I’m Not Him – Part 5

imnothim

Title : I’m Not Him Part 5

Author : AltRiseSilver

Cast : Kim Kibum Shinee, Ahn Min Hye, Shinee’s member

Genre : Romance, Sad

Rating : PG17

Author Point of View

Seminggu yang lalu

Angin musim gugur semakin giat melaksanakan tugasnya menggugurkan dedaunan yang kecoklatan membuat sebagian warga Seoul mempersiapkan diri mereka untuk datangnya musim dingin beberapa minggu lagi.

Tapi tidak dengan Min Hye. Gadis itu tengah duduk termangu didalam kamarnya sembari memikirkan perilaku kekasihnya yang semakin lama semakin tidak dikenalinya. Ia memandangi ponselnya yang sudah tiga hari tidak menunjukkan tanda-tanda Key akan menghubunginya.

Dia menghembuskan nafasnya lalu meletakkan ponselnya lagi disampingnya –masih berharap kekasihnya memberikan kabar padanya.

“Sebenarnya apa yang ada dipikiranmu Key,” gumamnya lirih pada dirinya sendiri. Hampir dua tahun mereka menjalin hubungan tapi baru kali ini Min Hye melihat Key berkelahi dengan beringasnya. Lagi-lagi ia mendesah ringan di tempatnya.

Ponselnya berbunyi. Min Hye mengambil barang mungil tersebut dengan wajah berbinar –dan masih berharap telepon itu dari kekasihnya.

Meleset. Min Hye mendesah ringan saat nama yang tertera di ponselnya bukanlah milik Key. Dengan sedikit malas gadis itu mengangkat teleponnya juga.

Yoeboeseyo,” sapanya.

“Hai. Suaramu terdengar lemas. Ada apa?” suara di sebrang telepon tanpa berbasa-basi bertanya.

“Tidak ada apa-apa,” jawab gadis itu cepat.

“Berharap Kibum yang meneleponmu?” tebaknya.

Min Hye membulatkan mata sipitnya. “Key, namanya Key bukan Kibum,” ralat Min Hye.

“Ah Arrassoe, terserah kau saja,” ucap pria itu lagi.

Min Hye menghembuskan nafasnya perlahan. “Ada apa?” tanyanya.

“Aku ingin mengajakmu berkencan. Besok malam kujemput jam 7. Tidak ada kata tidak,” ucap pria itu tanpa memberi jeda untuk Min Hye menolaknya.

Klik!

Sambungan telepon mendadak mati membuat Min Hye sedikit mengerang. Pria yang dikenalnya kemarin seenaknya saja membuat janji tanpa menanyakan dirinya mau atau tidak. Dia melempar ponselnya ke kasurnya sembarangan lalu keluar dari kamarnya. Mencari udara segar.

**

Min Hye menatap pria dihadapannya dengan seksama. Wajahnya yang dulu sempat membuatnya takut kini berubah menjadi wajah yang begitu menyenangkan dan membuat Min Hye begitu nyaman.

Jantungnya berdegup kencang saat pria itu pertama kali menggenggam tangan mungilnya kuat seakan takut untuk melepaskannya. “Kau mau makan dimana?” tanyanya memecahkan lamunan Min Hye.

“Terserah,” jawab Min Hye singkat lalu pria itu kembali membawanya masuk kedalam restoran cepat saji. “Makanlah yang banyak,” ucapnya yang membawa nampan penuh makanan mereka berdua. Min Hye tersenyum lalu mulai menyantap makanannya.

“Apa Kibum sudah menghubungimu?” tanya pria itu memecahkan keheningan mereka berdua.

Min Hye menghentikan kunyahannya lalu menatap pria dihadapannya dengan seksama. “Jangan panggil dia Kibum, Jonghyun-a. Namanya Key.”

Jonghyun menganggukkan kepalanya lalu mengulangi pertanyaannya, “Jadi Key sudah menghubungimu?”

Min Hye menggelengkan kepalanya.

“Berhentilah mengharapkannya. Dia itu memang tipe pria yang mudah mencampakkan gadis-gadis,” tutur Jonghyun bohong membuat Min Hye enggan meneruskan makannya. Mendadak perutnya mulas mendengar perkataan Jonghyun.

“Seberapa dekat kau dengannya?” tanya Min Hye.

“Sedekat aku denganmu saat ini,” jawab Jonghyun cepat lalu menerukan makannya.

Min Hye terdiam dan benar-benar tidak melanjutkan makannya. Di kepalanya banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Jonghyun. Ia mengenal Key lebih dari 10 tahun namun kenapa ia seperti tidak mengenal sosok pria yang menjadi kekasih sekaligus sahabatnya sejak kecil yang diceritakan Jonghyun tadi?

“Jong. Ceritakan semua yang kau ketahui tentang kekasihku.”

