[FF PARTY 2012] Time Machine: The Hurtful Memories [2.3]

cover ff time machine - the hurtful memories

Title : Time Machine – The Hurtful Memories (2)

Author : yongie_jjong

Main Cast : Lee Jinki, Choi Minho

Support Cast : Other SHINee member, Lee Donghae

Length : Trilogy

Genre : Horror (?) , Adventure, Friendship, Angst, Comedy, Fantasy, Life

Rating : PG

Summary : Mereka tidak percaya, semiris itu kehidupan Jonghyun. Ini baru semasa TK, bagaimana kehidupan selanjutnya hingga ia begitu tertekan seperti itu?

Keterangan : OP

A.N : Annyeong yeoreobun!! Ini lanjutannya TMTHM, aku ada ngasih sedikit NB disini, yang dicetak miring itu yang masa lalunya ya! Ehem, ratingnya naik soalnya ada beberapa adegan tidak manusiawi di sini.  Enjoy yeoreobun!

Disclaimer : All the storyline made by yongie_jjong!

Time Machine – The Hurtful Memories (2)

Summary – 1

“Baiklah, kita mulai ceritanya!”

 

Jonghyun mencoba menyalakan mesin waktunya, dan mereka berjalan melalui dimensi-dimensi waktu masa lalu…

 

~~~*

2

Yeoreobun… kita sudah sampai.”

Mereka sampai di depan sebuah taman kanak-kanak.

Seorang anak kecil, umurnya sekitar 4 tahun, berdiri di pojok pintu.

Wajahnya lesu. Ia hanya memandangi teman-temannya yang bermain di halaman, sedangkan ia hanya berdiri sendirian.

 

Seorang guru lewat di pintu itu, menghampiri anak itu dan bertanya.

 

“Jonghyun-ah, kau tidak bermain dengan teman-temanmu?”

 

Anak itu menggeleng. Wajahnya cemberut.

 

“Ani, seonsaengnim…” sahut anak itu.

“Itu kau, Jonghyun-a… AAAKKHHH!!!” tanya Jinki.

“Ck, hyung!” Minho menyikut perut Jinki. “Ya jelaslah, ga dengar ya waktu seonsaengnya panggil dia Jonghyun-ah?”

“Ah, hyung lupa. Hehe…” jawab Jinki cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Ne. Itu aku semasa TK,” kata Jonghyun.

“Ani? Waeyo, Jonghyun-ah?”

“Seonsaengnim, mereka mengabaikanku. Mereka membenciku…”

 

Si guru hanya menghela nafasnya. Jonghyun kecil hanya terus termenung sendirian. Apa boleh buat, guru tersebut harus menemaninya.

 

“Semua tidak mau bermain denganku,” kata Jonghyun. “Aku selalu sendirian di TK. Mereka membenciku hanya karena dulunya aku anak panti asuhan… Bahkan di panti asuhan saja aku juga diperlakukan seperti itu…”

Jinki dan Minho hanya bisa menggelengkan kepala mereka. Semiris inikah kehidupan Jonghyun?

“Seonsaengnim… tidak keberatan menemaniku di sini terus-terusan?” tanya Jonghyun.

“Aniyo. Waeyo?”

“Ani. Bertanya saja. Aku tidak enak melihat seonsaengnim yang terus menemaniku seperti itu.”

“Gwaenchana…”

“Seonsaeng, aku mau ke belakang.”

 

Jonghyun kecil berjalan menuju kamar kecil. Tapi…

 

“Ya! Anak bawang! Apa yang kau lakukan di sini?”

“Harusnya kau tidak boleh berjalan di sekitar sini!”

“Ini bukan tempatmu! Pulang sana!”

 

Mereka mendorong Jonghyun hingga jatuh ke tanah, kemudian melempar Jonghyun dengan segumpal lumpur, membuatnya menjadi sangat kotor.

 

“Sudah kami bilang, kami tidak mau bermain denganmu!”

“Kau pikir kami mau bermain dengan anak menjijikkan sepertimu? Jangan harap! Hiiyy~”

 

Mereka menjauhi Jonghyun, membiarkannya terduduk di halaman sekolah sendirian.

 

“Biarkan aku membantu- AAKHH!!!”

Ani, Minho-ya,” ucap Jonghyun lirih sambil menarik lengan Minho. “Kau tidak bisa melakukan itu. Percuma, kita tidak akan terlihat.”

“Uhh, padahal aku ingin membantunya…” kata Minho kesal.

Jonghyun kecil tertunduk. Bel tanda masuk kelas berbunyi. Perlahan, air matanya mengalir membasahi wajah kecilnya…

Minho dan Jinki hanya bisa terdiam melihat semua itu.

“Kau setiap hari seperti ini?” tanya Jinki lirih.

Ne, hyung. Aku sudah biasa diperlakukan seperti ini. Tidak hanya semasa TK, di SD sampai SMP juga begitu…”

Jinki dan Minho hanya menggeleng. Mereka tidak percaya, semiris itu kehidupan Jonghyun. Ini baru semasa TK, bagaimana kehidupan selanjutnya hingga ia begitu tertekan seperti itu?

“Ah, jangan terlalu dipikirkan yeoreobun. Kajja,” kata Jonghyun sambil tersenyum.

Mereka kembali menuju mesin waktu, melewati dimensi-dimensi waktu yang akan menghantarkan mereka pada cerita lainnya…

