[FF PARTY 2012] Nobody Knows [1.2]

Title                 : Nobody Knows

Author             : Bella Jo

Main Cast        : Lee [Onew] Jinki | Choi Minho | Lee Jinri | Park Hyunyo

Suport Cast     : The rest of SHINee’s member

Genre              : Romance, incest, family

Type/Length    : twohots/ 1 of 2

Rating                         : PG 16

Summary         : ”Jangan pernah tinggalkan Jinri.”

Ket                  : OP

A/N                 : Setelah collab ama Euncha eonni, kali ini Bella Jo datang bawa cerita sendiri buat ngeramein FF party ini… asek asek… Happy birthday Minho! Happy birthday Onew!! Nah, met baca semua………

 

Nobody Knows

By. Bella Jo

 

 

Hidup disusun sekumpulan takdir yang tak pernah dapat ditebak jalannya. Semakin lama hidup, semakin mengerti pula rumitnya benang nasib yang merajut dunia. Perasaan dijadikan bumbu penyedapnya, menambah pelik rajutan yang telah tercipta. Terkadang logika dan perasaan tak sejalan, tak dapat dipungkiri ketidakselarasannya. Saat degup jantung tak dapat dikendalikan logika kompleks, saat semburat rasa malu tapi mau menghiasi pipi karena kehadiran seseorang, tak ada yang tahu siapa atau apa lagi yang dapat menghentikannya. Karena satu sentuhan kecil dapat menyebar sengat lewat rajutan sel-sel saraf, merambat ke pikiran bahkan terhantar dalam jalur aliran darah. Dan saat itulah logika dipaksa mengikuti perasaan, menyebabkan sebuah kata sayang melantun pelan dengan ketidaksengajaan.

Sebuah bangunan putih megah berdiri kokoh di kompleks perumahan di daerah Gangnam. Kontras dengan warna bangunan rumahnya, pagar rumah itu berwarna hitam legam dengan dinding beton pagar bermotif corak catur berwarna hitam-merah. Mewah, mungkin itu kesan pertama orang yang melihat bangunan tersebut. Ditambah lagi dengan letaknya yang jelas berada di daerah perumahan elit Kota Seoul. Rumah itu punya taman yang cukup luas di sekelilingnya dan kolam ikan besar di sudut tamannya. Tak lupa mawar aneka warna ikut menyemarakkan suasana. Orang yang lewat pun pasti kagum dengan keindahannya.

’Orang-orang yang hidup di sana pasti bahagia’, mungkin pikiran itu yang terbesit di benak orang lain, orang luar yang tidak hidup di rumah itu. Siapa yang menyangka kalau yang terjadi malah hal yang sebaliknya. Karena bukan itu kenyataan yang sebenarnya. Tak ada yang tahu…

Semua orang itu munafik

Kami tidak butuh mereka

Semua hanya ’orang luar’

Tak akan masuk di antara kami

                                    Kata mereka hanya merajut dusta

                                    Tingkah mereka hanya berupa khianat

                                    Karenanya, semua itu tak nyata bagi kami

                                    Hanya kami yang hidup di dunia ini

 

Bunyi  jam dinding yang berdetak dengan jarum detiknya entah kenapa terdengar nyaring di rumah itu. Dinding lorong rumah yang berwarna coklat muda itu tampak gelap, hanya samar cahaya mentari yang menyeruak celah jendela. Kembali detik jam menggema, memenuhi seisi rumah dengan nadanya yang teratur berirama. Sepi… Layaknya tak ada yang mengisi bangun tiga dimensi megah tersebut. Namun tanpa disangka masih ada yang duduk di salah satu ruangnya. Dua orang anak dengan wajah serupa tapi tak sama meringkuk di sudut ruangan, gerak halus tubuh mereka tampak menggigil. Yang lebih kecil terdengar menangis sesenggukan. Yang satunya lagi memeluk gadis kecil itu dengan hangat.

”Oppa, apa Eomma dan Appa pulang hari ini? Apa nanti mereka pulang?”

”Oppa tidak tahu. Biarkan saja mereka tidak pulang, selama kita masih berdua..”

”Oppa, apa mereka tidak lagi peduli pada kita? Apa mereka sudah tidak menyayangi kita lagi?”

”Oppa tidak tahu. Biarkan saja Appa & Eomma tidak lagi menyayangi kita. Yang penting kita saling sayang di sini. ”

Si gadis kecil menghentikan tangisnya. Ia menatap lurus lelaki kecil yang balas menatap lembut dirinya. Lelaki kecil itu menghapus air mata yang masih membekaskan aliran di pipi adiknya. Mereka berdua saling pandang dalam diam. Perlahan lelaki kecil itu tersenyum manis ke arahnya, ”Sudah tenang?” tanyanya lembut. Si gadis kecil mengangguk pelan lalu memeluk oppanya lagi.

