[FF PARTY 2012] Cor Tangite – Part 2

Cor Tangite

Author                  : dhila_kudou

Title                       : Cor Tangite (String of Heart)

Main Cast            : Lee Jinki

Support Cast      :

  • Lee Taemin as Choi Taemin
  • Kim Kibum
  • Choi Minho

Minor Cast          : Shinwoo (CNU) B1A4

Genre                   : Bromance, Family, Life, Sad, Angst/Hurt, Medical

Rating                   : G

Type                      : Alternative Universe (AU)

Length                  : Sequel

Summary             : “Ketika akhirnya hati kita terhubung oleh benang-benang takdir yang tak terlihat.”

Recommended Song : Quasimodo by SHINee

Note                      : OP (Only Participating)

———————————————————————-

Cor Tangite

PART 2

Reunion

 

Seoul, 22 Desember 2012

Minho memarkirkan mobilnya di basement rumah sakit. Sekilas, ia melirik jam digital mobilnya. Pukul 01.25 KST. Setelah itu, Ia bergegas menuju ruangan ICU di mana adiknya berada.

Akhirnya, ia sampai di depan ICU. Ia pun membelok ke arah kiri menuju ruangan tempat petugas ICU berjaga. Ia meminta baju steril kepada salah satu petugas di sana.

“Maaf, Tuan, bisakah nanti anda membawa Nyonya Lee keluar ruangan? Peraturan di sini melarang pengunjung untuk berlama-lama di ruangan ICU,” titah sang perawat di sana.

“Ibu saya masih belum pulang?” tanya Minho terheran.

“Belum, Tuan. Kami pun tak tega menyuruh beliau untuk keluar ruangan. Kami harap Tuan bisa melakukannya,” jawab perawat tersebut.

“Baik. Terima kasih, Suster.”

Minho pun bergegas mengenakan baju steril. Ia pun menggeser pintu ruangan ICU. Perlahan, ia berjalan ke sisi kanan ruangan, tempat adiknya terbaring lemah. Ia menemukan bilik Taemin masih diterangi lampu kecil di dalamnya. Pelan-pelan ia menyibakkan tirai yang mengitari ranjang adiknya itu. Ia pun mendapati Ibunya tertidur pulas di tepi ranjang.

Eomma….”

Nyonya Lee menggerakkan tubuhnya. Ia mengerjapkan matanya perlahan hingga akhirnya menyadari Minho yang membangunkannya. “Minho? Sudah lama datang?”

“Belum Eomma. Aku baru saja pulang kantor,” jawab Minho.

“Jam berapa sekarang?”

“Setengah dua pagi, Eomma. Apa tak sebaiknya Eomma tidur di penginapan saja? Hawa di sini terlalu dingin.”

Nyonya Lee menggeleng, “Bagaimana bisa Eomma meninggalkan adikmu di saat-saat terakhirnya seperti ini?”

Minho terdiam.

“Tadi sore Taemin melakukan pemeriksaan terakhir. Apapun hasilnya esok, itu tak dapat diganggu-gugat lagi. Bila negatif, itu artinya Taemin tak akan bersama kita lagi, seperti ini,” lirih Ibunya dengan mata berkaca-kaca.

Eomma ingin merasakan kenyamanan saat berada di dekat Taemin, walau faktanya Taemin tak menyadari hal itu dan tak memberikan respon apa-apa kepada Eomma. Sebelum ia benar-benar pergi dari hadapan Eomma selamanya, Eomma ingin menghabiskan waktu-waktu terakhir dengan berada di sisinya.”

“Bagaimana bisa Eomma yakin Taemin akan meninggalkan kita?” tanya Minho dengan sedikit penekanan. Dadanya benar-benar terasa sesak sekarang. “Bukannya Eomma yang bilang kalau kita harus menunggunya hingga sadar? Kapan pun itu waktunya? Walau asuransi telah tak sanggup membiayai perawatan dan pengobatan Taemin, kita harus tetap menunggunya?”

Eomma telah mengubah persepsi Eomma terhadap Taemin sekarang. Bukannya Eomma letih menunggu, tapi kesemua itu ada akhir, Minho. Walaupun nanti adikmu sadar, namun suatu saat nanti ia akan benar-benar pergi meninggalkan kita kan? Begitu juga sebaliknya. Mungkin Eomma yang akan pergi meninggalkan kalian berdua. Mungkin juga kamu yang terlebih dahulu.

Dan sepertinya, waktu dua bulan satu minggu itu sudah waktu yang lebih untuk kita menunggu Taemin. Ditambah lagi hasil pemeriksaan yang menunjukkan kalau adikmu benar-benar telah tiada,” jawab Ibunya.

“Tak mungkin! Taemin masih hidup! Lihat Eomma, jantungnya masih berdetak. Dan dia masih bernapas!” bantah Minho.

“Tapi itu karena bantuan alat-alat ini, Minho. Hanya raganya yang berfungsi. Tapi dirinya tak lagi di sini,” jawab Ibunya lagi. “Eomma sudah pesimis dengan hasil pemeriksaan besok.”

Minho tetap bersikukuh, “Tapi Eomma—“

“—Biarkan Eomma mengikhlaskan Taemin sekarang, Minho. Biarkan Eomma mengikhlaskannya…,” lirih Nyonya Lee sambil terisak.

Minho menarik salah satu kursi di dekatnya, lalu segera menghempaskan badannya di atas kursi tersebut. Lututnya benar-benar lemas sekarang.

Apakah ia harus mengikuti saran Ibunya? Apakah ia harus merelakan Taemin untuk pergi selamanya?

Di tengah keheningan tersebut, perlahan, Nyonya Lee meraba hasil prakarya Taemin di atas meja, dan mengambilnya. Ia pun menyodorkan prakarya tersebut kepada Minho.

Eomma rasa, kamu belum mengamati boneka ini sebelumnya, Minho,” ujar Ibunya.

Minho mengambil prakarya tersebut. Ia amati bentuk wajah kelinci itu, ia usap perlahan.

~~~

“Hewan apa yang paling kau sukai, Minnie?”

“Tentu saja kelinci, Hyung! Aah, andai aku benar-benar punya seekor kelinci di rumah.”

“Tapi kamu kan alergi bulu hewan?”

“Nah, itu dia yang bikin aku menyesal seumur hidup, Hyung! Aah, lihat saja nanti. Aku akan membuat kelinci tanah liat yang banyak jumlahnya. Biar aku tak merasa kesepian saat Hyung tak berada di rumah,” ujar Taemin yakin. Matanya berbinar-binar saking semangatnya ia dengan rencana berliannya itu.

~~~

“Kelinci yang manis. Benar-benar manis…,” ujar Minho sambil mengelus ‘kelinci’ tersebut. Tiba-tiba, ia meraba tekstur yang aneh di badan kelinci tersebut. Telunjuknya berusaha mengenal tekstur itu. Ah, seperti ujung sebuah kertas memo.

Perlahan, ia menarik kertas tersebut keluar dari tubuh prakarya itu.

 “For my great brother.

Ini hadiah pertamaku untukmu, Hyung. Rencanaku sudah kubuktikan, bukan?”

 

Tanpa disadari, air matanya menyeruak keluar dari rongga matanya. Ia menggenggam prakarya kelinci tersebut erat-erat. Tangan kirinya memegang kertas memo tersebut sambil bergetar.

Ia terisak. Bahunya bergetar hebat seolah-olah begitu banyak rasa sesak yang sedang dikeluarkan dari tubuhnya. Sebuah tangisan pilu penuh kesedihan. Minho menunduk dalam sambil menutup sebagian wajahnya.

Sosok yang kini ia tangisi hanya terdiam. Tak bersuara, apalagi tersenyum. Matanya tetap tertutup syahdu. Taemin tak menyadari jika keluarganya kini sedang bimbang. Antara mengharapkan kesadarannya kembali, atau merelakan ia pergi.

