Inter Sexual – Part 10

Disclaimer  : We don’t own the character, they are belong to themselves.

Genre  : Teen Romance/Hurt/Comfort

Warning  : Gender bender, OOC, OC, elseword, typo dan misstypo, authorfic ^^.

Rated  : T

.

.

Aiesu © Chiyo Rokuhana

.

.

sHyning soHee collab with Eun bling-bling and Lynda

proudly present

I.S [Inter Sexual]

Lee Taemin (as boy), Lee Taehee (as girl), Choi Minho, and Lee Jieun (IU)

.

.

 

Bagian Kesepuluh

Pacemaker

Setiap aku bertanya pada eommaku.

“Kenapa tubuhku begitu aneh?”

Ia selalu diam.

Dan hanya tersenyum kearahku.

Aku sangat yakin dalam senyuman itu—

terselip rasa kesedihan.

“Kau akan tahu seiring berjalannya waktu nak.”

***

Minho merasakan jantungnya berdetak cepat saat matanya bertemu dengan manik hitam Lee Taehee. Seolah terpaku, mereka terus bersitatap sampai Eunhee kembali mengajaknya berbicara.

“Dia itu sepupuku! Namanya Choi Minho! Bagaimana? Tampan bukan?” Ucap gadis itu.

Taehee hanya menganggukkan kepalanya canggung. Ia kembali menatap Minho yang masih memandanginya.

Oppa! Kemari!” Panggil Eunhee.

Minho mengangguk kaku, ia membatu di posisinya. Eunhee yang heran dengan tingkah sepupunya itu berjalan menghampirinya dan menariknya untuk duduk di samping Taehee. Keduanya terkejut dan merasa canggung satu sama lain.

“Hei, kalian memakai seragam yang sama! Apa kalian satu sekolah?” Tanya Eunhee sambil memperhatikan seragam keduanya.

“Ki-kita satu kelas!” Sahut Taehee terbata, entah kenapa ia merasa sangat gugup sedangkan Minho hanya mengangguk membenarkan.

“Berarti kalian sudah saling kenal?” Lanjut Eunhee lagi yang dijawab anggukan kepala dari kedua orang di depannya itu.

“Ah, arraseo! Lalu kenapa kalian terlihat canggung? Apa kalian bertengkar?” Tanya gadis cerewet itu lagi. Keduanya diam, tanpa ada yang berniat menjawab.

“Hm, kuanggap itu sebagai jawaban iya!”

Tak ada yang merespon. Taehee membolak-balik playlist di ponselnya sedangkan Minho memandangi jendela luar. Bus berhenti. Beberapa penumpang turun dan membuat bus semakin kosong, yang tersisa hanya tiga orang yang sedang duduk dalam diam.

“Baiklah! Aku harus pergi dan kalian berbaikanlah! Aku tidak tahu masalah apa yang terjadi pada kalian! Tapi berpikir dingin dan positif! Masih banyak yang bisa kalian lakukan selain bermusuhan! Okay?” Ucap Eunhee sembari mencubit pipi kiri Taehee dan pipi kanan Minho, kemudian segera pergi sebelum mendapat respon buruk dari keduanya.

Bus mulai berjalan kembali dan keduanya masih diam satu sama lain. Tak ada yang berniat memulai pembicaraan. Sebenarnya Minho sangat ingin mengajak Taehee bicara. Tapi ia bingung topik apa yang sebaiknya ia bicarakan. Begitu pula yang terjadi dengan Taehee. Ia sangat tidak suka suasana canggung seperti ini, tapi ia juga bingung apa yang ia harus lakukan.

Saat keduanya sedang sibuk bergumul dengan pikiran masing-masing. Bus yang mereka tumpangi mendadak berhenti. Keduanya lantas menatap sang sopir yang baru turun untuk memeriksa ban.

“Ban bocor! Sepertinya kalian harus turun di sini!” Seru sang sopir, membuat keduanya menghembuskan nafas bersamaan.

“Gah, masih satu kilo lagi dari sekolah!” Minho mengacak rambutnya. Ia melirik jam tangannya, lima menit lagi kelas akan dimulai. Berlaripun mustahil tepat waktu.

Taehee melakukan hal yang sama juga. Kemudian irisnya teralih pada Minho yang sedang menyebrangi jalan, di sana terlihat sebuah taxi yang sedang berhenti menurunkan penumpangnya.

Taehee menatap Minho kecewa. Jelas saja Minho tidak akan menolongnya! Atas dasar apa? Teman juga bukan!

Ia menundukkan kepalanya dan berjalan lunglai. Mau naik taxi juga tidak punya uang! Bukan salah Minho jika ia bersikap seperti itu! Taeheelah yang telah membuatnya bersikap begitu bukan?

