Inter Sexual – Part 11

Disclaimer  : We don’t own the character, they are belong to themselves.

Genre  : Teen Romance/Hurt/Comfort

Warning  : Gender bender, OOC, OC, elseword, typo dan misstypo, authorfic ^^.

Rated  : T

.

.

Aiesu © Chiyo Rokuhana

.

.

sHyning soHee collab with Eun bling-bling and Lynda

proudly present

I.S [Inter Sexual]

Lee Taemin (as boy), Lee Taehee (as girl), Choi Minho, and Lee Jieun (IU)

.

.

 

Bagian Kesebelas

Daylight

Setiap aku bertanya pada eommaku.

“Kenapa tubuhku begitu aneh?”

Ia selalu diam.

Dan hanya tersenyum kearahku.

Aku sangat yakin dalam senyuman itu—

terselip rasa kesedihan.

“Kau akan tahu seiring berjalannya waktu nak.”

***

Lee Jieun tengah menatap kosong langit malam bertabur jutaan bintang. Taemin berjalan menghampirinya dan berdiri di samping gadis itu.

“Jangan terlalu dipikirkan! Soohee sedang emosi jadi ia tidak sadar ketika mengatakannya!” Ujarnya membuka percakapan.

Gadis itu kini menatap jalanan di bawahnya, “Tidak! Ucapannya benar!”

Taemin tersenyum, “Jangan memasang wajah tanpa ekspresimu itu di depanku! Itu malah menunjukkan perasaanmu yang sebenarnya!” Jieun menoleh ke arahnya.

“Aku dulu adalah orang yang sama sepertimu! Orang yang selalu menyendiri dan menutup diri dari orang lain!” Lanjut Taemin pelan.

Jieun menatap Taemin tak percaya. Baginya, Taemin tidak seperti yang baru saja ia ucapkan. Pemuda itu berbeda. Ia terlihat bersinar di mata Jieun. Bagaikan matahari yang terang dan menghangatkan.

“Tapi setelah aku bertemu dengan seseorang yang sangat mirip denganku, aku sadar bahwa selama ini aku tidak sendirian! Bukan hanya kau yang merasa dunia ini tidak adil terhadapmu! Masih banyak orang yang mengalami nasib sama bahkan lebih dari yang kau rasakan!” Pemuda itu tersenyum pelan.

“Kau tahu siapa orang itu?” Tanyanya yang dijawab gelengan pelan dari Jieun.

“Orang itu adalah kau! Saat melihatmu aku merasa seperti melihat pantulan diriku di cermin! Aku berpikir… Ah, seperti ini rasanya saat orang melihat wajahku! Dan kau tahu apa yang kupikirkan?”

Jieun diam, ia bingung ingin merespon apa.

“Menyedihkan! Kau terlihat menyedihkan! Itulah yang dipikirkan orang! Terpuruk dan terus terpuruk pada masa lalumu!”

Jieun terkejut dengan ucapan Taemin barusan, tapi memang itulah kenyataannya. Ia memang menyedihkan, menyedihkan persis seperti yang dikatakan Taemin.

Manik hitam Taemin teralih menatap taman yang tak jauh dari tempat mereka sekarang. Ia melihat seorang anak kecil bersama Ibunya tengah memakan permen gulali.

“Kau ingat ketika kau baru belajar untuk berjalan?” Jieun menggeleng pelan.

“Berjalan itu naluri bukan? Saat kita merasa siap, kita akan mencobanya! Tahapnya lumayan panjang. Berawal dari merangkak, duduk dan setelahnya kita baru akan berjalan. Kau tahu bagaimana orang tua mengajarkan anaknya untuk berjalan? Mereka akan memegangi tangan anaknya dan setelah dirasa siap, mereka akan melepasnya! Jika, anak itu jatuh mereka akan membiarkannya untuk bangkit kembali! Karena dari jatuhlah mereka akan belajar untuk bangkit dan mencobanya kembali!” Jieun terdiam, Lee Taemin masih memandanginya dengan senyum di wajahnya.

“Kau tidak mengerti? Ahahahaa… kyeopta!” Taemin berujar sambil mengusak rambut Jieun.

