[FF PARTY 2012] Kutukan Natal – Part 3 (END)

Kutukan natal [3.3]

 rumah horror

Tittle                : Kutukan Natal

Author             : Lee Hana

Main cast        : Lee Jinki and Kim Kibum.

Support Cast    : Lee Taemin, Choi Minho, Pak Tua Cheon, Leeteuk, dll.

Genre              : Gore and Supernatural

Length             : Trilogy

Rating              : PG

Summary         : Sosok Minho kini telah berada di hadapan mereka. Menyunggikan senyum kemenangan pada mereka yang tengah meronta dan berusaha melepaskan diri dengan sekuat tenaga. Sayangnya mereka bahkan tak bisa menyentuh tangan yang kini membuat mereka hampir mati. Jika kau tak bisa melihatnya, itu hanya telihat seperti keduanya tengah memegang leher masing-masing, seakan-akan tengah berusaha mencekik leher mereka sendiri sambil meronta-ronta seperti orang gila.

Ket                   : OP

Note                : Nama marga yang tak jelas dan beberapa tokoh yang tak diketahui dengan jelas namanya jangan dipikirkan. Silakan fokus pada ceritanya saja, Ok?

Flasback On~

 

Minho menyibak tirai jendela kamarnya. Melihat ke arah pekarangan rumah yang kosong dengan ekspresi cemburu dan marah, kemudian melihat ke arah langit yang kelam tanpa seonggok cahaya rembulan ataupun kerlipan kecil dari para temannya. Malam semakin larut.

“Sepi, seperti biasanya. Kenapa mereka melakukannya? Mereka takkan menemukannya di sana. Mencarinya hingga seperti itu,” ujar Minho dingin kemudian menyunggingkan senyum sinisnya.

Setelah puas melihat kosongnya jalan di depan rumahnya, ia keluar dan berdiri di depan pintu kamarnya. Kali ini ia memandang sebuah pintu tanpa ekspresi untuk beberapa saat. Melangkahkan kembali kakinya santai menuju pintu yang terpasang tak jauh dari kamarnya itu. Pintu sebuah kamar yang selalu menjadi pusat perhatiannya.

Minho membukanya dan melihat ke dalam kamar besar itu dengan tatapan kosong. Ia berdiri diam tepat di luar pintu seraya memasukkan kedua tangannya pada saku celananya. “Tetaplah disini, adikku!” ujarnya pelan.

PRANG!

Sebuah suara mengalihkan perhatiannya. Kali ini ia menengok ke arah lantai satu, kemudian dengan segera berlari menuruni tangga dengan sigap dengan raut was-was.

Langkahnya terhenti ketika kakinya telah berada di atas lantai kamar ruang utama. Di saat bersamaan seseorang keluar dari kamar ayahnya dengan pakaian serba hitam. Membawa sebuah tas besar di punggungnya.

Mereka saling berpandang. Minho memandang orang bertopeng itu dengan tatapan tajam membuat orang itu segera berlari.

Minho dengan cepat berlari dan menahannya dengan menarik tas punggung itu. Tetapi sungguh Minho tak menduga bahwa si perampok telah  menyiapkan sebilah pisau di tangannya. Ketika perampok itu memutar tubuhnya menghadap Minho, di saat itulah ia menusukkan pisau itu ke perut Minho dengan cepat, dan dengan cepat pula kembali menarik pisau yang tertancap dalam pada perut itu. Membuat Minho mengerang. Setelahnya si perampok berlari dengan tas di punggungnya ketakutan, sedangkan Minho sudah tak bisa berbuat apa-apa.

Minho melihat ke arah perutnya. Membuat napasnya tertahan ketika melihat cairan merah merembes keluar dari dalam perutnya. Ia berusaha menekan perutnya sekuat tenaga agar darahnya tak keluar lebih banyak, tetapi sia-sia. Ia meringis menahan sakit yang tak pernah bisa ia tahan. Minho terjatuh ke lantai dan tergeletak tak berdaya di atas lantai putih itu.

“Inikah yang kau rasakan?” tanya Minho.

Ia memandang pintu kamar Taemin yang terletak di lantai dua dan masih terbuka lebar. Minho terkekeh aneh kemudian mengerang hingga tubuhnya semakin lemas. Pandangannya mengabur bersamaan dengan napas yang mulai tersengal. Meregang nyawa beberapa menit kemudian dengan darah yang memenuhi lantai ruangan besar itu.

