE (Hanny Wijaya)

Cast                 : Lee Taemin, Kim Taeyeon

Support Cast   : Sunny, Lee Jinki & other cast

Length             : Two shot

Genre              : Family, life, sad

Rating             : G

Summary         : I promise. I’ll be there for you. Forever. I’ll never leave you alone in here.

Lee Taemin POV

Ah… Rasanya sakit sekali. Tunggu! Bagaimana dengan anak kecil tadi? Apa dia selamat? Aku memalingkan wajahku ke sebelah kiriku. Tampak ada seorang ahjumma sedang memeluk anaknya erat. Aku tidak salah lagi. Anak itu pasti anak yang baru saja kuselamatkan. Hah… Untung saja dia selamat. Aku tidak bisa membayangkan kalau terjadi sesuatu pada anak kecil yang manis itu.

Pandangan mataku tiba-tiba tertuju pada seorang gadis yang duduk di pinggir jalan sambil menutupi wajahnya dan menangis hebat. Pakaian yang dikenakannya sama seperti Taeyeon. Apa mungkin dia Taeyeon. Aku segera bangkit dan berjalan ke arahnya.

Tapi, tiba-tiba ada makhluk yang langsung muncul dari hadapanku. Anehnya, sebelumnya aku belum melihatnya ada di depanku.

“Si, siapa kau?” tanyaku sedikit takut. Tentu saja! Sepertinya namja berwajah pucat di depanku ini bukan seorang manusia. Dia memakai pakaian serba putih dan memiliki sayap indah yang juga berwarna putih di belakang punggungnya.

“Tenang… Aku tidak akan menyakitimu. Justru aku akan menuntunmu agar kau bisa kembali ke tempat yang seharusnya kau berada. Dan… Namaku adalah Lee Jinki. Aku adalah malaikat pencabut nyawa,” katanya sambil tidak hentinya menunjukkan senyumannya kepadaku.

“Apa maksudmu?”

“Kau seharusnya sudah tidak berada lagi di sini. Tapi, di sana,” lanjutnya sambil menunjuk ke arah atas dengan tangannya.

“Hei! Kau pikir aku sudah mati? Aku…” belum sempat aku menyelesaikan perkataanku dia menyela, “Bingo! Kau memang sudah mati. Itu! Lihatlah ragamu!” katanya sambil menunjuk ke arah segerombolan orang yang berkerumun. Aku makin mendekat ke mereka.

Deg!

Tunggu! Ini tidak mungkin terjadi. Namja yang tergeletak bersimbah darah yang sekarang menjadi objek penglihatanku sedang digotong oleh beberapa petugas yang keluar dari sebuah ambulans. Namja itu…

“Kau,” kata namja berwajah pucat itu. Apa dia bisa menebak pikiranku?

“Aku? Tapi, bagaimana bisa? Sekarang aku berdiri di sini tanpa luka di badanku,” kataku tidak mengerti.

“Yang sekarang sedang berada di hadapanku adalah roh dari Kim Kibum. Tapi, akhir-akhir ini berganti nama menjadi Lee Taemin. Dan yang sekarang sedang dibawa ke ambulans adalah jasad tak bernyawamu,”

“Jadi… Sekarang aku sudah mati?” kataku lemas.

“Yap! Tapi, karena hari ini moodku sedang bagus. Kau kuizinkan untuk menyampaikan pesan terakhirmu pada yeoja malang itu. Tapi, kesempatanmu hanya satu hari. Ingat! Satu hari,” katanya sambil menekankan kata ‘satu hari’. “Dan… Kau hanya bisa dilihat olehnya saja. Orang lain tidak bisa melihatmu. Tapi ingat, kau tidak akan bisa kabur dariku. Baiklah, tugasku di sini sudah selesai. Aku akan pergi. Besok, pada waktu yang sama aku akan kembali lagi untuk menjemputmu,” lalu dia berbalik dan terbang dengan sayap indahnya.

‘Kalau besok aku akan pergi dari dunia ini. Jadi, mungkin hanya ini kesempatanku satu-satunya’ pikirku. Aku langsung melesat ke arah di mana Taeyeon menangis. Tapi, di mana dia sekarang? Dia sudah menghilang.

