[FF PARTY 2012] Cor Tangite – Part 1

Cor Tangite

Author                  : dhila_kudou

Title                       : Cor Tangite (String of Heart)

Main Cast            : Lee Jinki

Support Cast      :

  • Lee Taemin as Choi Taemin
  • Kim Kibum
  • Choi Minho

Minor Cast          :

  • Kim Jonghyun
  • Shinwoo (CNU) B1A4

Genre                   : Bromance, Family, Life, Sad, Angst/Hurt, Medical

Rating                   : G

Type                      : Alternative Universe (AU)

Length                  : Sequel

Summary             : “Ketika akhirnya hati kita terhubung oleh benang-benang takdir yang tak terlihat.”

Recommended Song : Quasimodo by SHINee

Note                      : OP (Only Participating)

———————————————————————-

PART 1

Shattered

Cor Tangite

Seoul, 15 Desember 2012

Dentuman musik yang memilukan hati menggema di langit-langit ruangan. Ibarat perkusi penuh harmonisasi beradu dengan kecepatan konstan. Irama yang satu berasal dari alat pemantau denyut jantung. Irama yang kedua -cukup lembut- berasal dari tarikan pegas ventilator. Dan irama yang lainnya berasal dari cairan elektrolit dan darah yang menetes di tabung infus. Dan beberapa nada lainnya yang tak kalah menarik untuk didengarkan.

Intensive Care Unit, disinilah ia berada.

Seorang pemuda yang tertidur pulas dengan berbagai alat menopang tubuhnya yang ringkih dan pucat. Matanya terpejam tenang, seolah sedang bermimpi indah. Jiwanya saat ini entah kemana, menghilang.

Ini sudah minggu kedelapan ia koma.

Di luar ruangan itu, dua anak manusia terlihat berdiskusi. Salah seorang dari mereka menunduk, memasang wajah memelas dan prihatin. Satunya lagi tetap tenang, mencoba menjaga wibawa dalam dirinya; wibawa yang ditopang oleh jas putih yang dikenakannya.

“Dari hasil pemeriksaan lanjut, semuanya mengaju kepada diagnosa brain death, Nyonya,” jawab salah seorang di antara mereka. Matanya yang terhalang oleh kacamata tampak teduh, namun menahan kesedihan yang cukup mendalam.

“Tak bisakah ditunggu barang seminggu saja di sini, Dok?” jawab perempuan setengah baya di depan orang tersebut. Nada suaranya terasa memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya.

Sang dokter menggigit bibir bawahnya, lalu berkata, “Namun, asuransi hanya menanggung sampai bulan kedua, Nyonya. Dan jatuh temponya pada hari ini,”

“Aku yang akan membayar sisanya, Dok. Tenang saja. Anakku yang lain juga akan mencari asuransi yang lain yang lebih mampu untuk menolongnya,” balas perempuan setengah baya tersebut, tak menerima.

Sang dokter akhirnya menyerah. Bagaimana pun juga, walau sudah berkali-kali ia menjelaskan seputar brain death kepada sang Nyonya di hadapannya tersebut, ia tetap ditentang. Padahal, ia semata-mata agar tak ada kemubaziran, mengingat si pasien yang berada di dalam ruangan tersebut memang sudah meninggal dalam arti medis.

Tapi, ia juga tak sepenuhnya yakin dengan jawaban tersebut. Akankah ini pertanda bahwa keajaiban akan segera menghampiri keluarga ini?

“Baiklah. Saya akan menunggu untuk seminggu ke depan. Kalau masih tak ada perkembangan yang lebih baik, atau malah semakin memburuk, kami dengan terpaksa mencabut alat-alat yang terpasang di tubuh anak anda, Nyonya Lee. Saya hanya ingin tak ada yang terbuang sia-sia. Bagaimana, Nyonya Lee?”

Yang ditanya hanya terdiam. Ia terlihat sedang mencerna perkataan dokter barusan. Ini kali ketiga pernyataan tersebut keluar dari sang dokter. Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah menjadi lebih bersemangat.

“Terima kasih, Dok. Terima kasih!”

Perempuan setengah baya itu bangkit dari kursi tunggu yang berada di luar ruangan ICU. Ia membungkukkan badannya selama beberapa detik kepada sang dokter. Setelahnya, ia kembali masuk ke dalam ruangan ICU dan mengambil tempat di sebelah ranjang anaknya. Tangannya membelai rambut sang anak dengan penuh kasih sayang. Wajahnya terlihat sembab, entah sudah berapa lama ia menangis. Tapi kali ini, di hadapan anaknya, ia mencoba menguatkan diri.

“Kamu pasti sembuh! Kamu pasti akan kembali lagi, Taemin-ah!” ujar perempuan setengah baya tersebut yang sempat didengar oleh sang dokter dari luar.

Dokter tersebut menghela napas berat. Sudah kesekian kalinya ia menyaksikan kejadian ini, tentunya dengan sosok yang berbeda. Tak ingin terlalu larut dalam perasaan pilu, Ia pun memilih meninggalkan tempat tersebut dan mencari udara segar di luar rumah sakit.

Entah kenapa, aku merasa ingin menyelamatkannya. Ingin kulihat anak itu berjalan di depanku, lalu tersenyum padaku. Ingin kubicara hangat dengannya. Walau tak ada satu benang pun yang menghubungkan kami sebelumnya. Andai aku bisa memanggil arwahnya di atas sana, lalu mengembalikannya ke dalam tubuhnya yang ringkih itu.

=-=-=-=-=-=-=

Jonghyun berlari memasuki area taman belakang rumah sakit. Di sini ia berjanji dengan sahabatnya, Jinki, untuk berbincang-bincang mengenai hal yang Jonghyun tak tahu apa. Namun yang jelas, Jonghyun menangkap ada sesuatu yang tak beres dari percakapan teleponnya dengan Jinki tadi siang.

Akhirnya ia mendapati sahabatnya sedang duduk di salah satu bangku taman. Jas putih masih tersampir di tangan kirinya. Jinki tengah membuka sebuah botol air mineral lalu meneguknya perlahan.

“Jinki-ya!”

Orang yang dipanggil menolehkan kepalanya ke arah Jonghyun. Ia melambai sekilas. Jonghyun mempercepat langkahnya.

“Ada masalah lagi?” tanya Jonghyun sambil menyodorkan burger berukuran medium kepada Jinki. Ia pun ikut duduk di sebelah sahabatnya itu.

Gomawo…,” ucapnya saat menerima burger tersebut. “Masalah kemarin itu.”

Jonghyun mencoba mengingat obrolan terakhirnya dengan Jinki, “Anak SMA itu? Yang tiga hari yang lalu sudah didiagnosa mati batang otak itu kan? ”

Jinki mengangguk. Matanya menerawang menatap puncak pepohonan yang berdiri kokoh di depannya, “Entahlah sudah berapa kali aku menjelaskan kepada orang tuanya seputar perkembangan anaknya. Ia tetap bersikeras untuk tidak melepaskan alat bantu itu,”

Jonghyun terdiam, menunggu kelanjutan cerita dari Jinki.

