The Sweet Summer – Part 17

The Sweet Summer (Part 17)

 

Tittle                : The Sweet Summer (Part 17)

Author             : Ichaa Ichez Lockets

Main Cast        : Shin Hye Rin, Shin Eun Kyo, Lee Taemin, Kim Ki Bum (Key), Choi  Minho, Kim JongHyun (Jjong), Lee Jin Ki (Onew).

Genre              : Friendship, Romance, Family.

Length             : Series (Chaptered)

Rating             : PG

Desclaimer      : This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the character is not real. Enjoy reading!

            (backsound: Last Gift)

            Hye Rin masih membeku menangkap tatapan serius Minho yang berjarak 5 meter darinya. Kepala Hye Rin kembali berdenyut melihat seutas senyum tersungging di wajah Minho, memaksanya untuk mengingat kejadian pahit yang baru saja ia lewati hingga ia tahu telah menangis meski tak ingin melakukannya.

            “Kumohon dengarkan penjelasanku Hye Rin-ah.” Ucap Minho dengan suara bass nya. “Ini semua sama sekali tidak seperti apa yang kau bayangkan.”

            Hye Rin memutar matanya, beralih dari Minho ke arah Key yang tiba-tiba berjalan menjauh. Hye Rin sudah mencoba memanggil nama Key berkali-kali, namun namja itu masih saja pergi tanpa suara, meninggalkan Hye Rin dan Minho dalam kebisuan.

            “Aku dan Eun Kyo tidak ada hubungan apapun.” Ucap Minho memulai penjelasannya tanpa menunggu persetujuan dari Hye Rin. Entah kenapa kalimat yang Minho ucapkan terdengar begitu klise. Hye Rin jadi tidak tertarik untuk mendengarnya, ia lebih memilih ingin pergi untuk mengejar Key yang telah berjalan menjauh.

            “Kumohon dengarkan dulu sampai aku selesai menjelaskannya Hye Rin.” Sergah Minho seraya menarik lengan Hye Rin.

            “Penjelasan apa lagi hah?” teriak Hye Rin geram. Dia merasa dipermainkan. “Sudah cukup aku bersabar menahan emosi setiap kali melihatmu bersama unnie.” Nada bicara Hye Rin semakin meninggi. “Dan bahkan sekarang bukan hanya aku yang merasakan sakit ini. Tapi Jonghyun oppa dan Taemin juga terkena imbasnya, kau tahu?” emosi Hye Rin kembali membludak. Nafasnya naik turun, sekuat tenaga ia menahan air dari matanya yang kembali memanas.

            Hye Rin menatap Minho tajam. Menunggu jawaban. Namun Minho justru membalas tatapan Hye Rin nanar.

            Tak ada alasan lagi untuk membuat Hye Rin tetap tinggal disana. Ia benar-benar tak sanggup lagi jika harus melihat wajah Minho. Kemudian Hye Rin membalik badannya dan ingin pergi dari sana secepatnya.

            “Tapi aku mencintaimu Hye Rin!”

            DEG! Langkah Hye Rin tiba-tiba terhenti. Matanya membola dan jantungnya tiba-tiba berdegup dengan kencangnya. Hye Rin terperanjat dan tak sepenuhnya mampu mencerna kata-kata itu.

            ‘Minho bilang dia mencintaiku? Lelucon apa lagi ini?’ batin Hye Rin.

            “Ne~ aku mencintaimu Hye Rin. Aku benar-benar mencintaimu. Namun kau tak pernah menyadarinya.”

            Kali ini lutut Hye Rin melemas. Dengan ragu ia membalik badannya dan menemukan sosok Minho telah berjalan mendekatinya.

            “Aku memang tidak seperti Key yang bisa mengungkapkan apa yang ada didalam otakku secara langsung. Ketika sedang bersamamu aku justru tidak sanggup berbuat apapun.” Papar Minho sambil memegang kedua pundak Hye Rin. “Aku mencoba menyembunyikan perasaan ini, tapi Eun Kyo mengetahuinya. Akhirnya dia menawarkan bentuan untuk memberitahu sifatmu lebih dalam. Oleh karenanya aku sering pergi bersama Eun Kyo dan kami selalu bercerita banyak tentangmu.”