______

Matahari belum muncul, tetapi cahayanya sudah sedikit terlihat dari ufuk timur. Perlahan tapi pasti, benda bulat bercahaya itu naik, semakin menyebarkan cahaya lebih banyak dan memberikan kehangatan di pagi yang begitu dingin. Melawan dinginnya salju di setiap sudut tempat itu.

Dua buah mobil masuk dan terparkir di halaman, dan keluarlah sekelompok orang dengan mata yang sudah merah. Menandakan bahwa mereka tak tidur semalaman. Mereka terlihat sangat lelah dan kacau.

Salah satu dari mereka adalah seorang wanita anggun yang kini tengah berjalan  memasuki rumah besar itu.

“AAAAAAARGH!”

Pekikkan terdengar nyaring ketika sebuah mata terbelalak melihat pemandangan yang begitu mencengangkan.

______

  Sebuah suara terdengar nyaring di tengah perjalanan seseorang. Itu adalah suara yang berasal dari sebuah ponsel.

“Anyeong! Ada apa Pak Cheon?”

 

“Tuan muda Minho, Tuan,” ujar Pak Cheon panik.

 

“Kenapa Minho?”

 

“Tuan muda Minho meninggal dan Rumah Tuan kerampokan.”

 

“Apa?! Saya sedang menuju rumah. Sebentar lagi saya sampai.”

Sambungan terputus dan Tuan Lee semakin mempercepat laju mobilnya dengan keadaan panik. Bahkan karena terlalu paniknya ia tak melihat lampu merah dan menerobosnya begitu saja. Sebuah mobil lain muncul dan menghantam kuat mobil Tuan Lee di perempatan, membuat mobil mewah itu terbalik seketika.

Flashback Off~

Jinki dan Kibum terdiam mendengar cerita tragis tentang keluarga ini. Kepala mereka merunduk dalam.

______

Jinki berkali-kali melihat sebuah tulisan di atas secarik kertas. Menyocokkannya dengan tulisan yang berada pada sebuah tembok sebuah bangunan. Sebuah bangunan yang merupakan sebuah Rumah Sakit Jiwa.

“Ayo kita masuk!”

“Tunggu dulu! Aku tidak yakin, Kibum,” ujar Jinki ragu.

“Kau tunggu apa lagi? Kita beruntung sejak kemarin hantu Minho tak mengikuti kita. Sebaiknya kita cepat sebelum dia membunuh kita.”

“Ta… tapi aku takut,” ujar Jinki terbata.

“Baiklah. Kau di sini saja. Jaga dirimu baik-baik!” ujar Kibum membuat Jinki ketakutan.

Maksud kata Kibum jika dijelaskan adalah: “Sebaiknya kau bisa menjaga dirimu sendiri ketika Minho muncul, atau ketika ia tengah bersiap membunuhmu.”

“Aku ikut Kibum!” teriak Jinki segera berlari menghampiri Kibum yang berada beberapa langkah di depannya.

______

Tok! Tok! Tok!

“Nyonya Lee, ada yang ingin bertemu denganmu,” ujar seorang suster kemudian mempersilahkan kedua orang itu masuk.

Kibum masuk, diikuti Jinki yang melangkah dengan takut.

Anyeonghaseyo!” sapa keduanya ramah.

Wanita itu tak menjawab. Hanya membalasnya dengan anggukan pelan tanpa ekspresi.

“Kami membawa kabar tentang Taemin, Nyonya,” ujar Kibum.

Wanita itu memandang ke arah keduanya setelah memandang ke arah salju-salju yang kini telah memenuhi pandangan jendela miliknya.

“Ta… Taemin? Anakku? Dia dimana? Aku sudah mencarinya kemana-mana,” ujar Nyonya Lee dengan mata berbinar.

Dengan berat hati Kibum memberikan sebuah koran. Tepatnya sebuah berita yang tercetak pada halaman depan koran.  Berita yang membuat Nyonya Lee hampir pingsan setelah membacanya. Berita tentang ditemukannya kerangka Taemin di rumah besar itu.

“Anda tak apa-apa, Nyonya Lee?” tanya keduanya khawatir seraya memegangi bahu orang tua yang telah penuh dengan keriput itu.

“Anakku. Karena aku. Taemin meninggal karena aku,” lirihnya dalam sesal. Ia menangis.

“Nyonya….”  ujar Jinki pilu.

“Itu karena aku. Aku yang selalu membuat kecemburuan Minho muncul. Memisahkannya dari ayahnya.”

Flashback On~

______ Minho 5 tahun

“Lihat ini! Anak Ayah yang tampan,”  puji Tuan Lee seraya mengendong anaknya yang kini tengah berumur satu tahun.

