[FF PARTY 2012] Embraces of The Devil [1.3]

Title                 : Embraces of the Devil [1.3]

Author            : Boram.Onyu aka nurahboram

Main Cast       : Lee Jinki (28 th),   Choi Minho (26 th)

Other Cast      : Ibu Minho (44 th), Lee Eunmi (18 th), Jane Bell (42 th), and others

Genre              : Psychology, romance

Length            : Trilogy

Rating             : pg 13

Ket                  : OP                               

 

Dia duduk di sudut, tepat berhadapan dengan jendelanya. Sudah berjam-jam ia menatap panorama alam luas di atas sana, awan-awan seperti kapas putih yang terbentang di antara langit birunya. Tak tahu apa yang di pikirannya, terlepas dari putihnya itu kini harus bergeser tergantikan gumpalan kehitaman yang hampir tak memberi celah bagi sang mentari untuk membagi sinarnya di muka bumi. Wajahnya masih belum menunjukkan ekspresi.

Di ambang pintu, lensa mata almond sang wanita tua mengawasi dalam diam. Tak berniat mengusik ketenangan sang anak, setelah perdebatan mental dan hati mendekamnya dalam kecemasan, membuatnya harus menyuntikkan ziprasidone(1) sesuai resep Dr Brown.

Ketika hipotalamus(2)nya memproduksi oksitosin(3) maupun  vasopressin secara bersamaan di atas batas kewajaran, amarahnya menjadi tak terkendali. Kutukan, sumpah serapah, berganti dalam jangka waktu lima menit menjadi perasaan bersalah, larut dalam panik berlebihan, mengutuk lagi sebagai timpalannya, dan teruslah siklus itu terus berlanjut selama empat jam terakhir ini. Selama fase terpekurnya dalam meratapi kesalahannya itulah, sang ibu memiliki kesempatan menyuntikkan senyawa kimia itu ke puncak lengan sang anak.

Jika melihat bagaimana terampilnya sang ibu merapikan jaruk suntiknya ke dalam kapsul plastik itu, bagaimana ia menemukan titik yang tepat agar ujung jarum itu bisa mengalirkan generasi kelima dari antipsychotics(4) ke dalam pembuluh darahnya, kalian mungkin berpikir jika ia seorang dokter ahli saraf, atau paling tidak suster. Nyatanya tidak. Pengalaman tidak pernah berbohong, terlatih menjalankan peranan ini selama sepuluh tahun membuatnya hapal jenis-jenis obatan psikotik yang sudah biasa diresepkan oleh Dr Brown, dokter ahli saraf yang telah merawat Minho sejak psikolog menemukan gejala mental disorder(5) pada kejiwaan anak itu.

“Waktunya makan, dear.”

Tak ada jawaban, lantas sang ibu menarik tubuh sang anak hingga lelaki itu berdiri tegak, tanpa sadar mengikuti langkah ibu yang menuntunnya.

“Aku ingin tidur.” pintanya kemudian.

Sang ibu mengacuhkan permintaannya, meski kalimat itu terus diulangnya berkali-kali. Putra tunggalnya harus diasupi ‘makanan yang nyata’, bukan lagi infus karbohidrat yang akan diberikannya ketika Minho mengalami penurunan ketahanan tubuhnya nanti, efek dari penolakannya untuk makan seperti tiga bulan yang lalu.

“Kau harus makan ini dan segera sembuh, dear.” dukungnya. Tidak sadar jika ia kembali membangkitkan emosi sang anak jika saja pengaruh ziprasidone nya tidak benar-benar bekerja.

“Aku ingin tidur.” tidak lagi berkompromi dengan ibu, Minho meninggalkan meja makan dan kembali lagi ke kamarnya. Ibu mengikuti di belakangnya, ketika ia memastikan Minho telah terlelap, dengan terpaksa ia menyuntikkan vitamin sekedar untuk menjaga daya tahan tubuhnya.

****

Jinki merengut. Ia membolak-balik kertas berisi tabel-tabel di dalamnya. Sesekali memperbaiki letak kacamatanya, hanya untuk memastikan jika minusnya harus bertambah lagi. Oh great, setebal apalagi kacamatanya jika ia mengupradenya menjadi minus 4 nanti? Ia bisa membayangkan olok-olokan Eunmi di pertemuan mereka. Gadis berumur 18 tahun itu pasti akan menggodanya dengan julukan ahjussi lagi.

Ahjussi!”

Panjang umur! Gadis itu muncul dari balik pintu dengan box makan siang di tangannya.

“Ini sudah jam istirahatmu kan, ayo makan!”

Jinki mengangguk, setelah merapikan berkasnya, ia bergabung bersama Eunmi yang sudah menunggunya sedari tadi di lounge.

“Ini adalah makanan yang berharga, oppa. Aku menemukan bahannya dengan susah payah setelah searching di internet.”

Jinki menyumpit abalon, setelah sebelumnya menyendokkan nasi ke mulutnya.

 “Enak. Ini masakan eomonim kan?”

“Aku juga ikut memasaknya, oppa!”

“Jinja?”

“Ne, aku yang mengupas sayuran, dan bawang. Itu membuatku menangis.”

Ekspresi cemberut itu selalu disukainya. Jinki mencubit pipinya segera, membuat Eunmi harus meringis pelan.

“Bagaimana dengan sekolahmu? Kudengar kau ketiduran di kelas lagi.”

“Oppa! Bisakah kau berpura-pura tidak tahu? Aku ini yeojachingumu. Aku juga bisa malu, tahu”

 Eunmi batal dengan niatnya memandangi wajah tampan itu. Ia lebih memilih handphonenya ketimbang berurusan dengan namjachingunya yang menyebalkan itu.

“Tahun depan adalah tahun penentuanmu. Kau harus belajar, ya! Dengarkan kalau aku bicara!”

Handphone di tangan Eunmi raib, berpindah ke tangan Jinki. Lelaki itu membulatkan matanya ketika layarnya menunjukkan salah satu personel boyband favorit Eunmi, 2PM, melakukan adegan membuka bajunya, memamerkan abs coklatnya hingga Jinki merasa ciut.

“Kau mengacuhkanku hanya untuk bocah-bocah ini? Lee Eunmi!”

“Kenapa? Kau cemburu? Jika ya, maka bentuk perutmu itu jadi kotak-kotak. Habiskan waktumu di gym sekali-sekali, jangan terus terkurung dalam ruangan sempit itu!” bantah Eunmi merebut handphonenya kembali.

Jinki meneguk air tanpa jeda. Matanya  berkedip tak percaya menatap Eunmi yang sibuk membereskan kotak bekalnya.

“Aku pulang. Tidak perlu meneleponku sebentar malam. Aku tidak akan menerima permintaan maafmu.”

“Aku juga tidak akan meminta maaf padamu!” teriak Jinki kemudian, sedang matanya tak beralih dari punggung itu.

****

Masih sepi, lantas Jinki menuju kotak minuman dan memasukkan beberapa uang koin demi segelas kopi hangat. Malamnya harus terlewatkan percuma, dengan insomnianya. Ia hampir meminum CTM(6), tapi otak warasnya memilih tidak. Ia sudah melewati pendidikan kedokteran spesialisasi psikiatri selama 2 tahun di Yale University setelah melewati ‘Cum Laude’ di dua setengah tahun pertamanya di Harvard University. Dan ia tahu, obat tidur sejenis itu bisa membuatnya ketergantungan akut.

Ia menolak tawaran Connecticut Mental Health Centre, memilih pulang ke Gwangmyung dengan alasan merindukan kampung halamannya. Meskipun ia memiliki alasan lain yang terdengar tak masuk akal. Lagipula, ia lelah melewati perdebatan antara psikolog dan psikiater semenjak ia menjadi Co-Assistant Dr Grey di Pusat Penanganan Gangguan Kejiwaan di Connecticut itu. Sementara para psikolog menekankan wawancara klinis, para dokter bersikukuh meminta faktor neurobiologis menjadi acuan. Ia lelah harus dipimpong kesana kemari, menghadapi arrogant nya Dr Grey. Yah, bisa dibilang itu adalah pemberontakan dari ketidakprofesionalan dokter sialan itu, setelah mengetahui Jinki menolak Jessica Grey, putri satu-satunya.

Namun, ketika ia melewati setengah tahun pertamanya di Seoul Health Mental Care, nyatanya ketegangan-ketegangan itu tetap hidup. Toh, ia tetap menjalaninya. Niatnya untuk mengabdikan hidup demi para pengidap mental disorder, sosiopat, skizofrenia, dan beberapa penyakit lain sejenisnya sudah tertanam dalam dirinya. Seperti ketika ia menghadapi pasiennya pagi ini, Han Jaehee. Gadis pengidap skizofrenia(7). Ia menggeleng kesal ketika melihat anjuran resep psikolog Jane Bell.

“Aku yang memintanya, Dokter Lee.”

“Jaehee ssi, kau datang kesini minggu terakhir. Dan aku mendengar dari para apoteker jika kau memesan  Valproid acid(8) untuk dosis tiga kali sehari.”

“Aku datang kemari untuk meminta tanda tangan persetujuanmu saja.”