=-=-=-=-=-=-=

Kibum menuruni anak tangga perlahan. Kesadarannya belum benar-benar terkumpul. Namun, apa daya, ia telah berniat membuat sesuatu yang spesial untuk Ibunya di pagi hari ini.

Ia melirik jam bandul di ruang tengah. Masih pukul 04.45 KST. Di saat itulah ia menyadari ada sesuatu yang terjadi di rumahnya. Ia mencium aroma makanan yang sedikit familiar, namun ia tak tahu apa pastinya.

“Jangan-jangan…,”

Kibum segera berlari menuju dapur. Kesadarannya langsung terkumpul sempurna. Matanya membulat melihat Jinki tengah asyik mengaduk Kimchi stew yang baru saja ia angkat dari kompor. Merasa tengah diperhatikan, Jinki pun menoleh ke arah Kibum.

“Hai, kau sudah bangun ternyata,” sapa Jinki dengan wajah cerah.

“Err…ada yang masih bisa aku bantu, Hyung?” tanya Kibum. Ia merasa malu. Kibum yang punya rencana, tapi Hyung-nya lah yang mengerjakannya duluan. Bahkan rencana tersebut hampir rampung dilakukan oleh Jinki.

“Itu, kamu menyiapkan hidangan untuk diletakkan di atas meja saja. Mangkuk sama peralatan makan lainnya udah Hyung letakkan di dekat lemari sana. Tak keberatan ‘kan?”

“Tentu saja tidak, Hyung. Memangnya Hyung bangun jam berapa tadi?”

“Ah, Hyung tak sempat melirik jam tadi. Mungkin sekitar tiga puluh menit yang lalu. Haha,” jawab Jinki dengan senyum lebar. Sebenarnya ia sedikit berbohong karena sebenarnya ia tak sepicing pun tidur semalam karena sibuk mencari resep masakan di dunia maya.

“Oh… Oke. Nasinya sudah dimasak, Hyung?” tanya Kibum.

“Sudah, tinggal disajikan saja, kok.”

Setelah beberapa menit berlalu, mereka pun selesai menghidangkan makanan yang telah dipersiapkan untuk kedua orang tua mereka. Di saat yang bersamaan, orang tua mereka keluar kamar dan terperangah menyaksikan ruang makan yang telah terang benderang.

“Wah, ada apa ini?” tanya Nyonya Kim. Ia menatap berbagai hidangan dan 4 gelas susu hangat yang tersaji di atas meja makan.

“Selamat hari Ibu, Eomma!” koor Jinki dan Kibum bersemangat. Satu persatu mereka memeluk Ibu mereka hangat.

“Terima kasih, sayang,” balas Ibu mereka. Ia tersenyum bahagia, terharu.

“Selamat hari Ibu juga ya, Sayang. Terima kasih kau telah menjadi Ibu yang sukses mendidik anak-anak kita,” ucap Ayah mereka. Tak lupa ia mengecup pelan dahi istrinya, lalu memeluknya. Nyonya Kim membalasnya dengan senyuman yang cerah.

“Mari kita makan!” ujar Kibum. Ia menggeser kursi makan untuk Eommanya. Sementara Jinki menggeser kursi makan untuk Appanya.

Saat Nyonya Kim hendak membalikkan mangkuk, ia menemukan dua helai kertas kecil berisi tulisan tangan.

“Ini…dari kalian?” tanyanya. Jinki dan Kibum hanya tersenyum saling bertatapan.

Nyonya Kim membaca tulisan tersebut dengan seksama.

Teruntuk Eomma tersayang.

Terima kasih atas segala hal yang telah kau berikan untukku. Tak hingga jumlah dan rupanya. Kasih sayang yang begitu besar  serta didikan bijakmu telah membantuku menghadapi kehidupan yang sebenarnya. Maafkan bila aku belum bisa membalas jasamu, Eomma. Tetaplah menjadi Ibuku selamanya.

Aku bangga memilikimu.Sangat bangga.

-Kim Kibum-

Tak terasa air mata Nyonya Kim meleleh. Ia pun bergegas menghapusnya, lalu tersenyum. “Terima kasih, Kibum.”

Kibum yang sedang menyendok makanan tersenyum simpul. Ia merasa bahagia berhasil memberi sedikit hadiah pada Ibunya tersebut.

 

Untukmu, Eomma.

Tak terasa telah hampir 24 tahun engkau telah menjadi Eomma dalam hidupku. Walau bukan darahmu yang mengalir dalam tubuhku, namun kasih sayangmu begitu kental memberi kehidupan dalam jiwaku. Eomma telah memberikan segalanya tanpa pamrih untukku, dan tak peduli dengan statusku yang sebenarnya. Mungkin ini ucapan terima kasihku yang kesekian kalinya, namun kutahu, itu tak cukup menjadi balasan terhadap jasa yang telah kau berikan padaku.

Eomma, terima kasih atas segalanya. Maafkan jika aku belum bisa membalas semua yang telah kau berikan untukku. Aku dan Kibum mencintaimu selalu.

-Lee Jinki-

“Jinki…,” panggil Nyonya Kim tanpa mengalihkan pandangannya dari surat yang ditulis Jinki.

Jinki mengangkat wajahnya dan menatap Eomma-nya, “Iya Eomma?”

“Ada sesuatu yang ingin Eomma berikan padamu,” ujarnya sambil berdiri dari kursi makan, lalu berjalan menuju kamarnya. Tak lama kemudian, ia kembali lagi dengan secarik kertas di tangannya.

“Ini, nomor telepon Ibu kandungmu. Kamu hubungi hari ini, ya? Berikan ucapan terima kasihmu padanya,” kata Nyonya Kim. Matanya memandang wajah Jinki lekat-lekat.

Jinki terhening spontan. Ia merasakan sesuatu mengumpul di rongga dadanya, menyebabkan rasa sesak yang siap keluar saja melalui air mata. Kibum menatap Hyung-nya dalam diam dan penuh rasa pilu.

Jinki berbalik menatap Ayahnya. Tuan Lee menganggukkan kepalanya tenang.

“Dari mana Eomma mendapatkan nomor itu?” tanya Jinki. Ia berusaha tetap tenang.

Appa-mu yang berusaha keras mencari informasi mengenai keberadaan Eomma-mu sekarang. Maaf, kami tahu ini sudah sangat terlambat untuk mengungkapkan keberadaan Ibu kandungmu sekarang. Tapi kami telah berusaha keras mencari beliau. Kuharap kamu bisa menghubunginya hari ini ya, Sayang,” kata Nyonya Kim dengan nada memohon.

Jinki termenung. Ia mencoba mengingat kejadian yang menimpa dirinya sebelumnya.

Di ulang tahunnya yang ke-10, sang Ayah mengajaknya mengobrol serius di ruang tengah. Saat itulah ia mengetahui kalau Nyonya Kim bukanlah ibu kandungnya yang sebenarnya. Pantaslah ia selalu merasa canggung dengan Eomma-nya selama ini, begitu juga dengan adiknya, Kibum. Di saat itu jualah,, ia menemukan jawaban mengapa terdapat perbedaan marga di dalam keluarganya. Sang adik membawa marga ibunya, sedangkan ia menyandang marga dari ayah kandungnya. Begitulah keputusan yang dibuat oleh Tuan Lee untuk menghargai istrinya dan Kibum.

Namun sayang, Jinki tak menyimpan memori mengenai paras Ibunya, karena ia terpisah saat umurnya belum genap dua tahun. Ayahnya pun tak pernah memperlihatkan album kenangan yang setidaknya dapat membantu Jinki untuk membayangkan sosok Ibu kandungnya tersebut. Ayah dan Ibunya bercerai. Hakim memutuskan hak asuh jatuh di tangan Tuan Lee. Barulah beberapa bulan kemudian, ayahnya menikah dengan Nyonya Kim. Lalu lahirlah Kibum  yang memiliki selang umur 7 tahun dengannya.

“Ehrm…Ayo, dilanjutkan makannya,” ujar Kibum memecah keheningan dan kecanggungan yang tercipta di ruang makan. Lamunan Jinki pun berakhir. Ia menatap deretan angka beserta sebaris nama yang tertulis di kertas dalam genggamannya.

