The Sweet Summer – Part 16

The Sweet Summer (Part 16)

Tittle                : The Sweet Summer (Part 16)

Author             : Ichaa Ichez Lockets

Main Cast        : Shin Hye Rin, Shin Eun Kyo, Lee Taemin, Kim Ki Bum (Key), Choi  Minho, Kim JongHyun (Jjong), Lee Jin Ki (Onew).

Genre              : Friendship, Romance, Family.

Length             : Series (Chaptered)

Rating             : PG

Desclaimer      : This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the character is not real. Enjoy reading!

“Ini bawa!” perintah Key sambil menumpukkan sayuran segar kedalam trolly yang sedang Hye Rin dorong.

Kini mereka berdua terlihat sedang berbelanja bahan makanan kebutuhan untuk sebulan kedepan. Hye Rin pikir untuk urusan berbelanja seperti ini, Key adalah partner yang tepat. Namja itu memang sangat teliti dalam memilih barang.

“Ini bawa juga!” perintah Key lagi.

“Tapi Key, untuk apa kau beli sayur sebanyak ini? Bukankah ini sudah lebih dari cukup?”

Mendengar protesan dari Hye Rin, Key langsung menghentikan langkahnya lalu berkacak pinggang. “Ckckck, pantas saja kau kurus kering begini. Kau selalu beli sayur sedikit rupanya?” kepala Key menggeleng. “Lain kali kau harus membeli sebanyak ini biar tubuhmu ini terisi daging.”

Bibir Hye Rin mengerucut. “Tapi kalau sebanyak ini uang belanjaanku tidak cukup Key!” ucap Hye Rin jujur.

“Biar aku yang membayar sisanya.”

“Mwo?” Hye Rin melotot. “Andwae! Aku memintamu menemaniku berbelanja bukan untuk membayari belanjaanku, tapi hanya untuk membantuku memilih barang. Itu saja!”

“Ya! Kenapa kau ini bawel sekali hah?” semprot Key tepat didepan wajah Hye Rin. Membuat Hye Rin menjauhkan wajahnya dari wajah Key. Sejurus kemudian bibirnya kembali mengerucut.

Namun jauh didalam lubuk hati Hye Rin dia merasa senang. Karena bagaimanapun juga belum pernah ada namja yang memperhatikan kesehatannya sampai seperti ini.

Tanpa Hye Rin sadari, seulas senyum kini justru mengembang diwajahnya melihat punggung Key yang terus berjalan sambil mengamati setiap deretan makanan yang berjajar rapi diatas rak.

***

“Wah… tak terasa kita sudah berbelanja lama sekali. Sampai malam begini kita baru pulang…” ucap Hye Rin saat mereka turun dari bus menuju sanggojae.

“Ne~ itu karena kau selalu lambat saat melakukan sesuatu.”

“Mwoya? Kenapa kau malah menyalahkanku? Bukannya kau sendiri yang terlalu banyak membeli barang? Ha?”

Belum sempat Key membalas ucapan Hye Rin, matanya lebih dulu menangkap sosok yang ia kenal tengah berjalan dari arah yang berlawanan. Seorang namja yang menggunakan jaket kulit, sepatu boots sambil menggendong sebuah tas gitar di punggungnya.

“Hyung?!?” pekik Key pada namja itu. Hye Rin pun sontak ikut menoleh mencari orang yang Key maksud.

“JongHyun Oppa?”

JongHyun yang berjarak kurang lebih 10 meter dari mereka akhirnya tersenyum dan berjalan semakin mendekat. Begitu jelas senyum itu terlihat getir dan ada sebuah keraguan yang tersimpan dibaliknya.

“Kau mau kemana Oppa? Ini kan sudah malam.” Tanya Hye Rin menyadari semua barang JongHyun sudah ia kemas.

“Aku mau kembali ke Seoul, Hye Rin.” Ucap JongHyun ringan.

Key dan Hye Rin tersentak bersamaan. Mata keduanya membola lebar.