Aku mencarinya ke beberapa tempat yang sering didatangi Taeyeon. Rumah, cafe yang biasanya kami datangi berdua, dan… Aku lupa. Bisa saja dia sekarang berada di taman. Biasanya kalau dia sedang sedih, dia pasti pergi ke taman untuk menenangkan perasaannya.

Aku segera berlari untuk pergi ke taman. Beberapa kali aku menembus badan orang yang tidak sengaja kutabrak karena aku ingin segera sampai. Ya. Benar dugaanku. Dia duduk di bangku yang biasa kami tempati sambil menundukkan kepalanya. Aku mendekatinya dan semakin dekat aku yakin dia sedang menangis sekarang. Aku pun mengeluarkan suara, “Taeyeon-ah, jangan menangis lagi. Jebal….”

###

Kim Taeyeon POV

Aku hanya bisa menangis sekarang. Tempat duduk ini… Taman ini… menjadi saksi palsu kalau aku, Kim Taeyeon memendam rasa pada namja yang selalu menemaniku di taman ini beberapa bulan terakhir. Tapi, kini kenangan-kenangan manis itu tidak akan pernah terulang kembali. Taemin sudah meninggalkanku. Dia tidak akan pernah kembali. Mengingat hal itu aku sangat terpukul. Tapi, apa yang bisa kulakukan. Waktu tidak akan bisa diulang kembali.

“Taeyeon-ah, jangan menangis lagi. Jebal…”

Suara itu. Aku tidak mungkin salah. Itu suara Taemin. Tapi, bagaimana bisa? Dia sekarang pasti sedang bersenang-senang di surga. Ayolah Taeyeon, jangan memikirkannya lagi! Kau harus melupakannya, Taeyeon! Harus!

“Taeyeon-ah…”

Suara itu kembali terdengar jelas di telingaku. Apa ini cuma khayalanku saja?

Karena aku merasa ini sudah sore, aku bangkit dari dudukku dan….

“Taemin…” suaraku tercekat. Tidang mungkin. Ini tidak mungkin. Sadar, Taeyeon! Sadar! Taemin sudah tenang di sana.

“Ne, ini aku,” kata Taemin –entah imajinasiku atau dia memang nyata-

“Tapi, kau sudah meninggal… Aku melihat jasadmu dikuburkan tadi pagi. Ba… Bagaimana bisa?” tanyaku agak takut.

“Aku sebenarnya juga masih sedikit tidak mengerti dengan ini semua. Tapi, yang pasti aku masih punya kesempatan untuk kembali. Tapi, cuma hari ini,” katanya dengan nada ceria yang pasti dibuat-buat. Mana mungkin ada yang senang saat mengetahui dirinya sendiri sudah meninggal?

“Untuk itu, aku akan mengatakan hal yang sebenarnya ingin kuungkapkan padamu beberapa detik sebelum aku meninggal tadi pagi.”

Aku mengikutinya untuk duduk di bangku yang setia menemani kami itu, “Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?” lama-lama aku juga penasaran dengan namja –yang sebenarnya sudah meninggal ini-

‘Aku harus mengatakannya. Jangan takut Taemin…’ pikir Taemin.

“Aku adalah Kim Kibum,” katanya singkat, padat, dan jelas. Tapi cukup membuatku sangat shock.

“MWO?” karena terkejut dengan pernyataan yang diberikan Taemin, aku hampir saja berteriak. Beberapa orang yang berada di sekitar kami menatapku heran. Aku hanya bisa meminta maaf kepada mereka. Sedangkan Taemin yang duduk di sebelahku hanya bisa terkekeh pelan.

“Kau lupa kalau aku ini hantu? Hanya kau yang bisa melihatku, Taeyeon. Jadi, jangan membuat orang mengira kau sedang berbicara sendiri,” dia lalu beranjak dari tempat duduknya dan menarik tanganku untuk mengikutinya. Tangannya yang sekarang sedang menggenggam erat tanganku benar-benar terasa sangat dingin.