Lee Hwangmi

=-=-=-=-=-=-=

Jinki memasuki lift dengan langkah tak bersemangat. Pikirannya terlalu penuh oleh kilasan-kilasan memori di masa lalunya. Ditambah lagi kenyataan bahwa saat ini ia telah mendapatkan nomor Ibu kandungnya.

Hanya selangkah lagi, kau akan tahu segalanya, Jinki!

Ia bimbang, linglung. Antara siap dan tak siap akan kenyataan selanjutnya. Apa yang akan ia lakukan jika dia bertemu dengan Ibunya?

Hei, bisa jadi nomor ini tak aktif lagi.

Tangannya menimang-nimang ponsel lipat yang menampilkan deretan nomor Ibunya. Ia menatap angka-angka itu berulang kali, sampai layar tersebut berkedip tiba-tiba.

Dr. Shinwoo calling

Jinki langsung menekan tombol hijau, “Ya Shinwoo? Ada apa?”

“Jinki, kau di mana? Kami menunggu kamu dari tadi. Rapatnya sebentar lagi akan dimulai!”

“Ah..iya..iya.. Aku sudah di dalam lift. Dua menit lagi akan sampai,” jawab Jinki. Ia menatap jam tangannya sekilas. Ternyata ia telah terlambat 10 menit karena kejadian sewaktu sarapan pagi tadi. Di sepanjang perjalanan pun ia hanya sanggup melajukan mobilnya dengan di bawah 40 kilometer per jam karena berbagai hal yang berkecamuk di pikirannya.

“Baik, kami tunggu!”

Jinki menutup flip telepon genggamnya. Ia mengekspirasikan udara dari mulut yang lebih panjang dari biasanya. Berharap dengan begitu rasa sesak yang terkumpul di pikirannya bisa berkurang seketika.

Pintu lift terbuka. Ia menyampirkan tas ke bahu kirinya. Dengan setengah berlari ia bergegas menuju ruangan rapat yang telah direncanakan sebelumnya. Sesampainya di depan pintu, ia membenarkan letak kacamatanya, lalu membereskan poni yang menutupi sebagian dahinya.

“Permisi. Maaf, saya terlambat,” ujar Jinki sambil membuka pintu. Kemudian menutupnya dengan canggung. Ini kali pertama dia terlambat selama bekerja di rumah sakit ini.

Kepala ruangan ICU, sekaligus pimpinan rapat –lebih tepatnya diskusi- menyilakan Jinki duduk dengan menggerakkan tangan kanannya ke salah satu kursi kosong yang berada di sudut ruangan. Jinki bergegas menghampiri kursi tersebut. Belum sedetik badannya terduduk di kursi, Shinwoo langsung menyikutnya pelan.

“Demi apa kamu terlambat seperti ini?” tanya Shinwoo penasaran, “Tak biasanya.”

Jinki hanya membalas dengan senyuman kosong. Hanya sekadar basa-basi alih-alih tak mau menjawab pertanyaan Shinwoo. Shinwoo menyodorkan seberkas data kepada Jinki.

“Baiklah, kita lanjutkan diskusi kembali. Sesuai kesepakatan minggu lalu, pasien bernama Choi Taemin telah menjalani pemeriksaan akhir untuk menentukan tindakan apakah pasien tetap dirawat dalam ICU atau dipulangkan,” kata ketua diskusi, kepala ruangan ICU. Jinki mendengarkan dengan serius.

“Hasil pemeriksaan telah berada di hadapan kalian masing-masing. Jadi, keputusan akhir telah ditetapkan. Pasien Choi Taemin didiagnosa Brain Death et causa Epidural Hematoma. Pasien telah melakukan operasi dan menjalani perawatan selama dua minggu tujuh hari tanpa perkembangan yang berarti. Diduga telah terjadi kerusakan sel-sel otak yang cukup luas karena hematom tersebut. Dengan pertimbangan di atas, dan juga sesuai dengan ketentuan prosedur pelayanan perawatan ICU yang berlaku, maka pasien akan dicabut seluruh pengobatan dan dilakukan penghentian terapi serta dipulangkan kepada keluarga…”

“…Ada tanggapan dari peserta diskusi?”

Jinki menarik napas dalam. Ia menatap Shinwoo sekilas

“Tak apa-apa, Jinki,” ujar Shinwoo seolah-olah membalas tatapan Jinki.

Kepala ruangan ICU menganggap keseluruh peserta telah mengerti dengan penjelasan panjangnya tadi, “Baiklah kalau tidak ada tanggapan, berarti semuanya setuju. Dokter Jinki?” panggil ketua diskusi.

“Ya Dok?”

“Anda nanti yang akan ditugaskan untuk melakukan inform consent kepada keluarga pasien. Alat bantu akan dilepaskan nanti pukul 09.00 KST.  Mengerti?”

Jinki mengangguk takzim, “Mengerti, Dok.”

“Baiklah, dengan ini diskusi ditutup.”

=-=-=-=-=-=-=

Jinki berjalan melewati lorong tempat ruangan perawat berada. Hari ini ia tidak mendapatkan tugas jaga di IGD rumah sakit. Setelah ia mengganti pakaiannya dengan baju jaga, satu stel baju berbahan katun ringan berwarna biru gelap lengan pendek,  ia pun mengambil tempat di salah satu kursi yang tersedia di sana. Ia memilih untuk menyendiri sambil menatap pemandangan luar melewati jendela rumah sakit.

Tiba-tiba hatinya tergerak untuk melihat deretan nomor Ibunya kembali. Tangannya berusaha mengambil ponsel yang tersimpan di saku jas putihnya. Ia pun membuka flip ponsel dan mencari nomor tersebut.

Kenapa tak kau coba telepon beliau sekarang, Jinki?

Jinki merasa heran dengan dirinya sendiri. Entah kenapa ia menjadi tak sabar mendengar suara ibu kandungnya –itupun jika nomor hasil pencarian ayah tersebut tepat dan benar.

Jinki menggenggam ponsel tersebut lebih erat dari pada biasanya. Jantungnya berdegup kencang. Kuatkah ia saat mendengar suara ibu kandungnya nanti?

=-=-=-=-=-=-=

Minho baru saja selesai merapikan diri di kamar penginapan keluarga pasien yang letaknya berseberangan dengan gedung utama rumah sakit. Ia menunggu ibunya yang juga sedang bersiap-siap untuk pergi menuju ruang rawat Taemin.

“Yuk, Eomma.”

Ia merangkul bahu Ibunya dengan lembut. Setelahnya, mereka berjalan menuju gedung utama tempat ICU berada. Tempat tubuh Taemin berisitirahat di sana.

Tak lama, ia sampai ke ruangan perawat. Ruang perawat tersebut terdiri dari ruangan lepas dengan meja panjang yang melengkung membentuk huruf L. Di sanalah keluarga pasien akan melapor kepada perawat ruangan ICU dan meminta tolong kepada mereka. Misalnya, meminta baju steril, registrasi pasien masuk dan keluar, menemui dokter ruangan ICU, dan sebagainya.

Salah seorang perawat yang telah hapal dengan keluarga Taemin pun bergegas menghampiri mereka.

“Keluarga Choi Taemin?”

“Iya, Suster. Benarkah hasil pemeriksaan Taemin akan keluar hari ini?” tanya Nyonya Lee. Minho menunggu jawaban sang perawat dengan degupan jantung yang lebih hebat dibanding biasanya.

“Benar, Nyonya. Nanti dokter Jinki akan berbicara langsung dengan anda. Mohon tunggu sebentar lagi, beliau sedang bersiap-siap.”

Nyonya Lee mengangguk. Hatinya sudah mantap akan tetap teguh apapun hasilnya nanti. Tak boleh ada penyesalan dan kesedihan yang terlalu mendalam jika hasilnya yang disampaikan nanti tidak sesuai harapannya.

