To You [2.2]

TO YOU

To You (Part 2/2)

ENDING

 

Author:  kim_mus2  (Twitter: @kim_mus2)

Main Casts: Kim Kibum a.k.a Key & Choi Hani

Support Casts: Choi Minho

Length: Twoshots

Genre: Romance, Marriage Life, Angst

Rating: PG-15

Note: Kibum’s Side + Author’s Side

 

Kibum’s Side

Gadis itu sudah menunjukkan gerakan-gerakan kecil. Sepertinya dia sudah bangun, aku harus segera pergi dari kamar ini.

“Eungh! Siapa itu?”

Issh! Sial! Dia menyadari keberadaanku.

“Ini aku.”

“Oh, kau. Kenapa kau ada di kamarku?” Tanyanya sambil mengangkat tangannya ke udara, mencoba meregangkan tubuhnya yang mungkin terasa kaku.

“Aku cuma mau mengecek saja. Tadi malam kau sangat kacau.”

“Oh ya. Tadi malam, apa kau tahu siapa yang mengantarku pulang?”

Aku hanya mengangkat bahuku dan memasang wajah malas.

“Lalu, tadi malam aku pulang dengan siapa?”

“Entahlah. Saat aku pulang, kau sudah tertidur di depan teras.”

“Benarkah?”

Dia mengacak rambutnya bingung. Ya, dia pasti bingung. Dia kan pingsan karena bau anggur yang diciumnya tadi malam. Mana mungkin dia ingat. Salah sendiri phobia dengan alcohol. Pingsan kan, jadinya.

To You

Waktunya memasak. Pagi-pagi begini memang menyenangkan untuk memasak, haha.

“Kau sedang masak apa?” Suara siapa itu?

“Yaa! Kenapa kau membuntutiku ke dapur?”

“Ini kan dapurku juga. Salah, aku datang ke sini?”

Tumben sekali gadis ini datang ke dapur pagi-pagi. Sebuah keajaiban. Mungkin tidurnya cukup nyenyak tadi malam. Biarkanlah.

“Terserah kau saja lah!”

“Wow! Kau masak banyak sekali. Apa kau masak sebanyak ini setiap hari? Rakus sekali.”

“Apa pedulimu, huh?”

“Sinis sekali. Seumur hidupku, cuma kau satu-satunya lelaki yang sinis dan paling tidak lembut pada wanita.”

Kau hanya belum mengenalku, Hani.

“Kau mau makan tidak? Kalau mau, duduk saja dan jangan banyak berkomentar.”

“Ara… ara…” Dia mengerucutkan bibirnya kesal. Apa dia tak sadar kalau disini ada laki-laki, huh? Tindakannya itu sangat mengundang. Dasar bodoh.

“Makanlah!” Kusodorkan semangkuk nasi padanya. Setelah itu, aku pun duduk di kursi tepat di depannya. Aku dan Hani hanya terpisahkan oleh meja makan kecil yang baru kali ini kami pakai bersama. Aku senang. Akhirnya, dia memakan masakanku. So, hari ini makananku tidak akan terbuang sia-sia lagi.

“Emmh! Enak! Ternyata kau pandai memasak ya. Tuan Kim Kibum.”

“Yaa! Tak bisakah kau memanggilku Kibum atau oppa saja? Menggelikan sekali mendengar kata ‘Tuan’ di depan namaku. Heuh.” Aku memutar bola mataku malas. Dasar gadis kaku. Selalu formal dalam setiap hal.

“Baiklah, oppa.” Ucapnya pelan.

“Apa? Aku tak mendengar apa yang kau katakana.” Lucu sekali. Wajahnya memerah. Aku jadi ingin terus menggodanya.

“BAIKLAH OPPA!” Teriaknya lantang sambil menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.

“Biasa saja dong! Tak usah teriak kan bisa.” Tuturku setenang mungkin. Padahal, saat ini aku senang luar biasa. Baru kali ini dia memanggilku oppa. Kalau tak ada orang, mungkin aku sudah melompat-lompat kegirangan.

