Hello Ghost! [1.2]

Hello Ghost!

Author : nadiataemin18

Main Cast :

Shin Sung Ni [as you]

Lee Taemin

Choi Minho

Support Cast : SHINee

Han Hyeri [your friend]

Length : Two shots

Genre : Drama/Romance/Angst

Rating : Genre

Summary :

Cinta memang bisa datang kapan saja, kepada siapa saja, dan dimana saja. Saat kau perasaan cinta, jangan ragu untuk mengungkapkan, atau penyesalan yang akan kau dapatkan.

A.N :

Sebelumnya mau perkenalan dulu *mehehe* Nadia imnida, line96, saya ngebiasin Taemin. Sebenernya masih Shawol pemula, soalnya baru suka SHINee sejak awal 2012 *mehehe*. Ini bukan FF pertama, tapi FF pertama yang di posting. Mian kalo ceritanya ngawur atau semacamnya, atau typo dan sebagainya, namanya juga pemula J Selamat membaca J

Sungni POV

Merdu sekali suaranya, dentingan instrumental piano itu memang benar-benar telah membuat bulu kudukku merinding. Benar-benar membuat hatiku tenang dan menghilangkan stressku.

Entah siapa orang yang memainkan piano setiap hari saat istirahat ke-2 sejak minggu lalu.

Suaranya selalu terdengar dari ruang musik sekolah, tapi setiap aku masuk kesana, tidak ada siapapun disana. Memang sedikit menakutkan, meski begitu aku tak bosan untuk mendengar lagu yang dimainkan piano tersebut.

“Sungni-ah! kau belajar didepan ruangan musik lagi?” tanya Hyeri-eonni mengagetkanku.

“N..ne, eonni, ada apa kemari?” tanyaku dengan terbata-bata.

“Aniyo, aku hanya ingin meminjam netbookmu, aku ingin minta film-film terbaru. Aku sedang stress akhir-akhir ini.” Jawab Hyeri-eonni.

“Oh, ambil saja didalam tasku eonni.” Ujarku memberi tahu.

“Ne, gomawo saeng.” Jawabnya, Kemudian otakku berpikir, suara piano seindah ini masa tak membuat Hyeri-eonni tersentuh hatinya.

“Ne, eonni, apa kau tidak tersentuh dengan suara-suara disini?” tanyaku.

“Eh? Aniyo, biasa saja.” Jawabnya sambil berjalan meninggalkanku.

Wae? Suara indah seperti dianggapnya biasa saja? Apa telinganya masih normal atau butuh kuantar eonni ku itu menuju dokter THT terdekat? Entahlah, hanya Tuhan dan dia yang tau keadaan telinganya saat ini.

“Sepertinya aku harus kembali ke kelas.” Batinku.

Tiba-tiba desiran angin membelai pelan wajahku dengan cepat. Aku segera memegang pipiku sendiri karena dingin yang aku rasakan. Aneh sekali, padahal jendela lorong tertutup semua, kenapa ada angin.

Aku membereskan buku-buku fisika ku dengan cepat lalu sesegera mungkin berdiri karena perasaanku sudah tidak enak. Setelah itu aku melangkahkan kakiku untuk pergi dari depan ruang musik. Tapi, baru saja berjalan beberapa langkah, aku mendengar suara seseorang memanggil namaku.

“Kajiman, Sungni-ah..”

“Gya!!!! Hantu!” teriakku dengan kencang saat mendengar suara yang memanggilku tanpa melihat kearah suara terlebih dahulu. Secara refleks aku menutup kedua mataku, menutup kedua telingaku dengan kedua tanganku dan melipatkan lututku sehingga aku berada pada posisi jongkok.

“Jangan makan aku, badanku kurang banyak dagingnya.” Bisikku sambil terus merapatkan kedua mataku.

“Sungni-ah jangan takut.” Ujar seseorang yang aku perkirakan seorang namja sambil memegang kedua tanganku.

Aku mencoba membuka mataku, tampak seorang namja cantik dihadapanku. Matanya menatap lurus ke mataku, membuatku ingin terus melihatnya. Ya! Apa yang aku pikirkan, yeoja dan namja kan tak boleh kontak mata secara langsung.

“Kau siapa?” tanyaku sambil mengalihkan pandanganku dan perlahan menurunkan tanganku.

“Taemin imnida.” Jawabnya singkat setelah diam beberapa saat, sepertinya dia anak yang baik.