“Aku adalah Kim Kibum. Mungkin kau tidak akan percaya. Tapi, semua ini benar-benar terjadi. Appa kandungku mengganti namaku menjadi Lee Taemin agar aku tidak memikirkan masa laluku agar aku tidak terganggu dalam belajar. Appa ingin nanti aku mengurus perusahaannya. Appa juga memindahkanku dan menyekolahkanku di London. Aku sudah mencarimu bertahun-tahun, Taeyeon. Aku senang akhirnya bisa menemukanmu,” Taemin –yang sekarang sudah kuyakini adalah Kibum oppa- menatap mataku dengan tatapan yang selalu diberikannya padaku. Hanya padaku. Tatapannya sangat teduh.

Tidak terasa, kelopak mataku sudah tidak kuat menahan genangan air mata yang siap meluncur. Tetesan berwarna jernih itu pun akhirnya jatuh.

“Ta, tapi oppa… Bagaimana kalau aku telah mencintai Lee Taemin?” kataku sambil menahan air mata ini agar tidak jatuh terlalu banyak.

###

Lee Taemin POV

Akhirnya aku bisa menjelaskan semuanya pada Taeyeonku ini. Aku terus memandang kedua bola mata berwarna coklat yang indah itu. Aku rasanya tidak pernah bosan untuk melihat wajah cantiknya itu.

Tapi, apa itu? Butiran air mata jatuh ke pipi halusnya yang berwarna putih itu. Dia menangis. Lalu, dia mengatakan sesuatu padaku…

“Ta, tapi oppa… Bagaimana kalau aku telah mencintai Lee Taemin?

Deg!

Jantungku serasa berhenti setelah aku mendengar kalimat yang terucap dari bibir manis Taeyeon.

“Aku sudah benar-benar mencintainya, oppa… Aku benar-benar mencintai Lee Taemin. Aku tidak mau kehilangannya. Tapi, barusan kau mengatakan kalau kau adalah Kibum oppa. Apa yang harus kulakukan? Aku harus kehilangan dua orang yang paling aku cintai di dunia ini. Pertama, kau Kibum oppa dan…”

Perkataannya terpaksa kuhentikan dengan cara menaruh jari telunjukku tepat di depan bibirnya.

“Sst… Kau salah Taeyeon…”

“Aku tidak akan pergi, Taeyeon. Aku akan selalu ada di sini,” kataku sambil memegang dadaku tepat di bagian hatinya.

“Kau bisa mencintaiku sebagai Lee Taemin dan bisa juga menyayangiku sebagai oppamu, Kim Kibum. Tapi ingat, aku tidak akan benar-benar meninggalkanmu, Taeyeon. Di atas sana, aku akan selalu melihatmu dan mengawasiku. Aku tidak ingin melihat adik kecilku menangis sendirian di sini,” kataku sambil menggodanya.

Taeyeon lalu mengusap air mata dengan punggung tangannya. Lalu menatapku marah, “Aku bukan adik kecilmu lagi, Kibum oppa. Aku sudah besar. Buktinya sekarang aku sudah mengenal cinta,” dia lalu menggembungkan pipinya tanda kalau dia sedang marah.

“Hahahaha… Mianhae… Kalau begitu, ayo kita menghabiskan waktu sebelum besok tiba,” aku lalu berdiri dan mengulurkan tanganku. Dia lalu menerima tanganku dan menyeretku pergi. Dia terlihat sangat bersemangat.

###

Lee Taemin POV

Sudah berjam-jam lamanya aku menemani Taeyeon sambil mengobati rasa rinduku padanya. Kami sekarang berada di rumah pohon. Kami selalu bermain bersama di sini saat kami masih kecil. Tampaknya, halaman belakang rumah kami sekarang tidak begitu terurus.

Aku sibuk mendengarkan celotehan Taeyeon –tentang apa saja- yang kini terdengar menyenangkan di telingaku. Entahlah. Dulu aku tidak suka mendengar mulut bawelnya berceloteh dan aku tidak pernah serius mendengarkannya. Tapi, sekarang tidak. Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi. Sehingga, jika aku pergi nanti. Aku tidak akan menyesal seperti dulu.

“Oppa… Kau mau ‘kan menemaniku melihat bintang dan bulan malam ini? Dulu, saat kita masih kecil. Kita sering sekali melihat bintang dengan teleskop kecil pemberian appa. Bagaimana kalau kita melakukannya lagi, oppa?” tanyanya dengan mata berbinar.

