My Life is Pain [2.2]

­My Life is Pain [2 of 2]

Author             : adinary

Main Cast        : Han Hyejin – Lee Taemin

Length             : Two shoots

Genre              : Sad – Fantasy

Rating              : General

Summary         : “Kau takkan pernah bisa menyesali takdir tapi hanya bisa menjalani takdir. Memposisikan takdir itu menjadi yang terbaik untukmu. Meski terasa menyakitkan.” – Han Hyejin.

A.N                  : Ini part 2nya~ ini yang ada di otak author pas nonton MV SHINee yang For 1000 Years Always Be By My Side ^-^v sebenernya yang nyambung di ff ini sama MVnya itu cuma……kucing garong /hening/ Rekomendasi musiknya sih yang sedih-sedih aja. Feelnya lebih dapet kalau berupa instrument sedih :p

Maaf atas segala keanehan cerita beserta ke-typo-annya.

DILARANG COPAS! ATAU MEMPLAGIATI FF INI HAHAHAHA

Selamat membaca *wink*

Part sebelumnya….

“Lihat aku di hadapanmu.”

“Siap- Hitam, kau dimana?”

Hyejin menoleh kesana kemari mencari kucingnya.

“Disampingmu.”

Hyejin menoleh ke samping kirinya. “YA! Kau siapa?!”

Seorang laki-laki berpakaian serba hitam dengan kalung berbandulkan sebuah jam jadul berukuran kecil.

“Kucingmu.”

“MWO???”

Taemin pov

Hyejin tercengang begitu aku bilang bahwa aku adalah kucingnya, si Hitam. Aku tahu ini pasti akan terjadi. Sebenarnya aku tidak tega muncul disaat ia sedang sangat drop seperti ini. Tapi kalau tidak sekarang, harus kapan aku muncul. Sebentar, apa dia tidak mengenaliku?

Hyejin menggelengkan kepalanya. “Aku pasti mimpi, aku pasti mimpi.” Lalu ia menepuk-nepuk kedua pipinya.

“Kau tidak bermimpi. Aku memang kucingmu. Lee Taemin.” Aku menyodorkan tangan padanya, “apa kau tak ingat aku?”

Hyejin memandangku dan mengangguk. “Tapi….Kau….”

Aku kembali melipat kedua tanganku di depan dada. “Ya, aku Lee Taemin. Kakak dari temanmu, Lee Yunji. Dan aku sudah meninggal.”

“Ya Tuhan, apa rumah sakit ini banyak hantu?”

Kurasa Hyejin bertanya pada dirinya sendiri. Aku pun duduk di ranjangnya. “Aku tahu kau bingung. Aku akan bercerita singkat. Jadi perhatikan dengan benar, ne?”

Dia hanya diam dan kuanggap dia setuju.

“Waktumu di dunia ini tinggal 3 hari dari sekarang. Dan aku yang akan membawa nyawamu ke dunia yang lain. Jelas?”

Lagi-lagi dia hanya diam dan kuanggap itu sebagai jawaban ‘tidak jelas, Taemin.’

“Baiklah. Singkatnya, kau akan meninggal 3 hari lagi. Dan jangan pernah berpikir kalau aku mengada-ngada. Untuk apa selama ini aku menjadi kucing peliharaanmu kalau bukan untuk mencari waktu yang tepat untuk memberitahumu.”

“Ne, arraseo.”

Sudah kuduga wajahnya akan sangat menyedihkan seperti ini. Aku hanya bisa ikut menunduk memandangi lantai rumah sakit ini.

“Kenapa kau tidak membawa nyawaku sekarang saja?”

Aku terhenyak mendengar pertanyaannya. “Mwo?” Ia menangis.

