[FF PARTY 2012] White Christmas

White Christmas

white-christmas

Author: Zikey

Main Cast: Lee Jinki

Genre: Family, Angst, Anguish, Life

Length: Oneshot

Rating: General

Summary: Semalam aku berdoa kepada tuhan sebelum tidur, agar ia memastikan bahwa uangku cukup untuk membeli mainan ini sehingga ibu bisa memberikannya kepada adikku. Tuhan mendengarku!

Note: Terinspirasi dari kisah nyata dengan beberapa perubahan. Untuk typo-nya, langsung di komen aja, harap maklum yaaa ^o^

—š›♛♛♛—

Seorang laki-laki merapatkan balutan selimutnya, tubuhnya meloncat-loncat kecil untuk menaikkan suhu tubuh. Setelah sabar menunggu, panggangan roti itu berbunyi juga. Segera ia meraih roti panggangnya dan menuangkan kopi panas ke dalam cangkir putihnya. Dengan kakinya yang terbalut rapat oleh sandal tidur berbentuk boots, ia melangkah di atas lantai kayu yang tidak cukup hangat untuknya. Sebuah api berkobar menyambutnya dari dalam perapian, siap menghangatkan tubuh lelaki itu di tengah hujan salju kecil yang menghias pemandangan jendela.

Ini baru hujan salju keempat, namun rasanya ia sudah tidak kuat menahan suhu yang terus turun. Meski diakuinya begitu indah pemandangan, ia tetap tidak bisa mengelak bahwa musim salju kali ini membuatnya menggigil sepanjang pagi. Walau tidak lagi disambut pepohonan rimbun dan hijau, melihat putihnya salju yang menyelimuti jalanan, tetap membuat paginya indah.

Dengan antusias ia meneguk kopi yang masih mengepulkan asap, demi memberi kehangatan di dalam orang-orangnnya. Matanya mulai membaca baris demi baris tulisan dalam kertas abu-abu bernama koran, diiringi instrument saxophone yang mengalun memenuhi penthouse mewah tempatnya berlindung.

“Mabuk, kecelakaan, mabuk, kecelakaan, tidak ada berita yang lebih pantas dibaca apa?” ia mengeluh. “Kemana para polisi?” tambahnya sambil menyalakan TV. Berita televisi itu menayangkan berita yang baru saja ia baca di koran barusan, membuatnya kesal namun tidak bisa mengganti saluran.

“Sekarang siapa yang bisa bertanggung jawab? Menuntutnya bermiliyar-milyar juga tidak akan mengembalikan bocah tidak berdosa itu. Sekarang bagaimana nasib suami dan anak pertamanya, jika sang ibu tidak lama lagi menyusul putranya yang mengalami kecelakaan bersamanya.” Ia mengoceh seolah ada seseorang yang mendengarkan keluhannya.

Oppa…” suara lembut seorang gadis membuatnya menoleh, di sana, seorang gadis berbalut selimut tipis bersandar pada daun pintu.

“Tidak kedinginan? Aku saja yang pakai baju lengkap masih menggigil. Cepat pakai baju, aku sudah membuatkan roti panggang, setelah itu mandi, dan kamu bisa kembali ke rumahmu.”

Oppa…” ia merajuk. “Aku tidak ingin sarapan yang itu, aku menginginkanmu.”

Get over it! Nothing happened between us, it’s just one night stand, don’t dream too much.”

“Huh, juteknya! Setelah aku memberikan yang terbaik semalam, masih tidak bisa luluh juga?”

“Ya ampun, jendela saja bisa membuktikan siapa yang lebih baik semalam. Jadi cepat pergi dari rumahku, hari ini aku harus ke kantor. Dan ingat, jangan sampai ada yang tahu tentang ini atau video mu akan tersebar luas di kampus.”

“Iya, iya, menyebalkan sekali! Aku mandi duluan, tapi—“

“Aku tidak akan menyusul!” gadis itu mendengus kesal, menyerah juga.

Lee Jinki, angkat telephone-mu! Jangan buang-buang uang untuk membeli ponsel kalau panggilanku saja diabaikan.” Lelaki itu bangkit sambil mendengus, menekan salah satu tombol di pesawat teleponnya.

Yeoboseoyo? Jinkiya! Sudah berapa lama kamu mengabaikan ibumu ini, huh?”

“Maaf, maaf, aku cuma sedang sibuk. Ada apa sih bu, pagi-pagi begini menghubungiku?”

“Ada apa? Kamu tidak merindukan orangtuamu sama sekali? Sudah berapa lama sejak terakhir kamu main kemari?”

“Ya ampun bu, aku baru saja main ke sana delapan bulan yang lalu!”

“Delapan bulan itu bukan waktu yang singkat, Jinkiya.”

Oppa! Air panasnya macet!”

“Di sana ada orang lain? Jinki? Yeoboseyo?”

Oppa!”

“Jinki?”

