Miracle – Nothing is Impossible [1.3]

miracle - by depoyers

Title                         :  Miracle – Nothing is Impossible

Author                    :  Qiink Yheoh

Poster                      :  Depoyers.wordpress.com

Casts                       :

  • Choi Minho – SHINee
  • Krystal Jung – F(X)
  • Choi Sulli – F(X)
  • Lee Taemin – SHINee

Genre                      : AU, Friendship

Rating                     :  PG-15

Length                    :  Three Shots

Summary               :  Choi Minho yang dikenal sebagai murid yang berandalan ternyata menutupi kemampuannya sebagai seorang anak pintar. Lantas alasan apa yang membuatnya seperti itu?

Notes                       : 

  • Cerita ini terinspirasi dari kisah nyataku , jadi apabila terjadi persamaan alur, itu hanya kebetulan belaka, tidak ada maksud untuk menyinggung siapapun ^.~
  • Cerita ini sebelumnya sudah pernah post di blog Hyeah (hanya masuk finalis 35) dan juga WP pribadiku, jadi, apabila kalian pernah membaca FF ini tanpa nama author “Qiink Yheoh”, tolong menghubungi aku ya ^^
  • Jika anda ingin, maka tidak ada yang tidak bisa. Nothing is impossible!

 

Story Begin

 

Seorang namja   sedang duduk di atas kursinya dengan kedua tangan yang ditekukkan di atas meja untuk menopang dagunya. Pandangannya lurus ke depan seraya  memperhatikan penjelasan dari gurunya dengan serius. Mungkin orang-orang yang tidak mengenalnya akan menganggap namja ini adalah siswa yang pintar dan rajin. Namun, jika kau sudah mengenalnya lebih jauh, maka kau pasti akan menyesal pernah mengatakan namja ini adalah siswa yang rajin nan pintar.

“CHOI MINHO!!” Sebuah seruan yang cukup kuat membuat seluruh penghuni di kelas ini sontak menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya. Namun tidak dengan namja yang dipanggil Choi Minho itu. Ia hanya menatap gurunya dengan acuh tak acuh. Dia memang tidak mengambil pusing dengan seruan-seruan yang dikeluarkan dari mulut sang guru.

Hal ini sudah terlalu biasa untuknya. Ah, bukan terlalu biasa namun sudah menjadi kebiasaan sang guru jika mengajar di kelas ini. Sehingga seluruh penghuni di kelas ini kecuali namja yang dipanggil Choi Minho tadi, selalu siap untuk menghadapi seruan mendadak yang akan keluar dari mulut sang guru. Mereka hanya dapat menggerutu dalam hati tanpa berani mengeluarkan suaranya secara langsung. Tentu saja, siapa juga yang ingin mencari masalah dengan Choi Minho dan sang guru yang sudah dikenal sebagai guru yang tergalak di sekolah ini? Mau tak mau, mereka hanya dapat menyimpan kekesalannya sendiri.

Namun berbeda dengan seorang gadis yang duduk di dekat pintu masuk kelas ini. Sama halnya dengan Minho, dia tidak ambil pusing dengan seruan mendadak yang keluar melalui mulut sang guru walaupun dia tetap menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya. Well, sebut saja dirinya, Krystal Jung.

Ini mungkin pertama kalinya dia mendengar seruan dari sang guru. 2 tahun di Junior High ini, dia tidak pernah mengalami hal-hal seperti ini. Mungkin dikarenakan dia yang selalu menempati kelas unggulan di sekolah ini.

Namun kali ini, sepertinya Dewi Fortuna tidak berpihak padanya, sial? Tentu saja! Ini pertama kali dia menempati kelas yang dipenuhi oleh siswa-siswa berandalan seperti ini. Bagaimana dia bisa berkonsentrasi jika setiap hari di kelas ini pasti ada yang berulah? Berteriak seperti orang yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa? Mereka tidak peduli dengan yang namanya belajar! Tidak akan pernah!

Sama halnya dengan Krystal, Choi Sulli juga seperti itu. Setiap hari, dia pasti akan berteriak karena frustasi. Namun hari demi hari yang dilewatinya bersama sahabat-sahabat barunya di kelas ini, dia mulai bisa beradaptasi. Belajar? Tentu saja dia harus belajar. Namun, dia tidak akan lupa dengan acara main-mainnya itu. Lee Taemin, namja yang sangat dibencinya dulu, kini pun menjadi sahabat dekatnya. Dia tidak peduli dengan sifat Taemin yang seperti preman. Dia hanya merasa nyaman berteman dengan Taemin.

