[FF PARTY 2012] Embraces of The Devil [3.3]

Title                 : Embraces of the Devil [3.3]

Author            : Boram.Onyu aka nurahboram

Main Cast       : Lee Jinki (28 th), Choi Minho (26 th)

Other Cast      : Ibu Minho (46 th), Jane Bell (42 th), Lee Eunmi (18 th), and others

Genre              : Psychology, romance, family

Length            : Trilogy

Rating             : pg 13

Ket                  : OP                               

Note                : Narasi bercetak miring adalah flashback.

            Pening yang dirasanya menyerang seluruh sistem rangka Jinki, tak sadar ia melenguh. Matanya sulit membuka. Ada cairan pekat yang merekatkan bulu matanya. Darah. Bau bacin tercium hidungnya, membuatnya mereka kejadian terakhir yang ia alami. Belum mendapat jawaban, Jinki berusaha mengangkat kepalanya. Di saat itu pula, perihnya semakin terasa. Ia mengeluh lagi.

            Berusaha keras memerintahkan sarafnya untuk bekerja sama,  agar penglihatannya tak kabur lagi, ia mendapati lelaki yang terbujur kaku berseberangan darinya. Kelopak matanya mengerjap. Ubun-ubun mengilat tanpa rambut, tubuh proporsional, ia tahu siapa orang itu. Dr Brown.

            “emph…”

            Tidak punya kuasa untuk berbicara. Jinki baru sadar, rasa kering di bibirnya disebabkan lakban hitam yang merekat di sana. Mencoba menggerakkan tangan dan kakinya, saraf perasanya mengirimkan impuls ke otaknya, ada tali yang mengikat kedua rangka gerak utama di tubuhnya.

            Sialan! umpatnya dalam hati. Ia melirik jas putih yang masih menutupi kemejanya, oh, betapa ingatannya baru kembali. Dan sekarang, kemana lelaki itu? Ia memutar kepala sejauh yang ia bisa, masih interior yang sama. Ia hampir terjengkang ke belakang, jika saja tubuhnya tak terikat pada kursi besi itu ketika matanya bertatapan langsung dengan mata bulat lainnya.

Minho. Tidak ada ekspresi di wajah itu. Masih di bawah pengaruh haloperidol, angkatan pertama dari antipsychotic yang masih juga menunjukkan kejayaannya dalam pengobatan psikiatrik dalam kondisi yang serius.

             “mmph…”

            Berjuang mengeluarkan suara untuk mendapatkan perhatian Minho. Tetapi lelaki itu tetap duduk tenang di tempatnya. Ia menonton sedari tadi, mengganti channel setiap lima menit sekali.

            Pening menyerbu  kepalanya. Tak berusaha melawan, ia mengikuti perintah otaknya. Tertidur.

****

            “Aku tidak akan membiarkan anakku melakukan konseling denganmu!”

            “Kenapa tidak, nyonya?”

            Jinki membujuk wanita itu untuk segera kembali ke ruangannya,menatap Minho sesekali yang memberi ekspresi, seperti penyesalan.

            “Kau memasukkan kamera itu ke ruanganmu! Kau pikir aku tidak tahu? Kau memata-matai kami? Oh tidak dokter, kau bisa menipu pasien lainnya. Tapi tidak, tidak sama sekali untuk anakku.”

            “Kami tidak berusaha memata-matai kalian. Itu hanya prosedur.”

            “Prosedur katamu? Omong kosong itu sudah kudengar berkali-kali. Kau berusaha merebut anakku dariku kan?”

            “Tidak sama sekali, nyonya Choi. Di sini aman. Aku bisa menjamin itu. Percayalah, kondisinya akan semakin membaik jika ia dirawat di sini.”

            “Kau berusaha mengatakan padaku jika anakku gila? Dia tidak gila! Dia sangat waras! Aku tidak akan menarik ucapanku, dia tidak akan melakukan konseling jika kamera pengawas itu masih ada di sini!”

****

            Kembali terbangun dari alam bawah sadarnya. Jinki mencoba mengumpulkan kekuatannya bahkan untuk sekedar mengangkat kepalanya. Energinya terkuras. Darah di kepalanya sudah mengering, menutupi koyakan luka yang disebabkan oleh hantaman sesuatu yang keras.

            Kembali mengingat. Stick golf, wanita dengan wajah yang kabur. Ia mencoba berkompromi dengan sarafnya, untuk meredakan rasa sakit di kepalanya agar ia bisa berpikir jernih. Getaran di sakunya membuyarkan konsentrasinya. Jinki menengok sesaat ke sekeliling, Minho masih berfokus pada televisinya.

            Akankah Tuhan telah menjulurkan tangan untuknya? Memberinya kesempatan untuk meminta bantuan agar ia bisa terlepas dari jeratan seorang psikopat? Oh, ternyata tidak. Ia ingat tangannya terikat, kakinya pun tak bisa membantu. Lantas, apa yang bisa dilakukannya agar ia bisa menekan tombol-tombol ponselnya? Sama saja dengan nol.

             “Dokter Lee…”

            Jinki membuka matanya, menatap tajam pada lelaki yang masih juga belum menunjukkan ekspresinya.

            “Aku sudah memperingatkanmu. Ini salahmu.”

            “mmmph…”

            “Aku akan melepas lakbanmu, apa kau haus?”

            Diam.

            “Baiklah, kuanggap jawabanmu tidak.”

            “mmmph…”

            Jinki bernapas lega, mengalirkan udara dari mulutnya ketika lakban terlepas dari mulutnya. Tanpa aba-aba, sebuah gelas ditekankan pada celah bibirnya. Air mengalir melewati kerongkongan keringnya. Mulutnya hampir tersegel lakban lagi.

            “Tidak, tunggu sebentar Minho. Biarkan aku bicara.”

            “Sang malaikat akan segera datang, aku tak punya waktu yang banyak untuk mendengarmu.”

            “Cukup, Minho! Sampai kapan kau akan diperbudak ibumu?”

            “Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, dokter.”

            “Jangan berpura-pura tidak tahu. Malaikat itu, malaikat berkedok setan itu, dia adalah ibumu kan?”

            Minho menggigit bibirnya, kemudian menjulurkan lidahnya untuk membasahi bibir bawahnya.

            “Aku memang malaikat, tapi aku bukan setan, dokter Lee.”

            Sekali lagi, hantaman kriket mengenai pelipisnya. Kehilangan kesadaran, dan segalanya menjadi hitam sebelum melihat sang ibu tersenyum licik padanya.

****

“Apa kau suka membaca Alkitab?” Jinki menggeleng.

            “Kau seorang atheis?”

            “Tidak juga. Aku seorang Protestan yang tidak taat. Mengunjungi gereja hanya pada perayaan besar. Ada apa?”

            “Tidak merasa berdosa?”

            Kerutan di dahinya mulai timbul, Jinki memperbaiki letak kacamatanya.

            “Aku tidak punya waktu untuk melakukannya. Alkitab adalah laporan kesehatan pasienku, gerejaku adalah rumah sakit ini, dan aku berkhotbah untuk pasienku sesekali, menjadi penawar racun untuk luka-luka mereka.”

            “Kau akan dikutuk, dokter.”

            “Kenapa begitu?”

            “Tuhan tidak suka hamba yang melupakan-Nya. Dengan malaikat-Nya, ia bisa mengirimkan bala kutukan untukmu.”

            “Lalu bagaimana dengan malaikatmu? Apa ia termasuk kiriman Tuhan untukmu?”

            Meremas jarinya tak sabaran, membasahi bibir bawah dengan lidahnya, Minho berusaha meredakan gemuruh kegugupannya.

            “Hanya kau yang kuberitahu ini dokter.”

            Menangkap isyarat Minho dari bisikannya, Jinki memajukan badannya. Nampaknya lelaki itu akan membuka rahasia besarnya, begitu dipikir Jinki. Meski ia bisa menebak akan ada bumbu halusinasi lagi dalam pengakuannya nanti.

            “Aku ini pendosa. Aku melakukan dosa yang besar, dan kurasa malaikat itu akan menyakitiku lagi.”

            “Berdosa? Apa yang kau lakukan?”

            Jakunnya bergerak naik turun. Minho menarik napas dalam-dalam.

            “Aku membunuh, dan memilih jalan pemberontakan bersama malaikat itu. Aku sudah mengatakannya bukan? Malaikat itu, hanya wujudnya saja yang bersayap. Hatinya gelap, tak ada warna lain kecuali hitam di dalamnya.”

            “Kau membunuh?”

            “Aku mohon, dokter. Jangan katakan ini pada siapapun, aku tidak mengatakan ini pada siapapun. Tidak pada ibuku, Dr Brown ataupun Jane.”

