Piece of Memory – Part 7

pieceofmemory

Piece of Memory [Piece 7]

Special Piece

Main Cast:

  • Choi Minho
  • Lee Taemin

Support Cast:

  • Choi Jinri (Sulli)
  • Kim Kibum (Key)

Genre  : Alternate Universe, Life, Fantasy (a bit)

Rating : Teen

Summary: Drama…

Disclaimer:  I do not own the character – they belong to God and themselves. The plot and the story are mine; it also published at my own wp here . Poster belong to Art Factory ^^

A.N.: Kenapa disebut ‘Special Piece’? Karena secara nggak langsung ini adalah penjelasan singkat tentang cerita ini. Anyway, to really understand the whole story, I suggest you to read from first part till now :3

~~~~~~~

“Sulli, kaukah itu?”

“Yap, ini aku, Oppa.”

Sulli tidak pernah menyangka kehidupan mungil teraturnya suatu saat harus mengalami kehancuran besar. Segala rencana yang sudah tersusun rapi mendadak berantakan. Kemana ia harus mengorbit, tiba-tiba ia juga tidak tahu. Dimana seharusnya ia berpijak, tiba-tiba ia tidak mengerti.

Semua ini dikarenakan satu keluarga.

“Sudah menunggu lama? Masuklah.”

Betapa Sulli merindukan saat-saat itu. Saat dimana ia bisa tertawa lepas mendengar cerita dari orang yang ia sayangi, saat dimana ia bisa membalas tatapan penuh kasih dengan perasaan yang sama, saat dimana segala mimpinya terasa begitu dekat bersama orang yang menjadi tambatan hatinya. Ia memang masih tergolong sangat muda saat itu, tapi cinta tidak mengenal tempat dan usia.

“Kau cantik sekali hari ini.”

Dulu ia tak peduli jika orang yang dikasihinya menganggapnya tak lebih dari adik kecil yang manis. Selama ia masih bisa bersama orang itu, menggandeng tangannya yang lebar dan hangat, semuanya bisa diabaikan. Dulu ia berpikir untuk membiarkan usianya bertambah sebelum menyatakan secara gamblang apa yang ia rasakan pada orang tersebut.

Kemudian bencana datang. Ketika mata bening itu tak lagi fokus pada Sulli, ketika tangan hangat itu semakin jarang menggenggam tangannya, ketika yang dibicarakan bibir itu bukan lagi mimpi-mimpi indah, Sulli tahu segalanya akan berakhir. Langkah kaki panjang itu tak lagi mengarah pada Sulli, kasih sayang itu tak lagi terlimpah pada Sulli, senyum itu tak lagi hanya untuk Sulli.

Apa yang dilakukan Sulli muda saat itu sungguh nekat. Ia mengumpulkan keberanian untuk mengikuti kemana punggung lebar orang yang dikasihinya melangkah. Mengendap, perlahan, tanpa suara, Sulli semakin mendekati kenyataan yang membuatnya terhempas jauh ke belakang. Harga dirinya hancur berkeping-keping.

Kedua matanya lekat menatap satu pemandangan di sebuah pekarangan rumah mewah. Jari-jemari mungilnya erat mencengkeram selusur besi pagar. Rahangnya kuat saling mengatup. Sejurus kemudian linangan air mata menandai kehancuran hati rapuhnya.

~~~

“Kau mau jalan-jalan hari ini?”

“Terserah padamu, Oppa.”

Kontras sekali, dua tangan yang saling bertaut itu. Lebar dan mungil. Tegas dan ringkih. Tapi toh ia menikmatinya. Saat-saat dimana kedua matanya dapat merekam setiap pergerakan kecil gadis mungil di sampingnya. Saat-saat dimana kerinduan akan seorang adik terpenuhi kala bercakap-cakap dengan gadis tersebut.

Minho bersyukur ia ditakdirkan menjadi seorang Choi Minho. Karena jika tidak, maka ia tidak akan bisa bertemu gadis mungil yang mengikutinya kemana pun ia pergi. Di awal pertemuan mereka, Minho menganggap gadis itu tak lebih dari sekadar gangguan. Namun lambat laun perasaannya berubah. Awalnya tidak suka, kemudian sayang. Mulai dari tidak peduli menjadi ingin terus melindungi.