Jinki menggeleng lagi. Keras kepala yeoja satu ini belum juga berubah.

“Kurasa aku akan menolak untuk satu ini. Kau bisa membahayakan janinmu.”

“Kau tidak perlu mencampuri urusanku, Dokter Lee. Kembalikan saja resepku, aku bisa meminta dokter lain yang menanganinya.”

Jinki memijit peningnya. Berhadapan dengan pecandu obat seperti Han Jaehee tidak akan pernah dimenangkannya.

“Aku butuh obat itu, dokter. Aku mohon.”

Belum menyerah, Jinki menarik pasiennya menuju ruangan Jane Bell yang terpisah satu lantai dengannya. Ia menggeser daun pintunya kesal. Menatap tajam pada Jane yang disibukkan dengan materi kuliahnya.

“Oh, Dokter Lee. Kurasa kau melanggar ambang kesopanan. Seharusnya kau mengetuk pintu lebih dulu.”

“Kau seorang psikolog. Bukan psikiater, kau tidak berhak mengajukan resep.”

Jane membuka kacamatanya. Ekspresinya tak berubah, satu hal yang selalu dibenci Jinki karena ia bisa menebak apa yang ada di pikiran Jane Bell. Ia tahu, dan bagaimana bisa ia setuju untuk menerima permintaan perempuan yang hamil untuk meresepkannya obat-obatan berdosis tinggi yang bisa membahayakan janinnya?

“Asisten Jang, tolong bawa nona Han Jaehee berkeliling.”

Ditinggal berdua, Jane segera bangkit dari kursinya. Menghampiri mesin pembuat kopi, dan menuangkan dua cangkir cappucino. Secangkir ia sodorkan pada Jinki.

“Perspektif klinis berusaha membuka pribadi, menyembuhkannya pelan-pelan. Dengan bantuan obat tentunya. Terapis namanya, kan? Aku hanya seorang psikolog, bukannya kau lebih ahli dalam soal ini? Kau psikiater bukan?”

            “Ketergantungan, Jane. Ia membutuhkan waktu untuk menentukan arah hidupnya sendiri, bukan di bawah pengaruh obat.”

“Ada beberapa hal yang tidak bisa diubah. Percayalah, mereka membutuhkan itu jauh dibandingkan dopamine.”

Matanya mengerjap. Ia terkejut sesaat, kemudian memilih menyerah untuk berdebat dengan psikolog itu. Tidak habis pikir, Jane Bell memang selalu bisa membaca pikirannya. Hal yang selalu dikutuknya ketika ia diharuskan bekerja sama menangani pasien yang sama. Ia tidak pernah bisa dikalahkan oleh Jane Bell.

****

Dr Brown masih setia menunggu pemilik ruangan. Ditemani riwayat pasien-pasien Jinki, ia bisa menyimpulkan betapa besarnya kepedulian lelaki itu pada penderita skizofrenia. Berpindah ke frame foto di meja kerjanya. Di balik kacanya terpampang foto gadis muda tersenyum lebar. Tidak ada beban yang tampak di wajahnya, ia bahkan bisa membayangkan kesenangan yang terpancar dari wajah itu ketika pemotret mengambil gambar wajahnya tanpa sepengetahuannya.

“Dia cantik.” ujarnya ketika derik pintu tergeser terdengar. Jinki menunduk cepat, tersenyum simpul atas pujian sang dokter.

“Oh man, matamu jeli sekali memilih dia sebagai wanitamu.”

“Dia delapan belas tahun.” jawabnya kemudian.

“Kau berbeda empat tahun darinya?”

“Sepuluh tahun tepatnya.”

Dr Brown mendecak, lantas mendudukkan dirinya pada sofa.

“Oke, aku harus mengakuinya. Kau cukup babyface. Apa kau menipunya dengan umurmu?”

Jinki menaikkan alisnya tak setuju, sebagai gantinya sang dokter tertawa. Perasaan Jinki mulai dilingkupi kecemasan. Hal yang tidak wajar bagi seorang pemimpin divisi perawatan mental disorder mempunyai waktu untuk bertandang ke ruangannya. Terlebih pada peningkatan pasien yang hampir dua kali lipat dibanding tahun lalu.

“Sudah saatnya bagiku untuk pensiun, Lee. Aku mendambakan kehidupan yang tenang di masa pensiunku di St.Morritz.”

Dr Brown menghirup dalam-dalam oksigen di sekitarnya, menambah kegelisahan Jinki.

“Aku ingin menitipkan pasienku.”

“Tapi dokter…”

“Kode etik kita, kau masih mengingatnya kan?”

Dokter harus memberikan kepada pasiennya loyalitas penuh dan seluruh pengetahuan yang dimilikinya.  Kode etik internasional itu membuatnya tak berkutik, tak punya alasan lagi ia menolak permintaan Dr Brown.

****

            “Dr Brown sudah pensiun?”

            Wanita itu membulatkan matanya tak percaya. Tak sabaran ia menekan nomor telepon sang dokter, namun bukan suara berat yang menjawabnya, tetapi suara operatorwanita yang membuatnya mengumpat kesal.

            “Dr Brown mengalihkan pasiennya pada Dr Lee, nyonya Choi. Aku rasa aku bisa mengantar kalian ke ruangannya.”

            Tak membutuhkan waktu lama, si resepsionis cantik menunduk pamit ketika ia mempersilakan Nyonya Choi bersama putranya yang tampan masuk ke dalam ruangan Lee. Alisnya berkedut tak senang, melihat dokter yang duduk di kursinya segera berdiri mempersilakannya duduk.

          “Jadi, namamu adalah Choi Minho, bukan?”

            Lelaki di depannya mengangguk. Dari ekspresi lelahnya, Jinki bisa menebak dengan mudah jika lelaki itu berada di bawah pengaruh ziprasidone.  Jinki melipat kedua tangannya di atas meja, mencoba memahami karakter Minho sekaligus membandingkan riwayat kesehatannya. Agitated depression(9), dysphored mania(10), bisa disimpulkannya jika Minho mengalami mixed state. Kondisi psikiatris dimana gejala mania dan depresi terjadi secara bersamaan.

            “Bagaimana kabarmu? Ah, aku rasa harus dimulai dengan perkenalan dulu. Aku Dr Lee, dokter yang menjadi penanggung jawabmu mulai sekarang.”

            “Mana Dr Brown?”

            “Dia sudah pensiun.”

            “Dimana dia? Aku membutuhkan dia!”

            Mendesah, Jinki tersenyum sehangat mungkin. Menghadapi seorang pengidap penyakit jiwa tidak akan pernah berhasil dengan ikut membalas teriakannya.

            “Nona Wei, tolong temani Nyonya Choi sebentar.”

            “Maksudmu kau mengusirku?”

            “Tidak begitu Nyonya, aku ingin berdiskusi sebentar dengan Minho.”

            “Dr Brown selalu membiarkan aku mengikuti diskusi bersama dengannya dan Minho.”

            “Maaf. Kebijakanku tidak seperti itu.”

            Terpaksa nyonya Choi mengikuti langkah Wei Liu, asisten Jinki yang sudah menunggunya dari tadi, ketika pertarungan sengit pertemuan mata mereka harus dimenangkan oleh Jinki. Jinki memastikan pintu tertutup rapat, kemudian memusatkan perhatiannya kembali pada Minho. Mata bulat di wajah kecilnya bukanlah tipikal warga Korea pada umumnya.

            “Hari ini bagaimana perasaanmu?”

            “Aku tidak berminat mengobrol dengan siapapun kecuali Dr Brown.”

            “Baiklah kalau begitu, mari kita mengecek riwayatmu.” membuka lembarnya dimulai dari map dengan tahun 2000. Gejala kemarahan yang tidak biasa, panik berlebihan, paranoid dengan cahaya terang. Catatan terakhir mengerutkan kening Jinki. Photophobia. Digesernya kursi, kemudian menarik gorden hingga cahaya mentari yang tadi terhalang tirai dengan mudahnya menerangi ruangan sempit yang tadinya hanya dibekali lampu neon 10 watt.

            Seperti yang ditebaknya, Minho mulai meracau. Ia melindungi kepalanya segera, masuk ke kolong meja untuk menghindari cahaya terang yang dipikirnya bisa membunuhnya. Jinki lebih sigap lagi. Ia menarik tubuh Minho, yang meskipun lebih besar darinya, tapi tetap berhasil.

            “Tenangkan dirimu!” tegasnya Jinki tak mempengaruhi Minho. Lelaki itu mulai memberontak, hingga Jinki harus terpelanting ke samping, pinggangnya sempat terantuk dengan sudut meja. Untungnya, seseorang segera muncul dari balik pintu dan menutup tirai. Ia menghampiri Minho, menepuk pipinya tiga kali hingga Minho mulai tenang. Minho mengenalnya, Jane Bell. Psikolog yang menanganinya di samping Dr Brown.

            “Apa kau gila, Jinki! Aku tahu kau tidak sebodoh ini, kau harusnya membaca riwayatnya terlebih dulu!”