            Hye Rin menatap Minho penuh tanda tanya. Penjelasan Minho terasa begitu sulit untuk ia cerna. Rasanya begitu mustahil ini terjadi.

            Kenapa Minho baru menceritakan hal ini setelah semuanya mencapai puncak dan terasa begitu rumit?

            Sejenak Hye Rin masih mencoba memahami kata-kata yang baru saja Minho ucapkan, sampai ada sesuatu yang membuat ia kembali penasaran. “Jika memang demikian adanya, kenapa kau lebih banyak menyimpan foto unnie daripada fotoku?”

            Minho tak langsung menjawab, sepertinya ia sedang berfikir. “Itu karena aku…” dia menghentikan kata-katanya. “Sebenarnya aku justru tak ingin mengambil fotomu sama sekali. Aku hanya ingin menyimpan gambaran wajahmu di hatiku dan aku tak ingin orang lain tahu.”

            Lagi-lagi ucapan Minho dengan sukses membuat Hye Rin terperanjat. Kalimat yang diucapkannya terasa janggal terdengar.

            “Dan yang kau lihat baru saja tadi…” Minho mulai menjelaskan kejadian yang baru terlewat. “Aku hanya mencoba menenangkan Eun Kyo yang sedang sedih karena ditinggal oleh JongHyun Hyung. Eun Kyo merasa bersalah karena menolak cintanya…”

            Hye Rin mengigit bibir bawahnya keras-keras. Tiba-tiba ia dibuat bimbang dengan penjelasan yang baru saja Minho paparkan. Dadanya bergemuruh dan tak tertahankan. Akhirnya tanpa suara Hye Rin memilih untuk melangkah pergi dan bayangannya dengan cepat menghilang di ujung jalan tanpa sergahan lagi.

***

            Hye Rin tahu benar bahwa pikirannya sedang kalut. Ia tak mampu berfikir jernih. Tapi meski demikian ia tak ingin menyakiti dirinya lagi. Sudah cukup hatinya sakit karena masalah yang berulang kali diterimanya.

            Dengan pelan pintu sanggojae terbuka. Sangat sepi disana.

            Entah kenapa disaat seperti ini Hye Rin ingin sekali bertemu sosok Key. Dia ingin kembali menangis dan hanya Key yang boleh tahu.

            Saat pintu kamar Key terbuka, sayangnya Hye Rin tak menemukan sosok Key disana. Hye Rin jadi mendadak khawatir karena air matanya sudah hampir keluar tak tertahan lagi.

            Kemudian Hye Rin mencoba mencari Hye Rin di setiap sudut ruangan lain, lagi-lagi sosok Key tak mampu ditemukannya.

            “Kumohon Key… muncullah…”

            Disaat hye Rin berjalan melintasi dapur, ia seperti melihat ada sepasang kaki yang menjulur dilantai. Hampir saja Hye Rin menjerit, tapi suaranya tertahan saat menyadari ternyata itu adalah sosok yang sedang ia cari. Namja cerewet itu tampak begitu tenang terlelap dalam tidurnya.

            Key… kenapa kau begitu bodoh dengan tidur didapur seperti ini?

            Hye Rin sempat terdiam dan mengamati Key sesaat. Sejurus kemudian ia jutsru duduk disamping Key dan menyandarkan kepalanya di bahu Key.

            Kini Hye Rin akan tetap melanjutkan tangisnya meski Key tak tahu… meski siapapun tidak mengetahuinya…

***

            Pagi datang. Hye Rin masih terlelap dalam tidurnya. Namun ia bisa merasakan dingin menjalari tubuhnya yang terasa begitu lelah karena semalam berlari lumayan jauh.

            Reflek ditariknya selimut tebal yang menutupi sebagian tubuh hingga selimut itu berhenti di bawah leher. Kemudian tangan kanan Hye Rin meraih sebuah guling kecil dan merangkulnya dengan erat. Benar-benar terasa nyaman, membuatnya ingin tidur lebih lama lagi.

