Naega Saranghae “Our Marriage” – Part 8B

Naega Saranghae Season Two (Our Marriage) – Part 8B

nsst part 8

–    Author                                             :

Papillon Lynx aka Ervina H

–    Major Casts                                                 :

  • Kim Shin You (Imaginary Cast) covered by Jung Eun Ji APink
  • Choi Minho SHINee covered by Choi Minho SHINee
  • Kim Jonghyun SHINee covered by Kim Jonghyun SHINee
  • Aita Rinn (Imaginary Cast) covered by Kim So Eun
  • Kim Kibum aka Key covered by Kim Kibum aka Key SHINee
  • Lee Jinki covered by Lee Jinki SHINee
  • Lee Jura covered by Lee Jinki SHINee
  • Han Nhaena (Imaginary Cast) covered by Son Naeun APink
  • Han Yurra (Imaginary Cast) covered by Kim Taeyeon SNSD
  • Lee Taemin covered by Lee Taemin SHINee
  • Jang Hyunseung covered by Jang Hyunseung B2ST
  • Hwang Suji covered by Han Ga In

–    Minor Cast                                      :

  • Jinki and Minho’s Eomma
  • Lee Won Ssi
  • Shin You and Jonghyun’s Eomma
  • Kim Junsu
  • Lee Soo Man
  • Tuan Han
  • Nyonya Han
  • Nyonya Kim
  • Pengacara Hwang
  • Park Sera
  • Manager Hyung

–    Genre                                               :

  • Romance
  • Sad
  • Life
  • Friendship
  • Marriage Life

–    Length                                             :

Sequel

–    Rating                                              :

PG-13 until PG-16

 

Summary        :

Our marriage was a mistake. However, what if love begins to grow between us over time? We don’t know. But, if that happens, as much as possible I will continue to maintain our beautiful love.

 

A.N:

Masih ingat dengan FF ini? Ya? Tidak? Bagus. Ini memang sudah terlalu terlambat buat aku publish lanjutannya. Hehe.. Tapi, tak apa kan? Lebih baik terlambat daripada tidak dilanjutkan sama sekali. Oke deh, ngga akan banyak cincong lagi. Lanjuuuttt…!!

 

NOTE :

KATA-KATA YANG BERCETAK miring ADALAH KATA-KATA YANG DIUCAPKAN OLEH KARAKTER DALAM HATI DAN BAHASA ASING (KOREA DAN INGGRIS) YANG DIGUNAKAN DEMI KEPERLUAN ALUR CERITA

 

Review Last Part

 

 

@@@

 

Few Days Later…

 

BUKAN Hyunseung namanya jika ia menyerah. Terutama untuk mengungkap kebenaran yang akan mengantarkannya pada jalan dimana ia akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan hati Shin You.

Beberapa hari yang lalu ia berhasil mendapatkan alamat rumah Nhaena dari data rumah sakit tempat Nhaena dan Shin You dilahirkan 18 tahun yang lalu. Dan tanpa menunggu lagi, hari itu juga Hyunseung langsung membawa mobilnya ke alamat rumah itu yang terletak di kota Daegu. Sayang, begitu ia sampai di alamat rumah itu, seorang tetangga mengatakan bahwa sejak Nyonya Han meninggal, Tuan Han beserta kedua anaknya pindah rumah ke rumah yang lebih besar di kawasan perumahan elite Seoul. Dan entah itu keberuntungan atau kebetulan, tetangganya itu tahu alamat rumah keluarga Han yang baru dan dengan senang hati mau memberitahu Hyunseung. Tapi, Hyunseung baru mencoba mendatangi alamat rumah yang baru itu sekarang. Ya, hari ini. Karena sebelumnya ia harus menyiapkan semua bukti-buktinya.

Hyunseung menengadahkan kepalanya, menatap langit sore yang berwarna jingga kemerahan. Tampak di ufuk barat, sang Mentari mulai kembali ke peraduannya. Perlahan namun pasti, malam pun tiba. Hyunseung tak bergeming, dan kini memejamkan kedua matanya—menikmati dinginnya malam kota Seoul. Dan juga… Tak bergeming untuk menenangkan debaran jantungnya yang sangat keras. Antara takut dan juga tak sabar.

Hyunseung tahu, setelah ia melewati ini semua—dengan bermodalkan keberaniannya saja dan semua bukti-bukti akurat yang ada padanya sekarang—ia pasti akan sukses mengungkap kebenaran yang selama belasan tahun ini hanya ia dan Tuhan yang tahu. Namun setengah hatinya memberontak—antara ingin mengungkapkan semuanya saat ini juga demi ambisinya untuk menghancurkan hubungan Shin You dan Minho, atau tetap tutup mulut akan kebenaran yang ada, yang itu artinya ia tak akan memiliki kesempatan untuk mengulurkan tangannya di hadapan Shin You dan melihat Shin You menerimanya meskipun gadis itu ragu.

Tapi sepertinya Hyunseung telah termakan ambisi dan egonya yang begitu kuat hingga sekarang ia—tanpa ragu lagi—mulai melangkahkan kakinya, memasuki halaman sebuah rumah megah yang semula hanya bisa ia pandangi saja.

Hyunseung tertegun ketika ia menyadari bahwa ia bisa masuk sebegitu mudahnya ke dalam rumah itu. Dalam hati ia bertanya-tanya, kenapa pintu depan tidak dikunci? Tapi pikiran itu hanya seperti angin lalu saja baginya karena sekarang ia sudah kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.

Hyunseung mengagumi desain halaman rumah itu. Halaman itu dihias dengan berbagai macam bunga berwarna-warni yang terlihat indah di pandang mata. Di sisi kiri halaman, sebuah kolam kecil dengan air mancur  yang memancarkan sinar-sinar berwarna-warni menambah kesan mewah dan elegan pada rumah bergaya Eropa itu. Hyunseung percaya, Tuan Han memang tak segan-segan membayar mahal tukang kebun untuk menjaga dan merawat keindahan halaman rumahnya yang menurut Hyunseung sendiri sudah sekelas dengan taman-taman yang digunakan sebagai obyek wisata.

Nuguseyo?” Sebuah suara mengalihkan fokus kedua mata Hyunseung pada sesosok gadis yang kini menatap Hyunseung kaget, sedetik setelah gadis itu membuka pintu rumah dan melihat kehadiran Hyunseung di depan pintu rumahnya.

Jwesonghamnida, apakah benar ini adalah kediaman Tuan Han Hyo Nim?” tanya Hyunseung sopan pada gadis di hadapannya yang bisa ia perkirakan umurnya baru saja mencapai kepala dua.

Nde. Keundae, nuguseyo? Kenapa kau mencari ayahku?”

DEG!

Hyunseung tercenung.

Ayahku?? Batin Hyunseung.

“Tunggu sebentar, apa benar kau yang bernama Han Nhaena?” tanya Hyunseung lagi, kembali mengacuhkan pertanyaan yang diajukan yeoja di hadapannya. Yeoja itu menggeleng cepat.

Anieyo. Choneun Han Yurra imnida.” Jawab yeoja itu, yang masih terlihat bingung dengan kehadiran namja asing di hadapannya sekarang. “Han Nhaena adalah adikku.”

