[FF PARTY 2012] Cor Tangite – Part 3

Cor Tangite

Author                  : dhila_kudou

Title                       : Cor Tangite (String of Heart)

Main Cast            : Lee Jinki

Support Cast      :

  • Lee Taemin as Choi Taemin
  • Kim Kibum
  • Choi Minho

Minor Cast          :

  • Kim Jonghyun
  • Shinwoo (CNU) B1A4

Genre                   : Bromance, Family, Life, Sad, Angst/Hurt, Medical

Rating                   : G

Type                      : Alternative Universe (AU)

Length                  : Sequel

Summary             : “Ketika akhirnya hati kita terhubung oleh benang-benang takdir yang tak terlihat.”

Recommended Song : Quasimodo + 1000-Years Always by Your Side – SHINee

Note                      : OP (Only Participating)

———————————————————————-

Cor Tangite

PART 3

Miracle

Pintu ICU bergeser memberi jalan kepada perawat untuk masuk. Di dalamnya telah berdiri Jinki, Shinwoo, Nyonya Lee, dan Minho untuk menunggu proses pelepasan alat bantu yang digunakan Taemin.

“Maaf, Tuan, Nyonya, silakan tunggu di luar,” kata perawat tersebut di balik maskernya.

Jinki langsung menyela, “Biarkan saja, Suster.”

“Tapi Dok—“

“—tak apa apa,” jawab Jinki sambil menganggukkan kepalanya pelan.

Minho merangkul bahu Ibunya erat. Mereka berdua akan disuguhkan pemandangan memilukan untuk kali kedua dalam hidup mereka. Yaitu melepaskan kepergian orang yang dicintai selamanya. Nyonya Lee berusaha tegar, tetap tenang. Kali ini ia bertekad tidak akan menangisi kepergian Taemin, anak bungsunya.

“Mari kita mulai,” kata Jinki memberi aba-aba dengan penuh wibawa. Perlahan, tangannya melepaskan jarum infus dari lengan kiri taemin. Dalam waktu yang bersamaan, Shinwoo juga menutup saluran vena sentral yang terpasang di bahagian tengah dada Taemin. Perawat membantu mereka berdua merapikan alat-alat tersebut di tempatnya.

Lalu, Jinki melepaskan saluran nasogastric tempat penyaluran makanan yang masuk melewati hidung Taemin. Dengan gentle ia melakukannya, perlahan. Setelahnya, Jinki menghentikan asupan oksigen dari Taemin, lalu melepaskan alat bantu ventilatornya. Shinwoo melepaskan alat-alat lain yang terpasang di tubuh Taemin.

Di saat itu, alat monitor jantung masih menunjukkan keadaan yang stabil. Angka saturasi oksigen bergerak turun. Namun, wajah Taemin tak bergerak sedikitpun. Ada aura kedamaian di sana.

Jinki membiarkan jantung Taemin bergerak sampai akhirnya melambat, lalu berhenti.

Lengkingan suara nyaring panjang menjadi akhir dari semuanya. Saat itulah, Minho tak bisa menguasai diri. Ia menutup sebagian wajahnya, lalu terisak. Nyonya Lee hanya memandang Taemin dengan wajah datar tanpa ekspresi.

Jinki melirik Minho dan Ibunya sekilas. Matanya langsung berkaca-kaca. Saat itulah ia kembali merasakan rasa sesak di dadanya. Tapi ia tak bisa menangis sekarang. Ia harus melanjutkan tindakannya.

 “Saatnya melepaskan alat terakhir, Shinwoo,” ujar Jinki sambil menatap lurus ke arah Shinwoo. Shinwoo menganggukkan kepalanya. Alat terakhir yang dimaksudkan oleh Jinki adalah alat perekam jantung, salah satu pertanda apakah masih terdapatnya kehidupan di dalam tubuh Taemin.

“Hhh…”

Tiba-tiba, Jinki merasakan bajunya ditarik oleh seseorang. Ia langsung mengarahkan tatapannya ke bawah. Sebuah tangan menarik bajunya.

dan tangan itu milik Taemin.

“Taemin!” pekik Nyonya Lee. Ia berusaha mendekati Taemin, namun perawat mencegahnya untuk tidak mendekat. “Biarkan dokter memberikan pertolongan terlebih dahulu, Nyonya. Tolong mundur sebentar,” ujar perawat tersebut. Tangisan Nyonya Lee yang sedari tadi ia tahan langsung pecah. Minho berusaha menguatkan Ibunya.

Taemin menarik napas berulang kali dengan cepat. Ia terlihat sesak. Lampu indikator monitor jantung langsung berkedip pertanda kegawatan. Jinki langsung menyambar masker oksigen yang diserahkan oleh perawat, lalu memasangkannya pada wajah Taemin. Shinwoo mengatur saturasi oksigen sampai angka tertentu.

Nyonya Lee tak bisa menahan dirinya. Ia langsung bergegas mendekati anak bungsunya.

“Taemin! Kau masih hidup, Nak? Bertahanlah!” tangisnya sambil menggenggam tangan kanan Taemin.

Eomma….”

Taemin masih megap-megap dibalik masker oksigennya. Jinki mengambil satu ampul obat, memasukkannya ke dalam alat suntik, lalu dengan cepat ia menyuntikkannya ke lengan kurus Taemin perlahan. Shinwoo juga ikut melakukan sesuatu untuk menolong Taemin.

“Bertahanlah, Taemin!” gumam Jinki sedikit keras. Ia menarik jarum suntik tersebut, lalu kembali melihat ke arah monitor dan wajah Taemin secara bergantian. Perlahan angka saturasi oksigennya meningkat, dan denyutan jantungnya kembali normal. Taemin tampak lebih tenang.

Eomma,” lirih Taemin lemah.

“Iya sayang, bicaralah,” ujar Nyonya Lee. Minho bergerak mendekati Taemin.

Eomma, jangan tinggalkan aku…,” ujar Taemin perlahan.

