[FF PARTY 2012] Like A Mirror

Like A Mirror

Tittle                : Like A Mirror

Author             : Lee Hana

Main cast        : Choi Minho and Lee Hana (sekali-kali author boleh eksis juga kan?)

Support Cast    : Lee Taemin, Shim Hyori and Nyonya Lee ( Hana Eomma )

Genre              : Drama and Life

Length             : Vignete

Rating              : G

Summary         : “Aku tidak memikirkannya, Taemin. Aku memikirkan kenapa bisa kehidupan  kita sekontras ini.”

Ket                   : OP

FF ini aku buat tepat di hari ulang tahun Minho dan ulang tahunku #ff pelampiasan. Serius! Mungkin itu alasannya kenapa aku begitu suka Taemin, sama seperti Minho. Hahaha….

______ HanaProv~

 

Aku duduk di kelasku seraya menatapi selembar robekan kalender di tanganku. Tak sadar air mataku menetes. Hari ini begitu berharga bagiku. Tetapi kenapa? Kenapa tak ada yang mendekati kata berharga, setidaknya dalam hatiku. Semua hambar. Kenapa begini?

Di kelas yang sepi ini satu persatu siswa masuk. Memenuhinya dan kembali membuat kegaduhan seperti pagi-pagi biasanya, tetapi hari ini jauh lebih gaduh karena seseorang tengah berulang tahun. Seseorang yang begitu terkenal sepertinya tentulah akan mendapatkan hal istimewa seperti ini. Kontras sekali denganku. Mereka mengelilinginya dan memberikan banyak hadiah. Mengatakan “saengil chukahaeyo.”

Seseorang datang menghampiriku. Itu adalah sahabatku Hyori, Shim Hyori. Sahabat yang banyak bicara tetapi aku tetap menyukainya. Sahabat yang selalu berbagi kesedihan bersamaku. Hanya kesedihan, aku tak terlalu peduli dia membagi kebahagiaannya denganku. Yang aku mau kita bisa saling mengisi di kala kesedihan menyelimuti kita.

“Lee Hana, saengil chukahaeyo! Tapi bagaimana ini? Aku tidak memiliki kado. Bagaimana jika aku mentraktirmu makan sampai kenyang sebagai gantinya?”

Gomaweo Jeongmal, Hyori-ya! Tidak apa-apa. Lagi pula kau sudah sangat royal padaku selama ini,” ujarku penuh ketulusan.

Ia duduk di sebelahku dan menatapku manja. “Tidak apa-apa. Sebentar lagi aku kan ulang tahun juga, nanti gantian kamu yang traktir aku,” ujarnya senang.

“Iya.”

Aku senang. Setidaknya masih ada dia yang mau mengatakannya untukku. Orang tua dan saudaraku. Bagi keluarga kami hari seperti ini bukanlah hal yang penting. Tetapi gara-gara seseorang aku menjadi sesedih ini. Kenapa? Kenapa harus begitu berbeda?

______ Minho Prov~

“Taemin-ah, aku boleh cerita tidak?” tanyaku kepada seorang namja manis yang tinggal sekamar denganku. Seseorang yang sudah aku anggap sebagai adik kandungku. Lee Taemin.

“Apa, Hyung?”

“Aneh, Taemin. Aku merasa dipandangi seseorang di kelas terus menerus.”

“Itu kan biasa, Hyung. Mungkin dia fan-mu.”

Aku yang sejak tadi duduk di kasur kini beranjak dan menaiki kasur Taemin. Duduk di sebelah Taemin.

“Bukan begitu, Taemin-ah! Tatapannya! Dia menatapku benci. Tatapannya sangat menyeramkan,” ungkapku khawatir.

“Kalau begitu dia antifans, Hyung! Sudahlah, cuek saja seperti biasanya!”

“Aku sudah coba. Tetapi aku terus saja mengingatnya. Aku tidak bisa lupa tatapan itu, Taemin-ah!”

“Kalau begitu terserah kau saja, Hyung! Kau bisa langsung bertanya padanya atau membiarkannya dan tak mencampuri urusannya seperti biasanya,” ujar Taemin kemudian pergi keluar kamar.

