Who I Am? I Am an Eve – SPY 9

(credit poster : cutepixie/pinkhive.wordpress.com)

Title: Who I Am? I Am an Eve (Sequel From Fairytale and Myth)

Author : ReeneReenePott

Maincast : Key, Jessica, Jung Yoogeun

Supporter cast : Hero(Kim JaeJoong), Gyuri, Taylor(Kim Jonghyun),Madeleine(Lee Son Hee), Elias(Choi Minho), Chase(Lee Jinki), Ariana Clearwater, Baek Chan Gi, Joon

Genre : Fantasy, Thriller, Alternate Universe, Romance

Rating : PG – 15

Length : Sequel

Summary : Key yang merupakan reinkarnasi dari Kibum dan memiliki kemampuan mengendalikan sihir akhirnya kembali ke kawanannya, tetapi sialnya ia membuat seorang penyihir setengah Veela mengikatkan hatinya pada Key. Jessica dan Key yang ternyata memiliki ikatan masa lalu masih belum sadar satu sama lain, menganggap ketergantungan yang ada karena Key mirip dengan Kibum di mata Jessica. Yoogeun, mangsa tertunda Jessica dulu, ternyata juga masih menyimpan rasa pada Eve wanita itu bahkan saat ia hendak bertunangan dengan gadis yang ternyata mangsa Key. Dan dengan polosnya, gadis yang mengejar cinta Key bertemu Madeleine dan membuat kesepakatan.

SPY 9

“Gyuri, bilang pada direkturku kalau hari ini aku ambil cuti. Katakan apa saja, aku sedang diare, flu, atau demam, atau apalah. Aku ada urusan mendadak,” ujar Key cepat sepersekian detik setelah ia keluar dari pintu kamarnya, membuat beberapa Eve dan Elf yang berada di ruang tengah mengangkat sedikit alisnya heran.

“Kenapa anak itu?” gumam Taylor bingung. Ia masih sibuk memakai dasinya, sementara Gyuri hanya menatap Key lekat lalu mengangguk pelan.

“Ah, karena itu,” celetuk Hero tiba-tiba. Gyuri, Jessica dan Madeleine langsung menoleh menatap Hero.

“Karena apa?” tanya Jessica bingung. Hero menyeringai.

“Mangsa wanita pertamanya,”

“Oh,” gumam Jessica. “Kuharap ia berhasil,”

Knock

Knock

Madeleine mengangkat bahunya heran sementara ia melangkah membuka pintu kastil tua itu. ia tertegun begitu melihat siapa yang mengetuk pintu, yang tersenyum manis menatapnya.

“Hai,”

“Siapa yang datang…?” Hero sudah berdiri di sampingnya dan ikut memandang ke arah pandangan Madeleine. “Joon?”

“Hanya memastikan murid lulusan ini baik-baik saja,” sahut Joon agak cuek. Madeleine terdiam. “Baiklah, aku tinggal dulu,”

Baik Hero maupun Madeleine bengong melihat punggung Joon yang perlahan menjauh dari pandangan mereka. “Madeleine, ini mungkin aneh, tapi ini pertama kalinya aku bisa membaca pikiran rumit seorang Elf,” ujar Hero tiba-tiba.

“Maksudmu?”

“Joon berniat untuk melakukan suatu hal terhadapmu,”

Hening.

“Kau gila, Hero?”

__

Key merapatkan jaketnya dan menurunkan topi hitamnya sedikit ketika beberapa mahasiswa melangkah melewatinya. Ia mencoba untuk menghirup udara, meski agak terasa aneh di hidungnya. “Gadis itu masih mahasiswa, tapi kenapa aku tidak tahu namanya? Hum…” gumam Key pelan sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh taman universitas yang amat sangat besar itu.

“Lebih baik kau lebih tegas padanya, Chan Gi-ya, Hoya itu seorang yang gigih,” suara seorang perempuan menarik perhatian Key.

“Hoya jelas-jelas tahu aku akan bertunangan. Harusnya ia yang sadar diri,”

“Kalau begitu, bawa pacarmu ke sini dan nyatakan itu di depan mata Hoya. Aku yakin Hoya akan langsung ciut dan kembali mengejar si Sharpay jadi-jadian itu,” Key menyeringai kecil ketika sosok dua perempuan itu berlalu di hadapannya, mengambil ancang-ancang untuk mengikuti salah satu darinya—feeling seorang Key lebih tajam dari manusia, seperti rekannya yang lain.

“Chan Gi? Apa marganya?” gumam Key ragu sambil mengekori dua perempuan yang sedang berbincang seru itu. Tak ada yang akan mencurigainya, karena meski arahnya sama dengan kedua perempuan itu, pandangannya ia arahkan ke arah lain meski konsentrasi telinganya tetap pada mereka. Key tersenyum ketika kedua gadis itu memisahkan diri di halte bus. Ia mengabaikan gadis yang mengenakan headset super besar itu, dan memilih untuk mengikuti yang berambut ikal pendek.

__

Jessica sedang memeriksa file-file yang baru diterimanya, keningnya berkerut samar ketika mendapati sebuah kartu terselip di salah satu dokumen dari ruang kerja Yoogeun. Jemarinya dengan lincah membuka kartu itu, matanya menjelajahi isinya penasaran. Dan setelah ia selesai membaca kartu itu, ia terdiam.