            Namun tiba-tiba Hye Rin merasakan kejanggalan dalam posisi tidurnya saat ini. Sebuah kejadian menyeruak bergitu saja dalam kepalanya. Kejadian beberapa bulan lalu disaat ia tengah terlelap tidur namun justru menemukan sebuah mata yang tertutup, hidung yang mancung serta bibir yang tipis tepat didepan wajahnya.

            “Key!!” teriak Hye Rin dengan cepat bangun dari tidurnya.

            Kepala Hye Rin langsung terasa pusing karena bangun tiba-tiba seperti ini. Namun meski pandangannya kabur, matanya tetap samar melihat ke keadaan disekitarnya.

            Ini bukan dapur. Ini kamarnya!

            Hye Rin ingat betul tadi malam ia terlelap tidur di bahu Key. Tapi sekarang sosok Key tak ada disana. Dan bahkan keadaan kamarnya tiba-tiba berubah, persis sebelum Key datang ke tempat ini. Ada apa ini sebenarnya??

            Hye Rin langsung beranjak dari kasur tipisnya kemudian berlari menuju dapur. Sayangnya dapur terlihat kosong. Namun yeoja ini tidak menyerah, pencariannya berlanjut ke teras belakang, kamar Eun Kyo, teras depan, kamar JongHyun, ruang keluarga sampai ke kamar mandi. Hasilnya nihil. Tak ada siapapun disana. Bahkan tak ada tanda-tanda kehadiran siapapun disana.

            “Key? Minho?” teriak Hye Rin memanggil siapapun yang seharusnya masih ada didalam sanggojae. Namun tak ada jawaban.

Hye Rin tahu jam segini unnienya sedang pergi bekerja, tapi bagaimana dengan Key dan Minho? Dimana mereka sekarang?

            Perasaan Hye Rin jadi mendadak tidak enak. Dia tahu ada sesuatu yang telah terjadi selama ia terlelap. Tapi ia berharap firasat buruknya tidak terjadi.

Sepintas Hye Rin melihat ke sebuah ruangan yang ada disampingnya. Hanya ruangan ini yang belum ia datangi.

            Meski ragu, perlahan pintu ruangan itu ia buka. Sempat terbesit ini hanya sebuah permainan. Bahkan dengan bodohnya Hye Rin berharap semua penghuni sanggojae ada di balik pintu ini dan sedang mempersiapkan sebuah kejutan. Sama persis seperti saat ulang tahunnya yang ke sembilan belas.

            Tapi harapan itu dengan cepat pupus ketika Hye Rin mendapati ruangan sempit itu tak berbeda dengan ruangan lain. Kosong dan tak ada siapapun disana.

            Hye Rin tampak membeku di ambang pintu. Ia masih tak mampu memahami apa yang sebenarnya terjadi. Dan bahkan tak seorangpun dapat memberinya penjelasan.

            Sekali lagi Hye Rin semakin takut firasatnya akan benar-benar terjadi.

            Dengan langkah gontai Hye Rin kembali ke dalam kamarnya. Tanpa sengaja matanya menangkap sesuatu diatas meja. Selembar kertas dengan beberapa kalimat yang terlihat jelas ditulis secara tergesa-gesa.

            (backsound : Please Don’t Go)

            ‘Dear Hye Rin,’

            ‘Kau mungkin tidak sepenuhnya mengerti kenapa tiba-tiba suasana sanggojaemu kembali seperti saat aku dan Key belum menginap di tempat ini. Sebenarnya aku ingin bertemu langsung denganmu, tapi Key bersikeras tidak ingin membangunkan tidurmu. Jadi maaf jika kami harus berpamitan dengan cara seperti ini.’

Jantung Hye Rin sempat berdentum begitu keras saat membaca kalimat itu. ternyata firasat buruk yang ia takutkan benar-benar terjadi.

            ‘Kami berdua sepakat untuk kembali ke Soul hari ini juga. Kami pikir kedatangan kami telah banyak menguras emosi dan tenagamu. Mungkin kami memang harus secepatnya pergi sebelum semuanya bertambah rumit.’

