Secret Wish – Part 8

Title                 : Secret Wish part 8

Author              :Azumi Aozora  and Kunang

Main Cast         : Kim Mi Young, Kim Min Ah, Jo Kwang Min, Jo Young Min, Lee Taemin

Support Cast    :Choi Minho, Cho Kyuhyun, Yesung, Yang Seungho, Jung Il Woo dll

Length             : sequel

Genre              : Family, romance, life, friendship,

Rating              : PG-15

Summary        : Kim Mi Young dan Kim Min Ah adalah 2 yeoja yang jadi idola di Anyang High School. Mereka berdua sama-sama cantik dan berprestasi, tapi dalam diri mereka, mereka tidak puas dengan keadaan diri mereka. Min Ah dan Mi Young terlihat saling membenci satu sama lain, tapi dalam lubuk hati mereka sebenarnya mereka iri dan ingin bertukar posisi. Bagaimana kalau keinginan mereka terkabul? Check out! ^,^

Eight Secret by Azumi

Resume Part 7

Jo twins semakin curiga dengan perubahan sikap Min Ah dan Mi young hingga mereka mencapai kesimpulan bahwa Mi young dan Min Ah bertukar tubuh, tapi ketika mereka bertanya pada Kyuhyun songsaeng, namja itu hanya bilang agar mereka menjaga Min Ah dan Mi young. Di lain pihak ingatan masa lalu Tae Min semakin menguat dengan kemunculan saudara tiri Tae Min yang ternyata memang berniat menyakiti Tae Min juga Mi young dan Min Ah.

 Previous Part

=======================Author PoV=====================

Seorang namja tampan yang tak lain adalah kakak tiri pangeran Tae Min memperhatikan kerumunan meja dari jendela lantai 3. Dia menggenggam pot bunga besar dari tanah liat. Ya… dia akan mencoba menghabisi salah satu putri. Namja tampan ini memiliki kemampuan untuk mendengarkan dari jarak jauh, dan dia dapat mendengar kalau salah satu dari putri akan memesan makanan, yang berarti akan berjalan dekat atau melewati bagian bawah jendela lantai 3.

Dan benar saja salah satu dari kedua putri tak lama kemudian berdiri, dan ketika dia akan melewati jendela lantai 3, namja itu menjatuhkan pot bunga yang ia yakin akan kena tepat di kepala yeoja itu.

‘psyuhhhh……………………BRAK’!!

 

Part 8 by : Azumi Aozora

========== Min Ah PoV =============

Sebenarnya aku sedikit kecewa karena Tae Min Oppa ternyata mengajak Mi Young juga. Tapi kehadiran Young Min dan Kwang Min membuatku merasa tenang. Meskipun aku tak bisa berhenti tersenyum geli melihat penampilan Young Min yang terlihat seperti seorang Putri. Dia sangat cocok memakai dress dan wig panjang itu.

“YAAAA!! Berhentilah menertawakanku!” protes Young Min sambil menatapku dan Mi Young. Mi Young terbahak-bahak, sementara aku sekuat tenaga  berusaha menahan tawa.

Mi Young banyak merekomendasikan menu-menu lezat pada Tae Min Oppa. Sementara si kembar melihat-lihat menu dengan malas.

Mataku tertuju pada sebuah spot unik di pojok ruangan besar itu, dengan kursi-kursi besar dan lebar berbentuk cangkir. Terdapat 4 buah kursi berbentuk cangkir dengan bantal empuk yang terlihat nyaman, mengelilingi sebuah meja. Benar-benar cozy. Di depannya ada sebuah bar kopi. Ah, sayang sekali tempat duduknya hanya ada 4, sementara kami berlima. Dan nampaknya akan sulit menyeret satu saja kursi besar, kokoh, namun terlihat empuk itu.

Aku baru saja hendak berbalik ke tempat Mi Young dan yang lain duduk, ketika tiba-tiba saja aku merasa bulu kudukku meremang, dan kejadian itu terjadi begitu saja dengan sangat cepat.

Terdengar suara pecahan kaca. Ratusan serpihan bunga Kristal beserta pot besar yang terbuat dari Kristal berserakan di lantai marmer café itu.

Aku merasa dadaku sesak. Ada seseorang yang memelukku dengan sangat erat sehingga rasanya sulit bagiku untuk bernafas.

“Gwenchana?” tanya sebuah suara lembut.

Aku mendongak dan menatap kedua bola mata Tae Min Oppa yang terlihat cemas. Aku pun mengangguk.

“Tidak ada yang terluka? Apa kau benar baik-baik saja?” tanya Tae Min Oppa cepat.

Sekali lagi aku mengangguk.

“Mi Young!!!”

“Mi Young!!”

“Min A.. eh.. Mi Young!!!!!!”

Young Min, Kwang Min, dan Mi Young berteriak sambil berlari mendekati aku dan Tae Min Oppa yang masih memelukku.

“Jangan mendekat! Bisa saja serpihan Kristal-nya melukai kakimu!”

Mi Young berhenti. Terkejut karena bentakkan Tae Min Oppa barusan.

