My Life is Pain [1.2]

My Life is Pain [1 of 2]

Author             : adinary

Main Cast        : Han Hyejin – Lee Taemin

Length             : Two shoots

Genre              : Sad – Fantasy

Rating              : General

Summary         : “Kau takkan pernah bisa menyesali takdir tapi hanya bisa menjalani takdir. Memposisikan takdir itu menjadi yang terbaik untukmu. Meski terasa menyakitkan.” – Han Hyejin.

A.N                  : Hello~Hello~ author More Than 100 Days (ff rada aneh hahaha) balik lagi tapi nggak bawa epilog._. bawanya two shoots karena ini yang ada di otak author pas nonton MV SHINee yang For 1000 Years Always Be By My Side ^-^v sebenernya yang nyambung di ff ini sama MVnya itu cuma……kucing garong /hening/. Rekomendasi musiknya sih yang sedih-sedih aja. Feelnya lebih dapet kalau berupa instrument sedih :p

DILARANG COPAS! ATAU MEMPLAGIATI FF INI HAHAHAHA

Selamat membaca *wink*


Hyejin pov

Anak-anak berseragam  SMA itu berjalan keluar dari gerbang sekolahnya.

Seharusnya, aku juga menjadi bagian dari mereka. Tapi aku hanya bisa melihat mereka dari sini.

Seharusnya, aku juga memakai seragam itu. bukan memakai celemek berwarna biru ini.

Aku melihat teman-teman sekelasku dulu. Ah, sekarang mereka pasti sedang sibuk untuk menghadapi ujian kelulusan nanti.

“Hyejin-ah!!!”

Aku tersenyum saat Sunmi memanggilku. Ia menghampiriku bersama Yunji. Mereka sahabat terbaikku di sekolah dulu.

Seperti biasa, tatapan mereka selalu prihatin melihatku dengan keadaan seperti ini.

“Bogoshipoooo.”

Aku tertawa pelan saat Sunmi dan Yunji berhamburan memelukku. “Nadoooo.”

Sunmi melepaskan pelukannya dan memandang tubuhku. “Kau masih bekerja di pabrik roti itu?”

Aku mengangguk sambil tersenyum. “Ya! Kalian berdua sekarang sudah jarang kerumahku. Eiiih, apa kalian mencoba sombong padaku?”

Yunji menghela napasnya. “Mianhae. Kau tahu? Aku sudah muak dengan semua pelajaran sekolah. Mentang-mentang kami sudah kelas 3 semester akhir, rasanya semua guru mencekoki kami terus menerus.”

“Kalian harus bersyukur. Itu artinya sebentar lagi kalian akan jadi mahasiswi! Fighting!!! Aku akan mendoakan kalian.”

“Rasanya aku ingin menangis setiap kau memberi kami semangat untuk sekolah.”

Aku pun kembali merangkul mereka berdua. Aku tahu mereka sangat sedih dengan keadaanku sekarang. Tepatnya dengan keadaanku sejak setahun yang lalu.

“Aku harus kembali kerja. Kapan-kapan mainlah kerumahku, ne?”

Sunmmi dan Yunji kembali tersenyum. “Ne!!”

Aku pun kembali berjalan sambil membawa sekantung terigu. Pabrik tempatku bekerja kekurangan sedikit terigu.

Ah, aku lupa memperkenalkan diri. Aku Han Hyejin. Usiaku 17 tahun dan aku bekerja di pabrik roti. Aku memang sudah tidak sekolah semenjak 1 tahun yang lalu. Keadaan yang memaksaku sampai seperti ini. Apa kalian siap mendengar ceritaku yang menyedihkan? Kekeke.

“Ahjumma. Ini terigunya.” Aku menyerahkan terigu pada seorang ibu paruh baya yang sedang sibuk mengaduk adonan.

“Simpanlah. Ayo, cepat kembali bekerja. Nanti bos memarahimu.”

Aku bekerja sebagai pembuat roti. Ah, tepatnya tugasku hanya mengaduk setiap adonan. Pabrik ini memang bukan pabrik yang besar. Hanya ada 1 mesin pengaduk dan sisanya para buruh yang mengaduk.

