Namja – Part 8

Title : Namja

Author : Bibib Dubu

Beta-Reader: Kim Nara

Main Cast : Kim Kibum, Park Hana, Park Ha In, Kim Heera

Support Cast : Kim Jonghyun, Kim In Young, Lee Jinki, Key’s Eomma, Park Yoochun, etc.

Length : Sequel

Genre : Friendship, Family, Romance

Rating : PG – 16… Engga sampai NC, tapi dianjurkan agar pembaca di bawah umur engga menghayati detail.

 namja2

Summary:

“Aku ingin angin yang berbeda dengan sebelumnya. Izinkan aku bersembunyi dalam kepalsuan rupa, aku ingin jiwaku saja yang menjadi dirinya sendiri. Aku ingin dia memilih akan menjadi apa, selama ini aku terlalu terkondisikan dengan suasana.”

 

Namja – Part 8 : Wind is a Part of Life

Meliuk menakjubkan, menyalip satu persatu kendaraan yang melintas di jalanan dengan lincahnya. Di belakangnya, derung lain tak ingin kalah gesit, tak ingin suara mesinnya hanya dihakimi sebagai raungan kakek tua bergigi dua yang ringkih belaka.

Pengemudi yang memimpin, tersenyum. Di depan sana, ada hal yang membuat posisi unggulnya menjadi lebih mantap. Ya, lintasan liar ini tak lagi lurus, tetapi sebuah tikungan. Aroma tantangan menyeruak dan berbaur dengan keyakinan diri. Seringan layar perahu yang terkembang, hendak bertemu sang kekasih bernama lautan samudera biru. Posisi tubuhnya segera dikondisikan, turut mendukung kinerja motor di saat hendak berbelok curam, menghasilkan kecepatan terbaik yang berhasil menciptakan jarak semakin jauh dengan pesaingnya.

“Issshh, sial!!” Pengemudi yang di belakang, Mir, mengeluarkan rutukan kesal. Motor hasil modifikasinya ternyata masih belum mumpuni untuk menyaingi Ken. Setelah tikungan tadi, jaraknya dengan Ken semakin melebar. Kini ia merasa raganya mengempis seiring dengan hawa tak bertuan—bergelar pesimis—yang mengambil alih semua sistem syaraf hingga bibir pun pasrah ketika dipaksa tunduk melengkungkan diri mengikuti gravitasi bumi. Tapi sesaat kemudian sistem sadarnya merangsek ingin menyelip di tengah kumparan pesimis tadi dan menyemangati diri untuk tidak mengibarkan bendera putih secara terang-terangan. Paling tidak, usaha tidak akan ada yang berujung pada kesia-siaan belaka.

Keangkuhan, dua motor, dua anak muda, dan dua hati yang dikuasai oleh rasa ingin menjadi juara. Kombinasi yang sempurna untuk mengabaikan keluhan-keluhan pengendara lainnya—yang menyuarakan ketidaknyamanan dalam perjalanan mereka saat malam semakin memamerkan gelap pekatnya, hanya diiringi sedikit gemerlap bintang dan bulan yang malu-malu menampakkan walau hanya separuh tubuhnya.

Tetap melaju, posisi tak kunjung berubah. Kecepatan maksimum dan kemahiran menguasai kecepatan serta arah gerak berbaur dengan angin yang mewarnai malam. Bangunan sekitar menjelma menjadi garis-garis abu horizontal, tak lagi jelas bentuk apa yang tampak. Bisa jadi jendela lebar menjadi pintu dan kanopi-kanopi pertokoan tak ada bedanya dengan segaris lidi tipis dibelah tiga, untung tidak sampai menyerupai jembatan akhirat yang katanya sama tipis dengan sehelai rambut ‘disayat’ menjadi tujuh. Pandangan terfokus ke depan, tak terpikir untuk menoleh ke arah lain. Seluruh indera harus terjaga dengan baik, mengoptimalkan fungsinya agar kondisi sekitar tetap dapat ditangkap tanpa harus menggerakkan wajah. Salah sedikit maka bukan hanya makhluk gaib bernama kekalahan yang akan menari-nari sembari menjulurkan lidah, tetapi mungkin saja ada satu atau dua nyawa yang terdesak keluar dari raga yang menampungnya selama ini, layaknya kotoran hidung yang ikut tergusur eksistensinya ketika kentalnya ingus menyewa tempat sementara di rongga hidung.

Pupil mata Mir menyipit, garis finish semakin tampak namun dirinya masih belum juga menyusul posisi Ken. Terlihat dua gadis memegangi pita dari arah yang berseberangan, baju mereka malang sekali—tidak kebagian jatah bahan, mungkin?

 Seluruh kepasrahan menyerbu tatkala motor Ken berhasil membuat pita itu terlepas dari tangan yang memegangnya, melayang bebas mencium tubuh bumi yang berselimutkan aspal. Di saat yang bersamaan, wajah Kira melengos—membuang muka seolah tak ingin menyaksikan kekalahan Mir. Gadis itu, masih terbalut kemisteriusannya, dengan masker yang menutupi hingga area pipinya.

Motor Ken perlahan melambat, hingga akhirnya benar-benar berhenti. Kawanannya menyambut, mengerubungi pemimpinnya itu untuk memberi selamat sekaligus ber-high five ria, merayakan sebuah kemenangan atas seonggok tubuh yang tadinya begitu yakin dengan membusungkan dada tanpa beban. Ada satu yang masih takut mendekat. Kakinya melangkah begitu pelan, matanya bergerilya menyapu seluruh jengkal jalanan. Berkali-kali ia mengepalkan tangannya, tidak ingin dirinya terkalahkan oleh rasa tidak nyaman yang menyergap, mengepung pikiran dengan sesuatu yang ia yakini namun tak bisa terus ia pertahankan kemunculannya. Jelas ia tahu, kisah lama harus segera diusaikan dan saatnya mencium sisi kehidupan yang lain.

Matanya menangkap banyak hal, persis seperti yang pernah ia saksikan sekali di film bertema racing. Kerumunan manusia yang tampak seperti berpesta pora itu bukan hanya berasal dari dua kelompok yang bertanding saja. Key menduga bahwa ada beberapa lainnya yang datang untuk melihat, mungkin untuk mengetahui sejauh mana ketangguhan dari mereka yang beradu kecepatan malam ini.  Eits, tidak, bukan hanya itu. Mata dan telinganya baru saja melihat sekumpulan orang mengerubung tak jauh darinya, dan beberapa di antaranya berteriak, ‘Hei, benar prediksiku, Ken yang menang. Kemarikan hadiahku!’. Dan kau tahu apa? Sesuatu yang disebut sebagai hadiah itu bukan hanya segepok uang tunai, bukan pula emas mulia 24 karat. Ini lebih membuat penerimanya mabuk kepayang dengan mata berbinar seolah melihat surga dunia di pelupuk matanya. Apa? Kemolekan tubuh seorang wanita, disosori lekuknya yang terbebas dari penghalang berupa kain. Lagi-lagi, menyulut amarah di dasar sanubari Key.

Di sisi yang lain, pemandangan yang tampak tak kalah membuat Key berdecak miris; mengelus dada dalam imaji pikiran. Wanita di dalam dunia ini, layaknya barang murahan yang bebas dijamah, bibir merekah tidak ada bedanya dengan ice cream manis menggoda yang dilahap habis oleh bocah kecil yang hanya tahu apa yang disebut—kenikmatan. Key sedikit menggeram pelan, ingin mengamuk tapi apa daya dirinya tak cukup berani untuk bertransformasi menjadi superhero yang menyelamatan para wanita—yang menurutnya—teraniyaya itu. Apalagi berteriak: hei orang gila! Hentikan semua kebusukanmu itu. Dia adalah keturunan hawa yang kesuciannya harus tetap terjaga agar kelak di dunia ini tercipta generasi yang tidak dicaci-maki ketika lahir ke Bumi. Tapi sungguh, tidaklah mungkin—dengan penampilannya yang sekarang—ia berkoar-koar layaknya pemuka agama yang berjuang menjaga kemurnian ajaran yang diyakininya.