“Tentu saja, Sayang. Eomma tetap di sini di sampingmu,” ujar Nyonya Lee sambil menyentuh wajah pucat Taemin. Sementara Minho tak sanggup berkata apa-apa hingga saat ini. Ia terlalu syok melihat keajaiban ini. Ia terlalu bahagia sehingga tak mampu melakukan apa-apa selain ikut menggenggam lengan Taemin.

Taemin menggenggam tangan Eommanya lebih kuat. Ia menolehkan wajahnya kepada Hyungnya.

“Minho Hyung…,”

Minho menarik napas dalam. Air matanya kembali mengalir mendengar Taemin memanggil namanya. Perlahan, ia mencium dahi Taemin, bentuk ungkapan rasa bahagia atas kembalinya sang adik ke dalam kehidupan mereka.

“Jangan tinggalkan Hyung lagi, Taemin!” gumamnya berat. Taemin tersenyum samar. Ia mengacak rambut Taemin dengan penuh kasih sayang.

Jinki dan Shinwoo menarik napas lega. Jinki bersyukur karena keajaiban benar-benar telah datang padanya. Ia mengusap pipinya yang tak ia sadari basah karena air mata kebahagiaan. Perlahan, ia berjalan menjauh meninggalkan Taemin beserta keluarganya. Ia mengikuti Shinwoo dan perawat keluar ruangan.

“Jinki-ya!” sahut Nyonya Lee. Langkah Jinki pun terhenti. Ia membalikkan badannya kembali.

Jeongmal kamsahamnida.

Nyonya Lee berdiri dari kursinya, lalu membungkuk dalam. Minho pun mengikutinya. Jinki kembali menghampiri Ibu kandungnya.

“Sama-sama. Berterimakasihlah kepada Tuhan. Saya hanya sebagai perantara saja untuk Taemin. Saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada Taemin karena sudah mau kembali untuk menemui Eomma dan Hyungnya,” ujar Jinki sambil menatap Ibunya, lalu beralih kepada Taemin. Taemin membalas tatapan Jinki.

“Terima kasih, Dok,” lirih Taemin pelan.

Mata Jinki menatap wajah Taemin terharu. Ia senang bercampur sedih. Ia senang karena Taemin mengucapkan terima kasih padanya. Namun ia sedih karena Taemin tampaknya tak menyadari maksud kata hyung dalam ucapannya barusan ditujukan untuk Minho dan juga dirinya.

Benar, Taemin belum mengetahui status Jinki yang sebenarnya.

=====Cor Tangite=====

 

Seoul, 23 Desember 2012

Jinki mengaduk coklat hangat buatannya. Ia menggeser sebuah bangku di ruangan jaga IGD. Ya, ia kembali bertugas di IGD hari ini. Tepatnya untuk malam hari nanti. Sekarang, ia hanya menghabiskan waktu di rumah sakit sambil membereskan beberapa rekam medis pasien yang ditanganinya. Seakan-akan tak ada hari Minggu untuk dokter seperti dirinya.

Baru saja ia hendak membuka map rekam medis pertama, ponsel khusus keluarganya berdering di atas meja. Jinki pun buru-buru mengangkatnya.

Yoboseyo?”

Yoboseyo! Hyung, apa kabarmu?”

Jinki menyandarkan punggungnya ke kursi, “Baik, Kibum-ah. Ada perlu apa menelpon pagi-pagi begini?”

“Apa benar Taemin sudah siuman?” tanya Kibum dengan nada cukup keras.

“Iya..benar. Kemarin dia udah siuman.”

“Astaga, Hyung! Kenapa kau tak langsung menelepon aku kemarin?”

Jinki tersenyum lugu, “Aah, mianhaeHyung benar-benar lupa. Kemarin Hyung tak sempat memegang ponsel ini. Tugasku terlalu banyak.”

“Aahh, untung saja Minho-hyung memberitahukannya padaku. Gak apa-apa kok, Hyung. Sekarang, dia dirawat di mana? Apa dia sudah dipindahkan dari ICU?” tanya Kibum.

“Sudah, baru tadi malam dia keluar. Sekarang dia dirawat di bangsal neuro. Kamu mau membesuknya?”

“Tentu saja, Hyung! Oke, sebentar lagi aku ke sana. Selamat bertugas! Bye!”

Bye!”

Kibum memutuskan sambungan teleponnya. Ia mendesah panjang.

“Aah..Taemin…,” gumamnya.

Sinar matahari pagi yang masuk menembus jendela kamar menerpa wajah cerianya. Betapa bahagianya Kibum saat mendengar kepastian kabar dari Jinki mengenai keadaan sahabatnya, walau sebelumnya Minho telah mengabarinya.

Tak mau menunggu berlama-lama, ia bergegas ke rumah sakit segera. Ia mengayuh sepeda santainya dengan penuh kebahagiaan sambil menikmati kesegaran udara pagi ini.

———————————————–

Minho melirik jam tangannya. Ia baru saja menunggui Ibunya yang tertidur pulas. Maklum, dua malam terakhir ini mereka berdua menghabiskan waktu mereka hanya untuk menjaga Taemin. Terlebih tadi malam, mereka berbincang hangat di ruangan rawat Taemin. Tentu saja, karena mereka telah merindukan suara Taemin selama lebih dari dua bulan lamanya.

Minho merapatkan selimut yang menutupi Ibunya. Ia melirik jam dinding sekilas.

Eomma, aku ke rumah sakit dulu, ya.”

Minho tau Ibunya takkan menjawab. Tapi setidaknya ia telah berpamitan. Ia memberikan kecupan hangat di pipi Ibunya, lalu berbalik arah.

Tanpa ia sadari, mata Ibunya membuka perlahan dan menatap kepergian Minho yang mulai menghilang dari balik pintu.