Kriiiing

Kriing

Jessica tersentak dan langsung mengangkat telepon yang tergeletak di sudut meja kerjanya. “Dengan karyawan Jung, ada yang bisa saya bantu?”

“Kau ada waktu siang ini?” pertanyaan itu menerjang telinga Jessica, hingga ia menyadari siapa pembicara di seberang.

Aniya, sajangnim. Busuniriseoyo?”

“Kau mau makan siang bersama?”

Jessica terdiam sejenak, apa ia harus menerimanya? Atau menolaknya? “Baiklah, sajangnim,” ujar Jessica pada akhirnya. Ia menutup telepon, lalu menghembuskan napas keras. “Dasar lelaki aneh, sudah mau bertunangan masih saja mengajak wanita keluar. Seperti apa sih rupa tunangannya itu?”

__

Mianhae, sajangnim. Menunggu lama?” ujar Jessica sambil menghempaskan diri di hadapan Yoogeun yang duduk di salah satu meja kafetaria kantor.

“Yoogeun saja. Itu membuatku risih,” ujar Yoogeun sambil mengibaskan tangannya. Jessica tersenyum miring.

“Saya tidak bisa sajangnim,”

“Terserah kaulah,” balas Yoogeun jengkel. “Mau pesan apa?” tanyanya yang membuat Jessica membeku. Dia tidak bisa makan apa-apa!

“Er… coffee latte saja,” Yoogeun menatap Jessica intens. Sesaat kemudian ia mengangguk mengerti.

“Baiklah. Aku baru ingat kau tidak bisa makan apa-apa,”ujar Yoogeun lalu bangkit dan berlalu dari hadapanya. Beberapa menit kemudian barulah pria itu kembali ke tempat duduknya. Mereka berdua dalam keadan sama-sama diam, bingung harus memulai darimana pembicaraan dalam situasi yang mereka anggap cukup canggung itu.

Sajangnim..”

“Jessica…”

“Ah, kau dulu, sajangnim,” ujar Jessica. Yoogeun menghembuskan napas, apa yang inngin dikatakannya memang terasa sangat berat.

“Apa kau masih seorang mahkluk itu?” tanya Yoogeun, hampir terasa seperti putus asa. Jessica menatapnya aneh, lalu melipat tangannya di depan dada.

“Aku akan selalu seperti itu, sajangnim. Tidak ada yang bisa merubahku. Kau pikir ini film Twilight?” balas Jessica agak tajam. Yoogeun masih belum mau menatap Jessica.

“Apa yang kau rasakan selama sepuluh tahun?”

“Tidak ada yang berubah. Kecuali keadaanmu, tentu saja. Aku tidak akan bertambah tua, atau nampak bertambah tua. Aku akan selalu seperti ini,”

“Apa kau bisa mengubahku?”

“Kau jangan gila, Jung sajangnim. Cepat ke inti topik permasalahan saja,” ujar Jessica kesal.

“Aku belum bisa melupakanmu, Jessica!” raungnya agak keras. Jessica melongo.

“Kau benar-benar edan, Jung sajangnim. Kau belum bisa melupakanku? Lalu apa arti pertunanganmu, hah?!” balas Jessica tak kalah keras. Yoogeun terbelalak, ia hampir saja bangkit dari kursinya sendiri sangking kagetnya.

“Kau tahu darimana?!?!” Yoogeun makin melotot.

“Kartu undanganmu itu tak sengaja terselip ke salah satu dokumen yang kau perintahkan padaku. Beruntunglah kau aku belum bergosip dengan pegawai lain, pasti sudah menyebar bagai api kebakaran,” balas Jessica. Dilihatnya Yoogeun makin terdiam, lalu menatap Jessica.

“Kau mau aku bertunangan?” tanya Yoogeun hati-hati. “Aku bisa membatalkannya, kau tahu,” Jessica menunduk, ia malah jadi bingung. Harusnya ia bisa menjawab dengan tegas, bahwa ia akan menyetujui pertunangan itu. Tapi kenapa pikirannya malah berkecamuk? Ia bingung sekarang.

“Tidak. Jangan,” ujar Jessica tiba-tiba tanpa ia kontrol sendiri. Yoogeun mengerutkan keningnya bingung, tapi jelas ia merasa senang dengan penolakan Jessica itu.

“Kau menyukaiku?” tanya Yoogeun dengan seringaian yang terlukis di bibirnya. Jessica menggeleng.

“Tidak,”

“Jangan bohong kau, Jessica,”

“Kubilang tidak, Jung Yoogeun. Dan aku hanya mengeluarkan pendapatku kalau kau jangan bertunangan dengan gadis itu, fiarasatku dengan firasatmu berbeda, kau tahu itu?” kata Jessica agak keras dan bangkit berdiri, bahkan pesanannya sendiri belum datang. “Kurasa pembicaraan kita berakhir di sini dulu, Jung sajangnim. Annyeonghasseyo,”

__

Seoul International Hospital

02.00 p.m

Madeleine mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru lobby rumah sakit, ia sudah menanggalkan jubah prakteknya dan meminta ijin untuk hari itu. Blazer cokelat muda yang di pakainya agak kebesaran, tapi ia menghiraukan hal itu. Baru saja ia ingin mencegat sebuah taksi ketika sebuah tangan mencekal lengannya.