“Oh, aku pikir kau adalah dia. Tapi setahuku, Han Nhaena itu adalah gadis SMA, jadi aku sempat merasa kaget ketika mendengar kau mengatakan kau adalah anak dari Tuan Han Hyo Nim. Err, dan maaf jika membuatmu bingung dengan kehadiranku yang tiba-tiba. Tapi, perkenalkan, namaku Jang Hyunseung. Dan ada beberapa hal penting yang memaksaku untuk datang ke sini dan untuk bertemu dengan ayahmu. Jadi, apakah Tuan Han Hyo Nim ada di dalam?” Yurra mengernyitkan dahinya.

“Hal penting? Apa ada hubungannya dengan adikku?” tanya Yurra dengan pandangan menyelidik. Hyunseung tersenyum dan mengangguk.

“Ya.. Begitulah. Dan aku rasa, kau dan Nhaena-ssi juga harus tahu tentang hal ini.”

….

Hyunseung kini duduk di sebuah sofa panjang berwarna cokelat yang terasa nyaman sekali untuknya. Di depannya, hanya dengan terhalang meja kaca panjang berbentuk persegi panjang, Yurra dan Tuan Han Hyo Nim duduk berdampingan dengan perasaan tak menentu. Terlebih, Tuan Han. Ia sudah bisa menebak ada sesuatu yang tidak beres dengan datangnya pemuda tampan di hadapannya sekarang. Ia merasakan sesuatu yang tidak ia harapkan terjadi justru akan segera menjadi nyata.

“Yurra­-ssi, bagaimana? Apakah Nhaena­­-ssi sudah bisa kau hubungi? Apakah ia bisa datang kemari?” tanya Hyunseung memastikan. Tapi gelagat cemas Yurra yang entah berapa detik sekali memandangi layar ponselnya, membuat Hyunseung yakin, Nhaena sepertinya tidak mengangkat panggilan kakaknya itu dan itu tandanya gadis itu tak akan datang.

“Dia selalu mereject panggilan teleponku. Terlebih, sepertinya sejak kepulangannya dengan Key dari bulan madu di Paris, hubungan mereka sedikit tidak baik. Jadi—“

Mworagoyo?” kaget Hyunseung. “Jadi, Nhaena-ssi sudah menikah?! Dan tunggu, dengan Key? Key siapa?”

“Teman satu kelasnya. Dan aku pikir, mereka memang berkencan sampai terjadilah insiden di malam itu yang membuat ibu Key memergoki mereka sedang berada dalam kamar dan ranjang yang sama. Ah, Key itu hanya panggilannya saja. Nama lengkapnya adalah Kim Kibum.” Jawab Yurra kalem.

MWO?! Kim Kibum yang kau maksud adalah murid kelas tahun terakhir Goojung High School??” Kedua kalinya Hyunseung merasa dunia memang sempit.

Majaeyo. Mereka bersekolah di sekolah yang sama.” Kini giliran Tuan Han yang menjawab pertanyaan Hyunseung. “Jadi, apa yang ingin kau beritahukan pada kami? Tidak perlu menunggu Nhaena. Kami bisa menyampaikan apa yang akan kau beritahukan pada kami nanti padanya.” Putus Tuan Han.

Nde. Algeuseumnida (Saya mengerti). Baiklah, kalau begitu, silahkan kalian membuka dan membaca isi dari apa yang ada di dalam amplop cokelat ini.”

Hyunseung memberikan sebuah amplop cokelat besar pada Tuan Han. Dengan sedikit ragu, Tuan Han memandangi dan menerimanya. Yurra yang duduk di sampingnya sedikit bergeser mendekat pada Tuan Han dan membantu membukakan amplop cokelat itu. Setelah terbuka, di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas putih yang sudah dihiasi dengan huruf-huruf Hangeul yang rapi dengan tinta berwarna hitam. Tuan Han dan Yurra pun mulai membacanya pelan-pelan.

1 menit dahi Tuan Han dan Yurra berkerut samar.

2 menit tatapan kedua mata mereka semakin dan semakin menatap lekat pada apa yang mereka baca.

3 menit ekspresi tak percaya dan syok jelas terpancar dari sinar mata mereka. Yurra bahkan menutup mulutnya agar tangisnya tak pecah seketika.

“Hyunseung­-ssi, apakah semua ini benar?? Katakan padaku!” sentak Tuan Han sambil menggenggam dengan erat lembaran-lembaran kertas yang menjadi bukti kebenaran yang ada di depan matanya sekarang.

“Tuan Han, bagaimana mungkin saya berbohong jika semua buktinya sudah ada di tangan Anda sekarang? Sebelumnya saya meminta maaf pada Anda, karena demi melakukan tes DNA itu, saya membayar seorang siswa dari sekolah Nhaena-ssi agar diam-diam mengambil sample beberapa helai  rambut Nhaena-ssi. Setelah itu, saya membawa sample rambutnya dan juga sample rambut Jonghyun ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA itu. Dan ternyata, hasilnya seperti dugaanku. Hasilnya positif dan itu berarti Nhaena-ssi memang adalah adik kandung Jonghyun. Nhaena­-ssi adalah putri keluarga Kim.”

“Itu tidak mungkin…” isak Yurra yang kini sudah meneteskan air mata. Matanya memerah, begitu juga dengan hidungnya.

“Benar. Tidak mungkin pihak rumah sakit sampai melakukan hal seceroboh ini!” kata Tuan Han masih tak terima. Tuan Han juga mulai menangis. Tangannya yang masih memegang lembaran-lembaran kertas hasil tes DNA Nhaena dan Jonghyun terlihat bergetar. “Lalu, dimana keberadaan putriku yang sebenarnya jika ini semua benar?”

Hyunseung mengusap wajahnya perlahan dan menghela nafasnya.

“Kalian berdua tak perlu merasa sesedih itu. Sejujurnya aku tahu siapa dan dimana putri kandung Anda,  Tuan Han. Namanya Kim Shin You, sosok gadis yang selama ini aku pikir adalah saudara sepupu kandungku. Tapi ternyata, takdir berkata lain. Dan sepertinya, setelah semua kejadian ini, namanya akan berubah menjadi Han Shin You. Ah, ini fotonya.” Hyunseung mengeluarkan secarik foto dari dalam saku kemejanya dan memberikannya pada Tuan Han dan Yurra.

Yurra tersentak begitu melihat dengan jelas gambar yeoja yang ada dalam foto itu.

Appa, aku mengenalnya. Appa ingat kan saat kita dan Jinki oppa datang ke pesta pernikahan Minho?” Tuan Han mulai mengingat-ingat. “Benar. Kim Shin You yang ada pada foto ini adalah Kim Shin You yang sama dengan yang menjadi istri Minho sekarang.” Jelas Yurra yang sudah mulai tak terisak lagi.

“Minho?? Choi Minho? Tunggu, kenapa semuanya menjadi berhubungan seperti ini??” gumam Hyunseung pada dirinya sendiri. “Bagaimana kau bisa mengenal Minho? Oh, tidak. Jangan-jangan kau adalah Han Yurra yang—“

Ne.Choneun Jinki oppa anae-ga (Aku adalah istri dari Jinki oppa), kakak dari Choi Minho. Jadi, Hyunseung-ssi, benar, bukan? Dia ini adalah Kim Shin You, gadis yang menikah karena dijodohkan dengan Minho?” tanya Yurra tak sabar pada Hyunseung. Hyunseung mengangguk pelan. Ia tahu ia tidak menyukai kenyataan bahwa yeoja yang disukainya memang telah menikah. Menikah dengan Minho. Dan seolah lingkaran nasib sedang mempermainkan mereka, ternyata Minho adalah adik dari Lee Jinki. Sedangkan Lee Jinki adalah suami dari Han Yurra yang selama 18 tahun ini telah menjadi kakak dari sepupu kandungnya, Han Nhaena.