———————————————————–

Kibum melangkah cepat di lorong rumah sakit di lantai tempat ruangan rawat Taemin berada. Ia berhenti di depan sebuah pintu lalu mencocokkan nomor yang tertera di pintu tersebut dengan memori ingatannya. Tepat, di sinilah ruangannya.

Ia melirik ke dalam melewati kaca di pintu tersebut. Tak ada satu pun orang di sana.

“Ke mana Taemin?” tanyanya pada diri sendiri.

Kibum mengurungkan niat untuk membuka dan menerobos masuk ke ruangan Taemin. Ia berbalik melihat ke sepanjang lorong untuk mencari perawat yang bertugas di sana. Mungkin saja ada yang mengetahui keberadaan Taemin sekarang.

Tak lama kemudian, seorang perawat muncul dari ujung lorong sambil mendorong kursi roda. Mata Kibum langsung berbinar bahagia. Ia menutup mulutnya yang menganga.

Orang yang duduk di kursi roda tersebut adalah Taemin, sahabatnya.

“Kibum—ah!” sapa Taemin dari kejauhan. Ia melambaikan tangan ke arah Kibum.

Ia bergegas mendekati Taemin. Ia berkata pada sang perawat, “Biar aku saja yang membawanya, Suster.”

Perawat pun menyerahkan pegangan kursi roda kepada Kibum. Ia berjalan di belakang mengiringi Kibum dan Taemin.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Kibum. Ia menundukkan kepalanya agar dapat melihat wajah Taemin secara jelas.

“Semakin membaik,” jawab Taemin singkat. “Sudah lama menunggu?” tanya Taemin lagi.

“Enggak, aku baru saja datang. Memangnya kau dari mana?” tanya Kibum.

“Tadi dari ruangan fisioterapi. Sepertinya tidur 2 bulan membuat gaya jalanku menjadi tak normal. Belum lagi seluruh otot-ototku tak lagi berkoordinasi dengan baik. Ternyata tidur lama itu tak mengenakkan ya?” keluh Taemin.

Kibum tergelak, “Itu kamu tahu! Setelah ini, jangan tidur lagi, ya! Jangan tinggalin aku lagi!” pinta Kibum.

Taemin tersenyum lebar, “Yak! Mana bisa manusia hidup tanpa tidur?”

“Aku tak menyangka sehabis koma kamu jadi bawel seperti ini,” keluh Kibum. Ia mengacak rambut Taemin sambil tersenyum gemas. Taemin langsung mengusir tangan Kibum dari kepalanya, lalu memperbaiki rambutnya asal.

Akhirnya mereka memasuki ruangan Taemin. Kibum memapah dan membantu Taemin mencapai ranjangnya. Taemin kembali membaringkan tubuhnya di ranjang yang posisinya dibuat setengah duduk. Setelah dirasa nyaman, Taemin menghembuskan napas lega.

“Terima kasih, Kibum,” gumamnya. Kibum menanggapinya dengan ekspresi sudahlah-jangan-terlalu-berlebihan.

Perawat pun pamit dan meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan.

“Minho Hyung mana?” tanya Kibum, “Kamu sendiri aja dari tadi?”

“Dia pulang sebentar mengantar Eomma ke rumah. Sekalian mengambil barang-barang yang ada di kamar penginapan keluarga pasien katanya.”

“Jadi…kamu besok udah bisa pulang kalau begitu?” tanya Kibum. Wajah keduanya langsung sumringah.

“Kalau keadaanku makin membaik, sepertinya besok sudah bisa pulang. Yang penting, Eomma tak perlu menungguiku malam-malam lagi,” balas Taemin sambil tersenyum.

Kibum mengatupkan kedua tangannya, “Syukurlah…Ah, aku ada sesuatu buat kamu.”

Kedua alis Taemin bertaut penasaran, “Apa?”

Kibum mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ranselnya. Sebotol minuman yang begitu tak asing bagi Taemin, sekaligus minuman yang sangat ia rindukan saat ini.

Banana Milk!” teriaknya lantang saat melihat botol yang disodorkan oleh Kibum. “Aah, kau memang sahabatku yang paling pengertian, Kibummie. Gomawo!”

“Yak! Jangan panggil dengan nama itu. Geli tau!” balas Kibum tak terima. “Eh, tapi ngomong-ngomong pasien boleh meminum minuman dari luar?” tanya Kibum ragu.

“Ini kan cuma susu. Susu baik untuk kesehatan dan perbaikan kondisi tubuh. Jadi tak ada salahnya, kan?” bela Taemin.

“Oke. Kalau gitu aku tak bertanggung jawab kalau pencernaan kamu bermasalah nanti,” ujar Kibum sambil meneguk minuman kaleng miliknya. Suasana hening sejenak sampai akhirnya Taemin meletakkan botol banana milk yang telah kosong ke atas meja. Mata Kibum membelalak.

“Habis? Cepatnya. Kamu benar-benar sudah lama ya tak meminumnya?” komentar Kibum.

Taemin hanya terkekeh. Ia tahu pertanyaan barusan tak perlu dijawab karena Kibum sendiri sudah tahu jawabannya apa.

“Oiya, katanya kamu yang mengantar aku pas kecelakaan itu ya ke rumah sakit?” tanya Taemin membuka topik pembicaraan baru.

“Eum..iya..Hehe… Ngomong-ngomong, bagaimana ceritanya kamu bisa kecelakaan seperti itu?” tanya Kibum.

Taemin berusaha mengingat sejenak, “Aah, waktu itu kalau tak salah ingat hujan lebat. Jadi aku kurang fokus sewaktu menyebrang. Itu saja.”

“Itu saja katamu? Sampai koma dua bulan seperti ini bukan itu saja namanya Taemin-ah. Lain kali hati-hati. Apalagi waktu hujan lebat itu kendaraan sering menaikkan kecepatannya.”

“Iya, Eomma. Iyaa… Kalau cerita dari kamu gimana? Bukannya jalan menuju rumahmu nggak lewat persimpangan itu kan?” tanya Taemin balik.

