[FF PARTY 2012] Future Diary [1.3]

Future Diary

Title                           : Future Diary

(Someone in Christmas Night)

Author                      : Loemongga Khofifah

Main Cast                : Lee Jinki

                                      Choi Jina

Support Cast           : Choi Minho

Length                       :  Sequel

Genre                                    : Mystery

Rating                       : G

Summary                  : Future Diary…? Diary apa itu? Apa dia bisa merubah masa

  depan hanya dengan diary itu?

A.N                             : Cerita ini terinspirasi dari film ‘death note’ Cuma kalian

  harus tau kalau alur cerita ini 100% berbeda dari ‘death 

  note’ sendiri. So, I’m not copying. Don’t be siders ne? Happy

  reading all^^

Ket                             : OP

Credit Poster          : ApreeLKwon eonni^^

 

Aku menutup ruang seni kampusku dengan perlahan. Aku memang suka disini berlama-lama. Ruangan ini seperti rumah kedua bagiku. ‘Seoul University’ itulah nama sekolah tempat aku menuntut ilmu sejak tiga tahun yang lalu.

Kuarahkan pandanganku kesekitar tempatku berdiri sekarang. Kulihat jam yang melingkar dipergelangan kiriku. Pantas saja sangat sepi, sudah jam 8 malam ternyata. Ku eratkan jacket dan syalku, bersiap untuk meninggalkan tempat ini. Setelah merasa hangat, perlahan ku langkahkan kakiku, pergi.

Selama perjalanan menuju apartement, aku melihat kesegala penjuru kota. Huh, salju yang turun kali ini lebih tebal dari yang kemarin. Pohon-pohon cemara yang terdapat dipinggiran kota juga semakin tampak indah karena dihiasi lampu-lampu kecil yang penuh dengan warna dan salju yang mengelilinginya.

‘Tidak terasa sebentar lagi natal akan tiba’ batinku.

Aku masih harus menempuh jarak 3km lagi untuk bisa tiba di apartementku. Kurasa, perjalanan kali ini akan sedikit lebih lama karena kakiku hampir beku akibat cuaca yang dingin sekarang. Aku masih terus berjalan sembari memperbaiki letak syalku.

Tapi tunggu, siapa itu? Aku menghentikan langkahku sejenak ketika melihat seseorang. Seorang anak perempuan memakai jubah berwarna merah darah sedang berjongkok dibawah pohon cemara pinggir kota. Persis seperti gadis korek api yang ada didongeng anak kecil. Mungkinkah aku bertemu gadis seperti itu di dunia nyata? Aku menertawakan diriku sendiri. Mana mungkin kejadian seperti itu terjadi.

Aku kembali berjalan dan terus melangkahkan kakiku melewati gadis itu. Tapi tiba-tiba langkahku terhenti karena seseorang menahan tanganku. ‘Mck’ aku berdecak sebal. Kulirik kebelakang sekilas untuk melihat siapa yang menahan tanganku ini. Perlahan genggamannya terlepas. Baru saja aku mau melangkahkan kakiku lagi, tapi ku urungkan niatku ketika gadis itu mencoba berbicara padaku.

“Tuan, maukah kau membeli coklatku?”

Suaranya sangat pelan, tapi masih bisa ku dengar dengan jelas. Perlahan aku berbalik, kemudian berjongkok menghadapnya.

“Coklat? Aku kira kau akan menawarkanku korek api seperti yang ada didongeng-dongeng” aku tertawa lepas menyadari betapa bodohnya diriku membayangkan hal seperti tadi.

Ku lihat lawan bicaraku masih tetap diam tak merespon perkataanku barusan.

“Baiklah gadis kecil, aku akan membeli coklatmu”

“Benarkah tuan akan membelinya?” tanyanya dengan mata yang berbinar

“Ne, tentu saja” balasku dengan tersenyum. Kulihat dia juga tersenyum puas mendengar jawabanku. Dia merogoh kantong besar berwarna hijau yang ada disebelahnya.

“Ini..” dia mengulurkan sebatang coklat kepadaku. Aku menerimanya

“Berapa harganya?”

“Kau tak usah membayarnya tuan”

“Mwo? Apa maksudmu?”

“Aku memberikan ini sebagai hadiah karena kau sudah menjadi pelanggan pertamaku”

“Ya! Kau ini! Kau kan yang memaksa aku untuk membeli coklat ini? Karena aku membeli, aku pasti membayar! Jadi, berapa harga coklat ini?” tanyaku lagi dengan nada yang sedikit meninggi.