“Sejak aku kecil, aku hanya mempunyai ibu. Aku tahu aku mempunyai seorang ayah. Tapi dia pergi dari samping kami. Aku dan ibu tak pernah bisa berharap tinggi. Kami hanya berpikir bagaimana caranya mendapat uang untuk hidup sampai ajal menjemput nanti. Setahun yang lalu, penderitaan ibu berakhir dan sekarang aku yang harus menanggung diriku sendiri. Berhenti sekolah, bekerja menjadi buruh, kasir…..dan lainnya. Apapun akan aku kerjakan. Sampai ternyata aku juga mengidap penyakit bodoh ini. Penyakit bodoh yang juga menjadi penyebab ibu meninggal.”

Mendengar semua itu, aku menggigit bibir bawahku, ikut merasa sakit hati. Aku mendengar helaan napas Hyejin.

“Lalu…”

Ia tak melanjutkan kata-katanya. Aku pun menatapnya. “Lalu apa?”

“Lalu kenapa aku harus menunggu 3 hari lagi untuk menyudahi hidupku yang menyedihkan?”

Aku menghembuskan napasku lalu menyunggingkan senyum kecil. “Saat kau dijemput dan diberi kesempatan 3 hari. Kau meminta ingin segera mati. Kau tahu? Dulu aku mati-matian meminta untuk tetap hidup walaupun kehidupanku juga biasa-biasa saja. Yang pasti, aku ingin membahagiakan orangtuaku dan Yunji. Tapi ternyata takdir berkata lain. Sembuh dari penyakitku, aku kecelakaan dan langsung tewas. Mengenaskan, bukan?”

“Kehidupan kita berbeda.”

“Sebagai sahabat Yunji setidaknya kau tahu bagaimana kehidupan kami.”

Dia menunduk. Aku tahu dia tahu banyak tentang keluargaku.

“Kau benar-benar tak punya permintaan sebelum meninggalkan dunia ini?” Tanyaku dengan nada sedikit meledek, “hidupmu benar-benar-“

“Menyedihkan. Aku tahu itu. Kau tak perlu memberitahuku.” Potongnya.

“Baiklah, baiklah. 1 hal yang perlu kau catat. Hanya kau yang bisa melihatku, arra?”

“Ne.”

Author pov

Tengah malam pun tiba dan Taemin mendengar suara isakan yang ia yakini suara itu milik Hyejin. Taemin pun menghampiri Hyejin. “Kau menangis?”

Hyejin langsung bangkit untuk duduk dengan air mata yang terus mengalir lalu memegang tangan Taemin. “Aku mohon. Pertemukan aku dengan ayahku sebelum aku meninggal.”

Taemin mengangkat tangannya yang lain secara perlahan untuk menghapus air mata Hyejin. “Ne.”

~~~

Keesokan harinya….

Hyejin bersikeras meminta untuk pulang dari rumah sakit. Ia membayar rumah sakit dengan uang dari kantor. Ia pun keluar dari gedung rumah sakit tersebut.

“Paman pulang saja. Aku bisa pulang sendiri.” Ucap Hyejin sambil tersenyum.

“Baiklah. Paman pergi, annyeong.”

Hyejin melambaikan tangannya pada rekan kerjanya itu. Hyejin pun berjalan menuju rumahnya.

“Kau tidak naik bus?” Tanya Taemin.

“Hemat.”

“Hyejin-ah!!!” Terdengar suara Sunmi dan Yunji. Hyejin langsung mendongak dan tersenyum sambil melambaikan tangan melihat kedua sahabatnya itu berlarian kerahnya.

“Ya! Kau baru saja dirawat di rumah sakit???” Tanya Sunmi saat melihat perban bekas infus di punggung tangan Hyejin.

“Kenapa kau tidak memberitahu kami?? Kalau kami tahu kami akan setia mengurusmu di rumah sakit!! Kau sakit apa? Apa parah? AH! Aku tahu! Pasti vertigo! Sudah kubilang kau jangan terlalu lelah! Kau ini bagaimana, sih!” Omel Yunji.

“Yayaya, kalian tidak lihat aku sudah sehat kembali? Jadi tidak perlu khawatir.” Senyum Hyejin, “kalian mau pergi kemana? Itu bunga untuk siapa?”

“Aku akan mengunjungi makam Taemin oppa.” Jawab Yunji.

Hyejin terdiam sejenak dan menoleh ke arah Taemin yang sedari tadi memandangi dengan sedih adiknya, Yunji.

“Kalau begitu aku harus ikut.” Ucap Hyejin.

Taemin iku berjongkok dengan ketiga sahabat itu. Ia memandangi makamnya sendiri. Ia memandangi adiknya yang menangis. Ia mencoba menyentuh adiknya walau ia tahu adiknya tidak bisa merasakan sentuhannya. Taemin mengelus rambut adiknya yang sedang menangis. Rasanya ia ingin hidup kembali. Memeluk adik satu-satunya dan bertemu kedua orangtuanya.