“Jinja? Waeyo?” tanya Key penasaran.

“Kenapa secepat ini Oppa?” timpal Hye Rin cepat.

JongHyun tersenyum sekali lagi. Senyumnya terlihat begitu tenang dan lembut – khas seorang JongHyun. Tapi entah kenapa senyum manis itu mampu membuat Hye Rin merasa kehilangan. Ia benar-benar takut tidak dapat melihat senyum itu lagi.

“Musim panas sudah hampir berakhir bukan?” tanya JongHyun balik. “Oleh karenanya aku harus kembali.”

DEG! Mata Hye Rin seketika membola.

‘Musim panas? Akan berakhir? Kenapa aku tidak menyadarinya?’

Hye Rin memandang JongHyun cemas. “Tapi kenapa harus secepat ini? Kenapa Oppa tidak bilang dari kemarin-kemarin? Ini terlalu mendadak Oppa.”

JongHyun tersenyum sekilas, “Maafkan aku Hye Rin. Aku tahu ini terlalu cepat. Tapi aku benar-benar harus pergi…”

Mendengar kalimat itu, Hye Rin justru menjadi semakin sedih. “Tapi bukankah Oppa bilang, Oppa ingin mendapatkan cinta Unnie?” ucap Hye Rin lirih, menahan gemuruh di dadanya.

“Sayangnya aku tidak bisa mendapatkan cinta itu meski aku telah mencobanya, Hye Rin.”

‘Jeongmal? Unnie menolak JongHyun Oppa? Bukankah hubungan mereka sangat dekat?’

Kalimat itu JongHyun ucapkan dengan tenang, padahal Hye Rin tahu bahwa Oppa barunya ini sedang sekuat tenaga tidak menunjukkan betapa ia kecewa dengan kenyataan.

“Tapi Oppa…”

“Sudahlah. Gwenchana Hye Rin. Mungkin unniemu sudah memiliki orang lain.” Ucap JongHyun mencoba meyakinkan ‘dongsaengnya’. “Aku mengerti penjelasan yang ia katakan. Asal dia bahagia, kurasa akupun akan turut bahagia…”

Lagi-lagi ucapan itu terdengar ringan namun terasa begitu berat. Hye Rin bahkan tak mampu percaya sosok JongHyun yang mengatakannya. Padahal Hye Rin masih ingat benar dengan kalimat yang JongHyun ucapkan tentang perasaannya terhadap Eun Kyo tiga hari lalu. Saat itu ketara sekali JongHyun benar-benar ingin memiliki Eun Kyo seutuhnya. Namun kini, JongHyun justru seakan menerima kekalahannya begitu saja demi kebahagiaan yeoja itu.

JongHyun benar-benar berhati besar.

“Tapi bisakah kau tinggal sebentar lagi saja, Oppa?” Hye Rin sempat terdiam mengambil nafasnya yang terasa sesak, “Untukku?” Kata Hye Rin memohon.

Kali ini Hye Rin tidak main-main dengan permintaannya. Dia sudah menganggap JongHyun seperti Oppanya sendiri. Dia tak ingin kehilangan ‘Oppa’ untuk kedua kalinya, seperti dulu saat dia pernah kehilangan Onew Oppa…

Bersama JongHyun, Hye Rin bisa bercerita lepas tanpa beban.

JongHyun lah yang senantiasa membuat ‘warna’ di hidup Hye Rin dengan nyanyian-nyanyian indahnya, dengan petikan gitarnya yang mampu membuat suasana sanggojae menjadi hangat.

Hye Rin benar-benar tak sanggup jika harus kehilangan momen-momen itu.

“Mianhamnida Hye Rin.” JongHyun menatap Hye Rin iba. Tampaknya wajah Hye Rin sudah tak berbentuk sekarang. Begitu lesu, sedih dan juga bingung harus berbuat apa. Hye Rin juga merasakan matanya mulai memanas, tapi ia berusaha untuk tidak menangis.