“Ooh… Waktu itu aku dari toko alat tulis beli cat minyak. Tiba-tiba jalanan mendadak macet. Aku langsung penasaran, trus turun dari bus yang aku tumpangi. Ternyata korban tabrak lari. Aku kaget saat mengetahui seragam sekolah si korban sama dengan yang aku kenakan. Buru-buru aku mencoba mengenal wajah korban, dan ternyata itu kamu! Ya ampun, sumpah beneran aku panik. Sampai-sampai aku nggak ingat nomor telepon ambulans berapa,” jelas Kibum berapi-api.

“Haha, padahal ngakunya adik dokter…,” ledek Taemin. Kibum pun tertawa.

“Nah, itu dia! Aku langsung menghubungi Minho­-hyung untuk minta pendapat. Aah, untunglah kamu bisa diselamatkan Taemin­-ah!” tutur Kibum. “Satu lagi, aku menemukan boneka kelinci itu tak jauh darimu. Untung Cuma retak sedikit, padahal biasanya boneka tanah liat itu kalau terpelanting sedikit langsung pecah. Kok bisa ya?” tanya Kibum sambil mengerutkan keningnya.

Taemin langsung tersenyum penuh arti, “Hmm, rahasia…”

“Kan… gitu ya sama sobat sendiri.”

“Tapi prakaryanya jadi dikumpulkan?” tanya Taemin. Kibum mengangguk.

“Pas hari H, aku ke sini ambil boneka itu untuk dinilai. Nilai kamu paling tinggi di antara para cowok. Benar-benar tak masuk akal. Padahal sudah retak sana-sini.”

Tawa Taemin langsung pecah, “Jangan sepelekan kekuatan kelinci buatanku, Kibum! Itu buktinya aku buat kelinci tersebut pakai hati, pakai niat tulus.”

“Iya deh..iyaa…,” balas Kibum asal.

Ttok..ttok..

Dua ketukan menghentikan candaan mereka berdua.

“Siapa itu?” tanya Kibum. Mereka berdua langsung mengarahkan pandangan ke pintu ruangan.

Pintu pun bergeser perlahan. Seorang pemuda dengan jas putih masuk ke dalam ruangan. Ia menatap Taemin dan Kibum bergantian.

“Permisi.”

Kibum langsung berdiri dari kursinya, “Selamat pagi, Dok,” sapanya. Taemin hanya menatap dokter tersebut sambil tersenyum.

“Selamat pagi. Maaf mengganggu, saya ingin melakukan pemeriksaan sebentar pada Taemin,” balas dokter tersebut. Kibum menoleh pada Taemin yang tampaknya tak mengetahui kalau dokter yang berada di hadapannya kini adalah hyungnya Kibum,  Jinki.

Kibum buru-buru pamit, “Ooh, silakan Dok. Aku beli minuman sebentar ke bawah.”

“Hah, belum cukup memangnya?” tanya Taemin menanggapi.

Kibum hanya tertawa kecil. Ia benar-benar canggung sekarang. Kibum sendiri tak tahu mengapa perasaan aneh ini menyelimuti dirinya. Ia pun berlalu keluar dan berlari di lorong rumah sakit.

Jinki berjalan menuju infus drip di tepi ranjang Taemin. Ia mengecek sekilas sambil menuliskan sesuatu di papan status yang ia bawa sedari tadi. “Ada sesuatu yang mengganggu yang kamu rasakan sekarang, Taemin?” tanya Jinki membuka pembicaraan.

“Sejauh ini aman, Dok,” jawab Taemin.

“Nafsu makannya baik? Atau mengeluh mual?” tanya Jinki lagi. Matanya fokus menatap wajah Taemin. Taemin menggeleng, “Tidak, baik-baik saja.”

“Oke, berarti ini infus terakhir ya,” ujar Jinki sambil mencatat hal-hal lain yang ia perlukan. Jinki melakukan beberapa pemeriksaan lainnya. Tanpa ia sadari, Taemin sedari tadi memperhatikan dirinya dengan berbagai pertanyaan yang mengumpul di benaknya.

“Dok, apa benar Dokter adalah saudaraku?” tanya Taemin tiba-tiba.

Atmosfer ruangan mendadak berubah karena pertanyaan yang baru saja Taemin lontarkan. Jinki menegakkan badannya dan menatap Taemin lekat-lekat.

“Tadi malam, aku mendapatkan berita ini dari Eomma. Eomma telah bercerita semua. Apa benar itu, Dok?”

Bola mata Jinki bergerak tak tenang. Ia panik. Jinki belum mempersiapkan diri untuk menghadapi atmosfer seperti ini, atmosfer yang akan terbangun antara dirinya dan Taemin.

Ia memutuskan untuk mengangguk pelan, “Benar. Apa yang telah dijelaskan oleh Eomma-mu benar. Apa kamu keberatan?”

Ia tahu pertanyaan yang baru saja ia lontarkan akan membuahkan kemungkinan jawaban yang menyakitkan. Aku keberatan. Lalu setelahnya? Apa dia akan berkata ‘Oh sudahlah, tidak usah dipikirkan’ lalu berusaha menghilang dari penglihatan Taemin selamanya?

Jinki menunggu jawaban dari Taemin sambil berharap cemas. Taemin memiliki hak untuk menolak dirinya bergabung ke dalam keluarganya. Taemin berhak melakukan itu. Dan kini, Jinki pasrah dengan semuanya.

Setelah hening sesaat, Taemin menanggapi pertanyaan Jinki, “Tentu saja tidak, Hyung. Aku senang mendengarnya. Ah, berarti aku punya Minho hyung dan Jinki hyung sekarang. Ah, senangnya punya dua kakak.”

Jinki terkejut. Semua pikiran negatifnya sirna sudah dengan jawaban tulus dari Taemin. Saudara seibunya kini menatapnya lekat. Ada guratan kebahagiaan di sana.

Gomawo, Taemin. Terima kasih kau telah membuka pintu untuk Hyung.”