**

Min Hye menghempaskan tubuhnya keras ke kasurnya. Airmatanya mulai mengalir dari pelupuk matanya mengingat semua hal yang diceritakan Jonghyun kepadanya.

Key bukan orang yang seperti itu, berkali-kali ia menepis pikiran buruknya perihal Key setelah cerita Jonghyun mengalir namun kenyataan telah didengarnya. Entah cerita dari Jonghyun itu bohong atau kenyataan tapi yang pasti gadis itu dengan mudahnya mempercayainya.

Sementara di tempat lain, Jonghyun tertawa puas dapat membohongi gadis yang juga sama bodohnya seperti rivalnya. “Key Key Key. Jelas-jelas namanya Kibum, dasar gadis aneh,” gumamnya pada ruang kosong di apartementnya sambil meneguk soju di tangannya.

“Kim Kibum, kau begitu bodoh menyianyiakan gadis secantik dia. Kau tahu dia begitu mudah untuk kujadikan objek balas dendamku padamu,” gumam Jonghyun lagi sebelum meneguk soju miliknya untuk yang kesekian kali.

“Aku jadi kasian pada gadis itu. Apa yang dilakukan Kibum sampai gadis itu tergila-gila padanya?” Jonghyun berjalan kearah bangku meja makan lalu duduk disana dan kembali meneguk sojunya.

Matanya menerawang keluar jendela dan mencoba berpikir. “Ah! Sedang mabuk seperti ini mana mungkin aku bisa berpikir,” ucapnya kesal lalu kembali menuju kamarnya kemudian menjatuhkan badan tegapnya diatas kasur. Tak lama matanya terpejam, membiarkannya bermain didunia mimpinya yang indah.

**

Back to Kibum Point Of View

Sekarang

Aku memandang jauh keatas langit, mencoba menemukan jawaban atas semua yang terjadi selama ini. Key, maafkan aku yang tidak mampu menjaga kekasihmu. Kutundukkan kepalaku lalu memejamkan mataku. “Maaf Key,” ucapku dengan nada bergetar.

Kurasakan mataku memanas dan mengeluarkan cairan bening yang perlahan tumpah semakin deras tanpa mampu ku kontrol. Tiba-tiba pundakku terasa di tepuk seseorang, aku mengangkat kepalaku lalu menoleh.

“Beginikah sifat asli hyung-ku?” sindirnya kemudian duduk disampingku dengan damai sementara aku menatapnya kaku. “Aku tidak menyuruhmu untuk berdiam diri saat Min Hye diambil orang lain Hyung,” ucapnya lagi seakan mengerti arti tatapan mataku padanya.

Key menoleh menatapku dan tersenyum. “Rebutlah dia jika kau memang mencintainya Hyung,” Key memalingkan wajahnya lagi.

“Apa maksudmu aku mencintainya?” tanyaku tak mengerti.

Key tidak berkutik, pria yang mirip denganku itu malah menutup matanya dan membiarkan angin musim gugur menerpa wajahnya perlahan.

“Aku yakin Min Hye memang untukmu Hyung,” ucapnya sebelum tiba-tiba menghilang mengikuti arah angin.

Mataku tiba-tiba terbuka lebar saat sinar matahari menyeruak masuk kedalam kamarku. Sosok wanita paruh baya yang kukenal tampak menghampiriku yang masih sibuk menghalangi sinar matahari.

“Aku masih ingin tidur Eomma,” rengekku tanpa sadar kemudian menarik selimutku menutup wajahku. Tak lama sinar matahari mulai menyinari tubuhku lagi, dia menarik selimutku.

Terpaksa kududukkan badanku disamping tubuhnya yang perlahan tua dipinggir tempat tidur. “Aku merindukan Key,” ucapnya tiba-tiba.

Aku menoleh bingung kepadanya dan mengerutkan kening. “Bukan urusanku,” ucapku cuek sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal. “Kau tidak merindukannya?” tanya wanita itu parau.

Aku yang hendak beranjak dari dudukku menghentikan gerakanku. “Sejak kecil aku tidak pernah mengenalnya jadi tidak ada sedikitpun rasa rinduku padanya,” jawabku ketus lalu bangkit dan mengambil handuk.

Eomma bermimpi tentang Key tadi malam. Ia sangat menyayangimu Kibum,” tuturnya.

Aku bergeming di tempatku. Tiba-tiba bulu romaku meremang saat ibu berkata seperti itu. “Jangan mengambil simpatiku dengan membawa nama Key. Aku tidak akan luluh,” jawabku lalu masuk kedalam kamar mandi setelah mengontrol emosiku.

Kubanting pintu kamar mandi dan menjatuhkan tubuhku diatas lantai. Aku tak bisa menjaga gadisnya namun dia masih tetap menyayangiku? Sungguh, perasaan ini jauh lebih sakit ketika aku mendengar Min Hye telah mencintai pria lain.

