My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Part 8

My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Part 8

Main Cast :

  • Lee Jinki (SHINee Onew)
  • Shin Jibyung
  • Shin Jikyung

Support Cast :

  • Kim Junsu (2PM Junsu)
  • Other SHINee members
  • Etc.

Genre  : Marriage Life, Family, Life, a bit romance

Length : Continue

Rating : Teen

Disclaimer : Only own the plot & Shin Jibyung.

Author : Mira~Hyuga

>>><<<

CLIP 8

Jikyung mendudukkan dirinya di bibir tempat tidur. Matanya menerawang kosong namun sekilas tampak memancarkan kesenduan.

‘Apakah aku jahat?’ satu kalimat yang terus berputar-putar di benaknya sejak tadi, namun tidak juga menemukan jawaban yang pasti.

Dengan dirinya yang sejak beberapa jam yang lalu telah berstatus sebagai kekasih Junsu tentu membuat Jikyung merasa senang—dia tidak bisa memungkiri itu. Namun lagi-lagi keraguan mengikatnya dengan pertanyaan, ‘Apakah aku jahat, karena menjadikan Junsu oppa sebagai pelarian?’

Jikyung tidak mau menyakiti Junsu jika suatu saat—entah itu kapan—Junsu mengetahui alasan Jikyung menerimanya. Tapi bagaimanapun Jikyung memiliki egonya sendiri. Dia juga tidak ingin dirinya terus menerus tersakiti.

Jikyung menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan, kemudian menyisir rambutnya yang tergerai dengan jari-jari tangannya. Dia menyerah, tidak bisa memikirkan hal itu lebih lanjut. Pikirannya buntu sama sekali.

Kini tatapan Jikyung tertuju pada tempat tidur kosong di depannya dengan penerangan hanya dari lampu tidur di nakas antara tempat tidurnya dan tempat tidur kosong tersebut. Shin Jibyung, Jikyung tiba-tiba merindukan saudaranya itu. Dia sudah merasa terlalu penat dengan semuanya, dan dia yakin Jibyung akan ada disaat dia membutuhkannya, sekalipun di malam yang sudah sangat larut seperti saat ini.

Jikyung mengeluarkan handphonenya. Cahaya benda itu terlihat dengan jelas mengenai wajahnya di tengah kegelapan saat Jikyung menekan speed dial 1 di sana.

Di tempat lain, Jibyung yang sedang membuat sketsa model pakaian untuk tambahan koleksi butik mereka di ruang kerjanya—juga sekaligus untuk mengisi waktu karena dirinya tidak kunjung bisa terlelap—mendengar dengan jelas suara dering handphone yang berada di ruang tengah, saking senyapnya suasana saat ini.

Jibyung menghentikan kegiatannya sejenak dan beranjak keluar untuk mengambil handphone’nya.

Ne, Jikyung-ah..” Jibyung mengangkat panggilan yang masuk tersebut, seraya melangkah kembali ke ruang kerjanya. Tidak ada suara yang menyahut hingga Jibyung duduk di kursi kerjanya.

Yeoboseyo? Jikyung-ah?

“Ng..” suara gumaman akhirnya tertangkap oleh telinga Jibyung, disusul isakan pelan yang membuat Jibyung dengan seketika menegakkan posisi duduknya.

Gwaenchana? Kenapa kau menangis?” tanya Jibyung bingung, karena isakan itu kini mengeras.

“Jibyung-ah…”

Wae? Apa terjadi sesuatu?” Jikyung tidak menjawab, hanya terus menangis, “Jikyung­-ah, jangan membuatku takut! Dimana kau sekarang? Haruskah aku ke sana?”

“Andwae. Aku hanya—” ucapan Jikyung terpotong oleh isakannya sendiri.

Beberapa detik terdiam, Jibyung akhirnya mengerti. Dia membiarkan suara tangisan Jikyung menemaninya di malam yang senyap ini, membiarkan dirinya ikut merasakan apa yang dirasakan Jikyung, membiarkan Jikyung melepaskan semua bebannya tanpa bertanya apa yang menjadi beban itu, meski Jibyung sangat ingin mengetahuinya. Mereka sudah cukup dewasa, dan Jibyung mencoba menghargai privasi yang ingin Jikyung jaga.

Jibyung menelan ludah dan mengerjapkan mata. Entah kenapa tenggorokkan dan matanya terasa perih, terasa seperti ada yang menghimpit rongga dadanya. Mungkin ini yang sekarang tengah Jikyung rasakan juga.

Gwaenchana, Jikyung-ah. Semuanya akan baik – baik saja.”

>>><<<

(Jibyung’s POV)

Hari demi hari, minggu demi minggu telah terlewati, hingga tak terasa Korea Selatan kini sedang berada di penghujung musim gugur.

Hari ini aku memutuskan untuk mengunjungi butik kami untuk mengantarkan beberapa pakaian baru yang kubuat selama sebulan ini. Selama sebulan itu juga aku tidak berkunjung ke sana, karena lumayan banyak yang harus kukerjakan di tempat kerja maupun di rumah. Ya, meski aku yakin tidak sesibuk Jikyung. Aku hanya akan mengunjungi eomma di rumah jika aku merasa kesepian di apartemen.

Karena tidak menemukan eomma di ruang tengah, aku memutuskan untuk mencari di ruang kerja.

Aigoo~ ige mwoya? Eomma mencoba pekerjaan ini lagi?” pekikku ketika melihatnya tengah duduk di sebuah meja persegi berukuran sedang yang ada di sana sambil menggoreskan pensilnya di atas kertas. Wah~ ia sedang mendesain model pakaian.

“Astaga, Shin Jibyung. Bagaimana kalau ibumu ini terkena serangan jantung, hah?” omelnya setelah menoleh ke arahku.

Aku nyengir sembari menggaruk pipiku yang tidak gatal, lalu berjalan menghampirinya, menarik sebuah kursi agar aku bisa duduk di sampingnya, “Mianhae, Eomma.

Eomma tersenyum dan kembali pada kegiatannya yang tertunda. Aku terdiam memperhatikannya, “Hmm~ model seperti apa yang akan eomma buat?” tanyaku pelan.

“Entahlah..” ia tersenyum kecil, “..aku hanya iseng saja. Tidak ada hal lain yang bisa kulakukan untuk mengusir rasa bosan di sini.”

Aku menyuarakan kekehan kecil secara refleks, namun memutuskan untuk tak mengatakan apapun. Kalau begini aku jadi ingat appa.