”Oppa, apa oppa mencintai Jinri?”

”Ne.”

”Sebagai apa?”

”Sebagai oppa pada dongsaengnya.”

Gadis itu diam, membuat bocah lelaki yang tengah mendekapnya sedikit heran. Ia mengencangkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya dalam dekapan bocah itu. Si bocah lelaki yang mulai mengerti kini membelai lembut kepala adikya. Segaris senyum tercipta di bibirnya yang tak terlalu tebal. Senyum hangat yang tulus dari hatinya.

”Apa tidak bisa lebih dari itu? Jinri memang mencintai oppa juga. Tapi….”

”Tentu oppa mencintaimu lebih dari apa pun, melebihi segala hal yang pernah kau bayangkan…”

”Sungguhkah? Kalau gitu, berjanjilah satu hal pada Jinri, Oppa!”

”Apa itu?”

”Jangan pernah tinggalkan Jinri.”

***

Waktu berlalu layaknya aliran sungai menuju laut. Tak ada yang dapat menghentikan alirannya, bahkan sebuah keinginan kuat sekalipun. Bersama lalunya waktu, hal yang tak terduga semakin menampakkan diri, berlarut-larut karena enggan dipisahkan. Angin berhembus lembut, membuat dua anak adam yang berada di tepi kolam merasakan ketenangan yang dalam di sana. Gemericik suara air membuat mereka hanyut akan suasana. Keduanya saling pandang dengan senyum manis merekah di bibir keduanya. Si lelaki mengelus lembut rambut sang gadis, lalu membelai pipinya yang mulai menunjukkan rona kemerahan.

”  Oppa sangat berharap kita bisa terus seperti ini, Jinri-ah. Hanya kamu dan oppa dalam ketenangan yang menghanyutkan…,” ucap si lelaki pada si gadis. Gadis itu merapatkan tubuhnya dan membenamkan kepalanya dalam pelukan laki-laki itu. ” Jinki Oppa…. aku juga berharap begitu…,” ia mempererat pelukannya,” Selama tidak ada yang mengusik kita berdua, itu saja sudah cukup… aku bersyukur kita terlahir kembar seperti ini…”

” Karena untuk hidup hanya sendirian saja di rumah besar nan megah kita, itu sangat berat,” tambah Jinki. Laki-laki berusia lima belas tahun itu membelai lagi kepala dongsaeng perempuannya itu dengan sangat lembut. ” Terkadang orang-orang luar itu menakutkan, tapi tidak semenakutkan rasa kesepian yang mencekam hati saat sendiri berada di keluarga yang tampak tidak begitu peduli….”

Kedua orang itu terus tetap berada di posisinya selama beberapa lama. Pikiran mereka kembali teringat akan kenangan-kenangan masa lalu yang selalu mereka jalani berdua tanpa pernah berpisah.

“ Tapi bukan karena rasa kesepian aku ingin selalu bersama oppa,” ucap Jinri kemudian, membuat Jinki menatap wajahnya yang agak sendu. ”Namun rasa cinta yang menghiasi hati ini yang membuatku selalu ingin berlama-lama dan selalu ingin berada di samping oppa.”

Jinki mencium puncak kepala dongsaengnya, ”Itu juga yang oppa rasakan, Jinri-ah.”

” Aku tahu, karena aku selalu tahu apa yang ada di dalam hati dan pikiran oppa. Karena kita kembar, karena kita dilahirkan bersama, dan karena kita tumbuh dan besar bersama. Serta karena…”

” Kau mencintaiku…,”ucap Jinki lembut. Jinri mengangguk pelan lalu mengecup mesra pipi Jinki,” Dan kau pun mencintaiku…,” tambahnya. Jinki agak tergelak mendengarnya. ” Kau mengatakannya dengan begitu percaya diri, agassi. Apa kau yakin kalau aku juga mencintaimu?” godanya. Jinri melepas pelukannya dan memanyunkan bibirnya,” Tentu saja. Karena sikapmu selalu menunjukkan hal itu.”

” Seperti apa misalnya?”uji Jinki.

” Kecupanmu, belaianmu, pelukanmu, dan kata-kata manismu!” ucap Jinri dengan gaya sebal. Jinki semakin terkekeh. Ia kembali merangkul tubuh meungil Jinri,” Kau benar, Jinri-ah. Kau benar. Aku mencintaimu.”

” Aku juga mencintaimu, Jinki….”

