Two Little Brother

Two Little Brother

Author: Chanchan a.k.a Chandra Shinoda

Main Cast: 

  • Kim Hyora
  • Kim Jonghyun
  • Lee Jinki
  • Lee Taemin

Support Cast:

  • Kim Kibum
  • Kim Hyunri

Length: Oneshot

Genre: Horror, Crime, Humor (Just a little bit)

Rating: PG-15

Inspired by: Manga From The Other World Keinginan Dua Hantu Kecil

Original Story by: Kawaguchi Madoka

Disclaimer: I don’t own all SHINee members. They’re God’s. They belong to themselves and SMent. I’m just the owner of the story.

Annyeong! Fiuhh~ akhirnya aku comeback. Kali ini aku pemanasan dengan FF Oneshot dulu😛. FF ini aku angkat dari sebuah komik lawas karya Madoka Kawaguchi. Buat reader yang menyempatkan waktu buat baca FF ini, makasih banyak ya. Semoga kalian menikmatinya meskipun jalan ceritanya sederhana dan maaf kalau ada typo ‘_’v. Oh ya, unuk lanjutan FF TSTM sabar dulu ya.. Sekarang aku lagi sibuk-sibuknya *sok banget deh* dan ngerjain FF itu benar-benar perlu waktu yang nggak sedikit, jadi sabar ya.. Oke deh, sekian basa-basinya, Happy reading!!

***

Menjadi tokoh utama dalam cerita tak selalu membuatmu bahagia

Kadang di antara mereka ada yang mesti terbunuh atau tak diketahui keberadaannya

Ketika waktu mengirimkan dua malaikat padanya

Ia tahu suatu tantangan akan membawanya ke gerbang neraka

Sayangnya ia terlanjur terjebak dalam tiga pilihan dan tak bisa kembali

Menunggu sang pendengar suara hati, melawan atau mati!

***

Hyora meraih gagang pintu kamarnya. Suara decitan pelan terdengar ketika setengah bagian pintu terbuka diiringi langkah kakinya yang bergesek pelan di lantai. Hyora melempar tasnya sembarangan lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang empuk yang selalu menjadi pelampiasannya jika ia sedang kesal.  Pandangan gadis berusia 17 tahun itu mulai menerawang ke langit-langit. Dadanya kembang-kempis menahan kesal, omelan yang ia dapat dari guru kimianya masih membuat telinganya panas sampai sekarang. Reaksi redoks, pelajaran itu membuatnya pusing, dan pada dasarnya ia memang membenci kimia, jadi tak berminat untuk mempelajarinya.

Jujur ia lelah sekali hari ini. Perlahan kelopak matanya menutup, ia ingin memanfaatkan 2 jam untuk tidur siang sebelum mengerjakan tugas tambahan yang diberikan guru kimianya sebagai bonus omelannya, dan tentunya ia berharap hari ini tidak akan ada makhluk aneh yang seenaknya masuk ke kamarnya dan memberitahu berbagai hal yang terkadang membuatnya bingung sendiri.

“Hei, Noona, celana dalammu kelihatan!”

“Kyaaa!!” Hyora tersentak. Ia  segera bangkit dan memperbaiki posisi roknya yang sebatas lutut.

“Hahaha!” Tawa pemilik suara tadi membuat wajah Hyora memerah karena kesal. Ia melirik ke samping tempat tidurnya dan mendapati seorang bocah laki-laki yang mengenakan celana pendek dan baju kaos lengan panjang.

“Tembus pandang,” bisik Hyora sembari meyipitkan kelopak matanya. Ia mengamati bocah yang kira-kira berusia tak lebih dari 8 tahun itu dariujung ujung rambut sampai ujung kaki.

Yaa, Taemin-ah, di sini ada lebih banyak. Ada warna merah, putih, cokelat!” Suara bocah lain membuat Hyora berhenti memandang anak yang dipanggil Taemin tadi dan segera beralih melihat seorang bocah yang kepalanya menembus masuk ke dalam rak tempat ia menyimpan celana dalamnya.

Yaa, kau!” Hyora bergegas bangun hendak menangkap bocah itu, namun ia segera melesat ke arah bocah satunya.

Hyora mendesah pelan, ia menyibakkan rambutnya menahan emosi. Kenapa hari ini ia harus berhadapan dengan hantu anak kecil yang tidak tahu sopan santun seperti ini?!

“Jangan marah, Hyora Noona. Perkenalkan, aku Lee Jinki.” ucap anak yang barusan mengintip ke dalam rak celana dalamnya.

“Aku Lee Taemin.” Anak satunya lagi ikut memperkenalkan diri sambil memamerkan gigi susunya.

“Darimana kalian tahu namaku?” tanya Hyora, mimik wajahnya berubah bingung. Seingatnya ia tak pernah bertemu dengan kedua hantu ini sebelumnya.

“Payah, kau kan terkenal di kalangan hantu karena kemampuanmu yang dapat melihat makhluk halus. Bahkan di pulau tempat kami berasal pun banyak yang membicarakanmu dan si pemilik telinga neraka.” papar Taemin.

“Huh, begitu, ya?” Hyora mendesah pasrah. Memang benar ia memiliki kemampuan utuk melihat makhluk yang tak dapat dilihat orang lain, namun dengan kemampuan itu keinginannya sehari tanpa dikelilingi hantu hanyalah sebuah mimpi. Apalagi kali ini harus bersama dua bocah mesum.

“Hyora-ya, kenapa tak membukakan pintu untukku?”

“Eh? Jonghyun?” Hyora mendapati Jonghyun, namja chingu-nya, berdiri di depan pintu kamarnya. “Maaf, aku tidak mendengar kau mengetuk pintu.”

“Sudah kuduga kalian ke sini,” Jonghyun menunjuk Jinki dan Taemin. Ia melangkah masuk sambil mendesah pelan.

“Pemilik telinga neraka, kau masih marah karena kami mengacak-acak kamarmu tadi, ya?” Jinki memamerkan giginya di depan Jonghyun seolah mengejek.

“Ayolah, jangan suka marah, nanti kau di putus Hyora,” Taemin menimpali sambil menepuk-nepuk kepala Jonghyun. Tidak benar-benar menepuk, karena tubuhnya tak lebih dari gas yang menembus tubuh manusia.

Kini keduanya melayang-layang sambil mengitari tubuh Jonghyun, bersikeras merayu namja itu.

Aish, kalian ini?!”

“Ssst! Diamlah, ada yang datang.” ujar Hyora, membuat Jonghyun, Jinki, dan Taemin berhenti berdebat. Keempatnya membisu. Hyora menghadap ke jendela besar yang tengah terbuka di samping meja belajarnya. Udara dingin merasuk perlahan diiringi langkah kaki basah yang berjalan mendekat. Sekilas seperti di tengah hujan salju, suhu udara yang menurun membuat Jonghyun dan Hyora hampir menggigil.

“Sepertinya orang itu lagi,” bisik Jonghyun, membuat Jinki dan Taemin memandanginya tak mengerti.

