From ‘MALAK’ With Love..??

FROM ‘MALAK’ WITH LOVE..??

(The Chronicles of Hunter atau Tukang Palak??)

From Malak With Love

Author                        : Papillon Lynx (Ervina Meilya)

Main Cast       :

–          Kim Yurra

–          Lee Shin You

–          Choi Yoo Jin

–          Han Nhaena

–          Kim Jaejoong (DBSK) (OUT OF CHARACTER)

–          Lee Jinki (SHINee) (OUT OF CHARACTER)

–          Choi Minho (SHINee) (OUT OF CHARACTER)

–          Jae Bum (JJ Project) (OUT OF CHARACTER)

Support Cast:

–          Kang Seonsangnim

–          Dst, dst.

 

Genre              : Humor, Gaje, Comedy, Abal, Maksa (?), a bit Freak Romance

Length                        : Oneshoot

Rating             : PG-13 aja laah.. 😀

Warning         :

Siapkan tak kresek secukupnya, tenangkan pikiran sebelum membaca, konsentrasi penuh dengan setiap kata yang tertulis di FF gila ini, buang air besar dulu sebelum baca, takutnya nanti **luar karena ketawa-ketawa mulu XP Dan dianjurkan sebelum baca ini, bacalah FF oneshoot sebelum FF ini yang berjudul “Hunter… atau Tukang Palak??”, karena sedikit-banyak cerita dalam FF ini masih ada hubungan dan kelanjutan dari FF itu. J

Oh iya, Main Cast di sini semuanya aku bikin keluar dari karakter asli. Hanya untuk menghibur saja. So, bagi para flamers, mvp’s, penggemarnya JB dan juga penggemarnya Jaejoong. HA-HA! Gomawo.. ^^

 

HAPPY READING!!!

***

Ini masih kelanjutan dari cerita kemarin. Ya, cerita kemarin yang kemarin-kemarinnya lagi, aku aja udah lupa. Masih ingat? Ingat, tidak? Ngga ingat Harus ingat! Tapi, aku akan berbaik hati menceritakan sedikit ringkasan cerita dari FF gaje sebelumnya.

FF sebelumnya menceritakan tentang tiga siswa yeoja yang berasal dari sekolah hunter di Seoul yang diragukan kebenarannya, ada atau tidak sekolah itu yang menurut berita terdiri dari yeoja-yeoja cantik yang kecantikannya sangat tersohor sampai hanya bisa dilihat dari Gurun Sahara saja—dan mungkin saja setelah ada orang yang bisa melihat kecantikan mereka, orang itu langsung terserang KATARAK DADAKAN! Mereka adalah Kim Yurra, si To The Point ;Lee Shin You si Genit Berambut Ungu ; dan anggota terakhir mereka, Choi Yoo Jin si Ganas Penjual Bakwan dan Lontong. Mereka dikenal sebagai TRIO PALAK!!

Mereka bertiga berasal dari keluarga terpandang, jelaaaasss.. Orang kaya!! Sehingga, setiap harinya, di sekolah aneh itu, mereka selalu MEMALAK teman-temannya. Konyol! Orang kaya malah malak. =.=”

Apa saja mereka palak. Minta dengan paksa. Ada uang, makanan, minuman, barang teman-temannya sampai makanan basi dan sisa pun mereka sikat habiiiiissss…! Percaya, tidak? Tidak percaya? Ya sudah, bayangkan saja!

Nah, tak perlu aku ceritakan bagaimana akhir dari FF itu karena menurutku akhir dari FF itu adalah mereka MATI TERCEKIK!! Mengenaskan, bukan?? Bukaaaann..!! Karena ‘katanya’ “Ending FFnya nggantung!”,  dengan penyelesaian misi mereka yang GATOT alias GAGAL TOTAL karena harus melawan saudara-saudara mereka sendiri dan berakhir dengan PIKNIK BERSAMA lengkap dengan keranjang makanan berisi bekal dan taplak meja kotak-kotak merah dan putih yang membuat Yurra dan Jaejoong menggelar paduan suara bersama di hadapan teman-teman sejerawatnya  sejawatnya : “KALIAN SINTING?!!”

Oke, serius, serius.. Kali ini serius! Lalu, bagaimana dengan nasib mereka? Mereka gagal menyelesaikan misi dan apakah mereka semua—minus Jaejoong—tidak akan naik kelas? Apakah Jaejoong tidak akan lulus dari sekolah antara ada dan tiada itu? Bagaimana? Galau, kan? Atau mereka mendapat hukuman? Apakah rahasia adanya geng TRIO PALAK akan terungkap di kalangan guru-guru dalam FF ini? Oke, ini belum mulai masuk ke dalam cerita inti sebenernya, hehe.. Ini baru prolog. #jangan tipuk aku! Oke?

Langsung saja.. Kita baca cerita ini dan bayangkan kegalauan mereka. Ingat, bayangkan saja! ^^

***

Di suatu malam yang mendung, gelap, dan berkabut di Seoul. Di tengah dinginnya malam yang terasa mencekam itu, siluet enam bayangan hitam tampak duduk bersila dengan formasi melingkar di ruang tengah sebuah rumah yang terasa sepi dan sunyi seperti kuburan china di deket rumah author, hingga menyisakan mereka berenam saja. Tak ada siapapun selain mereka. Tak ada. Beneran! Suer deh!! ^^v Suasana terasa mencekam! Percaya? Baik. Bayangkan saja!

Sebuah cahaya lampu jalan di luar rumah yang berkelap-kelip pun memancar masuk melalui celah-celah kecil jendela di sisi kanan ruangan, membuat tiga wajah dari enam bayangan hitam tadi sedikit tampak.

Terlihat jelas, ketiga wajah yang tampak tadi menggambarkan air muka yang sangat serius dan bingung. Tak ada satupun dari mereka berenam yang ingin membuka suara, membuka mulut pun enggan. Mulut mereka terasa kaku, lidah mereka kelu dan untuk semacam pertemuan rahasia seperti itu—yang seharusnya membicarakan tentang masalah mereka berenam pasca kejadian di dalam gedung tua yang berakhir dengan piknik bersama itu—mereka seharusnya langsung menyuarakan apa isi hati mereka ketimbang duduk diam bersila bak patung pancoran seperti itu.

Apa masalah mereka sebenarnya?? Nah, itu dia. Itu adalah masalah terberat seumur hidup mereka. Ini adalah kali pertama mereka akan mendapatkan masalah seberat itu. Mereka sungguh ketakutan untuk menerima dan menjalankan hukuman yang akan diberikan oleh pihak sekolah mereka karena mereka gagal dalam menjalankan misi saat ujian hunter. Masalah itu sukses membuat mereka gigit jari, gemetaran, kram mulut dan termenung seperti orang linglung seperti yang anda bayangkan sekarang. Ingat, bayangkan saja! ^^v

Sudah dua jam mereka duduk seperti itu, saling diam dan saling tatap satu sama lain pun tidak berani. Pandangan mereka hanya tertuju pada satu titik. Sesuatu yang berada di hadapan mereka, di tengah-tengah lingkaran yang mereka ciptakan dengan duduk melingkar. Mereka merasakan galau segalau-galaunya hanya dengan menatap beberapa benda berwarna-warni yang teronggok di hadapan mereka. Semuanya hanya bisa berkali-kali menelan air liur mereka dengan wajah senafsu-nafsunya(?).

Yoo Jin, member termuda TRIO PALAK, mendesah keras. Sudah cukup! Ia sudah tidak tahan lagi dengan aksi bungkam yang telah mereka lakukan selama dua jam ini! Dan apa hasilnya?? KELAPARAN!! Yoo Jin sudah tak kuat mendengar isak tangis menyayat hati yang terdengar dari cacing-cacing penghuni setia perut genthongnya.

“HHHhhhh..!!!” hela Yoo Jin, membuat kelima manusia setengah waras yang bersama dengannya langsung menoleh dan berjengit, menatap ke arah Yoo Jin yang sudah bangkit berdiri dengan tatapan –apa-yang-akan-kau-lakukan?- dan juga dengan tatapan ketakutan.

Ya! Dwaesseo! Gue lapar!! Kalo loe-loe pada cuman diem aja dan menatap itu semua seperti ikan tongkol, biar gue aja yang sikat habis semuanya!!” kesal Yoo Jin dengan gaya anak gaulnya, lalu mengambil langkah seribu menuju benda berwarna-warni itu.

Kelima manusia lainnya hanya menganga tak percaya dengan keberanian Yoo Jin. Mereka tak menyangka, dalam situasi seperti ini, Yoo Jin berani bertindak sefrontalitu.

Saat Yoo Jin akan mengambil salah satu benda yang berwarna merah, Yoo Ra langsung bangkit dan menarik kerah kemeja yang dipakai Yoo Jin ke belakang dengan sangat kuat, membuat Yoo Jin setengah tercekik dan terjengkang ke belakang menimpa tubuh Yurra yang seperti kentang bentuknya.

GUBRAK!!