Aku juga terkejut. Tidak biasanya Tae Min Oppa bersikap kalut dan berbicara dengan nada tinggi seperti sekarang ini. Tae Min Oppa biasanya berbicara dengan lembut dan selalu bersikap tenang. Tapi anehnya, aku seolah tidak merasa asing dengannya. Justru Lee Tae Min seperti inilah yang entah kenapa terasa akrab denganku.

Tae Min Oppa menggendongku dengan posisi menyamping.

“Sebaiknya kita segera pergi dari sini!” nada bicara Tae Min Oppa terdengar gusar.

“Oppa, hati-hati.., kau juga akan menginjak….” Pekik Mi Young. “Kristalnya.” Tambahnya pelan, karena percuma saja. Tae Min Oppa keburu menginjak pecahan Kristal itu, dan berlari dengan cepat keluar dari café, sambil masih tetap menggendongku.

Aku tidak bisa bicara apa-apa. Saat ini rasanya otakku buntu.

Ada apa denganku? Mengapa tiba-tiba saja aku merasa sedih? Dan mengapa bayangan-bayangan aneh itu terus terlintas di otak-ku?

Kenapa aku merasa seperti mengalami de ja vu?

Aku yakin aku pernah mengalami kejadian seperti ini.., digendong oleh Tae Min Oppa seperti ini. Melihat wajah kalutnya seperti ini. Tapi perasaan sedih apa yang kurasakan ini? Kenapa aku tiba-tiba merasa hidupku tidak ada artinya lagi? Perasaan ini datang dari mana?

Satu hal yang pasti, perasaan ini bukan akibat kejadian barusan.

Apakah perasaan sedih itu adalah perasaan yang pernah kurasakan di kehidupanku yang sebelumnya?

Apakah di kehidupanku yang sebelumnya aku mengenal Tae Min Oppa?

“Masuklah!” entah datang dari mana, tiba-tiba saja Yesung seonsangnim sudah berdiri di depan café. Sebuah mobil SUV putih terparkir di sebelahnya.

Tae Min Oppa sempat menatap Yesung seonsangnim agak lama, sebelum akhirnya mendudukkanku di kursi dan dia pun duduk di sebelahku.

“Seonsangnim. Kenapa seonsangnim ada di sini?” tanya Mi Young.

“Aku akan mengantar kalian. Masuklah.” Perintahnya dengan nada datar. Mi Young, Young Min, dan Kwang Min yang kebingungan akhirnya masuk juga ke mobil dan duduk di depan aku dan Tae Min Oppa.

“Mi Young, kau baik-baik saja?” tanya Young Min padaku. Langsung membalikkan badannya, menatap kami. Begitu juga dengan yang lain.

“Untung Tae Min Oppa bergerak cepat. Tapi Oppa.., apa kakimu tidak berdarah? Kau hanya memakai sandal! Dan sepertinya pecahan kristal itu mengenai kakimu.” kata Mi Young.

“Aku baik-baik saja.” Jawab Tae Min Oppa dingin. Pandangannya kosong, seolah sedang berada di dunia lain.

Aku membungkuk untuk mengecek. Tae Min Oppa terkejut ketika aku mengangkat kakinya. Bersih. Tidak ada serpihan sama sekali.

“Aku baik-baik saja.” Tae Min Oppa tersenyum.

Aku menatapnya tak percaya.

“Hmm.., aneh.” Gumam Kwang Min. “Bagaimana pot Kristal sebesar itu bisa tiba-tiba jatuh? Dan setahuku…, Kristal tidak akan hancur sampai menjadi serpihan sangat halus seperti itu bila hanya jatuh dari ketinggian beberapa meter. Apakah sebelumnya Kristal itu hancur dulu sebelum terjatuh ya?”

“YAAAA!! Kwang Min! Sekarang bukan waktunya ber-teori!” bentak Young Min.

“Tapi syukurlah sunbae bergerak sangat cepat. Pecahan Kristal kecil itu akan sangat berbahaya kalau langsung mengenai kepala orang.” Kata Kwang Min lagi. Mengabaikan Young Min yang menatapnya sebal.

“Mi Young.., bagaimana kalau kita makan spagetthi di tempat makan favoritmu saja?” tanya Kwang Min. Seolah merasa bersalah karena sejak tadi ia hanya mementingkan logika.

“Rumah sekarang adalah tempat yang paling aman.” Kata Tae Min Oppa tegas dan dingin. Pandangan matanya bertemu dengan Yesung seonsangnim lewat kaca spion.

“Aku akan mengantar kalian pulang ke rumah kalian masing-masing.” Kata Yesung seonsangnim. Mobil melaju semakin cepat.

Aku menatap Tae Min Oppa dari atas ke bawah, mengecek keadaannya secara diam-diam. Saat aku menatap tangannya (yang ia masukkan ke dalam saku coat), aku tersentak. Cepat-cepat aku menarik tangan Tae Min Oppa dari coat-nya. “Oppa.., tanganmu…” bisikku.

Tangan Tae Min Oppa seperti habis terbakar. Merah gosong dan kulitnya mengelupas sebagian. Tae Min Oppa meringis kesakitan ketika aku menyentuh tangannya.

