Hello Ghost! [2.2]

Hello Ghost!

Author: nadiataemin18

Main Cast

  • Shin Sung Ni [as you]
  • Lee Taemin
  • Choi Minho

Support Cast :

  • SHINee
  • Han Hyeri
  • Shin Neul Ah [your friend]
  • Han Ah Chan [your friend]
  • Shin Sung Rin [your friend]

Length: Two shots

Genre: Drama/Romance/Angst

Rating

Summary:

 Cinta memang bisa datang kapan saja, kepada siapa saja, dan dimana saja.

Saat kau perasaan cinta, jangan ragu untuk mengungkapkan, atau penyesalan

yang akan kau dapatkan.

A.N:

Ini dia part 2 dari Hello Ghost! Harapannya sih banyak yang baca ff ini ._.

dan jangan lupa, kritik dan saran membangun sangat dibutuhkan J

Taemin POV

“Shin Sungni imnida.” Ujarku, mencoba berakting malu-malu dihadapan hyung-hyungku.
Ternyata ini cukup sulit.

“Ah, Sungni-ssi, aku dengar dari Minho barusan kalau kau itu cukup dekat dengan dongsaeng
kami bukan?” tanya Onew-hyung dengan wajah sangtaenya, dasar maniak ayam apakah dia
tidak sedih dengan kepergianku.

“Ne, aku ingin menyampaikan hal yang ingin Taemin-oppa sampaikan.” Jawabku mencoba
bersikap feminim. “Tapi, aku ingin mengatakannya kepada kalian satu-satu.” Sambungku.

“Pertama kepadaku dulu ya, lalu Jjong-hyung, Minho, dan terakhir Onew-hyung.” Ujar Key-
hyung dengan cepat seperti ikan yang menyambar umpan dengan cepat.

“Wae? Aku selalu diakhirkan.” Ujar Onew-hyung, tersiksa, seperti biasa.

Aku hanya tersenyum simpul untuk mengihdari kecurigaan mereka kalau aku itu Taemin,
meski sebenarnya aku ingin mengatakan kalau aku ini Taemin, tapi aku tak mau membuat
mereka menyangka kalau aku yang menggunakan tubuh Sungni ini gila.

“Baiklah Key-ssi.”

©

“Ne, Sungni-ah, aku mengerti. Aku akan menerimamu, dan begitu pula dengan para hyung.
Aku akan menganggapmu sebagai pengganti Taemin.” Jawab Minho-hyung membuatku lega.
Setidaknya Sungni akan punya teman sebagai penggantiku selama ini.

“Gomawo Minho-oppa, kau benar-benar hyung yang baik bagi Taemin-oppa.” Ujarku.

“Ne, aku pun senang kau dapat memanggilku oppa.” Jawab Minho-hyung kemudian keluar
dari ruang kamar.

Onew-hyung, member terakhir yang akan aku temui, sebelum ku pergi selamanya.
Rasanya aku ingin menangis, tapi aku berusaha menguatkan diriku. Aku harus yakin kalau
kehidupanku akan jauh lebih baik nanti.

“Annyeong Onew-ssi, a…”

“Tidak usah banyak bicara, katakan padaku sebenarnya.” Bentak Onew-hyung begitu masuk
kedalam kamar, membuatku benar-benar kaget atas tingkahnya yang tak biasa.

“Eh? Sung…Sungni imnida, aku sudah memperkenalkan diri bukan?” tanyaku yang hampir
saja menjadi speechless.

“Ya! Jangan bohong! Kau Lee Taemin kan?” ujar Onew-hyung yang sekarang memegang
kerah baju Sungni, membuatku gugup. Terakhir kali aku melihatnya seperti ini saat
permasalahan Jong-hyung dengan Sekyung-noona.

“A..aniyo, Sh….Shin Sungni…imnida. Lepaskan kerahku,….a…aku tak…bisa…ber…nafas..”
jawabku dengan susah payah, cengkramannya dikerah baju Sungni yang kuat membuatku
sulit untuk bernafas.

“Kau terus saja berbohong, kau maknae yang jahat. Kau tak tau betapa merasa bersalahnya
aku saat kau meniggal karena ingin membelikanku kado ulang tahun.” Ujar Onew-hyung
setelah melepaskan cengkramannya, membuatku dapat bernafas lega. “ Dasar babo, kau
Taemin bukan?”

Aku diam sejenak, apa yang harus kukatakan? Kenapa Onew-hyung bisa tau kalau aku
Taemin? Apa karena aku tak pernah membicarakan Sungni kepadanya saat aku hidup? Sial,
ternyata curhat kepada orang yang jenius seperti Onew-hyung ini dampak negatifnya seperti
ini.

“Jujurlah, aku tak akan bilang pada yang lain. Kau, kau ini Taemin kan?” tanya Onew-hyung
mencoba setelah mencoba meyakinkanku.

“Eng…hmm…n…ne, ne hyung, ini aku. Aku masuk ke tubuh anak ini untuk menemui kalian,
aku rindu kalian.” Jawabku, tak bisa menahan airmataku.

Onew-hyung menarik tanganku, dia memegang tanganku lalu mengusap-usap rambutku. Dia
membuatku seakan seperti seorang anak SD yang sangat disayangi kakaknya.

“Taeminnie, ternyata memang benar kau.” Ujar Onew-hyung. “Aku hebat bukan, bisa tau
kalau kau ini adalah Taemin?” tanya Onew-hyung sambil menunjukkan senyum gummynya.

“Eh?” ucapku dengan refleks begitu mendengar ucapan leader sangtae itu yang sepertinya
sedang kambuh lagi.