“Anak Ibu benar-benar pintar,” puji Nyonya Lee seraya mencubit pipi anaknya, sedangkan Taemin kecil hanya tertawa riang menerima semua perlakuan itu.

Kebahagiaan itu berbanding terbalik dengannya, yang hanya bisa menatap mereka dari balik tembok. Menatap dengan penuh kecemburuan. Entahlah… laki-laki kecil itu bahkan tidak ingat terakhir kali ia sebahagia Taemin. Ia tak pernah ingat, atau memang hal itu tidak pernah terjadi.

Rahang Minho mengeras. Dadanya rasanya sesak sekali. Rasanya ia ingin sekali menangis. Tapi Minho kecil tak menangis, ia lebih memilih menahannya dan berlalu.

______ Minho 9 Tahun

Tuan Lee mengajak Minho bicara. Mereka duduk berhadapan. Untuk kali ini, Minho merasa senang. Tak banyak waktu yang appa-nya miliki hanya untuk hal sederhana seperti ini. Sekali lagi, ia senang.

Minho tersenyum melihat wajah Tuan Lee yang menatapnya hangat.

“Minho, anak yang hebat kan? Minho, mandiri kan? Minho, pintar kan?” entah pujian atau pertanyaan yang terlontar dari mulut appa-nya. Minho tak mengerti, tetapi ia hanya mengangguk mantap dengan bahagia.

Appa, Eomma, dan Taemin akan pergi sementara waktu. Jadi Minho bisa tinggal di sini dengan baik tanpa kami, kan?” tanya Tuan Lee Lembut.

Senyuman kecil Minho pupus perlahan. Matanya memandang ayahnya dengan tatapan tak percaya. Sesuatu yang bening itu menggenangi matanya. Matanya berkaca-kaca.

“Appa….” lirih Minho. “Aku tak mau,” Minho menggeleng. Cairan bening itu menyungai dan menetes dari dagu kecilnya, kemudian ia menunduk sedih.

“Jangan menangis, Minho! Kau laki-laki, kan?” tanya Tuan Lee seraya meraih tangan kecil Minho dan menggenggamnya.

Appa, aku takut tinggal sendirian,” lirih Minho seraya mengangkat kepalanya dan menatap sendu pada ayahnya. Berharap itu bisa merubah keputusan ayahnya.

“Tapi kamu tidak tinggal sendirian, Minho. Ada Ibu dan Pak Cheon yang akan menemanimu,” bantah Tuan Lee.

“Tapi Taemin, dia boleh ikut,” protes Minho dengan terisak.

“Dia masih kecil. Kami tidak bisa meninggalkannya sendirian,” bantah Tuan Lee lagi. “Minho. Kau kan anak Appa yang hebat, jadi kamu harus bisa mandiri, Ok?”

Minho tak menyahut. Ia hanya menangis dalam tundukannya. Ia hanya bisa pasrah. Apa yang bisa anak seusianya lakukan? Ia hanya berusaha untuk menurut, meski ia sama sekali tak menyukainya.

______ Minho 14 tahun

Minho memasuki rumahnya. Dilihatnya lampu hias, pohon natal, makanan dan hiasan-hiasan lainnya. Tapi tak terlihat kebahagiaan di wajahnya. Ia berlalu begitu saja dengan menahan kesedihannya tanpa sedikit pun memandang semua hal yang kini tengah mempercantik ruangan besar di sana.

Minho kembali berusaha menghubungi ayahnya. Entah untuk keberapa kalinya di hari ini hingga ia benar-benar merasa muak. Hal-hal seperti ini membuatnya sadar, bahwa hari-hari bahagia seperti inilah yang membuatnya begitu kecewa dan tersakiti.

PRANG!!!

Ponsel itu ia lempar dengan kuat hingga hancur berkeping-keping di lantai kamarnya. Berserakan memenuhi lantai itu. Dengan napas memburu ia membuka pintu kamarnya kasar dan berjalan cepat menuju lantai satu. Tepatnya hiasan-hiasan itu terpasang.

 Minho menghancurkan semua hisan natal yang terpajang itu dengan penuh kekesalan dan amarah. Ia mengamuk dengan mata panas. Membanting apapun yang ada di hadapannya, termasuk semua makanan yang telah tersedia di meja makan, ia lempar begitu saja bersama iringan teriakan kebenciannya untuk semua yang ia dapatkan: kebencian, iri, amarah dan kesepiannya.

“Tuan muda! Apa yang anda lakukan?!” tanya Ibu Cheon panik.