Eomma adalah salah satu perancang busana yang cukup terkenal dan berbakat sebelum kami lahir. Namun ia berhenti dari pekerjaan yang disukainya itu karena appa memintanya untuk hanya menjadi ibu rumah tangga biasa, hingga tanpa diduga appa pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Aku tahu hal ini dari eomma yang menceritakannya sendiri pada kami ketika kami baru menduduki bangku kelas 2 SMA. Appa meninggal saat kami masih SMP tingkat 3.

“Kau sibuk?” tanya eomma yang membuat lamunanku buyar.

“Ya, lumayan.” anggukku mengiyakan.

Eomma diam, aku pun membiarkan suasana hening selama beberapa saat. Sebenarnya ada hal lain yang ingin aku bicarakan dengannya. Kemarin, saat aku berbicara dengan Jikyung di telfon, kembaranku itu mengatakan sesuatu yang aneh, dan aku punya firasat bahwa hal tersebut ada hubungannya dengan eomma. Jika diperhatikan, sejak dulu eomma dan Jikyung memang sering kali bertengkar karena hal yang sepele. Ah, aku belum bercerita tentang ini, kan?

Eomma, Jikyungie…” aku membiarkan kalimatku menggantung untuk melihat ekspresinya terlebih dahulu.

“Seperti biasa, dia sedang bekerja.” (-___-) Err.. eomma salah menangkap maksud perkataanku.

“Bukan itu. Aku hanya ingin tahu, apa kalian bertengkar lagi?”

Eomma menunda pekerjaannya dan beralih menatapku dengan mata menyipit. Aku balas menatapnya dengan was-was. Ah, apa aku salah bicara? Sepertinya aku sukses membuat moodnya berubah. Apa dia akan marah?

“Terserah jika kakakmu itu menganggapnya sebuah pertengkaran. Tapi menurutku aku tidak bertengkar dengannya, aku hanya menasihatinya.” elaknya santai.

“Memangnya dia melakukan kesalahan apa, sampai eomma harus menasihatinya?” tanyaku.

“Dia terlalu berambisi dengan pekerjaannya.” jawabnya singkat.

Aku mengernyit tak mengerti, “Eomma, mungkin eomma salah paham. Aku sama sekali tidak merasa bahwa Jikyung berambisi terhadap pekerjaannya. Menjadi seorang perancang busana yang terkenal adalah impiannya sejak dulu. Jikyung hanya sedang berusaha menggapai impiannya itu.”

“Ya, justru karena itulah dia jadi berambisi. Dia bahkan tidak meminta persetujuanku dulu saat mengambil pekerjaannya sekarang—tidak sepertimu. Dia memang selalu hanya mementingkan dirinya sendiri.”

Eh? “Eomma, aku tidak mengerti.”

“Sudahlah, tidak usah dibahas lagi.” tukasnya yang kemudian beranjak dari hadapanku, membuatku menghela nafas dalam. Terkadang aku sama sekali tidak bisa menebak jalan pikiran wanita yang sangat kusayangi itu.

>>><<<

(Author’s POV)

Gomawo, Oppa. Aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau tidak ada dirimu.” Jikyung merapikan syal yang melilit di leher Junsu, menatanya sedemikian rupa sehingga terlihat cocok di tubuh kekar namja itu.

“Terimakasih juga, karenamu aku dapat pekerjaan.” respon Junsu yang membuat Jikyung terkekeh pelan.

Karena model laki-laki yang sejak jauh hari telah bekerja sama dengan perusahaan tempatnya bekerja mendadak tidak bisa hadir untuk fashion show peluncuran produk baru hari ini, Jikyung sempat hampir putus asa karena bingung bagaimana mencari model penggantinya hanya dalam waktu satu jam. Namun di saat terakhir, dia teringat Junsu, dan tanpa pikir panjang segera menelfonnya, memintanya untuk menjadi pengganti model tersebut, dan dengan mudah Junsu menyetujuinya.

“Beres. Bersiaplah, oppa. Beberapa menit lagi acaranya dimulai.”

Arasso.” Junsu tersenyum lebar, membuat matanya menyipit. Harus Jikyung akui kalau namja di depannya ini memang selalu terlihat memukau di setiap kesempatan.

Eodi ka?” Junsu menahan tangan Jikyung yang hendak beranjak meninggalkannya.

“Aku harus mengurus pekerjaan lain.” jawab Jikyung pelan.

“Oh, keurae? Baiklah, selamat bekerja kembali.”

“Ng.”

“…”

“…”

Jikyung tetap berdiri di tempat sementara Junsu terus menatapnya, “Wae? Kenapa masih belum pergi?” tanya Junsu polos.

Jikyung mengerutkan dahi dengan agak kesal, “Yaaa~ bagaimana aku bisa pergi kalau oppa masih memegang tanganku?”

“Oh.”

“Issh~ menyebalkan. Kau membuang waktuku, Oppa!

“A-aaa! Aaa! Mianhae, mian, mian. Jikyung, berhenti mencubit tanganku sekencang itu! Aaa!”

“Ini vitamin dariku, supaya kau lebih bersemangat.”

>>><<<

“Kau sudah pulang?!” pekik Jibyung lumayan kencang. Bahkan dia hampir menjatuhkan gelas di tangan kirinya karena mendengar suaranya sendiri (-__-), sementara tangannya yang lain sibuk menyangga benda persegi panjang yang menempel di telinganya.

“Ng. Kenapa sepertinya kau kaget sekali?” Onew terkekeh di seberang line telepon.

“Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya? Kalau kau bilang, kan, setidaknya aku bisa menyiapkan sesuatu di apartemen untuk menyambutmu.”

Lagi-lagi Onew tertawa kecil, “Menyiapkan apa?” godanya iseng.

“Eng.. apapun..” Jibyung jadi salah tingkah, “…pokoknya, gara-gara kau tidak memberitahuku, aku jadi tidak di apartemen sekarang.”

“Jinjja? Neon eodiya, jigeum?”

“Aku di rumah eomma. Aku akan menginap di sini. Lagi.” jawab Jibyung sambil berjalan ke ruang tengah, kembali bergabung dengan Minhyun yang tengah menonton televisi.

“Oh~ keurae?”

“Ng. Kukira kau tidak akan pulang sekarang.”

Terdengar Onew mencibir pelan, “Oke, jadi ini salahku? Algyesso, Lee Jibyung.”

Minhyun yang mendengarkan Jibyung sudah langsung tahu bahwa anaknya itu sedang berbicara dengan Onew. Ia mendekatkan diri pada Jibyung, bertanya dengan suara berbisik, “Wae? Onew sudah pulang?”

Jibyung menjawab dengan anggukan, setelah itu kembali bicara dengan Onew, “Kau dimana sekarang?”