“Kau tau, aku mengetahui ini adalah kau karena aku tau persis bagaimana cara jalanmu,
gayamu berbicara meski daritadi kau menutupinya, kebiasaanmu saat berbicara, dan
sebagainya. Dan yang terkakhir, aku tau persis bagaimana perempuan idealmu. Dan seperti
Sungni inilah, perempuan yang unik dan berdada rata. Hahaha, seleramu dalam perempuan
memang berbanding terbalik dengan Jonghyun.” Ucap Onew-hyung, diakhiri dengan tawa
sadis. Sepertinya obat sangtaenya sudah habis.

“Hyung, kau ini sepertinya terlalu berlebihan.” Jawabku, meski aku sedikit setuju dengan
ungkapannya kalau Sungni adalah tipeku.

“Aniyo, apa kau memaksa Sungni-ssi untuk memberikan tubuhnya untuk kau pakai kesini?
Jangan-jangan….”

“EH? Aniyo hyung! Meski otakku ini yadong, tapi aku tak akan melakukan hal yang kurang
ajar kepada Sungni. Lagipula aku tak mau menyakiti orang yang kusuka.” Jawabku, kedua
tanganku langsung menutup bibirku begitu aku sadar kalau lagi-lagi (?) aku kelepasan bicara
pada Onew-hyung.

“Hahaha, sayang kau sudah tak bisa di dunia ini lagi. Padahal kau sudah menemukan cinta ya
maknaeku.” Ujarnya, aku hanya tersenyum mendengar perkataannya, sepertinya aku sudah
mulai bisa tegar.

“Kapan kau pergi? Apa kau bisa kembali ke dunia setelah pergi?” tanya Onew-hyung.

“Ah, waktu hari pertama aku mati aku sempat bertanya kepada seseorang, dia seperti Kang
Hodong-ssi, katanya dia juga arwah gentayangan tapi belum bisa pergi ke akhirat karena
harapannya di dunia sudah hilang. Jadi dia harus menunggu 3 tahun sebelum naik ke akhirat.
Sementara aku, katanya kalau aku dapat mengabulkan keinginannku aku bisa di dunia sampai
24 jam setelah aku mengabulkan harapaku.” Jawabku, membuatku sadar kalau aku sudah
menggunakan waktu yang cukup banyak jika kuhitung sejak aku bicara pada Minho-hyung.

“Berarti sekitar 19 jam lagi ya?” tanya Onew-hyung.

“Ya, sekitar segitu.” Jawabku singkat aku kemudian duduk diatas tempat tidur Onew-hyung,
melepas kepegalanku.

Onew-hyung diam sesaat, dia sepertinya merasakan keanehan.

“Taeminnie, benarkan sikap dudukmu, ini bukan tubuhmu. Lagi pula aku ingin bertanya.”
Ujar Onew-hyung.

“Oh iya lupa.” Jawabku segera membetulkan posisi dudukku. “Wae hyung??” tanyaku.

“Arwah Sungni-sii dimana?” tanya Onew-hyung membuatku sadar akan hal penting yang aku
lewatkan.

“Aigoo! Hyung! Aku lupa, Sungni-ah masih ada di tempat pemakaman! Dia tak boleh
dibiarkan berada diluar tubuhnya lebih dari 5 jam, aku tau itu dari arwah senior!” teriakku.

“Eh? Kau tau sekarang sudah lebih dari 5 jam!” teriak Onew-hyung ikut histeris.

“Hyung, aku harus pergi.” Ujarku setelah berdiri.

Aku melihat kearah Onew-hyung setelah berdiri dengan mendadak. Dia hanya menatapku
dengan tatapan sedih, oh hyung, kau menyiksaku.

“Sampai jumpa hyung, jaga baik-baik kesehatanmu dan jadilah leader terbaik. Semoga
SHINee tetap shining meski tanpa aku.” Ujarku memeluk hyungku yang paling gemuk itu.

“Ne, kau juga Taeminnie berbahagialah di alam sana. Aku akan menjaga orang yang kau
sukai agar dia mendapat pengganti yang baik sepertimu.” Jawab Onew-hyung, membuatku
lega dan sedikit melupakan kecemasanku akan Sungni.

Aku berjalan keluar dari kamar, berpamitan kepada hyung-hyungku yang lain. Sulit rasanya
bagiku melepas mereka untuk selamanya, orang-orang yang paling berharga bagiku harus aku
tinggalkan. Gwaenchana, semoga kami bertemu lagi nanti.

©

Sungni POV

Angin laut berhembus dengan kencang, meski begitu aku tak bisa merasakan angin itu
karena angin melewatiku begitu saja. Bagaimana mungkin angin bisa melewatiku, aku
yang sekarang dalam wujud gaib ini bisa ditembus oleh angin. Mungkin ini yang selama
ini Taemin-oppa rasakan selama 10 hari ini. Hanya angin, cahaya, dan air yang dapat
menembusnya. Meski dia bisa menyentuh benda lain, tapi tetap saja ada perasaan sedih saat
mengingat kalau seharusnya dia tak boleh ada didunia ini.

“Noona nomu yeppo..~~” ucapku, sedikit bernyanyi mungkin akan menghilangkan rasa
bosanku yang sejak sekitar 5 jam yang lalu duduk dipinggir nisan Taemin-oppa.

Bruk!

Tubuhku jatuh, terkulai lemas dengan kepalaku yang berada diatas kuburan namja aegyo itu.
Sepertinya kelamaan menunggu membuatku sedikit lemas, ani…lemas, ani….sangat lemas,
sangat lemas sampai aku tak kuat untuk bangun.