“Dengar! Tak ada natal! Jangan pernah melakukan hal ini lagi, mengerti?! Tak ada pohon natal dan semacamnya! Aku membencinya!” teriak Minho dengan mata membulat lebar.

Tak pernah mereka melihat anak yang biasanya sangat penurut itu begitu murka hingga seperti  ini. Minho kembali masuk ke dalam kamarnya. Ketika kebanyakan orang berbahagia dan membagi kebahagiaan mereka dengan orang lain, Minho malah melalui malam natalnya dengan tangisan dan rintihan yang begitu menyesakkan. Baginya, natal hanyalah omong kosong.

______ Minho 20 Tahun

“Minho! Lee Minho!” panggil seorang temannya dari belakang. Ia menepuk bahu Minho dengan akrab.

Minho segera berbalik ketika nama terkutuk itu memasuki indera pendengarnya. Ia segera mencengkeram kerah temannya dan menhujaninya dengan tatapan tajam. “Jangan panggil aku begitu?! Aku bukan Lee Minho! Aku Choi Minho!” teriak Minho.

Ia sangat benci. Begitu bencinya pada nama Lee. Lee Taemin yang secara genetika memiliki DNA turunan yang sama dengan ayahnya. Meski memiliki darah yang sama, ia membencinya. Membenci kanyataan bahwa ia adalah bagian dari sebuah keluarga yang bahkan ia berpikir ia tak pernah berharap menjadi bagian darinya.

Nama Choi. Nama seseorang yang bahkan Minho tak ingat parasnya. Seorang wanita yang ia yakini begitu menyayanginya. Seorang yang memberi banyak perhatian dan kasih sayang di waktu yang bersamaan, dan dalam waktu yang singkat pula, dua tahun. Sebelum akhirnya ia pergi meninggalkannya karena penyakit yang dideritanya. Setidaknya, itulah yang pernah ia dengar dari orang-orang disekitarnya. Ibunya.

______

Minho memasuki pekarangan rumahnya. Matanya menyipit ketika dilihatnya seorang anak laki-laki berumur enam belas tahun tengah bercengkerama dengan ayahnya dan wanita itu. Mereka tersenyum dan tertawa lepas, hal yang bahkan Minho tak yakin bahwa ia pernah sebebas itu ketika kepergian orang-orang itu. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kini mereka kembali setelah sepuluh tahun pergi meninggalkannya. Kembali seperti tak pernah ada yang terjadi. Bahwa mereka telah memberikan luka yang dalam untuknya.

Minho menghampiri mereka tanpa ekspresi apapun. Pandangannya sangatlah dingin. Seseorang melihatnya dan tersenyum manis kepadanya, itu adalah Taemin, adik satu ayah beda ibu. Tetapi sungguh, ia tak menyukainya.

“Anyeonghaseyo, Hyung!” sapanya sopan dengan membungkuk hormat.

Minho tak menyahut. Ia lebih memilih menatap dua orang paruh baya di hadapannya dengan tatapan sinis.

“Dia Taemin. Dia adikmu, Minho. Kalian sudah lama tak bertemu, kan? Lihatlah! Dia manis kan? Sekarang kita bisa tinggal bersama lagi. Adikmu akan menemanimu di sini,” ujar Tuan Lee.

“Aku baik-baik saja, Tuan Lee. Kau tak perlu mengkhawatirkan aku,” ujar Minho dingin kemudian berlalu begitu saja. Kembali berjalan melewati mereka dan masuk ke dalam kamarnya. Ia benci. Bahkan seseorang yang ia harapkan tak sedikitpun menyinggung tentang keadaannya.

Seseorang menyunggingkan senyum tak suka pada Minho. Seseorang yang secara hukum adalah isteri dari Tuan Lee, dan seseorang yang secara hukum juga telah menjadi ibunya. Sedangkan Tuan Lee terlihat cukup khawatir dengan perubahan besar yang ia lihat pada Minho setelah sekian lama.

______

Minho memasuki rumahnya. Terlihat lampu kerlap-kerlip, pohon natal serta benda-banda lain telah terhias indah di tempat itu. Membuatnya terlihat hangat dan menyenangkan.

“Apa-apaan ini?!” teriak Minho marah.

“Maaf Tuan muda. Tapi Nyonya menyuruh kami….”

“Ayahmu ingin merayakan natal bersama kami dengan meriah. Jika kau tak suka, kau boleh mengunci dirimu di kamar seperti biasanya,” cetus Nyonya Lee yang tiba-tiba muncul dengan tatapan menantang dan langkah angkuhnya.