            ‘Maaf dengan apa yang terjadi tadi malam. Aku benar-benar tak bermaksud ingin menyakiti hatimu. Sungguh. Kupikir aku hanya terlalu bodoh karena membiarkan perasaan itu terpendam hingga kau harus mengetahuinya dengan cara yang menyakitkan. Sekali lagi kumohon maafkan aku Hye Rin.’

            Bibir Hye Rin bergetar. Tanpa Hye Rin sadari matanya mulai memanas dan mengaburkan kata-kata yang tertulis dalam surat itu.

            ‘Senang bisa mengenalmu, Hye Rin. Kau benar-benar yeoja yang unik. Setelah kami pergi, kurasa kami akan merindukanmu.’

‘Pesan dari Key: jangan sampai kau lupa makan dan tetaplah menjadi sosok Hye Rin yang pernah dia kenal. Dia juga berpesan jangan pernah ragu untuk menangis jika kau sedang bersedih.’

‘Sedangkan pesan dariku : Terimakasih karena telah banyak membantuku menyelesaikan tugas kuliahku. Kuharap kita bisa bertemu di lain waktu meski segalanya mungkin akan berubah.’

‘Annyeong~’

                                                                        ‘Minho’

Andwaeyo andwaeyo geureoke gajimayo

(You can’t, you can’t, don’t leave like this)

jebal han beonman han beonman nal dasi anajwoyo

(Please just one more time, one more time, hold me in your arms again)

dasi nungama neol boreo gamyeon geu jarie

(The next time I close my eyes to meet you)

meomchun nareul anajwoyo

(Hold me as I stay still in that spot)

Hye Rin menutup matanya sesaat ia selesai membaca kalimat demi kalimat dalam surat itu. Perlahan ada sebuah cairan hangat meluncur deras melewati pipinya yang kemudian menorehkan bercak di atas kertas dan membuat tulisan tangan Minho semakin memudar.

Semuanya terasa seperti mimpi. Belum sempat Hye Rin mengucapkan selamat tinggal dan bahkan menyampaikan ucapan terimakasih, dengan sekejap mereka memutuskan untuk pergi.

Secepat inikah?

Secepat inikah mereka pergi setelah dengan semena-mena Minho membuat Hye Rin jatuh cinta sampai Hye Rin hampir saja membenci unnie nya?

Secepat inikah mereka pergi setelah dengan sukses Key mengusik kehidupan Hye Rin dan membuat Hye Rin menjadi gadis yang begitu cengeng?

Hye Rin bisa merasakan air matanya kembali mengalir. Dan bahkan ia mencoba kembali menekan dadanya kuat-kuat saat rasa sakit itu bersarang disana. Sesak. Rasanya tidak mampu lagi menahan satu helaan nafas saja.

Tiba-tiba semua memori itu kembali muncul dalam pikirannya… ketika pertama kali mereka bertemu.. saat itu tanpa sengaja es krim Hye Rin mengenai baju Key, kemudian Minho muncul dan dengan cepat menghipnotis dirinya dalam satu senyuman…

Setelahnya terasa begitu indah sekaligus menyakitkan.

Meski Hye Rin telah mencoba menutup mata, bayangan akan kehadiran mereka justru terasa semakin nyata. Air mata pun tanpa kompromi terus saja menyembul di sela kelopak mata Hye Rin yang tertutup. Terus mengalir dan membuat pipi yeoja itu basah.

“Key…” panggil Hye Rin lirih.

Hye Rin pun tidak tahu kenapa justru nama itu yang keluar dari bibirnya. Namun ia tak mampu mengingkari bahwa justru sosok Key lah yang hadir disaat ia benar-benar membutuhkannya… Saat penyakit Hye Rin mendadak kambuh… saat Hye Rin kalut bercampur emosi… dan bahkan disaat Hye Rin harus mengantar kue-kue pesanannya…

Sosok Key lah yang ada disana… Key yang selalu ada dan membantu dengan caranya sendiri…

Sekali lagi Hye Rin merasa bodoh karena ia justru baru menyadari betapa besar pengaruh Key dalam hidupnya sekarang. Bukan bayang-bayang Minho yang menghantui pikirannya selama ini.

