A Ghost Inside Me (After Story) : An Everlasting

main-poster_

Title : A Ghost Inside Me (After Story) : An Everlasting Hiden Story

Author : Park Ara

Main Cast : Choi Minho, Hwang Su Ji, Key, Jung Cheon Sa

Support Cast : Choi Siwon, Kim Jonghyun, Lee Taemin

Lenght : One Shoot

Rating : PG 15

Genre : Life, Romance

Annyeong readers! Hoho author Park Ara balik lagi. Yeah #rap ala mino, karena banyak yang minta fanfic A Ghost Inside Me dibuat semacam “After Story”-nya, jadi author sanggupin deh. Dan jeongmal mianhae kalau part ini keluar terlalu lama. Atau mungkin ada yang udah lupa sama ceritanya? Hoho… sebenarnya nggak pernah kepikiran untuk buat part semacam ini. Karena aku pikir, 17 part aja udah cukup. But actually, that’s ok to write it again. Sekali lagi, neomu neomu ghamsahamnida buat semua readers setia, makasi buat komen dan kritik yang sangat membangun untuk fanfic ini. Finally, happy reading! Semoga semua pertanyaan kalian yang mengganjal akan terjawab disini. Gomawo! ^^

Key POV

Hwang Su Ji, ia telah menjadi istriku sekarang. Bahkan, aku masih tidak dapat mempercayainya. Semuanya terjadi begitu cepat dan mengalir begitu saja. Yeoja itu tak hanya baik, namun ia selalu memberiku perhatian di setiap hal yang kulakukan. Ia membangunkanku setiap pagi, membuatkanku sarapan dan secangkir kopi, memasakkan makan malam yang enak sampai menungguku di ruang tamu ketika aku harus pulang larut malam. Sungguh, aku merasa sangat beruntung memiliki seorang pendamping hidup sepertinya.

“Ini tasmu,” ucap Su Ji sambil mengulurkan tas kerjaku.

Aku tersenyum menerimanya. Ia selalu terlihat cantik di pagi hari. Terlebih ketika ia memasak. Dan aku suka sekali ketika ia memakai apron dengan berbagai motif yang lucu. “Gomawo,” balasku lalu mencium keningnya. Suatu kebiasaan yang selalu kami lakukan.

“Kerja yang benar, ara? Jangan tidur di kantor!” kata Su Ji pura-pura memarahiku. Lalu ia tersenyum lebar dan aku mengusap puncak kepalanya.

“Arasseo… Oh ya, nanti malam aku pulang pukul setengah tujuh. Siapkan makanan yang enak untukku,” jelasku.

“Ready, captain!” seru Su Ji dengan lagak hormat.

Aku dan Su Ji pun tertawa. Setelah ku pamit, aku langsung berjalan keluar dan memasuki mobil mini cooper yang setia menunggu di halaman rumah. “Annyeong chagiya!” ucapku sambil melambaikan tangan.

“Annyeong!” balas Su Ji dan aku pun segera mengemudikan mobilku ke jalanan Seoul yang ramai seperti biasa.

Key POV END

Hwang Su Ji POV

Aku terus memperhatikan mobil Key hingga akhirnya menghilang di kejauhan. Ku hela nafas pendek dan masuk kembali ke dalam rumah yang sudah dua tahun ku tinggali bersama namja itu. Di rumah ini memang tersimpan banyak kenangan kami berdua. Dan aku, tidak akan melupakannya sampai kapanpun.

Key begitu baik padaku. Bahkan, ia jauh lebih baik dari yang pernah ku pikirkan selama ini. Aku tak pernah bisa menebak akan kebaikan-kebaikan yang selalu ia berikan padaku. Ia tak pernah memaksa, berbicara dengan nada tinggi, menyela omonganku bahkan ia selalu membiarkanku berbicara lebih dulu. Ya, aku sangat bahagia memiliki seorang suami sepertinya.

Tapi, sejujurnya aku selalu merasakan kekosongan dalam diriku. Entah, seperti ada sesuatu yang hilang dan tak pernah terisi sampai sekarang.

Minho oppa. Ya, posisi Minho di hatiku memang tak pernah tergantikan oleh siapapun. Ia adalah sahabat dan kakak yang paling ku sayangi di dunia ini. Mungkin ia pernah membuatku kecewa dan sedih selama bertahun-tahun. Namun ia juga berhasil menebusnya dengan baik. Ia mengubahku menjadi seorang manusia yang lebih baik dan mempertemukanku dengan namja yang sangat baik pula.

