What Should I Do? [1.2]

Title                       : What Should I Do?

Author                  : Loemongga Taemints

Main Cast            : -Lee Taemin

– Song Hyo Sung

-Lee Jinki

Support Cast      : – Choi Sulli

Length                  : Twoshoot

Genre                   : Sad, Romance, Frienship

Rating                   : General

Summary             : What Should I do to keep you here?

What should I do to make you come back?

What should I do for forget you?

A.N                  : Diharapkan untuk membaca sambil mendengarkan lagu jisun-what should ido

Dan FT.islan Severely. Itu track yang selalu aku putar-putar ketika aku nulis      cerita ini. Ini ff pertamaku yg aku post. Dan cerita ini hanya aku tulis dalam waktu 3 jam tanpa ada  pengeditan,maaf kalo blm maksimal .-.v

*21 Oktober 2000

“Ini untukmu, jangan pernah menangis lagi ya” ungkap Taemin kepadaku. Kuterima sebuah boneka pisang darinya. Sangat cantik, aku suka.

“Ne, aku janji padamu”
“Mwo? Janji untuk apa?”

“Aku akan berjanji tidak akan menangis lagi”

“Hei! Aku bukan melarangmu untuk tidak menangis”

“Jadi?”
“Berjanjilah padaku untuk tidak menangis sendirian. Jika kau sedih, bagilah air matamu itu padaku. Arraseo?”

Aku hanya mengangguk mantap.

“Hyo Sung-ah, mau kah kau berjanji satu hal lagi padaku?”

Aku diam menatap dirinya. Pandangannya hanya lurus kedepan, tanpa membalas tatapanku.

“Berjanjilah untuk selalu menjadi sahabatku”

Aku tersenyum. “Ne, tentu saja”

“Selamanya?”

“Hhmm…”

“Sampai aku menikah nanti, kau akan menjadi sahabatku?”

“Aku akan menikah bersamamu”

“Hahaha..Kau ini ada-ada saja, itu tidak akan mungkin terjadi”

“Kenapa tidak?”

Taemin terdiam.

*flashback*

@ Lee’s Family Home

Author POV

Taemin sedang asik tidur-tiduran sambil memain-mainkan robotnya.

“Hei Lee Taemin!” ungkap seseorang sambil terjun ketempat tidur Taemin

“Oh, Jinki hyung. Wae?” Taemin merubah posisinya. Dia duduk ditempat tidur itu

Lee Taemin dan Lee Jinki adalah saudara kandung. Mereka sangat akur. Tapi karna dari kecil Jinki sudah terobsesi dengan cita-citanya, dia hanya menghabiskan waktunya dengan terus belajar. Makanya Taemin selalu bermain dengan Hyo Sung ketimbang dengan Jinki.

“Kapan kita belajar bersama lagi?” tanya Jinki

“Tumben kau bertanya seperti itu”

“Aku sebenarnya hanya ingin bertemu dengan temanmu”

“Mwo? Nugu? Hyo Sung maksudmu?”

“Ne. Hyo Sung. Wae?”

“Gwenchana. Kenapa tiba-tiba kau ingin bertemu dengannya?” tanya Taemin sambil meminum jus yang sudah diabaikan dari tadi di meja kecil dekat tempat tidurnya.

“Aku tidak tau, tapi aku merasa kalau aku menyukainya”

‘Bbbbbrrr,,,,,’ Tamin menyemprotkan minumannya.

“Uhuk..uhuk…uhuk..”

“Ya! Gwenchanayo? Kenapa denganmu? Aaaiisshh” Jinki duduk untuk menepuk-nepuk pundak Taemin.

“Hyung serius menyukainya?”

“Ne, maka dari itu kau harus berjanji kepadaku”

“Berjanji untuk apa?” Taemin kembali meneguk minumannya.

“Berjanji untuk tidak menyukainya karna aku telah menyukainya lebih dulu”

Taemin terdiam. Dia sedang berfikir, kenapa seperti ada gempa kecil didalam hatinya ketika Jinki mengatakan kalau dia ‘menyukai Hyo Sung?’

“Ah, sudahlah, mungkin hanya efek dari keselek tadi” ungkap Taemin dalam hati

“…Ne, aku berjanji padamu tidak akan menyukai Hyo Sung”

“Ingat ya, ini janji seorang laki-laki”

“Tapi kan aku masih 7 tahun”

“Babo! Tapi kau kan laki-laki”

“Ah..Ne, ne, arraseo”
Mereka berdua menautkan jari kelingking masing-masing

Hyo Sung POV

“Hei Taeminnie! Kenapa kau melamun?” aku melambai-lambaikan telapak tanganku didepan wajahnya.

