Beauty In You

BIY Poster

Author                        : Kim Nara

Beta Reader   : Neni

Main Cast       : Kim Jonghyun, Han Yunji (OC)

Length                        : Oneshot

Genre              : Romance

Rating             : PG-15

Disclaimer       : I OWN this story and OC characters but not other character. I’m not in any way to make any profits from this story. Kim Jonghyun belongs to himself, SHINee, and SM Entertainment. This fanfiction also published at my personal blog. Do not copy without permission and copyright.

Beauty In You

2012©Kim Nara

.

Rest Room. College of Business Administration. Seoul National University.

“Kurasa Kim Jonghyun itu lumayan juga.”

Suara yang terdengar membuat Yunji urung keluar dari bilik toilet. Mendengar nama kekasihnya disebut-sebut membuat gadis itu tidak kuasa menahan rasa penasarannya.

“Lumayan? Bagiku pria itu luar biasa. Anak kedua dari seorang Kim Jung Joo, orang terkaya ketiga di Korea Selatan. Ditambah lagi kenyataan bahwa Kim Jonghyunlah yang akan menjadi penerus perusahaan game online Nexon. Aku seperti melihat surga jika aku melihat Kim Jonghyun.”

Suara lain kembali terdengar, jelas itu suara yang berbeda dari suara yang pertama. Sejauh ini Yunji baru bisa mengasumsikan bahwa ada dua orang lain di dalam toilet ini. Ia pun semakin menajamkan pendengarannya ketika ia mendengar ada yang berbicara lagi.

“Aku mengatakan pria itu lumayan karena ia sudah memiliki kekasih. Menyebalkan sekali ketika aku mendengar kabar bahwa Jonghyun telah resmi berpacaran dengan… siapa namanya? Han Yunji? Dia tidak terlalu populer sih. Aku hampir lupa namanya.”

Di dalam bilik toilet itu, Yunji mengepalkan tangannya kemudian berpura-pura melayangkan tinjunya beberapa kali ke pintu toilet ketika mendengar kalimat yang meluncur dari bibir gadis itu, suara yang sama dengan suara yang pertama kali ia dengar. Yunji jadi sangat penasaran siapa yang menaruh perhatian kepada kekasihnya itu. Kini ia yakin bahwa ada dua orang gadis yang mungkin berada di depan wastafel. Yunji kembali menempelkan telinganya ke pintu ketika ia mendengar gadis itu melanjutkan kembali kata-katanya.

“Sudah setahun ya mereka menjalin hubungan? Hmm… aku rasa 365 hari berpacaran dengan Kim Jonghyun tidak akan menjamin bahwa pria itu serius.”

Yunji semakin mengerutkan keningnya ketika mendengar kata-kata gadis itu. Atas dasar apa dia bisa mengucapkan kata-kata itu?

“Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?”

“Aku pernah mendengar mengenai status sosial dari Han Yunji yang hanya orang biasa. Bukan dari kalangan sekelas Jonghyun dan kita berdua. Ayahnya hanya seorang kepala bagian marketing di LG Corp. Sedangkan ibunya membuka sebuah toko bunga di daerah Apgujeong. Gadis itu juga bisa kuliah di sini setelah mendapat beasiswa. Jadi kurasa tidak mungkin juga orang tua Kim Jonghyun mengizinkan anaknya menjalin hubungan dengan gadis biasa seperti itu.”

Yunji merasakan tangannya gemetar. Ia selalu seperti itu ketika sedang emosi. Terutama jika ia tidak bisa melampiaskannya.

“Ah, kau benar juga. Lagi pula aku pernah beberapa kali berpapasan dengan gadis itu dan aku lihat dia tidak begitu memperhatikan penampilan. Han Yunji itu lebih sering menggunakan jeans, t-shirt dan sneakers bermerek standar saat ke kampus. Tidak ada baju, tas, dan high heels dengan brand terkenal, terlihat tidak high class.”

“Nah, coba kau bayangkan bagaimana malunya Kim Jonghyun jika sedang menggandeng kekasihnya di depan umum? Bagaimana malunya orang tua pria itu? Dengan statusnya sebagai pewaris tunggal Perusahan Nexon, tidak heran jika Kim Jonghyun dipersiapkan dengan baik untuk menjadi penerusnya. Selain itu, tentu saja ia diharuskan mencari pendamping yang baik. Bahkan aku yakin sekali Jonghyun belum pernah mengenalkan Han Yunji ke orang tuanya. Kalau aku menjadi Yunji, aku akan sadar diri dan lebih baik aku pergi dari sisi Jonghyun. Yunji sangat tidak pantas bersanding dengan Jonghyun.”

