Don’t Close Your Eyes [1.2]

Don’t close your eyes {Story I}

cover don't close your eyes

Title                       : Don’t close your eyes

Author                  : Ryu Rieztka

Main Cast            : Kim Ki Bum

Jung Yoora   – Covered by. Lee Ji Eun (IU) –

Suport Cast         :  Lee Jinki

Other

Genre                   : Romance

Rating                   : PG 16

Length                  : Twoshot

Summary             :

Siapa yang bisa tahu akhir dari sebuah cerita, jika awalnya saja mereka tidak tahu. Haruskah orang-orang yang sudah terbuang, kembali tersakiti, ketika kenyataan hidup mempermainkan mereka di saat cerita hendak mereka sudahi dengan sebuah akhir yang bahagia ?.

Note                      : Ide cerita Fanfiction ini aku ambil dari Film Jepang dengan judul Sky Of Love. Beberapa scene dalam ff ini aku ambil dari adegan yang ada di film itu. Tapi gak semua ceritanya sama, secara garis besar masalahnya akan berbeda. heheheee

“bangunlah !! Buka matamu .. !!”

“Please don’t close your eyes.”

Tangan itu tak pernah lelah untuk memompa dada mungil yang ada di hadapannya. Memperjuangkan nyawa orang yang baru saja sangat ia cintai. Terus berdoa di dalam hatinya memanjatkan permohonan agar nafas itu terus dapat berhembus dari tubuh mungil yang ada di hadapannya.

“kibum-ah, sudahlah relakan ia.”

“ tidak … tidak hyung. Aku percaya ia dapat bertahan, percayalah padaku.” Nafas itu berderu sambil terus memompa dada seseorang berharap detak jantung itu dapat berdenyut.

Kumohon bangunlah, aku sangat menyayangimu. Tuhan selamatkanlah ia. Jika kau ingin mengambilnya maka gantikanlah dengan nyawaku.

Jeritan hati seorang bernama Kim Kibum itu terus terngiang di benaknya sendiri, tetesan air mata tak lagi ia pedulikan. Peluh keringat terus membanjiri paras tampannya. Sesekali ia mengingat kesalahan yang telah ia perbuat di masa lampau. Bagaikan roll film, kanangan cerita hidupnya yang suram di masa lampau terus berputar di ingatannya. Membuat nafasnya semakin berderu karena mengingat itu semua membuatnya terasa sesak.

*****

07 : 19 PM. 26 Desember 2010

Benda cantik nan putih bagaikan kapas turun dari langit, jatuh tepat di sarung tangan seorang lelaki yang mengadahkan tangannya untuk menangkap salju-salju cantik itu. Membunuh kebosanannya menunggu antrian untuk membeli minuman hangat yang ia inginkan sambil bermain-main dengan salju. Hingga tubuhnya terhuyung jatuh kedepan menimpa beberapa orang yang juga ada di depannya, yang  diakibatkan sebuah dorongan dari antrian di belakang.

Tanpa rasa takut ia langsung menoleh kearah belakang, mencengkram baju orang di belakanya dengan garang.

“ berhentilah mengumpat dan bertingkah, atau kau tau akibatnya !!” tidak ada tatapan damai di matanya saat mengucapkan kalimat ini, lelaki di belakangnya itu tersentak dan meninggalkan tempat ia mengantri.

“ Cappucino ..” terangnya saat tiba gilirannya berada di depan kedai kecil itu.

Saat minuman itu telah tersaji di depannya, ia merogoh saku mencari dompet yang ia selipkan di dalam sana. Namun sedalam apapun ia mencoba merogoh, dompet itu tidak ia temukan.

Damn !! seseorang pasti mengambilnya saat aku jatuh ..” ia mengumpat cukup keras hingga si penjual itu mendengar dan mengerutkan keningnya.

“jadi … kau mau membeli ini atau tidak ?” Tanya si penjual itu dengan nada kurang bersahabat

“ YAA !! kau meremehkanku “ ucapnya dengan intonasi yang tinggi.

ajjushi .. berikan aku satu moccacino “ suara seorang gadis membuyarkan percekcokan kecil si penjual dan lelaki itu tadi.

“baiklah “ merasa pembeli lebih penting dari perkelahian penjual itu lebih memilih melayani wanita itu. Sedangkan lelaki itu hanya memandang heran pada sang gadis

“ini … gomawo ajjushi ~ “ ia menyerahkan beberapa lembar uang won pada sang penjual dan berlalu.

“nona, uang mu kelebihan !! “ teriak sang penjual saat melihat beberapa lembar uang yang diberikan gadis tadi.

“berikan saja cappucino itu pada dia ..  karena antrian di kedaimu sudah cukup panjang.” Gadis itu berbalik sambil menunjuk pada lelaki yang tadi berdebat dengan sang penjual, dan langsung mengalihkan telunjuknya pada antrian yang panjang itu.

***

Senandung pelan terus terdengar dari bibir gadis mungil yang sedari tadi terus menyusuri pinggiran sungai Han, sambil sesekali menenggak moccacino hangat untuk menghangatkan tubuhnya.

“eoh .. habis ? “ serunya saat tak ada lagi moccacino di gelas kopinya. Sedikit memajukan bibirnya karena merasa suhu tubuhnya belum begitu hangat hanya dengan segelas moccacino.

“ini ..” gelas kopi muncul di samping pipi chubby gadis itu, di sertai suara seorang lelaki yang memberikan gelas itu.

“ nugu ? “

“ oh , nega Kim Ki bum.” Lelaki yang di tanya menjawab dengan datar.

“ lalu ? “ Tanya si gadis lagi, masih heran dengan kemunculan tiba-tiba lelaki itu.

“ milikmu habiskan ? “

“milikku ?”

“kopimu.”

“owh, ini … “ gadis itu mengangkat gelas kopinya yang telah kosong.

“ambilah ini juga milikmu. Belum ku minum sama sekali. Dan satu lagi aku lelaki yang ada di kedai kopi tadi.” Masih dengan wajah yang datar Ki Bum menerangkan kalimatnya dengan cukup panjang.

Mwo ..! Kau mengikutiku ? … atau jangan-jangan kau … “

“aku bukan seorang penguntit atau apapun yang ada di dalam pikiranmu. Aku hanya ingin berterima kasih atas ini.” Ki bum berucap sambil mengangkat gelas kopinya agar dapat terlihat.

Gadis itu hanya menganggu kecil tanda ia mengerti atas setiap kata yang di ucapkan oleh Ki Bum. Hening sempat terasa saat kedua orang itu merasa canggung untuk saling berbicara. Mata Ki bum sesekali mengarah pada gadis di sebelahnya yang sudah beberapa kali menggosokan kedua telapak tangannya yang memerah, gelas kopi tak lagi dapat menghangatkan tangannya yang dingin karena telah kosong tak tersisa.

Namun tak lama tangan yang memerah itu terselimuti oleh sepasang sarung tangan hangat yang kebesaran. Mata gadis itu terbelalak tak kala tangannya di sentuh oleh Ki Bum dan memakaikannya sepasang sarung tangan yang tadi ada di tangannya.