Ya! Neo wae irrae, Noona??!!” amuk Yoo Jin dengan muka 100% bête abiiisss, sambil memandang wajah teman seperguruannya itu. “Ini kan cuma bolu kukus, Noona!! Apa salahnya??? Aku lapar! Apa?? AKU LAPAR! APA?? A-K-U L-A-P-A-R! Arrasseo?!” seru Yoo Jin sambil memakan bolu kukus berwarna merah menggoda di tangannya dengan penuh nafsu(?) karena terpancing emosi dengan Yurra.

Yurra mengerucutkan bibirnya sepanjang jalan kenangan dan menjitak kepala Yoo Jin dengan kedua tangannya yang.. Masyaallah, kekarnyaaa... “Arrasseo, tapi kita semua harus berhemat! Dengan kekonyolan kita semua yang mengadakan piknik bersama di saat ujian hunter, membuat posisi kita terancam sekarang. Terutama TRIO PALAK. Kita terancam tidak bisa memalak lagi dan kau tahu apa artinya?? Kita tidak akan mendapatkan apa-apa lagi dari target-target setia kita. Dan juga, kita berenam bisa saja tidak naik kelas atau parahnya, Jaejoong Oppa juga tidak bisa lulus sekolah. Apa kau tidak ingat dengan hukuman yang diberikan Kang Seonsangnim, huh?!” Jelas Yurra panjang-lebar-luas-keliling, tidak seperti biasanya yang to the point. Namun Yoo Jin tetap tak peduli, ia justru mulai melahap dengan brutalnya dan menghabiskan bolu kukus-bolu kukus yang tersaji di hadapan mereka. “YA! KAU DENGAR TIDAK SIH APA YANG AKU JELASKAN BARUSAN?!! ASTAGAAA…!!” Yurra menepuk jidatnya berkali-kali saking stresnya. Dan alhasil, muncul lah burung-burung pipit yang terbang berputar-putar di  atas kepalanya. Yurra jadi pusing sendiri.

Aish.. Berisik sekali! Yurra-ya, sudahlah! Biarkan saja si Yoo Jin makan. Kasihan dia. Tidak lucu jika seorang anggota TRIO PALAK terserang busung lapar, bukan??” Kata Jaejoong, membela Yoo Jin. Jaejoong tersenyum manis sekali ke arah Yoo Jin yang mulutnya kini penuh dengan berbagai macam bolu kukus. Listrik-listrik cinta yang terpancar dari kedua mata manusia itu jelas terlihat di mata Yurra, membuat Yurra menahan keras-keras untuk tidak mengeluarkan seluruh isi perutnya saat itu juga.

Ya, ya, ya! Lebih baik kita mulai saja diskusi kita sekarang.” Kata Jinki mencoba menyudahi pertengkaran kecil antara ketiga temannya sambil mencomot pisang goreng yang tersaji di atas piring yang lain, di samping piring yang menyajikan bolu kukus. Jinki menggigit pisang goreng itu sambil sesekali menyeruput kopi hitamnya, layaknya embah-embah yang duduk-duduk di depan teras rumah setiap pagi dan sore.

Ya, Hyung! Kenapa kau juga makan pisang gorengnya??”rajuk Minho. Jinki mendelik ke arahnya.

“Apalagi??” tanya Jinki malas sambil terus mencomot pisang goreng yang lain dan memasukkannya dalam-dalam ke dalam mulutnya yang lebarnya tak terhingga seperti ular Boa.

 

Aish, kau dan Yoo Jin sama-sama tidak sadar situasi, Hyung!” kesal Minho sambil memanyunkan bibir tebalnya sepanjang jalan kenangan.

 

“Minho Oppa, sudahlah. Biarkan genthong-genthong itu makan.” Kata Shin You yang duduk di samping Minho sambil bergelayut manja di lengan namja itu. Minho pun tersenyum ke arahnya. Ya, mereka jadian semenjak tragedi di gedung tempat mereka bertemu saat ujian waktu lalu. Minho mulai sadar bahwa rambut ungu yang dimiliki Shin You itu sangat menawan, bukan alay seperti yang selama ini ia anggap. Kegenitan Shin You yang suka main pegang atau kedip-kedipin mata bagaikan sedang terserang ketep juga membuat Minho kini justru luluh-lantah di hadapan yeoja setengah normal itu. Tapi yang paling penting, Minho sangat terharu ketika Shin You lebih memilih membebaskan tali-tali yang melilit tubuhnya di gedung kosong waktu itu dibanding menolong Jinki lebih dulu, yang notabene adalah kakak kandungnya sendiri. Ya, suatu alasan yang klise: “Benci jadi cinta.”

Ne, Chagiya. Arrasseo.” Jawab Minho sambil merangkul Shin You ke dalam pelukannya.

Ya! Kau kira aku tidak bisa seperti kalian??” Jinki sewot melihat kemesraan adiknya dengan Minho. Tanpa tedeng aling-aling, Jinki langsung menarik Yurra ke dalam dekapan keteknya. Dan seketika itu juga, Yurra pingsan! TEWAAAASS!

Ya! Kau menyiksa dongsaengku!!” amuk Jaejoong sambil menarik wajah Yurra yang masih menempel di ketek Jinki. Jinki hanya melongo bingung. Ada nyamuk yang masuk ke dalam mulutnya saja, ia sampai tidak sadar, hingga akhirnya Jinki menelan nyamuk itu lonjong-lonjong bulat-bulat.

Suatu pemandangan yang luar biasa yang sedang terjadi sekarang. Jaejoong dan Yurra AKUR!! Tentu saja membuat keempat manusia setengah waras lainnya memandangi mereka dengan tatapan –serius-loe?-

Alhamdulillah.. Kalian akhirnya akur. Akhirnya, keprengusan ketekku menyatukan kalian.” Ungkap Jinki gamblang, membuat yang lain menatap Jinki dengan ekspresi syok dan jijaaaayyyy!

“Kau gila, Hyung. Akan tidak lucu jadinya jika Yurra mati hanya karena ketek seorang Lee Jinki. Dan lihat bulu ketekmu itu, kau malah mengepangnya. Kesangtaeanmu menghancurkan imagemu, Hyung.” Cibir Minho. Namun Jinki hanya membalas cibiran Minho dengan terkekeh bangga ala SinterClast.

“Lihat saja, setelah ini Yurra akan berlari ke dalam pelukan—eh, ke dalam ketekku lagi.”

YA! Kau merencanakan pembunuhan pada adikku kalau begitu!” balas Jaejoong tak terima kalau adik semata wayangnya, menjadi sasaran keprengusan ketek Jinki. Bukan tanpa alasan Jaejoong marah, karena sejujurnya, ia pernah merasakan bagaimana baunya ketek Jinki. Eits, bukan dengan sengaja. Dan sungguh! Tak sampai sedetik menciumnya, Jaejoong langsung tepar dan tidak sadarkan diri selama 3 hari 3 malam. Kali ini, bagaimana dengan nasib Yurra??

“Sudahlah.. Katenye mau pade ngomongin masalah hukuman itu. Jadi, bagemane ini keputusannye?” tanya Yoo Jin menengahi, sudah tidak lagi mencomot bolu kukus yang terhidang. Bolu kukus-bolu kukus itu sudah dibumihanguskan masuk ke dalam perut Yoo Jin.

“Kenape gaye bahase elu jadi betawi?” tanya Shin You sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Yoo Jin. “Panas sekali!! You crazy?”

Noona pabo! Baru saja kau juga pake bahasa Betawi.”

“Eh, udah ah. Nanti ini FF ngga kelar-kelar.” Sambung Minho. “Buruaaaan..!!”

“Iya iya. Jadi bagaimana dengan hukuman kita itu?? Apa kalian yakin?” tanya Jaejoong dengan tatapan ragu yang ia lemparkan ke arah teman-temannya. Namun fokusnya, masih terus mencoba menyadarkan Yurra dari “keterpingsanannya”.

“Emangnya hukumannya apaan, sih?” tanya Shin You polos sambil menuangkan wedang jahe ke dalam gelasnya. Malam-malam yang dingin begini lebih anget kalo minum wedang jahe, sehingga tadi sore sebelum semuanya berkumpul di rumahnya dan Jinki, Shin You memang sengaja membuat wedang jahe itu.

“Berdiri di lapangan selama 2 jam pelajaran sampai istirahat pertama selesai.”

BRUSSSHHH..!!

“UHUK! UHUK!” Shin You memuncratkan wedang jahe yang sedang diminumnya tepat ke arah Jinki yang duduk di samping kanannya—yang baru saja menjawab pertanyaannya. Minho langsung panik dan menepuk-nepuk punggung Shin You dengan bantal yang tergeletak di belakangnya. “YA! OPPA KAU MENYAKITIKU!!” teriak Shin You pada Minho.

“Ya Yayange, gitu aja marah. Maap lah.. Habis panik sih. Lagian ngapain kamu tiba-tiba nyemburin itu wednag jahe ke mukanya—“ Minho melirik Jinki pelan sambil menggantungkan kalimatnya. Dilihatnya Jinki dengan mata terpejam dan muka basah bekas semburan Shin You.