~~~

“Kau mau kemana?” tanya Taemin saat melihat Hyejin memakai baju kerjanya.

“Bekerja.”

“Di pom bensin?”

“Dimana lagi? Bukankah selama ini kau menjadi kucingku dan mengikutiku kemanapun aku pegi?”

“Kau kan baru keluar dari rumah sakit. Jadi kenapa tidak tidur saja? Kau harusnya beristirahat.”

“Agar vertigoku tidak kambuh? Huh, kau ini. Bukankah sebentar lagi aku mati? Untuk apa aku istirahat agar sehat.”

“Terserah, terserah.” Akhirnya Taemin pun menyerah dan membuntuti Hyejin lagi seperti saat ia menjadi kucing.

~~~

Jam 12 malam, akhirnya jam kerja Hyejin selesai. Hyejin berjalan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya.

“Kau….pasti sedih melihat Yunji tadi.”

“Sangat.” Ucap Taemin dengan cepat.

“Tapi disekolah dia anak yang sangat periang. Tenang saja. Sekarang, keluarga kalian juga membaik. Lee ahjussi naik jabatan, kau sudah tahu?”

“Jinjja? Ah, akhirnya appa naik jabatan juga. Kuharap jabatannya yang sekarang tidak membuat ia terlalu lelah seperti dulu.”

“Benar kan apa aku bilang, kau tahu banyak tentang keluargaku.” Lanjut Taemin.

Hyejin tertawa kecil tapi kemudian rasa pusing itu kembali menghampiri Hyejin.

“Wae? Kau pusing? Sudah kubilang jangan bekerja!”

“Sudahlah. Hanya tinggal menghitung jam, aku akan mati, bukan?”

“Kata-katamu itu benar-benar menyebalkan!”

Taemin berjalan dengan cepat meninggalkan Hyejin karena sebal. “Percepat jalanmu dan istirahat atau aku takkan pernah mempertemukan kau dan ayahmu!!” Teriak Taemin.

~~~

“Hari ini kau bolos kerja.” Perintah Taemin.

“Wae?”

“Kau mau hari terakhirmu diisi oleh pekerjaan? Kau itu butuh sedikit hiburan. Kita makan ice cream yang kau mau itu lalu jalan-jalan. Kau tahu? Selama menjadi kucingmu aku juga hanya mengikuti kemanapun kau bekerja.”

Mereka berdua pun berjalan sambil bercanda. Taemin terus menggoda  Hyejin.

“Ya! Orang lain tak bisa melihatmu, jadi jangan mengajakku bercanda atau aku akan disangka orang gila.”

“Itu tokonya!” Ucap Taemin tanpa memperdulikan omelan Hyejin.

Hyejin pun memakan ice creamnya dengan hati yang senang sekaligus sedih. Ia duduk di taman yang sepi ini bersama Taemin.

“Eomma, akhirnya aku memakan ice cream ini. Harusnya eomma juga bisa mencobanya.”

Hyejin menangis sambil memakan ice creamnya. Baru di hari terakhirnya ia bisa memakan ice creamnya itu. Bukankah itu menyedihkan?