“ kau bisa membuat tanganmu mati rasa jika terus seperti itu.” Hanya itu kata yang keluar dari mulutnya, sesaat gadis itu menatapnya kaget. Tidak ada penolakan dari gadis itu saat Ki bum menggenggam tangannya, bibirnya terasa kelu saat tangan besar itu menggenggam tangannya yang mungil.

Suasana kembali hening saat keduanya terlalu nyaman menatap langit dan merasakan lembutnya sentuhan salju.

“ Jung Yoora. “

Ki bum membalikkan kepalanya kearah sang gadis yang ada di sebelahnya, merasa gadis itu tadi mengucapkan sebuah nama. Menatapnya lebih tajam seolah meminta gadis itu mengulangi lagi kata-katanya.

“ Jung Yoora. Nega Jung Yoora.” Ucap gadis itu mempertegas namanya untuk ia sebutkan.

“ yoora ..? baiklah Yoora-ah sepertinya salju makin deras turun, sebaiknya kita kembali.” ucapan ki bum seperti sebuah perintah bagi Yoora, ia menganggukan kepalanya tanda setuju. Entah mengapa ia merasa tertarik dengan setiap kata yang di ucapkan oleh ki bum, merasa bahwa lelaki itu adalah sesosok orang yang sangat pendiam dan dingin, Yoora menganggap bahwa setiap kata yang keluar dari mulut ki bum adalah sebuah hal yang luar biasa.

Ki bum berjalan mendahului Yoora yang berada sepuluh langkah di belakangnya. Memandangi punggung lebar seorang Kim Ki bum entah mengapa membuat jantung Yoora seolah tak bekerja dengan baik. Memegangi dadanya yang terasa sesak seolah lupa bagaimana caranya bernafas. Apakah ini yang dikatakan ‘love at first sight’. Yoora hanya dapat membatin saat melihat punggung kibum yang terus membuatnya tertarik.

Yoora melepas sebelah sarung tangan yang di berikan Ki bum tadi, mengejar lelaki itu dan mensejajarkan langkahnya. Ia menggapai tangan yang berayun bebas di udara memasangkan sebelah sarung tangannya dan memberikan senyum kepada lelaki itu setelah sarung tangan itu terpasang dengan sempurna.

“kau bisa membuat tanganmu mati rasa jika terus seperti itu.’ Seolah mencoba mengikuti gaya bicara Ki bum yang dingin Yoora sempat ingin tertawa saat mengucapkannya di hadapan Ki bum.

“baiklah, jika seperti itu. Seperti ini akan lebih baik.” Mata Yoora sedikit terbelalak saat sebelah tangannya yang dingin di hempas angin dan tersentuh salju menjadi hangat ketika ki bum menggengamnya dan menariknya untuk terus ikut berjalan di sebelahnya.

***

“kau tidak ingin masuk ?” Tanya yoora saat Ki bum berda di depan rumahnya, namun Ki bum hanya menggeleng dan tersenyum singkat. Melepaskan tautan tangan yang sejak tadi terasa hangat bagi keduanya.

“eoh, baiklah jika seperti itu … hhmm apa pertemuan kita hanya sampai di sini ?” yoora kembali bertanya, solah enggan berpisah dengan lelaki yang baru ia kenal kurang dari 2 jam yang lalu itu.

Ki bum mengalihkan pandangannya dari tatapan Yoora, entah apa yang ada di dalam pikirannya. Ia tak langsung menjawab pertanyaan Yoora, ada jeda yang membuat Yoora sedikit menyengitkan keningnya mencari jawaban dari pertanyaannya sendiri.

“ Minggu, Lotte World jam 2 siang. Aku akan membayar cappuccino ku tadi di sana “ ucapnya di iringi senyum yang sedikit ia kulum, dan terlihat begitu manis dan lembut. Yoora sedikit terkejut dengan itu, bukan karena kata-kata yang di ucapkan oleh lelaki itu namun karena senyum yang menurutnya sangat manis.

“eoh ..? “ yoora sedikit tersentak saat kesadarannya mulai kembali dari rasa terpesonannya.

“datanglah. Aku akan menunggu mu “ ki bum beranjak dari tempatnya dan sedikit menepuk pelan puncak kepala yoora.

*****

12.00 PM, Minggu 2 Januari 2011

Lotte World begitu ramai dengan orang berlalu –lalang, dari keluarga kecil, sepasang kekasih, hingga segerombolan anak-anak Taman Kanak_kanak yang sedang bertamasya di sana. Mengingat ini adalah hari libur dan bertepatan dengan libur tahun baru maka tidak asing bahwa tempat ini penuh sesak dengan orang-orang yang ingin mencari kesenangan dan membunuh kepenatan selama setahun mereka beraktifitas.

Seorang gadis bersandar pada sebuah tiang lampu yang terlihat ringkih namun berdiri tegak di depan Taman Bermain tersebut. Terlalu cepat dari waktu yang dijanjikan kepadanya, mungkin karena ia terlalu bersemangat untuk bertemu kembali dengan lelaki yang telah membuat janji dengannya. Membuat ia tak dapat tidur dengan nyenyak dan harus berputar-putar berulang kali di depan cermin hanya untuk mencocokan pakaian apa yang pantas ia kenakan untuk bertemu dengan lelaki itu.

Wajah itu terlihat cantik dengan polesan make up minimalisnya, namun tidak dapat menutupi lingkaran mata panda pada bawah matanya dikarenakan terganggunya waktu tidur tiga hari terahir. Memikirkan kapan ia akan bertemu dengan lelaki itu lagi membuatnya susah untuk memejamkan mata akhir-akhir ini.

Mungkin tindakan bodoh jika datang 2 jam lebih cepat dari waktu yang di janjikan, namun bukan hanya gadis bernama Jung Yoora itu saja yang bertindak bodoh di sini. Di belakang sebuah pohon yang rindang tidak jauh dari tempat Yoora berdiri, bersembunyi lelaki bernama lengkap Kim Ki Bum yang bahkan datang 10 menit lebih cepat dari Yoora.

Ia tak ingin menampakan dirinya di depan Yoora, hanya sekedar ingin melihat gadis itu lebih lama dari yang ia bayangkan. Ia sempat terkejut saat melihat Yoora sudah berdiri di depan sebuah tiang lampu saat jam di tangannya masih menunjukan angka 12:02. Bolehkah ia berharap bahwa gadis itu datang karena ingin segera bertemu dirinya.

15 menit

30 menit

1 jam

1,5 jam

2 jam

Waktu sudah menunjukan pukul 2 tepat. Matahari sudah tak lagi tepat berada di atas kepala, keadaan sekitar tak lagi seramai tadi. Namun sosok lelaki bernama Kim Ki Bum itu tak juga berniat untuk beranjak dari tempatnya. Masih terus menatap gadisnya yang sedari tadi gusar melihat jam pada display telepon genggamnya.