“Baiklah kalau kau memaksa…..” Kulihat dia menghitung jumlah jarinya dan berhenti diangka ke lima. ‘5000 won? Haha murah sekali’ pikirku.

“….50.000 won tuan”

“Mworago? 50.000 won? Bagaimana bisa coklat seperti ini sangat mahal?!” aku membelalakkan mataku tanda tak percaya.

“Ya! Kau ini banyak tanya sekali! Cepat bayar!” katanya sambil membentakku.

Mwo? Ada apa dengan gadis ini? Kenapa sifatnya bisa berubah derastis?

“Haish..Ne, ne, arraseo…” aku merogoh saku celanaku dan mengeluarkan selembar kertas yang ada didalamnya.

“…..ini” aku mengulurkan tanganku kepadanya.

“Sekarang apa lagi?” tanyaku. Aku heran, kenapa dia sekarang jadi tidak mau menerima uangku?

“Aku tidak punya kembaliannya tuan” dia tertunduk dalam.

Kulihat jumlah uang yang ingin aku berikan kepadanya, 100.000 won? Pantas saja dia tidak menerimanya. Uang ini cukup besar jumlahnya. Dan parahnya, itu uangku satu-satunya untuk saat ini. Haish, bagaimana aku bisa membayarnya?

“Huh, baiklah jika seperti itu, kau ambil saja kembaliannya”

Aku berkata ikhlas, bukan pasrah dengan keadaan, hitung-hitung sedekah. Lagian aku masih punya uang simpanan dilaci lemari apartementku. Kalaupun itu tidak cukup, aku bisa meminta dikirimkan uang pada appa.

Dia menggeleng “Aniyo tuan! Aku harus mengembalikannya”

“Haish, kau ini..Kenapa keras kepala sekali? Coba katakana padaku bagaimana caramu mengembalikannya? Ha?” kataku ketus.

Dia tampak berfikir, kemudian menjawab “Ikutlah kerumahku untuk sekedar minum teh. Dengan begitu hutangku lunas”.

Aku berfikir, kemudian kuterima ajakannya dengan senang hati.

“Oke! Dimana letak rumahmu gadis kecil?”

Dia tersenym kemudian bangkit dari posisi jongkoknya dan berjalan mundur menjauhiku. Aku berdiri, kemudian jalan kedepan dengan perlahan mengikuti langkahnya. Kami berhadapan, kuperhatikan dia dalam-dalam sambil menunggunya menjawab pertanyaanku.

“Disana, dibelakang gereja tua itu” katanya sambil menunjuk gereja yang tak jauh dari tempat kami berada.

Kulihat sekarang dia merentangkan kedua tangannya, kemudian berputar-putar ditempat dengan kantong besar berwarna hijau yang menggangtung ditangan kanannya. Dia berteriak-teriak tidak jelas sambil berputar-putar. Seperti orang yang baru bebas dari penjara saja. Dia mulai berhenti dari adegan putar-putarannya (?) itu. Kurasa dia sudah pusing sekarang.

Deg! Dia berhenti tepat menghadapku.

“Tuan! Umurku sudah 20 tahun, jadi jangan panggil aku gadis kecil!” protesnya setengah berteriak.

Aku tertawa mendengar kalimat itu. Badannya yang mungil memang membuatku sulit mempercayai kalau umurnya sudah 20 tahun. Kulihat lagi dia mulai berjalan perlahan mendekatiku. Aku terdiam mematung ditempat, kemudian dia datang dan langsung mengapit lengan kananku dengan tangan kirinya yang terbebas dari kantong besar hijau itu.

“Hey tuan, jalanmu lambat sekali. Aku sudah hampir mati kedinginan! Kajja!” katanya sambil menarikku.

“Ya! Jangan panggil aku tuan! Umurku hanya berbeda 4 tahun darimu!” Aku menjitak kepalanya dengan tangan kiriku yang bebas dari apitannya.

“Ya! Appo…” dia melepaskan apitannya dan mengelus kepalanya yang sakit karena ku jitak. Kami melanjutkan perjalanan dengan keheningan.

“Tuan, siapa namamu?”

Kupandang wajahnya sebentar dari samping.

“Ya! Sudah ku bilang jangan panggil aku Tuan! Aku Lee Jinki, kalau kau?” Aku melihatnya memanyunkan bibirnya. Haha anak ini lucu sekali.