Minho hanya mendengus kemudian pergi menuju kamarnya. “Srigala.”

Untuk kesekian kalinya Minho tersakiti lagi. Mungkin seharusnya ia bahagia karena  setidaknya apa yang pernah menjadi impiannya telah terkabul sekarang. Tetapi Minho telah berubah seiring dunia yang berubah kepadanya. Ia benci, karena bukan karena dialah semua itu ada, tetapi karena Taemin. Baginya, semua ini hanya mengeruk kepedihannya di masa lalu.

Flashback Off~

“Ini!” ujar Nyonya Lee seraya menyodorkan sebuah kado. “Itu adalah hadiah yang suamiku ingin berikan untuk Minho. Itu ditemukan di dalam mobil ketika kecelakaan itu terjadi. Aku menyimpannya karena aku merasa bersalah.”

______

Ketika kesedihan yang telah terperangkap telah lepas. Ketika tubuh yang terhimpit tak lagi di tempatnya. Ketika jiwa yang terkekang telah pergi, maka di saat yang sama janji itu pun putus. Untaian kata penuh amarah telah benar ditepati. Kini semua itu tak berguna lagi untuk membelenggu semua ketakutan dari dua insan yang tengah mencari perlindungan dari mata merah yang terbentuk dari kebencian. Membuat Minho tak lagi harus terus menjalani janji bodohnya. Kini hawa dingin hanyalah dinginnya udara malam ataupun salju yang turun di musim ini.

Hal besar itu sungguh tak benar-benar mereka sadari. Mereka tenggelam dalam kenyamanan dan fatamorgana dari kesedihan yang melindungi. Sesuatu yang menyiksa tetapi melindungi mereka. Tubuh Taemin bersama dingin dari kesedihannya. Ketika Taemin tak lagi di sana, maka tak ada lagi alasan Minho tak memasuki tempat itu.

  Hawa pengap menyusup masuk. Kebencian yang masih tertahan berubah menjadi hawa lain. Hawa yang jauh lebih hitam dan mengerikan, hawa membunuh.

Ketika keduanya tertidur lelap tak terasa tenggorokan mereka tak dapat kembali memberikan asupan oksigen untuk paru-paru mereka.  Napas mereka tertahan dan sesak, membuat mereka mau tidak mau harus membuka mata. Kerongkongan mereka menyempit karena tangan dingin Minho telah melingkar pada leher keduanya. Dengan kuat dan tanpa kasihan. Menghujani mereka dengan tatapan penuh amarah. Warna merah yang semakin menyala.

Sosok Minho kini telah berada di hadapan mereka. Menyunggikan senyum kemenangan pada mereka yang tengah meronta dan berusaha melepaskan diri dengan sekuat tenaga. Sayangnya mereka bahkan tak bisa menyentuh tangan yang kini membuat mereka hampir mati. Jika kau tak bisa melihatnya, itu hanya telihat seperti keduanya tengah memegang leher masing-masing, seakan-akan tengah berusaha mencekik leher mereka sendiri sambil meronta-ronta seperti orang gila.

Bola mata Kibum dan Jinki mulai naik, dan lidah mulai menjulur keluar ketika mulut mereka mulai terbuka. Sakit yang luar biasa dan tak tertahankan. Rasa di dada mereka serasa membakar dan membuat mereka hampir mati ketika cengkeraman itu semakin menguat.

Tetapi tanpa diduga Minho tertarik ke belakang sehingga ia dengan terpaksa melepaskan dua mangsanya. Kibum dan Jinki selamat. Dua tangan dari dua bayangan yang berada di belakang Minho menyelamatkan mereka. Kurasa Taemin tak benar-benar meninggalkan mereka. Kini mereka bisa bernapas kembali. Napas memburu yang diselingi batuk. Mereka masih memegangi leher mereka. Segera beranjak dan merapat pada tembok dengan pandangan takut. Menjauh dari tiga sosok yang kini saling bertatap.

Di saat yang sama mereka berusaha kembali mengumpulkan tenaga dan oksigen. Mereka sungguh tak memiliki kekuatan lagi, bahkan untuk tegang atau bergetar seperti biasanya. Mereka hanya bisa memadangi ketiganya dengan napas tersengal.

Mata merah Minho semakin menyala terang ketika melihat dua sosok laki-laki di hadapannya. Tapi ia tak mengatakan apapun. Hanya menatap penuh kebencian dan kemarahan seperti yang biasa ia lakukan ketika hidup.

“Hyung!”

“Minho!”

Panggil Taemin dan Tuan Lee bersamaan.