***

Jung Yoora masih setia berada di tempatnya sejak 2 jam yang lalu, sambil sesekali ia melihat layar telepon genggamnya. Sekarang jam digital di telepon genggam itu sudah menunjukan pukul 02:25, tetapi sosok yang ia tunggu sejak tadi tak juga memperlihatkan ujung rambutnya.

Mata bulat dengan lipatan kelopak yang samar itu sejak tadi tak lelah untuk mengedarkan pandangannya menyusuri setiap selah-selah orang-orang yang ramai berkerumun, berharap dari sana ia dapat melihat Ki bum datang sambil melambaikan tangan kepadanya.

Namun bukanlah sosok yang ia harapkan yang datang menghampirinya saat ini, melainkan lima orang laki-laki dengan pantaran usia sekitar 23 tahunan dengan pakaian yang bisa di bilang cukup modis dengan dandanan saat ini berjalan terus mendekat kearahnya.

“haii nona … kau sendiri ?”

“ … “  Yoora mengabaikan pertanyaan dari salah satu lima pemuda itu.

“ Ya !! kemana perginya kekasihmu cantik ?! “ sebuah pertanyaan yang terdengar seperti penekanan muncul dari orang yang berdiri di posisi tengah kelima pemuda itu. Bertingkah layaknya seperti pemimpin dari kawanan ini. Matanya liar menyusuri setiap lekuk tubuh Yoora, sesekali mata itu berhenti di bagian sensitive dan memandangnya dengan menjijikan.

‘Plaak’ .. tangan Yoora menampik dengan kasar ketika jemari salah satu dari mereka ingin menyentuh pipinya yang mulus. Menatap lelaki itu dengan tajam seolah menandakan bahwa ia tak dapat di sentuh semau yang mereka inginkan. Tubuh kecilnya mencoba menerobos brikade lima pemuda itu, namun siapapun tahu bahwa sekuat apapun wanita tak akan pernah menang melawan lelaki jika beradu tentang kekuatan.

Tubuhnya jatuh ke bawah, rok selututnya tersikap hingga memperlihatkan bagian kakinya hingga paha. Mata yang sejak tadi melihatnya dengang cara menjijikan kini kian bertambah menjijikan. Bagaikan seekor serigala lapar yang melihat daging segar di depannya, mereka menatap Yoora.

Yoora hanya dapat terduduk lemah, dan dengan segera menutupkan bagian roknya yang tersikap. Terus menatap bawah saat ia merasa pandangan pemuda-pemuda itu terus melecehkannya. Berharap lelaki yang sejak tadi ia tunggu datang dan menyelamatkannya.

“sedang apa kau di situ … pakaian mu bisa kotor jika kau duduk di situ “ tangan besar mengangkat pundaknya mencoba membantunya berdiri. Dengan sedikit takut ia mulai menatap wajah si pemilik tangan yang tadi mengangkatnya, walaupun hanya dengan suara ia sudah tahu siap si pemilik tangan.

Rasa lega saat mendengar suaranya kian bertambah lega saat ia dapat melihat wajahnya –Ki bum- . Sedikit berjalan kecil ia segera bersembunyi di balik punggung besar yang terus ia kagumi sejak seminggu kemarin. Tangannya bergelayut kencang pada lengan Ki bum seolah menegaskan pada lelaki itu bahwa ia butuh perlindungan.

“ apa yang kalian lakukan pada kekasihku !! “ tiada intonasi tinggi saat kalimat itu keluar dari bibir tipis Ki bum, namun tidak dengan pandangan matanya yang sangat tajam saat berbicara pada lima pemuda di depannya. Menyatakan bahwa ia siap menghabisi mereka jika saja mereka tidak pergi saat itu juga.

Entah karena merasa incaran yang mereka dekati sudah ada yang memiliki atau mereka takut pada orang yang berdiri tegak di depan gadis itu, merekapun pergi dengan wajah yang sedikit menampilkan kekecewaan.

Yoora bernafas lega saat kelima pemuda itu meninggalkan mereka berdua. Sesaat hatinya tadi berbunga saat mendengar kalimat yang keluar pelan di bibir Ki Bum “ apa yang kalian lakukan pada kekasihku !! “ seolah-olah seperti syair lagu yang terus akan indah jika selalu di lantunkan.

Bolehkah ia hanya sekedar bermimpi bahwa kalimat tersebut bukan hanya sebuah geretakan untuk membuat pemuda-pemuda tadi pergi melainkan sebuah pernyataan yang benar-benar menyatakan perasaan Ki bum kepadanya. Walau ini baru pertemuan mereka yang kedua namun Yoora sudah begitu terpikat dengan sosok lelaki yang begitu dingin di depannya ini.

“ maaf sudah membuatmu menunggu ..”

“eoh .. ?.” Yoora tersadar dari lamunannya, mengubur lagi keinginannya untuk kembali pada kenyataan yang ada sekarang.

“ah .. gwhencana” ucapnya tersenyum lembut seolah tidak pernah terjadi apa-apa saat ia menunggu lelaki dingin itu.

Yoora kembali di bawa ke dunia mimpi oleh Ki Bum saat tangan mungilnya digenggam erat dan dituntun meninggalkan tempat itu. Memberikan aura hangat di sisi tangannya, mendekatkan bahu bidangnya pada bahu kecil milik Yoora.

Sifat Ki bum yang begitu dingin dan acuh membuat Yoora nyaman, entah mengapa matanya yang dingin seolah memberinya kepercayaan bahwa lelaki itu dapat menjaganya. Sifat acuhnya yang sangat jarang berbicara seolah menegaskan bahwa ia lebih senang memberikan sentuhan-sentuhan kecil saat bersamanya dibandingkan berbicara banyak yang tidak ada gunanya menurut Yoora.

Lima jam waktu yang mereka habiskan bersama di taman bermain itu, hampir semua wahana telah mereka jelajah. Hanya satu wahana yang sejak tadi Yoora incar, namun ia menunggu datangnya malam untuk dapat memasuki wahana tersebut. Karena baginya wahana itu akan sangat berkesan menasukinya jika malam hari.

“ Bianglala … “ ucapnya sambil menunjukan jari telunjuknya kearah bianglala, Ki Bum mulai menarik tangannya lagi setelah usai menaiki wahana komedi putar besar yang tepat berada di jantung Taman Bermain itu.

***

Ki Bum bergeming di tempatnya duduk saat bianglala itu mulai beranjak naik, wajahnya sedikit memutih karena ketakutannya akan ketinggian. Yoora, gadis yang sejak tadi duduk di sebelahnya dan memperhatikannya mulai menyadari perubahan raut wajah Ki bum. “kau takut ketinggian .. ?” tanyannya sambil memindahkan tubuhnya duduk di kursi yang berhadapan dengan Ki Bum. Namun belum sempat ia mendapat posisi duduk yang nyaman tangannya sudah kembali dipegang erat dan di tarik kembali ke tempat duduknya yang semula. “ tetaplah di sampingku … “ untuk pertama kalinya Ki bum menatap Yoora penuh dengan perasaan saat berbicara.