“Sekarang.. aku sedang di perjalanan ke apartemen dengan manager hyung.”

Jinjja? Tapi tidak ada makanan di apartemen.”

“Woah~ bagaimana kau tahu aku sedang lapar dan sedang bertanya-tanya tentang makanan apa yang ada di sana?”

“Aku bisa mendengar suara teriakan perutmu, Dubu.” kelakar Jibyung yang kemudian tertawa bersamaan dengan Onew.

Minhyun menyela perhatian Jibyung pada speaker handphone’nya, “Suruh dia ke sini saja. Kita makan malam bersama. Eo?

Jibyung mengangguk-angguk setuju, kemudian mendekatkan lagi handphone’nya ke telinga, mengatakan apa yang baru saja ibunya katakan. Dan Onew mengatakan bahwa dia akan ke rumah mertuanya tersebut. Tentu saja, tidak ada alasan untuknya menolak. Kasihan juga manager hyung yang rela mengantarnya dengan van mereka.

>>><<<

Acara berlangsung selama kurang dari 2 jam. Semuanya bekerja keras demi kelancaran acara ini, termasuk Jikyung yang memang dibebani tugas dan dipercaya langsung oleh Jung Sara. Para model pun melakukan yang terbaik hingga acara berakhir dengan baik dan membawa  kesuksesan (lainnya) untuk perusahaan tersebut.

“Kerja bagus, yeoreobun~” seru salah satu staff sambil menepuk tangannya tinggi-tinggi di udara. Tepuk tangan lainnya menyusul dengan riuh.

>>><<<

Jja.. Uri Jinki pasti lapar sekali, kan? Makanlah yang banyak dan segera istirahat.” Minhyun meletakkan sepiring lauk lagi di atas meja, tepat di hadapan Onew. Namja itu bergumam pelan dan menatap hidangan di meja dengan mata lapar(?).

Jibyung meletakkan semangkuk nasi jatah Onew sambil memperhatikan ekspresi suaminya, “Semakin lapar, ya?” godanya setengah mencibir, lalu mendudukkan diri di kursi samping tempat Onew.

Masshigetta..” Onew menggigiti ujung sumpitnya. Matanya bergerak kesana-kemari, memindai setiap hidangan yang ada di meja.

“Saat kau lapar, makanan yang sebenarnya biasa-biasa saja memang bisa terlihat seratus kali lebih enak.” ujar Minhyun yang mendudukkan dirinya di kursi lain yang masih kosong, “Ayo, makanlah.”

Keurae.” jawab Onew berbinar-binar, kemudian segera menyambar makanannya dengan semangat,“Selamat makan!”

“Selamat makan!” sahut dua orang lainnya, yang juga segera menyantap makan malam mereka. Sejenak tidak ada yang membuka mulut, hingga kemudian suara Onew membuat keduanya beralih menatapnya.

“Jikyungi.. apa dia belum pulang?” tanya Onew sambil mengarahkan pandangannya ke arah kamar Jikyung di lantai atas.

Ne, dia belum pulang.” Jibyung yang menjawab, “Katanya dia akan pulang agak lebih malam. Dia sedang membuat selebrasi dengan rekan-rekan kerjanya.” Jelasnya kemudian.

“Begitu?” Onew memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya dengan sumpit, kemudian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sembari menatap kosong ke arah ujung meja untuk beberapa detik, “Apa dia pulang sendiri?” tanyanya lagi.

“Ah, sepertinya Junsu oppa akan mengantarnya.” jawab Jibyung santai. Sedangkan Minhyun yang duduk di hadapan mereka masih tampak tidak menunjukkan ketertarikannya. Ia hanya fokus pada makanannya sendiri.

Onew mengerutkan dahi dan menatap Jibyung antusias, “Junsu?” tanyanya untuk memastikan Junsu mana yang Jibyung maksud. Entah kenapa dia jadi merasa was-was.

Ne, 2PM Kim Junsu.” Jibyung kembali menjawab, masih dengan nada yang datar, “Ah iya, kau kan belum tahu. Mereka sudah pacaran, loh..” bisik yeoja itu di kalimat terakhirnya.

Serta merta Onew terdiam, matanya menampakan keterkejutan dan sedikit.. kekecewaan? Namun sepertinya Onew berusaha menutupi hal itu dengan mengajukan satu pertanyaan lagi, “Sejak kapan?”

“Mmm..” Jibyung terlihat berpikir, “Aku tidak tahu tanggal pastinya. Tapi pokoknya saat kau akan berangkat ke Jepang. Keuraechi, Eomma?” tutur Jibyung yang meminta pendapat eomma’nya yang hampir mereka anggap tidak ada sejak obrolan ini dimulai.

Minhyun hanya bergumam pelan, masih tampak tidak tertarik dengan perbincangan Jibyung dan Onew. Sementara itu, satu-satunya namja yang berada di rumah itu tengah berdebat dengan dirinya sendiri. Dia seharusnya senang mendengar berita-lama-yang-baru-diketahuinya-sekarang ini. Tapi entah kenapa, ada bagian dalam dirinya yang seolah merasa tak rela.

“Uhuk!” Jibyung menutup mulutnya dengan segera begitu tersedak sesuatu. Dia terbatuk-batuk beberapa kali sebelum meraih gelas di sampingnya dan meneguk setengah isinya. Onew melakukan hal yang sama karena merasakan sesuatu menyangkut di kerongkongannya. Dan satu orang lainnya, Minhyun, tersenyum-senyum melihat itu.

‘Sepertinya rencanaku akan berhasil.’

>>><<<

“Bersulang untuk keberhasilan kita, untuk wakil asisten designer kita, Shin Jikyung-ssi, dan untuk model dadakan kita, Kim Junsu-ssi!”

“Untuk kita semua yang telah bekerja keras!” timpal Jikyung dan Junsu bersamaan. Semuanya tertawa kecil sebelum mengangkat gelas mereka tinggi-tinggi dan bersulang di tengah meja besar yang tadi mereka gunakan untuk berkumpul dan makan malam bersama untuk merayakan keberhasilan yang baru saja mereka capai.

Jikyung hanya meneguk soju’nya sekali, tidak mau mengambil risiko pulang dengan keadaan mabuk. Jikyung adalah peminum yang buruk. Dia akan selalu kehilangan kesadarannya walaupun baru meneguk 2 gelas soju.

Yang lainnya melanjutkan dengan berbincang-bincang seru atau sekedar minum-minum hingga mabuk, sementara Jikyung dan Junsu hanya diam memperhatikan mereka, sesekali ikut berbincang dan ikut minum saat ditawari—oke, hanya Junsu yang minum.