Ia tahu benar gadis mungilnya menganggap perhatian melimpah darinya sebagai suatu perasaan labil yang sering dialami gadis seusia itu. Tapi lagi-lagi Minho tidak peduli dan tetap ingin menikmati selagi ia masih bisa menggoda gadis mungilnya hingga kedua belah pipi itu dihiasi semburat kemerahan. Ia tahu benar perasaan ini suatu hari akan berbalik menyerangnya; entah dalam bentuk apa, entah siapa yang akan lebih tersakiti.

Kemudian sebuah nama menelusup ke tengah-tengah kehidupannya. Itu hanya sebuah nama, tapi dapat menjalar ke mana-mana; keluarga, masa depan, bahkan perasaan. Nama itu membawa serta takdirnya.

Benar-benar seperti drama, kata Minho sarkas suatu saat. Kehidupan seorang laki-laki dewasa dijerat oleh tali mati bernama perjodohan. Minho berkeras pada kedua orangtuanya bahwa pilihan pendamping hidupnya kelak sudah berada di luar otoritas orangtua. Kedua orang yang paling dicintainya tersebut malah berpura-pura tuli, berlagak tidak mengerti. Minho tidak punya pilihan lain setelah itu. Ia menyerah pada keadaan, memasrahkan masa depan demi membaktikan diri pada kedua orangtua. Di suatu pagi berhujan, keluarga kecil itu berangkat memenuhi undangan keluarga calon tunangannya.

Gadis kecil Minho tahu semua tentangnya, kecuali yang satu ini. Bukan berarti Minho ingin gadis mungil terus menggantungkan harapan padanya, tetapi karena dirinya membutuhkan tempat untuk melupakan segala hal yang merisaukannya. Mata bening gadis itu jawabannya. Hanya disana Minho dapat mengesampingkan masalah dan beban. Hanya disana ia bisa bersikap layaknya seorang kakak secara natural.

Kemudian, di tengah badai masalah, di puncak keengganan Minho pada dunia, ia melihatnya. Seseorang yang pernah ia baiat sebagai malaikat beberapa tahun lampau. Duduk dengan tenang, memandang penuh minat.

“Ini adikku.”

Minho mendengar pengakuan itu dengan teramat jelas. Tak mungkin, sangkalnya dalam hati. Bagaimana bisa malaikat kecil itu adalah adik dari wanita yang akan diikatkan padanya; bahwa malaikat kecil itu adalah salah satu anggota keluarga yang sudah menghancurkan masa depannya, itu sungguh sangat sulit dipercaya. Kedua mata polos itu membalas pandangnya, menyedot seluruh kebencian yang menyelubungi diri Minho saat berada dalam rumah mewah tersebut.

Lambat laun Minho mulai menerima kenyataan bahwa ia bukan lagi Choi Minho yang bebas bermimpi. Ia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan sederhananya bersama si gadis mungil demi menyambut kehidupan yang jelas akan ia lakukan di masa depan. Setelah pemikiran panjang, Minho sadar ia tidak pantas merajuk seperti anak kecil selamanya. Lambat laun, ia lebih sering pergi bersama tunangannya alih-alih mengajak gadis mungilnya berjalan-jalan menikmati hari libur seperti dulu.

Tetapi usahanya beradaptasi terhalang oleh fakta kecil yang belum ia ketahui sebelumnya. Di suatu sore, saat ia hendak pulang dan mengerjakan tugas dari kampus yang begitu menumpuk, matanya menangkap satu pemandangan yang membuatnya membeku selama beberapa detik.

Itu tunangannya, bersama seorang laki-laki lain.

Sungguh, bukan kemesraan yang membuat darah Minho terasa mendidih, melainkan pengkhianatan dan perasaan terbodohi. Jadi untuk apa selama ini ia menghindari gadis mungilnya? Apa ini juga berarti perjodohan paksa yang mereka lakukan tak lebih dari sekadar janji palsu?

Wanita tak tahu diri itu pun menyadari kehadiran Minho. Ia mencoba mengejar dan menjelaskan kepada laki-laki itu, tapi Minho tidak mencoba mendengarkan sepatah kata pun.

“Minho-ya, tunggu! Kau marah karena aku bersama dia?” seru wanita itu terengah-engah. Kali ini harga diri Minho terpancing dan ia membalikkan badan tak sabar.