“Choi Minho!! Lebih baik kau tidak masuk di jam pelajaranku daripada kau hanya duduk melamun di sini!!” seru sang guru lagi. Minho yang memang sudah tidak betah berada di kelas ini, segera bangkit dari tempat duduknya dan dengan gontai, ia berjalan keluar dari kelasnya dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celananya.

Sang guru hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya. Selalu dan selalu begini. Apakah akan terjadi sebuah keajaiban yang mengubah sisi malas Minho menjadi lebih rajin?

-*Qiink Yheoh*-

“Choi Minho! Sudah kuduga kau pasti berada di sini,” seru seorang gadis seraya menghampiri Minho yang sedang berbaring di atas hamparan hijau yang sangat luas untuk ukuran sekolah Junior High. Hamparan ini berada tepat di taman belakang sekolahnya sehingga tidak banyak orang yang mengetahui tempat ini.

Gadis itu menghempaskan pantatnya di atas hamparan hijau seraya menatap Minho yang masih bergeming dari tempatnya. “Kau tidak usah berpura-pura sudah ketiduran atau tidak mendengar apa yang sedang kuucapkan. Kau sedang tidak mendengar lagu, bukan? CkEarphonemu itu hanya dapat menipu orang lain, tidak denganku!”

“Ternyata kau tidak bodoh, Krystal Jung.” Minho masih enggan untuk membuka kedua matanya namun bibirnya sudah terangkat membentuk sebuah senyuman yang sinis. Sejujurnya, hanya seorang Krystal Jung yang mampu berada di dekatnya. Hanya seorang Krystal Jung yang mampu membuat Minho mengeluarkan suaranya yang sangat berharga itu.

Ck! Kau pikir aku ini siapa Minho? Aku bahkan lebih mengenal dirimu daripada kau sendiri. Apa kau tidak menyadarinya?”

Akhirnya, Minho membuka kedua matanya dan menatap Krystal dengan tatapan yang sulit diartikan. Minho tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk menjawab pertanyaan Krystal.

Well, kurasa kau perlu berpikir kembali terhadap apa yang kau lakukan sekarang ini, Choi Minho. Jika kau berpikir bahwa apa yang kau lakukan itu, akan membuat orang-orang mengenangmu, maka itu adalah kesalahan terbesar yang ada di dalam hidupmu! Berpikirlah dengan otakmu, jangan asal menarik kesimpulan. Aku akan selalu ada untukmu untuk membantumu membuat sebuah keajaiban, percayalah padaku,” ucap Krystal kemudian bangkit dari duduknya, hendak meninggalkan Minho yang masih berbaring. “Nothing is impossible!”

Minho menatap kepergian Krystal dengan sendu. Ia tahu apa yang semestinya dilakukannya untuk membuat mereka mengenangnya. Namun itulah yang justru dikhawatirkannya. Ia tidak ingin membuat mereka sedih. Tapi di sisi lain, ia juga ingin dikenang sepanjang masa. Apa yang harus dilakukannya? Apa memang seharusnya ia mulai mempersiapkan sebuah keajaiban untuk dirinya sendiri dan juga mereka? “Miraclewill you happen in my life?”

-*Qiink Yheoh*-

“Krystal Jung!” seru Sulli dari kejauhan. Krystal berbalik dan menatap sahabatnya dengan tatapan ada-apa? “Bolehkan kau ikut membantuku?” tanya Sulli yang berhasil membuat Krystal menautkan kedua alisnya.

What?”

“Belajar kelompok!”

Krystal mengerutkan keningnya sembari menatap sahabatnya yang kini sudah bertingkah seperti orang-orang yang benar-benar perlu bantuan. Krystal sendiri masih bingung dengan tingkah Sulli yang seperti ini. Ia sangat mengenal Sulli, Sulli tidak pernah mengalami kesulitan dalam pelajaran.

Namun, kenapa tiba-tiba Sulli memintanya untuk belajar bersama? Ini harus diselidiki terlebih dahulu sebelum mengiyakan permohonan Sulli. “Kenapa? Bukannya kau itu sangat pintar Sulli-ah. Kenapa kau masih perlu bantuanku?” tanya Krystal kemudian.

Sulli tersipu malu. Pipinya merona merah. “Uhmm, sebenarnya aku ingin membantu mereka. Mereka selalu kesulitan dalam mengejar nilai, jadi sebagai sahabatnya, bukannya sudah semestinya kita harus membantu mereka?”