Sementara Minho mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi ruang perawat. Di sana ia menemukan sosok Jinki yang sedang duduk menatap keluar jendela. Tampaknya ia sedang menelepon seseorang, pikirnya.

Drrt…drrt..

Ponsel Nyonya Lee berdering. Dengan tenang Nyonya Lee mengambil ponselnya yang berada di dalam tas tangannya. Sederet nomor yang tak dikenal menghubunginya. Ia pun mengangkat telepon tersebut tanpa mengubah posisinya sekarang. Minho melirik Ibunya sekilas.

Yoboseyo?”

Tak ada jawaban.

“Siapa ini?” ulang Nyonya Lee kembali.

Entah kenapa, Minho menemukan ketidakberesan di sana.

“Maaf Dok, keluarga pasien Choi Taemin sudah datang,” jawab perawat yang menemui keluarga Taemin sebelumnya.

Jinki memutar badannya ke arah meja pembatas ruangan perawat alih-alih untuk memastikan keberadaan keluarga Taemin tersebut. Ia pun menangkap sosok Nyonya Lee yang sedang menelepon seperti dirinya.

Jangan-jangan…

“Apakah ini benar nomor Lee Hwangmi?” tanya Jinki perlahan. Ia mengabaikan perkataan perawat barusan. Matanya terfokus dengan Nyonya Lee yang menampilkan raut wajah kebingungan.

Ya benar, ini siapa?” jawab seseorang di seberang.

Tepat! Tepat sekali Jinki!

 Kau tak hanya tahu suara Ibumu, tapi juga wajah Ibumu sekarang!

Itulah suara pekikan hatinya sekarang. Sekujur tubuhnya bergetar karena pekikan tersebut. Napasnya memburu. Setidaknya itulah yang ia rasakan saat mendapati gerakan mulut Nyonya Lee di seberang meja sana sama dengan suara yang ia dengar dari speaker ponselnya kini menempel di telinganya.

Segera ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan pelan menuju meja pembatas tersebut. Manik matanya menyiratkan bahagia. Benar, ia bahagia tak terkira saat ini. Kedua matanya tak lepas dari wajah Nyonya Lee untuk memastikan bahwa dugaannya tak salah.

Si perawat hanya memperhatikannya dengan tatapan heran.

Minho menatap Ibunya, lalu menatap dokter Jinki yang juga menatap Ibunya, saling bergantian. Benar-benar aneh. Ribuan pertanyaan menyergapnya tiba-tiba.

Apakah dokter Jinki yang menelepon Eomma saat ini? Tapi untuk apa?

Nyonya Lee kebingungan. Siapa penelepon ini sebenarnya?

“Ini siapa?” tanya Nyonya Lee kembali. Ia pun membalikkan badannya agar ia dapat berkonsentrasi dengan teleponnya saat ini.

Minho melihat dokter Jinki semakin mendekat ke arah mereka, namun tanpa menurunkan ponsel dari telinganya. Yang anehnya lagi, ia tersenyum lebar ke arah Ibunya yang kini berdiri membelakangi meja pembatas.

Eomma, apa dokter Jinki yang menghubungi Eomma saat ini?” tanya Minho sambil menatap Ibunya, lalu berbalik melayangkan tatapan ke arah Jinki sambil menyiratkan raut wajah risih.

“Dokter Jinki?” ulang Ibunya terheran karena ucapan Minho. Ia memutar badannya kembali.

Saat itulah ia menangkap sosok dokter Jinki, dokter yang merawat Taemin, berdiri di hadapannya sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang tak dapat diartikan oleh dirinya saat ini.

“Saya Lee Jinki. Anak dari Lee Hwangmi dan Lee Donghwa. Apakah Eomma mengenalnya?” Akhirnya si penelepon – dengan kata lain dokter Jinki – tersebut bersuara kembali.

Nyonya Lee terhening seketika. Ia merasakan ribuan sentakan kekagetan menyerbu badannya. Suara yang ia dengar lewat ponselnya persis dengan suara yang ia tangkap dari mulut dokter Jinki yang berdiri di seberang meja di hadapannya. Dan…

Lee Donghwa?

Tiba-tiba sekelebat memori masa lalu terlintas di dalam pikirannya. Deretan flashback berputar silih berganti sampai akhirnya terhenti ketika menampilkan seorang sosok.

Sosok yang pernah bersamanya 25 tahun yang lalu.

Apakah Lee Jinki di depanku saat ini…anakku?

Benar-benar anakku?

Tut..tut..tut..tut..

——————-

Jinki menutup flip ponselnya. Dengan begitu sambungan telepon tersebut terputus. Dirinya dengan jelas menangkap manik mata Nyonya Lee yang kini menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Jinki merasa sebaiknya ia memberikan waktu kepada Lee Hwangmi, Ibu kandung menurut dugaannya sementara ini, untuk mencoba mengingat-ingat kembali masa lalunya dengan jalan mengakhiri panggilan telepon tersebut.

Eomma, apa maksud semua ini?” tanya Minho sambil memegang bahu Ibunya. Nyonya Lee hanya terdiam membeku sambil menatap dokter Jinki tanpa kedip.

“Lee Jinki?” gumam Ibunya pelan. Matanya mulai memanas menahan rasa sesak di rongga dadanya. Sesak yang kini diartikannya sebagai rasa bahagia, sekaligus penyesalan tiada kira.

Jinki hanya mendehem berat. Ia berbalik berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil seberkas data di sana. Lalu ia keluar dari ruangan perawat melewati pintu kecil di ujung meja. Sampai akhirnya ia berdiri berhadapan dengan Nyonya Lee dan Choi Minho yang menatapnya dengan wajah kebingungan meminta kepastian.

“Mari ikut saya ke ruangan di sebelah sana,” pinta Jinki kepada kedua orang tersebut. Ia menggunakan karakter dokternya kembali. Wajahnya kembali seperti semula seolah-olah tak terjadi apa-apa sebelumnya.

“Dokter Jinki, apa maksud ke semua ini?!” bentak Minho tak sabar. Nyonya Lee tiba-tiba menunduk. Sebulir air mata keluar dari tempat persembunyiannya.

Jinki tetap tersenyum seakan-akan tak peduli. Tangannya memberi isyarat menunjuk ke arah pintu ruangan yang akan ia tuju.

“Nanti akan saya jelaskan di dalam ruangan.”

=-=-=-=-=-=-=

Jinki menarik gagang pintu ruangan inform consent. Di ruangan inilah seluruh proses inform consent dilakukan. Inform consent tersebut bertujuan agar keluarga tahu akan tindakan yang akan dilakukan, dengan kata lain, dokter akan menjelaskan kondisi pasien dan kemungkinan tindakan yang diberikan. Di sanalah keluarga pasien akan menandatangani surat persetujuan tindakan. Dan bagi dokter, persetujuan tersebut berarti beban tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Dengan kata lain, jika terjadi sesuatu pada pasien, maka salah satu bukti yang diperlukan untuk penyidikan adalah inform consent tersebut.

Ruangan kecil ini hanya berukuran 2 x 2 meter. Di dalamnya terdapat dua kursi untuk keluarga pasien, satu kursi untuk dokter, sebuah meja, dan sebuah papan tulis yang berguna untuk memudahkan dokter memberi penjelasan mengenai kondisi pasien.

Di ruangan inilah, sebuah misteri akan dipecahkan.

Jinki mempersilakan Nyonya Lee dan Minho untuk duduk. Minho tanpa henti mengarahkan tatapan tajam kepada Jinki sambil mengiringi Nyonya Lee ke kursi.

“Baiklah, semuanya sudah tenang. Saya akan menjelaskan semuanya. Sebelumnya, saya mohon maaf karena telah membuat sedikit kekacauan,” ujar Jinki hormat.

“Langsung saja, Dok!” balas Minho dingin. Nyonya Lee menggenggam lengan Minho seolah-olah menyuruh Minho untuk lebih sopan.