~~~*

“Kajja, yeoreobun!”

Kini, mereka berada di sebuah panti asuhan kecil, dindingnya kusam, anak-anak bermain-main di halaman panti, suasananya sangat ramai.

“Ckck,” Jinki berdecak risih. “Rame sekali di sini. Pasar saja kalah.”

“Hyung,” Minho menatap tajam Jinki. “Lalu apa yang akan terjadi di sini?”

“Hmm,” Jonghyun berpikir sejenak. “Aku lupa…”

Jinki dan Minho menepuk jidat mereka masing-masing. Anak ini…

“Bercanda,” Jonghyun menjulurkan lidahnya. “Di sini aku bertemu orang tua asuh. Saat itu aku masih kelas 1 SMP.”

“Jinjja hyung?” tanya Minho antusias. “Kalau gitu, nasib hyung akan lebih baik!”

“Lihat saja,” jawab Jonghyun santai sambil tersenyum simpul.

Sebuah mobil mewah berhenti di depan panti asuhan. Seorang saudagar kaya dengan istrinya keluar dan membawa Jonghyun pergi.

 

“Ayo, ikut.”

Mesin waktu itu mengantarkan mereka ke sebuah rumah yang sangat besar. Terlihat saudagar kaya itu, istrinya juga Jonghyun memasuki rumah itu.

 

“Awalnya mereka memang baik padaku. Karena mereka juga aku bisa bersekolah di sekolah kita sekarang, tapi…”

Jonghyun tertunduk. Ia kembali menjalankan mesin waktunya. Mesin waktu tersebut kembali berjalan, membuka dimensi baru.

“Hei, Jonghyun-ah, apa yang akan terjadi?” tanya Jinki penasaran.

Jonghyun tidak menjawab. Ia hanya mengepalkan erat tangannya, mengarahkan mesin waktu tersebut. Mesin itu bergerak dengan kecepatan tinggi, bahkan Jinki dan Minho sampai tidak bisa berdiri.

“Bisa pelankan mesinnya?” tanya Jinki ketakutan, sambil berteriak.

Hyung, aku tidak bisa berdiri,” gerutu Minho. “Pelankan kecepata-“

“Shireo!”

Kata terakhir Jonghyun membuat Jinki dan Minho terdiam. Tetap dengan kecepatan yang semakin meninggi, mereka keluar dari lubang antardimensi tersebut.

Jinki terlihat pusing, sedangkan Minho terlihat sedang muntah di sebuah toilet. Sekarang mereka kembali ke depan sekolah.

M-mwo? Sudah pagi?” kata Jinki kaget sambil mengerjap-ngerjapkan mata sipitnya. “Pesta tahun barunya sudah berakhir?”

Minho keluar dari toilet, ia terlihat sangat kaget saat melihat Jinki yang terduduk dengan wajah pucat. Plus, ia kaget melihat hari sudah pagi.

“H-hyung? Gwaenchana?”

Minho menghampiri Jinki, menatap cemas wajah pucatnya. Takut ada apa-apa yang terjadi dengan chingunya itu.

“Kau ini. Memangnya aku pingsan sampai segitunya?” Jinki kembali berdiri dan melihat sekelilingnya. Tak lama, ia menyadari sesuatu yang janggal.