“ tetaplah di sampingku … karena kau lah yang membuatku merasa di butuhkan. “ ucapnya mengulangi kalimat yang belum terselesaikan tadi. Yoora sempat tertegun, merasa sedikit tidak mengerti dengan beberapa kata yang di ucapkan oleh Ki bum, namun perasaannya seolah mengabaikannya karena telah mendengar ucapan Ki bum yang menyuruhnya agar tetap di sampinnya.

Ia hanya dapat terdiam, menunduk dan mengangguk kecil saat itu. Membuat harapan yang lebih tinggi dari sebelumnya, berharap bahwa ia dapat menjadi wanita yang special di dalam kehidupan seorang kim Ki Bum.

Keheningan sempat melanda kedua insan tersebut, merasa canggung untuk memulai pembicaraan dirasakan oleh keduanya. Mata tajam milik Ki bum masih asik menyisiri gemerlapnya lampu kota Seoul saat malam hari, sedangkan Yoora masih setia menundukan kepalanya, mencoba mengartikan kalimat sederhana yang sejak tadi terus terngiang di kepalanya.

“kau senang … ?” sebuah pertanyaan dari Ki Bum memecah keheningan diantara mereka berdua, membuat Yoora kembali mengangkat kepalanya.

“ hhmm … “ jawabnya sambil mengangguk dan tersenyum, kemudian tertunduk kembali. Meredam sesuatu yang akan keluar di sudut matanya.

Bibirnya kelu untuk mengungkapkan sesuatu yang ia pendam sejak dulu dalam kehidupannya. Namun keberanian dan perasaan nyaman membuatnya berani untuk berkata lebih setelah bersandar pada bahu besar milik Ki bum.

“ Appa …, appa adalah orang yang tergila-gila akan pekerjaannya, sedangkan umma … ia terlalu sibuk dengan koleksi perhiasan dan teman-temannya. Sejak kecil aku seolah seperti manusia transparan yang tak terlihat di mata mereka, menjadi pemanis di rumah ketika mereka pulang. Aku bahkan di besarkan oleh tangan pembantu rumah tangga. Tak pernah merasakan bagaimana senangnya bermain di taman bermain, bagaimana nyamannya saat ada seseorang yang membutuhkaku. Sejak kecil kedua orang tua yang menyebut diri mereka adalah ayah dan ibuku tak pernah berhenti bersitegang jika bertemu. Saling menyalahkan siapa yang harus mengurusku. Terkadang aku merasa keberadaanku di dunia adalah sebuah kesalahan.”

Sesuatu yang sejak tadi diredam akhirnya keluar dan mulai mengalir deras di pipi mulus Yoora, membuatnya sedikit terisak karena meredakan aliran air mata yang terus mengalir. Entah mengapa ia merasa nyaman setelah mengeluarkan hal yang menganjal di hatinya sejak beberapa tahun ini. Bahkan tak terbesit sedikitpun ketakutan saat ia menceritakan hal yang sangat pribadi dalam hidupnya kepada lelaki yang baru ia jumpai dua kali ini.

Isakan Yoora teredam saat Ki Bum menariknya dalam dekapannya. Menepuk-nepuk pelan punggung Yoora berharap itu dapat sedikit menenangkannya. “bukan hanya kau yang merasakan itu, masih banyak di luar sana yang juga memiliki nasib sepertimu. Tenanglah aku ada di sini.”

Entah ini kalimat ke berapa yang keluar dari mulut Ki bum, ia sangat jarang berbicara namun dari setiap kalimat yang keluar dari bibirnya saat berbicara itu dapat membuat hati Yoora berdesir tidak karuan. Yoora mengangkat kepalanya yang tersembunyi di balik dada lelaki itu dan menatap wajahnya, seolah meminta penjelasan dari setiap kata yang tadi di dengarnya.

“tenanglah aku akan ada untukmu, dan membuatmu bukan lagi menjadi manusia transparan.” Ki bum tersenyum untuk kesekian kali di hadapan Yoora.

“bisakah itu kuanggap sebuah janji ? “ tanyanya dengan posisi masih berada dalam dekapan dan mengulurkan tangannya agar dapat memeluk pinggang lelaki itu.

Mata Ki bum sedikit tersentak saat merasakan ada sebuah tangan yang tejulur melingkar di pinggangnya. Ia menatap ke bawah, tepat pada mata bulat Yoora. Tatapan yang lembut namun semakin lama semakin mendalam, jarak yang tadi tak begitu jauh antara keduanya kini kian mendekat. Menghilangkan jarak yang ada hingga hidung mancung dari kedua insan itu bertemu dan mata yang saling bertautan. Bibir mereka ahirnya bersatu saat bianglala itu tepat berada di atas puncak paling tinggi.

***

“haii hyung … “ sebuah sapaan singkat saat Ki bum memasuki sebuah kamar yang tak begitu luas. Merebahkan tubuhnya pada sebuah kasur king size tanpa aba-aba.

“kenapa lagi dengan ibumu ?” tanyanya to the point saat melihat orang yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri itu merebahkan dirinya ke kasur.

Mereka bukanlah saudara yang terikat dengan darah yang sama, tetapi mereka hampir memiliki jalan hidup yang sama. Lee Jinki, ya dahulu ia adalah senior Ki bum sejak ia sekolah menengah pertama, menjadi senior yang baik saat Ki Bum di jauhi oleh teman-temannya karena sikap dingin dan acuhnya. Pembela yang selalu bisa meredamkan amarah seorang Kim Ki Bum ketika teman-temannya mulai mengucapkan kata-kata yang paling di benci olehnya ‘anak haram’. Sejak kecil ejekan itu terus melekat pada dirinya.

Lee Jinki, ia bukanlah anak haram. Tetapi ia seorang anak yang rela di tinggalkan ibunya karena tergiur gelimang harta lelaki lain. Sedangkan Kim Ki Bum ialah anak yang lahir di luar pernikahan karena ayah biologisnya justru meninggalkan ibunya yang tengah mengandung dan melanjutkan sekolahnya di negeri orang. Ki Bum tak pernah tahu siapa ayah biologisnya, bukan karena ia tak ingin tahu namun keinginan itu pupus saat ia tahu dari ibunya bahwa ayah yang selama ini ia tanyakan telah menikah dengan anak seorang pengusaha ternama dan telah memiliki seorang anak tak lama setelah ayah biologisnya itu meninggalkan ibunya.

Mereka sama-sama orang yang di buang oleh salah satu dari kedua orang tua mereka, namun ada perbedaan yang sangat mencolok dari mereka berdua. Sejak kecil Lee jinki Sangat di cintai oleh ayahnya, sedangkan Ki bum, bahkan ibunya mengatakan bahwa ia membesarkan kibum adalah bentuk kebenciannya yang begitu besar pada lelaki itu. Ia tak pernah di anggap. Kehadirannya tak pernah di inginkan oleh siapapun. Hingga ahirnya ia bertemu dengan Jinki, senior yang sangat ia cintai sebagai kakaknya. Seseorang yang memberikannya kehidupan tentang keluarga, membagi kasih sayang ayahnya kepada Ki bum agar dapat juga ikut merasakan cinta seorang ayah yang begitu ia dambakan.