*

“Kau mengantuk?” tanya Junsu saat melihat kepala Jikyung terangguk-angguk dalam posisinya yang duduk. Yeoja itu terlihat terlonjak sedikit. Dia mengerjap beberapa kali, kemudian meregangkan lehernya seraya memukul kecil bahunya.

“Aku agak lelah.” tuturnya singkat.

“Kita pulang, kalau begitu? Lagipula sudah lumayan larut. Kau harus segera istirahat.” Junsu menatap jam tangannya dan memberi pijatan pelan di bahu kekasihnya. Beberapa detik kemudian dia berdiri dan mengulurkan tangan ke arah Jikyung, “Kajja!

“Eoh..” gadis itu menyambut uluran tangan Junsu dan ikut berdiri dengan agak terhuyung. Dia sudah terlalu mengantuk.

Keduanya pun kemudian berpamitan pada yang lainnya—yang masih belum mabuk benar—sebelum keluar dari restoran itu.

Jikyung langsung bergerak-gerak mencari posisi yang nyaman begitu tubuhnya sudah menyentuh kursi mobil. Sungguh, dia begitu lelah sekaligus senang. Lelah karena sejak dua hari yang lalu dia tidak mendapat istirahat yang cukup karena sibuk mempersiapkan segalanya, dan senang karena semuanya berjalan dengan baik dan sekarang dia bisa ‘balas dendam’ dengan tidur sepuasnya karena semua kesibukannya telah berakhir dan tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkannya.

Junsu menatap Jikyung, kemudian tersenyum simpul tanpa mengatakan apapun setelah mendapati yeoja itu berusaha untuk tetap membuka matanya walaupun jika Junsu perhatikan, mata itu sudah tidak bisa terbuka lebih dari 5 detik.

“Tenang saja, Jikyung-ah. Aku akan memberitahumu kalau sudah sampai. Tidurlah!” ucap Junsu setengah berbisik. Tangannya mengusap pelan kepala Jikyung, “Haruskah aku menyanyikan lullaby?”

Ne~” Jikyung menyandarkan kepalanya pada jendela mobil, kemudian memejamkan mata tanpa berusaha membukanya lagi.

Beberapa saat kemudian, Jikyung mendengar senandung merdu namja yang kini adalah kekasihnya itu, yang kemudian mengantarnya benar-benar ke alam bawah sadarnya yang tenang.

>>><<<

Ireona, Jikyung-ah..” Junsu mengguncang pelan lengan Jikyung yang tampak sudah nyenyak. Jikyung menggeliat pelan, tapi tidak membuka matanya sedikitpun.

Yah.. ireonaya~ sudah sampai. Jikyung?” panggil Junsu sekali lagi, “Yaa.. aku tidak mungkin menggendongmu sampai sana. Walaupun aku ‘beast’ tapi aku ini idol. Kau tidak boleh membuatku harus menggendongmu, eo?” seloroh lelaki itu, yang kemudian segera sadar bahwa tidak akan ada yang menanggapi perkataannya, karena Jikyung masih asyik di dunianya sendiri.

Junsu terdiam dan menatap Jikyung selama beberapa saat. Dia bercanda soal tidak ingin menggendong gadis itu, karena kenyataannya Jikyung terlihat sangat kelelahan saat ini. Junsu mencubit pelan pipi Jikyung sebelum turun dari mobil dan berjalan memutar ke tempat Jikyung duduk.

*

Onew menutup pintu kamar tamu yang akan menjadi tempat mereka menginap di rumah itu. Sebuah handuk kecil tersampir di bahunya. Onew memindai setiap sudut kamar yang tampak sedikit berubah sejak kali terakhir dia menginap di sini sebelum menikah dulu.

Onew berjalan ke arah jendela, menatap pemandangan di luar rumah yang sebenarnya tidak terlalu menarik. Hanya saja, entah kenapa dia merasa kepanasan meskipun baru saja selesai mandi.

Onew mengusap dahinya yang berkeringat dengan handuk putihnya, “Aneh, apakah ada pemanas ruangan di kamar ini? Udara bahkan sangat dingin, tapi kenapa aku berkeringat seperti habis berolahraga?” gumamnya heran, “Ada yang aneh dengan tubuhku.”

Lelaki itu memicingkan mata saat sebuah mobil BMW hitam berhenti di depan rumah. Dia langsung teringat Jikyung yang katanya akan diantar pulang oleh Junsu. Apa itu mereka? batin Onew penasaran.

Beberapa detik kemudian dia melihat Junsu keluar dari sisi kiri mobil dan tampak berlari kecil ke sisi lain.

*

“Ayo, Bayi Besar. Come to Papa~” Junsu melepas seatbelt Jikyung, meletakkan kedua tangannya, masing-masing di sela lipatan kaki dan di punggung Jikyung. Namun baru saja dia akan mengangkat tubuh Jikyung, gadis itu menggeliat pelan dan meronta ingin dilepaskan. Dia sudah terbangun meskipun masih setengah sadar.

“Ng, oppa..

“Kau bangun?” Junsu menurunkan Jikyung kembali ke tempatnya duduk.

“Sudah sampai?” tanya Jikyung dengan suara parau.

“Iya. Kau tidur saja lagi, aku bisa menggendongmu sampai rumah.” jawab Junsu polos.

Ani, tidak usah.” tolak Jikyung yang kemudian turun dari mobil dan berjalan sempoyongan hingga mendekati pagar rumah keluarganya. Melihat cara berjalan dan cara berbicaranya, Junsu tahu Jikyung benar-benar tidak sepenuhnya sadar.

Oppa..” panggil Jikyung pelan, yang Junsu jawab dengan gumaman. Jikyung meletakkan sebelah tangannya di bahu Junsu sebagai pegangannya untuk berjinjit, kemudian tanpa diduga gadis itu mengecup bibir Junsu yang sontak mematung terkejut.

“Benar-benar terimakasih untuk hari ini.” tutur gadis itu setelah melepaskan ciumannya. Dia melambai dengan lemas, kemudian berjalan pergi memasuki rumah, sementara Junsu masih diam tak bergerak dengan mata yang masih membulat. Yang barusan itu… memang terjadi atau hanya halusinasinya saja?

*

Handuk putih itu berakhir kusut di kepalan tangan Onew yang menyaksikan semuanya. Keringat semakin bercucuran di wajahnya yang memerah. Dia merasa kesal, terhadap ‘adegan’ itu, dan juga terhadap dirinya sendiri. Sungguh keterlaluan jika perasaan itu masih ada, setelah setengah musim dia berada di Jepang.