“Ah! kenapa? kau kelas berapa Taemin-ssi? Kenapa kau tau namaku?” tanyaku sambil melihat kearah wajahnya yang nampak pucat.

“A…aku kelas 3. Aku tau dari..dari..dari nama di baju seragammu.” Jawabnya setelah menurunkan pegangannya dari tanganku.

“Ng..Taemin-ssi, kau baik-baik saja? Sepertinya kau sakit.” Ujarku saat melihat bibirnya juga pucat pasi.

“Aniyo, gwaenchana.” Jawabnya.

Aku hanya melihat kearahnya, tepatnya kearah bibirnya, pucat sekali. Eh? Apa yang aku pikirkan! Harusnya aku pergi ke kelas sekarang bukannya mengurusi orang asing seperti Taemin-ah.

“Ne Taemin-ah, aku pergi ke kelas dulu. Annyeong.” Ujarku, melambaikan tangan kepada namja cantik itu. aku harap kami bertemu lagi nanti sepulang sekolah.

©

Taemin POV

“Ne, kesini hyung!” teriak seorang namja yang sedang bermain bola di lapangan, aku kenal dia, dia hyung ku Minho.

Aku tersenyum melihat kakakku yang terlihat sangat bersemangat bermain bola. Kemudian dia melihat kearahku beberapa saat kemudian melempar pandangannya dengan tatapan sedih.

Aku rasa aku tak merasa heran saat melihat hyung-ku itu seperti kehilangan semangat untuk beberapa saat. Ya, sepertinya dia merindukanku, aku yang selalu duduk dipinggir lapangan dan menyemangatinya saat bermain bola bersama teamnya. Tapi sayang, sepertinya dia sudah tak bisa melihatku lagi.

8 hari yang lalu, aku meninggal dunia karena kecelakaan. Saat itu aku sedang menyebrang jalan didepan daerah pertokoan setelah membeli kado ulang tahun untuk hyung-ku, Onew.

Tapi ternyata aku tak dapat memberikan kado itu untuk hyung tertuaku itu karena takdir berkata lain. Tapi entah mengapa, meski aku sudah mati cukup lama tapi arwahku masih gentayangan dan tak bisa pergi ke akhirat.

Aku berjalan meninggalkan lapangan menuju ke ruang musik, tempat favoritku di sekolah.

Aku menyusuri lorong sambil loncat-loncat. Menurutku inilah sisi baiknya kau menjadi arwah, kau dapat melakukan apa yang tak bisa kau lakukan saat hidup. Saat posisiku sudah dekat dengan ruang musik, aku lihat sorang yeoja duduk didekat pintu ruang musik sambil membawa buku-buku fisika yang sangat tebal. Ah, dia yeoja pendengar setiaku, senangnya bertemu dia lagi. Dialah satu-satunya orang yang aku rasa dapat mengerti aku setelah mati, meskipun dia tak bisa melihatku.

“Tuhan, semoga aku dapat bertemu orang yang memainkan dentingan piano itu hari ini, amin.” Ujarnya yang kemudian tersenyum dengan manis setelah menyelesaikan doanya.

Aku langsung berlari kedalam ruang musik setelah mendengar doanya. duduk diatas kursi piano lalu bersiap memainkan piano tua yang sangat berdebu. Kumainkan lagu yang sepertinya sangat disukai yeoja itu, lagu River Flows In You.

Meski dentingan lagu ini mengingatkanku akan kenangan burukku saat aku masih hidup, tapi entah mengapa aku rela memainkan lagu ini untuk yeoja itu. Aku rasa dia sudah menarik perhatianku sejak pertama kami bertemu. Tepatnya saat hari pertama aku mati.

Setelah beberapa menit, akhirnya aku menyelesaikan lagu karya yiruma itu. Setelah itu aku langsung berlari keluar ruang musik, aku ingin melihat ekspresi yeoja itu setelah mendengarkan lagu itu. Aku suka melihat ekspresinya, dan sepertinya ini sudah menjadi hobi baruku setelah mati.

Sial, aku tak melihat ekspresinya untuk hari ini. Temannya memanggilnya sesaat setelah aku menyelesaikan lagu. Tapi beruntungnya, aku tau nama yeoja itu sekarang, Sungni, tapi aku tak tau marganya.