Aku memandangi nisan Taemin-oppa dengan bunga yang tergeletak didepannya. Aku iri
dengannya, banyak orang yang menyukainya dan menginginkannya. Keluarganya, hyungnya,
fansnya, teman-teman satu agensinya. Sedangkan aku? Hanya keluargaku dan beberapa
teman saja yang bisa dihitung dengan jari. Disaat Taemin-oppa merayakan ulang tahunnya
dengan seluruh keluarga, hyungnya, dan fansnya, aku merayakan sendirian dirumah dengan
ditemani buku buku tebal. Ah seandainya saja aku yang mati, bukan dia. Mungkin akan lebih
baik karena tak akan ada yang menangisiku saat aku pergi.

“Uh..” ujarku saat sinar matahari menyorot mataku, aneh sekali.

Aku lihat seluruh badanku mulai terlihat kembali secara perlahan. Wae?

©

Taemin POV

“Wae..?” aku terpaku melihat badanku kembali, aku kembali menjadi Lee Taemin, yang bisa
terlihat. Untungnya aku mengambil jalan sepi untuk pergi ke pemakaman sehingga tak ada
yang melihatku. Ah! apa yang kupikirkan, kalau aku kembali jadi manusia, apa yang terjadi
dengan Sungni yang tadi aku rasuki?

Aku mempercepat langkah kakiku agar segera melihat keadaan Sungni. Panas yang daritadi
aku rasakan dikakiku tidak kupedulikan lagi, aku terus mempercepat lariku meski aku tak
menggunakan alas di kakiku. Aku sudah gila, gila oleh perasaanku pada yeoja yang jorok,
kutu buku, tak bisa berkata tidak, ceroboh, polos dan sedikit yadong itu. Perasaan gila ku
itu sudah membuatku berlari gila-gilaan sambil menangis sepanjang jalan, aku benar-benar
khawatir akan keadaannya.

“Sungni-ah..” bisikku dari kejauhan saat melihat yeoja yang aku suka itu terkulai lemas diatas
kuburanku. Tanpa ragu aku berlari mendekat kearahnya lalu ku angkat badannyayang sudah
terkulai lemas, aku tak bisa merasakan tanda kehidupan darinya.

“Ya! Sungni-ah! buka matamu! Kau tidak mati kan?” racauku tak karuan sambil
menggoyang-goyangkan tubuh mungil yang lemas itu.

“Ya! Sungni-ah! Bilanglah aniyeo sekali-kali! Bilang kalau kau tidak mati!” teriakku, terus
menggoncangkan tubuh yeoja yang berharga bagiku itu. Setelah lama aku tak mendengar
jawaban darinya, aku berhenti mengguncangkan badannya lalu menatap wajahnya yang
sudah sangat pucat.

“Bangunlah…bangun..bangun chagi…cepat buka matamu…chagiya, jangan mati…”bisikku
pelan kemudian membenamkan kepalaku diatas pundaknya.

Srek…srek…

Kudengar suara kecil nan pelan namun terasa begitu dekat, apakah Sungni sadar?

Aku mengangkat kepalaku dari atas pundaknya, namun ternyata harapanku tidak terwujud.
Matanya masih tertutup dan dia masih tidak bernafas. Lalu aku alihkan pandanganku menuju
sumber suara aneh itu saat aku mendengar lagi suara itu, asalnya dari nisanku. Mataku
terbelalak saat melihat nisanku, tulisan rapi namaku di nisanku terhapus dengan perlahan lalu
tertulis sebuah nama dengan pelan.

Rest In Peace

신 숭니

Born on 28th June 1996

Death on 25th May20xx

Mataku mulai menitikan air mata, ini tidak benar! Kenapa nisan itu berubah nama! Siapa
yang sebenarnya harus mati! Siapa yang melakukan lelucon yang sama sekali tak lucu ini?!

“Ini tidak benar kan Sungni-ah!” keluhku dengan lemas sambil menolehkan pandanganku
kearah Sungni. Sekali lagi, mataku terbelalak saat kulihat tubuh Sungni mulai menghilang
secara pelan menjadi butiran-butiran pasir berwarna emas yang naik ke langit.

“Ani! Sungni-ah! jangan tinggalkan aku!” teriakku sambil berusaha memeluk tubuh kecil
Sungni, tapi tak bisa, dia sudah tak bisa kusentuh. Aku terus mencobanya tapi terus gagal.

“Sungni-ah, saranghae! Jangan tinggalkan aku, kembali!” racauku tak jelas sambil terus
mencoba memegang tubuh Sungni yang sudah mulai habis menjadi butiran.

“Hwaaa! Hwaa!!” aku berteriak sambil menangis dengan kerasnya begitu melihat hanya
tinggal kepala Sungni saja yang belum menjadi butiran pasir. Kulihat mata Sungni
mengeluarkan air mata, dia menangis. Airmatanya yang hangat itu jatuh diatas tanganku
sebelum akhirnya seluruh tubuhnya hilang menjadi butiran pasir yang berkilauan yang
terbang kelangit. Tolong hentikan lelucon ini!

“Sungni-ah…Sungni-ah…” ucapku seperti orang gila sambil terus menelusuri lantai yang
beberapa detik yang lalu terdapat yeoja yang sangat kusuka terlentang diatasnya.

Aku sadar, dia sudah hilang, dia pergi menggantikanku. Aku mengepal tanganku yang
terjatuhi airmatanya tadi lalu kucium kepalan tanganku itu sambil menangis. Kurasakan
desiran angin laut dari pantai yang tepat berada dekat dengan tempat pemakaman mengelus-
elus rambutku. Seolah membujukku untuk sabar menghadapi kejadian yang menyakitkan
yang baru saja menimpaku.