“Oya, kau sudah tahu mengapa dia bisa koma?” tanya Jinki. Jonghyun pun mencoba mengingat percakapan ia lakukan dengan Jinki sejauh ini.

“Sepertinya kau belum memberitahukannya kepadaku,” jawab Jonghyun sambil menggigit burger di tangannya.

“Baiklah, akan kuceritakan padamu.”

=-=-=-=-=-=-=

[Flashback]

[15 Oktober 2012, 15.00 KST]

Hujan kali ini begitu menyusahkan bagi Taemin. Ia baru saja menyelesaikan prakarya perorangan di kelas bersama temannya untuk dikumpul keesokan hari. Teman-temannya sekarang sudah lebih dulu pulang ke rumah. Dan sekarang Taemin hanya menunggu sendirian di bawah kanopi sekolah. Ia memandangi rintikan hujan yang terkumpul membentuk genangan-genangan air yang indah di pekarangan sekolahnya.

Tangannya sibuk menggenggam dan mengelus prakarya buatannya. Sebuah boneka kelinci dari tanah liat. Awalnya ia berpikir alangkah baiknya ia meninggalkan prakarya tersebut di dalam lokernya. Namun, ia mengurungkan niat tersebut.

“Warnanya masih kurang. Lebih baik kutambahkan cat-nya nanti di rumah,” batinnya.

Hujan tak kunjung mereda. Dan kini, jam tangannya telah menunjukkan waktu 15.30 KST, yang berarti bus kota yang menuju rumahnya sebentar lagi akan tiba di halte seberang sekolah.

Taemin pun memutuskan untuk berlari menuju gerbang sekolah. Air hujan sekonyong-konyong membasahi pakaiannya. Tapi ia tak peduli. Yang ada di pikirannya sekarang adalah segera ke rumah dan mengecat prakaryanya tersebut, lalu beristirahat.

Melihat jalanan cukup lengang, ia memberanikan diri untuk melintas. Dengan tangan masih berusaha melindungi ‘kelinci’ di genggamannya. Sesampainya di seberang, ia merasa pesimis melihat sekumpulan manusia yang mengantri di halte tersebut. Akankah ia mendapatkan bus pertama sore ini?

Bagaimana ini?

Akhirnya bis yang ia tunggu pun datang. Mengingat rombongan yang akan masuk cukup banyak, ia cukup lama menunggu sampai giliran dia tiba. Ia beruntung masih bisa masuk ke dalam bis tersebut. Bangku-bangku di dalamnya telah penuh terisi. Ramai, sesak, dan tetesan air di mana-mana. Maklum, sebagian besar di antara mereka sudah dalam keadaan basah kuyup.

Bus mulai bergerak perlahan. Tangan Taemin menggapai pegangan yang berada di sebelah kirinya untuk menjaga keseimbangan. Matanya mencoba meraih pemandangan di tepi jalan. Hujan turun semakin deras. Ia dapat mendengar serbuan bulir hujan yang membentur atap bus dan menghasilkan bunyi yang sedikit menyeramkan. Dalam hati, Ia merasa beruntung dapat berlindung di bawah atap bus walau untuk sementara.

Seperempat jam kemudian, ia sampai di halte terakhir yang menuju rumahnya. Ia pun turun di halte tersebut. Saat kakinya hendak menapaki tanah, ia merasakan sedikit oleng. Hampir saja jika tak ada pegangan tubuhnya akan terhuyung jatuh ke tanah.

“Hati-hati!” ujar salah seorang penumpang bus yang berada di belakang Taemin. Ia menahan lengan kurus Taemin yang genggamannya sudah terlepas dari pegangan pintu bus.

Taemin hanya membalasnya dengan tersenyum. Ia benar-benar merasa tak fokus sekarang. Ditambah lagi hujan deras yang tak kunjung berhenti menyerbu kerak bumi. Seketika perasaannya tak enak.

“Ya ampun, Eomma belum aku hubungi dari tadi!”

Cepat-cepat ia menyusupkan tangannya ke dalam saku celananya. Ia pun mendapati ponselnya dalam keadaan mati.

“Aiishh…,” Ia mengacak rambutnya sebal. Ia tak punya pilihan lain selain berlari kembali menerobos hujan yang intensitasnya semakin meningkat.

Kakinya pun mengayun cepat. Tubuhnya bergerak lurus membelah tirai hujan. Kepalanya sedikit ia tundukkan. Butiran-butiran hujan menyapu wajahnya yang memucat kedinginan. Pandangannya mengabur akibat tetesan-tetesan tersebut. Namun, ia tak bisa mengeringkannya.

Kedua tangannya sibuk menjaga ‘seekor kelinci’ agar tak basah terkena hujan.

Ia hanya berpikir bagaimana ia bisa segera sampai di rumah, bertemu dan meminta maaf pada ibunya, dan segera mengeringkan ‘kelinci’ tersebut. Dan hal itu membuatnya tak menyadari kalau ia sedang menyebrang menerobos lalu lalang kendaraan.

Cliché…

Sebuah minibus berkecepatan tinggi menghantam tubuhnya. Kelincinya terlepas, terpelanting dari genggamannya. Ia terjatuh dengan kepala yang lebih dulu membentur aspal. Minibus tersebut berhenti tepat 5 senti disamping tubuhnya yang tergeletak tak berdaya. Dan dengan tak tahu dirinya, minibus tersebut memutar stir dan meninggalkan Taemin meregang nyawa di tengah jalan.

Pandangannya mengabur, seiring ia merasakan cairan hangat membasahi bagian belakang kepalanya.

=-=-=-=-=-=-=

 

[16.35 KST]

Ddrrrt…drrrt…

“Halo?”

“Halo, Minho. Kamu bisa jemput Taemin di sekolahnya?” tanya seseorang dari seberang.

“Maaf, Eomma. Tapi sekarang aku masih rapat,” jawab Minho setengah berbisik. Ia mencoba menahan suaranya agar tak mengganggu peserta rapat.

“Tapi, ini sudah 2 jam dia telat pulang. Ponselnya juga tak aktif.”

“Tak apa, Eomma. Taemin mungkin mengerjakan tugas bersama temannya. Sebentar lagi dia pasti pulang,” jawab Minho mencoba menenangkan Ibunya.

“Aah, aku akan kirimkan nomor temannya, Kibum. Siapa tahu Taemin bersamanya,” ujar Minho menambahkan, berharap dengan begitu kecemasan Ibunya akan berkurang.

“Baiklah kalau begitu. Kamu juga jangan pulang terlalu larut, Minho.”

“Iya Eomma. Kututup dulu ya teleponnya. Nanti kuhubungi lagi,” ujar Minho setengah berbisik sambil mengakhiri sambungan teleponnya. Ia pun mengutak-atik ponselnya sebentar untuk mencari nomor salah satu teman Taemin.

Belum sempat menekan tombol ‘Send’, ponselnya kembali berdering. Minho pun mengangkatnya.

“Halo?”

Hyung, ini aku, Kibum.”

“Iya Kibum, ada apa?”