Onew memejamkan matanya dan menghela nafas dalam sebanyak tiga kali. Ada hal lain yang membuatnya semakin kesal, “Aargh! Kenapa jadi semakin panas? Tubuhku kenapa, sih?!” erangnya kesal. Entahlah, Onew pikir rasa panas itu bukan karena udara di sekitarnya, melainkan dari dalam tubuhnya sendiri. Dan dia tidak tahu apa penyebabnya.

BLAM!

“Kukira kau sudah tidur.” Onew mendengar suara datar Jibyung yang bersamaan dengan terciumnya aroma khas yang menusuk hidung dan membuat Onew merasa pusing, tapi juga menyukainya. Setahunya, Jibyung tidak suka memakai parfum dengan aroma menyengat seperti ini. Atau hidungnya memang lebih sensitif dari biasanya?

Onew memutar tubuhnya untuk menatap Jibyung, dan mendapati yeoja itu tengah berdiri di depan meja rias sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. Onew menenggak ludahnya dengan gugup. Matanya tidak bisa lepas dari tengkuk kanan Jibyung yang terekspos karena dia memindahkan rambutnya ke samping kiri untuk dikeringkan. Ada sebuah gejolak lain dalam dirinya yang kini bercampur dengan perasaan kesal yang dirasakannya tadi, menghasilkan satu perasaan agak kacau yang tidak bisa dideskripsikannya dengan kata-kata. Dan perasaan itu mendorongnya untuk melangkahkan kaki mendekati Jibyung.

“Hm?” gumam Jibyung saat dirinya melihat pantulan bayangan Onew sudah berdiri tepat di belakangnya. Kedua matanya sontak membulat ketika pada detik berikutnya, lengan Onew melingkar di perutnya, dan Jibyung bisa merasakan kecupan hangat di tengkuknya.

M-mwohae?” desis Jibyung gugup.

“Aku menyukai parfummu.” Onew menempelkan hidungnya di pundak Jibyung, menikmati aroma yang semakin jelas menguar dari tubuh Jibyung.

“A-aku tidak memakai parfum.. sama sekali.” ujar Jibyung semakin gugup. Pipinya terasa memanas, dan dengan cepat rasa panas itu merambat ke seluruh tubuhnya. Ada suatu perasaan aneh yang timbul saat dirasakannya nafas Onew menerpa lehernya, bersamaan dengan pelukan namja itu yang mengerat di tubuhnya, “Ya.. kau.. kenapa?” tanya Jibyung, menyadari ada yang aneh dengan tingkah Onew.

Molla..

Jibyung melepaskan tangan Onew dan memutar tubuhnya menghadap namja itu, menatapnya lekat, sedikit was-was jika seandainya Onew mabuk lagi. Sementara Onew menatap Jibyung dari atas ke bawah, ke atas lagi. Baju yang dikenakan Jibyung membuat Onew berpikiran aneh. Jakunnya tampak naik turun saat dia menenggak ludah karena bayangan aneh tentang tubuh istrinya itu bermunculan begitu saja di pikirannya. Sungguh, padahal dia sama sekali tidak bermaksud membayangkan itu. Dia merasa aneh.

“J-Jibyung-ah..” Onew melangkah maju menuruti instingnya yang dia rasa agak sedikit kacau. Dan Jibyung mundur perlahan setiap Onew semakin mendekatinya.

“Aku.. aku sepenuhnya sadar..” tutur Onew pelan sambil terus mendekat dalam usaha menahan hasratnya yang semakin kuat. Akhirnya dia mengerti apa yang terjadi pada dirinya sekarang.

Jantung Jibyung berdetak kencang, dan semakin kencang saat bagian belakang tubuhnya menyentuh meja rias, yang berarti dia tidak bisa mundur lagi.

Onew meletakkan kedua tangannya di tepi meja rias, tepat di sisi kanan dan kiri Jibyung, memenjarakan tubuh istrinya yang tampak mulai berkeringat. Onew berbisik di telinganya, melanjutkan perkataannya tadi, “..jadi, kenapa kita tidak lakukan malam ini? Sepertinya aku menginginkanmu sekarang.”

Jibyung tampak terbelalak selama sesaat, namun kemudian kembali berusaha tenang setelah menatap mata Onew selama itu juga.

Onew merengkuh tengkuk belakang Jibyung dan mencium lembut bibir yeoja itu. Keduanya memejamkan mata, dan di saat yang bersamaan tangan Jibyung bergerak naik dan meremas pelan punggung Onew, mulai terpancing.

Ciuman lembut itu perlahan berubah menjadi lebih bergairah. Onew semakin mendekap Jibyung dan membuatnya merapat dengan tubuhnya, sementara bibirnya mulai memberikan hisapan seduktif di bibir Jibyung. Dari jarak satu meter saja kau bisa melihat lidah keduanya saling bermain.

Mereka bergerak perlahan ke arah tempat tidur yang tidak jauh dari tempat mereka sekarang, tanpa melepaskan pagutan bibir masing-masing.

Jibyung mendesah pelan saat Onew menurunkan ciumannya ke lehernya, kemudian membuatnya berbaring dengan Onew berada di atasnya. Jibyung tahu sesuatu akan terjadi padanya malam ini, dan dia tidak bisa menolak setiap sentuhan Onew yang entah kenapa membuatnya merasa hangat.

>>><<<

“Rencanaku berhasil!” pekik Minhyun setelah berada di dalam kamar tidurnya. Matanya berbinar-binar senang setiap mengingat apa yang didengarnya—dan diintipnya—di kamar tamu tadi. Tidak sia-sia ia memasukkan obat itu ke dalam minuman Jibyung dan Onew saat makan malam.

“Haa~ mereka manis sekali~” kekehnya sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada setelah sebelumnya menghempaskan tubuh di atas bibir kasur. Minhyun mengambil photo frame yang berdiri di atas meja nakas di dekat tempat tidurnya, “Yeobo~” ujarnya pada foto itu, “kita akan segera punya cucu~ :3 Aigoo~ senangnya~!” pekiknya lagi, yang kemudian mendekap photo frame itu dan berbaring telentang.

Sudah terbayang di benaknya gambaran dirinya sendiri yang tengah menggendong seorang bayi mungil yang lucu, kemudian gambaran wajah bahagia Jibyung dan Onew, dan juga gambaran Nyonya dan Tuan Lee—orang tua Onew—yang berebut ingin menggendong bayi tersebut.