“Kau mau kemana, Lee uisa?” tanya sebuah suara berat. Madeleine menoleh, lalu membulatkan matanya ketika melihat postur Elias menghadangnya, masih berjubah lengkap.

“Aku ada urusan, Choi uisa,” sahut Madeleine ragu. Mata Elias menyipit, lalu melepaskan cekalan tangannya.

“Tindak-tandukmu aneh akhir-akhir ini,” sindirnya sambil mengangkat sebelah alisnya. Madeleine menjilat bibirnya yang agak kering, lalu tersenyum tipis.

“Iya kah?” tanyanya gugup. “Aku pergi sebentar, Choi uisa. Annyeonghaseyo,” Madeleine menghela napas ketika ia berhasil menutup pintu taksi dan menghempaskan diri di joknya.  Ia melirik arlojinya, masih tersisa sepuluh menit baginya untuk sampai ke tempat tujuan.

Flashback

“Kau tahu, Nona Clearwater, Elf selalu bersifat netral. Kau tak akan bisa mendapat dukungan dariku atau kaumku untuk kepentingan pribadimu. Tapi kalau itu untuk masyarakat banyak, aku akan mempertimbangkan itu,” jelas Madeleine panjang lebar sambil menatap Ariana tajam.

“Sihirku pasti dikuasai oleh musuhku, dan aku butuh kekuatan lebih,”

“Atas dasar apa kau menunjukku?” tanya Madeleine lagi, datar. Ariana menatapnya tak percaya.

“Karena aku percaya kekuatanmu lebih dari yang ku tahu,”

“Oh ya? Tapi maaf, Nona Clearwater, aku masih baru lulus beberapa tahun lalu. Kau tak mungkin langsung mendapatkanku, aku masih perlu beradaptasi dengan lingkungan dan perilaku baruku,”

“Tak bisakah aku memohon? Kalau kau mengetahui masalahnya, kau pasti akan mempertimbangkannya,” ujar Ariana lagi. Ia ingin sekali berteriak, tapi tidak di depan Elf yang menurutnya jago beradu mulut dihadapannya ini.

“Kalau boleh ku tahu?”

“Aku ingin mengetahui identitas diri orang ini,” ujar Ariana. Madeleine mengangkat alisnya tinggi.

“Kau penyihir, kan? Kau masih sebelas-duabelas dengan manusia. Kenapa tidak pernah kau cari di kantor kepolisian, atau menyewa seorang detektif?” tanya Madeleine. Ariana melongo.

“Apa itu kantor kepolisian? Dan apa itu detektif?” tanya Ariana polos. Madeleine membulatkan matanya.

“Kau…?”

“Aku tidak pernah di besarkan dalam dunia Munggle,” ujar Ariana pasrah. “Aku sama sekali tak mengenalnya,” ungkap Ariana pelan, yang mau tak-mau membuat Madeleine mendesah.

“Bukankah di sekolahmu dipelajari Telaah Munggle?”

“Aku telah melupakan semuanya, kecuali beberapa materi bab terakhir aku bersekolah,”

“Baiklah, baiklah. Sepertinya pertolongan pertamamu adalah menyelidiki sensus penduduk. Aku bisa menemanimu. Kau benar-benar… wanita bodoh,” gumam Madeleine tak habis pikir. Ariana hanya menatapnya datar, jelas tidak suka dengan pernyataan Madeleine.

Flashback off

__

Book store, Seoul

07.00 p.m

“Yoogeun-ssi, kau yang membawaku ke sini, dan sedari tadi malah aku yang sibuk berbelanja memilih barangmu?” desis Chan Gi tajam menatap pria di hadapannya yang masih asik berkutat dengan ponselnya. “Kau berencana mendekatiku, atau memperbudakku, huh?!”

“Eoh?” tanya Yoogeun setelah ia berhasil melepas pelototan matanya dari ponselnya. “Mian,”

“Hassh, tahu begini lebih baik aku hang out bersama Hwaeji tadi,” Chan Gi melengos dan membalikkan badannya, melangkah menjauh.

“Ya! Baek Chan Gi! Mau kemana kau?” Yoogeun menyusul langkah Chan Gi hingga mereka berada dalam posisi sejajar.

“Pulang! Aku seperti membawa anjing bulldog yang mengekoriku kemana-mana—ADAW!!” Chan Gi meringis kesakitan setelah Yoogeun berhasil menjitak kepalanya keras. “Ya! Kau ini siapa sih? Direktur yang amat sangat tidak sopan!”

“Ikut aku,” jawab Yoogeun dingin dengan ekspresi wajah kesal. Ia menyambar tangan Chan Gi dan menyeret gadis itu mengikutinya entah kemana.

“Kita mau kemana? Yak, cengkeraman tanganmu terlalu kuat! Jariku mati rasa! YAA JUNG YOOGEUN!” Chan Gi menaikkan nada suaranya hingga beberapa oktaf, membuat beberapa pengunjung toko buku yang ada di sebuah mall itu memperhatikan mereka dengan bingung. Yoogeun mendesis melirik ke sekelilingnya, tapi tetap menyeret yeoja itu hingga mereka berdua menaiki eskalator terdekat.

“Kau benar-benar memalukan. Kita terlihat seperti pasangan tolol,” gumam Yoogeun pelan namun masih bisa tertangkap indra pendengaran Chan Gi.