“Bodoh! Aku pikir aku bisa berbaikan dengannya!” Gumam Taehee sembari menhentak-hentakkan kakinya.

“Siapa yang bodoh?” Sebuah suara yang sangat familiar menyahut, Taehee menoleh dan mendapati Minho bersama sebuah sepeda biru. Cowok itu tersenyum padanya, “Naiklah! Kita bisa terlambat!”

Taehee mengerjapkan matanya beberapa saat. Sepertinya terhipnotis oleh killer smile milik Choi Minho.

Ppalli! Lima menit lagi kelas dimulai!” Minho menarik tangan Taehee untuk cepat menaiki sepeda. “Pegangan!” Titah Minho. Taehee menurut, ia melingkarkan tangannya pada pinggang Minho dan mencengkram kemeja sekolahnya.

Minho mulai mengayuh sepedanya, ia tersenyum ketika melihat tangan Taehee yang melingkari pinggangnya. Sedangkan Lee Taehee, ia tersenyum dan menyandarkan kepalanya pada punggung milik Minho, merasakan betapa bidangnya punggung itu.

***

Seorang pemuda tengah bersandar di dinding pagar, ia mendesah pelan sambil memperhatikan jam tangannya. Sudah satu jam ia berdiri di sana seperti orang gila dan sialnya objek yang ia tunggui tak menampakan batang hidungnya sama sekali. Pemuda itu merogol ponselnya, ia memutar musik untuk menghilangkan rasa bosannya.

Kakinya menghentak-hentak pelan mengikuti irama musik beat yang ia dengarkan. Awalnya hanya gerakan ringan, tapi lama kelamaan gerakannya berubah menjadi sebuah tarian hip-hop. Seakan terhanyut pada musik dan gerakan tarinya, hingga ia tak menyadari seseorang tengah memperhatikannya.

“Maaf! Aku tidak punya uang receh!” Ucap seseorang. Tanpa menunggu respon dari lawan bicaranya, ia pergi meninggalkan pemuda itu dan masuk kedalam rumah yang kemungkinan besar adalah miliknya.

“Eunhee! Tunggu!” Ia  menghadang Choi Eunhee yang akan memasuki rumahnya.

“Minggir!” Balas Eunhee cepat.

“Tidak! Tunggu sampai aku menjelaskan kejadian kemarin!”

“Aku tidak mau dengar!” Gadis itu berusaha menerobos tubuh Minwoo agar dapat memasuki rumahnya.

“Kau tidak bisa memperlakukanku begini terus!” Minwoo meraih kedua tangan Eunhee dan menggenggamnya erat.

“Aku bisa! Dan aku akan melakukannya terus!” Pekik gadis itu, ia menepis tangan Minwoo. Eunhee mendorong tubuh Minwoo agar tak menghalangi jalannya.

Minwoo terdiam sesaat, “Terserah! Lakukan apapun yang kau inginkan!” Lanjut pemuda itu yang membuat Eunhee segera menghentikan langkahnya.

Nunna! Kapan kau akan berubah? Sampai kapan kau terus bertingkah kekanak-kanakan seperti ini? Kau lebih tua dariku tapi tingkahmu seperti remaja labil yang bisa meledak kapanpun kau mau, tanpa memikirkan orang lain! Aku mencoba bersabar dan menerima sikapmu! Tapi semakin aku bersabar kau malah terlihat semakin menindasku! Kau bersikap sesukamu! Aku akui memang aku salah karena tak menolongmu! Aku mengerti bagaimana perasaanmu! Tapi bukan berarti kau boleh memperlakukanku seperti ini!”

Minwoo menarik nafasnya dalam sedangkan Eunhee masih mencerna tiap kata yang baru saja ia dengar.

“aku lelah nun! Jika kau bersikap seperti ini terus! Jujur aku tidak sanggup! Sebaiknya kau cari namja lain yang lebih bisa untuk menerima sikapmu ini!” Lanjutnya sembari meninggalkan Eunhee.

Minwoo meyakinkan dirinya bahwa keputusannya adalah yang terbaik untuk saat ini.

Yah, kau sudah melakukan hal yang benar Minwoo! Ini yang terbaik!’ Pikirnya.

Bugh!

Minwoo meringis kesakitan saat sesuatu menimpa kepalanya. Pemuda itu segera menoleh dan mendapati sebuah sepatu yang ia yakini sebagai sesuatu yang menimpanya tadi.

“MINWOO PABO!” Raung Eunhee. Rupanya gadis itu yang tadi melempar sepatu ke arah Minwoo, terlihat dari sepatu yang ia kenakan hanya satu.