Sosok pemilik langkah kaki itu mulai terlihat. Seorang wanita memakai dress bermotif bunga, beberapa bagiannya robek seperti di potong dengan benda tajam. Ia hanya mengenakan sebuah sepatu, sementara kaki yang satunya dipenuhi luka goresan. Wajahnya tampak pucat sambil meringis. Tak jelas apakah ia menangis atau tidak karena rambutnya tampak dibasahi air dan menetes ke wajah serta pakaiannya.

“Sama dengan kami, ya? Dia orang yang sudah mati.” kata Jinki. Kedua tangannya mengepal erat. Ia bisa merasakan emosi yang kuat dari roh wanita tadi.

“Ya, beberapa kali dia datang kemari. Tampaknya dia di bunuh.” ucap Jonghyun sambil memandangi wanita itu dengan alis mengerut.

 Hantu wanita tadi duduk bersimpuh. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Siapa pun pasti tahu kalau wanita itu sedang bersedih.

“Sakit!” rintihnya, tanpa ada yang tahu bagian mana yang maksudkan, atau mungkin rasa sakit yang ia maksud telah menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Dia dibunuh seorang laki-laki yang menaiki mobil van hitam,” celetuk Taemin tiba-tiba.

Hyora dan Jonghyun tersentak. Keduanya refleks menatap Taemin. Tubuh anak itu bergetar, tatapan matanya mengarah ke lantai, mencari-cari ingatatannya beberapa waktu silam.

“Kau tahu sesuatu, Taemin-ah?” Jinki mengguncang bahu Taemin. Ia heran, sejak kapan saudaranya bisa tahu? Selama ini kan mereka selalu bersama-sama?

“Kira-kira beberapa waktu lalu, saat itu hampir tengah malam. Aku dan Jinki sedang tidur di tepi jalan. Tiba-tiba saja aku terjaga. di seberang jalan aku melihat wanita itu dipukuli seorang laki-laki sampai pingsan lalu dimasukkan ke dalam mobil.” jelas Taemin, khas dengan tata bahasa sederhana layaknya anak SD.

“Kenapa waktu itu tidak membangunkanku?” Jinki meninju pundak Taemin. Ia merasa tidak adil karena Taemin seolah ingin menjadi pahlawan sendirian.

“Kau kan pasti marah kalau aku bangunkan tengah malam. Makanya kubiarkan saja.” Taemin membela diri. Ia hafal dengan persis sifat Jinki yang satu ini.

“Sudah-sudah, ayo lanjutkan ceritamu, Taemin-ah.” Jonghyun menengahi.

“Laki-laki itu, tubuhnya dikelilingi aura hitam. Orang dengan warna seperti itu biasanya berniat tidak baik, jadi aku ikuti.”

“Itu kelebihan yang dimiliki Taemin. Jika ada orang yang berniat jahat, dia bisa mengetahuinya.” Jinki mengangguk-angguk, membenarkan cerita saudaranya.

“Lalu apa yang terjadi selanjutnya?” Cerita ini semakin menarik, membuat andrenalin Hyora terpacu dan ingin tahu lebih jauh.

“Aku masuk ke bagasinya,” ujar Taemin. Baik, ini adalah salah satu keisengan yang gemar dilakukan hantu anak-anak. Hyora dan Jonghyun sudah terbiasa dengan hal itu.

“Di sana ada banyak rambut wanita. Kurasa dari korban-korban yang sebelumnya.” Taemin melanjutkan. Ia terbayang kembali saat ada di dalam bagasi itu. Selain rambut-rambut tadi masih ada beberapa senjata tajam yang dilapisi warna merah, bisa ia simpulkan itu adalah darah yang telah kering. “Mengerikan.”

“Kau lihat plat mobilnya, tidak?” tanya Hyora.

Taemin mengangguk. “Iya, tapi aku lupa digit angkanya.” Raut wajahnya menunjukkan rasa bersalah.

“Haah, kau ini!” desah Jinki, ia jadi malas karena cerita Taemin tak memiliki ujung, sementara Jonghyun dan Hyora tertawa pelan.

Percakapan mereka terhenti saat hantu wanita tadi berdiri dan melangkah pergi. Langkahnya terseok-seok, tak tahu kemana. Pakaian compang-campingnya diterpa angin, seolah ikut merasa iba dan merasakan penderitaannya. Sedetik kemudian ia menghilang dan tak terlihat lagi.

“Dia pergi,” ucap Taemin.

“Tapi tak lama lagi dia pasti akan kembali. Dia tak akan tenang sebelum sakit hatinya terbalaskan.” Jonghyun memandang ke arah perginya roh wanita tadi. Suara hatinya sama sekali tak bisa ia baca, itu artinya roh itu masih mencari tahu hal apa yang sebenarnya terjadi padanya.

“Hei, kalau kalian kenapa meninggal?” Hyora masih diliputi dengan rasa penasaran. Sebelum masuk ke permasalahan hantu wanita tadi, sebaiknya ia tahu sejarah dua hantu kecil yang sementara ini akan ada di dekatnya.

“Dulu, ada tsunami di pulau kami. Saat itu kami sedang belajar di sekolah. Biarpun sudah lari sekuat tenaga, tetap saja tidak bisa melawan kecepatan air laut yang begitu dasyat.” ungkap Jinki, suaranya yang tadi bergema kini terdengar parau.

“Kami sempat ketakutan, tapi setelah menjadi hantu ada banyak hal menarik yang bisa kami lakukan.” Taemin melanjutkan sambil memamerkan giginya, sekali lagi. Kesedihan dan ketakutan itu sudah lama mereka lupakan.

“Hal menarik?” sebelah alis Hyora terangkat.

“Wah, kau punya warna pink juga, Noona?”

Yaa, Lee Jinki!” sekali lagi Hyora dibuat naik darah karena Jinki masih berani melihat ke dalam rak celana dalamnya.

“Masa? Aku juga mau lihat,” Jonghyun ikut tertarik dengan kegiatan Jinki.

Pletak! “Kau juga ikut-ikut! Dasar mesum!” Hyora menjitak Jonghyun.

“Aduh! Aku hanya bercanda, jangan marah.” Jonghyun memegangi kepalanya.

Hening sesaat. Hyora duduk kembali setelah bisa mengendalikan amarahnya. Ia memandangi Jinki dan Taemin bergantian. Sejak tadi mereka asyik bercada. Bukan seperti orang yang sudah mati, dan mengenai persoalan tentang roh wanita tadi, entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Ia yakin akan ada sesuatu setelah ini.

“Sepertinya kita akan berhadapan dengan sesuatu, siapkan dirimu.” Hyora menatap Jonghyun penuh arti. Sama halnya dengan gadis itu, Jonghyun pun merasa begitu.

“Kau juga.” Jonghyun tersenyum tipis. “Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu, sudah hampir malam. Jinki, Taemin, ikut aku.”

“Baik, tapi nanti ajari kami main video game, ya?”

Aish, menyebalkan!”

