My Friend Is My Love [1.3]

My Friend is My Love Part 1

Backgroung FF

Title                 : My Friend is My Love

Author             : Dhie

Main Cast        : Bae Suzy, Choi Minho, Lee Ji Eun

Support Cast   : Choi Sulli, Shinee’s member.

Length             : Sequel

Genre              : Sad, Romance

Rating             : PG-15

N.B                 : Ini asli buatanku, tapi awalnya bukan FF sih cerita biasa. Jadi kalau masih ada nama lain yg luput dari penglihatanku, tolong di komen ya! Terus kalau menemukan cerita yang mirip itu bukan kehendakku. So, Check it out chingu..!! one two three…Happy reading….and respon please ya..!!

“Nae umma, aku disini baik-baik saja!”

“Kau tak pernah pulang, kau betah di sana di tempatmu tinggal? Kau tak rindu dengan ummamu ini?”, suara Suzy umma terdengar di seberang sana.

“Nae Umma, bogoshipeo! Tapi aku harus tetap sekolah kan?”, jawab Suzy sambil menyisir rambutnya di depan kaca.

“Suzy-ya, dari tempatmu tinggal ke rumah kan hanya 2 jam, kau harus pulang sabtu ini. Ara? Kau bahkan tak tahu rasanya bagaimana sepinya rumah ditinggalkan oleh anak perempuan satu-satunya!”

“Nae Umma! Araseo! Umma tak perlu khawatir aku akan pulang.” ujar Suzy dengan gaya centilnya.

“Baiklah kalau begitu, jaga kesehatanmu! Dan hiduplah dengan baik di sana!”

“Umma, sampaikan salamku buat uri appa!”

Setelah menutup telepon, Suzy segera beranjak dari kamarnya bersiap untuk berangkat ke sekolah. Setelah yakin kalau kamarnya terkunci rapat, segera dia keluar dan berjalan ke halte untuk menunggu bis menuju sekolahnya. Terlihat Eun Gi omoni, sang empunya kamar sewa sedang menyapu halaman yang penuh dengan daun-daun berjatuhan.

“Omoni, aku sekolah dulu ya!”, pamit Suzy pada Eun Gi omoni.

“Ah…Suzy-ya! Hati-hati di jalan!”

# # #

“Suzy-ya, kenapa kau tak membalas smsku? Aku bahkan menunggu sampai tertidur tanpa mengerjakan tugasku”, sapa Ji Eun pada Suzy sahabatnya, yang sudah menantinya di depan pagar sekolah mereka. Karena peraturan mereka, siapa yang datang duluan harus menunggu yang belum datang di pagar sekolah.

“Kau ini, seharusnya kau menyapaku dengan annyeong Suzy atau bagaimana lah. Kau malah mengomeliku dan membuatku tak nyaman. Aku sudah tertidur semalam, kau sudah mengerjakan tugas bahasa inggris belum?”, Suzy mencubit pipi Ji Eun.

“Appo!”, Ji Eun mengelus pipinya. “Cepat keluarkan tugasmu! Aku tidak mau kalau nanti aku dikeluarkan dari kelas oleh Miss Rei Na”, mereka tertawa lepas.

Keduanya melangkahkan kaki menuju kelas. Sebagian murid selain mereka sudah datang dan membuat keributan di kelas.

Bae Suzy dan Le Ji Eun memang sudah sangat dekat semenjak SMP, setelah lulus mereka memutuskan untuk satu sekolah lagi dan sepakat untuk masuk ke SMA yang sama jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, karena mereka sama-sama menyukai ilmu bumi dan sangat kebetulan, mereka selalu sekelas sampai saat ini kelas XII SMA. Lee Ji Eun yang sangat aktif di organisasi siswa di bagian kesenian, selalu memberikan berita untuk semua murid yang berbakat dalam kesenian jikalau ada lomba-lomba. Dan Bae Suzy yang cerewet dan bawel, sangat pas bila saat ini dia memegang jabatan sebagai wartawan untuk MASKOL alias majalah sekolah mereka. Dan keduanya tidaklah asing bagi siswa-siswi SMA ini dan cukup terkenal.

