[FF PARTY 2012] Kutukan Natal – Part 2

Kutukan natal [2.3]

 rumah horror

Tittle                : Kutukan Natal

Author             : Lee Hana

Main cast        : Lee Jinki and Kim Kibum.

Support Cast    : Pak Tua Cheon, Leeteuk, dll.

Genre              : Gore and Supernatural

Length             : Trilogy

Rating              : PG

Summary         : “AAAAAGRH!” pekik wanita itu lalu pingsan seketika setelah melihat tulang belulang di kamar anaknya. Sedangkan mereka berdua dengan paniknya menghampiri Nyonya Lee yang tergeletak di pintu kamar Jinki.

Ket                   : OP

Note                : Nama marga yang tak jelas dan beberapa tokoh yang tak diketahui dengan jelas namanya jangan dipikirkan. Silakan fokus pada ceritanya saja, Ok?

###

Kibum hanya diam beberapa saat tanpa ekspresi setelah mendengar cerita Jinki. Bukan hanya cerita tentang kutukan itu, tetapi suara serta sosok lain yang ia lihat di kamarnya. Ia  menatap Jinki datar. Kemudian merunduk dan kembali bergelut dengan pikirannya.

“Bicaralah, Kibum! Apa yang harus aku lakukan?”

Kibum menatap Jinki kemudian menggeleng.

“Kau jangan bercanda! Aku tak mau mati di usia muda!” ujar Jinki mulai panik.

“Aku bilang jangan panik!” teriak Kibum.

Jinki mengangguk takut.

“Aku akan melihat rumahmu.”

______

Kibum menahan napasnya sesaat dan memejamkan matanya, kemudian membuanganya perlahan bersamaan dengan terbukanya matanya kembali. Meski merinding, tapi Kibum sadar bahwa ia tak boleh kalah dengan ketakutannya. Ia menatap rumah itu dari luar gerbang bersama Jinki. Mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut pekarangan gersang itu.

“A… apa yang kau lihat?” tanya Jinki ragu ketika melihat ekspresi yang Kibum tunjukkan.

“Arwah-arwah itu menangis dan menjerit. Mereka tak bisa menerima kematian mereka.”

“Apa maksudnya, Kibum?”

“Mereka yang terdahulu menghuni rumah ini masih ada di sini. Mereka mati karena kutukan itu,” ujar Kibum masih dengan mata yang menatap lurus ke arah pekarangan rumah Jinki.

Jinki terbelalak dan ia menelan ludahnya keras. “Ayo kita pergi dari sini!” ajak Jinki takut seraya melangkahkan kakinya menjauh.

“Tak ada tempat untuk bersembunyi, Jinki,” ujar Kibum dingin.

Jinki berhenti dan terdiam dalam keadaan bingung.

“Ayo kita masuk! Ada misteri yang harus kita pecahkan jika kau masih mau hidup,” sambung Kibum yang menatap Jinki tajam.

Mereka berdua pun memasukinya. Meski dengan perasaan gusar.

Di sana Kibum tak melihat kejanggalan. Hanya hampa dan pengap yang ia rasa. Ia terdiam kemudian menaiki anak tangga satu persatu. Jinki terus mengekor. Memasuki kamar besarnya kemudian melihat ke luar jendela, melihat pekarangan rumah Jinki yang kini telah dipenuhi salju sekali lagi. Kibum menghela berat.

“Aku kasihan sekali pada mereka,” gumamnya.

Kali ini Kibum mengalihkan perhatiannya pada isi kamar Jinki, memandang sekitarnya.

“Kau melihatnya? Kau melihat anak itu?” tanya Jinki penasaran.

Kibum menggeleng. “Di sini hawanya berbeda. Di sini, dingin,” ujar Kibum seraya mendekap dadanya.

“Di… dingin?” tanya Jinki gugup dan takut. Ia teringat kembali hawa yang sama ketika anak laki-laki sebayanya itu muncul di hadapannya.