” Hei, kau tidak menyebut kata ’oppa’ setelah meyebut namaku…,” ucap Jinki bersungut-sungut. Kali ini Jinri yang tertawa,” Itu artinya aku serius dengan kata-kataku, Jinki. Aku mencintaimu bukan sebagai kakakku, tapi sebagai seorang wanita kepada lelaki….”

***

” Andwae, eomma! Kami tidak mau dipisahkan! Aku tidak mau tinggal di rumah Kim Ahjumma! Lepaskan aku, eomma! Lepaskan!” pekik Jinri kuat, tak kalah kuat dengan usahanya untuk melepaskan diri dari tarikan wanita berblus biru yang ada di depannya. Tubuhnya terus meronta keras, sementara satu orang lagi menariknya ke arah berlawanan dari arah wanita itu menarik tubuh Jinri.

” Pokoknya kamu harus Eomma bawa ke tempat Kim Ahjumma, Jinri-ah! Kalian berdua harus dipisahkan! Kalau tidak, akan terjadi hal yang buruk nantinya!” pekik sang wanita yang adalah Eommanya Jinri dan Jinki itu dengan tidak kalah kuat. Air mata Jinri mengalir deras, ia menatap Jinki seakan memohon agar oppanya itu terus berusaha juga agar Eommanya tidak berhasil membawa ia pergi dari rumah tempatnya dibesarkan itu.

” Eomma, hentikan! Lepaskan Jinri!” seru Jinki keras. Tangannya terus berusaha menarik tangan dan tubuh Jinri dari Eommanya. Ia sama sekali tidak rela membiarkan adik kembarnya itu dibawa pergi dengan paksa dari dirinya. Apalagi ia menyimpan perasaan mendalam yang sudah terpupuk selama bertahun-tahun ini. Apapun akan ia lakukan demi membuat Jinri tetap tinggal bersamanya.

 

 

Janji kami sudah terikrar

Kami tak boleh dipisahkan

Kalian tidak mengerti

Kalian takkan pernah mengerti

                        Kasih kami hanya untuk kami

                        Takkan pernah kami duakan

                        Apalagi untuk orang luar

                        Mereka tak tahu dan tak pernah mengerti

 

***

            ” Jinki, Eomma akan menjodohkanmu dengan gadis baik pilihan Eomma,” ujar wanita paruh baya yang tengah duduk di sofa tamu dengan tenang, tangannya membawa amplop cokelat besar yang berisikan foto dan biodata gadis yang ia maksud ke hadapan Jinki. Jinki mengerutkan keningnya. Dia menolak amplop tersebut dengan kasar, lalu tersenyum sinis ke arah Eommanya. ”Gomawo sudah mencemaskan masalah percintaanku, eomma. Tapi maaf saja, aku tidak akan pernah mau menerimanya,” ucapnya dengan nada dingin.

Wanita paruh baya itu tertegun melihat reaksi sinis anak laki-lakinya, walau ia sudah sering diperlakukan dingin oleh Jinki. Ia menarik nafas menahan emosi,” Apa maksudmu, Jinki?”

Tawa sinis Jinki semakin menjadi, ”Eomma tidak mendengarkanku? Aku bilang aku tidak mau. Titik. Apa Eomma mau aku mengulanginya lagi supaya Eomma bisa mendengarnya dengan lebih jelas?”

” Jinki! Kamu harus ikut perjodohan ini!” tuntut Eommanya tegas.

”Lalu apa? Menikahi gadis pilihan Eomma ini setelah menjodohkannya denganku?” Jinki menggenggam jarinya dengan kuat dan penuh emosi. Jarang sekali ia merasa semarah ini kepada ’orang luar’ yang selalu ia perlakukan dengan dingin. ” Apa tindakan Eomma delapan tahun yang lalu masih belum cukup?” ucapnya pelan dengan suara yang ditekan, ”Apa tindakan Eomma memisahkanku dengan Jinri dan tidak ernah membiarkanku menghubunginya sekalipun juga MASIH BELUM CUKUP?!?” tekannya dengan emosi yang meluap-luap. Ingatan perpisahannya dengan Jinri delapan tahun yang lalu kembali membayang di kepalanya. ”KENAPA EOMMA MASIH MAU MENJODOHKANKU SETELAH MENYAKITIKU SAMPAI SEBEGITUNYA?!” kesalnya.

” Shikureo!” ucap Eommanya.

” Hajiman….,” Jinki masih berusaha membangkang.

”EOMMA BILANG DIAM!!” bentak Eommanya. Akhinya Jinki diam dan menghempaskan tubuhnya yang sempat bangkit kembali ke sofa. Eommanya menarik nafas panjang untu menenangkan dirinya sendiri. Jinki melipat tangan di dada dengan kesal.