Taemin mencoba mengelus kepala Hyejin. “Sudahlah, kau jangan menagis lagi.”

Namun tiba-tiba ice cream yang di pegang Hyejin terjatuh. Rasa pusing itu kembali menyerang kepala Hyejin. Ribuan jarum dan pisau itu kembali menyerang kepala Hyejin. Hyejin mulai mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya.

“Eomma, sakit…”

Dunia ini berputar lagi dimata Hyejin. Ia mencoba menarik napasnya berharap sakitnya berkurang, tapi malah darah yang keluar dari hidungnya. Ia mencoba menghapus darah itu sebelum ada orang lain yang melihatnya. Ia berusaha mencari Taemin, tapi semua yang ia lihat seolah berputar. Ia hanya bisa merasakan tangan dingin Taemin menyentuh dan meremas sebelah pundaknya seolah memberi sinyal untuk Hyejin agar bertahan.

Taemin memandang  Hyejin dengan iba. Ia tak bisa berbuat banyak selain membuat orang-orang datang untuk membawa Hyejin ke rumah sakit.

Hyejin tak sadarkan diri saat tiba di rumah sakit. Taemin duduk di ranjang Hyejin. Ia mengelus pelan pipi Hyejin. “Kau wanita yang kuat.”

Taemin menyentuh poni Hyejin. “Kau wanita yang hebat. Dengan semua cobaan ini kau tetap bersyukur dan menjalani hidupmu.”

Taemin memandangi Hyejin lagi. Semakin lama Taemin semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Hyejin. Lalu ia mengecup bibir Hyejin. “Saranghae.”

~~~

Taemin menunggu sebuah mobil melintas di sebuah perempatan jalan dengan baju serba hitamnya. Ia memperhatikan sebuah mobil sedan hitam yang sebentar lagi akan melintas di hadapannya. Taemin memandang lurus ke depan saat mobil tersebut melintas tepat dihadapannya.

Brakkk!!!

Tiba-tiba mobil itu menabrak sebuah tiang dan pengemudinya tak sadarkan diri lalu dibawa ke rumah sakit. Rumah sakit yang sama dengan Hyejin.

~~~

“Waktuku tinggal berapa jam lagi?” Tanya Hyejin saat melihat Taemin sudah ada disampingnya.

“2 jam lagi.”

“Kalau begitu, apa aku boleh duduk-duduk di taman rumah sakit?”

“Silakan.”

“Ya, kenapa kau jadi dingin seperti ini?”

“Aku hanya….hanya sedih. Aku sedih melihatmu.”

Hyejin terkekeh. “Kau berlebihan.” Hyejin pun bangkit dari duduknya dan berjalan perlahan.

Hyejin berjalan lemah sambil membawa kantung cairannya. Kepalanya masih terasa pusing. Tapi ia tetap ingin diam di taman. Hyejin merasakan sesuatu keluar dari hidungnya. Hyejin segera menghapus darah itu dengan punggung tangannya. Wajahnya pucat dengan keringat dingin bercucuran di dahinya.

Blukkk

“Ah!!” Pekik Hyejin.

Taemin terkejut saat Hyejin jatuh tepat disebuah kamar inap orang lain. Ia pun berjongkok untuk membantu Hyejin sampai seorang anak kecil membuka pintu tersebut.