“OPPAAA!! KAU HARUS KE RUMAH SAKIT!!” Pekik Mi Young, yang tiba-tiba berbalik lagi ke belakang karena mendengar perkataanku.

Tae Min Oppa tersenyum. “Aku baik-baik saja.”

“Yesung seonsangnim, bisakah kita ke rumah sakit dulu?” tanya Mi Young.

“Kita akan mengantar kau dan Min Ah pulang dulu.” Kata Yesung seonsangnim tegas. Mi Young – entah kenapa terlihat ciut di depan Yesung seonsangnim. Ia pun hanya mengangguk.

“Kenapa tangan sunbae seperti habis terbakar? Padahal tadi tidak kenapa-kenapa. Kristal tidak akan membuat tangan terbakar kan?” kini giliran Kwang Min yang bawel.

Tae Min Oppa menatapnya tajam, seolah berkata : “Diam kau! Kalau tidak akan kucekik!”

Selama sisa perjalanan itu, Tae Min Oppa hanya memandang ke luar lewat kaca mobil.

Detik itu juga, tiba-tiba saja ia terasa sangat jauh dariku….

==== End of Min Ah POV =====

====== Tae Min POV =====

Orang bernama Jo Kwang Min itu benar-benar bawel! Dia bisa saja berprofesi menjadi detektif atau apalah yang suka mencampuri urusan orang lain dan selalu ingin tahu serta berasumsi dengan teori-teorinya!

Untung saja Min Ah, Mi Young, dan Young Min tidak menanggapi si Kwang Min itu dengan serius. Mungkin Min Ah dan Mi Young lebih fokus karena khawatir padaku daripada fokus mencari tahu mengapa tanganku seperti habis terbakar. Sementara Young Min tentu saja tidak akan peduli seandainya saat itu juga aku mati. Mungkin dia malah akan bersyukur.

Tanganku sudah terasa sangat sakit dan melepuh ketika aku menyentuh Min Ah. Ditambah saat aku menggendongnya.

Semua ini karena ulahRaja Yesung yang terlalu protektif itu! Cih! Memangnya dia sekarang ini siapanya Min Ah dan Mi Young? Dia hanyalah “ayah masa lalu dan ayah tidak penting” bagi Min Ah dan Mi Young.

Kami sampai di depan rumah Min Ah (dulunya rumah Mi Young, sebelum tukar tubuh). Mi Young ingin menginap di rumah Min Ah. Si kembar juga tidak akan pulang ke rumah mereka sebelum malam.

“Oppa mau menginap juga?” tanya Mi Young padaku.

Aku tersenyum dan menggeleng, “Ada yang harus kukerjakan.”

“Gomawo Oppa.., dan…. Mianhae….” Kata Min Ah pelan.

Aku tersenyum, mengulurkan tanganku. Tapi sebelum aku sempat menyentuh puncak kepalanya, Min Ah menghindar. Aku tahu ia sengaja menghindar.

“Aku tidak mau Oppa tambah sakit. Kalau menyentuhku, Oppa akan tambah sakit.” Kata Min Ah.

Aku membelalakkan mataku. Tidak tahu harus berkata apa. Apa asumsi-nya tentang hal ini? Apa yang dia pikirkan tentangku sekarang? Apakah dia menyadari ada hal aneh lainnya, lebih daripada tanganku yang tiba-tiba terbakar ini?

“Seonsangnim.., terima kasih karena sudah mengantar kami.” Min Ah membungkuk sopan. Yesung tersenyum.

“Sampai ketemu lusa, Oppa!!!!” Mi Young melambaikan tangannya riang. Mereka berempat pun masuk ke dalam rumah. Tinggal aku dan Yesung seonsangnim yang berdiri di dekat mobil.

“Aku tidak tahu apa rencanamu.” Kata Yesung seonsangnim sambil menyipitkan matanya yang memang sudah sipit itu padaku. “Aku tidak akan segan-segan menghabisi siapapun yang mengganggu kedua putriku.”

Aku tersenyum tenang. Mencoba rileks.

“Apakah ini bagian dari rencanamu?” tanya Yesung.

Aku tertawa dingin. “Bagaimana menurutmu yang Mulia?” tantangku.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan? Tidak bisakah kau berhenti mengganggu kedua putriku? Kau ingin melenyapkan mereka lagi seperti dulu?”

Aku mendengus, lalu tertawa lagi. “Kalau kejadian tadi adalah ulahku, aku tidak mungkin menolongnya.”

Selama beberapa detik, kami hanya saling pandang, seolah berusaha membaca pikiran satu sama lain.

“Kalau kau ingin menjaga mereka berdua, jagalah mereka dengan sungguh-sungguh.” Kataku dingin, kemudian membalikkan badanku.

“Apakah tanganmu baik-baik saja?”

Aku hanya mendengus mendengar kata-kata sok perhatiannya itu. Lalu berjalan pergi. Semakin jauh aku berjalan meninggalkan rumah penuh perlindungan itu, semakin aku pergi menjauhi Min Ah dan Mi Young maka semakin membaik pula kondisi tubuhku. Tanganku kembali mulus dan normal seketika.