Aku terdiam dan berpikir. Aku benar-benar terganggu karena masalah ini.

______ Hana prov~

“ARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRGH! AKU BENCI ORANG BERNAMA CHOI MINHO!!! IDIOOOOOOOOOOOOOT!!!

Setelah berteriak aku lelah. Membuat suaraku sedikit serak, tetapi aku masih memiliki cukup kekuatan dan suara untuk menangisi kemalanganku. Tidak! Aku tidak malang! Aku hanya sedikit tidak beruntung. Aku tak seberuntung dirinya. Tak pernah….

Aku berjalan cepat. Langkahku terhenti. Aku bertabrakkan dengan seseorang. Ya , ini salahku, aku berjalan tanpa melihat ke depan dan terus saja sibuk menunduk. Orang itu Choi Minho. Hampir saja kata maaf terlontar dari bibirku. Tetapi ketika melihat orang itu adalah dia, niatku urung sepenuhnya. Aku menatapnya. Tidak! Kami hanya bertatap sebentar dan aku berlalu.

Di dalam langkahku yang penuh kemarahan, dia masih saja menatapiku. Melihatku? Apa dia melihat mata sembabku? Masa bodoh!

______

Seseorang menghampiriku ketika berjalan. Sekali lagi, aku bertemu dengannya. Kenapa dia harus muncul? Tidak cukup kah aku melihatnya sepanjang hari di kelas? Tak tahukah ia betapa tersiksanya aku ketika melihatnya?

Anyeong!” sapanya ramah penuh senyum.

Ya, itu sangat manis. Senyum yang begitu manis, tetapi tidak cukup manis untuk membuatku dapat membalas senyumannya. “Anyeong!” balasku dingin dan kembali berlalu.

Namja itu kembali melihatku yang tengah berjalan. Aku meghampiri seseorang yang telah menungguku dari tempat itu. Ia melihatku menghampirinya.

“Hyori-ya!” panggilku riang.

Gadis manis itu melihat ke arah Minho dan Minho segera mengalihkan pandangannya. Ia kembali berjalan.

“Itu Choi Minho, kan?”

“Hmmm,” jawabku malas.

“Dia tadi melihatimu terus tahu. Mungkin saja dia menyukaimu, Hana,” canda Hyori.

“Kau bercanda seperti itu. Kau kan tahu aku membencinya. Jangan sebut namanya lagi di hadapanku, mengerti?!” bentakku kesal.

“Begitu?” ujarnya seraya melirikku jahil. “Choi Minho! Choi Minho! Choi Minho!” ujarnya dengan nada mengejek.

Aku ingin memukul anak itu, tetapi ia malah berlari. Meski begitu ia tidak menghentikan kata-kata itu. Karenanya aku mengerjarnya dan aku bahagia bercanda dengannya seperti itu. Meski menggunakan nama itu. Choi Minho. Cih!

______ Minho Prov~

Kembali. Kembali Hana bertemu denganku. Kembali  bertabrakkan dengannya.

Mianhaeyo!” ujarku sopan.

Gwenchanayo,” ujarnya dingin dan berlalu.

Tak sadar ada sesuatu yang hilang dari dalam tasnya. Sesuatu yang penting. Ini akibat kecerobohan Hana tak menutup tasnya dengan sempurna, akibatnya buku itu jatuh. Ini sungguh fatal.

Aku mengambil sebuah buku biru yang tergeletak di lantai. Aku ingin memberikannya pada gadis itu, tetapi Hana terlanjur menghilang dalam kerumunan anak.

Aku memandang buku itu dan memasukkannya dalam tas.

______ Hana Prov~

“Kemana?! Kemana buku diaryku? Aaaaah!”

Aku bercuap-cuap sendiri. Aku kesal dan takut. Aku sudah mencarinya kemana-mana. Seingatku aku membawanya ke sekolah.

“Tidak! tidak!” pekikku. “Semoga hilang! Aku harap buku itu hilang saja! Semoga tak ada yang menemukannya dan membacanya. Terlebih memberitahu isinya pada Choi Minho. Tunggu dulu! Di sana kan tak ada namaku. Lega. Tapi, bagaimana jika orang itu tahu itu milikku? Mati aku!”