“Dia sudah tak ada di sini, Jinki. Dia tak mengikutimu ke kamar ini. Setidaknya kau takkan mati di sini,” ungkap Kibum tenang.

“Dia memang tidak mengikutiku, tetapi anak itu bagaimana?” tanya Jinki khawatir.

Kibum menoleh ke arah Jinki dengan raut dingin. “Bukankah dia meminta pertolonganmu? Dia sudah menjauhkanmu darinya. Jadi kau harus menolongnya!”

“Apa kau gila, Kibum!” pekik Jinki.

“Dia menangis, Jinki. Dia sangat sedih. Kau tak merasakannya? Aku bisa merasakan dengan sangat jelas. Dia takkan membunuhmu. Jadi, jangan bersikap pengecut!” ujar Kibum serius membuat Jinki tersentak.

______

Hyung!

Seorang anak laki-laki berumur delapan belas tahun melihat namja yang lebih tua lima tahun darinya itu berjalan memasuki kamarnya. Beberapa lama memandangi adiknya yang tengah berdiri di dekat jendela. Melihat salju putih yang tengah turun malam itu.

Hyung, ada apa? Kau butuh sesuatu?” tanya namja itu seraya mengalihkan pandangannya pada sang kakak.

Laki-laki itu diam. Dia selalu begitu. Tak pernah banyak bicara. Semua kata-katanya ia ucapkan lewat mata serta ekspresi dinginnya. Itu pun jika kau bisa membacanya. Meski tahu, sayangnya adiknya selalu berpura-pura. Ia tak pernah menunjukkan apa yang ia rasakan, bahwa ia mengetahui perasaan kakaknya padanya.

Mata laki-laki itu menyipit dan menatap semakin tajam. Meski takut, anak itu tetap berusaha tersenyum.

Hyung,” panggilnya khawatir.

“Kau mengambil semuanya, Taemin. Hanya menyisakan sampah di hatiku,” ungkap namja itu dingin seraya berjalan mendekati adiknya dengan langkah perlahan.

Taemin masih berusaha tersenyum. “Apa maksudmu, Hyung? Apa Eomma melukaimu lagi? Aku minta maaf,” tanyanya lembut seperti biasa.

Akhirnya laki-laki itu tersenyum juga. Tersenyum dengan senyuman yang begitu aneh. Sama sekali tak hangat dan tak tulus. “Aku ingin tahu, bagaimana jika anak kesayangan mereka hilang.”

Deg’

Mata Taemin membulat penuh melihat sebuah benda berujung runcing ia keluarkan dari belakang punggunggnya. “Hyung, jangan main-main dengan pisau itu!” ujar Taemin dengan tatapan takut ke arah pisau yang kini kakaknya tunjukkan. Ia mulai berjalan manjauhi kakaknya yang semakin mendekat ke arahnya.

“Tenanglah, adikku! Aku tak pernah main-main. Karena aku tak pernah memiliki mainan setelah kedatanganmu,” ujarnya dingin.

Hyung,” lirih Taemin. Masih melangkah penuh ketakutan, tetapi langkahnya terhenti ketika tubuhnya membentur pelan tembok kamarnya.

 “Appa selalu ingin kau tinggal di sini bersamaku. Tapi aku tak mau bersamamu. Jadi sebaiknya kau tak pernah keluar dari sini dan aku takkan ke sini lagi. Mati kau!”

Seiring kata-kata itu terlontar, tangan laki-laki itu pun bergerak ke depan. Maju tanpa keraguan. Gesit. Menusukkan benda runcing itu menuju dada yang kini berada tak jauh darinya.

“AAAARGH!” jerit Jinki bersamaan dengan keringat dingin yang memenuhi wajahnya. Meluncur cepat pada lekuk lehernya. Membuka matanya lebar dengan napas yang tersengal. Tertahan ketika ia tertidur.