“Key, berhenti menyakitiku seperti ini.”

**

Aku masih sibuk mengetik dilaptopku saat dering ponselku menjerit di kantung celanaku. Aku merogoh dan mengambilnya dari saku celana tanpa mengalihkan pandanganku dari layar laptopku.

Yoeboeseyo?” sapaku.

“Jonghyun di Seoul sekarang!” kalimat Minho berhasil memutuskan konsentrasiku. Dari jauh kulihat sosok Jinki berjalan kearahku kemudian duduk dihadapanku. Tatapannya menyiratkan kebingungan saat melihat wajahku.

“Kau bicara apa?” tanyaku.

“Jonghyun di Seoul. Dia pergi dari Mokpo seminggu yang lalu!” ulang Minho.

“Apa lagi yang ia inginkan!” pekikku.

Ada helaan nafas yang kudengar dari ujung telepon. “Berhati-hatilah. Hubungi aku jika kau butuh bantuan,” ucap Minho kemudian ia menutup sambungan telepon kami. Kuletakkan ponselku diatas meja lalu menyandarkan punggungku di kursi.

“Ada masalah apa?” tanya Jinki tiba-tiba.

Aku menyondongkan badanku mendekati meja dan menatap Jinki lekat. “Kau bisa berkelahi?” tanyaku membuat Jinki menautkan keningnya tak mengerti.

“Bisa tidak?” ulangku.

“Aku tidak yakin tapi, aku pernah membuat seseorang tersungkur tak berdaya karena telah menggangguku,” tutur Jinki polos.

“Kapan itu?”

Jinki memutar matanya seolah mengingat kejadian yang ia ceritakan padaku. “Beberapa minggu yang lalu.” Senyumku terkembang saat Jinki menjawabnya. “Memangnya ada apa?” tanya Jinki kemudian.

Aku menyandarkan punggungku lagi di kursi. “Tidak ada. Tapi jika aku membutuhkanmu untuk membantuku memukul seseorang, kau harus membantuku. Otte?”

Jinki mengerutkan keningnya tak mengerti namun tetap menganggukkan kepalanya. Baiklah Kim Jonghyun, aku tidak peduli apa modusmu sekarang tapi yang pasti aku siap menyambutmu.

**

Aku melirik kalender di ponselku, dua hari lagi adalah ulangtahun Min Hye dan aku yakin kedua orangtuaku pasti sudah menyiapkan pesta atau semacamnya untuk merayakan ulangtahun Min Hye.

Aku mendesah ringan di taman tempat biasa aku bertemu dengan Min Hye. Haruskah aku mengatakan sejujurnya kepada kedua orangtuaku kalau hubungan Key dan Min Hye sudah berakhir atas kemauan gadis itu?

Astaga, tubuhku bisa terkubur hidup-hidup karena melanggar perjanjian mereka. Dan kau Key, astaga kau benar-benar membuatku frustasi dan hampir gila!

Aku meremas rambutku saat ponselku berdering kencang dari kantungku.

“Hmm,” gumamku tanpa melihat siapa yang menelponku.

“Jonghyun mengincar Min Hye,” ucapan Minho tanpa basa-basi mengejutkanku.

“Apa maksudmu dia mengincar Min Hye?” tanyaku tak mengerti dan mencoba mengontrol emosiku.

“Jonghyun berniat mencelakai Min Hye!”

Aku terdiam. Rasa khawatir tiba-tiba menyengat hatiku saat tahu Min Hye dalam keadaan bahaya. Tanpa diminta, Minho menceritakan semua berita yang didapatnya dari anak buah Jonghyun.

“Apa yang harus kulakukan?” gumamku tanpa sadar saat Minho selesai menceritakan semuanya. Minho juga terdiam tak menjawab pertanyaanku.

“Kau mencintainya Kibum?” tanya Minho tiba-tiba.

Aku menundukkan kepalaku. Sungguh aku tak mengerti bagaimana perasaanku sendiri kepada gadis manja itu. “Jawab aku Kibum.”

Aku menelan ludahku paksa. “Mungkin,” jawabku samar.

Minho menghela nafasnya. “Aku anggap jawabmu adalah iya. Jadi, apa yang selanjutnya akan kau lakukan?”

“Itu pertanyaanku tadi,” gumamku.

Diujung telepon, Minho tergelak mendengar sahutanku. “Min Hye itu kekasih adikmu dan posisimu sekarang adalah menggantikan Key. Jadi, bukan aku yang harus berpikir Kibum,” jawab Minho.

Aku menatap langit sore dan menghela nafas berat. Min Hye dalam keadaan bahaya karena diriku. “Aku hubungi kau lagi nanti,” ucapku lalu menekan tombol merah pada ponselku. Aku menggenggam erat ponselku dan menggeram.