“Ya Tuhan.. Kenapa semua ini bisa terjadi? Yurra-ya, aku tidak percaya dengan ini semua, Anakku. Bagaimana mungkin, Nhaena bukanlah adik kandungmu? Bagaimana mungkin??” Tuan Han memegangi kedua pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut dengan kedua tangannya. Melihat itu membuat Yurra kembali sedih.

“Hyunseung-ssi, sekarang jelaskan padaku. Bagaimana Nhaena dan Shin You bisa tertukar? Dan.. Bagaimana bisa hanya kau yang tahu tentang semua ini?” tanya Yurra setelah keheningan menyergap beberapa saat di antara mereka bertiga.

Hyunseung menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya pelan. Ia telah melakukan semuanya sampai sejauh ini. Itu artinya, ia tak bisa mundur lagi. Ia harus segera menyelesaikan ini semua sampai tuntas.

“Baiklah. Jadi, 18 tahun yang lalu….”

@@@

CIIIIITTTT!!!

Key menghentikkan mobil sport—dengan atap terbuka—miliknya, dengan kasar hingga suara derit rem yang terdengar berhasil membuat Nhaena yang memang duduk di samping kemudi—di samping Key—merasa harus segera turun dari mobil suaminya itu cepat-cepat. Dan benar saja, tanpa sepatah kata pun, Nhaena langsung membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobil Key setelah menutup kembali pintu mobil itu dengan sekali dorongan tangannya yang keras.

“Nhaena-ya! Tunggu!” teriak Key sambil cepat-cepat keluar dari mobil dan menyusul Nhaena. Namun Nhaena tak mengacuhkannya. “Nhaena!” panggil Key lagi dan berhasil menangkap lengan Nhaena. Namun sepersekian detik kemudian, Nhaena menghempaskannya kasar.

Ppali kkayo (Cepat pergi)!” desis Nhaena dengan keras membuat Key sedikit tersentak. “Terima kasih atas tumpangannya. Terima kasih sudah mengantarkanku pulang kembali ke Seoul, ke rumah ayahku dan terima kasih telah menyadarkanku bahwa aku adalah yeoja terbodoh yang telah tertipu oleh seorang Key!”

“Tertipu? Tuduhan apa lagi ini?” Key mengalihkan pandangannya ke arah lain dan tertawa hambar. “Aku tidak pernah menipumu!!” bela Key pada dirinya sendiri.

Kini giliran Nhaena yang tertawa sinis. “Oh, kau mungkin sudah lupa. Baiklah, akan aku ingatkan lagi. Kau melakukannya di depan mataku, Key. Di depan istrimu sendiri! Kau berselingkuh! Kau menyatakan cinta pada gadis lain yang telah bersuami. Dan gadis itu adalah kakakku! APA KAU TAK PUNYA HATI, HUH?!” Bulir-bulir air mata telah kembali dengan mudahnya membasahi wajah Nhaena. Nhaena sendiri merasa heran, kenapa air mata di matanya itu seolah tak pernah habis untuk menangis. Dan Nhaena membenci kenyataan bahwa ia menangisi Key karena ia begitu mencintai namja itu.

Key bungkam. Apa yang dikatakan Nhaena memang benar dan itu adalah kebodohan terbesarnya. Sejak malam itu, 3 hari yang lalu, Nhaena sama sekali tidak mau berbagi kamar dengannya di hotel. Nhaena justru memesan kamar lain dan mendiamkannya sampai detik ini, sampai mereka berada di Seoul, di depan rumah kediaman Han ini.

“Nhaena-ya, mianhae…” ucap Key pelan. Nhaena makin terisak. “Jebal, maafkan aku. Saat itu aku sangat emosi karena melihat Jinki Hyung yang berselingkuh di depanku dan Yurra Noona. Aku.. Aku seperti tak sadar saat mengatakan pada Yurra Noona kalau aku mencintainya. Aku hanya menghiburnya. Aku juga merasa sangat menyesal karena aku meninggalkanmu di jalanan waktu itu. Seharusnya aku lebih pintar menahan amarahku dan tidak pergi meninggalkanmu begitu saja.” Jelas Key panjang-lebar. Namun Key merasa penjelasannya masih belum cukup jelas untuk ia berikan pada Nhaena.

“Hanya menghibur? Menyesal? Tidak sadar? Key, apa kau pikir kau sedang berada di bawah pengaruh alkohol saat itu? Aku rasa, tidak.” Nhaena menghapus air matanya asal dengan punggung tangannya. “Aku tak akan menahanmu lagi. Aku menyerah dengan pernikahan ini. Kita menikah karena kesalahan kita berdua. Tapi aku tak menyangka pernikahan kita akan berakhir karena kesalahanmu. Setidaknya, jika memang harus berpisah, aku berharap kita berpisah dengan cara yang lebih baik daripada ini. Tanpa amarah, tanpa perasaan sakit di hati. Tapi pada kenyataannya kau sukses membuat semuanya menjadi begitu rumit, Key. Sudahlah. Aku.. Lelah bersamamu.”

DEGH!

Aku.. Lelah bersamamu.

 

Aku.. Lelah bersamamu.

 

Aku..Lelah bersamamu.

 

Kata-kata terakhir Nhaena begitu menohok hati Key. Key tak tahu kenapa hatinya bisa berdenyut-denyut, merasakan perih teramat-sangat saat mendengar kalimat itu dari bibir seorang gadis yang selama ini tak pernah ia bayangkan bisa membuatnya merasa menjadi namja terbodoh di dunia. Bahkan Key masih diam mematung saat Nhaena melanjutkan langkahnya, meninggalkannya masuk ke dalam rumah keluarga Han.

“Tidak. Ini tidak boleh terjadi!” gumam Key pada dirinya sendiri dan ia segera menyusul Nhaena lagi. Namun langkahnya terhenti saat ia mendapati Nhaena yang sedang terduduk lemas, di depan pintu rumahnya. “Nhaena-ya!!” teriak Key panik.

Key langsung berlari menghampiri Nhaena dan membantu Nhaena untuk bangkit. Key meletakkan kedua tangannya erat di kedua lengan tangan Nhaena agar Nhaena bisa memiliki kekuatan untuk menopang tubuhnya. Namun, nihil. Key merasa aneh dengan ekspresi wajah Nhaena yang terlihat sangat syok di matanya. Key merasa sesuatu yang lebih buruk telah terjadi. Dan itu pasti berhubungan dengan Nhaena.

“Nhaena-ya, gwenchana? Katakan padaku, kenapa kau terlihat—“

“Ya Tuhan.. Kenapa semua ini bisa terjadi? Yurra-ya, aku tidak percaya dengan ini semua, Anakku. Bagaimana mungkin, Nhaena bukanlah adik kandungmu? Bagaimana mungkin??”

Sontak, kalimat Key terputus. Kedua mata Key melebar mendengar suara Tuan Han yang terdengar dari dalam rumah—dari balik pintu yang ada di hadapannya dan Nhaena sekarang.

“Hyunseung-ssi, sekarang jelaskan padaku. Bagaimana Nhaena dan Shin You bisa tertukar? Dan.. Bagaimana bisa hanya kau yang tahu tentang semua ini?”