“Aku harus pergi sekarang.” Ucap JongHyun akhirnya. “Sebentar lagi bis terakhir menuju Seoul akan berangkat.”

“Hati-hati Hyung.” Ucap Key yang sedari tadi memilih diam – sambil menepuk bahu JongHyun.

“Ne~ gomawo Key.  Dan kau dongsaengku…” JongHyun mengalihkan pandangan ke arah Hye Rin. “Jangan nakal ya… jaga baik-baik unniemu…”

Ucapan itu berakhir dengan belaian lembut JongHyun di kepala Hye Rin. Tak lama kemudian sebuah lambaian tangan JongHyun menghilang di ujung jalan.

Hye Rin terdiam. Dia tak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata. Dan bahkan ia masih tak mampu mengerti kenapa unnienya bisa menolak namja sebaik JongHyun. Sesaat, otak Hye Rin mulai bekerja mencari jawabannya. Sampai tiba-tiba ada sebuah nama yang dengan mudah ia dapatkan.

Minho!

Sudah pasti Eun Kyo menolak JongHyun karena Minho!

Saat itu juga emosi Hye Rin mendadak naik hingga mendidih. Secepatnya Hye Rin ingin meminta penjelasan tentang alasan unnienya menolak JongHyun. Saat ini juga!

Dengan geram Hye Rin mempercepat langkah menuju sanggojae. Membuat Key yang ada disisinya menoleh heran kemudian mengomel tak jelas. Tapi omelan Key hanya terdengar seperti dengungan karena sekarang tubuh Hye Rin sudah benar-benar dikuasai oleh emosinya.

Pintu sanggojae terbuka kasar menghantam tembok di baliknya. Dengan cepat Hye Rin melangkah masuk dan mulai menebar pandang ke setiap sudut sanggojae dengan teliti. Hye Rin mencari sosok unnienya yang ia yakin sekarang pasti ada dirumah.

Meski sanggojae terlihat sepi, namun ada sebuah ruangan yang membuat Hye Rin tertarik untuk mendekat. Itu kamar Eun Kyo dengan pintu yang terbuka sedikit. Cahaya tampak jelas terpancar dari lampu kamar yang menyorot hingga ke lorong sanggojae.

Tanpa pikir panjang Hye Rin langsung mendekati kamar Eun Kyo yang beberapa bulan ini juga menjadi kamarnya. Namun tiba-tiba sesuatu yang ada di balik pintu kamar itu justru dengan cepat membuatnya terperanjat.

GLEK! Nafas Hye Rin tiba-tiba berhenti sementara jantungnya semakin cepat berdetak hingga rasanya ingin melesak keluar. Bibirnya bergetar dan lututnya melemas. Hampir saja Hye Rin pingsan saking shocknya.

Didalam kamar itu Hye Rin justru menemukan sesosok namja jangkung yang tengah menghadap ke tembok membelakangi Hye Rin dengan lingkar tangan seorang yeoja di pinggangnya. Namja itu tampak menunduk membuat wajah yeoja di baliknya tidak terlihat dengan jelas. Meski demikian, Hye Rin bisa dengan cepat mengenal sosok mereka berdua.

“Unnie??” pekik Hye Rin. “Apa yang sedang kalian lakukan?”

Mereka berdua sontak menoleh ke arah Hye Rin yang membeku di ambang pintu.

“Minho?” tanya Key sesaat setelah ia mengikuti langkah Hye Rin yang lebih dulu sampai. “Kalian…?”

Brakkk! Kantong belanjaan yang Hye Rin bawa tiba-tiba terlepas. Membuat semua isinya berserakan di lantai sanggojae. Rasanya tubuh Hye Rin benar-benar lemah hingga tak mampu menahan beban dua kantong belanjaan itu ditangannya.

Sejenak mereka hanya mampu saling pandang. Tak ada yang berani memulai pembicaraan. Hanya mampu berusaha memahami situasi pelik yang sedang terjadi. Canggung bercampur emosi.