“Bu, aku akan menelpon mu balik besok.” Jinki mendengus lagi, semakin kesal dengan gadis yang kini berada di kamar mandi. “Awas saja kalau ia hanya main-main!” Ia mengancam sambil berjalan menuju tempat gadis itu berada.

Oppa… aaahh… bantu aku!”

Shit!”

—š›♛♛♛—

 “Paprika? Sebentar, aku catat dulu.” Jinki merogoh ponsel dari saku celananya, membuka fasilitas note dan siap mencatat. “Jangan bahan makanan dulu, peralatan rumah atau semacamnya.” Ia tersenyum pada petugas keamanan kemudian mengambil satu keranjang beroda.

“Pembersih lantai, toilet dan piring, pewangi ruangan, pasta gigi, sabun, sarung tangan, sudah? Bahan makanan? Baiklah, paprika, lalu apa?” ia mencatat seluruh barang yang ia dengar melalui earphone. Hari ini tanggal belanja bulanan yang rutin ia lakukan setiap bulan dan dirumahnya pelayan bayaran yang datang satu minggu sekali akan medata untuknya. “Tidak, seperti biasa, aku tidak akan membeli peralatan natal. Aku tidak begitu membutuhkannya, mungkin aku akan berlibur ke luar kota atau ke rumah orangtua ku kalau mereka memaksa. Oke, sampai jumpa.”

Ia baru akan memulai kegiatan belanjanya ketika ia melihat gadis kecil yang membawa kotak miniature pahlawan mainan di depan kasir terpisah, umurnya telihat sekitar lima atau enam tahun. Gadis itu tidak terlihat seperti gadis tomboy yang akan menyukai mainan laki-laki, ia jadi tertarik untuk memperhatikan.

“Aku ingin membeli boneka ini,” katanya sambil berusaha meletakkan mainannya di atas meja kasir yang 10 cm lebih tinggi dari kepalanya. “Berapa harganya?”

“37.500,” jawab kasir itu ramah.

“Ini uangnya.”

“Maaf sayang, tapi ini tidak cukup.” Kasir itu mengembalikan lima lembar uang pecahan 1.000 won kepada gadis kecil itu.

“Kenapa? Aku punya lima lembar, bukannya lebih banyak?”

“Iya, tetapi nominalnya lebih kecil dari yang diminta.”

Gadis itu menoleh pada seorang nenek yang berdiri di sebelahnya, “Nenek, katakan padanya kalau uang itu cukup. Iya kan, nek? Aku bisa membeli mainannya kan, Nek? Aku sudah menabung, uangnya cukup.”

“Aku sudah bilang sayang, uangmu masih kurang, kita tidak bisa membeli mainan itu dengan uangmu. Tunggu di sini!”

“Tapi aku mau beli dengan uangku, nenek.”

“Iya, aku tahu, tunggu di sini. Jangan kemana-mana! Janji padaku, tunggu aku di sini dan kita akan membeli mainannya.” Nenek itu tersenyum pada kasir sebelum meninggalkan cucunya di dekat meja kasir, membuat Jinki tertarik untuk menghampiri.

“Hai,” sapanya ramah. “Apa ini mainanmu?”

“Iya, aku ingin membelinya.”

“Untuk apa? Bukannya gadis cantik sepertimu lebih menyukai boneka barbie?” kini Jinki berjongkok di hadapannya, memberi gadis itu tatapan penuh perhatian.

“Ini untuk adik laki-lakiku, ia sangat menginginkan boneka pahlawan ini sejak lama. Ia yakin Santa akan memberikan mainan ini sebagai hadiah untuknya, dia sudah menanti. Tapi aku tahu Santa tidak akan pernah memberikan mainan ini kepadanya, jadi aku ingin membelikan ini untuknya.”

“Kenapa? Kamu tidak percaya dengan Santa Claus?”

“Bukan,” wajahnya tiba-tiba terlihat sangat sedih, ia menunduk, memandangi ujung sepatunya. “Aku yakin Santa tidak akan bisa mengirimkan ini ke tempat dimana adikku berada sekarang.”

“Tentu saja bisa, Santa akan melakukan apapun untuk anak manis sepertimu. Jangan khawatir, adikmu pasti akan mendapatkan mainan ini dari Santa.”

“Tidak, kata ayah, Santa tidak akan bisa mengirimkan ini padanya karena ia sudah berada di tempat Tuhan. Santa tidak boleh mengunjungi tempat Tuhan karena Tuhan pasti akan meminta Santa untuk menemaninya selamanya, seperti Tuhan meminta adikku menemaninya di sana. Jadi aku harus membeli mainan ini dan memberikannya pada ibuku, sehingga ia bisa memberikan ini padanya ketika ia pergi ke sana.” Jinki tidak mengerti, namun sesuatu dalam hatinya seperti bergejolak, ia merasakan sebuah desiran panas di dalam hatinya.