Minho mendengar suara keributan dari speaker ponselnya. Ia juga mendengar Kibum yang sedang mencoba mengatur napasnya yang memburu.

“Taemin tertabrak mobil, Hyung.”

Minho mengerjapkan matanya tak percaya. Ini terlalu mendadak. Jantungnya terasa berhenti sejenak, lalu berdetak kembali dengan kecepatan yang menggebu-gebu. Tungkainya melemas seketika.

Taemin? Gumamnya pelan.

“Sekarang dia berada di persimpangan jalan dekat rumah Hyung. Aku bingung harus berbuat apa,” jawab Kibum dari seberang.

“Kamu telepon 911 dari sana. Tunggu ambulans datang. Dan tolong kamu temani Taemin sampai ke rumah sakit ya? Hyung segera menyusul kamu nanti.”

“Baik Hyung.”

Minho mematikan sambungannya. Pikirannya menumpul. Ia benar-benar panik. Adik semata wayangnya kecelakaan untuk yang pertama kalinya.

Apa yang harus aku lakukan sekarang?

Bodoh!

Ia mengutuki dirinya sendiri karena terlalu sibuk dan membiarkan Taemin sendiri. Ia benar-benar menyesal. Ia merasa gagal menjadi hyung bagi Taemin.

Tanpa izin, ia berlari keluar ruangan rapat dan segera menuju parkiran mobil.

=-=-=-=-=-=-=

“Kenapa hanya tertabrak mobil bisa koma 2 bulan seperti itu?” tanya Jonghyun. Jinki buru-buru menelan burger yang telah lumat dikunyahnya.

“Nah, kalau itu tergantung keparahan trauma kepalanya. Taemin saat itu mengalami epidural hematom, di mana benturan tersebut menyebabkan pembuluh darah otak yang menjalar di bahagian luar otak pecah, namun tetap mengumpul di dalam tengkorak. Pada pasien dengan epidural hematom tersebut pada awalnya pingsan, lalu kembali sadar dan terbangun kembali setelah trauma. Namun perlahan gerakan tubuhnya terganggu dan bicaranya tak lagi jelas. Atau penglihatannya menjadi kabur. Tergantung dimana hematom tersebut berada. Setelahnya, ia menjadi tak sadarkan diri, lebih parah dari sebelumnya, dan bisa saja koma.”

“Lalu, dia menjalankan operasi kan?”

“Benar. Dan memang operasinya berhasil. Hematom tersebut berhasil dikeluarkan. Namun, tak selalu operasi yang berhasil membuat pasien menjadi baik dan sembuh. Ada kalanya keajaiban tak berpihak pada dokter bedah dan si pasien,” ujar Jinki memberi penjelasan.

Jonghyun menarik napas berat.

=-=-=-=-=-=-=

Minho memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah. Ia hendak menjemput Ibunya pulang sebelum nantinya mereka kembali ke rumah sakit tempat Taemin mendapat pertolongan. Ia mencoba menahan air matanya agar tak keluar dari tempat persembunyiannya. Setelah ia berhasil menguatkan diri, Ia pun berjalan masuk ke dalam rumah.

“Minho, kau sudah pulang? Apa kau tahu di mana Taemin sekarang?”

Minho terdiam. Dirinya tak mampu menjawab pertanyaan Ibunya sekarang. Terlalu pahit dan lidahnya terlalu kelu mengungkapkan kejadian yang baru saja terlintas di benaknya.

“Minho, kau tampak pucat. Ayo, masuk dulu, Eomma akan buatkan teh hangat untukmu—“

“—Eomma,” Akhirnya Minho pun memberanikan diri untuk berbicara.

“Ya Minho? Kau kenapa?”

Minho segera memeluk kaki Ibunya. Air mata yang sedari tadi ditahannya terjatuh. Ia menangis dengan penuh penyesalan.

 “Aku minta maaf, Eomma. Aku benar-benar menyesal. Andai aku tak ikut rapat tadi sore—“

“Ada apa dengan Taemin?” tanya Ibunya seolah mendapat sinyal buruk dari permintaan maaf yang diajukan Minho.

“Taemin..tertabrak mobil, Eomma. Dan sekarang ia dibawa ke rumah sakit.”

“Ya Tuhan…,” Ibu Minho menyentuh keningnya sambil memejamkan mata. Ia menarik napas dalam, “Taemin-ah…”

“Maafkan aku, Eomma… Andai aku—“

“—sudahlah Minho. Kau tak perlu merasa bersalah seperti itu. Mungkin ini takdir yang terbaik untuk keluarga kita,” jawab ibunya sembari menghapus air mata yang berlinang di pipinya. “Ayo, kita ke rumah sakit sekarang!”

“Baik Eomma,” jawab Minho lemah mengiyakan. Ia tak menyangka Ibunya bisa cepat menguasai diri. Tak ingin berlama-lama, ia pun mengambil dua jaket di atas kursi dan menyerahkan salah satunya kepada Ibunya. Mereka berdua pun bergegas keluar rumah. Tak lupa Minho memayungi Ibunya agar tak kehujanan untuk masuk ke dalam mobilnya.

Mobil mereka pun melesat menuju rumah sakit.

=-=-=-=-=-=-=

Jinki merapikan buku catatan pasien IGD yang masuk hari ini. Sekitar 40 pasien telah ia tangani berdua dengan temannya. Ia mendapatkan tugas jaga di IGD selama tiga hari ke depan. Dan hari ini cukup melelahkan bagi dirinya.

Ia meregangkan ruas-ruas jarinya yang telah penat. Lalu berdiri, berjalan mengitari meja dokter jaga di sudut kiri ruangan putih ini.

Sesaat kemudian, ia mendengar bunyi sirine ambulan yang sayup-sayup terdengar dari luar. Kali ini ia merasakan hal itu cukup menggiriskan, perihal sirine tersebut dibarengi oleh suara hujan yang sangat deras menghujam bumi.

“Jinki! Itu pasien tabrakan mobil tadi!” ujar Shinwoo.

“Telepon dari supir ambulans itukah?” tanya Jinki mencoba mengingat peristiwa sesaat sebelumnya.

“Benar!  Suster, tolong persiapkan alat untuk resusitasi dan bedah minor,” pinta Shinwoo kepada perawat IGD di sebelahnya. Perawat itu mengangguk, lalu bergegas menuju ruangan tempat penyimpanan peralatan medis.

Shinwoo berlari ke pintu IGD, lalu membukanya. Petugas ambulans terlihat berusaha menarik brankar keluar mobil. Shinwoo pun datang membantu petugas tersebut.

“Siapa namanya?” tanya Shinwoo kepada petugas ambulans.

“Choi Taemin, 18 tahun,” jawab si petugas. Mereka berdua mendorong brankar ke dalam ruangan IGD.

“Taemin! Taemin! Apakah kamu mendengar saya?” tanya Shinwoo ke arah Taemin, si korban tersebut. Taemin hanya mengeluarkan gumaman tak jelas. Badannya menegang menahan sakit yang amat sangat.

“Dia masih sadar,” ujar Shinwoo.