——————————————

Kibum melirik tas plastik bening berisi minuman yang baru saja ia beli di kafetaria. Sebotol susu pisang dan soda.

“Taemin pasti belum puas dengan sebotol susu pisang tadi. Ah, anak itu benar-benar sudah lama tak meminumnya,” ujarnya bermonolog. Ia terus tersenyum di sepanjang lorong. Sampai akhirnya ia sampai di depan pintu ruangan rawat Taemin.

Ia melirik ke arah kaca di pintu tersebut untuk melihat apakah hyungnya masih melakukan pemeriksaan kepada Taemin. Ternyata benar. Jinki berdiri membelakangi pintu dan tengah berbicara pada Taemin.

“Tentu saja tidak, Hyung. Aku senang mendengarnya. Ah, berarti aku punya Minho Hyung dan Jinki Hyung sekarang. Ah, senangnya punya dua kakak.”

Apa?!

Punya dua kakak?

Minho-hyung dan Jinki…hyung?

Taemin saudara seibunya Jinki-hyung?

Tangan Kibum melemas seketika. Tanpa ia sadari, tas belanjanya terjatuh tertarik medan gravitasi yang mengalahkan tahanan tangannya.

——————-

Klontang!

Taemin menolehkan kepalanya kilat ke arah pintu, “Suara apa itu?” tanya Taemin penasaran.

“Mungkin petugas kebersihan yang lewat. Ah, Hyung pamit keluar dulu. Nanti seusai jaga, Hyung temui kamu lagi. Selamat beristirahat.”

Taemin mengangguk, “Baik Hyung. Selamat bekerja.”

————————————————–

Kibum langsung berlari menjauh. Tangannya mengusap bulir air mata yang jatuh begitu saja membasahi pipinya. Ia berharap dengan berlari dan menjauh dari sini pikirannya akan tenang. Ia terus berlari menuju ujung lorong rumah sakit.

Kini, aku bukan satu-satunya saudara yang Jinki-hyung miliki. Apakah hyung akan meninggalkanku setelah ini?

BRUK!

Kibum menegakkan wajahnya yang sedari tadi tertunduk menatap lantai. Ia baru saja menabrak seorang laki-laki bersetelan semi formal yang kini berusaha mengenal wajahnya.

“Kibum? Kau menangis?” tanya orang tersebut.

Kibum tak kuat menjawab. Ia hanya merangkul orang di hadapannya.

“Minho Hyung, apakah Jinki hyung akan pergi meninggalkanku?” tanya Kibum dengan suara serak.

Minho terkaget, “Kamu telah mengetahui semuanya?”

“Aku bingung dengan perasaanku sekarang. Apa yang harus kulakukan? Aku belum siap kehilangan kasih sayang seorang kakak, Hyung! Aku baru saja berhasil mendapatkan seluruh pengertiannya padaku. Dan sekarang—“

“—kamu tenang dulu. Pelan-pelan. Kita duduk dulu, ya?” ujar Minho sambil memapah Kibum. Kibum hanya mengikuti arah langkah Minho dengan tak bersemangat. Pikirannya benar-benar tumpu sekarang.

Kibum mendudukkan badannya di kursi tunggu. Ia mengatupkan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya yang kini perlahan basah oleh beberapa tetes air mata. Tangan Minho langsung bergerak merangkul bahu Kibum dan mengusapnya. Berharap dengan begitu emosi Kibum kembali tenang.

“Tenangkan dirimu dulu. Rileks. Semua yang kamu takutkan tak akan terjadi. Percayalah,” tutur Minho tenang. Ia mengelus bahu Kibum. Wajah Kibum masih tertunduk berusaha menahan tangisannya untuk keluar lebih banyak.

—————————————————-

Jinki berjalan menuju pintu. Ia melirik keluar sekilas sebelum menggeser pintu tersebut. Tak ada siapa-siapa di luar.

Ia pun menggeser pintu perlahan. Sekaleng minuman soda dan sebotol susu berguling mendekati sepatunya. Perasaannya berubah tak enak. Ia melirik ke sepanjang lorong. Matanya membulat sempurna saat ia menangkap objek yang ia kenal.

Kibum dan Minho. Mereka berdua tampak berangkulan. Kibum berusaha menutup wajahnya dan tertunduk dalam.

“Ada apa, Hyung? Ada masalah di luar?” tanya Taemin sambil berusaha turun dari ranjang. Jinki masih terpaku di balik pintu ruangan yang setengah terbuka.

Pasti Kibum baru saja mendengar percakapanku dengan Taemin. Kibum pasti salah paham.

Apa yang harus kulakukan?

Taemin berjalan perlahan hingga akhirnya berdiri di belakang Jinki, “Kenapa Hyung?”

Jinki terkejut. Ia segera berbalik arah dan mencegah Taemin melihat keluar. “Kenapa kamu ke sini? Sudah, istirahatlah dengan tenang. Tak ada apa-apa…,” ujar Jinki setengah panik. Ia menggeser tubuh Taemin mundur.

“Tak mungkin. Pasti ada sesuatu. Apa di luar ada Kibum? Kibum kenapa?” tanya Taemin.

Jinki tak menggubris pertanyaan Taemin segera. Ia berusaha melawan tenaga Taemin yang lemah dan membaringkan adiknya di atas tempat tidur. Taemin masih menampilkan raut wajah yang khawatir.

“Sudah, kamu istirahat saja. Tak ada yang perlu dicemaskan. Biar Hyung yang menjelaskan semuanya pada Kibum.”

“Jadi Kibum benar-benar di luar? Apa Kibum marah? Kenap—“

“—kamu sekarang istirahat saja, ya? Tenang. Semua akan baik-baik saja,” jawab Jinki sambil memegang kedua bahu Taemin agar tak bergerak dan bersandar penuh di atas kasur. Taemin pun merilekskan otot ekstremitasnya yang menegang.