“Baiklah, tapi sebelumnya, saya minta anda tidak memotong penjelasan saya nanti. Bagaimana pun tidak masuk akalnya penjelasan yang akan saya sampaikan nanti kepada anda, saya harap anda menyimpan keterkejutan anda dahulu. Begitu juga jika nanti ada pertanyaan sehubungan dengan penjelasan saya nanti. Paham?”

Minho terdiam sesaat untuk mencerna kata-kata Jinki barusan, “Oke, tak masalah.”

Jinki menarik napas dalam. Ia pun melepaskan kacamatanya dan meletakkannya di atas meja. Otot-otot tubuhnya terasa menegang saat ini.

Sedikit lagi. Ya, hanya sedikit lagi.

“Saya mendapatkan nomor Eomma dari Appa saya, Lee Donghwa, tadi pagi. Ia telah berusaha keras mencari keberadaanmu, Eomma. Dan akhirnya, saya mendapatkan nomor tersebut dari tangannya,” ujar Jinki memberi penjelasan.

Nyonya Lee masih terdiam. Jinki pun melanjutkan perkataannya kembali.

“Apakah Lee Hwangmi yang dimaksudkan Appa adalah Eomma?” tanya Jinki perlahan, seolah-olah berusaha memasukkan pertanyaan tersebut ke relung hati Nyonya Lee yang wajahnya masih tertunduk saat ini.

Tangisan Nyonya Lee akhirnya pecah. Ia menangis tersedu-sedu. Ia memahami benar pertanyaan yang baru saja Jinki lontarkan padanya.

Memang benar, dialah ibu kandung Jinki, yang sudah berpisah dengannya selama hampir 24 tahun.

Ia menyesal. Ia merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia menghilang, menikah dengan orang lain, dan tanpa sedikitpun berusaha untuk mencari tahu kondisi anak pertamanya? Begitu pengecutkah ia selama ini, tak ingin bertemu dengan anaknya? Walau terkadang rasa penasaran akan anak pertamanya menyelimuti dirinya?

Kini, anaknya lah yang bertemu mencarinya. Dan yang paling memalukan, dengan bantuan mantan suaminya.

Tangisan penyesalan Nyonya Lee semakin deras. Minho mengurut bahu Ibunya untuk memberikan rasa nyaman dan menenangkan Ibunya.

“Maafkan Eomma, Jinki-ya…,” lirih Nyonya Lee di sela tangisnya. Jinki hanya menatap Ibu kandungnya sambil tersenyum.

“Tak ada yang perlu dimaafkan, Eomma. Tak ada yang patut untuk disalahkan di sini. Aku tetap merasa bahagia meski diasuh dengan Ibu tiriku, istri baru Appa. Aku juga masih dapat merasakan kehangatan keluarga, ditambah lagi dengan adanya Kibum. Kesemua itu sudah cukup lengkap, Eomma,” ujar Jinki tenang.

“Dan sekarang, Aku telah menemukan Eomma. Sungguh, tak terbayangkan rasa ini sebelumnya, Eomma. Benar-benar bahagia. Aku bersyukur saat menemukan fakta ini, hatiku tak menolaknya. Aku menerimanya, tanpa ada rasa kesal sedikitpun. Karena Eomma juga berpisah dengan cara baik-baik, kan?”

Nyonya Lee masih terisak. Namun Jinki tampaknya tak ingin berusaha menghentikan tangisan Ibunya. Ia menganggap, biarlah rasa sesak dan penyesalan yang dirasakan Ibunya keluar melalui air mata itu. Sampai akhirnya emosi Ibunya kembali stabil, dan tangisan pun akan mereda dengan sendirinya.

“Bagaimana keadaanmu, Nak?” tanya Nyonya Lee saat ia mulai merasa tenang.

Jinki memajukan badannya ke depan, “Seperti yang Eomma lihat saat ini. Tampak bahagia, bukan?”

Jinki tak henti-hentinya tersenyum kepada Ibunya. Hal itu membuat Ibunya merasa lebih baik. Nyonya Lee pun ikut tersenyum.

Di saat yang sama, Minho, yang kini duduk di sebelah kiri Ibunya terdiam. Perasaannya campur aduk, begitu juga dengan pikirannya. Banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada Jinki dan Eommanya sekarang, tapi ia pikir biarlah momen ini khusus untuk mereka berdua. Biarlah ia di sini hanya bertindak sebagai penonton saja.

Jinki melirik jam tangannya. 15 menit lagi menuju jam 09.00 KST. Waktu untuk inform consent sebentar lagi akan berakhir. Ah, untuk pertama kalinya ia merasa kesal dengan waktu, mengapa terlalu cepat berlalu? Bisakah rasa bahagia yang ia rasakan kini berlangsung lebih lama?

Eomma, ada lagi pertanyaan yang akan disampaikan?” tanya Jinki penuh hormat.

“Biar kita lanjutkan nanti, Jinki-ya. Ehm, sekarang bagaimana keputusan mengenai adikmu?” tanya Nyonya Lee sambil menyimpan saputangan yang ia pakai untuk menghapus air matanya ke dalam tas kembali.

Adikmu?

Ya, Jinki tak salah dengar. Ia baru saja mendengar kata Adikmu dari mulut Ibu kandungnya. Ketakutan segera menyergap dirinya.

Adikku? Ah, Taemin telah menjadi adikku mulai sekarang. Tapi…

Jinki merasa menyesal. Kenapa ia tak mengetahui keberadaan Ibunya lebih cepat? Setidaknya ia masih sempat menghabiskan waktu bersama Taemin, adik seibunya. Paling tidak ia bisa menyampaikan fakta kalau Taemin masih memiliki saudara lain, yaitu dirinya.

Jinki menarik napas dalam. Ia memakai kacamatanya kembali. Kemudian, ia membuka berkas-berkas hasil pemeriksaan adiknya kemarin. Kali ini, ia harus kuat menyampaikan semuanya.

“Choi Taemin tetap tak menujukkan perkembangan yang berarti, Eomma. Seluruh pemeriksaan menujukkan telah terjadi mati otak pada Taemin. Aku tahu ini begitu berat, Eomma, tapi sesuai perjanjian kita minggu lalu, hari ini jatuh tenggat waktu kompensasi yang diberikan oleh rumah sakit pada Taemin. Rumah sakit telah memberikan kesempatan seminggu kepada Taemin untuk menunjukkan keajaibannya. Tapi sampai detik ini tak ada, Eomma. Malah fungsi organ lain pun ikut menurun. Aku juga berharap bisa memberikan waktu lebih kepada Taemin untuk bertahan dengan alat-alat tersebut. Berharap ia dapat sadar dan aku bisa menemuinya dan berbincang dengannya. Tapi, kesemua ini ada akhir, Eomma.

Dengan berat hati, kami akan melepaskan alat bantu penopang tubuh Taemin serta melakukan penghentian terapi pada Taemin. Ini surat pernyataannya. Apakah Eomma bersedia?” tanya Jinki dengan wajah muram. Ia benar-benar tak tahan harus menjalani perannya sebagai dokter di saat seperti ini. Ia merasa ingin untuk berada di posisi keluarga pasien dan berharap untuk menolak permintaan dari rumah sakit. Ia berharap agar dapat menyobek kertas pernyataan ini dan memohon-mohon kepada pihak rumah sakit.

Seandainya ia bisa masa bodoh dengan profesi yang menjadi amanahnya saat ini.

“Bersedia.”

Jinki terhenyak. Jawaban tadi benar-benar berasal dari Ibunya. Dan, ia dapat memastikan bahwa saat ini Ibunya tak menangis sedikit pun.

Bagaimana bisa Ibunya setegar ini?

“Kami telah melepaskannya, Jinki. Berbuatlah sesuai ilmu yang kamu punya. Eomma beserta adikmu ini, Minho, bersedia akan pernyataan ini,” jawab Ibunya tenang, walau dari sorot matanya, Jinki masih bisa merasakan rasa sedih yang mendalam atas kenyataan ini.