Untuk beberapa saat, tak ada komunikasi lagi di antara kami berdua. Kami terlalu sibuk dengan makanan dan pikiran masing-masing. Lama kelamaan, aku makin tak suka dengan keadaan ini. Benar-benar canggung. Sepertinya aku harus memulai pembicaraan. Tapi tentang apa? Topik seperti apa yang cocok untuk perempuan gila kerja seperti dia? Apa aku harus berbicara tentang kurs valuta asing? Euh! Membosankan sekali.

“Oppa! Sejak kapan rambutmu jadi berwarna hitam lagi?”

Waah, dia berhasil memulai pembicaraan. Tapi, kenapa harus soal rambut sih? Aku kan jadi malu.

“Kau terlihat tampan dengan rambut normal seperti itu. Kemarin-kemarin, rambut botak sebelah, rambut warna pink, warna pirang, cokelat, ah aku sudah lupa warna apa lagi, memang terlihat bagus sih. Tapi, rambut hitam ini membuatmu terlihat seperti lelaki.” Tuturnya panjang lebar dengan ekspresi wajah yang serius, seperti biasanya.

“Yaa! Jadi, selama ini kau menganggapku apa? Lelaki jadi-jadian?”

“Hahahaha. Iya, aku memang selalu berpikir begitu. Betul! Betul! Hahaha.” Tawanya meledak begitu saja. Baru kali ini juga aku melihatnya sesenang ini. Yah, walaupun dia senang di atas penderitaanku, tak apa lah. Yang penting dia senang.

Untung saja dia tak tahu rahasiaku. Kalau dia tahu, aku merubah warna dan gaya rambutku karena ingin sepadan dengannya, mungkin tawanya akan semakin keras. Lebih baik aku diam.

To You

Seperti biasa, malam ini, aku menulisnya lagi. Menuliskan curahan hatiku pada secarik kertas. Entah sejak kapan aku melakukannya. Aku pun tak ingat. Yang jelas, aku suka melakukannya.

“Permisi! Apa aku mengganggu?”

“Yaa! Kau! Kalau masuk ke ruangan orang lain, ketuk pintu dulu.”

“Aku sudah melakukannya. Kau saja yang tak dengar.”

Sejak kapan dia ada disini? Apa dia melihat tulisanku? Tidak mungkin, dan jangan sampai itu terjadi.

“Issh! Ya sudahlah. Ada urusan apa denganku?” Tanyaku dingin.

“Kebetulan aku membuat kopi. Siapa tahu kau juga perlu untuk bekerja malam ini.”

Baiklah. Sepertinya dia memang tidak melihat apa-apa. Dasar kelewat polos.

“Ya sudah letakkan saja. Pergi sana!” Titahku dengan angkuh. Aku sudah terbiasa memeperlihatkan wajah kesalku pada gadis ini. Sudah sulit untuk dirubah.

“Dasar tak tahu terima kasih!” Gerutu gadis itu. Dasar! Memangnya aku tidak mendengarnya?

Kalau kupikir lagi, seharian ini, dia selalu membuntutiku. Ada apa ini? Apa aku mulai mencurigakan? Anyway, aku senang. Dia semakin nyaman berada di sampingku.

To You

Author’s Side

Seorang perempuan yang mengenakan pakaian kantor lengkap berjalan gontai menuju pintu depan rumahnya. Keadaanya benar-benar kacau. Matanya sembab,mungkin karena terlalu lama menangis.

Melihat kondisi gadis itu, seorang namja yang juga baru tiba di halaman depan kediaman mewah itu pun langsung berlari untuk menahan tubuh sang gadis yang hampir terjatuh.

“Yaa! Hani-ya! Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau kacau seperti ini?”

“Oppa! Perusahaanku. Aku gagal. Aku bodoh. Aku pikir Suho oppa adalah orang yang baik.”