Jinki menyusul Shinwoo sambil mengeratkan handschoon yang membalut tangannya, lalu berlari menuju tempat brankar tersebut berhenti. Mereka pun memindahkan tubuh sang korban dari brankar ambulans ke brankar IGD.

“Taemin, coba genggam tangan saya!” pinta Jinki sambil meletakkan jarinya di telapak tangan Taemin. Taemin berhasil menggenggamnya dengan erat.

“Bagus! Teruslah bertahan, Taemin! Kami akan menolongmu!” ujar Jinki setengah berteriak. Ia benar-benar tampak bersemangat untuk menyelamatkan nyawa dan raga pasien yang berada di hadapannya saat ini.

“Sudah berapa lama kejadiannya?” tanya Jinki sambil sibuk memasang jarum infus ke pergelangan tangan sang korban.

“Kira-kira sepuluh menit yang lalu, Hyung!”

Jinki menggantungkan botol infus ke tiang infus. Tiba-tiba gerakannya terhenti. Ia baru menyadari kalau suara barusan sangat familiar dalam memori otaknya. Ia pun memutar kepalanya ke arah sumber suara.

“Kibum?!”

“Tolong bantu Taemin, Hyung! Selamatkan dia!” pinta Kibum sungguh-sungguh. Ia mendekap tas Taemin yang dibawanya erat-erat.

“Akan kuusahakan sekuat tenaga, Kibum. Kau sudah menghubungi keluarganya?” tanya Jinki yang tetap serius memberi pertolongan kepada Taemin. Ia memasang masker oksigen ke wajah Taemin. Sementara Shinwoo mengguyurkan larutan NaCl untuk membersihkan luka di kepala Taemin. Setelahnya, ia mencukur rambut di sekitar tempat luka dengan gunting untuk melihat secara jelas luka tersebut dan memudahkan tindakan selanjutnya.

“Sudah Hyung. Mereka akan datang sebentar lagi,” jawab Kibum sambil berjalan mundur. Ia diminta untuk berdiri di luar garis steril di sana oleh perawat yang bertugas.

“Lukanya menganga lebar, Jinki,” kata Shinwoo.

“Biar aku yang menjahit di bagian kepala. Kamu tolong urusi luka lainnya,” kata Jinki. Shinwoo mengangguk. Ia memang masih baru dalam hal kegawatdaruratan ini, perihal ini bulan pertamanya bertugas di rumah sakit ini. Sedangkan Jinki telah enam bulan bekerja di sini. Tentulah pengalaman Jinki lebih banyak dibandingkan dirinya.

“Tahan sedikit ya! Aku akan memberi anestesi di sini,” ujar Jinki mengambil spuit yang diserahkan oleh perawat di sampingnya. Lalu dengan gesit ia menjahit luka tersebut kembali.

Baru saja ia menggunting benang jahitan yang tersisa setelah jahitan selesai, Taemin terbatuk-batuk. Menyaksikan hal tersebut, Kibum langsung berteriak dan mencoba mendekat.

 “Taemin-ah!”

Taemin tetap terbatuk. Segera setelah itu, ia memuntahkan sesuatu dan mengenai masker oksigennya.

“Taemin!” Kibum kembali berteriak. Ia benar-benar tak tega melihat keadaan teman yang sedang meregang nyawa di hadapannya. Perawat bergegas mengambil baskom kecil guna menampung muntahan Taemin. Jinki langsung membuka masker oksigen Taemin dan memutar kepala Taemin ke arah kanan agar muntahan tersebut tak menyumbat saluran napasnya dan mudah untuk keluar.

Di waktu yang bersamaan, Minho dan Ibunya masuk ke dalam IGD. Mereka melihat Taemin yang sedang diberi pertolongan medis oleh para petugas. Ibu Taemin segera menyembunyikan wajahnya ke pelukan Minho, tak kuasa melihat keadaan anaknya. Minho pun mencoba menenangkan Ibunya dengan mengusap bahu Ibunya pelan.

Eomma…,” lirih Taemin lemah. Mata sayunya menatap Ibunya yang tengah menangis membelakanginya.

Seisi ruangan mengarahkan pandangannya ke arah Taemin. Spontan, Ibunya berbalik dan langsung bergegas mengambil tempat di sebelah kiri Taemin.

“Ya Taemin, ada apa, Nak? Bicaralah. Apa yang kau rasakan sekarang?” ujar Ibunya membelai rambut Taemin. Air matanya bercucuran membasahi wajah teduhnya.

Eomma, maafkan aku karena telat pulang ke rumah,” ujar Taemin sedikit bersusah payah.

“Astaga Taemin, Ibu tak mempermasalahkan hal itu. Sekarang yang penting kamu harus kuat! Kamu harus tetap bertahan! Jangan tinggalkan Eomma!” ujar Ibunya setengah berteriak. Dadanya sangat sesak saat ini. Tapi ia mencoba untuk tetap kuat di hadapan Taemin.

Eomma akan menunggumu!”

Minho menyeka air matanya. Ia berjalan mendekat ke arah Taemin.

Hyung, aku—“

Ucapan Taemin terhenti. Ia kembali memuntahkan sesuatu, terbatuk-batuk dengan badan yang menyentak. Kali ini lebih hebat dari sebelumnya. Jinki kembali berusaha memberikan pertolongan pada Taemin.

“Taemin! Kenapa Taemin?!” teriak Ibunya lagi.

Taemin tak menjawab. Tubuhnya melemah, terdiam. Matanya kembali terpejam. Ia tak sadarkan diri.

“Perdarahan epidural! Cepat telepon ruang operasi!” teriak Jinki kepada suster yang bertugas. Shinwoo meminta Minho dan Ibunya untuk kembali menunggu di luar ruangan IGD. Sementara Kibum kembali bertanya kepada saudara kandungnya.

Hyung? Apa yang akan kalian lakukan?” tanya Kibum.

“Kita akan menghubungi dokter bedah syaraf dan melakukan operasi terhadap Taemin. Kemungkinan ada penggumpalan darah di dalam tengkoraknya dan itu yang menyebabkan ia muntah dan kembali tak sadarkan diri. Kamu tolong tenangkan keluarganya ya!” kata Jinki bergegas keluar ruangan IGD melalui pintu di sebelah dalam. Ia berlari ke arah kiri, tepat di mana kamar operasi berada. Sementara brankar Taemin telah terlebih dahulu dibawa oleh perawat dan Shinwoo ke ruangan radiologi yang berada di sisi kanan IGD untuk menjalani pemeriksaan CT-Scan emergency kepada Taemin.

Butuh beberapa menit agar suasana dan hawa ruangan IGD kembali tenang. Sesekali, terdengar isakan Nyonya Lee yang menangis sesegukan. Tak henti, Minho berusaha menenangkan Ibunya tersebut.

Ahjumma, ini tas dan prakarya Taemin,” kata Kibum sopan. Ibu Taemin tersenyum kecil, lalu menerima tas tersebut. Minho membantu memegang tas itu karena kini perhatian Ibunya terpusat pada prakarya Taemin yang berada di genggaman Kibum.