            Jane meneriakinya. Untungnya, dinding ruangan itu sudah dilapisi dengan glasswool. Pengedap suara itu dengan sempurna menyerap suara berisik yang ditimbulkan dalam ruangan. Mata Bell teralih pada meja Jinki. Ia mengumpat ketika menemukan catatan Minho sepuluh tahun yang lalu. Sebenarnya Jinki sudah tahu.

            “Temui aku di ruanganku sejam kemudian.”

            Giliran Jinki yang mengumpat. Perempuan itu merebut pasiennya lagi, tanpa peduli pada ia yang masih duduk lemas di lantai meratapi pinggangnya.

****

            “Kau tahu berapa banyak masalah yang kau lakukan hari ini, Lee?”

            Mengangguk lemas, itulah jawaban yang diberikannya untuk Jane Bell yang sudah megap-megap sedari tadi. Jane melampiaskan marah pada meja kerjanya dengan meninju sisi kacanya, dokter di depannya justru menampilkan ekspresi innocent, meningkatkan stresnya.

            “Baiklah, aku bisa mentolerir Jaehee. Kau tidak sepenuhnya salah, tapi kau harus tahu. Ada beberapa hal yang tidak akan bisa dimengerti oleh dokter sepertimu yang selalu menuhankan pengetahuan. Psikilogi. Kau tidak bisa menghiraukan satu itu.”

            “Psikologi? Aku tidak mengerti mengapa kalian, para psikolog, dengan seenaknya menyetujui permintaan klien kalian akan obat-obatan yang memiliki efek berbahaya bagi para pasien. Ia mengandung, Jane. Kau bisa bertanggung jawab jika nanti anaknya positif mengidap autis?”

            “Itu hanya kemungkinan. Ya, aku benar-benar benci berargumen denganmu.”

            Tangan Jinki mengepal, urat-urat menonjol di balik kulitnya.

            “Lebih dari itu. Tidakkah bisa kau bayangkan jika ia tidak menggunakan obat itu, ia bisa saja kehilangan kendali dirinya dan melakukan percobaan bunuh diri lagi. Setidaknya kau bisa menyelamatkan dua nyawa secara bersamaan.”

            “Menyelamatkan? Kau pikir obat bisa menyelamatkannya? Dan apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaannya jika ia merawat anaknya yang juga cacat mental? Ayolah, Jane. Hentikan pengobatannya, dan tingkatkan keamanannya.”

            “Lalu apa yang bisa kita lakukan? Rumah sakit ini punya 700 pasien, tahun ini jumlahnya meningkat drastis menjadi 1288 orang. Tenaga psikolog yang ada hanya 20 orang, psikiater dikurangi Dr Brown tersisa 18 orang. Perawat yang tersedia hanya 37 orang. Security berjumlah 30 orang. Petugas sosial ada 10 orang. Kau pikir akan memusatkan keamanan pada Jaehee tidak akan berpengaruh pada pasien lainnya?”

            Bungkam. Jinki menghempaskan pantatnya di atas sofa. Ia kalah telak pada bantahan Jane. Tidak ada yang salah pada ucapannya. Ia justru menyalahkan dirinya tidak memikirkan konsekuensi ke depannya dan dengan percaya dirinya ia terus membangkang.

            “Maafkan aku.” ucapnya. Jane mendesah. Ia benci harus menyerah pada kelogisan. Ia tidak bisa memungkiri, bagaimana ia menyetujui perspektif Jinki. Lelah sudah pasti. Ia menggeluti bidangnya selama 20 tahun, menghadapi para pengidap mental disorder dengan tiap-tiap masalahnya.

            “Kurasa kita sudah selesai dengan permasalahan ini. Aku ingin membicarakan pasien barumu, Choi Minho, yang juga pasienku sepuluh tahun ini.”

            “Katakanlah, aku hanya ingin berbaring sebentar.”

            Jane bangkit dari duduknya, ikut menyamankan diri di sofa yang berhadapan dengan Jinki.

            “Ia mengidap mixed state.

            “Aku tahu itu. Aku ingin kau menceritakan semua hal yang kau tahu tentang dirinya terkecuali apapun yang tertulis di medical record karena aku sudah membaca catatan tentangnya sepuluh tahun terakhir ini.”

            Terkesima. Jinki selalu membuatnya kagum atas kecerdasan yang ditimpali dengan kepedulian yang besar terhadap pasiennya. Yang ditahunya, catatan itu diberikan pada Jinki baru sehari dan Jinki bisa menyelesaikan puluhan map dalam seharinya. Jane tahu berapa banyak pasien Jinki, dan kemudian ia tersenyum melihat lingkaran hitam di bawah mata yang sedang terpejam itu.

            “Itu sangat sulit, satu jam tidak akan cukup untuk itu. Jika kau benar-benar ingin tahu, bagaimana dengan libur besok?”

****

            I Surrender dengan khas suara Celine Dion mengalun di kafe bernuansa country itu. Salah satu pengunjungnya menatap layar ponselnya yang bertuliskan pesan singkat dari gadis yang bisa dipastikannya sedang menggumpat di sana. Ia membalasnya dengan ucapan ‘Mianhe, princess’ dan menyelipkan foto aegyonya mencibir sebagai penyesalannya membatalkan kencan mereka. Ia tertawa pelan, mengencani gadis yang jauh lebih muda darinya harus disikapi dengan tingkah kekanakan pula. Tidak peduli jika ia hanya akan menyisakan dua tahun lagi untuk merayakan ulang tahun di usia keduapuluhnya. Tawanya meledak kemudian, ketika Eunmi membalas pesannya.

            Jangan menunjukkan aegyo yang tidak pantas untuk umurmu, ahjussi. Kau tahu, kau jelek.

            “Sepertinya kau bahagia sekali.”

            Jinki mengusap air matanya, menyodorkan sebelah tangannya dengan terbuka untuk mempersilakan Jane duduk.

            “Kau tidak membawa berkas apapun.”

            “Sudah tertanam di otakku. Aku tidak membutuhkannya. Bagaimana dengan memesan makanan terlebih dulu?”

            Jinki mengangguk, kemudian mengangkat tangannya untuk memanggil salah satu pelayannya dan memesan Steak bertabur keju mozarella dan sepiring kentang. Sedang Jane memesan Autumn Salad.

            “Ada beberapa hal yang terasa janggal bagiku. Aku baru tahu kemarin jika Choi Minho tidak dirawat di rumah sakit.”

            “Ibunya yang meminta ini, dan Dr Brown mengizinkannya. Aku tidak pernah mendapatkan keluhan yang berat seperti penderita mental disorder lainnya, kecuali kemarin. Beruntung aku segera dapat informasi dari asistenku jika pasien itu dialihkan padamu.”

            “Jadi, aku beruntung di matamu. Aku justru sial karena kesempatanku mengenali Minho harus hilang karena kau tiba-tiba saja menculiknya.”

            Jane mendecak, memberikan tatapan ‘kau menyebalkan’ yang ditanggapi Jinki dengan senyum.

            “Aku membaca di tahun 2002 ia mengalami depresi ringan. Ia tercatat tidak mengunjungi rumah sakit lagi setahun kemudian, kemudian kembali dengan riwayat skizofrenia.”

            “Saat itu, Dr Brown memberinya antidepresan untuk menghambat depresinya. Awalnya berjalan lancar, kemudian dia datang kembali dengan keluhan imsonia, dan ia diberi anxyolitics untuk dugaan skizofrenia.”

            Lagi, Jinki mendesah. Ia hampir mengajukan pertanyaan lagi ketika pelayan datang bersama pesanannya.

****

            Setirnya digenggam erat. Pemilik tangannya menginjak pedal gasnya menyebabkan jarum hijau speedometernya terus bergerak ke atas. Ia berusaha menghentikan suara-suara Jane di kepalanya, berusaha menjernihkan pikirannya untuk menarik kesimpulan yang bisa mempermudah jalannya untuk menangani pasien barunya.

            Lebih dari itu, bayangan lain muncul di benaknya. Lee Eunmi. Gadis itu menjadi alasan utamanya mengakhiri percakapan panjangnya dengan Jane, dan segera melajukan mobilnya padahal di kepalanya masih banyak keganjalan yang harus ia pertanyakan.

            Entah bagaimana bisa, gadis itu bisa memotret acara makan siangnya bersama Jane dan mengirimkan padanya. Bodohnya, ia mengatur silence ponselnya hingga ia baru menyadari adanya pesan masuk dari gadisnya itu ketika Jane meminta izin ke toilet.

            ‘Ini yang kau sebut bekerja? Kau menjadikan alasan pekerjaanmu untuk menolak kencan kita, dan memilih berkencan dengan ahjumma itu? Aku merasa bodoh. Seharusnya aku bisa menduganya, jika kau hanya mempermainkanku. Nappeun namja.’

            Jinki menghentakkan tangannya di setir ketika mobilnya terparkir sempurna di depan rumah gadis itu. Berbekal tekad, ia membuka pintu mobilnya, menatap ragu pada kenop bell. Belum sempat ia menekannya, pintu segera terbuka. Wanita anggun muncul dan tersenyum hangat padanya.

            “Eomonim, selamat malam.”

            “Masuklah, aku sudah menduga kau akan segera datang.”

            Menunduk lagi, kemudian memakai sandal rumah yang telah ditunjukkan Nyonya Lee. Ia mendesah, ketika tidak ada lagi telinga kelinci di atasnya.