“DASAR BODOH!” Teriak Eunhee lagi tapi kali ini lebih keras dari sebelumnya. Ia berteriak disela-sela tangisannya.

Bruuukkk…

Entah karena teriakannya barusan atau apa, gadis itu terduduk begitu saja di jalanan. Minwoo masih memperhatikan Eunhee tanpa melakukan apapun.

“Hiks… kau jahat! Seharusnya kau membujukku lebih! Bukannya mengatakan hal jahat seperti tadi! Kau pikir aku benar-benar marah padamu? Aku hanya menunggu kau melakukan sesuatu yang lebih dari pada hanya sekedar membujukku dengan alasan-alasanmu itu!” Racau Eunhee. Ia menyeka air matanya kasar. Gadis itu tak peduli celana putihnya kotor.

“Setidaknya kau membawakanku bunga atau coklat sebagai tanda permintaan maaf! Apakah itu terlalu sulit bagimu? Aku juga ingin seperti yeoja lainnya yang menerima bunga atau coklat dari pasangannya!” Lanjut Eunhee, ia mendongakkan kepalanya untuk melihat reaksi Minwoo. Tapi yang dilihatnya hanya jalanan kosong. Tak ada Minwoo di sana. Jadi, sejak tadi ia berbicara sendiri?

Dan hal ini lantas membuatnya menangis semakin keras. Apakah Minwoo benar-benar tidak peduli lagi padanya? Apakah mereka akan benar-benar berpisah!

Bodoh

Ia tidak menyangka bahwa keinginannya untuk mendapatkan bunga dan coklat dari Minwoo malah berakibat dirinya kehilangan pria itu.

“Minwoo…” Panggilnya disela-sela tangisannya. Berharap pemuda tampan itu akan datang menghampirinya dan memberikannya pelukan hangat seperti biasanya.

Ne?” Sebuah suara yang amat sangat ia harapkan terdengar oleh telinganya. Eunhee segera mendongak dan melihat Minwoo yang sedang tersenyum di depannya. Tanpa menunggu waktu lama lagi, ia segera memeluk namja bergigi kelinci itu dan menangis sekeras-kerasnya.

“Jangan tinggalkan aku! Kumohon! Aku tidak butuh bunga ataupun coklat! Aku hanya butuh dirimu!” Ucap Eunhee sembari memeluk Minwoo lebih erat.

Pemuda itu tersenyum dan membalas pelukan Eunhee. Perlahan tangisan Eunhee mulai mereda. Minwoo melepaskan pelukannya dan menghapus air mata kekasihnya itu dengan ibu jarinya tanpa melepas senyum yang terkembang di bibirnya sejak tadi.

“Kau sungguh tak menginginkan coklat dan bunga?” Tanyanya yang dijawab anggukan yakin dari Eunhee.

“Sayang sekali! Padahal aku sudah membawakannya untukmu!” Lanjut Minwoo sembari menunjukkan setangkai mawar merah di tangan kanannya.

Eunhee menutup mulutnya dengan punggung tangannya. Tak percaya jika Minwoo akan benar-benar melakukan permintaannya tadi. Eunhee segera mengambil mawar itu dan mencium aromanya.

“Dan untuk coklatnya!” Ucap Minwoo, ia tersenyum sejenak. Memperhatikan mimik bingung Eunhee.

Minwoo mendekatkan wajahnya ke wajah Eunhee. Ia mempertemukan bibirnya dan Eunhee kemudian memasukkan sebuah permen coklat dari mulutnya kedalam mulut Eunhee.

“Maaf! Hanya itu yang bisa kutemukan di toko terdekat!” Minwoo mengusap bibir Eunhee yang sedikit blepotan.

Gadis itu tersenyum. Tidak menyangka jika Minwoo bisa seromantis ini. Ia menunduk malu, berusaha menyembunyikan wajahnya yang tengah memerah.

“Kau menyukainya?”

Eum!” Eunhee mengangguk malu.

“Minwoo!”

“Ya?”

“Kenapa rasa coklatnya aneh!” Ujar Eunhee membuat Minwoo mengerutkan keningnya bingung.

Geure?”

“Ya! Coba kau rasakan!” Eunhee lantas mencium bibir Minwoo untuk memberikan permen coklat di dalam mulutnya ke dalam mulut Minwoo.

“Dasar nakal!” Minwoo berkata saat melihat senyum jahil di wajah Eunhee. Ternyata gadis itu menjadikan permen sebagai alasan untuk menciumnya.

“Bukankah kau bilang aku harus sedikit bersikap dewasa?”

“Itu bukan dewasa! Tapi pervert!” Jawab Minwoo sembari menyentil dahi Eunhee.