Ia melihat ke arah dadanya, kemudian memandang takut ke sekitarnya. Ia meringkuk di kasurnya dan menangis beberapa saat. Matanya yang membulat mengeluarkan air mata ketakutan.

“A… aku… aku tak mau mati sepertimu, Taemin. Aku masih mau hidup,” lirih Jinki gemetaran.

______

Jinki berjalan menuju kelasnya. Menahan napasnya berkali-kali. Terus memperhatikan sekitarnya. Sosok itu muncul kemudian menghilang, muncul dan menghilang. Menatapnya tajam dengan mata merah menyalanya. Sesekali sesuatu yang tak terduga datang, dan beruntung Jinki bisa menghindarinya. Sungguh beruntung….

Jinki berlari ketika melihat Kibum tak jauh darinya. Menghampiri Kibum dengan wajah pucatnya.

______

Jinki dan Kibum berjalan. Tetapi mereka tak berjalan beriringan. Jinki berjalan beberapa langkah di depannya, sedangkan Kibum di belakang memperhatikan dengan jeli apa yang ada di depannya. Sering kali hantu itu melakukan hal-hal yang dapat melukai Jinki, dan Kibum dapat melihatnya. Air di tangga, terpal yang jatuh, mobil yang kehilangan kendalinya, dan semua itu hampir membuat Jinki tewas jika ia tak benar-benar memperhatikan. Tak jarang ia hampir mati juga.

Hingga sore ini, mereka telah berada di sekitar wilayah rumah Jinki. Tetapi bukan rumah itu yang ingin mereka kunjungi, melainkan rumah tua yang terletak cukup jauh dari rumah besar itu.

Rumah itu terlihat sedikit berbeda dari rumah-rumah lainnya. Agak suram dan tak terawat. Tak jauh berbeda dari rumah yang kini Jinki tinggali, hanya besar dan kemewahan yang membedakannya jika kau melihatnya hanya dengan cara biasa orang melihat.

Jinki mengetuk pelan pintu kayu yang sudah cukup rapuh itu. Mengetuknya beberapa kali karena tak ada yang menyahut dan membukakan pintu itu untuk mereka.

“Bagaimana ini?” tanya Jinki pada Kibum yang tengah menunggu di pekarangan. Anak itu tengah melihat sekitarnya dengan tatapan yang aneh.

Kibum tak menjawab.

Yaaah! Kau dengar aku tidak?!” teriak Jinki membuyarkan lamunan Kibum.

“Oh, dengar. Hanya saja….”

“Apa?”

“Di sini sangat suram, tetapi aku tak melihat apapun. Agak aneh,” ungkap Kibum.

“Lalu bagaimana ini?”

“Kita tunggu hingga orang itu datang.”

______

Matahari telah meluncur hilang. Menyisakan warna merah pada langit dengan udara dingin yang semakin membuat tubuh mereka serasa beku. Salju yang memenuhi pekarangan rumah itu semakin bertumpuk kala butiran-butiran lain berjatuh dan menggumpal bersama salju yang lain.

“Aku tak kuat lagi,” ujar Kibum menggigil.

Tapi Jinki tak memberi jawaban dan sibuk menggosok-gosokkan lengannya. Rasanya ia hampir beku.

Seseorang datang dan menatapi mereka tak suka. Kibum dan Jinki yang sejak tadi berjongkok segera berdiri dan memandang ke arah orang tua itu dengan senyum cerah.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Pak Tua ketus ketika berada di hadapan mereka.

“Aku terkena kutukan, Kek,” ungkap Jinki.

Pak Tua mendesah berat. “Pergilah! Aku tak bisa membantu apa-apa,” ujar kakek itu dingin. Membuka pintu yang terkunci itu dan bersiap memasukinya.

“Tapi mungkin Kakek bisa membantu Taemin. Apa Kakek mengenalnya?” ujar Jinki membuat pandangan Pak Tua terlalih padanya sepenuhnya. Ia menyipitkan matanya pada dua anak muda di hadapannya kemudian menyuruh mereka masuk.