***

Jonghyun mengendarai motornya dengan santai. Di sadel belakang ada Taemin yang duduk memunggunginya sementara Jinki melayang di sampingnya. Jonghyun melaju di sepanjang jalan XX sambil sesekali memandangi satu dua pejalan kaki yang diikuti makhluk halus. Tak bermaksud menolong, hanya sekedar sebagai hiburan dan untuk mengasah kemampuannya. Mungkin kemampuannya dalam melihat makhluk halus tak sehebat Hyora, namun ia punya satu kelebihan yang tak dimiliki Hyora, mendengar suara hati. Kemampuan yang ia dapat ketika menyaksikan ibunya meninggal di depan matanya. Ia ingat betul ketika ada suatu cahaya yang melesat masuk ke matanya ketika ia bertatapan dengan ibunya tepat setelah beliau menghembuskan nafas terakhirnya.

Kadang ia berpikir, kenapa harus dirinya yang memiliki kemampuan ini? Sekarang ia bahkan sulit untuk melangkah karena tak tega mendengar suara semut yang kesakitan karena terinjak, namun setiap peristiwa pasti memiliki sisi positif. Kemampuan inilah yang membuatnya mampu mendengar suara hati Hyora – yang juga memiliki kemampuan yang tak dimiliki manusia biasa – dan setelah bertemu dengan gadis itu, ia tak lagi merasa kesepian dan mampu memanfaatkan kemampuannya untuk sesuatu yang berguna.

“Jonghyun Hyung, berhenti sebentar.” Jinki beranjak ke suatu tempat, sementara Taemin tetap duduk memunggungi Jonghyun di sadel belakang motornya.

Jonghyun berhenti sebentar di tepi jalan. Ia menuruti saja kata-kata bocah itu karena akan jadi masalah kalau salah satu dari kedua anak itu kabur.

Jinki terbang menuju ke sebuah pot besar di depan salah satu toko. Ia memperhatikan roh yang duduk di depan pot itu. Sosoknya seperti laki-laki biasa, namun tubuhnya tak lebih tinnggi dari sebuah gelas. Laki-laki itu duduk meringkuk sambil memegangi kedua lututnya. Ia terlihat menderita, mulutnya terus mengeluarkan rintihan sementara kulitnya terlihat meleleh seperti lilin secara perlahan.

Duk! Jinki menendang roh itu. “Kenapa kecil sekali?”

Roh itu tak merespon tendangan Jinki, tetap meringkuk sambil merintih.

Yaa, jangan di sentuh!” bentak Jonghyun.

“Kenapa?” tanya Jinki tak mengerti.

“Orang itu dulunya adalah seorang pembunuh. Tak lama setelah membunuh orang ia mati karena terlibat dalam suatu perkelahian di tempat ini. Ia selalu duduk dan kesakitan di tempat itu. Perlahan-lahan tubuhnya mulai meleleh dan menjadi semakin kecil. Mungkin sebentar lagi dia akan menghilang.” tutur Jonghyun.

“Kemana dia akan pergi? Neraka?” tebak Jinki mengetahui orang itu adalah pembunuh.

“Kurasa begitu. Nah, ayo pergi!” Jonghyun meghidupkan motornya, perlahan melaju menjauhi makhluk tadi. Jinki kembali melayang di samping sepeda motor Jonghyun sementara Taemin bergeming dan tetap duduk di sadel belakang. Ia tak berkata apa-apa sejak tadi, masih memandangi roh pembunuh tadi dari kejauhan yang entah mengapa membuatnya merasa takut sekaligus mengantuk.

***

Suasana perpustakaan yang sepi menjadi kegemaran Hyora untuk menghabiskan waktu istirahatnya setelah makan siang. Ia sudah cukup berleha-leha selama ini dan sekarang saatnya mengabiskan literatur kimia yang disarankan gurunya untuk ulangan harian minggu depan.

Baru beberapa halaman sempat ia baca seseorang menghampirinya. Orang itu, roh wanita yang kemarin. Ia terlihat berdiri di samping Hyora, yang terlihat hanya tubuh bagian atasnya sementara tubuh bagian bawahnya menembus meja. Ia menjulurkan tangannya, sedikit terkesan gemetar dan menembus pundak Hyora.

“Ada apa? Kau mau memberitahu sesuatu?” tanya Hyora dengan kedua alis mengernyit. Tanpa ia sadari jantungnya berdetak lebih cepat. Roh tadi mengangguk dan meminta Hyora mengikutinya, ia menuntun Hyora ke rak buku di sebelah Timur dimana tempat itu dipenuhi surat kabar yang tersusun rapi.

“Apa yang ingin kau perlihatkan?”

Roh wanita itu menunjuk surat kabar yang tergeletak di atas meja, sepertinya habis dibaca oleh penjaga perpustakaan. Hyora segera meraihnya, dan berita utama di surat kabar itu membuat tangannya mencengkram kertas itu semakin erat.

“Telah terjadi pembunuhan lagi,” lirih Hyora, “kali ini ditemukan sesosok mayat wanita muda di toilet rumah kosong di dekat hutan A. Pejalan kaki yang sering lewat di rumah itu mengeluh sering mencium bau busuk, dan saat aparat kepolisian melakukan penyelidikan ditemukan sesosok mayat wanita bernama Kim Hyunri, 19 tahun, yang diduga dibunuh pelaku dengan menenggelamkan kepalanya ke air…”

Hyora tak berhenti membaca. Ia meletakkan surat kabar itu kembali di atas meja lalu menatap roh perempuan tadi.

“Kau, Kim Hyunri?”

Roh itu mengangguk. Ia membalikkan tubuh kemudian menghilang bersama hembusan angin di dekat jendela, sama seperti kemarin.

“Wah, kau di sini? Aku mencarimu kemana-mana, tahu?” Jonghyun terengah-engah di samping Hyora. Entah kapan namja itu datang, karena terlalu fokus membaca Hyora sampai tak mendengar apa-apa.

“Maaf, kau datang sendirian? Mana Jinki dan Taemin?”

Jonghyun menarik kursi lalu menghenyakkan tubuhnya. Ia perlu mengumpulkan nyawanya sebelum menjawab pertanyaan Hyora.

“Entahlah. Mereka hilang sejak pagi tadi. Mungkin pergi bermain-main,” ucap Jonghyun, masih sedikit terengah. “Kenapa wajahmu serius? Kau memukan sesuatu?”

Hyora mengangguk pelan. Ia menyerahkan surat kabar tadi pada Jonghyun.

Jonghyun hanya melihat surat kabar itu beberapa detik lalu meletakkannya kembali. Cukup dengan membaca judul berita yang ditunjukkan ia sudah tahu semuanya.

“Barusan aku mendengar suara hati Hyunri,” ujar Jonghyun, “meski sangat lemah, namun setelah ia membaca berita itu dan menunjukkannya padamu ingatan tentang orang yang membunuhnya jadi bangkit.”

“Apa sama dengan dugaan Taemin?”

“Iya, dia seorang laki-laki yang kira-kira berumur diawal dua puluhan, memakai mobil van hitam. Namanya, Kim Kibum. Dari banyaknya korban yang ia bunuh dan tujuannya membunuh korbannya, kurasa ia seorang psikopat.” jelas Jonghyun, kedua tangannya mengepal dan bergetar. Ia menyibakkan rambutnya lalu menghela nafas untuk mengendalikan dirinya.