“Adikku sudah pergi ke tempat Tuhan, dan kata ayah, ibu akan segera menyusulnya ke sana untuk menemani tuhan bersama adikku. Jadi aku pikir, ibu bisa memberikan mainan ini kepada adikku ketika mereka bertemu di sana.” Kini ia mengerti apa yang ia rasakan, jantungnya seolah berhenti berdetak, namun desiran-desiran panas itu terus terasa di dalam dadanya.

Gadis itu mendongak, menatap Jinki dengan matanya yang begitu indah. “Aku bilang pada ayahku untuk meminta ibu jangan pergi dulu, aku harus bertemu dengannya. Aku mau ia menungguku hingga aku kembali dari mall dengan boneka ini.” Gadis itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam saku mantel hangatnya, dalam genggaman jemarinya yang mungil ia memperlihatkan sebuah foto. Hati Jinki tiba-tiba terasa hampa, ia tersenyum melihat foto indah itu. Begitu bahagia, keluarga ini sangat bahagia, terlihat dari bagaimana sang ayah memeluk gadisnya sambil tertawa.

“Aku mau ibu membawa foto ini bersamanya, jadi ia dan adikku tidak akan melupakan kami. Aku mencintai ibu, dan aku tidak ingin ia meninggalkanku. Tetapi ayah bilang, ibu harus pergi kesana agar ia bisa menemani adikku yang kesepian.” Kemudian ia menatap kotak mainan itu, mata itu tidak berair, namun menggambarkan kesedihan yang amat dalam.

“Haruskah kita cek lagi? Siapa tahu ternyata uangmu cukup untuk membeli mobil-mobilan ini.”

“Baiklah,” kemudian gadis itu memberikan lembaran uangnya pada Jinki. “Semoga uangku cukup.”

“Coba ambil kotak mainannya, kita harus lihat label harganya,” katanya berusaha mengalihkan perhatian gadis itu, kemudian mengganti uang milik gadis itu dengan lima lembar uang 10.000 won. “Baiklah, jadi kita butuh berapa?” tanyanya sambil melihat label harga. “34.500? Ayo kita hitung.”

“Sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh, lima puluh.” Gadis itu menghitung selagi Jinki memisahkan setiap lembar, dari tangan kiri ke tangan kanannya. “50.000!” serunya riang, membuat Jinki tersenyum.

“Kita masih memiliki sisa uang,”

“Terima kasih Tuhan untuk memberiku uang yang cukup.” Matanya yang berbinar memandangi lembaran uang itu, kemudian ia menatap Jinki. “Semalam aku berdoa kepada tuhan sebelum tidur, agar ia memastikan bahwa uangku cukup untuk membeli mainan ini sehingga ibu bisa memberikannya kepada adikku. Tuhan mendengarku!” Jinki tersenyum lagi lalu mengelus rambutnya yang halus dan tebal. “Aku juga ingin memiliki cukup uang untuk membelikan mawar putih untuk ibu, tetapi aku tidak berani meminta lebih kepada tuhan. Namun ia memberiku cukup uang untuk membeli mainan ini dan mawar putih! Ibuku sangat menyukai mawar putih!”

Tidak lama, neneknya muncul dari balik rak, Jinki segera mengucapkan salam perpisahan. Ia menyelesaikan kegiatan belanjanya dengan perasaan yang amat berbeda dari perasaan ketika ia akan memulai kegiatan berbelanjanya. Jinki benar-benar tidak bisa melupakan gadis kecil itu selama beraktifitas, hingga kemudian ia mengingat artikel yang ia baca di koran dua hari lalu. Juga berita TV yang ia keluhkan pagi-pagi.

Dalam koran itu tertulis, kecelakaan lalu lintas yang terjadi antara pengendara mabuk dan seorang wanita. Penumpang dalam mobil wanita itu seorang laki-laki kecil berumur tiga tahun yang meninggal dalam lokasi kejadian, sementara sang wanita dalam kondisi kritis. Keluarga korban harus memutuskan antara melepaskan peralatan pendukung karena wanita ini tidak akan bisa sembuh dari koma, atau tetap bertahan hingga waktu yang tidak dapat ditentukan. Apakah ini keluarga gadis kecil itu?

—š›♛♛♛—

Jinki mengambil roti dari panggangan kemudian duduk di depan perapian dengan secangkir kopi, setangkup roti lapis, dan beberapa koran dari penerbit yang berbeda. Usai pertemuannya dengan gadis kecil itu, Jinki tidak bisa melepaskan perhatiannya dari kasus yang masih menjadi bahasan koran dan berita di TV ini. Ia tidak berhenti mengikuti perkembangan beritanya, demi mencari tahu kebenaran.

“Keluarga korban telah mencabut tuntutan, namun pelaku akan tetap diberi sanksi oleh pihak kepolisian. Keluarga korban mengaku, tidak akan ada yang bisa mereka tuntut, kalaupun diberi kesempatan untuk menuntut, suami korban ingin meminta istri dan putranya kembali. Pada dini hari tadi, akhirnya keluarga memutuskan untuk berhenti berharap dan membiarkan korban untuk menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang…—“

Ia tidak ingin mendengarkan beritanya hingga selesai, bukannya ia tidak bisa menerima kenyataan, namun ia tidak bisa menunggu lebih lama untuk melayat. Jinki segera meraih mantel hangatnya dari lemari, mengambil dompet dan ponsel, menarik kunci mobil dari gantungan, dan segera berlari menuju parkiran mobil.