“Hei, kemari Key!” Ken menyadari keanehan pada tingkah rekan barunya itu. Sang pemimpin itu turun dari motornya sebelum sempat membuka helm.

Key tak kunjung mendekat sekalipun Ken sudah memanggilnya. Tanpa sadar kakinya justru melangkah mendekati beberapa pasang kekasih yang sedang menautkan bibir liar, tidak tahu malaikat mulia mana yang bersedia membisikkan angin kebenaran. Amarah Key kian memuncak seiring dengan jaraknya dengan mereka yang semakin menipis.

Ya! Key, Key. Kemari!” Ken buru-buru menarik tubuh Key, prasangkanya mengatakan Key akan melakukan hal yang aneh.

“Lepas!” Key memberontak, mengerahkan seluruh daya untuk melepaskan diri. “Ken! Kubilang lepaskan aku! Kau tidak punya hak menarik paksa tubuhku seperti ini!”

“Key, tenang kawan. Aku tanya, apa maksudmu mendekati mereka? Ingin menggangu pesta mereka?”  Ken semakin mengencangkan pegangannya, mengunci kedua tangan Key dari belakang. “Tidak ada gunanya, mereka itu anjing galak yang akan mendadak jadi harimau ketika tuan ‘kebahagiaan’ milik mereka direbut paksa. Yang mungkin terjadi justru bibir indahmu yang akan terkoyak dan area sekitar matamu yang akan hitam alami tanpa harus disokong eyeliner dan eye shadow. Bertindaklah rasional, pikirkan!”

“Ken! Kau tidak marah wanita diperlakukan seperti itu? Kau tidak jijik melihatnya, hah?” Key kesal, ia sungguh tidak sanggup. Di otaknya melintas ketiga sosok sahabatnya, yang kemudian membuat matanya seolah menyaksikan ketiga orang yang disayanginya itu berubah menjadi wanita murahan tadi.

“Hei, memang seperti inilah dunia kita. Kau harus sadar sedang berada dimana.” Ken mulai melunak, melepaskan tubuh Key. Bagaimanapun Ken tahu bahwa Key masih ‘anak balita’ suci yang tidak mengerti permainan duniawi yang direkayasa oleh sutradara bernama setan yang sengaja bertandang ke Bumi manusia.

“Cih, di dunia manapun, tetap tidak bisa dibenarkan. Kau tidak marah jika wanita tadi itu adalah adikmu, kakakmu, atau bahkan ibumu? Atau, yang paling dekat, Nara?”

“Ya ya ya, siapa yang menyebut namaku?” Nara yang mendengarnya, sontak menimpali sembari terkekeh, sebatang rokok disulutnya dan ia selipkan di antara telunjuk dan jari tengah. “Kau lucu, Key. Hmm, terlalu polos. Kau belum tahu ya bahwa api dan panas itu begitu nikmat?” Nara mengacungkan kreteknya dengan bara oranye tipis di ujung.

“Nara-ya! Kau tidak merasa dirimu wanita, huh? Apa kau tidak marah? Aku punya sahabat, ketiganya wanita. Aku tidak sanggup membayangkan kalau itu sahabatku, dimainkan sesuka hati oleh pria. Lalu ka-u…,”

Suara protes Key terhenti, sesuatu yang asing merapat ke bibirnya, mengapit bibirnya yang masih belum terkatup. Jemari kakinya menggeliat, seolah ingin menyadarkan tubuhnya yang terkunci sesaat bahwa ini harus dihentikan sebelum suhu malam yang kurang ajar dinginnya ini berubah drastis sepanas neraka. Butuh beberapa waktu untuk tersadar, hingga akhirnya ia memundurkan langkahnya setelah mendorong pelan tubuh Nara.

“Jangan samakan duniamu dengan dunia kami. Jangan bertingkah konyol. Sekarang, kau tak berbeda jauh dengan para pria itu. Kau baru saja berciuman denganku, faktanya kau takluk beberapa saat juga, ‘kan?”cibir Nara sembari menyapukan kilat ibu jarinya ke bibir Key. “Nyatanya memang benar—bagi pria manapun terkecuali homoseksual—kissing itu senikmat hidangan strawberry cake ala restoran internasional. Wangi, legit, manis, empuk pula. Jangan munafik, Key! Kalau kau pria, kau pasti mengakuinya. Semoga malam ini kau tidak bisa tidur karenanya, terkecuali kau ingin kubuat mengakui kebenaran itu setelah kuberi sesuatu yang lebih nikmat. Bonus fenomenal, doorprize, bayi dari rahimku.” Nara menarik kembali wajah Key, menahan kuat pipi Key yang masih semulus bayi tanpa dosa dengan kedua telapak tangannya.

“Cukup, Nara-ya. Key, malam ini ikutlah denganku, kita berbincang sedikit.” Ken menyudahi, ia tidak ingin ketajaman mulut Nara semakin menciptakan aura tidak nyaman. Satu lagi yang tidak Ken inginkan, tentang Nara….

***

Kertas-kertas coretan itu masih berserakan, beberapa di antaranya sudah berupa bola-bola hasil penyaluran rasa kesal pemiliknya. Berulang kali Ha In mencoba berkonsentrasi, memahami isi textbook yang halamannya terbuka menganga. Tangannya masih tidak ingin menyerah, ia tetap bersikukuh mencatat hal-hal yang berhasil dipahami. Tidak mudah berkonsentrasi ketika kegusaran menguasai jiwa.

Dua hal penting memenuhi isi kepalanya, mencuatkan rasa cemas berlebih ke permukaan kulit wajah. Yoochun dan Key. Sore tadi ia tidak mendapati senyuman Yoochun yang menentramkan jiwa itu. Tidak ada perbincangan hangat di sore hari, tidak ada nasihat bijak yang meringankan pikiran, tidak ada canda yang membuat pipi merekah memerah bak cherry yang indah menggelayut. Ah, mungkin Yoochun Oppa sedang lembur di kantor, Ha In mencoba meredam pikiran ganasnya.

Key? Tak pernah lepas Ha In membisikkan dalam hati tentang sebuah untaian do’a untuk sahabatnya itu. Berharap besok, akan ada surat kabar yang mengumumkan berita hilangnya Key. Tadi siang Nyonya Kim mendatangi biro iklan surat kabar harian lagi, ini memang berita yang sedikit melegakan. Semoga Key nanti membaca dan tergerak pulang ke pelukan sang bunda, atau ada orang yang mengenali wajah Key dan segera melayangkan kabar melalui nomor telepon yang tersedia. Hanya bisa menunggu sembari mendamaikan hati yang tak kunjung susut riaknya. Kalau saja Hana tidak meneleponnya beberapa jam yang lalu, pikirannya tidak akan kacau seperti ini.

“Ha In-ah… sudah berapa hari Key menghilang? Dia tidak merindukan eomma-nya? Dia tidak merindukan kita?”

“Hana-ya, biarkan Key menjadi burung lepas sesaat. Ia akan kembali, layaknya merpati yang akan kembali ke sangkarnya. Ia tidak akan lupa pada kehidupannya di sini.”