“Kami menyayangimu, Minho,” ujar Tuan Lee dengan wajah pucat penuh kesedihan.

Minho tak bereaksi. Ia masih diam.

“Ke… kenapa… kenapa kau bi… bisa masuk?” tanya Jinki gemetaran.

Minho menatapnya tajam, dan itu membuat Jinki tak bisa bergerak. Ia memeluk Kibum erat. Sedangkan Minho hanya menyunggingkan senyum remehnya. Tersirat sesuatu dari senyuman pendek itu, membuat Jinki menyadari perbuatannya seketika.

Hyung, kami menyayangimu. Ikutlah dengan kami!” pinta Taemin lirih.

“Bagaimana bisa? Setelah menjadikanku anak buangan, kini kalian mengatakan kebohongan itu di hadapanku. Kalian yang membuatku menjadi seperti ini. Berani sekali kalian menampakkan diri di hadapanku?”

“Mereka menyayangimu,” ujar Kibum memberanikan dirinya.

Minho menatap Kibum tajam, “Kau tak tahu apapun.”

“Aku tahu, karena kami mendengarnya,” jawab Kibum mantap.

“Minho, Nyonya Lee sudah menceritakan semuanya pada kami. Semua yang terjadi padamu adalah ulahnya. Dia sengaja menjauhkanmu dari ayahmu hanya karena ingin Taemin mewarisi perusahaan Tuan Lee,” timpal Jinki.

Minho tak bereaksi.

Kini Jinki berjalan merapat pada tembok, meninggalkan Kibum sendirian. Berjalan menuju lemari yang berada di belakang Minho tanpa sedikitpun melepas pandangannya kepada Minho was-was yang bahkan sosok itu memadang kosong ke depan. Di dalam benda besar itu, ia mengambil sebuah benda kotak yang dibungkus kertas berwarna cerah.

“Itu! Itu adalah hadiah dari ayahmu untukmu,” Jinki melempar benda itu ke dekat Minho, kemudian buru-buru ia berlari menuju Kibum dan memegang tangan sahabatnya erat. Tangan Jinki gemetaran dan dingin dan Kibum dapat dengan jelas merasakan ketakutan Jinki.

Minho menatap hadiah yang kini tergeletak di lantai itu dengan ekspresi yang tetap datar.

Kibum dengan penuh keberanian berjalan mendekati Minho. Berjongkok kemudian merobek bungkus yang terbuat dari kertas itu dan membuka penutup kotaknya. Menunjukkan pada Minho sebuah jas beserta dasi masih terlipat rapi di dalamnya. Kibum mundur dan kembali ke tempatnya.

“Itu adalah hadiah dari Appa dan Taemin. Appa berniat mengajakmu bekerja di perusahaan. Dengan begitu kita memiliki lebih banyak waktu untuk bersama dan Appa bisa lebih mengenalmu. Appa bekerja keras selama ini hanya karena Appa ingin memberikan sebuah perusahaan besar padamu. Tapi Appa tidak tahu bahwa itu membuatmu menderita karena kesepian. Maafkan Appa,” ungkap Tuan Lee dengan tatapan penuh penyesalan kepada Minho.

Mata merah menyala Minho perlahan meredup dan berubah menjadi hitam seperti halnya mata Taemin dan Tuan Lee. Ia terlihat sangat tenang sekarang. Kini air mata mulai menggenangi pelupuk matanya kemudian terjatuh ke lantai dan menguap dalam sekejap.

 Perasaan cinta adik dan ayahnya telah sampai pada hati Minho. Menyembuhkan luka yang telah menganga lebar dalam sekejap meski harus berusaha keras.

“Ikutlah dengan kami, Hyung!” ujar Taemin seraya mengulurkan tangannya, dan Tuan Lee melakukan hal yang sama. Mereka berdua tersenyum tipis kepada Minho penuh ketulusan.

Dengan tatapan bahagia Minho menyambut tangan-tangan itu. Perlahan mereka menghilang bersama-sama, diiringi kata terima kasih yang mereka ucapkan kepada Jinki dan Kibum yang kini tengah menatap haru.

“Akhir yang bahagia,” gumam Kibum, dan Jinki mengangguk setuju.

Akhirnya mereka bisa bernapas lega.

______ Satu tahun kemudian~

Tok! Tok! Tok!

Jinki membuka pintu rumahnya.

“Akhirnya kau datang juga, Kibum. Kami sudah menunggumu sejak tadi,” ujar Jinki.