“Lalu menurutmu siapa yang pantas untuk seorang Kim Jonghyun?”

“Kau bertanya padaku, Lee Min Young? Tentu saja aku, Kim Hyun-Ah, yang pantas menjadi pendamping Kim Jonghyun. Perlahan tapi pasti, Jonghyun akan menyadari bahwa kecantikan dan kekayaan akan mengalahkan segalanya. Lihat saja nanti.”

***

.

Rooftop. College of Business Administration. Seoul National University.

Yunji keluar dari toilet dengan perasaan yang campur aduk. Marah, sedih, dan juga minder, semua perasaan itu melebur menjadi satu. Hampir semua hal yang dikatakan oleh kedua gadis itu membuatnya merasa terusik. Pertama, mengenai status sosial yang tidak sepadan. Kedua, mengenai Jonghyun yang belum pernah sekali pun mengenalkannya kepada orang tua pria itu.

Pertama kali mendengarnya, Yunji ingin sekali langsung keluar dari bilik toilet kemudian berteriak marah kepada kedua gadis yang sedang menjelekkan dirinya. Namun, hampir bersamaan dengan itu ada hal yang terbersit dalam pikirannya, membuat dadanya sesak seketika, dan memaksa kelenjar air matanya bekerja. Mendadak ia merasa tidak berdaya dan kehilangan kepercayaan dirinya.

Tapi Yunji sebisa mungkin menahan desakan air mata itu. Ia bukan jenis gadis drama queen yang tidak malu menangis di depan umum. Maka gadis itu memilih untuk pergi ke bagian teratas dari bangunan megah tempat ia menuntut ilmu selama hampir tiga tahun ini dan mencoba untuk menenangkan dirinya. Biasanya tempat itu selalu membuat hatinya tenteram, apalagi dengan merasakan semilir angin sore yang terasa begitu menyejukkan.

Yunji duduk di lantai rooftop sambil memeluk lututnya dan bersandar di tembok pembatas. Ponsel di sakunya bervibrasi terus-menerus dan entah untuk keberapa kalinya gadis itu kembali mengabaikannya. Ia tahu pasti yang menelepon itu adalah Jonghyun karena sebenarnya hari ini mereka ingin donor darah bersama, ya bisa dibilang kencan ala Jonghyun dan Yunji. Tapi kejadian yang baru saja terjadi benar-benar merubah mood-nya dan membuat gadis itu ingin menghilang saja untuk sesaat. Entah kenapa kata-kata Kim Hyun-Ah dan Lee Min Young begitu membekas di hati dan pikirannya.

Gadis itu memutuskan untuk mematikan ponselnya ketika Jonghyun lagi-lagi menghubunginya. Semoga dengan begitu pria itu mengerti bahwa ia sedang tidak ingin diganggu. Bahwa ia harus menyendiri untuk memulihkan mood-nya dan memikirkan langkah apa yang harus ia ambil untuk selanjutnya.

Han Yunji bukanlah seorang gadis dari keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi, apalagi sampai dikategorikan sebagai orang miskin. Orang tuanya terbilang mapan dan keadaan perekonomian keluarganya sangatlah baik. Yunji tidak perlu repot-repot untuk bekerja sambil kuliah seperti dalam drama-drama Korea untuk membantu kedua orang tuanya. Seluruh kebutuhan telah dipenuhi dengan baik oleh orang tuanya.

Keluarga Yunji adalah keluarga yang berpenghasilan cukup. Cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan primer, sekunder, bahkan tersier sekalipun. Tapi berkat didikan “Balance of Life” yang didapat Yunji dari kedua orang tuanya, gadis itu tumbuh menjadi orang yang rendah hati. Bahwa kepekaan terhadap realita kehidupan harus terus diasah. Bahwa memamerkan apa yang ia dan keluarganya punya adalah suatu hal yang tidak pantas dilakukan saat masih ada orang-orang yang kesulitan di sekitarnya. Bahwa seseorang harus berbagi kekayaan—atau lebih baik disebut rezeki—kepada orang-orang yang membutuhkan.