Sayangnya, aku tak bisa memberinya apa-apa. Meski ia selalu berkata sebaliknya, namun aku masih sedikit merasa bersalah.

Sesekali aku merindukan Minho oppa. Aku teringat akan masa-masa kecil kami yang begitu bahagia. Minho oppa, andai kau bisa kembali ke dunia dan menjagaku seperti kala itu, maka aku akan merasa sangat bahagia…

Flashback

“Eomma, kenapa kita pindah ke desa? Aku mau pulang ke Seoul!” seruku pada Eomma yang sedang sibuk memindahkan barang-barang dari mobil ke dalam rumah.

Eomma menghentikan langkahnya dan menatapku sambil tersenyum. Lalu ia pun berjongkok di depanku. “Sayang, maafkan Eomma dan Appa ya. Kita terpaksa pindah kesini karena perekonomian di Seoul sedang sulit. Tapi kau tenang saja, semua ini hanya sementara kok…” hibur Eomma sambil mengelus lembut rambutku.

“Sireo! Pokoknya aku tidak mau!” tegasku kesal lalu berlari menjauhi Eomma dan rumah sederhana yang menyebalkan itu.

“Su Ji! Kau mau kemana Su Ji?” teriak Eomma di belakang sana. Namun aku tetap mengacuhkannya dan terus berlari sejauh mungkin. Sejauh yang tidak ku ketahui. Kalau perlu, aku bisa berlari ke Seoul sendiri. Aku ingin tinggal di Seoul. Tidak di desa kecil seperti ini.

Aku melihat ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapa-siapa. Hanya sebuah lapangan luas dengan gundukan salju di atasnya. Wah, semuanya menjadi putih. Lalu aku pun berjalan mendekati sebuah pohon yang telah gundul karena musim gugur. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat seorang anak laki-laki bertopi rajut warna biru di sana.

“Kau sedang apa?” tanyaku pelan.

Anak laki-laki itu mendongak dan menatapku dengan kedua matanya yang sembap. Sepertinya ia habis menangis. “Kau siapa?”

Akhirnya aku ikut berjongkok di depannya. “Namaku Hwang Su Ji. Namamu siapa?”

“Choi Minho…”

“Eung… Minho-ya!” seruku sambil tersenyum selebar mungkin.

“Anio.. kenapa kau memanggilku seperti itu? Tidak sopan!” balas Minho tidak terima.

Aku mengernyit bingung. “Kenapa? Kita kan teman. Kenapa aku tidak boleh memanggilmu seperti itu?”

“Hei, apa kau tidak lihat kalau aku lebih tua darimu?”

Aku terdiam dan berpikir. Benar juga, ia memang terlihat sedikit lebih tua dariku. Tapi… aku tidak terbiasa memanggil orang lain dengan sebutan ‘oppa’ atau ‘unni’. “Baiklah, aku akan memanggilmu Minho oppa.”

Minho justru membuang muka dan kembali sibuk dengan kegiatan yang tadi ia lakukan.

“Kau mencari apa?”

“Koin.”

“Apa? Koin? Untuk apa?”

“Aissh… kenapa kau mengganggu terus sih? Pergi saja sana. Aku tidak butuh bantuanmu!” usir Minho membuatku kesal setengah mati.

“Ya sudah. Aku pergi. Lagipula untuk apa membantu anak menyebalkan sepertimu?” lawanku tak mau kalah. Akhirnya aku pun pergi meninggalkannya.

“Huh, menyebalkan sekali anak itu,” gumamku sambil berjalan meninggalkan Minho. Namun tiba-tiba kedua mataku menangkap sebuah benda berkilau yang sedikit terkubur salju. “Apa ini?” tanyaku dalam hati. Aku pun menepis butir-butir salju di atasnya dan mengamati benda itu. “Oh, bukankah ini sebuah koin?”

“Hei, apa kau belum menemukan koinmu?” seruku pada Minho.

“Kenapa kau belum pergi? Dasar pengganggu!”

Aku mencibir mendengar perkataannya. “Ini!” aku melempar koin itu hingga mengenai kepala anak itu.

“Aduh! Oh?”

Aku pun menyunggingkan senyum penuh kemenangan ketika Minho mulai menyadari dengan benda kecil yang tadi mengenai kepalanya.

“Itu koinmu kan?” tanyaku memastikan meski aku sudah tahu jawabannya. Ya, aku hanya ingin membuktikan kalau aku bukanlah yeoja pengganggu seperti yang ia ucapkan tadi.