Hyung keluar dulu ya. Maaf kalau membuatmu tak nyaman. Permisi.”

Taemin menatap Jinki yang berlalu dari hadapannya. Dengan langkah tegap dan kibasan ujung jas putihnya perlahan membuat Taemin sedikit tenang.

Ya, Jinki hyung pasti bisa menjelaskan semuanya.

Sedetik kemudian, Taemin tersentak. Kedua matanya membulat karena kaget dengan alur pikiran yang terlintas di benaknya. Tangannya menutup mulutnya yang refleks terbuka.

“Sebentar. Apa jangan-jangan Jinki hyung itu… saudara Kibum? Astaga! Bagaimana bisa aku tak menyadarinya?” gumam Taemin panik.

Kini ia khawatir dengan perasaan sahabatnya itu. Apa dia benar-benar mendengar percakapannya dengan Jinki hyung?

————————————————

Di saat yang bersamaan, Minho menangkap sosok Jinki keluar dari ruang rawat Taemin. Jinki menatapnya lalu membungkukkan badannya sekilas.

Walau samar, Minho menangkap gumaman kata yang keluar dari mulut Jinki dari kejauhan.

“Tolong tenangkan Kibum.”

Setelah itu, Jinki berlalu berjalan menuju ujung lorong yang lain.

Orang yang kini duduk di sebelah kirinya mulai menegakkan kepalanya dan bersandar penuh di kursi. Matanya masih memerah. Kibum menghembuskan napas panjang.

“Apa yang harus aku lakukan, Hyung?”

“Kamu tak sendiri, Kibum-ah. Kamu jangan takut. Aku  juga mengalami apa yang kamu rasakan sekarang,” ujar Minho. Matanya menerawang ke arah dinding putih di hadapannya. Seolah-olah dinding tersebut sedang memutar perjalanan masa lalunya dengan Taemin.

Minho melanjutkan, “Kau tahu? Posisi Hyung sama dengan Jinki. Dan posisi kamu sama dengan Taemin.”

Kibum menatap Minho serius, “Maksudnya?”

“Kita sama-sama memiliki saudara tiri. Aku dan Taemin juga berstatus saudara seayah. Sama dengan status kamu dengan Jinki. Aku sudah lama diasuh oleh ayahku sendiri. Ayahku merawatku seorang diri hingga umurku 6 tahun dan akhirnya ia memutuskan untuk menikah dengan Ibu kandung Jinki. Setahun kemudian, lahirlah Taemin, adikku satu-satunya.”

Kibum tak bergerak. Ia terdiam mendengarkan penjelasan Minho seksama.

“Dan kamu lebih beruntung, Kibum. Dari dulu hingga sekarang, Taemin belum pernah digendong oleh Ayahnya sendiri. Ia tak sempat bertemu dan berbicara dengan beliau. Taemin terlahir sebagai anak yatim, Kibum. Kau pasti belum mengetahui fakta ini, bukan?”

“Maksud Hyung? Jadi selama ini Taemin menutupi segalanya? Berita kalau ayahnya kerja di Jepang itu tak benar?”

Minho mengangguk, “Taemin tak bermaksud membohongi kalian. Ia hanya tak ingin ada teman yang mengasihaninya karena statusnya sebagai anak yatim. Ia ingin merasakan pertemanan, di mana bisa saling cerita tentang kehidupannya dengan orang tuanya. Dan ia sendiri telah memiliki imajinasi sendiri tentang ayahnya.”

“Taemin…,” gumam Kibum sambil mengusap dahinya.

“Taemin itu orangnya kuat. Ia bahkan tak pernah menangis di hadapanku. Bahkan ia tak menangis saat kami pergi ke pemakaman almarhum ayah. Apa kamu bisa seperti itu, Kibum?”

“Kamu masih memiliki Ayah, Ibu, dan Jinki-Hyung. Ditambah lagi dengan Taemin dan Hyung sendiri kalau kamu menginginkannya. Jadilah orang yang kuat, Kibum. Jangan mudah bersedih hanya karena sesuatu yang belum pasti. Sesuatu yang hanya sekadar pikiran negatif. Dibalik kecemasan itu, pasti ada hasil yang lebih baik. Kamu harus bisa kuat. Kamu harus bisa menyambut hasil itu dengan senyuman. Kamu harus bisa menerima kebahagiaan yang Jinki dapatkan saat menemukan Ibu kandungnya dan saudara seibunya, Kibum. Itulah rasa sayang yang sebenarnya.”

Mata Kibum kembali berkaca-kaca.

“Hyung sendiri awalnya juga kaget dengan berita ini. Memang sedikit menyakitkan ketika kamu mengetahui kalau kamu harus berbagi apa yang kamu miliki selama ini dengan orang lain. Takut rasanya ketika rasa sayang yang kamu dapatkan selama ini akan berkurang.

Tapi kembali lagi ke inti dari segalanya. Bagaimana bisa kamu berbahagia, egois memiliki semuanya, sementara yang kamu lindungi selama ini sedang mencari asal usulnya. Ingin mencari kebahagiaan yang sebenarnya? Dan itu yang selama ini Jinki Hyung rasakan selama ini. Lihatlah raut wajah bahagianya ketika ia telah mengetahui Ibu kandungnya, ketika ia juga menemukan kebahagiaan lain bahwa ia memiliki saudara seibu. Kamu ikut bahagia, bukan?”

Kibum berlahan tersenyum. Ia menyadari kesalahannya. Kesalahannya yang begitu egois untuk memiliki Jinki di hidupnya tanpa boleh dimiliki orang lain.

Hyung yakin Jinki tak akan meninggalkanmu. Percayalah denganku,” ujar Minho sambil mengeratkan cengkramannya di bahu Kibum. Kibum mencoba untuk tersenyum.

Kibum merasa lega sekarang. Hal yang ia takutkan perlahan menghilang dari benaknya. Ia tak sendiri. Ia menatap Minho di sampingnya. Wajah Minho tetap tenang meski mungkin ada sebersit kesedihan di sana. Ia harus bisa tegar dan tersenyum.