Namun jika harus membandingkan kekayaan dan status sosial keluarganya dengan keluarga Jonghyun, jelas keluarga pria itu berada jauh di atas keluarga Yunji. Perusahaan game online Nexon yang akan dikelola oleh Jonghyun begitu ia lulus kuliah nanti adalah perusahaan besar yang berpengaruh di Korea Selatan.

Game-game yang paling terkenal hasil keluaran Nexon ialah Kart Rider, MapleStory, dan Dungeon yang telah dimainkan di 100 negara lebih dengan jumlah akun pemain game mencapai 1,3 juta orang di seluruh dunia sampai dengan saat ini. Jumlah pemain ketiga game tersebut didominasi oleh Cina dengan 52% dari total jumlah pemain.

Saat ini telah lebih dari 50 jenis game dikeluarkan oleh Nexon, dengan game terbaru yang akan dirilis pada tahun ini yaitu Shadow Company. Saat ini selain di Seoul, Korea Selatan, induk Perusahaan Nexon juga telah terdapat di Tokyo, Jepang.

Berbeda dengan Jonghyun yang sudah pasti akan menjadi penerus perusahaan ayahnya tersebut, kakak perempuannya—Kim Sodam—memilih untuk meluncurkan sebuah brand pakaiannya sendiri. Dengan kemampuan dan pengetahuan briliannya mengenai fashion design, Sodam pun menemukan bidang yang tepat untuk menuai kesuksesan. Gadis yang lebih tua dua tahun dari Jonghyun itu lebih senang mengepakkan sayapnya di luar naungan ayahnya.

Karena itu perasaan Yunji tidak karuan sekarang. Karena begitu hebat dan berpengaruhnya keluarga Jonghyun, bahkan bagi negaranya sendiri. Sesuatu yang besar itu membuatnya seketika merasa kerdil. Terlebih ia menyadarinya setelah mendengar pernyataan dari orang lain, padahal selama setahun ia menjalani hubungan dengan Jonghyun ia sama sekali tidak pernah mendapat perlakuan atau bahkan hanya mendengar sesuatu semacam ini sebelumnya.

Pikirannya yang kalut membuat Yunji semakin larut dalam lamunannya sehingga ia tidak menyadari ada seseorang yang membuka pintu penghubung antara rooftop tersebut dengan ruangan bagian dalam gedung. Kini gadis itu malah membenamkan wajah di antara lututnya yang saling menempel. Bahunya sedikit bergetar, tangisnya kali ini tidak bisa ditahannya lagi. Dadanya sudah terlalu sakit oleh rasa sesak yang dirasakannya karena sejak tadi ia menahan tangisannya.

Yunji terhenyak ketika merasa ada sebuah tangan yang mengelus puncak kepalanya lembut. Sentuhan itu terasa familiar, membuatnya refleks mendongak dan terbelalak shock ketika melihat siapa pria yang sedang berjongkok di hadapannya.

“Apa yang terjadi?” tanya Jonghyun lembut. Pria itu menangkupkan tangannya di kedua sisi wajah Yunji, kemudian menghapus air mata yang mengalir membasahi pipi gadis itu dengan ibu jarinya. Baru kali ini ia melihat kekasihnya itu menangis.

Jonghyun menatap langsung ke dalam mata gadis itu dan Yunji dapat merasakan kecemasan yang kuat terpancar dari mata cokelat yang sedang menatapnya itu. Mata favoritnya. Perasaan rumit yang Yunji rasakan sekarang membuat gadis itu bahkan tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Yunji menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis kembali.

“Yunji-ya…” Jonghyun semakin terkejut ketika menyaksikan kekasihnya menangis kembali, bahkan lebih keras dari sebelumnya. Tanpa pikir panjang pria itu langsung beranjak ke sisi Yunji dan menariknya ke dalam pelukannya, “menangislah sepuasnya jika itu bisa membuat hatimu merasa lebih baik. Aku di sini bersamamu,” ucap Jonghyun sambil mengusap punggung gadis itu lembut.

Yunji balas memeluk Jonghyun dengan erat. Gadis itu menangis di dada Jonghyun, melepas semua kekalutannya.

***

.

Inside Jonghyun’s Car.

Parking Area. College of Business Administration. Seoul National University.