“Kau sendiri yang mulai,” Chan Gi menyahut dengan kerutan keningnya.

“Ck, kau kekanakan sekali,”

“Ya, dan kau tertalu kebapak-bapakan sekali. Sikapmu tidak menandakan bahwa usiamu masih 28 tahun, aku pikir kau sudah berumu 35 atau lebih,” cerocos Chan Gi yang membuat kedua bola mata Yoogeun berputar frustasi. Ya, pria itu benar-benar frustasi. Mendengar celotehan gadis di sampingnya ini seperti membuat otaknya hampir pecah.

“Diamlah, aku sedang bad mood, temani aku jalan-jalan,”

“Baiklah, aku akan menjadi herder-mu yang setia,” sahut Chan Gi rada sinis. Yoogeun membalasnya dengan tatapan yang tak kalah sinis, tapi Chan Gi malah memalingkan wajahnya ke arah lain. Astaga Tuhan, kenapa aku bertemu pria planet seperti ini sih? Kupikir ia menyenangkan, tapi ternyata dia benar-benar seperti batu. Batin Chan Gi yang sepertinya masih ingin berceloteh lagi.

Tap…

Tap…

Chan Gi terkesiap ketika mendengar langkah kaki di belakangnya, seperti ada seseorang yang barusan menaiki tangga eskalator. Keningnya berkerut ketika ia menyadari bahwa posisinya sudah berada di tengah perjalanan. Aura takut memang sangat mendominasi, reflek ia mendekatkan posisinya dengan Yoogeun,

“Kenapa kau?” tanya Yoogeun dingin sambil melirik Chan Gi. Chan Gi hanya diam, tiba-tiba tangannya mencengkeram erat jas yang sedang dikenakan Yoogeun. “Hey, kau kenapa?” tanya Yoogeun lagi saat mereka sudah sampai dan kembali melangkahkan kaki di lantai berikutnya.

“Diam dan jangan banyak tanya. Aku sedang takut,” balas Chan Gi datar. Yoogeun mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, jelas bingung dengan kelakuan gadis di sampingnya yang mendadak berubah drastis. Chan Gi melirik ke belakang dengan takut-takut, ia menggigit bibirnya ketika hanya melihat sesosok pria berjaket hitam melangkah santai sambil mengenakan headset. Chan Gi membalikkan wajahnya dan menghembuskan napas lega. Tak lupa ia juga melepas cengkeraman tangannya di jas Yoogeun yang pasti membuat pria itu risih.

“Kenapa?”

Ameutdo,” jawab Chan Gi cepat lalu menunduk.

Deg…

Pria berjaket hitam itu…?

Astaga, kenpa Chan Gi merasa bahwa ia sudah pernah bertemu dengannya?

__

Old castle, South Korea

06.00 p.m

“Elias, kau praktek sampai jam berapa sih?” tanya Gyuri langsung begitu Elias baru menjejakkan langkahnya di ruang tengah kastil.

“Eh? Jam 5. Kenapa Gyuri?” jawab Elias santai dan melempar tas kerjanya ke atas sofa. “Jessica sudah pulang?”

“Belum, katanya hari ini dia lembur,” Elias mengangguk mendengar jawaban Gyuri. “Tapi… mana Madeleine?”

“Eh?”

 Tanya Elias kaget. “Dia belum pulang?”

“Belum. Dia sudah pulang tadi jam 3 sore, lalu kembali berangkat pergi entah kemana. Apa menurutmu itu normal?”

“Setahuku, jam prakteknya memang sampai jam setengah 3…” balas Elias dengan gumaman. “Tapi dia pergi lagi?”

“Ya, dan itu terjadi dua hari terakhir ini. Apa menurutmu dia berubah liar?” tanya Gyuri was-was. “Kau ingat aku memang agak tidak setuju ketika menyadarkannya saat ia masih tergolong sangat muda,”

“Kurasa ini tidak ada hubungannya dengan itu, Gyuri,” jawab Minho datar. “Dia bukan tipe orang yang seperti itu,”

“Tapi ini aneh. Ia terlalu sering keluar. Bahkan ia tak pernah lagi mengecek box wiski gandum milik unicorn-unicorn kesayangannya itu—“

“Hey, apa aku terlalu terlambat pulang?” sebuah suara memotong kata-kata Gyuri. Elias menoleh, lalu tersenyum simpul melihat sosok wanita yang sedang dibincangannya muncul di ambang pintu.

“Kau kemana saja, hah?” sembur Gyuri sambil berkacak pinggang. Madaleine menerjap ke belakang. “Kulihat kau semakin liar tiap harinya. Bukankah kita harus berkumpul di sini tepat setelah selesai menyamar?”

“Wow, wow, wow, Gyuri, tenang sedikit. Tadi aku bertemu Joon dan ia memintaku untuk menemaninya sepanjang sore,” ujar Madeleine enteng, namun sebaris kalimat terakhir yang diucapkannya berdampak ada Elf pria yang sedang melonggarkan dasinya itu. Raut wajahnya berubah seketika.

“Joon? Dia ke sini?” tanya Elias agak dingin. Madeleine hanya mengangguk polos.