“Hahaha… Bagaimana jika kita memakannya bersama?” Tanya Eunhee mengutarakan ide jahilnya lagi.

“Kau gila! Ini tempat umum tahu!” Sahut Minwoo, tapi sikapnya berbanding terbalik dengan ucapannya karena ia segera menyambar bibir Eunhee setelah mengucapkan kalimatnya barusan.

***

Minho dan Taehee segera mengatur nafas saat mereka tiba di depan pintu kelas. Keduanya mengangguk saat di rasa nafas mereka sudah mulai teratur.

Tok. Tok. Tok.

Minho mengetuk pintu kelas sebelum membukanya perlahan. Semua mata tertuju pada mereka tak terkecuali Kim seonsangnim yang sedang mengajar pelajaran Biologi di depan. Kim soensangnim membenarkan kaca matanya yang turun satu senti.

“Choi Minho! Lee Taehee! Kenapa kalian berdua terlambat?” Tanyanya sembari menghampiri kedua muridnya yang masih berdiri di depan pintu.

“Bus yang kami tumpangi kebocoran ban, Seonsangnim!” Jawab Minho, Taehee mengangguk di sebelahnya.

“Benarkah? Hm, baiklah! Karena kalian berdua adalah murid teladan jadi kalian tidak mungkin berbohong! Duduklah!” Ucap Kim seonsangnim kemudian melanjutkan pembelajarannya.

“Oh ya, Minho! Taehee! Saya baru saja memberikan tugas yaitu menggambar organ pencernaan pada tubuh katak dan tugasnya berkelompok! Karena kalian terlambat, Jadi, kalian berdua satu kelompok!” Lanjut Kim Seonsangnim yang lantas membuat Minho dan Taehee terkejut.

“Sekali lagi saya tekankan! Tidak ada yang boleh mencari gambarnya di google atau situs lainnya! Ataupun di buku! Kalian harus melihatnya pada objek nyata! Yaitu katak yang masih hidup ataupun sudah mati! Terserah apakah kalian akan membedah katak itu sendiri atau orang lain yang melakukannya! Yang penting kalian harus melihat dan menggambarnya dari katak nyata bukan gambar! Mengerti?”

“Mengerti!”

Minho menoleh ke arah Taehee yang juga melakukan hal yang sama. Tanpa mereka sadari, seseorang tengah menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.

***

Iris Taehee tengah memperhatikan berbagai jenis ikan yang terdapat di akuarium. Mereka sedang berada di toko hewan. Ia mengalihkan perhatiannya pada seekor kucing yang sedang memainkan ekornya.

“Hei, hewan lucu! Siapa namamu?” Taehee mengulurkan tangannya. Taehee tersenyum gemas saat melihat si kucing terlentang meminta untuk dielus lebih.

“Sepertinya kau sangat menyukainya?” Tanya Minho yang tanpa Taehee sadari sudah berada di hadapannya.

“Eh? Yah, begitulah!” Sahut Taehee mendongak sekilas ke arah Minho.

“Kenapa tidak kau beli?”

“Uangnya lebih baik kubayar untuk sekolah dari pada hanya untuk membeli seekor kucing! Bukankah kucing seperti ini mahal perawatannya?”

“Akan kubelikan untukmu!”

Mwo?” Taehee segera menatap Minho yang tersenyum padanya.

“Dia tidak akan mungkin mendapatkan orang yang lebih baik dari kau sebagai majikannya!” Ucap Minho lantas berdiri untuk menemui si pemilik toko.

Taehee ikut berdiri untuk mencegah Minho, “Ani! Tidak usah! Sepertinya dia tidak cocok denganku!”

Meong!”

Keduanya menunduk mendapati kucing tadi bergelung nyaman di kaki Taehee. “Tidak cocok?” Minho mempertanyakan ucapannya barusan, Taehee lantas tersenyum kaku.

Cowok itu menghampiri pemilik toko hewan tempat mereka berada dan melakukan transaksi jual beli atas kucing yang saat ini sedang di gendong Taehee.

“Ini surat kepemilikannya! Atas namamu dan nama kucing itu!” Minho menyerahkan sebuah buku kecil pada Taehee. Taehee menerimanya dan membuka buku kepemilikan tersebut.

“Keroro?” Tanya Taehee membaca nama kucing yang berada di dalam dekapannya.

“Karena kucing ini aku yang membelikannya!” Minho mengelus bulu lebat kucing yang sekarang resmi bernama keroro tersebut.

“Aku akan menggantinya jika aku memiliki uang nanti!” Ucap Taehee sambil memasukan Keroro ke kandangannya.

“Terserah kau! Yang pasti aku tidak akan menerima uangnya!” Setelah berujar demikian, cowok itu mengangkat kandang Keroro.