Jonghyun memberikan orange juice kalengan serta sebuah sedotan yang baru saja dibelinya dari mesin penjual minuman kepada Yunji. Kekasihnya sudah berhenti menangis sejak 20 menit yang lalu, tetapi gadis itu masih diam seribu bahasa. Jonghyun memilih untuk bersabar dan menunggu Yunji menceritakan sendiri, ia tidak ingin memaksa.

Jonghyun melirik Yunji yang masih terdiam di sampingnya. Kaleng orange juice-nya masih belum dibuka, gadis itu hanya menggenggamnya dengan kedua tangan. Yunji benar-benar terlihat murung. Jonghyun menghela napasnya kemudian memakaikan seat belt pada Yunji. Gadis itu tersentak ketika tiba-tiba sisi wajah Jonghyun begitu dekat dengan wajahnya, seketika aroma maskulin Jonghyun memenuhi indera penciumannya. Konyol, tapi entah mengapa ada rasa nyaman yang menelusup ke hatinya karena aroma itu.

Yunji melirik Jonghyun yang baru selesai memakai seat beltnya sendiri dan bertemu pandang dengan mata pria itu. Jonghyun tersenyum manis sekali. “Ada tempat yang ingin kau kunjungi saat ini?” tanya pria itu sambil menghidupkan mesin mobil.

Gadis itu mengalihkan padangannya dari wajah tersenyum Jonghyun karena kalau tidak, dia akan menangis lagi. Pria itu selalu seperti itu. Tidak banyak bertanya, pengertian, tapi ekspresi wajahnya menggambarkan dengan jelas apa yang sedang bergejolak di hatinya. Jelas sekali sesungguhnya Jonghyun khawatir dengan Yunji.

Mian….” ujar Yunji pelan.

“Hm? Kenapa minta maaf?” Jonghyun mengerutkan keningnya. Ia mematikan mesin mobil kemudian melepas seat belt dan menggeser posisi duduknya menghadap Yunji.

“Kau selalu saja hebat, serba sempurna… Hari ini aku baru benar-benar menyadarinya, membuatku merasa tidak yakin untuk berada di sampingmu. Maaf aku bukan kekasih yang pantas untukmu,” aku Yunji dengan suara yang bergetar. Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya, tapi ia berusaha keras untuk menahannya agar tidak meluncur dan membasahi pipinya.

“Hei… hei…” Jonghyun meraih tangan Yunji kemudian menggenggamnya. Pria itu memegang dagu Yunji kemudian menggesernya lembut, meminta gadis itu untuk menatapnya, “kenapa bicara seperti itu? Kalau ada sesuatu yang mengganggu hatimu, kau bebas menceritakannya kepadaku. Okay? I’m listening.” Pria itu merasa heran, namun ia mencoba tenang dan berbicara dengan lembut. Percuma berbicara keras dan mengikuti emosi, itu tidak akan menyelesaikan masalah.

Yunji mengalihkan pandangannya dari wajah Jonghyun, kembali menatap orange juice di tangan kirinya, “Aku membaca koran akhir-akhir ini dan ternyata perusahaan ayahmu merencanakan dalam waktu dekat akan membangun induk perusahaan bersifat regional di Amerika Serikat dan Eropa. Status sosial keluargamu begitu jauh di atasku dan mereka bilang aku tidak pantas berada di sisimu. Seharusnya kau tidak berpacaran denganku.”

“Mereka? Mereka siapa?” Jonghyun menangkap ada yang janggal dari kalimat yang dilontarkan oleh Yunji, “siapa yang berkata seperti itu kepadamu?”

“Kurasa memang Kim Hyun-Ah lebih pantas menjadi kekasihmu. Perusahaan yang dikelola ayahnya sedang merangkak menuju kesuksesan. Dia juga selalu tampil cantik dan semua barang yang ia gunakan merupakan merek mahal. Kau pasti malu kan menggandeng kekasih sepertiku yang tidak pernah menjaga penampilan?” Suara Yunji semakin pelan dan sedikit bergetar, ia hampir menangis tapi gadis itu tetap menahannya.

“Jangan melantur, Han Yunji!” bentak Jonghyun keras. Pria itu menghela napas ketika sadar bahwa ia hampir melewati batas. Ia pun merendahkan nada suaranya meski aura kesal masih terpancar, “perempuan itu atau bahkan perempuan lainnya bukan mencari Kim Jonghyun, tapi harta Kim Jung Joo. Mereka mengejarku bukan karena mereka tulus menginginkanku.”