             Mengangguk. Jinki mengedipkan matanya tak percaya. Ia melihat gemetar di bibir Minho, matanya yang memerah, dan tubuhnya yang bergerak maju mundur.

****

            “Eomma bawa jajangmyun, makanan kesukaanmu Minho sayang.”

            Tidak bereaksi. Minho memilih menjemput kantongan yang sempat terabaikan oleh Nyonya Choi di atas lantai. Ada ceceran darah mengering di atas marmernya. Memasukkan bahan makanan satu persatu dalam kulkas, kemudian menyiapkan meja makan dengan hidangan jajangmyun dalam kotak plastik.

            “Terima kasih telah menjaganya untukku, sayang.”

            Belaian lembut di wajah Minho didapatkannya sebagai hadiah. Ia menutup matanya, menikmati pancaran keibuan dari Nyonya Choi yang menatapnya hangat.

            “Aku rasa, kita harus membebaskan mereka.” pinta Minho di suapan terakhirnya. Tak ada kehangatan, tersisa sorotan tajam yang cukup membekukan Minho di tempatnya.

            “Maksudku adalah, ini bisa menarik kecurigaan orang-orang terdekat mereka.”

            “Dan ketika kita membebaskan mereka, kau akan mendekam di rumah jagal itu.”

            “Rumah sakit, eomma. Bukan- “

            “Kau tahu, Minho? Aku tahu ini akan terjadi. Keyakinanmu akan goyah. Dan itu membuatku, merasa… kau tahu…”

            Meninggalkan sisa makanannya, nyonya Choi menghampiri tubuh terikat yang kehilangan kesadarannya itu. Dalam sekali gerakan, ia menarik rambut yang dipenuhi darah mengering.

            “Sudah bangun, Dokter Lee?”

            Kerjapan mata yang lemah, tapi bisa ditangkapnya sang ibu tersenyum. Wanita itu membuka plester hitam di mulutnya ketika didengarnya gumaman lemah.

            “Neo micheoso…”

            Senyum memudar. Tangan kurusnya menarik rambut itu, menyisakan beberapa helai rambut Jinki dengan darah keringnya. Lelaki itu mengaduh, tidak cukup keras, ia tidak punya tenaga untuk itu. Sebuah sapu tangan melengket di hidung nyonya Choi. Tidak punya waktu untuk menebak siapa yang telah membiusnya, ia segera pingsan.

            Minho mengangkat tubuh sang ibu masuk ke dalam kamarnya, memakaikannya selimut, kemudian menyalakan medical brewer.

            “Sang budak membangkang pada tuannya, ya?” sindir Jinki. Minho sudah duduk di depannya.

“Bisa menjelaskan padaku kenapa wajahmu bengkak begitu?”

Jemarinya saling meremas, Minho membuang pandangannya ke lantai.

“Ibumu yang melakukannya?” tanyanya hati-hati. Minho menatap mata Jinki tak suka. Kerutan di keningnya membuat Jinki bisa menangkap perubahan ekspresi itu segera, menjadikan hipotesanya kemungkinan besar sudah pasti benar.

“Apa dia sering melakukan itu padamu?”

Tak menjawab lagi, Minho menggigit bibir bawahnya. Sebuah tindakan yang secara tidak langsung berarti ya bagi Jinki, membuat lelaki itu mengumpat.

“Dia tidak gila. Ibuku hanya menghukumku karena aku melakukan tindakan tercela. Aku mendengar pembicaraannya dengan Dr Brown.”

Giliran Jinki yang mengerutkan keningnya, melirik sekilas pada tubuh yang masih tergolek lemas di sampingnya.

            “Apa kau mau dengar ceritaku, dokter Lee?”

            “Kenapa aku harus?”

            “Karena kau dokterku. Kau adalah cheonsa ku.”

****

            Salju meleleh, bunga bermekaran, menyerbakkan wangi yang memesona bagi siapapun pengagumnya. Daun-daun bermunculan kembali dari ranting kecoklatan yang rapuh, burung-burung tak bersembunyi lagi dan kembali bercengkrama di dahan-dahan pohon. Seakan ikut merayakan kebahagian menyambut musim semi setelah berbulan-bulan dirundung pilu kehilangan sarang mereka yang terhempas angin, tenggelam dalam salju.

            Tapi tidak bagi anak lelaki yang membaringkan dirinya pada rumput hijau yang menunjukkan kejayaannya kembali, setelah menyerah akan kesombongan salju menutupi kesegaran daun-daunnya. Anak lelaki itu gemetar. Ia menutup matanya rapat-rapat. Berusaha mematikan fungsi seluruh inderanya. Berpura-pura tidak tahu ketika langkah kaki semakin mendekat padanya.

            “Pagi, Minho sayang.”

            Masih enggan membuka matanya. Ia tahu, lelaki tua itu ikut berbaring di sebelahnya. Ia bahkan bisa mencium aroma kental alkohol. Tak berselang beberapa detik, tangan lelaki tua itu mulai menyentuh wajahnya. Turun ke dadanya, perutnya, hingga celananya. Tangannya yang terselip dalam saku celananya tertarik, dituntun oleh tangan lain yang lebih besar untuk kemudian diciumi.

            “Kau tahu, appa lapar. Tapi, bukan makanan. Aku menginginkanmu. Kau mengerti kan, Minho?”

            Air matanya menetes, jatuh membasahi rumput yang menjadi pembaringannya.

            “Kau menangis? Brengsek! Hey, gadis kecil cengeng! Berhenti menangis!”

             Tidak kunjung menenangkan dirinya, justru air matanya mengalir semakin deras. Tamparan yang ia dapatkan, tubuhnya dibalik dalam satu hentakan hingga ia telentang, dan tubuh lelaki tua itu menindih tubuhnya yang lebih kecil.

****

            “Ayahmu yang melakukannya? Dia… em…”

            “Ya, dia menyetubuhiku sampai puas. Semakin aku menangis, penyiksaannya tidak akan berhenti. Dia memuaskan dirinya, tidak peduli jika aku memohon ampun. Kau tahu? Aku benci sinar matahari sejak saat itu. Aku benci padanya yang menjadi saksi mati bagaimana aku diperlakukan tidak adil. Aku benci pada kebungkamannya, seolah menikmati pertunjukkan ayah dan aku. Aku benci sinar matahari, dia mengingatkan aku bagaimana- ”

            Kalimatnya terhenti, diselingi tangisan Minho. Pedih sekali. Jika saja Jinki dalam posisi yang bebas, ia akan merengkuh tubuh Minho. Meredakan getaran di bahunya, antara marah, jijik dan juga benci, itu yang ditangkap Jinki dari wajahnya yang merah padam.

            “Aku turut menyesal. Kapan umurmu waktu itu?”

            “Aku tidak ingat dengan jelas. Tujuh atau delapan tahun, mungkin?”

            “Lalu, bagaimana dengan ibumu? Apa dia tak menghentikan ayahmu?”

            “Tidak. Aku tidak punya ibu.”

            Menautkan alisnya, Jinki meminta penjelasan dengan ekspresi kebingunannya.

            “Malaikat itu datang suatu hari. Dia membawaku pergi dari neraka itu, dan mengadopsiku sebagai  anaknya.”

            “Tapi, tidak seberuntung yang kau kira. Aku akan mati dalam hitungan jam, bukan? Entah itu di tanganmu, atau di tangan ibumu. Tidak ingin menceritakan sesuatu lagi? Menurutku, akan lebih mudah jika kau ingin berbagi.”

            Meremas kuat jari-jarinya, Minho berusaha menenangkan diri. Ia tidak suka mengais sejarah lama yang sudah terkubur dalam-dalam.

            “Dia adalah malaikatku. Dia menyelamatkanku dari mimpi burukku-”

            “Dan memberimu mimpi buruk lainnya. Biar kutebak, dia mengontrolmu dengan haloperidol? Atau amfetamin secara berlebihan untuk membangkitkan hypomaniamu?” sambung Jinki. Minho bungkam. Ia tidak tahu apa nama obat itu. Senyawa kimia yang mengontrol otaknya secara keseluruhan, menciptakan halusinasi lain yang membuatnya kehilangan kenangan masa lalunya, membiarkan dirinya menjadi mayat hidup sesekali.

            Pemukul kriket yang telentang bebas di samping tubuh Dr Brown diambilnya.

            “Tidak berusaha melawanku?”

            “Kau bercanda? Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku, kepalaku sudah pening sejak…  entah beberapa jam yang lalu. Lagipula hidupku sudah hancur, sepertinya. Aku sudah kehilangan yeoja ku, pasienku menjadi tak keruan, mengancamku dengan pemukul kriket. Dan lebih parahnya, aku tidak menyadari jika malaikat yang selama ini kau ceritakan adalah ibumu sendiri. Tanda-tandanya sudah jelas, tapi aku menolak dugaanku, dan membiarkan seorang penderita skizofrenia merawat anak untuk kemudian menjadi sepertinya. Psikiater macam apa aku ini?”