”Kamu dan Jinri harus mengerti kalau Eomma melakukan hal itu demi kebaikan kalian berdua. Cinta kelian terlarang. Kalian bersaudara, bahkan saudara kembar. Kau pasti mengerti, kan?” jelas Eommanya pelan.

Jinki masih tampak kesal, pandangannya masih terlihat dingin. ” Tapi Eomma tidak perlu memisahkan kami! Eomma tidak punya hak memutuskan hubungan kami sesuka hati eomma!” ucapnya kembali dengan nada sinis.

” Kalau Eomma tidak melakukannya, kalian pasti terjebak dalam lingkaran dosa sekarang!” wanita itu mendengus, ”Sudah berapa kali kalian melakukannya?”

” Apa?”

” Jangan pura-pura bodoh, Jinki. Kau pasti tahu apa yang Eomma maksud,” ucap Eommanya dengan nada dan pandangan yang tak kalah tajam dari pandangan Jinki tadi.

Senyum sinis Jinki kembali keluar,” maksud Eomma ’ciuman’? sudah berkali-kali. Eomma tidak akan tahu jelasnya berapa kali. Bukannya itu sudah lama berlalu? Eomma kan sudah pernah menanyakannya!” pekik Jinki.

” Lihat kan? Kalian sudah melakukan hal yang tidak pantas seperti itu… Kalian tidak pernah melakukan hal yang lebih dari itu kan?” selidik Eomma. Kepalanya ia gelengkan dengan tegas. Jinki mendecak sebal,” Tidak, tidak pernah.”

” Baguslah kalau begitu,” ujar wanita itu sambil berlalu meninggalkan Jinki di ruangan itu. Jinki juga hendak berbalik pergi, namun langkahnya terhenti saat amplop cokelat tadi melayang dan jatuh tepat di tangannya. ”Bacalah isi amplop itu dan temui gadis yang datanya tertera di sana,” ucap Eommanya. Wanita itu mendengus, ”Seharusnya kalian bersyukur karena Eomma memisahkan kalian berdua di umur segitu. Kalau tidak, kamu pasti sudah melamar Jinri sekarang.”

Jinki hanya diam, ia kembali melangkah dengan tidak peduli.

” Jinki,” panggil Eommanya lagi. Wanita itu mendesah resah sebelum melanjutkan kata-katanya,” Jangan kecewakan Eomma…”

***

” Annyeonghasseo, Choi Minho imnida. Kamu Jinri, kan?” sapa seorang lelaki ramah pada seorang gadis yang sedang duduk sambil memutar-mutar sedotan jusnya. Jinri mendongakkan wajahnya menatap lelaki yang baru pertama kali ia temui itu. Ia bangkit dari duduknya dan sedikit membungkukkan badan, ”Selamat siang. Aku Lee Jinri.”

Selama beberapa menit keduanya duduk dalam keheningan. Si lelaki mulai buka suara,” Mmm… boleh saya tahu kenapa kamu menyetujui perjodohan ini, agassi?” tanyanya hati-hati. Jinri tersenyum melihat lelaki itu,” Tidak ada alasan khusus. Lagi pula yang mengusulkan ini adalah waliku…”

Minho mengerutkan alisnya dengan heran,” Wali?” ulangnya.

Gadis di hadapannya itu memaksakan diri untuk tersenyum,” Ya, orang tuaku tinggal di kota yang jauh. Aku di sini karena diungsikan…”

” Ungsi?” lagi-lagi Minho mengulang kata-kata Jinri dengan semakin bingung. Jinri hanya tersenyum penuh misteri ke arahnya. Lelaki berambut hitam rapi dan bergaya itu berusaha mengalihkan pembicaraan,” Mmmm… Apa kamu ingin kita ke tahap yang lebih serius lagi?”

” Menurutmu?”

” Entahlah. Kamu sulit sekali untuk ditebak, agassi…,” aku lelaki itu jujur. Jinri tertawa,” Jangan bersikap terlalu sopan. Panggil saja aku Jinri, Tuan.”

Jinri berjalan perlahan menuju Kim Ahjumma, wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya itu sudah menunggunya sejak tadi di depan rumah. Wanita itu tersenyum,” Bagaimana? Sudah ketemu dengan orangnya kan? Kamu suka?”