“Aaah~ neomu haengbokhae!” Minhyun memejamkan matanya sambil tersenyum, “Ah, benar juga. Aku harus memberitahukan ini pada besan. Hihihi~ :3”

>>><<<

Esok harinya…

Jibyung menggigiti selimut yang menutupi tubuh polosnya dengan ekspresi blank. Dia mengintip sedikit ke dalam selimut, kemudian dengan cepat menutupnya lagi, dan secepat itu pula rona merah menyebar di wajahnya. Apa benar dia dan Onew baru saja…

“Kau habis melihat ap—”

“AA! JANGAN MENGAGETKANKU!” teriak Jibyung refleks. Onew yang barusan bersuara segera menutup telinga dengan tangannya. Jibyung menoleh Onew dengan terkejut. Matanya membulat, “Sejak kapan kau bangun?!” pekiknya tak santai sambil menahan malu karena Onew memergokinya mengintip ‘sesuatu’.

Onew hanya menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi, “Apa yang pertama kau pikirkan saat bangun?” celetuknya tiba-tiba, membuat Jibyung menaikkan selimut hingga menutupi sebagian wajahnya.

“Kenapa menanyakan itu?” katanya setengah merengek.

Onew berdeham canggung, “Aku hanya ingin tahu apa yang kita lakukan semalam… berkesan atau tidak untukmu? Cepat jawab!”

M-mwo? K-kau.. kau duluan yang jawab!” elak Jibyung, berusaha menyembunyikan rasa malunya.

“Kenapa aku harus jawab pertanyaanku sendiri?” protes Onew, dengan iseng mengangkat-angkat selimut tebal yang menutupi tubuh mereka, membuat Jibyung memekik keras, “YA!! DINGIN!”

“Oh, benar. Udaranya dingin sekali.” Onew pun menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Posisi mereka kini berbaring menyamping dan sama-sama meringkuk dengan arah berlawanan, sehingga tampak berhadapan.

“Kau sedang memikirkan sesuatu?” tanya Jibyung setelah mereka hanya saling menatap selama beberapa saat.

“Kemari.” pinta Onew sembari mendekatkan kepalanya pada Jibyung yang juga melakukan hal yang sama. Onew menarik kepala Jibyung mendekat, kemudian mengecup dahi istrinya dengan lembut, “Selamat pagi.” katanya pelan.

Jibyung terdiam, nyaris terharu menerima perlakuan hangat Onew. Apakah seperti ini pasangan pengantin yang ‘sebenarnya’? batinnya yang mendongak perlahan untuk menatap Onew. Lelaki itu balas menatapnya, hendak mencium bibir Jibyung kalau saja tidak ada suara ketukan dari luar pintu kamar yang mereka tempati.

“Jinki-ya, Jibyung-ah, kalian sudah bangun? Sarapan sudah siap!” seru Minhyun yang mengetuk pintu. Jibyung dan Onew saling menjauh di waktu yang bersamaan. Bagaimanapun, sejak mereka berpacaran, mereka belum pernah melakukan skinship terlalu banyak seperti ini. Makanya keduanya masih terlihat sama-sama canggung sekarang.

“A-ah, bajuku kenapa bisa sampai di sana?” gumam Jibyung sambil menatap bajunya yang tergeletak begitu saja di lantai, dan lumayan jauh dari ranjang. Dia hendak beranjak untuk mengambil bajunya tersebut, tapi kemudian urung karena teringat Onew, “Ya, kau tutup mata dulu.”

Mwo? Untuk.. apa?” tanya Onew bingung.

“Aku harus mengambil bajuku di sana, dan otomatis aku harus keluar dari selimut. Makanya kau tutup mata dulu!” jelas Jibyung.

‘Padahal ‘kan aku sudah lihat semuanya. Untuk apa tutup mata?’ batin Onew agak geli, tapi juga menuruti permintaan Jibyung untuk menutup matanya.

>>><<<

Kecanggungan dan keceriaan bercampur menjadi suasana aneh di waktu sarapan pagi itu. Dan satu-satunya yang tampak sama sekali tidak canggung adalah Minhyun. Tentu saja, karena ia masih terbawa perasaan senangnya karena keberhasilan rencananya.

“Apa hari ini Jinki libur?” tanya Minhyun dengan suara yang manis(?).

“Ehm.. iya, dua jam ke depan aku masih kosong.” jawab Onew, terdengar agak kagok.

“Apa kalian punya rencana hari ini?” tanya Minhyun lagi, lebih antusias. Onew menatap Jibyung sesaat, lalu menatap Minhyun lagi dan tersenyum, sementara Jibyung yang menjawab.

“Kami akan pulang ke apartemen, dan bersih-bersih?” Jibyung menatap Onew yang mengangguk dengan agak ragu seraya tertawa kecil.

“Sepertinya begitu.” ucap namja itu pelan.

“Begitu, ya?” senyuman di wajah Minhyun tidak menghilang sedikitpun. Ia terlalu bahagia hari ini, “Hari ini aku berencana menemui keluarga Jinki.” katanya kemudian.

Cheongmalyo?” Onew kembali menghentikan sarapannya. Minhyun mengangguk sebagai jawaban.

“Memangnya ada apa, eomma?” tanya Jibyung.

Minhyun tertawa geli sebelum menjawab pertanyaan Jibyung, “Ani~ aku hanya ingin mengunjungi besanku. Memangnya tidak boleh?” katanya, menyembunyikan tujuan sebenarnya pergi ke rumah keluarga Lee. Minhyun kembali tertawa geli setelah mengatakan itu.

Onew dan Jibyung bertukar tatapan dengan pandangan ada-apa-dengannya, namun hanya sesaat, dan keduanya kembali menyantap sarapan mereka dengan canggung.

“Ehm~ aku sudah selesai.” Jikyung yang sejak tadi tidak bersuara di kursinya berdiri dengan tiba-tiba, membuat yang lain langsung mendongak menatapnya. Jikyung meletakkan piringnya yang memang sudah kosong sama sekali di bak cuci.

“Cepat sekali.” komentar Jibyung agak takjub. Dia mendengar suara ‘haha’ yang dibuat-buat dari kembarannya itu.

“Piring-piringnya simpan saja di sana. Biar aku yang mencucinya nanti.”

Ne, ajumma.” seloroh Jibyung menanggapi perkataan Jikyung barusan. Onew memperhatikan Jikyung yang tersenyum tipis padanya saat berjalan melewati kursinya. Onew membalasnya dengan canggung.

>>><<<

“Kau aneh hari ini.” Jibyung menepuk pelan punggung Jikyung yang sedang mencuci piring. Dilihat dari belakang saja Jibyung sudah tahu yeoja itu tidak fokus dengan apa yang sedang dikerjakannya.