            Minho mengangkat bahunya, mengatakan kemudian, “Aku ikut berduka mengenai yeoja mu.”

            “Kau orang baik, dokter Lee. Kau cheonsa ku. Karena itu, kalian harus mati segera sebelum kalian melumuri diri dengan dosa lagi.” sambung Minho lagi.

            “Aku? Kenapa aku ini cheonsa? Lalu bagaimana denganmu?”

            “Aku bisa merasakan kehangatan ketika disisimu, dokter. Aku tidak mengerti kenapa. Sedang aku… aku adalah pendosa. Aku membunuh Choi Minho dari dulu, dan menghidupkan Choi Minho lain yang sudah menjadi budak malaikat. palsu.”

“Aku tidak yakin jika hatimu menginginkan itu.”

“Aku sudah membunuh sekali, mengapa menurutmu aku tidak bisa membunuh sekali lagi?”

            Tamparan mengenai pipi Minho. Cukup keras hingga otot pipinya merasa kebas.

            “Apa yang kau lakukan pada ibumu?”

            “Mianhae, eumma, aku hanya…”

            “Aku mengerti perasaanmu sayang.”

            Jinki melengos. Ia memandang bagaimana sang ibu memeluk anaknya, memberinya ketenangan. Dan Minho tersedu-sedu di atas bahu sang ibu, betapa menyedihkan lelaki itu di mata Jinki.

            “Kau menyayangi eomma kan?”

            Dengan gumaman Minho menjawabnya.

            “Bisakah kau membunuh dokter Lee?”

            Melepas pelukannya, kemudian menatap tajam sang eumma, tak cukup untuk meruntuhkan ketetapan hatinya. Tak juga mendapat respon, tamparan menjadi ganjaran untuk Minho.

            “Aku membesarkanmu untuk menjadi tidak secengeng ini Minho! Kau berani menentangku? Kau ingin kukembalikan ke rumah kumuh itu? Hidup bersama ayahmu lagi? Kau mau itu?”

            Diserang kepanikan. Minho berjongkok segera, ia menutup kepalanya. Berusaha menghilangkan cuplikan kenangan yang tiba-tiba saja berkelebat dalam bayangannya. Minho menggeleng kuat, menangis kemudian meraung-raung. Ia memukul dirinya, menendang udara kosong di depannya berkali-kali. Bayangan lelaki tua itu, yang menyentuh tubuhnya dengan sentuhan nakal, mengotori kesucian tubuhnya. Minho meronta melepaskan diri, lagi-lagi ia terjebak dalam halusinasinya.

****

            “Baiklah, waktumu sudah habis dokter Lee.”

            Berpacu dalam kecemasannya. Jinki berusaha menampilkan ekspresi datar, mencoba mementahkan ancaman nyonya Choi yang memungut kriket yang sempat terlantar itu. Nyatanya tidak, seperti bom waktu, ia hanya menunggu detik-detik terakhir hingga kriket itu menghantamnya berkali-kali. Menghilangkan nyawanya dalam beberapa menit ke depan.

            “Kau tahu Minho, aku sungguh menyesal tidak benar-benar menjadi cheonsa mu. Aku tidak bisa melumpuhkan ingatan menyedihkanmu. Aku tidak bisa…”

            Plak! Satu kali pukulan mengenai pipi kirinya. Ia terbatuk, memuntahkan darah dari sela mulutnya. Ia tidak diberikan kesempatan untuk bernapas, hingga pukulan kedua ataupun ketiga. Jinki tersenyum, lebar sekali hingga darahnya pun tak mampu menutupi lengkungan bibirnya.

            “Masih bisa tersenyum, dokter Lee?”

            “Ternyata kau benar-benar gila, nyonya Choi.”

            “Apa katamu? Kau tidak tahu siapa aku? Aku adalah malaikat Tuhan, aku mendengar bisikan-Nya setiap waktu. Aku mendengar perintah-Nya untuk menyelamatkan Minho.”

            “Ah ya, bisikan Tuhan. Ternyata kau seorang paranoia skizofrenia.

            Nyonya Choi tertawa, mengambil kesempatan untuk meregangkan otot lengannya yang sedikit kejang setelah mentransfer tenaga pada kriket di tangannya.

“Beberapa hal masih membingungkanku? bagaimana bisa kau berkelit dengan penyakitmu itu? Mengapa kau tetap bisa memimpin perusahaan? Dan mendapatkan pasokan obat yang cukup untuk menghidupimu dengan tanpa halusinasi?”

“Bukannya sedikit congkak, kau bisa menyebutnya anugerah Tuhan. Aku adalah orang pilihan. Kecerdasan yang luar biasa. Aku melewati masa kuliahku di jurusan bisnis dan farmatologi sekaligus. Puji aku, jika kau menginginkannya, Dokter Lee.”

Mengerutkan alisnya. Seorang skizofrenia mengalami kesulitan dalam memfokuskan diri terhadap sesuatu. termasuk belajar, ataupun bekerja.

“Uang tidak pernah berbohong, dokter. AKu berhasil mendapatkan ijazahku dengan sogokan. Aku tidak sepenuhnya belajar, tapi aku sempat tahu pengetahuan mengenai obat psikotik.” jawabnya setelah melihat raut tanya di wajah Jinki.

“Kau hebat, nyonya Choi. Ada hal lain yang mau kau sampaikan? Ceritakan padaku masa lalumu. Itu akan meredakan sedikit bebanmu, kukira.”

“Berusaha mengulur waktuku, dokter?”

Menggeleng kuat, padahal peningnya melarang Jinki untuk menggerakkan lehernya sedikit saja. toh, keras kepalanya sanggup mengempaskan rasa sakit itu.

“Aku akan mempersingkat kisahku, karena aku tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi untuk nyawamu yang akan melayang beberapa menit lagi. Aku dibesarkan oleh ayah yang luar biasa… tidak tahu diri, tidak bermoral, dan juga sakit jiwa. Aku dibesarkan tanpa ibu, dan menjadi media penyalur kebutuhan seks ayahku. Setiap kesalahan kecil yang kulakukan akan meninggalkan memar di tubuhku.”

Tatapan yang sarat akan kebencian sirna menjadi genangan air di pelupuk matanya. Nyonya Choi mengusapnya, kemudian tersenyum tipis pada Jinki yang menatapnya iba.

“Tidak perlu merasa bersalah ataupun kasihan padaku, dokter. Setelah kematian ayahku, seluruh warisan diberikan padaku. Setidaknya, pengorbananku tidak berakhir sia-sia. Setelah itu, aku mulai mendengar bisikan Tuhan yang menuntunku untuk menemukan anak malang itu. Dan aku bertekad, untuk melindunginya, untuk menyembuhkannya agar ia tak menjadi seperti ayahku. Aku ingin dia normal, dokter.”

            “Apa kau punya wahyu lain dari Tuhan, nyonya Choi? Tidak berniat membaginya denganku?” nada serak Jinki menghentikan lamunan nyonya Choi.

            “Dengan senang hati, dokter. Kau tahu apa yang dibisikkan padaku tadi? Aku harus membunuhmu, juga dokter bodoh ini.”

            Menendang lengan Dr Brown yang terkulai tak berdaya, nyonya Choi kembali mengambil ancang-ancang untuk melakukan pukulan selanjutnya.

            “Itu bukan bisikan Tuhan, nyonya Choi. Kau sakit! Oh demi Tuhan. Aku bisa membantumu, hentikan pemberontakanmu, nyonya. Aku akan melakukan yang terbaik untukmu dan juga Minho, konsel-“

            “Tutup mulutmu!”

            Kekuatan terakhirnya terkuras. Jinki menggeser tubuhnya sedikit, menjatuhkan ponselnya mendekati kaki nyonya Choi.

            “Brengsek!” layarnya masih menunjukkan sepersekian menit sambungan teleponnya dengan entah siapa di seberang sana. Dalam hitungan detik, gebrakan pintu terdengar. Beberapa personil muncul dengan pistol di tangannya. Nyonya Choi segera memeluk anaknya. Minho sendiri tak berhenti meraung.

            “Aku tidak akan membiarkan kalian menyentuh anakku.”

            Ia menuntun Minho untuk berdiri, mundur selangkah demi selangkah menghindari pasukan polisi khusus yang terus merangsek maju mendekatinya.

            “Anda hanya perlu menyerahkan diri, nyonya. Dan juga anakmu.”