Kemudian aku duduk disampingnya, memperhatikan wajahnya dengan seksama. Aku rasa, dia tak terlalu cantik, badannya pun tidak bagus. Aku jadi ingat Jonghyun-hyung pernah bilang kalau aku mencari yeoja chingu, hal pertama yang harus aku lihat adalah matanya, kemudian badannya apakah bagus atau tidak. Tapi rasanya, saran dari Jong-hyung itu sedikit mengarah ke arah yadong.

Ah! pipinya kenapa? kenapa ada bekas luka di pipinya?

Ku pegang pipinya dengan pelan, mencoba untuk merasakan lukanya. Tapi, aku kaget karena dia memegang pipinya secara mendadak sekaligus memegang tanganku yang masih berada di pipinya.

“Aku harus segera kembali ke kelas.” Dengan segera dia mengepak buku-buku tebalnya lalu bersiap untuk pergi. Apakah dia ketakutan?

“Kajiman! Sungni-ah..!” teriakku dengan refleks.

Dia berteriak dengan histeris sambil berkata hantu secara terus-menerus. Tubuhnya sekarang dalam posisi jongkok dengan kedua tangan yang menutupi telinganya. Lucu sekali dia dalam posisi itu, sepertinya aku ingin menjahilinya lagi.

Aku mendekat kearahnya, berhadapan dengannya lalu memegang kedua tangannya dan kutarik dengan pelan.

“Sungni-ah, jangan takut.” Ujarku bermaksud mengerjainya, dia kan tak bisa melihatku.

“Kau siapa?” tanya nya, membuatku kaget. Dia bisa melihatku? Sejak kapan?

©

Author POV

Suara bel pulang berbunyi, itu tandanya Sungni akan kembali ke neraka dunianya. Baru saja guru pergi dari ruang kelasnya, Sungni sudah dikelilingi oleh orang-orang yang satu kelas dengannya.

“Sungni-ah, bisakah kau mengerjakan tugas kelompok kita? Sepertinya yang lainnya sedang banyak urusan jadi tak bisa ikut mengerjakan tugas bersama. Bisa?” tanya seorang yeoja kepada Sungni.

“Ne, arasseo, aku akan mengerjakannya.” Jawab Sungni mencoba tersenyum kearah temannya.

“Gomawo Sungni-ah.” jawab yeoja itu kegirangan.

Tak lama muncul 3 orang lainnya menemui Sungni yang mempunyai maksud sama seperti yeoja tadi. Dan Sungni menerima amanat dari teman-temannya itu dengan pasrah meski tugas individu dan tugas organisasinya pun belum di kerjakannya.

“Sepertinya aku tidak tidur malam ini.” Keluh Sungni setelah menggendong tasnya.

Sungni berjalan keluar kelasnya dengan lemah sampai dia bertemu dengan namja yang tadi dia lihat di depan ruang musik sedang berdiri di depan pintu kelasnya.

“Taemin-ssi?” ujarnya pelan sambil memasang wajah bingung.

“Sungni-ah, akhirnya aku bertemu denganmu lagi.” Ujar Taemin dengan girang.

Beberapa menit kemudian Sungni dan Taemin sudah berada dipinggir lapang sekolah atas permintaan dari Taemin. Taemin menceritakan apa yang terjadi padanya dan siapa dia sebenarnya, hal ini sukses membuat Sungni mulai menganggap Taemin itu gila.

“Kalau kau tak percaya, panggillah seseorang lalu pastikan kau sendirian sekarang.” Ujar Taemin dengan tatapan tajam kearah Sungni yang membuat bulu kuduk Sungni merinding. Dan benar saja, saat Sungni memanggil temannya, temannya tidak bertanya mengenai Taemin. Sungni kemudian berbalik menatap Taemin dengan tajam, membuat Taemin menundukkan wajahnya.

“Jadi, kau ini…”

“Ne, bisa dibilang aku itu arwah gentayangan.” Ujar Taemin, merasakan mulutnya bergerak-gerak ingin tertawa saat mengucapkan keadaannya saat ini.

“Lalu, kenapa aku bisa melihatmu?” tanya Sungni kemudian setelah melepaskan pandangannya kearah Taemin.

“Entahlah, aku pun tak mengerti.” Jawab Taemin sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

“Hei kau yeoja yang disana! Lemparkan bolanya!” teriak orang yang sudah tak asing bagi Taemin, Minho.