“Mwo? Aah ne, aku tidak apa-apa kok”

*18 July 2009

Aku memain-mainkan kakiku ditetesan air hujan yang jatuh dari sudut atap sekolah. Hari ini, tepat satu minggu aku dan Taemin masuk ke Chungdam University.  Aku menunggunya keluar kelas. Dia dan Sulli sedang berdiskusi dengan Wali Kelas kami, membicarakan suatu hal yang tentu saja aku tidak tau. Aku berdiri dari tempat dudukku.

“Hah..sepertinya hujan deras akan lama berhenti”

Ku ulurkan tangan kananku untuk merasakan dinginnya air hujan itu. Kupejamkan mataku, kubiarkan sebagian kecil otakku kembali mengingatnya

*flashback*

03 September 2007

Ketika itu langit masih cerah, namun tiba-tiba berubah gelap ketika mendung dengan cepat menyelimutinya. Seperti biasa kami selalu pulang bersama. Dan persis seperti saat ini, hujan memenjarakan kami berdua.

Aku dan sahabatku Taemin berdiri merapat kesebuah pohon yang sangat besar bertedukan ranting yang kecil dan daun yang lebat. Kami berdua saling melipat tangan menahan dinginnya air hujan yang bercampur udara sore itu. Sesekali kami bertukar cerita, sesekali juga kami memainkan tetes air hujan yang tak kunjung reda.

Sampai tiba-tiba Taemin menerobos hujan dan menari-nari didepanku.

“Ayo kemari! Disini sangat menyenangkan!”

Tentu saja aku tidak mau. Tapi ntah kenapa kakiku bergerak untuk mengikutinya. Dan tanpa disadari, akupun menikmatinya.

“Menyenangkan bukan?”

Aku mengangguk semangat. Kemudian kami berjalan ditengah hujan. Melanjutkan kembali perjalanan menuju rumah yang sempat tertunda.

“Ya! Sejak kapan kau punya kebiasaan tidur berdiri?” Taemin menepuk pundakku. Spontan aku turunkan tanganku yang masih melayang diudara merasakan air hujan tadi.

“Ah, tidak. Sudah selesaikan? Ayo pulang” Ku tarik tangan kanan Taemin dengan tangan kiriku. Aku sadar, Taemin tidak bergerak. Aku berbalik menatapnya.

“Ayo!” ajakku sekali lagi. Dia malah menggaruk-garuk kepalanya yang –mungkin- tidak gatal.

“Ehmm…” dilepasnya tangannya yang masih ku genggam.

“Wae?”

“Maafkan aku Hyo Sung, tapi aku harus kerumah Sulli”

“Mwo? Sulli?”

Tiba-tiba Sulli muncul dari balik badan Taemin. Aku menatapnya dengan heran.

“Ne, ada yang harus kami kerjakan”

“Aku rasa ketua kelas dan sekretaris akan sibuk sekarang” Sulli memotong pembicaraanku dan Taemin. Benar saja, hari pertama masuk sekolah, Taemin dan Sulli sudah dilantik menjadi ketua kelas dan sekretaris. Sedangkan aku? Tidak menjadi apa-apa. Hah, beruntung sekali mereka. Aku hanya menatap Sulli dengan pandangan yang aku sendiri tak bisa mengartikannya. Kemudian ku tundukkan kepalaku. Kecewa.

“Ah tidak! Lebih tepatnya pasangan baru dikelas akan sibuk sekarang” Sulli menambahkan.

Pasangan baru? Ah iya, aku ingat 3 hari yang lalu Taemin cerita kalau mereka sudah jadian.  Dia bilang, mereka sudah bertukar nomor hape sejak pertama masuk kelas, kemudian berlanjut sampai sekarang.  Ketika Taemin bercerita, kulihat ekspresi wajahnya sangat senang. Aku tak pernah melihatnya selama ini. Aku sedih. Aku sedih karna bukan aku yang membuat wajahnya ceria seperti itu. Aku tersenyum simpul, kemudian menundukkan kepalaku lagi.

“Ne, arraseo. Mianhae. Kalau begitu, aku akan pulang lebih dulu”

Aku tersenyum tulus kepada Taemin. Kemudian berbalik, meninggalkan mereka berdua.

