[FF PARTY 2012] Future Diary [3.3]

Future Diary

Title                           : Future Diary

  (Some Piece Love in New Year Night)

Author                      : Loemongga Khofifah

Main Cast                : Lee Jinki

                                      Choi Jina

Support Cast           : Choi Minho

Length                       :  Sequel

Genre                                    : Romance

Rating                       : PG-15

Summary                  : “Hallo..I’m Grim Reaper..”

A.N                             : Cerita ini terinspirasi dari film ‘death note’ Cuma kalian

  harus tau kalau alur cerita ini 100% berbeda dari ‘death 

  note’ sendiri. So, I’m not copying. Don’t be siders ne? Happy

  reading all^^

Ket                             : OP

Credit Poster          : ApreeLKwon eonni^^

-Jinki POV-

Sudah seminggu aku disini. Setelah kejadian malam natal itu, aku terus menemani Minho yang kini masih terbaring dirumah sakit. Ya, setelah insiden aku menulis masa depan Minho di future diary itu, aku langsung membawanya kerumah sakit. Aku takut kalau dia akan mati karena serangan jantung mendadak yang kubuat. Tuhan, aku tak bermaksud untuk membunuhnya. Sungguh.

Malam ini malam tahun baru, aku terpaksa membatalkan janjiku pada eomma karna masih menemani Minho. Sejak dia pingsan malam itu, dia belum juga sadarkan diri sampai sekarang. Jina juga belum menemuiku.

Aku masih heran dengan angka yang terus berputar dikepala orang-orang yang aku lihat. Angka dikepala Minho juga terus berubah-ubah. Kurasa semua pertanyaan yang ada diotakku, jawabannya ada dibuku panduan ‘future diary’ yang aku ambil dari perpustakaan waktu itu. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku tak mengerti yang ditulis dibuku itu. Semuanya berbahasa latin. Andai saja ada orang yang mengerti…

‘ceklek’ pintu ruangan terbuka. Aku menghentikan pemikiranku sejenak dan menoleh kearah pintu.

“Annyeong oppa” yeoja itu membungkuk.

“Annyeong Jina. Ah, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Aku merindukanmu.” Sadar dengan apa yang aku katakana, spontan aku langsung menutup kedua mulutku. Eh? Tunggu dulu, aku juga melihat angka aneh itu di kepala Jina. Angkanya sedikit berbeda, disana banyak sekali angka nol. Aku semakin tak mengerti.

“Hehe, nada bogoshippo oppa,  bagaimana kalau kita bicara ditaman pinggir kota?”

Jinja? Apakah dia benar-benar merindukanku?

“Eh? Kenapa? Lalu Minho bagaimana?” – Aku langsung merespon pertanyaan Jina setelah aku melihat raut wajahnya yang menunggu tanggapan ku.

“Ada suster yang menjaga. Kumohon oppa, ayolah”

Dia memaksaku. Apa boleh buat, aku tak bisa menolak permintaan yeoja yang satu ini. Semenjak bertemu dengannya, aku merasa terhipnotis. Aku tak tau apa yang menarik dari dirinya. Tapi semua perintahnya selalu aku turuti. Mulai dari coklat, ikut kerumah-aneh-nya untuk sekedar minum teh, sampai menolongnya dari ‘future diary’ itu pun ku lakukan. Mungkinkah aku menyukainya? Atau mencintainya?

“Baiklah, tunggu sebentar” aku mengambil tas ranselku yang ada disofa, lalu mengikutinya menuju taman kota.

***

Aku dan Jina sekarang sedang duduk dibangku taman. Aku tak yakin kenapa dia membawaku kesini. Mungkin saja dia mau menceritakan sesuatu padaku.

“Oppa”

“Jina” aku dan Jina memanggil secara bersamaan.

“Kau saja deluan” ucapku mengalah

“Ani. Oppa saja. Mungkin yang ingin oppa katakan lebih penting” dia menyinggungkan senyum terpaksa.

“Ah, ne. Jina, apa kau mengerti bahasa latin?”

“Mwo?” dia terlihat kaget.

“Kau mengerti bahasa latin?” ulangku.

“Ne, sedikit. Ada apa memangnya?”

“Ini, bisakah kau artikan ini untukku? Aku sungguh penasaran, tulisannya sangat berbeda dengan yang lainnya” aku mengeluarkan buku petunjuk ‘future diary’ yang aku ambil dari perpustakaan gereja dan menunjukan halaman terakhir yang ada dibuku itu. Halaman dengan tulisan yang cukup besar dan bertinta merah.