“Sssstttttt,,,,,,!”, Suzy yang baru saja datang tiba-tiba mendiamkan keributan di dalam kelasnya menunggu guru yang akan mengajar di jam pertama.

“Wae?”, tanya Jonghyun, ketua kelas XII di kelas Suzy dan Ji Eun.

“Ani, kita hanya mau lewat”, jawab Suzy santai dan membuat Ji Eun tertawa lepas.

“Kau ini!”, Ji Eun berbisik seraya menepuk tangan Suzy pelan.

“Huhuhuhuhhuhuhuhu,,,,,,,,”, teriakan anak-anak kelas serentak

Suzy hanya tertawa dan langsung menuju kursi tempatnya duduk bersama Ji Eun. Selang 5 menit setelah mereka masuk ke dalam kelas, pelajaran bahasa inggris dimulai. Kelas pun menjadi tenang karena guru yang mengajar mereka merupakan guru killer bagi mereka. Jadi tak seorang pun yang ingin bermasalah dengan Miss Rei Na, Kim Rei Na.

# # #

Di Kantor MASKOL (Majalah sekolah) waktu istirahat sekolah….

“Untuk majalah bulan depan, kita akan mewawancarai Choi Minho-ssi kapten basket yang baru saja menjuarai pertandingan basket se-Seoul ini, kemudian Jessica-ssi yang sekolah sambil bekerja dengan menjadi model dan satu lagi Kim Minjun-ssi kepala sekolah kita, bagaimana pandangan beliau tentang majalah kita, jadi disini aku akan membagi tugas, Park Sun Yeong kau bertugas untuk mewawancarai Kim Soo Ro-ssi, Kim Na Na kau mewawancarai Jung Jessica, dan kau Bae Suzy silahkan mewawancarai Choi Minho, bagaimana? Sepakat?”

“Jinki sunbae, memangnya tak ada orang lagi selain aku yang bisa untuk mewawancarai Minho-ssi, atau mungkin aku bertukar dengan yang lain untuk tugas wawancara ini?”, protes Suzy.

“Semua sudah ditetapkan, kau tak boleh bertukar tugas. Araseo?”, jawab Lee Jinki  dengan jelas.

“Kau takut, nanti kau akan kembali lagi denganya?”, celetuk Kim Na Na sinis.

“Ya…Kim Na Na! Kau tahu apa tentangku dengannya?”, Suzy membentak keras. Suzy memang sangat sensitif, kalau ada seseorang yang mengungkit-ungkit hubungannya dengan Minho satu tahun silam.

“Ya, Suzy-ya! Kau kenapa? Tak bisakah kau mengecilkan suaramu itu?”, Lee Jinki memperingatkan Suzy.

“Aku hanya tak suka seseorang mengungkit masa laluku, kau paham Kim Na Na-ssi?”, Suzy memperjelas dan menatap sinis Kim Na Na.

“Mianhe!”, ujar Na Na cuek dan membuat Suzy ingin mengacak-acak rambutnya.

“Baik kita lanjutkan…..bla….bla…….”

# # #

Setelah rapat, Suzy berjalan menuju kantin. Ji Eun sudah menunggunya disana.

“Wae? Wajahmu seperti pakaian yang belum diseterika saja”, tanya Ji Eun seraya menyeruput lemon tea di hadapannya.

“Aku sedang kesal, Kim Na Na sepertinya ingin mencari masalah denganku.”

“Cari masalah bagaimana?”, Ji Eun memandang Suzy tak mengerti.

“Kau tahu kan masalah seperti apa yang akan membuatku kesurupan seperti ini?”

“Ye..yee…araseo.”, Ji Eun paham sekali apa yang membuat sahabatnya bisa sesensi ini dan dia berusaha membuat dingin suasana. “Kau jangan terlalu buruk sangka dengan orang, Suzy-ya. Kan tidak semua orang tahu kalau kau akan menjadi seperti ini bila nama Minho disebut”, Ji Eun sengaja menyebut nama Minho dan mengedipkan matanya agar terlihat imut di depan sahabatnya.