Rasanya tanganku sudah bisa berputar sendiri mengaduk semua adonan yang banyak ini. Pegal sekali. Kalau mengaduk adonan seperti ini aku selalu ingat pada eomma. Dulu eomma bekerja disini juga dan sekarang aku yang menggantikannya. Memang, gajinya tidak besar atau tepatnya sangat kecil. Bahkan, untuk makan 1 bulan saja tidak cukup. Yah, begitulah.

“Ah, akhirnya pulang juga.”

Waktu menunjukan pukul  12 siang dan inilah waktunya pulang untuk para buruh pabrik roti ini.

“Pegal sekali tanganku.” Aku memutar-mutar tanganku berharap bisa meringankan rasa pegalnya.

Pekerjaanku belum berhenti sampai disini. Aku harus menjadi kasir di toko sembako kecil. Aku pun berjalan dengan sedikit cepat. Tapi langkahku terhenti saat melewati sebuah toko ice cream.

Flashback

“Eomma, kapan aku bisa membeli ice cream yang besar itu?”

Eomma tersenyum sambil mengelus rambutku. “Kalau eomma punya uang lebih, nanti pasti eomma belikan ice cream. Sekarang, ayo kita pulang. Kau pasti sudah lapar.”

Flashback end

Aku tersenyum miris, bahkan sampai sekarang pun aku belum pernah membeli ice cream yang besar itu. Aku kembali berjalan dengan cepat. Sebelum jam 1 aku harus sudah siap menjadi kasir di toko sembako itu.

Hal pertama yang ada dalam pikiranku saat masuk toko ini adalah eomma. Dulu, eomma juga bekerja disini. Lagi-lagi dengan gaji yang kecil. Aku bekerja disini sampai jam 6 sore. Setelah itu aku bisa sedikit beristirahat dan makan malam di rumah.

Aku menghela napas sambil berjalan pulang. Aku merogoh saku jaketku.

“Mwoya? Tinggal 1000 won? Bagaimana aku bisa naik bus untuk pulang?”

Aku pun memutuskan untuk berjalan kaki. Walau jauh tapi ini bukan untuk yang pertama kalinya. Aku lupa kalau tadi uangku nyaris habis untuk membayar hutang. Kalau bisa berhenti, aku akan berhenti sekarang juga. Sungguh, sudah lebih dari 1 tahun aku seperti ini dan tubuhku rasanya akan remuk dalam waktu beberapa hari. Apa ini yang eomma rasakan selama bertahun-tahun? Eomma memang wanita yang sangat kuat.

Aku memegang perutku saat melewati sederetan penjual makanan. Demi Tuhan aku sangat lapar. Aku hanya memakan sebungkus roti sejak pagi tadi. Tapi kalau uang ini aku belikan makan disini, selain tidak cukup aku juga tidak akan bisa menabung di rumah. Saat ini aku hanya berharap ada sebuah keajaiban, mungkin saja sedang ada promo makanan gratis.

“Agashi, ayo, makan di tempat kami.” Tawar seorang pedagang.

“Berapa harga yang paling murah?” Tanyaku.

“2000 won saja.”

Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala lalu kembali berjalan. Berjuanglah, Hyejin. Sebentar lagi kau sampai rumah.

“Itu dia tangga menuju rumahku.”

Aku sedikit mempercepat langkahku dan segera menaiki tangga kecil tersebut.

Miauw…

Aku mendengar suara seekor kucing saat akan membuka pintu rumah. Aku pun menengok kebawah kakiku. Kucing hitam? Siapa yang meninggalkannya disini?

Miauw… Kucing itu mengelilingi kakiku. Tanpa pikir panjang aku membawa masuk kucing itu. Siapa tahu dia bisa menjadi teman baruku di rumah. Mungkin akan menyenangkan.