“Sepertinya kau takut?” tebak Hyora. “Itu artinya kau berniat menolong Hyunri?”

“Bukan aku, sebenarnya kau kan yang lebih ingin menolongnya? Suara hatimu begitu kuat.” Jonghyun menatap Hyora dalam. Ia menggenggam jemari gadis itu erat-erat.

“Kau benar, aku harus bertindak.” Hyora tersenyum bijak. Mata bulat gadis itu menunjukkan kesungguhan. Ia benar-benar akan melakukan tindakan yang ia katakan.

“Inilah yang aku takutkan darimu,” desah Jonghyun pelan. “Aku tak akan bisa mencegahmu kalau sudah begini. Tapi kumohon, jangan gegabah. Kau tahu, psikopat itu seperti apa, bukan?” Hyora merasakan getaran kuat di tangan Jonghyun. Namja itu begitu khawatir.

“Tenanglah, aku masih memikirkan cara untuk bertemu dengan laki-laki bernama Kibum itu. Lagipula tidak mungkin rasanya aku mengajak Taemin dan menanyainya satu persatu orang yang lewat di jalan atau pun orang yang mengendarai mobil van hitam.”

Jonghyun terdiam. Benar juga yang dikatakan Hyora. Bagaimana caranya?

“Tapi, jika memang kita yang ditakdirkan untuk menyelesaikan masalah ini, aku yakin kita pasti akan bertemu dengan orang itu.”

“Hei kalian, Dilarang bermesra-mersaan di perpustakaan.” Terdengar suara dari belakang rak buku.

Jonghyun dan Hyora spontan melirik si pemilik suara yang terdengar familiar.

Kepala Jinki menyembul menembus rak buku sambil memberikan tatapan ‘aku juga mau punya pacar’ pada Jonghyun dan Hyora.

Aish, tukang intip!” gerutu Jonghyun. Ia melepaskan genggaman tangannya.

“Kenapa sendiri? Mana Taemin?” tanya Hyora.

“Dia di rumahmu. Sejak tadi malam dia mengantuk terus. Katanya dia suka aroma tempat tidurmu, jadi memilih tidur di sana,” jawab Jinki enteng. “Wah, berita tentang pembunuhan itu sudah tersiar, ya? Pasti akan terjadi sesuatu yang menarik nanti.”

“Dasar anak kecil, cepat sekali berganti topik.”

***

“Taemin-ah, sudah  bangun?” tanya Hyora. Ia beralih sebentar dari buku pelajarannya ketika menyadari Taemin telah duduk di depan televisi kamarnya.

Taemin tersenyum tipis. Tiga hari sejak bertemu dengan roh pembunuh di depan sebuah toko bersama Jonghyun dan Jinki ia menjadi lebih banyak diam. Ia sering mengantuk. dan selam ini ia selalu berada di tempat tidur Hyora, bahkan kemarin ia tidur hampir 18 jam.

“Bagaimana dengan pelaku pembunuhan berantai itu? Noona sudah punya cara untuk menangkapkanya?”

“Belum. Sama sekali tak ada celah.” Hyora mengangkat bahu. Jangankan memikirkan cara menangkap, cara untuk bertemu dengan orang  itu saja ia tidak tahu.

Hyora menghenyakkan tubuhnya di lantai kayu. Ia meraih remote TV, mulai mengutak-atik tombol di benda yang berukuran tak lebih dari 20cm itu. Bosan, ia jenuh dengan pencarian yang belum memiliki celah ini.

Noona, berhenti!” hardik Taemin tiba-tiba.

Ne? Ada apa?”

“Coba kembali ke channel nomor 7,”

Sebelah alis Hyora terangkat. Di channel no. 7 sedang menyiarkan ramalan cuaca untuk besok. Memangnya hantu perlu payung apa kalau besok hujan?

Ahjussi itu..” suara Taemin bergetar, “warna di sekeliling tubuhnya gelap, aku ingat dia, dia pembunuh Hyunri Noona.”

Mworago?!” Hyora terperanjat. Pandangannya tertuju pada seorang laki-laki di pojok kanan belakang yang kebetulan tersorot kamera. Perawakannya terlihat tinggi, sementara wajahnya tak begitu jelas terlihat karena ia setengah menunduk. Entah kebetulan atau bagaimana, berita ramalan cuaca tersebut disiarkan live dari stasiun kereta M yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah Hyora.

“Aku harus segera ke sana.” Hyora segera beranjak dan mematikan TV. Ia bergegas mengenakan jaket dan sepatu boat coklat yang terletak di sudut kamarnya.

Noona, dengan membantumu apakah kelak aku akan bisa pergi ke surga?” tanya Taemin, membuat Hyora menatapnya heran.

“Ehh?”

“Ah, tidak apa-apa, ayo bergegas, nanti ahjussi itu pergi.”

***

Suasana di stasiun M begitu padat. Kerumunan orang berlalu-lalang membuat Hyora sulit untuk berlari. Setiap orang yang lewat terlihat tak mau mengalah seolah urusan merekalah yang paling penting.

Noona, itu orangnya.” bisik Taemin saat Hyora berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya. “Itu Kim Kibum.”

Kedua kelopak mata Hyora menyipit ketika melihat pria bernama Kim Kibum itu dalam jarak kurang dari 10 meter. Jika orang biasa yang memandangnya, mungkin ia tampak seperti laki-laki biasa yang sedang melakukan aktivitas biasa pula, namun bagi gadis sepertinya semua terlihat berbeda.

“Ya, benar, dia orangnya.” desis Hyora. Di sekitar laki-laki itu terlihat beberapa roh yang mengitarinya. Dari gerak bibir roh-roh itu Hyora menduga mereka sedang marah dan mengutuk Kibum, dan mungkin saja mereka adalah korbannya sebelum Hyunri.

Deg, udara dingin mengaliri tengkuk Hyora ketika tatapan mereka bertemu. Tajam dan mengerikan, hanya dengan tatapan saja laki-laki itu mampu merobohkan setengah pertahanannya.

Noona, dia melihat ke sini,” ucap Taemin, mulai panik, namun kata-katanya tak digubris oleh Hyora, ia terlalu sibuk menggerogoh kantong jaketnya.

“Sial, kenapa aku lupa membawa ponsel?!” gerutu Hyora mendapati kedua kantong jaketnya kosong. “Tetap tenang, ayo kita hubungi polisi.” Meski ia tak bisa mengubur semua rasa takutnya, setidaknya ia tahu laki-laki bernama Kibum itu masih cukup waras dan tak mungkin mengincarnya di tengah keramaian seperti ini.

Hyora melangkahkan kakinya, terasa berat. Sebelum mencapai box telepon di seberang jalan, ia harus melihat plat mobil milik Kibum. Dengan tenang ia berpapasan dengan laki-laki itu sambil mengarahkan bola matanya ke plat mobil milik Kibum. xX7-X9. Bagus, sedikit lagi ia bisa menyelesaikan masalah ini.