            “Dia hanya boleh dirawat olehku! Dia tidak akan masuk penjara! Dia adalah anakku! Apa kau pikir aku tidak tahu apa yang dilakukan psikiater-psikiater bodoh itu? Aku juga bisa melakukannya! Aku tidak akan pernah memasukkan anakku di tempat berkumpulnya para serigala.”

            Bersikeras dan terus mencoba menarik tubuh Minho untuk ikut bersamanya. Nyonya Choi memutar otak. Menarik berbagai siasat untuk bisa melarikan diri dari situasi pelik ini. Sesaat setelah idenya untuk menembus polisi dengan bermodalkan tekadnya, dan dor! Sebutir timah panas menyusup masuk ke tendon betisnya. Nyonya Choi berlutut, mengerang. Seluruh tubuhnya mengejang, tapi ia masih menguasai dirinya. Ia menutup matanya pelan, melihat pertambahan kuantitas polisi yang terus mendekati mereka. Ia menyerah, mendekatkan bibirnya pada telinga Minho yang semakin bergetar mendengar suara letusan pistol beberapa detik tadi.

            “Aku mencintaimu, Minho. Kau adalah anakku, aku mencintaimu. Aku akan melindungimu apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkanmu terkurung dan mengumpankanmu pada serigala-serigala psikopat. Oh tidak. Maafkan aku sayang, eumma melanggar janji kali ini. ”

            Kedua kakinya memanjat pada kusen jendela, membiarkan punggungnya terkena angin malam yang menembus baju tipisnya, mengenai kulitnya hingga menusuk tulang belakangnya. Ia memecahkan kaca dengan tangannya, membiarkan pecahannya jatuh satu persatu. Sedetik, ia ikut bergabung dengan pecahan kaca itu, melambungkan dirinya di udara, menghempaskan dirinya di atas runtuhan kaca.

****

Jika ada yang pantas untuk menggambarkan suramnya langit di atas sana, maka kelabu kehitaman merupakan jawabannya. Bulir air mulai berjatuhan, tidak deras, tidak juga gerimis. Di bawahnya, di salah satu tempatnya di muka bumi beberapa payung hitam menaungi manusia dengan pakaian serba hitamnya.

“Terima kasih telah menghubungi Eunmi waktu itu. Aku mungkin akan mati jika kau tak melakukannya.”

Minho diam. Ia tak mengalihkan pandangannya pada gundukan tanah bertabur bunga-bunga segar dengan aneka warna. Sudut mata Jinki tak sengaja teralih pada sebelah tangan Minho yang bebas, tidak lagi terkepal, terbuka bebas.

“Eummamu, dia mencintaimu.”

“Aku tahu itu.” tukas Minho, ia tidak ingin mendengar suara lain kecuali gemerisik air yang bertabrakan dengan sisi atas payung ataupun tanah. Ia mencoba menikmati harmoni suara itu, sekedar terapi ringan menenangkan gemuruh di dadanya.

Jinki mengusap air matanya, menyimpulkan betapa untuk seorang yang kehilangan kewarasannya, ia harus memuji kesungguhan itu. Cinta, ia memiliki cara tersendiri untuk merealisasikan kehadirannya. Nurani mungkin sudah terhapus dalam prinsip sekaligus nilai-nilai moralnya. Ia tidak memiliki semua itu sebenarnya, ia telah dikalahkan oleh penyakitnya. Oleh halusinasi yang tak berujung.

Ya, ia mungkin telah kalah. Tapi tidak dengan cintanya. Cinta itu menjadi pondasi harapannya untuk bertahan hidup. Cinta itu sebagai bukti kepeduliannya untuk melindungi miliknya yang berharga. Cinta itu adalah wujud nyata kasih seorang ibu dalam keterbatasannya. Cinta itu. The infinite love from a mother to her son.

Amazingly to know that there were no difference between love and madness – Boram

****

Epilog

Kedua pergelangan tangannya dilingkari dengan borgol besi, lantas ia memilih menatapi lantai, membiarkan kedua lengannya diapit oleh tangan kekar lainnya. Jinki menatap sendu lelaki tua itu. Dua polisi yang mengiringnya mundur segera setelah Jinki menghalangi langkah mereka. Tetap dengan jarak tak jauh dari satu meter, mereka menyandar di tembok. Sekedar memberikan privasi untuk Jinki dan Dr Brown yang kini saling bertukar pandang.

“Maafkan aku.” Jinki mendesah pelan. Semua kalimat yang terangkum tadi sudah menghilang, kecuali rasa iba yang tersisa melihat wajah penuh luka itu, meski sebenarnya wajahnya sendiri juga bengkak dengan memar kebiruan.

“Katakan jika tuduhan terhadapmu salah, dokter.”

Dr Brown menggeleng lemas, menyurutkan semangat Jinki untuk melakukan pembelaan terhadapnya.

“Aku senang karena kau telah menyelamatkan Minho, dan juga aku. Semuanya akan sia-sia jika aku mati. Jangan menatapku seperti itu, aku memang pantas mendapatkannya. Semua penyiksaan yang akan kulalui seumur hidupku nanti tidak sebanding dengan kejahatan yang sudah kulakukan.”

Air matanya menggenang, Jinki mengusapnya segera.

“Ya, aku tahu jika ibu Minho seorang skizofrenia. Aku juga bekerja sama menyembunyikan penyakitnya. Aku mengizinkan obat-obatan yang diminta Nyonya Choi untuk mengendalikan anaknya. Aku mengajarinya cara menyuntik, dosis obat yang diperlukan. Aku menyalahkan profesiku, mengotorinya dengan godaan untuk kenikmatan sesaat. Aku berdosa, Jinki.”

Tidak perlu waktu lama, Jinki memeluk Dr Brown. Marahnya sudah menguap sedari tadi.

“Aku mungkin akan melakukan hal yang sama jika berada di posisimu, dokter.” hiburnya kemudian sebelum melepaskan pelukannya. Kedua polisi itu kembali menggiring Dr Brown menuju kerumunan massa, dengan kilatan cahaya kamera para reporter yang haus akan berita kasus suap itu. Beberapa pengawal mencoba melindunginya dari serangan tanya bertubi-tubi dari para reporter.

“Istrinya sakit parah, leukimia stadium tiga. Dia butuh biaya yang banyak untuk pengobatannya.” jelas Jinki ketika Jane menatapnya tak setuju untuk dukungan moral yang diberikan Jinki pada Dr Brown. Seketika, ekspresi Jane menjadi iba.

“Hei, kau mau kemana? Pengobatanmu masih dilanjutkan!”

Jinki tidak menjawabnya. Ia hanya melambaikan sebelah tangannya dengan senyum yang dipaksakannya. Bibirnya seperti robek ketika ia memaksakan sudutnya untuk melengkung. Ia jengah dengan rumah sakit, ia benci pada bau obat-obatan. Untuk saat ini, ia ingin mengistirahatkan diri untuk mendinginkan kepalanya sebelum kembali berkutat dengan pasien-pasiennya.

Ia menunduk, meski lehernya seperti mau patah ketika ia melakukannya. Untuk mengalihkan perhatiannya, ia menghitung jumlah ubin yang dilewatinya. Dan berhenti ketika sepasang sepatu memijak ubin yang akan dihitungnya lagi. Ia bergeser ke samping, justru pemilik sepatu itu kembali menghalanginya.

“Ahjussi. Bahkan dengan wajah bonyok seperti itu, kau tetap tampan.”

Rengekan itu sangat dikenalnya. Jinki mengangkat kepalanya pelan, terpana untuk beberapa saat melihat gadisnya mengusap air matanya.

“Aku ingin mendaftar jadi pasienmu. Aku selalu dibayangi wajah ahjussi setiap saat. Bahkan, bisikan yang selalu kudengar adalah suaramu. Katakan padaku, aku sudah gila kan?”

Jinki tersenyum. Perih di bibirnya tak terasa lagi. Tangannya justru meraih bahu Eunmi, merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Menghirup aroma Eunmi yang selalu disukainya, menikmati debaran jantung gadisnya yang hampis sama kencang dengan miliknya. Ia tidak lagi memikirkan apa-apa,kecuali membisikkan kalimat di telinga gadis itu. Kalimat yang untuk pertama kali dalam seumur hidupnya yang akan dikatakan pada satu-satunya perempuan di antara jutaan di muka bumi ini.

Saranghae, Eunmi-ya.”