Taehee segera mengejar langkah besar Minho.

“Bagaimana dengan kataknya?” Tanya Taehee setelah berhasil menyamakan langkahnya.

“Tidak ada! Baru saja terjual! Katanya kita bisa mendapatkannya di daerah Gwangju! Besok jam sembilan tepat aku akan menjemputmu! Maaf karena tidak bisa mengantarmu pulang! Aku ada urusan yang harus kuselesaikan!” Ucap Minho sembari menyerahkan kandang Keroro pada Taehee. Ia mengangguk tanda setuju.

“Baiklah! Sampai jumpa besok!” Minho mengusak rambut Taehee sebelum pergi. Kebiasaan Minho setelah ia mengantar pulang Taehee dulu. Taehee menatap kepergian Minho, tangannya meraih bekas usakan Minho tadi kemudian tersenyum.

Sepanjang perjalanan Taehee tak melepas senyumnya barang sebentar. Ia terus menatap Keroro yang tengah menikmati elusan lembut darinya.

“Keroro… Keroro? Hihihi… lucu!” Gumam Taehee sembari menatap mata Keroro yang tertutup.

“Aku menyukaimu!” Gumamnya lagi. Entah itu ditujukan pada Keroro atau pada orang yang telah membelikan Keroro untuknya.

***

Taemin tersenyum kala membaca pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya. Sebuah pesan dari Choi Minho yang mengingatkannya tentang janjinya besok. Ia menutup lokernya dan segera membalas pesan Minho.

Taemin meletakkan ponselnya kedalam saku celananya dan berjalan ke arah dapur untuk memulai jam kerjanya. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara tangisan seseorang di dalam ruang istirahat karyawan. Ia mengintip ke dalam melalui celah pintu yang sedikit terbuka, mencari tahu siapa si pemilik suara. Matanya menangkap Jieun yang sedang menatap bingung ke arah Soohee yang menangis di depannya.

“Bagaimana bisa Heamin mendapatkan Kwangmin! Kau tau kan? Kwangmin seperti apa? Namja dingin dan tidak peduli pada sekitarnya!” Tutur Soohee setelah menangis beberapa saat, Jieun mendengarnya dalam diam.

“Kemarin Heamin menginap di rumahku! Ia menceritakan kejadian siang itu dengan bangga! Tentu saja! Dia bangga! Seorang Heamin yang selama ini mengejar-ngerjar Kwangmin! Ternyata Kwangmin juga memiliki perasaan yang sama dengannya! Dan itu membuatku iri! Aku juga ingin seperti Heamin!”

Ia menarik nafas sebelum melanjutkan, “Aku tahu aku tidak pantas berbicara seperti ini pada temanku sendiri! Tapi aku juga tidak bisa memungkiri jika aku iri padanya! Aku juga ingin sepertinya! Aku ingin Youngmin juga melakukan hal yang sama seperti Kwangmin! Kwangmin yang dingin saja bisa ditaklukan Heamin! Apalagi Youngmin yang memiliki sikap normal?”

Soohee masih saja berceloteh tentang rasa irinya pada sahabatnya itu. Jieun yang sedari tadi mendengarkan sebenarnya sangat ingin menenangkan gadis di depannya ini. Ia ingin merespon ucapan Soohee tapi entah kenapa ia tidak bisa melakukannya.

“Apa yang harus aku lakukan?” Soohee kembali meletakkan kepalanya ke pangkuan Jieun. Melihat Soohee yang kembali menangis di pangkuannya, tangan Jieun bergerak mengusap rambut halus Soohee. Tapi segera ia urungkan. Ia terlalu takut untuk berteman. Ia takut kejadian yang sama di masa lalu akan menimpanya lagi.

Soohee yang merasa tidak ada respon dari Jieun mendadak kesal. Ia segera berdiri.

“Percuma aku bicara pada robot sepertimu! Kau sama sekali tidak bisa mengerti apa yang sedang kurasakan! Kukira dibalik wajah dinginmu itu kau setidaknya mempunyai rasa iba barang sedikit! Tapi aku salah! Kau sama sekali tidak punya hati! Kau bukan manusia!” Tutur Soohee kesal dan segera meninggalkan Jieun yang tertegun dengan perkataannya barusan.

Soohee membuka pintu kasar, beruntung Taemin bergerak cepat hingga ia tak harus terjepit pintu karena ulah gadis itu. Taemin menoleh pada Jieun yang masih di posisinya sembari menatap tangannya.

“Bukan… manusia?” Jieun bergumam lirih namun masih dapat didengar oleh Taemin.