Minho pun berdiri dan menatapku tak percaya. “Kau…”

Aku hanya diam tanpa berkata apa-apa. Namun sebuah senyum lebar di wajahku telah membuktikan kalau aku memang pantas menjadi temannya. Dan sekali lagi, aku bukan seorang anak pengganggu yang tak berarti apa-apa.

Flashback END

Ku raih sebuah cangkir kopi di atas meja dan menyeduhnya dengan pelan. Kedua mataku memperhatikan taman belakang rumah melalui jendela kaca di dapur. Perlahan tapi pasti, gerimis turun dan menimbulkan titik-titik embun di kaca itu.

Setiap kali mengingat masa kecilku, aku selalu tersenyum. Bagiku, masa kecil adalah masa yang paling indah seumur hidupku. Mungkin aku pernah merasa kecewa dan melupakannya di suatu waktu. Namun, kini aku beruntung karena bisa mengingatnya lagi.

Ya, sejak pertemuan pertama itu, aku dan Minho menjadi sepasang sahabat yang sangat dekat. Kami melewati hari bersama-sama. Minho adalah seorang sahabat sekaligus kakak yang sangat menyayangiku. Ia selalu menjaga dan memberiku nasihat. Ia tak pernah berbicara kasar apalagi membentakku. Sungguh, aku sangat beruntung memilikinya saat itu.

Aku berjalan mendekati jendela dan menghembuskan uap di sana. Dengan jari telunjuk, ku tulis nama ‘Minho’ dan ‘Su Ji’. Aku tersenyum membacanya.

Minho oppa, aku sangat merindukanmu. Jika aku tak berusaha hingga sejauh ini, sejujurnya aku tak bisa hidup seharipun tanpamu. Aku tahu mungkin aku sangat berlebihan, namun tak seorangpun tahu bagaimana perasaan yang ku miliki untuk Minho. Sebuah perasaan yang bahkan tak bisa ku gambarkan, yang selalu tersimpan rapi hingga aku membawanya ketika bertemu dengan Minho. Suatu saat nanti…

Hwang Su Ji POV END

Key POV

Aku memasuki sebuah cafe dan mecari-cari seseorang. Tak menunggu lama, aku pun menemukan orang itu. Seorang namja dengan topi yang hampir menutupi seluruh wajahnya.

“Jonghyun hyung…” sapaku dan namja itu mendongak.

Tanpa di persilahkan aku langsung duduk di hadapannya. Aku menatapnya tak percaya.

Wajahnya telah jauh berbeda dengan saat terakhir aku bertemu dengannya. “Hyung, bagaimana keadaanmu?” tanyaku.

Jonghyun memandangku dengan wajahnya yang sayu. Aku tahu ia pernah berbuat jahat bahkan menjadikanku kambing hitam. Mungkin orang-orang akan menganggapku bodoh atau naif karena bisa memaafkan perbuatannya. Tapi di mataku, Jonghyun tetap menjadi seorang kakak yang baik. Ya, aku percaya itu.

“Maafkan aku Key…” ucap Jonghyun sambil menunduk dan terisak. Aku merasa begitu miris melihatnya seperti ini. Apalagi, ketika menemukan butir air mata yang menetes dan membasahi sebuah tisu di hadapannya.

“Apa yang kau katakan? Kau tidak perlu seperti ini, hyung. Kau tidak ingat kalau aku sudah memaafkanmu?”

Jonghyun menatapku dengan senyum pahitnya. Jika boleh ku tebak, ia bahkan tak benar-benar tersenyum. “Kenapa kau tak pernah bertanya kenapa aku melakukannya?”

Aku mengernyit heran. “Apa?”

“Ya, aku melakukannya karena seorang yeoja yang sangat ku cintai. Jung Cheon Sa…”

Deg, aku merasa seolah-olah jantungku telah terenggut dari tempatnya. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa begitu sakit.

“Aku mencintai Cheon Sa. Aku memberikan apapun untuknya, bahkan aku rela mengorbankan semuanya. Tapi yeoja itu, ia tak pernah melihatku sedikitpun. Yang ada di matanya hanya Minho dan Minho. Seakan-akan namja yang ada di dunia ini hanya Minho…”

Aku menelan ludah bersama dengan butir-butir kepahitan yang terasa begitu membunuh. Mungkin, jika kepahitan itu menjadi racun maka aku sudah mati saat ini juga.

“Dan hari itu, ketika aku mendengar kalau Minho pergi ke Busan, tanpa pikir panjang lagi aku merencanakan skenario untuk membunuh Minho dengan alih-alih kecelakaan. Ya, ternyata cara itu berhasil dengan mulus. Aku memberimu minuman beralkohol tinggi dan menyuruhmu pergi ke jalan yang sama dengan yang dilalui bus itu…”

Tangan kananku mengepal erat di bawah meja. Jika Jonghyun bisa membaca pikiranku, mungkin ia sudah lari karena takut aku akan membunuhnya.