Krystal tampak sedang berpikir apakah dia harus menerima tawaran dari Sulli. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di otaknya hingga membuatnya langsung mengiyakan tawaran dari Sulli. Sulli melompat-lompat layaknya anak kecil yang berhasil membujuk orang tuanya untuk membelikan mainan untuknya.

“Semoga dengan cara seperti ini, kau dapat membuat sebuah keajaiban dengan tekadmu sendiri,” gumam Krystal dalam hati.

-*Qiink Yheoh*-

Ahjumma, apakah aku bisa mengajak Minho keluar sebentar?” tanya Krystal sembari tersenyum ke arah wanita yang berumur 40-an itu, sebut saja dia, eomma Minho.

“Tentu saja,” jawab eomma Minho sebelum beranjak meninggalkan Krystal yang sudah mengambil langkah menuju kamar Minho yang terletak di lantai dua.

“Minho! Choi Minho!” seru Krystal dari luar sembari mengedor-ngedor pintu kamar Minho.

Cklek! Pintu kamarnya terbuka sehingga memperlihatkan Minho yang hanya mengenakan sebuah T-Shirt yang dipadukan dengan sebuah celana santai selutut. Minho mengacak-ngacak rambutnya dengan kesal. “Ada apa? Kau mengganggu tidurku, tahu!”

Krystal hanya acuh tak acuh. Ia sudah terbiasa dengan respon yang diberikan Minho jika ia nekat mengganggu tidurnya. “Sudahlah, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Sekarang, cepat kau ganti pakaianmu, kita akan belajar bersama dengan Sulli dan mereka. Tidak ada kata  ‘TIDAK MAU’, mengerti?” ucapnya sembari mendorong Minho kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. “Lima menit dari sekarang!!” serunya lagi.

-*Qiink Yheoh*-

“Maaf, kami terlambat,” ucap Krystal sembari membungkukkan badannya 90 derajat sedangkan Minho yang berada di sampingnya hanya acuh tak acuh seperti biasanya. Sulli yang sedang bersama Taemin dan teman-teman lainnya menatap Minho dengan tatapan tidak percaya. Apa? Seorang Choi Minho kini berada di sini untuk belajar bersama mereka? Apa yang akan dikatakan oleh guru-guru sekolah mereka nantinya?

“Sudahlah, kalian tidak usah terlalu berlebihan seperti ini. Minho juga seperti Taemin yang ingin meningkatkan nilai-nilainya sebelum ujian nasional nantinya,” timpal Krystal sebelum dia ikut duduk di samping Sulli dan Minho duduk di samping Taemin.

Sulli hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum berteriak kencang. “AYO, TEMAN-TEMAN! MARI KITA MULAI BELAJARNYA!!!!”

Krystal dan Minho mulai mengeluarkan buku-buku pelajaran dan peralatan tulisnya sedangkan Sulli dan Taemin berserta teman-temannya yang lain sudah kembali fokus dengan apa yang mereka kerjakan tadi. “Minho-ah, coba kau kerjakan soal ini,” perintah Krystal.

Minho yang mulanya masih enggan untuk mengerjakan soal yang diberikan Krystal kini sudah terbiasa bahkan kemampuan Minho bisa dikategorikan ke dalam anak pintar. Sesuai dugaan Krystal, Minho hanya menutupi kemampuannya. Ia tidak ingin terlihat terlalu menonjol di hadapan mereka. Ia tidak ingin dibangga-banggakan. Tidak ingin. Sangat!

2 jam sudah berlalu. Namun, sepertinya tak satu orang pun  di antara mereka yang menyadarinya. Mereka terlalu serius untuk mengerjakan contoh soal ujian nasional.

Krystal dan Sulli masih sibuk menjelaskan rumus-rumus matematika kepada teman-temannya. Sekali-kali Minho juga ikut menjelaskan rumus-rumus itu kepada Taemin yang duduk tepat di sampingnya.

Sulli yang menyadari hal tersebut hanya menatap Minho dengan takjub. Dia memang tidak pernah menyadari kemampuan Minho. Wajar saja, bukan? Mengingat Minho yang selalu bertindak sesuka hatinya di dalam kelas dan nilai-nilainya yang tidak pernah tuntas itu. Hal ini tentu membuat Sulli penasaran. Ia mulai melirik Krystal yang masih menjelaskan cara apa yang harus digunakan untuk menghitung soal matematika itu serta Minho yang sedang duduk bersandar sembari menggerak-gerakkan bahunya dengan kedua tangannya yang sekali-kali memijat pundaknya sendiri.