END

Reference:

  1. Daniel Keyes- The Milligan Wars, Sickened-Wolly Lamb, yang membuka pemahaman saya akan penderita mental disorder.
  2. Wikipedia yang sudah memberikan informasi mental disorder, perawatan,dan hal” lainnya.
  3. Moodbuster berupa fanfic buatan author” favorit saya, Dista Dee, Yuyu, Storm, Azura, Bibib, Shirae Mizuka,  dan beberapa author lainnya yang memberi pengaruh tidak langsung dalam pengembangan tulisan saya (meskipun tulisanku gak maju-maju)

And, that’s the end. Okeh, ini adalah fanfic terabsurd yang pernah saya buat. Alurnya mungkin terlalu cepat, mianhe *deep bow*. Dan seperti biasa.

Cela tentu masih banyak di fanfic ini. And that’s why you there, readers. Kritik saran, kesalahan pada segi medical mungkin, atau pada sisi psikiatrik, atau bahasa yang kurang padu, diksinya ngacak, EYD gak benar, pesannya gak sampe. Tell me then. Jangan sungkan mengeluarkan uneg-unegnya, biar saya bisa belajar lagi dan meningkatkan kemampuan nulis. Saling berbagi ilmu itu indah banget loh. Jadi, what are you waiting for, leave a comment please.

Love ya, Boram🙂

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

67 thoughts on “[FF PARTY 2012] Embraces of The Devil [3.3]

  1. ya Allah..izinkan aku nenangin diri dulu..
    #pijit2pelipis

    sumpah ini..ini…kompleks banget ya Tuhan.. 3 diagnosis penyakit kejiwaan digabung di sini. Skizophrenia, gangguan afek campuran, sama deviasi seksual (ayahnya Minho). Super lah untuk sebuah FF ini #prokprokprok
    amit amit dah ketemu kisah ini di kehidupan nyata…aku bisa ikutan gila, beneran ToT
    oh, Jinki… #senyumbangga

    aah, beneran speechless mo komen apa untuk part ini. penutupnya kece badai!!! menjawab seluruh plothole yang ada di part sebelumnya kurasa. Ini alur ff yang paling aku suka!!!
    untuk uneg2 jalan cerita, gmna kejamnya nyonya Choi, ooh, psikotik berat! Bahkan dia bukan ibu kandungnya, astaga!!! Dan ternyata yang membuka jalan untuk Ny.Choi itu adalah Dr. Brown, Oke, gue speechless… na’udzubillah.. ToT

    dan saya suka pendekatan si Jinki sama Minho. Dialog yang dilontarkan Jinki, ampe kebayang ekspresinya coba. Good Job!

    cuma nemu satu nih kak >> dan membiarkan seorang penderita skizofrenia merawat anak untuk kemudian menjadi sepertinya.
    mungkin bisa diganti dg ‘seperti dirinya’. itu menurutku sih, soalnya aku butuh loading pas baca kata sepertinya itu. #dasarotaklemot

    untuk komen obat penyakit mungkin kak aminocte bisa ngasih lagi di part ini. haha… klo mnurutku sih gak ada kejanggalan lagi. hehehe ^o^v

    Semoga menang ya! idenya kece nih…!
    Keep writing kak! ~^o^~

    1. Dan komenmu bikin saya jd speechless, alamak, ini komen ato surat? #abaikan
      Waa~ saya malah bayanginy gak tega, soalny kan suamiku yg paling unyu it udah berdarah” (?) dan masih sempatny khawatir sm minho *sheding tears*
      Iya, jelas banget ya saya ngerjain trburu” sampe banyak bagian yg jadi aneh dn trlewatkan dr proses editing, hm. Sy fokus k jalan ceritany malah, takutny endingny jadi gantung lg.
      Makasih dear doany, tp ff ini Cuma partisipasi kok. Lagipula sy jg udah jd staff admin, gak mungkin dong kepilih lg jd main author
      Makasih yaaa sudah mengikuti ff ini dr awal smpe akhir, sama jempolny jg yg gak pernah absen *hug

      1. haha..kepanjangan ya? aah, la emang suka ngomen seenak jidat soalnya. jadi ga nyadar udah setengah halaman .___.
        Hehe, gakpapa kaak..wajar itu maah. jalan ceritanya daebak gini lgsg ketutup deh kekurangan pas nulisnya..ehhehehehe😀
        etapi gak daftar MA bisa dapet best storyline kan ya? smoga dapet ya kak ^o^/

        nee, sama2 kaak.. makasi juga udah ngunjungin cerita dila di sebelah..kkk~
        #hugbalik

  2. ah, udah banyak yang nebak tuh ibu-nya minho. tapi nggak nyangka ternyata itu yang buat minho benci matahari. daebak lah! mereka sama-sama sinting karena hal yang sama. btw, minho-nya nggak dipenjara kan? dia dirawat kan? kalo orang sinting dipenjara berarti yang menjara juga sinting.
    keep writing ya thor. aku tunggu ff lainnya yang aku yakini nggak kalah menarik dan berilmu dari ini.

    1. iy, d part sebelumny udah banyak yg tebakanny benar haha. Gak dong, penderita sakit jiwa tidak akan dipenjara, tp dimasukin k rumah skit jiwa untuk direhab. Makasih ya sdh ngikutin ff ini dr awal dgn jejak komenny jg :*

  3. Woooaaa daebak…
    Benerkan dalang dr smua ini ibu minho,dia psikopat, trus dokter Brown jg ikut serta(?), tp pas tau alasannya,jadi ikutan iba kaya Jane. Tumben ya perkiraanku tak meleset,ada perkembangan.hehe*curcol

    ya ampun,masa lalu minho miris bgt… Jdi budak nafsu ayahnya sendiri…sableng tuh ayahnya,dikuasai iblis… Sekalipun ada yg ngebebasin malah buat mimpi buruk yg baru…

    aku sempet gak mudeng yg kalimat “membuatnya mereka kejadian terakhir yg ia alami”
    hihi aku kira kata ‘mereka’ itu untuk orang bnyak, eh stlah dipikir” lg ternyata mereka disana asal ktany dr rekayasa(?) atau apalah yg brhubungan dgn itu.plaaaak

    DAEBAK Boram-ssi,aku suka pake banget..
    Paling suka kalo jinki berprofesi jd dokter,cocok bgt..
    Keren…keren…keren…
    Ditunggu karya lainnya ! FIGHTING

    1. Nah, berhasil jadi sherlock kan *eh
      Hm, pas dibaca ulang emang ‘mereka’ it kayak jd subjek ya, asal katany ‘reka’ dear haha
      Iy, soalny kan suami saya *read:Onew* asliny jg suka baca buku anatomi, jd bikin ini udah klop banget rasany bayangin dy jadi dokter. Ah suamikuuu~ #lupakan
      Makasih banyak ya udah ngikutin ini dr awal smpe akhir dgn jejak komenny jg :*

  4. ah.. Jadi umma minho psycho..#speechless
    ahh.. Skilas aku bsa bayangin kegigian jinki untuk bsa dipercaya minho.. Sedikit aku tau rasa sulitnya berbicara dengan orang yg tenggelam dalam halusinasinya.. Walaupun ga sparah minho..
    Ff-mu daebak, boram-ssi..
    Mianhae aku ga ada kemampuan untuk kritik dan saran..
    Keep writing..

    1. Hyoraaa~
      Nah, makany sy selalu kagum n pengen jd psikolog/psikiater
      Iy gapapa kok, malahan sy mesti terima kasih udah ngikutin kisah ini dr awal dgn jejak komenny dibanding mereka *baca:SILENT READERS*

  5. hwaaa..!!endingnya keren.!!

    slbhnya…mau komen apa y..bgung!hehe🙂
    oh y trus minhonya smbuh g….

    satu lagi,.si ahjussi mmang slalu tmpan,.kekeke😉

    1. syukur deh kamu suka, kupikir endingny bakalan jd aneh
      Minho sembuh? Cuma Jinki, Jane, dan Tuhan yg tahu nantiny bagaimana *eh
      Makasih yg udah ngikutin ff ini dgn jejak komenny :*

  6. Tuh kan!
    Bener! Pasti emaknya Minho si dalangnya.
    Banyak gak nyangka-nya di part 3..
    Td tu sempet berpikir keras, pas bagian seseorang yg melompat itu. Kebayangnya Minho. Ternyata ibunya. Gak kepikiran ibunya soalnya dy kan udh ketembak di betis.

    Dr. Brown-nya, wow.
    Saking cintanya sm istri jd begitu. Hal yg salah dianggap benar.

    Boram-ssi. Pesannya nyampe kog.
    Moga ‘nyampe’ juga ke Juri-nya ya… *lirik Lana
    moga menang!!!

