Don’t Close Your Eyes [2.2]

Don’t close your eyes {Story II end}

cover don't close your eyes

Title                       : Don’t close your eyes

Author                  : Ryu Rieztka

Main Cast            : Kim Ki Bum, Jung Yoora   – Covered by. Lee Ji Eun (IU) –

Suport Cast         :  Lee Jinki, Other

Genre                   : Romance

Rating                   : PG 16

Length                  : Twoshot

Summary             :

Siapa yang bisa tahu akhir dari sebuah cerita, jika awalnya saja mereka tidak tahu. Haruskah orang-orang yang sudah terbuang, kembali tersakiti, ketika kenyataan hidup mempermainkan mereka di saat cerita hendak mereka sudahi dengan sebuah akhir yang bahagia ?.

Note                      : Ide cerita Fanfiction ini aku ambil dari Film Jepang dengan judul Sky Of Love. Beberapa scene dalam ff ini aku ambil dari adegan yang ada di film itu. Tapi gak semua ceritanya sama, secara garis besar masalahnya akan berbeda. heheheee

08 : 17 PM, Rabu 16 Maret 2011

Malam yang sejuk di sebuah ruang keluarga yang sederhana terselip kebahagiaan yang besar saat ada empat orang yang berkumpul untuk merayakan kesuksesan salah satu dari mereka.

“ ki bum-ah chukae ..” Jinki merangkul bahu adiknya, merekahkan senyum yang lebar saat mengucapkan kata selamat.

Sedangkan Ki bum hanya dapat tersenyum melihat kakaknya yang sudah setengah mabuk itu memeluknya. Ia masih merasa belum percaya bahwa saat ini ia telah lulus dari kuliah yang bertahun-tahun ini ia jalani, dan kini ia telah menyandang gelar dokter sama seperti kakaknya.

“yahh .. waktu sangat cepat berlari. Dahulu kau datang dengan celana pendek dan rompi kecil, sekarang kau telah tumbuh menjadi lelaki tampan dan berjas putih. Kalian berdua benar-benar sangat tampan saat memakai jas ini.” Ayah Jinki berdiri dan mengambil jas kerja Jinki yang tersampir di kursi lalu ia pasangkan pada pundak anaknya Ki bum.

Ki bum tertunduk saat tangan ayahnya mempererat jas itu di tubuhnya, merasakan kasih sayang yang tulus dari lelaki itu yang bahkan tidak memiliki ikatan darah sekalipun padanya. Merasa sangat beruntung di pertemukan pada keluarganya saat ini.

“ Yaa.!! Aku baru saja memujimu tampan, jangan kau buat jelek lagi mukamu dengan menunduk seperti itu.” Ayah Ki bum menarik dagu Ki bum untuk menghadapnya.

“ percayalah hari esok akan lebih indah dari hari ini .. maka teruslah berjuang arraso !. Ahh!! Lihatlah kakakmu itu, ia terlalu bahagia melihatmu hingga ia mabuk seperti itu.” Ayah Ki bum berjalan menghampiri Jinki yang telah kehilangan kesadarannya dan memapahnya menuju anak tangga.

“ layanilah putrimu, aku akan mengurus kakakmu yang payah ini.” Lelaki tengah baya itu terus berjalan meniti anak tangga hingga tak terlihat lagi.

Yoora yang sedari tadi diam di sudut ruangan tertawa melihat kelakuan keluarga kecil yang hangat itu, ia ikut merasakan hangatnya keluarga saat berkumpul di rumah ini.

chukae .. “ ujarnya sambil menghampiri kekasihnya yang masih berdiri menunggu kedatangannya.

“apa kau sangat bahagia malam ini .. ?.” Ki bum menarik Yoora pelan ke dalam pelukannya, mencium puncak kepala gadisnya dengan sayang, mencoba membagi kebahagiannya. Sedangkan gadis itu hanya dapat mengangguk dalam pelukan kekasihnya.

“hhmm .. apa aku boleh mengatakan sesuatu ?”gadis itu bertanya dengan tangan yang masih melingkar dipinggang kekasihnya, mempererat pelukannya seolah meredam rasa takutnya untuk berbicara.

“ya .. katakanlah.” Ki bum menjawab masih dengan memeluk gadisnya dan menyandarkan dagunya di puncak kepala gadis itu.

Yoora melepas pelukannya, menatap Ki bum dalam diam, mencoba meyakinkan dirinya sendiri agar bisa menyampaikan apa yang ingin ia katakan. Tangannya beralih meraih tangan besar kekasihnya, meletakannya tepat di atas perutnya yang datar.

“ tiga minggu .. “ ucapnya terputus karena ingin melihat wajah kekasihnya saat itu. Sedangkan Ki bum masih setia menunggu kelanjutan ucapan gadisnya.

“ sudah tiga minggu .. janin itu ada di sini.” Yoora menunduk tidak berani melihat bagaimana ekspresi kekasihnya lagi.

Tangan Ki bum terlepas dari perut datar Yoora, memundurkan kakinya beberapa langkah dan berlari menghilang dari pandangan gadis itu. Yoora kembali mengangkat kepalanya saat menyadari Ki bum telah hilang dari hadapannya. Entah apa yang Yoora rasa saat ini, bingung, sedih, ataukah ia harus bahagia karena sebentar lagi ia akan menyandang status sebagai seorang ibu.

Tiga puluh menit sudah waktu berlalu, namun gadis itu masih setia duduk menunggu dan berharap kekasihnya kembali ke hadapannya. Semilir angin akhirnya menghantarkan bunyi derap langkah yang sangat memburu dari luar rumah itu.

Yoora berdiri saat didapatinya sang kekasih berlari ke arahnya, menagkap tangan yang terulur dan membantu tubuh kekasihnya yang tertunduk dan terhuyung karena lelah berlari.