Mobilnya berhenti di depan toko bunga untuk membeli satu keranjang mawar putih dan bunga lili, dan kembali melaju menuju tempat tujuannya. Entah apa yang ia pikirkan, ia sendiri juga tidak tahu apa yang membuatnya seperti ini. Semua sahabatnya tentu tahu orang seperti apa Lee Jinki ini, seorang lelaki yang tidak pernah peduli pada sekitar, hanya melakukan apa yang menurutnya bermanfaat, dan tidak memiliki hati. Tapi gadis kecil itu telah merubah cara pandangnya, bahkan tanpa ia sadari. Sikapnya berubah, hatinya berubah, ia hampir tidak mengenali dirinya yang sekarang. Namun di sisi lain, ia bersyukur, karena bertemu gadis itu, juga atas perubahan yang tidak ia kehendaki ini, sehingga kini ia bisa berterima kasih kepada tuhan seperti cara gadis itu berterima kasih.

Kakinya menginjakkan langkah pertama di rumah duka yang kini dipenuhi orang-orang berpakaian rapi serba hitam, namun Jinki berdiri dengan hati hancur, tidak peduli pada pandangan orang-orang yang bingung melihat mantel coklat yang membalut tubuhnya. Ia melangkah masuk dengan hati-hati, hingga matanya menemukan sosok itu. Tubuh seorang wanita dengan setangkai mawar putih cantik di tangannya dengan selembar foto gadis kecil dan ayahnya, yang ia lihat dua hari lalu. Sementara itu sebuah minatur boneka batman diletakkan di atas dadanya, membuat Jinki terpaksa mendongak untuk menahan air matanya.

Setetes air mata mengalir juga di pipinya, membuatnya terkejut. Terakhir kali Jinki meneteskan air mata, ketika ia diperolok teman-temannya enam belas tahun yang lalu. Hidupnya kini berubah untuk selamanya, cinta yang gadis itu miliki untuk ibu dan adik laki-lakinya hingga saat ini terasa begitu sulit dibayangkan. Dan pemabuk itu telah merenggut segalanya.

Cinta dan kasih sayang seorang ibu yang semestinya bisa ia rasakan hingga waktu yang tidak bisa ditentukan, berakhir tanpa belas kasih. Adik yang baru saja merasakan bumi dengan kakinya sendiri, kini harus kembali menghadapi kegelapan, namun tanpa kehangatan seperti pada masa sembilan bulan dalam kandungan ibunya.

—š›♛♛♛—

*TING TONG*

“Iya, iya sebentar, aku datang.” Seorang wanita paruh baya tergopoh-gopoh berlari menuju pintu, senyumnya merekah ketika pintu itu terbuka.

Eomma,” Jinki langsung memeluk tubuh ibunya dengan erat.

“Oh, Jinkiya, ada apa denganmu? Apa kantormu mulai macam-macam?”

“Aku merindukanmu,”

“Aku juga,” wanita paruh baya itu mulai memeluk putranya dengan erat. “Aigoo, putraku yang paling tampan. Sejak kapan tubuhmu jadi sekurus ini, huh? Tinggal lah di sini selama beberapa hari, aku akan membuat banyak masakan enak untukmu.” Namun Jinki tidak berkutik, ia terus memeluk tubuh ibunya, mencium bau sampo dan sabun yang melekat ditubuh ibunya dan selalu membuatnya dirindukan.

Aigoo, Jinkiya, kita masuk dulu, pintunya harus ditutup.”

Shireo! Aku mau memelukmu hingga puas.”

“Baiklah, baiklah, aku juga ingin memelukmu hingga puas. Karena aku tidak tahu kapan putraku akan memelukku lagi.”

Eomma!” ibunya hanya terkekeh dan tetap memeluk putranya dengan erat, dengan begini, angin dingin yang berhembus tidak akan membuat putra semata wayangnya menggigil kedinginan.

“Wah, salju! Jinki lihat, hujan salju. Sudah lama sekali aku berharap hujan salju turun ketika kita sedang bersama seperti ini, akhirnya Tuhan mendengar doaku.”

Namun ini tidak berarti apa-apa, Jinkiya. Melihatmu saja sebenarnya sudah lebih dari cukup, namun berada dalam pelukanmu ini, aku tidak akan mati dengan penyesalan sama sekali. Tuhan mencintaiku, Tuhan juga mencintaimu, aku tahu. Ia akan selalu memberi lebih meski aku tidak meminta, aku hanya ingin melihat salju turun ketika membukakan pintu untukmu. Namun, Tuhan memberiku kesempatan untuk melihat salju turun, dalam pelukanmu, putraku.

“Aku mencintaimu, eomma.”