Aku segera memasak mie untuk mengisi perutku. Aku benar-benar lapar sekarang. Aku melirik sebentar kucing baruku, dia sedang mengelilingi rumah kecilku ini.

~~~

Pukul 8 malam aku harus pergi ke pom bensin. Ya, aku bekerja menjadi pengisi bensin sampai jam 12 malam nanti. Dan aku tidak boleh telat, karena aku baru 3 minggu bekerja disitu. Tapi dulu eommaku tidak bekerja disini, kekeke.

Kurasa ada yang aneh dengan kucing ini. Dia terus mengikutiku kemanapun aku pergi. Bahkan dia duduk manis di sebelah kakiku saat aku sedang bekerja menjadi pengisi bensin. Aku jadi tertawa sendiri melihat kucing hitam itu, dia sangat lucu. Aku rasa dia ditakdirkan untukku.

“Permisi, tolong isikan bensin 10 liter.”

“Baik. Tunggu sebentar.”

Mobil ini mewah sekali. Aku juga memperhatikan penumpang di jok belakang. Ada seorang laki-laki dan perempuan yang sudah  berumur dengan seorang anak kecil yang duduk di antara kedua orangtua itu. Sepertinya mereka sangat bahagia.

Aku sedikit terkejut dan langsung tersenyum saat anak kecil itu membuka kaca mobilnya dan menyapaku.

“Annyeonghaseyo, noona~”

“Annyeong adik kecil.”

“Waah, eomma, noona ini cantik sekali ya.”

“Kau bisa saja.” Aku tertawa ringan dan melihat wanita di dalam mobil itu tersenyum manis. Tapi kenapa dengan paman itu? Dia menatap…….pergelangan tanganku.

“Isi bensinnya sudah selesai. Terimakasih. Hati-hati di jalan.”

Mobil itu pun pergi. Tapi aku masih menatapnya. Kenapa dengan paman tadi?

~~~

Pukul 12 malam. Ini artinya aku sudah boleh pulang. Baiklah, hari ini sudah berakhir. Tapi masih ada hari esok. Apa selamanya hidupku seperti ini?

Aku pun berjalan pulang sambil menggendong kucing hitam ini. Kucing ini belum kuberi nama. Apa ya nama yang cocok? Garong? Kekeke kurasa itu menyeramkan. Akan aku panggil dia si hitam saja, kurasa lebih gampang kekeke.

“Ahh, lelah sekali.”

Aku merebahkan tubuhku di kasur kecil ini. Rasanya nyaman sekali. Akhirnya aku bisa tidur.

Author pov

Baru saja Hyejin menutup matanya. Kepalanya terasa sangat sakit. Seperti ada yang menusuknya dengan ribuan jarum dan puluhan pisau. Hyejin membuka matanya dan melihat ke sekeliling rumahnya yang seakan semuanya berputar. Ia merasa seperti ada gempa hebat.

Hyejin mencoba mengangkat kepalanya untuk bangun tapi rasa sakit itu semakin parah. Hyejin mengerang kesakitan sambil menjambak rambutnya sendiri.

“Eomma……sakit…..”

Hyejin terus mengerang kesakitan. Ia berguling kekiri dan kekanan sampai terjatuh dari kasurnya sendiri.

“Aaahhh sakitttt…”

Tiba-tiba darah keluar dari hidungnya. Ia mimisan. Hyejin mencoba menghapus darah yang keluar dari hidungnya. Yang ia ingat hanya ibunya. Dulu, ibunya juga seperti ini. Dulu ia panik. Tapi sekarang ia yang mengalaminya sendiri dan tak ada yang bisa menolongnya. Hyejin berusaha meraih sesuatu dari meja disamping kasurnya. Ia mengambil obat.

“AHH!!”

Hyejin melempar botol obat kosong tersebut. Obatnya habis. Sekarang Hyejin hanya bisa menangis sambil bersandar di ranjang kasurnya.

“Eomma….”

“Sakit…kepalaku sakit….”

Ini bukan pertama kalinya Hyejin seperti ini. Jika ia terlalu lelah, sakit kepalanya selalu kambuh. Hyejin menderita vertigo berat. Sama seperti ibunya dulu.

Keluarga Hyejin adalah keluarga sederhana, sangat sederhana. Ia memiliki ibu dan ayah yang rupawan sehingga wajahnya kini juga cantik. Tapi hidupnya tak secantik wajahnya. Ayah Hyejin meninggalkan Hyejin dan ibunya demi menikah dengan wanita kaya raya yang akan memodali semua usaha yang ingin ayahnya buat. Ayah Hyejin tidak menceraikan ibunya, tapi ayah Hyejin tidak pernah kembali ke rumah. Kejadian itu terjadi saat Hyejin masih berumur 3 tahun.