Ki bum mengatur nafasnya yang naik turun karena berlari cukup jauh, mengangkat badannya saat dirasakannya tangan gadis itu menangkap tangannya yang tadi terulur mencoba memberikan sesuatu yang ada di tangan besarnya.

“ ini .. ambilah, kata penjaga kuil ini adalah jimat keselamatan. Ini dapat menjagamu dan anak kita.” Ujarnya masih dengan nafas terengah-engah.

Air mata Yoora tak lagi dapat terbendung saat mendengar pernyataan Ki bum, tubuhnya langsung mendekap erat tubuh Ki bum yang belum sempurna berdiri. Menumpahkan semua air matanya di sana. Saat ini ia merasa menjadi wanita yang paling sempurna di dunia.

*****

10 : 55 AM, Sabtu 19 Maret 2011

Ki bum bersimpuh dihadapan ibunya, tadi pagi ia mencoba menghubungi ibunya untuk bertemu. Dan kini di sini lah mereka sekarang, di sebuah restoran tradisional yang sangat terkesan etnik. Posisi Ki bum tak kunjung berubah sebelum ia mendapatkan jawaban dari ibunya.

“ kumohon, untuk pertama kali dan mungkin terakhir kalinya aku meminta sesuatu padamu. Datanglah untuk menemui keluarga Yoora.” Ucapnya masih terus bersimpuh.

“apa yang membuatmu hinga begitu bersikeras untuk meminta kepadaku bertemu dengan orang tua gadis itu, huh ?!.” sedikit senyuman sinis mengukiri bibirnya ketika bartanya pada anaknya.

“dia …” jawaban dari Ki bum terputus untuk melihat bagaimana wajah ibunya yang kini hanya menatapnya malas. “ ia tengah mengandung anakku.” Lanjutnya.

Tiada rona keterkejutan, bahagia, sedih, maupun marah di wajah wanita yang kini berusia mencapai kepala empat itu. Hanya tatapan mengejek pada sesosok pemuda tampan yang masih setia menunggu reaksi darinya.

“huh, bahkan kini kau juga melakukannya pada seorang wanita. Sama seperti lelaki bre**sek itu ?!” mencemoh anaknya sendiri ketika mengingat lelaki pada masa lalunya. Mencoba menyamakan keburukan anaknya dengan lelaki yang telah meninggalkannya di masa lalu.

“aku tak seperti dia.!! Aku memohon padamu saat ini karena aku ingin bertanggung jawab pada anakku. Aku tak ingin anakku bernasib sama sepertiku.” Intonasi yang awal pembicaraan hanya datar kini jauh meninggi ketika sang ibu ingin menyamakannya dengan lelaki yang telah menelantarkannya.

Tidak, ia tak ingin nasib anaknya sama sepertinya. Tidak di inginkan dan terlalu transparan untuk berada di kehidupan orang tuanya sendiri. Ia menyayangi anaknya, ia bahkan sudah sangat mencintai anak itu yang bahkan kini masih berwujud segumpal darah.

“aku mohon …” Ki bum merubah posisinya dan kini bersujud di hadapan ibunya, menepikan segala sakit hatinya selama ini kepada wanita itu. Karena hanya wanita itulah satu-satunya keluarga yang ia miliki, walaupun ia memiliki Jinki dan juga ayahnya, tetapi untuk melamar gadis yang ia cintai, ia menginginkan ibu kandungnya sendirilah yang melakukannya.

Wanita itu masih menatap lurus pada anak yang kini bersujud di hadapannya, mencoba mengingat kejadian di masa lalunya. Melihat anaknya bersujud seperti melihat dirinya yang dulu juga bersujud di hadapan lelaki itu. Memohon pertanggung jawaban, tetapi bukan itu yang ia dapat melainkan kenyataan pahit bahwa lelaki itu justru menyuruhnya menyingkirkan darah dagingnya sendiri. Ada sedikit perasaan iri pada wanita ayang kini tengah mengandung darah daging anaknya, berharap saja jika dulu lelaki itu bisa bertanggung jawab sampai seperti ini kepadanya.

“bangunlah, aku akan membantumu.” Ucapnya sambil memalingkan wajahnya dari anak di hadapannya. “tetapi hanya menemui orang tua gadis itu, dan berkata kau akan bertanggung jawab atas segalanya. Tidak lebih” lanjutnya dengan nada yang sinis.

Ki bum mendongakan wajahnya, setetes air mata dan seulas senyum di lakukannya secara bersamaan ketika mendengar ucapan ibunya. Berdiri dan membukukkan badannya melebihi 90derajat, kata gomawo terus terucap dari bibirnya. Melangkahkan kakinya mundur dan menghilang di balik pintu.

***

“appa … bisakah aku berbicara ?.” Yoora mengikuti langkah kaki ayahnya dari belakan menuju ruang kerja di rumah megah itu, sedangkan lawannya berbicara malah tak menggubris sedikitpun, hanya terdengar derap langkah yang sedikit tergesa menuju tempat tujuan.

“appa …” Yoora masih terus berusaha untuk mengajak ayahnya berbicara.

Namun merasa tidak ada yang merespon setelah panggilan itu di ucapkannya, ia mencoba untuk memangambil perhatian ayahnya kembali.

“appa, bisakah …..”

“Yoora, bisakah kau bicara nanti saja, apa sedang di buru oleh waktu untuk meeting. Jika kau ingin berbicara maka bicaralah dengan umma-mu.!” Yoora tak bisa melanjutkan perkataannya karena lebih dulu di sentak oleh sang ayah.

“tapi appa ….” Ujung mata Yoora sudah mulai mengumpal air bening yang mulai akan merebak, ia sudah mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara saat ini tapi tak di tanggapi juga. Ia melihat tatapan tidak suka dari sang ayah karena ia mencoba untuk menentang, akhirnya ia melangkahkan kakinya mundur mencoba untuk berbicara pada ibunya saja.