“Intinya! Kau harus bangkit kembali ketika kau terjatuh! Tapi sepertinya kau jatuh terlalu lama dan tak ingin bangkit kembali. Atau kau menunggu uluran tangan seseorang untuk membantumu berdiri?” Taemin mengulurkan tangannya.

Jieun menatap uluran tangan Taemin kemudian menatap wajah pemuda yang sedari tadi terus mengeluarkan senyuman lembut. Dengan ragu Jieun meraih tangan Taemin dan menggenggamnya.

Ya, Lee Taemin! Aku butuh uluran tanganmu!’

***

Choi Minho menatap pantulan dirinya di dinding lift. Pintu terbuka, dengan segera ia keluar dan mencari apartemen Taehee. Walaupun baru dua kali Minho datang kemari, tetapi ia hafal betul dimana letak apartemennya.

Senyum pemuda itu terkembang, ia segera menekan bel dan sedikit merapikan bajunya.

Seseorang menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Senyum yang awalnya terkembang di bibir Minho kini pudar saat melihat sosok yang muncul bukanlah gadis yang dicarinya, melainkan sepupunya dengan raut wajah meledek.

“Untuk apa kau di sini?” Tanya Minho heran.

“Kan sudah kubilang jika Taehee itu adalah eonniku! Kau lupa?”

“Ck, Terserah! Dimana Taehee?”

“Ck, ck, ck, yang mau kencan! Sangat tidak sabaran!” Ejek Eunhee, Minho melotot seram.

“Hei, kenapa kalian bertengkar di depan pintu?” Taehee muncul dari dalam. Ia menatap heran dua orang bermarga Choi di depannya itu.

“Sudahlah! Cepat kalian berangkat! Sebentar lagi Minwoo akan ke sini! Bersenang-senanglah eonni! Oppa!

Eunhee mendorong Taehee keluar apartemen, “Hei, kau pikir ini apartemenmu!” Teriaknya kesal.

Minho menatap Taehee kaget. Baru kali ini ia melihat ekspresi Taehee yang sedang kesal. Dulu yang Taehee suguhkan padanya hanyalah ekspresi datar dan tak bernyawa.

“Kenapa kau melihatku seperti itu?”

Aniyo! Gwachanayo! Kajja kita berangkat!” Ajaknya sembari menyambar tangan Taehee.

***

Seorang wanita paruh baya sedang melakukan perawatan wajah di sebuah salon ternama di  kota Seoul. Ia berbincang sedikit dengan karyawan yang sedang mengoleskan semacam lulur ke wajahnya.

“Apa ini efektif? Kerutanku bertambah tiap harinya dan hal ini membuatku frustasi!” Keluhnya.

“Tentu saja! Ini sudah terbukti pada beberapa pelanggan kami! Anda tidak usah khawatir!” Sahut si pegawai.

“Baguslah!”

Nyonya Jung melirik ke arah Hara yang melakukan perawatan kuku.

“Anak muda jaman sekarang! Seharian berkutat dengan ponsel! Apa sih yang sebenarnya mereka lakukan?” Nyonya Jung mendengus pelan setelah melihat tingkah anaknya itu.

“Sekarang sedang populer yang namanya jejaring sosial seperti me2day, cyworld, twitter dan semacamnya!” Respon si karyawan yang telah merampungkan tugasnya.

“Tapi ada kalanya mereka harus berhenti dan kembali ke dunia nyata!” Si karyawan terkekeh kecil mendengar gerutuan nyonya Jung.

“Silakan tidur sejenak! Limabelas menit lagi krimnya akan kering!”

Sementara sang Ibu sedang menikmati perawatan pada wajahnya, Hara telah selesai dengan perawatan kukunya. Ia mengedarkan pandangannya keluar, didapatinya sepasang kekasih yang sedang mengendarai sebuah sepeda. Hal ini lantas mengingatkannya pada kejadian kemarin, saat ia melihat Minho tengah membonceng Taehee dengan sepeda yang entah dari mana didapatkannya.

Terang saja, suasana hatinya semakin memburuk. Ditambah dengan pesan Minho yang memberitahukan padanya jika pemuda itu akan pergi ke Gwangju dengan Taehee. Ia mengurut pelipisnya. Merasa khawatir dengan apa yang akan mereka lakukan di sana. Tanpa pikir panjang lagi Hara segera menyambar tas dan kunci mobilnya.