Sebuah kelinci dari tanah liat dengan beberapa keretakan di sisi ‘tubuhnya’.

“Ini… buatan Taemin?”

“Iya. Dan ia terlambat pulang karena ingin menyelesaikan ini segera di sekolahnya, Ahjumma,” jawab Kibum penuh rasa hormat. “Maafkan aku Ahjumma. Andai aku menungguinya di sekolah—“

“Tak apa-apa Kibum-ah, ini bukan salah siapa-siapa. Ini memang sudah takdirnya,” jawab Nyonya Lee tenang, walau guratan kesedihan masih terpatri di wajahnya.

“Kibum, bagaimana kalau aku antar kamu pulang sekarang? Hari sudah beranjak malam,” tutur Minho sambil menyandang tas Taemin ke punggungnya.

“Tapi, aku mau menunggu sampai operasi Taemin selesai,” tolak Kibum.

“Aku tak ingin orang tuamu cemas menunggumu di rumah. Tenang saja, aku akan memberitahumu hasil operasinya nanti,” bujuk Minho. “Sekalian aku hendak membawa baju-baju Taemin ke sini dan membereskan rumah. Tadi masih ada jendela yang belum ditutup kan, Eomma?” lanjut Minho sambil menatap Hyungnya.

Nyonya Lee tersenyum, “Hati-hati di jalan, Minho.”

Minho menganggukkan kepalanya. Ia pun menatap Kibum di sebelahnya, “Bagaimana?”

“Baiklah. Aku pamit dulu, Ahjumma,” tutur Kibum.

Minho dan Kibum menyalami Nyonya Lee untuk berpamitan. Lalu meninggalkan Nyonya Lee sendiri di ruang tunggu IGD.

Dalam kesendirian itulah, sekelebat memori terlintas di benak Nyonya Lee. Hal itu membuatnya kembali terisak. Ia menyembunyikan wajahnya dibalik kedua tangannya.

“Taemin-ah, kau harus bertahan, Nak! Jangan tinggalkan Eomma! Eomma tak ingin kehilangan orang yang Eomma cintai lagi,” lirihnya dalam hati.

=====Cor Tangite=====

Seoul, 21 Desember 2012

Jinki meletakkan tas kerjanya di atas kursi. Lalu, ia berjalan menuju gantungan baju di sudut kamar, dan menggantungkan jas dokternya di sana. Saat itulah, ia mendengar pintu kamarnya diketuk seseorang.

“Ya, sebentar!”

Ia pun bergegas meraih gagang pintu dan memutar kuncinya. Terlihat Kibum menunggu di depan pintu dengan dua cangkir teh hangat di tangannya.

“Ada apa, Kibum?”

“Apa aku mengganggumu, Hyung?”

“Tentu saja tidak. Ayo masuk!”

Kibum berjalan masuk ke dalam kamar Jinki. Ia memandangi interior kamar Jinki lekat-lekat. “Rapi sekali, Hyung,” pujinya. “Ini untukmu.”

“Haha, kamu seperti baru pertama kali masuk ke kamar Hyung saja,” balas Jinki sambil meraih teh hangat yang disodorkan Kibum kepadanya, “Gomawo.”

“Ya, 1 minggu itu waktu yang sangat lama tidak bertemu denganmu. Apalagi masuk ke dalam kamarmu ini, Hyung. Mungkin sudah sebulan aku tak berkunjung ke sini,” ujar Kibum sambil menatap deretan buku-buku yang tersusun rapi di dalam lemari buku Jinki.

“Benarkah? Ah, maafkan Hyung-mu ini Kibum-ah. Aku terlalu sibuk jaga di rumah sakit sehingga tak sempat bertemu denganmu,” tutur Jinki dengan raut penyesalan di wajahnya.

“Eh, aku tak bermaksud begitu. Haha, tenang saja, Hyung. Aku bukan anak kecil lagi,” kata Kibum sambil tergelak.

“Ya..ya…Aku tahu itu, Kibum,” kata Jinki sambil menepuk bangga bahu Kibum. “Oya, kita ngobrolnya di balkon saja yuk!”

=-=-=-=-=-=-=

Nyonya Lee meletakkan handuk kecil yang sedikit lembab ke dalam tas berukuran sedang yang dibawanya. Ia baru saja membersihkan wajah dan tangan anaknya dengan handuk kecil tersebut. Kegiatan itu rutin ia lakukan setiap pagi dalam kurun waktu 2 bulan terakhir, semenjak sang anak terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.

Tak berdaya, atau mungkin tak bernyawa?

Lagi-lagi perasaan cemas dan takut menggerayangi tubuh Nyonya Lee.

Taemin-ah, apa kamu tak bosan tidur terus di sini?

Apa kamu tak rindu dengan Eomma?

Dengan Minho Hyung, Nak?

Ttok ttok.

Nyonya Lee mengusap pipinya yang basah dengan air mata. Ia menyempatkan dirinya untuk mengusap lembut rambut Taemin sebelum akhirnya beranjak menuju pintu ruangan rawat Taemin. Seorang perawat sedang berdiri di depan pintu tersebut.

“Ada apa, suster?”

“Kami akan membawa Tuan Taemin ke ruang diagnostik untuk pemeriksaan terakhir,” ujar sang perawat dengan sopan.

Nyonya Lee menarik napas panjang, sebelum mempersilahkan sang perawat masuk dan membawa Taemin keluar ruangan.

“Ayo Taemin, kamu pasti bisa meyakinkan dokter kalau kamu masih hidup. Kamu harus bisa, Taemin-ah!” gumam Nyonya Lee berat. Ia menggenggam erat tangan Taemin yang cukup dingin. Sebuah genggaman yang tak berbalas genggaman.

Untuk kesekian kalinya, air mata jatuh membasahi wajahnya.

=-=-=-=-=-=-=

Semilir angin musim gugur berhembus dari arah selatan. Jinki menyesap teh hangatnya perlahan sambil merilekskan diri. Kesibukan bertubi-tubi di rumah sakit membuat raganya letih tak terhingga. Tiap hari tak lebih dari 4 jam ia tidur di rumah sakit. Di tahun pertama seperti ini, Jinki harus memaksimalkan daya tahan tubuhnya untuk menjadi dokter jaga di IGD, diselingi dengan tugasnya untuk mengawasi pasien yang dirawat di ruangan intensif rumah sakit.

Salah satunya adalah Taemin, pasien yang menjadi tanggung jawabnya di sana.

Hyung, bagaimana kalau kita buat perayaan kecil-kecilan untuk Eomma?”

Lamunan Jinki buyar saat Kibum memulai diskusinya dengan Jinki. Ia memutar kepalanya ke arah Kibum dan menatap adiknya heran, “Dalam rangka apa memangnya?”

Hyung tak tahu kalau besok Hari Ibu?”

“Benarkah? Ah, Hyung lupa,” ujar Jinki sambil menepuk dahinya. “Bagaimana rencanamu esok?”

“Hmm, aku sih ingin memasak sesuatu yang spesial untuk Eomma. Jadi, besok kita yang akan menyiapkan sarapan. Bagaimana menurut Hyung?”