Kibum memasuki rumah itu. Melihat betapa meriahnya pesta natal tahun ini di rumah yang pernah menjadi saksi kesepian dan rasa benci seseorang. Perayaan yang diadakan setelah bertahun-tahun lamanya menghilang.

“Sangat berbeda ketika pertama kali aku kemari,” gumam Kibum.

“Akhirnya aku bisa merayakannya juga di sini. Benar-benar menyenangkan,” sahut Jinki.

Yaaah! Pohon natalnya takkan lari. Berhenti memandangi itu! Ayo kita makan!” ujar Leeteuk ketika melihat dua orang sahabat menatap erat benda besar di hadapan mereka.

Kibum dan Jinki pergi menuju meja makan yang telah dipenuhi dengan kue dan makanan lainnya. Mereka merayakannya dengan meriah dan penuh dengan kebahagiaan. Rumah ini begitu hangat, tak suram, tak dingin, tak pengap. Semua berubah menjadi begitu menyenangkan.

***END***

Kurang segala-galanya? Mohon maaf!!! FF ini aku buat udah kayak orang kesurupan. Maklum kejar Deadline #benar nggak tuh tulisannya?

 And… terima kasih yang udah mau membaca FF-KU yang jauh dari kata sempurna ini. Semoga berkesan. Dan jangan lupa komennya ya!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

//

38 thoughts on “[FF PARTY 2012] Kutukan Natal – Part 3 (END)”

  1. Akhirnya selesai juga bacanya, bener2 ngebut…hehe Jadi bingung mo komen apa..
    Ini ff party terakhirkah?
    Hana-ssi, apakah ini karya perdanamu? Secara keseluruhan, menurutku cukup bagus. Apalagi sekeluarga hantu-nya berakhir bahagia 😀 Akhirnya Jinkinya bisa ngerayaain natal juga.. Maaf komennya pendek.
    Hana-ssi, ditunggu karya lainnya, keep writing! 🙂

    1. ya begitulah. terakhir.
      nggak. ini horror perdana. ff party aku kirim dua, yang satu like a mirror. dan yang lainnya baru kirim satu. #ya gitu deh.
      tunggu aja. yang lain itu comedy, tau deh lucu apa nggak.
      keep writing!
      thx

  2. huaaaaa akhir’a ending
    ini cerita terakhir’a bikin aku nangiiisss
    akhir’a lagi minho bisa jadi baik dan ngga jahat lagiiii

    sumpah thooooor
    ini ff kereeeeen bgt
    aaahhh aku baca’a ampe terharu
    aku tunggu karya yg lain’a ya thooor

    SEE YOU :* 😀

    1. keren? nggak ah. masih banyak banget kekurangan lah saya. tapi makasih buat komentarnya.
      terharu? jeongmal?
      silakan tungguuuu
      see you aufa
      thx 4 comment

  3. happy end.
    saya pikir bakal angst dan si jinki sama kibum mati. untunglah ngak kejadian.
    overal dari part 1 hingg 3 bagus kok.
    hanya saja harus dibaca berkali-kali biar langsung ngerti. Karena ada beberapa scene yg bikin bingung.
    keep writing ya…

    1. bikin bingung? pegangan! # gempa bumi kali.
      aku nggak suka bikin yang tragis-tragis gitu. suka nggak tega sama mereka.
      thx dah koment dari part satu sampai part tiga ya~
      readers baik deh. hihihi

  4. Fiuh… Happy ending. Bersyukur tidak ada korban lagi.

    Aku bingung mau ngomen apa lagi. Intinya bagus, jjang deh hana-ssi..

    Rada mirip sama komen di tas. Ada beberapa sceen yg sulit di pahami. Mungkin sprti masalah perpindahan sceen atau lokasi kejadiannya.#aku-ngomong-apa? Tpi inting bagus kok…. 😀

    part 3 feel kekeluargaanya bikin terharulah.terus berkarya

    1. hah? yang di mananya ya? terharu? ah saya nggak ngerti kenapa terharu? saya sendiri nggak ngerasa. # emang hati batu
      thx komennya ya~

    1. lah busyet, emak? #hehehe lucu
      banyak yang terharu nih, ah saya nggak tahu bisa pada terharu begitu loh. apa saya punya kelebihan di genre family kali ya?
      keep writing~ #kejar impian
      wah makasih nunadk~ komenin semuanya.