            “Eunmi membawa sandalmu masuk ke kamarnya. Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi sampai dia menangis sehebat itu.”

            Bekum sampai ia meminta maaf, sosok lelaki berwibawa datang bersama sebuah buku tebal. Jinki berdiri segera,  menunduk dalam pada lelaki itu. Ini ada kedua kalinya ia bertemu, dan ketegangan itu masih ada. Nyonya Lee pamit, menambah was-was pada dirinya yang mulai berkeringat dingin.

            Masa depannya dipertaruhkan untuk ini. Ia tidak boleh sampai salah bicara, jika ia masih punya niat untuk meminang anak gadis dari lelaki di depannya yang menatapnya sarkatis.

            “Jadi, apa yang sudah kau lakukan hingga putri kami menangis?”

            “Jewsongnida, abonim. Ada kesalahpahaman disini. Eunmi salah mengartikan pertemuanku dengan rekan kerjaku, ia menganggap ka- “

            “Hhh… Anak itu benar-benar.”

            Tuan Lee menyimpan bukunya. Sekilas Jinki bisa membaca judul buku itu, The Milligan Wars. Salah satu novel favoritnya.

            “Dia memang masih labil. Butuh perjuangan untuk mengencani yeoja yang jauh lebih muda.”

            Jinki tersenyum, tersirat jika Tuan Lee sedang berusaha membandingkan dirinya dengan masa mudanya bersama Nyonya Lee. Tidak mengherankan, sang istri memang terlihat lebih muda darinya. Dan Jinki harus bersyukur untuk itu.

            “Naiklah, sehari ini dia belum makan.”

            Jinki mengangguk senang, baru selangkah ia menaiki jenjang tangganya, Tuan Lee kembali memanggilnya seraya tersenyum licik.

            “Jangan harap kau bisa pulang jika kau tidak bisa membujuknya keluar dari kamar. Ah ya, aku dan eumma Eunmi harus pergi ke pertemuan keluarga. Kami mungkin pulang larut.”

            Tergagap, tapi Jinki segera mengangguk takzim. Membujuk Eunmi cukup sulit, mengingat bagaimana gadis itu masih dalam tahap labil. Ia lebih memilih menghabiskan waktu dengan penderita gangguan jiwa, tapi apa daya. Ia tidak bisa menolak permintaan calon mertuanya, dan  masalahnya harus diselesaikan malam ini. Besok ia akan memulai perjuangannya lagi bersama literatur yang membahas mixed state, ia pertama kalinya mendapat kasus ini, mengingat hampir seluruh pasiennya pengidap skizofrenia.

            Suara mesin mobil yang terdengar semakin memperparah kecemasannya. Bagaimana bisa sepasang orang tua itu meninggalkannya berdua saja? Tidakkah mereka pikir sesuatu bisa terjadi pada anaknya? Oh, ia berdoa saja agar hari ini setan-setan itu dibelenggu untuk tidak menggoda nafsu berahinya.

            “Eunmi-ya…”

            Tidak ada jawaban. Jinki terus mengetuk pintu, hasilnya justru musik My Chemical Romance terputar dalam volume maksimal. Mencari solusi lain, Jinki meraih teleponnya dan menekan  nomor Eunmi. reject. Jinki bisa membayangkan bagaimana Eunmi mencabut baterai ponselnya. Oh, nightmare!

            “Kita harus bicara.”

            Suara Jinki tertelan musik rock band legenda itu. Frustasi, Jinki mengacak rambutnya. Terhitung lima belas menit ia mengetuk pintu, tanpa hasil. Ide lain muncul, ia menarik dompetnya dan mengeluarkan salah satu kartu namanya. Pena yang terselip di sakunya ikut ditarik, menuliskan beberapa kata di belakang kertas kecil yang kosong itu.

            ‘Ayah dan ibumu pergi. Aku mohon, kita bicara di luar. Jangan biarkan desas-desus menyebar di lingkungan perumahan ini.’

            Hening kemudian. Tidak ada lagi alunan musik rock. Tidak butuh waktu lama, pintu terbuka. Di luar dugaannya, ia tertarik ke dalam dan sempat mendengar bunyi punggungnya yang beradu dengan pintu yang tertutup. Selanjutnya, terdengar suara kunci yang terputar. Jinki belum sempat menganalisis, wajah muram itu lebih mengundang perhatiannya. Matanya masih sembab. Sempat dilihatnya beberapa kertas tisu bertebaran di lantainya.

            “Aku tidak tahu kenapa kau menyukai ahjumma jelek itu, oppa! Dan aku tidak mau mendengar alasan darimu.”

            Keanehan lainnya lagi. Tangan Eunmi bergerak cepat membuka kancing piyamanya. Masih di kancing keduanya, tangan Jinki lebih cekatan menahan Eunmi.

            “Apa yang kau lakukan?”

            “Jika kau menginginkannya, kau boleh meniduriku oppa! Terserah apa yang akan kau lakukan padaku, tapi kumohon. Jangan, tidak boleh. Kau harus memilihku, kau…”

            Eunmi menundukkan kepalanya. Ia menangis lebih keras, berusaha mendapatkan perhatian Jinki yang dipikirnya teralihkan pada ahjumma itu. Justru, ia bisa merasakan tangan Jinki yang mengancing kembali piyamanya.

            “Babo. Apa semudah itu kau memberikan harga dirimu pada laki-laki?”

            “Aku baru pertama kali ini melakukannya. Tidak akan kukatakan pada lelaki manapun kecuali kau, oppa!”

            “Harusnya aku yang ragu, apa kau benar-benar akan melakukan itu? Kau bisa menjamin kalimatmu sendiri?”

            Eunmi mengangkat wajahnya. Mata sembabnya membuat nyali Jinki ciut.

            “Nappeun namja.”

            “Kau juga nappeun yeoja, Eunmi. Mana bisa perempuan menyerahkan dirinya begitu saja pada lelaki yang belum dinikahinya?”

            Merasa tidak terima, Eunmi menendang tulang kering Jinki. Usahanya dianggap percuma, padahal ia sudah memikirkannya ribuan kali dalam sehari ini cara agar ia bisa membuat Jinki bertekuk lagi padanya.

            “Ya ya, aku minta maaf.”

            Mengelus pantatnya yang beradu dengan lantai, ketika ia ditendang keluar dari kamar Eunmi. Ia ikut takjub pada tubuh kecil yang menyimpan tenaga besar yang tidak diduganya sama sekali.

            “Maafkan oppa, Eunmi. Dia teman kerjaku. Aku bertemu dengannya siang ini untuk membahas pasien baruku.”

            “Bohong!”

            “Ya, Lee Eunmi. Aku harus bagaimana untuk meyakinkanmu?”

            Jinki menyandarkan dahinya pada sisi pintu.

            “Waktu di London dulu, aku bertemu dengan gadis kecil yang terus mengikutiku semasa Co-Assistent dulu. Ketika aku berbalik, ia berpura-pura bersembunyi di balik tiang. Bodohnya, ia pikir aktingnya sempurna. Aku ikut bersembunyi, menyenangkan sekali ketika melihatnya melirik ke sana sini untuk mencariku. Kupikir, ia akan segera kembali pada ayahnya. Tapi tidak, ia tetap terus mencariku. Karena kasihan, aku menghampiri gadis kecil itu. Mata bulatnya sangat cantik, dan aku masih ingat bagaimana ekspresi terkejutnya saat itu.

            Dia tiba-tiba bilang ‘I Love You’ dengan wajahnya yang memerah. Kupikir biasa saja, kemudian dengan yakinnya ia mengatakan ini padaku. You’ll gonna be mine, whatever comes. Aku terkejut setengah mati saat itu. Mendapat pernyataan cinta dari gadis kecil yang bahkan tidak kukenal.”

            Pintu terbuka, Eunmi melap air mata dengan punggung tangannya.

            “Kemudian, aku tidak tahu setan apa yang membuatku mengatakan ini. Then, grow up well. I’ll coming after you to bill for your promise. Aku menganggap diriku pedofil waktu itu, ketika kurasakan jantungku berdebar kencang melihat senyum manisnya. Kau tahu siapa namanya?”

            Eunmi mencibir sebagai jawabannya, sementara air matanya yang jatuh beriringan diusap oleh ibu jari Jinki.

            “Namanya Lee Eunmi. Dia alasanku meninggalkan Connecticut, menolak tawaran menggiurkan Connecticut Medical Health Centre, dan kembali ke Gwangmyung untuk menemukan gadis kecil yang sudah menjelma jadi siswi sekolah tinggi yang cantik.”

            “Kau pikir aku akan tersentuh dengan ceritamu?”

            “Kupikir ya, melihat bagaimana kau berusaha menyembunyikan senyum bahagiamu itu.”

            “Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada ahjussi dengan pribadi overconfident seperti ini?”

            Jinki tersenyum lebar, memperlihatkan sepasang gigi kelincinya yang lagi-lagi membuat Eunmi merona. Ia menendang kaki Jinki, kemudian menarik sepasang sandal lainnya dengan telinga kelinci dan sepasang matanya.

            “Aku lapar, buatkan aku makanan.”