Jinri menghela nafas lalu balas tersenyum,” Kalaupun aku menyukainya, tidak akan melebihi rasa suka maupun rasa cintaku pada Jinki Oppa…,” jawabnya. Pandangan matanya menyendu sayu. Senyum di bibir Kim Ahjumma perlahan hilang begitu mendengar nama Jinki. Kim Ahjumma mendekati gadis itu dengan tatapan keibuan yang cemas,” Jinri, kau masih mencintai oppamu sampai sekarang?” tanyanya ragu.

” Ne, ahjumma. Bukan hanya sampai sekarang aku mencintainya. Aku akan mencintainya sampai kapan pun, mungkin juga sampai aku menghembuskan nafas terakhirku…,” lirihnya. Jinri masuk ke dalam rumah dengan mengacuhkan kata-kata Kim Ahjumma selanjutnya.

Dia masuk ke dalam kamar yang didominasi oleh dua warna yang merupakan warna kesukaannya dan Jinki, hitam dan merah. Dia menjatuhkan badannya ke kasur sambil memandang penuh arti dinding merah-hitamnya. Dia menoleh ke kiri, di mana foto Jinki dan dirinya terpajang rapi dengan bingkai indah berwarna merah-hitam pula. Foto dirinya dan Jinki yang tampak sangat bahagia dengan tawa mereka.

Diraihnya foto tersebut,” Jinki Oppa -ku sayang, Jinri pulang…,” dia tersenyum manis sambil menatap wajah Jinki yang tak terlalu jauh berbeda dari wajahnya. Air matanya berlinang dan menetes saat tangannya mulai menyentuh potret Jinki tersebut,” Oppa, Jinri rindu oppa…. benar-benar rindu…”

Kapan dunia puas menyiksa kami?

Kapan semua penderitaan kan hilang?

Semua mendekat tanpa tahu apa pun…

Tanpa tahu apa pun…

Pikiran Jinri melayang ke hari dua minggu yang lalu, saat ia mendapat kiriman amplop cokelat yang tanpa diketahuinya serupa dengan amplop yang diterima Jinki dari Eommanya. Bahu Jinri semakin naik turun saat mengingatnya.

“ Ma, apa-apaan kiriman Eomma itu?! Eomma bercanda kan? Kalau Eomma berniat bercanda, ini sama sekali tidak lucu!!” semprot Jinri kesal dengan ponsel tertempel di telinga kirinya. Dadanya sesak saking kesalnya, nafasnya memburu.”

” Eomma sama sekali tidak bercanda, Jinri. Eomma serius. Eomma mengirimkan itu padamu untuk kebaikanmu juga…,” terdengar suara Eommanya membela diri di seberang telepon.

” Apa belum cukup? Apa tindakan Eomma memisahkanku dengan Jinki Oppa dan tidak pernah membiarkanku menghubunginya sekalipun juga MASIH BELUM CUKUP?!?” luapnya emosi. ” APA PERPISAHAN KAMI MASIH BELUM CUKUP?! APA PATAH HATINYA KAMI BERDUA JUGA MASIH BELUM CUKUP BAGI APPA DAN EOMMA??!!!” seru Jinri kuat. Emosinya sudah benar-benar meledak dan ia tak sanggup untuk menahannya sama sekali. Nafasnya sampai sesak. Air mata mengalir deras dari kelopak matanya. Tangannya bergetar dan bahunya pun naik-turun.

Terdengar helaan nafas panjang dari seberang telepon. ” Reaksimu sama seperrti Jinki,” cibir Eommanya. ” Kamu terlalu berlebihan!”

” Pokoknya Jinri tidak mau ikut perjodohan ini, sama sekali tidak setuju! Biarkan Jinri bicara dulu dengan Jinki Oppa , baru Jinri mau!!” pintanya memaksa. Baginya hanya itu jalan agar ia bisa mendengar kembali suara Jinki yang sudah tidak ia dengar selama delapan tahun terakhir itu.

” Kamu tahu, Jinki sudah mengikuti perjodohan ini dan langsung menyetujuinya setelah menemui calon isterinya,” ucap Eommanya enteng.

GELEGAR!!

Jinri seakan tersambar petir di siang bolong. Ia terperanjat tidak percaya dengan kata-kata Eommanya tadi. Lututnya melemas dan tangannya semakin kuat bergetar, bergerak menutupi mulutnya yang menganga tidak percaya,” Oppa sudah setuju dengan perjohan yang Eomma berikan padanya?” dia menggeleng perlahan, namun semakin lama semakin kuat,” Tidak… tidak mungkin… tidak boleh…” Ponsel Jinri jatuh dari genggamannya dan ia langsung terduduk lemas di lantai.

” Ini tidak mungkin kan, kak? Cintaku cuma untuk oppa…. cinta oppa juga untukku kan…?” bisiknya di sela tangisnya yang menjadi.