“Ne.” Teriak Sungni yang kemudian melempar bola kearah Minho.

“Gomawo..” teriak Minho yang kemudian membalikkan badannya “Eh, eng..namamu siapa?” tanya Minho.

“Shin Sung Ni imnida.” Jawab Sungni dengan suara yang cukup keras.

“Minho imnida, gomawo Sungni-ah.” Teriak Minho yang kemudian melambaikan tangan ke arah Sungni lalu kembali bermain.

“Hyung….apakah dia sadar ada aku disini..”ujar Taemin didalam benaknya, dengan harapan Minho dapat merasakan kehadirannya.

“Ne Sungni-ah, aku punya permintaan untukmu..”

©

“Ini rumahku Taemin-ssi, maaf kalau rumahku jelek.” Ujar Sungni sambil membuka sepatunya.

“Gwaenchana, yang penting kan masih bisa ditinggali.” Ujar Taemin dengan polos. Sungni melangkahkan kakinya ke arah ruang makan diikuti oleh Taemin dari belakang. Kepala Taemin tidak bisa berhenti menengok kiri-kanan, dia terus memperhatikan keadaan rumah Sungni dan foto-foto yang tertempel di dinding tembok.

‘Sungni-ah waktu kecil, aegyo, meski tak termasuk cantik, tapi dia tetap menarik bagiku.’ Benak Taemin ‘Eh? Aku ini kenapa, lupakan..’ sambung benaknya.

“Taemin-ssi, apakah kau juga butuh makan?” tanya Sungni sambil menimang-nimang kertas di tangannya yang baru saja Ia ambil dari atas meja makan.

“Aniyo, aku tak butuh makan.” Jawab Taemin sambil mengangkat jempol kanannya.

“Syukurlah, tak ada makanan dirumahku. Omma dan Appa ku baru pulang nanti malam, untuk sekarang aku antar kau ke kamarku dulu.” Ujar Sungni, berjalan menuju kamarnya setelah berbicara.

“Eh kamar? Tunggu Sungni-ah, mau apa kau mengajakku ke kamarmu?” tanya Taemin menghentikan langkah Sungni.

“Untuk apa lagi selain menyimpan tas beratku ini dan beristirahat, atau jangan-jangan hantu gak butuh istirahat ya?” jawab Sungni setelah menengokkan kepalanya ke arah Taemin.

“O..oh…aku kira…” Taemin menggaruk kepalanya. “Tapi, jangan panggil aku hantu Sungni-ah, aku kan arwah bukan hantu.” Ujar Taemin yang kemudian merangkul pundak Sungni.

Sungni kaget dengan perlakuan Taemin, meski begitu dia tak menolak saat Taemin merangkul pundaknya. Tapi kemudian Sungni merasa keanehan pada Taemin.

“Tunggu, kau ini kan arwah, kenapa kau bisa memegangku?” tanya Sungni yang langkahnya terhenti didepan pintu kamarnya.

“Eh? Be..benar juga ya, kenapa bisa begitu.” Jawab Taemin setelah melepaskan rangkulannya di pundak Sungni.

“Lalu, kau ini arwah tapi kenapa kau tak bisa menembus tembok seperti di film-film?” tanya Sungni menyambung pertanyaan sebelumnya.

“Molla, alsuga eobso.” Jawab Taemin dengan sedikit dinyanyikan.

Sungni kemudian memutar daun pintu kamarnya untuk membuka pintu, melupakan pertanyaan bodoh yang baru saja ditanyakannya pada Taemin. Meskipun pertanyaan itu memang sama sekali tak berbobot, tapi sebenarnya pertanyaan itulah yang menjadi kunci utama pikir Sungni.

“Ini kamarku Taemin-ssi.” Ujar Sungni begitu membuka kamarnya yang seperti kapal pecah, bukunya berserakan dibawah lantai, kertas hasil ulangan ada dimana-mana, dan komik yang berantakan diatas meja belajarnya.

“Sungni-ah, kau ini perempuan atau laki-laki?” ujar Taemin begitu melihat kekacauan di kamar Sungni.

“Perempuan, mau bukti?” tanya Sungni dengan polosnya.

Taemin hanya melihat ke arah Sungni dengan tatapan heran. Kemudian dia melihat kamar Sungni dengan pandangan jijik, karena biasanya di rumahnya begitu bersih karena dia dan hyung-nya Key sering membersihkan rumah. Tapi tempat yang akan menjadi kamar tidurnya sehancur ini, untuk sesaat Taemin berpikir untuk tidur di ruang keluarga.