            “Yes, my highness.”

             Jinki bergegas ke dapur, ketika ia baru selangkah turun, Eunmi tiba memanggilnya. Ia berbalik, dan bibirnya sudah tertempel dengan bibir Eunmi. Ia merasakan adrenalinnya bekerja. Dan tanpa mempedulikan setan lagi, ia menarik pinggang Eunmi merapat ke sisinya. Merasakan indahnya ciuman hangat itu, sekaligus first kiss nya.

TBC

Keterangan

(1)   =  Ziprasidone digunakan untuk depresi, perawatan bipolar, kekacauan mood, kegelisahan, agresi, dementia, autism, dan stress pasca trauma.

(2)   = Hipotalamus terhubung dengan sistem syaraf yang juga berperan dalam memelihara tekanan darah, denyut jantung, suhu tubuh, dan emosi.

(3)   = Bersama vasopressin, oksitosin memiliki peran dalam mempengaruhi tekanan darah. (berdasarkan pengamatan Oliver dan Scahfer di tahun 1895)

(4)   = Antipsychotic adalah suatu pengobatan psikiatris yang semata digunakan untuk merawat penyakit kejiwaan ( termasuk khayalan atau halusinasi), terutama sekali skizofrenia dan bipolar disorder

(5)   = Gangguanmental secara psikologis, berpotensi pada kelakuan, biasanya dikaitkan dengan kesusahan atau cacat. Kekacauan Mental biasanya digambarkan oleh gabungan bagaimana seseorang merasakan, bertindak, berpikir.

(6)   = sejenis obat tidur.

(7)   = Skizofrenia adalah diagnosis psikiatri yang menggambarkan gangguan mental yang ditandai oleh kelainan dalam persepsi atau ungkapan realitas.

(8)   = Valproic acid (VPA), adalah anticonsulvant dan obat penstabil mood, digunakan untuk perawatan epilepsi, bipolar disorder.

(9)   = Kondisi depresi yang menyebabkan kegelisan

(10)      = Keadaan dimana penderitanya merasa tidak bahagia, emosional, dan ketidaknyamanan mental

Referensi : Wikipedia

This story inspired by Song Eun Cha’s comment about mental breaking, and Yenni’s comment about skizofrenia.

I’m so complimenting for Aminocte’s comment, so grateful that you do criticizing some fatal mistakes here. :*

Ada bagian yang kurang jelas, ato menurut kalian tidak sesuai diprotes ya. Kita diskusikan bersama. Thanks for attention, then.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

48 thoughts on “[FF PARTY 2012] Embraces of The Devil [1.3]

  1. yya.. Jinki pacaran ama anak kecil.. Tpi gapapa kq.. Coz q jg kaya eunmi., suka sama yg jauh lebih tua#dorr#justkidding
    sik asik.. Banyak pengetahuannya ni ff.. Perdebatan antara jane n jinki jg bikin aq ikutan pusing.. Haha..
    Poor minho.. Mudah2an cepat sembuh ya, nak..
    Next..

    1. Wah? Membingungkan ya? Maaf, saya gak nyangka ff ini jadi bikin reader pada bingung #sigh
      Mungkin penjelasanku terlalu bertele” kali ya hehe
      Mianhe, tp makasih loh udah mau baca Hyora *gak mau panggil eonni gapapa kan hehe*
      Gomawo, semoga part k depanny memuaskan 

  2. boram eonni. aku capek bacanya. bikin aku naik turunin cari artinya. rada ribet. ribet banget malah. tapi konfliknya di sini belum muncul, yah?

    perasaan aku aja apa emang alurnya terlalu lambat. whatever lah. masih ditunggu kelanjutannya. aku masih belum tahu suka apa nggak. sempet loh aku pengen jadi psikiater gitu. kayaknya keren, tapi disini berasanya serem.

    ya udah deh, ditunggu lanjutannya.
    semangat ya eon!

    1. Ya ampun, maaf, saya sengaja kasih keterangan di bawah, saya gak tau kalo jadiny bakalan serempong it hehe mianhe
      Iy, boleh dibilang ini semacam prolog. Ini baru pengenalan tokoh, sama penjelasan singkat soal psikiatri. Konflikny jg gak bakalan berat” amat kok, saya fokus sm psikiatriny untk part k depanny. Saya malah takut kamu bakalan gak suka sama ceritany hehe
      Makasih smangatny saengi 
      Seneng deh kamu mampir kemari, semoga part k depanny memuaskan 

  3. Wah… Daebakk
    FF ini bener2 serius. Aku baru pertama kali baca FF kayak begini. Mmm… Hal2 yg dibahas ilmiah dan real, gag asal2an. Jadi kayak baca novel terjemahan gitu. Kayak agatha dll, yah… Walopun ini bukan genre mytery detektif, tpi jjang… Author sangat bekerja keras.

    Memang agak ribet musti baca footnotenya biar paham, tpi tak apalah
    keren banget thor… Mendekati sempurna #gombal
    karena aku bukan psikiater atao psikolog, sejauh ini masih logis

    aku akan menunggu part selanjutnya😀

    1. Nah, bisa dibilang ff ini tercipta karena fiksi yang kubaca hampir semuany novel terjemahan yg fokus ke dunia psikologi. Saya terinspirasi sm novel Sickened by Wolly Lamb. Kerja keras ya hehe. Kebetulan aj sy emang tertarik sm dunia psikiatri, jadiny lampiasin k ff aja hehe
      Ih seneng deh digombal ChanYeon😀
      Sy jg bukan psikiater ato psikolog kok, makany sy minta masukan kritik kalo mislny ada yang salah dlm penjelasan sy.
      Makasih yaaa udah mampir, semoga part k depanny memuaskan 

      1. Wah… Suka baca novel terjemahan juga rupanya. Sudah ketebak dari isi FFnya, rada nyebut2 inggris.Hehe, tapi kita beda genre fav. Aku lebih suka mystery detective, fantasi (kyk harpot) hehe #nyengir mulu
        Aku manggil boram-ssi atau eonni? Hehe

        mau ngasih masukan ttg isinya agak susah nih. Karena sudah lama gag ketemu bidang sains begini. Hehe… Pas baca komen dari reader lain cuma bisa ber ‘oh’ ria #jealous :p
        part selanjutnya pasti aku tunggu. Dan akan serius membcanya biar bisa kasih komen yang membangun😀

        1. Harry Potter? Saya gak terlalu suka sm fantasi sebenarny, n lagi saya belum pernah baca satupun dr k7 series Harpot it haha

          Sy line ’94 dear, terserah deh mau manggil eonni kalo masih muda, asal bukan halmeoni lah haha

          waah, janji yah. saya seneng banget loh kalo ad reader yg mau ngasih kritik saran d ff sy, hoho

        2. Hahaha, belum pernah baca? Tsk…
          hehe gag jadi panggil eonni deh, ternyata lebih tua aku😛
          Hahahahaha #ketawa evil

          Kalau gitu aku mau ngegombal lagi. Line ’94 buat FF kayak begini? behhh… jjang mah. Aku jadi minder
          hehe

  4. Woow, Boram-ssi.. Bahasanya berat betoool, tapi gak papa biar tambah pinter, apalagi saya suka banget sama Jinki ahjussi😀 cocoklah, bisa kebayang Jinkinya jadi psikiater.. Di part ini konfliknya belum terlalu berat juga, masih bisa dimengerti.. Ok Boram-ssi, saya tunggu part selanjutnya..🙂

    1. Haha, Jinki kan suami saya *eh
      Berat ya? Saya cuman mau mengenalkan sedikit pengetahuan ttg psikiatri sih, tp gatau udah benar seluruhny ato ada kesalahan yang nyempil.
      Konflik belum muncul, dan nanti gak bakalan berat” amat kok.
      Makasih ya, semoga part k depanny memuaskan 

  5. Awww,,, nemu ff bagus niih!!!
    daan..jejejeeeng, kak boram nelurin ff psikologi lagi! yuhu~~
    err, komen tata penulisan dulu lah ya…hehe :
    – Aku pulang. Tidak perlu meneleponku sebentar malam.
    ‘sebentar malam’ ini klo mnurut la kurang gimanaa gitu kak, tpi la bingung juga pngganti yg bagusnya apa =_=”

    – Setirnya digenggam erat. Pemilik tangannya menginjak pedal gasnya menyebabkan jarum hijau…
    gimana kalau : Sepasang tangan menggenggam setir mobilnya dengan erat. Pemilik tangan tersebut menginjak pedal gas lebih kuat, menyebabkan jarum hijau…..
    eh, lebih panjang trnyata ._____.”. #gakbakatkomen

    Kak Boram niat banget ampe nyari ke jurnal ilmiah *o*. Baru tau la klo oksitosin juga berperan dalam menaikkan tekanan darah .____.”
    Namun, mnurut la sih, hormon yang berperan utama dalam marah itu adrenalin (http://sehatbugar.multiply.com/journal/item/87), hormon lainnya cuma embel2 aja.. menurut la siih ==v. tpi kalau menyangkut penyakit minho, penyebab marahnya la gatau juga klo ditinjau dari segi hormon2 bgitu .___.

    dan si Jane tipe2 psikolog berjiwa psikiatri kayaknya..ambisius bener..hoho..tpi emang sih, di kehidupan nyata psikolog ama psikiatri pun adalah sebuah tim multidisiplin dalam menangani masalah beginian😀

    sbnrnya aku nemuin beberapa hal yang cukup rancu kak, tpi entaran dulu deh, la cari pasti dulu gmnanya..baru la komen lagi..hehe

    lanjuut aaah~~~ ^o^/

    1. suka sama komentarmu loh ^_^

      wah, makasih untuk pembenaranny. Agak aneh juga emang kalo dibaca ulang haha
      maklum, saya masih belajar ngembangin narasi hehe
      iy sih, kebetulan karena sy suka baca” soal psikiatri, kebanyakan sih dari fiksi terjemahan yg tema psikologi.
      Adrenalin emang hormon pengendali emosi. Cuman, sy mau ngenalin kedua hormon it kalo kerja sm bs ngendaliin amarah, hasil pengamatan Oliver dan Scahfer di tahun 1895. Bentar ya, sy cariin linkny untuk dua hormon it.