“Aish, kenapa di saat seperti ini semua box telepon penuh?” Sialnya urusan yang tinggal sedikit lagi selesai terkadang harus menemui rintangan saat dekat dengan penyelesaian.

“Ah, di sana ada yang kosong!” Taemin menunjuk sebuah bos telepon yang berjarak 50 meter dari tempat mereka berdiri sekarang.

“Baiklah, ayo kita ke sana!”

Jarak 50 meter dari stasiun harusnya masih terlihat oleh beberapa orang, namun karena melewati tikungan, tempat box telepon yang hendak digunakan Hyora terlihat sepi dan jauh dari jangkauan manusia.

Hyora menghentak-hentakkan kakinya. Keadaan sepi seperti ini membuatnya semakin gelisah. Taemin yang berada di sampingnya juga terlihat cemas dan ketakutan. Keduanya khawatir jika Kibum cepat mengejar meraka, terlebih lagi pihak kepolisian belum ada yang mengangkat telepon.

Sambil tetap menunggu lawaban telepon, kejutan lain menghampiri Hyora dan Taemin saat seorang wanita dengan rambut basah khasnya, Kim Hyunri, menggedor-gedor kaca box telepon. Roh wanita itu berusaha mengatakan sesuatu yang disinyalir Hyora sebagai tanda bahaya.

“Selamat malam, di sini pihak kepolisian, ada yang bisa kami bantu?” akhirnya jawaban telepon yang ditunggu-tunggu Hyora dan Taemin terdengar, membuat keduanya mengabaikan Hyunri sejenak.

“Saya Kim Hyora, ingin melaporkan, saya mengetahui pelaku pembunuhan berantai yang terakhir terjadi di dekat hutan X kemarin. Pelaku bernama Kim Kibum, mengendarai mobil van hitam dengan nomor polisi xX7-X9, sekarang pelaku sedang beraksi di sebuah box telepon 50 meter di selatan stasiun M, mohon segera datang.” jelas Hyora terburu-buru. Ia tak punya banyak waktu untuk menjelaskan karena roh Hyunri masih terlihat menggedor-gedor box telepon.

“La.. ri.. lah!!” teriak Hyunri parau dengan nada terbata. Sayang, tampaknya usahanya kurang gesit. Seorang namja yang beberapa waktu lalu menjadi malaikat kematiannya kini berdiri tepat di depan pintu box telepon. Ia memandang Hyora sinis dengan senyum tersungging di ujung bibirnya. Hyunri terdiam, tak ada lagi yang bisa ia lakukan, tinggal menyaksikan apakah Hyora akan selamat atau malah menjadi sepertinya.

“Mau menelepon kemana?” Suara Kibum dengan nada ingin tahunya membuat Hyora bergidik. Ia balas menatap laki-laki itu datar, berusaha sekeras mungkin untuk pura-pura tidak tahu maksud pertanyaan Kibum, sementara Taemin keluar menembus kaca box telepon. Ia terlalu takut dengan aura hitam di tubuh Kibum yang terpancar semakin kuat. Dengan aura buruk seperti itu ia tahu Kibum bisa melakukan apa saja. Tidak, ia tak mau Hyora menjadi korban, karena itu ia memilih pergi mencari Jonghyun dan Jinki.

“Maaf, Noona, aku akan segera kembali.”

***

Dengan susah payah Taemin berhasil menemukan Jonghyun dan Jinki di sebuat toko yangmenjual CD video game. Beruntung ia bisa melihat aura yang dimiliki seseorang, dan cahaya terang dari aura positif Jonghyunlah yang menuntunnya bisa bertemu dengan mereka.

“Taemin-ah, ada apa?” tanya Jinki khawatir. Rasanya sedikit aneh melihat Taemin datang sendirian tanpa Hyora, dalam keadaan terburu-buru pula.

“Ikut denganku, Hyora Noona sedang diincar pembunuh itu!” seru Taemin, setengah berteriak. Matanya berkaca-kaca, terlihat bergitu panik.

Yaa, pabo! Kenapa kau tinggalkan dia?” Jinki menjitak kepala Taemin. Aish, ia tak habis pikir dengan kelakuan pengecut yang dilakukan Taemin.

“Maaf,” Taemin mengusap kelopak matanya, mulai menangis. Jinki benar, ia memang bodoh. Tapi jika dia masih bersama Hyora, apa juga yang bisa dilakukan hantu anak kecil sepertinya yang bahkan menyentuh benda saja tidak bisa. Begitu berbeda dengan Jinki yang bisa menyentuh benada apapun yang ia inginkan bahkan menyembunyikannya.

Yaa, jangan bertengkar, Kita harus bergegas. Taemin-ah, dimana mereka?” Jonghyun menengahi perdebatan kedua hantu kecil itu. Ia segera meletakkan CD game yang hendak dibelinya dan bergegas keluar. Ia tak peduli orang-orang di sekitarnya memandangnya aneh karena terlihat berbicara sendiri. Keselamatan Hyora jauh lebih penting dibanding itu.

“Di stasiun M.” jawab Taemin, ia mengikuti Jonghyun dan Jinki tanpa semangat.

***

“Hei, tunggulah sebentar, aku sedang menelepon,” Hyora baru memjawab pertanyaan Kibum selang beberapa detik kemudian. Ia menyipitkan kedua kelopak matanya agar pandangannya tak kalah tajam dari laki-laki itu.

“Aku tanya kau menelepon siapa?” Kibum tak puas dengan jawaban Hyora. Ia bertanya sekali lagi, memberi kesempatan terakhir bagi gadis manis dengan rambut model blonde yang cukup menarik naluri membunuhnya.

“Kenapa aku harus memberitahumu?” Masih bertahan dengan nada datar Hyora memutarbalikkan pertanyaan Kibum. Laki-laki itu kini tampaknya telah kehabisan kesabaran dan mengeluarkan sebuah benda mengkilap berujung tajam dari balik jasnya. Hyora tak mau kalah. Ia melepaskan gagang telepon dari tangan kirinya dan membiarkannya menggantung bebas di udara, berharap polisi dapat mendengar apa yang akan terjadi selanjutnya di antara mereka, sementara tangan kanannya bersiap meraih buku yang berisi daftar pemilik telepon rumah di seluruh kota seoul yang hendak ia gunakan sebagai senjatanya.

Hyora mengumpulkan segenap tenaga pada pergelangan tangan kanannya. “Dasar penjahat, pembunuh!” ia melempar buku setebal ribuan halaman itu ke pelipis Kibum. Laki-laki itu terpental dan refleks menjatuhkan senjatanya.

Hyora hendak kabur, namun serangan yang ia lakukan tampaknya belum cukup untuk melumpuhkan Kibum. Laki-laki itu dapat dengan mudah berdiri dan menjambak rambut Hyora. “Aish! Kau pikir kau siapa, hah?”

“Argh!” Hyora menjerit. Tangan bejat laki-laki itu memutuskan beberapa helai rambutnya. Kepalanya terasa ngilu dan berdenyut-denyut. “Lepaskan!”