Eomma! Aku harus kesuatu tempat!” Ucapnya tanpa mendengar respon dari sang Ibu.

***

Tempat yang mereka datangi adalah sebuah desa kecil dengan hamparan sawah yang terbentang di segala penjurunya. Mencari katak untuk tugas biologilah alasan Minho dan Taehee datang ke tempat seperti ini.

Taehee menghirup udara segar yang tidak mungkin ia temui di Seoul.

Kajja! Tujuan kita kemari bukan untuk berwisata!” Seru Minho. Pemuda itu kembali meraih tangan Taehee dan membawanya ke sebuah pondok di salah satu sawah.

Annyeong haseyo!” Sapa Minho ramah sembari membungkuk hormat.

Annyeong haseyo!” Balas seorang pria tua.

“Kedatangan kami kemari ingin meminta ijin pada haraboji untuk menangkap salah satu katak yang ada di sini! Apa boleh?” Ucap Minho sopan.

“Tentu saja! Ambilah yang kalian inginkan!” Si kakek tersenyum.

Gamsahamnida!” Sahut Minho dan Taehee sembari membungkuk sopan.

Yeojachingumu sangat cantik! Jagalah dia baik-baik!” Si kakek menepuk lengan atas Minho berkali-kali. Minho hanya tersenyum dan menganggukkan kepala sedangkan Taehee bingung ingin merespon apa.

Kakek itu kembali ke dalam pondoknya. Minho dan Taehee berpandangan satu sama lain kemudian saling tersenyum canggung.

“Kau tidak takut pada katak kan?” Tanya Minho ketika mereka tiba di area sawah yang belum ditanami padi. Taehee mengangguk ragu.

“Jika kau takut! Duduk saja di sini!”

Taehee menggeleng, “Aniyo! Ini tugas kelompok! Jadi harus dikerjakan bersama!” Taehee segera menyusul Minho yang sudah turun ke dalam area sawah.

Awalnya ia merasa geli akan lumpur yang mulai menenggelamkan seperempat kakinya. Tapi lama kelamaan ia mulai terbiasa. Minho tersenyum melihat ekspresi Taehee. Ekspresi antara takut dan geli. Sangat aneh!

“Dasar keras kepala!” Ujar Minho mulai berjalan menyusuri sawah.

Taehee mulai menggerakkan kakinya. Sangat sulit berjalan di dalam lumpur. Kau tidak tahu apa yang akan kau injak selain itu kau juga harus menjaga keseimbanganmu agar tidak terjatuh.

“Aku bisa! Aku bisa!” Gumam Taehee yang sudah bergerak satu langkah sedangkan Minho berada jauh di depannya

“Duduklah! Biar aku yang cari!” Ucap Minho merasa kasihan pada Taehee yang kesulitan berjalan.

Aniyo! Aku bisa! Pasti bisa!” Taehee berujar ngotong sambil tetap berusaha menggerakkan kakinya. Baru saja akan menginjakkan kaki kanannya untuk melangkah lagi, Taehee terhuyung kebelakang namun segera ia tegakkan badannya dan membuat keseimbangannya kembali stabil.

Minho yang melihatnya bernafas lega.

“Sudah kubilang aku bisa kan?” Ucap Taehee bangga. Ia mencoba melangkah lagi. Tapi segera ia hentikan saat merasakan ada sesuatu yang menggeliat di kaki sebelah kirinya.

“HUWAAAA! ULAARRRR!” Teriaknya histeris, ia langsung kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

Minho segera menghampiri gadis itu, dan ia melihat seekor belut yang berjalan menjauhi Taehee kemudian tertawa.

Taehee yang merasa ditertawakan segera mengambil lumpur ke dalam genggamannya dan meleparnya ke arah Minho. Minho yang keasyikan tertawa segera menatap bajunya yang kotor akibat ulah Taehee.

“Salah sendiri! Kenapa menertawakanku!” Sungut Taehee kesal.

“Bagaimana aku tidak tertawa? Yang kau kira ular itu belut! Kau terlihat bodoh tadi!” Ucap Minho kemudian meneruskan tawanya. Ia sampai harus memegangi perutnya karena tertawa terlalu keras.