Cintaku hanya untukmu

Cintamu hanya untukku

Kasih kita untuk kita

Sayang kita untuk kita

 

                        Berjanjilah jangan tinggalkan aku

                        Kau pergi, aku ikut

                        Karena kita sudah ikrarkan janji

                         Takkan ada dusta di sini

 

***

Seorang gadis berambut panjang lurus mendekati Jinki yang sedang duduk termenung di salah satu kursi taman. Ia mengerti ada yang sedang dipikirkan laki-laki berkulit putih itu, dan dia tahu itu bukan tentang dirinya. Begitu sampai di depan Jinki, ia berjongkok dan memandang wajah Jinki dengan ramah. Ia memasang senyum termanisnya. Salah satu tangannya menyodorkan satu centong es krim cokelat-vanilla.

“Lama menunggu?” sapanya. Jinki tersadar dari lamunannya. Ia membalas senyuman gadis itu dengan agak terpaksa, ”Tidak juga, tenang aja…”

Gadis itu tertawa melihat reaksi Jinki, ”Kenapa kaku begitu? Ini sudah tiga bulan sejak pertunangan kita. Padahal kau yang menerimanya dan memintaku pula. Apa kau masih belum bisa menerimaku?”

Jinki mengambil amplop yang tadi disodorkan Eommanya itu. Ia membuka isi amplop tersebut dengan enggan. Tampaklah selembar foto ukuran A4 yang menampilkan gambar close-up seorang gadis cantik bernama Park Hyunhyo. Ia melihat beberapa lembar data tentang gadis itu.

” Hmmm…. anak perempuan pengusaha mebel ternama di kota Jepara. Sudah lama bekerja di redaksi majalah YOUNG yang terkenal di kalangan masyarakat umum. Belum pernah pacaran dan termasuk gadis yang periang. Punya banyak kenalan dan koneksi dengan orang-orang terkenal maupun seniman di berbagai provinsi….,” Jinki membaca data tersebut seraya menngambil kesimpulan sementara. Keningnya langsung mengerut saat melihat tulisan selanjutnya, ”Punya saudara kembar laki-laki yang merupakan abangannya?!” serunya spontan.

***

 

”Jadi kau menemuiku karena aku punya saudara kembar?” tanya Hyunhyo sambil memainkn sedotannya. Kemudian ia tertawa geli, ”Kau orang yang sangat aneh.”

”Aku hanya ingin tahu, apa hubunganmu dengan oppamu itu normal-normal saja layaknya saudara? Atau mungkin… ada timbul perasaan yang aneh di antara kalian?” tanya Jinki to the point. Ia menatap lurus gadis di hadapannya itu.

”Aneh?” ulang Hyunhyo, ”Maksudmu seperti ’cinta’?” tanyanya memastikan. Jinki mengangguk pasti walau dalam hatinya dia masih agak malu. Hyunhyo tersenyum simpul sambil saling menyilangkan jari-jarinya untuk menopang dagunya, ”Ya, aku dan Oppaku pernah merasakannya. Itu tidak aneh karena kami tumbuh bersama, melihatnya setiap hari yang selalu melindungiku, tersenyum begitu manis hanya untukku, dan memperlakukanku lebih spesial di antara semua wanita dalam hidupnya membuatku begitu mencintainya.”

Kata-kata Hyunhyo terhenti. Gadis itu tersenyum sedih, ”Tapi, kau pasti tahu kalau aku tidak boleh mencintainya, bukan? Percintaan antara saudara itu ditentang semua pihak. Aku dan oppaku menyerah pada belenggu takdir kami dan kami memutuskan untuk tinggal terpisah agar tidak lagi terpengaruh dan merasakan getaran-getaran cinta itu…,” jelasnya lagi. Hati Jinki tergetar. Situasi yang sama seperti dirinya seakan terceritakan ulang di hadapannya.

”Tapi, kami berusaha dengan begitu kuat sehingga mau tak mau perasaan itu pun terkikis di makan waktu. Sekarang kami sudah bisa bertemu sesuka kami karena kami takkan berdosa lagi jika bertemu tanpa merasakan getaran itu sama sekali,” tambah Hyunhyo mengakhiri ceritanya.ia menyerut habis jus apel pesanannya itu.

” Berarti… aku bisa minta tolong padamu..,” ucap Jinki kemudian.

” Eh?”

 

To be continued…

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

26 thoughts on “[FF PARTY 2012] Nobody Knows [1.2]”

  1. Jederrrrr….
    Semoga gak incest.. Semoga gak incest..

    Jinki, minta tolong sm Hyunhyo buat membantu ngilangin perasaan dy sm Jinri kan..
    Mudah2an begitu.. Aamiin.