“Sulli-ah, ini harus bagaimana? Cara apa yang harus digunakan?” tanya Luna yang sukses membuat Sulli tersadar dari lamunannya itu. Sulli sedikit terkejut tapi ia berusaha menutupi kegugupannya itu. Tidak ingin membuat Luna menunggu lebih lama, Sulli dengan cepat mengalihkan pandangannya ke Luna yang sudah mengerutkan keningnya.

-*Qiink Yheoh*-

Sulli sedang duduk di bangku taman belakang sembari menatap hamparan hijau yang berada di hadapannya. Ia masih memikirkan Minho dan ia yakin ada sesuatu yang disembunyikan Krystal tentang Minho. Tapi apa itu?

Sudah sebulan lebih, mereka belajar bersama dan semakin banyak pula pertanyaan yang muncul di otaknya. Ia harus mencari tahu apa yang disembunyikan Krystal, untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaannya sendiri. Ia harus tahu. Ia sendiri sudah menganggap Minho seperti sahabatnya dan ia ingin menjadi seorang sahabat yang selalu berada di samping mereka ketika mereka sedang berduka. Entah apa yang membuatnya begitu percaya dengan perasaannya sendiri. Minho sedang berduka. Apa itu benar?

“Sulli-ah!” seru Taemin seraya berlari kecil untuk menghampiri Sulli. “Ada apa?” tanyanya begitu sudah duduk di samping Sulli.

Sulli mendongakkan kepalanya untuk menatap Taemin. Ia ragu. Apakah ia harus mengatakan apa yang sedang ia pikirkan sekarang kepada Taemin? Apakah Taemin juga akan mempercayainya? Tidak ingin berpikir lebih lama lagi, Sulli segera memulai percakapan ini dengan mimik yang serius. “Taemin-ah, apa kau merasakan sesuatu yang aneh? Ah, maksudku, apa kau tidak merasa aneh dengan Minho?”

“Aneh?” Taemin menautkan kedua alisnya dan mengangkat kepalanya seperti orang yang sedang berpikir keras. “Sepertinya iya, memangnya kenapa Sulli-ah?”

“Baiklah, pertama-tama, kau jangan terkejut dengan apa yang kukatakan nanti, mengerti?” Taemin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.

Sulli menghela napas sebelum memulai percakapannya dengan Taemin. “Aku merasa ada sesuatu yang dirahasiakan oleh Krystal dan Minho. Sebelumnya aku tidak pernah tahu bahwa Krystal sangat mengenal Minho, tapi belakangan ini aku melihat mereka sering bersama. Kau mengerti maksudku?”

Well, jujur sudah dari dulu aku merasa ada yang aneh antara Minho dan Krystal. Mereka tampak selalu bersama tetapi mereka bukan sepasang kekasih. Aku selalu bertanya pada Minho mengenai hubungan mereka, namun dia hanya menjawab kalau mereka hanya sahabat, tidak lebih. Yang lebih anehnya lagi, ternyata kemampuan Minho itu seperti kalian. Dia sangat pintar!” jelas Taemin antusias. “Dia selalu mengajariku pelajaran-pelajaran yang belum kukuasai, menjelaskan rumus-rumus yang membingungkan itu,” lanjutnya lagi.

Sulli tampak sedang berpikir. Memang ini terlalu aneh bahkan sangat aneh. Mengingat kelakuan Minho yang dulu. Eh, dulu? Ah iya, Minho yang dulu, selalu bertindak sesuka hatinya tapi Minho yang sekarang sudah tampak lebih baik daripada yang dulu. Bahkan Sulli baru menyadari kalau semua nilai Minho sekarang sudah tak seburuk dulu, tidak, ini bahkan sangat bagus. Lebih bagus darinya dan Krystal, tentunya.

Kalau memang yang diduganya benar, lantas alasan apa yang membuat Minho menutupi kemampuannya? Tapi kenapa pula sekarang dirinya sudah sedikit demi sedikit meningkatkan nilainya yang dulunya, tidak dipedulinya? Apa tujuan sebenarnya? Apa ini ada hubungannya dengan Krystal? Tidak tahu, Sulli tidak tahu.