Ya! Hentikan! Kau pikir itu lucu? Aku hampir mati ketakutan tahu!” Pekik Taehee, ia segera menyeka air matanya yang mengalir tanpa dikomando.

Minho segera menghentikan tawanya dan menghampiri Taehee. Diraihnya bahu gadis itu yang bergetar karena menahan tangis dan membawanya kedalam pelukannya.

“Ssssttt… uljima!” Ujar Minho berusaha menenangkan.

“Hiks…hiks…hiks! Aku sangat takut!” Isaknya pelan.

“Dia sudah pergi! Ssstt… uljima! Jangan menangis lagi, ne?” Minho semakin memeluk erat Taehee. Sudah lama ia tidak memeluk tubuh lemah ini. Ia merindukannya. Merindukan aroma vanilla yang menguar dari rambut halus Taehee. Merindukan ketika Taehee meminta perlindungannya. Ia merindukan segalanya dari gadis yang saat ini didekapnya.

“Minho!”

“Ya?”

“Sepertinya ada sesuatu di tanganku!” Ucap Taehee membuat mata Minho yang sejak tadi terpejam, kini terbuka lebar.

“Jangan bergerak!” Perintah Minho saat mendapati seekor katak di tangan kanan Taehee.

“Apa itu…. katak?” Tanya Taehee takut. Ia mulai merasa geli pada tangannya.

Ya! Jangan bergerak dan tetap tenang!” Minho mengambil ancang-ancang untuk menangkap si katak.

Ppalli!” Ucap Taehee tertahan.

Hana… dul….set!” Minho memberikan aba-aba dan dalam hitungan ketiga ia segera menangkap katak tersebut dan berhasil.

“Hahaha… tertangkap kau!” Ujar Minho senang, ia segera ke pinggir sawah untuk meletakkan katak tersebut pada wadah yang telah ia siapkan sebelumnya. Pemuda itu kemudian kembali menghampiri Taehee yang masih belum bergerak dari tempatnya.

“Ayo, bersihkan dirimu!” Ajak Minho sembari mengulurkan tangannya ke arah Taehee. Gadis itu segera meraih uluran tangan Minho. Bukannya berdiri ia malah menarik Minho ke arahnya dan membuatnya sukses terjatuh di sampingnya.

“Hahahaha…. enak saja! Kau juga harus kotor! Itu yang dinamakan adil!” Taehee tertawa puas melihat rencananya untuk mengerjai Minho berhasil.

“Dasar nakal!” Balas Minho dan segera menarik Taehee ke arahnya. Taehee yang mendapat serangan tiba-tiba dari Minho segera terjatuh di atas tubuh pemuda itu. Minho segera memeluk Taehee erat.

“Minho!” Ucap Taehee berniat beranjak dari tubuh Minho namun Minho menahannya.

“Biarkan begini, sebentar saja!” Pinta Minho.

Taehee menuruti permintaan Minho. Ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Minho. Merasakan detak jantung pemuda tampan itu. Ritme yang sama dengan yang ia miliki saat berada dekat dengan Minho.

Aku takkan lari lagi! Tidak akan!’

***

“Percayalah Zinaida. Apapun yang kau lakukan, sesering apapun aku teraniaya… aku akan selalu mencintaimu… mengagumimu!” Gadis bermarga Choi itu menutup sebuah novel Turgenev dengan sentakan keras, Sohee menghirup oksigen yang tersisa dengan rakus, “Aaah~Vladmir itu memang pria yang sangat setia yah,” sebuah senyuman terpatri di paras Sohee, “Walaupun gadis yang ia cintai mengkhianatinya.” Imbuhnya sembari mendekap buku karangan prosa yang notabene baru saja ia pinjam dari Orihara, senyuman senangnya berubah menjadi senyuman kecut.

“Kalau aku yang menjadi Vladmir, tentu saja aku akan meninggalkan gadis bodoh itu!! Zinaida—si gadis bodoh itu— menyia-nyiakan cinta sejati Vladmir!” Ungkap Sohee meluap-luap. Iris dark brownnya berkilat marah sembari meletakkan novel itu di atas meja counter.

Jieun yang hari ini bertugas menjadi partner penjaga counter bersama seonbaenya, hanya menatap iba dengan luapan perasaan Sohee yang tak tentu itu. Sebegitu menariknyakah buku bacaan itu hingga membuat seonbaenya agak gila?