“Aku rasa aku akan bahagia jika aku menjadi anak tunggal saja.” Gumam Jinki sambil mengambil tissue dari kotak tissue dan membersihkan wajahnya.

“Lho? Ini juga salah kalian semua! Masa cuma hukuman kaya gitu aja kalian ribet sih? Nih ya, bayangin! Cuma disuruh berdiri di lapangan selama dua jam sampai waktu istirahat! Kita bisa curi-curi kesempatan buat duduk atau pergi ke kantin. Kalian kan tahu, ngga ada guru yang nganggur selama jam pelajaran dimulai. Otomatis, kita mau nakal-nakal dikit, ngga akan ada yang ketahuan! Terus juga, bukannya malah enak ngga ikut pelajaran di kelas? Kita bisa santai. Lha terus kita jadi ngga perlu mempercepat proses penuaan otak kita karena pusing mikirin pelajaran. Terus-terus, kita kan jadi awet muda. Terus-terus, kita kan jadi bisa main, jajan di kantin sepuasnya. Terus-terus, aku bisa pacaran sama Abang Minho. Terus-terus—“

“ARRGGH!! Shin You berisiiiiiikk..!! Terus-terus mulu! Kau obsesi jadi tukang parkir, huh?!” umpat Yurra yang langsung tersadar dari pengaruh keprengusan ketek Jinki.

“Wah, Nae Dongsaeng! Irreonasseo (Sudah sadar)?? Waaah.. SYUKURLAH.” Syukur Jaejoong dengan wajah bahagianya yang baru pertama kali Yurra lihat.

Neo waeyo? Isanghae (Aneh)..” cibir Yurra sambil mengelus-elus kepalanya yang masih sedikit pusing.

Noona, kecerewetanmu menjadi obat penyembuh bagi Yurra Noona. Kereeennn..!!” kata Yoo Jin turut berbahagia namun dengan tatapan prihatin yang ia tujukan pada Shin You. Shin You mendelik ke arahnya.

“Sudahlah.. Jangan berlebihan. Efek keprengusan ketekku tidak separah yang kalian bayangkan.” Bela Jinki untuk keteknya  dirinya sendiri dengan gaya sok santainya.

“Eits, tidak parah? Wah, ngaco kamu, Hyung! Yurra sudah kau jadikan tumbal, sekarang lempar batu sembunyi muka. Lagian, ini sudah terjadi. Jadi bukan hanya bisa kita bayangkan saja!” kata Minho yang masih lengket mengalungkan sebelah tangannya di bahu Shin You. Jinki mendengus-ngus-ngus prengus mendengarnya!

“Eh, balik ke topik utama. Jadi, gimana?” tanya Jaejoong dan Yurra kompakan. Mereka saling pandang, lalu membuang muka, salting jadi akur begitu.

“Ya dijalani saja, tho? Kita berenam inih. Tidak masalah menurutku.” Jawab Shin You.

“Itu menurutmu! Bagaimana dengan image siswa teladan yang selama ini menjadi nama belakangku? Yang selama ini aku emban? Bisa-bisa pamorku turun!” kesal Jinki. “Kalau murid-murid melihatku mendapatkan hukuman yang tidak keren sekali seperti itu, mau ditaruh dimana mukaku?”

“Aku bersedia menyimpan mukamu di tong sampah, Jinki­-ya..” timpal Jaejoong cepat. Jinki mengangkat kepalan tangannya, berpura-pura ingin menjitak Jaejoong.

“Iya. Bahasamu tinggi banget, Hyung. Image yang selama ini kamu emban? Biasanya juga jadi mbok emban anaknya tetangga sebelah.” Tambah Minho sambil terkikik keras dengan Shin You, membuat Jinki merasa dongkol setengah mampus.

“Lagipula, kan sudah ada Yurra Eonni yang akan menyemangatimu. Benar kan, Eonni?” goda Shin You sambil melirik Yurra yang balas menatapnya dengan tatapan cengo.

“Hah? Maksudnya apa??” tanya Yurra polos, yang masih belum menangkap dengan jelas ke mana arah perkataan Shin You.

“Apa, katamu? Apem, kali!” jawab Shin You nglantur saking kesalnya dengan kecengo’an Yurra.

“Oke, jadi gimana?” tanya Jinki, mencoba mengkonfirmasi keputusan semuanya.

TIK TOK TIK TOK TIK TOK!

Hening.

Yoo Jin memandangi kelima manusia di hadapannya. Yoo Jin mendesah.

“HENING CIPTA MULAI!” serunya sambil mengangkat kedua tangan di depan dada dan menggerak-gerakannya seperti seorang dirigen (conductor).

“Dengan seluruh angkasa raya memuji pahlawan negara… Nan jujur rema—“

PLETAK!

Jinki mengelus kepalanya akibat mendapat jitakan dari Shin You.

Ya! Tidak sopan!” amuk Jinki.

“Lalalalala~ Jinki sangtae….” Koor semuanya, minus Jinki. Yoo Jin terkekeh senang, berhasil mengerjai Jinki.

Dwaesseo! Kita terima hukuman itu dengan berat hati dan laksanakan dengan gerilya kabur!” putus Jaejoong mantap.

MWOHAE??!!” seru semuanya kaget menyambut keputusan Jaejoong. Jaejoong adalah yang tertua dari semuanya yang berarti keputusan Jaejoong adalah keputusan yang paling mutlak!

***

Pagi ini TRIO PALAK dan TRIO JaeJinHo (Jaejoong-Jinki-Minho) berangkat bersama ke sekolah. Tidak seperti biasanya. Biasanya Yurra berangkat sendiri ke sekolah dengan menaiki becak kendaraan pribadinya. Sedangkan Jaejoong biasanya bawa mobil bobroknya ke sekolah. Mobil yang bunyi knalpotnya seperti bunyi knalpot vespa tua. Bret ebret ebret ebret, begitu bunyinya. Malah seperti orang kentut yang lama ngga kentut setahun.

Lalu, Jinki dan Shin You. Mereka si sudah biasa berangkat bersama setiap hari ke sekolah. Tapi biasanya pulangnya itu yang sendiri-sendiri karena Shin You biasa nglencerin Minho dulu tiap pulang sekolah. Biasa.. Cewe genit yang sangat bersemangat meraih cintanya—apaan nih author gaje?? =.=”

Nah, kalau berangkat sekolah mereka biasa bersama menaiki sepeda mini milik Shin You dengan alasan go green. Untuk alasan yang satu itu.. Cukup waras, bukan?

Bagaimana dengan Yoo Jin dan kakak tercintanya, Minho? Tentu saja Minho akan menjawab dengan tegas, “ANDWAE!!” setiap kali Yoo Jin merengek minta berangkat bersama ke sekolah naik motor sport berwarna biru milik Minho yang terlihat kinclong karena tiap hari mendapatkan perawatan khusus dari Minho. Kenapa Minho menolak? Alasannya karena Yoo Jin itu gemuk! Jadi Minho takut jok motornya jadi kempes karena keberatan, begitu juga dengan nasib kedua ban motornya yang ia khawatirkan akan meletus di detik pertama pantat Yoo Jin bertengger di jok motornya. Alhasil, Yoo Jin hanya merengut dan merelakan dirinya naik angkot tetangga sebelah yang juga bunyinya bret ebret ebret ebret itu.

Dan pagi ini adalah pemandangan yang langka bagi yang melihat mereka berenam. Mereka semua yang memang orang kaya akhirnya memutuskan untuk memamerkan kekayaan mereka dengan datang ke sekolah menaiki mobil limmosine milik keluarga Jaejoong dan Yurra. Biasanya mereka suka pamer kemiskinan, sekarang, karena hari ini adalah hari yang special untuk mereka maka mereka memutuskan untuk berangkat ke sekolah dengan cara yang ‘wah’ seperti itu.

“Yaelah, mau dapet hukuman distrap di lapangan sama Kang Seonsangnim aja pake segitu gayanya.” Celetuk seorang siswa yang berjalan melewati mereka dengan nada sinis. Jinki yang paling merasa tidak nyaman dengan adanya hukuman itu langsung naik pitam mendengar ocehan murid namja sok ganteng itu.

“Ugh, lebih baik bergaya daripada norak kaya dia! Lihat aja dandanannya, kaya baru kecebur di got!” umpat Jinki lirih. Yurra yang berdiri di sampingnya ikut mendengar dan mengelus-elus bahu Jinki lembut.

“Sudahlah, Yadong Namja.” Sontak Jinki menoleh, menatap kedua mata berbelek besar Yurra. “Relakan saja jika pamormu nanti turun karena hukuman itu. Lagipula, tidak pantas jika murid berprestasi itu memiliki bibit yadong sepertimu.” Kata Yurra sedikit menghibur tapi banyak menghina.