“Tentu saja aku mau. Siapa takut? Tapi, memangnya teleskop itu masih ada?”

“Ne. Aku menyimpannya dengan baik di kamarku. Aku tidak pernah memakainya sama sekali semenjak kepergianmu, oppa…” katanya lagi.

“Taeyeon-ah, apa yang kau lakukan di sana? Kenapa kau berbicara sendiri? Ayo cepat kemari! Umma sudah menyiapkan makan siang untukmu,”

Aku lalu langsung menoleh ke bawah. Umma sedang berdiri tepat di bawah rumah pohon kami. Kulihat Taeyeon kebingungan menjawab pertanyaan umma. Aku pun mencoba membantu mencari jawaban.

“Ne, umma. Aku sedang latihan drama. Aku akan segera ke sana, umma,” katanya setelah kubantu mencari jawaban yang tidak membuat umma curiga.

“Baiklah. Umma ke dalam dulu, ya?” tanya umma lagi.

“Ne, umma,”

“Oppa, sebaiknya kita segera turun. Aku takut umma curiga nanti,” kata Taeyeon dengan agak melirihkan suaranya karena takut umma yang belum jauh akan mendengar suaranya lagi.

“Kajja,” dia lalu menarik lembut tanganku untuk mengikutinya.

###

Author POV

Di sebuah ruang makan, Taeyeon hanya memakan makanannya tanpa mengeluarkan suara. Sedangkan Taemin terus melihat adik kesayangannya itu.

“Taeyeon, ada apa denganmu? Sepertinya kamu tidak nafsu makan. Apa kamu tidak suka masakan umma?” tanya umma melihat anak satu-satunya itu.

“Ani, umma,” kata Taeyeon lalu lebih bersemangat mengunyah makanannya.

“Taeyeon, umma melihatmu berada di rumah pohon. Padahal, selama ini kau kan tidak pernah ke sana lagi? Ada apa, Taeyeon?” tanya umma dengan nada keibuan yang sangat Taeyeon suka. Tapi, tidak kali ini.

‘Bagaimana caraku menjawabnya?’ pikir Taeyeon dalam hati. Lalu, sebentar kemudian dia menjawab.

“Ehm… Tadi, aku melihat appa sedang membaca berkas penting dan umma sedang menonton TV. Aku tidak mau kalau suaraku nanti mengganggu umma dan appa. Makanya aku pergi ke rumah pohon dan menghafalkan dialogku di sana,” kata Taeyeon membohongi ummanya. ‘Mianhae, umma…’ lanjut Taeyeon dalam hati.

“Ooh…” umma Taeyeon hanya menjawab sekenanya dan kembali memakan masakan yang dibuatnya.

###

Kim Taeyeon POV

“Oppa… Padahal, baru saja aku mengetahui bahwa kau adalah Kibum oppa. Tapi, mengapa kau sudah mau meninggalkanku? Apa kau tidak merindukankanku oppa?” kataku lirih pada namja yang sedang mengamati bintang yang bertebaran di angkasa dengan teleskop pemberian appaku.

“Aku tahu aku tidak seharusnya pergi. Tapi, mau bagaimana lagi? Di sini bukan tempatku. Melainkan di sana,” kata Kibum oppa sambil menatap langit malam yang sangat indah.

“Oppa, aku akan merindukanmu. Aku tidak akan melupakanmu,” kataku sambil memeluk kakakku yang sangat kusayangi.

Dia lalu mengangkat tangannya untuk membalas pelukannya. Sangat hangat. Andai saja waktu bisa kuhentikan. Aku akan menghentikannya sekarang juga agar aku bisa selalu bersamanya. Orang yang sangat kusayangi.

###

Lee Taemin POV

“Kajja. Taeyeon-ah. Kita tidak boleh terlambat ke upacara kematianku. Aku ingin melihat mayatku dikubur,” kataku sambil menarik tangan Taeyeon agar lebih cepat mengikutiku.