“Kembalikan, kembalikan Sungni-ku kembalikan! Ganti dia denganku! Bukankah yang
seharusnya mati itu aku dan bukan dia? Kenapa dia yang mati!” teriakku tak jelas.

Kurasakan angin laut yang pelan berubah menjadi cepat, langit yang tadinya nampak
bersahabat mulai menghitam seperti akan terjadi badai. Rintik-rintik air mulai turun
membasahi tubuhku dan bersatu dengan air mataku. Semakin deras, semakin deras
hujan membasahiku. Pandanganku mulai kabur, pendengaranku pun mulai tak jelas.
Aku….aku…aku ingin bertemu dengannya lagi, seandainya kami dapat bertemu lagi.

©

Author POV

“Oppa..meskipun kau arwah kau tak boleh terus tidur oppa.”

“Uh…aku dimana?”

“Jadi setelah kau tidur memanfaatkanku untuk mengucapkan salam perpisahan kepada
hyung-hyungmu itu kau tidak ingat lagi keberadaanmu. Sial! Harusnya tak aku gendong

pulang kau Oppa, meskipun badanmu ringan karena kau arwah, tapi itu membuatku repot
karena kau terjatuh pingsan begitu saja setelah keluar dari tubuhku.” Jawab seorang yeoja,
terus berbicara tanpa membiarkan namja yang duduk diatas tempat tidur didepannya
membuka mulutnya.

Namja berparas manis itu pun menyunggingkan senyum di bibirnya, menatap wajah yeoja
dihadapannya dengan perasaan tak percaya. Dia langsung memeluk yeoja dihadapannya
begitu yeoja itu selesai berbicara.

“Sungni-ah, kau kembali!” teriak namja yang bernama Taemin.

“Oppa, kau ini kenapa? bukankah aku sudah bilang walaupun kau ini seorang idol tapi kau
tak boleh memeluk atau melakukan hal tidak sopan seperti ini.” Ujar Sungni sambil berusaha
melepaskan Taemin dengan tangan kanannya yang mendorong dahi Taemin dan tangan
kirinya yang mendorong dada.

Taemin berhenti memaksa memeluk Sungni, kemudian menatap yeoja dihadapannya itu
dengan serius. Ia mengambil tangan kanan Sungni dengan lembut. Sungni awalnya menolak
namun tenaga Taemin yang cukup kuat tak bisa dilawannya.

“Sungni-ah, saranghae..”

Pupil mata Sungni membesar, Ia tak percaya, orang dihadapannya mengucapkan hal itu
padanya. Ia menundukkan wajahnya lalu menarik tangannya dengan paksa. Malu? Tentu saja
hal itu yang dirasakannya saat ini. Morning shock yang dirasakannya sepertinya cukup dapat
membuat jantungnya berhenti berdetak sesaat.

“Wae? Kau tak suka padaku?” tanya Taemin.

“Oppa, kalau kau mau menjailiku lagi ini tidak lucu.” Ujar Sungni bermaksud pergi
meninggalkan Taemin, kemudian tangan Taemin mencegah kepergian Sungni.

“Aku akan mengajakmu ke suatu tempat sebelum aku pergi..”

©

Sungni POV

“Nappeun namja! Kenapa kau memaksaku melakukan hal ini! Kau sih enak tidak terlihat
sedangkan aku? Aku ini masih berwujud manusia Oppa!” ujarku dengan marah sambil sedikit
memonyongkan bibirku. Aku tak bisa melakukan apa yang disuruhnya, kenapa aku harus
memanjat pagar kalau ada pintu gerbang disekolah?

“Ya Sungni-ah, sekali-kali kau juga harus mencoba untuk menjadi nappeun yeoja. Lagipula,
kenapa kau hanya bisa berkata tidak padaku saja? Waktu kau diminta untuk mengerjakan
tugas teman-temanmu kau tidak berkata tidak. Wae?” tanya Taemin Oppa yang sudah berada
diseberangku.

“Karena, karena kau…kau orang yang paling dekat denganku.” Jawabku sedikit malu.

“Aniyeo, kita tak dekat sekarang, kita terhalang pagar. Naiklah biar kita dekat.” Ujar Taemin
oppa sedikit memaksa.

“Namja pabo..” jawabku dengan kesal, tapi anehnya akhirnya aku malah mengikuti
instruksinya untuk menaiki pagar.

“Nice chagi! Cepat turun!” teriak Taemin oppa dari bawah.

“Ya! Sejak kapan aku jadi yeojachingumu kau seenaknya memanggilku chagi?” teriakku,
membuatku kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Tepat dipinggir Taemin Oppa dan itu
rasanya sakit sekali.

Nappeun namja itu hanya terkekeh melihatku terjatuh, bukannya menolongku dia malah
merong kearahku. Membuatku ingin mencubit kedua pipinya itu, tapi sepertinya kakiku
belum siap bangun dan akhirnya aku hanya bisa meneriakinya sambil duduk tak jelas.

“Ya! Kenapa kau tidak menangkapku barusan?” teriakku sambil berharap ada kejadian
seperti di film-film barusan, tapi sayangnya tak terwujud.

“Ani, kau kan melarangku untuk melakukan hal yang tidak sopan padamu. Yang penting
sekarang, ayo cepat kita ke tempat tujuan kita.” Jawab Taemin oppa membuatku bungkam.
Ia menyodorkan tangannya untuk membantuku bangun lalu ditariknya tanganku setelah aku
memegang tangannya.

Dia menarikku dengan cepat, tenaganya kuat sekali sampai bisa menarikku dengan paksa.
Aku tak tau dia akan menarikku kemana, kemudian kami sampai disuatu lorong dan aku tau
aku akan dibawa kemana olehnya.

