Keegoisan Yang Pantas

Keegoisan yang Pantas

Author : Megi                                              

Main Cast : Rhena, Key-Shinee

Other Cast : Jonghyun-Shinee, other yeoja.

Genre : Romance, Sad, Life

Rating : PG-17

Length : 1.673 words

Disclaimer : Ini punya Megi!

Inspiration Quote : Tahukah kau? Betapa tersiksanya aku saat hatiku merindukanmu namun tidak ada sedikitpun kesempatan bagiku untuk mengatakannya padamu. Karena aku bukan siapa – siapamu dan karena kita tidak memiliki hubungan apa – apa.

 

Selamat Membaca^^

 

 “Lihat Key, cengeng sekali Minji itu,”

“Kau tidak merasakan rasanya patah hati sih dan bagaimana perasaannya Minji,”

“Memangnya bagaimana?”        

“Rasanya sesak, kau seperti tinggal dalam lautan manusia, susah sekali mendapat oksigen. Saat kau mendapat oksigen, oksigen itu sedikit sekali, bahkan dia habis saat mencapai tenggorokkan,”

Dulu aku pikir melihat orang yang kau sukai berdampingan dengan gadis lain itu tidak sulit. Tidak sesakit ini, tidak sepilu ini. Tapi ternyata aku salah, salah besar. Dan perasaan itu bertambah sakit, saat kau menyadari bahwa dia, orang yang kau sukai tidak mengetahui itu dan jika kau mengatakan perasaanmu padanya, kau akan menghancurkan semuanya.

“Rhe, halooo, Rhe?” dia, laki – laki itu yang sudah membuat aku tahu apa rasanya sakit setelah aku dibuat bahagia karena merasakan cinta.

“Ya,” jawabku gelagapan. Bagaimana tidak, dia dan gadis ini adalah sahabatku dan aku baru saja menatap mereka dengan pandangan kosong yang sendu. Dan aku tidak mau mereka tahu seberapa besar keinginanku agar rencana pernikahan mereka batal.

“Kenapa? Kau lapar? Mau makan lagi?” tanyanya lagi. Key, iya aku lapar. Aku sangat lapar Key. Disini, tepat di jantungku. Aku mau kau memberinya sebuah cinta. Cinta yang tulus, satu – satunya, hanya untukku, bisakah?, Aku tidak tahu apa hati itu bisa hancur tapi yang jelas aku merasa hatiku itu sedang hancur sekarang.

“Tidak, aku hanya mengingat sesuatu. Besok aku harus mengumpulkan laporan kinerja bawahanku, pagi – pagi sekali. Sementara penyelesaiannya baru 40%,” ucapku berbohong dengan wajah menyedihkan.

“Jadi?” tanya gadis itu berharap aku tidak mengatakan ‘aku harus pergi’. Yang benar saja, kau ingin membunuhku dengan melihat kalian berdua.

“Boleh aku duluan?” tanyaku dengan wajah memelas lebih tepatnya tersiksa.

“Hei, kau harus membantu kami mengurus undangan ini anak nakal,” perintahnya memohon. Hentikan Key, jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi. Kau sama saja menusukku dengan jarum, menyadarkan aku bahwa tidak sepantasnya aku merindukanmu yang sama sekali tidak menyadari kehadiranku sebagai wanita apalagi seseorang yang mencintaimu.

“Aigoo, pernikahan kalian itu sebulan lagi bukan tiga hari lagi,” aku menggeleng – gelengkan kepalaku. Berpura – pura jengkel menutupi rasa sesak yang sudah melebihi batas kemampuanku. Haruskah aku bertahan lebih lama lagi Tuhan?

“Ok, tapi kalau kau tidak membantu kami, satu meja penuh makanan seperti yang sudah kita sepakati akan dibatalkan untukmu,” Silahkan Key, silahkan kau batalkan. Kalau kau mampu dan kalau kau bisa, batalkan juga semua perasaanku yang ada untukmu. Aku ikhlas, aku rela.

“Oh, jangan, jangan, baiklah aku akan datang membantu, tapi tidak sekarang ok?” Sudah berapa kali aku berbohong sejak tadi? Sudah berapa banyak rasa sakit yang aku tutupi sejak tadi? Dan adakah yang rela menutupi lukanya? Tidak, tidak ada, jika bukan Tuhan dan kau Key.

“Ya, hati – hati di jalan, anak nakal,”

“Hati – hati Rhe, jaga kesehatanmu,” Lihatkan betapa sulitnya bagiku untuk berharap yang terburuk untuk pernikahan mereka. Gadis itu terlalu baik untuk disakiti dan Kibum, dia telah banyak berbuat baik bagiku, menjagaku yang yatim piatu layaknya anak, adik, bunga yang rapuh. Dan kalian tahu sebatas apa seorang anak, seorang adik, setangkai bunga bisa memiliki ayahnya, kakaknya, dan tuannya? Tidak akan pernah bisa memilikinya, tidak akan pernah bisa menghabiskan seluruh sisa hidupnya bersamamu yang tidak dia cintai.