Kupaksakan kakiku untuk pergi dari taman dan pulang kerumah. Aku lelah. Aku sangat lelah memikirkan semua hal yang terjadi. Kecelakaan Key, permintaan kedua orangtuaku untuk berpura-pura menjadi Key agar Min Hye tidak sedih, keluarnya Jonghyun dari penjara dan masih banyak lainnya.

Aku yakin aku sudah gila saat ini. Ingin rasanya aku berlari kemanapun yang terpenting kekacauan hidupku berhenti menghantuiku.

Aku menundukkan kepalaku ketika membuka pintu rumah. “Kibum, kau ingin memberi kado apa untuk Min Hye?” ibu menghampiriku dan menatapku lekat.

“Jangan buatkan pesta kejutan atau apapun Eomma, aku yang akan memberikannya,” jawabku.

Kening ibu berkerut. “Kumohon jangan tanyakan alasannya. Aku hanya ingin menghabiskan malam ulangtahun Min Hye hanya berdua,” sahutku yang mengerti apa yang akan di lontarkan dari bibirnya.

Wanita itu tak menyahut lagi dan membiarkanku kembali berjalan melewatinya dan masuk kedalam kamar.

Pikiranku harus tenang saat ini.

**

Author Point Of View

Jonghyun menggenggam tangan Min Hye dengan erat. Hatinya membuncah saat mendengar jawaban Min Hye jika hubungan gadis itu dengan Kibum sudah berakhir.

“Jadi kau menerimaku menjadi kekasihmu?” tanya Jonghyun percaya diri.

Min Hye terdiam. Jujur saja, ia tidak tahu harus menganggap Jonghyun apa saat ini. “Ne,” jawab Min Hye cepat membuat Jonghyun memekik girang.

“Kau begitu bahagia Jong,” celetuk Min Hye sambil membetulkan posisi duduknya menghadap Jonghyun.

Pria yang dipandangi curiga oleh Min Hye hanya mampu menggaruk kepalanya sambil tersenyum aneh. “Tentu saja aku senang, aku kan mencintaimu Min Hye-a,” jawab Jonghyun kemudian.

Min Hye hanya tersenyum datar mendengar ucapan pria itu. Memang jantungnya sekarang berdegup kencang saat Jonghyun menggenggam tangannya dan mengatakan kalau pria itu mencintai dirinya namun ada kejanggalan yang tidak ia ketahui dimana titiknya.

“Oh iya Min Hye-a. Saat ulangtahun-mu nanti, aku akan mengajakmu berjalan-jalan ke Jeju. Kau mau kan?” tanya Jonghyun memecahkan lamunan Min Hye.

“Jeju?”

Jonghyun menganggukkan kepalanya. “Kau mau kan?” tanya Jonghyun lagi.

Ragu, Min Hye menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia teringat tahun-tahun yang lalu kala Min Hye merayakan ulangtahunnya dengan Key. Setiap tahun tanpa terlewati sejak mereka berkenalan di umur 10 tahun. Setiap tahun walau jarak mereka terpisahkan.

Tanpa disadarinya, bulir bening jatuh dari pelupuk matanya yang indah. Jonghyun dengan sigap langsung menghapus airmata itu kemudian memeluk tubuh mungil itu.

“Lupakanlah Key, kumohon Min Hye,” bisiknya lembut di telinga gadis itu.

Min Hye menganggukkan kepalanya lemah dan Jonghyun tersenyum puas dibalik punggung Min Hye. Ia yakin kemenangan akan berpihak padanya.

To Be Continued

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

11 thoughts on “I’m Not Him – Part 5”

  1. Yaaaa.. Knp bgt?? Jgn blg nnti jjong oppa jd suka btln sm minhye?? Aigo aigo.. Chingu mkin seru aja nih.. Next chap cpt di post y..

  2. Waah makin rumit aja ni masalahnya..
    Perasaan dulu jonghyun yg gangguin Min Hye di mokpo kan?
    Koq sekarang malah dia mau jadian ama Jonghyun? #berpikir keras

    Okee.. Dilanjut ya thor.. 🙂

  3. Key kecelakaan! ah, berarti ada kemungkinan klo Key itu emang bener udah meninggal.
    Kibum udh dpt restu nih soal hubungannya sm Min Hye lewat mimpi-nya.
    hemmm setiap kali Kibum mimpi ketemu Key, kerasa sedih bgt. selama berpuluh2 tahun mrk gk pernah ketemu & hanya dgn cara lewat mimpi satu2nya jalan bagi Kibum utk bisa mengenal Key secara tidak lgs 😦 😦 kontak batin org yg kembar memang kuat. meskipun dipisah sejauh apapun. hah, seruuuu thor 🙂

    Next chap!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s