“Sungni-ah, besok adalah hari bersih-bersih bagi kau dan aku. Arasseo?” tanya Taemin.

“Ne arasseo Taemin-ssi.” Jawab Sungni.

“Sungni-ah, panggil aku oppa.” Ujar Taemin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Baik oppa.” Jawab Sungni.

‘Baguslah, anak ini penurut ternyata’ benak Taemin sambil cengengesan.

©

Taemin POV

Tak ada siapapun dirumah Sungni, sepi sekali dirumahnya dan sepertinya aku mulai bosan. Sejak Sungni pergi ke sekolah, aku hanya bisa tiduran diatas tempat tidurnya yang digunakan untuk tempat tidur buku-bukunya juga. Yeoja ini benar-benar rajin tapi jorok.

‘Eng?” sesuatu mengganjal di bawah punggungku.

“Buku apa ini?” bisikku setelah mengambil benda yang mengganjal punggungku dan mengganggu acara malas-malasanku.

Aku buka bukunya lembar demi lembar, dan buku itu ternyata buku ungkapan dari Sungni, bisa dibilang diary. Aku membacanya dengan seksama, aku mulai paham bagaimana perasaan Sungni juga karakternya. Aku merasakan betapa sulitnya dia mendapat teman dengan kenyataan yang dia miliki. Ternyata ada orang yang bernasib sama sepertiku, tapi sepertinya Sungni lebih kuat dariku meski dia seorang yeoja. Hal yang paling membuatku menarik adalah catatannya sejak bulan Juni sampai sekarang.

Tuhan, kenapa aku baru bertemu dengannya sekarang saat aku sudah mati? Semakin banyak halaman yang aku baca, semakin miris rasanya hatiku. Salah satu hal dari catatannya yang membuat hatiku miris adalah pada tanggal 28 Juni.

28 Juni 20XX

Saengi chukkae hamnida..saengi chukkae hamnida..saengi chukkae Shin Sungni, saengi chukkae hamnida. Untuk ke sekian kalinya tak ada seorang pun yang ingat pada ulang tahunku, tapi..gwaenchana, mungkin mereka sedang sibuk. Ya, berpikirlah positif hey Sungni!

Saengil Chukkae Sungni J

“Ya! Kenapa kau buka buku milikku!” teriak Sungni yang tiba-tiba datang seperti hantu membuatku kaget setengah mati dan melakukan reflek jatuh kebelakang.

“Mi..mianhe Sungni-ah, aku tak bermaksud..” ucapanku terputus saat kulihat wajah Sungni pucat sekali, “Hei, wae Sungni-ah? kau terlihat kurang sehat.” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan, berharap dia lupa tentang buku yang baru saja kubaca.

“Ah, gwaenchana..” jawabnya, memalingkan wajahnya dariku saat menyadari aku memperhatikan wajahnya.

Aku merasa tak bisa diam saja melihat Sungni dengan tampang pucat seperti itu. Aku dekati dia kemudian mengangkat tubuhnya yang ringan itu. Dia memberontak? Tentu saja, dan tak kusangka dibalik badannya yang kecil itu tenaganya sangat kuat.

“Apa-apaan kau hei!” teriaknya sambil terus memukul-mukulkan kepalan tangannya ke dadaku.

“Kau ini sedang sakit, diam saja aku akan merawatmu. Meski aku hanya arwah tapi aku masih ingat bagaimana cara merawat orang sakit, Key-hyung mengajariku tentang ini.” Ujarku setelah menurunkannya keatas tempat tidur.

Dia hanya diam, kemudian memalingkan wajahnya dariku. Aku rasa dia malu, tapi siapa peduli. Yang penting dia harus mendapat perawatan dari dokter Taemin. 8)

“Dimana kotak P3K nya?” tanyaku setelah menurunkan badanku dipinggir tempat tidur untuk mengsejajarkan wajahku dengan wajahnya.

“Di..di dekat tangga.” Jawabnya dengan gagu, aku jadi punya ide untuk mengerjainya.