Chagiya.. Kau sungguh sangat sekali perhatian padaku. Matur nuwun sanget, nggih?” Yurra mendengus sebal mendengar jawaban Jinki. Niatnya ingin membuat Jinki semakin dongkol, tapi justru Jinki terlihat super-duper bahagia dengan hinaannya.

“Dasar sinting!” olok Yurra lalu berjalan masuk ke dalam gedung sekolah bersama anggota TRIO PALAK lainnya yang menyaksikan peristiwa cakap-bercakap antara Yurra dengan si Namja Sipit Berimage Yadong alias Jinki.

 

Eonni, sepertinya kau terlalu kasar menyikapi tingkah kekanakkan kakakku.” Kata Shin You setengah mengomel. TRIO PALAK melanjutkan obrolan mereka sambil berjalan menuju kelas.

Mwo? Ini sudah tanggapan yang terlalu halus yang aku berikan padanya. Apa kau tidak ingat dengan tragedi ketek prengus miliknya yang merenggut kesadaran diriku secara abnormal semalam? Bagaimana pun aku dendam padanya. Huh!” kesal Yurra dengan wajah yang memerah dan tatapan mata yang berapi-api.

“Saat kau pingsan, kau tidak mendengar apa alasan Jinki Oppa menarik wajahmu ke dalam dekapan keteknya itu, Noona. Jadi kau tidak bisa serta-merta marah dan dendam padanya seperti ini.” Kata Yoo Jin berpendapat.  Shin You mengangguk setuju sedangkan Yurra langsung terkesiap dan menatap Yoo Jin menuntut penjelasan lebih.

“Maksudnya? Alasan??” tanya Yurra polos sambil menghentikan langkahnya.

Eo. Alasannya adalah karena Jinki Oppa ingin membuatmu terpesona dengannya dan berubah mencintainya. Aku pikir Jinki Oppa telah memantrai keteknya dengan ramuan cinta khasnya. Yaitu, bubur keteknya yang prengus abiiisss..” Yurra melongo di tempat setelah mendengar penjelasan Yoo Jin yang membuatnya sangat syok. Syok se-syok-syok-nya!!!!

Maja. Mungkin juga dengan mantra seperti ini, Dorunpa Derunpa! Please make Kim Yurra to become nae yeojachingu. Please make my ketek wangi. Bagaimana? Keren, bukan?” sahut Shin You dengan tatapan berbinar. Ia sedang memperbaiki nama buruk kakaknya di mata Yurra. Yurra membulatkan matanya. Dan pada saat yang bersamaan, Shin You langsung mengambil headphone dari tas dan memakainya. Yoo Jin pun tak tinggal diam. Ia juga cepat-cepat memasang headsetnya di kedua telinganya dan menyetel lagu sekeras-kerasnya.

YA!!! KALIAN BENAR-BENAR SINTING!!!” teriak Yurra menggelegar dan menggema di sepanjang koridor kelas. Shin You dan Yoo Jin tertawa termehek-mehek berdua. Sedangkan Yurra langsung melangkahkan kakinya luas-luas lebar-lebar menuju kelasnya. Ia sudah tak mau peduli lagi dengan kedua yeoja sinting seperguruannya itu. “Aiish, mereka menjadi lebih tak waras semenjak kita bersatu dengan TRIO JaeJinHo. Ugh…” gumam Yurra menahan dongkol di hati—apaan??

Yurra melihat pintu kelasnya di ujung koridor kelas murid tahun ketiga. Yurra semakin mempercepat langkahnya, ingin segera sampai di kelas, duduk di bangkunya dan mengubah status PR di dalam buku Matematikanya menjadi PS: Pekerjaan Sekolah.

Namun karena cepat-cepat, ia menabrak seseorang dan ia pun tersungkur di lantai tepat di depan pintu kelas. Yurra meringis dan mengaduh kesakitan.

Mianhaeyo, mianhaeyo. Aku tidak senga—“ kalimat Yurra terputus begitu ia mengangkat wajahnya dan mendapati ekspresi meremehkan yang diberikan oleh murid yeoja di hadapannya sekarang.

“Kuterima maafmu. Tapi, aku sengaja.” Kata yeoja berambut cokelat terang dengan highlight berwarna pirang di bagian poni miringnya. Yurra terperangah mendengar jawaban menyebalkan yeoja itu. Tatapan-tatapan listrik di antara kedua bola mata mereka mulai terpancar dan saling beradu di udara.

“Maksudmu?” desis Yurra.

Well, aku memang sengaja menabrakmu barusan.” Jawab yeoja bereye liner tajam itu sambil mengarahkan telunjuk tangannya ke arah Yurra dengan tatapan tajam setajam silet milik Feni Rose. Yurra mengumpat di lubuk hatinya yang terdalam.

“Apa alasanmu menabrakku? Dan aku baru pernah melihatmu di sekolah ini. Apa kau murid pindahan belagu yang sok-sok mau cari ribut sama ketua geng TRIO PALAK—sama aku, huh?!” amuk Yurra. Namun yeoja itu terkekeh keras.

“Kau akan tahu siapa aku dan apa alasanku menabrakmu. Dan, waaah.. Kau sangat membanggakan jabatanmu sebagai ketua TRIO PALAK ya?” Yeoja itu menyeringai licik. “Bagaimana jika para guru tahu akan kelakuan kalian bertiga yang suka memalak para siswa? Mungkin saja, hukuman kalian akan bertambah.” Yurra tersentak. Ia tidak menyangka yeoja asing di hadapannya begitu mengenal TRIO PALAK sampai sejauh itu. “Terkejut? Bagus!” tambah yeoja itu dengan nada mengolok dan penuh kemenangan.

Yurra diam. Ia tidak ingin membalas perkataan yeoja sinting di hadapannya sekarang. Ia tahu ia harus berhati-hati di hadapan yeoja berslebor (berambut) gaje seperti itu.

Yurra dan yeoja itu tak bergeming cukup lama dengan saling melemparkan tatapan tajam setajam gobet!

Honey..” sebuah suara mengalihkan fokus tatapan kedua yeoja yang tengah beradu mata itu ke arah seorang namja yang berjalan mendekat dan merangkul yeoja sinting itu ke dalam pelukannya. Yurra bahkan melihat namja berambut puith seperti kakek-kakek dengan highlight berwarna pink di bagian tengah poninya itu, mencium kening si Yeoja Sinting dengan sok mesra. Yurra mulai merasa eneg dibuatnya.

“Aaaah.. Akang JB, sekang ngendi baen si, Kang (Dari mana saja, sih)? Tek goleti mbarang mau, ora ketemu-ketemu (Aku cari-cari dari tadi tidak ketemu-ketemu). Klayaban ming ngendi jane? (Pergi tidak jelas kemana sebenarnya)?”

Ngek??? Yurra mengangkat satu alisnya heran seheran-herannya mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari bibir yeoja dari planet Jawa itu. Yeoja medhok? Hahaha.. Ngapak banget bahasanya. Cibir Yurra dalam hati.

“Haha.. Ora ming ngendi-endi koh lah (Tidak kemana-mana kok). Aku be nggoleti kowe koh (Aku juga mencarimu), Honey.” Yurra hampir saja mengumbar tawa kerasnya mendengar percakapan pasangan planet di depannya. Untung saja Yurra bisa menahannya sekuat tenaga.

“Ooohh.. Kaya kuwe? Ya wis, ora papa lah (Ooohh.. Seperti itu? Ya sudah, tidak apa-apa kok), Honeyku Sayang.” Jawab si Yeoja Medhok tadi. Lalu yeoja itu kembali menatap Yurra dengan tatapan tajam. “Heh, ngapain senyum-senyum? Iri ya lihat kemesraanku dengan pacarku? Huh, pacarku ini keren. Memangnya gebetanmu itu yang matanya sipit tapi suka yadong? Oh iya, katanya malah dia suka berkhayal jadi Pangeran Berkuda Ponimu, kan? Aku rasa dia sama setengah warasnya denganmu.” Yurra tersentak, lagi. Dia tahu tentang Jinki juga ternyata. Hmm, dia bukan orang sembarangan. Ini orang lagi ngacung-ngacungin bendera perang sama aku nih! Batin Yurra.

“Sudahlah, Yeoja Planet. Ngga perlu ngurusin urusan orang lain. Urusin aja tuh bahasa kalian yang kelewat ndeso!” kata Yurra lalu berjalan masuk ke dalam kelas. Awas saja kau! Aku akan mendiskusikan hal ini dengan kedua adik perempuanku dan TRIO JaeJinHo. Lalu kami akan  membuatmu resmi menjadi target utama TRIO PALAK!! Kau belum tahu betul siapa kami, Yeoja Belagu! Batin Yurra dengan bangga.

“Kim Yurraaaa… Ugh! Tunggu pembalasanku di lapangan nanti!!” desis yeoja itu dengan mata berkilat.