    Btw, FF yg Kolab sm Eun Cha judulnya apaan ya Bella? Udh pernah post di sini?

    1. incest-ny g parah, hanya menunjukkan romansa antar saudara tanpa memperlihatkan sikap perilaku mereka secara jelas, kok…

      hyunhyo? hooohooohoo… sabar menanti aja, y! hehe

      ff-ku sama Euncha eonni judulnya Unconcious Case
      tadinya kukira bakal dikirim sebelum ff ini terkirim, ternyata… masih ada di waiting list kayaknya. nantikan, y! ohohoho…

  2. Nah, jgn bilang tunangan Jinki sm tunangan Jinri nanti kembaran jg
    okeh, salut sm narasiny seperti biasa
    aniwei, kmu pernah kolab sm euncha? ff yg mana nih? seru dong pastiny

    tp sy heran knp genreny jd incest, kan gak ad unsur se*s dlm hubungan saudara mereka. ato mungkin sy yg slh ngira ya.
    waa, bromance. saya suka suka!
    next part dah ditungguin

    1. iya gak yaa? haha… silakan dibaca kelanjutanny, Nurahboram-ssi…
      sama Euncha eonni msh blm di-post, judulnya Unconcious Case, dinantikan, y!

      unsur incest d sini g parah, sesuai kamus aja: “percintaan antara anggota keluarga” hehe… masih blm berani buat yg begituan…

      gomawo komenny~~

  3. ‘Eh!’ kata pertamaku yg keluar saat membaca FF ini. Jadi apa benar alasan mengapa saudara kembar laki perempuan harus dipisah seperti di FF ini? Dalam khdupan nyata kan ada prturan tdk rsmi kalau kembar laki perempuan harus dipsah.

    Wah… Aku jadi pensaran. Bisanya jinki oppa dan jinri punya cinta terlarang bgni. Sama saudara sendiri kissing? Aigoo…

    Aku suka narasi author. Apalagi bagian awal, serasa baca puisi. Hehe
    jjang…ditunggu part selanjutnya

    1. sebenernya aq denger satu cerita dari temenku ttg saudara kembar beda kelamin yg hidupny dipisah bahkan mereka nggak saling mengenal sampai dewasa. makanya ide cerita ini muncul di kepala…

      narasiny bagus? gamsahamnida…. *bow*
      sebenerny cerita ini cerita pertamaku dalam dunia tulis menulis yg caast-ny disesuaikan dgn lomba ini. jadi aq g begitu pede dalam cerita ini, niatny cm utk meramaikan aja. kl yg serasa baca pusisi itu mgkn krn aku dulu anggota teater yg mmg fokus d puisi… hehe..

      serius dalam lomba ini cm waktu buat ff collab sama Euncha eonni… hehe

      gomawo komenny, Chanyeon-ssi~~

  4. baru kali ini nekat baca genre ini… dan aku langsung bernapas lega krna cerita incestnya cuma digambarkan dari perasaan, gak sampe detail *?* hohoho…
    kesan incestnya langsung jadi bromance di plot akhir..huwoo…
    smoga si Jinri bisa berubah yaa.. 😀

    nemu satu typo kak -> Punya saudara kembar laki-laki yang merupakan abangannya => abangnya

    itu aja..#bow. kelanjutannya ditunggu ^o^/

    1. bernafas lega? hihihi… berarti dari tadi sempet nahan nafas dong?

      tentang ‘abangannya’ itu… di daerahku kami pakai bahasa abangannya untuk menyatakan ke-kakak-an seseorang, tapi ternyata nggak umum dipakai, y? hehe… makasih atas peringatannya…~~

  5. Bella-ssi, ff-nya bikin miris.. Kisah cinta anak kembar antara Jinki dan Jinri.. Kalau yang saya tau, bila sebuah keluarga punya anak laki2 dan perempuan, dari mereka kecil memang harus dipisah, maksudnya gak boleh tidur satu kamar, walaupun mereka masih kecil ya.. Cara membimbing dan mendidiknya pun beda antara anak laki2 dan perempuan. Untuk kasus Jinki dan Jinri mungkin karena mereka selalu bersama tanpa tau apa yg mereka rasakan adalah salah. Apalagi dengan tidak adanya bimbingan orangtua atau kesibukan orangtuanya. Eeeh, kok jadi sok tau gini ya, hehe.. 😉 Ok Bella-ssi, ditunggu part selanjutnya.. 🙂

    1. hihi… aq sempet ngebayangin diriku sendiri kyk gitu, eonn… miris memang…

      ini sih karna cerita ttg saudara temanku yg kembar n mereka dipisah demi menghindarkan hal2 aneh. di Bali juga katany saudara kembar itu bawa kesialan n harus dipisah dgn rangkaian ritual gt… tapi aq g tau itu beneran atau nggak, soalny aq baca itu dalam novel ‘Incest’, buatan org Indo juga…

      gamsahamnida atas komenny, eonn…..