Jinki beralih menatap Minho. Minho dengan tenang memberikan anggukan kecil kepadanya. Jinki mau tak mau merelakan Ibunya untuk menandatangani inform consent ini.

Ia pun menyodorkan sebuah pena kepada Ibunya. Tanpa menunggu waktu yang lama, surat itu ditandatangani oleh Ibunya. Ia mengambil surat itu dan membacanya sekilas. Lalu surat itu ia masukkan kembali ke dalam sebuah map yang ia bawa tadi.

“Baiklah, dengan ini inform consent selesai dilakukan,” tutup Jinki.

“Kami masih bisa menyaksikan Taemin di saat-saat terakhirnya kan?” tanya Minho.

“Tentu saja bisa, Minho,” jawab Jinki sambil berdiri dari kursinya. Nyonya Lee dan Minho pun ikut berdiri. Namun sesaat kemudian, gerakan Jinki terhenti.

Ia menatap Ibunya kembali. Lalu sebaris pertanyaan ia lontarkan pada Ibunya.

“Bolehkah aku memelukmu, Eomma?” tanya Jinki.

Nyonya Lee membalasnya dengan senyuman haru. Matanya kembali berkaca-kaca, “Tentu saja, Jinki-ya!”

Jinki langsung menghamburkan dirinya ke pelukan Ibunya. Pelukan pertama setelah sekian lama ia berpisah. Dan kini, pertahanan dirinya pun runtuh. Ia tak dapat menolak perasaan anak yang sebenarnya pada Ibunya.

Jinki menangis terisak sambil mendekap Ibunya hangat.

“Aku merindukanmu selama ini, Eomma. Tetaplah berada di sisiku,” bisik Jinki di tengah-tengah tangisannya. Ibunya menganggukkan kepalanya semangat. Tangannya mengelus rambut Jinki dengan penuh kasih sayang.

Minho pun ikut berkaca-kaca menyaksikan Hyung-nya memeluk tubuh Ibunya. Ia pun memilih untuk keluar dan menunggu di luar ruangan.

=====Cor Tangite=====

To be continued

 

Author’s note :

Hanya sekadar sharing info untuk marga di Korea.

http://en.wikipedia.org/wiki/Korean_name

http://en.wikipedia.org/wiki/Married_and_maiden_names#Korea

Perihal masa lalu Jinki dan Kibum agak ribet, jadi mohon maaf kalau di sini ada ketidaklogisan mengenai marga. Aku sendiri antara rela dan tak rela mengubah marga asli mereka untuk kepentingan cerita ini .-. Untuk Taemin, dengan berat hati *?* aku menukar marganya menjadi Choi; dan Kibum tetap bermarga Kim, walaupun sebenarnya itu menyalahi aturan pemargaan di Korea =_=v

Semoga pembaca di sini bisa tetap menikmati cerita ini ya *bowing*. Kamsahamnida ^.^/ !!!

//

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

42 thoughts on “[FF PARTY 2012] Cor Tangite – Part 2”

  1. Ya ampun Dhila-ssi, mulai dari Jinki nelpon Eomma-nya saya mewek, hiks..hiks..
    Ternyata Taemin adik seibu Jinki, dan nama Choi Taemin itu karena ikut marga suami kedua Eomma-nya.. Gitu ya?
    Jadi main cast dan support cast di ff ini bersaudara ya.. hmmm, ngerti deh saya.. Ok Dhila-ssi, ditunggu part selanjutnya.. 🙂

    1. hehe..benarkah? maap kak jadi bikin mewek siang2 gini…hehe…tpi la seneng dengernya *?*. soalnya la takut deskripsi pas si Jinki nelpon ibunya itu membingungkan dan gak ngena ke pembaca..hehee..syukurlaah 😀
      iya, persis kak, pas! soalnya marga anak ngikutin ayah, dan Taemin lahir setelah perkawinan Nyonya Lee dgn suami barunya yg marganya Choi. bgitulah.. 😀

      Iyaa…makanya hubungan di antara mereka dibikin kompleks bgini. syukurlah gak bikin kakak bingung..hehehee…

      Siip..sila ditunggu ya kaak! Terimakasih banyak udah baca n komen di part ini ^o^/

  2. Nah itu, ttg marganya Kibum. Pas mau tanya, eh, tnyta udh dibahas sm Dilla di Author’s Note.
    😉
    Masa perawatannya typo ya, 2 minggu 7 hari. Harusnya 2 bulan 7 hari kan yah?

    Pas baca sub judulnya= Reunion. Eonni malah kepikiran kalo Taemin sadar. Kkk

    hmm,, sedih pas pertemuan Jinki oppa+eommanya,
    T.T
    Tp sdkit bingung juga. Knp manggil ibunya Taemin dg ny. Lee? Kan udh nikah sm Tn. Choi. Otomatis marganya berubah kan?
    Ato begimana ya Dilla?
    Eh, mian sok tau..
    ^^V

    Btw, Cor Tangite bhs mana ya?n artinya apa? Mungkinkah Cor artinya jantung?

  3. Ah, salah ketik nama. Mianhae Dhila…^^V

    dan masalah marga Ny. Lee itu, tnyta gak diganti ya menurut Wikipedia. Hehe. Ketauan baru buka stlh komen. *peace
    Abisnya kalo baca di FF biasanya begitu nikah, marga istrinya ikut suami.

    Jeongmal Mianhae, Dhila..
    Keep writing..

    1. Dhila-dilla-dila gakpapa kok..sama aja..hahaha..xD

      hehe iyaa..la lampirkan di author note, soalnya takut klo cuma baca penjelasan yg diutarakan pas bagian si Jinki nerima nomor ibunya itu kurang bisa dimengerti. hehe…

      eh? iya yaa..aduuh #tepokjidat. makasi ya kak buat koreksinya. mga2 di part brikutnya gak salah ketik, soalnya gak bisa di edit juga kan.. =___=”
      haha, iya, judulnya sedikit mengecoh pembaca..#eh. reunionnya cuma buat jinki-eommanya doang..xD

      haha, gak papa kok kaak 😀 Dila awalnya juga sepikiran sama kakak, marga istri ngikutin suami. Setelah nanya2 plus nyari di internet, baru la tau klo yang bener itu marga istri di korea nggak berubah setelah nikah. Semoga aja yang baca cerita ini bisa ngubah presepsi mereka yg selama ini salah tentang marga korea ini 😀

      iya kak..cor artinya jantung/heart. arti judulnya udah dicantumin di atas, Heart String / String of Heart. 😀

      Makasi banyak ya kak DK udah nyempatin baca n ngasih kritik di part ini. Silakan tunggu part berikutnya ya ^o^/

  4. Huwa.. Aku nangis terus slama baca ff ini.. Nangis gara2 taemin habis harapan hidupnya.. Nangis pas momen jinki ketemu eommanya.. Aku udah ngira kalo ny.lee itu eomma jinki.. Dan trakhir gara2 dhila-ssi motong cerita saat hampir puncak..
    Huweee..
    Next..

    1. huwaa, maap yaa bikin siang2nya mewek begini =___=” #sodorintisu
      Mari kita relakan Taemin pergi ya untuk saat ini *?*/
      Hehe, kece nih Hyora udah bisa nebak duluan. haha.. Awalnya aku bingung gmna caranya biar bisa bikin reader deg2an pas Jinki ketemu eommanya, apalagi kalo udah bisa nebak dari awal kan? hehee.. Trnyata malah bisa bikin nangis..huwa..aku terharu :”D
      #plakk

      hehe, mianhae..awalnya nggak bakal nge-PHPin reader dg nambahin kelanjutan part 3 ke sini, tapi berhubung lewat batas maksimal, dengan terpaksa aku ngegantungin nasib Taemin..xD #plakk

      Sipp, silakan ditunggu yaa.. Makasi banyak Hyora udah baca n komen part ini ^o^/

  5. Baca bagian awal, sedih banget karena tetem harus mati di FF ini.

    Bagian tengahnya, ikut tebak-tebak tidak berhadian tentang ibu kandung jinki. Eh, pas keluar nama ‘Lee hwangmi’. #ting# bohlam 5 watt keluar dari ubun2. “Ah… Tuhkan Ny. Lee ibunya Jinki,”pekikku #reader-gag-waras?