“Hei, aku rasa ini bukan sekolah yang sekarang! Kalau ini sekolah di waktu di mana kita berada, pesta tahun barunya belum bubar! Ini masih jam 11 di waktu sekarang. Kalau memang sudah siang, pastinya lapangan sekolah akan sangat berantakan,” jelas Jinki panjang lebar sambil melirik jam tangan berwarna hitam yang ada di pergelangan tangan kirinya.

“Algesseo,” jawab Minho pendek. “Jadi sekarang kita masih di masa lalu?”

“Why not, Minho-ya~” jawab Jinki penuh gaya. “Lihat. Cat dinding sekolahnya kan yang lama. Bukannya dinding sekolah kita baru dicat ulang beberapa hari lalu?”

“Oh, iya…” Minho menepuk jidatnya.

“Lalu, Jonghyun-ah, apa yang terjadi di si… Mwo?

Jinki dan Minho terbelalak kaget. Mesin waktunya… hilang! Jonghyun juga tidak ada!

Kini, mereka hanya bisa mematung. Mereka tidak bisa pulang ke waktu sekarang! Mau tidak mau, mereka harus mencari Jonghyun atau mereka tidak akan kembali.

Tapi, sebuah kejadian membuat mereka melupakan tujuan mereka untuk ‘pulang’. Sebuah kejadian kekerasan yang ada di sekolah itu.

“Hei. Jangan coba-coba sok keren ya di sekolah ini!”

“Kau kira kau tampan? Keren? Hmph!”

“Kau itu tidak ada apa-apanya! Jelek!”

“Suaramu juga fals! Permainan gitarmu asal! Lalu kenapa Donghae seonsaengnim memilihmu menjadi anggota band? Kau menyogok, kan?”

“Ayo, mengaku!”

 

Sekelompok sunbae memukul seseorang hingga babak belur. Namja yang dipukuli hanya bisa diam, menerima seribu pukulan yang ia terima.

 

“Jangan pernah membuat hidup kami hancur! Kami mengincar posisimu, ara?”

“Hahaha…”

 

Sunbae-sunbae tersebut menjauhi namja itu. Sekarang ia terduduk di sebuah lorong, memegangi lukanya. Ia menahan tangisnya, berusaha menerima semua cobaan yang ia terima…

 

Jinki dan Minho terbelalak melihat apa yang ada di hadapan mereka. Namja itu, ternyata Jonghyun. Ia masih diperlakukan seperti itu sampai SMA. Jadi… ejekan-ejekan sunbae, cemoohan yang diterimanya begitu berat. Pukulan-pukulan itulah yang membuat namja itu trauma sampai sekarang.

Air mata Jinki menetes. Ia tidak tau, kehidupan semiris ini ada di sekolahnya. Bahkan ia baru tau, ada siswa yang seperti ini dulunya. Padahal, ia di kelas 2 saat itu. Bagaimana mungkin ia tidak tau?

“Hyung? Gwaenchana?” Minho terbelalak dan mengusap air mata Jinki.

“Gwaenchanayo…” kata Jinki sambil mengusap air matanya. “Aku tidak apa-apa,” sahut Jinki sambil menyeringai lebar, menunjukkan sederet gigi putihnya. Tetap saja itu terlihat aneh, seaneh kepribadiannya, dengan mata bengkak dan hidung merah.

“Ya sudah hyung. Sekarang kita cari Jonghyun hyu-“

Jonghyun berdiri dan keluar dari lorong tersebut, berjalan menuju UKS, mengobati luka-lukanya. Sekelompok yeoja yang melihat itu- beberapa penggemar Jonghyun, mengintip dari jendela, bahkan ada beberapa yang menangis.

 

“Tersiksa karena kepopulerannya,” kata Minho. “Kurasa sunbae-sunbae itu iri pada Jonghyun hyung. Banyak yeoja yang mengidolakannya…”

“Kurasa kau benar, Minho-ya. Tidak sedikit orang populer yang seperti itu. Eh, tunggu… Aku tidak pernah tau kalau dia populer,” kata Jinki sambil menggaruk kepalanya.

“Itu sih karena Jinki hyung sangtae, selalu berkutat dengan buku!”

“Diam kau! Kalau kau, memangnya kau tau?”