“Iya, seharusnya yang bilang begitu aku,” aku berteriak dari pintu depan rumah Kibum yang bertetangga dengan rumah nenekku. Aku berjalan semau kakiku. Harusnya aku ke kantor seperti yang kualasankan pada mereka tapi aku tadi berbohongkan?

Key, kenapa semuanya begitu terlambat? Kenapa aku baru menyadari bahwa sebenarnya aku mencintaimu? Dan kenapa aku baru menyadarinya saat kalian sudah bersama? Key, kembalilah padaku, menjadi orang yang selalu ada untukku, hanya untukku. Tinggalkan dia Key. Aku lebih butuh kau. Aku mohon, kembalilah. Aku merindukanmu, seluruh perhatianmu dan semua kasih sayangmu. Kembalilah Key.

“Sekuat apapun aku menjerit, berteriak, dan memohon kau tidak akan mendengarku-kan Key?” aku mendongak menghadap langit menyanggakan tubuhku pada pegangan tangga di sampingku, duduk meratapi betapa malangnya nasibku. Aku ingin dia bahagia, sangat. Tapi aku ingin itu karenaku.

“Kenapa lagi anak manis?” Jonghyun, kenapa bukan Key yang menyebutku dengan panggilan itu?

“Hi, oppa?” sapaku berusaha ceria.

“Baik. Kibum lagi?” tanyanya retoris. Dia duduk di sampingku menyandarkan tubuhnya ke undakan tangga di belakangnya.

“Apa aku boleh egois Oppa?” tanyaku tak menjawab pertanyannya.

“Merebut Kibum dari calon istrinya?” tanyanya tepat. Aku mengangguk sendu.

“Kau pernah mendengar bahwa cinta itu butuh pengorbanan?” aku mengangguk,”Kalau cinta itu juga membutuhkan keegoisan, kekerasan hati, pernah?” aku menangguk lagi.

“Kibum sudah sepantasnya mendapatkan apa yang membuatnya bahagia, itu karena pengorbanan yang dia lakukan untukmu, menjagamu. Itu keegoisan yang pantas,”

“Jadi maksud oppa, aku tidak pantas untuk egois? Karena aku belum melakukan pengorbanan untuknya?” tanyaku meninggi. Jonghyun menolehkan kepalanya.

“Memangnya kau pernah berkorban apa demi Kibum? Kalaupun pernah, adakah sebanyak yang Kibum lakukan untukmu?” tanyanya dengan tatapan menuntut untuk menyadarkan.

Aku tercenung,“Oppa, kenapa? Kenapa harus Kibum yang  melindungiku? Kenapa dia yang aku cintai? Kenapa harus dia yang membuat aku merasakan sesak karena rindu padanya oppa?” Jonghyun melingkarkan tangannya. Menyandarkan kepalaku pada dadanya yang tegap. Oppa, kenapa bukan kau yang aku cintai? Kenapa harus adikmu?

“Rhe, jika kita bisa memilih tentu kita tidak akan pernah mencintai orang yang tidak tepat, orang yang tidak bisa membalas perasaan yang kita rasakan untuknya,” ujarnya lemah.

“Lalu aku harus bagaimana oppa? Apa aku mati saja?” tanyaku meminta persetujuan dengan putus asa.

“Gadis bodoh,” makinya pelan.

“Aku rasanya mau mati oppa, bahkan untuk makanpun rasanya pahit,” lirihku dengan suara seperti tercekik. Air mataku sudah jatuh dari tadi.

“Bertahanlah, waktu akan mengobatinya,” nasehatnya lembut.

“Tapi berapa lama? Seumur hiudpku?” tuntutku meminta kepastian.

“Tidak akan lama, aku jamin itu anak baik,” Aku berusaha mempercayai Jonghyun sekuat yang aku bisa namun air mataku belum mau berhenti.

Hari pernikahan mereka tiba. Aku menepati janjiku untuk membantu persiapan pernikahan ini dan juga menghadirinya. Cintaku? Rindu? Rasa sesak? Mereka masih  bersemayam di hatiku, masih mendesak keluar. Tapi Jonghyun membuatnya terasa lebih ringan, dia membuatku tidak terlalu fokus pada pasangan itu setelah dia menjamin penyembuhan patah hatiku.

Tapi hatiku mendorongku untuk melakukan sesuatu sebelum pernikahan ini di mulai.

“Hai, pangeran sudah siapa menemui putrimu?” tanyaku membuka sedikit pintu ruang riasnya.