      Gak juga kok. Psikolog it lulusan magister psikologi, kalo psikiater it dokter yg lanjut di spesialisasi kejiwaan. Bedany, psikiater bisa meresepkan obat sm pasien, sedang psikolog mendengar keluhan klienny dan tdk berhak ngasih resep.

      Masih ad yg rancu lagi? Yeee, sini jelasin. Kalo bisa sy bakalan jelasin semampuny.
      Makasih ya udah mampir, dan semoga part k depanny memuaskan 

    2. aah, tapi narasi kakak udah kece looh, itu mgkn krna buru2 aja. Klo narasi aku masih acak kadul banget. =_=
      waah, fiksi terjemahan? psikologi pulak? amaiziiing!!! la gak pernah kuat baca novel begituan .-.
      aaah, sip2, pas nunggu, ntar la coba cari2 juga. makasi lo kak info barunya. hoho..aku sampai kegelitik lagi buat nyari2 penyakit minho ini. maklum, ilmu kejiwaan ini rada rempong .-.

      iya, setuju kak. psikolog itu berupa keprofesian dan gak punya wewenang meresepkan obat. Nah, maksud la di sini sebuah tim itu bukan menjadikan mereka satu level, tapi lebih ke mendiskusikan masalah si Minho ini misalnya. berhubung ini kasus pertama bagi jinki, dia bakal bertukar pikiran dengan Jane yg pernah melakukan konseling ke Minho, atau bertanya mengenai pengalaman Dr. Brown menerapi si Minho sebelumnya. Maksud tim multidispilinnya ke arah situ, utk mengumpulkan pendapat dari berbagai profesi yg terkait.
      hehe..kurang lebih begitu #nyengir

      boleh kah kak? mga2 bisa terima ya kak yaa..
      bgini, setahu la, obat antipsikotik itu tak bersifat ketergantungan. Dia ‘seakan-akan’ ketergantungan karena emang pasien membutuhkannya dalam jangka panjang, bahkan seumur hidup, guna menstabilkan keseimbangan neurohormonal-nya itu. Jadi pas la baca Jaehee ditakutkan ketergantungan sama si Jinki, itu agak rancu. mungkin efek samping yang lainnya yg lbih ditakutkan, msal secara garis besarnya ‘agranulositosis’, berhubung obatnya golongan atipikal.
      Klo pengen nelisik masalah obat2an dalam terapi kejiwaan, coba aja cari2 di buku farmakologi obat dan sejenisnya. bakal dijelasin lebih dalam nantinya😀

      masalah kedua, yg sikap Jinki membuka tirai jendelanya, padahal dia tau si Minho photophobia. itu belum ada penjelasannya. soalnya, kalau memang Jinki dan berpengalaman, pintar, dia bakal tau tatacara mewawancarai pasien yg mengalami gangguan jiwa berat seperti Minho ini. Dan idealnya dia gak bakal ngenantang *?*, tpi mungkin diajak ngobrol kenapa dia takut cahaya. begitu ._.

      aah, segitu saja kira2 kak yg bisa la komen. maaf kepanjangan #bowingdalem2
      La juga masih tahap belajar beginian. Salah2 info dan kata2 la mohon maaf..
      Wassalam.. #eh

      ^o^/

      1. saya lupa ngasih keterangan nih sepertiny. Minho it seorang bipolar disorder sebenarny. Mixed state it salah satu tahap dari gangguan emosionalny, mania sm depresi scr bersamaan.
        Tp seneng deh kmu bisa ngerti alur certany haha. Iy dong, saya malah suka sekali sm masukan kritikan, namany jg saling berbagi ilmu kan.
        Yes, tepat yg seperti kamu blg. Saya gak bilang loh klau senyawa kimia dlm antipsikotik yg menyebabkan ketergantungan. Jinki disini mau menghentikan obat itu untuk sementara, karena efekny berbahaya sm janin. Seperti yg kmu blg, antipsikotik akan terus dibutuhkan untuk skizofrenia dlm menyeimbangkan moodnya.
        Sayangny La, saya malas kalo nyangkut buku obat. Kalo disuruh baca buku psikiatri iy saya mau banget haha
        Entah ya, saya sering mendengar anjuran psikolog untuk melawan ketakutanny. Disini, Jinki pengen Minho melawan rasa takutny, meski sebenarny ia terlalu cepat untuk melakukan it karena harus konsultasi dulu kan. Bisa dibilang, disini faktor kecerebohan atau sikap tidak sabaran Jinki karena pertama kaliny menghadapi seorang bipolar disorder.

        Nah oke, penjelasan sy cukup segini kan. Kalo ditemukan kesalahan ato apa, ditanyain lg ya.
        makasih dhila🙂

  6. Boram-sii,
    ada yg ngebahas ttg autis jd keinget FF Mirror.🙂

    ttg hormon oksitosin, aku taunya oksi tuh hormon perangsang kontraksi, yg bs mencegah HPP.
    Nah lohhh, ilmu aku terbatas bgt.
    #nyengir V

    baca FF ini nambah pengetahuan aku ttg mslh kejiwaan, jd baca sambil manggut2 dan nyeletuk “Oh, gitu tho ternyata” atau “Oh, aku baru tau, catet, catet”

    Good job, Boram-ssi.
    Di sela2 kuliah msh bs nulis FF yg berbobot gini. Mungkin gak sesulit itu krn authornya kuliah di bidang medis. Nyambung lah ya.

    1. Wah, ternyata ad yg masih ingat sm ff gagal it haha
      Sama, awalny kupikir oksitosin cuma buat membantu proses kelahiran bayi seperti yg diajarin waktu sma dulu, ternyata pas ditelusuri jg bs ngendaliin amarah. Sy dapat referensi ini dari wikipedia loh.
      Yah, sebenarny sih saya gak majoring d medis. Bisa dibilang ini ff pelampiasan untuk mimpi sy yg mau jd psikiater/psikolog yg gak bakalan sampe” haha
      Dan kebetulanny, saya ngerjain ini pas minggu k3 januari, udah libur kampusny.

      Makasih ya udah mampir, dan semoga part k depanny memuaskan 

    1. Ribet ya? Waaa, sy gak tau kalo ff ini bakalan bikin bingung *bow*
      Tp syukur dah kmu bs ngerti sm ceritany hehe
      Makasih ya udah mampir, dan semoga part k depanny memuaskan 

  7. Waaah walaupun ªkŮ Ğªќ ƍįıƭÛ paham soal psikolog Ŧǻρί seru Κ̣̝̇o̶̲̥̅̊ҟ ceritanya
    Suka ªkŮ karakter jinki disini
    Ъќ sabar nunggu lanjutannya thor
    Abiz kiss †я̲̅μş̲̅ mereka ngapain Ɣää
    ƗƗαƗƗαƗƗαƗƗαƗƗαƗƗα

  8. Such a beautiful psychology story! Jarang nemu yg begini kalo genre psychology, biasanya suka dihubungin sama kekerasan dan pembunuhan, tp ini (saat ini) engga. Dan itu menimbulkan sesuatu yg ‘klik’ pas baca🙂

    dan aku semakin tertarik sm dunia psikologi karena ff ini. Hmm, sempet sebel sama si Eunmi -_- labil sekali, dasar bocah #plak😄

    omona, Minho…. Agak gak tega, secara dia bias utama… Huaaa.

    Aku punya pertanyaan, kalau psikolog sama psikiater itu secara ilmu lebih tinggi mana? Maksudku, psikiater itu level berikutnya dr psikolog kah? Karena, pas baca di atas ada kalimat “..cuma psikolog”, dan itu kayaknya membuatku berpikiran psikiater punya ‘level’ yg lbh tinggi dr psikolog ‘-‘ jd selama ini aku salah ngerti (aku mengira psikolog levelnya lbh tinggi dr psikiater, dulu).