SHIN YOU??!! Batin Key. Seketika hati Key mencelos mendengar kenyataan pahit tentang Nhaena.

“Nhaena-ya..” lirih Key. Key mencoba menatap sepasang bola mata yeoja yang beberapa hari ini mulai menyita hati dan pikirannya. Key tidak berani membayangkan apa yang Nhaena rasakan sekarang.

“Key.. Sepertinya, nasib memang sedang mempermainkan aku.” Nhaena tertawa hambar sambil menangis. Key tak tega melihatnya. Sekarang, sepertinya tangis Nhaena akan membawa dampak buruk bagi kesehatan hati Key yang mungkin memang baru Key rasakan bahwa ia mulai mendamba seorang Han Nhaena. “Kau dengar, bukan? Tuhan belum puas dengan semua yang telah ia buat dalam hidupku. Pertama, aku tidak akan pernah mendapatkan cintamu, dan sekarang, aku dihadapkan pada kenyataan bahwa tak lama lagi aku akan bertanya pada semua orang dan diriku sendiri, ‘AKU INI ANAK SIAPA?!  AKU INI SEBENARNYA SIAPA?? SIAPA AKU?!!!” teriak Nhaena histeris. Tangisnya pecah. Dan saat itu juga, Key langsung menarik Nhaena ke dalam dekapannya. Key tak memiliki alasan lagi untuk berpikir dua kali saat ia merasa ia harus memeluk Nhaena. Sekarang Key mengerti, kenapa ia bisa merasa sakit saat melihat Nhaena terluka. Saat Nhaena menangis. Itu karena, Key memang mulai mencintai Nhaena.

DRAP DRAP DRAP!!

CEKLEK!

“Nhaena!”

Yurra tersentak begitu ia membuka pintu rumah dengan tergesa-gesa dan mendapati Nhaena dan Key di tanah dan saling berpelukan dengan Nhaena yang sedang menangis keras. Dugaan Yurra benar saat ia mendengar suara percakapan dua orang yang terdengar dari halaman depan rumah tadi. Ternyata memang benar Key dan Nhaena yang datang.

Sementara itu, dengan kedua matanya yang merah menahan tangis, Key mendongakkan wajahnya—dengan tidak melepaskan pelukannya di tubuh Nhaena—dan menatap cinta masa lalunya dengan tatapan nanar. Ya, itu yang Key pikirkan sekarang. Yurra hanya masa lalu baginya.

Noona, katakan kalau apa yang kami dengar tadi tidak benar. Katakan kalau Nhaena adalah Han Nhaena, putri bungsu keluarga Han. Adik kandungmu.”

Dan sedetik setelah kalimatnya selesai terucap, setetes cairan bening menetes dari salah satu mata Key yang seperti biasa memancarkan sinar mata yang tajam.

@@@

Kebenaran 18 tahun silam telah terungkap. Semua sudah mengetahuinya. Bahkan, Shin You, Minho, Jonghyun dan Aita. Kabar yang sangat megejutkan itu dengan cepatnya tersebar dan terdengar di telinga mereka. Tentu saja, semuanya syok. Terlebih Shin You sendiri.

Tapi berbeda dengan Nhaena yang lebih memilih untuk mengurung diri di kamarnya sampai berhari-hari, tidak pernah berangkat ke sekolah dan mengajukan surat perceraian pada Key, Shin You lebih memilih untuk pergi ke London bersama Hyunseung saat Hyunseung memberitahunya bahwa ada kemungkinan Shin You bisa berjalan lagi dengan bantuan kaki palsu. Dan menurut sumber yang bisa dipercaya, rumah sakit di London bisa merubah harapan Shin You untuk bisa berjalan lagi menjadi kenyataan. Sebenarnya, alasan lain yang membuat Shin You memilih pergi ke London juga karena ia merasa ia perlu untuk menenangkan diri.

Rupanya, Hyunseung memanfaatkan hal itu karena melihat hubungan Shin You dan Minho yang mulai renggang setelah kebenaran tertukarnya Nhaena dan Shin You terungkap. Prediksinya tidak meleset. Dan Hyunseung sangat senang dengan hal itu. Memang itulah yang ia harapkan. Memang dengan cara mengungkapkan kebenaran itu lah Hyunseung yakin bahwa ia bisa menghancurkan pernikahan Minho dan Shin You. Dan dengan begitu, Hyunseung merasa lebih bebas untuk merebut Shin You dari siapapun, termasuk Minho.

Sudah satu minggu lebih, Hyunseung menemani Shin You di London. Kebetulan sekali, ada teman Hyunseung yang mau menyewakan rumah pada Hyunseung dan Shin You sementara. Jadi, mereka tak perlu merogoh saku terlalu dalam untuk membayar biaya hotel yang mahal.

Baru saja Hyunseung selesai menyiapkan makan malam di dapur rumah sewaan mereka berdua ketika ponselnya bergetar dan memaksanya untuk mengangkat panggilan telepon yang masuk.

Jonghyun Calling…

 

Ingin rasanya Hyunseung memutuskan sambungan telepon dari Jonghyun. Hyunseung sudah bisa menebak apa tujuan sepupunya itu meneleponnya. Hyunseung baru terpikir, dengan terungkapnya kebenaran bahwa Shin You bukanlah adik kandung Jonghyun, mungkin saja Jonghyun akan kembali mengejar Shin You. Hyunseung tahu betul bagaimana dan seberapa besar perasaan cinta Jonghyun pada Shin You sebelumnya. Dan selama ini, memang Hyunseung mengakui bahwa Jonghyun adalah saingan terberatnya.

Yeobsseoyo.” Jawab Hyunseung malas setelah ia memilih untuk keluar dari rumah dan mengangkat teleponnya di halaman depan rumah itu. “Ada apa kau meneleponku?”

“Kapan kau dan Shin You kembali? Sudah satu minggu kau dan Shin You berada di London, Hyung. Aku mengkhawatirkan Shin You.” Terdengar suara Jonghyun yang cemas di seberang sana. Hyunseung mendengus pelan.

“Kau tenang saja. Shin You baik-baik saja di sini bersamaku. Tidak mungkin aku akan menelantarkannya. Dan tentang kepulangan kami, aku masih belum bisa memastikan kapan tepatnya karena kaki palsu untuk Shin You masih belum selesai dibuat.” Jawab Hyunseung apa adanya.

Mwo? Kenapa selama itu? Apa tidak bisa kalian pulang dulu saja ke Seoul dan biarkan pihak rumah sakit yang mengantarkan kaki palsu itu setelah selesai dibuat? Shin You juga harus bersekolah dan aku pikir, bagaimanapun juga Shin You lebih baik berada di sisi Minho, suaminya.” Kata Jonghyun yang semakin membuat Hyunseung kesal.

“Tidak semudah itu!” sentak Hyunseung membuat Jonghyun terperanjat. Ini kali pertama ia mendengar teriakan Hyunseung untuknya. Jonghyun merasa aneh dengan sikap Hyunseung. Atas dasar apa Hyunseung harus membalas perkataannya dengan cara marah-marah seperti itu? Pikir Jonghyun. “Sudahlah! Kau diam saja di situ dan aku pastikan aku akan membawa pulang Shin You dengan selamat. Toh, dia bukan adik kandungmu. Kenapa kau bisa masih begitu peduli padanya, huh??”

PIPP!