Karena ditinggal ayahnya, ibu Hyejin harus bekerja lebih keras. Setiap pagi ibunya bekerja dipanti asuhan, lalu jam 7 sampai jam 12 siang bekerja di pabrik roti dimana Hyejin juga bekerja disitu sekarang. Setelah itu ibunya bekerja sebagai kasir di toko sembako kecil seperti Hyejin sekarang. Malamnya pukul 9, ibu Hyejin menjadi pelayan di kedai makanan kecil sampai jam 12 malam. Itu yang dikerjakan ibunya Hyejin selama bertahun-tahun untuk menyekolahkan Hyejin dan menghidupi dirinya dan Hyejin.

Ketika Hyejin menanyakan ayahnya, ibunya selalu berkata kalau ayahnya sedang bekerja untuk mengirim uang pada Hyejin. Tapi seiring bertambahnya usia, Hyejin mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Namun, ia tak pernah mencari ayahnya tapi tak juga membencinya. Hyejin membiarkan ayahnya hanya terpajang di sebuah foto keluarga di rumahnya dan membiarkan gelang pemberian ayahnya itu bertengger di pergelangan tangan kirinya.

Sejak SMP Hyejin sudah membantu ibunya mencari uang dengan berjualan kue-kue kecil di sekolah. Sampai akhirnya ibunya Hyejin meninggal karena vertigo yang sudah sangat parah dan asam lambungnya yang juga sudah kronis. Akhirnya Hyejin hidup sendiri dan berhenti sekolah saat kelas 2 SMA. Dan memulai semua pekerjaan yang ia lakoni sekarang ini. Sampai Ia juga divonis mempunyai penyakit yang sama dengan ibunya dulu. Vertigo.

Hyejin mengihidupi dirinya sendiri. Sejauh ini ia merasa beruntung masih bisa menyambung hidup dengan hasil jerih payahnya. Terkadang, Sunmi dan Yunji juga sering bermain ke rumah Hyejin dengan membawa banyak makanan. Kadang-kadang Hyejin merasa malu dengan teman-temannya, juga merasa iri. Tapi ia senang mempunyai sahabat seperti Sunmi dan Yunji.

~~~

“Kau belum memperlihatkan wujudmu pada wanita itu?”

“Belum, paman.”

“Bagaimana rasanya menjadi scheduler? Ini pertama kalinya untukmu, bukan?”

“Entahlah. Tapi aku kasihan dengan wanita itu. Aku tidak menyangka dia semenyedihkan itu.”

“Bukankah kau juga meninggal diusia muda? Itu juga menyedihkan, bukan?”

“Sangat, paman.”

“Terlebih, bukankah kau menyukai….”

“Ne, ne. Aku menyukainya saat masih hidup.”

~~~

Waktu menunjukan pukul 5 pagi. Hyejin terbangun dengan rasa pusing yang masih tersisa sedikit. Ia melihat ke sekelilingnya. Rupanya ia tertidur sambil bersandar pada pinggiran ranjang kasurnya. Hyejin pun memaksakan dirinya  untuk bangkit. Jam 6 nanti dia harus mengantarkan koran-koran.

Miauw….

Hyejin tersenyum lalu mengelus kucing yang menyambutnya dipagi hari.

“Selamat pagi, hitam. Apa kau tidur dengan nyenyak?”

Miauw… Kucing itu naik ke pangkuan Hyejin sambil mengelus-ngeluskan kepalanya di perut Hyejin.

“Hitam, aku harus mandi, jam 6 aku harus mengantar koran. Kau mau ikut?”

Miauw….

~~~

Seperti mendapatkan energinya kembali ia mengayuh sepeda dan mengantarkan setiap koran-koran itu ke perumahan elit. Sepanjang jalan ia mengobrol dengan kucing peliharaannya yang ia simpan di ranjang sepeda. Seolah mengerti, kucing itu juga terus bersuara.

“Noona!!!”

Seorang anak kecil memanggil Hyejin dari depan gerbang sebuah rumah mewah. Anak kecil bersama baby sitternya. Hyejin berhenti sejenak dan menghampiri anak laki-laki kecil itu.

“Annyeong noona cantik pom bensin.” Sapa anak itu.

“Kau? Anak kecil tampan yang membeli bensin. Kau masih mengingatku? Wah, hebat sekali.”

“Noona, sedang bersepeda, ya?”

“Noona sedang bekerja. Mengantar koran. Oh, iya. Ini, koran untukmu. Berikan pada orangtuamu, ya. Noona harus pergi sekarang.”

“Besok noona kesini lagi, tidak?”

“Tentu, noona akan mengantar koran setiap hari kerumahmu. Annyeeooong!”

Hyejin pun kembali mengayuh sepedanya. Sesaat setelah Hyejin pergi seorang laki-laki berumur menghampiri anaknya.

“Kau mengobrol dengan siapa, nak?”

“Ayah ingat tidak dengan noona cantik yang di pom bensin kemarin malam? Ternyata dia juga mengantarkan koran ke rumah kita. Wah, berarti setiap hari aku akan melihat noona cantik itu.”

“Noona yang di pom bensin? Kemarin malam?”

Anak kecil itu mengangguk girang sambil menggulung-gulung koran pemberian Hyejin.

“Han….Hyejin…”