    Nice ff, aku ga bisa berhenti mengagumi diksi demi diksi yg terangkai di dalam ff ini, feel khas genre psychology-nya dapettttt banget dan itu bikin aku ngerasa psycho (?)😄

    ditunggu lanjutannya eonni🙂

    1. Wah, makasih. Sebenarny ini terinspirasi dr berbagai novel terjemahan yg make tema psikologi, tp gak nyontek loh dr novelny. Kebetulan jg sy tertarik sm dunia psikiatri, makany sy mempelajari beberapa materi kejiwaan.
      Mungkin kedengaran klik krn kamu mencet mouse kali ya #sangtae #lupakan

      Menurutku sih psikolog sm psikiater gak ada yg namany secara level lbh tinggi. Dua”ny sm majoring d dunia kejiawaan. Bedany, seseorang bs dblg psikolog setelah menyelesaikan magister (strata dua) psikologi. Psikiater adlh dokter yg melanjutkan pendidikan d spesialisasi psikiatri. Jadiny, psikiater it adlh dokter yg mendiagnosis dalam penanganan masalah gangguan jiwa. Penanganan psikiatri dilakukan dengan obat”an, penanganan sosial, sm konsul. Jd, psikiater bisa ngasih terapi obat. Namany farmako terapi deh kalo gak salah. Psikolog gak boleh. Nah, ngerti kan kenapa Jinki bs semarah it sm Jane karena dy membolehkan resep obat Jaehee.

      Waah, saya banyak belajar diksi dr novel terjemahan sm author favorit saya, Dista Dee. Udah pernah baca ff ny? Louboutin Catalyst sm Heaven Woods kece badai loh!

  9. Baca ff sambil nambah pengetahuan,,
    jarang-jarang ad ff yang gini.. Aku suka..

    Istilah nama namanya walaupun udah dijelasin, mungkin krna asing bagi aku,jadi agak kurang ngerti. Maklum terlalu ‘pintar’ akunya.eh wkwkwk

    aku suka couple jinki eunmi,, ada typo satu klo g slah.plaaakkkk
    bekum >> belum..
    Aduh itu knpa di tbc in yg kissnya.. *yadongkumat
    ditunggu lanjtannya boram-ssi..
    Fighting

    1. Jinki-Eunmi jg couple fav ku, makany semua ff berbau Jinki pake couple it

      maaf ya kalo ff ny bikin rada mudeng, dan maaf juga, saya gak berbakat sm sekali untuk bikin romance haha

      makasih untuk mampir, semoga part k depanny gak mengecewakan🙂

  10. Ahh..akhirnya, ff tentang masalah psikologis lagi, seneng deh. Boram juga keren nih risetnya, mendetail banget. Kerasa masalah yang dihadapi setiap tokohnya, beban hidupnya, pertentangan batin, ah, keren deh pokoknya. Jinki emang pas jadi psikiater di sini🙂

    Ada beberapa yang mau aku komentari nih, nggak apa-apa kan ya?
    1. Ada beberapa kata bahasa asing yang belum dicetak miring, kayak eomma, oppa, dll. Ada juga kata bahasa asing yang udah diserap dalam bahasa Indonesia, tapi masih ditulis dalam bahasa aslinya, misalnya arrogant.

    2. Gini, dari info yang aku dapat, ziprasidone itu tersedia dalam bentuk kapsul dan injeksi. Injeksinya itu intramuskular, jadi disuntikkan ke dalam otot. Setahuku tempat injeksi untuk intramuskular itu di bagian yang banyak ototnya, misalnya paha, bokong, lengan atas. Bagian puncak bahu ya, seperti yang kita tahu, nggak terlalu banyak mengandung otot. Dan obat yg diberikan dengan cara ini efeknya perlahan, nggak bisa dalam hitungan menit.

    3. Ziprasidone sebenarnya bukan obat antipsikotik generasi kelima, melainkan generasi kedua. Di wikipedia, dinyatakan bahwa obat ini merupakan obat kelima yang disetujui FDA.

    4.. Soal ibunya Minho yang menyuntik anaknya sendiri itu, sebenarnya melanggar peraturan, karena obat injeksi itu hanya boleh disuntikkan oleh tenaga kesehatan yang berhak (sebenarnya dokter sih). Kenapa dokter Brown mau aja melepas pasiennya yang nggak stabil untuk dirawat rumah dan tanpa pengawasan sedikitpun selain check-up? Soal infus dan vitamin juga seperti itu. Apalagi obat antipsikotik bukan obat yang bisa digunakan sembarangan.

    5. Di atas ditulis kalau Jinki hampir meminum dopamine untuk mengatasi insomnia. Tapi, dari info yang kudapat, dopamine itu tergolong obat kardiovaskular, untuk mengatasi masalah jantung, dan diberikan dalam bentuk infus. Sebenarnya lebih pas kalau dia hampir meminum obat tidur (misalnya diazepam).

    6. Trus ada ‘olanzapine tiga kali sehari’, tapi sebenarnya olanzapine itu hanya diberikan satu kali sehari/dosis tunggal. Kayaknya bukan bahayanya pada janin yang harus lebih dicemaskan Jinki, melainkan pasiennya bisa overdosis. Dan sejumlah penelitian membuktikan bahwa sebenarnya bahaya olanzapine pada janin lebih ke arah menyebabkan keguguran.
    7. Masuk ke Jinki dan Jane. Dari cerita bisa kita ketahui bahwa Jinki ini adalah psikiater, sementara Jane ini psikolog. Tapi agak kurang pas rasanya saat membaca perdebatan mereka, dimana Jane sebagai psikolog mempercayakan nasib pasiennya pada pengobatan, malah Jinki yang berhak meresepkan obat menolak mati-matian pengobatan Jaehee, bahkan ingin menghentikannya. Padahal pengobatan skizofrenia bukan sesuatu yang bisa dihentikan begitu saja, tetap membutuhkan obat dan terapi psikologis. Biasanya, di kenyataan malah psikiater yang agak memaksakan pendapatnya untuk memberikan obat kepada pasien, dan di sanalah peran psikolog untuk memberikan pertimbangan kepada psikiater apakah pasiennya sudah menunjukkan perkembangan atau belum. Di cerita ini, Jinki seperti terlalu menyerah pada Jane, seolah mereka tertukar.
    8. Nah, fakta di nomor 7 agak bertentangan dengan lanjutan cerita Jinki yang mewawancarai Minho, kelihatannya Jinki agak terlalu dingin untuk memulai wawancara kepada pasien. Harusnya dia bisa lebih hangat dan tidak boleh lupa memperkenalkan diri kepada pasien, mengingat dia adalah psikiater yang boleh dikatakan hebat, lulus dengan nilai cumlaude, sempat bekerja di Inggris.
    9. Mengenai rasio tenaga di rumah sakit tempat mereka bekerja, sepertinya terlalu minim. Dengan pasien sebanyak itu, setidaknya perawatnya harus lebih banyak lagi (di Indonesia saja, kalau tidak salah, rasio perawat: pasien rawat inap = 2:3). Pekerja sosialnya juga terlalu sedikit, kurasa. Lain halnya bila pasien rawat inapnya tidak terlalu banyak. Sebenarnya, psikolog dan psikiaternya juga masih terlalu minim sih.

    Udah deh, sekian komentarku, maaf kalau kepanjangan. Semoga kamu berkenan, dan komentarku bukan mutlak benar, kok, aku terbuka untuk dikomentarin balik.😀

    1. Aaaaaa~
      Saya suka komenny, komen yg beginian yg saya tunggu~
      Waa~
      Mianhe, saya hanya berbekal fiksi psikologi sm wikipedia yg make bahasa dewa *baca:eng sub* karena versi indonesiany belum ad.
      1. Jadi semua bahasa asing, termasuk bahasa korea gitu, biarpun kata serapan mesti dicetak miring ya? Wah, saya baru tahu it. Makasih infony
      2. Nah loh, saya baru tau it. Tapi kan, yg maksud sy dalam hitungan menit it kan periode mood Minho. Sebentar marah, sedih, dst. Oh ya, saya baru revisi lagi. Maksud saya bukan di puncak bahu, tp d puncak lengan. Kan biasany dokter” di holiwud kan nyuntikny bagian situ. Ah mianhe, saya teledor untuk bagian narasi it.
      3. Wah, sy baru tau kalo obat it generasi kedua. Soalny d wikipedia bilangny generasi kelima sih. Gomawo infony
      4. Memang iy, warga umum gak boleh nyuntik sembarangan. Dan untuk soal it, sebenarny, ehem. Bakalan ad penjelasanny lebih lanjut d part k depanny. Tp sy gak tau loh penjelasanny nanti bakalan benar. Stay tune ya untuk koreksiny lagi nanti.
      5. Iya, ya ampun, it kesalahan terbesar. Saya bacany waktu it cuman karena khasiatny yg bikin ngantuk, dan somehow, terlalu banyak nama obat kimia yg saya baca untuk referensi. Jadiny pada ketukar. Aaa~ Makasih infony. Bentar deh saya edit lgi, hehe.
      6. Batas OD kan 450 mg kan ya? Jadi sy mikirny, tiap kapsul terdiri dr 50 mg. Kalo dlm sehari kan Cuma 150 mg, tp efekny tetap aja besar kan yah. Hehe
      7. Satu kesalahan besar lagi, saya lupa review obatny. Bukan ziprasidone sebenarny, tapi valproid acid yg memberikan resiko autism pada embrio janin. Ya ampun, makasih infony. Nanti saya edit lagi loh.
      8. It yg coba sy tampilkan disini. Jinki kan bilang, Jane cuma seorang psikolog. Tapi yg sy maksud disini, Jane menyetujui permintaan resep obat Taehee. Emang sih, seorg skizofrenia jg gak berhak minta pengajuan resep. Tp saya gak tau ap kamu gak nangkep di narasiny, ato cara saya nyiratin gak klop ya. Jinki menghentikan pemberian obat sm Taehee, jd Taehee minta pengajuan obat sm Jane. Meskipun sebenarny gak boleh jg krn Jane bkn psikiater. Dr fiksi yg sy baca, seorang skizofrenia sulit untuk memercayai seseorg. Jadi, karena Jane udah bertahun” nanganin dy n dy udah kenal banget sm Taehee, jd Taehee cuma percaya untk ngajuin obat ke Jane setelah penghentian obat oleh Jinki. Belum ngerti yah maksudku? Kalo gak, tanyain lagi deh.
      9. Maksud kmu karena Jinki tiba” aj buka tirai gitu ya? Saya sering mendengar anjuran psikolog ataupun psikiater untuk melawan ketakutan pasienny. Disini, Jinki pengen Minho melawan rasa takutny, meski sebenarny ia terlalu cepat untuk melakukan it karena harus konsultasi dulu kan. Bisa dibilang, disini faktor kecerebohan atau sikap tidak sabaran Jinki karena pertama kaliny menghadapi seorang bipolar disorder.
      10. Nah, sebenarny, sy juga sempat bingung sm rasiony. Tapi maksih loh infony, nanti sy edit lagi. Soal pekerja sosial, kupikir mereka cuma tenaga sosial sprt kegiatan sosial pd umumny.