Tanpa menunggu reaksi Jonghyun, Hyunseung mematikan sambungan telepon Jonghyun dengan cepat.

“Cih, kau kira aku tidak tahu kalau sebenarnya kau lah yang ingin cepat-cepat bertemu dengan Shin You? Munafik sekali, pakai membawa-bawa Minho segala.” Gumam Hyunseung sambil memandang sebal layar ponselnya seolah-olah ponselnya itu adalah Jonghyun.

“Jonghyun Hyung bukan orang yang munafik, Hyung. Karena akulah yang meminta Jonghyun Hyung untuk meneleponmu barusan dan menanyakan kapan kau akan membawa Shin You pulang.”

DEGH!

Dengan cepat Hyunseung membalikkan badannya dan kedua matanya membulat ketika ia yakin ia melihat sosok namja bertubuh tinggi tegap dengan rambut panjang sebahu yang diikat ke belakang,  tengah menjinjing tas koper besar dan menatapnya tajam.

“Minho-ah…” gumam Hyunseung tak percaya.

Hyung, aku ingin bertemu dengan istriku sekarang juga dan aku tak ingin mendengar kata-katamu yang melarangku untuk membawanya pulang ke Seoul. Aku sudah memesan tiket pesawat penerbangan paling pagi tujuan Seoul untuk besok pagi. Dan kau boleh pulang bersama kami, jika kau mau.” Kata Minho tegas dengan suara baritonenya yang terdengar khas. Tatapan kedua mata Minho begitu menusuk Hyunseung membuat namja itu merasa kalau mungkin saja Minho telah menyadari dan mengetahui rencananya untuk merebut Shin You dari dekapan namja itu.

Dan kali ini, Hyunseung hanya bisa bungkam.

“Untuk apa kau datang kemari?” Minho tercenung. Baru saja ia membuka pintu kamar Shin You dan sedetik kemudian, gadisnya itu telah melayangkan sebuah pertanyaan bernada dingin yang cukup menggores hatinya. Namun Minho tetap tersenyum.

“Apa salah jika aku menyusulmu kemari? Aku suamimu.” Jawab Minho sekenanya sambil meletakkan koper besarnya di sudut kamar dan beringsut duduk di tepian kasur bersprei ungu muda—tempat dimana Shin You juga sedang duduk. Namun sejak Minho berada di sisi Shin You, Shin You masih saja tak mau menatapnya. Pandangan matanya hanya tertuju pada jendela kamar di hadapannya. Sekilas sinar bulan malam itu menerobos masuk melalui celah-celah gorden jendela dan Minho tak yakin apa benar tatapan kosong Shin You tertuju pada sinar itu.

“Aku mendengar pembicaraanmu dengan Hyunseung oppa. Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan hal seperti itu padanya? Hyunseung oppa sangat baik. Ia menjagaku selama ini. Bahkan sebelum ada kau di sampingku. Dan niatnya kali ini hanya karena ingin melihatku bisa berjalan lagi. Kenapa kau begitu mencurigainya?” Kali ini Shin You tak segan lagi menatap kedua mata Minho. Minho membalasnya lekat-lekat.

“Hanya, katamu? Apa ini artinya kau memang tidak peka atau kau tahu tapi pura-pura menepisnya begitu saja? Ini hal besar jika aku tetap membiarkannya. Aku laki-laki dan aku tahu apa maksud Hyunseung hyung dibalik ini semua. Aku tak akan membiarkanmu direbut olehnya. Dan juga, setelah ini, aku tak mau melihatmu menghindariku lagi. Kita sudah seharusnya bersama.” Jelas Minho sedikit ngotot. Minho menggenggam kedua tangan Shin You dengan erat dan tak sedetikpun melepaskan pandangannya dari wajah manis Shin You. Shin You membuang pandangannya dengan menundukkan kepalanya.

“Seharusnya? Apa tidak salah? Justru seharusnya Nhaena­-ssi lah yang menjadi istrimu. Dia lah putri keluarga Kim yang sebenarnya. Bukan aku. Dia lah yang seharusnya dijodohkan denganmu. Aku ini bukan siapa-siapa. Semua ini terasa begitu sulit sekarang. Semua yang aku anggap benar dan nyata, sekarang berubah menjadi salah dan semu. Semuanya tampak kabur di mataku sekarang.” Shin You mulai terisak. Tak tega, Minho pun menarik yeoja itu ke dalam pelukannya dengan sayang.

Paboya. Pikiran semacam itulah yang justru membuatmu merasa sesulit ini sekarang. Tak peduli perkataan orang lain, di mataku Kim Shin You tetap Kim Shin You. Kau memang bukan putri kandung keluarga Kim dan tentu saja itu bukan masalah untukku. Aku mencintai Shin You yang apa adanya. Yang begini, sudah sangat cukup buatku. Chagi, kumohonpercayalah.” Minho tersenyum. Ia mengusap kepala Shin You dengan lembut. Namun tatapan Shin You masih terlihat ragu.

“Bagaimana dengan Nhaena-ssi? Kau juga tahu, dia sepertinya akan benar-benar bercerai dengan Key. Dan tak tahu apa yang ada dalam jalan pikiran Key sekarang, aku pikir ia juga tak berusaha sekuat yang ia bisa untuk mencegahnya. Apa kau tahu kenapa Key bertingkah seperti itu? Aku mengkhawatirkan keadaan Nhaena-ssi sejujurnya. Kau mungkin seharusnya berada di sisinya saja sekarang. Dia membutuhkan tempat bersandar. Dan aku pikir kau bisa melakukannya.” Shin You bangkit berdiri dengan bantuan kedua tongkatnya. Sejujurnya gadis itu merutuki dirinya sendiri karena ia bisa mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak sesuai dengan kata hatinya. Tapi semua itu baru saja ia lakukan. Tak ada yang bisa memutar waktu.

Shin You diam. Tak bergeming dengan posisi berdiri membelakangi Minho yang masih duduk di tepian kasur di belakangnya.  Sedangkan Minho mulai menatap punggung Shin You dengan nanar.

Merasa tak ada reaksi apapun yang akan Minho lakukan, Shin You memilih untuk membebaskan diri dari kecanggungan itu dan melangkah pergi. Namun tak disangka, kedua lengan tangan Minho yang hangat menguncinya dari belakang. Minho mendekapnya erat.

“Apa sih yang sebenarnya kau pikirkan? Cukup percaya saja kalau aku mencintaimu. Dan hal itu akan kubuktikan dengan aku yang takkan pernah membiarkanmu pergi. Persetan dengan Han Nhaena. Kau lebih membutuhkanku. Selamanya gadis yang ada di hatiku itu kau. Dan sesuai janjiku pada Tuhan, Jonghyun hyung dan mendiang Tuan Kim dan Nyonya Kim, aku akan menjagamu. Dan sudah seharusnya Key lah yang menjaga Nhaena. Bukan aku. Tolong, berikan aku kesempatan sekali lagi. Pulanglah bersamaku. Kita perbaiki semuanya bersama-sama. Aku yakin semuanya akan segera kembali normal. Dan aku pikir, kau seharusnya menemui keluarga Han, keluarga kandungmu. Ayahmu, kakak perempuanmu, Yurra noona.