    1. Ehm, nuna *?*
      Selamat yaaa tebakanny benar haha
      Iy, cinta emang bisa bikin org” pd buta kali yah. Makany, jgn jatuh cinta *eh
      Wah, pesanny sampe ya. Syukur deh. Ini ff cuma partisipasi kok, sy jg udah jd staff admin, gak mungkin dong jd main author haha. Tp eniwei, doany makasih banget loh.
      Dan makasih yaa udah ngikutin ff ini dr awal sampe akhir dgn jejak komenny :*

      1. Panggil aja DK say..
        Nuna itu panggilan sayang dr Baby Taemin..*uhuk

        Btw, Boram ini liner brp ya?apa kita seumuran?aku ’90 Liner.

        Salam kenal, bangapta^^

        1. saya setahun lebih muda dari Taemin, hoho. line ’94
          salam kenal jg, DK.
          eh tp sy malas loh manggil eon atopun kakak, udah biasa lgsg manggil nama gapapa kan hehe

  7. Aaahh..ini part terbaik dari Embraces of the Devil pokoknya, haru, gregetan, sedih, lega, nyampur jadi satu. Akhirnya semua misteri terungkap, perkiraanku kalau ‘ibu’ Minho itu skizo ternyata benar, tapi aku ngira dia ibu kandungnya, jadi gangguan mental yang dialami Minho turunan, ternyata nggak. Minho ternyata masa lalunya kelam banget, pantas dia fotofobia gitu, kukira itu efek samping obat atau gejala gangguan mentalnya. Dan dr. Brown..ah, sayang sekali. Jinki juga kasihan, di sini dia ngenes banget, tetapi akhirnya pengorbanannya terbayar lunas.
    Nggak banyak yang akan kukomentari sepertinya 
    1. Ada beberapa kata berbahasa asing yang belum dicetak miring, seperti antipsychotic, stick, channel, dll.

    2. Eumma >> Eomma

    3. Ada kata sapaan yang belum diawali huruf kapital, seperti nyonya >> Nyonya

    4. Pas ibunya Minho melarang anaknya melakukan konseling >> agak kurang pas karena konseling itu dilakukan oleh konselor (psikiater/psikolog/dll) atas inisiatif konselor. Mungkin lebih pas bila Aku tidak akan membiarkan anakku mengikuti sesi konselingmu/sesi konseling yang kauberikan (?) *ah, aku juga ga tahu kalimat yang pasnya bagaimana*

    5. Sekali lagi, hantaman kriket mengenai pelipisnya >> hantaman kriket atau pemukul kriket?

    6. Kau adalah cheonsa ku >> kau adalah cheonsa/i>-ku

    7. dokter Lee >> kalau digunakan sebagai sapaan : Dokter Lee

    8. Tentang skizofrenia paranoid, benar kalau pada gangguan ini, waham dan halusinasi dengar lebih jelas terlihat, tetapi kok ibunya Minho nggak paranoid ya? Dari yang kubaca sih, skizofrenia paranoid ini lebih cenderung menarik diri, waham/delusi yang ia alami biasanya adalah : orang-orang akan membahayakan dia/membunuh dia/mengincar nyawanya. Halusinasi dengar yang biasa ia rasakan berupa suara-suara yang dapat menyuruhnya untuk membahayakan dirinya sendiri/berkomentar miring tentang apapun yang ia lakukan. Dia juga punya kecenderungan untuk bunuh diri dan cenderung menarik diri dari pergaulan. Tapi ga tahu juga ini benar atau nggak.

    9. Amfetamin dan haloperidol informasinya udah pas 

    10. Ternyata kau seorang paranoia skizofrenia >> Ternyata kau seorang (penderita) skizofrenia paranoid.

    11. farmakologi, bukan farmatologi, dan sebenarnya farmakologi itu lebih ke arah bidang ilmu, bukan jurusan atau major. Mungkin lebih tepat kalau ia mengambil jurusan Farmasi

    12. Cinta itu. The infinite love from a mother to her son. >> dua kalimat ini bisa digabung 

    13. Amazingly to know that there were difference between love and madness >> It’s amazing to know ….

    Sekian, maaf kepanjangan. Pokoknya ff ini keren banget lah, selalu kutunggu dan selalu berkesan🙂 Thanks for making this nice ff

      1. Amiii~
        Komenmu sepanjang surat lagi *?* Aaa, saya suka sukaaa~
        Iy, jd si Minho ini ceritany sakit jiwa karena masa laluny.
        Ah, more typo lagi😦 Resiko ngerjain keburu sih hehe. Pemukul kriket mah it, kriket kan nama permainanny yah. haha
        Nah, komenmu ini loh, membangun banget. Saya bakalan nerapin ilmu baru ini k tulisan sy nantiny. Makasih loh yaa *hug
        Nah, jd sy mau nyiratin keanehan dr ibuny Minho, d part sebelumny jg kan dijelasin, jd ini semacam clue kpd readers. Persoalan paranoia skizofrenia it, nah iy, benar skali. Dr novel Sickened, emang tersiratny kayak gitu. Sebenarny sy jg mau jelasin soal penyakit jiwa it dn keterkaitanny dgn kondisi mental ibu Minho, Cuma karena keterbatasan lembar n takutny kepanjangan jd bikin terlalu membingungkan ato membosankan, sy Cuma ngasih beberapa ciri paranoia skizofrenia. termasuk parno sm kamera pengawas it jg.
        Huahaha, ketahuan bad english saya ini. Makasih loh pembetulanny
        Nah tp kamu berterima kasih, masa iya. Yg harusny makasih it saya dong. Kmu udah ngikutin ini dr awal smpe akhir, dengan komen masukan yg hampir sepanjang surat cinta *?* ini jg *hugkiss

  8. Ahjussi, bahkan dengan wajah bonyok seperti itu kau tetap tampan..😀
    haha.. Jinki, kau selalu tampan..😉 Saya ketawa dulu sebelum jadi speechless dan gak tau mau komen apa..
    Wajar aja Minho menderita gangguan jiwa, masa lalunya kelam banget ditambah diasuh sama ibu yang psycho. ckck.. Walaupun baca part akhir bikin jidat saya berkerut, tp syukurlah happy ending..
    Boram-ssi, daebak deh karyamu.. Semoga menang ya…🙂

    1. Pas ngetik bagian it sy justru kebayang muka babak belur Joongki d nice guy, asli suami saya satu it emang mrip banget dgn suami utama saya *?*
      Waah, maksih loh doany. Tp ini Cuma partisipasi kok, sy jg udah staff, gak mungkin jd main author dong haha
      Makasih yaa udah ngikutin ini dr awal smpe akhir dgn jejak komenny jg :*

  9. Wah… Intinya ‘kebencian dan kemarahan yang disebandingkan dengan cinta’?

    Aigoo…! Hahhh… Wah… Hol… #Speechless
    ibu minho menderita ganguan jiwa, sesuai dugaanku #plak
    masa lalu minho yg kelam. Kasihan bgt T.T

    aku bergidik dan harap-harap cemas menunggu ibu minho melayangkan kriket itu dan memukul jinki. Aduh.. Sumpah deg-degan. Tegang bagetlah…

    Daebakk, jjang, sugoi, kakkoi, cool, keren banget… Huuh, aku ampe mengap2 baca ini FF. Tegang… Hehe
    BAGUS BANGETlah…
    Nilai A+ dan 10 jempol, hehe

    1. Nah, seneng deh kamu bs nangkap tema cerita ini haha
      Dan selamat jg tebakanny udah benar haha
      Sya malah gak tega pas bagian it, tp akhirny ditulis jg haha
      Makasih ya Chan Yoen udah ngikutin kisah kegilaan *?* minho dr awal sampe akhir dgn jejak komenny jg :*
      Wah, seneng deh feelny udah dapet menurutmu. Meluk saya pengen gak? Haha
      Makasih ya udah ngikutin cerita ini dgn jejak komenny :*

  10. Tepuk tangan buat author ny.. Hebat bs bkin FF sebagus ini.. Dapet bgt feel ny..
    Pgn nangis pas baca crita minho…
    Pengen melukkk~😥

    D tunggu y thor karya brikut ny🙂

  11. min… min… min…. Hiks… endingnya min….. yaoloh…. Bagus speechless….
    Tapi aku masih penasaran nasib selanjutnya Minho… *gampar*
    tadi cuman bingung dikit… Yang bacin itu apa? Apartemennya Minho apa darah, kalo darah baunya bukannya amis?
    Tapi lepas dari kebacinan(?) FFnya beneran bagus! Tebakanku juga bener! Yay… *gaje*

    Nice FF^^

    1. Minho masuk k rehab, sembuh, trus nikah sm sy #lupakan
      Nasib minho cm jinki, jane, sm Tuhan yg tau *eh
      Bacin it bukanny semacam bau amis darah gitu yah?
      Selamat untuk tebaknny yg benar, n maksih udah ngikutin kisah ini dgn jejak komenny🙂

  12. Daebak *****
    sudah….aku ga bisa komen apa-apa lagi…pokoknya keren
    Apalagi jinkiku…aih…kerennyaaa…
    Kayanya aku perlu daftar jd pasiennya jg deh…dibelakang eunmi…haahaha
    jinki-a..aku sdh gila jugaa nih…help meee…..kkkkk

  13. Nggak tahu jadi reader ke berapa yang bilang part terakhir dari ‘Embrace of the Devil’ ini bikin speechless. Oh, jadi begitu kelamnya masa lalu Minho. Aowh, Jinki bonyok!