Aku semakin mempercepat lari-ku. Aku harus segera menemui si brengsek itu!  Si brengsek yang kebetulan saja mempunyai setengah darah yang sama denganku!

======= End of Tae Min POV ======

===== Author POV =====

Di atas atap gedung sebuah apartemen…..

Seorang pria tinggi, berambut hitam dan agak gondrong bergelombang berdiri sambil menatap ke langit. Bulan baru muncul setengahnya. Setengah lagi tertutup awan gelap.  Sama seperti sosok pria itu. Setengah siluetnya nampak tidak jelas.

Dia manusia, tapi bukan manusia seperti kebanyakan manusia saat ini. Dia adalah calon raja di negeri Saphire Blue. Dia calon penguasa. Begitulah yang ia pikirkan.

“Dia tidak akan tinggal diam.” Tiba-tiba seorang namja berambut cepak menghampiri namja tinggi itu.

Namja tinggi itu menoleh. Pandangannya penuh rasa curiga.

“Dia setengah devil. Kau tahu benar…kau tidak akan bisa mengalahkannya, Min Ho.” Lanjut namja berambut cepak.

Namja tinggi itu menyeringai. “Aku tahu sisi lemahnya. Aku tahu apa yang paling bisa menghancurkannya. Kau tidak perlu ikut campur, Seung Ho.”

Namja cepak yang bernama Seung Ho itu tertawa keras.

Min Ho hanya menatap dingin Seung Ho.

Seung Ho masih tertawa, sambil berkata. “Kau seperti anak kecil saja, Min Ho! Hahahaha.., menjatuhkan pot kristal? Hahaha.., kau tahu kau bisa melakukan lebih daripada candaan kekanakan seperti itu. Hahahaha…” Seung Ho tertawa sambil terbungkuk-bungkuk.

Min Ho menyipitkan mata besar-nya. “Aku tidak tahu apa tujuanmu mendekatiku, Seung Ho. Aku juga tidak tahu apa tujuanmu mendekati si brengsek Tae Min itu. Jadi, uruslah urusanmu sendiri! Adik iblis-ku itu bisa saja tertipu olehmu, tapi aku bukan si iblis itu. Aku tidak mempercayaimu.”

Seung Ho akhirnya berhenti tertawa, lalu sambil mengangkat bahunya dengan cuek, dia pun berkata, “Aku juga tidak mempercayaimu. Tapi aku dengan senang hati bisa memberikan penawaran yang bagus untukmu. Sebuah penawaran yang akan menguntungkan kita berdua. Bagaimana?”

Min Ho menatap pria itu lekat-lekat. Tidak yakin dengan keputusannya sendiri. Tapi ia tahu, ia butuh sekutu. Orang yang akan mendukungnya. Meski ia ragu ia akan balas mendukung orang itu.

Sementara itu….,

Lee Tae Min mengikuti hawa keberadaan Min Ho. Tae Min melesat dengan sangat cepat, dan akhirnya sampai di apartemennya. Hawa Min Ho terasa semakin kuat. Tae Min pun mengikuti instingnya, dan akhirnya dia sampai di atap gedung apartemennya.

Tidak ada siapa-siapa.

Pasti Min Ho baru saja pergi. Hawa keberadaannya masih tercium jelas oleh Tae Min.

Ada sesuatu yang mengganggu Tae Min. Dia bisa mencium hawa aneh itu lagi. Hawa si bunglon. Dia sudah menduga ada yang tidak beres dengan orang itu. Orang itu bukan orang sembarangan.

Dalam hati Tae Min berjanji akan lebih berhati-hati pada orang bernama Seung Ho itu. Bunglon itu.

Dia bukan manusia seperti Min Ho. Bukan pula devil. Tapi dia selalu berusaha menjadi manusia. Itu yang bisa Tae Min pikirkan sekarang. Siapa Seung Ho sebenarnya? Mengapa sejak dulu dia terus membantu Tae Min? Mengapa hawa-nya terasa aneh dan berubah-ubah?

Tae Min menegadah ke atas langit kelam. Bulan sudah muncul sepenuhnya. Saat itu dia berharap Il Woo hyung-nya datang dan sedikit menghiburnya.

Lagi-lagi de ja vu itu. Sepertinya akhir-akhir ini dia sering mengalami de ja vu.

“Mungkin Min Ho hyung sengaja ingin membuatku merasakan kembali penderitaanku dulu…” kata Tae Min pada dirinya sendiri.

“Haruskah aku berhenti? Tapi bagaimana agar aku bisa berhenti? Bagaimana agar rasa sakit ini bisa hilang selamanya?” Tae Min mencengkram dadanya yang terasa perih.

Ingatan masa lalu terasa seperti baru terjadi satu detik yang lalu. Terasa begitu jelas dan nyata.

===== End of Author POV =====

===== Min Ah POV =======

Malam ini Mi Young menginap. Sekarang sudah pukul 10 malam. Mi Young sudah tertidur sambil memeluk guling. Sementara aku belum juga bisa memejamkan mataku.