Jonghyun menatap mata bening Yunji, ingin memberikan isyarat bahwa ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

“Orang-orang berpikir aku akan menjadi penerus perusahaan ayah hanya karena aku memang anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga. Tapi mereka tidak pernah mengerti bahwa aku ingin dipandang bisa meneruskan perusahaan ini karena prestasi dan kemampuan otakku, bukan hanya karena darah Kim Jung Joo yang mengalir dalam darahku. Kau mungkin sempat menyaksikan bagaimana kerasnya usahaku untuk mempelajari semua hal tentang perusahaan demi mempersiapkan diri ketika waktunya tiba bagiku memimpin perusahaan itu. Aku melewati semua ujian itu dengan senang hati karena ayah pun tidak pernah memaksaku untuk menjadi penerusnya. Tapi aku sangat sedih ketika kebanyakan orang menutup mata akan hal itu dan menyoroti hal lain seperti kekayaan ayah yang otomatis akan diturunkan kepadaku.”

Mendengar itu semua membuat Yunji bahkan tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya mampu menatap mata Jonghyun dan gadis itu harus menemukan fakta bahwa ada sorot terluka dari mata coklat itu.

“Jonghyun-ah, a-aku.…” ujar Yunji pelan. Air mata yang tidak bisa dibendung lagi mengalir pelan membasahi pipinya.

Jonghyun menghapus air mata Yunji dengan ujung jarinya, kemudian membereskan beberapa helai rambut yang terlihat berantakan, “Kau satu-satunya gadis yang melihat aku sebagai Kim Jonghyun, bukan sebagai anak dari Kim Jung Joo. Ingat waktu pertama kali kita bertemu? Kau bahkan tidak mengetahui latar belakangku dan saat itu aku baru merasakan ketulusan yang sudah sejak lama aku inginkan.”

“Maafkan aku, Jonghyun-ah. Aku menyayangimu dengan atau tanpa statusmu sebagai anak dari Kim Jung Joo ahjussi. Seandainya dulu aku bertemu denganmu dan kau bukanlah penerus dari Nexon, pasti aku pun akan tetap jatuh cinta juga. Tapi entah kenapa pembicaraan orang-orang di belakang kita membuatku tidak nyaman, membuatku merasa tidak percaya diri….” Yunji menghela napas diakhir kalimatnya.

“Sebenarnya apa yang mereka bilang tentangmu? Tentang kita? Seperti yang tadi kau katakan, tentang penampilan dan juga status sosial?” Jonghyun mengulang lagi apa yang ia dengar sebelumnya dari Yunji untuk sekedar mengklarifikasi apakah benar hal-hal tersebut yang membuat gadisnya menjadi seperti ini.

Saat Yunji mengangguk, Jonghyun mengeratkan genggaman tangannya di tangan gadis itu sebagai bentuk lain untuk meyakinkan Yunji.

“Aku tahu ada banyak wanita lain yang lebih cantik atau mungkin memiliki status sosial yang lebih tinggi darimu. Tapi semua ini bukan tentang kecantikan dan kekayaan semata. Sebelumnya aku ingin bertanya kepadamu, Yunji-ya. Apa kau tidak punya cermin di rumahmu sampai kau minder seperti ini? Hmm…?” Jonghyun membukakan kaleng orange juice yang masih digenggam Yunji, kemudian menyerahkannya kepada gadis itu untuk diminum.

“Definisi cantik untukku bukan hanya dari fisik saja tapi juga hati. Kau ingat ketika kampus kita mengadakan bakti sosial untuk anak-anak penderita kanker? Itulah saat pertama kali aku melihat bagaimana cantiknya hati yang kau miliki saat bermain dengan anak-anak itu. Lalu ketika kau membantu seorang clining service yang kesulitan membawa gelas-gelas dan masih banyak lagi hal-hal baik yang kau lakukan…”

“Bukan tentang bagaimana sempurnanya wajahmu tapi sebesar apa ketulusan yang terpancar dari sana. Bukan juga tentang bentuk tubuhmu, tapi manfaat apa yang telah dihasilkan dengan memfungsikan tubuhmu itu dengan baik. Aku bahkan tidak pernah ambil pusing dengan penampilanmu, Yunji-ya. Bagiku asal kau nyaman itu sudah lebih dari cukup. Aku senang dengan penampilan casualmu. Karena aku jatuh cinta bukan dengan apa yang kau pakai. Aku tidak ingin punya kekasih yang mirip seperti toko perhiasan berjalan,” gurau Jonghyun. Mau tidak mau Yunji pun tersenyum kecil mendengarnya.