“Aku juga, sayang.”

 Terima kasih tuhan, untuk segalanya. Maaf karena aku tidak pernah berterima kasih lagi kepada-Mu sejak beranjak remaja, maaf juga karena mengabaikan kehadiranMu selama ini Tuhan. Tuhan, bersediakah Engkau mendengarkan permintaanku? Aku tidak akan meminta terlalu banyak. Aku hanya ingin, gadis kecil itu mendapatkan cinta kasih yang cukup untuknya. Biarkan ia dicintai oleh apapun yang ia cintai, hingga semua makhluk di bumi ini sadar bahwa manusia sepertinya lah yang sangat dibutuhkan oleh dunia. Kemudian, biarkan aku mencintai kedua orangtuaku lebih lama, aku berjanji akan menunjukkan cintaku pada mereka lebih sering. Terakhir, jagalah kami, yang masih bernafas di bumi, maupun yang telah berada di sisiMu dengan cintaMu. Hingga seluruh umat manusia sadar akan besarnya belas kasihMu, dan balas mencintaimu seperti Engkau mencintai kami para manusia.Terakhir, terima kasih telah mengizinkan aku untuk memeluk ibuku, membuatku sadar betapa aku rindu akan kehangatan pelukannya. Sekian doaku hari ini, dari umat yang baru kembali mencintaimu. Lee Jinki.

YA! TUTUP PINTUNYA! Pantas saja sejak tadi aku kedinginan. Kalian gila ya? Berpelukan di depan pintu yang menjeblak terbuka. Memangnya kita sedang syuting film? Cepat masuk!”

APPA!”

WAE?!”

“Dasar menyebalkan!” Jinki menutup pintu rumahnya dengan kesal, namun tidak cukup untuk membuatnya berhenti tersenyum apalagi bersyukur.

Lelaki paruh baya itu duduk di depan perapian, kemudian tersenyum. Terima kasih, Tuhan.

—the end—

Note: http://chamorina.tumblr.com/post/39222384112/i-was-walking-around-in-a-target-store-when-i-saw-a . Aku terinspirasi dari cerita ini, dan berapa kali aku baca tetep aja make a stream of tears. Semoga cerita ini bermanfaat dan menghibur, untuk segala kekurangannya harap dimaklumi. Seluruh kritik dan saran akan aku terima dengan senang hati. Terima kasih sudah membaca ^^

Poster dibuat oleh salah satu artworker di Art Factory ^^

©2012 SF3SI, Zikey.

Officially written by Zika, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

58 thoughts on “[FF PARTY 2012] White Christmas

    1. Seriusan? xD
      Sebenernya sih aku lebih kepingin mengesankan si anak kecil ini innocent dibandingkan wise:/
      Oh ya?
      Kkkk 8,99?😀
      Makasih banyak udah mampir dan komen ^O^

      1. hehehe… mank ngomongan itu anak innocent banget. tpi kok aku ngerasa dia wahh banget karena sangat sayang ma adiknya. emmm… atau aku salah nangkep? #bola-kali’

        hehehe… kan biasanya guru bahasa indonesia kasih maksimal 9 walaupun nilai itu ampe 10. xixixi #aneh

        1. Oh gituuuuuu ._.
          Kalau berdasarkan pengamatanku sama sepupuku yang masih kecil-kecil sih, sebenernya mereka saling sayaaanngg banget cuma sering bertengkar aja. Jadi kalau kamu perhatiin sekitar (kalau punya adik/sepupu yg masih kecil) pasti sikap semacem ini bakal ketemu deh🙂

          Oh iya hahahhaa.. makasih makasih ^O^

  1. Zikey Eonnie! Senengnya, Eonnie punya waktu buat bikin FF Party~

    Anu… Eon, ceritanya bagus (pake banget malah) tapi… Apa anak kecilnya terlalu bijaksana? Maksudku, kadang bahasa yang anak kecil ucapkan itu (biasanya) bukan bahasa Indonesia yang baik dan benar._.

    Anyway, lupakan. Itu nggak membuat cerita ini menjadi jelek kok, justru tersentuh. Love it~ Jjang Eonnie!

      1. Sebenernya nih ya..
        aku lebih kepingin menekankan pikiran innocent si anak kecil, bukan bijaksananya
        Aku gak ngerasa anak kecilnya bijaksana loh, cuma full of love dan innocent. She thinks she understand but yet she not
        Mungkin pilihan diksinya kali ya, jadi terkesannya anak ini wise:/

        Minho lebih cocok? Dari sisi mananya nih? Sebenernya Jinki juga cocok kok, cuma pencitraan dia yang nempel di otak kita kerasa gak biasa sama pencitraan yang aku bikin di FF ini
        ya gak sih? apa enggak ? ._.a kkkk~

        Btw, thanks ya udah mau mampir terus komen, panjang pula😀 *hug*

        1. Iya juga sih ya, anaknya masih innocent gitu._. Mungkin karena kata-katanya yang menggunakan bahasa Indonesia yang teralu… Apa ya? Formal kayaknya, jadinya kelihatan dia itu… ‘Woah’ (?)