“Aku belum masuk hyung~”

“Huu~” Jinki menjitak kepala Minho sekali lagi. “Mungkin kau benar. Sebelum ada kau, aku sangat pendiam, nyaris tidak pernah keluar kelas. Jadi temanku sedikit dan tidak terlalu tau lingkungan sekitar,” kata Jinki sambil menyeringai lebar.

Sesosok namja masuk ke UKS terburu-buru.

 

“Ne, Kim Jonghyun?” tanya namja itu.

 

“Hei hyung, itu Donghae seonsaengnim! Guru musik sekolah kita, kan?” bisik Minho.

“Eh, iya…”

“Ne, seonsaengnim?” tanya Jonghyun penasaran. Donghae seonsaengnim terlihat sedikit lesu. Ia menatap Jonghyun dengan tatapan sendu.

“Cepat pulang. Kau harus pulang sekarang. Seonsaeng akan mengantarkanmu.”

 

Donghae seonsaeng dan Jonghyun terlihat meninggalkan UKS.

 

“Cepat susul, Jinki hyung!!!”

Arachi, Minho-ya! Kajja!”

Mereka berlari mengejar Jonghyun dan Donghae seonsaengnim, menyelip ke dalam mobil mereka. Untungnya mereka tidak terlihat.

Mereka sampai di depan sebuah rumah besar. Karangan bunga memenuhi pintu rumah tersebut. Jonghyun dan Donghae segera memasuki rumah tersebut.

 

“Seonsaengnim, ada apa ini? Kenapa semua terlihat berduka? Siapa yang meninggal?”

“Lihat saja nanti…”

 

Jonghyun berada di depan dua jenazah yang terbaring kaku, yang lain tak lain…

 

“A-appa… Eomma…”

 

Jonghyun terbelalak. Appa dan eommanya sekarang sudah terbujur kaku di peti mati. Tapi… bagaimana bisa?

 

“Eottoke? Apa yang terjadi? Kenapa appa dan eomma seperti ini? Kenapa? Bisa ceritakan padaku?”

“Seseorang membunuh mereka, Jonghyun-ssi…” kata Donghae seonsaengnim sambil tertunduk lesu.

“Ulangi sekali lagi, seonsaengnim!”

“Mereka dibunuh…”

 

Jonghyun tertunduk. Sekarang, orang-orang yang selalu mendukungnya itu sudah tiada. Dan ia merasa sudah tidak punya siapa-siapa lagi…

 

“Ani, ini pasti mimpi! Ini pasti mimpi, ini mim-“

“Mianhamnida, Kim Jonghyun-ssi…”

 

PLAK!

Sebuah tamparan dari Donghae seonsaengnim mendarat di pipinya. Membuat Jonghyun tertunduk, menangis sejadi-jadinya…

 

“Kasihan hyung…” Minho mengusap air matanya. “Aku baru tau ada orang yang hidupnya semiris itu…”

“Aku juga tidak menyangka…” kata Jinki sambil mengusap wajahnya yang basah karena air mata. “Ini pasti membuatnya tambah tertekan…”

Tiba-tiba, mereka melihat sebuah lubang dimensi yang besar.

Mwo? Lubang dimensi?”

“Bukannya Jonghyun hyung yang membawa mesin waktunya? Hanya mesin waktu itu kan yang bisa membuka lubang dimensi antarwaktu?”

“Mungkin saja Jonghyun ada di sini tadi, tapi kita tidak melihatnya. Kajja, kita masuk!”