Gomawo, Hyung.”

“Sama-sama. Ya sudah, kamu masih mau bertemu Taemin sekarang?” tanya Minho.

“Tidak usah, kapan-kapan saja. Wajahku sudah berantakan seperti ini. Mungkin besok aku ke sini lagi. Aku pamit dulu,” ujar Kibum sambil berdiri dari kursi. Ia pun tersenyum pada Minho sambil membungkukkan badannya.

Minho melepas kepergian Kibum dari hadapannya. Ia tahu, Kibum masih butuh waktu untuk menerima semuanya secara mantap. Tak jauh berbeda dengan dirinya kemarin malam. Saat Ibunya membeberkan masa lalunya di hadapan Taemin dan dirinya.

Minho berdiri, lalu berjalan menuju ruangan tempat Taemin beristirahat. Ia menatap sekaleng minuman dan sebotol susu pisang yang tergeletak di depan pintu ruangan Taemin. Tangannya bergerak untuk mengambilnya kembali dan membawanya masuk ke dalam ruangan.

—————————————-

Jinki melangkah gontai menuju ruang kerjanya. Ia menatap keluar melewati jendela yang berderet-deret di sisi kirinya. Matahari tampak bersembunyi di balik kabut awan. Siang kali ini begitu dingin bagi Jinki yang sedang memikirkan perasaan adiknya, Kibum.

Selintas lalu, ia mencoba melihat kerumunan orang-orang yang berjalan di pekarangan rumah sakit. Ia menangkap seseorang yang sedang berlari membelah jalanan kecil menuju gerbang utama. Sesekali orang tersebut membenarkan posisi tali tasnya yang menggantung di bahu kanannya.

Orang tersebut mengambil sepeda di parkiran, lalu mengayuhnya hingga menghilang dari pandangan Jinki.

“Kibum, kuharap dirimu bisa mengerti kondisiku sekarang,” batinnya.

“Dokter Jinki!”

Jinki berbalik memutar badannya ke suara panggilan, “Iya, Suster?”

“Ini hasil pemeriksaan Tuan Jung yang dokter minta tadi pagi.”

Jinki melihat map yang disodorkan oleh perawat tersebut. “Oh, iya. Kamsahamnida,” ujarnya tersenyum. Tersenyum untuk menutupi perasaan tak tenang yang kembali berkecamuk di dalam dirinya.

———————————————————–

To be continued…

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

26 thoughts on “[FF PARTY 2012] Cor Tangite – Part 3”

  1. Yatta… Keajaiban datang. Taem sadar #teriak. Huuuh… Senangnya, lega.deg-degan bgt pas bagian mlepas alat2 medis ditubuh taem.

    Aku rada senyam-senyum pas bagian kibum dengerin perckpn jinki ma taem. Kok jadi rasanya kyk seseorng yg memergoki pcrnya mengungkapkn perasaan pda org lain. Hehe

    silsilah keluarga mereka jadi rda ribet nih.bikin pohon keluarganya susah. Hehe…

    Aku paling suka part ini karena tentu saja taem sadar.akankh ada konflik menegangkn lgi?emmm… Aku dah bnyk ngomong nih.
    Tunggu part selnjtnya…siap!

    1. Aw Aww!!! yattaa!!! #eh
      iyaa, gak lucu kalo si Taemin aku bikin meninggal. gak relaa ToT #hah
      deskripsi pas ngelepasin alat bantunya gak mmbingungkan kan yah? syukurlah…

      hahaha,, namanya juga brother complex..wakakak..si kibum gak rela si jinki direbut sama taemin *?*.

      iyaa, silsilahnya belibet, cabangnya kemana-mana..xDDD

      aah, aku seneng dengernya. emang part ini part klimaks. pert berikutnya hanya pendinginan saja..hehe..
      sabar menunggu ya chanyeon! makasi banyak udah baca n komen di part ini ^o^/

  2. Pingin nangis waktu Taemin sadar :’) Entah kenapa jadi bayangin salah satu adegan dorama gitu, tapi castnya Taemin. Oh God, surga sekali pasti ~.~

    Ini kayaknya semua masalah sudah selesai. Apa masih ada yang belum terungkap? Haha, can’t wait the next part 😀

    1. haha..iyaa, pas kubaca2 lagi emang mengharukan trnyata #eh
      samaa, aku juga pas nulis ini yg kebayang bukan wajah Taemin, tapi dorama yg nginspirasi aku bikin ini =_=”

      eumm, sepertinya begitu..part berikutnya tinggal pendinginan saja..hahaha… #spoiler

      oke Zaky, harap bersabar yaa~~~ makasi banyak udah baca n komen di part ini ^o^/

  3. Hiks,,, tissu…. Mana tissu, Dhila…

    Yessss! Taemin kebagian dialog!
    akhirnya… :*

    Brothershipnya kental banget. Mirip kisah seorg yg ku kenal.

    Kuasa Tuhan itu,,, maha dahsyat. Bs mematahkan teori kedokteran, 🙂
    dan aku pernah ngeliat hal seperti ini juga pas praktek dl… Gak henti2nya berucap, Subhanallah..

    Masih TBC ya? Asik, ditunggu Taeminnya#eh next partnya..
    😉

    1. ini kaak..inii~~!!! *sodorin segepok tisu*
      haha, akhirnya yaah..kasian Taemin udah pundung di pojokan nunggu line dia di sini..xDDD
      aah, syukurlaah..#terharu. benarkah? brarti ini gak mengada2 dong ya? soalnya la gatau gmna hubungan kakak beradik cowok itu .___.