“Ah, mianhae. Baiklah oppa, namaku Choi Jina, panggil saja aku Jina” dia tersenyum lepas. Ya! Neomu kyeopta >//<

*******

Kami berhenti didepan sebuah bangunan yang sangat mirip dengan kastil. Gelap. Disekeliling bangunan ini juga terdapat banyak pohon-pohon besar yang daunnya sangat lebat. Tapi, disela-sela pohon masih dapat kulihat gereja tua yang ada dipinggiran kota tadi.

Suasana disini juga sangat berbeda seratus persen dari kota. Disini gelap, sepi, dan menyeramkan. Tak ada pohon cemara maupun lampu-lampu berwarna-warni yang menghiasi sekitar bangunan ini. Hanya terdapat tumpukan salju dingin.

“Jinki oppa, kenapa kau melamun? Ayo masuk!” ajaknya.

“Ini rumahmu Jina?”

“Tentu saja. Kau tak usah sungkan! Ayo masuk!”

“Ne”

Ku yakini diriku untuk masuk ke bangunan ini. Tapi sebelum aku benar-benar masuk, kembali ku arahkan pandanganku kesekitar bangunan. Aneh. Seperti ada yang memperhatikanku daritadi.

***

Aku masuk mengikuti Jina yang berada didepanku. Hanya sebuah lilin yang menjadi penerangan kami sekarang. Jina mengajakku memasuki ruangan yang hanya dibatasi dengan sebuah tirai. Lalu, kami menaiki anak tangga yang jumlahnya tak sebanyak anak tangga yang harus ku naiki untuk bisa mencapai ruang belajarku dikampus.

Kami kembali memasuki ruangan yang lagi-lagi dibatasi oleh tirai. Setelah itu kami menelusuri jalan yang berkelok-kelok. Aku sendiri sampai pusing jika harus terus berjalan disini. Tempat ini seperti labirin raksasa.

“Jina, kapan kita akan sampai? Aku sudah lelah” keluhku sambil mengusap keringat yang sudah bercucuran dikeningku. Aku heran, dimusim dingin seperti ini kenapa aku kepanasan seperti ini?

“Sebentar lagi oppa”

Kami memasuki ruangan yang dibatasi dengan tirai-lagi-

“Nah, sudah sampai”

Kuedarkan seluruh pandanganku keruangan ini. Disini tidak segelap yang tadi. Disini banyak lilin-lilin panjang yang tergantung disisi dinding. Disini juga banyak lukisan-lukisan tua yang-bagiku- sedikit menyeramkan.

Jina berjalan melewatiku. Dia menuju tempat perapian yang terletak disebelah kanan ruangan ini.

“Oppa, duduklah disana”

“Oh, ne” aku berjalan menuju dua buah kursi yang ada diruangan ini. Aku memutuskan duduk dikursi yang menghadap keperapian. Ku longgarkan sedikit letak syalku. Disebelah kiriku kini terdapat sebuah lubang-lebih tepatnya jendela- yang membuatku bisa melihat keluar bangunan ini. Ntah kenapa semenjak memasuki ruangan ini perasaanku tidak enak.

“Oppa, ini teh mu” Jina membuyarkan lamunanku. Dia menyodorkan secangkir teh hangat padaku. Aku menerimanya dengan senyuman. Ku seruput teh itu sedikit demi sedikit.

“Jadi Jina, dimana pabrik coklatmu?” aku mencoba memecah keheningan

“Mwo? Pabrik coklat apa Oppa?”

“Kau menjual coklat kan? Pasti kau punya pabriknya.”

“Hahaha..Aniyo, itu coklat yang biasa terdapat ditoko-toko” dia tertawa lepas.

“Mworago?” aku melihat coklat yang tadi aku beli darinya.

“See? Itu coklat yang terdapat dibanyak toko kan? Haha”

“Ah, ne. Aku ditipu ternyata”

“Ne, kau polos sekali oppa hahaha”

“Jangan tertawa terus, nanti gigimu akan beku! Jadi apa modusmu melakukan ini?”

“Aniyo, aku hanya ingin memiliki teman yang bisa ku ajak kemari. Dan, akhirnya aku menemukanmu” ujarnya polos kemudian meneguk teh nya.

“Dasar tukang tipu!” aku mengakhiri kalimatku, dan meneguk teh ku juga.