“Kau akan membawaku keruang musik bukan?” tanyaku sambil terus mengimbangi
langkahnya.

“Ne, kita akan mengenang saat pertama kita bertemu.” Jawabnya dengan bubuhan senyum
manis diwajahnya. Cahaya matahari dari jendela menerpa wajahnya yang menurutku terlihat
sangat tampan dibandingkan manis yang biasa orang lain sebutkan. Sial! Namja ini membuat
jantungku berdegup kencang.

Kuarahkan tanganku memegang dadaku, aku tak mau membuatnya mendengar detak
jantungku yang keras. Aku ingin dia tau disaat yang tepat, tau kalau aku menyukainya sejak
pertama kami mulai dekat, sejak pertama kali dia tinggal dirumahku, ani, sepertinya aku
menyukai namja ini sejak awal pertemuan kami didepan ruang musik.

©

Author POV

“Chagi, kita sudah sampai.” Ujar Taemin setelah membukakan pintu ruang musik.

“Kau memanggilku chagi lagi, sudah kubilang…” tak sempat perkataan Sungni selesai,
Taemin sudah menarik Sungni lagi kedekat piano tua yang besar dihadapan mereka. Kini
namja manis itu sudah duduk diatas kursi piano sementara Sungni masih berdiri dipinggirnya.
Taemin kemudian menepuk-nepuk tangannya diatas kursi yang masih kosong disebelahnya.

“Duduklah..”

Sungni seakan terkena sihir, Ia duduk begitu saja dipinggir Taemin meskipun dia tak tau apa
yang akan mereka lakukan nanti.

Taemin membuka piano tua tersebut, melihat-lihat setiap tuts piano yang mulai usang itu lalu
mulai memainkan lagu. Dengan asik dia menekan-nekan tuts sehingga keluar irama merdu
dari dalam alat tersebut. Sungni hanya bisa melihat dengan kagum skill yang dimiliki oleh
arwah disebelahnya itu. Kemudian dentingan suara indah itu terhenti, Taemin menghentikan
aktifitas tangannya diatas tuts piano kemudian memegang tangan kanan Sungni dengan kedua
tangannya.

“Sungni-ah, sebentar lagi aku harus pergi. Tinggal 9 jam lagi aku akan pergi ke alam lain
karena aku sudah mengabulkan keinginanku. Aku hanya mau mengatakan, cheongmal
gomawo, kau telah banyak membantuku selama ini. Sekarang katakanlah apa yang bisa
kulakukan sebelum aku pergi untuk membalas kebaikanmu padaku.” Ujar Taemin, membuat
Sungni kaget dan melepaskan tangan Taemin dengan cepat.

“Wae? Gwaenchanayo?” tanya Taemin.

Sungni menundukkan kepalanya, mengepalkan tangannya dengan kuat lalu membalikkan
badannya membelakangi namja didekatnya. Matanya tak bisa menahan lagi air kesedihannya
yang kini terus menetes diatas kepalan tangannya. Taemin yang menyadari bahwa yeoja
disampingnya kini sedang menangis berpindah tempat menuju kedepan yeoja tersebut dengan
posisi setengah duduk.

“Gwaenchanayo Sungni-ah?” tanya Taemin sekali lagi.

“Ani…mana mungkin aku baik-baik saja oppa. Kau pergi terlalu cepat oppa, padahal
perasaanku kepada Minho-ssi sengaja aku tinggalkan karena kupikir kau lah namja yang aku
sukai.” Ujar Sungni dengan terisak.

Taemin hanya terdiam, dia baru saja menyadari bahwa Sungni juga menyukainya. Dia merasa
telah sia-sia untuk mengabulkan keinginannya sekaligus menitipkan Sungni kepada Onew-
hyung agar dekat dengan namja yang Ia kira namja impiannya, Minho.

“A…aku kira kau menyukai Minho-hyung makannya aku sengaja pergi ke dorm untuk
menitipkanmu kepada Onew-hyung agar kau lebih dekat dengan Minho-hyung.” Racau
Taemin tak jelas, Ia kemudian mengangkat tangannya menuju rambutnya dan mengacaknya
tak jelas.

“Hiks…sarang..saranghae oppa..hiks…saranghae…”ujar Sungni dengan susah payah.

Taemin hanya melihat kearah Sungni, desiran angin malam yang menyentuh rambut Sungni
secara lembut dan cahaya dari luar ruangan yang menembus dari jendela dibelakang Sungni
ditambah dengan airmata yang terus mengalir dari mata yeojanya itu menjadi pemandangan
paling memilukan yang dilihatnya sebelum pergi pikirnya. Dengan perasaan yang kuat dia
mendekati Sungni dan mencoba menenangkannya.

“Sungni-ah, jangan menangis..”ujarnya dengan lembut.

“Aku tak bisa berhenti oppa..” ujar Sungni sambil terisak.

Dirangkulnya badan Sungni yang kecil, dipeluknya Sungni dengan kuat membuat Sungni
kaget dan berusaha melepaskan pelukan Taemin.

“Aku baru akan melepaskanmu saat kau berhenti menangis.” Ujar Taemin dengan tegas.

Tapi tanpa disangka, bukannya berhenti menangis tapi Sungni malah menangis lebih
kencang. Dia kemudian membenamkan kepalanya diatas pundak Taemin, mebasahi baju
berwarna putih yang Taemin pakai.

“Oppa!!..” teriak Sungni, yang berusaha menguatkan hatinya yang akan melepaskan Taemin
sebentar lagi.