      Naah! ini dia salah satu note yg pengen la sampaikan lewat cerita ini kak. Ilmu kedokteran itu sifatnya gak pasti. Tuhan yg berkuasa sepenuhnya, kita cma berupaya keras saja :”)
      Aaah, bener dugaan la berarti. kak DK orang klinis kan ya? hehehe… pengalaman kakak jauh lebih banyak dari dila astinya.. #bowingdulu

      yoii… okedeeh, harap bersabar ya kak. makasi udah baca, komen, n berbagi kisahnya di sini..hehehehe ^o^/

  4. ahh.. Neomu haengbokhae.. Taemin sadar….
    Aku senang dgn bromance-nya..
    Masih tebece?? Lalala.. Sik asik.. Mudah2an happy end..

    1. iyaa..akhirnyaa…harapan reader terwujud..wkwk…
      aah, syukurlah klo Hyora suka… 😀
      iyaa, part selanjutnya part terakhir. Sila ditunggu yaa…
      makasi udah baca n komen di part ini Hyora 😀

  5. Dhila-ssi, mulai dari Minho terisak, saya juga netesin air mata..hiks..hiks.. terharu saya… Alhamdulillah, Taemin sadar disaat yang tepat.. Kayaknya bakalan happy ending.. 🙂
    Dhila-ssi, ditunggu part akhirnya.. 😀

    1. kak lydia! iya, la juga pengen nangis pas nulis bagian itu.. 😦
      aah, la juga terharu kalo kakak terharu bacanya..hehehe :”D

      smoga endingnya gak mengecewakan ya kaak.. silakan sabar menunggu kak~!
      makasi ya kak udah baca n komen part ini ^o^/

  6. ciaaaa…..eoni…pas baca bagian pertama q deg2an bnget….
    kesian ci kibum,br jg dy dket ama jinki,eeh…dy udh dnger kta2 kyak gitu….
    oke deh eon,q tunggu part selanjutnya..Fighting!!!
    😀 🙂

    1. aaah, sama Jenn, aku juga deg2an maksimal pas bikin deskripsi pas ngelepasin alat bantu itu ~A~
      naah, itu dia.. si Kibum bner2 terpukul pas tau si Jinki punya sodara lain selain dirinya… T.T

      oke Jenny, sabar menunggu yaa..makasi loh udah baca n komen di part ini ^o^/

    1. hahaha..benarkah? #ngescrollkeatas
      iya, syukur banget yaa..hehe.. akhirnya harapan kita terkabul juga.. #eh

      naah, smoga rasa penasarannya terjawab di part akhir yaa 😀
      makasi banyak Swanty udah baca n komen di part ini ^o^/

  7. Siapa lagi Tuan Jung, mendadak alur cerita untuk TaeMin masuk rumah sakit menjadi JinKi bertemu dengan mama kandungnya. Sekarang Tuan Jung.
    Alurnya berubah-ubah
    Dan penasaran (งˆ▽ˆ)ง
    Semangat author buat kelanjutannya (งˆ▽ˆ)ง

    1. eh? ada Tuan Jung ya?
      haha… itu cuma pasien numpang lewat di cerita kook..tenang aja.. #spoiler
      eh? iyakah? alurnya berubah dari mana ke mana? aku kok gak ngeh ya? o.oa
      #lemot

      oke Imelia…silakan ditunggu yaa~~ mga2 endingnya gak mengecewakan nanti..
      makasi banyak ya udah baca n komen di part ini ^o^/

    1. haha…itu aku juga geli bikinnya *?*, udah lama nggak bikin dialog easy going plus kocak begituan ._____.” untunglah yongie suka..wkwkwk

      hahaha, iyaa..dah dibocorin lewat judulnya..xD

      sipsip, sabar nunggu yaa. makasi loh yongie udah baca n ngasih komen di part ini ^o^/

    1. iya anggie…hehehe… tapi nggak aku bikin berbelit sih. tunggu aja yaa..xD
      aah, aku jadi seneng dengernya… 😀

      eeh? ada typo kah? di bagian mana? nanti klo nemu lagi kasi tau aja yaa 😀
      makasi banyak ya Anggie udah baca n komen di part ini ^o^/

  8. tepuk tangan. yeeey!!! ah, authornya bisa aja bikin aku dag dig dug. dikirain taemin beneran pergi. seneng banget. doaku terkabul. tapi rada bingung, bukannya yang dimksud suara melengking pas alat bantu medisnya dicabut itu berbarti jantungnya dah berenti berdetak, tapi kok tangannya taemin malah narik bajunya Jinki. yah itu aja lah, selanjutnya aku girang.

    1. yaaay!!! #ikutgirang *?*
      aah, aku seneng juga liat komennya 😀

      Naah, pendapat Hana bener kok. Secara teori emang begitu, klo udah muncul garis lurus dan suara lengkingan dari alat pemantau jantung itu pertanda denyutannya gak ada/ berhenti berdetak. Nah, pas tangan Taemin bergerak itu denyutannya kembali lagi. itu bisa saja terjadi klo udah ada keajaiban dari Tuhan..hehe…
      jadi di sini, ‘nyawa’ si Taemin balik lagi..begitulah kira2 .____.”
      Maaf ya klo membingungkan dan mengganjal pikiran Hana atas deskripsi cerita yang aku buat =_= #bowing

      aah, okee..makasi ya Hana udah baca n komen di part ini ^o^/

  9. huks lagi” mewek T.T tp kali ini krn senang. Syukur uri baby taeminnie sadar :’)
    ribet jg yaa. Jinki-Kibum sodara seayah beda ibu. Minho-Taemin sodara seayah jg. Jinki-Taemin sodara seibu. Aah biar g ribet intinya mereka ber4 saudara kkk~

    1. iyaa, syukur banget yaa Taemin-nya kembali ke keluarganya…hehe…
      haha, semua kesimpulannya bener kok..hehehee…si Taemin lahir dari Tn.Choi dan Ny. Lee. jadi Taemin dan Minho saudara seayah beda ibu juga..

      haha, ribet ya? aku juga puyeng bikin ceritanya @.@

      makasi ya Mrs. Lee udah baca n komenin part ini ^o^/

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s