“Rhe? Ayo masuk, aku butuh pendapatmu, aku merasa mulai gila,” dia berbalik dari aktivitas bercerminnya. Perias yang tadinya merapikan tuxedo Key mohon undur diri.

“Bukannya itu nama belakangmu?” kataku mencoba berkelakar. Berjalan perlahan mendekatinya yang menghadap cermin lagi.

“Dasar kau ini, kau tidak lihat aku gugup begini? Bagaimana?” gerutunya namun tidak menutupi rasa bahagianya.

“Kau tampan Key, selalu begitu kan?” ujarku lembut. Air mataku jatuh dan aku merunduk.

“Terimakasih, ucapanmu selalu memberiku energi positif,” dia merangkulku sebentar.

“Bagaimana jika aku yang jadi istrimu, apa kau juga akan gugup seperti ini?” tanyaku dengan ekspresi jahil. Dia berjengit kemudian tertawa pelan.

“Bagaimana ya? Mungkin aku akan merasa takut karena juara taekwondo akan menjadi istriku,” jawabnya berkelakar dengan ekspresi takut yang lucu yang membuat rasa rindu itu berkecamuk lagi.

“Benarkah?”

“Tentu tidak Rhe, mau siapapun yang aku nikahi, tentu aku merasa gugup. Akan bersanding dengan orang yang kau cintai itu pasti akan membuatmu gugup,”

“Tapi aku rasa aku tidak akan mengalaminya,” ujarku tanpa ekspresi menatapnya sambil menggeleng kecil

“Kenapa?”

“Karena orang yang akan menikah denganku nanti bukan orang yang aku cintai,”

“Kenapa kau bicara seperti itu? Memangnya siapa orang yang kau cintai?” tanyanya penasaran.

“Kau, Key, Kim Kibum, sahabatku, orang yang selama ini selalu menjagaku,” air mataku menggenang.

“Kau? Mencintaiku?” tanyanya tidak percaya dengan nada kecewa yang kentara.

“Benar. Terlambat ya?” tanyaku tersenyum miris. Aku memicingkan mataku mengusir air itu dari mataku yang panas.

“Key, pernah terpikirkan untuk merebutmu darinya, tapi aku tahu dia sumber kebahagianmu. Jadi bolehkah aku melepaskan semua rasa sakit dan rinduku selama ini, saat kau tidak lagi di sampingku karena selalu bersamanya dengan satu permintaan terakhir?” tanyaku meminta persetujuan.

“Apa?” aku tersenyum lalu mendekat ke wajahnya. Aku menarik tengkuknya. Menciumnya. Dia tidak menolak, ciuman itu terasa lembut namun lama – kelamaan terasa asin. Bukan, itu bukan air mataku, itu air mata Kibum. Tuhan, andai hari ini ajalku, maka ambillah nyawaku sekarang, aku ikhlas.

“Apa aku membuatmu mengkhianati hubungan kalian?” tanyaku khawatir melihat Kibum menangis. Dia menggeleng lalu memelukku. Tubuhku menegang, sudah berapa lama sejak terakhir kali dia memelukku?

“Kau tahu Rhe, betapa aku sangat merindukanmu? Betapa tersiksanya aku saat aku melihatmu berbohong di hadapanku dengan sangat jelas?” tanyanya marah. Lihat betapa dia tau aku dengan baik. Tapi dia tidak mencintaiku dengan baik. Tidak sebaik dia mencintai calon istrinya.

“Bagaimana bisa aku mengatakannya jika itu dapat menghancurkan kebahagianmu, Key?” aku memukul punggungnya. Berusaha tidak menangis lalu membasahi pakaian bersejarahnya.

“Maafkan aku sayang,” dan panggilan itu hampir 3 tahun kau tidak menyebutnya, sama dengan lamanya kau menjalin hubungan dengan calon istrimu itu.

“Sudahlah Key, aku sudah berusaha merelakannya, meredamnya, karena aku tahu kalaupun kau mencintaiku itu tidak akan sebanding dengan rasa cintamu padanya,” ujarku berusaha tegar.

“Berjanjilah padaku bahwa kau akan hidup lebih baik dari sekarang, tidak akan pernah sebodoh ini menyadari perasaanmu dan membuat segalanya menjadi terlambat,”

“Aku akan berusaha sekuat yang aku bisa, dan kau tahu aku tidak bisa berjanji untuk satu hal yang absurd seperti ini. Pemilik hati ini bukan aku, Key.” Air matanya jatuh, hampir saja merusak riasan tipis ala pria di wajahnya.

Mereka akhirnya mengucapkan janji itu. Memasangkan sepasang cincin sebagai symbol bahwa mereka saling memiliki hingga akhir hayat.

“Rhe jangan menangis di sini, aku tidak bawa tissue apalagi ember,” Jonghyun berujar di sampingku.

“Auw,” aku mencubit perutnya.