Eh? Aku kaget melihat seorang lelaki yang tiba-tiba sudah berdiri di depan tirai yang membatasi ruangan ini dengan jalan berkelok tadi. Dia menatap kami tajam. Ku lirik Jina yang juga tampak kaget dengan kehadiran pria itu. Semenit kemudian pria itu pergi.

Tapi tunggu? Saat dia ingin berbalik, aku melihatnya memegang sebuah buku. Di tengah cahaya minim aku berusaha membaca judul buku itu. Future Diary…? Diary apa itu? Apa dia bisa merubah masa depan hanya dengan diary itu? Tebakku.

Kulihat wajah Jina yang kini tampak panik. Ada apa dengannya?

“Jina, gwenchanayo?”

“Ah, ne. Gwenchnayo” jawabnya sambil menyembunyikan raut wajahnya yang panik tadi.

“Jina, namja yang tadi siapa?” aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya. Aku rasa ada yang aneh dengan namja tadi.

“Dia…Dia…” Jina terbata-bata, aku semakin memperkuat pendengaranku. Kulihat juga wajah Jina yang sekarang gugup. Aku menunggunya melanjutkan kata-katanya

“…dia…dia…dia suamiku oppa. Namanya Minho, Choi Minho!”

“Mwo? Suami?” aku terkejut. Apa ini? Tak salah dengarkah aku? Di umur yang masih sangat muda dia sudah mempunyai suami? Impossible!

“Ne, dia suamiku” kulihat Jina sekarang sudah tertunduk dalam.

“AAARRGGGHH!!” spontan aku menjerit dan memegang perutku. Ada apa ini? Kenapa perutku terasa sakit? Apa yang salah? Seingatku, aku tidak mempunyai penyakit maag. Jina juga tampak sangat panik. Sedetik kemudian sakit itu hilang. Aku diam. Aneh, tadi terasa sangat sakit kenapa sekarang mendadak hilang?

“Oppa, gwenchanayo?” tanyanya.

“Oppa, sebaiknya kau pergi dari sini, palli!”

 “PALLI WA!!” katanya sambil membil membentakku. Aku dapat melihat genangan air yang menjalari pelupuk matanya.

“Ne, annyeong!” aku bangkit dari tempat dudukku. Lalu berjalan mendekati tirai ruangan ini. Sebenarnya apa yang terjadi?

“Whoaaaaa” aku menjerit sambil berusaha mencengkram dinding dengan kedua tanganku. Hampir saja aku jatuh. Baru saja aku keluar dari ruangan itu, aku sudah dihadapkan dengan kenyataan yang aneh. Apa ini? Bukannya dibalik tirai ini tadi adalah jalan berkelok-kelok? Kenapa jadi banyak anak tangga seperti ini? Aku hendak kembali keruangan yang tadi, bertanya pada Jina ‘apa aku salah memilih pintu keluar?’ Tapi lihat apa yang kudapat? Tirai tadi berubah menjadi sebuah pintu kayu yang kokoh. Aneh. Tidak ada jalan lain! Aku harus melewati anak tangga ini.

Anak tangga ini sangat banyak, lebih banyak dari anak tangga yang aku naiki waktu aku masuk kebangunan ini.

****

“Fiuh, akhirnya” lebih dari satu jam sudah aku menuruni anak tangga, dan akhirnya aku bisa keluar dari bagunan yang menyeramkan ini. Bangunan yang aneh, pemiliknya juga aneh. Hari sudah semakin malam, aku harus cepat-cepat sampai keapartementku, kemudian merebahkan diriku dikasur yang empuk. Huh, sangat melelahkan.

-Jina POV-

Ah, akhirnya…Ada juga orang yang bisa ku ajak berteman. Ku harap aku bisa benar-benar bebas. Tapi siapa dia? Kami baru saja bertemu, tapi kenapa dia mau saja aku ajak kerumahku? Biar sajalah, yang penting dia mau berteman denganku.

“Tuan, siapa namamu?” Aku memberanikan diri untuk bertanya siapa dia.

“Ya! Sudah ku bilang jangan panggil aku Tuan! Aku Lee Jinki, kalau kau?”

Kalau aku tak memanggilnya Tuan, lantas aku memanggilnya apa? Ahjussi? Ah tidak, tidak. Dia tidak setua itu. Lantas aku harus memanggilnya apa? Aku memanyun kan bibirku. Kebiasaan yang sering aku lakukan ketika aku sedang berfikir. Oppa? Euummm…ya Oppa! Aku rasa itu lebih baik.