Mereka pun masuk ke lubang tersebut…

~~~*

“Eh… di mana ini?”

Hyung, bukannya ini ruang musik?” Minho memperhatikan sekitarnya.

“Oh, iya! Eh, senja…” Jinki melesat ke jendela ruang musik, menatap matahari yang tenggelam kala itu.

“Areumdaun, hyung. Ne?”

“Ne! Neomu areumdaun…”

Mereka bersama-sama menatap matahari yang mulai tenggelam.

Tiba-tiba…

“Yah, kau cepat masuk!” Seorang sunbae mendorong Jonghyun hingga terjatuh. Mereka membuka sebuah lemari, kemudian memasukkan paksa tubuh Jonghyun ke dalam situ. Mereka memasukkan beberapa benda berat, menguncinya, kemudian menyegelnya dengan semen hingga tidak ada udara yang masuk…

 

Mereka mengguncang-guncangkan lemari tersebut, memutarbalikkannya, hingga Jonghyun terguncang-guncang di dalamnya. Lemari tersebut mereka sembunyikan di gudang ruang musik…

 

“Mati kau! Dasar, anak perebut kebahagiaan orang!”

 

Sekelompok sunbae tersebut keluar, meninggalkan lemari tersebut yang sudah ditaruh di pojok ruangan.

 

“Dasar sunbae-sunbae gila…” gerutu Minho pelan. Jinki yang ada di sampingnya hanya bisa menggeleng. Mereka biadab! Beraninya memperlakukan hoobaenya seperti itu.

“Mereka seperti sudah di bawah pengaruh setan,” kata Jinki dengan penekanan intonasi pada akhir kalimatnya. “Apa perbuatan seperti itu bisa dimaafkan? Pantas saja Jonghyun tertekan seperti itu.”

Minho hanya bisa menghela nafasnya. Ia melirik jam tangannya, dan…

Hyung, setengah jam lagi jam 12!! Pasti sebentar lagi pesta tahun baru akan berakhir!”

“Aku tidak peduli, Minho-ya. Yang penting, kita cari dulu anak itu! Jonghyun-ahhh!!!!”

“Jonghyun-hyung!!!! Eodigaa????”

Mereka sudah tidak peduli apa yang akan terjadi pada mereka. Yang penting, menemukan anak itu terlebih dahulu.

Inilah tugas akhir mereka. Mencari Jonghyun dan mesin waktunya yang mendadak hilang entah kemana.

~~~*

“Jonghyun-hyungggg!!!!”

“Jonghyun-ahhhh!!!”

Mereka berkeliling kompleks sekolah, mencari Jonghyun. Tapi anak itu tidak terlihat dimanapun. Mesin waktunya juga tidak tampak sama sekali.

“Ck, di mana sih anak itu?” gerutu Jinki kesal.

“Ya mana aku tau hyung? Kalau aku tau aku udah bawa dia ke sini,” sahut Minho cepat.

“Ya! Kalau ngomong ga usah cepat-cepat! Aku nyaris tidak mendengar apa-“

Omongan Jinki tercekat. Ia melihat sesosok namja sedang lewat di depannya. Yah, namja itu sangat familiar di matanya. Rambutnya, postur tubuhnya, semuanya.

“Minho-ya, kejar dia! Ya, Kim Jonghyun!!!”

“Eo? Uh, Jonghyun-hyung! Mau ke mana?”

Mereka mendekati Jonghyun yang berjalan seperti tidak punya tenaga, dan…

“Ya! Mau kemana?” tanya Jinki sambil menepuk bahu Jonghyun.

Jonghyun menundukkan kepalanya, menepis tangan Jinki.

“Jangan ganggu aku,” ucapnya dengan suara getir. “Aku ingin sendiri!”

“Ng? Ck, hyung! Kami mencarimu dari tadi. Ayolah, urineun chinguyeyo!” kata Minho penuh semangat sambil memeluk Jonghyun dari belakang.

Tapi, Jonghyun segera melepas pelukannya.

Chingu aniya. Aku tidak pernah punya teman.”

Jinki dan Minho terbelalak. Apa mereka telah menyakiti namja ini?

“Jonghyun-ah. Gwaenchana?” tanya Jinki lembut.

Gwaenchana,” Jonghyun menjawab pertanyaan Jinki ketus, dengan suara yang bergetar.

“Kau tidak terlihat baik-baik saja, hyung…” ujar Minho.

Jonghyun terdiam, ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Kemudian ia berteriak pada kedua namja itu…

“SUDAH KUBILANG, AKU BAIK-BAIK SAJA!”

Isakan kecil terdengar dari mulutnya. Ia semakin tertunduk, kepalan tangannya semakin kuat. Jinki dan Minho hanya tertegun melihat namja itu.

Perlahan, Jinki menghampiri Jonghyun dan memeluknya dari belakang.

“Uljima…”

Jonghyun melepaskan genggamannya. Kepalanya terangkat, isakannya terhenti, meskipun air matanya masih mengalir. Pelukan Jinki makin erat, membuat Jonghyun tertegun dalam pelukannya. Pelukan penuh kasih seorang teman. Teman pertama yang bisa mengerti dia.