“Astaga, kau mengagetkanku.” protes Jikyung setengah kesal.

“Ternyata benar kau melamun. Lihat! Bahkan sudah lebih dari tiga kali kau membersihkan piring yang sama. Kalau begini terus, kapan bisa selesai?” omel Jibyung yang kemudian mengambil sebuah gelas yang masih kotor, membantu Jikyung membersihkannya.

Jikyung mencibir pelan, lalu berkata dengan sangat ringan, “Kau jadi lebih cerewet setelah menikah.”

Mwoya?” kini giliran Jibyung yang protes sambil mencipratkan air ke arah Jikyung yang segera menghalangi wajahnya dengan piring.

Keundae..” Jibyung menggosok-gosok gelas di tangannya dengan sabun cuci, “Semalam kau pulang dengan Junsu oppa, kan? Aku tidak tahu kapan kau pulang. Pasti larut sekali.”

Molla, na do. Aku terlalu lelah tadi malam. Bahkan aku tidak mau repot-repot naik ke atas dan akhirnya tidur di sofa ruang tengah hingga pagi.” terang Jikyung tanpa benar-benar memperhatikan ucapannya sendiri, karena sebagian pikirannya masih berada di tempat lain.

“Bagaimana proyek kalian?” tanya Jibyung penasaran.

“Hmm.. cukup berhasil.” Jawab Jikyung tersenyum tipis.

“Tapi wajahmu tidak menunjukkan bahwa kau merasa senang dengan keberhasilan itu.” Jibyung menunjuk wajah saudara kembarnya.

Jikyung tersenyum simpul, “Oh, ya?” katanya seolah ragu.

Ya.. apakah ada hal lain yang mengganggu pikiranmu? Apa ini berhubungan dengan eomma?” tanya Jibyung yang sejak tadi merasa ada yang aneh dengan tingkah Jikyung. Dan yang ditanya sepertinya tidak berniat menjawab, sehingga Jibyung mengira memang itu yang sedang dipikirkan Jikyung.

“Apa yang eomma katakan padamu?” tanya Jibyung lagi dengan berbisik, “Sepertinya eomma masih belum mau bicara denganmu.”

Jikyung tersenyum kecut, “Sepertinya memang begitu.” tanggapnya, “Aku sendiri tidak mengerti  sebenarnya eomma ingin aku bagaimana. Semua hal yang kulakukan—dan cukup baik di mataku—seolah tidak pernah bisa membuatnya puas.”

“Kau jangan berkata seperti itu. Eomma pasti punya alasan dibalik tegurannya.” kata Jibyung lebih santai. Jikyung lagi-lagi tersenyum kecut. Dia membatin Jibyung berkata seperti itu karena saudaranya itu tidak pernah menerima perlakuan seperti itu dari ibu mereka.

Terkadang Jikyung berpikir Minhyun agak membedakan perlakuannya terhadap dirinya dan Jibyung. Sejak dulu, selalu dirinya yang dituntut untuk tidak mengecewakan keluarga. Harus bersikap baik dan sopan dimanapun dan di hadapan siapapun, harus bisa melakukan pekerjaan rumah sejak kecil, minimal harus selalu juara kelas, makanya dia dilarang terlalu banyak bermain. Setiap dia ingin melakukan sesuatu, harus selalu mendiskusikannya terlebih dahulu dengan keluarga, dan tidak jarang keinginannya itu ditolak dan diganti dengan hal lain yang sama sekali tidak disukainya.

Menjadi seorang perancang busana yang terkenal adalah impian Jikyung. Karena itu, begitu mendapat tawaran kerja sama dari Jung Sara, Jikyung langsung menerimanya tanpa pikir panjang dan tanpa mendiskusikannya dulu dengan yang lain. Itulah pertama kalinya Jikyung melakukan sesuatu yang merupakan keinginannya sendiri, dan diputuskan oleh dirinya sendiri. Mungkin karena ini sejak saat itu Minhyun agak sensitif terhadapnya.

Terkadang pula Jikyung merasa iri terhadap Jibyung yang bisa dengan bebas melakukan dan menentukan apapun yang diinginkannya.

“Sudah kugosok semuanya, hanya tinggal dibilas saja. Astaga, Shin Jikyung! Sudah berapa kali kau membilas mangkuk itu?!” suara nyaring Jibyung yang tepat di samping telinganya membuat Jikyung melonjak kaget.

“Biasa saja, dong! Kau mau membuatku kaget sampai mati?” protes Jikyung sebal. Jibyung hanya tertawa puas, “Pergi sana! Bukannya kalian mau pulang dan beres-beres di apartemen?” timpal Jikyung lagi, setengah mengusir.

“Aissh~ neo jinjja!” Jibyung mencipratkan air (lagi) ke wajah Jikyung.

“Shin Jibyung, berhenti!”

>>><<<

Onew memasang headset di telinganya setelah menekan speed dial 3 dari handphone’nya, yang langsung menghubungkannya pada Jibyung. Dia baru saja pulang dari aktivitasnya bersama SHINee, dan kini sedang di perjalanan ke apartemen dan baru ingat untuk memberitahu Jibyung, sekaligus menanyakan password baru apartemen mereka yang dilupakannya.

Ne?” Jibyung menjawab telepon di seberang line.

“Byung~” panggil Onew dengan suara yang sudah terasa khas di telinga Jibyung.

“Apa?”

“Kau masih bekerja?”

Ne~ tapi sebentar lagi akan pulang. Wae?”

Ani~ aku juga sedang di perjalanan ke rumah.”

Keurae?

“Bisa kau message lagi passwordnya? Aku lupa, messagemu kemarin terhapus.”

Jibyung terdengar mendecih pelan, “Arasso.

“Ng~ hati-hati di jalan. Sampai bertemu di rumah.”

“Ne~”

Onew memutuskan sambungan telepon untuk mengakhiri percakapan singkat itu. Dia kembali berkonsentrasi menyetir. Tinggal satu persimpangan lagi, dan dia akan segera sampai di apartemen.

Akhir-akhir ini Onew memang memutuskan untuk selalu menyempatkan diri menemui Jibyung jika kebetulan dirinya dan SHINee sedang beraktivitas di Korea. Dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, apalagi setelah apa yang sudah mereka lakukan di rumah keluarga Shin. Ha, Onew selalu tidak bisa menahan senyum gelinya saat mengingat hal itu.

Senyum yang mengembang di bibir Onew berangsur hilang saat mobilnya berpapasan dengan mobil Junsu. Dia melihat Jikyung juga di dalam mobil itu, dan sepertinya Junsu dan Jikyung tidak menyadari bahwa mereka berpapasan dengan Onew.