“Unnie bisa menjelaskannya Saeng…”

Hye Rin tak menjawab. Bahkan tak membalas tatapan memohon dari unnienya. Rasanya ia benar-benar tak tahan berada diantara mereka lebih lama lagi.

Sejurus kemudian ia melesat pergi tanpa menghiraukan teriakan dari siapapun disana. Hye Rin berlari. Terus saja berlari tanpa arah. Ia hanya ingin secepatnya menghilang dari semua ini. Menghilang dari semua kenyataan pahit ini.

(backsound : Quasimodo)

‘Kenapa unnie begitu tega? Kemana perasaan lembut unnie yang sebelumnya ku kenal?’ perasaan Hye Rin berkecamuk. Emosinya benar-benar tak terbendung.

Tanpa penjelasanpun, Hye Rin tahu bahwa Minho-lah yang menjadi alasan kenapa Eun Kyo menolak namja sebaik JongHyun. Dan bahkan bukan hanya hati JongHyun yang sakit sekarang. Melainkan juga hatinya yang terasa disayat hingga menjadi potongan yang tipis. Begitu perih…

Bahkan kejadian ini terasa seperti sebuah mimpi. Mimpi buruk! Dan jika memang benar demikian, Hye Rin ingin secepatnya terbangun dan mengakhiri rasa sakit ini sekarang juga.

Tapi sekali lagi ini kenyataan, yang tak sepenuhnya mampu Hye Rin mengerti.

***

Setelah jauh berlari, akhirnya langkah Hye Rin berhenti tepat di ujung dermaga pinggir danau – tempat dimana ia biasa meluapkan emosinya. Namun kali ini tempat itu terlihat begitu sepi dan gelap. Satu-satunya penerangan hanya temaram cahaya bulan purnama.

Hye Rin mencoba mengatur nafasnya sejenak, kemudian ia berteriak sekeras-kerasnya hingga pita suaranya mungkin saja hampir terputus untuk meluapkan emosi itu. Tapi tetap saja amarahnya masih tak terbendung.

Setelah beberapa kali menghela nafas, ia berteriak sekali lagi. Kali ini lebih keras hingga suaranya menggema ke setiap sudut danau bahkan sampai ke bukit di seberang danau. Hye Rin terus saja berteriak. Berteriak sampai nafasnya habis… hingga kakinya melemah dan akhirnya bersimpuh di atas dermaga.

            O geudae mamae datgo shipeun nal malhaji mot.hae

            (Oh, I can’t tell you about me who wants to reach your heart)

            Shirin gooreum dwi.ae garin byeolbitdeul.cheoreom

            (Like the starlight hidden behind the cold clouds)

            Saranghae ipsool kkeutae maemdoldeon apeum gobaek

            (I love you, in the end, this painful confession)

            Modu kkeutnae noonmulae heulleo

            (That lingers at the edge of my lips slide down in tears)

Dadanya terasa begitu sesak hingga tak sanggup lagi menerima udara yang menyeruak masuk. Walau sekuat tenaga Hye Rin menekan dadanya, rasa sakit itu masih saja bersarang disana.

Kali ini Hye Rin bisa merasakan kedua matanya mulai memanas. Untuk kedua kalinya ia hampir saja menangis. Tapi ia tahu bahwa ia tidak boleh menangis. Tidak boleh! Hye Rin butuh pelampiasan sekarang juga atau dia akan benar-benar melakukan hal yang paling ia benci yaitu menangis.

Hye Rin bangkit dan ingin mencari sesuatu atau apapun saja yang melampiaskan emosinya. Namun belum sempat dia melangkah, sesosok namja menghentikan langkahnya lebih dulu.

“Jangan halangi jalanku.” Ucap Hye Rin dingin.

Namja itu tak bergeming. Masih saja disana berdiri disana menghentikan langkah Hye Rin.

Hye Rin mendongak. Ditemukannya sosok Key tengah menatapnya tanpa ekspresi. “Sudah kubilang jangan halangi jalanku Key!”