“Ya Ji Eun-a! Kau bahkan membantunya untuk membuatku menjadi lebih gila.”, Suzy melirik sinis ke arah Ji Eun karena menyebut nama Minho lagi.

“Baiklah, kita lupakan Minho. Bagaimana dengan Jinki sunbae? Lee Jinki kau menyukainya Suzy-ya?”, keduanya tertawa lepas saling bercanda

“Do! Cepat habiskan makananmu itu!”, teriak Suzy dan membuat orang-orang di sekitar mereka serentak menoleh heran ke arah Suzy.

# # #

“Ne, aku ada waktu nanti sore. Tapi aku bisa melakukannya di rumahku. Siapa yang nanti akan mewawancaraiku?”, tanya Choi Minho pada Lee Jinki saat berpas-pasan di kantin.

“Suzy, Bae Suzy dia akan datang mewawancaraimu.”

“Ah, Bae Suzy?”

“Ye. Kalau begitu aku harus sampaikan kepadanya untuk datang ke rumahmu. Jam berapa kau ada waktu?”

“Hmm, jam 5 sore, aku akan menunggunya.”

“Ok. Gomawo Minho-ya!”

“Ye sunbae.”

# # #

“Kau bisa menemaniku kan Ji Eun-a?”, tanya Suzy ke Ji Eun di mobil dalam perjalanan pulang

“Oediseo?”, jawab Ji Eun yang tak menoleh sama sekali ke arah Suzy karena pantang baginya, selama menyetir mobil tolah-toleh selain ke depan.

“Ke rumah Minho”

“Wae? Kenapa harus ke rumahnya? Dia selalu saja sok sibuk dan merepotkan orang lain. Harusnya kau menyuruhnya ke sekolah saja!”

“Kata Jinki sunbae, Minho ada acara jadi dia harus pulang cepat, dan baru bisa diwawancarai  jam 5 sore nanti di rumahnya. Aku juga tak ingin bertemu dengannya kalau bisa.”

“Jam 5? Mianhe Suzy-ya, sepertinya aku tak bisa karena nanti aku harus menemani umma ke tempat fitness.”

“Geurae gwencana. Aku hanya tak akan memberimu contekan bahasa inggris bila ada tugas kan?”, Suzy mencoba mengancam sahabatnya yang ketahuan sedang berbohong.

“Ya Suzy-ya, kau tak boleh seperti itu dengan chingumu yang yeppeo ini! Baiklah aku bukan menemani umma, tapi aku harus menemui seorang namja yang tertarik padaku.”, Ji Eun tertawa malu.

“Omo! Kau memiliki rahasia dariku? Sejak kapan kau tidak bercerita padahal aku adalah sahabatmu?”, Suzy melotot ke arah Ji Eun.

“Sebenarnya aku akan menceritakan kepadamu nanti, kalau namja itu memang benar-benar tertarik padaku. Kalau aku menceritakannya padamu sedangkan dia hanya berpura-pura, mau dibuang kemana wajahku? Kau tahu kan, aku tidak akan menceritakan hal yang tak pasti kepadamu karena kau pasti akan mengejekku. Aish….jinjja!”, Ji Eun mengacak rambutnya sendiri.

“Joha, aku suka kau yang seperti itu. Menceritakan hal yang sebenarnya, bukan bergosip hal yang tak tentu. Ye..ye…cepat antarkan aku pulang! Aku tak sabar menunggu kabar seseorang yang mungkin akan bahagia atau bahkan akan kecewa”, Suzy tertawa mengejek sahabatnya.

“Ya…!!”, Geram Ji Eun.

Ji Eun melajukan mobilnya dan mengantarkan Suzy ke rumah sewanya.

# # #

“Minho-ya, kenapa Suzy tidak pernah berkunjung ke sini lagi? Kau ada masalah dengannya”, Tanya Minho umma ketika sedang makan bersama di ruang keluarga.

“Masalah? Ani. Mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaanya yang lain.”, jawab Minho sekenanya sambil menyatap makanannya.