Hye Rin benci mengetahui bahwa betapa besar ia membutuhkan kehadiran Key justru disaat sosok itu telah pergi…

            Tapi Hye Rin tidak ingin Key pergi begitu saja, ia ingin sosok Key muncul untuk mengusik hidupnya sekali lagi.

Tepat saat itu juga, tanpa sengaja Hye Rin menangkap sesuatu yang janggal. Ia melihat ada sebuah origami berwarna merah muda yang terletak tepat diatas kotak pemberian Eun Kyo saat ia ulang tahun. Seingat Hye Rin, ia menaruh semua origami-origami itu di dalam kotak yang ia simpan didalam lemari.

Jangan-jangan…

Dengan cepat Hye Rin meraih origami itu lalu membukanya. Sebuah kalimat singkat yang tertulis di baliknya membuat Hye Rin terperanjat seketika.

Tak ada alasan lagi untuk diam seperti ini. Meski Hye Rin tahu ia sudah sangat terlambat, namun ia tetap ingin menyusul sosok itu yang mungkin saja masih ada di ujung jalan atau di pemberhentian bus. Yang jelas Hye Rin ingin bertemu dengan Key sekarang juga!

aereul sseo aereul sseodo

(I try and even though I try)

ttereul sseo ttereul sseo

(I insist, I insist)

dasi dorawa

(Come back to me)

Namun belum sempat Hye Rin melangkah keluar, tiba-tiba ada sesosok namja yang berdiri santai tepat didepan pintu sanggojae. Namja itu tampak menggunakan kaos oblong dan celana pendek dengan begitu khas. Rambut jamurnya yang sedikit mengembang dan acak-acakan justru membuat namja itu semakin terlihat cute.

“Annyeong noona!” sapa Taemin penuh semangat.

Hye Rin tidak menjawab sapaan itu. Justru terdiam di tempat ia berdiri. Alis matanya menurun. Ada sebuah gejolak didadanya yang ingin keluar namun tertahan.

“Apa kau siap mengantar kue hari ini, noona?” tanya Taemin sambil menyunggingkan senyuman. Demi Tuhan senyum polos ini dengan cepat mampu membuyarkan segala niat Hye Rin yang tadinya hampir ia lakukan.

Hye Rin tahu hatinya masih terasa sakit memikirkan sosok Key yang tiba-tiba pergi. Tapi lagi-lagi senyum namja ini sanggup membuat seketika tenang seiring dengan matanya yang justru semakin memanas.

“Taemin…” ucap Hye Rin tertahan.

Baru saja Taemin ingin bertanya apa yang sedang terjadi, namun lebih dulu ia merasakan ada sebuah tangan kecil yang melingkar di pinggangnya. Hye Rin memeluknya. Memeluknya dengan begitu erat sambil terus melanjutkan tangis yang sempat tertunda.

Meski begitu banyak tanda tanya yang melintas di kepala Taemin akan perubahan sikap Hye Rin, namun ia tahu ini bukan saat yang tepat untuk mencari jawabannya.

Dalam beberapa waktu Taemin sempat diam. Tapi ia tak mampu melihat noona kesayangannya itu bersedih lebih lama lagi.

Akhirnya Taemin membalas pelukan Hye Rin. Dan bahkan ia akan melakukan apa saja jika itu mampu membuat Hye Rin berhenti menangis.

Kini Hye Rin mulai mengerti. Mungkin memang ini yang seharusnya terjadi. Walau sosok Key, Minho dan JongHyun telah meninggalkan sanggojae itu, namun masih ada seorang Taemin yang akan selalu setia menemaninya dalam keadaan apapun.

Yang jelas, sudah cukup ia kehilangan sosok-sosok namja yang ia sayangi. Namun ia tidak boleh kehilangan seorang namja yang paling berarti dalam hidupnya sekali lagi. Hye Rin tahu bahwa ia harus menjaga perasaan Taemin yang masih setia meski telah berulang kali ia sakiti.