    -Beberapa kata sapaan masih belum diawali huruf kapital (ex: nyonya Choi –> Nyonya Choi, dokter Lee –> Dokter Lee, ahjussi –> Ahjussi, appa –> Appa).

    -Kalimat tidak efektif (Ia hampir terjengkang ke belakang, jika saja…). Kata ‘terjengkang’ sudah berarti jatuh pada posisi ke belakang. Sama seperti ‘tersungkur’ berarti jatuhnya ke depan. Akan lebih hemat jika menghilangkan kata ‘ke belakang’. Jadi kalimatnya menjadi, ‘Ia hampir terjengkang, jika saja…’

    -Penulisan nama gelar (Dr Brown). Nama gelar diikuti tanda titik. Jadi seharusnya Dr. Brown

    -Penggunaan kata baku (‘hipotesa’ seharusnya ‘hipotesis’)

    -Pada kalimat bercetak miring yang menceritakan flashback, jika pada kalimat itu terdapat istilah dalam bahasa asing, maka istilah bahasa asing itu tidak dicetak miring. Mis: Kau tahu, Appa lapar. Tapi bukan makanan… dst. ‘Appa’ tidak ikut dicetak miring dan penulisan menggunakan huruf kapital karena kata sapaan.

    Nice story. Semoga menang, Boram ssi. Jjang! ^^

    1. Typony banyak ya, ah nanti tulisan selanjutnya berharap udah gak ada typo lg deh haha
      Tp makash loh pembetulanny, dn ilmu nulisny jg sekalian. Membantu banget🙂
      Kamu jg reader k berapa yg udah ngirimin doa dan makash banyak loh untuk it. Tp ff ini Cuma partisipasi, lgpula sy udah jd staff, gak mungkin dong jd main author haha
      Makasih yaa udah ngikutin ini dr awal sampe akhir dgn jejak komenny :*

  14. omo~~ jadi ibunya minho itu juga punya penyakit skizofrenia? dan dia juga bukan ibu kandung minho. yaampunn. aku gak nyangka akhirnya bakal kayak begini. keren keren^^

  15. Aku nemu yang agak aneh-aneh sih di beberapa kalimat, jd kurang efektif. Berhubung aku komentarnya jg pake hape dan ga bawa kertas bwt nyatet dulu, jd maaf aku gabisa koreksi ._.v

    AH, THIS IS AMAZING! REALLY, REALLY AMAZING. Idenya brilian banget sih eon? Keren banget. Part 3-nya bener-bener klimaks dan epilognya pas banget.

    Sampe gak ada kata-kata lg yg bisa kuucapkan untuk memujimu. You’re daebak eonni❤

    1. Ketahuan sy nulisny masih banyak salah” dgn typo yg bertebaran dmana”.
      Wah, kupikir endingny bakalan gantung n dak memuaskan.
      Aniwei, makasih ya uda ngikutin ini dr awal sampe akhir dgn jejak komenny jg :*

  16. thor, this is so awesome
    gatahu mau comment apa
    endingnya keren banget
    oh ternyata ibu minho juga skizofrenia ya, kukira ibu minong itu jahat beneran, ternyata dia asalnya baik, tapi oh ;_;
    eh Dr. Brown itu ternyata nerima suapan, ganyangka banget deh
    keren banget ini ff, aku jadi tahu tentang penyakit-penyakit psikis, daebak thor😀
    ditambah kisah romantis, jadi gak monoton, keren😀

  17. eonni…cerita’a daebak…!!!
    q g prnah bs komen apa2…jd q cmn bs daebak Daebak!!! hehehe…..
    oke eon,q tunggu karya lain’a….😀

  18. bagus bangettttt ceritanaya tapi masih bingung harusnya di setiap akhir percakapan ada kata yang menjelaskan siapa orang yang bicaranya , jujur tadi sempet bingung akut tapi waktu di baca ulang masih bingung juga #plakakkk

  19. Hai^^
    Dari part awal baca sampai part ini, berasa baca novel terjemahan..
    Penulisan serta dialognya mantap
    Juga risetnya tentang obat-obatan dan segala macam, emang dengan adanya riset gini, cerita jadi semakin hidup
    Terus kesalahan pada penulisan tanda baca kayaknya ada, tapi karena lebih fokus ke ceritanya jadi gak terlalu merhatiin hehe
    Terus juga ada beberapa kata asing yang belum diitalic
    Oke, selebihnya lupa apa yang mau dikomenin lagi, semangat terus^^b

  20. Eonni selalu membuatku kagum di setiap ff.y. satu ciri khas dr ff eonni it adalah pesan yg selalu ditonjolkan dan itu bagus bgt! aku paling suka bagian ending.y, bahkan untuk ibu yggila pun punya cara.y tersendiri mencintai anak.y. meskipun agak kejam, tp aku salut untuk nyonya choi.
    Eon, di part 2 aku jg tayang jd cast, makasih loh eon muehehe
    Ff lain buatan eon kutunggu selalu! Hwaiting, eon!

    1. saengi hai haiii~ *waving
      iy nih, minjem namamu, otak lg stuck nyari nama tokoh haha
      makasih loh dear, udah mampir kemari haha

  21. Borammmm, sungguh, aku demen cerita beginian. Sayang kepalaku mumet banget minggu2 ini, jadi aku baca ini sampe 3 kali bolak-balik ada kali ya. Baru ngerti setelah itu.

    Oke, aku ga gitu ngerti tentang obat2an kayak ami krn mayorku jauh dr semua itu, hehe… beberapa kejanggalan muncul di otakku pas baca part 1, tp udh terwakilin ama 3 poin komentar Ami.

    Aku acungin jempol buat ceritanya, narasinya juga risetnya. Meskipun kalimatmu banyak yang ambigu dan kurang huruf atau kurang kata. Maaf ga bisa komen detil karena waktu baca dari hape. Lagian udah dikomen ama yang lain juga kan ya/.

    Hmmm, sedikit aneh sama endingnya. Entah kenapa berasa maksa banget di bagian ini:
    Ya, ia mungkin telah kalah. Tapi tidak dengan cintanya. Cinta itu menjadi pondasi harapannya untuk bertahan hidup. Cinta itu sebagai bukti kepeduliannya untuk melindungi miliknya yang berharga. Cinta itu adalah wujud nyata kasih seorang ibu dalam keterbatasannya. Cinta itu. The infinite love from a mother to her son.

    Aku… bisa dibilang… marah sama kamu yang nulis kalimat2 itu! Serius. Itu bukan kasih sayang, bukan love, omong kosong kalo disebut love *menurutku*. Orang mana yang sayang dengan cara itu. Apa yg nyonya choi kasih ke minho itu bukan kasih sayang, sama sekali bukan. Ga tau kenapa nih ga terima bgd yg begitu disebut sayang. Udah jelas2 sejak awal Minho disiksa perlahan walopun maksudnya pingin ngeredam mental disorder Minho. Aku setuju banget sama Minho, ibunya itu setan bertubuh malaikat bersayap. Aku pingin nyekik nyonya choiiii! *maaf emosi*

    Maapin kelabilan saya ya… emang lagi labil, sensi sama yang namanya definisi love, sayang, ataupun perhatian, hehe…

    Terus berkarya say, tulisanmu makin kece punya ^^b

    1. Beberapa reader jg complain sama halny dgn kmu, susah dimengertiny. Tp salut banget loh kmu mau luangin waktu smpe ngulang 3 kali, ingat pengalaman pertamaku bc novel psikologi yg mesti baca smpe ngulang” jg biar ngerti haha

      Aigo, berasa disemprot ini haha.
      Komentarmu ini sama persis dgn bf yg pertama kali kusodorkan untuk baca ini. Sama persis loh, sama” gak setuju kalo sy nyatain kekejaman nyonya choi bukan kasih sayang seorang ibu ke anakny.
      Dan, memang, agak sulit diterima akal logis sih sebenarny. Makany, saya pengen nyiratin d ff ny kalo betapapun ibu minho nyiksa anakny, semuany terdasarkan sm keterbatasnny, cacat mentalny.