“Ada apa? Bicara yang jelas Hani-ya!”

“Hiks, perusahaanku bangkrut oppa. Suho oppa ternyata menaruh beberapa orang di perusahaanku untuk mengacaukan sistem keuangan. Ottokhae? Semua karyawanku menuntut gajinya, tapi aku tak punya sepeser pun. Minho oppa pasti akan sangat kecewa padaku.”

Gadis itu terus mencurahkan semua yang ada dalam pikirannya pada lelaki yang ada di hadapannya.

“Tenanglah Hani.” Kibum memeluk tubuh istrinya yang terus saja bergetar karena isakan tangisnya yang tak kunjung mereda.

“Pegangan yang erat, aku akan membawamu ke dalam.” Ujar Kibum pada Hani. Dia pun menggendong Hani sampai ke dalam kamarnya dan kemudian membaringkan gadis itu di atas ranjangnya.

“Tidurlah Hani. Aku harus pergi untuk menyelesaikan semua masalah ini.” Kibum pun beranjak pergi menjauh dari Hana.

“Oppa! Jangan pergi!” Gadis itu menarik tangan kanan milik suaminya yang dengan otomatis menghentikan langkah laki-laki itu.

Tak tega melihat keadaan Hani yang semakin lemah dalam tangisnya, Kibum pun memutuskan untuk tetap tinggal dan duduk di pinggir ranjang. Sesekali, Kibum mengusap air mata Hani yang terus mengaliri pipi putih sempurnanya.

Setelah merasa sedikit tenang, Hani bangkit dan duduk di samping Kibum.

“Oppa. Jangan pernah meninggalkanku! Aku membutuhkanmu.”

Gadis itu pun memeluk suaminya dengan erat. Dinding perbedaan yang selalu menghalangi keduanya pun perlahan sirna. Semua rasa yang terpendam selama ini seolah tersalurkan dengan utuh melalui setiap sentuhan, deru nafas dan kehangatan yang mereka bagi saat ini. Malam itu pun menjadi malam terindah yang pernah mereka lalui bersama.

To You

Saat sinar sang surya mulai terpancar di pagi yang indah itu, sepasang manusia nampak sudah berada di meja makan, menikmati santapan pagi dengan penuh suka cita.

“Hani-ya, makanlah yang banyak.”

“Baik oppa. Gomawoo.” Senyuman mengembang di bibir mungilnya. Senyuman tulus yang hanya akan dia persembahkan untuk suami tercintanya.

Setelah selesai dengan sarapannya, Kibum dan Hani pun pergi ke kantor polisi untuk membuat laporan tindak kejahatan yang didalangi oleh Suho. Semua bukti sudah terkumpulkan dengan lengkap atas bantuan Lee Jinki seorang intel yang juga merupakan sahabat baik Kibum. Berkat bukti-bukti itu, akhirnya Suho pun berhasil dijebloskan ke dalam penjara dan uang curiannya pun dikembalikan pada perusahaan Hani. Akhir yang cukup melegakan.

To You

Beberapa minggu pasca kasus Suho selesai, hubungan Kibum dan Hani membaik. Mereka tak lagi canggung dalam mengekspresikan perasaannya. Bahkan bisa dibilang, mereka menjadi semakin mesra.

“Hani-ya, coba kenakan pakaian ini. Aku khusus merancangnya untukmu.” Kibum menyerahkan satu stel pakaian kantor beserta kemeja manis berwarna baby pink pada istri tercintanya.

“Gomawoo!” Tanpa ragu, Hani pun langsung memeluk Kibum. Padahal, dia baru keluar dari kamar mandi dan masih mengenakan handuk yang hanya menutupi badannya dari dada hingga ke lutut.

“Yaa! Badanmu masih basah tahu!”

“Memangnya kenapa? Aku Cuma ingin memelukmu.”

“Issh! Kau ini.” Ujar Kibum sambil tersenyum jahil.