“Boleh saja. Tapi—“

“Tapi kenapa Hyung?” tanya Kibum penasaran.

“Sepertinya Hyung tak bisa menemani kamu sampai selesai memasak. Besok Hyung harus ke rumah sakit segera,” jawab Jinki dengan wajah menyesal.

“Oh, ya sudah. Tak masalah. Ah, bagaimana keadaan Taemin, Hyung?” balas Kibum.

Jinki terdiam sejenak. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi santai yang tengah didudukinya, “Ya begitulah, Kibum.”

Kibum seolah dapat membaca makna tersirat yang disampaikan Hyungnya. Raut wajahnya kembali datar.

“Besok pagi, Hyung akan berdiskusi dengan dokter yang lain mengenai tindakan yang akan diberikan pada Taemin selanjutnya. Dan besok hasil pemeriksaan akhir juga akan dikeluarkan,” imbuhnya.

“Jadi, Hyung akan menyerah pada kondisi Taemin sekarang?” tanya Kibum. Jinki langsung menatap Kibum serius, sedikit kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan saudaranya tersebut.

Hyung tak bisa memutuskan sekarang. Semoga saja besok ada keajaiban,” jawab Jinki. “Dan semua itu bergantung pada Taemin. Apakah ia akan kembali, atau pergi. Itu haknya,” ujar Jinki tenang. Ia berdiri dari duduknya. Kibum hanya menerawang jauh sambil bersandar ke pagar balkon.

“Doakan saja ya, Kibum,” pinta Jinki.

Kibum pun mengangguk. Ia sendiri sudah pasrah dengan semuanya. Telah banyak usaha yang dilakukan oleh Hyung-nya untuk menyembuhkan sahabatnya itu. Tapi, kesemua hasil bergantung pada Yang Kuasa. Kibum sangat tahu itu.

Hyung…,” panggil Kibum.

Jinki menolehkan wajahnya, “Ya Kibum?”

“Aku harap kita berdua tak saling canggung lagi setelah ini,” ujar Kibum mantap. Jinki tersenyum.

“Maafkan Hyung, Kibum. Kamu sudah berusaha dengan sangat baik untuk bisa dekat dengan Hyung. Maafkan sifat Hyung yang sedikit tertutup kepadamu, bahkan sampai kamu beranjak remaja sampai saat ini. Apa daya karakter Hyung memang seperti ini, tapi Hyung tetap menganggapmu seperti adik kandung Hyung kok. Tenang saja,” ujar Jinki. “Kamu jangan mencemaskan hal ini lagi, ya?”

Kibum tergelak. “Haha, menjawab pertanyaanku saja masih dengan bahasa baku begitu. Ya sudahlah,” keluh Kibum bercanda.

“Seorang dokter itu harus serius,” balas Jinki, membela diri.

“Nggak selalu, kok!” timpal Kibum.

Jinki pun meninju bahu Kibum gemas. Mereka saling bertatapan. Jinki pun merasa tergerak untuk memeluk adiknya hangat. Kibum menyengir lebar, lalu membalas pelukan tersebut.

Kibum bahagia, benar-benar bahagia. Tak mengapa ia ditakdirkan memiliki saudara tiri berlainan ibu. Karena saudara tersebut sangat menyayangi dirinya, seperti Jinki Hyung yang berada di hadapannya saat ini.

Kibum berharap agar kehangatan yang ia rasakan saat ini tetap abadi, selalu melindunginya, selamanya.

Hyung, aku bersyukur memilikimu. Walau dulu aku sedikit kecewa saat mengetahui kalau kita bukanlah berstatus saudara seayah seibu. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, aku mengabaikan hal itu.

Karena yang terpenting, aku punya Jinki Hyung, dirimu.

Aku tak bisa membayangkan bagaimana sekiranya aku ditakdirkan menjadi anak tunggal. Apakah aku dapat merasakan kehangatan yang sama?

=====Cor Tangite=====

To be continued…

Author note:

Hai-hai! Kali ini aku ingin menyuguhkan fanfic bertema bromance ringan, plus embel2 medis di dalamnya. Perlu diperhatikan, tindakan yang aku tulis di sana tidaklah persis sama dengan yang di lapangan. Di kejadian sebenarnya tentu lebih rumit dan ribet. Jadi, aku berusaha memberi penjelasan simpel mengenai tindakan medis yang kutulis. Jadi maaf kalau sekiranya yang kutulis tak persis dengan fakta di lapangan, berhubung aku sendiri belum punya pengalaman di sana. Kuharap yang baca cerita ini bisa mengerti dan bisa membayangkan suasananya. Hitung-hitung sedikit memberikan situasi di rumah sakit sebenarnya. Hehe.

Kritik dan saran sangat kuharapkan darimu, Kawan!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

38 thoughts on “[FF PARTY 2012] Cor Tangite – Part 1”

  1. Feelnya dapet, sempet nangis tdi,,huwaaa… Tissu mana tissu..

    Err. Authornya kuliah di bidg medis juga kah?
    Keren! Aku sll suka baca FF yg beginian, medic things inside.

    Gak bs komen ttg EYD, tanda baca, atau yg semacamnya. Kurang ngerti. Ttg medic things-nya okelah, cukup bs diterima. Mungkin perlu diberikan footnote ttg arti dr kata2 yg medis, seperti Epidural misalnya.

    Ditunggu next partnya..

    1. benarkah? huwaa.. #sujudsyukur #sodorintisu
      syukurlah kalau begitu…aku senang dengerinnya :”D

      hehe, iya kak, tpi masih awal2, masih dasar ilmunya..#garuk2kepala.
      Mianhae ya kak, la lupa cantumin footnotenya. la kira sudah cukup sama penjelasan jinki ke jonghyun mengenai epidural hematom itu. maaf sekali lagi… #bowing
      ntar la cantumin di komen berikutnya aja..hehe.

      silakan kak..makasi banyak ya udah baca dan komen ff ini ^o^/

  2. Hai-hai… lewat komen ini aku mau cantumin footnote yang harusnya ada di part ini. maaf ya aku lupa cantumin sebelumnya.. #bowing

    – ventilator : suatu alat sistem bantuan nafas secara mekanik yang didesain untuk menggantikan/menunjang fungsi pernafasan.. Ini lebih rumit dari sekedar memakai tabung oksigen biasa. Di sini kan Taemin koma, jadi aku mikirnya sistem pernafasannya bakal terganggu juga, makanya dipakaikan ventilator padanya. persisnya ventilator itu apa coba aja tonton drama2 yg berbau medis, biasanya ada 😀

    – brain death / mati otak / mati batang otak.
    kematian jaringan otak yang bersifat total dan irreversibel, sudah mengenai batang otak, dimana batang otak ini tugasnya mengatur sistem kardiovaskular, pernafasan, yang sifatnya secara tidak sadar (involunter).
    Berbeda dengan mati serebral, dimana kerusakan sel otak cuma di bagian otak besar (serebral), tapi tetap membutuhkan alat bantu kehidupan.
    Nah, di sini aku bikin skenarionya Taemin awalnya mati serebral saja, trus dia koma. tapi keadaannya semakin buruk hingga batang otaknya juga mengalami kematian.
    kalau mau baca lebih lanjut, silakan : http://hnz11.wordpress.com/2009/06/04/mati-koma-danvegetative-state/ ,http://karikaturijo.blogspot.com/2010/04/tes-diagnosis-mati-batang-otak.html

    – handschoon : sarung tangan yang steril, berbahan lateks (karet).