Tapi, tak ada yang menyadari bahwa itu hanya kebohongan kecil Madeleine yang pertama…

__

Mr. Baek’s house

An evening after the rain

Chan Gi sedang asyik-asyiknya mendengarkan musik dari speaker yang ia pasang di kamar tidurnya sambil membolak-balik halaman majalah game yang ada di hadapannya. Yah, main game setelah menguras otak lebih baikkan, sekalian refreshing. Apalagi kalau sudah mengingat Starcraft dan DotA, seorang Baek Chan Gi bisa menjadi seorang autis seketika. Tanpa disadarinya, sesuatu yang halus merayap masuk melewati celah jendela kamarnya.

Ssrrrrr….

Chan Gi terkesiap ketika seseorang mengusap leher sebelah kirinya lembut. Oh, tidak, ia tak bisa memikirkan apakah itu lembut atau tidak, tadi terasa dingin dan mengerikan.

Amat. Sangat. Mengerikan.

Meskipun itu hanya sebuah feeling dan ketajaman indra perasanya, entah kenapa terasa begitu… menuntut.

Srrrr…

Chan Gi kali ini hampir tersedak ketika sesuatu itu kembali menyentuhnya. Kali ini di lengan atasnya yang telanjang. Well, tidak salah kalau pakai tanktop di kamar sendiri, kan?

Matanya liar mencari ke sekeliling, ini sudah kedua kalinya. Please, sudah dua kali jadi ini tak mungkin hanya perasaannya saja. Kecuali ia gila dan pengaturan syaraf otaknya rusak parah.

Atau apa ia memang sudah gila?

Tuhan…

Sssrrrrr….

“KYAH!” pekik Chan Gi sekali lagi. Demi Neptunus, ada yang menyentuhnya, di lehernya lagi. Chan Gi tersentak ke depan, ia langsung berdiri menghadap ranjangnya.

“Bodoh…”

Ssshhhhht!

Chan Gi terpaku. Suara itu menghilang dengan cepat, membuat jendelanya yang terbuka tertutup rapat. Ia mematung di depan ranjangnya.

Oh ya. Ia rasa ia akan gila sekarang.

Tapi ia harus menyembunyikan ketidak-warasannya ini sampai lulus nanti. Setidaknya ia mendapat panggilan ‘doktor yang gila’. Mungkin.

__

Old castle

That night

“Bwahahahahaha….” Key tertawa terbahak-bahak saat ia berjalan anggun masuk ke ruang tengah kastil itu.

“Hey, Eve gila, tempatmu bukan di sini,” sindir Jessica lalu menutup buku sastra manusianya. Eve wanita itu menyelipkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga, lalu melempar buku itu dengan anggun ke atas meja.

“Biarkan saja, ia sedang bahagia karena mendapat mangsa yang bisa dipermainkan,” sahut Hero yang ternyata duduk di lantai, tepat di belakang sofa Jessica.

“Hey, tua bangka, untuk apa kau duduk seperti mahkluk tolol di situ?” cerocos Key sambil memiringkan kepalanya ke belakang bagian sofa yang diduduki Jessica.

“Well, aku sedang mencari inspirasi untuk menyutradarai film yang dihibahkan manusia sok bos itu padaku,” jawab Hero cuek. Key mengangkat bahunya dan mendudukkan dirinya di sisi jessica.

“Mana yang lain?”

“Gyuri sedang adu kekuatan dengan Taylor di belakang, sementara si couple Elfy lovey dovey itu sedang ngorok di kamar Madeleine,” sahut Hero lagi sambil mencopot kacamata tanpa bingkainya dan bangkit dari tempatnya bersemedi. Ia berbalik menatap Key dan Jessica bergantian, lalu tersenyum senang. “Dan sepertinya mencari beberapa mangsa malam ini cukup mengasyikkan,”

“Aku tidak bertanya padamu, tua bangka,” sembur Key datar. Hero terkekeh pelan.

“Hei bocah, sayangnya noona-mu ini juga tidak tahu. Apa kau mau bertanya pada rumput yang bergoyang?” balas Hero tak kalah datar. “Jadi, ada yang mau ikut denganku?”

“Aku ikut, Hero!” teriak Jessica senang. Ia langsung bangkit berdiri lalu merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. “Aku sudah lama tak memangsa, itu hampir membuatku mati kelaparan,”

“Berburu saja,” sahut Key. Jessica tersenyum tipis.

“Aku menguras tenagaku hanya untuk memburu seekor binatang? Oh, aku lebih senang mengincar manusia. Dan… Hero, kau juga ikut berburu, kan?”

“Oh ya, tentu saja,” jawab Hero seadanya tanpa memandang Jessica dan melangkah cepat masuk ke kamarnya. Jessica kembali menatap Key.

 “Tapi kalau aku punya teman berburu itu lain soal,”

“Ck, dasra manja,” cibir Key. “Berburu sendiri lebih puas, tahu,”

“Kau tidak tahu kasusku, ya? Aku hampir terkena oleh pengawas hutan karena pertengkaranku dengan seekor singa berlangsung kurang lebih sepuluh menit,” jawab Jessica tenang. “Untung saja aku berhasil mengalahkan singa itu dan mengelabui pengawas sialan itu,”

“Sudah siap?” tiba-tiba Hero sudah berada di ambang pintunya. Jessica mengangguk dan bergegas mengikuti Hero.

“Key, kau sudah berburu, kan?”