Key benar-benar mengganggu suasana. Bukan meredam emosi Hye Rin, namun justru semakin membuat emosi itu meledak-ledak. Bahkan saat Hye Rin mencoba berjalan melewati sisi kiri Key, namja itu masih saja menahannya.

“Lepaskan tanganmu!” teriak Hye Rin keras.

Key masih tak bergeming. Tak juga membalas teriakan Hye Rin. Ia masih saja terdiam dengan tatapannya yang tajam.

“Cepat lepaskan tanganmu sekarang juga Key!”

“Shireo!” jawab Key pelan namun tegas.

“KEY!” Hye Rin tak sanggup lagi bertahan. Demi Tuhan kedua matanya semakin memanas. Dan bahkan pandangannya sudah mulai mengabur.

“Jangan memaksaku memukulmu untuk yang kedua kalinya KEY!” teriak Hye Rin tak tahan.

“Pukulah aku jika itu memang membuatmu puas!” Key terlihat begitu serius dengan ucapannya. “Pukulah aku sepuas hatimu Hye Rin! Tapi kumohon jangan sakiti dirimu sendiri.”

Bibir Hye Rin bergetar. Dadanya bergemuruh. Kemudian tangannya mengepal keras dan matanya menatap Key tajam, beradu dengan tatapan Key yang berubah teduh.

‘Maafkan aku Key. Kau sendiri yang memaksaku untuk melakukan ini. Aku benar-benar tidak tahan dengan apa yang telah terjadi. Terasa sangat sakit Key. jauh lebih sakit dari sebelumnya. Hanya ini yang mampu kulakukan, atau aku akan benar-benar menangis.’

Hye Rin sudah sangat  yakin dengan apa yang ia akan lakukan. Tepat setelah itu tangan kecil Hye Rin melayang cepat mendekati wajah Key yang mulai menutup matanya pasrah.

Tapi belum sempat ia mendaratkan pukulan di wajah Key, Hye Rin lebih dulu merasakan ada sesuatu yang membanjiri setiap sudut matanya hingga membuat kepalan tangan itu berhenti di udara.

Su maneun bam jisae.ooda

(I stay up for so many nights)

Nae noonmul gateun byeol.bit.chi

(When the starlight becomes rain

Meotji anneun biga dwaemyeon

(That doesn’t stop like my tears)

Gieok.haeyo naega saranghaetdan geol

(Remember that I loved you)

Cairan hangat terasa semakin memenuhi kelopak mata Hye Rin yang basah. Terasa penuh kemudian mengalir jatuh melewati pipi mungilnya.

Tak mampu dipercaya akhirnya Hye Rin benar-benar menangis.

Nafas Hye Rin yang memburu berubah menjadi sebuah isakan. Perlahan Hye Rin menyentuh pipinya yang kini dihiasi oleh air mata. Hye Rin terkejut saat cairan bening itupun juga menempel di ujung jarinya.

Ini pertama kalinya Hye Rin menangis setelah terakhir kali ia melihat kepergian ibunya. Dia berjanji tidak akan menangis lagi betatapun ia sedang bersedih.

Dengan bodohnya Hye Rin sempat berharap hujan turun sekarang juga agar air matanya mampu melebur dengan derasnya air hujan. Namun ia tahu, bahkan sekarang sedang musim panas.

Kenyataan bahwa orang yang ia cintai dengan mudah mencintai unnienya kembali muncul di permukaan. Tentang sesuatu yang terjadi di kamar tadi… tentang raut wajah kesedihan dari JongHyun tadi… dan tentang kekecewaan yang tak terbendung… membuat Hye Rin tak mampu lagi menahan rasa sakit yang berulang kali menghujam dan mencabik-cabik perasaanya…

nae jeonbunikka yeahh… (you’re my everything)

I need you.. ooh…no…

I’m trying dying crying for you baby !!