“Seperti itukah sikap kita? Aku tidak bisa. Kau tahu sendiri Key bukanlah tipe pemberontak, Key bukan tipe petualang ala bag packer yang terbiasa hidup di dunia luar tanpa absennya won dari saku atau dompet. Tidakkah kau membayangkan Key berteduh di mana? Oke, katakan dia dapat tempat persinggahan, entah itu di pelataran pertokoan atau dimanapun. Tapi tetap saja dingin sedang merajalela belakangan ini. Dan yang terpenting, dia tidak membawa uang, tidak membawa kartu ATM ataupun kartu kredit. Kau mengerti maksudku?”

 

Sekali lagi Ha In mendesah panjang, menyisakan uap tipis yang menyembul keluar dari kedua celah bibirnya. Ucapan Hana kembali terngiang di ingatannya dan menggedor keras seperti palu yang memaksa paku untuk menancap ke dalam dinding beton. Sakit tapi bingung harus diapakan. Muncul dua sisi yang berseberangan persepsi, saling mencecar kata ingin diakui sebagai pemenang. Sisi yang satu—yang ia sampaikan pada Hana,

“Key itu sudah dewasa. Dia bukan bocah kecil yang tidak boleh dipekerjakan. Aku yakin, Key bisa mendapat pekerjaan. Hana-ya, aku pribadi ingin percaya pada Key. Tidakkah kau ingin percaya pada sahabatmu sendiri—bahwa ia bisa bertahan dengan kakinya sendiri? Coba kau renungkan mengapa Key kabur tanpa membawa uang? Itu karena ia ingin mencari jati dirinya, membuktikan bahwa ia kuat dan layak disebut namja. Bisa saja seperti itu, ‘kan? Aku tidak terlalu yakin bahwa Key kabur hanya karena ia merasa tertekan.”

Namun hati tetaplah hati, yang sulit sekali terbebaskan dari prasangka buruk aneka rasa. Buru-buru ia meraih ponsel, bangkit, dan bergegas menuju teras rumahnya. Mungkin angin malam bisa sedikit meringankan. Jemarinya tidak bisa menahan diri, ia segera mencari nomor kontak Hana. Tanpa pikir panjang ia menekan tombol dial, hanya berharap sahabatnya itu masih terjaga dan tengah bercumbu dengan tumpukan tugasnya di saat seperti ini, ketika jarum pendek jam sudah menunjukkan angka tiga dini hari.

“Ha In-ah, hei? Ada setan apa kau bangun jam segini? Biasanya kau sulit bangun dini hari!” Yang pertama kali didengarnya adalah pernyataan menyebalkan Hana dan gelak tawanya yang serenyah wafer keluaran merk terbaru.

“Sial, separah itukah tidurku? Ck, memang sih kejadian langka kalau aku terbangun di waktu seperti ini. Kau tidak salah juga.” Tawanya terpancing keluar, namun sesaat kemudian ia ingat tujuannya. “Hana-ya, aku tidak bisa tidur. Tentang Key… kau benar. Nyatanya aku pun tidak bisa yakin kalau Key baik-baik saja. Hana-ya, apa kau punya prediksi kemana Key akan pergi?”

“Awalnya aku mengira dia akan menumpang di teman SMP, SMA atau SD-nya, bisa jadi. Tapi Nyonya Kim sudah menghubungi mereka dan tidak ada satupun yang tahu. Ha In-ah, apa kita melupakan sesuatu? Misalnya, tempat yang sering dikunjungi Key. Apa ada yang belum kita datangi?”

Ha In menggeleng, menjawab pada dirinya sendiri. Rasanya tidak ada yang terlupakan, kecuali… “haha, terlalu banyak. Bukankah pusat perbelajaan di Seoul cukup luas?” canda Ha In.

Ya! Aku sedang serius, jangan bercanda. Apa mungkin orang yang kabur tanpa membawa uang sepeser pun akan pergi ke pusat perbelanjaan?”

Mian, aku hanya berusaha membuat pikiranku rileks. Baiklah, aku serius, sekarang setelah serius… aku sama sekali tidak terpikirkan tempat apapun.” Ha In kembali tergelak, namun matanya membasah, tak mampu membohongi hati yang semakin dikuasai gelisah.

“Hana-ya, aku sahabat yang payah, ‘kan? Kau dengar, aku justru tertawa bercanda. Aku juga tidak tahu tempat apa saja yang mungkin Key kunjungi. Aku bahkan sama sekali tidak peka, tidak pernah berpikir bahwa Key akan pergi. Aku bukan sahabat Key yang cukup peduli dan tahu tentangnya.”

Satu, dua, tiga, garis demi garis air mata menyapa udara malam Seoul, menampakkan dirinya pada serangga-serangga malam yang tengah beraksi menyuarakan keberadaannya. Sesuatu yang tertahan sejak tadi di otak, akhirnya mampu dilontarkan meski harus berbaur kilat dengan air mata. Ya, bukan sekali saja Ha In merasa seperti itu.

Katanya sahabat itu bagaikan oksigen, tidak tampak namun memberikan kekuatan pada insan yang menghirupnya. Jika ungkapan itu benar adanya, lalu mengapa Key pergi? Tidakkah Key menganggap bahwa keberadaan sahabatnya sebagai penguat dalam setiap permasalahan? Baik, anggaplah Heera tidak bermaksud jahat pada Key, tetap saja Ha In merasa dirinya tak layak disebut sebagai sahabat Key—karena nyatanya ia bahkan tak bisa memberikan kekuatan yang berarti untuk Key.

Air mata itu semakin deras mengalir ketika mengingat bagaimana Key selalu merangkulnya di kala lunglai tengah menjamah—memberikan dukungan lewat gerak tubuh memang sejuta kali lipat lebih terasa dibanding melalui kata. Jelas pula tergambar layaknya sebuah lukisan kanvas, bagaimana Key menemaninya semalaman demi menyelesaikan tugas. Key memang tidak membantu Ha In menjawab soal tugas, tetapi membantunya menghidupkan suasana dengan menyanyikan lagu-lagu konyol melalui telepon agar yeoja itu tetap terjaga dengan hati bahagia.

“Hana-ya… apa yang sudah kita beri untuk Key? Tidak banyak, selama ini dia yang menjadi malaikat bagi kita… sekarang saja, kita tidak bisa menemukannya. Sahabat macam apa kita ini?”

“Ha In-ah, sudah sudah. Ini wajar, kita bukan Tuhan yang mengetahui semuanya. Seoul terlalu luas untuk menemukan satu sosok. Bahkan bisa jadi Key sudah tidak berada di dalam lingkaran Seoul saat ini. Terlalu banyak tempat yang mungkin ia singgahi. Terowongan gelap, taman kota, sungai Han, sekolah A, rumah B, toko C, pantai, gedung-gedung tinggi, kita tak bisa menerka. Key bisa jadi punya banyak kenalan yang kita tidak tahu.” Susah payah Hana mengusahakan agar suaranya terdengar normal tanpa getar pilu. Ia tidak ingin membuat tangis semakin menguasai pembicaraan.

“Sungai Han? Hana-ya… kita pernah berjanji untuk tetap bersama dan saling melindungi. Sungai Han menjadi saksi kita. Tapi, mengapa Key justru pergi? Tidak lagi melindungi kita—sahabatnya? Lalu kita, juga tidak bisa memastikan bahwa Key aman.” Tangis Ha In semakin pecah mengenang janji itu.