Buk! Kibum berhasil melumpuhkan Hyora dengan sekali hantaman di kepala bagian belakangnya. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi ia menyeret tubuh gadis itu ke dalam mobil bagian belakang, lalu bergegas ke bagian depan untuk menyalakan mobil sebelum ada orang yang melihat aksinya.

“Kunci mobilnya mana? Aish!” dengus Kibum kesal. Benda paling  penting hlang disaat seperti ini benar-benar tidak lucu.

Prang! Suara hantaman keras memecahkan kaca riben bagian depan mobil. Kibum memandangi serpihan kaca yang menuju ke arahnya tanpa sempat berpikir. Masih setengah sadar ia memandangi seorang namja yang barusan memecahkan kaca mobilnya dengan sebuah helm yang masih dicengkramnya dengan kuat.

“Mau kau apakan gadisku?!” namja itu, Jonghyun, berteriak beringas. Darahnya yang telah naik sampai di ubun-ubun membuat wajah dan sklera matanya memerah. Nafasnya terengah-engah dengan emosi yang berkecamuk, antara amarah dan takut kehilangan gadis yang dicintainya.

Buak! Jonghyun menendang wajah Kibum, tak peduli dengan serpihan kaca yang  menembus celana kainnya dan melukai kakinya. Kibum roboh tanpa sempat melawan. Ia bahkan belum menyadari siapa Jonghyun sebenarnya dan bagaimana caranya ia bisa sampai ke sini.

Pancaran cahaya kuning diiringi suara sirine mengakhiri semuanya. Kibum dibekuk tanpa melakukan perlawanan. Kepala yang bergetar hebat ditambah telinga yang mulai berdenging tak cukup memberinya waktu untuk memikirkan bagaimana caranya kabur ataupun mengelak. Dilain pihak Jonghyun segera membuka pintu mobil bagian tengah dan mengangkat tubuh Hyora. Gadis itu mulai membuka mata dan berusaha keras mengumpulkan kesadarannya.

“Turunkan saja aku. Tak apa, aku bisa jalan sendiri,” bisik Hyora sambil memadang Jonghyun dan berusaha tersenyum.

“Tidak, aku masih ingin memelukmu,” ucap Jonghyun, semakin erat mendekap tubuh Hyora.

Ngomong-ngomong soal kunci mobil Kibum, bukanlah suatu kebetulan benda tersebut menghilang secara misterius. Tentu itu juga merupakan salah satu rencana Jonghyun dalam gerak cepatnya untuk menolong Hyora −menyuruh Jinki untuk menyembunyikannya−

Thank you, Jinki-ya.” ujar Jonghyun pada Jinki. Bocah itu tersenyum bangga. Akhirnya keusilan hantu anak-anak bisa bergun disaat seperti ini.

***

“Hei, berita tentang tertangkapnya pembunuh berantai itu sedang ramai di bahas, lihatlah!” Taemin menunjuk ke arah TV dengan sangat antusias. Sambil membiarkan Hyora istirahat sebentar, ia, Jonghyun, dan Jinki menghabiskan waktu untuk mengotak-atik TV rumah sakit.

“Haah, kau kalau berhasil saja baru senang. Coba saja tadi kau tidak ceroboh, Hyora Noona kan tidak perlu terluka,” ceroscos Jinki. Ia masih kesal dengan kelakuan Taemin ketika meninggalkan Hyora saat keadaan genting seperti tadi.

“Tak apa, Taemin sudah berusaha.” ujar Hyora menengahi sambil tersenyum bijak.

“Iya, harusnya kau bangga pada dia, Jinki-ya.” tambah Jonghyun. Jujur, ia Juga sempat kesal saat Taemin meninggalkan Hyora, namun, jika bocah itu tidak datang dan memberitahunya bahwa Hyora menghadapi Kibum seorang diri, mungkin sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.

“Tapi, biarpun luka Noona tidak parah, tetap saja aku ceroboh. Aku tidak bisa seperti Jinki yang hebat.” aku Taemin. Ia tertunduk, menatap rangkaian lantai putih yang terlalu mengkilap di matanya.

“Taemin-ah,” lirih Jinki.

“Suatu saat nanti kau pasti akan pergi meninggalkanku.” ujar Taemin parau. Tubuhnya yang tak lebih dari gas mulai bergetar.

“Taemin-ah, kenapa bicara seperti itu?” tanya Jinki tak mengerti. Apa maksudnya dengan kata meniggalkan?

“Karena aku seorang pembunuh..” terang Taemin. Ia menatap Jonghyun, Hyora, dan Jinki dengan pandangan kabur oleh air mata.

Ketiganya terdiam mendengar pengakuan Taemin, terlebih Jinki. Semua yang dijelaskan Taemin sama sekali belum mampu ia cerna.

“Jinki-ya, kau tahu aku tak bisa berenang, dan saat tsunami waktu itu, seandainya aku tidak berpegangan padamu kau tak akan ikut mati bersamaku.” isak Taemin penuh penyesalan. Semua rasa yang ia tahan sejak bertemu roh pembunuh tiga hari lalu kini tak bisa terbendung lagi. “Aku pasti akan pergi ke neraka!” umpatnya, dipenuhi keraguan dan ketakutan.

“Di mataku kau tak terlihat seperti itu,” Hyora tersenyum bijak sekali lagi. Ia menatap Taemin dengan penuh keyakinan.

“Dari pendengaranku, suaramu hatimu juga mengatakan kau bukanlah anak yang memiliki maksud buruk,” Jonghyun pun turut mengakui kebenaran yang diucapkan Hyora. Biarpun suka bertindak usil, namun suara hati Taemin tak pernah mengatakan bahwa ia ingin mencelakai orang lain.

“Tapi akhir-akhir ini aku sering mengantuk. Setelah melihat roh pembunuh bersama Jonghyun Hyung, aku jadi sering ingin tidur. Kupikir waktuku untuk pergi sudah dekat.” usaha Jonghyun dan Hyora untuk menenangkan Taemin rupanya beum cukup. Anak itu masih mempunyai alasan lain yang membuatnya gelisah.

“Tidak, itu semua karena pengaruh kota ini. Di sini terlalu banyak hal buruk dan manusia yang dipenuhi pikiran negatif. Kembalilah ke pulau, aku yakin kau akan kembali ceria. Kembalilah pada orangtua kalian.” jelas Hyora. Jika roh macam Taemin yang selama hidup menjadi manusia belum sepenuhnya tahu akan dirinya ditempatkan di antara orang-orang yang memiliki pengaruh negatif, perasaannya akan mudah goyah. Berbeda dengan Jinki yang menunjukkan perilaku yang lebih kuat dan ceria. Anak itu mungkin lebih tahan dalam kondisi kota ini dibanding Taemin.

“Hyora Noona benar. Percayalah pada matanya dan ucapan Jonghyun Hyung. Mereka tak akan pernah berbohong.” Jinki akhirnya angkat bicara. Mengejutkan memang saat Taemin mengakui semuanya, namun kali ini ia pun harus berterus terang tentang rasa bersalah yang juga selalu ia pendam selama ini.