  5. Huwaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh…
    bner2 tegang di tengah2… omo~ trnyata masa lalu Minho kelam. dan terharu banget mendengar penjelasan Tuan Lee. aduduuuh…
    aku enjoy kok bacanya. lgian narasinya juga oke. hehe.. cuma dipermak dikit-dikit udah deh, lgsg sempurna 😀
    ending yang bahagia..syukurlaaah…

    aah, aku suka sama ceritanya. Salut banget klo emang ini cerita horror perdanamu, Hana. tetap menulis plus latian yaa..aku juga lg berusaha keras biar tulisanku menjadi lebih baik…wkwkwk…

    eh, dirimu juga ngirim ff comedy ke sini? aah, aku tunggu lah 😀

    1. wah nggak saya mah nggak terlalu percaya diri sama ff sendiri. bukan orang suka nglucu gtu deh. kalo baca silakan aja lah~ sapa tahu bisa ketawa.
      wah gantian ya… makasih loh dah komen panjang-panjang, semuanya lagi~

  6. Feelnya lumayan dapet. Tapi horornya dapet bgt di part 3. :3
    Ceritanya keren! Aku suka baca cerita horor begini. Wkwkw
    tapi masih byk typo nih… Alurnya agak cepet di part 2. Tapi keren kok aku sukaaa XD

    ditunggu karya selanjutnya yaa

    1. sukaaaaa? sukur~ syukur~ berarti nggak sia-sia.
      silakan tunggu ya~ tapi nama kamu siapa ya? cecil ya? atau siapa? masa mau dipanggil yongie? or jong? #kebanyakan pertanyaan. modelan dora
      thx lah komentar…
      ni reader and author yang begitu baik hati mau baca ff tanpa pandang bulu #salut

  7. overall ini bagus banget, feelnya bner2 bikin nyesek d bagian flashback Minho. sayang susunanny agak kurang teratur aja, kl nggak pasti udh oke banget!
    mungkin krn aq terlalu biasa nntn film horror n baca ceita2 thriller, fell hororny msh blm bisa kurasakan sampai d akhir cerita. tapi feel inti cerita yg ingin Hana-ssi sampaikan lewat cerita ini sampai k aq, kok. untuk cerita horor perdana ini udh bagus banget malah!

    keep writing, yoo~

    1. horror perdana-bagus….???
      apa hana harus bikin horror lagi? #jadi niat banget ni.
      ya udah lah… makasih komentarnya yang nggak absen di setiap partnya.
      feelnya ada, berrrrrrrrsyukur!
      feel itu mau nggak mau harus sampe ke pembaca. bagi hana feel itu adalah hal terpenting selain eyd. gitu deh #perjalanan hana masih panjang nih buat jadi writer yang baik~

  8. waahh..kerenn.. !!
    rasanya hatinya aku ikut sakit & marah waktu baca ceritanya minho.., tapi begitu dijelasin sama taemin and tuan lee, sakit and marahnya jadi menguap..
    terbawa suasana..hehehe..
    ughhh, daebak author !!

    1. wah beruntung menguap. klo nggak author jadi bingung.
      emang tuh minho kasihan. saya yang nulis aja kasihan.
      thx yah… raon, mau komen

  9. Hmmm, yayaya… jadi itu penyebab kutukan natalnya…

    Hmmm, tp kenapa ngerasa aneh ya tiap ada adegan Minho dan Taemin yang notabene hantu itu nongol dan ngeluarin kalimat dari mulutnya. Berasa ngilangin feel horrornya menurutku krn di saat itu keduanya kerasa bukan lagi hantu. ah molla, mungkin cuma perasaanku aja.

    Semangat terus berkarya ya ^^

    1. nah itu dia. aku juga berpikir begitu. tapi gimana menyalurkan maksud dari kata-kata itu tanpa mengurangi kadar keseremannya. saya aja bingung. yah walaupun akhirnya nyerah juga sih.

      thx dah komentar~ C:

  10. astaJJONG aq nangis masa?!!
    hhaahh mino yg malang,, trnyata smua ini gegara umma y tae toh,,huks
    aarrghh aq nangis bneran ini,,hukhuks,,
    sayang bgd 2min ama appa y harus mnnggal,, yach wlwpun udah tenang c,, umma y koq gpp c g dimatiin jg? *plaaakkk*
    hehhe mian esmosi,,
    aq kasian bener am mino n tetem,, tetem kan g salah apa2,, huks huwweeeeeee

    1. kan biar akunya nggak kesel. seenggaknya ibunya harus dikasih balasan yang setimpal. iya nggak? #iya aja deh.
      jadi dia kesepian selama puluhan tahun, bgitu.
      thx, ya dah koment!

  11. FF nya bagus untuk FF horror perdana yang dibikin author. Terus berkarya ya untuk authornya 🙂 aku suka ceritanya ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s