Shin You terdiam sesaat. Ia benar-benar sedang memikirkan setiap kata-kata Minho. Minho benar. Terutama pada kalimat terakhir namja itu. Shin You harus pulang. Ya, ia harus pulang. Pulang menemui keluarga kandungnya. Itu sudah sepantasnya. Dan perlahan, Shin You melepas dekapan lengan Minho di tubuhnya. Minho sempat bingung dan dalam benaknya, ia mulai memikirkan sesuatu yang tidak ia harapkan untuk terjadi.

“Shin You-ah, kenapa kau—“

GREP!

Sontak, wajah Minho merona. Matanya membulat tak percaya. Sedangkan Shin You hanya tersenyum lebar dan makin mengeratkan pelukannya di tubuh Minho yang masih terasa kaku karena pelukan Shin You yang tiba-tiba.

“Berpelukan dengan posisi seperti ini bukankah lebih nyaman rasanya—dibanding yang tadi kau lakukan?” Shin You mendongakkan wajahnya dan menatap wajah Minho yang berada di atasnya. Minho tersenyum dan langsung mendekap Shin You erat.

“Aku rasa, menikah muda seperti ini tidak seburuk yang aku bayangkan.” Gumam Minho.

YA!!”

Minho tertawa keras.

“Jadi, cepat sekarang berkemas. Besok pagi kita sudah harus take off menuju Seoul.” Kata Minho seraya melepaskan pelukannya.

Mwo? Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi?? Aissh!” rutuk Shin You yang mulai mencari kopernya.

“Kau juga tidak bertanya, kan?” balas Minho santai sambil terkekeh senang, berhasil membuat Shin You kembali menatapnya dengan tatapan garang itu lagi. Minho merindukan tatapan itu. Sangat.

Sedangkan seseorang yang mendengar pembicaraan sepasang suami-istri muda itu dari luar kamar, hanya bisa menggertakkan gigi-giginya dengan tangan terkepal kuat. Ia meninggalkan tempat itu dengan segala umpatan yang ia tujukan untuk Minho dalam benaknya.

@@@

Han Yurra takkan pernah menyangka kalau sekarang ia akan duduk bersebelahan dengan Jinki di hadapan hakim persidangan perceraiannya. Kuat-kuat ia menahan air matanya agar tetap menggenang di pelupuk matanya saja. Karena jika setetes saja air mata itu luruh, maka ia tak yakin ia tak akan menangis dan terisak dengan keras. Ia tak mau menampakkan kerapuhannya di hadapan seorang Lee Jinki yang telah tega menyakitinya sampai separah ini.

Yurra meremas kedua tangannya yang berada di atas pahanya kuat. Ia berusaha mencari kekuatan dan ketegaran dari sana. Semoga saja ia bisa mendapatkannya. Yurra juga berusaha mencari ketenangan meskipun ruang persidangan saat itu terdengar ramai karena sidang perceraiannya itu dibuka untuk umum dan itu artinya banyak sekali fans-fans Jinki dan para wartawan yang datang untuk menyaksikan dan meliput moment tersebut.

Di sisi lain, dengan ekor matanya, Jura mengamati gerak-gerik Yurra dengan senyum liciknya. Ia merasa puas, sangat puas, karena ia sudah berhasil mencapai titik dimana ia bisa melihat pernikahan Jinki dan Yurra hancur. Inilah tujuannya. Inilah akhir yang sangat ia harapkan. Ia akan menggunakan cara apapun untuk membalas perasaan sakitnya selama ini kepada Jinki, adik kembarnya. Dan setelah ini, ia akan pergi menemui Jinki, mengumumkan kemenangannya dan dengan senang hati akan menemani Jinki menangisi nasib buruknya.

Jura kembali memfokuskan pandangan matanya ke depan, ke hadapan meja sidang  tempat para hakim yang kali ini akan membantu proses perceraiannya—ah bukan—membantu perceraian Jinki dengan Yurra. Dan hakim-hakim itu ternyata sudah duduk dengan manis di sana. Jura tak sabar untuk mendengar ketok palu itu dipukul secepatnya.

“Baik. Kita mulai sekarang. Dimohon para hadirin yang datang untuk tenang dan mengikuti jalannya sidang perceraian ini dengan menciptakan suasana yang kondusif.” Kata Hakim Ketua yang duduk di tengah. Diapit oleh 1 hakim pembantu di sisi kiri dan kanannya.

Yurra mendesah. Ia mulai menyiapkan hatinya.

“Berdasarkan pengakuan dari Saudara Lee Jinki sebagai pihak penggugat, yang menjelaskan bahwa Saudara Lee Jinki sudah tidak bisa lagi melanjutkan pernikahannya dengan Saudari Han Yurra, maka pada persidangan kali ini, saya akan membacakan alasan-alasan mengapa Saudara Lee Jinki ingin menggugat cerai Saudari Han Yurra.” Perkataan Hakim Ketua semakin menyayat hati Yurra. Tanpa sadar, ia sudah tak bisa menahan tetes-tetes air matanya lagi. Tetes-tetes air kesedihan itu jatuh dengan bebas membentur kedua punggung tangan Yurra yang saling terkait erat di atas pangkuannya.

“Alasan pertama, selama berumah tangga, Saudara Lee Jinki tidak bisa merasakan kebahagiaan dari pernikahannya dengan Han Yurra.” Jura tersenyum puas dan mengangguk mantap. “Kedua, karena terungkapnya perjanjian pernikahan kontrak antara pihak penggugat dengan pihak tergugat yang didukung dari keluarga penggugat dan perusahan tempat penggugat bekerja yang itu artinya pernikahan mereka tidak dilandasi dengan cinta.”

“Hiks..” isak Yurra yang tak tahan setelah mendengar alasan kedua yang dibacakan Hakim Ketua.

“Dan alasan yang terakhir adalah, karena Saudara Lee Jinki atau penggugat tidak memiliki kemampuan  yang cukup lagi untuk memberikan nafkah dari segi materi dan batin kepada pihak tergugat. Hal itu disebabkan karena telah diputusnya kontrak kerja Saudara Lee Jinki oleh perusahaan tempatnya bekerja dan karena memang tak ada dasar cinta.”

DEGH!

“Apa?!” Sontak Yurra tercekat dan menoleh ke arah Jinki, yang sejujurnya adalah Jura. Yurra baru tahu kalau Jinki telah dipecat dan diputuskan kontrak kerjanya dari managementnya. Namun Yurra merasa aneh ketika ia melihat Jinki yang tenang, bahkan tersenyum puas setelah mendengar kalimat mencengangkan itu.

“Baik. Dengan ini sebelumnya kami memutuskan untuk bertanya kepada pihak penggugat dan pihak tergugat, apakah kalian berdua benar-benar sudah mantap pada perceraian ini? Karena, jika kalian masih ragu, kami akan menyolusikan kepada kalian untuk melakukan rujuk.” Kata Hakim Ketua sambil menatap bergantian Yurra dan Jura. Yurra masih memperhatikan Jura dengan tatapan sayunya, namun tak sedetikpun Jura mau menoleh ke arahnya.

Aku bukan Jinki. Dan sampai kapanpun aku tak akan sudi untuk memandangmu, Adik Ipar! Hahahaha.. Batin Jura puas.

“Tidak perlu. Kami sudah yakin pada keputusan kami untuk tetap bercerai!” sergah Jura saat ia melihat gelagat Yurra yang sepertinya ingin menjawab penawaran rujuk yang ditawarkan para hakim di depan mereka.