“Tapi ternyata, perasaan Cheon Sa tidak berubah. Cih, meski Minho sudah mati sekalipun yeoja itu tetap memikirkannya. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikiran Cheon Sa sehingga ia tetap mencintai Minho di dalam hatinya..”

“Lalu kenapa kau bisa ada disini? Bukankah hukumanmu berlaku seumur hidup?” tanyaku berusaha mengubah topik. Aku tidak kuat lagi mendengar pengakuannya.

Jonghyun meneguk kopinya lalu tersenyum kecil. “Ya, ku pikir kau sudah tahu Key. Aku melarikan diri bersama Siwon. Tapi sayangnya, Siwon tewas karena tertembak polisi ketika kami berusaha keluar dari penjara. Miris bukan? Setelah ini, aku memutuskan untuk mengasingkan diri di suatu desa. Key, mungkin ini pertemuan terakhir kita…”

“Jonghyun hyung…” potongku. “Hiduplah dengan damai. Aku tak mengerti kenapa kedua matamu bisa di butakan dengan perasaan seperti itu. Kau tidak seperti Kim Jonghyun yang ku kenal sepuluh tahun lalu. Apa kau berubah karena cinta itu? Tidak hyung, cinta tidak akan merubahmu menjadi buruk seperti ini. Kau dibutakan oleh obsesi. Kembalilah hyung, aku ingin kau menjadi kakakku seperti dulu lagi…”

Jonghyun tertegun dengan kedua mata berkaca-kaca. Ia seolah tak percaya, bagaimana mungkin kata-kata seperti itu keluar dari mulut adiknya ini. Seorang adik yang dulu begitu polos dan bodoh ketika mendengar nasihatnya. Ya, aku telah berubah hyung. Cinta yang telah mengubah menjadi seperti ini.

“Aku malu Key. Aku malu,” gumam Jonghyun sambil menunduk, tak berani menatapku.

“Maafkan aku, aku tak bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Maaf…”

Aku tak menjawabnya. Aku hanya memandang Jonghyun dengan seribu memori yang kembali terulang di pikiranku. Dan saat itu juga aku bertekad untuk menyimpan semua ini dalam sebuah catatan yang tak akan pernah ku ceritakan pada siapapun. Termasuk Su Ji. Ya, semua yang Jonghyun katakan akan menjadi rahasia kami berdua.

Semoga, Jonghyun hyung benar-benar berubah. Sehingga ketika aku bertemu lagi dengannya, maka ia sudah menjadi orang yang sama seperti Kim Jonghyun sepuluh tahun lalu…

Key POV END

Jung Cheon Sa POV

‘Ku pikir aku sudah bisa merasakannya sekarang. Awalnya aku bahkan tak pernah melihat seberapa dalam perasaan yang kau berikan padaku. Maafkan aku, aku tak pernah menjadi seorang yeoja yang mencintaimu setulus itu…’

Aku menutup layar laptopku setelah mengakhiri rangkaian cerita dalam novel yang telah ku tulis tiga bulan terakhir. Ya, ini adalah novel pertama yang ku tulis. Sekaligus menjadi novel yang sangat berharga untukku. Karena aku menulis berdasarkan dengan apa yang pernah ku alami sendiri.

Choi Minho… Namja itu telah memperlihatkan padaku tentang banyak hal yang dulunya tak pernah ku percayai. Tentang cinta, ketulusan, kematian bahkan… roh. Jujur, sampai sekarang aku masih tidak mengerti bagaimana mungkin sebuah roh masih menyimpan perasaan cintanya pada seorang manusia. Dan hal itulah yang terjadi padaku. Semua ini seperti cerita novel fiksi yang sering ku baca.

Minho, maaf jika aku tak pernah berkata jujur padamu. Aku telah menyembunyikan banyak hal. Perjodohanku, pertunanganku, perasaanku… dan kenyataan bahwa sebenarnya selama ini aku bisa melihatmu dalam bentuk lain. Ya, aku bisa melihat rohmu Minho. Aku bisa melihat dengan jelas ketika kau datang ke kamarku, mendengarkan semua yang kau ucapkan dan menatap wajahmu saat kau menangis karenaku. Aku melihat dan mendengar semua itu Minho. Aku tidak berbohong…

“Kenapa kau meninggalkanku Minho-ya? Kenapa kau pergi tanpa memberiku kesempatan untuk berbicara? Apa kau marah padaku? Kau membenciku?” ucap ku sambil sesenggukan. Aku tak pernah merasa selemah ini sebelumnya.