      Nah, dialog ibu minho sm jinki, pas bilang dy gak mau jadiin minho sm seperti ayahny, it adalah penyebab terkuat knp dy begitu ambisi membesarkan minho biar bs sesempurna mgkn dgn ajaran” yg diyakininy meskipun slah banget. Ibu minho dibesarkan dgn kekerasan seksual n fisik, secr tdk langsung brpengaruh trhadap perilakuny jg. Ia memang brusaha untk tdk menjadikan minho sprt ayhny, tp masih, the madness drivin’ her. Ingat pelajaran sosiologi deh, seseorg yg dbesarkn dgn kekerasan akn ikut menjd keras jg. Jd intiny, ibu Minho secr gak langsung ttp mewarisi sifat ayahny yg kejam meskipun ia berusaha untk menghlgknny.

      Seorg skizo trkenal krn sering melukai org lain, itpun krn dy tidak spenuhny sadar, krn pikiranny diambil alih oleh kegilaan. Nah, makany makany sy mau ngasih kesan dr ff ini, seorg ibu it selalu berusaha melakukan yg trbaik untk anakny. Untk kategori cacat macam ibu minho, meskipun ia kurang waras, cinta sm ankny ttap ad. Dan bs dibilang kan, ia brtahan hidup dm anakny dan berusaha mati”an melindungi minho agar tdkdimasukkkan k dalam rumah sakit jiwa yg dianggapny kumpulan pembunuh, yg mungkin sj salah satu mental disorder d sn bs saja membunuh minho. Dan teori ibu minho ini gak sepenuhny salah, karena emang nyatany di RSJ kan emang banyak psikopat yg tidak trtutup kemungkinanny udah pernah membunuh.
      Sy belajar satu ini dr buku psikologi yg lupa judulny ap, sm novel Sickened it. Dan eh, kmu ska cerita yg beginian? Ciyus deh, nyesel banget kalo lewatin novel satu it.

      Dan iy, setan berkedok malaikat bersayap it adlh hasil dr penyiratan judul ff ini haha.

      Tp entah loh Bib, mungkin krn sy kebanyakn baca buku psikologi, n di sekelilingku bnyk ank” yg bermasalah dgn lingkungan sosialny, sy nebak”, something wrong trjadi padamu Bib? Kmenmu ini mengingtkan sy sm sikap temanku yg brokenhome. Sy mungkin sok tahu atau ap sih, tp serius, komenmu ini bikin sy curiga kmu ad masalah dgn temen, pacar, atau keluarga, mungkin? Ehm, sy udah melanggar zona privasi kali yah hehe. Mianheee~

      Oke, komenku sdh panjang banget ini haha. Kalo masih belum nerima, ditanyain aj lagi. Makasih loh bib udah luangin waktu untk bc ff aneh ini dn komentar yg sepanjang surat cinta ini haha.

  22. ane udah bingung dari awal,sampe ngulang baca ini berkali2 tp akhirx ngerti jg..
    .ini keren begete deh.ane jadi minat baca buku psikologi gara2 ff ini.daebak…!

  23. Huah, ini keren banget. Serasa baca novel terjemahan atau novel yang genrenya ‘berat’ gitu. Meskipun tiap paragraf harus dibaca berulang kali (apalagi kalau udah ada istilah psikologi apalah yang asing sekali menurutku) tapi tetep aja gak menutupi kekerenannya, hohoho. ^o^b

    Heum, sebenernya menurut aku ending tentang cinta nyonya Choi ke Minho itu lumayan lho. Andai saja nyonya Choi itu ibu kandungnya Minho. IMO, lebih logis kalo gitu.__. Yah, meskipun kenyataannya Minho diasuh selama hampir duapuluh tahun sama nyonya Choi, tapi tetep aja menurut aku rada gimanaaa gitu kalo disebut ibu. Kayaknya Minho nganggep nyonya Choi cuma sebagai malaikatnya gitu aja. Tapi…err, apakah peran malaikat dan ibu itu beda tipis yah? Err, yah, menurutku sih gitu.__.

    Btw, aku suka banget sama Jinki-Eunmi, hehehe. Kayaknya lucu aja gitu pasangan beda umur jauh😄
    bbwaiting yo~ ‘o’)9

  24. Sumpah gaktau mau komen apa di ff ini. Aku ya kl udh baca ff yg terlalu keren kaya gini udah gak mikirin eyd dll apalah itu:”
    Pas mulai ada kata2 malaikat dan eomma minho aku udh nebak dikit dalangnya eomma minho, bener ternyata :” ampuun kasian ya eomma minho sama minhonya.
    Jinki cieeee banget disini, dokter, pinter, weh taulah apalagi:”wkwk dan endingnya baguss:) penutup dari semua ketegangan scene scene di atas. Keren laaah banget malah hihihi

    Keep writing kaak! Semangat!:)

  25. Fuihhh… akhirnya selesai juga baca Embaraces of the devil *lap keringet*
    kalo bleh jujur, spertinya, sebagai penikmat cerita kegilaan, aku kurang puas. *plaaakkk*
    karna di part satu dan dua, tulisanmu berhasil bkin aku menggebu2 dan penuh rasa penasaran, juga menebak2 kejutan apa yang akan ter-reveal. Tapi di part akhirnya, aku pribadi ngerasa ending-nya rada maksa *plaakkk*
    Duh! agak susah menjelaskannya ^^v
    tapi suka sama epilognya b^^
    “… Aku selalu dibayangi wajah ahjussi setiap saat. Bahkan, bisikan yang selalu kudengar adalah suaramu. Katakan padaku, aku sudah gila kan?” <– Ah! jangan gila dong! kalimat ini oKEY sekali.hha.

    oia, tadi ada penulisan kata eomma yang masih ditulis eumma.
    sama "Amazingly to know that there were no difference …" harusnya there were no differences.
    overall, ceritanya bagus dan bkin aku sbagai pembaca ga sabaran banget buat tau kelanjutannya kaya gmna.

    oKEY, sekian dariku. maaf komennya kepanjangan dan tidak membangun.kekek.
    Tetap semangat u/berkarya yaa ^^9

  26. sebenernya aq msh bingung loh~~ jadi nyonya choi itu ibu angkat? lalu ibu aslinya dibunuh minho? ibunya yg gila kan? jd sblmnya minho yg waras trus diasuh ama ibu gila? btl gk sih?

    yg penting jinki selamat, kupikir jinki bakal mati ternyata enggak😉 good ff author! bikin lg ya yg kyk gini

  27. part 1 udah aku baca pas masa ff party, tapi lupa di komen ._.
    mian eon u.u

    di part 1 bagiku emang sangat rumit dipahami, banyak kata-kata ilmiah yg pastinya gk aku ketahui. Jadi demi ff ini aku telusuri apa itu mental disorder,skizofrenia,hypomania ,bahkan mania , bipolar disoder(bener gk ya?) aku cari di wiki. Tapi untunglah ngerti2 dikit.

    btw aku suka part ini. Lebih menegangkan dan ada nilai moralnya. Aduh gak nyangka deh, aku nangis di tengah2 cerita (?) >.< tapi ketawa juga. membayangin minho menangis meraung-raung..aduh gk bisa dibayangkan😄 sedangkan nangis di TTBY aja udh bikin aku ngakak,apalagi sambil meraung-raung.😄 *jahat!

    Daebak eon! aku gak tau mau ngomong apa lagi. 2 jempol deh buat eon! ^O^

  28. Boram… saeng….
    Eon sport jantung baca part ini…
    Takut bakal terjadi pembantaian dua dokter…
    Dari Part 2, eon emang udah ngira, eommanya Minho biangnya
    tapi gak bakal ngira bahwa ayahnya Minho pernah ‘abuse’ dia
    dan menjadi awal ketakutannya thd matahari…
    Eon jg gak nyangka kalo eommanya minho hanya ibu angkat…
    Satu lagi, ternyata Dr. Brown ikut andil penanganan Minho yang salah
    Huwaaa…..

    Demi ubin2 yang diitung Jinki….
    Eon gak tau mesti komen apa lagi…

    dari awal, eon udah bilang untuk masalah medisnya eon nyerah…
    dan eon kasih kredit plus plus buat author2 yang berani ngangkat
    topik2 berat kayak gini…
    Bener2 bisa dijadiin ajam pembelajaran sekaligus hiburan…

    ngulang komen eon di Part 1….
    FF Pinter…
    dari Penulis Pinter…

    *bow…

  29. Ya Allah thor ini ff bagus banget kenapa pake merendah -.- sumpah ini bacanya aja tegang daebak thor daebak!!
    Dasar emaknya si minho psikopat akut!

  30. wow,ini cukup membuka mataku tentang dunia psikologi,nggak sekedar karangan yang mengada ada tapi menggunakan beberapa referensi dan serius ini keren,slama udah menciptakan ff ini kak ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s