“Sulli-ya! Sulli-ya!” Taemin melambai-lambaikan tangannya didepan Sulli. Namun Sulli sama sekali tidak menyadarinya. Ia terlalu konsentrasi pada lamunannya sendiri. “Ya!” seru Taemin lagi sembari mengguncang-guncang tubuh Sulli. Sulli sontak mengerjap-ngerjap matanya. Seperti rohnya baru saja kembali ke jasmaninya. “Ada apa?” tanyanya kemudian.

“Kau sedang melamunkan apa? Serius sekali. Kau sama sekali tidak menyadari panggilanku,” dengus Taemin sembari memanyunkan bibirnya kedepan dan pipinya yang mengembung.

“Maaf,” ucap Sulli kemudian. Mereka berdua kembali diam. Entah apa yang sedang mereka pikirkan. Suasana yang menyelimuti mereka berdua benar-benar hening. Tidak ada yang berniat untuk memulai percakapan ini lagi.

-*Qiink Yheoh*-

“Kau sudah siap?” tanya Krystal begitu melihat Minho keluar dari rumahnya. Minho mengangguk-anggukan kepalanya dengan semangat sembari menunjukkan dua kantong besar yang terisi mainan serta makanan yang akan dibagikannya nanti.

Krystal menatap Minho dengan takjub. “Kau yang menyiapkan semua ini? Kurasa, mereka pasti akan sangat senang, Minho-ya!”

Tanpa mereka sadari, Sulli dan Taemin yang berada di balik sebuah mobil sedang mengawasi gerak-gerik mereka. Sulli dan Taemin memutuskan untuk mencari tahu apa yang tengah disembunyikan Krystal dan Minho setelah pertemuan mereka di taman kemarin.

“Aku tidak mengerti kata-kata Krystal, Sulli­-ah. Mereka yang dimaksud itu siapa?” tanya Taemin tanpa mengalihakan pandangannya dari dua sosok manusia yang kini sudah berjalan mendekati mereka. Taemin segera menarik Sulli untuk bersembunyi di balik pohon yang berada tepat di samping mobil itu.

Setelah merasa cukup aman, Taemin dan Sulli segera keluar dari persembunyiannya dan mulai mengikuti Krystal dan Minho yang sedang berjalan dengan santai sembari saling melempar lelucon dari belakang.

Sulli terkesiap dengan pemandangan yang di hadapannya. Sebuah gedung kecil dengan cat yang mulai luntur di setiap bagian gedung ini. Gedung ini terlihat seperti tempat yang sudah tidak digunakannya lagi. Sulli sempat berpikir bahwa gedung ini tidak mungkin ada yang tinggal di dalamnya.

Sulli tidak memperdulikan Taemin yang sedari tadi mengguncang-guncang tubuhnya. Ia masih menatap gedung ini dengan tatapan yang tidak percaya sebelum ia mendengar suara seseorang yang sangat dikenalnya sedang memanggil namanya. Sulli sontak membalikkan tubuhnya dan menatap seseorang yang sangat dikenalnya kini sudah berdiri di hadapannya.

“Apa yang kalian lakukan di sini Sulli-ya? Kalian menguntit kami, ya?” tanya Krystal yang sudah melempar tatapan menginterogasi ke Sulli. Sulli hanya dapat menelan ludahnya dengan susah payah sembari tersenyum kikuk.

“Tidak! Tentu saja tidak! Kami hanya ingin menyapa kalian saat di jalan tadi, tapi ternyata kalian berhenti di sini makanya kami juga ikut berhenti,” Sulli kembali tersenyum kikuk begitu menyadari ia tidak pandai berbohong! Apa yang harus dilakukannya? Dia sudah terlanjur berbohong dan Krystal tentu mengetahui kalau dirinya sedang berbohong.

Sepertinya dia harus jujur sebelum Krystal lebih dulu membuatnya malu. “Maafkan aku, aku hanya penasaran dengan apa yang kalian lakukan sehingga aku mengajak Taemin untuk menemaniku untuk menguntit kalian,” jawab Sulli pasrah dengan kepala yang tertunduk. Diam-diam, Krystal tesenyum lebar.

Minho berjalan mendekati Taemin yang masih memasang ekspresi bingung. Ia masih sempat menepuk bahu Taemin dengan pelan. “Kau penasaran denganku, bukan?” tanya Minho sembari tersenyum penuh arti ke Taemin.