“umma … bisakah kita berbicara ..?” Yoora mencoba menyapa ibunya yang sedang memasukan beberapa permata dan berlian ke dalam sebuah kotak perhiasan di dalam kamarnya.

“hhmmm … kau ingin berbicara apa, cepatlah umma harus menghadiri acara peluncuran perusahaan kosmetik terbaru.” Ibunya menjawab tanpa menatap mata sang anak, lebih asik menatapi kilauan berlian dan permata yang ada di tangannya.

“umma, aku … emmmhh aku …” Yoora terbata-bata bagaimana ia harus menyampaikan bahwa saat ini ia tengah hamil.

“aku apa Yoora .. ? cepatlah, umma harus segera pergi.”

“umma aku ..”

Drrttttt …. Drrttt …. Drrttt… ~~

Belum sempat Yoora menyelesaikan ucapannya, itu sudah terputus oleh suara getar telepon genggam ibunya yang berada di nakas sebelah tempat tidur. Sang ibu yang melihat telepon genggamnya menyala lalu meninggalkan anaknya yang tak kunjung selesai berbicara.

yobosseo, ne .. aku akan segera ke sana. Baiklah, aku pasti membawa perhiasanku. Oke annyeong..”. wanita paruh baya itu tambah asik memasukan beberapa perhiasannya tanpa peduli pada sang anak.

“Yoora, umma harus berangkat sekarang bicaralah pada appa-mu ..” wanita itu berjalan, melewati anaknya yang masih diam seribu bahasa di tempatnya. Berfikir kenapa begitu susah hanya untuk berbicara pada kedua orang tuanya. Tak butuh waktu lama ia hanya butuh tidak lebih dari 5 menit untuk berbicara secara intens kepada mereka.

Melihat ibunya yang terus berlalu semakin menjauh darinya, Yoora akhirnya mengejar ibunya yang sudah sampai hingga ruang keluarga. Ketika ia berada di tengah-tengah tangga yang menghubungkan antara ruang keluarga dan lantai 2 rumah itu, ia melihat ayahnya yang keluar dari ruang kerja sedikit tergesa dan menyusul ibunya yang sudah hampir tiba di depan pintu utama rumah itu.

Yoora menarik nafas panjang, lalu dalam sekali tarikan nafas itu ia langsung meneriakkan apa yang ingin ia sampaikan pada kedua orang tua yang sudah siap-siap akan meninggalkan rumah.

“ AKU HAMIL !!” mata Yoora terpejam namun teriakannya lantang hingga kedua orang yang sepertinya tidak merasakan kehadirannya membalikan tubuh mereka menatap dengan tatapan tidak percaya.

Dokumen-dokumen penting dan perhiasan permata serta berlian itu jatuh menjadi satu di lantai karena sang pemiliknya melepaskan benda-benda itu tanpa sengaja dari tangannya.

“aku hamil, appa … umma.” Ucap Yorra lirih sambil melangkahkan kakinya lemah menuju kedua orang tuanya.

“Jangan bercanda Jung Yoora.!!” Tiba-tiba sang ayah membentak di tengah keheningan di ruang keluarga tersebut. Sedangkan wanita yang tadi lebih asik memandangi perhiasannya, kini menatap anaknya miris. Menggeleng-gelengkan kepalanya berharap semua yang di dengarnya tidaklah benar.

“aku tidak bercanda appa, semua benar .” jawaban lirih dari bibir Yoora terdengar begitu miris.

Lelaki paruh baya itu kini hanya dapat menghela nafas dalam dan melonggarkan lilitan dasi di lehernya yang tiba-tiba terasa seperti mencekiknya. Amarahnya mulai menaiki ubun-ubun, ia melangkahkan kakinya cepat kearah anaknya. Dalam beberapa langkah ia sudah berada di hadapan anaknya.

PLAKK !!

Sebuah tamparan yang cukup keras di lanyangkan ke pipi putih nan mulus itu hingga terbentuk guratan merah yang nampak jelas. Gadis itu tak bergemin mendapatkan hiasan tangan sang ayah di pipinya, ia hanya dapat meneteskan air matanya.

“katakana siapa ayah dari bayi itu .!!” tidak membentak, tetapi cengkraman di bahu anaknya sungguh sangat kuat, hingga gadis itu cukup memekik kesakitan.

“Kim Kibum … namanya Kim Kibum appa .” jawab Yorra sambil sesekali menahan sakit dari cengkraman ayahnya.

“ apa latar belakang keluarganya ?” sang ibu yang tadi hanya terdiam dan kini ikut maju dan menyerang pertanyaan pada anaknya sendiri.

“di … di … dia hanya berasal dari keluarga sederhana, namun sekarang ia telah lulus dari pendidikan kedokterannya dan sekarang telah bekerja sebagai dokter.”Yoora menjawab itu dengan terputus-putus karena cengkraman sang ayah makin mengerat pada pundaknya.

“bawa ia dan orang tuanya besok pukul 7 malam, di restoran biasanya. Besok kita bicarakan lebih lanjut, aku tak bisa melanjutkannya sekarang. Aku harus menghadiri meeting penting siang ini.” Lelaki itu melepaskan cengkramannya pada sang anak dan meninggalkannya begitu saja.

Sedangkan si ibu hanya menatap anaknya rendah, beberapa kali mendecak sebal saat tatapan mata mereka bertemu. “CK ..! Aku tak pernah mengajarimu untuk menjadi wanita rendah seperti ini Jung Yoora.!”kembali mendecak dan melontarkan kata yang menusuk pada anaknya sendiri dan meninggalkannnya begitu saja.

“kau memang tak pernah mengajariku untuk itu umma, karna kau memang tak pernah mengajari apapun padaku umma..” Yoora mengguman halus di sela isakannya dan mendudukan dirinya pada anak-anak tangga, dan menyenderkan kepalanya yang terasa berdenyut pada pilar-pilar menyangga tangga tersebut.