    Bagian akhir. Walaupun taem tiada, setidaknya ada jinki untuk menghibur hati Ny. Lee

    hiks… T.T #terharu
    jjang author #ngelap-airmata

    1. Ey…?
      Komen ttg bagian akhir di ralat. Aku baru nyadar tulisannya ‘to be continued’, berarti ada part selajutnya. Yatta…. Masih ada harapan.

      Semoga taem dapat ke ajaiban biar bisa ngumpul sama hyeonhdeul, dan eommanya. Amiin
      hehe

    2. aku ngakak baca komenmu, Chanyeon..xD
      haha, iyaa…aku kasih clue di sana. Si Jinki nya aja yang gak nyadar. hahaa.. mgkn karena dia mikir Lee Hwangmi di korsel banyak kali ya, jdi dia gak mikir ke sana..XD
      #plakk

      haha, okee..aku skip kok komennya *?*
      to be continued-nya nyungsep di pojokan..xD. Semoga masih ada harapan yaa..kita do’akan saja.. 😀

      Okedeh..silakan tunggu yaa. Makasi loh Chanyeon udah baca n komen di part ini ^o^/

  6. yaaah…q telat baca’a nih eonni…sedih eon q sampe nangis…huhuhuuu…:'(
    q suka eon crita’a…bnyak tentang medis’a…
    ayo eon bkin lg yg kyak gini…q tunggu loh karya berikut’a…
    fighting!!!

    1. cupcup..ya ampuun.aku bner2 gak nyangka bisa bikin nangis reader begini..ehehe.. #garuk2kepala. Maaf ya Jenny… #sodorintisu

      ehehe, karya berikutnya? mga2 sempet bikin ff lagi ya.. apalagi yg tema begini bner2 nguras keringat banget #halah
      semangaaat!!!

      silakan tunggu part berikutnya ya Jenn, makasi banyak udah baca n komen di part ini 😀

  7. aihh.. ceritanya makin gak terduga ya. aku kira eomma kandungnnya jinki itu siapa. taunya eomma minho ama taem juga toh. hehehehe.

  8. aihh.. ceritanya makin gak terduga ya. aku kira eomma kandungnnya jinki itu siapa. taunya eomma minho ama taem juga toh. hehehehe. bagus bagus. feelnya dapet bgt. aku suka^^

    1. haha, iyaa..inti ceritanya malah mulai di part ini dan part depan…:D
      iya, eomma taemin dan Jinki sama, ntar ada penjelasannya di part berikutnya..hehehee…
      syukurlah klo anggie suka. makasi banyak yaa udah nyempatin diri baca n komen part ini ^o^/

  9. aigo~ ceritanya bagus.. aku suka
    gimana yha bilangnya?!
    sebenarnya sempat bingung di awal,,, tp selesai baca br ngeri #lola
    ceritanya bagus banget, aksampe di ketawain sama kakak gara2 nangis baca ini.. bener2 terharu,

    tetep semangat lanjutin ceritanya yha thor,, PYONG!

    1. aah, syukurlah kalo suka 😀 #terharu
      eh, bingung bagian mana? masih bisa nyambung kan ya? wkwk..ntar klo ada yg bingung lagi tnya langsung aja ya 😀
      huwaa, kakaknya baca juga nggak? #plakk. aigoo..#sodorintisu. maaf ya udah bikin dirimu nangis..hehehe.. #garuk2pala

      sipsip, udah selesai dikirim kok, mga2 part brikutnya gak mengecewakan yaa…
      makasi Okta udah baca n komen di part ini ^o^/

  10. Wah, jd baju yg biasa dipake k ruang ugd it namany baju steril ya. Baru tau saya haha
    Alamak ini sedih banget tauk. Pas bagian ibu Tetem udah nyerah dn udah mau ngikhlasin anakny, saya jd nyesek sendiri. Kebayang kalo nanti sy jd ibu n ad d posisi si eomma, hm.
    Tp soal brain death, boleh nanya sedikit kan? Saya penasaran, soalny sy pernah baca kasus orang yg terbaring d rumah sakit brtahun” lamany bru sadar. Nah, jd kasus semacam it jg masuk kategori brain death jg ya? Hm
    Berasa aneh jg Jinki langsung menerima keberadaan si eomma yg udah ninggalin dy bertahun”, gak ada rasa benci sedikt pun. Kalo emang ad lelaki yg pure sampe segituny, kalo sj kamu mengenal lelaki dgn karakter smacam ini, inginkah kamu mengenalkanny pada sy Dila? #outoftopic #abaikan
    Bersambung ya? Sy curiga Tetem bakalan bangkit (?) nantiny. Haha
    Next laah~

    1. hai kak boram! ^o^/

      ICU maksudnya mgkn kak? O.O kalau setau dila sih ke ruang UGD gak pake baju steril kak, soalnya kan sifatnya darurat, jdi biasanya keluarga pasien bisa masuk aja ke dalam. tapi, kalau petugas ingin tak ada gangguan saat si korban ditatalaksana, dia bisa meminta keluarga korban keluar sebentar atau melihat dari jendela. tergantung rumah sakitnya netapin peraturan kak. 😀
      yg biasa pake baju steril itu setau la di ICU, soalnya di ICU itu banyak alat2 yang sifatnya invasif (masuk ke dalam tubuh pasien), contohnya alat bantu napas. nah, alat2 kayak gitu rentan terkena kuman, terutama yg dibawa masuk dari luar. angka infeksi karena perawatan di ICU dulunya juga cukup tinggi, makanya pengunjung sama petugas diminta pakai baju steril yang tersedia. Dan itu semua trgantung rumah sakitnya juga netapin peraturan gimana. standarnya sih gitu 😀
      mungkin begitu kak, nama aslinya la gak tau juga. lebih kurang baju steril lah yaa.. #plakk ntar dicari lagi deh 😀

      hehe, iyaa..la aja miris banget nulis bagian ibunya ngikhlasin itu. ampe bingung pake kata2 apa buat nulisnya .____.”

      menurut la, kalau masalah yg itu lebih ke arah koma atau mungkin keadaan vegetatif kak.
      tingkat ketidaksadaran / “mati” itu sbnrnya cukup banyak macamnya. di sini la make mati serebral di awal, trus pas dilakukan pemeriksaan tiap siklus (per tiga hari misalnya), hasil akhirnya didapatkan Taemin udah mati batang otak. begitulah kira2 kak ._. la cuma tau teori doang, klo di kehidupan nyata gatau pasti juga kak, hehehe, belum ada pengalaman di sana soalnya ._.
      kalau mau baca lebih lanjut, silakan : http://hnz11.wordpress.com/2009/06/04/mati-koma-danvegetative-state/ ,http://karikaturijo.blogspot.com/2010/04/tes-diagnosis-mati-batang-otak.html

      haha, sbnrnya pengen juga sih dibikin si Jinki kesel gitu ke Eommanya #anakdurhaka tapi krna la males bikin intrik ibu anak dan pusat ceritanya juga gak di sana, makanya dibikin mulus aja *?*. Jadi si Jinki itu malah seneng bertubi2 ketemu emaknya, itu harapan terbesarnya #ceilee..
      okee, ntar la kenalin ke kakak deh..hahaha…xDDD

      iyaa, bakaln bangkit gak yaa~~?
      siplaah, sila ditunggu ya kaak. makasi banyak ya kak Boram udah baca n komen di part ini ^o^/

    2. eh, commentnya masih awaiting moderation kak… mgkn krna la masukin link kali ya…
      klo kk mau baca n cek langsung ke bagian komen gak papa, hehe.. #bowing
      makasi udah baca n komen ya kak ^o^/