Aku menatap Mi Young di sebelahku. Nafasnya teratur. Aku tersenyum. Aneh sekali melihat tubuhku seperti ini. Bernafas seperti ini. Tertidur seperti ini. Jadi begini ya wajahku kelihatannya saat tertidur?

Aku menghembuskan napas panjang. Gelisah. Sejak kejadian pot bunga itu, aku mulai membayangkan kilasan-kilasan gambar aneh di otak-ku. Terasa begitu nyata. Seolah aku pernah mengalami kejadian-kejadian itu. Hanya saja tokoh-tokohnya buram.

Kenapa? Kenapa aku tiba-tiba saja membayangkan peristiwa-peristiwa itu? Siapa tokoh-tokoh tanpa wajah itu? Apakah itu diriku? Apakah sebuah “kejadian mengejutkan” seperti jatuhnya pot kristal itu mampu membangkitkan halusinasi-halusinasi aneh di otak-ku?

Aku bergidik. Entah kenapa untuk yang pertama kalinya aku enggan membayangkan cerita mistis ataupun horror. Padahal aku adalah penggila cerita-cerita itu.

Aku tidak ingin membayangkannya lagi. Tidak. Karena kejadian itu seolah terasa sangat nyata. Benar-benar nyata.

Lama kelamaan sepertinya gelombang otakku seirama dengan dunia mimpi…, mataku terpejam. Dan mimpi itu pun dimulai….

…………………………………………………

White Rose…

Ada banyak sekali mawar putih di kamarku. Semuanya pemberian Pangeran Tae Min. Dia bilang… aku adalah white Rose-nya.

Aku menatap diriku di cermin. Mengagumi gaun-ku yang sangat indah.

Malam ini ada pesta di istana-ku. Pesta untuk merayakan hari kesuburan di negeri Saphire. Setiap setahun sekali, tempat diadakannya pesta bergiliran antara kerajaan pusat, kerajaan utara, selatan, timur, dan barat. Kali ini giliran istana kami.

Aku belum keluar dari kamarku. Aku menunggu Pangeran Tae Min. Dia sudah berjanji akan langsung datang ke kamarku, menjemputku – begitu ia tiba di istana ini.

Pesta sudah mulai sejak tadi. Aku menata bunga-bunga mawar putih pemberian Pangeran Tae Min ke dalam pot-pot Kristal. Pot-pot itu sangat indah dan berkilauan. Sangat cocok diisi bunga mawar putih yang bersih. Aku menaruh beberapa pot kristal berisi mawar putih di beberapa tempat di istana ini, selain di kamarku.

Tok.. tok.. tok…

Pintu kamarku diketuk. Aku tersenyum senang. Pasti itu Pangeran Tae Min! Aku pun berlari menuju pintu, dan langsung memasang senyum lebar.

“Oh.., Young Min.” kataku. Kecewa. Tapi aku tetap tersenyum. Pasti senyumku jadi aneh. Pikirku.

“Putri, mengapa putri tidak bergabung di pesta? Raja Kerajaan Saphire pusat menanyakan Putri.” Kata Young Min, pengawal pribadi-ku.

“Aku menunggu Pangeran Tae Min.” kataku mantap. “Aku tidak akan keluar sebelum Pangeran Tae Min menjemputku ke sini.” Lanjutku. Aku tahu aku terdengar seperti anak manja. Tapi Pangeran Tae Min sudah berjanji. Dia akan menjadi pasangan pesta-ku. Janji harus ditagih dan ditepati, bukan?

“Pangeran Tae Min?” Young Min terkejut. “Pangeran sudah datang sejak satu jam yang lalu. Dia ada di ballroom.”

“Benarkah?” kataku tak percaya.

Young Min mengangguk mantap.

“Putri Min Ah…” panggil sebuah suara dalam. Aku tersentak kaget, karena tiba-tiba saja seorang pria tinggi tampan berjalan menghampiriku.

“Pangeran Min Ho.” Aku tersenyum sopan pada kakak Pangeran Tae Min itu.

Pangeran Min Ho menatap Young Min tajam, seolah menyuruhnya menyingkir dari pintu. Young Min balas menatapnya tajam. Entah kenapa, tapi aku tidak terlalu suka dengan sikap arogan Pangeran Min Ho. Dan aku yakin, pengawalku.., penjaga setiaku, Young Min, tidak akan begitu saja menyerahkanku pada Pangeran Min Ho.

Young Min menyingkir sedikit dari ambang pintu. Namun matanya masih mengawasi Pangeran Min Ho.

“Kau mau berdansa denganku, Putri?” Pangeran Min Ho membungkuk sambil mengulurkan tangannya.

Aku menggeleng sopan. “Maafkan aku, Pangeran. Aku sedang menunggu Pangeran Tae Min.”

Min Ho menyeringai. “Dia sedang berdansa dengan saudaramu. Putri Mi Young.”

“Apa?”