“Asal oppa di sini, aku tidak akan menangis, karena kau akan membelikanku banyak makanankan kalau aku berhasil tidak menangis jika melihat mereka menikah?” tanyaku tersenyum ceria.

“Dasar shikshin, kau harus direhabilitasi karena kecanduan makanan Rhe,”

“Di tempat rehabilitasi yang isinya makanan semua?” tanyaku berpura – pura polos.

“Dasar! Ayo kita nikmati acara makannya. Mana meja yang mereka janjikan padamu Rhe,”

“Itu jatahku, oppa tidak boleh memakannya,”

Jika rasa sakit bisa hilang dalam sekejap aku pasti akan langsung bertanya di mana dan bagaimana caranya. Tapi aku tahu itu pasti tidak ada. Jadi aku harus mengobatinya dengan perlahan, meredamnya hingga tidak lagi timbul ke permukaan dan merusak seluruh sendi hati yang mudah rapuh.

Tuhan berikan aku keegoisan yang pantas jika ini bisa disebut sebagai pengorbanan.

FIN

19 Juli 2012

Terima kasih sudah membaca.

Kritik dan saran akan sangat membantu

…:megiannisa:..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

17 thoughts on “Keegoisan Yang Pantas”

  1. Megi-ssi, Annyeong.

    Awalnya aku agak bingung di bagian depan. Minji itu siapa ya?
    Mulai pertengahan udh mulai nangkep maksud Megi,
    and akhirnya si Rhena itu sm Jjong ya?

    Ditunggu karya yg lain ya..

  2. Uuh~ baca ini ikutan nyesek. Sakitnya Rhe itu beneran nggak ketulungan (walaupun nggak pernah ngalamin). Deskripsi perasaannya sip banget, hanyut gitu aja sama jalan ceritanya. Aku sedikit lega ini nggak berakhir happy end dengan Key batal nikah *oke sip*.

    Nice ff, ditunggu karya yang selanjutnya ^^

  3. like it!! Ceritanya galauuu abiis, udah ujan baca cerita bgini makin kebawa melownya T.T hehe kalau jadi Rhe pasti nyesek buanget huaaa sabar ya Rhe 😦 pokonya nice story 😀
    ditunggu karya selanjutnya^^

  4. huwaaaa, yeye. di post juga akhirnya, tkyu admin.

    tkyu for commenting readers.
    rhe-nya gak sama jjong. nanti deh after storynya aku kirim ya.
    tkyu so much.

  5. Hatiku tertohok membacanya… brasa mw kluar nih airmata… Apalagi mmbiarkan org yg di cintai?? krna terkdang sangat btuh waktu hngga brtahn2… Untng ad jonghyun oppa…
    Oh ya… Kyaknya perlu ad sequel… So… Sequelnya dunk,.. Ne???
    Keep writing yah… :))

  6. Nyesek bacanya thor…
    Mpe nangis gw bacanya,,tanggung jawab thor

    Poko’y ni ff nya daebak deh thor
    ditunggu lho next nya

  7. Asjwhdkjdjc.

    Nyesek. Asli nyesek. Rhe, betapa malangnya nasibmu T.T semoga Rhe bahagia sama Jjong~

    Feelnya dapet. Udah, bingung mau ngomong apalagi yang jelas ini daebak!

  8. Sedikit membingungkan di awal percakapan. Yang ngomong Minji cengeng itu siapa. Terus ceritanya tidak di perdetil, apakah jjong juga memiliki perasaan terhadap Rhena? Tapi secara keseluruhan udah bagus sih. Keke.

  9. ‘Keegoisan yg pantas’ aku suka kalimat ini..
    Aku bisa merasakan perasaan Rhe. Senyum di balik tangisan..
    Dan pengakuan cinta Rhe bener2 nohok bgt..

  10. Aku suka bgt sama cerita ttg cinta yang terpendam tak terbalas tak memiliki kayak gini haha 😀
    Pas awal-awal baca masih agak bingung, mungkin karena udah lama gak baca ff kali ya TuT Tapi pas dibaca lagi pelan-pelan… oh, feelnya dapet, terutama ttg perasaan Rhena. Emang rada gimanaa gitu yah kalo ngeliat orang yang disukai akhirnya punya pasangan =3 Tapi salut sama Rhenanya akhirnya mau ngakuin perasaannya di detik-detik terakhir. Mending gitu sih daripada dipendem mulu perasaannya ㅋㅋ /apasih/
    Dan… yah, aku suka sama kata ‘keegoisan yang pantas’. Segala sesuatu itu emang membutuhkan sedikit pengorbanan dan sedikit keegoisan fufu~

  11. rada membingungkan diawal cerita nih author-nim… tapi makin kebelakang makin kerasa patah hatinya </3
    suka suka suka, feelnya dpet bngt lah :mrgreen:

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s