Empat tahun sudah sejak lulus dari sekolah menengah atas ia hidup bersama keluarga kecil ini, berbagi kamar yang tidak begitu luas dengan Jinki dan berbagi kasih sayang seorang ayah.

Ibu … ? kemana ibunya ?. sepahit apapun kehidupannya Ki bum tak pernah melupakan ibunya, ia masih terus menjenguk ibunya yang hidup dengan lingkungan gemerlapnya dunia malam, menjadi seorang bos pada sebuah club malam.

Namun kedatangnya di sana tak pernah di gubris sedikitpun oleh ibunya. Persis apa yang di katakan Yoora padanya, ia pun hanya dianggap manusia transparan oleh ibunya. Ia hidup hanya di beri makan dan tempat berteduh, dan beruntunglah Ki bum terlahir dengan kecerdasan di atas rata-rata yang mampu membuatnya melanjutkan sekolahnya hingga kini berada di perguruan tinggi jurusan kedokteran, karena sejak ia menyelesaikan sekolah dasar ibunya tak lagi mengurusi tentang kelanjutan hidupnya.

“bukan umma hyung … tapi Yoora ..” ucapnya masih menatap langit-langit kamar yang berhiaskan sarang laba-laba di tepiannya. “ehh .. kau bertemu lagi dengan cinta pandangan pertama-mu “ ledeknya sambil menepikan modul tebal yang sedari tadi ia baca. “hemm .. “ angguk Ki bum yang masih dapat di lihat oleh Jinki di tempatnya.

hyung .. apa kau akan menerima tawaran Hospital Authority untuk bekerja di sana ? “ ia menolehkan wajahnya mencari lawan bicara yang ada di sampingnya.

“eemm … kurasa tidak.”

wae ?” Ki bum mengangkat tubuhnya menjadikan posisi duduk dan menatap hyungnya untuk bertanya lebih jauh lagi.

“ aku tak akan meninggalkan ayah dan kau sendiri di sini, aku lebih senang hidup bertiga dengan kalian dibandingkan harus hidup sendiri di Hongkong, lagipula masih banyak rumah sakit yang terbaik di Seoul.” Ia mengakhiri jawabannya dengan memutar kursinya menghadap Ki bum yang tak jauh dari dirinya.

“ baguslah “ ucapnya diiringi senyum tulus.

“dan kau ..” tunjuknya ke arah adiknya “cepat selesaikan kuliahmu dan ku harap kita dapat bekerja di rumah sakit yang sama .. “

arraseo .. “ jawabnya sambil kembali membaringkan tubuhnya pada kasur yang empuk.

*****

Hari demi hari terus terlewati, kedekatan sepasang insan yang memiliki rasa yang sama kian menjadi dekat. Tidak ada kata ikrar diantara keduanya. Namun curahan kasih sayang dan perhatian terus dirasakan oleh keduanya. Membuat dunia mereka sendiri, terbang membawa impian dan mimpi mereka masing-masing.

07:17 PM, Senin 14 Febuari 2011

Seorang gadis duduk sendiri di sebuah kursi taman memandang gusar pada kotak berbungkus kertas berwarna cream miliknya. Menanti bertemu orang yang sudah menjadi bagian hidupnya selama dua bulan ini. Berharap orang itu akan senang menerima kotak coklat yang ada di tangannya.

Tidak begitu lama ia mendengarkan derap langkah yang begitu memburu dari sebelah kirinya. Saat ia melihat ternyata orang yang di nantipun telah tiba.

“huff .. maaf membuatmu menunggu.” Ia merunduk mencoba mengatur kembali nafasnya yang naik turun akibat berlari kencang.

gwenchanayo ?, apa kau berlari dari halte bus, untuk menuju kemari ? “ Yoora berjongkok di hadapan Ki bum, mencoba melihat wajah kelelahan kekasihnya. Merogoh saku roknya dan mengeluarkan sehelai sapu tangan dari sana, dan segera ia usapkan pada dahi kekasihnya, mengelap peluh yang terus menetes.

Tangan halus yang masih mengelap peluh itu terhenti saat digapai oleh tangan milik ki bum, menurunkannya dan melepaskan sapu tangannya dari sana kemudian menggenggamnya dengan erat. “gwenchana ..” ucapnya di iringi senyum.

“ ini … makanlah, aku tak bisa membutnya sendiri. Aku hanya membelinya di depan stasiun.” Ia menyerahkan kotak coklat yang sejak tadi ia genggam.

Ki bum membuka mulutnya, menunjukan mulutnya yang terbuka dengan telunjuknya, membuat Yoora sedikit menyengit kemudian membuka bungkus kotak coklat itu dan mengambil isinya untuk di masukan ke dalam mulut kekasihnya.

Ia tersinyum simpul melihat Ki bum mengunyah coklat yang ia suapkan. Sedikit menggelengkan kepalanya mengingat tingkah-tingkah Ki bum yang terkadang selalu membuatnya terkejut. Seperti layaknya seminggu yang lalu saat tiba-tiba ia diajak pergi ke sebuah restoran yang ternyata ia dipertemukan dengan Jinki dan juga seseorang ayah Ki bum.

“kemana kau akan membawaku hari ini ?” Yoora kembali membuka mulutnya setelah melihat Ki bum berhenti menggerakan mulutnya.

“hhmm .. sebenarnya hari ini aku di undang salah satu temanku untuk menghadiri pesta kelulusannya, apa kau …. “

“aku mau ..” potong Yoora sesaat sebelum Ki bum mengakhiri perkataannya.

Ki bum tersenyum singkat melihat tingkah polah kekasihnya, lalu dengan sigap menarik tangan wanita itu tanpa perlu persetujuan menuju sebuah club malam di mana mereka akan berpesta.

***

Suara musik begitu kencang terdengar oleh telinga, membuat beberapa orang turun ke lantai dansa meliuk-likuan tubuhnya seirama dengan musik. Sedangkan disudut ruangan duduk sepasang kekasih yang menikmati minuman mereka. “ apa ini pertama kali kau datang ke tempat seperti ini ? “ Tanya Ki bum pada Yoora.

“hemm ..” gadis itu mengangguk dengan ragu, takut dirinya akan di anggap wanita yang tidak supel dan mebosankan, jika pergi ketempat seperti ini saja tidak pernah padahal kini usianya sudah menginjak kepala dua.

“dari mana kau tahu ?” tanyanya setelah meneguk orange juice-nya.

“itu, minumanmu. Orang yang sudah berkali-kali masuk ke tempat ini tidak akan memesan minuman itu.” Tunjuknya pada segelas orange juice yang masih di pegang oleh Yoora.