Sesuatu yang indah pernah melesat dari mulut keempatnya, melayang-layang terbawa udara, dan kemudian secara alami menyentuh beningnya pemukaan sungai Han, lalu menyatu hingga fasanya tak lagi terbedakan dengan mata tanpa senjata. Secara kontinu akan mengalir mengikuti arus dan bisa saja kemudian menyempil ke dalam pipa-pipa pemasok air rumah tangga. Terbawa ketika mandi atau makan, kembali menyusup dalam pori kulit dan menempel abadi di relung hati.

“Ha In-ah, aku baru ingat. Sekarang tanggal berapa? Bukankah sebentar lagi waktu itu tiba?”

Lihat, bagaimana pesona air mengendapkan sebuah kenangan. Pada waktunya, akan terucap kembali dan harus didialogkan oleh aktor-aktor yang sama pada setting tempat yang nyaris serupa—paling hanya berbeda beberapa meter saja dari titik asal yang seharusnya.

“Hana-ya… haruskah kita… ke sana?”

***

Sungai Han, penuh kelap-kelip lampu penerangan, tenang, dan hanya diliputi sapuan angin malam yang membelai manja. Key duduk termenung, menautkan kedua tangannya yang melingkari kedua lutut yang tertekuk. Di sampingnya, sosok Ken terbaring sembari memejamkan mata.

Sungai Han, saksi hidup sebuah janji yang terlontar. Beberapa hari lagi, Key harus siap mengecap dirinya sendiri sebagai pengkhianat karena melanggar sebuah ikrar. Namja itu turut merebahkan tubuhnya di samping Ken. Sempat ingin bertanya mengapa Ken mengajaknya ke tempat ini, namun hatinya masih ingin mengenang sebuah momen.

“Key, aku suka angin. Entah itu angin kencang, ataupun yang lembut seperti ini. Kau tahu kenapa aku begitu suka angin?”

“Aku tidak tahu. Tapi yang pasti, semua orang tidak akan suka pergi ke tempat yang memiliki sebuah kenangan,” balas Key singkat, ikut mengatupkan kelopak mata.

“Benarkah? Mengapa? Tempat ini pernah memberimu kenangan buruk? Kau putus dengan yeoja-mu di tempat ini?” Ken terkekeh santai.

“Bukan. Hanya… tidak suka. Dan perlu kau catat, aku tidak pernah punya kekasih.” Kegetiran menyergap melemahkan syaraf-syaraf di sekitar mata yang membuat organ itu terpejam sekali lagi. Tidak punya kekasih. Ya, cinta yang tertolak sebelum diutarakan, kekalahan telak sebelum aba-aba pertandingan diteriakkan. In Young terlalu jauh untuk diharapkan.

“Tidak ada yeoja yang menginginkan namja gemulai sepertiku, Ken. Seumur hidup, aku hanya pernah jatuh cinta sekali. Namun semua itu… perasaan itu… mirip algojo profesional yang memancung mati leherku. Ken, aku bukan kau yang tampak kuat dan mampu melindungi yeoja. Ah… sudahlah tidak usah kujabarkan lanjut, sekarang katakan apa maksudmu mengajakku kemari.”

“Baiklah. Aku jelaskan dari awal. Key, kau jangan pernah mengatakan atau menyiratkan di depan Nara bahwa wanita itu identik dengan murahan. Kau tahu tidak, dia kabur dari rumahnya karena apa? Ayahnya sempat mempekerjakannya menjadi pekerja—yah, kau tahu apa. Dalam usianya yang masih delapan belas tahun waktu itu, selaputnya sudah terkoyak. Mungkin ia sudah tidak lagi memikirkan itu sejak pertama kali dijamah pria nakal, tapi bukankah tetap sangat menyakitkan mengingat ayah sendiri yang menjerumuskan kita?”

“Ooo, maaf, aku tidak tahu.” Key tak mampu menimpali lebih jauh, ia cukup terhenyak mengetahuinya.

“Masih ada kelanjutannya. Suatu hari ia kabur, namun ahjussi yang membayarnya terus mengejar Nara. Hingga akhirnya, Nara membela diri dengan memukulkan balok kayu pada kepala pria itu. Nasib malangnya tidak sampai di situ saja, ahjussi itu adalah konglomerat, keluarganya jelas tidak terima dan menuntut Nara dengan berbagai cara. Singkat kata, Nara dijebloskan ke penjara. Setelah bebas, ia kabur dari ayahnya. Tapi sial, jejaknya tetap tercium oleh sang ayah. Hingga akhirnya aku menemukannya tengah bertahan hidup di antara tumpukan sampah, dalam keadaan terikat, dan penuh darah.”

“Ken, jadi kalian adalah kumpulan manusia yang lari dari rumah?”

“Rumah? Kami tidak punya rumah selain markas yang kami huni bersama. Bangunan tembok yang sebelumnya menjadi tempat kami berteduh hanyalah kedok, bersikukuh angkuh ingin dirinya disebut sebagai tempat yang menentramkan bagi penghuninya, padahal ia hanya neraka. Kami ingin dunia yang lain, hidup bersama angin, berevolusi menjadi diri kami yang sekarang—yang tidak dikenali identitas aslinya. Kau lihat, apa semua yang kau lihat adalah wujud asli kami? Apa yang kau dengar adalah nama asli kami? Bukan. Semua, segala hal yang ada di dunia lama kami, telah terkubur rapat bersama sekumpulan luka. Dan kuharap kau segera menyediakan nama barumu.”

“Itukah alasan kau menerimaku? Karena aku ingin membuang masa laluku? Haruskah aku hidup seperti kalian? Menyukai angin dan menyatu dengannya? Sampai harus mengubah panggilan kesayanganku?” Key mulai mengerti, menemukan jawaban atas keping-keping  keraguannya. Bukan mengerti dalam arti yang sebenarnya, hanya saja ia sedikit bisa melihat sehelai jerami di antara ilalang.

“Key, angin itu bagian dari hidup. Angin membuatmu merasa bebas, melesat cepat bersama angin itu rasanya indah, sekejap mata beban hidupmu hilang tersapu. Bukan hanya itu, angin identik dengan kecepatan. Bagiku, pemenang di dunia ini adalah orang yang mampu bergerak lebih cepat dari kawanannya.”

“Benarkah?” Key masih belum sepenuhnya yakin dengan apa yang akan ia pilih.

“Cobalah, kau akan tahu sendiri jawabannya. Semua yang ada pada diri kami memang tidak lazim. Sosok kami boleh palsu, tapi jiwa kami saat ini—adalah diri kami yang sebenarnya. Key, aku tidak mengatakan arah angin yang kami lalui ini benar. Kau boleh memutuskan sendiri angin mana yang akan kau jadikan arahmu.”

“Aku ingin angin yang berbeda dengan sebelumnya. Izinkan aku bersembunyi dalam kepalsuan rupa, aku ingin jiwaku saja yang menjadi dirinya sendiri. Aku ingin dia memilih akan menjadi apa, selama ini aku terlalu terkondisikan dengan suasana,” putus Key yakin.

“NTentu, aku izinkan kau bersama kami. Key, besok mulailah menikmati angin. Perlahan saja, melesatlah,” timpal Ken, mengerling mata.

Key menimpali dengan senyum ringannya, “aku belum terbiasa. Pinjamkan aku satu, aku ingin mencoba bermain kecepatan dengan salah satu dari kalian dulu.”

“Tidak. Sekarang tidak ada kalian, yang ada hanyalah kami atau—kita.”

***

Fajar beranjak, mulai naik menghiasi langit Seoul. Embun mulai bergerak girang menyapa tanah. Tubuh itu terlelap di kursi teras depan, dengan ponsel yang terjatuh tidak jauh dari kakinya. Ia tidak menyadari bahwa pagi sudah memulai hari dengan semangat baru.