“Ne, ne, ne. Aku tahu. Kibum oppa, kurasa kau adalah orang teraneh di dunia ini. Di mana-mana kalau orang tau dia akan meninggal atau melihat pemakamannya sendiri. Dia pasti akan takut. Tapi, apa yang terjadi denganmu? Kau malah sangat antusias begini,” kataku ketus. Sebenarnya, aku tidak rela untuk melepaskannya.

“Hehehe… Tapi, setidaknya aku telah menemukan adikku ‘kan?” katanya bergurau. Dia lalu tersenyum ke arahku. Aku yakin. Senyuman itu sangat ia paksakan.

Pemakamanku dihadiri beberapa orang yang sudah kukenal. Appa, asisten appa, beberapa temanku di sekolah, ada juga anak kecil bernama Shin Minri yang telah kuselamatkan. Dia datang bersama ummanya. Melihatnya tersenyum manis pada ummanya, membuatku semakin tidak menyesal telah menyelamatkannya hari itu.

Akhirnya prosesi pemakamanku telah selesai. Beberapa orang telah meninggalkan makam. Taeyeon juga sudah kusuruh pulang. Aku tidak mau membuatnya bersedih karena melihtaku telah pergi. Hanya ada si kecil Minri di samping makamku. Lalu, aku dengar dia bertanya pada ibunya.

“Umma… Apakah Minri bisa bertemu lagi dengan oppa yang baik itu sekali lagi?”

“Dia sudah tenang di surga, Minri. Jadi, Minri tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi,” kata umma Minri.

“Tapi, Minri belum mengucapkan terima kasih. Selain itu, Minri belum mengucapkan selamat tinggal padanya. Bagaimana cara Minri mengucapkannya?” kata Minri polos.

“Titipkanlah salammu pada Tuhan,”

“Tuhan? Bagaimana caranya? Apa nanti pesan Minri akan sampai pada oppa itu?”

“Caranya angkatlah tanganmu dan berdoalah bersama umma. Tuhan pasti akan menyampaikan salammu pada oppa itu,” kata umma Minri sambil menengadahkan tangannya. Minri lalu mengikuti apa yang telah dilakukan ummanya.

Lalu, dia mulai berdoa, “Tuhan, tolong sampaikanlah salam Minri pada oppa yang baik itu, ya? Isi pesannya begini, oppa… Terima kasih karena oppa sudah mau menyelamatkan hidup Minri. Coba kalau oppa tidak ada. Pasti yang akan pergi ke surga adalah Minri bukan oppa. Minri yakin, oppa akan bahagia di sana. Tapi, jangan pernah lupa pada Minri, ya? Minri juga akan berjanji Minri tidak akan melupakan kebaikan oppa,”

Setelah Minri mengucapkan doa yang tulus itu. Aku melihat, ada seseorang yang turun ke bumi tempatku berpijak ini dengan sepasang sayap putih indahnya. Tidak salah lagi! Pasti dia Lee Jinki, malaikat yang menjemputku kemarin.

Lagi-lagi dia tersenyum padaku seperti kemarin, “Apa kau sudah siap?”

“Ne. Tentu saja,’ kataku sambil membalas senyuman yang diberikan Jinki padaku.

“Oke,” dia lalu menarik tanganku untuk mengikutinya. Tarikannya sangat lembut. Tapi, cukup kuat untuk bisa membuatku terbang di angkasa. Omona! Aku lupa. Sekarang aku ‘kan hanya arwah? Tantu saja aku bisa melayang seperti ini. Kenapa tidak pernah kupikirkan.

Aku memejamkan mataku. Tidak pernah aku merasakan kebebasan seperti ini.

‘Taeyeon… Aku akan selalu bersama denganmu…’

 

###

Author POV

Selesai berdoa, Minri lalu menatap ke langit. ‘Apa itu?’ pikir Minri. Dia melihat sosok Taemin dan malaikat pencabut nyawanya, Jinki.

“Umma… Oppa yang baik itu telah dibawa malaikat ke surga…” katanya mantap. Sedangkan ummanya hanya memandangnya heran karena hanya Minri yang bisa melihatnya.

Sedangkan Minri kecil terus saja menatap langit sampai sosok mereka menghilang.

^^THE END^^

6 thoughts on “You Are My Life [2.2]”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s