“Cemburu adalah hal terakhir yang akan kurasakan padamu, Nona Yeseul. Aku hanya menertawakan betapa bodohnya aku sudah percaya padamu, pada perjodohan ini,” tanggap Minho dingin.

Wanita itu sedikit terpengarah, lalu tersenyum sinis. “Oh, dan kau pikir yang berkhianat hanya aku? Berkacalah, Tuan Sok Suci.”

“Apa maksudmu?”

“Tujuanmu hanya Taemin, bukan? Kau memang selalu berada di sampingku, tapi perhatianmu pada anak kecil itu. Tidakkah kau sadar bahwa perbuatanmu telah membuat adikku ketakutan?”

Giliran Minho yang terdiam. Kedua tangannya mengepal kuat; apa yang dikatakan wanita itu salah besar. Memang benar ia memperhatikan malaikat kecil yang diadopsi keluarga tunangannya, tapi itu hanya sebatas hubungan kakak-adik. Selama ini ia terlalu memperhatikannya? Tentu saja! Pihak inferior akan selalu tertindas jika tidak mendapat dukungan, dan orang buta sekalipun tahu bahwa malaikat kecilnya hanya dianggap hiasan oleh pihak keluarga. Tak dihargai, dicaci-maki, persis seperti drama.

“Kenapa? Tebakanku benar?” tanya wanita itu puas. Kedua tangannya diletakkan di pinggang dengan angkuh.

“Salah besar. Kau sungguh tidak tahu apa-apa,” balas Minho datar. “Kau memvonis seolah-olah kau sendiri yang mengalaminya.”

Tunangannya membuang muka, lalu melenggang pergi bersama laki-laki yang sedari tadi hanya memperhatikan adu mulut kecil mereka.

Minho tersadar mulai saat itu segala akting dan topeng yang selalu mereka kenakan tidak berfungsi lagi.

~~~

“Ceritakan saja padaku” adalah kalimat favorit seorang Kim Kibum. Lahir di keluarga yang menjaga hubungan dengan orang lain, ia dididik untuk peka terhadap apa yang dirasakan orang di dekatnya dan, ya, ia memang memiliki kemampuan untuk membaca perasaan lewat ekspresi dan gerak tubuh seseorang.

Minho adalah orang yang selalu ‘dibaca’ olehnya. Key –panggilan Kibum– tahu betul kapan harus duduk tenang mendengarkan, bercanda, atau bersikap serius di depan sahabatnya yang tak ubah sebagai saudara baginya itu. Ia mengerti di balik ketenangan sikap Choi Minho tersimpan sejuta perasaan yang tidak bisa diungkap kepada publik. Key bersyukur dirinya cukup dipercaya untuk menjadi tempat penyimpanan rahasia Minho.

Suatu waktu, pagi cerah Key disambut oleh wajah mendung Minho. Ia bertanya kenapa, dan Minho membeberkan segala permasalahan yang menjugkir-balikkan hidupnya dalam satu malam. Mereka masih duduk di bangku SMA saat itu, tak heran Minho sedemikian frustasi dalam menghadapi apa yang diinginkan orangtuanya. Key tak tahan melihat wajah nelangsa sahabat baiknya, karena itu ia memutuskan untuk bertandang ke kediaman keluarga Choi saat Minho sedang tidak di rumah. Seorang gadis berseragam salah satu SMA swasta menyambutnya di ruang tengah, duduk di samping ibu Minho.

“Aku Yeseul, tunangan Minho.”

Key terhenyak. Bahkan sebelum ia menjelaskan maksud kedatangannya, orang yang dicari sudah menampakkan batang hidung. Tanpa menimbulkan kecurigaan Key mengusir Nyonya Choi dan menyisakan ruang untuk berbicara berdua tanpa takut adanya gangguan.

Sejak awal Key sudah tahu ide berupa perjodohan tidak membawa kebahagiaan pada kedua belah pihak, tapi ia tak menyangka tujuan di balik ini semua adalah untuk mempertahankan kelangsungan perusahaan orangtua Yeseul. Drama, cibir Key dalam hati.

“Tapi aku tidak menyukai Minho,” keluh Yeseul. Key mengingatkan bahwa Minho pun tidak menyukai Yeseul; mereka dalam posisi yang sama, maka tidak ada artinya merajuk.

Yeseul menatap mata Key lama-lama, lalu berkata, “Aku tidak menyadarinya tadi, tapi kau pasti ada hubungannya dengan Jonghyun oppa.”

Kim Jonghyun, nama yang membuat telinga Key geli. Lelaki yang baru saja disebut itu tak lain adalah alasan utama ayah Key sering mengabaikan keluarganya. Pria itu mengkhianati cinta istrinya demi wanita lain yang telah memiliki satu anak laki-laki. Tidak seperti apa yang dibayangkan orang, hubungan Key dan Jonghyun cukup baik. Tapi tentu saja, sekelumit iri dan benci masih membayang di belakang Key.

“Jika iya, lalu apa?” pancing Key. Ia terlatih untuk tetap bersikap tenang dalam kondisi apapun.
Yeseul beringsut mendekati Key. Seulas senyum angkuh menghias wajah manisnya, dan Key tahu sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Kau pasti mau membantu kakakmu, kan? Jika kau setuju, aku bisa membujuknya untuk menjauh dari jangkauan ayahmu yang lebih mencintainya daripada kau.”

“Apa yang harus kulakukan?”

Key tidak menyangka akan menjadi musuh dalam selimut untuk sahabatnya sendiri.