“HUUUUUU…!! Ternyata kalian berdua adalah pasangan pembual!! Berani-beraninya membohongi kami atas pernikahan konyol kalian! Untuk apa, huh?!” Seorang penonton bangkit meneriaki Yurra dan Jura dengan keras dan sesaat kemudian sebuah telur mentah berhasil mendarat, mengenai kepala Jinki.

Oppa!” teriak Yurra panik sambil menghampiri Jura. Jura hanya menggeram marah karena ia merasa dipermalukan oleh penonton tadi. Jura menyentuh telur busuk yang telah mengotori kepalanya dan menetes sampai ke bagian lehernya.

IJASHIGI!!!!” teriak Jura sambil bangkit dan menatap penuh kebencian orang itu. Yurra terkejut mendapati reaksi frontal Jura. Ia tak menyangka akan mendengar kata-kata sekasar itu dari bibir Jura, yang ia anggap sebagai Jinki.

Kilat-kilat lampu blitz yang menyilaukan matalangsung memenjarakan mereka berdua setelah terjadi insiden pelemparan telur itu. Jura melangkah cepat menghampiri penonton itu dan meninjunya kuat.

Oppa, andwae!!” pekik Yurra sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.

Keributan pun terjadi. Polisi keamanan yang berjaga langsung melerai mereka dan menjauhkan Jura dari penonton yang menjadi pelaku pelemparan telur itu. Jura terus meronta dan tampak jelas dari kedua matanya yang memancarkan sinar kemarahan yang begitu besar. Yurra tertegun. Ia merasa asing dengan tatapan mata itu. Jinki yang ia kenal selama ini tidak pernah melayangkan tatapan seperti itu meskipun dalam keadaan marah sekalipun.

“HAISH! MINGGIR!! BIARKAN AKU MEMBERINYA PELAJARAN!!” teriak Jura lagi dengan kemarahan yang terus menyala. Dan kini para wartawan mulai berebut merekam kejadian itu. Yurra semakin panik. Hal ini bisa semakin merusak citra Jinki di hadapan publik. “HAKIM KETUA! CEPAT! CERAIKAN KAMI SEKARANG JUGA!!” teriak Jinki sambil menatap marah Hakim Ketua yang terlihat bingung. “CEPAAAATTT

!!!”

“Ba-baik! Jika kedua pihak sudah setuju dengan perceraian ini, maka dengan diketuknya ketok palu ini kalian dinyatakan resmi bercerai.”

TOK! TOK! TOK!

TES..

Air mata itu luruh lagi. Yurra tak menyangka semuanya akan berakhir menyakitkan seperti ini. Dalam samar-samar penglihatannya—karena kedua matanya penuh dengan air mata yang menggenang—Yurra dapat melihat dengan jelas, mantan suaminya itu melangkah pergi meninggalkan ruang sidang, tanpa menoleh sekalipun ke arahnya.

HYUNG!! HENTIKAN, HYUNG! PUAS KAU SETELAH SEMUA INI TERJADI, HUH?!”

BUGH!!

Jinki tersungkur ke lantai marmer yang kotor begitu pukulan keras Jura menyentuh wajah tampannya yang memang sudah terlihat memar di beberapa bagian dan berdarah. Jinki meringis kesakitan. Ia juga ingin terbebas dari tempat terkutuk itu. Ia sudah tak tahan lagi menjadi tahanan tanpa ia tahu apa kesalahannya.

“Ya. Ini memang akan menjadi yang terakhir. Aku sudah menghancurkan hidupmu. Pernikahanmu, karirmu, kebahagiaanmu, wajah tampanmu. Aku, Lee Jura, sangat puas!” Jura tertawa keras. “Sebentar lagi kau akan bebas dan menikmati kesengsaraanmu, Adik Kembarku yang manis.” Jura menyeringai. Ia berjongkok di depan Jinki dan melepaskan ikatan-ikatan di tangan dan kaki Jinki. Jinki hanya diam saja karena merasa lemas yang teramat sangat. Ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Dan Jinki pun kembali tak sadarkan diri saat itu juga.

@@@

“Sudah kukatakan berulang kali, aku tidak tertarik padanya dan tak akan mau menikah lagi dengannya!!” seru Jonghyun sambil melempar majalah yang sedang dibacanya ke atas meja.

“Apa salahnya? Hwang Su Ji adalah wanita yang baik. Ia juga bersedia membantu kita untuk mendapatkan seorang anak. Aku sudah membawanya ke dokter kandungan dan dokter mengatakan kalau rahimnya sangat kuat. Kau bisa menikah dengannya dan menanamkan benihmu di rahimnya. Setelah anak itu lahir, kita bisa memberikan imbalan untuk Su Ji. Su Ji sudah setuju!” Kukuh Aita tak kalah keras. Jonghyun mendesah.

“Menanamkan benihku di rahimnya? Kau mau aku bercinta dengannya? Kau gila, Noona! Dan dia wanita yang baik? Itu menurutmu!! Aku tidak suka dengan caramu yang memaksaku seperti ini, Noona. Aku tidak perlu anak. Aku sudah bahagia dengan pernikahan kita ini. Meskipun awalnya terasa sangat konyol, tapi aku pikir sekarang kita jalani saja apa adanya. Aku sudah mulai menyayangimu sebagai istriku. Tidak bisakah kau percaya dengan perasaanku saja?!” Seru Jonghyun lagi sambil bangkit berdiri, berhadap-hadapan dengan Aita yang kini melayangkan tatapan memohon padanya.

“Karena itu aku ingin kita bisa memiliki anak. Karena aku juga ingin melanjutkan pernikahan kita. Aku ingin menyempurnakan pernikahan ini untuk kita. Kenapa kau tidak mau mengerti dengan niat baikku? Selamanya aku takkan pernah bisa mengandung. Apalagi setelah 1 minggu yang lalu rahimku telah diangkat! Apa kau lupa, huh??” kata Aita mulai sarkatis. Matanya mulai berkaca-kaca jika ia mengingat kalau ia bukanlah wanita yang sempurna. Ia sudah tak memiliki sesuatu itu, sesuatu yang bisa menjadikannya seorang ibu.

“ARRRGGGHH!!!” geram Jonghyun sambil menjambak rambutnya frustasi. “Diamlah, Noona!!!” bentak Jonghyun tiba-tiba membuat Aita terlonjak. “Banyak hal yang harus aku urus. Masalah kantor, resort, hotel, apartement, bahkan sampai masalah tertukarnya Shin You dengan Nhaena. Aku sangat syok mengetahui kenyataan kalau adikku bukanlah adikku. Semua itu menyita pikiranku dan membuatku hampir gila. Tolong jangan bebani aku lagi dengan hal semacam ini! Aku tidak pernah menuntutmu untuk memberikanku anak, Noona!” Kedua bahu Jonghyun tampak naik dan turun. Jonghyun berusaha kembali menstabilkan emosinya dan mengatur nafasnya. Emosinya meledak seketika. Dan sekarang, ia harus melihat wanita di depannya ini menangis untuk ke sekian kalinya. “Mi-mi-mianhae, Noona. Jebal, jangan menangis. Aku salah telah membentakmu.” Sesal Jonghyun sambil mengusap dan menghapus tangis Aita di pipinya.

Arraseoyo. Apa itu artinya kau mulai berpikir untuk mendapatkan Shin You kembali? Jika kau mau, sudah tak ada penghalang apapun sekarang. Shin You bukanlah adikmu dan kau tidak akan berdosa jika kau mencintainya. Begitu, bukan?!”