“Ah, mianhae. Baiklah oppa, namaku Choi Jina, panggil saja aku Jina”

Lee Jinki? Baiklah Jinki, aku akan mengingat namamu baik-baik.

***

Akhirnya kami sampai dirumahku. Harus kuakui, sebenarnya ini tak tampak seperti rumah. Ini jauh lebih menyerupai kastil yang ada di negeri dongeng. Kau pernah menonton film ‘Rapunzel?’ Ya! Kastil tempat tinggalku sekarang sangat mirip dengan tempat tahanan Rapunzel. Bagunan yang tinggi dan hanya terdapat satu lubang diatasnya. Kalau dirumah-rumah orang normal namanya jendela. Aku suka disana. Aku suka membayangkan bagaimana kelanjutan hidupku diatas sana.

Aku mempersilahkan Jinki oppa masuk. Dugaanku benar, raut mukanya menjadi aneh ketika menyadari keadaan rumahku yang menyeramkan seperti ini. Kuharap dia betah.

Aku membawanya ketempat favoriteku. Ruangan yang ada lubangnya tadi. Disana juga terdapat perapian, mungkin aku bisa membuat tubuhnya sedikit lebih hangat disana. Jujur, aku mulai menyukai namja ini. Mata sabitnya ketika dia ingin tersenyum, dan gigi kelincinya yang sangat imut itu sungguh membuatku jatuh hati. Ku harap dia bisa membebaskan ku dari…oh tuhan, apa yang aku pikirkan?

***

Perutku sangat sakit ketika menyadari kalau dirinya itu sangat polos. Aku tertawa lepas. Pabo! Dia tidak sadar kalau itu coklat yang banyak ditemukan ditoko. Namja ini sangat mudah ditipu. Tapi, aku menyukainya. Ya, kurasa aku menyukainya.

Tawaku berhenti ketika menyadari seseorang sepertinya sedang memperhatikan kami. Siapa itu? Minho? Astaga..sejak kapan dia berdiri disitu? Apa dia menyadari perubahan sikapku? Ku harap tidak.

***

Huh, syukurlah dia pergi dari sini dengan cepat. Ku lihat Jinki oppa yang kebingungan dengan kehadiran Minho. Aku tau, pasti dia akan menanyakan siapa Minho kepadaku. Haruskah aku berkata jujur?

Kuputuskan untuk berkata jujur, dengan berat hati, aku mengakui bahwa Minho adalah suamiku. Dapat kulihat wajah Jinki oppa sekarang berubah. Dia kaget mendengar jawabanku tadi.

“AAARRGGGHH!!”

Aku mendengarnya menjerit kesakitan. Sudah kuduga ini bakal terjadi. Kali ini apa lagi?! Aku menyuruh Jinki oppa untuk segera pulang. Ku lihat dia heran dengan sikapku. Aku tidak perduli, cepat pergi dari sini oppa, kumohon.

“PALLI WA!!” aku membentaknya berharap dia bisa mengerti keadaanku. Tuhan, aku tak dapat menahan air mataku. Minho, kumohon jangan sekarang.

-Minho POV-

Huh, hari ini dingin sekali. Aku ingin cepat-cepat sampai dirumah, lalu meminta istriku memeluk dan menghangatkan seluruh badanku yang sudah hampir beku ini. Tunggu, siapa itu? Kulihat Jina membawa seorang pria kedalam rumah kami.

“Jinki oppa, kenapa kau melamun? Ayo masuk!” samar-samar kudengar Jina memanggil namanya dan menyuruhnya masuk. Jinki? Siapa dia?

Aku mencoba untuk bersembunyi dibalik pohon ketika mengetahui kalau pria itu sepertinya menyadari keberadaanku.

Setelah aku yakin mereka berdua sudah masuk kedalam rumah, segera ku keluarkan senjataku –Future Diary- dari dalam jaketku. Perlahan kuikuti mereka diam-diam. Sudah kuduga, pasti Jina akan membawanya keruangan favoritenya. Kuputuskan untuk mendengarkan percakapan mereka terlebih dahulu. Aku melihat Jina tertawa lepas bersama namja itu. Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia bisa merubah sifat Jina begitu cepat? Jina..tidak biasanya dia tertawa lepas seperti itu.