~~~

Laki-laki itu berusaha melindunginya, Taemin sadar akan hal itu.

Tak pernah ia bayangkan sebelumnya seseorang berusaha mengajaknya bicara. Tak pernah ia sangka, seseorang akan membuatnya tertawa. Yang paling mengherankan, orang yang sama telah memberikan tatapan penuh kasih padanya, melebihi siapapun yang pernah mengaku menyayanginya.

Itu adalah suatu sore ketika Taemin pertama kali melihatnya. Ia gugup saat orang itu berbicara padanya. Ia tidak tahu harus seperti apa karena orang itu mengulas senyum tulus untuknya. Jika di dunia ini kasih sayang benar-benar eksis, maka Taemin yakin orang itu menyayanginya tanpa mengharap suatu pembalasan.

Butuh waktu yang sangat panjang bagi Taemin untuk menyesuaikan diri dengan perhatian melimpah orang itu. Orang itu mengajarinya cara tersenyum dan membimbingnya untuk bermimpi. Jika selama ini Taemin hanya mengetahui kejam dan sempitnya dunia tempatnya berpijak, maka orang itu mengulurkan tangan untuk mengajaknya melihat betapa indah dunia luar. Taemin terbius oleh cerahnya sinar mentari, bahkan hingga lupa dengan perihnya tercambuk perhatian palsu orang-orang yang berperan sebagai keluarganya.

Taemin pernah suatu hari bercerita pada kakaknya mengenai kebaikan orang itu, tapi kakaknya hanya menanggapi dingin, berkata bahwa sebaiknya Taemin menarik diri dan kembali mengurung diri dalam dunia kecilnya.

“Kenapa? Ini tidak seperti kau, Nuna,” protes Taemin saat kakaknya melarang segala bentuk pertemuan dengan orang itu. Satu tamparan mendarat di pipi Taemin. Panas.

“Bagaimana jika Minho hanya memanfaatkanmu? Bagaimana jika ia ingin tak lebih dari harta kita? Pikirkan itu, Taemin!” bentak kakaknya.

Taemin tak menganggap itu sebagai salah satu bentuk kasih sayang, seperti alasan klise yang sering diungkap orang-orang tanpa hati lainnya. Kakaknya berubah. Satu-satunya sinar matahari Taemin dalam penjara tanpa masa tahanan mendadak lenyap.

Taemin hidup dalam kesendirian. Ia merangkak di tengah kegelapan mencari cahayanya sendiri. Tentu saja orang itu adalah jawabannya. Taemin lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah, mengenal lebih banyak orang, dan belajar bagaimana cara hidup seorang yang bebas. Ia masih di bawah umur, tapi sudah mengenal begitu banyak istilah yang tidak seharusnya ia ketahui.

Suatu hari berita tak jelas darimana menyerangnya tanpa ampun. Kedua orangtuanya murka, menudingnya telah melakukan hal di luar batas, kakaknya –yang selama 16 tahun terakhir selalu membelanya– ikut memvonis macam-macam. Hubungan dengan dunia luar diputus secara sepihak, orang asing dilarang menemuinya; sekali lagi Taemin kehilangan cahayanya.