“Noona cantik?”

~~~

Seorang laki-laki berumur terkejut memandang seorang wanita yang sedang mimisan masuk ke dalam ruang rawatnya. Tapi yang laki-laki itu tatap adalah gelang di pergelangan wanita itu. Wanita itu pun dipersilakan duduk untuk sekedar beristirahat oleh seorang wanita berumur yang tidak lain adalah ibu dari anak laki-laki tadi.

Akhirnya Hyejin bertemu pandang dengan laki-laki itu. Tapi Hyejin tak sadar sama sekali.

“Kau sakit apa, gadis manis?” Tanya Laki-laki berumur itu.

“Aku vertigo dan sudah parah, paman.”

“Maaf kalau aku lancang. Tapi apa gelang itu benar milikmu?”

Hyejin melihat gelangnya. “Ne, ini pemberian ayahku.”

Laki-laki itu terhenyak. “Berapa usiamu?”

“Sebentar lagi 18 tahun, paman. Memang kenapa?”

“Ah tidak. Emm, apa eommamu bernama Shin Hye Rin?”

“Ne? Ah, kau mengenal ibuku? Benar, itu nama ibuku.”

Tiba-tiba laki-laki itu menangis. “Kau….kau tidak mengenal aku?”

“Maaf, paman. Tapi kita kan baru bertemu sekarang. Apa aku mengenal paman sebelumnya?”

“Kemarilah, nak.”

Hyejin pun berjalan lemah menghampiri laki-laki itu.

Laki-laki itu memeluk Hyejin dengan erat. “Aku….aku….aku Han Young Bae, appamu.” Laki-laki itu lalu menangis.

Hyejin terdiam. Rasanya tubuhnya kaku seketika. Laki-laki ini? Han Youngbae? Ayahnya?

“Maafkan appa. Mianhae appa meninggalkan kau dan eommamu. Mianhae, jeongmal mianhae. Maafkan appa karena tidak pernah mencarimu, maaf appa menelantarkanmu sampai kau mengidap penyakit parah ini, maaf.” Ayah Hyejin menangis sejadi-jadinya.

“Paman, a…appa…ku?”

“Ne, aku appamu, nak.”

“A….ppa. Appa…” Hyejin menangis sejadi-jadinya sambil memanggil ayahnya. “Appa…akhirnya aku bertemu appa…aku sangat merindukan appa….”

“Appa juga, nak.”

“Appa……eomma sudah meninggal setahun yang lalu hiks hiks dan…dan aku tinggal sendirian selama ini. Appa, aku….aku sudah tidak sekolah sekarang dan…”

“…aku akan pergi,” Bisik Hyejin dalam hati, “aku merindukanmu.”

Mendengar itu hati ayahnya terasa seperti tersayat sebuah pisau. Ternyata selama ini keluarga yang ia tinggalkan begitu menderita. “Mianhae…”

“Hyejin-ah….” Lirih Taemin sambil menunjuk jamnya yang sedang ia pegang.

Hyejin mengangguk kecil dan melepaskan pelukannya. Ia kembali mimisan dan ayahnya menghapus darah itu. “Appa, aku harus kembali ke kamar dulu. Nanti aku akan kesini lagi. Tunggulah. Appa, cepatlah sembuh. Aku dan eomma selalu mencintai appa.”

Ayahnya hanya mengangguk. “Cepatlah kembali lagi kesini.”

Hyejin pun mengangguk dan keluar dari kamar ayahnya bersama Taemin.

~~~

Hyejin merebahkan tubuhnya di ranjang rumah sakit itu lagi. “Berapa lama lagi?”

“5 menit lagi.”

“Oppa, apa mati itu sakit?”

“Kau tinggal menutup matamu lalu serahkan padaku.”

“Untuk terakhir kalinya aku memakai badan ini dan gelang ini.”

Taemin hanya menunduk mendengar Hyejin berkata seperti itu. “3 menit lagi.”

Hyejin bangkit dan mengambil secarik kertas lalu menulis sebuah surat. Menyimpannya di meja kamar inapnya beserta gelang dan foto keluarga Hyejin yang selalu ia bawa di dompet. Di surat itu tertulis “Untuk Appa, Han Youngbae di kamar VIP 18.”

Hyejin kembali merebahkan tubuhnya. “Apa sudah waktunya?”

Taemin mengangguk kecil. Wajahnya terlihat sangat sedih. “Tutup matamu dan bersiaplah.”