©

Sungni POV

Ya Tuhan, aku menyukai kakaknya, Minho, tapi hari ini pikiranku berubah. Dia tampan sekali dengan jarak dekat, membuatku lupa tentang perasaanku kepada Minho-ssi yang kupendam selama 6 bulan ini. Matanya itu terus melihat kearahku, tapi aku tak bisa membalas tatapannya, guruku bilang itu dosa.

“Hei Sungni-ah..” panggilnya setelah aku menjawab pertanyaannya.

Aku lihat wajahnya, sudah dekat sekali dengan wajahku. Omoo, apa dia akan menciumku?! Apa yang harus kulakukan, aku tak tau harus berbuat apa. Aku tak mau melihatnya..!!

“Bwahahahahahaah, dasar otak mesum!” teriak Taemin-ah setelah aku merasakan sentilannya di dahiku.

Aku membuka mataku, rupanya dia mengerjaiku. Dia keluar dari kamarku sambil tertawa dengan sadisnya. Lee Taemin SHINee yang terlihat pendiam dan lucu di televisi memang seperti ini, atau ini merupakan efek dari kematian dia? Argh! Ini lebih sulit dari 100 soal fisika!

©

Author POV

“Kau sudah bangun Sungni-ah?” tanya Taemin sambil memegangi vacuum cleaner dengan ikat kepala di kepalanya dan sarung tangan.

“Ne, kau sedang apa oppa?” tanya Sungni yang mengubah posisinya menjadi duduk, membuat kompresannya jatuh dari keningnya.

“Ah, kenapa kau duduk? Kompresanmu jadi jatuh kan.” ujar Taemin dengan sigap membantu Sungni kembali ke posisi tidurnya dan mengompres Sungni lagi.

“Oppa, darimana kau tau tempat menyimpan vacuum cleaner?” tanya Sungni.

“Sebenarnya….” Taemin mulai menceritakan bagaimana caranya mengambil vacuum cleaner.

“Omoo? Kau merasukiku saat aku tidur?” teriak Sungni secara refleks.

“Sayang, kau sedang bicara dengan siapa? Jangan berisik, Omma kan sedang sakit gigi!” Teriak Omma ku dari lantai bawah. Sungni menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dia baru ingat kalau barusan Taemin bilang Omma nya pulang gara-gara sakit gigi. Kemudian Sungni melanjutkan pertanyaannya dengan suara sepelan mungkin.

“Oppa, bagaimana caramu bertanya pada Eommaku?” tanya Sungni.

“Itu hal mudah, aku menunjukkan aegyo ku padanya.” Jawab Taemin singkat.

“Bagaimana komentar Eommaku?” tanya Sungni dengan wajah yang ingin membunuh namja didepannya itu.

“Dia Cuma bilang, kau memang harus Eomma bawa ke dokter.” Jawab Taemin sambil mempraktekkan bagaimana Eommanya Sungni berbicara padanya. Sungni sontak kaget, tentu saja Eommanya merasa aneh kalau Taemin memintanya seperti itu, dia yang tak pernah bersikap aegyo kepada Eommanya mendadak seperti itu. Mungkin Eommanya menganggap Sungni sudah terbentur benda tumpul.

“Oppa..” ujar Sungni dengan lemas sambil menepuk jidatnya. Taemin hanya tersenyum kecil sambil terus menggunakan vacuum cleaner. Tak terjadi percakapan diantara mereka setelah itu, Sungni tidur lagi dengan lelap sedangkan Taemin fokus terhadap vacuum cleanernya sambil sesekali melihat kearah Sungni, tersenyum kecil, lalu kembali ke vacuum cleaner.

Setelah 30 menit berlalu, kamar Sungni sudah sangat bersih tak seperti biasanya. Arwah namja main dancer itu kini sedang duduk diatas kursi meja belajar Sungni, melanjutkan membaca buku yang sempat terhambat karena Sungni mempergokinya.

“Hihihi, semoga yeoja yadong itu tidak bangun.” Bisik Taemin sambil membuka kembali buku harian Sungni. Kemudian, selembar kertas terjatuh dari dalam buku itu saat Taemin membukanya. Namja maknae itu kemudian memungut kertas tersebut yang ternyata adalah sebuah foto.

“Eh? Ini kan!”

©

Sungni POV

“Kau pasti akan senang dengan kejutanku ini.” Ujar Taemin-oppa yang dari tadi menggenggam tanganku dengan kuat, entah akan dibawa kemana aku ini oleh arwah gentayangan ini. Padahal cuaca masih sangat dingin dan matahari pun belum muncul, tapi dia sudah sangat bersemangat sekali.