~~~

Hari demi hari terus Hyejin lewati dengan kegiatan yang melelahkan. Semata-mata hanya untuk menyambung hidupnya. Sebenarnya ia ingin membuat hidupnya lebih baik, tapi dengan modal ijazah SMP, apa yang bisa dia lakukan? Mencoba untuk berdagang pun ia tak mempunyai modal dan ia sudah tak ingin berhutang lagi pada oranglain.

Hari ini seperti biasanya, jam 8 malam Hyejin bekerja sebagai pengisi bensin. Cuaca terasa lebih dingin dari biasanya. Entah ini hanya Hyejin atau memang cuaca sedang begini. Hyejin duduk sambil terus menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.

“Hari ini dingin sekali.”

“Hyejin-ah, gwenchana?” Tanya seorang rekan kerja Hyejin.

“Gwenchanayo, paman. Aku hanya dingin.”

“Pakailah jaketmu. Aku mau laporan dulu mumpung sepi pelanggan. Kalau ada yang mengisi bensin, tolong kau layani dulu, ne?”

“Ne, paman.”

“Anak baik. Baiklah, aku laporan dulu.”

Hyejin hanya tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya.

Hyejin menoleh kebawah. “Ya! hitam, kau kedinginan tidak? Mau aku peluk?” Hyejin pun mengangkat kucingnya ke pangkuannya. Hyejin mengelus lembut kepala kucing itu.

“Apa sekarang waktu yang tepat?” Ucap seseorang didalam batinnya.

Tiba-tiba Hyejin merasa pusing.

“Tidak, jangan disini.” Batin Hyejin.