Mereka duduk di atas kursi kayu yang tak jauh dari sebuah perapian yang kini tengah Pak tua Cheon berusaha nyalakan, menenggak teh hangat yang telah ia berikan untuk mereka.

Perapian itu menyala, dan pak tua itu pun duduk menghadap mereka dengan tatapan serius.

“Aku adalah tukang kebun di sana saat itu. Dari mana kau tahu Tuan muda Taemin?”

“Dia datang kepadaku dan dia meminta pertolonganku,” ungkap Jinki tak kalah serius.

“Dia menemuimu?! Dimana dia? Aku ingin bertemu dengannya. Ibunya mencarinya,” ujar Pak tua Cheon menggebu-gebu.

“Apa?!” pekik Kibum dan Jinki serentak. Mereka bertukar pandangan dengan raut tak percaya.

“Kakek, benar-benar ingin bertemu dengannya?” tanya Jinki ragu.

Tiba-tiba Kibum mencengkeram kuat tangan Jinki dan menelan ludahnya keras. Melihat kembali dengan matanya yang membulat ke arah perapian.

Jinki menoleh ke arah Kibum yang telah kaku. Melihat ekspresi Kibum ia tahu apa yang tengah ia lihat. Jinki kembali menggerakkan kepalanya perlahan dan begitu kaku. Mengarah ke arah pandangan Kibum. Ia merunduk ketakutan.

“Kalian kenapa?” tanya Pak tua Cheon khawatir melihat keadaan dua anak muda yang tak bisa dikatakan baik. Mereka terlihat sangat ketakutan.

“Dia ada di sini,” ungkap Kibum gemetaran, masih berusaha menatap sosok itu yang belum menghilang ataupun bergerak. Memperhatikan pergerakkannya dengan mata yang terbuka lebar.

“Dia? Siapa?”

“Ka… ka… Kakak Taemin,” ujar Jinki gagap seraya mengangkat kepalanya ragu. Wajahnya terlihat sangat ketakutan.

“Tuan muda Minho?” lirih Pak Tua dengan alis bertaut.

Bayangan itu menghilang, dan seketika keduanya bisa bernapas lega setelah udara tertahan di tenggorokan mereka beberapa lama. Posisi duduk mereka merosot dengan tubuh lemas.

“Kalian bisa melihatnya?” tanya Pak tua Cheon serius.

“Sebenarnya saya ke sini ingin mengetahui sesuatu tentang pem… pem…” Jinki menghentikan ucapannya ketika sosok itu muncul kembali tepat di belakang Pak tua Cheon. Tubuh mereka kaku kembali.

“Kalian akan mati!” ujar bayangan itu dengan tatapan tajam ke arah mereka, sedangkan tangannya memegang belati dengan kuat. Mengangkatnya ke arah keduanya.

“AAAARGH!” pekik keduanya dengan mata terbelalak lebar. Tanpa basa-basi mereka segera pergi. Berlari keluar meninggalkan Pak tua Cheon dalam keadaan bingung. Memasuki gelapnya malam. Berlari secepat mungkin penuh dengan ketakutan. Berusaha keras menyelamatkan diri mereka.

Setelah kepergian mereka Pak tua Cheon melihat ke belakangnya, namun kosong.

Tanpa mereka sadari mereka panik dan itu sungguh berbahaya. Di saat seperti itu mereka tak bisa berpikir jernih dan tak bisa benar-benar menyadari bahaya apa saja yang menghampiri mereka.

Tak peduli apa yang mereka lewati. Yang penting mereka sampai di kamar Jinki dan berlindung di sana. Bahkan sempat Jinki terserempet oleh sebuah motor, tetapi beruntung ia tak apa-apa. Setelahnya ia tetap berlari sekuat tenaga bersama Kibum seraya memegangi bahunya yang sakit.