Dari kejauhan, seseorang tersenyum kecil, menggeleng, dan sedikit merasa heran. Rambutnya yang masih agak basah—sedikit ia sibakkan dari kening, kemudian ia meletakkan tas ranselnya dan berdiri di depan tubuh yang masih beristirahat itu. Sesekali ia melirik jam tangan untuk memastikan waktu sudah bergerak sampai mana.

“Ha In-ah… sudah jam enam. Pagi ini bukannya kau harus ke kampus, Sayang?” Ia menyapa lembut, membelai kening yeoja yang sudah seperti adik kecilnya ini. Lama membungkuk mengamati seksama wajah polos yang terlelap damai dan sesekali area pipinya bergoyang mirip orang berkumur pelan-pelan, gerakan ke kanan-kiri bawah-lalu tegak kembali ke arah kiri.

Hening merayap karena bisu masih betah di singgasananya. Hingga akhirnya detak jantungnya tersentak, buru-buru ia mengusap wajah menyadarkan alam pikirannya, tidak baik memandang terlalu lama. Kembali mulutnya berujar lembut, “Sayang, kalau kau tidak bangun nanti terlambat. Lari-lari ke kampus, jadi bau badan dan tidak dilirik pria tampan.” Terkikik karena kalimatnya sendiri.

“Heuhhh? Hmmm, aku? Euhhh,” balas Ha In masih dalam tidurnya.

“Hei, kalau terlambat kasihan eomma-mu, pasti kau salahkan karena dianggap tidak membangunkan. Ayo, bangun Sayang, basuh tubuhmu dengan air agar tidak mengantuk.”

“Lima menit lagi yaaa? Jebal….” Tangan Ha In bergerak naik ke wajahnya yang masih mendongak menghadap langit-langit, menggaruk-garuk area sekitar bibir.

Ide jahil melintas lewat, membuat Yoochun menyunggingkan senyum. “Ya! Park Ha In! Bangun! Kau ingin oppa menggendongmu ke kamar mandi lalu memandikanmu?”

“Eh?” Ha In langsung terlonjak begitu menyadari siapa orang yang ada di hadapannya. “Ya! Oppa, kau melihat wajah jelekku? Tunggu, apa tadi? Memandikanku? Dasar Ahjussi yadong!!”

“Isssh, dasar anak tidak tahu untung. Aku hanya mengatakannya agar kau bangun. Hah, jelas saja kau masih mengantuk. Kau pasti masih bangun sampai tengah malam dan akhirnya tertidur tanpa sengaja. Separah itukah kau merindukanku hingga menungguku di teras seperti ini?”

“Astaga, kau berkhayal terlalu jauh, Oppa!” Jelas, siapa pula pencuri yang akan mengakui perbuatannya. Rasa gengsi mengusai Ha In saat ini, tentu ia tidak akan mengatakan yang sebenarnya.

Aigoo… yah… terserah kau saja. Oh ya, nanti sore kau ada acara tidak? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

Langkahnya terhenti. Kupu-kupu, bunga aneka warna, atau apapun itu yang menggambarkan keindahan rasa, Ha In pasti berterima kasih dan memeluk erat bahagia yang ditawarkannya. Akhirnya, ia punya kesempatan pergi bersama Yoochun lagi. Khayalannya memang cukup aneh. Semalam ia baru saja berandai-andai tolol agar tidak terlalu tenggelam dalam duka. Ia merangkai cerita, kalau tidak mungkin menjadi kekasih Yoochun, setidaknya Ha In ingin memiliki satu momen ketika dirinya dan Yoochun tampak seperti sepasang manusia yang tengah dimabuk asmara. Hanya sekali… saja, walau ia tahu setelahnya semua itu hanyalah sebuah kekosongan yang layak dicerca dengan kata ‘konyol’.

“Tentu Oppa, aku mau. Jangan tanya punya waktu atau tidak, aku mau! Kita pergi, Oppa!”

“Ya! Kau ini manusia aneh. Gengsi mengakui tapi sering keceplosan. Aigooo, nae dongsaengyou’re so funny. Oke! Nanti sore jangan terlihat dekil, aku jemput ke kampusmu! Aku akan berpura-pura tidak mengenalmu kalau kau terlihat kumuh.” Yoochun merangkul Ha In, menggiring gadis itu menuju arah kamar mandi.

Ini yang dirindukan sekaligus tak Ha In inginkan, pipi yang merona merah karena bahagia di hati terlalu buncah. “Huahaha… maafkan manusia aneh yang satu ini. Oke, aku mengaku saja karena terlanjur tertangkap basah. Aku fans nomor satumu, Oppaaa! Minta tanda tanganmu boleh? Foto bersama lebih bagus lagi!” Demi menutupi rasa malunya, ia memutuskan untuk bercanda bodoh.

Layaknya kakak yang menyayangi adiknya, Yoochun tertawa sembari melakukan hobinya sejak beberapa bulan lalu—mengacak pelan rambut Ha In. Kali ini ada sesuatu yang berbeda, sebuah hasrat yang mendorongnya untuk menunjukkan sayang dengan cara yang lebih. Tanpa pikir panjang tangannya segera menarik Ha In ke dalam pelukan, kemudian ia menumpukan dagu ke puncak kepala gadis itu. Lama berjibaku dalam posisi itu… memastikan rasa seperti apa yang selama ini mengendap-endap di dasar hatinya.

Sudah lama Yoochun tak lagi bisa membedakan rasa. Yang seperti apa itu cinta, sayang, suka, ataupun kagum semata. Begitu juga pada Yuki, sekarang Yoochun hanya tahu ia punya tanggung jawab atas wanita yang telah dinikahinya itu, ia juga punya keinginan agar kehidupan gadis itu dan dua anak kesayangannya tetap berlangsung sejahtera. Tidak, Yoochun tak ingin mengganggap dirinya brengsek. Setidaknya ia masih bertanggung jawab pada Yuki.

Semalam tatkala ia bercumbu dalam naungan setengah purnama, ia sempat berpikir tentang sesuatu. Apa benar hatinya masih terpasang dengan baik di dalam jiwa? Kalau masih, apa pula yang dilakukannya semalam? Selingkuh? Memberi kehangatan pada wanita lain? Lalu sekarang? Ia mendekap erat satu tubuh lainnya. Bukan Yuki.

Lalu, Yoochun pernah bertanya dalam hati—selama ini dirinya jelas tahu bahwa Ha In menaruh rasa yang tak biasa terhadapnya. Namun ia tak pernah tahu mengapa ia mengizinkan semua itu tetap berlangsung, bahkan tetap memperlakukan Ha In layaknya seseorang yang memiliki arti dalam hidupnya. Dan benarkah Ha In memang berarti baginya? Itulah yang ingin ia rasakan saat ini, memastikan irama detak jantungnya.

Oppa….” Terkunci, rasa tidak tenang yang tertutupi gelora cinta. Sempat terbesit ingin melepaskan diri dari tubuh hangat itu, tapi apa daya hipnotis itu memang setan yang pandai memperdaya manusia. Ha In tak mampu menolak, tetap membiarkan Yoochun memeluknya.

“Ha In-ah… sebentar lagi ya?” pinta Yoochun lembut. Pria itu menempelkan mulutnya pada puncak kepala Ha In, menghirup dalam-dalam udara sekitar agar isi kepalanya sedikit ringan.

Oppa…” Sungguh sebenarnya Ha In ingin sekali mempertanyakan alasan Yoochun berbuat seperti ini sebelum otaknya memberikan jawaban yang membuat hatinya melambung nanti. Tapi tidakkah terdengar aneh jika mengutarakannya saat ini? Sungguh tidak lucu. Akhirnya Ha In hanya mampu berpasrah diri menunggu Yoochun mengakhiri mimpi indah pagi ini.