“Kau tahu, bahkan ayah tidak pernah ambil pusing dengan siapa aku berpacaran atau nantinya akan menikah. Ayah hanya pernah menekankan satu hal kepadaku bahwa carilah gadis yang benar-benar mencintaiku dan bukan karena statusku. Kau, Han Yunji, telah mengajarkan banyak hal padaku, terutama mengenai balance of life. Jadi… tidak.” Jonghyun menggeleng. “Aku tidak punya rencana apa-apa untuk meninggalkanmu dan mencari wanita yang lebih cantik atau lebih kaya darimu. Karena memang tidak ada wanita yang bisa mendampingiku sebaik apa yang kau lakukan saat ini. Aku sudah sangat beruntung karena memiliki kau yang cantik tidak hanya secara fisik tapi juga otak dan hati. Jangan lupa bahwa kau salah satu penerima beasiswa hingga lulus kuliah nanti. Apa ada yang lebih hebat dari itu, hm?”

Yunji menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian tersenyum canggung kepada Jonghyun, “Tadi itu aku terlalu berlebihan ya? Mian… aku benar-benar kalut.”

Aigoo… kau ini,” Jonghyun memberikan jitakan kecil di kepala Yunji sambil tertawa, “berhentilah mendengar pendapat yang tidak-tidak dari orang lain. Kau hanya boleh mendengar pendapatku saja. Kau tidak perlu bersikap atau berpenampilan seperti mereka. Mereka saja yang tidak bisa meniru apa yang kau lakukan sampai membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan darimu. Arasseo?

Yunji menatap Jonghyun sambil tersenyum manis kemudian mengangguk. Pria ini… apa pun yang dia katakan pasti akan dipercaya sepenuhnya oleh Yunji. Apa pun. Bahkan jika Jonghyun berkata bahwa bulan itu berbentuk persegi, mungkin gadis itu juga akan percaya. Sulit rasanya mencari kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan bagaimana bahagianya ia setelah mendengar semua kalimat yang dilontarkan pria itu kepadanya. Tidak ada yang lebih baik dari pada mengetahui bahwa Jonghyun menyayangi dan menerima dirinya, apa adanya. Lalu sekarang Yunji sadar bahwa hanya dengan kehadiran pria itu saja dunianya terasa lebih baik. Rasanya tidak akan ada lagi penyesalan yang terjadi dalam hidupnya setelah ini.

Tanpa pikir panjang Yunji memeluk erat pria di hadapannya itu, membuat Jonghyun terdorong sedikit ke belakang karena ulah kekasihnya. Gadis itu melingkarkan lengannya di leher Jonghyun dan membenamkan wajahnya di pundak pria itu, menghirup banyak-banyak aroma tubuhnya. Tiga detik pertama Jonghyun hanya mampu terdiam karena terkejut, tapi di detik berikutnya pria itu tersenyum, mengelus rambut Yunji lembut dan mendaratkan kecupan kecil di pundak kekasihnya.

Sepasang kekasih itu melepaskan pelukannya kemudian saling melemparkan senyum. Sudah berkali-kali Jonghyun menatap lurus ke dalam beningnya mata Yunji, tapi baru kali ini ada sesuatu yang mendorongnya dan meyakinkannya bahwa ini adalah saat yang tepat. Pria itu pun meraih tengkuk Yunji kemudian menempelkan bibirnya ke bibir Yunji, merasakan lipgloss strawberry yang beraroma manis.

Kali ini Yunji yang terkejut dengan tindakan Jonghyun. Tapi kemudian gadis itu memejamkan matanya dan membalas ciuman pria itu. Yunji mengerutkan keningnya ketika merasakan ada sesuatu yang janggal yang dilakukan oleh kekasihnya.

“Apa ini?” tanya Yunji sambil membuka membuka seluruh jemarinya membentuk angka lima dan menjulurkan tangannya ke arah Jonghyun, ketika mereka sudah melepaskan ciumannya.