Mereka memasuki rumah itu dan segera berlari menuju kamar. Memasukinya. Mengunci pintu itu rapat-rapat dan melompat ke atas tempat tidur masih dengan sepatu yang terpasang di kaki mereka. Di sana mereka saling berpeluk seraya memandangi sekitar. Mereka sama-sama bisa merasakan getaran dan ketakutan mereka satu sama lain.

Mereka bernapas lega ketika beberapa menit berlalu. Ketika sosok itu benar-benar tak mereka lihat.

“Dia tadi benar-benar mengejar kita, kau tahu?” tanya Kibum gemetaran.

Jinki mengagguk kaku seraya menelan ludahnya keras.

“Ini alasannya aku tak mau membantumu. Aku takut terseret pada masalah ini!” ujar Kibum panik.

“Aku minta maaf,” ujar Jinki tak kalah gemetar.

“Aku akan tidur di sini bersamamu. Aku tak ingin mati. Aku benar-benar tak ingin mati, Jinki!”

______

Kibum membuka matanya. Tidurnya tak nyenyak. Yang pasti itu bukan karena ia tak biasa tidur di tempat asing, melainkan hawa dingin yang ia rasa. Ia menoleh ke arah Jinki setelah sepersekian detik menatap atap putih di atasnya.

Kibum terkesiap. Dilihatnya Jinki tengah terbujur kaku dengan tubuh penuh keringat. Wajahnya terpancar ketakutan meski matanya tetap terpejam. Ia masih berada dalam alam bawah sadarnya.

“Jinki,” gumam Kibum terkejut. Sontak bangkit dan menatap sahabatnya itu. Dilihatnya tangan Jinki yang terkepal kuat dengan tubuh tegang. Ia benar-benar tak bergerak dan kaku.

Baru saja Kibum ingin meraih Jinki dan membangunkannya, tetapi sebuah tangan muncul dan melingkar tiba-tiba di pergelangan tangannya. Menahannya dengan tangan dingin pucatnya. Kibum meringis kesakitan dan memandang ke sebelahnya. Sosok itu melihatnya dengan tatapan sendu.

“Arrgh!” sontak Kibum memekik dan segera mundur dengan panik. Tanpa sadar tangannya terlepas begitu saja.

Sosok itu menghilang, dan ia melihat ke arah pergelangan tangannya yang telah membiru. Kibum tersentak. Untuk kedua kalinya ia terkejut. Kali ini karena Jinki yang tiba-tiba bangun dari posisinya dengan mata melotot. Anehnya ia tak bersuara sama sekali dan terlihat berpikir.

“Jinki, kau….”

Jinki turun dari ranjang besarnya dan berlari keluar dari tempat itu dengan tiba-tiba, sehingga Kibum tak bisa melanjutkan kata-katanya.

“Apa dia ingin mati keluar sendirian?” gumam Kibum geram seraya mengejar Jinki. Berlari mengikuti arah kaki Jinki melangkah. Menuruni tangga dan melangkah cepat mengimbangi langkah Jinki ke arah gudang.

Sesampainya di sana, Kibum langsung berjaga di depan pintu menjaga Jinki yang tengah sibuk mencari sesuatu di dalam ruangan dengan penerangan yang minim itu. Kibum mengedarkan pandangan dengan perasaan was-was.

“Apa yang kau cari?” tanya Kibum yang sesekali mengalihkan pandangannya ke arah Jinki.

“Ini!” Jinki menunjukkan dua pasang alat pahat dengan sumringah, kemudian segera berlari ke arah Kibum dan meraih tangannya. Kembali berlari dengan tergesa-gesa menuju kamarnya.

Mereka mengerem mendadak dengan mata membulat penuh, beriringan dengan degup jantung serta urat yang menegang muncul pada tubuh mereka. Dengan pandangan penuh ketakutan mereka melihat Minho yang tengah berdiri di depan tangga dengan tatapan mata merah menyalanya yang penuh dengan kebencian.