“Sepertinya malam ini mereka menjadi pasangan pesta. Mereka terlihat serasi ya.., baju mereka-pun terlihat sangat serasi. Aku bertaruh mereka akan dinobatkan menjadi pasangan pesta terbaik malam ini.” Kata Pangeran Min Ho.

Aku merasa jantungku berdenyut semakin lemah. Bahuku terkulai.

Aku tahu ada sesuatu diantara Mi Young dan Pangeran Tae Min. Aku sudah tahu sejak dulu. Tapi.., mengapa mereka merahasiakannya? Dan mengapa Pangeran Tae Min memberikan janji-janji yang tidak bisa ditepati-nya?

Tanpa kusadari.., aku pun menyambut uluran tangan Pangeran Min Ho. Young Min tampak terkejut, sementara Pangeran Min Ho tersenyum puas.

 Pangeran Min Ho menggandeng tanganku, kami berjalan beriringan. Ballroom ada di bawah kami. Aku bisa melihat di bawah meriah sekali. Young Min berjalan di belakang kami. Aku bisa merasakan tatapan tajam-nya di balik punggungku. Tapi ketika aku menoleh, Young Min sudah tidak ada. Sepertinya dia sudah turun ke bawah. Sementara itu Pangeran Min Ho menuntunku berjalan lurus terus di sepanjang koridor lantai 3.

Pangeran Min Ho menghentikan langkahnya dan menatap ke bawah. Aku ikut menatap ke bawah. Berpegangan pada tembok pembatas.

Di bawah sana…, tepat di bawah kami.., Mi Young dan Pangeran Tae Min sedang berdiri berhadap-hadapan sambil meminum wine. Mereka tertawa. Terlihat menikmati pesta. Ternyata Pangeran Tae Min memakai tuksedo hitam, dengan korsase bunga lily tersemat di dada-nya.

Tanpa terasa air mengalir membasahi pipiku.

Kenapa dia harus berjanji kalau berencana tidak menepatinya?

Mengapa dia mengatakan hal yang bukan keinginan dia sebenarnya?

Sementara aku mempercayainya sepenuh hatiku.

Kupikir dia pada akhirnya akan memilihku..

Tapi ternyata dia tetap saja seperti dulu….

Aku menatap sosok Pangeran Tae Min di bawah sana.

“Aku tidak akan berbuat seperti dia.” Kata Pangeran Min Ho.

Aku tidak memedulikannya.

Aku tersentak ketika merasakan hembusan nafas di leherku. Pangeran Min Ho semakin mendekat ke arahku. Aku pun mundur perlahan. Tiba-tiba saja lenganku menyenggol sebuah vas kristal berisi mawar putih. Bukan vas besar. Hanya saja bila vas itu mengenai kepala orang…

Pangeran Tae Min tepat di bawah.., vas ini akan mengenai-nya…

Tanpa pikir panjang, aku membungkukkan badanku, berusaha meraih vas itu.

Prang.., vas itu terjatuh di lantai marmer hitam yang keras dan mengkilap.

Brukk.

Satu detik kemudian tubuhku ikut terjatuh di atas serpihan besar vas itu. Seketika warna merah merembes di gaun putihku.

Orang-orang menjerit ketakutan.

Sakit.., sakit sekali…

Tubuhku sakit…, rasanya aku mau mati… tapi sakit di dada ini lebih terasa nyata… lebih terasa menyakitkan…

“MIN AH!!!!!”

Aku merasakan seseorang memelukku hati-hati, menggendongku.

Bising. Berisik. Jeritan di sana-sini.

Pandanganku mulai buram. Hal terakhir yang kulihat adalah wajah Pangeran Tae Min yang terlihat kacau, dan juga kelopak mawar putih penuh darah yang kugenggam dengan erat.

 …………………………………………………..

 

Aku terbangun. Napasku terengah-engah. Keringat membanjiri wajahku.

Bukan mimpi.

Aku tahu kejadian tadi bukan hanya sekedar mimpi.

Entah bagaimana, tapi aku tahu ….kejadian itu adalah salah satu memoriku. Mungkin bukan aku yang sekarang, tapi aku yang dulu.

Orang-orang tanpa wajah itu.., sekarang aku tahu siapa saja mereka. Perasaan sedih itu…, akhirnya aku mengerti.

Jutaan memori merasuki otak-ku.

Tiba-tiba saja aku merasa terbangun dari tidur panjangku.

Aku tahu siapa diriku.

Air mataku mengalir deras.

Aku memandang wajah Mi Young di sampingku yang masih tertidur pulas.

“Kita dipertemukan lagi oleh takdir, Mi Young eonni…” lirihku pelan. “Kita semua.”

==== End of Min Ah POV ====

===== Tae Min POV =====

Hari Minggu, pukul 8 pagi…

Aku tahu, setiap minggu pagi, Min Ah selalu lari pagi di lapangan lari itu. Oh, rupanya Mi Young juga ikut. Aku mengamati mereka dari jauh. Tersenyum lebar. Mi Young dan Min Ah berlari beriringan.

Baru saja aku hendak melangkah menghampiri mereka, tiba-tiba muncul si kembar. Sial!