______ Minho Prov~

Aku masuk ke dalam kamar. Di sana tidak ada Taemin.

Duduk di ranjang dan mulai membuka tas. Mengambil buku biru itu dan membukanya. Membacanya sedikit.

“Diary!” pekikku.

Seseorang datang. Itu Taemin. Buru-buru aku memasukkan buku itu lagi ke dalam tas. Aku tidak mau dipergoki sedang membaca diary orang. Itu bukanlah hal yang baik kan? Tentu aku malu melakukannya di hadapannya.

Hingga malam harinya aku diam di ranjangku seraya mendengarkan musik, menunggu Taemin tertidur. Akhirnya anak itu tertidur setelah aku menunggu beberapa lama. Setelah Taemin meminum banana milknya ia tertidur dengan lelap. Tanganku dengan nakal membuka kembali buku itu. Membukanya penuh dengan keragu-raguan. Sebenarya aku tidak mau melakukannya, tetapi rasa penasaran terus menarikku. Hingga pada akhirnya aku membacanya lembar demi lembar hingga lelah.

Sekarang aku bisa mengerti posisi gadis itu. Mungkin saja, jika aku berada di posisinya aku juga akan sama sepertinya. Aku sedikit merasa bersalah, meski aku tahu ini bukan salahku. Tetapi aku salah telah membaca  diarynya tanpa ijin. Aku mendesah.

______ Hana Prov~

Aku kembali bertemu dengannya, tetapi tidak lagi di luar kelas. Saat ini aku sedang menggeletakkan kepalaku di atas meja. Aku masih saja mengantuk. Choi Minho. Namja itu menyodorkan benda berharga itu.

Aku serentak membenarkan posisiku. Aku duduk dan segera mengambil buku itu. Aku menatapnya takut.

“Kemarin itu terjatuh saat kita bertabrakkan,” ungkapnya.

Aku menyipitkan mataku. Menatapnya tajam. “Kau… membacanya?”

Choi Minho mengangguk dengan penuh rasa bersalah.

“Tak tahu adab!” makiku dengan penuh rasa malu dan perasaan marah yang teraduk-aduk menjadi satu di hatiku.

Aku sungguh tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang, karenanya aku pergi. Aku berlari menjauh darinya. Kembali datang pada sebuah tempat sepi yang tak akan ada seorang pun yang tahu apa yang aku lakukan. Memperlihatkan semua kelemahan, kelelahan dan semua perasaanku.

Aku duduk di pojok tempat itu. Meringkuk dan menenggelamkan kepalaku dalam penyesalanku. Merutuki diri ini yang begitu ceroboh.

Seseorang datang. Ia menyebut namaku dan aku mengangkat kepalaku untuk melihatnya. Untungnya saat ini aku tidak sedang menangis. Namja tinggi itu berdiri tepat di hadapanku.

“Kenapa kau bisa kemari?” tanyaku ketus.

“Hyori memberi tahuku.”

Aku kesal. Kenapa anak itu harus memberi tahunya. “Lalu apa lagi? Bukankah urusan kita sudah selesai?”

Mianhaeyo,” ujarnya.

Mian? Buku itu? Tak apa, asalkan kau tidak memberitahukannya pada siapapun, termasuk teman satu dormmu.”

“Bukan. Aku minta maaf membuatmu sedih.”

Aku terkejut. Apa itu akan meluluhkan hatiku? Tidak! Aku justru marah ketika ia mengatakannya. “Kau salah apa padaku?!” bentakku dengan mata melotot, dan napasku mulai memburu.

“Aku hanya merasa bersalah karena orang-orang lupa pada ulang tahunmu karenaku.”

Aku menginjak kakinya keras-keras hingga ia menjerit kesakitan dan memegangi kakinya itu.

 “Idiot! Apa yang salah hah? Kau itu tidak salah, Babo! Tak ada satupun yang bisa aku persalahkan! Tidak juga takdir ataupun Tuhan! Tak ada!” ujarku marah dengan linangan air mata yang sudah tidak bisa aku tahan. Air itu mengalir di depan matanya. Aku berlari menjauh. Aku tidak mau ia melihatnya. Tidak akan pernah!