Taemin tampak mengerutkan keningnya sebelum menganggukkan kepalanya. Minho langsung merangkul leher Taemin dan mengajaknya masuk ke dalam bangunan ini. “Kau akan mengerti setelah masuk ke dalam,” ucap Minho kemudian.

-*Qiink Yheoh*-

“Ada apa dengan mereka?” tanya  Sulli yang sedang duduk di samping Krystal sembari memandang Minho dan Taemin yang berjalan mendekati seorang anak perempuan yang menggunakan kursi roda. Ia mengenakan piyama tidur serta sebuah topi yang melekat di kepalanya. Wajahnya sangat pucat namun ia masih sempat mengukir sebuah senyuman yang manis untuk Minho yang kini sudah berlutut di hadapannya. Sedangkan Taemin berdiri di samping Minho sembari menatap anak perempuan tersebut.

“Namanya Victoria, ia berasal dari China. Dulu dia sangat ceria seperti anak-anak seumurannya. Namun setelah mengetahui bahwa dia sakit, dia tidak lagi menjadi seorang anak yang ceria melainkan sering membuat ulah. Dia ingin mendapatkan perhatian yang lebih dari orang tuanya namun sepertinya dia tidak berhasil sehingga membuatnya pasrah dengan penyakitnya yang sewaktu-waktu akan merenggut nyawanya,” jelas Krystal panjang lebar.

“Dia sakit apa?” tanya Sulli lagi.

“Kanker otak,” jawab Krystal dengan singkat.

Sulli langsung membulatkan kedua matanya begitu mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Krystal. Tiba-tiba Sulli mengeluarkan butiran bening melalui kedua sudut matanya. Ia merasa kasihan sekali pada anak tersebut. Bagaimana tidak? Seharusnya sekarang dia sedang menikmati masa-masa kecilnya di luar sana bukan berada di sini menahan rasa sakit yang akan menyerangnya dengan tiba-tiba dan merenggut nyawanya.

“Jangan kasihan padanya, Sulli-ah. Jangan menunjukkan perasaanmu padanya. Dia tidak akan dekat denganmu kalau kau kasihan padanya. Dia tidak suka dikasihani oleh orang lain. Mendekatlah padanya,” ucap Krystal kemudian seraya menepuk bahu Sulli dengan pelan sebelum ia juga berjalan mendekati seorang anak laki-laki yang duduk bersandar dinding dengan mata yang menerawang menatap langit-langit ruangan ini yang warnanya sudah luntur.

Perlahan namun pasti, Sulli berjalan mendekati Victoria yang masih asyik mendengar cerita dari Minho. Sulli menatap  Victoria dengan lekat sebelum Minho memperkenalkannya pada Victoria. Victoria menatapnya sembari tersenyum. “Eonnie!”

Sulli membalas sapaannya dengan tersenyum juga. “Kau ingin bermain dengan eonnie?” tanya Sulli kemudian. Victoria menganggukkan kepalanya dengan semangat. Hal ini membuat Sulli diam-diam meneteskan air matanya. Minho yang menyadarinya langsung menepuk punggungnya pelan. Sulli beralih untuk menatap Minho yang kini sudah memberinya sebuah senyuman manis yang menyakinkan hatinya untuk mendekati Victoria.

-*Qiink Yheoh*-

TBC! Harap RCL nya ya ^^ Ini pertama kali aku mengirim FF ke luar area WPku .. Hihihi Jadi, diharap RCL nya ya ^^

Dan sebenarnya FF ini hanya dijadikan sebagai FF oneshot tapi berhubung dengan aturan di sini yang menyatakan FF oneshot , max 10 page , aku bagi jadi 2/3 bagian .. heheh

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

15 thoughts on “Miracle – Nothing is Impossible [1.3]”

  1. Waaaahhh.. Keren ceritanyaa..
    Dari luarnya sangar tp ternyata hatinya mulia dan otaknya pinter, wah.. Minho daebak.
    Kira2 ada kisah cintanya minho ga ya? Klo ad, nanti dia sama siapaaa?
    Ditunggu next part nya thor..

  2. hahahha
    cerita ini aku tidak menggunakan unsur romance nya ..
    mianhe chingu ><
    gomawo udha membacanya .. hihih

    iya .. aku sengaja membuat karakter Minho seperti ini, lebih terkesan dingin namun sngat perhatian ^^

  3. ffnya bagus,tapi kependekan hehe.. mian tekat baca.
    masik penasaran minhon sakit apa ‘-‘
    aku baca next chapnya yah >.<

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s