“lalu, apa kau juga pertama kalinya berada di tempat seperti ini ?, bahkan kau hanya memesan air mineral ?.” Yoora balik menuding pada Ki bum saat ia sadari bahwa lelaki itu hanya memesan air mineral.

“tidak, aku tak ingin meminum minuman seperti itu lagi. Itu hanya akan merusak tubuhku, aku ingin sehat dan hidup lebih lama lagi.” Ujarnya sambil memandang air mineral yang ada di tangannya.

wae ?. apa selama ini kau selalu mengkonsumsi minuman seperti itu ? jika aku boleh tau kenapa kau ingin berhenti meminum alcohol ?” sebenarnya masih banyak pertanyaan di benak Yoora untuk ia tanyakan pada lelaki ini, namun ia mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh.

“kau ..” tunjuknya ke arah Yoora “karena kau … setelah bertemu denganmu aku menjadi orang yang memiliki semangat hidup, karena kau aku memiliki alasan untuk bertahan di dunia yang menurutku tidak adil ini, dan karena kau aku mengerti artinya dicintai dan mencintai.” Ki bum mengakhiri kalimatnya dengan menarik sebelah tangan Yoora tepat pada dadanya yang memperdengarkan detak jantungnya yang terus bertalu tidak karuan di dalam sana.

“apa jantungmu juga berdetak seperti ini ..?” ia kembali bertanya sambil menatap dalam wanita di depannya.

Yoora ikut menarik sebelah tangan Ki bum, meletakkannya tepat berada pada dadanya yang juga memeperdengarkan detak jantung yang tak kalah cepatnya bertalu dengan jantung milik Ki bum. “kau bisa meraba seberapa besar cintaku dengan mendengar ini ? “ Yoora menelungkupkan kelapanya di sela-sela bahu dan leher Ki bum. Membuat lelaki itu merasakan deru nafas yang tidak kalah cepat dengan detak jantung mereka, membuatnya mengulas senyum.

***

Hari ini Jinki mendapat tugas malam di rumah sakit, sedangkan ayahnya sedang di tugaskan untuk keluar kota. Setelah acara di club malam itu berakhir Ki bum sekedar basa-basi menawarkan Yoora untuk bermain ke rumahnya, namun diluar dugaan Yoora menerima ajakan Ki bum. Ia begitu bersemangat saat Ki bum menawari untuk pergi ke rumahnya.

Hanya butuh waktu tak lebih dari 30menit cari club itu mereka telah tiba di depan rumah sederhana milik Ki bum atau lebih tepatnya rumah milik Jinki dan ayahnya.

Yoora mengucapkan salam saat memasuki rumah Ki bum untuk pertama kalinya, walau ia tahu bahwa tidak akan ada orang yang akan menjawab salamnya tetapi ia tetap melakukan hal itu. “apa Jinki oppa dan ajjushi benar-benar tidak ada di rumah ?” Tanya Yoora sambil mencari-cari orang di rumah itu.

“hemm..” Ki bum hanya berdehem pelan untuk menjawab iya dari pertanyaan Yoora tersebut.

“ibumu .. ?”

“ … “

Ki bum sempat tersentak dan terdiam mendengar pertanyaan Yoora tentang ibunya. Selama ini yang pernah Yoora temui hanyalah Jinki dan juga ayahnya. Ia tak pernah menyinggung sedikitpun tentang ibunya di hadapan Yoora.

“maaf … jika kau tak ingin menjawab, tidak apa-apa.” Yoora berbalik dan segera mengalihkan perhatian karena merasa melihat mimik muka Ki bum yang berubah drastis saat di singgung mengenai ibunya.

“tidak .. segeralah ke atas, aku akan menceritakan sesuatu tentang ibuku padamu.” Ujarnya diiringi tangan yang mendorong pelan tubuh Yoora menuju anak tangga

***

Sesekali air mata Yoora menetes sambil terus mendengarkan penuturan kenyataan hidup Ki bum yang lebih menyakitkan dari hidupnya. Bahkan perjuangan hidup kekasihnya dimulai sejak ia melepas seragam sekolah dasarnya, mencari cara bertahan hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Hingga ia menemukan sebuah keluarga kecilnya di sini, di rumah yang ia pijak saat ini.

“apakan ini maksudmu agar aku tetap berada di sisimu, selalu membutuhkanmu, dan menganggapmu ada ?” pertanyaan demi pertanyaan muncul dari Yoora ketika Ki bum mengakhiri ceritanya.

Tiada jawaban, namun sebuah pelukan yang dilayangkan Ki bum untuk memberi jawabannya. Merengkuh gadis itu dalam, menyembunyikan kepalanya sendiri di antara bahu kecil dan leher jenjang milik Yoora. Sempat terasa sesak saat ia menahan air matanya agar tidak menangis di hadapan wanita yang ia kasihi. Tetapi saat kepala itu sudah dengan nyaman bersandar seolah air mata itu tak dapat lagi di bendung, menumpahkan segala sesuatu yang belasan tahun ini ia tahan.

Tangan mungil dan kecil itu sempat menggantung di udaran sebelum menepuk-nepuk punggung besar yang selama ini ia kagumi. Sempat tercekat saat mendengar sebuah isakan dari sela bahunya, menyadari seseorang yang selama ini begitu dingin dan pendiam dapat terisak di dalam pelukannya.

Jika ada yang mengatakan bahwa orang yang berjodoh itu terkadang mirip, maka Yoora setuju dengan hal ini. Mereka berdua adalah orang-orang yang sama-sama mirip dengan diasingkan oleh orang tua mereka sendiri.

Malam kian larut, namun Yoora masih terus terjaga dengan Ki bum yang telah terlelap di pangkuannya. Jari-jari mungilnya menari di atas paras tampan kekasihnya, mengagumi kesempurnaan ciptaan tuhan yang kini telah ada di pangkuannya. Jari itu menyusuri dari dahi yang turun ke hidung dan sempat terhenti ketika membelai pipinya yang tirus dan berakhir dibibirnya yang merah.

Senyum terukir ketika orang yang memiliki bibir merah itu membuka matanya dan menagkap tangannya yang akan menyingkir dari posisinya. Tangan itu di tarik hingga bukan lagi jemarinya yang menyentuh bibir merah itu melainkan bibir tipis miliknya sendiri.

Yoora sempat terdiam beberapa saat, tidak merespon ataupun menolak saat ciuman itu kian mendalam. Tubuhnya ditarik dan direbahkan menggantikan posisi Ki bum yang tadi tengah berbaring. Bajunya tak lagi sempurna, beberapa kancing sudah lepas dari pasangannya.

“maaf .. aku tak bermaksud … “ Ki bum membenahi duduknya dan menyikap pakaiaan Yoora yang terbuka.

Yoora menangkap tangan Ki bum, menatap matanya dalam, mencari kesungguhan di dalam sana. “ apa aku bisa mempercayaimu ..?” ucapnya pelan sangat pelan seperti sebuah bisikan di telinga Ki bum.