Jieun menyadari kehadiran Taemin. Ia menatap Taemin tanpa ekspresi. Namun Taemin dapat menangkap ekpresi kesedihan di sana walau ia tutupi dengan baik. Karena Taemin juga melakukan hal yang sama. Menutupi kesedihannya dengan wajah tanpa ekspresi jika orang lain melihatnya. Seperti cermin, Taemin melihat Jieun sebagai pantulan dirinya di cermin.

Jieun beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan keluar ruangan. Taemin mengikutinya dalam diam.

***

Soohee menghentak-hentakkan kakinya kesal. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tak menyadari jika sekarang ia telah berada di outdoor cafe.

“Aish! Bagaimana aku bisa kemari?” Gumamnya sembari menggaruk belakang kepalanya. Kebiasaannya saat sedang bingung.

Ia memutar tubuhnya, berniat kembali ke dapur untuk membantu Yumi. Setidaknya dengan menyibukkan diri sendiri ia akan sedikit lupa dengan rasa irinya pada Heamin. Tetapi matanya menangkap pemandangan yang sebenarnya sangat tidak ingin ia lihat saat ini.

Oh, come on!” Ucapnya mengeluh

Ia mendapati Kwangmin yang sedang asyik membaca novel dengan Heamin yang duduk di samping cowok itu. Gadis itu menatap Kwangmin intens.

Kwangmin yang merasa diperhatikan melirik Heamin yang berada cukup dekat dengan wajahnya. Ia mendorong dahi Heamin dengan telunjuknya.

“Kenapa memperhatikanku seperti itu?” Tanyanya sembari menurunkan telunjuknya setelah dirasa jarak antara wajahnya dan Heamin cukup jauh.

“Aku hanya ingin memastikan apakah semuanya ini nyata! Semuanya terlihat seperti mimpi bagiku!”

“Kenapa begitu?” Kwangmin meletakkan novelnya. Merasa tertarik dengan pembicaraan kekasihnya itu.

“Karena aku masih belum percaya jika kau menyukaiku!” Sahut Heamin tanpa melepas pandangannya dari wajah Kwangmin.

“Bagaimana jika kubuat kau percaya?” Ucap Kwangmin sambil mengikuti posisi Heamin, yaitu menggunakan tangan kanannya untuk menumpu kepalanya.

“Caranya?”

Kwangmin mencium bibir Heamin kilat. Gadis itu mengerjapkan mata berkali-kali. Otaknya masih mencerna apa yang terjadi. Melihat respon Heamin, Kwangmin jadi salah tingkah. ia segera meraih novelnya dan kembali membaca untuk menutupi rasa gugupnya.

Heamin yang baru sadar akan keterkejutannya segera menatap Kwangmin. Saat ia mendapati Kwangmin masih setia dengan bacaannya, gadis itu terkekeh pelan.

“Ternyata cuma imajinasiku!” Gumam Heamin, menyadari kebodohannya.

Soohee yang sedari tadi memperhatikan Kwangmin dan Heamin semakin bertambah iri. Bagaimana tidak? Ia menyaksikan sendiri bagaimana Kwangmin mencium sahabatnya itu?

“Arrrggg!” Ia berteriak frustasi. Tidak dipedulikannya lagi pandangan beberapa pengujung yang menatapnya aneh. Pikirannya terlalu penuh dengan rasa iri hingga tak ada lagi ruang untuk rasa malu di sana.

Kakinya semakin ia hentak-hentakan kesal dan bibirnya mengerucut sebal. Ia melihat ke semua sudut cafe. Hari ini entah kenapa seluruh pengunjung cafe adalah sepasang kekasih! Apakah mereka mau menekankan bahwa hanya Soohee sendiri yang single? Bahkan si manager cafe Choi Eunhee juga sedang asyik bermesraan dengan pacarnya di ujung sana! Dan hal ini sukses membuat Soohee bertambah kesal.

Tunggu dulu! Ternyata ada satu orang yang tersisa untuk menemaninya! Dan orang itu adalah Youngmin, target utamanya. Ia segera menghampiri Youngmin. Cowok itu sepertinya sibuk dengan Ipadnya dan Milkshakenya. Soohee duduk di depan Youngmin sambil menggebrak meja. Ia melihat ke arah Soohee sekilas kemudian kembali fokus pada Ipadnya.

“Ada apa?” Ujar Youngmin santai sembari memakan kentang gorengnya.

“Aku sedang bad mood!” Soohee melipat tangannya ke depan.

“Kau sedang datang bulan?”

“Tentu saja tidak!” Pekik Soohee membuat Youngmin melotot ke arahnya. Pasalnya pekikan Soohee barusan membuat beberapa pengunjung merasa terganggu.

Soohee segera menunduk, “ada apa?” Tanya Youngmin lagi. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap Soohee.