Si kembar menyerahkan botol minum dan handuk kecil kepada Min Ah dan Mi Young.

Aku menggertakkan gigiku.

Apakah sudah dimulai? Apakah kejadian dulu itu akan terulang kembali? Apakah Min Ah akan lebih memilih Young Min daripada aku? Dan Mi Young lebih memilih Kwang Min daripada aku?

Dengan kemampuanku, aku bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka berempat bicarakan. Young Min menceritakan cerita lucu yang membuat Min Ah dan Mi Young tertawa terpingkal-pingkal. Aku mendengus kesal.

Aku terkejut ketika merasakan sentuhan di bahu-ku.

“Il Woo hyung?!!!” mataku membelalak melihat kakak satu-ibu-ku itu kini berdiri tepat di sampingku. Tidak biasanya dia muncul di pagi ataupun siang hari. Dan tidak biasanya dia memakai pakaian manusia normal. Seolah-olah dia sama normal-nya dengan orang-orang yang ada di lapangan itu.

“Biasanya kau memakai pakaian manusia yang aneh-aneh. Abnormal.” Kataku.

Jung Il Woo tersenyum lebar dan sok keren seperti biasa. “Bagaimana? Aku cocok tidak memakai pakaian ini? Aaah.., ternyata di dunia ini pun pesonaku tidak hilang ya.” Katanya, sambil mengedipkan mata genit ke arah cewek-cewek yang menatapnya penuh kagum.

Aku mendengus. Mana ada Pangeran Devil yang narsis seperti dia?! Tidak ada duanya deh!

“Jangan makan di dunia ini.” Kataku mengingatkan.

Il Woo mengangkat bahu cuek. “Aku memang penasaran bagaimana rasa mereka. Se-lezat apa orang-orang di dunia ini. Tapi tenang saja.., aku bukan orang yang suka melanggar janji.” Katanya riang sambil melingkarkan lengannya di pundakku dengan akrab.

Aku tersenyum getir. Orang yang suka melanggar janji. Sepertinya kata-kata itu cocok ditujukkan padaku.

Aku masih memandang Min Ah dan Mi Young. Mereka sudah berlari 3 putaran, dan mulai terlihat kecapean.

Il Woo mengikuti arah pandangku.

“Hey dongsaengku yang manis, kau mau tahu bagaimana caranya menghentikan rasa sakit di hati-mu yang lemah itu?” tanya Il Woo sambil nyengir lebar.

Aku mengangkat sebelah alis-ku. Sudah siap mendengar candaan-nya.

Tiba-tiba saja wajah Il Woo berubah menjadi serius. Lenyap sudah ekspresi bodoh dan jahil-nya.

“Berhentilah mencintai mereka. Maka rasa sakit di hatimu juga akan hilang. Begitu pula dendam-mu. Rasa sakit.., dendam.., penderitaan … itu semua akan lenyap.”

==== End of Tae Min POV =====

==== Author POV ===

Kim Mi Young berjalan dengan riang di sepanjang jalan menuju toko yang menjual berbagai bahan untuk keperluan jahit menjahit. Benang wol Mi Young habis. Padahal dia ingin membuat syal untuk Min Ah, Tae Min, dan Kwang Min. Aah,, meskipun enggan, tapi sepertinya dia juga akan sekalian membuatkannya untuk si bawel Young Min. Biar tidak ribut.

Mi Young melangkahkan kakinya dengan ringan sambil tersenyum lebar. Sebentar lagi hari ulang tahunnya akan tiba. Dia ingin memberikan sesuatu untuk orang-orang yang telah banyak membuat hari-harinya menyenangkan. Yah.., kecuali Young Min. Tapi mau bagaimana lagi. Dia juga harus membuatkan 1 untuk Young Min, untuk mencegah syal Kwang Min direbut olehnya nanti. Si pirang itu kan… suka memakai barang Kwang Min seenaknya. Pikir Mi Young.

Ulang tahun….bukan berarti selalu menerima. Ulang tahun akan terasa lebih bermakna saat memberi.

Mi Young terbiasa memberikan hadiah untuk kakaknya (Jong Hyun Oppa) saat Mi Young ulang tahun. Jong Hyun Oppa juga tentu saja memberikan banyak sekali kado untuk Mi Young. Aah.., dia jadi rindu Oppa-nya itu. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu.

Mi Young juga selalu merayakan ulang tahunnya di panti asuhan. Berbagi bersama anak-anak yatim piatu di berbagai panti asuhan.

Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Telepon dari Min Ah? Ngomong-ngomong soal Min Ah.., dia jadi agak aneh belakangan ini. Entah kenapa. Min Ah juga tidak mau cerita hal apa yang membuat mood-nya jelek.

Mi Young pun memperlambat langkahnya, lalu menjawab telepon.

“Ada apa Min Ah?” tanyanya.

“MWO???? Coba bilang sekali lagi!!!!! Jong Hyun Oppa akan pulang besok???? Gara-gara ulang tahunku???? Huwaaaaa… senangnyaaaa..!!!!” Mi Young tersenyum lebar. Kemudian senyumnya lenyap seketika begitu dia menyadari sesuatu. Sekarang ini dia berada di tubuh Min Ah.., jadi.. yang akan bertemu Jong Hyun Oppa dan merayakan ulang tahun bersama Jong Hyun Oppa bukanlah dirinya, melainkan Min Ah.