Sekarang aku harus mencari tempat lain untuk menangis. Tapi dimana? Tak ada yang lebih baik dari tempat itu. Aku membencimu, Choi Minho!

______ Minho Prov~

Aku memasuki kamarku. Melepaskan sepatu dan tertidur di kasurku begitu saja. Aku merasa sedih dan semakin merasa bersalah. Di saat itu Taemin masuk. Tidak sengaja ia melihat kakiku yang merah tanpa bisa melihat raut wajahku yang muram karena membelakanginya.

Hyung, kakimu kenapa?”

Aku tak menjawab.

Hyung, kau tidur?” tanya Taemin lagi seraya memutari tempat tidurku. Ia melihat wajahku yang sedih. “Kenapa, Hyung?”

Aku bangkit dan duduk. Aku mendesah berat. “Gadis itu. Maksudku Hana. Dia membenciku karena ia sedih, Taemin. Ia merasa iri padaku. Kami lahir di tanggal yang sama, tetapi kehidupan kami sangatlah berbeda. Itu yang membuatnya marah. Ia juga menginjak kakiku.”

Taemin diam. Ia bingung mau berkomentar apa.

“Bahkan di saat ulang tahunnya, tak ada satupun dari keluarganya yang memberinya selamat. Itu kan menyedihkan sekali,” imbuhku lagi semakin sedih.

“Sudahlah, Hyung! Itu masalahnya. Kau tidak usah memikirkannya!”

“Aku tidak memikirkannya, Taemin. Aku memikirkan kenapa bisa kehidupan kita sekontras ini.”

______

Hari terus berganti dan aku terus memperhatikan gadis itu tanpa bicara padanya. Memperhatikannya diam-diam. Aku tahu jika aku berada di hadapannya akan memberikan rasa sakit tersendiri untuk Hana. Bahkan aku pun tahu betapa banyak kemiripan di antara aku dan dia, juga berapa banyak perbedaan diantara kami.

Gadis itu belakangan ini terlihat semakin baik. Dan itu membuat hatiku sedikit lega.

Sekali lagi. Aku bertemu dengan hana. Tapi kali ini ia tersenyum tipis padaku. Senyuman yang ia berikan pertama kali padaku. Bukan untuk sahabatnya lagi, tetapi untukku. Ia terlihat bahagia dan entah kenapa itu juga membuatku bahagia.

Mianhaeyo!” ujar Hana.

Mwo?” tanyaku tak percaya. Sepertinya aku salah dengar. Bagiku ini seperti sihir, atau sesuatu yang mustahil.

“Aku benar-benar minta maaf padamu, Choi Minho. Terima kasih sudah peduli padaku meski hanya dari jauh. Aku sudah mengerti. Ini hidupku. Aku tahu setiap orang memiliki takdir yang berbeda. Setidaknya aku senang  masih ada beberapa orang yang menyayangiku tulus. Aku sekali lagi minta maaf telah menjadikanmu sasaran kemarahanku. Aku tidak membencimu, Choi Minho.”

“Kenapa kau tiba-tiba berubah?” tanyaku heran.

“Saat ulang tahunku. Eomma memberikanku sebuah hadiah  terindah. Sebuah doa. Aku baru tahu belum lama ini. Hadiah itu selalu ia berikan padaku setiap hari. Bukan hanya saat ulang tahunku. Aku senang sekali. Aku adalah anak yang beruntung kan, Choi Minho?”

Aku membalasnya dengan senyuman.

 “Sampai jumpa!” pamitnya seraya melambai kepadaku.

Gadis itu berlalu setelah kembali memberikan sekilas senyumannya padaku, kemudian menghampiri sahabat yang tersenyum lebar ke arahnya. Mereka tertawa bersama. Aku tersenyum juga. Aku lega. Aku bahagia melihatnya tertawa seperti itu.