Sepertinya dia memang benar-benar tidak tau, tak usah pergi dengannya seperti ini pun aku sudah senang karena dia selalu ada bersamaku, setidaknya sejak 3 hari yang lalu. Apakah perasaanku ini sampai pada arwah disampingku ini? Entahlah sepertinya hanya Tuhan dan dia yang tau, tapi aku harap dia tau tentang perasaanku padanya.

“Ah kita sudah sampai!” ujar Taemin-oppa yang berhenti dengan tiba-tiba.

“Eh? Kenapa kau mengajakku ke tempat pemakaman?” tanyaku dengan heran.

“Lihat namja itu.” Jawab Taemin-oppa sambil mengarahkan tangannya ke arah seorang namja yang sedang duduk didepan kuburan, Choi Minho?

“Eh, a…apa? Kenapa kau membawaku ke tempat yang ada Minho-ssi?” tanyaku dengan gugup.

“Hihihi, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku…”

©

“Ah? Kau ini yeoja yang waktu itu dipinggir lapangan kan? Shin Sungni?” tanya Minho-ssi ketika melihatku duduk disampingnya, berpura-pura berdoa didepan makam arwah yang menggentayangiku, Taemin-oppa.

“Ah, kau ini hyung-nya Taemin-oppa bukan? Ne, aku yang waktu itu kau panggil.” Jawabku, lumayan lancar karena Taemin-oppa membisikkan kepadaku jawaban yang harus kukatakan.

“Ne, tapi aku tak tau kalau Taeminnie punya teman perempuan disekolah, apalagi adik kelas. Atau jangan-jangan kau dan Taemin?”ujar Minho-ssi yang dengan cepat aku jawab tanpa aba-aba dari Taemin-oppa.

“Aniyeo! Ka..kami hanya teman biasa.” Jawabku sambil menyilangkan kedua tanganku didepan dadaku.

“Oh, kukira kau yeojachingunya Taemin. Tapi, gomawo kau sudah menjadi temannya Taeminnie, kau tau kan mengenai gosip bully kepada Taeminnie? Sejak saat itu aku tak bisa berhenti memikirkan dongsaeng kesayanganku itu. Dan sekarang aku semakin tak bisa berhenti memikirkannya sejak dia pergi dari dunia ini.” Ujar Minho-ssi dengan sedih sambil menatap nisan kuburan Taemin-oppa.

Kulihat Taemin-oppa menundukkan wajahnya, sepertinya dia menangis. Aku memegang tangan Taemin oppa kuat, berharap bisa membantunya untuk tegar. Sepertinya aku tau penyebab Ia masih gentayangan di dunia ini. Mungkin dia tak bisa meninggalkan hyung-hyungnya yang sangat dia sayangi seperti ini. Aku iri, aku iri karena dia begitu mencintai hyungnya, aku juga ingin mendapatkan perasaan itu dari Taemin-oppa. Ah! apa yang aku pikirkan!

“Sabar Minho-ssi, pasti Taemin-oppa sudah bahagia disana.” Ujarku sambil memegang pundak Minho-ssi dengan tangan kananku. Kemudian tangan kiriku memegang tangan Taemin-oppa semakin erat, aku tak mau membuat dia menangis lebih lama.

“Sungni-ah, cepat sekarang.” Ujar Taemin-oppa berkata dengan pelan.

Atas aba-abanya aku segera mengeluarkan bingkisan dari dalam tas kecil yang sejak tadi aku bawa. Sebenarnya, tas itu dipersiapkan Taemin-oppa dan dia menyuruhku untuk membawanya. Dan ternyata isinya adalah bingkisan.

“Apa ini?” tanya Minho-ssi setelah aku menyerahkan bingkisan kepadanya.

“Ini, kado yang dibawa oleh Taemin-oppa sebelum dia tertabrak. Untuk Onew-ssi.” Jawabku mencoba tegar, aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Taemin-oppa saat ini. Lalu tiba- tiba..

“Minho-ssi…” ujarku dengan setengah kaget karena Minho-ssi memelukku dengan tiba-tiba. Sepertinya Taemin-oppa pun kaget dengan apa yang dlakukan oleh Minho-ssi, aku tau itu karena dia mendadak mencengkram tanganku dengan kuat sesaat.