          Mungkin begitu, soalnya Jinki yang kutahu selama ini yang : ceroboh, sangtae, unyu dan ‘kadang’ bijaksana. Dan soal yang one night stand itu, honestly I’m shocked._.

          Pokoknya tetep cemungutdh Eon! Ini udah keren banget *hug balik* ;3

    1. Tears? Really?
      Woooaaaa *O*
      xD
      Aaahh banyak FF yg lebih pantes buat jadi pembukaan, aku gak nyangka FF ini bakal jadi pembukaan. Belum nyampe levelnya ._.
      Wll, thanks for visiting dan komen tentunya ^^

  2. eeh, udah mulai ff party-nya..🙂 Cast-nya Jinki.. Saya sukaaa… Sempet bingung pas ada dialog eomma-nya Jinki yg marah2, ternyata itu mesin penjawab telpon ya? Zikey-ssi, mau tau nih, siapa gadis yang minep di rumah Jinki? soalnya gk ada keterangan gadis itu siapa.. Ceritanya bagus, pesan moral dapet.. Jadi kangen nih sama eomma saya🙂

    1. Iya, aku aja sampe lupa kalau ini udah tanggal 23 hehe
      Oh ya? Bikin bingung ya? ._.
      Waduh, aku gak mikirin gadis yang itu.. cuma numpang lewat aja jeng ._.v
      Ceritanya cuma one night stand jadi itu cewek gak dikenal heheh~

      Makasih ya udah mampir dan komen ^^

      1. Hahahha.. *brb nonton ulang innocent man xD*
        intronya beneran terpengaruh sama Maru nih kekeke
        Iya, padahal waktu itu aku udah mau ganti eh lupa. Aku cuma ganti di word, yg udah masuk ke draft nya gak ku ganti. nanti ku edit deh

        Makasih ya udah mampir, terus komen😀

  3. *tarik napas dulu*
    Kak Zikey ini bagus banget! Sukses bikin aku berkaca-kaca :”)
    Aku banyak nangkep pesan moralnya disini, gimana kita harus menyayangi orang-orang di sekitar kita, terutama Ibu :”)
    Aduh, really good story aaaaaaaa~~~ d^^b

    Oya, ada sedikit ya kak? Aku nemu ini, “tuhan” ditulis pake huruf kecil, yang aku tahu harusnya pake huruf besar kan ya, jadi “Tuhan” ^^
    Just it, aku terlalu larut dalam ceritanyaaaaa… Jinki-yaaa, saranghae *eh?*

    1. *ikut tarik nafas*
      Gak pake banget laahh, ‘bagus banget’ itu cuma buat karya yang gak ada salahnya🙂
      Berkaca-kaca? Aku aja sambil nulis sambil nangis hahaha~
      Makasiiiihh, pujiannya aku telen baik-baik loh supaya sehat😀
      Iya, mataku udah seliwer ngeceknya hehehe, tapi tulisan tuhan yang lain udah kapital kan?🙂

      Makasih yaaa udah mampir terus komen lagi ^O^

  4. Kak Zikey, maaf baru komen, tadi baca cerita ini di angkot dan sukses terhanyut di dalamnya, peduli amat deh penumpang lain ngeliatku aneh🙂
    Jarang2 aku baca ff yang Jinki-nya seperti ini, tetapi menurutku cocok, kok🙂 *maklum, hobi baca ff OOC*
    Sempat bingung pas ada dialog yang nyuruh jinki cepat angkat telepon, baru ngerti maksudnya pas baca beberapa komen di atas.
    Dan mengenai anak kecilnya, aku nggak ngerasa dia terlalu bijaksana sih, tetapi emang sikapnya ‘mature’ gitu karena kehidupannya yang nggak selalu bahagia, innocent-nya juga dapet. Terharu pas Jinki nukar duit anak itu dengan 10 ribuan..ah pokoknya ff ini keren banget🙂
    Soal typo, sama dgn di atas, cuma kata tuhan yg nggak diawali huruf kapital aja yg sempat kelihatan, selebihnya oke🙂

    1. Gak apa-apa lagi ^^
      Hahaha, tapi kan Ff ini ga kbikin ngakak ataupun nangis, jadi gak bakalan disangka oranggila kan? xD
      Hihihi, aku juga orangnya seneng coba yg out of character gitu
      Iya, harusnya aku perbaiki tuh biar lebih jelas:/
      Fiuuuuuhhh…
      Dari sekian komen, aku jadi mikir juga, apa aku beneran salah pilih diksi sampe anak kecilnya terkesan bijaksana gitu ._.
      Keren aja ah, gak pake banget *tetep mau dibilang keren hahaha*
      Oke!
      Makasih banyak ya udah mampir dan komen ^O^

    1. Hah? Kurang ngerti? Demi apa deh?
      Yaaaahhh… ._.
      berantakan alurnya? atau apa? apa yang bikin gak ngerti? semuanya? ;_;
      btw, makasih udah mampir dan komen ^^

      1. oh ya.. trus yg itu.. wanita yg pegang mainan itu ibunya? trus yg meninggal itu anak kecil itu? trus bukannya ibunya yg kata ayahnya akan meninggal?