“Kau tahu, Suzy itu gadis yang baik, manis dan neomu yeppeo. Bahkan umma sudah menganggapnya seperti anak sendiri.”

“Umma!”, Minho menghentikan makannya. “Bagaimana bisa umma mengatakan seperti itu di depan anak umma yang paling tampan ini, aish..jinjja!”, kali ini Minho terlihat manja.

Minho mencoba tak menggubris apa kata ummanya. Apa harus dia mengatakan kalau dirinya dan Suzy sudah tak ada hubungan lagi? Padahal ummanya sudah menganggap Suzy seperti anaknya sendiri bahkan sepertinya lebih menyayangi Suzy daripada dirinya.

“Do…bagaimana kau bersikap seperti itu padahal usiamu sudah 17 tahun Minho-ya. Kau masih berhubungan baik kan dengan Suzy?”

Akhirnya pertanyaan yang “ditunggu-tunggunya” terlontar dari mulut ummanya itu.

“Mwo? Ah..ye..gwenchana umma, aku dan Suzy masih saling menyayangi!”, jawab Minho terlihat gugup. “Sepertinya dia akan datang nanti sore!”

“Jeongmal? Joha, kabari umma kalau dia akan ke sini. Umma akan membuatkan roti bakar keju kesukaanya.”, Minho umma beranjak pergi ke dapur.

“Hufh”, Minho bernafas lega.

# # #

“Jeogiyo,,,!”, Suzy mengetuk pintu dari sebuah rumah besar milik keluarga Choi.

Seseorang yang tak asing lagi membukakan pintu untuk Suzy. “Ah…agassi, oraemaniyeyo (lama tak berjumpa), sudah hampir 3 bulan anda tidak datang kesini.”, Min Tae ajumma, pembantu di rumah Minho.

“Ah ye ajumma, Annyeong Hasimnika?”, Suzy berusaha menenangkan dirinya yang terlihat agak gugup. Eotteohke….aku sangat gugup.

“Silahkan masuk, Agassi !”

“Nuguya?”, teriakan dari dalam dan itu pasti suara Minho omoni.

“Bae Suzy-ssi!”,jawab Min Tae ajumma.

“Nugu? Suzy-ya, wasseo?”, Minho omoni tiba-tiba keluar dari ruang keluarga

“Aigoo…Suzy-ya, kemana saja dirimu? Kau tahu, keluarga di sini sangat rindu padamu? Omoni sudah membuatkanmu roti bakar keju kesukaanmu, ayo duduk!”

“Jinjjayo? Ahh..Kamsahamnida omonim! Mianheyo, saya terlalu menyibukkan diri dengan tugas-tugas sampai tidak sempat untuk datang ke rumah ini menemui omoni”, Suzy mencoba bersikap manis. “Saya akan lebih memperhatikanmu mulai saat ini, omoni!”

“Suzy-ya, bagaimana kau bisa menyebut rumah ini untuk rumahmu sendiri? Uri Minho sudah mengatakannya, kau akhir-akhir ini terlihat sibuk. Sampai-sampai saat uri Minho masuk rumah sakit seminggu yang lalu, dia tidak mengijinkanku untuk menghubungimu”

“Minho-ya? Masuk rumah sakit?”, Suzy terkejut.

“Umma.., keju yang di kulkas ada dimana?”, tanya Minho yang baru sadar kalau ternyata Suzy sudah datang. “Wasseo? Ayo kita ke gazebo belakang! Aku butuh bantuanmu untuk mengerjakan tugasku.”, Minho menarik tangan Suzy menuju gazebo belakang rumahnya.

“Minho-ya jangan kasar-kasar menariknya!”, Minho Umma hanya tersenyum melihat tingkah keduanya. “Suzy-ya rotimu akan umma antarkan nanti.”

“Ye omoni, kamsahamnida.”

# # #

“Appo! Genggamanmu kuat sekali, Choi Minho-ssi! Membuatku hampir tak bisa bernafas.”, Suzy mengelus tangannya yang habis ditarik Minho kuat.