“Gomawo Key… Gomawo Minho… Gomawo JongHyun Oppa.” Ucap Hye Rin dalam hati.

“Gomawo Taemin… Jeongmal gomawo…” ucap Hye Rin lirih disela tangisnya…

***

KLIK!

“Kau yakin akan tetap pergi?” ucap seorang namja pada namja lain disampingnya.

Namja itu tak menjawab, ia masih saja berulang kali membidikkan kamera ke arah Hye Rin dan Taemin yang tengah berpelukan didepan sanggojae.

Kini mereka berdua hanya berjarak sekitar 10meter dari tempat Hye Rin berdiri. Namun tak sedikitpun Hye Rin menyadari kehadiran kedua sosok namja itu.

“Aku tahu sebenarnya kau tidak ingin meninggalkannya Key.”

Mendengar kalimat itu, Key langsung mengalihkan pandangannya dari kamera ke arah Minho yang menatapnya serius.

“Bukankah kau juga merasakan hal yang sama?” tanya Key balik.

“Setidaknya dia sudah tahu perasaanku yang sebenarnya. Itu sudah lebih dari cukup bagiku.”

Key sempat terdiam, kemudian ia kembali mengambil beberapa foto Hye Rin yang masih menangis. Ada sesuatu yang membuat Key tertarik. Ia mencoba meyakinkan penglihatannya dengan menggunakan zoom kamera. Tampak jelas disana Hye Rin menangis sambil menggenggam sebuah kertas origami berwarna merah muda. Entah kenapa secarik kertas itu dengan cepat mampu membuat Key mengulum senyum.

 “Kurasa sekarang aku sudah sanggup meninggalkannya, tanpa harus bersedih lagi.” Ucap Key yang kemudian berbalik arah menjauhi sanggojae.

Minho sempat mengerutkan dahi tak mengerti, namun akhirnya mengikuti langkah Key yang berjalan menuju pemberhentian bus.

Meski terasa berat, namun ada sebuah kelegaan dalam diri Key yang mampu membuatnya pergi dengan sebuah senyum yang terkembang. Karena kini Key tahu benar, bukan hanya perasaan Minho yang telah Hye Rin ketahui. Namun juga perasaan yang sudah lama ia pendam.

            “Saranghaeyo Hye Rin…” tulis Key menggunakan tinta hitam di kertas origami berwarna pink yang tengah Hye Rin genggam.

-End Of Hye Rin’s Stories-

            Wowowowow, endingnya Hye Rin mengejutkan ya??

            Ada yang nangis? *siapin tisu. Oh? Ga ada yang nangis? Yaudah kalo gitu *masukin lagi tisunya ke kantong XD

            Dan entar nasib Eun Kyo bakal ditentuin di part 18. hehe sabar ya nunggu part 18 :p

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

6 thoughts on “The Sweet Summer – Part 17”

  1. Hiks…
    Akhirnya gak sama siapa2 ya?
    Ato malah sm Taemin?

    Dan yg mengejutkan sih si Minong!tnyta dy jg ada rasa.

    Tp ada untungnya juga sih kalo begini, jadi kan gak ada yg sakit hati. MinKey pergi dg perasaan tenang, Hyerin msh punya Taemin, gt jd sebaliknya.

    Tgl EunKyo nih,..brati opsinya cm satu, ONEW!

    Dtunggu part 18nya ya…

  2. Q kira ni lanjutan yang dulu…
    Ternyata di post ulang y thor? Q dah pernah bca ni sblumnya mpe part akhir ntah lupa di blog apa..
    Yang jelas ni mang sad romance bgt..

    Dan ff ni jg yang nginspirasi nm.q jdi Hyerin ry 1 tahun lalu..hhee

  3. Hwaahh hiks hiks huhu author sukses bikin aq mewek tengah mlm.. Hiks hiks(T_T)

    andwaeyo andwaeyo geureokae kajimayo.. Hiks hiks sedih bgt lagu’a

    5 thumbs deh buat author
    DAEBAK!!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s