***

TRIO PALAK dan TRIO JaeJinHo sudah berkumpul di lapangan basket di pagi yang cukup terik sinar mataharinya itu. Beberapa dari mereka mulai tampak bekeringat. Tampak Minho sedang mengipasi Shin You dengan bukunya dan menyeka keringat di kening dan leher Shin You dengan tissue. Sedangkan Shin You hanya perlu menerima perlakuan manis Minho padanya tanpa perlu melakukan apapun. Memang itulah gunanya pacar, lagipula selama ini hanya aku yang perhatian padanya, jadi gantian donk! Kata Shin You kurang dari semenit yang lalu.

Sedangkan pemandangan yang sama juga tampak dari kubu Yoo Jin-Jaejoong. Namun bedanya, Yoo Jin dan Jaejoong saling mengipasi. Saling menguntungkan satu sama lain. Seperti Simbiosis Mutualisme.

Lalu bagaimana dengan Jinki dan Yurra? Mereka berdua terlihat canggung dan menyeka keringat mereka sendiri-sendiri. Sebenarnya tangan Jinki sudah risih dan gatal untuk mengambil tissue dan mengelap keringat Yurra yang sebesar biji-biji salak itu. Tapi Jinki takut Yurra masih marah padanya. Sedangkan Yurra sendiri, diam-diam menunggu Jinki kapan mau membantunya menyeka keringatnya yang kelewat fatal itu. Entah kenapa, Yurra mulai goyah hatinya akan kesangtaean Jinki yang membuatnya kepincut di balik pintu pada Jinki.

Mereka berenam berdiri di lapangan, di bawah sinar matahari yang panas. Satu jam sudah berlalu. Itu artinya, kurang satu jam lagi mereka harus berdiri di sana—merelakan kulit mereka terbakar—dan setelah itu baru mereka bisa terbebas dari hukuman yang bisa menurunkan pamor seorang Lee Jinki.

TAP TAP TAP!

Suara sepatu yang terdengar tegas menginterupsi keenam manusia yang sedang terpaksa menjemurkan diri di lapangan basket itu.

Yurra melongo selebar-lebarnya saat melihat siapa manusia-manusia yang datang dan berdiri di hadapan mereka. Jinki yang melihat reaksi Yurra, langsung mengarahkan sebelah tangannya dan mendorong perlahan dagu Yurra ke atas agar mulutnya tertutup. Alhasil, berhasil. Jinki bernafas lega. Ia tak mau kejadian menelan nyamuk bulat-bulat yang dialaminya semalam kembali terulang pada Yurra.

“Semua Terdakwa, dengarkan saya!” kata seorang namja paruh baya dengan kumisnya yang tebal, badan tinggi basar dan berparas seperti tentara. Tatapan matanya tajam dan perutnya sedikit menggembung. TRIO PALAK dan TRIO JaeJinHo sudah paham betul dengan orang itu. Beliau adalah.. Kang Seonsangnim. Si Guru Ngiller Killer!!! Beliau lah yang memberikan hukuman strap di lapangan!

Nyali TRIO JaeJinHo langsung ciut melihat wajah sangar Kang Seonsangnim.

 

“Ini nih yang ngga asyik banget.” Gumam Minho lirih. “Siap-siap disemprot, Chagi.” Kata Minho memperingatkan Shin You. Shin You mendesah dan mengangguk lemah.

“Jaejoong Oppa, firasatku hancur.” Bisik Yoo Jin pada Jaejoong.

“Maksudmu, ‘buruk’?” tanya Jaejoong. Yoo Jin menggeleng.

Aniyo. Dalam kamus hidupku, tak ada kata ‘buruk’. Tapi ‘hancur’.” Jaejoong memutar bola matanya. Apa banget deh yeoja ini.. Batin Jaejoong heran.

YA!! DENGARKAN SAYA BAIK-BAIK!” seru Kang Seonsangnim lagi.

“Ne..” koor keenam terdakwa itu dengan nada lemah.

“Perkenalkan. Dua orang di samping saya ini adalah murid pindahan dari sekolah hunter di Uni Soviet. Nama mereka adalah Han Nhaena dan Im Jae Bum. Mereka adalah murid-murid teladan dengan segudang prestasi di sekolah mereka sebelumnya karena prestasi hunter mereka yang sudah tidak diragukan lagi.” Jelas Kang Seonsangnim membuat keenam terdakwa tadi mengkerut. “Mereka sudah beberapa kali ditugaskan untuk membunuh atau merencanakan pembunuhan pada target-target mereka. Mereka ini sudah sangat berpengalaman dan terlatih!” tambah Kang Seonsangnim.

 

GLEK!

Yurra menelan ludahnya. Pe-pe-pembunuhan?? Mereka.. Hunter pembunuh?!! Batin Yurra dengan tubuh gemetar.

“Ya. Mereka berdua adalah hunter pembunuh!” lanjut Kang Seonsangnim seolah tahu apa isi pikiran Yurra. Jinki yang melihat tubuh Yurra bergetar langsung saja menggandeng tangan Yurra erat. Yurra tak protes. Tak sempat protes, tepatnya.

“Untuk apa Saem mendatangkan mereka kemari? Mendatangkan mereka dengan alasan akan menjadikan mereka sebagai guru di sini? Cih, aku rasa tidak ada guru di sini yang memakai pakaian yang sama dengan seragam muridnya.” Kata Jaejoong mencibir setelah melihat penampilan Han Nhaena dan Im Jae Bum yang memang mengenakan seragam sekolah mereka layaknya seorang murid. Shin You dan Minho sontak menatap Jaejoong dengan tatapan –nekat-banget-tuh-orang-ngomongnya!-

“Ouw.. Tentu tidak. Perkiraanmu sangat jauh dari apa yang aku rencanakan, Kim Jaejoong. Han Nhaena dan Im Jae Bum akan bersekolah di sini. Ya, mulai hari ini mereka resmi menjadi murid di sekolah hunter kita.” Jawab Kang Seonsangnim dengan seringainya yang sedikit tak tampak karena terhalang kumis hitam tebalnya.

So? Kita-kita di sini—para terdakwa seperti yang Anda katakan—bahkan semua murid di sini, harus seneng gitu? Koprol sambil bilang ‘wow’ gitu? Heboh gitu? Dan menyambut mereka dengan senyum merekah indah di bibir kita gitu? Oh ayolah, itu tak perlu, Saem. Mereka ini hanya manusia-manusia Uni Soviet yang tidak cinta damai. Bikin nuklir, perang, apa deh. Nyebelin, kan? Harusnya diberantas!” Kata Jaejoong dengan nada dan tatapan yang malas. Kali ini, tidak hanya Shin You dan Minho saja yang menatap Jaejoong dengan tatapan tak percaya. Jinki, Yurra dan Yoo Jin juga melayangkan tatapan –ini-orang-emang-beneran-nekat-apa-sakit-sih?-

Kim Jaejoong memang dikenal sebagai hunter terbaik di sekolah mereka. Para guru juga sudah tidak meragukan kepiawaiannya dalam menjadi hunter. Tapi Jaejoong bukanlah hunter pembunuh. Sekolah hunter mereka memang tidak mendidik dan menjadikan murid-murid untuk berprofesi sebagai hunter pembunuh. Melainkan sebagai hunter yang membantu tugas polisi menangkap penjahat. Seperti agen FBI gitu. Dan selain dikenal dengan predikat hunter teladan, Jaejoong juga dikenal sebagai satu-satunya murid yang berani nekat di hadapan guru. Itu rahasia umum. Termasuk pada guru sekiller Kang Seonsangnim, Jaejoong juga tak pernah pernah ada kata ‘nyali ciut’ dalam sejarah hidupnya setiap kali berinteraksi dengan beliau. Baik interaksi langsung ataupun tidak langsung.

“Kau pintar. Kita memang tidak perlu mengadakan perayaan apapun, apalagi pesta penyambutan. Aku yakin Han Nhaena-ssi dan Im Jae Bum-ssi juga tidak berminat dengan hal-hal seperti itu.” Kata Kang Seonsangnim.

 

Ne, geurae maja!” jawab Nhaena dan JB dengan kompak seperti tentara, membuat keenam manusia setengah waras itu sempat terpukau dengan aksi kompak mereka yang terkesan sangat disiplin dan terdidik.

“Jadi, saya membawa mereka datang kemari untuk menjadi tutor kalian sebagai hunter di sini. Selama 3 bulan kalian akan dibebaskan dari rutinitas sekolah, namun sebagai gantinya, kalian harus menjadi murid dari Han Nhaena dan Im Jae Bum demi mengasah dan meningkatkan kemampuan hunter kalian. Ini juga sebagai hukuman tambahan karena kegagalan kalian dalam menyelesaikan misi yang diberikan saat ujian. Tak ada penolakan dan tak ada tawar-menawar. Ini keputusan mutlak dari pihak sekolah dan kalian harus melaksanakannya sampai tuntas! Jika kalian berhasil dan lulus melewati ini semua, kalian akan langsung kami kirim dan diperkerjakan sebagai agen FBI intern, dengan jabatan yang bergengsi. Arrasseo?!” Dan di detik itu juga, tanpa menunggu jawaban dari keenam terdakwa, Kang Seonsangnim langsung berbalik dan menginggalkan mereka berdelapan di lapangan.