“Aku tidak membencimu, aku tidak marah padamu. Aku hanya terlalu bodoh, aku salah mengambil keputusan, Noona..”

Aku mengerutkan kening. Suara siapa itu? Suara Minho… Tapi, bagaimana mungkin? Kalau memang itu suara Minho, maka dimana ia? Aku ingin melihatnya, aku ingin…

“Minho-ya…” panggilku meski merasa tidak yakin. Entah, tapi aku yakin Minho pasti mendengarnya. “Aku merindukanmu…” sambungku dan kemudian aku menjatuhkan diriku ke tanah. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku bahkan tidak mempedulikan orang-orang yang memperhatikanku.

Tiba-tiba aku merasakan hangat di sekitar tubuhku. Sebenarnya aku sedikit merinding, terlebih ketika sama-samar ku lihat wajah Minho. Ia memakai pakaian seperti seorang manusia namun ia memiliki sepasang sayap putih yang kini mengembang menutupi tubuhku.

Aku terdiam membisu. Tidak, aku memang tidak bisa melakukan apa-apa saat ini. Aku hanya diam dan membiarkan Minho memelukku dengan sayapnya. Meski sulit bagiku untuk memahami semuanya tapi… sudah cukup bahagia untukku jika Minho masih mencintaiku seperti dulu.

Aku tersenyum kala mengingat semua itu. Pelukan Minho dengan sayapnya adalah salah satu yang paling ku rindukan. Seolah itu adalah sebuah ketulusan yang Minho perlihatkan. Minho memang tak banyak mengatakan kata ‘cinta’, namun ia lebih menunjukkan dengan perbuatannya.

“YA, AGHASSI! Aghassi, apakah kau sedang berusaha untuk tidak mendengarkan hatimu? Ya, kau telah menemukan cintamu.. Kau sudah menemukannya hanya saja. Hanya saja… kau perlu menunggu satu kali lagi. Apa kau pernah menjalani hidup sepertiku? Kau lebih beruntung karena cinta menghampirimu dengan cepat. Kau tidak perlu menunggu selama itu. Lalu kenapa sekarang kau mau mengikuti cinta yang tidak benar-benar menghampirimu? Dia tidak tulus, bisakah kau membuka matamu?!”

“YA! JUNG CHEON SA! KAU MEMANG YEOJA YANG BODOH!”

Hwang Su Ji… Tsk, aku bahkan masih ingat dengan jelas bagaimana usahanya menggagalkan pernikahanku dengan Jonghyun. Dia memang yeoja yang hebat. Meski sikapnya sedikit arogan, namun ku yakin ia memiliki hati yang sangat tulus dan lembut. Su Ji, mungkin aku harus berterima kasih padanya. Kalau saat itu Su Ji tidak datang, maka bagaimana aku sekarang?

“Pendeta, aku ingin mengatakan sesuatu… Aku ingin membuat sebuah pengakuan. Jika aku, Jung Cheon Sa selama ini tidak mencintai calon suamiku, Kim Jonghyun…” kataku membuat seisi gereja terkejut bukan main. Termasuk kedua orang tuaku dan Jonghyun.

Namun aku sama sekali tak mempedulikannya. Aku bahkan tak mendengar lagi apa yang di ucapkan Jonghyun maupun para undangan.

Sesekali ku toleh kepalaku ke arah Su Ji. Yeoja itu nampak begitu cemas dan menanyakannya pada Minho. Aku tersenyum geli, lalu aku pun memutuskan untuk berlari ke luar gereja.

Dan tiba-tiba sesuatu menghentikan langkahku. Hwang Su Ji, wajah yeoja itu mendadak muncul di pikiranku. Tanpa pikir dua kali, aku menoleh ke belakang dan tersenyum padanya. Jelas, Su Ji terlihat heran sekaligus terkejut. Mungkin ia masih bertanya-tanya kenapa aku bisa melakukan hal seperti itu. Tapi, biarlah ia yang menerka-nerka sendiri. Terima kasih Hwang Su Ji…

Aku tak akan melupakan kejadian itu. Su Ji, sampai sekarang pun aku masih merasa berhutang budi padanya. Yeoja itu, ia yang telah membuka mataku dan menumbuhkan keberanian dalam ketakutanku. Aku tak pernah menyangka akan bertemu dengan yeoja sebaik dirinya.