    – epidural : lapisan tipis pembungkus otak. di sini ada pembuluh darah yang menjalar di bawahnya, di bahagian luar otak. kalau ada trauma, bisa menyebabkan pecah pembuluh darah, trus darahnya merembes mengenai jaringan otak, dan itu berbahaya. jaringan otak yang terkena bisa mati.

    -hematom : darah yang menggumpal, harus dikeluarkan sesegera mungkin jika berada di organ penting.

    – resusitasi : proses untuk mengembalikan fungsi tubuh ke keadaan normal. misalnya kalau perdarahan, dipasang infus atau transfusi darah. dipasang oksigen dan lain sebagainya.

    Jika ada yang gak tepat atau ada yang perlu dikoreksi, silakan dikomen ya. Aku juga masih belajar di sini, siapa tau di antara yang baca ini udah ketemu pasiennya langsung / sudah mempelajarinya, trus proses penjabaran perjalanan penyakit Taemin itu gak bener aku tulis, langsung kasi tau aja ya :D.

    Nah, mungkin sekian dulu footnote-nya, semoga gak bikin tambah bingung. Kalau ada yang ditanyakan, langsung dikomen aja ya. Terima kasih banyak ^o^/

  3. Izinkan numpang nagis dulu… T.T taeminku, tetem taemku. Kasihan sekali kamu nak #cup-cup

    Aku sangat suka FF ini… jjang banget.
    Tidak bisa ngomen panjang2, apalagi tentang tata cara penulisan dsb. selainkarena konsen ke inti cerita, ilmuku juga cetek.

    menurutku tanpa footnote aku sedikit ngerti. sudah dijelaskan dalam dialognya kan?selebihnya penjelasan ttg medisnya bisa diterima oleh otakku yang notabennya tidak menggeluti medis.

    initnya jjang, sugoi… aku menunggu dengan setia part selanjutnya. bromance minho-taem, jinki-kibum
    6 jempol tangan kanan #biar-sopan

    1. silakaaan… #sodorintisu #elus2
      haha, ganyangka malah bikin orang nangis..maapkan saya bikin hari minggunya galau..#eh
      hehe, gak papa..yg penting udah ninggalin jejak aku dah makasi banget 😀
      iyaa..syukurlah..smoga bisa nambah pngetahuan juga ya..hehehee… #nyengir

      makasi banyak yaa udah suka sama part ini. smoga part brikutnya gak mengecewakan chanyeon ya :D. sila tunggu ^o^/

  4. Haiii, akhirnya aku punya waktu buat baca satu FF dan alhamdulillah it’s yours 😀

    Ini ada berapa part ya? Soalnya menurutku disini peranan Jinki sebagai main cast belum terlalu menonjol. Malah kupikir main castnya Taemin kalo nggak baca bagian atas tadi. Dan buat infonya nggak perlu dibahas, kan authornya orang FK.

    Cuma sempat ngomentari itu doang, lagian aku bacanya lompat2. Lain kali aja deh baca yg serius. Nyehehe :3

    1. alamakjaang zakyy..udah ngilang berbulan2 trus sekalinya nongol di ff aku itu..bahagia banget! omoo..aku kangen kamu tauk! xDDD #hug

      ehehe, berapa yaa? #dor! gak trlalu panjang kok, yg pasti di bawah 5 part..nyehehe #emangmaksimalnyasegitukale
      iya, emg belum, tunggu part berikutnya yaa. haha, emang dasarnya ngebiasin taemin sih, jadi gini deh =_=”. haha, dirimu bisa aja.. #blushing

      oke, silakaan..makasi ya udah mampir ke sini, Zaky! ^o^/

  5. Dhila-ssi, saya bisa ngebayangin Jinki jadi dokter, cocoklah.. dan saya selalu suka ff yang castnya Jinki 😉 Ibunya Taemin dipanggil Jinki Nyonya Lee, tapi kok Taeminnya jadi Choi Taemin? Dhila-ssi, Cor Tangite bahasa dari mana? Kira2 ff ini sampe berapa part ya? Maaf kalo kebanyakan nanya.. Ok Dhila-ssi, ditunggu part selanjutnya.. 🙂

    1. iya kaak, dari kelima member emang dia jiwanya yg kedokteran (plesetan keibuan) #gubrak. bahkan krna ff ini aku jadi hampir ngebiasin si Jinki .___.”

      nah, untuk masalah marga itu ntar ada penjelasan di part berikutnya. smoga penjelasannya nanti bisa ngebantu ngejawab penasaran kakak ya 😀
      Cor Tangite itu dari bahasa latin, Cor artinya heart, Tangite artinya String. bener nggaknya juga gatau, aku cuma make fasilitas google translate -___-”
      FF Ini ada 4 part *akhirnya kebongkar juga*. Haha,, gak papa kok kak, ga masalah kok 😀

      Sip2, sila tunggu ya kak. Makasi banyak udah baca n ninggalin jejak di part ini ^o^/

  6. awalny mau nany Cor tangite it artiny apa. Selesai baca, kupikir itistilah kedokteran jg haha.
    nah, baru tau kmu calon dokter. pantesan komenmu d ff ku bermutu. kalo gitu sukses dah. mau komen lg, tp kebanyakan udah diulas d atas. sy nungguin part 2 aje deh. 🙂

    1. hahaha, itu saran kakakku juga sih pake istilah itu, awalnya pengen kasi judul HeartString aja biar simpel, tpi karena kurang gmnaa gitu, jadi yaudah, pake cor tangite akhirnya 😀

      aamiiin, makasi ya kak boram..sukses juga buat arsiteknya yaa ^o^/
      sipsipp, makasi udah baca n komen di part ini. sila dtunggu kaak 😀

    1. haha, samaan dong sama aku..liat cast ontae tanpa babibu langsung klik..xD
      rame kah? haha, soalnya part pertama aku ngenalin seluruh castnya, makanya rame..nyehehe…
      makasi ya udah baca n komen part ini, swanty ^o^/

  7. wah great! deskripsinya bagus. bahasanya juga komunikatif. cian bgt ya taem /pukpukpuk/ huhuhu. taem, get well soon ya^^

    1. aah, syukurlaah…aku seneng dengernya.. 😀
      hehe, iya. aku soalnya bikin ff kebanyakan nyari inspirasi dari nonton drama, bukan novel. makanya kesannya lebih ke arah komunikatif ketimbang nyentuh (dari novel)..hehe…

      aamiin, do’ain aja yang terbaik buat Taemin yaa.. #eh

      makasi banyak udah baca n ninggalin jejak di part ini, anggie ^o^/

  8. Kenapa kejadian seperti ini harus terjadi pada Taemin? T^T

    Jinki ingin sekali menyelamatkan Taemin, melihatnya tersenyum, dan berjalan di depannya. Apa ini hanya kepedulian biasa seorang dokter pada pasiennya atau memang ada benang penghubung di antara mereka?