Namja itu pun langsung meraih bibir kecil Hani yang sudah tersedia di hadapannya. Untuk waktu yang tak dapat mereka pastikan, keduanya hanya bisa terhanyut dalam kebahagiaan yang sempurna.

To You

“Oppa, kau masih dimana? Kenapa kau belum pulang selarut ini? Handphonemu juga tak aktif. Padahal, ada yang ingin aku katakan padamu, oppa.”

Drrtt… Drrtt…

“Ah, ini pasti oppa. Yoboseyo?”

“Betul ini dengan nyonya Kim Hani?” Tanya suara di seberang telpon.

“Ne. Saya berbicara dengan siapa?”

“Kami dari kepolisian. Maaf sebelumnya nyonya. Kami ingin mengabarkan bahwa tuan Kim Kibum meninggal dalam kecelakaan mobil.”

Air mata tiba-tiba keluar dari kedua mata indah Hani. Perasaan sesak di dadanya membuatnya ambruk.

“Hani-ya!” Sang kakak, Choi Minho yang baru datang untuk mengabarkan berita tentang Kibum langsung berlari dan memeluk adik tercintanya itu.

“Oppa… Kibum oppa….”

“Tabahkan hatimu Hani-ya.” Minho ikut menangis melihat adiknya yang sangat terpukul.

“Oppa…” Lirih Hani.

“Ayo kita temui Kibum, Hani-ya.”

Hani hanya bisa menangis dalam diam sambil berjalan mengikuti Minho yang terus menggenggam tangannya.

To You

Di sinilah aku sekarang. Di ruang kerja suami tercintaku. Ruangan yang tak pernah ku jangkau sebelumnya. Di sini, di tempat ini, aku menemukan sesuatu yang amat berharga bagiku. Secarik kertas dan setangkai bunga mawar yang sudah hampir layu yang tergeletak begitu saja di atas meja kerjanya. Dengan rasa perih yang terus melanda hatiku, kubaca setiap goresan tinta di atas kertas putih itu.

Orang bilang…

Setiap ada siang pasti ada malam

Dan…

Setiap ada bulan pasti ada bintang

Tapi, bagiku…

Setiap ada Kim Kibum, pasti ada Choi Hani

Bukankah begitu? Haha

Semuanya sudah tercipta berpasang-pasangan

Begitu pula dengan…

Kau dan aku

Juga…

Pertemuan dan perpisahan kita

Jangan pernah takut dan jangan pernah bersedih

Karena…

Saat ada yang pergi, pasti ada yang datang

Dan…

Saat ada kesedihan pasti ada kebahagiaan

Jadilah Choi Hani yang selalu kuat dan tegar. Aku percaya, kau pasti bisa.

-Tertanda, Pengagum Rahasiamu, Kim Kibum. –

“Kau selalu jahat padaku, oppa! Kau selalu bersembunyi di balik setiap sajak dan mawar yang kau berikan padaku. Apa kau tak lelah melakukan itu?”

Hani hanya bisa memeluk kertas putih itu sambil menutup kedua matanya. Tubuhnya terus bergetar seiring dengan tetesan air mata yang mengalir di pipinya.

“Apa kau sudah tahu kalau kau akan meninggalkanku secepat ini oppa? Kau benar-benar jahat!” Ucapnya lagi dengan suara yang semakin melemah.

BRUK

Suara benda yang terjatuh berhasil mengalihkan perhatian Hani. Benda itu tak lain adalah foto seorang Kim Kibum. Hani mengambil foto yang tergeletak di atas lantai itu dan memandangnya dengan lekat.

“Oppa, kau pasti menyuruhku untuk berhenti menangis kan? Baiklah. Mulai sekarang, aku tak akan cengeng lagi. Aku dan anak kita akan hidup bahagia di sini. Aku berjanji padamu.”

Karena sedikit merasa sesak setelah menangis cukup lama, Hani menghela nafas panjang. Mencoba mengambil oksigen sebanyak mungkin untuk paru-parunya.