Aku tahu, ia merasa tidak diperhatikan karena orang yang selalu di hatinya, yaitu Eomma-nya, selalu sibuk bekerja untuknya. Sedangkan Appa-nya… tak ada tulisan di buku Diarynya. Kenapa? Meski begitu entah kenapa aku yang kini iri padanya. Setidaknya ia masih bisa melihat Eomma-nya setiap hari. Aku rindu Eomma.

______ Hana Prov~

Aku duduk di ruangan kecil ini. Duduk di atas kursi kayu dengan memegang sebuah kado yang aku letakkan di atas meja di hadapanku. Sesekali kepalaku terjatuh ke depan dan mulai kehilangan kesadaran,  tetapi aku berusaha tetap terjaga meski rasa kantuk semakin kuat. Rasanya seperti ada sesuatu yang menggelayuti kelopak mataku agar segera terpejam.

Aku melihat ke arah jam dinding, dan sekarang hampir tengah malam. Tampaknya Eomma bekerja lembur, karenanya aku harus menunggunya lebih lama, dan aku harus lebih banyak bersabar.

Di sela rasa kantuk yang semakin menggodaku agar segera tertidur, samar-samar aku dengar langkah kaki mendekat kepadaku. Itu Eomma. Senyum bahagia merekah di wajahku yang tampak lelah, tetapi tak pernah selelah wanita yang kini tengah berada di hadapanku.

Eomma!” panggilku bahagia.

“Hana, kenapa belum tidur?” tanyanya lembut.

Aku tersenyum kecil kemudian menyodorkan sebuah kado di hadapannya. “Karena aku ingin memberikan ini pada Eomma. Selamat hari Ibu!”

Eomma mengambilnya dan membukanya. Ia tampak terkejut melihat benda yang kini ada di tangannya, tak lama kemudian ia meneteskan air mata harunya.

“Aku membuatnya sendiri. Itu untuk menggantikan syal Eomma yang rusak. Apa Eomma suka?”

“Ini sangat bagus, sayang,” pujinya seraya melihat syal cokelat muda itu kemudian mengecup keningku dengan lembut. Sebuah tindakan yang sederhana, tetapi membuat hatiku terasa begitu hangat di sela musim dingin yang bisa membuat tubuh menggigil. “Eomma minta maaf karena tidak bisa memberikan apapun saat ulang tahunmu,” ujar Eomma dengan tatapan sedih.

Eomma sudah melakukan semua yang Eomma bisa untuk kami. Memberi kami kasih sayang dan mengurus kami hingga sekarang. Meski tanpa Appa, Eomma tetap kuat. Terima kasih banyak! Aku bahagia bisa terlahir sebagai anak Eomma,” ujarku tulus kemudian memeluknya.

Di saat ini aku benar-benar bahagia. Rasanya kehidupanku sudah lengkap. Meski tak memiliki keluarga yang utuh. Meski tak memiliki kekayaan yang berlimpah. Meski tak menjadi orang sehebat Choi Minho atau siapapun itu. Aku bersyukur dan aku bahagia.

***END***

Bagaimana? Dapatkah feel-nya? Baguskah? Semoga kalian suka ya. Judul sama cerita agak nggak nyambung ya? Yah, pokoknya ada alasan yang terselip di ff ini #pembelaan diri yang nggak jelas.

//

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

27 thoughts on “[FF PARTY 2012] Like A Mirror”

  1. Ff nya bagus kok, hanya saja menurutku alurnya terkesan cepat, ato memang saya sj yg rada mudeng, maaf banget, tp konflikny gak terlalu kental. duh, gak enak ati bilang ini *tapi akhirny blg jg*
    eyd ny rapi, ish suka deh sm tulisan rapi begini!
    dan sy sangat suka pesanny. bagian Hana bilang dpt doa tiap hr sm ibuny, it berasa dalem dan ngena banget loh!
    keep writing yaaa~

    1. ah… cius mi apah? hehehe
      ini emang sengaja aku buat cepet, soalnya otak aku buntu mau kasih konflik apa lagi. aku juga nggak mau kasih panjang-panjang takut pembaca cepat bosan.
      wah… seneng deh boram mau koment.
      thx….!

    1. plak! #pukul jidad.
      hwaaah, mian. aku writer baru, jadi masih baru belajar. aku emang agak ceroboh…
      but gomaweooo!