Taemin menutup matanya dan mengepal salah satu tangannya tepat dimana hatinya terletak. Ia menghirup udah dalam-dalam dan sebuah cahaya emas muncul dari kepalan tangan Taemin.

Akhirnya Hyejin terbangun. Terpisah dari tubuh manusianya. Nyawa Hyejin berjalan ke samping Taemin dan ia melihat tubuhnya sendiri tergeletak di ranjang rumah sakit tanpa nyawa. Mereka berdua menoleh saat seorang suster masuk ke kamar Hyejin dan panik saat mengetahui tubuh Hyejin tak bernyawa. Ada sedikit keributan terjadi di kamar Hyejin. Dokter berulang kali memeriksa tubuh Hyejin. Namun Hyejin memang benar-benar sudah keluar dari tubuhnya.

Taemin menoleh ke arah Hyejin yang terus memandangi tubuhnya yang kini sudah ditutup selimut. Mereka memperhatikan seorang suster yang menemukan surat Hyejin. Suster itu lalu keluar dari kamar Hyejin menuju kamar ayah Hyejin.

Hyejin dan Taemin mengikuti suster itu. Hati Hyejin sakit saat melihat reaksi ayahnya ketika ia tahu anaknya sudah tidak ada.

Dengan berlumuran air mata dan dibantu istrinya, ayah Hyejin berusaha berjalan untuk melihat  mayat anaknya.

“Hyejin…” Ayahnya memanggil nama Hyejin sambil menangis dan memeluk mayat Hyejin.

Hyejin juga ikut menangis. Taemin pun merangkul pundak Hyejin dan mengelusnya.

“Appa, ingat foto ini? kekeke. Ini saat aku berumur 2 tahun, bukan?

Aku tampak lucu, kan?^-^

Cantik seperti ibu, kekeke.

Appa, ini gelang pemberianmu dulu. Maaf aku hanya bisa memakainya sampai disini saja.

Oleh karena itu, aku kembalikan gelang ini padamu.

Ketika kau membaca surat ini, aku pasti sudah tidak ada.

Tapi appa jangan sedih, aku akan selalu ada di hati appa.

Berbahagialah. Jaga kesehatanmu, ne?

Salam untuk istrimu dan adik laki-lakiku yang tampan itu.

Bilang kalau noonanya yang cantik ini sayang padanya, kekeke ^-^

Han Hyejin

Epilog:

“Disana. Itu eommamu.” Ucap Taemin sambil menunjuk seseorang yang duduk disebuah bangku.

“Jinjja???”

Tanpa pikir panjang Hyejin langsung menghampiri wanita itu dan memeluknya. Wanita itu terlihat kaget. Tak lama ia juga memeluk anak satu-satunya itu.

“Apa aku boleh ikut berpelukan?” Tanya Taemin.

Spontan Hyejin dan ibunya pun tertawa.

THE END

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

12 thoughts on “My Life is Pain [2.2]”

  1. huee..
    Walaupun endingnya hyejin bahagia ketemu umma-nya..
    Tpi tetep aja aku nangis.. Momen youngbae-hyejin nyesek bgt..
    Keep writing, chingu..
    Ditunggu karya berikutnya..

  2. Endingnya entah bahagia atau sedih
    Soalnya aku nangis dan terisak
    Miris
    Beberapa jam sebelum ia pergi barulah papanya dan dia bertemu
    Menakutkan dan menegangkannya saat dia diberitahu setiap menit waktu perginya
    Tapi ending pada saat TaeMin, HyeJin dan HyeRin berpelukan sangat indah*terharu*

  3. tragis banget endingnya # lap ingus ,,eh tapi ceritanya daebakk lho thor^^ di tunggu karya karya berikutnya tentang taeminnie~~~

  4. hik sedih boo aku nangis nih untung besok masuk siang hikkk srooot…
    hua… makane om cari dari dulu kek anaknya ketemu pas diakhir hayat hidupnya nyesek kn om hans kok kaya nama pak rt-ku yah

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s