“Oh, aku sudah kenyang,” jawab Key sekenanya. “Dua hari lalu aku sudah mendapat dua jantung manusia,” ia nyengir lebar. Jessica mendengus.

__

Konkuk University, Seoul

Chan Gi masuk ke kelasnya yang ada di lantai lima sambil celingak-celinguk mencari sosok Hwaeji yang setengah hari ini tidak ditemuinya dimanapun. Ia memiringkan kepala sejenak ketika melihat gadis berkalung headphone besar itu sedang duduk sendirian di kelas dan—yang mencengangkan adalah—ia menanggalkan gadget wajibnya yang selalu menggantung di lehernya.

Chan Gi masuk ke kelas dengan berjingkat dan menyembunyikan senyum jailnya, mendekati Hwaeji dari belakang dan langsung duduk di smaping gadis itu.

“Sedang baca apa, Do Hwaeji?”

“ASTAGA!” Hwaeji langsung menoleh dan ketika ia menyadari siapa yang datang, ia memegang dadanya. “Kau membuatku kaget, Chan Gi-ah,”

“Salah sendiri semedi di dalam kelas sendirian. Bisa-bisa kau dikira penunggunya,” jawab Chan Gi lancar. “Baca apa sih?”

“Eoh? Ania. Hanya…” Hwaeji memiringkan kepalanya sedikit, lalu menatap Chan Gi. “Buku mitos,”

“Mitos?” kedua alis Chan Gi terangkat heran. “Sejak kapan kau suka melalap buku seperti itu?”

Hwaeji menoleh dan terdiam. Ia nampak berpikir sejenak, lalu menatap Chan Gi lagi. “Kau pernah mendengar cerita dari sunbaenim tahun terakhir?”

“Mwohae?” tanya Chan Gi sedikit penasaran. Hwaeji berdecak.

“Ck, cerita ini sangat populer. Kalau di buat novel pasti jadi best-seller,” gumam Hwaeji lagi. “Katanya, sepuluh tahun lalu, di universitas ini, ada pembunuhan yang tak terdeteksi,”

“Hm? Pembunuhan?” Chan Gi masih nampak belum tertarik dengan cerita Hwaeji. “Semacam cerita James Bond, begitu?”

“Ck, dengarkan aku dulu,” Hwaeji menjitak ringan kepala Hwaeji. “Masalahnya, pembunuhnya tidak di ketahui,”

“Jadi, kabur, begitu?”

“Yap, bersamaan dengan menghilangnya seorang pelajar. Namanya Kim Jaejoong,” lanjut Hwaeji sambil menumpukan jarinya di dagu. “Mayat Kibum tak di temukan, tiba-tiba di daftar kesiswaan statusnya sudah tiada. Hebat, bukan?”

“Cih, itu hanyalah bualan semata,” Chan Gi terdiam. “Nama korbannya Kibum?” tanyanya yang dibalas anggukan Hwaeji. “Aku tak percaya,”

“Ck, kau tidak percaya? Awalnya aku juga. Tapi setelah melihat sendiri daftar kesiswaan sepuluh tahun lalu, aku jadi percaya,” tukas Hwaeji pede. Chan Gi mengerutkan keningnya.

“Dasar aneh. Untuk apa kau mengecek data kesiswaan sepuluh tahun yang lalu? Kurang kerjaan,” cetus Chan Gi. Hwaeji memiringkan bibirnya sensi.

“Kau mau mendengar lagi tidak? Bisa jadi dongeng pengantar tidur nih,”

“Memang ceritanya belum selesai?” tanya Chan Gi polos. Hwaeji menggeleng.

“Aku bahkan belum masuk ke inti cerita,” Hwaeji membolak-balik bukunya sebentar, lalu kembali menoleh menatap Chan Gi. “Jadi, menurut desas-desus yang beredar, Kim Jaejoong itu bukan manusia. Dia itu Eve,”

Chan Gi hanya menyimak kata-kata Hwaeji tanpa komentar. “Nah, Eve itu makan jantung manusia. Biasanya mereka sudah menargetkan seseorang yang memang sudah ‘waktu’nya mati. Mahkluk ini bisa hidup selama ratusan tahun, dan dapat mempertahankan wujudnya yang seperti manusia umur 20-an. Kalau bulan purnama, sayap mereka akan selalu keluar,”

Well, itu seperti fiksi jenaka,” Chan Gi akhirnya bersuara. Hwaeji menjitak kepala Chan Gi lagi. “Eish, kau kenapa Hwaeji-ya? Serius sekali dengan masalah itu,”

“Aku sedang menyelidiki siapa mahasiswa di unversitas ini yang sebenarnya Eve. Aku bisa menghindar dan hidupku akan panjang umurnya,” pandangan Hwaeji menerawang. “Menurutmu siapa? Cho Kyuhyun sunbae? Dia kan setan. Atau Jung Yunho sonsaengnim? Dia kan guru killer,”

“Dan itu adalah pernyataan terkonyol yang pernah kuketahui,” balas Chan Gi malas. “Sudah selesai mendongeng-nya? Temani aku minum jus,”

Chan Gi menarik tangan Hwaeji paksa hingga ia berdiri, dan menyeret cewek itu keluar kelas. “Oke, oke, tenang Chan Gi-ya, aku akan menerima sebanyak apapun traktiran jusmu,” ia terkekeh pelan.