Tidak langsung menjawab Ki bum pun ikut menatap dalam mata wanita di bawahnya, seolah ikut mencari sesuatu di dalam sana. “hhmm .. kau bisa percaya padaku “ jawabnya diikuti anggukan kecil dari kepalanya.

Senyum semu keluar dari bibir tipis Yoora setelah mendengar jawaban dari kekasihnya. “lakukanlah .. jadikan aku milikmu seutuhnya.” Ujarnya mengakhiri senyumnya.

Ki bum tergelak mendengar ucapan Yoora, sempat beberapa detik ia tak bernafas karena kata-kata itu. “kau … “

“lakukanlah .. aku percaya padamu.” Yoora memotong ucapan kekasihnya, seolah memberikan kepercayaan bahwa ia tak akan merasa takut jika terus bersama dengan kekasihnya.

Bintang pun berpijar dengan sangat terang seolah ikut menjadi lampu-lampu penerang bagi kedua insan yang menghabiskan malam berdua, menikmati dinginnya malam dengan berbagi kehangatan melalui tubuh mereka. Menyampingkan segala resiko untuk masa depan dengan berbahagia bersama malam ini.

*****

08 : 17 PM, Rabu 16 Maret 2011

Malam yang sejuk di sebuah ruang keluarga yang sederhana terselip kebahagiaan yang besar saat ada empat orang yang berkumpul untuk merayakan kesuksesan salah satu dari mereka.

“ ki bum-ah chukae ..” Jinki merangkul bahu adiknya, merekahkan senyum yang lebar saat mengucapkan kata selamat.

Sedangkan Ki bum hanya dapat tersenyum melihat kakaknya yang sudah setengah mabuk itu memeluknya. Ia masih merasa belum percaya bahwa saat ini ia telah lulus dari kuliah yang bertahun-tahun ini ia jalani, dan kini ia telah menyandang gelar dokter sama seperti kakaknya.

“yahh .. waktu sangat cepat berlari. Dahulu kau datang dengan celana pendek dan rompi kecil, sekarang kau telah tumbuh menjadi lelaki tampan dan berjas putih. Kalian berdua benar-benar sangat tampan saat memakai jas ini.” Ayah Jinki berdiri dan mengambil jas kerja Jinki yang tersampir di kursi lalu ia pasangkan pada pundak anaknya Ki bum.

Ki bum tertunduk saat tangan ayahnya mempererat jas itu di tubuhnya, merasakan kasih sayang yang tulus dari lelaki itu yang bahkan tidak memiliki ikatan darah sekalipun padanya. Merasa sangat beruntung di pertemukan pada keluarganya saat ini.

“ Yaa.!! Aku baru saja memujimu tampan, jangan kau buat jelek lagi mukamu dengan menunduk seperti itu.” Ayah Ki bum menarik dagu Ki bum untuk menghadapnya.

“ percayalah hari esok akan lebih indah dari hari ini .. maka teruslah berjuang arraso !. Ahh!! Lihatlah kakakmu itu, ia terlalu bahagia melihatmu hingga ia mabuk seperti itu.” Ayah Ki bum berjalan menghampiri Jinki yang telah kehilangan kesadarannya dan memapahnya menuju anak tangga.

“ layanilah putrimu, aku akan mengurus kakakmu yang payah ini.” Lelaki tengah baya itu terus berjalan meniti anak tangga hingga tak terlihat lagi.

Yoora yang sedari tadi diam di sudut ruangan tertawa melihat kelakuan keluarga kecil yang hangat itu, ia ikut merasakan hangatnya keluarga saat berkumpul di rumah ini.

chukae .. “ ujarnya sambil menghampiri kekasihnya yang masih berdiri menunggu kedatangannya.

“apa kau sangat bahagia malam ini .. ?.” Ki bum menarik Yoora pelan ke dalam pelukannya, mencium puncak kepala gadisnya dengan sayang, mencoba membagi kebahagiannya. Sedangkan gadis itu hanya dapat mengangguk dalam pelukan kekasihnya.

“hhmm .. apa aku boleh mengatakan sesuatu ?”gadis itu bertanya dengan tangan yang masih melingkar dipinggang kekasihnya, mempererat pelukannya seolah meredam rasa takutnya untuk berbicara.

“ya .. katakanlah.” Ki bum menjawab masih dengan memeluk gadisnya dan menyandarkan dagunya di puncak kepala gadis itu.

Yoora melepas pelukannya, menatap Ki bum dalam diam, mencoba meyakinkan dirinya sendiri agar bisa menyampaikan apa yang ingin ia katakan. Tangannya beralih meraih tangan besar kekasihnya, meletakannya tepat di atas perutnya yang datar.

“ tiga minggu .. “ ucapnya terputus karena ingin melihat wajah kekasihnya saat itu. Sedangkan Ki bum masih setia menunggu kelanjutan ucapan gadisnya.

“ sudah tiga minggu .. janin itu ada di sini.” Yoora menunduk tidak berani melihat bagaimana ekspresi kekasihnya lagi.

Tangan Ki bum terlepas dari perut datar Yoora, memundurkan kakinya beberapa langkah dan berlari menghilang dari pandangan gadis itu. Yoora kembali mengangkat kepalanya saat menyadari Ki bum telah hilang dari hadapannya. Entah apa yang Yoora rasa saat ini, bingung, sedih, ataukah ia harus bahagia karena sebentar lagi ia akan menyandang status sebagai seorang ibu.

TBC

 

Note ryu : haii … haii, aku muncul lagi. Hihihiiii … setelah sekian lama mengendap aku kembali membawa FF baru. Gimana, ? udah sad story blom?, entah kenapa aku lagi pengen buat FF yang mewek-mewek nich. Karena udah cape ngetik ini cerita aku minta bayarannya yah readers yang cantik-cantik dan yang tampan-tampan, gak mahal ko … Cuma minta imbalan komentarnya aja di bawah cerita ini … hiihiiii 😀

Oya jika ada kesalahan dalam hal apapun mohon dimaafkan ya .. J

Terimakasih udah mau mengikuti cerita ini, selamat bertemu di part II … bay…bayyyy … 😀

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

27 thoughts on “Don’t Close Your Eyes [1.2]”

  1. Ryu-ssi, Kibum pasti tanggungjawabkan? karena diawal cerita Kibumnya berusaha menyelamatkan Yoora.. Mereka bersatu karena sama-sama kurang kasih sayang orang tua.. kalo ff ini berakhir happy ending pasti mereka jadi keluarga bahagia yg akan menyayangi anaknya.. 🙂 tapi klo sad ending seperti diawal cerita kasihan bener Kibum ditinggal Yoora.. Ryu-ssi ditunggu next part-nya.. 🙂

    1. tanggung jawab gak yah kibumnya .. ??
      hehehe ..
      sad ending atau happy ending ~
      semuanya aku jawab d next part yah …

      terimakasih sudah mau berkunjung
      membaca …
      dan coment … 😀
      monggo d tunggu next part-nya yah .. 🙂

  2. Woaaahhh,,,
    kasian,
    kayaknya Kibum nolak tanggung jawab nih,
    trs Yoora bunuh diri nenggelemin dirinya, trs kibum nyesel, gak terima kenyataan kalo Yoora meninggal.
    Muahaha, ngasal!