“Mianhe!”

Keduanya saling diam. Tak ada yang bersuara sama sekali. Entah apa yang mereka berdua pikirkan, apakah mencoba mengenang kisah mereka, atau menyesal dengan pertemuan ini.

“Hmm….”, keduanya saling bersamaan

“Kau saja dulu”, ujar Minho.

“Kita mulai  saja wawancaranya, aku tidak punya banyak waktu!”

“Kau tak punya banyak waktu tapi kau meminta dibuatkan roti bakar!”, goda Minho tersenyum mengejek.

“Dan kau harus tahu, bukan aku yang memintanya.”, cela Suzy. “Ayo kita mulai saja! Biar aku bisa cepat meninggalkan seseorang yang menyebalkan di sini”

Keduanya tak seakrab dulu, semuanya berjalan dengan kondisi yang berbeda dari yang pernah terjadi diantara mereka. Agak kaku dan tak bersahabat.

Suzy membuka tasnya dan merogoh alat perekam yang sudah dibawanya dari rumah. Dan juga membuka kertas, tentang bahan yang akan ditanyakan ke Minho.

Waktu 20 menit cukup kiranya untuk Bae Suzy mewawancarai Choi Minho. Ingin rasanya, Suzy cepat-cepat meninggalkan rumah Minho dan menghentikan detakan jantungnya yang masih merasakan getaran yang ada terhadap orang yang ada di depannya itu.

Minho omoni  membawa roti bakar buatannya. “Ini rotinya, makanlah kau pasti suka Suzy-ya. Dan kau Minho, jangan mengganggunya!”

“Omoni, harusnya jangan merepotkan dirimu seperti ini!”, Suzy sedikit merasa canggung dengan suasana yang ada.

“Wae? Untuk anakku sendiri, tidak ada kata merepotkan. Kau jangan membuat dirimu canggung dalam keluarga ini. Kau tahu Minho adalah anak kesayanganku dan dia benar-benar menyukaimu. Jadi kau juga akan menjadi anak kesayanganku”, Minho omoni tersenyum lembut.

“Umma, kenapa berbicara seperti itu? Suzy tidak akan merasa nyaman dengan hal itu”, kenapa ummanya itu harus berbicara seperti itu. Dan membuat wajahnya memerah karena malu.

“Geurae, umma akan masuk ke dapur dulu. Banyak yang harus dilakukan di sana. Kalian berdua, bicaralah dengan nyaman”

“Ye omoni, gomapseumnida”, Suzy tersenyum.

“Kau harus memakannya, karena umma membuatnya hanya untukmu”, Minho menatap wajah yeoja cantik di hadapannya.

Tanpa memperdulikan Minho, Suzy mengambil potongan roti keju di depannya. Selesai melahap satu potongan roti keju, Suzy pamit untuk pulang.

“Aku harus cepat pulang”, Suzy beranjak dari tempat duduknya.

“Suzy-ya !”, Minho menarik tangan Suzy. “Bisakah kau sempatkan waktumu sebentar saja untukku?”,pintanya.

Suzy menarik tanganya cepat. “Aku harus pulang Minho-ssi, banyak yang harus aku kerjakan”

“Jebal Bae Suzy, kau mau menemaniku pergi kan malam ini saja, aku rindu masa-masa dulu bersamamu, setelah itu aku berjanji tak akan mengganggumu lagi!”, matanya menatap Suzy nanar.

“Masa-masa dulu? Kau berharap aku masih mengingatnya setelah kau mencampakanku begitu saja?”, mata Suzy pun mulai berkaca-kaca. Namun ia harus menahannya.

“Sulit bagiku untuk menceritakan semua padamu. Tapi nanti, kau akan mengerti apa yang aku maksud!”

“Kau mau menceritakan atau tidak, bukan kewajibanku untuk mendengarkanmu. Menurutku semua sudah berakhir. Kau dengan hidupmu yang sekarang ini. Dan aku dengan hidupku yang sangat bahagia sekarang. Kanta!”, kaki Suzy baru saja menuruni gazebo, Minho menarik tangannya untuk yang kedua kalinya.