“Gwaenchana Sungni-ah, semoga kau bahagia nanti.” Ujar Taemin lembut, dan tanpa sadar
dia pun menangis. Lalu diusapnya airmatanya agar terlihat tegar didepan Sungni. Dilepasnya
pelukan Sungni setelah tangisan Sungni mulai mereda.

“Chagi, ayo pulang, jangan sampai eomma mu marah karena kau pulang terlalu larut.” Ujar
Taemin yang disusul anggukan kecil dari Sungni.

©

Taemin POV

“Apa yang eomma mu katakan?” tanyaku setelah Sungni masuk kekamarnya.

“Seperti biasa, eomma bilang jangan pualng malam lagi karena aku ini seorang yeoja,
berbahaya.” Jawab Sungni sambil mempraktekkan cara bicara eommanya, membuatku
terkekeh.

“Ne, eommaku selalu berkata seperti itu oppa. Padalah kan aku dijaga oppa selamanya meski
oppa nanti tak akan ada.” Jawab Sungni dengan tersenyum, membuat hatiku miris.

“Ne..” jawabku dengan melontarkan senyum palsu.

Aku kemudian duduk diatas kursi belajar Sungni, sementara chagiku itu pergi kekamar mandi
untuk menggosok gigi. Kulihat keatas meja belajar, buku hariannya sepertinya menjadi lebih
tebal daripada sebelumnya. Kubuka halaman-demi halaman dan ternyata dia menyelipkan
sesuatu didalam buku hariannya, pantas kurasa lebih tebal.

24 Mei 20xx

Kyaa..! rasanya otakku akan meledak! Bagaimana tidak? didalam otakku isinya
namja bernama Lee Taemin itu semua. Semua pelajaran yang aku tau rasanya terganti
olehnya, Taemin, Taemin, dan Taemin. Entah sejak kapan aku menyukai dia, begitu
menyukainya. saranghae oppa! Semoga kita tak terpisahkan meski kau dan aku berbeda!

Cheongmal Saranghae Oppa :*

Kututup bukunya dengan cepat, aku tersenyum karena hatinya sekarang milikku dan bukan
milik Minho-hyung lagi. Kebahagiaan sebelum mati, lumayan membuatku tenang sebelum
pergi. Kemudian aku membuka kembali buku harian Sungni, lalu meraih bolpoin ditempat
pensil bagian pojok meja belajarnya.

“Dengan ini kau tak bisa melupakanku chagi.” Ujarku dengan senyum evil, sepertinya aku
mulai tertular Kyuhyun-hyung.

Beberapa detik setelah aku selesai menulis, Sungni keluar dari dalam kamar mandi. Awalnya
dia curiga padaku karena dia melihatku menutup buku hariannya. Aku berusaha keras
meyakinkannya kalau aku tak melakukan apa-apa pada buku hariannya. Berbohong sedikit
tak apa kan? Sepertinya melihat cara Jong-hyung berbohong kepada Onew-hyung saat mau
berkencan dengan Sekyung-noona membuat otakku menyerap cara-cara berbohong dengan
baik.

“Ok kalau kau tak berbohong oppa, sebaiknya aku segera tidur karena besok aku masih harus
ke sekolah.” Ujar Sungni, besok? Tak ada hari esok buatku, itulah yang kupikirkan.

Aku masih berdiri didekat meja belajar, sementara Sungni sepertinya sudah tertidur pulas
sambil menutup selimutnya sampai keatas kepalanya. Sepertinya kakiku bergerak sendiri,
melangkah menuju kearah Sungni. Aku kemudian duduk diatas tempat tidurnya, tepatnya
dibelakang tubuhnya.

“Sungni-ah, apa kau sudah tidur?” tanyaku.

Aku sedikit kecewa, aku langsung beranggapan buruk kepada Sungni karena dia tak kunjung
menjawabku. Dia benar-benar dingin, aku akan pergi untuk selamanya dia malah asik tidur.
Tak lama..

“Aniyo, mana mungkin aku bisa tidur pabo-oppa.” Jawabnya sedikit serak.

Aku merasa lega saat Ia menjawabku meskipun diakhir ucapannya dia mengataiku pabo.
Kemudian aku membalikkan badanku dan meraih rambutnya yang tak tertutupi selimut
dengan tangan kananku, mengelusnya dengan lembut.

“Oppa, nanti tunggu aku ya disana.” Ujar Sungni.

“Ne, oppa akan menunggumu chagi. Kalau kau mau mati jangan mati bunuh diri, matinya
kalau sudah waktunya saja ya. Jangan buru-buru ingin bertemu denganku lagi, jalani dulu
hidupmu.” Ujarku sedikit menggoda.

“Aaah oppa, kau membaca pikiranku.” Jawab Sungni membuatku sedikit kaget. Apa dia
berniat bunuh diri sebelumnya?

“A…a…chagi, setidaknya…eng, setidaknya kalaupun kau tak jadi Mrs.Lee nanti, kau kan bisa
kembali kepada Minho-hyung dan menjadi Mrs.Choi.” ujarku kembali menggoda Sungni.

“Ani, aku tak akan menikah dengan Minho-ssi. Tapi aku akan menikah dengan Onew-ssi.”
Jawabnya singkat, membuatku kaget.

“Wae? Kau akan menikah dengan ayam sangtae itu? Ani! Kalau itu terjadi aku akan
menghantui Onew-hyung seumur hidupku.” Jawabku tak jelas, kudengar dia terkekeh pelan
setelah mendengar jawabanku, membuatku tersenyum kecil mendengarnya.

“Tenanglah oppa, meski nanti aku menikah dengan siapapun, aku tak akan melupakanmu
oppa.” Ujar Sungni setelah membalikkan badannya dan membuka selimutnya meskipun
hanya wajahnya saja yang terlihat.