“Ha In-ah… kau tahu? Sekarang aku sudah hafal aroma tubuhmu dan bau rambutmu. Jadi kalau besok-besok kau menghilang seperti Key, hidungku akan mencari layaknya anjing pelacak.” Dan sesaat kemudian Ha In merasa tubuhnya bagaikan terdorong dari gedung dengan 24 lantai. Tidakkah sakit diberi harapan lalu dihempaskan dengan tololnya seperti ini? Ah, memang salah sendiri berkhayal! Ha In merutuki kebodohannya sendiri dalam hati.

Oppa! Kau menyebalkan!” Hanya itu yang terlempar dalam bentuk kata, diiringi dengan pukulan-pukulan kecil di dada bidang sang pengeran cinta.

***

Tidak tahu malaikat apa yang merajuk, Jonghyun mengangguk begitu saja ketika Hana memintanya membuatkan sebuah lukisan. Mungkin karena aku memang suka melukis, begitulah yang ditekankan Jonghyun pada hatinya.

Di sinilah keduanya berpijak, halaman belakang rumah Jonghyun. Suasana siang menjelang sore yang sunyi. Jonghyun tampak serius dengan kuas, cat, dan kanvasnya. Menyaksikan wajah Jonghyun yang tenang seperti itu lantas membuat Hana tersenyum. Pria ini tampak tampan jika sedang tidak dikuasai emosi, keindahan rupanya membius mata dan membuat lalat enggan singgah mengotori sosoknya.

“Aku tahu wajahku bak pangeran di negeri dongeng, tapi bisakah kau tidak terlihat terang-terangan sedang memperhatikan aku? Aku peringatkan jangan sampai kau mengulang perasaan sukamu padaku, aku sudah punya In Young.”

Lamunan Hana seketika buyar, fokusnya mendadak beralih dari wajah Jonghyun kepada kuku-kuku jemarinya sendiri. “Ah, ne. Maaf membuatmu tidak nyaman. Dan aku pastikan hubunganmu dengan In Young tidak akan terganggu karenaku.”

“Ccch, memang tidak akan dan jangan pernah berharap,” balas Jonghyun sinis, tersenyum penuh rasa puas.

Ne… tidak akan.” Hana membalas gugup. Ini adalah hari sialnya, lagi-lagi harus mendengar kalimat menyakitkan dari mulut Jonghyun.

Jonghyun melirik, menegakkan kembali wajah Hana yang tertunduk lesu. Tidak biasanya Hana menyerah seperti ini tanpa mencoba mengelak. Paling tidak, seorang Hana dalam kondisi seperti ini akan berkata ‘Hei, siapa yang sedang memperhatikanmu? Siapa pula yang manaruh hati padamu? Kau memiliki rasa percaya diri yang terlalu berlebihan’.

“Ya! Park Hana, kemana kau yang keras kepala dan galak itu? Mengapa kau pasrah saja dan mendadak melankolis? Tidak bisakah kau menghidupkan suasana dengan meneriaki aku seperti biasanya?”

“Aku sedang sedih, Jjong. Malas meladeni kau.” Hana bangkit dan segera memindahkan bangku plastiknya agar tidak lagi sejajar dengan Jonghyun.

“Wow, keren sekali bicaramu. Malas meladeniku? Tccch,” lagi-lagi Jonghyun merasa dirinya direndahkan. Perkataan Hana menyiratkan seolah dirinyalah yang sedang berusaha menarik perhatian yeoja itu. “Bodoh,” imbuhnya asal, tetapi mutlak sarat dengan kekesalan.

“Jjong, bukankah kau membenci Key? Mengapa kau bersedia membuatkan lukisan foto kami berempat yang di dalamnya ada Key?” Hana mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum kata-kata Jonghyun semakin pedas.

“Sudah tidak, sejak hari di rumah sakit itu. Kau seharusnya tidak menanyakan ini karena sudah tahu jawabannya. Kecuali jika… kau berharap aku membuatkan ini karena kau yang meminta? Hohoho… salah besar, Nona galak. Aku hanya ingin melukis, masuk akal?”

Kalimat Jonghyun membuat Hana terkikik, namja di depannya ini memang sungguh kekanakan. “Jjong, kenapa ucapanmu barusan seolah mengatakan kau ingin aku berterus terang memujamu, atau bahkan memintaku untuk tetap mengagumimu? Kau merasa rugi atau kehilangan jika kenyataannya aku tidak lagi menjadi salah satu fans bodohmu?”

“Jangan bermimpi. Ah sudahlah, lebih baik kau ke dalam, mencari roti atau apapun yang bisa mau makan, anggaplah rumah sendiri. Daripada di sini hanya membuatku jengah melihat wajah sendumu.” Wajah Jonghyun kembali menghadap ke arah kanvasnya yang masih didominasi oleh sketsa pensil, baru beberapa bagiannya saja yang tertutupi cat air.

“Heran. Dulu kau mengatakan jangan menganggap bangunan ini sebagai rumahku sendiri. Sekarang? Kau manusia paling labil yang identik dengan ketidakkonsistenan. Jangan-jangan besok kau mengempaskan In Young yang saat ini kau yakini sebagai belahan jiwamu? Lalu berlari mencariku dan memintaku menjadi ratu cinta di hatimu? Osh, jangan dianggap serius ocehan kosongku ini.” Hana berjalan meninggalkan Jonghyun yang masih ternganga ingin menimpali dengan segenap kelincahan kosakatanya yang meletup bak air mendidih.

Ruangan pertama yang Hana pijak adalah ruang makan. Tertata rapi kursinya di tepian meja. Berjumlah empat dan tampak terbebas dari debu. Di tengah meja terdapat sebuah tudung saji, yang menggoda minta dibuka namun kalah seketika dengan etika. Tidak enak mengambil makanan di rumah orang lain.

“Kalau lapar, buka saja. Tapi eomma-ku suka hidangan ala Cina, konon leluhurnya berasal dari negeri tirai bambu itu. Kalau lidahmu tidak terbiasa, mungkin roti bisa sedikit mengganjal perutmu.”

Tak diundang, namun dengan penuh percaya diri hadir. Bedirilah sosok yang serupa dengan Jonghyun namun dengan mimik wajah yang penuh ketenangan dan terbebas dari segala macam emosi. Itu pasti Jongmin, Hana yakin dirinya tidak salah mengingat nama.

“Tidak usah, air minum saja boleh? Di mana rak gelasnya?”

“Ingin air putih saja? Padahal di kulkas ada jus yang menyegarkan, tidak ingin?”

Hana diam sejenak, mengamati gerak-gerik lincah pria di hadapannya yang kini tengah membungkuk mengamati deretan botol di dalam kulkas. Sama sekali tidak ada kesan menyebalkan, tapi entah mengapa rasa simpati untuk tuan rumah yang super baik ini tidak timbul spontan.

“Tidak usah, aku tak ingin merepotkan. Jongmin-ssi, itu ‘kan namamu? Boleh aku bertanya sesuatu?”

Jongmin refleks menengok, mengangguk dengan senyum santai. “Tentu, bertanya adalah hak setiap orang.”

“Apa yang kau pikirkan tentang Jonghyun?” Hana memulai rasa penasarannya dengan pertanyaan singkat.

“Dia? Harus kujawab? Kenapa pula kau harus bertanya seperti itu? Kau menyimpan rasa peduli pada saudaraku? Kau tahan menghadapinya? Selama ini dia terlalu arogan pada semua orang. Dan aku kurang nyaman dengan semua itu.”