“Aku iri dengan Heamin!” Curhat Soohee, matanya menatap kosong embun yang menempel pada gelas milkshake milik Youngmin.

“Yah, Heamin memang lebih cantik darimu! Wajar jika kau merasa iri!” Ucapan Youngmin barusan membuat Soohee menatap sebal padanya.

“Aku hanya bercanda!” Lanjut Youngmin membuat Soohee kembali ke posisinya.

“Aku tidak terima! Bagaimana bisa Kwangmin menyukai Heamin!!”

Youngmin yang sedari tadi sibuk dengan Ipadnya menoleh ke arah Soohee.

“Kau… menyukai Kwangmin?” Tanyanya. Entah kenapa ia merasa khawatir jika Soohee akan menjawab ‘iya’.

“Tentu saja tidak!” Youngmin menghela nafas lega ketika mendengarnya.

“Aku hanya iri! Kenapa namja yang kusuka tidak bersikap seperti itu padaku!” Soohee merubah posisinya menjadi telungkup di atas meja. Matanya menatap sepatunya yang terlihat sedikit kotor.

“Mereka berdua berbeda! Kau tidak bisa menyamakan keduanya hanya karena mereka kembar!”

“Tapi tidak bisakah ia melakukan hal yang sama? Aku tidak menginginkan ia menyeretku keluar cafe kemudian mencium pipiku! Aku hanya ingin tahu apakah dia juga menyukaiku!”

“Mungkin dia menunggu saat yang tepat!”

“Tapi kapan? Jika dia begini terus! Mungkin aku akan pindah ke namja lain saja!”

Ucapan Soohee barusan membuat Youngmin tertegun. Ia kemudian menatap Soohee yang masih tertunduk menatap sepatunya. “Bagaimana jika dia memang menyukaimu?”

“Tidak mungkin!”

“Kenapa tidak? Soohee… aku menyukaimu!” Ucap Youngmin. Ia menunggu respon Soohee. Tapi gadis itu masih setia pada posisinya.

Ya! Apa jawabanmu!” Youngmin berujar kesal.

“Eh? Jawaban apa?” Tanya Soohee sambil menengadahkan kepalanya menghadap Youngmin. Sepertinya ia tidak sadar akan ucapan cowok itu barusan.

“Lupakan! Aku sudah memberanikan diri untuk mengatakannya dan kau bahkan tidak mendengarnya sama sekali!” Youngmin bertambah kesal mendengar respon Soohee. Ia segera berdiri dan pergi dari hadapan Soohee.

“Kenapa dia marah? Memang apa yang dia katakan? Dasar namja aneh!” Gumamnya sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

-To Be Continued-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

24 thoughts on “Inter Sexual – Part 10”

  1. ini udah bagus banget cerita taehee sama minho nya.. udah baikan, dan agak aneh pas taemin senyum gak jelas karena dpt sms dari minho wkwk kayak yaoi jadinya.
    scene eunhee sohee heamin kepanjangan sih karena mereka bukan cast utama, tapi di part ini aku suka bagiannya eunhee minwoo kkk.
    next update!

    1. Kayak yaoi ya? Haha.. yg nulis bagian ini author yg seorang fujoshi sih -___-

      Aa, anggap aja filler mereka hehe. Iya, makasih ^^

      Ne, updateannya silahkan ngomong ke admin 🙂

      Thx banget ya Lideronyu-ssi, kamu udah mau baca dan komen sampai chapter ini. Maaf nih saya baru bales sekarang ^^

      Sign,

      Lynda

  2. heamin-soohee paboya… Hahahaha..
    Eunhee dah balikan sama minwoo..
    Tinggal minho, taemin/taehee, n jieun..
    Next..

    1. Ahahaha~ Iya ^^
      Wouh, iya udah balikan mereka.
      Ne ^^

      Thx banget ya Hyora Kim-ssi, kamu udah mau baca dan komen sampai chapter ini. Maaf nih saya baru bales sekarang ^^

      Sign,

      Lynda

  3. Kyaaaa… Berharap ini bukan fic Yaoi ya..
    Padahal suka sih baca Onkey, tapi kalo baca 2min rasanya begimana gitu..#slap

    scene Taeheenya kurg banyakkkk..huahaha#jiwa Taemints saya lg kumat

    berharap next part lebih banyak.