“Bagus. Karena aku akan menjejalkanmu dengan jus apel karena ku yakin tenggorokanmu pasti kering setelah membacakan dongeng untukku tadi,”

“YAH, Baek Chan Gi! Kenapa harus apel? Aku benci apel,”

__

A bus halte, Apgeujong street, Seoul

“Jess, kau melamun?” tanya Key saat ia mengiringi Eve wanita itu keluar dari bus. Jessica mengangkat wajahnya, dan menatap Key.

“Siapa nama mangsamu?” tanya Jessica sambil berusaha meredam deram langkahnya. Ia masih berpakaian kantor, dan Key masih menggunakan seragam sanggar fotonya. Setidaknya mereka harus kelihatan ‘normal’, kan?

“Eoh? Kenapa kau ingin tahu?”

“Tidak. Hanya ingin tahu saja,” Jessica mengangkat kedua bahunya. “Siapa namanya?”

“Aku belum yakin. Bae… Chun Ji? Bae… Baek Chan Gi, sepertinya,”

“Ish, ingatanmu buruk sekali,” balas Jessica masih tetap melangkah. “Apa?! Baek Chan Gi? Kau sudah bertemu dengannya?”

“Tentu saja belum. Aku masih mencari waktu untuk menunjukkan keberadaanku di sekitarnya. Memangnya kenapa sih, kenapa kau menanyakan hal itu terus?” tanya Key bingung.

“Tidak, tidak ada apa-apa,” Jessica menggeleng cepat ketika mereka berdua membelokkan langkah ke sebuah gang sempit di samping sebuah rumah sederhana. Dan keduanya terdiam.

“Eh, Jess, kau mau bercerita… tentang mangsa pertamamu?” tanya Key hati-hati. Mendengarnya hati Jessica langsung mencelos.

“Eung? Apa? Mangsa pertamaku?” tanya Jessica berusaha bersikap biasa. Tapi Key tetap memasang wajah serius.

“Tentu. Kata Madeleine dia sangat mirip denganku, ya. Seperti kembar identik, katanya,” sambung Key lagi. “Aku jadi ingin tahu seperti apa ruapanya,”

“Kau mau tahu? Sekarang ambil cermin dan berkacalah! Itulah tampangnya,”

“Dan.. dia manusia?”

“Tentu saja, kalau tidak mana mungkin ia bisa dimakan Hero,” Jessica berpikir sejenak,”Oh ya, tadi kau menyebut Baek Chan Gi?” tanya Jessica. Key hanya mengangguk memastikan.

“Ya, kenapa?”

“Dia akan bertunangan. Dengan pria yang bernama Jung Yoogeun. Apakah baik mengambil nyawanya setelah beberapa menit baru menjabat sebagai tunangan?”

“Eve tidak mengenal toleransi seperti itu,” sahut key. Jessica mendengus.

“Ya, ya. Aku tidak melarangmu memangsanya, kan?” Key menoleh lalu memandang langit. Ia hanya diam.

“Rasanya membingungkan, Jess,” desahnya sambil menyarungkan kedua tangannya di saku. “Aku beberapa kali memimpikan Ariana,”

“Mimpi hanya bunga tidur, Key. Tapi bagaimana bisa? Kau bukan manusia,”

“Entahlah. Mungkin ada sesuatu yang menandakan kalau aku sedang salah langkah,” gumam Key merenung. Tiba-tiba ia mengambil tangan Jessica dan menggenggamnya.

“Key?” tanya Jessica bingung. Key masih tidak menatap Eve wanita itu.

“Biarkan seperti ini. Sebentar saja. Hanya seperti ini,” pinta Key tanpa melepaskan tangan Jessica dari genggamannya. Jessica hanya terus berjalan, sesekali melirik Key.

Mau tahu apa? Well, ini pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir Jessica merasakan kehangatan tangan seseorang. Mau tidak mau bibirnya melengkungkan sebuah senyuman, dan balas menggenggam tangan Key.

__

A cafe, around Konkuk University,

Seoul

“Aku tidak suka apel,” ulang Hwaeji. Chan Gi mengangguk lalu mengeluarkan ponselnya.

“Baiklah, terserah kau. Pesanlah apa yang kau mau,” jawab Chan Gi. Hwaeji tersenyum senang lalu mengatakan beberapa kata pada waitress yang menunggu mereka di samping meja.

“Oh ya, Chan Gi-ya, ini wujud Kibum. Nama lengkapnya Kim Kibum,” ujar Hwaeji sambil menyerahkan ponsel miliknya ke hadapan Chan Gi.

“Hm? Ini?” Chan Gi memiringkan kepalanya dan tak sempat melihat anggukan Hwaeji. “Kenapa sepertinya aku pernah melihat orang ini ya… tapi entah dimana…” gumamnya pelan namun masih bisa terdengar oleh Hwaeji.

NDE?! Kim Kibum?! Kau pernah bertemu dengannya?!”