Ini permainan kotor, pikir Taemin getir. Ada tangan-tangan gelap yang ikut bermain, karena jika tidak, maka cahayanya akan menerjang masuk untuk menyelamatkannya dari neraka. Ini disengaja, batin Taemin pahit, agar kakaknya tak perlu berpisah dengan Kim Jonghyun, orang yang sudah lama menjadi pelabuhan hati sang kakak.

Maka Taemin menyerah pada keadaan. Selama satu tahun lebih ia menjadi lakon sampingan seperti apa yang diharapkan semua orang sembari berpikir bagaimana caranya dapat meloloskan diri. Jika dunia adalah panggung sandiwara, Taemin akan memilih judul dimana ia bisa bebas berekspresi.

Di suatu malam berhujan, kamar Lee Taemin ditemukan tak berpenghuni. Tak ada jejak, tak ada yang ditinggalkan selain kebencian yang melumuri tiap perabot di dalam sana.

~~~

Lee Jinki menyunggingkan senyum simpul sedang satu tangannya mengusap-usap dagu. Memutus-sambung ikatan takdir antara satu orang dengan orang lain selalu menyenangkan, tapi menonton drama kehidupan jauh lebih menarik.

Dan lihat apa yang ia dapatkan sekarang. Sang tokoh antagonis memohon agar hidupnya berakhir agar dapat membayar penderitaan seseorang yang amat ia cintai akibat perbuatannya.

“Lebih baik kau rasakan perihnya perasaan itu sebelum memutuskan untuk mati,” Lee Jinki memiringkan kepala. Senyumnya berubah menjadi seringai geli bercampur misterius.

My Lady.”

..::To be Continued::.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

12 thoughts on “Piece of Memory – Part 7”

  1. Aha!
    Tring!
    Berarti, taemin cuma anak angkat. Yeseul manfaatin perhatian Minho ke Taemin spy dy bs tetep brg Jjong.
    Sulli suka sm Minho, tp dy slh tangkep kalo si 2Min ini ada ada apa-apanya.
    Jjong juga dipengaruhi sm Yeseul buat benci 2Min.

    Aku ngerasa Part ini ‘mewah’ sekali, hihihi.
    Diksinyaa itu loh.. Tingkat tinggi.

    Dan Alhamdulilllah ya, sesuatu,
    Minho+Taemin bukan gay.#sujud sukur

  2. di part ini baru ngerti semuanya 😀 semua yg buat aku penasaran terungkapkan dg part ini! yeee!! lega rasanya (?) 😀 , abis aku gk bisa tidur krna mikir teka teki dr FF ini *alay -_-

    oke! ada dua kata buat author “Very Daebak!”
    Piece of memory yg paliing aku suka 😀
    ditunggu part selanjutnya thour! ^o^

  3. Wow… Jadi… Kim jonghyun pacar kakanya taem, taem suka sama minho dan sebaliknya, key jadi ikut pihak kakanya taem, dan sulli? Dia adiknya minho? Ayoo thor aku jadi penasaran selanjutnyaa 😀

  4. kereeeeennn… ada beberapa pertanyaanku dari part sebelumnya terjawab di part ini. tapi ga nyangka aja kalo si sulii itu ternyata dulu pernah deket bgt sama minho.
    thanks author..

  5. huwwaaaaahh,,kereeeeeeennnn,,
    setelah sekian lama aq menunggu,akhir y kluar jg neh ff,,,
    kereeeen bangett dah poko y,,sllu bkin pnasaran,,trus dari gaya bahasa ampe alur y yg loncat2 bner2,,errrrghh,,speechless..
    diksi y itu loh,,tingkat tinggi bgd,,bkin pala saya pusing 7keliling,,tp kereenn,,
    mf yah bru komen d part ini,,tp saya ngikutin trus koq dr awal,,hahha
    lanjutan y cpet yach,,udh penasaran bgd sama ending y,,

  6. thor!!!! ini next part nya manaaaaa post dong minn udh lama bgt nunggu. ini ff keren bangett. best ff i’ve read pokonya!!!

  7. i will give u oxygen kekek, daebak thor ceritanya.. mian baru komen pas part 7 ini tapi aku baca dari awal kok hihi..
    ah akunya lagi lelet (?), aku msh bingung jd sulli ama minho ituuu…. saling suka? trus tapi minho juga punya perhatian ama taemin(?) doh aku juga bingung sendiri keke
    keren thor, diksinya itu loh~ baca berulang kali, next part yaaah 😉

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s