Jonghyun terkesiap. “Noona, kau—“

“Ya. Aku memang bukan wanita dan istri yang baik. Aku bahkan bisa memandangmu sepicik ini. Tapi, itu semua benar, kan? Kau memang ingin memperbaiki hubunganmu dengan Shin You, kan?” tanya Aita cepat. “Bagus. Lakukan saja. Toh, aku tidak akan apa-apa.”

Jonghyun tertawa sinis. “Tidak akan apa-apa? Kau yakin, Noona? Berhentilah menyakiti dirimu dan diriku seperti ini. Kau seperti orang yang sedang mabuk. Perkataanmu aneh! Bagaimana bisa aku akan kembali pada Shin You? Aku sudah memilikimu. Shin You juga sudah bersama Minho. Meskipun ia bukanlah adikku, tapi aku masih memiliki otak untuk berpikir mana yang menjadi tanggungjawabku dan mana yang bukan. Aku tak setolol itu untuk menghancurkan pernikahan kita dan pernikahan mereka! Aku masih punya hati nurani! Aku tidak dibutakan oleh cinta!”

Hyung! Noona!” teriak Taemin dari tangga di sisi kanan ruang tengah rumah mereka yang menjadi saksi pertengkaran Jonghyun dan Aita sejak tadi. “Ada apa lagi? Masih meributkan tentang wanita jalang itu?” tanya Taemin malas dan terdengar gamblang. Taemin sudah bisa menduganya.

Jonghyun dan Aita diam. Taemin memutar kedua bola matanya dan mendesah resah.

Dwaesseoyo, kalian ini seperti anak kecil saja. Noona, jangan paksa Jonghyun Hyung. Dan kau Jonghyun Hyung, jangan memarahi Aita Noona sampai menangis seperti itu. Kasihan. Baru seminggu yang lalu Aita Noona menjalani operasi.” kata Taemin mencoba bijak. “Aku pikir kalian sudah sangat dewasa. Selesaikan masalah yang anda dengan kepala dingin. Tidak perlu sampai tarik urat segala lah..” saran Taemin dengan tenangnya. Lalu Taemin kembali menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.

BLAM!

Suasana hening.

Jonghyun melirik Aita sekilas. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Aita setelah mendengar kata-kata Taemin barusan.

“Jonghyunnie, aku akan keluar sebentar. Kau di rumah saja bersama Taemin. Aku akan menemui Su Ji.” Aita berjalan melewati Jonghyun beberapa langkah. Namun dengan cepat Jonghyun menahannya.

“Untuk apa bertemu dengannya? Dengarkan kata-kataku. Ini perintah. Jangan bertemu dan berhubungan dengannya lagi. Kau harus menurutinya, Noona. Kali ini, kau harus! Karena aku adalah suamimu. Pemimpin keluarga ini. Jangan selalu bersikap tak peduli padaku dan menganggapku anak kecil karena aku lebih muda beberapa tahun darimu. Umur tidak menentukan tingkat kedewasaan seseorang. Dan jika kau masih bersikeras, maka aku akan benar-benar melepaskanmu.”

DEGH!

Aita terbelalak.

“Kenapa kau berkata seperti itu?! Bukankah tadi kau berkata kau ingin melanjutkan pernikahan kita ini??” desak Aita tak terima.

“Memang benar. Tapi tidak dengan caramu itu.” Desis Jonghyun sambil menatap kedua mata Aita tajam. Bukan tatapan amarah, tapi tatapan yang ingin ia tunjukkan pada Aita bahwa Jonghyun melakukan ini karena untuk kebaikan rumah tangga mereka dan juga karena ia mulai menyayangi Aita lebih dari sekadar seorang Noona baginya.

TBC

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

20 thoughts on “Naega Saranghae “Our Marriage” – Part 8B

  1. Aigooo,,,,
    it’s so complicated#komennya begini mulu

    pagi2 udh nangis, hiks.
    Yg paling menyedihkan itu Jinki-Yurra deh.
    Jura itu psyco kayaknya….

    Dan Taemin kereeeennn di sini,
    pingin meluk(?),

  2. konfliknya mkin merajalela…
    jgan buat mereka semua mngalami hal2 yg tdak baik,semoga yurra bisa bersatu lagi dengan jinki asli begitu juga dgn nhena dan key bisa mempertahankan pernikahannya…
    dtggu part 9 nya

  3. Wahhh….kereennn
    konflik nya makin rame aja..mudah2an mereka semua bisa bersatu lagi..
    Ditunggu part selanjutnya jangan lama lama🙂

  4. akhirnya publish juga ini..haduuhh semakin runyam…shin you minho udah baikan..kasian banget jinki disini..tega dech bwt jinki gtu…penasaran endingnya…aahh..bukan..happy ending ya ini thor..harus happy ending *readers maksa* hehehe

  5. hya..
    Jura psyco..
    Mudah2an yg 3 pasang lg ga ada yg cere.. Dan hyunseung dapet pencerahan..
    Taem ngasih nasihatnya kereeen.. Wkwkwk..
    Next..

  6. .. setiap bca nie ff sperti bca novel yg ckup full colour mslhnya..
    . daebaaak. author jjang.
    keke

    ..oh. taemin dsini kau keren .
    @peluuuk
    keke

  7. Akhirx publish juga stelah dtunggu sekian lama…
    Masalahnya tmbah pelik y…
    Kasian Jinki ma Yura..si Jura psico bnget,kgak px hati…
    Dtunggu lanjutanx y…
    Jgnan lama2 he..he..

    1. Huaaaaa aku suka ff ny^ ^ dari part 1-8 mianhae aku baru komen d sini😀 , gak nyangka kalo minho bakal jd ny sama shin you aku malah nebak bakal ad cinta segitiga antara minho, shin you dan key😀 , jjong sama aita😥 aku gak nyangka juga kalo jinki dibikin kembar d ff ini author daebak ah slalu bikin kejutan d ff ny ћϱћϱ”̮ fighting aja aja aja lanjutttt cerita ny jebal pali😉

  8. Waduh wduh ini konfliknya mkn rumit dah kayky………jgn sadis2 dong thor ceritany…..
    Terlbh kasian yurra dan jinki……huhuhu

  9. Konflik ny makin parahhh…
    Pgn nonjokkin satu” deh itu #frontal.. Nonjok jura, sm siapa itu nama ny haduhhh~ lupa hahahaha
    Daebak skali author ny.. Tlg jgn hiatus lama”.. Ini ud seru bgt hahahaha

  10. ngebayangin adegan yg terakhir bikin merinding… jonghyun menatap tajam mata aita. aigoo aku kangen tatapannya!!

    jjong ayo dong kembali!!! shawol kangen berat nih!! #komengknyambung

  11. Thor cepet lanjutannya dong.. kayaknya masalahnya makin rumit aja…
    Tolong selesaiin dong bikin penasaran..
    Konfliknya dapet..
    Thor lanjutin yap… *matapuppyeyes

  12. Wuaaaaah baru baca nih eon…
    Ini cerita dari thn 2011 masih belom kelar aja.
    Masa nggak kasian sm reader yg udah baca dri 3thn yg lalu?
    Aku baru baca aja rasanya pengen mati penasaran!
    Ceritanya rumit, tpi nggak membosankan. Susah di tebak, alur maju-mundur. Addicted!
    Ayooo eonnn dilanjutin lagi. Udah 3thn nihh :((

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s