“Chakkaman!” Taemin menarik tangan kiriku. Seolah tak mau membiarkan aku pergi. Apa yang aku fikirkan? Oh tuhan, dia sudah jadi milik Sulli sekarang!

“Kau tidak mau ikut?” Dengan perlahan aku tarik kembali tanganku yang digenggamnya. Aku tersenyum-lagi- kepadanya

“Tidak. Aku tidak mau mengganggu kalian” aku berbalik lagi, sekarang aku benar-benar meninggalkan mereka.

Aku duduk di halte, menunggu bus menuju rumahku datang. Ku edarkan semua pandanganku keseluruh sudut jalan. Sampai akhirnya aku melihat Taemin dan Sulli sedang berjalan keluar sekolah. Mereka memakai satu payung putih transparan. Kulihat juga tangan kiri Taemin merangkul pundak Sulli. Sesekali juga mereka tertawa bersama. Sakit.

Tanpa disadari kakiku bergerak mengikuti mereka. Aku berjalan ditengah hujan tanpa memakai payung ataupun pelindung lainnya. Hujan memang tidak sederas yang tadi. Tapi tetap saja akan membawa penyakit bagi yang berjalan tanpa memakai alat pelindung.

Aku tetap mengikuti mereka dari belakang, melihat senyum Taemin yang bukan untukku. Sakit. Aku berhenti. Kulihat mereka memasuki rumah minimalis yang menurutku cukup besar itu. Itu rumah Sulli. Aku tersenyum melihat mereka. Apa yang aku lakukan? Berjalan ditengah hujan, tanpa pelindung apapun. Ku biarkan rambutku yang terurai panjang basah. Bajuku? Rok sekolahku? Sepatuku? YaTuhan, semuanya basah. Apa yang harus aku lakukan? Jika terus seperti ini, aku akan sakit.

Akhirnya aku memberanikan diri memencet bel rumah Sulli. Satu kali, tidak ada yang menjawab. Dua kali, tolong, disini sangat dingin.

‘cekrek’

Akhirnya, pintu itu terbuka, dan seorang malaikat menyelamatkanku.

“Ya ampun! Hyo Sung, apa yang kau lakukan disitu?!”

Dia menghampiriku. Pandanganku kabur, tapi aku masih bisa mendengar suaranya.

“Taemin..” rintihku. Ku tarik paksa ujung bibirku.

Taemin merangkulku berjalan kedalam rumah Sulli.

“Chagia, siapa yang datang?” ucap Sulli dari seberang, mungkin dia didapur

“Sulli-ah, bisa tolong ambilkan handuk? Wajah Hyo Sung sekarang sangat pucat”

“Mwo? Hyo Sung? Bagaimana bisa dia disini?”

“Aku tidak tau, tolong cepat sedikit”

“Ah ne..tunggulah sebentar”

Aku dan Taemin duduk di sofa ruang tamu rumah Sulli.

“Hyo Sung-ah, gwenchanayo? Wajahmu pucat sekali”

“Ne, gwenchanayo. Kau tenang saja” kupaksakan bibirku untuk tersenyum.

“Kenapa kau bisa sampai disini?”

Tiba-tiba Sulli datang membawa handuk kecil dan selimut. Syukurlah, aku tak harus menjawab pertanyaan Taemin.

“Ini, handuk dan selimut untukmu. Aku sedang membuat coklat panas. Kau mau?”

“Ne, terimakasih banyak Sulli-ah”

“Kalian berdua tunggulah sebentar”

Kemudian Sulli kembali kedapur. Aku tau Sulli berusaha bersikap ramah terhadapku. Walaupun sudah jalas diwajahnya menggambarkan kalau dia sangat kesal akan kedatanganku. Tapi, aku hargai usahanya untuk bersikap baik terhadapku.

Aku mengeringkan rambutku dengan handuk yang diberi Sulli tadi.

“Hyo Sung-ah, sebaiknya kau buka saja jas sekolahmu itu. Kau bisa masuk angin. Taruh saja diatas meja, biar aku yang keringkan nanti” teriak Sulli dari dalam dapur yang mempunyai lubang setengah lingkaran disisi dapurnya.

“Ah ne” balasku.