*****

07 : 45 PM, Minggu 20 Maret 2011

Keluarga kecil itu sudah duduk nyaman di dalam restoran mewah itu sejak 20 menit yang lalu. Sang ayah yang masih di sibukan dengan lawan bicaranya di seberang telepon, sang ibu yang terus membolak-balikan majalah fashion terbaru yang sesekali ia tandai dan ia lipat, dan sang anak yang duduk dengan gelisah menunggu orang yang ia tunggu tak kunjung datang dan sesekali melirik pada jam digital pada telepon genggamnya.

“apa lelaki itu masih lama, aku harus segera pergi .” ucap dingin sang ayah sambil melirik arloji mewahnya.

“tunggu seben … ah itu mereka ..!!” tiba-tiba Yoora memekik saat orang yang di tunggunya datang. Kedua orang yang sibuk dengan dunianya sendiri akhirnya menoleh untuk melihat orang yang telah mereka tunggu.

Sedangkan dari sisi lain, dua orang tengah berjalan menuju meja yang telah di isi oleh keluarga kecil tadi, seorang lelaki tampan melangkahkan kakinya dengan semangat, sedangkan si wanita paruh baya justru melangkahkan kakinya dengan malas. Namun belum sempat langkah mereka berhenti di depan meja itu, suara seorang lelaki paruh baya yang sejak tadi duduk kini menjadi berdiri dan menunjukan telunjuknya pada wanita paruh baya yang berjalan menuju ke mejanya.

“Kim Yunna ..!!” lelaki itu masih saja menunjuk kearah wanita yang di panggilnya Kim Yunna tersebut, sedangkan yang di panggil hanya terperangah melihat lelaki yang dulu telah membuangnya di masa lalu kini kembali hadir dihadapannya.

“Jung Marru …” kini hanya desisan pelan dari bibir wanita bernama Kim Yunna tersebut, saat telah sampai tepat di depan meja keluarga kecil itu. Keduanya saling menatap, tidak ada yang tahu apa arti dari tatapan mereka, sedangkan ketiga orang yang ada di sekitar mereka melihat dengan rasa penuh penasaran.

“apa Appa mengenal mereka ?” Yoora mengalihkan tatapan kedua orang itu dan menunjukan jarinya kearah Kibum dan ibunya.

“tunggu … tunggu , kau bilang ‘Appa’ ?” ibu Kibum memotong perkataan Yoora dan menunjukan jarinya pada orang yang di panggil appa oleh gadis itu tadi. Yoora hanya mengangguk sambil sesekali melihat ekspresi ayahnya yang tak dapat ia persepsikan.

“CK … ,,!!” wanita itu berdecak sinis, sambil menatap rendah keluarga kecil yang ada di hadapannya.

“lebih sopan jika kita berbicara sambil duduk.” Ibu Yoora memecah ketegangan di depannya sambil mempersilahkan mereka semua untuk duduk.

“siapa dia .. ?” baru saja mereka merasakan empuknya sebuah kursi mewah tetapi sebuah suara sudah merusak kenyamanan itu.

“jawab aku Kim Yunna, SIAPA DIA ?” lelaki bernama Jung Marru itu membentak ibu Kibum dan menggebrak meja yang ada dihadapannya, sedangkan yang dibentak hanya dapat tersenyum sinis.

“dia … “ ibu Ki Bum memutus perkataannya dan tersenyum di sela jeda itu, “dia, anakmu Jung Marru. Dia darah dagingmu yang dulu kau tidak inginkan.” Yunna berbicara dengan datar namun di sertai dengan senyuman yang entah apa itu artinya.

“ BERHENTI BERCANDA KIM YUNNA, katakan itu bohong itu tidak mungkin. Aku sudah menyuruhmu menggugurkannya kenapa tidak kau lakukan .!!”lelaki itu berbicara dengan urat leher yang Nampak tegang, tidak berfikir bahwa mereka sekarang ada di tempat umum dan sekarang mereka menjadi bahan perhatian di tempat itu.

“jangan permalukan dirimu sendiri Jung Marru, pelankan suaramu. Kau bahkan seorang yang berpendidikan tetapi mengapa hanya sopan santun berbicara saja kau tidak bisa huh .!!” Yunna menatap sinis pada mata lelaki itu.

“aku tak bisa bersopan santun jika di hadapkan dengan pembicaraan yang seperti ini Kim Yunna, jika dia bayi itu, maka bagaimana dengan ….. Arrgghh!!!” Maruu mengerang setelah menatap miris pada anak perempuannya. Bingung .. ?, tentu saja ia bingung. Jika Kibum adalah darah dagingnya maka kini Yoora telah mengandung darah daging dari kakaknya sendiri.

Di saat yang bersamaan, seorang gadis yang duduk di tengah-tengah ibu dan ayahnya hanya dapat menggelengkan kepalanya mendengar setiap perkataan orang tua tersebut. Bagaimana bisa ?, jika mereka adalah saudara sedarah bagaimna dengan anak yang tengah ia kandung sekarang. Terlalu rumit masalah itu, membuat kepalanya berdenyut hebat. Sesekali penglihatannya memburam dan kembali normal, sampai akhirnya penglihatan itu benar-benar buram dan ia tak dapat melihat apapun kembali. Yang ia dapat rasakan hanya tepukan-tepukan ringan dari sebuah tangan yang sangat ia tau siapa itu.

*****

02 : 47 PM, Selasa 22 Maret 2011

Bau obat-obatan terasa begitu menyeruak, di sebuah ruangan VIP terbaring gadis cantik yang sudah dua hari ini tak sadarkan diri. Sedangkan sang ibu dengan setia terus menemani anaknya, sudah dua hari itu pula air matanya tak pernah kering. Terus menyesali apa yang tengah menimpa anaknya dan menangisi kebodohannya yang tak pernah dengan benar mengasuh anaknya. Ia merasa menjadi ibu yang gagal, bagaimana bisa semua masalah menjadi serumit ini. ‘Bagaimana nasib anaknya kelak ?’ , itulah yang terus berputar di dalam benak sang ibu.