Hana tersenyum. Rupanya pria di hadapannya ini cukup dingin dalam beberapa hal. Jongmin cukup sopan tapi lebih tertutup. Sebaliknya Jonghyun, arogan tapi emosinya lebih terdeteksi.

“Hebat, menyebutku arogan. Dan perlu kau ketahui, setidaknya aku lebih berterima kasih pada temanku ini. Dia lebih peduli daripada kau.” Sosok Jonghyun muncul di belakang Hana, lengkap dengan tatapan sengit yang jelas terarah untuk Jongmin. “Peduli itu bukan bertanya kemana aku pergi ketika aku tidak pulang atau pulang terlambat, dan sejenisnya. Pernahkah kau berpikir mengapa aku tidak betah di sini? Pernah kau bertanya alasanku menghilang? Karena kau ada!”

Jongmin terdiam, hanya melirik saudaranya sesaat dengan wajah tanpa emosi. Flat, tidak terbaca apa yang ada di dalam otaknya. Suhu dingin ruangan tak ada lagi berbekas, berubah drastis hingga mendorong peluh merambat diam-diam dari pori. Kalau sudah seperti ini, Hana tidak tahu harus meredam Jonghyun dengan cara apa. Cara yang terlalu frontal. Ia teringat bagaimana Heera yang bermaksud baik pada Key, tetapi justru terkesan menyerang Key. Lalu apa jadinya? Tidak ada, kecuali suasana yang membuat hati resah.

Hyung, tidak ada gunanya kita berdebat. Lebih baik aku belajar di kamar. Selamat sore.” Pergi begitu saja, membuat jemari Jonghyun mengepal semakin kuat.

Mata Hana jelas menangkap bahwa kepalan tangan Jonghyun sebentar lagi akan matang, berubah menjadi luapan tinju mentah yang akan memperburuk suasana.

“Jonghyun-ah, sudah… tenanglah…” Sungguh malang pria di hadapannya ini menurut Hana. Bukan karena keberadaannya tersisihkan di dalam keluarga, tetapi lebih kepada ketidakstabilan emosinya. Selemah-lemahnya manusia, adalah ia yang tidak bisa mengendalikan amarah.

“Diam kau, Hana. Dia perlu tahu kalau aku sangat membencinya lebih dari apapun. Hey Kim Jongmin, apa kau tahu. Aku benci namaku harus dilekati marga Kim. Kenapa bukan Park atau Han? Kenapa marga kita harus sama dan kenapa wajah kita harus serupa. Kau itu mimpi terburukku!” Jonghyun mengejar Jongmin, membalikkan tubuh yang kakinya sudah menginjak anak tangga pertama menuju lantai atas itu.

“Hah, lucu,” komentar Jongmin, tetap dengan raut wajah tenangnya.

“Memang. Hidup ini sangat lucu! Selucu aku yang ditakdirkan menyukai seni, berbeda dengan kau yang dipuja karena kemahiranmu menganalisa penyakit. Jangankan itu, bagian terlucu dari hidup ini adalah wajahku. Setiap berkaca, aku benci pada diriku sendiri. Aku tidak pernah ingin punya wajah tampan. Aku benci mereka yang menilaiku tampan, lalu menggandrungiku karena wajah ini. Kalau kau tau, keinginanku hanya satu, memiliki wajah yang berbeda denganmu!” Mencengkram kuat kerah sweater Jongmin, sempat muncul niat untuk menghempaskan tubuh itu ke belakang. Agar terantuk tangga.

Hana merangsek masuk, menyelip di antara dua tubuh itu. Betapa mengerikan wajah Jonghyun kali ini. Merah padam, rahang yang menegang, keringat deras di kening, dan yang paling membuat takut adalah tangis dari sorot mata penuh kebencian milik Jonghyun.

“Jjong… lepaskan saudaramu.” Hana mencoba meraih lembut tangan Jonghyun. Dalam pikirannya, Jonghyun adalah orang yang harus diberi sentuhan, selama ini Hana merasa dirinya telah berbuat salah dengan selalu menimpali kalimat Jonghyun dengan sama sinisnya.

Masih tidak bergerak, tanda kehidupan dalam diri Jonghyun hanya tampak dari air bening yang kian terpusat di ujung mata.

“Jjong… lepas… emosi itu bisikan setan. Ya, aku tahu kau ingin meluapkannya… tapi jangan seperti ini. Tidak perlu pula kau rutuki wajahmu. Kau tampan, serupa dengan Jongmin. Tapi, dulu aku menyukaimu bukan karena itu. Jadi, di dunia ini masih ada manusia yang menggandrungimu bukan karena wajah yang kau benci itu. Jjong, lepas ya?”

Kali ini Jonghyun luluh begitu sentuhan lembut itu mendarat sekali lagi di permukaan kulit tangannya. Ada haru yang menyelinap, yang tidak terangkai lewat kata. Ia membiarkan Jongmin pergi meski harus menahan sejuta emosi yang belum seluruhnya meluap. Kerongkongan menggeliat karena begitu merindukan cairan, kering. Dalam posisinya, ia merasakan kaki yang kian gemetar, gatal untuk kembali mengejar Jongmin. Tapi ada yang menahannya, sorot mata teduh yang baru kali ini ia dapatkan dari seorang Park Hana.

Gomawo,” bisik Jonghyun pelan, nyaris tak terdengar telinga Hana kalau saja yeoja itu tidak mengamati gerak bibir Jonghyun.

Pelukan mendamaikan, membuat hati merona. Terasa janggal namun ada sensasi damai yang menjalar. Jonghyun bagaikan balita yang takluk dalam pelukan ibunya, tidak protes ketika Hana meraihnya lalu mengusap punggungnya pelan. Air mata mengalir tanpa beban, semua gengsi luntur sekejap mata.

“Untuk kali ini saja, aku menangis di depanmu. Aku janji,” tambah Jonghyun lagi.

“Tidak apa. Menangis itu lumrah. Menangis berarti kau masih punya hati yang tidak mati. Tidak ada undang-undang manapun yang melarang namja untuk menangis, pasti ada titik ketika kau ingin menumpahkan segalanya. Menangis yang dianggap sebagai kelemahan oleh namja justru jauh lebih baik daripada tinju penuh nafsu. Lagipula, titik lemah seringkali menjadi awal untuk sebuah kekuatan baru, Jjong.”

Gomawo….” Sekali lagi meluncur dari bibir Jonghyun. Terima kasih untuk apa, Jonghyun tidak tahu persis. Hanya ingin mengatakannya. Kini bukan hanya Hana yang memeluknya sepihak, tangan Jonghyun perlahan meraih pinggang yeoja itu. Di pundak Hana, di dekat rambut hitamnya yang terikat rapi, Jonghyun sekali lagi menumpahkan air matanya.

To Be Continued

Holaaa, akhirnya ff bulukan ini muncul lagi. Maaf karena aku terkesan tidak bertanggung jawab. Err, aku ga yakin masih pada inget engga sama ff ini. Sebetulnya udah lama aku nulis part 8 ini tapi terhambat sesuatu, di Korea itu ga ada balap liar… Zzzz, mau ga diselesein tapi berasa ga tanggung jawab.

Maaf suka kalo banyak kata-kata agak liar bertebaran di sini, aku lagi terpengaruh sama novel yang baru tamat kubaca dan emang dirasa cocok dengan isi cerita di part ini. Semoga part ini ga mengecewakan dan aku bisa nulis part selanjutnya dalam waktu cepat.