      Nah, saya mau makasih banget ini sm waktu luangny untk ff gaje yg banyak banget salahny ini, udah ngasih masukanny juga. Seriously, saya terharu banget karena kamu mau bagi ilmuny sm saya. Stay tune ya untk part selanjutny, siapa tau aj ada kesalahan lg yg kmu temukan hehe.

      1. Sama-sama, senang juga bisa berdiskusi, aku jadi buka referensi nih karena penasaran..hehe, jadi bisa belajar juga deh😀

        4. Sip, hehe, kutunggu penjelasannya, pasti ada alasan untuk melakukan itu semua

        6. Kalau olanzepine, dosis maksimalnya 20 mg/hari, jadi ya udah lewat banget tuh.

        8. Oh, gitu, ngerti, kok, karena Jaehee percayanya sama Jane jadi dia minta tolong ke Jane. Hmm, berarti aku salah nangkap nih..hehe, makasih penjelasannya.

        9. Ngg, maksudku sih lebih ke arah pembawaan Jinki pas berhadapan dengan Minho, agak kurang hangat. Dia membuka percakapan dengan ,”Jadi, namamu Minho?” sebelum sempat memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.

        10. Sebenarnya pekerja sosial juga nggak wajib kok, aku kebayangnya dengan rumah sakit sebesar itu, kalau perawat kewalahan menangani pasien, pekerja sosial yang akan membantu. Tapi, itu cuma asumsiku aja sih..hehe

        Ah, jangan terlalu merendah gitu, tapi ya, aku bakal stay tune, kok🙂

        1. ketahuan deh ff ini salahny banyak haha

          ah ya ya, I see. kesanny Jinki sombong gitu yah? haha jarang” loh sy jadiin dy antagonis gitu.

          Waaa, maksih. Sy nunggu koreksiny lagi nanti *kecup sayang*

  11. wow keren banget ceritanya.. Jinki suka anak kecil ya, aku berasa jadi eunmi deh. Soalnya aku jg suka cwo yg lebih tua,tp dewasa gtu deh kekekeke. Gaya bahasanya berat dan istilah-istilah kedokterannya bkin pusing, karna harus cari tau artinya k bawah. Trus perdebatan antara jinki sama jane bell aku bingung banget, kurang jelas gtu. Mungkin part selanjutnya penjelasannya lebih jelas lg ya. Ditunggu lanjutannya. Hwaiting..

  12. Aiih keren ._. Jinki oppa jadi pskiater =D keren bayanginnya =D orang sesangtae dia bisa jadi pskiater hebat =D aaiiih kereeen =D

  13. aku suka temanya, gangguan psikiatri? hmm, penyakit berat dan memerlukan obat seumur hidup.
    suka, untungnya belajar di kesehatan jadi istilah yg digunakan ngerti tanpa harus liat penjelasannya tp kasihan ama yg gak ngerti harus bolak balik. Tp aku gak ngerti ttg penyakitnya jd gak bisa benarkan atau salahlan. Heheh
    aku suka pokoknya, penulisan, tema, berharap klimaks dan konfliknya kena nanti ditunggu🙂

  14. Daebak! Aku suka banget FFnya. Genrenya juga termasuk favoritku ^^*ga nanya*
    Tulisannya rapi meski ada typo dikit banget, hehe… Pas awal aku dikit bingung ngga tau aku yg lemot apa gara-gara frustasi ngga bisa nebak jalan cerita -,-a
    Ceritanya seru Jinki ahjusi pacaran sama anak kecil(?). Terus Minhonya itu lho… penasaran gimana kelanjutan nasib dia, tapi kasihan juga Mihnho harus kena gangguan kaya gitu u,u

    Nice FF ^^b

  15. prok prok prok hayoloh bingung mau ngomong apa saking bagusnya
    tapi aku agak pusing apa bedanya psikolog ama psikiater ya?

  16. Hi, Boram. akhirnya bisa baca juga FFmu *deep bow*
    wah! ini keren banget loh! aku smpe tenggelam dalam ceritanya, cma konfliknya blm terasa di part ini.
    terus terus, aku agak pusing sama beberapa istilah kedokteran itu ^^v
    .kekek. tapi sebagai seorang pembaca awam, aku mengabaikan kepusinganku dan tetap lanjut into the story.
    dan ah! Jinki pedofil ih!!! Tapi so sweet.kekekek.
    pas lagi scene sama Jane itu, gtau knpa aku pgnnya cpt2 ada scne Jinki-Eunmi lagi.kekeke.

    Wah, ada namaku di-note. *terharu*
    klo gtu nanti bkin ff yang tkoh utamnya psycho dong yaah, yang ada mutilasi2nya gtu *plaakkk*
    oia, ada saran sedikit yah. “This story inspired by Song Eun Cha’s comment..” <– seharusnya this story is inspired by…. kurang aux ajh, tpi mknanya jadi berubah.
    hemm, sma apa yah? ak kurang ngerti soal EYD, dll, palingan ada bahasa asing yang belum di-italic ajh.

    oKEY deh, sekian komenku *udh kepanjangan*
    g sabaran mau ke part berikutnya😉

  17. jinki pacaran ama ank kcl… wah padhl dia sendiri seorang psikiater. btw itu endingnya gk akan terjadi apa2 kan? wahh bahaya oppa.. bahaya…

    kyknya eunmi akan ada hubungannya dgn si kodok. penasaran. lanjut!

  18. subhanallah…
    FF pinter…
    Banyak ilmunya…
    Aku kagum sama penulisnya, nih…
    Pasti cukup sulit ngerjain riset buat cerita ini, tapi
    dari kacamata aku sebagai reader biasa yang buta masalah ginia,
    aku salut dan mau acung jempol buat authornya yg berani
    ngangkat topik ini dalam ceritanya…

    Untuk, kritikan masalah mental disorder and friends nya itu,
    kayaknya udah ada beberapa readers yang lebih kompeten
    buat kasih komen, opini, atau kritikan…

    Aku mau kasih komen dari segi cerita aja…
    Semua karakter udah pada absen…???
    Sekarang tinggal cari tau apa hubungan atau konflik yg bakal terjadi untuk
    karakter2 utamanya…

    Di Part1, jalan ceritanya sangat enak dibaca dan dipahami,
    kecuali untuk beberapa masalah atau istilah2 medis yang muncul,
    atau ketika perdebatan antara Jane dan Jinki…
    Heheheeee…. aku rada bingung dan harus bacanya pelan2, dan scroll
    page beberapa kali untuk intip ‘keywords’ yang udah disiapin disana….
    Hasilnya…, lumayan… ngerti….

    Aku terusin, yah, ke Part 2…
    Ceritanya sangat menantang…
    menantang apa?
    menantang otakku untuk mikir lebih keras dari biasa…
    #malu ma Jinki yang pinternya banget… disini…. phew…

  19. Jinki jadi pak doktel ih mau diobatin jugaaaa tapi kalo dokter jiwa gajadi lah x,x manis bgt jinki sama eunmi ini :3 Jgn2 teman kerja nya suka lagi sama jinki
    Overall suka sama ff ini berasa beneran karena pake dikasih keterangan jadi tambah ilmu juga

  20. Saia kemana aja? Baru ketemu FF ini, and keren(pake banget)! Saia emang new comer di wp inii.. Buka2 library, eh.. Ketemu nih ff😀 Eonni boram keren badai!
    Penggambaran pekerjaannya si jinki perfect banget! (y)
    One word : Excellent!!!😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s