To Be Continued

Annyeong, aku kembali huakakak #plakh Maaf ya lama, aku lagi mau konsen sama ujian soalnya u,u Eotte? Ada KeySica momonet tuhhh di ending huakakk #dijitak Thank you for reading, Komennya yah.😄

©2011 SF3SI, reenepott

signaturesf3siOfficially written by reenepott, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

19 thoughts on “Who I Am? I Am an Eve – SPY 9

  1. aq hrs ngubrak-abrik chap sblmnya biar ingat siapa itu chan gi. kekeke ingatanku sngt lemah

    ye ye~~ ada keysica moment.. key takut ya ama ariana. cewek serem~ -.-”
    trus itu ariana punya rencana apa? kyknya serius sampe bawa2 madeleine.
    oh ya kl typo td aku nemu kata ‘minho’ seharusnya eliaskan? tp gk papa yg lainnya ok kok ^^
    lanjut!

    1. Hehehe.. castnya nongol terus yak? u,u
      Emang. Ariana tuh cewek serem yang dibutakan cinta #halah #PLAKH!
      Sebenernya dia gatau, cuma kebetulan kan dia ketemu sama Madeline? Ya… pokoknya tujuan utamanya Key. Nah, dia kan lagi nyelidikin gimana kondisinya Key, kalo misalkan berkoloni (?) yaaa dia juga harus punya koloni dong #ups😄
      Eung… Minho sama Elias disini kan aku samakan. Kalo misalkan dipanggil “MInho” berarti yaa.. kayak di sindir gitu haha XDD Gomawo yaaa😄

  2. makin makin nih cerita😀 sama dengan komen diatasku, suka buanget keysica’s part haha banyakin lagi ya author yg baik hehe nice nice nice…
    ditunggu part selanjutnyaaa ^o^~

  3. Ga pernah bisa baca akhir kisah ini kaya apa,banyak bgt cast nya n semua punya problemnya sndr2,apa kah saling sambung menyambung akhirnya?
    Bener2,,,ga keraba.

  4. Couple Elfy lovey dovey?nugu?Elias+Madelaine?
    Knp tidur di kamar yg sama?
    Kyknya aku lupa part sblmnya nih,.hehe, mianhe*bow

    aku suka bagian Jaejoong yg dipanggil Tua Bangka sm Key!

    KeySica momentnya juga suka. Tp knp si Key mimpiin Ariana?salah langkah?
    Emm, mudah2an next part terjawab!

    Met ujian ya Reene!

    1. Iya, huakakak. EUng.. itu sebenernya… Madeleine nya lagi keluar, nah Eliasnya numpang doang (maksudloo?) Hehe XDD
      Key kan emang bamong (dsambel sama Key) Ya…. menurut Key apakah dia salah langkah dengan menolak Ariana secara ‘kasar’, yang dia takutkan Ariana makin ganas nantinya. Gitu😄 karena kepikiran terus, kbawa mimpi dah. aku sebenernya juga bingung dengan definisi Eve yang bisa tidur #DUAGH Kalo hal itu kayaknya gak kujelasin secara tersurat di cerita ini, tapi liat nanti aja deh😄
      Ne… gomawoooooo *HUG*

  5. reeen,ini asli bikin aku akan stay tune teruuus. aku penasaraan. harusnya kamu bikin lebih panjang lagi *tabok banyak maunya

    aku seneng liat keysica. haah, miris banget yaa nasibnya chan gi. kalau jadi mangsanya eve fix banget bakal dead ya? ga mungkin jadi eve juga kaan?

    daan aku baru nyadar kamu ngefans sam orlando bloom, that’s why you put Minho as elias or elf yaa? haha.
    ditunggu kelanjutannya. maaf kalau komen cm di part ini. Maklum rapel😛

    1. Iyaaaaakhhh ini FF yang sangat berrat menurutku u,u kenapa? Karena sangat sulit memikirkan konfliknya #DUAGH Maaf yaaaa, tapi akan kupikirkan untuk menambah panjangnya, biar cepet kelar #DUGH
      Huaka… coba aja kalo ga disadarin sama salah stau reader, kubuat crime terus sampe habis #ditampar XDD Yeap. Chan Gi bakal isdet cepat atau lambat, tapi yang bahaya dari itu adalah reaksi sesudah kematiannya. huakakaaaa #ups
      Iyaaa huaka. Tau darimana? o.o
      Neee… gomawo juga yaaa udah komen🙂

  6. gilaaa…. ceritanya kayak bayangin mbaca komik jepang, tapi pelakunya korean face, hehe….
    sebenarnya aku baru mbaca dari part 8, waktu mbaca part 9-nya.. agak bingung juga.. jadi ku putuskan wat mbaca dari awal..
    aku seneng banget waktu mbaca Key masuk Hogwarts, g bisa bayangin 2 tokoh idolaku masuk sekolah yang sama, satu angkatan lagi, hehe…
    yang wat penasaran tuh napa ariana pke ngikutin key segala?? dia kayak jadi stalker deh,
    trus gimana nig nasib buruan Key ma jessica?? kayaknya da manusia yg mulai curiga nih akan keberadaan eve, wah… bener2 bikin penasaran..!!!

    Reenn… ditunggu next part-nya…
    keep writing!!!

    1. Iyakah? dari sudut mananya yang mirip komik jepang?? o.o
      Haha, sebenernya sih Hogwarts cuma selingan, hhe🙂
      Eung… masalahnya kalau dia keturunan full manusia sih bakalan mikir ya, tapi dia kan bukan manusia, dia setengah Veela.Kalo di HarrPott, Veela itu berbahaya. huakakaaaa XDD
      Neeeeeehh gomawo yaaaaa XDD

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s