“Kami adalah temanmu, hyung…” ucap Minho sambil mengusap air mata Jonghyun. “Kami akan selalu menjadi temanmu.”

Jinki menarik Jonghyun ke dalam pelukannya, membiarkan anak itu menangis sepuasnya di bahunya, menumpahkan segala kesedihannya. Minho menepuk bahu Jonghyun lembut, tersenyum.

Kajja, hyungdeul. Kita pulang…”

TBC

Jangan mentang-mentang mereka mau pulang ceritanya udah habis lo! Masih panjang, wkwkw. Satu part lagi chingu. Ditunggu ya!

//

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

32 thoughts on “[FF PARTY 2012] Time Machine: The Hurtful Memories [2.3]”

  1. Kasian… -,- Jonghyun sepanjang hidupnya dibully, gak punya teman.. Itu si Jinki gak lepas dari kesangtaeannya, ckckck.. Sampe part ini belum jelas si Jonghyun hantu apa bukan.. Yongie-ssi, ditunggu part selanjutnya.. 🙂

  2. Waduh… Jonghyun di bully? Kasian ;( seharusnya ngelwan dong, bdan keker juga. #plakk hehe

    jonghyun pasti hantu. Buknlh dy dikurung dlm lemari yg hmpr tnpa udra? Jngn blng myat jonghyun msih dstu dan…..
    STOP!!!
    Nice, gag sbr nunggu part terakhitr

  3. yang ini nyesek banget coba, ternyata jjong di-bully terus, nggak punya teman, ortunya dibunuh
    lanjutannya ditunggu, penasaran nih mereka kembali ke masa kini gimana?

  4. aaah…kasian kaliii 😦
    itu si jjong bner2 tertekan banget pasti…aah :”(
    huwoo..gak kebayang si hantu jjong sedingin itu..aww..

    iya kaak, aku tunggu part akhirnya kook..tenang ajaa~~~
    XD

  5. hiks kasian jjong 😥
    kalo jjong dikurung dlemari kyak gt, brarti dia udh mati dong? trus myatnya msh dlm lemari?
    lanjut thor!!

  6. cian bang jonghyun. hiks hiks. gregetan banget deh aku sm seonbae2nya jjong itu. rasanya pengen aku gigit! hish.. ampe kebawa emosi. wkwkwkwkwk. kerenn ceritanya~~~

  7. Dalam lemari di isi semen dan alat berat kemudian diguncangkan, emangnya mau buat beton
    Keterlaluan, bully seperti itu seharusnya tidak boleh ada, kasihan JongHyun
    Smoga JongHyun dalam cerita ini tidak meninggal, tunjukkan pada sunbae keterlaluan itu kalau Kim JongHyun pemilik vocal terbaik
    *mian author kebawa cerita

  8. wah taemin sama tao aja udah cukup deh yang dibully. jangan ditambah lagi!
    pas tau kenyataan taemin dibully aku sampe nangis loh. nyesek banget deh. rasanya pengen ngejambak tuh pada orang. gregetan. untungnya Jonghyun cuman ff.

  9. Sunbae-sunbae yang tidak menyanyangi hobae-nya. Harusnya kalau mengincar suatu posisi, bersaing dong dengan sehat. Hlah, ini malah mem-bully. Ck-ck, hidupnya sudah tidak bahagia dari kecil.

    Siapa nih yang bunuh orang tua Jonghyun? Jadi mayat Jonghyun belum ditemukan dari lemari itu? Lemari itu disimpan di pojok ruang kesenian. Apa selama setahun ini nggak ada yang curiga sama lemari itu?

    Aissh, si Jinki rupanya dulu terlalu pendiam. Jangan-jangan misteri hilangnya salah satu siswa bernama Jonghyun itu kelewat dicuekin daripada bukunya.

    Tapi part 2 ini lebih berasa Jonghyun yang jadi main cast-nya.

    Nice story.

  10. waaahhh thooooor ini cerita makin seru plus kereeeeen

    kesian jonghyun’a
    kayak’a gimanaaaaa gitu pas baca jonghyun’a digituin
    miris banget
    tapi untung’a ada jinki sama minhoo

    yaudah thor aku mau baca part terakhir’a dulu yaaaa
    see you 🙂 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s