“Bagaimana? Kalian setuju?” pertanyaan JB membuyarkan lamunan keenam manusia yang dilanda galau mendadak di hadapannya.

Shin You dan Minho saling pandang, lalu menatap Nhaena dan JB dengan tatapan teramat sangat serius.

“Kami bersedia!” jawab mereka berdua kompak membuat keempat makhluk galau lainnya menganga.

“Bagus!” jawab Nhaena. “Kalau begitu, Lee Shin You, kau harus memotong pendek rambut panjangmu dan mewarnainya menjadi hitam. Itu untuk langkah pertama menjalani tugas berat ini!” Shin You mendelik.

MWO?! ER! Baiklah. Dipotong seperti apa?” tanya Shin You pasrah.

“Potongan lelaki. Tidak lebih dari 5 cm dari lehermu. Mengerti?! Dan siapkan semua senjatamu. Aku akan mengajarimu menjadi penembak jarak jauh.” titah Nhaena.

WHAT THE HEAVEN?!” Kaget Shin You dengan mata melebar. “Sependek itu?!”

“Dan kau, Choi Minho.” Kata JB. Minho lalu menatapnya.

“Ne?”

“Aku dengar kau memiliki kemampuan melompat tinggi yang memukau, bukan?” Minho mengangguk pelan. “Baiklah. Itu bagus. Persiapkan dirimu. Karena aku akan melatihmu dengan hal-hal yang baru. Tak hanya melompat saja. Untuk para namja; Choi Minho, Lee Jinki dan Kim Jaejoong. Aku akan mengajarkan kalian bagaimana caranya menjadi dalang dalam perencanaan misi memberantas kejahatan nasional dan internasional. Dan juga, bagaimana caranya mendeteksi dan mengenali medan target ; memasang perangkap, dan sebagainya.” Jelas Jaejoong.

“ER! Baiklah..” kata TRIO JaeJinHo yang juga pasrah.

“Bagaimana denganku dan Yoo Jin?” tanya Yurra.

“Kalian akan menjadi anggota khusus Uni Soviet setelah tugas ini berhasil kalian selesaikan. Kalian adalah dua orang terpilih—entah beruntung atau tidak—tapi kami memilih kalian sebagai hunter pembunuh dan kalian harus mengabdi pada pemerintah Uni Soviet sepertiku dan JB. Dan kami akan mendidik kalian dengan lebih keras untuk itu.” Terang Nhaena.

MWOHAE???!!!” pekik Yurra dan Yoo Jin bersamaan.

“Oh, tidak! Ini bencana!” gumam Yoo Jin.

“Itu artinya aku dan Yoo Jin akan menjadi musuh dengan Shin You, Minho, Jinki dan Jaejoong Oppa—nantinya??” tanya Yurra sedih. Matanya mulai berair.

“Ya. Begitulah. Ini harus kalian lakukan! Kalian berdua akan menjadi satu tim nantinya. Yurra sebagai otak pembunuhannya, dan Yoo Jin yang akan terjun ke lapangan.” Kata JB. “Karena itu, manfaatkan waktu kebersamaan kalian selama tiga bulan ini sebagai satu keluarga sebelum nantinya kalian benar-benar akan menjadi musuh.”

“Apa-apaan kalian?! Kita tidak ingin menjadi pembunuh!” sergah Yurra cepat.

“Tidak jika kalian ingin kedok kalian sebagai TRIO PALAK terbongkar dan kalian dikeluarkan dari sekolah ini tanpa pernah mendapat ijazah kelulusan. Bukankah sejak awal tujuan kalian bersekolah hanya menuntut ijazah—bukan menuntut ilmu?” sindir Nhaena. Nhaena dan Yurra beradu tatapan listrik lagi.

“YA SUDAHLAH, CEPAT KATAKAN APA YANG HARUS KITA LAKUKAN SEKARANG??!!” kesal Jaejoong. “Yurra-ya, tenanglah dulu.”

“Lepas seragam sekolah kalian. Ganti dengan pakaian yang lain dan masuklah ke dalam sungai samping sekolah. Berendamlah di sana sampai batas waktu yang kami tentukan!! Yang pasti batas waktu itu tidak kurang dari 10 jam lamanya!” titah JB dan Nhaena serentak.

“APA??!! Kita bisa mati kedinginan! Air sungai samping sekolah itu dingin sekali!!” protes Shin You. “Kalian ingin membunuh kami perlahan-lahan, huh?!”

“Tidak mau juga tidak apa. Keputusan semuanya ada di tangan kalian.” Jawab Nhaena santai.

“Kalian psycho!!” amuk Yoo Jin. “Aku tidak ingin bermusuhan dengan Noonaku, kakakku dan teman-temanku!”

“Kami dididik dan dilatih untuk menjadi pribadi yang seperti ini. Salahkan dan protes pada pihak sekolah dan guru kalian saja karena mereka yang telah mempercayakan kalian pada hunter pembunuh seperti kami.” Ungkap JB sambil merangkul Nhaena bangga. “Dan kami juga sudah mendapat izin untuk mengambil dua orang dari kalian sebagai imbalan kami sebagai tutor dadakan di sini. Kami akan membawa pulang kalian berdua sebagai hunter pembunuh siap pakai untuk Uni Soviet.”

“Kalian pasangan, bukan? Cih, hebat sekali! Pasangan pembunuh!” sindir Minho emosi. “Kalian membawa adikku ke dalam lingkaran setan!”

“Tak peduli apa kata kalian. Kami beri waktu 15 menit untuk berganti pakaian dan tidak mau tahu, saat kita sampai di sungai, kalian sudah harus berada di dalamnya!” Dan pasangan hunter pembunuh itu pun berlalu meninggalkan mereka berenam.

“Aku rasa ini karma untuk kita karena kita selalu memaksa dan membuat orang lain susah.” Celetuk Shin You sedih. “Aku pikir, jangan ada lagi TRIO PALAK. Kita harus bisa move on. Harus berubah. Insyaf! Ini hidayah untuk kita.” Lanjut Shin You dramatis.

“Tidak. Jangan insyaf dulu!” sela Jaejoong cepat. “Jangan insyaf, sebelum kita berhasil lepas dari jeratan mereka. Yurra-ya, Yoo Jin-ah, jangan khawatir. Kami akan membantu kalian. 2 orang melawan 6 orang. Aku yakin kita bisa menang. Kita pikirkan rencana yang matang untuk membuat mereka menyerah dan tidak bisa berkutik di hadapan kita. Sementara ini, berpura-pura lah pasrah dan melakukan apapun yang mereka perintahkan. Selama itu, kita menyusun rencana.” Desis Jaejoong. Kelima manusia yang lain pun langsung mengangguk setuju. Mereka memang bangga menjadi hunter, tapi tidak untuk menjadi hunter pembunuh!

***

Waktu tiga bulan telah berlalu, meskipun bagi keenam orang itu, waktu tiga bulan sama lamanya dengan bertahun-tahun mereka disiksa. Mereka lebih memilih menjalani rutinitas mereka menjadi murid biasa di sekolah dibanding mendapat tugas berat seperti ini dengan berbagai pelatihan konyol yang diberikan oleh Pasangan Psycho.

 

Selama tiga bulan itu mungkin sudah ratusan kali mereka harus berendam di sungai dalam jangka waktu yang tidak boleh kurang dari 10 jam, berlari memutari lapangan 50 kali setiap pagi dan sore, berlatih menembak dengan sasaran buah apel di atas kepala teman atau saudara mereka sendiri—yang tentu saja taruahannya adalah hidup, mati atau cacat seumur hidup—latihan fisik yang berat (push up, sit up, back up, stretching, dsb), memasang jebakan (ranjau, bom waktu, bom asap, semuanya). Yoo Jin yang terkenal agresif pun setiap malam menangis. Sungguh derita badan dan mental!

Namun dengan kesabaran tingkat luar biasa, mereka berenam akhirnya menemukan titik cerah secerah matahari di langit untuk rencana rahasia yang akan mereka buat.

Besok adalah hari terakhir mereka menjalani masa pelatihan. Yurra dan Yoo Jin akan dijemput di bandara Incheon oleh orang suruhan dari Uni Soviet sendiri dan dibawa ke Uni Soviet untuk peresmian jabatan. Dan itu lah saat yang tepat untuk membawa Yurra dan Yoo Jin kabur. Jaejoong, Jinki, Minho dan Shin You akan memanfaatkan kemampuan yang sudah mereka dapatkan selama tiga bulan ini untuk melumpuhkan Nhaena dan JB, lalu membawa Yurra dan Yoo Jin kabur. Sehingga mereka tetap mendapatkan ijazah kelulusan dari sekolah hunter tanpa perlu takut dikeluarkan dari sekolah karena mereka telah berhasil menjalani pelatihan memuakkan selama tiga bulan lamanya itu.