Hwang Su Ji, kini aku mengerti kenapa Minho begitu bahagia memiliki seorang sahabat sepertimu. Kau tak hanya cantik dan baik, namun lebih dari itu. Kau seorang malaikat. Malaikat tanpa sayap yang tertutup oleh tubuh manusia. Kelak, jika suatu saat nanti aku di pertemukan lagi denganmu, maka aku akan memelukmu dan mengucapkan kata terima kasih setulus yang ku bisa. Aku berjanji Su Ji, meskipun kau sudah melupakanku sekalipun.

Jung Cheon Sa POV END

Sore pun menjelang di iringi hujan gerimis yang tipis. Beberapa orang memilih untuk menggunakan payung, namun ada juga yang setia berjalan membiarkan kemejanya basah oleh rintik-rintik gerimis.

Seorang namja dengan pakaian serba hitam berjalan perlahan melintasi rerumputan di bawah kakinya. Pandangannya menunduk ke bawah, menikmati langkah demi langkah yang ia lewati. Beberapa helai rambut coklatnya tersibak angin lembut dan menimbulkan kesan dramatis pada dirinya.

Akhirnya langkah namja itu terhenti di depan sebuah makam bertuliskan ‘Choi Minho’.

“Apa kabar?” ucapnya dengan nada rendah. Kemudian ia berlutut dan meletakkan sebuah buket bunga di atasnya.

“Apa kau bahagia? Sebahagia apa kau di surga?” gumamnya lagi. Seolah ia sedang bercerita pada temannya. “Aku kesini karena aku merindukanmu, hyung. Entah, tapi sejak saat itu aku merasa sangat dekat denganmu. Tapi aku begitu menyesal karena tak pernah mengatakannya padamu.”

Sesaat namja itu menghela nafasnya. “Maafkan aku hyung. Tapi aku benar-benar menyayangi mereka. Mereka telah memberiku kehidupan dan kasih sayang yang tak pernah ku rasakan sebelumnya. Kau sangat beruntung, ku akui kehidupanmu adalah salah satu kehidupan yang paling sempurna di dunia. Aku iri padamu. Tapi… aku juga sangat berterima kasih padamu,” akunya lalu menepis setitik air mata di sudut matanya.

“Aku akan menjaga mereka. Aku berjanji hyung, akan membahagiakan mereka seperti cita-cita yang pernah kau impikan,” ucapnya lagi sambil mengelus batu nisan di hadapannya.

Kemudian namja itu mengadahkan tangan kirinya ke udara. Merasakan lembutnya air gerimis yang turun dan jatuh di atas tangannya. Ia tak pernah bisa menebak apa yang akan terjadi padanya setelah ini. Karena ia hanyalah manusia biasa, tak lebih dari itu. Ia tak tahu apakah esok ia akan tersenyum ataupun bersedih, tertawa maupun menangis. Tapi ia meyakini satu hal, bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika kita mampu membuat orang lain tersenyum. Hanya itu dan sesederhana itu.

FIN

-Satu kalimat buat para readers, “semoga kalian senang dan merasa benar-benar end dengan after story ini”, hehe…

-Mianhae kalau masih ada bagian misterius di scene paling ending itu. Tapi kurasa semua pasti sudah tahu kan siapa namja berpakaian hitam dan berambut kecoklatan itu? Hoho….

-Yang terakhir, tak lupa author Park Ara mengucapkan kata “Neomu neoumu ghamsahamnida untuk semua readers setia!!!” dan “Neomu neoumu mianhae kalau author tidak bisa membalas comment kalian satu persatu. Tapi author tetap berusaha yang terbaik!^^ ” #bow

-Annyeong! Semoga author bisa menulis FF yang lebih baik lagi di waktu mendatang… #hugskiss

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

Flashback

“Eomma, kenapa kita pindah ke desa? Aku mau pulang ke Seoul!” seruku pada Eomma yang sedang sibuk memindahkan barang-barang dari mobil ke dalam rumah.

Eomma menghentikan langkahnya dan menatapku sambil tersenyum. Lalu ia pun berjongkok di depanku. “Sayang, maafkan Eomma dan Appa ya. Kita terpaksa pindah kesini karena perekonomian di Seoul sedang sulit. Tapi kau tenang saja, semua ini hanya sementara kok…” hibur Eomma sambil mengelus lembut rambutku.

“Sireo! Pokoknya aku tidak mau!” tegasku kesal lalu berlari menjauhi Eomma dan rumah sederhana yang menyebalkan itu.