Sebuah tarikan nafas pelan menembus indera pendengaran gadis bermarga Lee itu. Iris hitamnya mendapati seonbaenya yang atensinya terfokus pada salah satu pasangan yang sedang tertawa bersama, “Namanya juga cinta pertama,” gadis itu tersenyum meremehkan, “kadang cinta itu bisa membuat manusia bodoh, ya? Pada awalnya memang membuat kita lupa bagaimana perasaan pilu yang merasuki jiwa, tapi pada akhirnya… cinta juga yang membuat kita menangis, terpuruk, dan mati,” racau Sohee sembari menumpu wajahnya dengan satu tangannya.

Jieun yang mencerna setiap ucapan Sohee diam-diam membenarkan. Gadis itu memalingkan wajahnya, memorinya tertuju pada sesosok pria—cinta pertama—yang pernah menjalin cinta dengannya. Ia menggeleng kuat, Jieun tak sama seperti karakter Vladmir yang selalu mencintai Zinaida. Ia menganggap Vladmir begitu bodoh, terpuruk pada sebuah kisah cinta yang hanya di perankan olehnya dan gadis bernama Zinaida. Tak sadarkah Vladmir? Mengenang gadis itu sama saja menumbuhkan luka baru di hatinya. Seharusnya Vladmir belajar membuka hatinya untuk mencintai gadis lain. Karena ia percaya Zinaida bukan gadis yang tepat untuk dipilih menjadi pendamping hidupnya.

“Hei… hei, Jieun!! Kau pernah punya cinta pertama, tidak?” Suara Sohee membuyarkan pikiran Jieun. Spontan gadis bermarga Lee itu menoleh, iris hitamnya agak melotot. Sohee yang di tatap, meneguk ludahnya, gugup.

“Maaf, apa aku salah bicara?” Tanya Sohee takut-takut, “Atau kau masih marah padaku? Kejadian yang lalu itu?” Lanjut Sohee seraya menggigit bibir bawahnya.

Jieun menggeleng kepalanya cepat, “Tidak!! Aku sudah memaafkanmu!!” Sahutnya berupaya mengerahkan senyuman. Tetapi yang ada hanya sebuah senyuman kaku yang terpatri di paras manisnya. Tak ayal membuat Sohee tergelak.

Gadis bermarga Choi itu menghela nafas lega, “Syukurlah…”

Atensinya mengarah pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Raut wajahnya berubah kesal, “Dia telat!!” Ucapnya tiba-tiba, Jieun yang tidak mengerti apa maksud ucapan seonbaenya itu mengerutkan keningnya.

Sohee yang mengerti akan tatapan itu melanjutkan, “Seharusnya Taemin sudah datang menggantikan shift jagaku. Tapi kenapa makhluk itu tidak terlihat batang hidungnya? Ia sengaja mau membuatku terlambat pergi ke kampus, ya?”

“Kalau tidak ada waktu lagi, tidak apa-apa aku menjaga counter sendirian,” Tawar Jieun yang di respon dengan gelengan cepat dari Sohee.

“Tidak apa-apa, ku harap Mrs.Jo mau mengerti keadaanku!!” Serunya sembari mengerahkan senyuman kecil.

Tak lama keheningan melanda keduanya. Jieun yang berkutat dengan pikirannya mengenai dimana Taemin sekarang, sedangkan Sohee sibuk mencari topik pembicaraan, jujur saja ia agak kesal dengan suasana lengang. Seketika Sohee mendeteksi sebuah ide yang terekam di dalam otaknya. Tak ayal membuat bibirnya menyeringai. Jieun yang merasakan aura mencekam di sampingnya, bergidik.

“Hm, ngomong-ngomong soal Taemin. Kulihat kalian dekat sekali, ada apa di antara kalian?” Jieun dengan spontan memalingkan wajahnya. Iris hitamnya mendapati Sohee yang menatapnya dengan tatapan jawab-saja-kalau-tidak-akan-kupenggal-kepalamu!!