Neol saranghae, geudaereul saranghae (I love you, I love you)

 

Key yang menyadari hal itu tidak tinggal diam. Perlahan tangannya merengkuh pundak Hye Rin dan membenamkan dalam pelukannya. Tubuh kecil Hye Rin kini benar-benar terpendam dalam dada Key yang lapang.

“Teruslah menangis jika kau merasa ingin melakukannya.” Ucap Key pelan. “Jangan khawatir… karena aku tak akan memberi tahu hal ini pada siapapun.” Key mempererat pelukan itu.

Pelukan Key terasa begitu hangat. Membuat Hye Rin semakin tak mampu membendung tangis yang semakin merajainya. Air mata Hye Rin terus saja mengalir tanpa dapat ia kendalikan.

Meski Hye Rin sangat membenci dirinya sendiri saat ini karena menangis, tapi ia tak mampu lagi melakukan apapun selain menangis. Menangis hingga air matanya habis… hingga ia mampu merasakan semua beban itu telah larut dalam tetes demi tetes air yang mengalir melalui pipinya yang basah…

“Jangan pernah tahan tangismu atau dadamu akan bertambah sesak nantinya.” Ucap Key sambil menyapu sisa air mata yang ada dipipi Hye Rin. Disusul dengan seulas senyuman yang sangat manis. Tanpa sadar, senyuman itu dengan cepat mampu menghapus rasa sakit yang tengah menerpa Hye Rin sekarang.

Nae geudaera geudaenikka

(Because you have to be mine in order for you to be you)

Apado, oolryeodo, saranghae

(Even if it hurts, even if you make me cry, I love you)

Saat itu juga, sekilas Hye Rin bisa melihat ada seseorang yang berdiri terdiam dari jarak 5 meter di tempat mereka berdua berdiri. Hye Rin tahu benar, namja itulah yang selalu ada dipikirannya dan membuat ia menjadi seperti ini.

Sekilas, namja itu tersenyum. Meski terlihat begitu mempesona, namun entah kenapa senyumnya tak memiliki efek apapun di hati Hye Rin sekarang.

“Aku hanya ingin menjelaskan yang baru saja terjadi Hye Rin.” Ucap Minho dengan wajah yang berubah serius.

-To Be Continue-

Aigooo~ Minho ngapain ya sama Eun Kyo? ampe bikin Hye Rin nangis segala lagi. Untung ada Key. huhuhu

Kasian juga tuh JongHyun musti patah hati gara2 ditolak ama Eun Kyo. hiks hiks… sabar ya Oppa. *peluk JongHyun Oppa*

Seperti yang dikatakan JongHyun tadi, musim panas (di ff ini) hampir berakhir, berarti (dengan sangat terpaksa) author musti bilang part selanjutnya adalah part terakhir. Semuanya konflik yang memuncak hanya akan terangkum dalam satu part yang cukup panjang.

Apakah Eun Kyo akan berakhir bersama Minho? Atau Eun Kyo akan berakhir bersama Onew?

Lalu bagaimana dengan Hye Rin? Apa dia akan berhasil mendapatkan Minho yang lebih dekat dengan Eun Kyo daripada dirinya atau semuanya beralih pada musuh bebuyutannya,  Key??

Bagaimana juga ya nasib Taemin yang sebelumnya udah mendapat ‘penolakan’ dari Hye Rin? *kasian kalo inget pas Taemin ditolak.

Simpan rasa penasaran sampai part selanjutnya. Endingnya dijamin bakal menguras emosi, air mata, tenaga dan juga uang (?) *author mulai ngaco*

Jangan lupa komen komen komen yuaaaaa~

Love you readers! *hug all readers

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

9 thoughts on “The Sweet Summer – Part 16”

  1. Huaaahhh,
    aku rasa Eun Kyo sukanya sm Onew deh, flashback ke part di mana mereka ketemu di bekas SMA mereka.

    Dan Minong cuma nenangin Eun Kyo yg ngerasa bersalah krn nolak Jjong.

    Itu tebakanku ajah sih..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s