“Aku mohon Suzy-ya! Hanya untuk malam ini saja, selebihnya aku akan melepaskanmu dan aku tidak akan mengganggumu.”, suara Minho terisak.

What? Minho menangis? Baru kali ini, Suzy melihat Minho berurai air mata. Yah, Minho yang kapten basket, Choi Minho yang dipuja-puja kaum hawa di sekolahnya, Minho yang selama menjalin hubungan dengannya tidak pernah menangis, kini sedang berlinang air mata di hadapannya.

“Aku tunggu kau di luar. Jangan telat keluar jika kau tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ku berikan ini!”, Suzy meninggalkan Minho.

Jujur saja sampai saat ini Suzy masih menyimpan hati untuk Minho, namun dirinya selalu berusaha untuk melupakan semuanya, ya…semua tentang Choi Minho. Teringat kisah 3 bulan lalu yang sangat menyakitkan. Satu  tahun menjalin hubungan, ternyata Minho lebih memilih Sulli yang baru dua bulan dikenalnya dan mencampakkanya begitu saja.

“Kau harus memilih Minho-ya! Aku atau dirinya?”, saat itu Suzy menangis seperti orang bodoh.

“Mianhe Suzy-ya! Aku tak bisa pergi bersamamu.”, Minho meninggalkannya di taman dalam keadaan hujan yang sangat deras.

Semenjak itu, Suzy selalu merasa dirinya paling bodoh, selalu mengurung diri di kamar dengan selalu berurai air mata tanpa henti, hidup jadi tak bersemangat, semua begitu gelap tanpa Choi Minho yang terakhir ini menjadi sinar hatinya. Tapi semua bisa kembali seperti semula selang beberapa bulan, Suzy yang cerewet, bawel dan iseng berkat sahabat tercintanya, Lee Ji Eun yang jadi ikut andil jadi penyemangat Suzy untuk bisa menjadi Bae Suzy kembali.

“Umma, aku pergi dulu!”, pamit Minho pada ummanya yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.

“Kau akan pergi mengantar Suzy? Kau harus hati-hati mengemudikan mobilnya. Ara?”

“Ara.”

“Untuk rotinya, gomawoyo omoni. Aku menikmatinya! Aku harus pulang dan aku akan mengunjungimu kembali nanti”, senyum Suzy merekah seolah tak terjadi apa-apa.

“Kau harus ingat, pintu rumah kami akan selalu terbuka untukmu.”, ujar Minho omoni

Suzy membungkukkan badanya.

Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Minho melajukan mobil menembus dinginnya malam ini. Malam ini, tempat yang ingin ditujunya adalah tempat kencan mereka untuk pertama kalinya di tanggal 10 September 2011. Sekitar 20 menit, sampailah mereka di sana, sebuah taman yang tak begitu ramai, tapi begitu nyaman untuk mereka berdua.

Minho menarik tangan Suzy untuk duduk di sampingnya. “Kau ingat tempat ini?”, tanya Minho pelan.

Suzy tak menjawab. Bagaimana bisa aku melupakannya? Tempat yang menjadikan kau orang yang masih ada di hatiku sampai saat ini.

“Kau ingat atau tidak, semua yang terjadi di sini begitu berharga buatku. Kau harus tahu sampai saat ini aku tidak bisa menggantikan seseorang yang ada di sampingku dengan orang lain.”

Suasana hening, Suzy tak berbicara sepatah kata pun untuk menanggapi ucapan Minho.

“Foto-foto kita masih tersimpan rapi di album foto di kamarku, dan aku akan melihatnya saat aku merindukanmu dan kenangan itu akan selalu hadir menemani hari-hariku, mianhe Suzy-ya, aku tidak bisa menjagamu dengan baik.”

“Bisa kau antar aku pulang sekarang? Seorang gadis tak akan baik dipandang jika dia kembali ke rumah saat larut malam.”, Suzy mencoba tak menghiraukan Minho dan mengalihkan pembicaraan.