Jonghyun hanya menatap lurus ke depan sambil menggigit bibir bawahnya. Pria itu mengusap tengkuknya sesaat kemudian kembali menatap Yunji, “Ternyata ini lebih mendebarkan dari pada presentasi di depan petinggi perusahaan beberapa minggu lalu.”

Yunji memiringkan kepalanya heran karena tidak mengerti dengan perkataan dan tindakan Jonghyun. Saat satu hal melintas di pikirannya, gadis itu terkesiap tidak percaya, “Omo….” bisiknya sambil menatap suatu objek di salah satu jemarinya.

“Menikahlah denganku,” pinta Jonghyun dengan suara yang tegas dan tanpa ragu.

Pria di hadapan Yunji itu memasangkan sebuah cincin sederhana namun indah di jari manis gadis itu ketika mereka sedang berciuman. Yunji pun tidak mengerti bagaimana Jonghyun bisa melakukan hal semacam itu. Speechless. Gadis itu tidak tahu harus bersikap bagaimana atau berkata apa.

“Aku sudah memikirkan ini sejak seminggu yang lalu. Rencana awal aku ingin melakukannya ketika aku mengantarmu pulang setelah kencan kita hari ini berakhir. Lalu esok harinya aku ingin mengajakmu bertemu dengan keluargaku. Tapi entah kenapa mendadak aku merasa sekaranglah waktu yang tepat,” Jonghyun kembali menggenggam tangan Yunji, “aku sudah mempunyai rancangan untuk masa depanku. Tapi rancangan itu masih belum sempurna dan tidak akan pernah sempurna karena ada yang masih kurang… dan aku hanya membutuhkan kau seorang untuk menyempurnakannya.”

“Jonghyun-ah.…” Yunji hanya mampu bergumam. Ribuan bahkan jutaan kupu-kupu rasanya sudah bergejolak tidak karuan di dalam perutnya. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga gadis itu sempat berpikir organ yang menjaganya tetap hidup itu seolah akan melompat keluar dari rongga dadanya. Ada perasaan bahagia yang menyelimutinya saat ini.

“Jadi jawabannya?” tanya Jonghyun dengan ekspresi bercampur antara gugup dan penasaran.

Akhirnya Yunji mengangguk. Jonghyun tersenyum senang kemudian mendaratkan kecupan kecil di bibir kekasihnya.

“Tapi… kita akan bertunangan terlebih dahulu?” tanya Yunji beberapa saat kemudian.

Wae? Kau mau kita langsung menikah?” Jonghyun balik bertanya sambil mengerling nakal kepada Yunji.

Mwoya?! Bukan itu maksudku!”

.

END

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

33 thoughts on “Beauty In You”

  1. Aigooo… Terharuuu…
    Diksi dan deskripsinya ttg balance of life, kesederhanaan dan inner beauty-nya bagus.

    Oia, Clining Service sharusnya Cleaning Service.
    Udh.. Itu aja Typo yg keliatan.

    Keep writing Nara-ssi!
    Bikin lagi yg beginian ya.. *maruk

    1. Koreksi diterimaaa!
      Udah langsung aku benerin di blog aku hehehe. Sebenernya ada lagi typo lain, baru ngeh tadi ada “game-game” yang belum diitalic. Udah dibenerin juga 🙂
      Terima kasih untuk koreksinya ^^

  2. Hana-ssi, walaupun dialognya cuma antara Jonghyun-Yunji, tapi udah menggambarkan keseluruhan alur cerita dan penyelesaian masalah yang terjadi.
    Saya juga speechless klo jadi Yunji, walaupun suasananya gak terlalu romantis buat ngelamar 😀
    Ada typo di dialognya Yunji pas nanya cincin “membuka membuka”
    Hana-ssi, saya suka ff-nya.. 🙂

    1. Hai, Lydia Eonni. Aku Kim Nara, bukan Hana hehehehe 🙂
      Terima kasih sudah mampir, ninggalin komentar dan juga koreksinya ya Eon. Karena gak bisa diperbaiki di sini, jadi aku perbaiki di blogku ^^

  3. Iih, ini ngejleb banget. Ceritanya cuma ada tiga scene, tapi pesan moralnya membludak. Suka sama cerita simpel tapi ngena gini ^^

    “Kalau aku menjadi Yunji, aku akan sadar diri dan lebih baik aku pergi dari sisi Jonghyun” menurutku aku-nya terlalu banyak, mungkin mending “… aku akan sadar diri dan lebih baik pergi dari sisi Jonghyun” Sebenernya tadi ada lagi, tapi berhubung nggak ketemu… yah, begitulah -,-

    Tapi ini KEREN! Suka banget ^^;;

    1. Hehehe iya aku paham kok maksudmu. Nah aku juga sebenernya masih belajar pake sudut pandang orang pertama. Keseringan lupa kalau udah pake kata “aku” berkali-kali. Padahal udah dibaca ulang berkali-kali tapi masih ada yang kelewat ya hehehe. Nanti aku benerin tapi gak bisa di sini yaa.