Jina mulai membacakan arti dari bahasa latin itu

“Aliquis qui eius fuit calamus atramentum mencorengkan futurum diary ‘semel potuit videre quod mortalitatis rate super caput serra. Funera numerari non omnibus, sed potest etiam per “mes dira”

“Setiap orang yang sudah mencorengkan tinta pena nya di ‘future diary’ seketika dia bisa melihat angka kematian yang ada diatas kepala orang yang dilihatnya. Bukan hanya angka kematian semua orang, tapi dia juga dapat melihat “Grim Reaper.”

Aku tertegun mendengar kalimat yang diucapkan Jina. Jadi, angka-angka yang aku lihat di atas kepala semua orang adalah angka kematian? Lalu, dimana grim reaper itu? Aku sama sekali tak melihatnya. Aku melayangkan pandanganku keatas kepala Jina.

“Jina…angka diatas kepalamu..?”

“Ya, aku tau oppa. Maka dari itu, aku ingin menceritakan semuanya padamu”

Aku terdiam menatap Jina dari samping yang sekarang pandangannya hanya lurus kedepan. Dia menggulung lengan jacketnya keatas hingga tampaklah luka-luka lebam berwarna biru  keungu-unguan yang bersarang ditangannya.

“Jina, kenapa tanganmu biru seperti itu? Apa ada yang menyakitimu?” Aku mencoba memberanikan diriku untuk bertanya. Kulihat dia hanya tersenyum getir.

Jina memulai ceritanya.

“Kejadian 14tahun silam, ketika aku masih berumur 6tahun. Sebenarnya aku dan Minho adalah sahabat masa kecil, keluarga kami juga sangat dekat.”

Aku melihatnya menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.

“Ketika musim semi datang, kedua keluarga itu memutuskan untuk berlibur. Keluargaku dan keluarga Minho berencana untuk berlibur ke Pulau Jeju. Waktu itu, aku melihat Minho keluar malam-malam. Aku penasaran apa yang dilakukannya malam-malam seperti itu. Akhirnya, kuputuskan untuk mengikutinya. Ditengah jalan, aku melihat Minho menemukan sebuah buku yang bentuknya seperti diary yang aku sendiri tak tau diary apa itu. Setelah kami pulang dari pulau Jeju, aku tak tau kenapa aku, kedua orangtuaku dan kedua orangtua Minho divonis terkena penyakit Leukimia. Yang paling membuatku bingung adalah kenapa Minho tidak terkena penyakit ini. Sepuluh tahun kemudian, ketika umurku masih 16tahun, mereka meninggal karena penyakit itu. Hanya aku yang bertahan. Setelah itu, Minho mengajakku menikah. Awalnya aku menolak, tapi karena dia bilang dia bisa menyembuhkanku dari penyakit ini, aku menerimanya dengan terpaksa. Dari situ aku mulai curiga terhadapnya dan diary itu. Dia menulis semua masa depanku di diary itu dengan alasan akan menyembuhkan penyakitku. Tapi kenyataannya, semua takdir yang sudah dicorengkan di diary itu, tak akan bisa kembali lagi. Kau beruntung karena Minho menulis penyakitmu akan hilang sesaat kemudian oppa. Kau beruntung. Kau beruntung diandingkan aku.” Ku lihat Jina menahan air matanya. Aku tertegun mendengar ceritanya. Dengan kata lain Minho telah membunuh kedua orangtua Jina dan kedua orangtuanya sendiri? Astaga..

Aku tak dapat berkata apa-apa setelah Jina mengakhiri ceritanya.

“Oppa, sekarang jam berapa?”

Aku terbangun dari lamunanku dan melihat jam yang melingkar dipergelangan tanganku.

“Jam 12 kurang sepuluh menit”

-Author POV-

“Waah..aku tidak sabar menunggu jam 12 tiba. Sebentar lagi pergantian tahun!” Jina tersenyum lebar tanpa beban.

“Apa kau tau? Aku tak pernah mengira bisa bertahan sampai akhir tahun 2012 ini. Ku pikir aku akan….” Jina tak melanjutkan kata-katanya.

“Jangan berbicara seolah-olah kau akan meninggalkanku Jina” Jinki tak kuasa menahan air matanya. Jinki meraih tangan Jina lalu di genggamnya dengan erat.

Beberapa saat kemudian, meluncur banyak sekali kembang api yang merekah dan berwarna warni, lalu menghilang tersapu angin.

“Happy New Year oppa!”

“Happy New Year Jina!” jawab Jinki lirih. Dadanya bergemuruh melihat tubuh Jina yang semakin melemah.

“Uhuk..uhuk..” Jina terbatuk, dan membuat Jinki yang berada disampingnya merasa cemas.

“Kau tidak apa-apa Jina?”

“Aku tidak..uhuk..uhuk..”dari dalam mulut Jina mengalir darah segar yang ia coba seka dengan tangannya. Namun darah itu masih saja mengalir.

Jinki memegang pipi yeoja yang terasa dingin itu dengan kedua tangannya. Ia tak kuat jika harus melihat yeoja yang dicintainya kini tak berdaya.