Aku tersenyum melihatnya, kucubit hidungnya dengan gemas. Yeoja ini meskipun polos tapi
pintar sekali membalikkan kata-kata. Aku memegang dagunya, kali ini bukan lelucon seperti
dulu. Aku menatap matanya dengan tajam, dia tidak melihat kearahku dan kulihat wajahnya
memerah seperti kepiting rebus.

“Ani oppa.” Ucapnya menahanku dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibirku.

“Wae?” tanyaku cukup heran karena berbeda dengan ekspresinya waktu aku jaili dia.

Sungni bangun dari posisi tidurnya, selimut masih mengerubuni badannya. Dia menyentuh
pipi kiriku dengan tangan kanannya. Dikecuplah pipi kananku olehnya, membuatku malu dan
kupikir kalau aku masih hidup aku akan merasakan jantungku berdegup kencang.

“Itu yang bisa kuberi untukmu oppa, aku tak mau kau menambah dosa kalau menciumku.”
Ujarnya tertawa geli.

Aku mengangguk sambil ikut tersenyum. Aku mengerti, dia ingin memberikannya kepada
orang yang akan bersamanya kelak, dan sayangnya bukan aku. Tapi aku senang karena aku
juga masuk kedalam bagian dari hidupnya.

“Saranghae..” Ucapnya sambil mencubit pipiku dengan pelan.

“Ng..nado..jeongmal saranghae…” jawabku.

©

Sungni POV

9 years later…

“Chagi, bukakan pintu.” Ujar seorang namja dengan suara berat dari balik pintu rumah.

“Ne oppa, aku lupa dimana menyimpan kunci pintu.” Jawabku sambil berjalan mencari-cari
kunci pintu.

“Biasanya kau simpan dibalik keset bukan?” jawabnya, mengingatkanku.

“Ah! kau benar oppa!” jawabku kaget saat menemukan kunci pintu dibalik keset, selalu saja
seperti ini.

Kubukakan pintu apartemenku, sekarang ini aku sudah berumur 25 tahun dan tinggal di
apartemen karena harus berkuliah diluar kota, meneruskan pendidikan S2 ku. Kulihat
namjachinguku sudah berdiri didepan pintu dengan menggunakan jaket tebalnya. Aku rasa
aku telah berbuat hal yang kejam padanya karena membiarkannya menunggu lama diluar saat
sedang turun salju.

“Mmm..mianhe oppa.” Ujarku sambil menundukkan kepalaku 90o.

“Gwaenchana chagi, kau masak apa? Baunya enak sekali.” Ujar namjachinguku yang
tingginya seperti tiang listrik, Chanyeol-oppa.

“Anu..aku memasak soondae gook.” Jawabku setelah menaikkan kepalaku.

“Wae kau serius? Kau memang hebat chagi.” Ujarnya yang kemudian mengecup pipiku.

Tanpa ragu lagi Chanyeol-oppa segera berlari menuju ruang makan. Sepertinya dia sudah
lapar, tentu saja, karena cuaca malam tahun baru yang sangat dingin malam ini pasti telah
menghabiskan energinya.

“Wa..aku mau memakannya sekarang.” Ujar Chanyeol-oppa melihat kearahku dengan
tatapan memohon.

“Ne oppa, tapi tunggu yang lain selesai menonton dulu ya?” bujukku sambil mencubit
pipinya.

“Eh? Yang lain?” tanya Chanyeol-oppa.

“Goool!!!” teriak Minho-oppa dari arah ruang televisi.

“Ya! Minho-ah! kapan aku bisa menonton drama tahun baruku kalau kau terus menonton
bola?” teriak Key-oppa.

“Nanti setelah aku tertidur.” Jawab Minho-oppa dengan singkat.

Chanyeol-oppa kemudian pergi menuju kearah ruang televisi, dan sepertinya dia cukup kaget
saat pergi kesana. Aku kemudian mengikutinya dari belakang dan kulihat keempat namja
SHINee dan empat temanku sedang duduk-duduk diruang televisi.

“Hyung? Neul-ah? Sungrin? Ahchan? Hyeri?” ujarnya.

“Eung? Chanyeol-ah! rupanya ada kau ya? Mianhe kalau kami mengganggu acara kalian
berdua. Onew-hyung bersikeras untuk tahun baruan dirumah Sungni-ah.” ujar Jong-oppa
yang sedang asyik dengan handphonenya.

“Ah, gwaenchana, lebih banyak orang lebih baik kan.” ujar Chanyeol-oppa bisa mengerti.
Tak salah aku menjadikannya namjachinguku, meski kami baru berpacaran 6 bulan tapi dia
sudah sangat akrab dengan orang-orang disekitarku serta keluargaku.

“Ah, ayo kita makan dulu. Aku sudah nanti soondae gook untuk kita bersebelas bisa dingin.”
Ujarku.

Kelima namja itu pun berjalan menuju ruang makan, diakhiri dengan Chanyeol-oppa
yang mencium keningku dulu sebelum pergi ke ruang makan. Aku membalasnya dengan
senyuman kepada namja itu lalu ikut menuju ruang makan bersamanya.

“Ayo mulai makan!” teriak Onew-oppa yang mulai kambuh sangtaenya dengan
mengacungkan sendoknya keatas.

“Oppa, jangan mengambil jatahku lagi ya nanti. Aku sudah kurus jangan buat aku kurus
lagi.” Ujar Neul-ah sambil memukulkan sendoknya ke kepala Onew-oppa.

“Hahaha, ne chagi. Aku akan memakan bagian Sungrin-ah sekarang biar dia diet.” Ujar
Onew-oppa menggoda.