“euugghh … “ sebuah lenguhan kecil terdengar di telinga sang ibu, lantas dengan cepat ia melihat kearah suara tersebut. Dilihatnya ada gerakan kecil pada kepala anaknya yang lama-kelamaan di ikuti dengan gerakan lemah dari tubuhnya. Tanpa menunggu apapun lagi sang ibu langsung menghampiri anaknya, mengusap lembut puncak kepala sang anak, membisikan kalimat-kalimat perhatian dan sayang, yang selama ini jarang atau bahkan tak pernah ia ucapkan selama hidup anaknya.

“sayang, umma disini … apa yang tersa sakit ?”. Tanya sang ibu walau ia tahu bahwa gadis itu tidak dapat merespon dengan baik.

“ Kibum … Kibum … Kibum …” hanya nama itu yang dapat di ucapkannya. Sang ibu hanya dapat tersenyum miris ketika nama itu terus di sebut oleh anaknya. Mengingatkannya pada kejadian dua hari yang lalu, setelah melihat anaknya pingsan ayah Yoora dengan geram menghentak meja dan menunjuk kasar pada pemuda bernama Kim Kibum dan ibunya, mengatakan dengan lantang bahwa mereka tidak boleh lagi menunjukan diri di depan keluarga Jung, dan jangan sekalipun bagi Kibum untuk berani-beraninya menemui Yoora.

Semua sang ayah lakukan bukan hanya karna rasa marahnya pada si anak dan wanita di masa lalunya, tetapi juga demi menyelamatkan masa depan anaknya, bagaimama jika kelak orang-orang tahu bahwa ia memiliki seorang anak dari orang yang sedarah dengannya. Ia tak mau anaknya terjerat lebih jauh dengan hubungan yang salah tersebut.

“sayang umma disini, umma sekarang di sini bersamamu ..”. hanya jawaban lirih dari sang ibu ketika mendengar anaknya memanggil nama ayah dari bayi yang ia kandung.

***

“Kibum-ah … boleh aku masuk ?” jinki menggedor pelan pintu ruangan dimana biasanya sang adik menghabiskan waktu setelah praktiknya.

“masuklah hyung .” hanya jawaban lemah dari sang adik yang ia dapat, lalu membuka pintu itu. Melihat lesu makhluk di depannya yang entah sejak dua hari kemarin seperti manusia berjasad tapi tak bernyawa. Membuat miris hati jinki ketika menatap mata adiknya yang kosong, tak ada cahaya kehidupan sedikitpun disana. Seperti melihat Kibum ketika pertama di kenalnya dulu. Kibum kecil dengan mata kosong tanpa kehidupan, Kibum kecil yang teramat dingin dengan semua orang yang ingin mendekatinya.

“apa masih memikirkan Yoora ?” jinki bertanya dengan penuh kehati-hatian, takut menambah luka di hati adiknya.

Kibum tak langsung merespon pertanyaan kakaknya, sedikit menghela nafas mencari ketenangan untuk dapat menjawab pertanyaan sederhana dari kakaknya, namun terlalu sulit menjawabnya.

“aku tak tau hyung , aku harus seperti apa sekarang hyung ?. kenapa sekarang menjadi serumit ini ?” bukan sebuah jawaban yang di terima oleh jinki, melaikan sebuah pertannyaan yang teramat miris dari adiknya.

Jinki tak menjawab ia hanya menepuk pundak adiknya, dan berkata “aku tau kau bisa, ikuti kata hatimu. Jangan gunakan ego-mu dalam masalah ini. Semua pasti akan ada akhirnya.” Setelah itu jinki tersenyum lembut dan meninggalkan adiknya di ruang kerja itu.

***

appa, aku mohon jangan gugurkan anak ini. Aku tidak ingin membunuh anakku sendiri appa !!”. Yoora memekik di sela-sela suarannya yang timbul-tenggelam karena serak.

“Yoora, anak itu salah. Tak sepantasnya ia ada di dunia. Apa kata orang-orang kelak ketika tahu bahwa anak yang kau lahirkan memiliki ayah yang ternyata adalah pamannya sendiri.” Sang ayah masih bulat dengan keputusannya, tidak akan ia membiarkan anaknya menjadi bahan ejekan masyarakat nantinya.

“sekejam itukah dirimu appa, dulu kau ingin menyingkirkan anakmu sendiri. Sekarang kau-pun ingin menyingkirkan cucumu juga. APPA TAK PUNYA HATIKAH DIRIMU ..!!” meski dengan suara yang mungkin tak dapat keluar dengan sempurna Yoora masih dapat berteriak membentak ayahnya. Selama hidupnya ia tak pernah dapat menyampaikan isi hatinya, namun tidak dengan sekarang. Ia tidak dapat membiarkan ayahnya untuk membunuh anaknya, darah dagingnya.

“Yoora sayang, jangan berteriak-teriak seperti itu. Kau belum sembuh.” Sang ibu mencoba menahan pundak anaknya yang ingin berdiri ketika membentak ayahnya.

“Marru, sudahlah. Yoora harus istirahat, masalah ini kita selesaikan nanti ketika Yoora sudah keluar dari rumah sakit ini.” Sang ibu mencoba mengingatkan ayahnya, bahwa kondisi anaknya masih tidak baik untuk membicarakan masalah ini.

“Tidak bisa, masalah ini harus segera diselesaikan. Selagi janin itu masih sangat muda.” Marru menolak keinginan istrinya.

Tanpa di ketahui ibunya, Yoora sudah melepas selang infusnya menurunkan tangan ibunya dari pundak dan melesat turun ke arah ayahnya. Berlutut dan memohon pada ayahnya.

“kumohon appa, apapun akan ku lakukan untukmu demi anak ini. Aku mohon appa .. hukss.” Dengan tubuh tertatih Yoora bersimpuh dan terisak memohon kepada ayahnya untuk membiarkannya mempertahankan anak yang ia kandung saat ini.