 “Kau tahu, saat itu aku juga menyesal. Seandainya aku bisa berenang lebih kuat, kita pasti bisa selamat.” Ya, itulah perasaan yang Jinki rasakan selama ini. Biarpun Taemin hanya lebih muda beberapa menit darinya, tetap saja ia adiknya, dan kegagalannya untuk menyelamatkan adiknya saat itu merupakan suatu pukulan yang kuat baginya.

“Jinkiii!!” Taemin menghambur ke pelukan Jinki. Semua hal yang ia pikirkan, baik rasa bersalah, kemarahan, ketakutan dan kegagalan bercampur menjadi satu, sementara Jinki hanya mengusap-usap kepala Taemin tanpa berkata apa-apa. Semuanya terasa ringan saat mereka mengungkapkan beban mereka masing-masing.

“Apapun yang telah terjadi bukanlah rintangan besar, kalian telah membuktikan bahwa kalian saudara yang kompak dan saling menyayangi. Tetaplah bersama, sampai di pulau, di surga atau pun saat kalian terlahir kembali.” ujar Jonghyun tersenyum. Ia ingin menangis, namun karena gengsi dilihat Hyora, ia hanya menarik nafas panjang beberapa kali untuk menahan air matanya agar tak jatuh.

“Terima kasih, Jonghyun Hyung, Hyora Noona.

***

Epilog

Hyora memandang awan yang melayang bebas di langit. Suasana halaman belakang sekolah yang sepi pada jam makan siang mengundang rasa kantuknya. Di sampingnya, Jonghyun terlihat sibuk melahap bekal makan siangnya. Ia begitu bersemangat. Akhirnya mereka bisa menuntaskan ulangan Kimia dengan Nilai A. Padahal sejak awal pelajaran itu adalah pelajaran yang paling mereka tak sukai, namun entah mengapa sejak kedatangan Jinki dan Taemin mereka seolah mendapatkan semangat baru termasuk keinginan untuk belajar menyukai hal yang mereka benci.

“Kira-kira Jinki dan Taemin sedang apa ya sekarang?” tanya Hyora sambil tetap memandang ke arah langit.

“Paling sedang mengintip celana dalam gadis-gadis di desa mereka,” jawab Jonghyun asal. Tapi, jika dipikir tebakannya 90% tepat untuk menilai hantu usil seperti mereka.

“Hahaha!” Hyora tertawa kecil. “Sebenarnya tujuan mereka menemui kita apa, ya? Aku rasa kita tak ada membatu apa-apa untuk mereka.”

“Entah, aku juga tak tahu.” Jongyun mengangkat bahunya. “Mungkin mereka hanya ingin bermain-main karena mendengar isu-isu tentang kemampuan kita. Yah, kau tahu kan, Chagiya,  anak kecil suka bermain-main.”

“Hm, iya. Mungkin mereka hanya ingin bermain-main.” Hyora membenarkan penjelasan Jonghyun. Semenjak kepergian Jinki dan Taemin Hyunri juga tak pernah menampakkan diri lagi. Mungkin ia sudah tenang setelah Kibum tertangkap.

 “Ayo habiskan makan siangmu, sebentar lagi pelajaran di mulai.”

“Bantu aku, Eomma membuatkan porsi yang terlalu besar untukku.”

Aish, tidak! Kau tahu, kan berat badanku mudah naik kalau makan lebih banyak sedikit saja dari porsi biasa?” papar Hyora sambil membuat rasionalisasi untuk meyakinkan Jonghyun bahwa ia benar-benar menjaga bentuk tubuhnya.

“Bla.. bla.. bla.. baik-baik, aku mengerti. Dasar!”

“Hahaha!”

***

Kini mega yang memberi wana putih pada langit seolah tersenyum

Kejujuran dua orang bocah membuatnya terharu

Masa-masa dimana kesetiaan dan penghormatan diagungkan

Ketika yang haus akan cairan merah sang dara telah dilenyapkan

 

Semua ujian untuk si pemilik mata ketiga dan sang pendengar suara hati

Segala makna kehidupan bagi mereka yang jahat dan mereka yang pantas untuk bahagia

Suatu saat akan berujung

Entah akhirnya bahagia atau menderita

Semua akan terlukiskan pada catatan harian hakim neraka

 FIN

©2011 SF3SI, Chandra.
Officially written by Chandra, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

59 thoughts on “Two Little Brother

  1. aseeekkk, chan2 kembek,,,

    “dua bocah mesum.” kkk
    karakter mesemnya dapet, karakter anak2nya juga dapet banget.

    johaaa!

    keep writing ya Chan2!

  2. yo!
    Karakter mereka dapet bgt..
    Trutama jinki-taemin.. Ohoho..
    Hyora oh hyora.. Huwaa.. Berasa aku jadi maincast.. Mianhae, chandra…
    Keep writing!!
    Ditunggu karya berikutnya..!

  3. Lucunya 2 saudara Lee
    Mereka sangat imut dan manis
    Sebagai hantu, mereka sangat polos hingga ingin disimpan jadi milik pribadi

  4. D0h, saya malah ngakak pas Kibum dibilang Psikopat~ xD

    Aigoo~ Taemin sama Jinki~ mesum kalee x33

    Ahhh lope lope dah sama ini ep ep <333

    KEEP WRITING!

  5. omo..omo… si dubu kenapa mesum gitu? kebayang banger jinki sama tatem jadi anak-anak, walaupun hantu tapi unnyuuu…😉 chandra-ssi, suka deh ama niy ff..🙂

  6. Whooaaa Taemin-Jinki nya unyunyu bgt pasti tuh..

    Suka deh kalo Taemin sama Jinki dijadiin karakter anak kecil.. Bisa kebayang bgt soalnya sampe skrg juga muka mereka kayak anak kecil.. Nyunyu bgt deh aww:3

    Keep writing yaa:3

  7. aaaah!!! kece badai jjaaang!!!!!
    omo~ aku speechless liat klakuan ontae di sini =.=
    tpi ntah napa aku ngakak timpang *?* pas tau pembunuhnya itu si Kibum..
    feel pas si Hyora nyari Kibum, Kibum ke box telepon itu bner2 waaw bangeet! dapeeet bangeet!!! omo~~ gegara habis nonton vcr mereka nih .-.

    ah, trnyata masa lalu ontae menyedihkan juga :”)
    keren kaak! cerita oneshot yang komplit pake telor nggak pake rawit! manstaap!!!