“Ya! Aku mendukungmu hyung!” teriak Key-oppa menambah gaduh suasana ruang makan
yang menyatu dengan dapur.

“Oppa!!” teriak Sungrin eonni membuat semua orang tertawa.

“Tapi tunggu dulu, sebelum kita makan, ada satu orang lagi yang belum mendapat soondae
gook.” Ujarku membuat semua orang terdiam.

“Siapa saeng?” tanya Hyeri-ah yang duduk diatas meja dapur.

“Siapa lagi kalau bukan orang kesebelas, Taemin-oppa.” Ujarku sambil menyimpan soondae
gook kepinggir foto Taemin-oppa yang berada dimeja khusus diruang makan.

“Oppa, Happy Newyear, saranghae..”

*Flashback

Aku membuka kedua mataku dengan malas, rasanya aku tak mau pergi kesekolah pagi
ini. Aku mengubah posisiku menjadi duduk diatas tempat tidur. Kulihat sekilas kasur lipat
dipinggirku, sudah tampak terlipat rapi. Namja itu sudah pergi, menuju tempatnya yang
seharusnya.

Aku menurunkan sebelah kakiku dengan lemas, rasanya aku tak enak badan. Kugunakan
semua tenaga pagiku untuk berdiri lalu mulai melakukan peregangan agar otot-otot tubuhku
tak sakit. Aku berjalan menuju kearah kamar mandi sambil menggaruk-garuk kepalaku yang
sama sekali tidak gatal. Lalu, langkahku terhenti saat sekilas aku melihat selembar kertas
diatas meja belajarku, tepatnya diatas buku harianku. Kertas itu menarik perhatianku dengan
sekejap. Lalu aku raih kertas itu dan mulai membacanya.

Open P-END

이 태민

Eung? Apa yang dilakukan namja itu di buku harianku? Jangan-jangan dia menggambar
wajahnya disana. Aigoo. Gambarannya kan jelek sekali, bagaimana jadinya wajah imutnya
kalau digambar oleh dia sendiri?

Dengan perlahan aku membuka buku harianku, menuju halaman terakhir. Kubaca kata-demi-
kata dengan seksama. Hatiku sesak, darahku rasanya bergerak cepat menuju otakku. Mataku
tak bisa membendung air yang akan keluar, membuatku semakin lemas setelah menangis
semalaman dan sekarang aku harus menangis lagi. Ya! Oppa kau menyiksaku!

Tubuhku terjatuh, kupeluk kertas itu dengan kuat dan airmata masih membasahi wajahku.
Sesaat setelah aku selesai membaca tulisan itu, aku mulai tersenyum, tanganku meraih
bibirku yang tersenyum. Seakan energiku pulih kembali aku berdiri dengan cepat lalu
menyimpan kertas yang membuatku menangis tadi lalu mulai melangkahkan kakiku menuju
kamar mandi.

Dear Sungni-ah

Sungni-ah, ah ani, chagi, biarkan aku memanggilmu begitu. Besok pukul 6 pagi aku
akan pergi meninggalkanmu. Mungkin kau hanya akan berkata pergi saja atau sejenisnya,
karena kau ini sama dinginnya dengan Sica-noona. Selalu berkata dingin dan hanya akan
berkata tak sopan, senonoh, dan kasar padaku. Aish, kenapa aku malah melenceng dari topik.

Chagi, yang aku ingin katakan sebenarnya adalah, saranghae…cheongmal saranghae

chagi.

Kau tau? Aku tak tau setan mana yang merasukiku sampai aku bisa begitu
menyukaimu, bahkan kalau aku boleh jujur, kau bukanlah tipeku. Memang sih kau itu aegyo
seperti tipe idamanku, tapi kau hanya masuk satu kategori saja. Tapi entah kenapa, aku bisa
begitu gila karena yeoja sepertimu. Yeoja yang polos, cuek, jorok, dingin,bertubuh kecil,
sama sekali tidak seksi dan sedikit yadong sepertimu. Aku bahkan rela merawatmu saat kau
sakit, memainkan piano disekolah padahal hal itu membuatku ingat akan saat-saat indahku
ketika hidup, bahkan menjodohkanmu kepada Minho-hyung saat kutau kau menyukainya.
Dan hal terakhir itulah, hal yang paling sulit yang kulakukan untukmu karena aku harus
merelakanmu dengan namja yang kau cintai.

Chagi, setelah kau baca omong kosong ini, mungkin aku sudah tak terlihat olehmu
lagi. Tapi bukan berarti aku meninggalkanmu, aku masih melihatmu. Aku akan melihat
perkembanganmu nanti bahkan mungkin aku akan melihatmu saat kau menikah sampai tua
dan hidup bersama pendampingmu. Yang pasti, aku bersamamu, oleh karena itu, jangan
lupakan aku.

Chagi, permohonan terakhirku, jadikanlah aku ini sebagai semangat hidupmu.
Tolong jaga perasaanmu agar tetap menyukaiku seperti aku menyukaimu. Jangan biarkan
perasaanmu kepada pacarmu nanti melebihi perasaanmu padaku. Karena aku mau, kau
hanya untukku. Mungkin aku terdengar sedikit rakus, tapi ini karena aku sangat menyukaimu
ani…mencintaimu..sangat. Arasseo?

Saranghae

이태민

END

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

Advertisements

12 thoughts on “Hello Ghost! [2.2]”

  1. Kasihan cerita cinta SungNi dan TaeMin, tidak berakhir bahagia
    Tapi FF author enak dibaca (っ‾̣̣̣﹏‾̣̣̣)っ
    Bagaimanapun SungNi masih menyayangi TaeMin
    Fighting author (งˆ▽ˆ)ง

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s