Napas mereka tertahan beberapa saat dengan ludah yang begitu sulitnya untuk masuk ke dalam kerongkongan. Kibum mulai gemetaran sedangkan Jinki berusaha memberanikan dirinya meski sama-sama gemetar dan ketakutan. Tak kurang dari ketakutan Kibum.

“Kau tak boleh!” ujar Minho serak.

“A…aku akan menolongnya,” jawab Jinki masih berusaha mengalahkan rasa takutnya.

“Kau harus melewatiku dulu.”

Tanpa banyak bicara lagi Jinki menarik Kibum dan menutup matanya. Berlari menembus Minho yang kemudian menghilang dengan napas yang tertahan. Menaiki anak tangga dan memasuki kamarnya. Berlari secepat mungkin.

Jinki menutup pintu kamarnya dengan kasar hingga menimbulkan suara keras. Jinki menyandarkan tubuhnya pada pintu sambil terengah-engah. Begitu takut jika Minho dapat masuk ke dalam kamarnya juga.

Beberapa saat berposisi seperti itu akhirnya Jinki membiarkan tubuhnya merosot dan terduduk pada lantai dingin kamarnya. Ia melepas ketakutannya. Sedangkan Kibum masih kaku di tempatnya. Tak menyangka sahabatnya yang biasanya bernyali ciut itu menjadi begitu pemberani.

Jinki kembali berdiri ketika tenaganya telah terkumpul kembali. Melihat ke arah tembok di samping ranjangnya yang menjadi penyeka antar kamar besar itu dengan sebuah ruangan kosong, sebuah perpustakaan kecil.

“Bantu aku mengeluarkannya, Kibum! Dia pasti sangat tersiksa di dalam,” perintah Jinki dengan raut serius.

Kibum tak banyak bicara dan segera mengikuti perintah Jinki. Mereka berdua memalu dan memahat tembok berwarna biru itu dengan begitu hati-hati. Takut-takut menghancurkan sisa tubuh tanpa daging yang begitu rapuh itu. Selang beberapa menit, Jinki dan Kibum melihat sesuatu berwarna putih pucat tertimbun di sana. Semakin yakin bahwa di sanalah tubuh Taemin berada.

Matahari mulai terbit dan cahayanya pun telah memasuki kamar Jinki melewati celah kecil dari jendela yang tertutup tirai putihnya. Semua keringat itu terbayarkan ketika sebuah kerangka utuh telah tergeletak di atas lantai kamar Jinki, yang merupakan kamar Taemin saat dahulu.

Tiba-tiba seseorang membuka pintu.

“AAAAAGRH!” pekik wanita itu lalu pingsan seketika setelah melihat tulang belulang di kamar anaknya. Sedangkan mereka berdua dengan paniknya menghampiri Nyonya Lee yang tergeletak di pintu kamar Jinki tanpa kesadaran.

______

Jinki dan Kibum masih terlihat berpikir keras. “Bagaimana bisa seorang kakak melakukan hal itu pada adik kandungnya?” itu adalah pertanyaan yang memenuhi kepala mereka. Pertanyaan yang bagaimanapun mereka pikirkan mereka takkan pernah bisa mengerti.

Terlebih Jinki. Ia masih cukup terguncang dengan mimpi-mimpi yang Taemin tunjukkan padanya. Ia yakin semua yang dilakukan Minho sudah terencana dengan sangat matang. Terbukti tak ada yang bisa menemukan mayat Taemin saat itu.

Seseorang mengetuk pintu kamar Jinki, membuyarkan lamunan mereka. Itu adalah Leeteuk. Dia membawakan makan siang untuk Jinki dan Kibum.

Gomaweo, Hyung!” ujar Jinki ketika makanan itu telah tergeletak pada meja yang berada pada meja kecil di samping ranjang.

“Sampai kapan kalian mau mengurung diri di kamar ini? Kalian bahkan tak sekolah,” tanya Leeteuk khawatir setelahmengambil kursi belajar Jinki dan duduk di samping ranjang.