      Terima kasih sudah membaca, koreksi dan juga komentarnya 🙂

  4. Ceritanya daleem, karakter Yunji juga keren banget, walaupun keluarganya berada, hidupnya tetap bersahaja. Pantes seorang Jonghyun jatuh cinta dengan Yunji. Konsep balance of life di sini dideskripsikan dengan baik, jadi terinspirasi nih.

    Ah, pokoknya aku suka ffnya, dan scene lamarannya unik 🙂

  5. aigoo . . aku merinding bacanya,ceritanya bener2 keren hhe. apa lagi sikap jjong nya sabar banget. udh itu aja, good luck authornya semoga makin terus berkarya :3

  6. wah… nggak nyesel bacanya. awalnya sih biasa aja. tapi pas bagian jonghyun ngomong berasanya daleeeeem kayak jurang neraka # busyet. nggak lah, becanda.
    aku sih nggak terlalu suka romance. #bosenan, terlalu banyak romance
    tapi yang ini pengecualian. kereeeeeen thor!
    tapi pas scene ngasih cincin aku sampe berkali-kali baca #otak lola
    aduh~ jonghyun di sini so perfect.
    aku suka-aku suka #mei mei upin ipin
    keep writing ya thor!

    1. wah yang scene ngasih cincinnya itu ngebingungin ya? maaf ya, entar latihan lagi biar bisa lebih oke deskripsiinnya 🙂
      aduduh makasih yaaa dijadiin pengecualian gini buat yang kurang suka romance, terharu deh. makasih yaa udah nyempetin baca dan ninggalin komentar 🙂

  7. Aaaah, so sweet x3

    Penggunaan kata-katanya rapih dan ‘jleb’ banget ya apalagi yang pas Jonghyun. Bener banget itu yang tentang “inner beauty”.

    Semua yang aku mau sampaikan udah ada di comment-comment sebelumnya, intinya ini FF udah bagus kok^^

    Keep writing!

  8. Oh Tuhan, sungguh betapa bahagianya kalau ada yang kaya Jonghyun di kehidupan nyata……..

    buat yg bkin FF ni, wah keren dah.. T.O.P abiss…

  9. Indeed sweet, authornim ^^
    saya jarang baca+komen ff disini /fail/ tapi entah kenapa ff ini terlalu menggoda untuk dibaca+dikomen :p
    Good plot+good words. Cara deskripsinya bagus banget. Simple, fluffy, tapi romantisnya dapet. Jonghyunnya dewasa sekali, jadi manglingi hehe.
    Good job (y)

  10. Kyaaaaa… Spechless dgn kata2x jonghyun oppa… Author sukses bkin aq spechless… Hahakss… keu story neomu jjang..!! Daebakkk,,,^^v

  11. kyaaa manis sumpah!! wah hebat kata2 jjong ngebuat aq jd ngefly. bagus.. pesannya masuk bgt. aq jg prnh merasa minder kyk yunji. merasa seluruh wanita lbh baik dr aq. tp akhirnya bangkit lg, dan gk merasa kyk gitu lg. apalagi ditmbh kata2 tadi. serasa jjong sendiri yg nasehatin.

    keren ciuman sambil masang cincin. so sweet sekali jjong…

  12. huuaa keren bgt ni
    jjong romantis bgt sih
    suka deh sma karakter jjong yg dsni, lelaki idaman bgt deh
    biasanya karakter jjong ga jauh” dr cwo badboy n agak yadong
    tp dsni beda bgt
    keren, keren.. terutama moment pas nglamarnya itu

  13. “aku sudah mempunyai rancangan untuk masa depanku. Tapi rancangan itu masih belum sempurna dan tidak akan pernah sempurna karena ada yang masih kurang… dan aku hanya membutuhkan kau seorang untuk menyempurnakannya.” best line ever

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s