“Oppa. Aku tahu, ini memang terlambat. Tapi, aku ingin mengatakannya.”

Suasana cukup hening sebelum Hani kembali melanjutkan perkataannya.

“Bagiku, kau adalah segalanya. Hanya kau yang selalu ada untukku. Hanya kau yang selalu mengkhawatirkanku, dan hanya kau yang selalu menjaga lahir dan batinku. Terima kasih oppa. Saranghamnida.”

THE END

 

Author’s Talk:

Huwoow! Demi apa dong… Ceritanya  sok mengharu biru gini.

Castnya Key pula, berasa jauh banget dari nature-nya Key hehehe 😀

Ayo chingudeul, komennya dong…

Author butuh komen nih

What do you think about it?

Anehkah?

Garingkah?

Atau gimana?

Ditunggu banget ya 😀

Oiya mau promosi siapa tahu ada yang mau mampir ke blogku (Me & My SHINing Life), di sana aku suka nulis FF gaje ber-cast EXO hehe.

Makacih sebelumnya eeaa chingudeul hehe ^^

<sp�’tl �p~ize:12.0pt;line-height:=”” 150%;font-family:”cambria”,”serif”;mso-ascii-theme-font:major-latin;mso-hansi-theme-font:=”” major-latin’=””>Botol anggur yang dipegang perempuan itu pecah menjadi kepingan-kepingan yang tajam. Berserakan tepat di depan mataku.

“Yaa! Siapa kau?”

“Kau berani menanyakan siapa aku, huh? Cih! Sebelum kau menanyakan identitasku, sebaiknya kau pikir ulang, status apa yang kau punya huh?”

Suara ini. Aku tahu suara ini. Tapi, ini pasti bukan dia. Lelaki itu tak mungkin datang untukku. Jangan bermimpi Hani-ya!

“A- apa maksudmu?”

“Namamu Kang Hyori kan? Perusahaan keluargamu bangkrut satu bulan yang lalu. Kau hanya gadis parasit yang memanfaatkan kebaikan Suho. Kasihan sekali nasibmu.”

“Itu…. Itu tidak benar. Semuanya, itu tidak benar. Jangan percaya dengan kata-kata lelaki aneh ini.”

“Ayo kita pergi Hani!”

Penglihatanku mulai kabur. Badanku mendadak lemah. Kedua kakiku sudah tak mampu menopang berat tubuhku. Akhirnya, aku pun tak berdaya lagi, saat kedua tangan besar itu merengkuh tubuhku. Membawaku pergi dari tempat ini.

Siapapun kau. Wahai penolongku. Terima kasih.

To You Chapter 1 Ends

TBC

Author’s Talk:

Yosh! Chapter 1 selesai…

Chingudeul… ini FF SHINee keduaku hoho

Maaf ya kalo jelek hehe ^^

Mohon komennya ya 😀

Soalnya gak pede nih bikin genre angst begini

Serasa rubah personality

Tapi, apapun genrenya buatku itu Worth Trying ehehe

Banyak cingcong ah authornya, ditunggu komennya ya chingudeul 😀

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

42 thoughts on “To You [2.2]”

  1. Kyaaa….ko kibumnya mati,hidupin lagi donk chingu hehehe….
    Kirain bakaln happy ending
    eh ternyata…
    Nice ff…

  2. ku kira bakal happy end.. Taunya…. Nyesek..
    Ni ff udah lama skali, ya? Ato aku yg lupa..
    Apapun itu, keep writing!!