“Kami tak tahu. Setelah penemuan tulang itu pasti Minho sangat marah pada kami. Jika kami keluar dari sini kami bisa-bisa mati,” ungkap Jinki yang ternyata sangat ketakutan.

“Minho? Maksudmu si pembunuh yang te….?” cetus Leeteuk membuat Kibum segera membekap mulutnya.

“Jangan pernah bicara sembarangan jika kau tak mau seperti kami, Hyung!” ujar Kibum dengan pandangan tajamnya.

Leeteuk mengagguk takut dan Kibum melepaskannya.

“Apa aku akan baik-baik saja?” tanya Leeteuk khawatir.

“Selama kau menjaga sikap dan kata-katamu,” ujar Kibum dingin.

Leeteuk kembali mengangguk.

Seseorang kembali mengetuk pintu itu. Dan kini sosok Nyonya Lee yang terlihat.

“Kakek ingin bertemu dengan kalian,” ujarnya setelah membuka pintu besar kamar Jinki.

“Suruh saja dia masuk!” perintah Jinki.

“Aku sebaiknya pergi saja. Aku tak mau masuk terlalu dalam. Nanti bisa-bisa aku jadi incarannya juga,” ujar Leeteuk kemudian bergidik.

“Pemikiran yang bagus,” balas Kibum seraya mengangguk.

Seseorang masuk bersamaan dengan keluarnya Leeteuk.

Pak tua Cheon melihat ke arah tembok yang sudah berlubang itu. Lubang yang sangat besar. Ia terlihat sangat sedih dan menyesal.

“Duduklah, Kek!”

Orang tua itu sedikit membungkuk kemudian duduk pada kursi yang tadi diduduki Leeteuk, sedangkan keduanya masih bertengger di atas kasur.

“Saya benar-benar tak tahu bahwa Tuan muda Minho sangat membenci adiknya. Saya tak pernah melihat mereka bertengkar,” ungkapnya dalam sesal.

Kibum dan Jinki diam. Tak berkomentar. Mereka hanya merunduk, menyesali apa yang telah terjadi.

“Tuan muda Minho adalah anak yang baik. Ia sangat penurut dan tak pernah mengeluh. Ia tak pernah membuat kami kerepotan seperti anak-anak pada umumnya. Meski begitu Kakek akui, dia sangat pendiam dan tertutup. Ia selalu menyimpan masalahnya sendiri.”

“Tapi dia sangat cemburu pada Taemin. Aku lihat dia sangat membenci adiknya. Bahkan ketika menusuknya tak ada rasa kasihan sama sekali di matanya,” ungkap Jinki mengingat mimpi yang pernah ia lihat.

“Dia memang tak pernah mau berdekat-dekat dengan adiknya. Tapi Tuan muda Taemin justru sangat ingin dekat dengan kakaknya.”

“Tapi apa Kakek tahu penyebab Minho meninggal?” tanya Jinki penasaran.

“Dibunuh….”

To be continued….

Banyak kekurangan. Ya, saya tahu. Mengecewakan. Saya tahu. Tapi mohon jangan meninggalkan ff ini sebelum memberi komentar hanya karena semua itu, karena kritik dan saran dari para readerslah yang menjadikan para author jadi lebih baik. Jadi, please koment.

Makasih yang udah mau baca! #bungkuk dalam.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

20 thoughts on “[FF PARTY 2012] Kutukan Natal – Part 2”

  1. Hana-ssi, klo menurut saya alurnya agak kecepetan, tapi gak merusak inti cerita siy.. sampe part 2 ini belum dijelasin kenapa gk boleh ngerayain natal di rumah Jinki. Masih nebak2 kenapa Minho dgn gampangnya ngebunuh Taemin, apa iya cuma karena cemburu..
    Tapi saya cari tau dulu di part tiga deh…
    Bener2 ngebut juga nih bacanya, biar gk penasaran lagi.. 😀