Lelaki paruh baya itu terdiam, masih ada rasa kemanusiaan dalam hatinya ketika melihat anaknya sendiri harus memohon hingga bersimpuh padanya. Membiarkan otaknya memutar pada kehidupan masa lalunya. Akankah ia mengambil keputusan yang sama saat ia meninggalkan seorang wanita yang dulu pernah ia cintai.

“baiklah, jika kau ingin mempertahankan bayi itu maka kau harus menuruti kemauanku. Pergilah ke Jerman hingga bayi itu lahir.” Menyatakan persyaratannya di balik persetujuan itu.

“Jerman ..?” Yoora mendongakkan wajahnya menatap heran sang ayah, mengapa harus Negara sejauh itu. Apakah ia masih bisa menemui Kibum jika ia berada di sana ?

“dan jangan pernah berfikir untuk menemui laki-laki itu lagi.!” Baru saja pertanyaan itu berputar di otak Yoora, namun sang ayah sudah memberikan jawaban yang terdengar seperti sebuah titah yang tak dapat dibantah lagi.

Gadis itu menundukan kembali kepalanya, menatap sepatu ayahnya yang terlihat mengkilap. Berpikir sejenak, apa yang harus ia putuskan. Tetap berada di Seoul dan bisa melihat Kibum dengan kehilangan bayinya, ataukah ia harus merelakan untuk tidak menemui kakak kandungnya itu demi anak yang kini berada di perutnya.

Yoora menarik nafas panjang sebelum ia memberikan sebuah jawabannya. “baiklah .. aku akan pergi ke Jerman. Tetapi berikan aku satu kali kesempatan untuk bertemu dengan Kibum sebelum aku pergi ke tempat jauh itu.” Entah perasaan apa saat mengucapkan tempat jauh, Yoora tak berfikir sekalipun bahwa tempat itu adalah Jerman.

Lelaki itu diam, sejenak melihat ke arah istrinya yang mengangguk dengan senyum yang terkesan miris seolah mengisyaratkan untuk memenuhi keinginan anak satu-satunya itu. Sekilas ia melihat lagi kearah anaknya yang masih pada posisinya semula. Menghela nafas sambil mengenggukan pelan kepalanya, menyetujui permintaan anaknya tersebut.

*****

05 : 50 PM, Kamis 24 Maret 2011

Seorang dokter muda bername Tag Kim Kibum sedang membereskan beberapa berkas laporan kesehatan pasiennya yang belum terselesaikan dan berniat untuk ia bawa pulang kerumah. Karena memang jam kerjanya sudah berakhir sejak satu jam yang lalu.

Saat tangan besar miliknya masih asik untuk memilah-milah kertas putih itu, sebuah getar telepon genggam mebuyarkan semua kegiatannya. Dengan sedikit enggan ia meraih benda itu di saku celananya, menatap benda itu segan, tetapi mata itu langsung membulat ketika ia membaca nama pemanggil dari display teleponnya.

“Jung Yoora ..” entah itu sebuah pertanyaan atau desisan. Namun saat mengatakan nama itu wajahnya sedikit sendu, namun hatinya menggelitik seolah ada perasaan yang ingin meluap begitu saja. Merasakan rasa sakit dan senang di saat yang bersamaan. Bukankah hal itu terdengar aneh ?

Kibum menyentuh panel berwarna hijau pada telepon genggamnya, mengarahkan benda itu ke telinganya. Diam tanpa menyapa orang yang ada di balik sambungan telepon itu, begitu pun sebaliknya. Hingga orang yang tadi menelponnya mengeluarkan suara yang terdengar serak dan begitu pelan, seperti seorang yang sehabis menangis dengan waktu yang lama, tidak bertenaga dan begitu lemah.

“aku akan menunggumu di pinggir sungai Han, hingga kau datang.” Hanya kata itu yang dapat Kibum dengar dan sambungan telpon tersebut terputus.

***

Angin berhembus dengan lembutnya, menghantarkan udara dingin bagi siapapun yang merasakannya. Begitupun bagi seorang pemuda yang sudah sejak satu jam yang lalu bersandar pada mobilnya, sambil mengamati gadis cantik yang sejak tadi menggosok-gosokan tangannya mecoba menghantarkan suhu panas pada tubuhnya.

Tak berniat tuk melangkahkan dirinya untuk menghampiri gadis itu, bukan karena ia tak mau tetapi karena ia ingin menikmati lebih lama bagaimana ia dapat melihat gadis itu. Karna ia tau meski sebesar apapun cinta yang hadir mereka tetap harus berpisah.

Bodoh memang ketika sudah sampai di tempat tujuan tetapi tidak langsung menemui orang yang di tuju, tapi itulah Kim Kibum. Ia bodoh karena rasa cintanya, sedangkan gadis yang menunggunya itu bodoh karena menginginkan cintanya menunggu hingga berjam-jam tanpa mengeluh.

Melihat gadis itu tidak lagi menggosok-gosokan tangannya melainkan beralih menggosok lengannya, Kibum dengan langkah berat menghampirinya. Melepas jas berwarna hitamnya dan mengeratkannya pada pundak kecil gadis itu. Memeluk tubuhnya saat tangan itu mencoba memberikan kehangatan di sana.

“akankah berakhir seperti ini ?” gadis itu tak terkejut sedikitpun saat ada sebuah tangan yang memeluknya, melainkan berkata lirih seolah ia tak akan melihat lagi hari esok.

Sedangkan lelaki itu justru terdiam sambil menyembunyikan kepalanya pada pundak kecil. Berharap ia bisa terus bersembunyi di sana dan tak akan kembali untuk melawan kenyataan hidup yang sangat merumitkan itu.

“apa yang harus aku lakukan ?” ia balik bertanya pada gadis itu.