“Su Ji! Kau mau kemana Su Ji?” teriak Eomma di belakang sana. Namun aku tetap mengacuhkannya dan terus berlari sejauh mungkin. Sejauh yang tidak ku ketahui. Kalau perlu, aku bisa berlari ke Seoul sendiri. Aku ingin tinggal di Seoul. Tidak di desa kecil seperti ini.

Aku melihat ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapa-siapa. Hanya sebuah lapangan luas dengan gundukan salju di atasnya. Wah, semuanya menjadi putih. Lalu aku pun berjalan mendekati sebuah pohon yang telah gundul karena musim gugur. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat seorang anak laki-laki bertopi rajut warna biru di sana.

“Kau sedang apa?” tanyaku pelan.

Anak laki-laki itu mendongak dan menatapku dengan kedua matanya yang sembap. Sepertinya ia habis menangis. “Kau siapa?”

Akhirnya aku ikut berjongkok di depannya. “Namaku Hwang Su Ji. Namamu siapa?”

“Choi Minho…”

“Eung… Minho-ya!” seruku sambil tersenyum selebar mungkin.

“Anio.. kenapa kau memanggilku seperti itu? Tidak sopan!” balas Minho tidak terima.

Aku mengernyit bingung. “Kenapa? Kita kan teman. Kenapa aku tidak boleh memanggilmu seperti itu?”

“Hei, apa kau tidak lihat kalau aku lebih tua darimu?”

Aku terdiam dan berpikir. Benar juga, ia memang terlihat sedikit lebih tua dariku. Tapi… aku tidak terbiasa memanggil orang lain dengan sebutan ‘oppa’ atau ‘unni’. “Baiklah, aku akan memanggilmu Minho oppa.”

Minho justru membuang muka dan kembali sibuk dengan kegiatan yang tadi ia lakukan.

“Kau mencari apa?”

“Koin.”

“Apa? Koin? Untuk apa?”

“Aissh… kenapa kau mengganggu terus sih? Pergi saja sana. Aku tidak butuh bantuanmu!” usir Minho membuatku kesal setengah mati.

“Ya sudah. Aku pergi. Lagipula untuk apa membantu anak menyebalkan sepertimu?” lawanku tak mau kalah. Akhirnya aku pun pergi meninggalkannya.

“Huh, menyebalkan sekali anak itu,” gumamku sambil berjalan meninggalkan Minho. Namun tiba-tiba kedua mataku menangkap sebuah benda berkilau yang sedikit terkubur salju. “Apa ini?” tanyaku dalam hati. Aku pun menepis butir-butir salju di atasnya dan mengamati benda itu. “Oh, bukankah ini sebuah koin?”

“Hei, apa kau belum menemukan koinmu?” seruku pada Minho.

“Kenapa kau belum pergi? Dasar pengganggu!”

Aku mencibir mendengar perkataannya. “Ini!” aku melempar koin itu hingga mengenai kepala anak itu.

“Aduh! Oh?”

Aku pun menyunggingkan senyum penuh kemenangan ketika Minho mulai menyadari dengan benda kecil yang tadi mengenai kepalanya.

“Itu koinmu kan?” tanyaku memastikan meski aku sudah tahu jawabannya. Ya, aku hanya ingin membuktikan kalau aku bukanlah yeoja pengganggu seperti yang ia ucapkan tadi.

Minho pun berdiri dan menatapku tak percaya. “Kau…”

Aku hanya diam tanpa berkata apa-apa. Namun sebuah senyum lebar di wajahku telah membuktikan kalau aku memang pantas menjadi temannya. Dan sekali lagi, aku bukan seorang anak pengganggu yang tak berarti apa-apa.

Flashback END

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

17 thoughts on “A Ghost Inside Me (After Story) : An Everlasting”

  1. Wah2,
    akhirnya keluar juga!

    Mwo??siwon+Jjong kabur?? Parah mereka.
    Dibutakan oleh cinta.

    Yg pake baju item2 itu uri Magnae kan??
    Wkwkw, syg porsinya dikit*jiwaTaemints kumat

    makasih udh dibikinin after story-nya Ara-chan.
    *bow

  2. Haha klo bca ff ini bwa’a ktagihan mlu hehe, yg pke kemeja itu psti taemin doh 😀
    thanks ya author dh mau bkin after story’a, ditnggu trus ff lain’a ^^v

  3. daebak~! permainan kata2nya hebat bangeeeeet. Love it ❤

    kupikir disini bakalan banyak cerita ttg marriage life suji-key tp gpplah, after story nya kan buat ngejelasin hal2 yg msh ngambang itu.