Ia pernah mendengar kabar angin jika duo penggosip HeaSoo tidak akan pernah menyerah untuk menggali informasi guna mendapatkan bahan gosip yang nantinya akan mereka sebarkan ke seluruh pegawai di cafe ini. Jieun menelan salivanya, agak gugup. Bukan karena ia takut hubungannya dengan Taemin akan terbongkar, ia bahkan tak memiliki hubungan spesial dengan pemuda itu. Akan tetapi gadis itu takut jika Sohee akan menyebarkan gosip yang bukan-bukan. Oh! Bahkan, otak gadis itu sudah dapat membayangkan bagaimana jadinya nanti!! Seluruh mata akan tertuju padanya, jujur saja ia agak benci menjadi pusat perhatian.

“Ah~ aku tahu dari raut wajahmu! Pasti kau sudah jadian dengannya, yah!? Tidak usah mengelak!” Seru Sohee yang membuat Jieun mendelik. Begitu mudahnya gadis di hadapannya menyimpulkan pernyataan sembrono itu.

Rona merah menjalar di pipi Jieun. Gadis itu menunduk, malu akan perhatian semua pengunjung yang menatap ke arah mereka.

“Hei, jika kau tak menjawab, itu artinya memang benarkan?” Ungkap Sohee agak pelan. Ia menyeringai menatap wajah Jieun yang masih merona padam.

“I-itu tidak benar!!” Tampiknya.

“Benarkah?” Tanya Sohee tak percaya, “Ketika aku memperhatikanmu menatap Taemin, tatapan matamu menyiratkan perasaanmu yang sebenarnya. Aku tak bisa dibohongi!”

“Sudah ku bilang itu tidak benar!” Sergah Jieun yang mulai tak tahan dengan interogasi yang di buat oleh si-biang-gosip-gadis-bermarga-Choi ini. Jieun semakin menundukkan wajahnya, ia tak sadar apa yang ia katakan mampu membuat pengunjung menatap ke arah mereka lagi.

“Aduh, kalau memang tidak benar, kau tidak harus menjawabnya dengan berteriak Jieun!” Desis Sohee malu.

“Kalian kenapa?” Sebuah suara familiar menyapa mereka. Jieun dan Sohee reflek menoleh ke arah Eunhee.

“Manajer, kenapa kau di sini?” Sahut Sohee, satu alis Eunhee tertarik ke atas. Bukannya mendapat jawaban, gadis di hadapannya malah mengajukan pertanyaan kepadanya.

Eunhee menghela nafas pelan, “Sudah, lupakan saja!” Pandangannya mengedar ke seluruh area counter. Sebuah kerutan halus menghiasi keningnya. Ia kembali menatap kedua gadis yang kini di hadapannya.

“Dimana eonniku?” Tanya Eunhee, terang saja Sohee dan Jieun kebingungan.

Eonni? Memangnya manajer pernah mempekerjakan seorang gadis? Yang ku ingat hanya Taemin,” respon Sohee sembari menggaruk belakang kepalanya. Jieun yang berada di sampingnya mengangguk afirmatif.

“Ahahaha… kau benar!!” Eunhee menepuk dahinya pelan.

‘Bukankah dia sekarang sedang berkencan dengan Minho oppa, bodohnya aku melupakan itu.’ Pikirnya.

“Aaah~ bodohnya aku, melupakan bahwa Taemin itu pria!” Ucap Eunhee seraya tertawa garing, tangan kanannya menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.

“Kadang aku juga lupa bahwa Taemin itu pria,” Sohee menyahut dengan sebuah senyuman kecil.

Eunhee menangkupkan kedua tangannya, “Baiklah lupakan saja yang tadi. Ayo lanjutkan pekerjaan kalian!” Titah gadis itu sembari membalikkan tubuhnya.

‘Hampir saja!!’ Pikir Eunhee.

“Kau yakin tidak menyembunyikan sesuatu manajer?” Pertanyaan Sohee berhasil membuat Eunhee membeku, ‘gadis ini selalu saja berhasil membaca raut wajahku!!’ Seru batinnya.

Dengan perlahan Eunhee memalingkan wajahnya, matanya menyipit, “Bukan urusanmu jika aku menyembunyikan sesuatu atau tidak. Kembalilah bekerja, atau tidak akan ku potong gajimu!!” Bentaknya sembari memalingkan wajahnya dan melangkahkan kakinya kembali ke ruangannya.