“anak ini tidak bersalah … ia berhak untuk melihat dunia.” Yoora menghentikan sejenak perkataannya menarik pundak lelaki itu dan menakup kedua belah pipinya mencari sorot mata sendu yang ia rindukan. “anak ini behak untuk melihat dunia. Maukah kau mengalah untuknya ?” meski berat Yoora tetap harus mengatakannya, mengatakan bahwa bagaimanapun  mereka berdualah yang harus mengalah pada titik terakhir.

Kibum terdiam tidak sepatah katapun yang dapat ia katakan, terlalu sakit ketika melihat mata indah gadis itu melelehkan air matanya untuk kesekian kalinya. Mengangkat tangan besarnya untuk menyentuh permukaan perut datar Yoora, mengelusnya dengan lembut tanpa berkata apapun. Walau ia tak merasakan apapun saat menyentuh perut itu, namun hatinya merasakan bahwa ada kehidupan baru di sana.

Mengangkat kepalanya untuk melihat wajah cantik gadis di depannya dan memberikan senyum yang indah. Memeluknya kembali tanpa berkata apapun.

Ketika gadis itu makin memasukan kepalanya pada dekapan yang hangat itu, ia bisa merasakan hembusan nafas pada telinganya, medengar sesuatu dibisikan disana. “jagalah ia … ia berhak untuk melihat dunia.” Setelah bisikan itu Yoora kian mengeratkan pelukannya, berharap waktu akan berhenti namun sepertinya itu tidaklah mungkin.

*******

Waktu terasa seperti berlari, hari demi hari terlewati, bulan demi bulan pun berganti. Kehidupan akan tetap berjalan walau sulit untuk di lalui.

Itupun yang dirasakan oleh Jung Yoora dan Kim Kibum. Ketika waktu seakan berlari namun bagi mereka waktu serasa tidak berputar. Begitu berat untuk melepas perasaan masing-masing, walau berjuta-juta kilometer memisahkan jarak mereka.

*******

Berlin-Jerman, Jumat 19 Agustus 2011

Seorang gadis terbaring lemah dengan jarum yang menusuk permukaan tangan putihnya, serta alat pembantu pernafasan yang tak pernah lepas sejak kemarin. Kondisi yang sangat memprihatinkan bagi siapapun yang melihatnya.

Perutnya sudah tak datar lagi, ada sebuah malaikan kecil yang sekarang menghuni di dalam sana, namun itu terus di bantu oleh alat-alat medis. Kondisi si pemilik malaikat itu tak sebaik yang di perkirakan. Tekanan psikis membuatnya lemah, bahkan sejak kandungannya berusia 3 bulan, ia sudah beberapakali harus di larikan ke rumah sakit.

“bagaimana kondisinya ? apa yang dikatakan dokter itu padamu ?” ibu yang selalu mendampinginya itu, terlihat sangat cemas ketika menanyakan kondisi anaknya pada sang ayah. Sedangkan sang ayah hanya dapat menghela nafasnya panjang, mencoba menjelaskan apa yang ia dengar tentang kondosi putrinya tersebut.

Dokter sudah angkat tangan dengan kondisi Yoora, bukan hanya fisiknya yang lemah namun psikisnya pun sangat terganggu, itulah yang menyebabkan ia tak dapat melepas alat-alat medis selama masa kehamilannya. Dengan kondisi yang seperti itu dokter menyarankan agar janin itu di angkat. Karena jika terus di pertahankan sang ibu bisa saja tidak akan selamat saat proses kelahirannya kelak.

Namun Yoora bersikeras untuk mempertahankan bayi itu, tak ada satupun yang dapat membujuknya. Hingga akhirnya sang ayah mengambil keputusan bahwan sejak usia kandungan Yoora memasuki minggu ke 18 ia harus di rawat inap hingga bayinya kelak lahir.

*****

Rabu 21 Desember 2011

Kondisi Yoora kian memburuk, dalam watu beberapa bulan ini ia telah koma 2 kali karena kondisi tubuhnya yang terus menurun dan janin yang terus membutuhkan kekuatan darinya. Dokter memprediksi bahwa dalam minggu-minggu ini ia akan melahirkan bayi itu.

Secara normal ?. tentu saja tidak, dengan tubuh selemah itu jangankan untuk mengejan, bahkan untuk berjalanpun ia terlalu lemah. Dokter berencana akan mengambil jalan operasi untuk kelahiran bayi Yoora kelak. Namun dokter sudah menjelaskan sedetail mungkin pada keluarga tersebut tentang kemungkinan keduanya akan selamat sangatlah kecil.

appa …” seorang gadis memanggil ayahnya dengan lirih ketika ia di jelaskan bagaimana kondisinya saat ini, dan bagaimana ia akan melewati proses kelahirannya kelak. Sang ayah hanya menatapnya iba, setelah sekian lama ia mendampingi anaknya ia pun merasa tak tega melihat anaknya menjadi seperti ini. Ia yang dulu tak perduli apapun kini menjadi sangat peduli kepada anaknya. Selalu merasa bersalah ketika melihat rintihan dan lenguhan anaknya ketika merasakan sakitnya jarum suntik. Merasa sebuah karma telah jatuh pada keluarganya.

Tangan besar sang ayah mengelus lembut surai hitam anaknya, mencoba memberi sedikit kekuatan dengan sentuhan dan senyuman walau sangat terlihat bahwa itu di paksakan.

“bolehkan aku memohon, satu permohonan lagi.” Anak itu menatap ayahnya. Dan sang ayah hanya dapat mengangguk dan tersenyum tipis.

“ketika operasi nanti … bisakah dokter yang menanganiku itu Kibum.” Berharap ayahnya akan mengabulkan permohonannya. Sedangkan sang ayah hanya dapat menatap heran sang anak.

“anggaplah ini permohonan terakhirku appa.” Yoora melanjutkan perkataannya.