    paling seru pas scene jjong, cheonsa, dan TAEMIN! omooo~ *cant breath* aku ngebayangin oppa disini dandan kyk 1000 yrs always by your side! Asli kece badai~

    FF ini beneran the end udah, selamat tinggal minho, key, suji, dan nae yeobo *ditabok* taemin *kisseu*

    Karya selanjutnya ditunggu Ara-ssi :mrgreen:

  4. Pasti Taemin yang ada di kuburan itu.
    Hmm… cheonsa beruntung sekali ya, dicintai seorang namja bahkan saat namja itu sudah tidak akan mungkin lagi mencintainya dalam sosok manusia.
    Suji dan Key, huahahha… no comment deh. Skg aku udh lumayan suka sama mereka, walau lebih suka Suji – Minho *maaf ._.v

    ah… Jjong… How sad…
    Dan siwon? Doh kasian si abang siwon dijadiin mati .-. Huehehehe…

    Apapunlah, pokoknya daebaaaaak banget buat authornya 🙂 keep writing and send your ff to SF3SI 😀 I’ll read ur fanfiction always 😀

  5. Keren. .keren. .
    bingung mau ngmg apa lg. .
    makasi ya thor, uda d buatin aftes storynya. .
    ditunggu karya-karya selanjutnya. .
    FIGHTING. .!!!

  6. Haduhh cerita bias aku lg Ɣªήğ meninggal tapi tetep d cintai T_T walaupun udh meninggal ,gara2 jjong terobsesi cinta ny > < ending ny kurang min tp seru cerita ny buat aku ikut merinding bayangin arwah minho Αϑα̲̅ d sekeliling aku 😀 hahahaa.
    Abang ciwon kasian mati dengan sia- sia jonghyun lg ngajak2in kabur, tp gak p2 untung bukan oppa donghae bhahaaaa 😀

  7. Wahh,kykx crita sblmx keren*kgk pernah bca be4 storyx*… Huwaaa, tp after storyx keren,!
    Daebak!
    Keep writing yah!! XDXD

  8. Kyaa thooor udah after story! Udahan deh 😦
    Tapi aku belum baca part 17 nya waktu itu mau aku buka tapi gabisa, thor aku mau minta linknya boleh? Maaf ._. Seneng+sedih banget cerita ini selesai, rameee banget! Di tunggu ff lain yang ga kalah seruu 😉

  9. Kyaa~ Ending juga…
    Minho Oppanya meninggal ya?? yahh 😦 aku kira minho bakal suka sama Su Ji.. hehe…
    Ngomong2 FF nya bgus kok min^^

  10. buat author makasiih bgt uda bikin cerita dgn alur seperti ini … FF ini menyita waktu ku buat membaca sampai tamat … bikin ‘nyariss’ air mata jatoh gara2 cerita nya… truss bikin aku membatalkan dinner sama pacar gara2 cuma mau nerusin baca … hahaha:D
    buat author semangatt yaah … teruskan imajinasi nya … aku tggu karya selanjut nya 😀
    fighting !!!!

  11. mianhae baru bisa ninggalin jejak, unni. aku org yg ga bisa di buat penasaran. aku harus baca smp akhir atau aku bisa ngerusak hidup dan rutinitasku krn terlalu penasaran.. finally, aku bisa baca dari awal smp akhir selama 2 hari, maklum banyak meeting.. to be honest unni, aku sedih liat uri oppa jjong dg kondisi bgtu 😦 oppa jjong adlh oppa paling ceria dan mood booster ku, kasian bgt dibutakan cinta bgtu 😦 tp aku seneng meski minho meninggal, ia pergi dlm keadaan tenang dan bahagia. key, manusia berhati malaikat itu emang cocok bersanding dg suji. uri maknae taem, aigoo, semoga dpt beasiswa dan bisa membanggakan eomma appa nya minho.. tapiiiiiii, uri leader?? onew kmana nih unnie?
    aku suka bgt sama alurnya. setiap akhir part selalu bikin penasaran. cerita ditulis dg rapi. aiiiih, naega neomu neomu neomu neomu johahae♥
    gomawo unnie 🙂

  12. OMO! Itls fin? Eungg.. Unni aku udah niggalin jejak di part2 sebelumnya… Kesan ku.. Air matakua abis, mataku bengkak na sakit, perasaan ku jadi gaje.

    Apapun itu aku mau orang lain baca ni ff terus ngerasaih gimana kayak aku BUWAHAHAH *tawa devil*

    nae saraghae authorr.. Neomu gomawo. Semoga unni baca ni coment *ga mungkiinn* terus berkarya yahh . Fighting! :D;>

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s