Hari H yang menegangkan dan ditunggu-tunggu pun tiba. Semuanya sudah bersiap dengan headset chip di telinga masing-masing. Itu untuk memudahkan mereka berenam untuk berkomunikasi.

Yurra dan Yoo Jin sudah tiba di Bandara Incheon dengan Nhaena dan JB yang mengawal mereka. Mereka menunggu kedatangan pihak dari Uni Soviet sendiri untuk menjemput mereka dan berangkat ke Uni Soviet bersama-sama.

Tampak Yoo Jin dan Yurra tidak membawa koper. Untuk apa? Mereka hanya membawa tas punggung dan membawa satu alat yang akan mendukung rencana mereka.

Yoo Jin dan Yurra duduk diam. Tak ada yang berbicara. Mereka terhanyut dalam pikiran sendiri. Mencoba mengingat-ingat bagaimana rencana mereka dan apa yang harus mereka lakukan jika tiba waktunya nanti.

“Bersiaplah! Tak lama lagi aku akan mengarahkan pistol ke arahmu, Chagiya.” Terdengar suara merdu Jinki dari headset chip yang terpasang di telinga kanan Yurra. Yurra menyeringai setelah mendengarnya. Suara Jinki itu juga terdengar di headset chip yang terpasang di telinga Yoo Jin. Yurra dan Yoo Jin saling pandang dan menyeringai diam-diam.

“Ini akan mengasyikkan! Yurra Noona dan Jinki Oppa akan menjadi musuh dan saling menodongkan pistol masing-masing. Kalian akan seperti Mr. and Mrs. Smith. A couple of war!” gumam Yoo Jin selirih mungkin.

PLETAK!

“Bodoh! Kami terpaksa melakukannya!” omel Yurra.

“Kim Yurra, Choi Yoo Jin. Sepertinya orang suruhan yang akan menjemput kita akan sedikit terlambat. Cuaca kurang mendukung, sehingga pilot pesawat mereka terpaksa mendaratkan pesawat di bandara terdekat. Mungkin akan tertunda sampai sekitar 2 jam lagi.” Kata JB yang baru kembali dari bagian pelayanan informasi bandara. Yurra dan Yoo Jin pura-pura tersenyum dan mengangguk.

“Sudahlah, tidak apa. Menunggu sebentar tak masalah.” Yurra semakin lihai memerankan perannya. Nhaena dan JB pun terlalu polos atau apa—tidak tahu—hingga tak menyadari atau curiga dengan sikap mereka.

DOORRRRR!!!!!

“KYAAAAAAA…..!!!!!”

Suara tembakan terdengar keras dan nyaring membuat semua orang di bandara itu berteriak histeris ketakutan dan berlari cepat-cepat mencari perlindungan. Nhaena dan JB sontak bangkit dan berbalik, merasa terkejut sekaligus melihat dengan panik orang-orang berlarian ke sana-ke mari. Sepertinya hanya mereka berempat saja yang masih tak bergeming di tempat.

YA!! Kalian semua tidak perlu takut! Kami agen FBI yang akan menangkap penjahat yang sekarang sedang berada di sini!” seru sebuah suara keras-keras. Orang-orang yang sedang bersembunyi lalu keluar dari persembunyian mereka dan saling melempar tatapan bingung. “Benar! Kami tidak akan menyakiti orang yang tidak bersalah. Kami pembela kebenaran!” seru suara itu lagi.

“Siapa dia?” gumam Nhaena sambil menyipitkan matanya, mulai memandangi empat sosok yang berjalan perlahan, masuk ke dalam bandara. Mereka menggunakan pakaian hitam-hitam dengan bertuliskan FBI di dada kiri mereka dan masker hitam yang membuat setengah wajah mereka tak tampak.

“Aku pikir salah satu dari mereka berempat adalah seorang yeoja. Tunggu sebentar, apa tidak apa-apa jika kita tetap di sini, Honey?” tanya JB khawatir.

“Ya. Kita jangan melakukan sesuatu yang akan membuat mereka curiga. Yoo Jin, Yurra, berpura-pura lah ketakutan.” Saran Nhaena. Yoo Jin dan Yurra berpura-pura mengangguk.

“Ah, mereka di sana, Jinki Hyung!” kata salah seorang namja dari keempat agen FBI itu. Rambut namja itu panjang seleher dan diikat sebagian ke belakang. Dia adalah Minho yang sengaja memanjangkan rambutnya. Jinki dan Jaejoong mengangguk. Merasa lega telah menemukan yeoja-yeoja pelabuhan cintanya di seberang sana.

Kkaja!” ajak Shin You yang berjalan lebih dulu di depan.

Nhaena dan JB panik.

OMO! Apa mereka telah mengenali kita? Kenapa mereka menuju kemari? Gawat!” gumam Yoo Jin sok panik, mengompor-ngompori Nhaena dan JB yang sukses bertambah panik.

“Ada apa? Kenapa kalian menghampiri kami? Kami tidak tahu dimana dan siapa orang yang kalian incar.” Kata JB berusaha tenang setelah Jaejoong dan kawan-kawan sudah berhadap-hadapan dengan mereka berempat.

“Kami mencari kalian. Kalian adalah target utama kami dalam misi kali ini.” Jawab Shin You.

“Apa buktinya? Kami hanya orang biasa.” Elak Nhaena.

“Coba kami lihat tiket pesawat kalian semua.” Pinta Jaejoong tegas. Nhaena dan JB gelagapan. “Kenapa? Sini, cepat perlihatkan.” Akhirnya Yurra dan Yoo Jin yang memberikan tiket mereka.

“Sudah kami duga. Penerbangan hari ini dengan jurusan Seoul-Rusia. Kalian hunter pembunuh sewaan Uni Soviet, bukan?” terka Jinki. “Baiklah, jika masih tak mau mengaku.”

CKLEK!

Jinki menarik pelatuk pistol yang ada di tangannya. Nhaena dan JB mulai ketakutan.

“Kau ingin mati saja, Nona Kim Yurra?” Jinki melepaskan masker di wajahnya dengan satu tangannya yang bebas dan menyeringai puas. Nhaena dan JB tersentak ketika melihat wajah Jinki dan melihat ketiga wajah lainnya yang sangat mereka kenal ada di hadapan mereka.

“Ke-ke-kenapa kalian….?” Tanya Nhaena tersendat.

“Masih ingat dengan ucapanmu tiga bulan yang lalu, Nhaena-ssi? Kami berempat akan menjadi musuh mereka berdua. Dan hal itu akan terealisasikan hari ini.” Kata Shin You sambil menatap tajam Nhaena. “Kalian berempat musuh kami sekarang!”

“Ohh.. Kalian ingin menangkap kami? Hmm.. Sepertinya kami tidak boleh diam saja.” Sela Yurra dan sepersekian detik kemudian, Yurra dan Yoo Jin mengambil pistol mereka dari dalam tas dan dan mengarahkannya pada Jinki dan Jaejoong. Jaejoong ikut mengarahkan pistolnya ke arah Yoo Jin sambil mengedipkan matanya nakal.

“Hei, apa kalian serius? Tunggu, Yurra, Yoo Jin! Bukankah Jinki dan Jaejoong adalah kekasih kalian? Bagaimana bisa kalian saling menodongkan pistol seperti ini?!” protes JB. “Kalian saling mencintai, bukan? Ini beneran serius??”

“Rongrius malah.” Jawab Jinki dan Yurra gamblang.

“Tapi—“

DUARRR!!!

Seketika suara ledakan terdengar di antara mereka dan kepulan asap putih mulai bermunculan, menghalangi penglihatan Nhaena dan JB.

“Uhuk! Sial! Ini jebakan!” umpat JB yang langsung menarik tangan Nhaena untuk mengikuti langkah cepatnyanya. “Gagean mlayu (Cepat, lari), Honey!!”

“Hei, apa kau tidak salah pegang tangan orang?”

DEGH!

Ngek??

TIK TOK TIK TOK TIK…

JB menghentikan langkahnya dan tersentak. Begitu kepulan asap menghilang barulah ia melihat wajah manis Shin You berada di hadapannya.

“Ini bukan tangan Nhaena. Tapi tanganku. LEE SHIN YOU!” seru Shin You semangat sambil menyeringai puas.

DOORRR!!!

“Arrghh..” erang JB karena peluru dari pistol bius mengenai lengannya. JB ambruk. Pingsan.

“Aduh, katanya hunter pembunuh kelas gurameh—bukan kakap saja—tapi gampang diperdaya begini.” Cibir Shin You heran.

Sedangkan di sisi lain…

“Hei, apa yang kau lakukan, huh?!” teriak Nhaena saat Minho mengunci kedua tangan Nhaena di balik punggung gadis itu dengan genggaman satu tangannya saja. Minho tertawa renyah.

“Err.. Selingkuh denganmu??” Nhaena terbelalak saat Minho meniup telinganya.