Aku membuka jas sekolahku. Aku merasa kalau Taemin memperhatikanku. Kulirik sekilas wajahnya. Matanya tertuju pada…Astaga..Dia melihat kebagian dadaku yang dua kancingnya terbuka. Dia berdehem, kemudian berpaling. Cepat-cepat ku kancing bagian tadi. Mendadak suasana menjadi canggung.

Sampai akhirnya Sulli datang membawa 3 cangkir coklat panas. Diletakkannya cangkir-cangkir itu diatas meja. Kemudian mengambil jas sekolahku yang basah. Ntah kemana dibawanya jas itu, akupun tak tau.

Selagi masih panas, ku teguk cangkir berisi coklat panas itu. Tak berapa lama Sulli datang membawa beberapa buku catatan. Mereka akan memulai pekerjaan mereka. Kuperhatikan wajah mereka berdua. Kadang kala sangat serius, tapi masih diselangi canda tawa. Aku tersenyum simpul menatap mereka.

Tiba-tiba aku merasa kepalaku sangat pusing. Aku mencoba berbaring disofa panjang. Ku tutup badanku dengan selimut yang diberi Sulli tadi. Dan aku tertidur.

***

“Hyo Sung-ah, bangun. Kau tidak mau pulang?”

Sayup-sayup kudengar suara Taemin membangunkanku. Pandanganku masih samar, tapi aku sadar kalau Taemin dan Sulli sedang menatapku sekarang dan seorang lelaki disebelahnya

Aku mencoba menatap wajah itu jelas. Ah, Jinki oppa.

“Ah ne,” jawabku kupegang kepalaku yang masih berdenyut cukup hebat.

“Ayo kita pulang” ajak Jinki oppa.

“Ne” aku bangkit dari sofa, kulipat selimut yang kugunakan tadi.

“Taemin, jam berapa kau akan ku jemput?” kata Jinki oppa. Sejenak aku menghentikan kegiatanku. Apa maksudnya ini? Berarti Taemin tidak pulang bersama kami?

“Sekitar jam 8 saja hyung, sebentar lagi akan selesai kok”

“Oh yasudah, tunggulah sebentar”

“Kalian tidak apa-apa jika naik bus? Ini sudah malam” Kata Sulli

“Ne, tidak apa-apa” jawab Jinki oppa.

“Oh ya, ini jas sekolahmu” Sulli menyerahkan jas itu padaku.

“Ne, gomaoyo”

Aku dan Jinki oppa berjalan keluar rumah Sulli.

“Hati-hati dijalan” teriaknya sambil melambai. Jinki oppa membalas lambaiannya Sulli, sedangkan aku hanya tersenyum.

“Oppa, kenapa kau bisa ada disini?” tanyaku memecah keheningan

“Ne, Taemin menelponku tadi. Katanya kau sedikit tidak enak badan. Dia takut keadaanmu semakin parah. Jadi dia menyuruhku untuk menjemputmu. Tapi karna aku tadi ke kampus tidak membawa motor. Inilah akibatnya, kita jadi naik bus sekarang” kudengar ada nada penyesalan dikalimatnya

“Hehe, tidak apa-apa oppa. Aku sudah terbiasa naik bus, terimakasih sudah mau menjemputku”

Tiba-tiba Jinki oppa berteriak

“BUS!! ” BUS…!!! Hyo Sung…!! BUSNYA…!!”

*bersambung

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

12 thoughts on “What Should I Do? [1.2]”

  1. Huwa,,, boneka pisangggg,, 🙂
    ehm, cinta terselubung nih temanya. Taemin juga sebenernya ada rasa sama Hyosung kan ya?tapi karena dah terlanjur janji sama Jinki jhd dy pelarian doang sama Sulli. poor Sulli.

    lanjut next part 🙂

  2. Walah walah… busnya napa? #plak

    aaa ga ngebayangin waktu Taemin ama Onew masih kecil XD
    Ehm, diem2 taemin ama hyosung ada feeling nih.
    ada typo dikit tapi gapapa deh 😉 *mungkin aku juga yang salah liat .-.

    ceritanya bagus XD aku suka…

    ditunggu next partnya ya… ^^

  3. Tragedi ngejar bus ini
    Semoga TaeMin ga suka pada HyoSung supaya alur ceritanya beda dan ga terlalu biasa”
    Life keeps move on
    Cukup rasa suka yang ada pada TaeMin menghilang dan tergantikan oleh Sulli
    Begitu pula HyoSung
    Fighting author
    Maafkan reader yang banyak protes dan cerewet ini *bow

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s