    Nice story.

    1. kenapa?! huwaa, takdir emang pahit say… #sodorintisu
      maaf ya aku bikin nasib taeminmu begini.. #eh

      naaah, untuk jawaban dari summary cerita yg starlit ungkapin itu, ntar bakal dijelasin di part berikutnya..hehe… sila ditunggu ya 😀

      aah, syukurlaah. makasi ya starlit udah baca n komen di part ini ^o^/

  9. Tetem di ff kebanyakan dapet peran yang sakit, Jinki kebanyakan jadi dokter yang didasari otak pinter, klo minho rada mesum sering baca juga#nggak sengaja. yah pokoknya baguslah… harus tahan diri untuk tak bersedih. aku sedikit melarang diriku untuk baca yang sad begini. takut nangis. tapi daebak lah thor! aku suka. moga minie nggak meninggal, ya?

    1. hehe, soalnya emang kalau diliat sekilas, mereka yg lebih ‘klek’ sama peran itu. tapi aku juga pengen bikin dokternya si taemin atau kibum, tapi brhubung main castnya jinki, aku kembali ke rencana awal..xD
      minho rada mesum? O.O eitss..hahaha

      haha, gapapa, itung2 latian buat jadi orang yang kuat di tengah kesedihan yang melanda *?*.
      syukurlah klo hana suka, makasi yaa. aamiin, smoga keinginannya tercapai ya di part berikutnya..hehehee…
      makasi udah baca n komen part ini, Hana ^o^/

  10. Good FF author seperti sedang belajar biologi, walaupun tidak kompleks
    Tingkatkan terus author
    Semangat buat kelanjutannya
    (งˆ▽ˆ)ง

    1. syukurlaah…hehe, iya, itung2 blajar biologi, tp yg manusia. Tumbuhan sama hewan aku udah lupa rinciannya sekarang =___=”
      siip, kuusahain yaa..mga2 di part slanjutnya kerasa peningkatannya 😀
      makasi ya Imelia udah baca n ninggalin komen di part ini ^o^/

  11. Gue butuuuhh tissue hweee (;_;)
    taemin-ah bertahanlah!
    aku agk ngeri baca, wkt taemin dtangani druang ICU. Wae? soalnya yg kebayang diotakku mlh adegan pembedahannya dr. Jin di drakor ‘Time to Sleep dr. Jin’ ckckkk
    kerennn thor!!
    lanjutt!!

    1. aaah..ini2 tisunyaa~~!
      hehe..di ruang IGD maksudnya ni taurusgirls (manggilnya apa ini? xD) eh? aku belom nonton Dr. Jin, ntar deh kapan2 klo ada yg ngasih dramanya..hehehehee

      syukurlaah klo chingu sukaa…sipsip..itu udah dipublish sampe end kok..wkwkwk
      makasi ya taurusgirls udah nyempatin baca n komen di part ini ^o^/

      1. ne IGD mksud ku kkk~
        eumm krn aku istrinya Lee Jinki jd panggil Mrs. Lee aja XD *dtabok MVP
        Wahh hrs nonton, crtanya bgs soal dunia medis gt. tp bkin ngeri bnyak adegan pembedahannya ><

        iya kmrin aku liat udh end, tp blm sempet baca. ini br mau baca lg hhehe 😀

  12. Hai^^
    Untuk jalan ceritanya, aku cuma bisa menikmati aja karena emang gak gitu ngerti soal medis, jadi gak berani komentar juga soal medisnya hehe
    well, emang kasian banget taeminnya di sini..
    dan pihak keluarga pastinya juga gak kalah kasihan, secara mereka harus dihadapkan pada keadaan di mana mereka harus mencabut alat bantu yang menopang hidup taemin sekarang atau terus berharap akan datangnya keajaiban

    Terus, ada beberapa komentar/ masukan, semoga gak keberatan yah^^
    – emergency number utk bagian medical di korea selatan itu 119, bukan 911
    – di situ ada deskrip Semilir angin musim gugur berhembus padahal di atasnya tanggal 21 Desember, padahal bulan Desember di Korea Selatan sudah memasuki musim dingin
    – Hari ibu. Tanggal untuk hari ibu di seluruh dunia itu berbeda-beda. Untuk Korea Selatan sendiri, dirayakan pada tanggal 8 Mei, atas nama Parents’ Day
    – Terus kata-kata seperti hmm, ah, yah, oh itu juga seharusnya diitalic

    Oke, sepertinya itu saja untuk part ini, mau lanjut ke part selanjutnya dulu yah 🙂

    1. Hai juga kak Yuyu ^o^/
      aah, tentu saja tidak kaak, la bner2 nunggu kritikan dan saran buat ff ini 😀

      -nah, itu bner2 la lupa ngeriset lebih jauh. dan pas mau ngirim pun males untuk ngubek2 google cari nomor ambulans di korsel. aah #tutupwajah. kapok deh buat males ngeriset pas bikin cerita berikutnya ._.

      -sip kaak! diterima banget saran yang ini. haha..itu keteledoran la yang fatal juga. berhubung part satu ini sebenarnya udah dibikin pas bulan oktober gitu, dan di sini lupa ngedit settingnya yg udah winter. makanya mgkn ada bberapa scene selanjutnya seakan2 mereka gak kedinginan diluar sana. ya Allah..maaf banget kak jadi bikin gak nyaman pas bacanya #bowing

      – nah, la juga udah tau ttg hal ini kak. di Korea pasti nggak 22 Desember hari ibunya. Tapi la emang nekat masukin setting hari ibunya di sini. jadi ff setting Korea bercita rasa Indonesia .____.v | Tapi nanti kalau ada cerita yg pakai hari peringatan semacam ini la sinkronin lagi deh sama daerah asalnya..hehe.. 😀

      – aah, tetap dimiringin ya kak? la pikir krna bukan bahasa asing jadi gak perlu dimiringin. oke deh, dicatet dulu 😀

      okekaak, silakan dilanjutkan bacanya..mga2 bisa menikmati ya 😀
      makasi ya kak buat komentarnya di part ini ^o^/

  13. Anyeong !. Ceritanya bagus banget. Triple wow… daebak.
    Gimana ya keadaan taeminie selanjutnya (?) I’m so curious yeah…
    kalau dibayangin, kondisi taemin sekarang tragis Huks T^T
    Tinggal nyawanya mau dijak menetap di bumi atau melayang selamanya. Okey, to the next chapter ^^v

    1. Annyeong jugaa! ^o^/
      huwaa..syukurlaah… :”D makasi yaa..

      silakan baca kelanjutannyaa..mga2 memuaskan ya 😀
      kalimatnya bagus juga…haha..xD #eh
      makasi ya DreamGirl udah baca n komen ff ini ^o^/

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s