    Ditunggu next part-nya Ryu-ssi!

    1. kibum nolak tanggung jawab ..??
      yoora bunuh diri tenggelimin diri ..??
      mwehehehe … bener gak yag jawabannya … 😀
      aku jawab di next part yah …

      terimakasih sudah mau berkunjung
      membaca …
      dan coment … 😀
      monggo d tunggu next part-nya yah .. 🙂

  3. itu kibum kabur gara2 yoora bilang dia hamil? jgn2 gk mau bertanggung jawab lg. awas ya oppa!!!
    aq takut kalo ayah yoora itu ayah key juga. ya ampun bisa pnjng tuh urusan. semoga aja author gk buat jln cerita kyk gitu, jujur itu udh sering bgt. dan jln cerita plng nyesek bagiku.
    mau ngomong apa lg ya? udahlah yg penting nih ff keren. romantis bgt. aq jd gk ngebayang itu key. pendiam, cuek, acuh hahaha ya ampun itu bkn key bgt. key yg asli itu key yg ceria, gila, konyol, lucu, dan cerewet. tp ya paslah kl diliat dr tatapan matanya. apalgi kl covernya yg key etude house yg terbaru ini, yg dia pake jaket hitam. pas bgt ama yg di ff karakternya 🙂

    lanjut!

    1. kalau kibum kabur gak mau tanggung jawam .. ayok kita pentungin aja pake ayamnya abang Onew … mwehehehee

      bener gak yah jalan ceritanya kya tebakan chingu ..?
      di jawab ama next part yah .. 😛

      key pendiam, cuek, acuh ..hahahaa
      cuma mau bikin karakter baru ko buat oppa tercinta kita ini …
      wah bener kalau covernya yg itu pasti cocok tuh ..kekee

      terimakasih sudah mau berkunjung
      membaca …
      dan coment … 😀
      monggo d tunggu next part-nya yah .. 🙂

    1. bad feeling ya, sma sie key …. hahahaa
      trima kasih sudah suka ama ceritanya
      *untung gak suka sma authornya .. mwehehehe :p

      terimakasih sudah mau berkunjung
      membaca …
      dan coment … 😀
      monggo d tunggu next part-nya yah .. 🙂

    1. sie ki bum tanggung jawab gak ya ..
      aku kasih tau gak yah … mwehehehe
      akan di jawab sma next part yah … 🙂

      terimakasih sudah mau berkunjung
      membaca …
      dan coment … 😀
      monggo d tunggu next part-nya yah .. 🙂

    1. aku bisa bikin perasaan terombang-ambing ya ..
      wah hebat banget .. *tepuk tangan bateng baby taemin
      hahaahaa ..
      apakah key bakal tanggung jawab .. biar sie next part yang menjawab :p

      terimakasih sudah mau berkunjung
      membaca …
      dan coment … 😀
      monggo d tunggu next part-nya yah .. 🙂

    1. adegan terakhir emang sengaja di bikin penasaran, biar part 2 x pada mau baca lg
      hahahaa … *author madus bgt 😛
      kenapa key malah lari ? dy mau maraton mungkin .. hehehe
      gak deng, nanti di jelasin sama sie next part ko knp sie key lari ..

      terimakasih sudah mau berkunjung
      membaca …
      dan coment … 😀
      monggo d tunggu next part-nya yah .. 🙂

  4. Kalo di film Sky of Love si cowok lari buat beli bunga atau apaa gitu terus balik dan bilang, “Congratulation.” Apa ini juga bakal kayak gitu? Wkwk, udah lama banget sejak nonton Sky of Love, sayang sad ending -..-

    Anyway, FF ini jauuh berbeda, dan aku suka diksinya (walaupun tanda bacanya kurang dapat perhatian). Ditunggu lanjutannya 🙂

    1. hwaaa …
      ada jg yg nonton film Sky of Love, hehehe
      apakah, ini jg bakal kaya bgtu ..
      biarlah di jawab next part yah …

      hwee … aku seneng bgt akhirnya, ada jg yg nyinggung ttg cara penulisanku.
      trimakasih suka ama diksinya. dan mohon maaf atas kekurangannya yah.
      mudah2an di tulisan lain bisa lebih baik dari ini.

      terimakasih sudah mau berkunjung
      membaca …
      dan coment … 🙂
      monggo d tunggu next part-nya yah .. 😀

    1. tanggung jawab gak yah sie Kibum ..
      *kalau gak tanggung jawab, lemparin receh ama author ya
      hahahaaa ….

      terimakasih sudah mau berkunjung
      membaca …
      dan coment … 🙂
      monggo d tunggu next part-nya yah .. 😀

    1. aku terima penasarannya ….. hanya itu jawaban yg bisa aku berikan .. -.-”
      mwehehehee … 😀

      terimakasih sudah mau berkunjung
      membaca …
      dan coment … 🙂
      monggo d tunggu next part-nya yah .. 😀

  5. komenku udh diwakilkan nih sm yg lain.. wkwkwk

    n mnrutku, kibum kabur bukn krna g mau tanggung jwb. mgkn iya g mau tanggung jwb.. awlnya merasa kaget.. bisa dblg kejadiannya mirip ayah biologisnya yg pergi ninggalin ibunya yg sdg ngandung kibum… tp kynya kibum gak mgkn g tanggung jwb.. kyknya dy g mau ngulang ato niru tndkn ayah kandungnya yg gak bertanggung jwb. mgkn cuma shock aj.. ea ea ea.. hahaha

    ditunggu next partnya..
    oh ya.. tulisannya dirapiin ya 🙂

  6. ini sad ending ga nanti?klo iya woah aku lempar mawar sekebon buat authornya kkk
    kyanya si kibum kabur emang lgi nyari sesuatu buat dikasih ke yoora,baju hamil mungkin *ngaco..
    once again,aku mau SAD ENDING ajah thor ditunggu lho,bosen ma yg happy2 mulu soalnya muehehe 😛

  7. ceritanya benar-benar DAEBAK!!
    Aku penasaran nanti jadi sad ending atau happy ending ya? kibum pasti tanggung jawab kan ya? ditunggu ya part selanjutnya ^_^

  8. key.. kau selingkuh dibelakangkuu. hiks hiks*abaikan. kyahahaha.. ceritanya keren! key juga disini beda bgt. dari cerewet jadi pendiem gitu. wkwkwk ooc bgt ya. hoho. i like this story!

  9. ahhh…. jadi ingat adegan yg da di bagian akhir itu hampir sama dengan adegan sky of love, pas ceweknya bilang lo dia hamil.. aduh tapi npa di cerita ini IU yg mati? ahh emang apa yg terjadi?

    aduh jadi penasaran, lanjut ya thor….

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s