    1. Aa, saya juga nggak suka yaoi -____- Masalahnya yg nulis ini author yg suka fujoshi -.-‘

      Iya, nanti saya bilangin ke authornya ^^

      Ne ^^~

      Thx banget ya nunadk-ssi, kamu udah mau baca dan komen sampai chapter ini. Maaf nih saya baru bales sekarang ^^

      Sign,

      Lynda

  4. 2Miin~~ aigoo, setelah nunggu sekian banyak part akhirnya aku bisa lihat mereka lagii. Eh, pas jadi Taehee bukan 2Min lagi ya? Hoho 😀

    Tunggu next paart ^^

  5. Aaaaa part ini penuh dengan romance, so sweet bgt..
    Akhirnya Minho ma Taehee akur lagi.. Pasangan yang lain juga sweet bgt, jadi iri.. Hhaha

    next part..
    Fighting!!!

    1. Makasih ^^, Romancenya so sweet ya ^^
      Ahahaha, iya deng..

      Nah, kalau next part bilang sama admin aja ^^

      Thx banget ya may-ssi, kamu udah mau baca dan komen sampai chapter ini. Maaf nih saya baru bales sekarang ^^

      Sign,

      Lynda

  6. Taehee-minho baikan, eunhee-minwoo baikan, heamin-kwangmin jadian, soohee-youngmin udah nyatain cinta. Tinggal jieun doang nih kasian bgt, ya semoga di next part jieun bisa dpt temen baik lg atau engga cowo yg bisa ngertiin dia.
    Aku juga msh penasaran sm cerita minho-taehee bedah katak hahaha..

    Ditunggu next part nya thor..

    1. Hm, semoga.. Amin ^^
      Aa, iya

      Hm, kalau masalah itu silahkan tanya kepada admin yang mempublish ya ^^

      Thx banget ya annisancoot-ssi, kamu udah mau baca dan komen sampai chapter ini. Maaf nih saya baru bales sekarang ^^

      Sign,

      Lynda

    1. Iya

      Hm, masalah itu kita tunggu adminnya buat ngepost lanjutannya ya ^^

      Thx banget ya lintang-ssi, kamu udah mau baca dan komen sampai chapter ini. Maaf nih saya baru bales sekarang ^^

      Sign,

      Lynda

  7. Aah aku suka part ini.
    taehee-minho baikan, eunhee-minwo jg baikan. trus ada pasangan haemin-kwanmin.
    & yg bikin ngakak haemin ama soohee.
    Mereka sama aja. yg 1 ga sdar kalo udh dicium malah nganggap itu imajinasi. Yg 1 ga sadar kalo udah ditembak ma orang yg dia suka kkkk~
    okey next part nya dtunggu

    1. Kami senang kamu suka part ini ^^
      Aa, iya.. Heamin ama Sohee emang bener-bener -___-
      Haha, iya.. emang yang itu bikin ngakak ^^

      Hm, kalau masalah next part kita tunggu adminnya ngepublish lagi ya ^^

      Thx banget ya taurusgirls-ssi, kamu udah mau baca dan komen sampai chapter ini. Maaf nih saya baru bales sekarang ^^

      Sign,

      Lynda

  8. Uwouw~! Ada 2MIN! Yap, setuju sama comment paling atas, berasa kayak yaoi bacanya, kkk~

    Tapi aku masih rada kurang ‘sreg’ sama bagian semua dialognya, kebanyakan tanda ‘!’ menurutku-_- *maaf kalau menyinggung*

    Tapi ini ceritanya udah membaik~ semoga aja soohee sadar kalau Youngmin udah nembak dia xD

    I’ll wait the next part!

  9. Wahhhh………….
    ternyata FF ini udah publish udah sampai part 10 lagi, otomatis ngebut dari part 7 s/d 10, maaf komen nya di part 10 ya author yang baik hati?? *bow*

    Ceritanya makin seru aja nih, dan authornya sukses bikin melting di part 10 ini, banyak romance-nya, ditambah lagi Taehee sama Minho udah baikan.

    Hmm, jadi penasaran apa yg akan terjadi selanjutnya nih…

    Ok di tunggu part selanjutnya ya? ^^

  10. 2MIN is back, yah aku sama kayak komen diatas, brharap gk yaoi -.-

    btw, aku terus ngakak pas Minho kasih nama tuh kucing ‘keroro’, ntah ini lucu atau gk tp sukses bikin aku ngakak.

    terus suka dg minwoo yg jd romantis, abis eunhee kekanakan bgt, hnya soal bunga dan coklat doang.

    bagus! suka dg part ini >.<

  11. taemin-minho apa taemin-jieun ya akhirnya , penasaran nih…
    aaah fictnya bagus , lanjut ya thor!! Jangan lama lama hehe

  12. Wah, aku terombang-ambing.
    Akhir ceritanya gx ketebak. Nih skrg si minho ama taehee jadi baikan gara2 eunhee.
    Taehee dibeliin ‘keroro’ pula,,
    Nanti mereka bakal nyari katak atau kencan? #modus

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s