Mwo?! Edan kowe! Pancen mesum! Uculna, ra?! Uculna!!” *bahasanya Nhaena ancur banget! 😀

“Ora iso…!!” jawab Minho sambil termehek-mehek. Minho lalu menancapkan sebuah suntikan  di lengan Nhaena, membuat yeoja itu lemas dan pingsan. “Haha.. Teler kowe saiki!” Minho melingkarkan satu lengannya di leher Nhaena dan memapah yeoja itu. “Lho, Chagi. Si Namja Berambut Alay mana?” tanya Minho ketika melihat Shin You kembali dengan tangan kosong.

“Tuh, di sana. Aku biarin jadi tontonan orang. Nanti dia bangun juga nyariin kita. Kan Honeynya ada sama kita.” Minho manggut-manggut.

“Wis mbok? Rampung kiye? Pegel kiye tangane..!!” Pertanyaan Jinki membuat Minho dan Shin You menoleh ke arahnya dan tertawa sambil mengangguk *apa ngga aneh ya? Bayangkan saja! ^^v

Jinki, Yurra, Jaejoong dan Yoo Jin menurunkan tangan mereka yang masih memegang pistol. Misi berhasil! BERHASIL, BERHASIL, HOREEE!! *TRIO PALAK THE EXPLORER

Hanya dengan modal menodongkan pistol saja, semuanya beres. Entah rencana yang brilliant atau rencana konyol, yang jelas hal itu berhasil membuat JB dan Nhaena panik setengah tewas. Mereka akhirnya bisa bernafas lega dan kembali berkumpul dengan selamat. Tak lupa, akhirnya JB dan Nhaena mereka juga bawa pulang sebagai oleh-oleh.

***

“Edan kowe padha ya (Gila kalian semua ya). Nglomboni aku karo JB ‘ik (Menipu aku dan JB nih)!” umpat Nhaena saat mereka semua sedang berkumpul di ruang tengah rumah Shin You dan Jinki sambil makan gorengan dan minum jahe susu.

“Haha.. Yang penting kalian jadi bisa insyaf dari hunter pembunuh kelas gurameh. Dan dapet teman baru kaya kita-kita. Iya, ngga?” kata Jaejoong sambil melirik teman-temannya.

“Iya. Teman baru yang crazy. Oh, Tuhan. Kenapa aku dan Nhaena jadi banting setir menjadi seperti ini?” sedih JB.

“Alaaaahh.. Ngga selebay itu kali. Ini kehidupan yang lebih bebas, santai dan menyenangkan daripada tiap hari terus-terusan mikir gimana caranya buat ngebunuh orang.” Kata Yurra sambil mencomot pisang goreng kelimanya.

Yeobo, jangan rakus! Ingat, aku tak ingin menikahi perempuan yang makannya banyak!” kata Jinki. Yurra hanya mendengus tak peduli.

“Nah, semua ini berawal dari palak-memalak. Dan akan berakhir dengan palak-memalak juga kalau begitu.” Kata Shin You sambil mengedipkan matanya misterius.

“Aku merasa hawa di sekitarku menjadi suram.” Komentar Minho. Shin You menyenggol lengan tangan Minho, sebal.

“Ah, aku tahu maksudmu Noona. Ini akan menjadi peristiwa palak-memalak yang terakhir kalinya bagi TRIO PALAK sebelum bertaubat ‘kan?” tebak Yoo Jin.

“Terakhir? Aku tak yakin. Yang jelas, target utama kita kali ini adalah…” Yurra menggantungkan kalimatnya sambil tersenyum penuf nafsu.

“JENG JENG JENG JENG….!!!” Koor Jinki dan Jaejoong bersamaan.

“Jangan katakan kalau itu aku dan JB?” selidik Nhaena. TRIO PALAK hanya saling pandang, tersenyum aneh dan….

“AYO SIKAT HABIS MEREKAAAA!!!” Seru TRIO PALAK sambil mengambil langkah segoceng dan merampas semua barang bawaan Nhaena dan JB malam itu. Sedangkan TRIO JaeJinHo hanya tertegun pasrah. Begitulah kekasih-kekasih mereka. Agresif, pemaksa dan suka memalak! Tapi pada akhirnya, from malak with love, juga kan??

“KYAAA!!! JANGAN TARIK RAMBUTKU! KALIAN GILA INGIN MEMALAK RAMBUT KERENKU, HUH?! Ah tidak itu lipstick etude house milikku! Itu bekas dipakai Key SHINee!! Andwae!!!” pekik Nhaena.

“Jr, lontong aku eh—tolong aku!!!” teriak JB perustrasi, meminta tolong teman satu timnya yang entah dimana, saat Trio JaeJinHo juga ikut memalaknya. “Aaahhh.. Jangan!! Kalian yaoi semua!! Jangan lepas bajuku! Hey, itu hoodie merek Maypole yang Taemin SHINee pakai!! Jangan!! Ah celana kolorku juga! Jangan…!!!”

BRAK!

Pintu rumah seketika terjeblak! Terbuka lebar!

“Kalian menyebut nama kami?” Tiga orang namja muda yang sangat tampan dan terlihat bersinar, masuk ke dalam rumah dan mengagetkan kedelapan manusia yang sedang bergumul berkumpul dan sibuk dengan aktifitas memalak mereka masing-masing.

TIK TOK TIK TOK TIK TOK!

Krik.. Krik.. Krik..

“Key? Taemin? Jr? Kenapa kalian kemari?” tanya Jinki, Minho, JB dan Jaejoong bersamaan.

Hyung-deul, drama gila kalian ini sudah selesai, Hyung! It’s over! Ini episode terakhir.”

Mwo?! Jadi ini hanya drama??” cengo Jinki.

“YAK! CUT! OKE, NICE JOB!” teriak sutradara sambil bangkit dari duduknya dan memberikan tepukan kaki tangan pada semua artis dan para staff dalam drama ABAL tersebut.

TIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTT….. *sensor*

SUDAH BERAKHIR? YA! TERIMA KASIH SUDAH MEMBAYANGKAN SAJA FF INI. ^^v

-Wis Rampung alias The End-

 

Berasa gaje dengan endingnya? Namanya juga ff gaje, endingnya juga gaje donk. Ternyata mereka semua itu sedang main drama ya? Lagi syuting, gitu. Haha.. Termasuk cast-cast yeojanya itu ceritanya juga artis. Ada yang baru mudeng (mungkin) setelah aku tulis kaya gini.

Well, ini ff gaje dengan jumlah halaman terpanjang yang pernah aku bikin. #sigh

Makasih sudah menyempatkan waktu luang Anda yang berharga untuk membaca ff abal nan hancur ini. 😉 Semoga tidak mengecewakan dan tetap menghibur. Bagaimana? Sebenernya aku ada rencana mau buat kelanjutan ff ini. Setuju? Tapi tergantung dari readers juga. Kalo responnya positif, aku lanjutin. Dan terakhir. Ucapkan selama tinggal untuk TRIO PALAK, TRIO JaeJinHo, Nhaena dan juga JB. Bye-bye! ^^ #dadahdadah

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

7 thoughts on “From ‘MALAK’ With Love..??”

  1. Huahahaha,,,,
    bahasanya itu lohh!
    Walo ada yg aku gak ngerti juga.
    Lebih ngerti bahasa yg kromo malah.

    Awal2nya sih msh biasa aja,. Baru mulai ngakak itu bagian k**** pr****s punya Jinki#gak tega ngetiknya xD

    lanjut2, kalo bs next chapt si Taemin dpt scene ya!#maruk

  2. NGAKAK!!! XD
    Bahasanya ancur semua wkakakkaka
    semuanya ngak ada yg waras! lebay hahhah
    mana nhaena sama jb promosi iklan lg… etude sama maypole…
    sumpah jd guling2 baca ini…
    wkakkaka LOL diakhir key, taem sam jr numpang eksis hahaha

  3. komen apa ya… BAYANGKAN SAJA! *ditimpuk author* ._.

    LOL… lucu banget wkwk :
    somplak! apalagi bagian keteknya onyu ama hoodienya Taemin ama lipstickny Key… XD

  4. wah……..
    bahasanya aku ngak ngerti *bukan org jowo*

    tapi ceritanya lucu banget thor…..

    KEREN….. DAEBAK….!!!!

  5. Wuakakakkkkk thor!!! Sumpah somplakkkkk…gokil bnget XD ketawa2 kayak org gila baca ini!!! Apalagi yg adegan minho ama nhaena yg pake bahasa jawa(?) tegal ya? XD wkkk *soalnya aq org jatim loh -_- tp bhsa jawanya ga gitu :p ..wkkkkwkk yg jelas daebakkkkkk!!!!!! Bikin lagi donk!!! #todongpakegolok!

  6. Oppaku emang rada sangtae tapi nggak jorok! # hiks! hiks!
    jangan minta kau ngebayangin itu. JANGAAAAAAAAN! # sekali lagi. NGGAK MAUUUU!
    rasanya mau muntah… jijik.

    tapi buat yang lain daebak deh! apa lagi pas ngoming jawa. super medok ampe aku cekikikkan. and aksinya. whoaaah!

    lanjut ya thor!!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s