Pemikiranku berhenti ketika mereka berdua menyadari keberadaanku. Ku tatap nanar pasangan yang ada didepanku sekarang. Jinki, aku memang belum pernah berkenalan denganmu. Tapi kau tau? Aku benci ketika kau bisa membuat Jina tertawa seperti itu. Tak ada yang bisa merebut Jina dariku. Termasuk kau!

Aku keluar dari ruangan yang menurutku sangat panas itu. Aku benci dengan namja yang bernama Jinki. Benci! Sangat benci! ‘Bruk’ Furute diary yang daritadi ku pegang terjatuh. Future diary? Kuambil future diary itu dari lantai, dan mengambil pena yang ada disaku dalam jaketku. Perlahan kutulis – ‘tiba-tiba Jinki merasa sakit yang amat parah di perutnya, sedetik kemudian penyakit itu hilang diikuti dengan perginya dia dari rumah ini!’ – dengan darah yang mengalir ditelunjukku.

“AAARRGGGHH!!” aku mendengar teriakan Jinki dari ruangan yang barusan aku tinggal.

Aku tersenyum licik. Rasakan ini Jinki, perlahan-lahan kau akan lenyap dari dunia ini.

 

*To be continued*

Gimana? FFnya gaje ya? Maklumlah, kan authornya abal-abal._.v

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

16 thoughts on “[FF PARTY 2012] Future Diary [1.3]”

  1. waaah.. Khofifah-ssi, saya bisa membayangkan jalan ceritanya, saya seperti ngeliat langsung kejadian dari Jinki keluar kampus sampai keluar dari rumah Jina.. Saya sukaa, apalagi cast-nya Jinki. Awalnya, saat Jinki masuk ke rumah Jina, saya mikirnya Jinki pergi kemasa lalu, apalagi rumah Jina seperti kastil. Enak benget si Minho punya Future diary, dia bisa nulis apa yg dia mau, walaupun nulisnya pake darah.. Penasaran sama part selanjutnya 🙂 Saya tunggu Khofifah-ssi.. 😀

  2. kayaknya genrenya harus ditambahin fantasy deh.
    ukh jina aneh. tapi aku suka karakter oppa yang polos, agak ketus, tapi baik hati. wah kayaknya baca ini cerita jadi kebayang rapunzel deh. keep writing ya thor!

  3. Aaah, semi fantasi trnyata *?*.
    Awalnya akurada kurang nyaman sih baca perubahan intonasi si Jina sama Jinki pas ngomong2 di luar itu. Awalnya pelan, nunduk malu2, trus ngebentak2, trus ngajak. Habis diajak ke rumah, kenalan baik2, malu2, santai, trus ngusir Jinki lagi. Apa mau si Jina sih? Aku jadi ikutan emosi bacanya..xD
    Tapi santai ajaa, ttp seru kok mnurutku 😀 Jawaban penasaran aku itu kutunggu di part berikutnya yaaa~~

    dan, aku kira si Jinki sakit perutnya krna kekuatan magis si Minho, baru setelah itu aku nyadar ada future diary. aah, babo =.=”
    Dan pake darah? waah, jadi inget si raito nyatet ‘note’ di jam tangannya pakai darahnya juga. Sukaa~~

    lanjut yaa~ ^o^/

  4. hayoo.. minho kok nakal si? wkwkwkwwk #digampar flamers# hoho seru nih ceritanya. gak sabar pengen baca lanjutannya. nice^^

  5. Woaah awalnya emang serem ._. Kekekekeke =D
    Trus kenapa minho jahat gitu? Nnti jinki oppa dibunuh pake future diary itu kah ? Andwe! :/ =D

  6. MinHo benar-benar mengerikan
    Tidak dapat dipungkiri
    Kejam banget, JiNa malang terperangkap dan tidak bisa lepas dari MinHo

  7. Komen ku yg kemarin gak masuk trnyata -____-

    sy ingat salah satu film barbi yg jg make diari untuk nulis keinginanny. tapi ini semacam serem ya, sampe pake darah si Minho
    s jd penasaran ap aj yah yg dilakuin sm Minho k istriny.
    next part ditungguin deh 🙂

  8. Ohhh ini ada fantasy nya ya thor…
    Feelnya dapet thor,, aku bener” masuk ke dalam cerita, seolah olah aku jina.ehh hehehe

    aku kira jina blm pnya suami,, coz ngajak jinki k rmahnya.. Apa jana tertekan oleh minho? Aduh bnyk prtanyaan nih..
    Next chapny d tunggu..
    ceritanya menarik,aku suka…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s