Pusing itu semakin menjadi-jadi, ribuan jarum seakan mulai menusuk kepalanya. Hyejin mencoba menutup matanya, berharap pusing di kepalanya hilang. Perlahan, Hyejin mencoba berdiri lalu membuka matanya. Dunia seakan berputar bagi Hyejin dan Hyejn pun hilang keseimbangan. Hyejin terduduk dibawah dan mimisan. Lalu semuanya gelap.

~~~

Perlahan, Hyejin membuka matanya. Hyejin menarik napas. Bau rumah sakit.

Hyejin menoleh dan mendapati rekan kerjanya di pom bensin sedang duduk di samping Hyejin. “Paman?”

“Kau sadar? Biar aku panggil dokter.”

Dokter pun datang dan memeriksa Hyejin. “Vertigomu-“

“Sudah sangat parah. Iya, kan?” Potong Hyejin, “sudahlah, Dokter. Aku sudah tahu dan aku merasa baik-baik saja bersahabat dengan penyakit ini.”

“Kau harus meminum obat-“

“Aku tidak punya uang. Bahkan aku bingung darimana aku bisa membayar biaya rumah sakitku sekarang. Paman, seharusnya kau tidak membawaku kesini!” Potong Hyejin lagi dengan sedikit emosi. Tiba-tiba ia merasa muak dengan keadaannya.

“Aku mau pulang. Ahh-” Hyejin mencoba bangun tapi kepalanya sangat berat.

“Sudahlah, kau tidur dulu. Paman akan berbicara dengan Dokter diluar.”

Begitu rekan kerjanya keluar bersama sang Dokter, air mata Hyejin mengalir begitu saja tanpa bisa ditahan. Hyejin menghapus airmatanya dengan kasar.

“Kau bermalamlah dirumah sakit ini. Dokter bilang kau benar-benar harus dirawat.” Ucap rekan kerjanya.

“Apa Paman tidak mengerti? Aku bilang aku baik-baik saja. Lihat! Sekarang aku bisa duduk. Paman mau melihat aku berdiri?!”

“Han Hyejin. Paman mengerti. Paman akan mengurus biayamu, kau bisa pinjam uang dari kantor. Paman bisa meminjamkan sedikit uang untukmu. Kau bisa membayarnya kapan saja kau mau.”

“Ani!! Aku tidak mau. Paman sudah terlalu baik padaku. Paman yang memasukkanku kerja di pom bensin. Dulu, paman yang membantu ibu dan sekarang paman juga membantuku. Aku tidak mau paman repot.”

“Paman mohon, kali ini terima pertolongan paman. Ne?”

“Tapi aku mohon paman jangan menginap disini. Kasihan keluarga paman dirumah. Aku tidak mau paman juga sakit karena menungguiku.”

Paman pun mengangguk. “Baiklah. Paman pulang. Annyeong.”

Namun Hyejin hanya diam memandangi selimutnya.

Miauw….

Kucing peliharaan Hyejin naik ke pangkuan Hyejin lalu menatap Hyejin dengan intens.

Hyejin memperhatikan kucingnya lalu menangis. “Hitam, aku rindu eomma. Aku butuh eomma.”

“Han Hyejin.”

Tangis Hyejin berhenti saat ia mendengar seseorang memanggil namanya. Ia menoleh ke arah pintu kamarnya. Dan menoleh ke deretan ranjang rumah sakit di sebelahnya. Kosong. “Siapa?”

“Lihat aku di hadapanmu.”

“Siap- Hitam, kau dimana?”

Hyejin menoleh kesana kemari mencari kucingnya.

“Disampingmu.”

Hyejin menoleh ke samping kirinya. “YA! Kau siapa?!”

Seorang laki-laki berpakaian serba hitam dengan kalung berbandulkan sebuah jam jadul berukuran kecil.

“Kucingmu.”

“MWO???”

-TBC-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

12 thoughts on “My Life is Pain [1.2]”

  1. owh.. Miris sangat..
    Jangan bilang kalo ajal hyejin sudah dekat..
    Dan anak kecil yg manggil hyejin noona adik seayahnya, kan? Ayahnya ngenalin hyejin lewat gelangnya..
    Kucing hitamnya menjelma jadi taemin?
    Next

  2. Adinari-ssi, scheduler? jadi inget 49 days 🙂 bener2 miris kehidupan Hyejin.. Ngebayangin si hitam jadi Taemin yg pake baju hitam2 seperti di mv 1000 years.. hmm.. Kereen.. 😉 ditunggu part selanjutnya.. 🙂

  3. Kasiah banget hidup hyejin… Turut prihatin #ehh?
    Taem adalah si kucing hitam? Aaa, daebakk
    nebak2 gag berhadiah ahh. Emmm… Ayah anak laki2 yg beli bensin itu pasti ayah hyejin, dan sebelum mati taem adlh secret admire-nya hyejin. Btul tidak? Hehe
    segera ditunggu part selanjutnya

  4. Huwaaa.a… Taemin jadi Shinigamii!
    Pake baju serba item! Ganteng!

    Jd sewaktu Taemin hidup, dy suka sm Hyejin ya?sayangnya Taemin mati muda. ;(

    yg ketemu di pom bensin itu kyknya itu ayahnya Hyejin deh. Poor Hyejin..

    Lanjuttt ya….

  5. kayaknya paman kaya itu ayahnya Hyejin. Tapi, tidak mungkin Hyejin gak tahu wajah ayahnya. Soalnya di cerita tadi ada kalimat, ‘akhirnya Hyejin membiarkan ayahnya hanya terpajang di sebuah foto keluarga di rumahnya.’ hehe. Maaf kalo banyak bacot.
    Tapi, ceritanya bagus dan keren. :). Suka!

    1. HAHAHAHAHAHA ternyata ada yang sadar ;______; ini pas aku sadar udah keburu dikirim kkk
      aduh maapin author ga teliti kekekeke anggap aja itu foto ga ada dipart ini kkkk kl km baca part selanjutnya, anggap aja difotonya ngga ada bapaknya ;__;v

  6. Miris sekali nasib HyeJin begitu pula dengan TaeMin, paman yang di mobil itu bukannya ayahnya.
    Dari tingkahnya sudah terlihat
    Menyebalkan, mengabaikan anaknya dan juga istrinya yang menunggu dirinya. Hingga ke-duanya pergi dari dunia

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s