  11. Halo, aku datang lagii (dan mungkin akan terus datang karena sudah di rumah. Phew)

    Cuma sedikit koreksi nih. Hari Ibu di Korea nggak jatuh pada tanggal 22 Desember. Seingetku nih, dulu aku pernah baca Hari Ibu disana kalo nggak salah pas musim panas, entah itu pertengahan bulan Mei atau kapan (aku lupa, haha). Dan lagi, itu beneran Taemin nggak bisa bangun lagi? Kamu tega? *berkaca-kaca*

    Masih penasaran apa yang dimaksud String of Heart. Pingin tau lanjutannya nih :3

    1. aah, silakan masuuk! #mataberbinar2
      emang sblumnya dirimu ga dirumah ya? O.O waah, seneng deh klo gitu…hihihi

      naah, itu sbnrnya udah jadi bahan rundingan ama pikiranku sendiri, Zaky *?*. aku juga mikir di korea pasti hari ibu buat mereka ada juga dan bukan di tgl 22 Des. Krna aku pengen masukin unsur hari ibu ke sini, makanya aku bikin seolah2 di sana hari ibunya juga 22 Des. Aah, bner2 gak enak sama orang korea jadinya #bowing
      Anggap aja ceritaku ini berlangsung di korea tapi citarasa indonesia yaa.. #plakk. Makasi buat koreksinya, Zaky ^o^/

      Hikz, ya nggak lah Zaky..aku liat Taemin manly aja gak tega, apalagi dibikin koma begini #eh. Semoga ada keajaiban di part berikutnya yaa..#kode

      Naah, inti cerita kedua ada di part berikutnya. di situ mungkin bakal nemu String of Heart di cerita ini..wkwkwkwk

      sila tunggu ya Zaky~ makasi loh udah baca n komen di part ini ^o^/

  12. Huhuhu menyedihkan, berikan TaeMin keajaiban agar dia boleh hidup. (っ‾̣̣̣﹏‾̣̣̣)っ
    JinKi dan ibu kandungnya bertemu dengan bahagia, walaupun adik bungsunya dalam keadaan miris (ʃ˘̩̩̩╭╮˘̩̩ƪ)

  13. aku dah tebak itu ibunya jinki loh. dan ternyata gaya bahasanya dhila itu rada beda ya sama kebanyakan orang. tapi itu… kata ‘menyilakan’ apa mksudnya ‘mempersilakan’? dan dan ada kata sifat ‘berlian’ bukannya ‘brilian’. ya cara bacanya sih gitu, tapi tulisan yang benernya nggak tahu. ah, saya jadi gimana-gimana ni mau baca part selanjutnya…

    minie don’t leaving me, please! #sok inggris. padahal nggak tahu bener nggak tulisannya.

    1. haha..benarkah? waah, keren nih Hana bisa nebak..wkwk
      iyaa, aku bahasa indonya rada2 gak beres soalnya -_-”
      naah, itu bener, mempersilakan. aku ampe gak kepikir kata itu pas nulis. #tepokjidat
      o iya..brilian ya yang bener? #gubrak
      aku sampai pusing mikir kata yg benernya..yg muncul di otak cuma berlian doang. aduuuh… #tepokjidatlagi
      makasi ya Hana udah ngasih koreksi di sini..hehehe.. #bowing

      ayo… gapapa dilanjutin aja bacanya…hehee… #radamaksa
      smoga harapannya trkabul di part brikutnya..hihihi
      makasi ya Hana udah baca n komen part ini ^o^/

  14. Saat-saat terakhir Taemin. Nyonya Lee sudah berusaha tegar. Duh, kenapa pihak rumah sakit harus melepas alat bantu Taemin? Bukannya ada orang koma sampai tahunan?

    Dari sini terlihat banget beratnya pekerjaan Jinki. Dilema berat. Apalagi orang yang selama ini jadi pasiennya ternyata masih ada hubungan saudara seibu dengannya.

    Koreksi:
    1.) Namun sayang, Jinki tak menyimpan memori mengenai paras Ibunya, karena ia…dst
    *Ibunya –> ibunya, (i) menggunakan huruf kecil karena menyatakan objek.

    2.) Ia menggeser kursi makan untuk Eommanya. Sementara Jinki menggeser kursi makan untuk Appanya
    *Eommanya –> eomma-nya, Appanya –> appa-nya (menggunakan huruf kecil).

    3.) Bagaimana pun tidak masuk akalnya penjelasan yang akan saya sampaikan nanti kepada anda, saya harap anda menyimpan keterkejutan anda dahulu.
    *anda –> Anda, menggunakan huruf kapital.

    1. hai kak Starlit..hehee..
      naah, itu karena hasil pemeriksaan terakhir Taemin udah menunjukkan mati otak / brain death. Dari yang dila pernah baca di syarat2 pasien yang masuk dan keluar ICU. salah satu syarat untuk keluar ICU itu pasien nya udah mati otak dan sangat kecil kemungkinan untuk pulih.
      Kalau yang koma sampai tahunan itu mungkin krna fungsi organnya masih membaik dan belum didiagnosa mati otak, makanya masih bisa dirawat di ICU sampai kesadarannya pulih..hehe…
      Sebenarnya juga trgantung dokter yg menangani plus prosedur di tiap rumah sakitnya bagaimana. Di sini la bikin peraturannya seperti itu. La minta maaf klo sekiranya di dunia nyata gak sama, soalnya la belum punya pengalaman juga di sana .____.v #bowing

      hehe, bener banget kak. makanya ada rumah sakit yang menetapkan dokter tak boleh menangani saudara/keluarganya sendiri. hehehee..

      Aah, o iyaa, makasi ya kak koreksinya. Lain kali La lebih teliti lagi pas bikin tulisan berikutnya. hehe.. 😀

      makasi ya kak Starlit udah baca n ngasih koreksi di part ini ^o^/

  15. hiks tissue mana tissue? aku butuh tissue lg huweee (;_;) sedih bgt baca prtmuan jinki & eomma nya. Aku udh ngira sihh kalo jinki & taemin psti ada hbungan -gara” baca summary-
    yg Minho baca note dr taemin jg sedih bgt hweee T.T
    Berharap ada keajaiban dipart depan. Taemin-ah jebal sadarlah! biar kebahagian nae nampyeon (read : Lee Jinki) lengkap *kabuur sblum dikeroyok MVP

    Aah aku br tau kalo marga yeoja yg udh nikah itu g bkaln berubah ngikutin suaminya*manggut-manggut

    1. aaah..ini tisunya..maaf cuma tinggal selembar, ambil aja semua.. #eh
      aku terharu baca komennya :”) aah, iyaa..si Minho galau banget di sini.. T.T

      oke oke, silakan lanjutin bacanya…wkwk…
      iya, aku juga baru tau pas bikin cerita ini. hehe, itung2 bagi2 informasi juga..#nyengir

      makasi ya Mrs. Lee *?* udah baca dan ngasih komen di part ini ^o^/

  16. harus bilang apa lagi yah (?) sumpah ini buat saya terharu 101% .
    Gimana nasib taemin (?) , tuhan, tong berilah keajaiban bagi taeminie…
    Semog taemin masi hidup amin….
    Alur ceritanya tak terduga, ^^v
    Tapi si taeminie juga kasihan, kalo gak ada alat yang menopangnya ia mati
    (T^T) –> cry cry
    ❤ Tubuh taemin ada di dunia, tapi jiwanya (?) ….. Jiwanya ada di hati saya ^^v
    Oke deh….. jaga jaga bawa tissue dulu buat chapter berikut….

    1. seratus satu persen? xD aah, trlalu berlebihan say, aku masih tahap belajar bikin yang nyuss nyuss *?* beginian.. tapi, terima kasih banyak yaa! mga2 aku bisa mempertahankan dan meningkatkan kualitas nulis aku 😀

      ahhaha,,aku ngakak baca komenmu..iyaaa..iyaa, jiwa taemin ada di hati para shawol.. #eaaa
      haha, sip2.. apakah tisunya bakal kepake di chapter berikutnya? kita liat saja..xD
      makasi ya DreamGirl udah baca n komen di part ini ^o^/

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s