Namja bermata sipit itu mengendurkan injakan kakinya di pedal gas. Jari-jarinya mengetuk steer dengan tak tenang, sambil pikirannya menduga-duga sesuatu. Perasaannya berubah gusar dalam sekejap.

Bunyi nyaring yang berasal dari handphone’nya di jok samping membuat Onew menoleh sedetik. Itu pasti pesan dari Jibyung.

Pikiran Onew mulai bercabang, apalagi saat persimpangan jalan sudah terlihat di depannya. Kecepatan mobilnya semakin memelan. Lalu dengan seluruh kenekatannya, Onew membanting steer dan memutar balik arah laju mobilnya, mengikuti mobil BMW yang tadi berpapasan dengannya.

>>><<<

Jibyung memasukkan password apartemennya, kemudian membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Dia mengernyit heran melihat seluruh ruangan yang masih gelap. Bukannya seharusnya Onew sudah sampai di sini? batin Jibyung setelah memeriksa setiap ruangan dan tidak menemukan Onew dimanapun.

“Ah, mungkin dia mampir dulu ke suatu tempat.” yeoja itu mengangkat kedua bahunya dan memasuki kamar untuk berganti pakaian sebelum menyiapkan makan malam untuknya dan suaminya.

*

Jibyung menyiapkan makan malamnya sembari tetap memasang telinga terhadap suara-suara dari depan, yang bisa saja merupakan tanda-tanda datangnya Onew. Namun hingga beberapa menit kemudian, Jibyung sama sekali tidak menangkap tanda-tanda itu. Dia mulai curiga atas keterlambatan yang tidak seharusnya ini.

Jibyung memutuskan untuk berhenti sejenak mengolah masakannya. Dia mencuci tangan dan menghubungi Onew dan menanyakan keberadaan namja itu.

>>><<<

Onew menggosokkan kedua telapak tangannya dan menaikkan letak scarf-nya hingga menutupi hidung. Sudah beberapa menit dia berada di dalam mobilnya yang terparkir di depan rumah keluarga Shin, tepat di belakang mobil Junsu yang berada di dalam rumah, di tengah udara musim dingin yang membuat tubuhnya seolah membeku. Dia tidak masuk karena belum menemukan alasan apa yang akan digunakannya jika seandainya orang rumah bertanya tujuannya kemari. Tidak mungkin kan, dia mengatakan bahwa dia terdampar di sini karena mengikuti Junsu dan Jikyung?

Dering handphone’nya yang nyaring membuat leader SHINee itu terhenyak kaget di tempat duduknya. Dia mengambil benda persegi panjang berwarna putih itu, dan tertegun sejenak melihat kontak yang memanggilnya.

“Eoh, Jibyung-ah.

“Kau dimana? Kenapa belum sampai?” tanya Jibyung agak mendesak, “Waktu makan malamnya sebentar lagi.”

“Ah!” Onew berseru tanpa sadar. Benar juga. Makan malam. Kenapa tidak terpikir olehnya sejak tadi? Mungkin Junsu dan Jikyung juga sedang makan malam di dalam sana.

“Wae?” tanya Jibyung yang kaget dengan seruan Onew.

“Jibyung-ah, bagaimana kalau kita makan malam di rumah ibumu saja?” Onew segera turun dari mobilnya, dan berjalan dengan cepat menuju rumah. Tubuhnya benar-benar bisa membeku kalau terus berada di luar seperti ini.

“Mwo? Wae?!” protes Jibyung dengan hembusan nafas kecewa.

Mian, tapi aku merasa lebih enak makan malam dengan lebih banyak orang daripada berdua saja.” kata Onew beralasan, “Benar, kan?” lanjutnya.

Jibyung terdengar menghela nafas lagi, “Baiklah. Aku ke sana sekarang, kalau begitu.”

“Eoh. Jangan lupa mantelmu! Udaranya dingin sekali.”

“Arasso.”

PIP!

Onew mempercepat langkah kakinya, dan segera menggapai pintu masuk, kemudian mendorongnya hingga terbuka.

“Oh, Onew-ya!

Omo!” Onew terkejut melihat Junsu dan Jikyung berdiri tepat di depannya. Pantas saja dia merasa sangat enteng saat mendorong pintu barusan. Onew merasa blank seketika saat melihat penampilan keduanya. Sepertinya mereka akan keluar.

“Onew-ya.” panggil Jikyung santai, “Kau mencari Jibyung?” tanyanya.

“Ah.. aku..” Onew gelagapan, tak tahu harus menjawab bagaimana, “Kalian… akan keluar?”

“Iya.” jawab Junsu cepat, “Kami mau makan malam di luar.”

Onew terlihat semakin blank, “Begitu?” katanya, yang dijawab dengan anggukan mantap dari pasangan di depannya itu.

“Kalau begitu kami pergi sekarang.” Jikyung berjalan keluar.

“Dah, Lee Jinki!” ledek Junsu sambil meninju pelan lengan Onew yang masih mencerna apa yang terjadi.

>>><<<

To Be Continue

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

5 thoughts on “My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Part 8”

  1. Hwaaaa… Onew oppa setialah pada Jibyung *aduh kata-katanya berat*, Jikyung kan udh punya Junsu oppa.. Next part gak sabar buat baca kyaaaa

  2. Jinki ah, jangan tergoda ama jikyung lg,, ingat jangan2 udh ada jinki junior di rahim jibyung.. Hahahahaa
    mdh2an jinki tetep ama jibyung *semoga dikabulkan ama author* 😀

  3. wkwkwkw…. Minhyung,eomma, keren! gokil! hahahaha…. itulah evilnya ibu mertua yg kebelet pgen gendong cucu…. hahahaha…. kasian Jinki-Jibyung yg nggak tau apa2…. hahahahaa…. plak! sadar, woiiii…. (digampar author…)

    Aku sukaaa bgt sm part ini. krn akhrnya Jinki-Jibyung bakal punya ikatan yg smakin kuat…. bener nggak????

    Tp tetep tuh, kyaknya Jinki msh cemburuan ama Jikyung-Junsu. hadoooh… Nyok, Junsu, harus lbh gencar lg deketin Jikyunhg. biar Jinki nggak punya ksempatan!!!!

    Please Thor, jgn buat my Jinki jd namja brengsek di sini… yahhh….

    Next partnya ditunggu, buruan…. (sambil nodong author pake’ Pisang Caramel…) maksudnya mau nyuap, gituh…..

  4. udah jinki.. sm jibyung aja .. lupakan jikyung.. ingat kau sudah melakukan ‘itu’ dengan jibyung.. kekekekek..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s