Sohee mengembungkan pipinya, kesal, “Selalu saja manajer marah-marah. Apa sulitnya sih mengatakan iya atau tidak?” Keluhnya.

Jieun yang juga merasakan ada sebuah keganjilan dalam raut wajah Eunhee, berusaha menampik perasaan itu. Ia yakin jika Eunhee tidak menyembunyikan sesuatu.

“Permisi, bisa kau buatkan aku lagi pancake honey berry dan moccachino?” Sebuah suara khas perempuan sukses menginterupsi luapan pikiran kedua gadis itu.

Reflek Sohee memutar tubuhnya. Sebuah senyuman terpatri di paras mudanya, “Baik pancake honey berry dan moccachino.” Ulangnya dan dengan gesit mencatat pesanan gadis di hadapannya.

“Jieun bisa kau berikan pesanan ini ke Orihara?” Pinta Sohee seraya memberikan secarik kertas. Jieun yang baru saja merapikan celemeknya, memalingkan wajahnya dan meraih secarik kertas yang berada di tangan Sohee. Tanpa menunggu lama ia melangkahkan kakinya ke arah dapur.

Satu alis Sohee tertarik ke atas, ia agak bingung dengan ulah gadis yang berada di hadapannya, iris hitamnya sedari tadi tak lepas menatap Jieun, seolah-olah ia manusia langka yang baru saja ditemuinya.

Sohee berdeham, “Apa ada lagi yang harus saya bantu?”

“E-eh?” Pandangannya beralih menatap Sohee yang masih setia mengumbar senyuman. Gadis itu menggeleng lemah, “Tidak ada. Terima kasih,” ucapnya diakhiri dengan sebuah senyuman. Gadis itu membalikkan badannya dan meninggalkan sosok Sohee yang sebaya dengannya

‘Gadis aneh.’

***

Lee Jieun menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah pukul 09.00 malam. Ia menghembuskan nafas pelan, baginya hari ini waktu berlalu sangat cepat. Eunhee—sang manajer cerewet— lebih awal menutup cafenya, bahkan Taemin tak datang bekerja ke cafe. Ada sedikit keganjilan di hatinya ketika tak melihat figur pemuda itu. Entahlah kenapa? Gadis itu tak mau mengakui jika ia sedikit rindu pada sosok pemuda manis tersebut.

Jieun bertanya-tanya apa jangan-jangan pemuda itu sedang sakit parah hingga ia tak mampu bangkit dari ranjang empuknya sehingga tak mampu mengirim pesan izin untuk Eunhee. Ia menggeleng cepat kepalanya, menepis semua konklusi yang membanjiri otaknya.

‘Mungkin Taemin sibuk, hingga ia lupa mengirimi Eunhee pesan.’

Lee Jieun merapatkan jaket tebalnya. Langkah kakinya menyisiri jalanan basah. Angin dingin tak membuat gadis itu bergegas melangkahkan kakinya menuju apartemen sederhananya. Baginya untuk apa pulang cepat jika tak ada seorang pun yang akan membalas ucapan ‘aku pulang’ darinya? Jieun mendongakkan kepalanya, menatap bintang di angkasa.

Sekali lagi gadis itu menghela nafas pelan. Sebuah senyuman kecut terpatri di wajah manisnya, ‘Aku jadi rindu pada eomma!’

Tak lama, Jieun merasakan sebuah getaran halus yang berasal dari dalam tas peach miliknya. Satu alisnya terangkat, siapa yang mengiriminya pesan? Seketika matanya membulat. Pikiran gadis itu mengarah pada pemuda yang baru saja ia khawatirkan. Langsung saja gadis itu dengan gesit merogoh tas sampirnya. Bahkan ia sama sekali tak memerhatikan sebuah tiang listrik yang berada di hadapannya. Akibatnya gadis itu jatuh terduduk, tangannya bergerak mengelus pelan jidad yang baru saja menerima ciuman gratis dari tonggak panjang yang terbuat dari besi itu.

Jieun meringis, jidadnya sedikit bengkak, harus segera di kompres dengan air hangat jika ia tak mau ditanyai perihal yang macam-macam oleh beberapa pegawai cafe, besok. Bahkan gadis itu tak mau melihat Taemin memasang wajah khawatir.