  2. ngg kok thooooor
    ini tuh keren, asli, sumpah 😀
    aku baca smbil merinding disko loh

    ihhh aybg tetemku kasian yaahh
    ahhh minho ngga mungkin begitu ama tetem

    tapi tetep ini bagus bgt cerita’a
    singkat tapi udah ngejabarin seluruh’a 😀

    aku lanjuta baca part berikut’a yaa 😀

    1. kecepetan, ya? saya jgua ngerasa si. tapi aslinya saya mau buat double, makanya jadi pelit begini. maaf, ya. tapi semua misterinya akan terungkap di part terakhir. #ya iyalah.
      thx deh komennya~ #nyengir-nyengir

  3. untuk sekali lagi si taemin naas kembali di ff.
    masih sama seperti komen di part sebelumnya.
    hanya saja sama seperti komen yg lain, part ini agak kecepetan
    penasaran. sepertinya telah terjadi sesuatu pd minho hingga dia tega bgt pd taemin. kalau begitu saya lanjut next part untuk mencari tahu.

  4. mulai kerasa tegangnya nich…
    ada beberapa hal yang bikin penasaran. pertama, apa alasan sebenarnya minho bunuh taemin? dan siapa yang membunuh minho? berarti ini pembunuhan berantai donk? trus, pembunuh minho ntar muncul juga gag???
    langsung aja dech, gentayangan ke part berikutnya….

    1. gentayangan? masak kamu mau samain diri kamu sama minho dan taemin sih #ngeri deh.
      ya udah deh indri, saya nggak bisa ngelarang orang gentayangan nih.
      gomaweo ya

  5. jauh lebih menegangkan untuk part ini… huft, syukurlah otakku bisa diajak kompromi..haha.. soalnya semalem pengen nekat baca, tapi takutnya nggak konsen baca trus ujung2nya bingung sama ceritanya. akhirnya sekarang deh baru bisa baca full..wkwk..

    itu si Minho sama Taemin..? huwaa..2min! #plakk
    dan si Minho meninggal juga krna dibunuh? nah, siapa yg ngebunuh Minho?
    oiya, summarynya mengecoh. kirain itu kerangka si Jinki, trnyata si Taemin tooh.. #napaslega

    kerasa buru2 itu mungkin krna pergantian tempatnya nggak trlalu dideskripsikan sperti kata komen di atas. hehe, namanya juga dibikin buru2 pasti kayak gitu. gapapa Hana, ntar klo dah terbiasa nulis pasti bisa lebih baik 😀

    lanjuut ke part akhir!

    1. wah, dhila pengertian deh…
      emang kadang-kadang hana suka lupa tuh hal-hal penting kayak bgituan.
      hana juga selalu pengen jadi lebih baik, makanya terus memperlajari ff. wlalu suka down kalo baca ff keren kayak dhila dan yang lainnya. #hana payah.
      ya udah silakan lah
      makasih loh dah koment~

  6. secara ide n cerita bagus,mlho. sayang banget alurny memang terlalu cepat, jadi efek seramnya kurang menghantui kalau g dibaca tengah malam… but overall that’s good, better than the previous part.

    aq jadi penasaran sama asal muasal rumah itu, deh, Hana-ssi…. part terakhir udh fin, nih…. semoga aja…. semoga aja nasib JinKey g senaas d FF-ku…. hehehehe…

    1. wah~ inget. ni bella ya?
      tahu nggak sih, aku sampe down seharian baca ff kamu yag super duper keren itu.
      bener2 nggak bisa terima kenyataan jinki begitu menyedihkan…
      dia kan oppa kesayanganku.. hiks
      tapi hana malah ngerasa part yang pertama lebh bagus dari yang ini… #nggak usah dipeduliin. koment readers lebih penting
      ok lah! thx komen ya bella~

  7. waaaaahh,,daebakk!!! yyaakkk mino koq tega bunuh tetem,,aigoo, aq pnasaran sma pnyebab kmatian mino, lanjut dulu aaahh!!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s