  8. Aaaak… baca ini aku jd ingat FF oneshot ttg hantu di perpustakaan..msh ingat akukah? kkkkk Knp pas aku bc FF oneshotmu dua kali ini, psti ttg hantu, dan mngerikan, serasa nntn filmnya aja T_T

    tp keren kok, merinding bgt bcnya. jgn blg ini pengalamanmu lg.unyu bgt klo ada hantu kecil ky Taemin dan Jinki. Tp jgn pke mesumnya -_-”

    enak bgt pasangan itu yah. sm2 memiliki kkuatan, berbagi. klo aku mah, si cowonya aja. persis jjong sih, tp ga sehebat Jjong. cukup sgitu aja, aku selalu dicurangin -_- seenaknya aja dy bc suarahatiku *curcol

    1. masih dong,.. masa aku lupa?😀

      eh?? masa iya berasa nonton film? hahahaha

      pengalaman?
      ngga, ini ceritanya aku angkat kok,,

      aku jg pernah pny temen yg bisa baca suara hati, jadi malu kalo deket2 dia😛 *ikutan curcol*

      1. ah iya kah… terharu..T_T pdhl br 2 kali ktmu(?) *pasang tisu*

        ciyusssh. visualisasinya dpt bgt loh.

        iya.. aku br bc penjelasan sblm FFnya *jadi malu, kthuan amatiran soal FF*.
        abisan pas liat writernya, aku lgsg “wuah, yg ngarang hantu perpustakaan dlu kan?!” n loncat bc FFnya. #peace

        klo aku mah sebel, “kmrn kmu ngomong sndiri, klo aku keren pke kemeja yg ini kan? aku pke nih, keren kan? *nyengir*” cihcih!
        *lah curcol lagi -_-*

  9. ceritanya keren dan seru.. Karakternya dapet banget, feelnya dapet banget. Jinki sama taemin cocok banget jadi hantu anak2 unyu2 yg polos.

  10. suka banget sama ff-nya, unyu2 polos (?)-nya jinki-taemin dapet, keren-nya jjong-hyora juga dapet, pokoknya mereka hero of the drama lah. dan kibum…adegan saiko-nya juga dapat, nggak kebayang deh kalau beneran diteror di boks telepon
    sukses untuk ff2 selanjutnya🙂

  11. aduuuhh byngin lee brothers itu jd anak kecil rasanya pengen dicubit2 deh… huhuhu

    aduh duhduh… kacian tidur di pinggir jln… berasa anak yg terlantar ;;___;;

    taemin anteng bgt ya duduk membelakangi jjong di motor.. lol…

    ….. ingatan tentang orang yang membunuhnya jadi bangkit.”
    eo?? mksudnya jd bangkit?

    o.o kibum.. kunci….

    adduuhhhh terharu pas taemin nangis itu T.T apalagi pas meluk jinki…

    bagus chandra…
    cuma ada bbrp typo n hurufnya ketinggalan…
    ditunggu ff lainnya

    1. namanya jg hantu, eon.. tidur dimana aja mereka bisa 😛

      ehh?? kalimat itu, setelah hyunri ngeliat koran yg isi berita ttg kematiannya, dia jadi ingat kalau kibum yg ngebunuh dia..

      nanti aku edit deh typo2nya,
      makasih banyak komennya, eon😀

      1. wkwkwkwk
        tapi kasian aja gitu bayangin mereka tidur di pinggir jalan.. tiba2 malah ngebayangin mereka tidur beralaskan koran.. #hiks

        oh itu toh.. aku bingung mksdnya “jadi bangkit” itu apa.. hahahahahahahaha

  12. ituh ceritanya tetem sama onew kembar, ya? aduh kalo inget anak-anak kecil yang polos seneng banget. tapi authornya daebak nih. aku sampe tegang loh pas hyoranya ketemu kibum. hwaaaa, sampe berdebar-debar. kalo yang horor mah chandra top deh. aku tunggu ff yang lainnya…

    semangat….!!!

  13. horornya gak serem, tapi malah lucu. wkwkwkwk. tapi yg serem pas bagian sifat psikopatnya kibum muncul. ceritanya bagus, bahasanya juga gampang dicerna. seruuuu deh pokoknya

  14. Chandra kambek😀
    hihihi
    aku semalem udah baca, tapi belum selesai.. nah, aku ninggalin jejak dulu aja. nanti kalau udah selesai baca aku komen lagi hehehe~

  15. Comeback si chancan. Sempet down, gegara baca judulny bukan TSOM hhhh
    dan sempat berkali-kali mikir buat baca ini ato gak, setelah liat genre horor. as a queen of satan *digampar*, love the way kamu bikin kedua bersaudara it seunyu-unyu yaaah unyulah *apalah*
    dan ini gak serem, tapi kesenny lucu aja.
    entah, saya kesel aja hr ini baca ff yang 2kali bikin Onyuku jadi mesum *lirik Zika gak nyante*
    okeh, next muncul dgn TSOM yaaa

  16. haaaaiiiiiiiiiii saya comeback.. haha
    setelah sekian lama gak buka sf3si, ff pertama yang saya baca adalah ff ini.
    seru ceritanya, aku berasa baca komik detektif conan waktu mereka ngejar2 kibum. tapi pasti bakal lebih seru kalo ada aksi pukul-memukul(?) nya hehe… berantemnya kurang. hihi
    ditunggu karya2 selanjutnya yaaa

  17. Suka karakter Taemin disini…. Pas banget..hehe

    dan Jinki.. OMG….. Mesum.wkwkwkkw

    Buat Kibum… No koment ahhh… #gakbisabayangin…haha

    Untuk cerita… Wow.. Cetar membahana…..

    Good Job!!!

  18. Huaaaa….happy ending….aku suka ceritanya…bikin aku terinspirasi buat bikin novel baruuu….

    BTW,ceritanya lumayan menarik,tapi judulnya itu kurang menarik n gk terlalu nyambung sama ceritanya.Two Little Brother emang sama kayak tokoh Jinki n Taemin,tapi menurutku,yang jadi tokoh utama di ff ini Hyora.Gak papa kan aku kritik???thank’s,ceritanya seru kok…keep writing n fighting!!follow aku @RealHyeonAh15

    1. ngga papa kok, kalo ngga ada kritik aku ngga tau toh kurangnya imana😀

      iya sih ff ini emang hyora pemeran utamanya, tapii..Jinki Sama Taemin jg pemeran utama.. bikin judul jg ngga harus fokus sama tokoh utama, kan? kalo gitu nanti jadi kaku. Bisa aja orang bikin judul dari latar tempat kayak Novel serinya illana Tan, bisa juga dari tokoh yg ingin ditonjolkan dan meneentukan cerita itu ke arah mana nantinya, kayak FFku ini,,😀

  19. kereenn2 aku juga pernah mbaca komik from the other world waktu smp sekilas tapi. kereeen aku suka ff genre kyak gini🙂 daebakk

  20. ngebayangin onew dan taem kcl pelukan pasti lucu.. ihh kesan ank2 isengnya dpt.. keren loh tor tp entah kenapa ini kurang serem. biasanya aq baca ff horror gmpng merinding. mungkin ini horrornya beda. tp ttp menarik. keep writing!

  21. huwaaa… wktu taemin mnjelaskan kesaksiannya ttg ki bum yang membunuh membuatku ckup takut. trlbih ttg hantu wanita yg sering mereka lihat. bgus thorr… jgn2 Jinki-Taemn akan bereinkarnasi jd anak Joghyun dan Hyora? kekekekeke…

  22. Officially nge-fans sama duo hantu bocah yang mesum satu ini. Dan aku agak ketawa miris meratapi nasib Key yang cocok banget memerankan peran antagonis, even better, psikopat. Itu sekalian.

    I adore this. Can’t wait to read your other stories❤

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s