Gadis itu menggeleng cepat, kenapa ia selalu memikirkan pemuda itu? Ada apa dengannya? Ada yang aneh dengan dirinya. Apa nama penyakit aneh ini? Jaringan saraf di otaknya bekerja keras memikirkan sebuah konklusi. Mata gadis itu mendelik. Apa jangan-jangan ia mulai menyukai Taemin?

‘Tak mungkin! Tak mungkin!’

Ini terlalu cepat untuknya. Ia menganggap Taemin sama seperti Soohyeon, sebagai teman. Ya—sebagai teman, tak lebih dari apapun.

“Kau baik-baik saja?”

Sebuah suara halus menginterupsi luapan pikiran Jieun. Atensinya menatap sebuah uluran tangan di hadapannya. Kepalanya dengan perlahan terangkat, atensinya menatap wajah sang penolong yang masih setia mengumbar senyuman manis.

“Hallo Jieun, kita bertemu lagi!”

Spontan, iris hitam milik Jieun mendelik.

“KAU!”

-To Be Continued-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

16 thoughts on “Inter Sexual – Part 11”

  1. Aha!
    Bau2 cinta segitiga!
    Lebih demen Taemin+Jieun, drpd 2min.
    Hahaha

    siapa itu temen yg nolong Jieun?sahabat di masa lalu?

    Ah, penasarannnn,,,
    mudah2an part 12-nya gak lama ya..

  2. aigo….makin bikin penasaran lagi…. -_-

    aku penasaran banget apa yang akan terjadi di part 12nya sama 2min

    aku bakal nungguin part selanjutnya… fighting !!!!!!!! ^^

  3. Sebenernya saya bingung mau seneng atau nggak, soalnya pas sama Minho itu Taehee ‘kan? Berarti bukan 2min QAQ *nangis*.

    “Intinya! Kau harus bangkit kembali ketika kau terjatuh! Tapi sepertinya kau jatuh terlalu lama dan tak ingin bangkit kembali. Atau kau menunggu uluran tangan seseorang untuk membantumu berdiri?” <— aku suka banget sama kata-kata ini nggak tahu kenapa xD

    “Eomma! Aku harus kesuatu tempat!” Ucapnya (Hara) tanpa mendengar respon dari sang Ibu. Menurutku itu harusnya "Eomma! Aku harus pergi ke suatu tempat!", mianhae kalau sotoy-_-

    Anyway, i'll wait for the next chap. See you in the next chap author!

  4. Hampirr..aja Eunhee keceplosan,…. hhh hh hh,

    Wa wa wa, itu soohyeon??? atau siapa, eh…bukannya soohyeon udah meninggal ya???!! waduhh makin penasaran aja nih.. >,<

    Di tunggu part selanjutnya ya?, aku akan setia tunggu FF ini….. ^^

    yaksok yaksok yaksok!!! ^,^

  5. Salah suka orang
    Yang dia sukakan TaeHee versi cowo
    •̃⌣•̃◦​‎​◦°◦нê◦нë◦нê◦◦°◦•̃⌣•̃
    Lanjutan FFnya selalu sesuai harapan
    Jadi ga lama nunggunya
    Fighting author º°˚˘ˆ▽ˆ

  6. pasti nih si jiuen suka sama Taemin XD, tapi gmna Taehee & Minho?

    penasaran siapa yg menolong jieun,, teman lamanya, atau Taemin / Taehee (sama saja -.-)

    oke! di tunggu next part nya 😀

  7. arrrggghhhh… aku kook jadi penasaran banget sama kehidupannya jieun yaaaaaa??
    tapi minho-taehee juga seruuu, pingin tau kelanjutannya setelah mereka jalan-jalan bareng nyari katak haha..
    authooorr.. ditunggu banget ya next part nyaaa..

  8. Siapa itu?? Tbc nya bner-bener bikin penasaran..
    Jadi kasian ma jieun kalo taemin itu ternyata taehee.. Ga tega ngebayanginnya..

    Next part..
    Fighting!!

  9. Ya ampuuuun,ini mana lanjutannya sih? Ud bener2 lumutan nih nungguinnya. Author yg baik,sbnernya ngilang kemana sih? Ayo dong dilanjutin lg pleaseeeeeee T.T

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s