Mi Young berhenti berjalan.  Bahunya terkulai lemas.

“Min Ah…, kau tahu tidak bagaimana caranya agar kita bisa kembali seperti dulu? Aku…”

“Hai Min Ah!” Mi Young terkejut begitu seorang namja tinggi berambut agak gondrong bergelombang, dengan pakaian modis dan terlihat sangat tampan tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapannya dan tersenyum padanya.

“Sedang apa kau di sini, Min Ah? Kau menelepon siapa? Aku mendengar kau memanggil lawan bicaramu di telepon itu dengan sebutan Min Ah. Apakah kau punya teman yang bernama sama sepertimu?” tanya namja itu sambil tersenyum lebar.

Mi Young menatap namja itu lekat-lekat. Siapa ya dia? Pikirnya. Temannya Min Ah ya?

“Eh.., aku…” Mi Young tidak tahu siapa nama teman Min Ah ini. Gawat! Pikirnya.

Mi Young masih menatap Pria yang terus tersenyum ramah itu. Aneh. Pria ini terasa tidak asing. Apakah aku pernah bertemu dengannya? Atau mungkin melihat fotonya? Pikir Mi Young.

Perlahan namja itu mengulurkan tangannya dan menyentuh sebelah pipi Mi Young. “Masa kau tidak merasa kangen padaku? Pangeran Min Ho-mu ini?” namja itu tersenyum, tapi senyumnya terlihat aneh.

BUGG!!!!

Tiba-tiba saja namja itu terjungkal ke belakang. Terjatuh di jalanan yang keras.

“Jangan sentuh dia!” kata sebuah suara. Dingin dan tegas.

Mi Young menoleh. “Tae Min Oppa!!!!” ia terlihat gembira, namun sekaligus heran. Mengapa Tae Min Oppa memukul pria itu? Mi Young bingung.

Namja bernama Min Ho itu menatap Tae Min penuh kebencian. “Kau takut menggunakan kekuatanmu yang sebenarnya ya? Cih! Memukul hanyalah cara berkelahi manusia rendahan! Ayo.., tunjukkan kekuatanmu, iblis! Agar semua orang melihatnya.” Min Ho bangkit berdiri sambil menyeringai.

Tae Min hanya diam. Menatap namja itu lekat-lekat tanpa berkedip.

Mi Young menatap namja bernama Min Ho itu dan Tae Min bergantian. Siapa namja itu? Pikirnya. Sejak tadi dia bersikap aneh.

“Heh! Kau orang gila ya?!” teriak Mi Young pada namja itu. Namja itu tertawa terbahak-bahak.

Tae Min menggenggam tangan Mi Young, menuntunnya berjalan pergi.

“Op…Oppa…” Mi Young kaget. Dia merasa seperti diseret. Tae Min menggenggam jemarinya erat. Terlalu erat malah.

“Uhuk…” Tae Min terbatuk, lalu tiba-tiba saja jatuh berlutut sambil memegang dadanya. Tae Min melepaskan genggaman tangannya dari Mi Young, dan mengerang kesakitan.

“OPPA!!! OPPA KENAPA???”

–       TBC –

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

5 thoughts on “Secret Wish – Part 8”

  1. Aaaahhh,, kurang panjang!#reader maruk

    Lah, berarti Taemin suka sm keduanya ya?
    Tp si Min Ah salah sangka.
    Dan ttg Seungho, Minho, Il Wo msh belom ngeh permasalahan masa lalunya apa.

    Trs knp juga Taemin nyentuh tgnnya Miyoung?pdhl dy tahu bakalan terluka.
    Hmm,

    penasarannnnnn!
    Next part ya!

  2. Waahh Ingatannya Min ah udah balik.
    Jd yg dmaksud berkhianat itu, karena Min ah lbh milih Young min trus Mi young lbh milih Kwang min.
    Tp kyaknya taemin salah jg dehh. Kedua putri sama² berpikir kalo taemin lebih milih saudaranya drpd dia.
    Minho jahat tp kayaknya seungho seonsangnim lbh mencurigakan.
    Tp itu taemin kenapa?? disitu kn ga ada Kwang Min knp dia kesakitan? apa karena minho??
    Lanjuuuutttt!!!

  3. Waahh Ingatannya Min ah udah balik.
    Jd yg dmaksud berkhianat itu, karena Min ah lbh milih Young min trus Mi young lbh milih Kwang min.
    Tp kyaknya taemin salah jg dehh. Kedua putri sama² berpikir kalo taemin lebih milih saudaranya drpd dia. padahal taeminnya mau dua²nya.
    Minho jahat tp kayaknya seungho seonsangnim lbh mencurigakan.
    Tp itu taemin kenapa?? disitu kn ga ada Kwang Min knp dia kesakitan? apa karena minho??
    Lanjuuuutttt!!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s