“Saranghaeyo oppa, terimakasih atas semua kebaikanmu yang tak mampu aku balas. Percayalah, hanya kau yang aku cintai. Maaf, karna aku sudah merepotkanmu, aku hanya tidak ingin….”

Belum sempat Jina melanjutkan kata-katanya, dengan lembut bibir Jinki menyentuh dibibirnya. Jina memejamkan matanya, mencoba untuk merasakan kehangatan itu. Mungkin sebelumnya mereka hanya memendam keraguan, tapi sekarang semua sudah terjawab.

Jinki mengakhiri ciuman itu dengan pelan dan lembut. Ciuman itu tak lama tapi cukup membekas dihati mereka berdua. Jinki menatap Jina penuh arti, namun dia kaget melihat angka yang ada dikepala Jina.

“Bolehkah aku tidur sejenak dibahumu oppa? Rasanya aku lelah sekali”

Dengan ragu, Jinki merengkuh tubuh kecil Jina kedalam pelukannya.

‘Dr…dr…’ handphone Jinki bergetar. Dia mencoba menarik benda itu dari saku celananya.

“Yeoboseo?”      

“Yeoboseo, Jinki-ssi” kata orang yang disebrang sana.

“Nuguseo?” tanya Jinki masih mencoba untuk ramah. Sedangkan mata dan pikirannya masih tertuju pada angka yang ada dikepala Jina.

“Kami dari pihak rumah sakit. Maaf kalau Tuan Minho tak bisa kami selamatkan, jantungnya semakin melemah dan…..”

‘tut..tut..tut..’ Jinki mengakhiri telponnya. Kini pandangannya hanya tertuju pada Jina.

Yeoja itu sempat terbatuk berapa kali. Perlahan dia mencoba untuk menutup matanya. Nafasnya mulai terdengar tidak beraturan. Sedangkan angka yang ada di atas kepalanya semua menunjukkan angka nol. Sampai akhirnya nafas itu tak terdengar lagi.

Menyadari hal itu Jinki semakin mempererat pelukannya. Dadanya kini terasa lebih sesak. Tubuhnya seperti tak mampu menopang tubuh kecil Jina yang lemas tak bergerak. Dia mencoba untuk tidak menangis, namun kenyataannya cairan hangat itu terus mengalir dipipinya. Kejadian ini tampak begitu cepat. Tak sampai sebulan dia berkenalan dengan wanita yang telah mencuri ciuman pertamanya itu.

“Kita bertemu ketika salju turun, ketika salju turun aku menemukan cinta pertamaku. Dan kini masih disalju yang turun juga, kau meninggalkanku dan aku kehilangan cinta pertamaku” air mata Jinki mengalir lebih deras. Dia semakin memperkuat pelukannya.

Jinki langsung menyeka air matanya ketika menyadari seorang berbadan kerangka memegang sebuah sabit besar, dan menggunakan sebuah jubah hitam dengan sebuah kerudung mendekatinya. Makhluk itu tersenyum sumringah, menunjukkan giginya.

“Hallo..I’m Grim Reaper..Hahahaha”

-FIND-

Aduh, gak jelas banget ceritanya. Asdfghjkl . Author kabuuurrr sebelum ditimpuk pake sandal, panci, ataupun yg lain ~~ Eh, tp kalian jangan kabur, komen dulu yaaa *hehe._.v

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

18 thoughts on “[FF PARTY 2012] Future Diary [3.3]”

  1. Muahahahaha,,, udh dibikin sedih sm scene Jinki-Jira, eh tb2 Griam Reaper muncul mlh bikin aku ngakak..
    Kkk

    keep writing Khofifah-ssi…

  2. aah, banyak scene jinki dan jina di sini..aww
    awalnya aku sempat bingung sama leukemia itu, akhirnya aku ngerti krna semua itu krna future diarynya si minho..oooh…

    dan brarti di sini siapa yg megang diary itu bakalan bisa ngeliat angka2 itu ya? bukan hanya keturunan dewa hades? 😀
    dan lebam2 itu krna gejala penyakit leukemianya ato krna dipukuli si Minho? brarti si Minho bikin si Jina leukemia juga dong ya? kejam niaan…

    aah, endingnya so sweet…si Jinki ampe nekat mutusin sambungan telepon dari rumah sakit demi liat saat2 terakhir si Jina..wkwk..
    dan pas grim reaper itu datang, pasti bekson yang awalnya sendu2 biola gitu langsung berganti jadi ngerock..hahaha..
    #deathnotefans

    keep writing Khofifah! aku suka sama ceritanya. mungkin ke depan diliat lagi ya klo ada typo sama tanda baca yg ketinggalan. hehehee..
    itu aja ^o^/

  3. udah abis yaa…ceritanya…???o_O
    aku masih penasaran niih….abis grim reaper dteng trus gmne kejadian’a…
    okelah…author,cerita’a bagus bikin deg2an…:-P
    kl bner dah abis,ku tunggu deh karya2 brikut’a….FIGHTING!!!:-D

  4. ehhh,udah abis aja.. jadi Jinkinya keturunan dewa hades bukan ya? blm jelas knapa Jinki bisa nulis di future diary atau siapa aja bisa? ya ampun grim reapernya lucu amat ya 😀 dia ngedeketin Jinki karena mo ngambil nyawa Jinki atau Jina? Ok Khofifah-ssi, keep writing..!