“Mianhe, tapi izinkan aku, kau benar-benar mengingatkanku kepada Taemin.” Jawabnya dengan suara parau.

Aku tak bisa bergerak, Minho-ssi memelukku dengan kuat. Aku dapat merasakan betapa rindunya dia kepada Taemin-oppa. Lalu aku mempunyai ide yang cukup brilian. Aku tarik tangan Taemin-oppa dengan kuat dan….

©

Taemin POV

Dengan sekejap aku sudah berada didalam tubuh Sungni, dia memaksakan arwahku masuk kedalam tubuhnya. Yaeoja ini benar-benar nekad, dia bisa kehilangan nyawanya kalau seperti ini. Sekarang arwahnya ada disamping tubuhnya tepatnya arwahku yang ada didalam tubuhnya. Kemudian dia memberikan isyarat kepadaku.

“Kau kangen pada hyung-mu bukan? Pakailah tubuhku sebentar untuk menemui hyungmu, aku akan diam disini menunggu sampai kau selesai kangen kangenan dengan hyungmu.” Dia mengakhiri isyaratnya dengan mengacungkan kedua jempol tangannya didepan dada.

Shin Sungni, you’re the best! Rasanya aku ingin hidup kembali dan segera menjadikannya yeojachinguku, yeoja yang benar-benar pengertian sekali. Tapi sayang, dia menyukai Minho-hyung, bukan aku.

“Minho-ssi, aku ingin bertemu dengan hyung-hyungnya Taemin-oppa untuk menyampaikan pesan dari Taemin-oppa sebelum kepergiannya.” Ujarku setelah melepaskan pelukan Minho-hyung dari tubuh Sungni, aku tak mau hyung memeluk Sungni lama-lama.

“Ne Sungni-ah, aku akan mengantarmu ke dorm SHINee dan kau akan menjadi tamu kehormatan di dorm kami.” Jawab Minho-hyung, membuatku lega mendengarnya.

Aku melangkahkan kakiku mengikuti Minho-hyung menuju dormnya, dorm ku yang sudah lama tak aku kulihat.kemudian aku melihat kebelakang, untuk melihat keberadaan Sungni sebelum aku meninggalkannya sendirian. Kulihat dia duduk diatas nisan, lalu berdiri dan melambaikan tangannya setelah menyadari aku melihat kearahnya.

“Hwaiting oppa!” teriaknya dengan kencang, meskipun hanya aku yang dapat mendengar dan melihatnya.

Aku membalasnya dengan senyuman, semangatku sepertinya menjadi full setelah melihatnya ceria seperti itu. Gomawo Sungni-ah, aku harap kau akan menjadi yeoja yang bahagia meskipun tak bersamaku.

“Sungni-ah, ayo cepat.” Panggil Minho-hyung.

“Ne hyung, eh Minho-ssi.” Jawabku.

To Be Continue..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

23 thoughts on “Hello Ghost! [1.2]”

  1. hiks hiks.. taemin… hatihati ya nak. kamu kan anak kesayangan aku dan suamiku key *digampar*. wkwkwkwk. ceritanya bagus! aku juga pengen liat kelanjutannya gimana. kerenkeren!!!
    )

  2. Annyeong, DK imnida. ’90 Liner.
    Ngebiasin uri baby Taemin yg sekarang Manly.^^d

    Apaaaaaaaaa……
    Ada hantu secakep Taemin?
    Gak cuma Sungni, aku juga bakal jatuh cinta.
    Kkk~

    ditunggu next part-nya ya Nadia-ssi..

  3. andwee…e uri taeminnie kecian amat #lebeh
    tapi kalo arwahnya se unyu tetem mah wajar bikin klepek2.. endingnya jangan sedih2 y thor,kesian taemin nya

  4. Ada typho di Khajiman,
    Entah artinya hajiman = tetapi,
    Kajima = jangan pergi
    Terus bukan alsuga obseo tapi halsuga
    Keren tokoh ceweknya, pendiam dan seperti ciri” nerd
    Kasihan TaeMin
    Lanjut
    Phaitting 파이팅!!!

  5. Anyeong… aku member baru disini , salam kenal ^^.
    Omo…Taemin meninggal ? gimana ceritanya ? aduh…buat Taemin hidup lagi dan bisa berkumpul dengan orang-orang yang disayanginya ne , please ^^.Lanjuttt ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s