  2. FFnya bagus
    Tapi tidak dapat feelnya
    Ada juga pelajaran di dalamnya sekalipun hampir di ending
    Dan tidak ada unsur mencintai idol, Good
    Cerita yang normal tapi juga istimewa tersendiri

    1. nggak dapet feel? ya ampuun. padahal aku udah berusaha.
      mencintai idol? aku emang nggak terlalu suka sama minho, aku sukanya taemin. lagi pula aku pikir sekali-kali nggak pake romance bagus juga.
      thx yaaaaaah! C:

    1. curcol. curhat colongan, ya? baru tanya tadi sama teman. kalo dibilang curcol sih nggak ya. tapi hana cuma mau menumpahkan perasaan pada hal kayak beginian. dari pada banting barang. hana bukan orang yang punya hati lembut yang gampang nangis dll. jadi agak susah bikin ff yang bener-bener ada feelnya.

      emang pas waktu itu aku lagi bener-bener frustasi. hana percaya kalau kita melakukan sesuatu dengan perasaan ( khususnya ff ), maka orang yang membaca juga akan merasakan apa yang penulis rasakan.

      sekian dan terimakasih. #model pidato.

  3. Annyeong. ^^
    Cerita yang simple, ada pesannya, biar pun cara pembawaan alurnya sedikit terlalu cepat. Soal penulisan sudah rapi jadi enak bacanya. Tapi itu harusnya POV bukan PROV. ^^

    1. nde, eonnie. aku rasa aku emang suka bacanya ngaco. ngebacanya pov ingetnya prov, jadi ikut aja yang ada di otak. #manusia ngacok

  4. Menarik, pesan moralnya dapet dan cara kamu menulis juga enak ^^
    Secara penulisan udah rapi jadi aku enjoy ngebacanya deh 😀
    Oya, sedikit koreksi boleh?

    “Ini sangat bagus, (S)sayang,”
    bukan prov tp pov
    “Dia tadi melihatimu terus tahu –> mungkin begini lebih enak: “Dia tadi melihat ke arahmu terus tahu
    Diaryku—> kata asing ketemu kata dr bahasa indo dipisah strip setauku, jadi : Diary (italic)-ku
    Aku serentak membenarkan posisiku —> Kenapa km pakai kata serentak? Serentak itu kan artinya ‘bersamaan’. Mungkin maksudnya ‘sontak’?
    “Kemarin itu terjatuh saat kita bertabrakkan,” —> agak ambigu, mungkin gini ? : “Kemarin itu terjatuh saat kita bertabrakkan,”
    Meringkuk dan menenggelamkan kepalaku dalam penyesalanku–> agak janggal krn ‘ku’ nya dua kali. Kayakna cukup gini aja: Meringkuk dan menenggelamkan kepalaku dalam penyesalan
    di(spasi)antara
    Sekali lagi. Aku bertemu dengan (H) hana

    Nulis terus ya… yakin deh km bisa oke bgd kalo diasah ^^

  5. klo typo kayak gtu sih, emang pas baca ulang masih banyak. krn dah dikirim saya nggak bisa ngapa-ngapain lagi. tapi nggak sangka ya sebanyak itu. maksih deh, komennya. suka banget kritik dan saran beginian, apa lagi masalah eyd. lagi belajar masalah itu.

  6. Wah, aku jadi keinget pas ultah kemaren temen sekelas gak ada yg ngucapin karena semuanya temen baru kenal -______- (baiklah abaikan)
    Hehehe, ini keren kok. Penulisannya menurut aku udah bagus, jadi enak bacanya. Tapi kayaknya alurnya kecepetan yah. Atau cuma perasaanku aja? Soalnya kayak, eum… cepet banget gitu tau-tau bahas ibu. Hehe, IMO aja sih.__.v Tapi emang bener kok, kado terindah itu doa dari ibu c:
    Keep writing yahh, hwaiting! ^o^

    1. emang cepet. soalnya buatnya sambil lari marathon #eh?
      wah, Hana sih langsung luluh, kalo denger kata ibu. wah thx deh mau komen

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s