Makasih buat readers yang udah setia ngikutin ff ini, termasuk para SR-nya. Makasih yaaaa, seneng aja tulisanku dibaca ^^

Seperti biasa, ga lupa bilang makasih buat beta-readernya yang udah mau ngeluangin waktu padahal lagi rusuh skripsi. Makasih juga buat Vero Eon yang sempet ngasih sedikit gambaran tentang balap liar via YM.

Kritik dan sarang monggo dilayangkan ke comment box. Sampai jumpa di part berikutnya yaaa…

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

20 thoughts on “Namja – Part 8

  1. Yeayyy akhirnya!!!
    Aku masih ingat, tp btuh beberapa menit buat ngebedain Hana & Ha In kkk~
    Hwaaa bibib seperti biasa DAEBAKKKKK!!!
    Aku deg-degan baca scane nya key. Miris baget yaa masa lalunya Nara😦
    Aku sempat menitikkan air mata jg krn pembicaraan Hana-Ha In hiks😥
    Jdi Yunho beneran selingkuh? Astagaaa.. maksdnya apa nahh? dia udh nikah, slingkuh, trusss Ha In?? ckckkk..
    Eerr part ini semakin buat aku brharap Jonghyun putus dg In young. Aku lbh suka Jonghyun dg Hana, In Young nya ama Key aja😀
    Eumm kyaknya hampir semua cast punya masalah masing² yaa.. belibettt..
    Oiyaa ada 1 hal yg sdkit buat aku pnsran. Kira, td aku sempat buka part 7.
    “Key? Jadi namamu Key? Wah, kau
    mengingatkanku pada seorang temanku di dunia
    yang lain. Tapi tentu kau berbeda. Kau terlihat
    keren dan menantang, berbeda dengan Key yang
    itu.” <– yg ini buat aku brfikir, mgkinkh kira-key prnh brtmu sblmnya -sebelum kira brgabung dg 'dunia' nya yg sekarang- apalgi sprti yg Ken blg, bkn cm penampilan tp identitas mrka jg dignti. Jd kemungkinan mrka g sling mengenali itu ada kn?! aahh molla.. aku tunggu next part nya aja..
    Fightinggg!!!^^

    1. Bentar bentar, kenapa jadi Yunho? Yoochun eon… iya dia udh nikah, bukannya di part sebelum2nya udah dibilang ya? Itu loh, scene waktu istri ama anaknya Yoochun dateng k rumah Ha In.

      Wkwkwk, emang mirip2 sih eon dua tokoh itu plus ff ini emang lama banget terbitnya.

      Hummm, tentang couple… aku sendiri belom mikirin yang begituan krn titik akhir utamanya bukan itu. Jadi urusan siapa jadinya sama siapa ya let it flow aja lah… jodoh di tangan yang nulis, wahaha…

      Ga salah kok eon, emang saling ngenal, dan itu yang sepertinya akan jadi benang merah awal.

      Tengkyu so much eonni dah setia mampir ke sini ya ^^

  2. Oh good! kenapa ff ini bkin aku merindu sama ‘keliaran’nya key? Sama forbidden lovenya Ha in, sama kegalakannya hana ke jjong. Dan eon, narasi dirimu itu tidak bisa diabaikan mski stu kata.

    keep writing!

  3. Part 6 udah muncul! Aku benci sm key, ninggalin ibu sm teman2y n bikin mereka khawatir setengah mati. Key ini durhaka bgt loh udah bikin ibu.y nangis.
    Bibib eon, ff ini bagus bgt. Saking bagus.y aku ga bs nemuin cela, next part kutungguin eon!

  4. ceritanya gag sesederhana judulnya. pesan2 yang disampaikan, ngena banget…
    (padahal baru baca part 1-5. loncat dulu komen disini. hehehe)

  5. iya yoochun aduhh salah salah kkk~ Ne, maksud aku gini lohh. Dia kn udh nikah, selingkuh pula, trus Ha In dia mau apain lg?sikapnya yg kyk gt mlh buat Ha In mkin brhrp ma dia.
    Jodoh ditangan yg nulis?hahaha iyaa bener bener😄

    Hwaa Jinja? jd mereka sbenernya sling kenal, tp pura” g kenal?Aaa pantes Key jd agk emosi wkt ktmu Kira & akhirnya nerima tantangan dr Kira. Aah aku udh yg ngelawatin hal yg pnting trnyata ><

  6. aahh… endingnya cukup manis.. oh ya aku lupa kl hana itu suka ama jjong ya?
    jd jongmin itu adiknya jjong? tuh kan aku lupa mulu. soalnya ff ini lamaaa bgt dipostnya jadi banyak yg lupa. mulai dr temen2 key yg masing2 punya masalahnya sendiri, utk nginget2nya aja hrs baca dulu chap sblmnya. makanya ayo eon lebih cepat di post ya…

    feelnya makin kerasa. apalagi waktu key kesal liat cewek2 murahan. yah… aq bisa ikut ngerasain bagaimana kl tmen2 cweknya lah yg kyk gitu. Makin penasaran nih.. aq udh mulai ngebayangin kl nanti tmen2 key malah nemu key dalam keadaan ‘liar’. gimana perasaan mereka?

    oh iya aq dukung deh hana ama jjong, biar in young ama key keke #semaunya. entah kenapa ngebayangin park hana itu diri sendiri hihihi😀

    1. Eung…. iya lama bgd emang namja ga keluar. Sekarang part 9 udh sampe 11 hlm sih, tp aku masih ga sreg, jd ntar dirombak lagi dulu, hehe…

      nah itu dia han yg sedang kupikirin, kira2 gimna reaksi temen2nya klo liat Key. Bagian itu musti dapet, musti…

      Jiahaha, mentang2 namanya sama2 Hana nih jd pro ke Hana

      Tengkyu ya Han udah mampir ke ff ga jelas ini ^^

  7. bibiiiiiiiiiiiiiiibbbbbbbbbbb………….
    buset dah….
    lama kagak maen k sf3si ternyata ketinggalan banyak ff…
    huwweeeeeee ….. emak….

    mian ya klo aq telat komen….
    maklum baru baca soalnya….
    mian jg klo langsung lompat part ni…
    cz seingetq aq baca part7 di wp kamu kan ya….
    gpp kan…gpp dong…

    hiks….hiks…hiks…
    y ampyuunnnn….
    barusan kemaren lht kilasan prescon mubank liat key cantik bgt,nah nape disini kyknya gahar bgt…
    tp beneran nyesek ceritanya,,,
    terutama pas percakapan ha in-hana di telp..
    beneran nangis lho aq…
    g kebayang gmn menyesalnya ha in wktu tau dy g bisa berbuat apa-apa soal key…
    terus g nyangka jg klo nara punya masa lalu yg menyeramkan kyk gitu….
    kayaknya ni kisah bakalan panjang nih…
    pencarian jati diri key baru dimulai soalnya…
    yah…
    apapun yg terjadi,saya sebagai anaenya key cm bisa berharap semoga di akhir cerita key mendapatkan kebahagiaan…dan tak lagi menderita seperti d ff bibib yg laennya…🙂

    1. wohoho, lama tak jumpa, dya eon ^^
      Key cantik? Engga ah. Kemaren aku liat Key dong, mwahahahah. Itungannya… bukan cantik, bukan ganteng jg. Tp yg jelas Key itu senyum kmaren, ga tau knp ngerasa dia senyumnya paling enak diliat pake mata dan hati #efekDemen

      iya eon kykna bakal panjang, ga ngira jg bakal sepanjang ini. Abis cerita beginian kan ada prosesnya, ga mungkin tiba2 kan yak?

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s