  6. yya!
    Seru.. Seru..
    Permasalahan seperti ini antara kembar lain jenis memang sering terjadi..
    Mudah2an hyunhyo bsa bantu 2jin..
    Next..

  7. Oh? Cinta antara saudara kembar? Wooh keren ._. Aku pernah nulis cerita ttg sodara kembar laku-perempuan, tapi nggak pernah kepikiran sampe ke cinta cintaan =D kekekeke ^^

  8. eh itu kok ada jeparanya ya? kayaknya jepara terkenalnya sampe korea kali ya? hihihi.
    bagus kayak yang sebelumnya yang mirror apa gitu. suka! penasaran! lnjut!

    1. huwaaaaaaaaaaaaaaaa……..

      yg jepara-ny itu lupa diedit….. ketahuan, deh….
      doa aja semoga jepara terkenal sampai Korea, Hana-ssi… kekekeke…. *cinta Indo*

      gomawo komenny, Hana-ssi~~

  9. Ah! akhirnya ada waktu juga buat baca FFmu Bella 🙂 *sok sibuk*
    Wah, ini ide ceritanya keren deh Bella b^^ kebetulan ak pernah baca manga yang saudara kembar saling suka gitu.hhe. meskipun tau itu terlarang, tapi suka ga tega juga kalo akhirnya mereka terpisah dan terluka *plaakkk*
    Eh, itu Hyunhyo itu sodara kembarnya Minho bukan sik? tapi curiga mereka jg msih saling suka deh.kekekek.
    Ah, pokonya ak g sabar baca part selanjutnya ^^v

    Oh iya, ada saran sedikit nih dariku. tadi aku nemu beberapa typo *ini mah penyakit smua orang* .hhe. terus juga u/ sapaan Jinri itu. tdi kl g salah ditulis Jinri-ah. seharusnya itu Jinri-ya, karena yg nmanya diakhiri huruf vokal itu sapaannya pake ‘ya’ kl akhirnya konsonan pake ‘ah’. Kaya Jinki-ya, Kibum-ah.

    oKEY, sekian dariku. eh iya, kayanya ff kolab kita msih dalam antrian nih.hhe.

    1. hehe… seperti biasa komen eonni paling panjang…*my fav as always too*

      yups, manga jepang mmg sering ngangkat tema2 tabu kyk gt, mgkn yg bikin inspirasi timbul juga manga Jepang… hoho…

      Hyunhyo-Minho? kalo berdasarkan marganya sih nggak, tapi… hehe… liat d lanjutannya aja, eonn. *evil smirk*

      typo mmg selalu jadi penyakit yg tak terhindarkan sih, eonn… *bow dalam2*
      hooo… ternyata sapaan tuh harus gitu, y? kukira cm cara bacany aja yg beda tapi dtulisny ttp sama. makasih atas infony, eonn.

      aq udh g sabar nunggu ff collab kita, eonn~~~

  10. Woaaahhh percintaan sedarah…
    perbuatan(?) eommany bgus tuh,misahin mrka demi kbaikan mrka jg,scara gitu terlarang…

    Tp disisi lain,kasian ma jinki jinri,,
    ceritanya menarik Bella-ssi,, aku ska..
    Feel nya dpt,, ad sdkt typo,but no problem..
    Next chap

  11. pertama baca nich FF, ngerasa aneh. Jinki punya saudara kembar perempuan???
    langsung dech kebayang wajah onew pas di acara school of rock. jadi agak aneh gara-gara pikiranku. hehehe…
    tapi over all, ceritanya keren kok. narasinya TOP BGT. 4 jempol dech buat chingu…

  12. Huaah, aku baru tau ada istilah incest. Ternyata itu suka sesama saudara yah.__. Dan aku juga baru tau kalo punya kembaran lawan jenis gakbisa tinggal bareng, harus dipisah. Yah… padahal mimpiku dari kecil pingin punya kembaran lawan jenis, kan asik gituuu hehehehe XD
    Ceritanya seruuu. Jadi semacam Jinki tidak peduli pada dunia hanya ingin bareng Jinri selamanya. Terus Jinrinya cinta mati banget sama Jinki. Huhuhu, antara kasian juga sih yah sebenernya ;___;
    Baiklah merapat ke part selanjutnya… hoho~~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s