        1. Untuk yang awalnya itu, itu cuma intro aja sih
          buat ngejelasin si Jinki ini sosok yang seperti apa di FF ini😀

          Kalau menurutku nih yaaa.. kamu bacanya kurang konsen deh:/
          atau mungkin karena aku pakai kata ‘perempuan’ untuk menyebut si ibunya yg kecelakaan. Harusnya aku pakai kata ‘wanita’ ya..
          jadi, ada sebuah keluarga, terdiri dari ayah, ibu, anak perempuan, dan anak laki-laki. Nah, si ibu dan si anak laki-laki ini kecelakaan. seperti yang Jinki baca di koran.
          pas jinki jalan ke mall, dia ketemu sama si anak perempuan dari keluarga tadi. intinya sih begitu. coba deh dibaca lagi. kalau masih bikin bingung, berarti emang aku yang salah ^^

      2. iya kyknya kurang konsen.. soalnya aku konsennya pas intinya yg jinki ketemu si gadis kecil itu pas di kasir itu wkwkwkwkwk

        huum.. nah.. aku bingung itu. kan klo gadis/perempuan aku jd mikirnya masih lajang gitu… hehehe

  5. karena terlalu terbiasa makanya tidak merasa. bersyukur.
    mataku sampe panas. kalo ingat kata ibu jadi pengen nangis.
    daebak author!!!

    1. Bener, karena terlalu terbiasa sampai terasa tidak dibutuhkan🙂
      Hihihi, aku juga, sebenernya nulis ini berat banget, inget sama mama terus xD kekeke~
      Makasih udah mampir dan komen ^O^

  6. WHOA!!
    Jjang!!!
    Daebak

    Keren bgt deh itu jinkinya:3

    gadis kecilnya itu bikin aku……………..gmn gitu:”

    Keep writing

    1. Waaaahh.. pujiannya terlalu banyak nih
      Satu aja pujiannya😀

      Hihihi.. aku juga gak tau kenapa jadi kepingin selingkuh sama Jinki (?)
      Sipp!! ^^
      Makasih ya udah mampir dan komen🙂

  7. waduh, ini sedih sekali… Eh, ini terispirasi dri kisah nyata kan yah?
    kl g salah ak prnah ntn film tv-nya, inget bgt adegan di mall itu. cma yg pfn dibeli ank kcilnya itu sepatu.hhe.
    ceritanya bgus u/mengingatkan kta sma orangtua. jgn smpe kta bru sdar stelah kita kehilangan. Nice FF🙂

    Oh iya, ada masukan sdikit nh driku. Aku agak janggal sma kalimat –> “..Nothing’s happened between us…”
    mgkin mksudnya Nothing happened kli yh. kl ‘s dsitu sbagai aux is/was jdinya aneh dn bkin ak rda ngakak sndri ^^v
    atau kl mksudmu itu Nothings (No things) ga usah pake tanda ‘.

    oKEY sekian dariku😀

    1. Sedih ya? ._.
      He-eh. Oh ya? Pernah ada film semacem ini? Inget judulnya?
      Betul betul betul😀
      Makasiiihh~

      Nah! Itu dia hahaha.. aku bingung dari kemarin
      kok kayaknya ada yang janggal dari kalimat-kalimat english yg aku tulis
      yakin banget ada yang aneh tapi gak ngeh juga yang mana *lagi eror*
      untung aja di kasih tau😀

      Okey, makasih yaaa udah mampir dan komen ^O^

  8. So sad.
    adegan paling berkesan it pas bang Onyu manfaatin kepolosan si gadis kecil, dan nukar uangny jd 50rebu.

    dan endingny, I like how his appa react!
    ah ya , openingny, EHEM!
    SYA TIDAK SUKA! DEMI APA SUAMI SAYA DIJADIKAN SEMESUM ITU
    aaaa~
    ciyus, coba kamu d depanku, langsung kugampar pake badik *smirk*

    okeh, ini bagus tau gak. Sudah lama gak nikmatin tulisanmu ZIka🙂
    dan sequelmu itu, amigos, kapaan ad lanjutanny?!
    gak sabar tauuuk

    1. Wiiiihh
      Itu adegan favorite ku masa xD
      Berharap itu jadi twist gitu, aku bingung nutup ceritanya gimana kekeke
      Wooppss
      Sorry sorry, tapi kan selanjutnya worth buat karakter si Onew hwuehehehe~

      Emang udah lama banget yaa?? *cek arsip*
      Iya iya ampun amigos ._.v
      aku lagi nabung kok, nanti kalau udah dapet sekian part langsung aku masukin ke draft😀
      tenang ajaaaa~ hihihi, sebentar lagi masuk ke draft deehh