    1. hehe mian… mau sequelnyakah? tapi kayanya bakal koplak bukan romantis hehe tpi itu jg klo mau baca kkk ^^
      yg ada chap 1-nya ya? itu author juga kurang tahu
      makasih ya 🙂

  3. Ahhhhhh….FF nya….
    bagus!
    bagus!
    bagus!
    Nice FF
    tapi alurnya begitu cepat nih,….he,
    Andwae! kenapa Kibum mati, genere nya angst pasti kayak gini, mengharukan, btw mereka udah punya anak ya?? hihi

    ok! ditunggu ff selanjutnya ya?? ^,^

    1. Howooo makasih buanyak 😀
      kalo soal alur sih, ya memang author sengaja bikin cepet maaf ya.
      Harusnya memang berchapter tp cuma dibikin twoshots hehehe 🙂
      Makasih ya udah mau nunggu karyaku yg laen. Terharu hehe ^^

  4. Hueeeee knpa kibumnya mati..
    Krain mau happy end…
    Tp bgus thor..
    Aku kra itu yg trakhr epilog atau after story, tp kok part 1??
    Ditunggu karya lainnya .FIGHTING

  5. Ooooowww, jadi selama ini Kibum yg jd secret admirer-nya Hani tho?

    Ahh, Kibum, malu2 empuss..
    Errr… Malah jd sad ending begini ya?
    Pagi2 udh nangis nih. Tissu…mana Tissuuu…

  6. hmmm gimana ya.. kukira endingnya bakal enak atau lucu kyk di chap awal. tp pas baca ending ini rada kurang enak. bukan karna sad endingnya tp karna terlalu cepat dan terkesan maksa. yah.. itu menurutku author.

    awal2 udh romantis tuh, eh tiba2 ganti peristiwa udh lngsng mati. sumpah trlalu cepet. jd aq ngerasa “udh? endingnya key mati? gitu aja?” kyk gitu.. lbh seru kl dibuat lbh panjang. trus dijelasin kenapa tuh cwek mulai deketi key. nah.. kan sdikit lbh pnjng.

    but, over all ini udh bgus kok ^^

    1. hehe bener ko, ini emang maksa banget.
      Asli deh soalnya aku pengen cepet2 namatin FF ini, ide certanya udah trlalu lama dan udah ilang feel buat bikinnya hehe ^^
      makasih ya 🙂

  7. awalnya lain endingnya lain. kasian key 😦
    kenapa harus key sih yg mati…

    nice story 😉 tapi alur agak kecepetan, apalagi pas key kecelakaan itu…

    tapi bagus kok ^^ keep writing yaa

    1. hehe maaf ya… author emang bda bgt moodnya pas bikin kedua part, ya bgitulah adanya kkk ^^
      mkasih ya 🙂
      should i keep writing? hehe semoga masih bisa ya ^^

  8. mian baru coment di part ini ….. Kirain happy ending tapi kok membosankan yah??? Mian kalau coment aku nyakitin

  9. mian baru coment di part ini ….. Kirain happy ending tapi kok membosankan yah??? Mian kalau coment aku nyakitin

    1. hayo loh author sakit sampe dibawa ke RS, ayo chingu tanggung jawab
      hahaha kidding ko
      knp bosen ya? hehe karena ya memang authornya ngasal sih bikinnya maaf ya hehe 🙂

  10. Ah, mian baru comment sekarang. Soalnya waktu itu aku baca lewat hp, dan Author-ssi tahu sendirilah gimana nasibnya orang yang baca FF lewat hp~

    Setuju sama comment hanakey23, woah, kayaknya semua yang mau aku sampaikan udah di comment dia semua~ kkk~ ^^

    Well, it’s okay, Author-ssi, i will support you! Fighting nee^^

    1. Okey… gpp ko chingu. Thanks udah baca
      you will support me? really? thanks…
      I think I’ll be glad if support me in FF party *hyaa author licik hehe ^^
      makasih ya 🙂

  11. Baguuus!! pas kibum’s POv itu bagus. tapi pas Author’s POV, aku agak ngerasa ceritanya balapan 😦
    tapi aku suka sama ceritanya 😀
    keep writing ya thoor

  12. Eemmm ap ya ??
    Terlalu cepat min. Klo lebih di jabarin pasti seru
    Coba deh author buat ff baru penjabaran dari ff ini pasti bagus. Itu saran aku thor.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s