  5. Yahhh… Ga nyangka endingnyaa gini 😦
    Ceritanya keren. Cuma kok aku ngerasa alurnya kecepetan ya? Atau aku yg bacanya kecepetan? .-.

    Oh iy. Ada bbrp eyd yg ga bener, tapi g tau lah aku jg g trlalu ngerti #plak

    However, nice story 😉

  6. Hahaha
    kok malah ketawa pas griam reaper datang..
    Ganggu scene jinki jina…

    Mereka so sweet bgt,pas detik” terakhir jina mau meninggal Jinki dengan setia meluk jina, gak pduli ma telpon rmh sakit..

    Daebak thor,aku suka..ditunggu karya lainnya ^^

  7. rasanya pendek… ._.
    dan saya masih benar-benar penasaran jinki itu dewa hades dri mananya?

    sempet ngakak pas scene grim reaper XD
    Dan terlintas di otak saya grim reaper di games the sims *abaikan

    ceritanya seru, ditunggu ff selanjutnya.

  8. Teganya MinHo melakukan semua hal itu, bahkan kepada orang tuanya dan membunuh JiNa.
    JinKi yang memegang diari itu, artinya jatuh ke tangan yang baik.
    Kasihan JiNa JinKi TTMTT

  9. Good² tapi kok kerasa kecepetan ya ? Ada typo di kata² latinnya . Alurnya aku rasa agak kecepetan jg tp itu sih menurutku “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮

    Tapi semuanya bagus deh . Sedih bgt bisa ngeliat angka kematian ya ?
    Udah sedih² akhirnya malah senyum sama endingnya . Keep writing author (ง’̀⌣’́)ง fighting !

  10. keren kok ceritanyaaa…^^ tapi bikin after story nya dong khofifah-ssi, si jinki bener keturunan hades? trus itu si grim reaper ngapain? ngambil nyawa jina or jinki..? *sotoy

  11. pake translator ya yg bkin bahasa latinnya? soalnya kata “mencorengkan” gak diterjemahin.. hehehe

    eh aku kira mino langsung mati pas ditulis di diary itu. trnyata kritis dulu baru mati ya.. wkwkwk

    gak nyangka mino sejahat itu. smpe bunuh ortunya.

    nice story

  12. Bentar2, Minho mati? Wae wae wae?
    Ide ceritanya boleh jugaaa, sukaaa…
    Khofifah, sebenernya pemilihan katamu oke loh, yang baca ngerti dan terbawa cerita.
    Sayangna, EYD mu berantakan, mian ya… tp ini cukup mengganggu. Trus aja rajin nulis sambil liat2 aturan EYD, pasti jadi kece deh ntar… soalnya ide ceritamu bagus loh say ^^

    Dan apa itu? aku ketawa keras bgd pas baca endingnya. Udah? Eh serius udah? alamak… ending apa itu *diinjek auhtor*

  13. Annyeong. ^^
    Apa-apaan itu endingnya… 😯
    btw, ceritanya bagus, idenya OK. Setuju sama Bibib, penulisan masih harus diperbaiki lagi. Huruf kapital, tanda baca, spasi, ini yang paling sering salah. Tapi dari ide cerita, aku cukup tertarik bacanya. ^^

  14. Jadi apapun yang udah ditulis di Future Diary itu berarti nggak bisa diubah lagi masa depannya? Selama ini Minho bohongin Jina dong dengan alasan mau nyembuhin penyakitnya, padahal sebenarnya Minho udah nggak bisa ngubah masa depan Jina lagi yang dari awal ditulis Jina menderita leukemia. Sama seperti masa depan Minho kena serangan jantung yang ditulis Jinki juga udah nggak bisa diubah.

    Mikirnya bakalan happy ending. Ternyata Jina meninggal di awal pergantian tahun. Meninggalnya Jina romantis, tapi tetap menyedihkan. Nice story.

  15. bagus ceritanya
    gw jg suka biasanya sm ff yg agak” fantasi gtu ceritanya
    d ending knp jina meninggal jg?
    bukankah jinki dah megang tu diary
    knp dia ga nulisin ssuatu gtu utk nylametin jina?

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s