      Makasih ya udah mampir ^O^

  9. Anyeong, Zikaaaaaa….
    Mian baru mampir RC.

    Demiapaaaaaaaaa,
    Ini kereeeennn, jadi kangen ibu dan masakannya.😦

    ONEW PERVERT !!!!
    Kkk~

    aku gak ngeliat Typo. Tll hanyut dlm kisah bocah cilik+Onew. Kkk~

    moga menang ya…
    ~chup

  10. kayaknya aku udah lama yah gakbaca tulisan kak zika ;u; hehe
    aku sedikit ngakak dan geli baca openingnya. ngebayangin jinki jadi badboy gitu, umm……😄
    tapi begitu masuk ke pertengahan cerita, oke, itu sedih banget. aku ngebayangin itu adikku, huhuhu ;;~~~;; feelnya dapet banget sampe endingnya, dan ditutup dengan ngakak gegara kelakuan appanya kk :”D ah, segala sesuatu ttg keluarga, terutama ibu, emang selalu sukses bikin sedih :”)
    oh iya, kak, tadi kayaknya aku baca itu awalnya anak kecilnya mau beli boneka pahlawan, terus tau-tau jadi mobil-mobilan, dan di bawahnya lagi balik jadi pahlawan. sebenernya yg mau dibeli itu boneka pahlawankan? err…. oke, aku gakbisa merangkai kata yg pas buat ini -_-v hehe *pelukjinki*

  11. Zikaaa… udah lama baca ini dari hape dan aku terhenyak bacanya. Dikira ini bakal cerita romancel, ga taunya… mengharukan TT
    Ff ini bermakna, yaaa… kepolosan anak kecil itu emang menyentuh.
    Ada beberapa kesalahan EYD tp aku engga inget di sebelah mana krn bacanya udh beberapa hari yg lalu. hehe…

    Tapi di bagian belakang aku agak2 ngerasa aneh, ga tau kenapa. Tetep berkarya ya ^^b
    2NE juga kemana nih ga nongol2…

  12. Great job!!
    Moralnya ngena banget, aku terharu:’
    Jujur awalnya males gitu ada one night stand. Gak suka karakter Jinki nakal:'( tapi makin kebawah….wah…superduperdaebak!! Karena covernya Lauren, aku bayangin Lauren yg imut2 itu ngomong dengan polosnya tapi jelas banget kalo dia sayaang banget sama keluarganya
    Syukurlah Jinkinya akhirnya mengunjungi orangtuanya setelah ketemu sama gadis kecil ituu🙂 suka deh bagian yg Jinki mengalihkan perhatian gadis kecil itu dan nuker uangnya dengan 10.000an won. Iiii unyuu:’

  13. Hai^^
    Sebelumnya, ada beberapa kesalahan penulisan preposisi ke dan di seperti kemana yang seharusnya ke mana
    Beberapa tanda baca pada kalimat langsung juga ada yang salah, tapi karena terlalu hanyut dalam cerita, akhirnya kelupaan yang mana aja yang mau dikoreksi hehe
    Ceritanya simpel, penulisannya juga simple tapi tetap mampu menghayutkan saat dibaca
    Paling tersentuh sewaktu si anak kecil itu jawab pertanyaan Jinki, image anak kecilnya yang innocent bener-bener jadi faktor yang kuat dalam cerita ini
    aaaakh, coba sewaktu Jinki ke rumah duka ada sedikit scene mereka bertukar dialog, pasti makin tersentuh ><
    Good luck ^^b

  14. Annyeong. ^^
    Sama kayak yang Yuyu bilang kalau masalah typo. Terlepas dari itu, aku mau kasih saran lagi dalam hal narasian nih. Narasi kamu bagus deh, detail dan cukup rapi. Tapi ada kalanya, tidak semua hal harus dinarasiin karena kadang justru malah membuat pembaca bingung dan harus berpikir ulang sebenarnya poin apa yang ada dalam narasi itu. Menurutku, untuk suasana, latar, tempat itu bagus banget kalau dinarasiin karena bisa menuntun imaginasi. Sisanya, mungkin bisa diperpendek aja penjabarannya supaya gak terlalu membosankan.
    Soal ide cerita, simple but touching. ^^b

  15. Walaupun telat, nambah-nambahin komen masih boleh kaann? xD

    Dari pertama aku baca (well, aku baca beberapa hari setelah di publish. tapi gak sempet komen hehe), aku ngerasa ada yang kurang nih. Terus aku sampe baca ulang, selain terkesan buru-buru, kira-kira apa yang bikin FF ini agak kurang outstanding.
    Klimaknya kak! Klimaksnya kurang tinggi(?), maksudku kurang makjleb gitu kak. Setuju tuh sama Yuyu eon. Kalau aja ada dialog antara si anak kecil sama jinki pasti lebih uwoh(?) hehehe.

    Btw, i’m not the only one who wait for your daily FF loh. Buruan publish!
    Love ya!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s