“Gomawo, untuk semua yang telah kau lakukan!”

“Bisakah kau berpura-pura bersikap bahwa diantara kita tidak pernah terjadi apapun? Kau harus ingat siapa yang mengakhiri dan aku tidak ada keinginan untuk memulainya kembali. Sekarang aku sudah menemukan kebahagianku tanpamu dan aku berharap orang yang saat ini berada tepat disampingku tidak tergerak untuk mencoba menyakitiku dengan mengulang-ulang cerita lalu yang tidak ada artinya.” Mianhe Minho-ya.

“Obsseo? Kau memang benar, semua tidak ada artinya. Aku berharap kau hidup dengan baik sekarang tanpa harus memasukkanmu di kehidupanku jauh lebih dalam. Kau mau aku antar sekarang?”

“Apa yang kau maksud dengan kata-katamu itu, Minho-ya?

“Tidak ada maksudnya. Hiduplah dengan baik mulai detik ini!”, jawab Minho datar. “Aku akan memelukmu sekarang, semoga di masa depan kau menjadi wanita yang bahagia.”

Tanpa menunggu jawaban Suzy, Minho seketika memeluk tubuh Suzy erat, seakan tak ingin Suzy pergi jauh darinya, seakan malam ini adalah malam terakhir dirinya bisa melihat gadis cantik di hadapanya. Suzy tak membalas pelukan Minho, namun dia juga tak menolak pelukan erat Minho. Karena seperti janjinya, Minho tidak akan menemuinya lagi di hari selanjutnya. Walaupun sebenarnya rasa sayang itu masih ada untuk Minho yang mungkin tak akan bisa digantikan oleh orang lain, tapi Suzy lebih memilih untuk menahan rasa itu. Hatinya menangis, air matanya mengalir walau hanya setetes, sebenarnya ia pun tak mau malam ini berakhir. Saranghae Minho-ya, joengmal saranghae.

# # #

TBC

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

27 thoughts on “My Friend Is My Love [1.3]”

    1. maksih buat yg udah baca to nunadk, youngie, mickey n hyora!! seru ga ya? kita liat aja deh ntar gmn akhirnya. diikuti trus yaa….!^_^
      iya nih ngliat Minzy di music core kyknyaa cocok yah..haha
      ada hubungan apa ya minho ma sulli?
      minho pnya pnykit? mw prgi? da yg disembunyiin? entahlah…hehe.

  1. Kata2nya minho kok kayak gitu sih, apa jangan2 minho sakit, makanya dia bilang kyk gitu ke suzy?
    Flsh back hubungannya suzy-minho sama minho-sulli dong thor.. Hehe..
    Ditunguu next partnya..

  2. hyaaaaaaaaa ini ff apaan?? #ditampol authornya
    ceritanya bagus, karena minta saran dan dikitik-kitik, saya hanya bisa kasi saran karena g bs ngekitik2 authornya, apa daya laut yang memisahkan. tempat kejadian kalo bs dikasi keterangan di awal, meskipun itu pager 3 lumayan membantu # # # tapi berasa cape nya, kyak abis lari keliling stadion manahan lompat pager . Penulisan banyak yang masih belum tepat sasaran ex: kata di u/ tempat itu dipisah,(efek kebanyakan nyorat nyoret kti)
    segitu ajah, karena saya g bs buat epep bisanya hanya baca jadi harap maklum kalo terlalu bawell# kabur author ngasah pisau
    salam bawell. .

  3. hahhaaa..iya saran di terima bawell ahjumma…
    ya namanya msih latihan bkin epep…hahaha
    mkasih udah mampiiirr juumm,,tunggu episode slnjtnya yaaah……

  4. hmm,,,,,mau kemana yaaa??? author juga bingung soalnya minho ga ngomong ke authornya….hehhehe
    mksih udah baca ya chingu…dinanti trus lnjutannya.. ^_^

  5. huaaaaa nyesek nya bca ff ini….aq bingung msh mau.dkung minzy atau gk stlh tau minho ngduain suzy….next part please…fighting

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s