“Yoora …” sang ibu yang sejak tadi hanya memperhatikan kini mulai mengeluarkan suaranya, berharap anaknya tidak benar-benar mengatakan hal tersebut.

umma .. gwenchana.” Mencoba meyakinkan ibunya bahwa ia baik-baik saja.

“aku mohon appa ..” memohon lagi kepada sang ayah berharap keinginannya dapat terkabul.

“baiklah ..” hanya sebuah jawaban dan senyuman yang dapat sang ayah berikan untuk menebus semua kesalahan yang telah ia perbuat selama ini. Berharap ia dapat memberikan sedikit kebahagiaan pada kehidupan anaknya.

*****

Seoul-Korea Selatan, Jumat 23 Desember 2011

Seorang lelaki paruh baya menghampiri seorang dokter muda di ruangannya. Tidak untuk memeriksakan kesehatannya melainkan untuk memenuhi keinginan sang anak.

Ruangan itu berubah menjadi sepi, tak ada seorangpun dari kedua makhluk itu yang ingin memulai untuk berbicara. Hanya saling menatap dan kembali pada pemikirannya masing-masing. Hingga akhirnya lelaki paruh baya itu berdiri dan terdiam sejenak sebelum ia menjatuhkan dirinya di hadapan kaki pemuda itu.

Biarlah harga dirinya jatuh, jika itu bisa menebus kesalahannya selama ini, jika ini bisa membuat putrinya menjadi bahagia ia akan lakukan. Bahkan bersimpuh pada seorang pemuda yang tidak lain juga merupakan anak kandungnya sendiri.

“ku mohon ikutlah denganku ke Jerman. Yoora menginginkan kau yang menaganinya saat operasi kelak.” Kepala lelaki itu merunduk enggan mempelihatkan wajahnya yang merah padam karena malu harus bersimpuh pada pemuda yang jauh lebih muda darinya yang notabene adalah anaknya sendiri.

Kibum terdiam, memandang lelaki itu iba. Ia bingung harus bertindak apa ? di satu sisi ia sangat ingin bertemu Yoora dan disisi lain ia tidak sanggup jika harus bertemu dan berpisah kembali. Hatinya yang sudah susah payah ia tata akan hancur porak-poranda kembali ketika perpisahan harus ia alami lagi.

“aku mohon … lakukanlah ini demi Yoora ataupun demi bayi itu.” Tiada lagi harga diri saat sebuah permohonan di ucapkan oleh lelaki paruh baya itu, kesalahannya di masa lalu sangatlah fatal. Malu ini tidaklah sepadan dengan apa yang di rasakan oleh kedua anaknya.

“berdirilah … jangan memohon seperti itu padaku … tanpa anda minta aku akan melakukannya jika kesempatan itu diberikan kepadaku.” Kibum mengangkat bahu besar itu untuk berdiri, seburuk apapun sifat orang dihadapannya itu ia tetaplah ayah biologisnya. Seorang ayah yang tidak patut untuk bersimpuh pada anaknya sendiri.

“terimakasih … dan maafkan aku.” Lelaki itu menatap sendu kearah anak biologisnya, berharap masih ada rasa maaf dalam hati anaknya tersebut.

“tanpa anda meminta maaf, aku akan tetap memaafkanmu.” Kibum berkata lirih namun di sertai dengan senyuman tulus.

*****

Berlin-Jerman, Senin 26 Desember 2011

Hari ini adalah hari yang akan menjadi saksi kebahagiaan ataukah  kepedihan dari seorang Kim Kibum, dimana ia akan menangani operasi untuk orang yang amat ia cintai, yaitu ibu dari anaknya ataukah harus diingatkan ia adalah adik kandungnya.

Dengan berbekal surat izin dari dokter yang lebih dulu menangani Yoora, Kibum dapat mengoperasi Yoora hari ini. Ia tidak sendiri dalam tugas ini, ia mengajak sang kakak Lee Jinki untuk menemani dan mendampinginya dan juga beberapa orang tim dokter dari rumah sakit tersebut.

***

Dinginya ruang operasi itu tak sebanding dengan dinginnya suhu tubuh seorang gadis yang sedang di bawa menuju ruangan tersebut. Mata gadis itu terpejam rapat, seolah mencoba menghilangkan rasa takutnya.

Ketika cahaya mulai memasuki sela-sela kelopaknya, gadis itu mulai mebuka mata tersebut. Sangat terang ketika melihat lampu operasi yang sangat mencolok ada di hadapannya, menyilaukan segala penglihatannya. Melihat ke sisi samping ada beberapa tim medis yang sedang sibuk memeriksa peralatan dan memasang sarung tangannya. Melihat beberapa pisau operasi membuat suhu tubuhnya menjadi lebih dingin. Ingin rasanya memejamkan kembali matanya untuk menghilangkan rasa takut tersebut, namun sebuah tangan sudah membelainya lembut seolah memberi ketenangan bahwa semua akan baik-baik saja.

oppa … “ gadis itu berkata lirih pada orang yang kini membelainya. Sedangkan orang itu hanya tersenyum tipis mebalas panggilan tersebut.

“sejak kapan kau memanggil ku oppa ?.” sebuah pertanyaan yg ia lontarkan berharap dapat memecahkan kecanggungan yang ada.

“ sejak ku tahu bahwa kau adalah kakak ku.” Yoora berusaha tertawa kecil ketika menjawab pertannyaan tersebut, walau sejujurnya sakit untuk mengakui itu.

Kibum tersenyum mendengar pernyataan Yoora, tangannya yang masih membelai kepala gadis itu turun untuk membelai perutnya yang kini sudah terlihat membesar. Di belainya lembut sampai akhirnya dapat ia rasakan sebuah tendangan kecil dari arah sana. Mebulatkan matanya dan kemudian menatap kembali pada gadis dihadapannya

“ia merindukanmu.” Hanya kalimat itu dan sebuah senyuman yang dapat di berikan Yoora saat Kibum mulai menatapnya intens.

“kau sudah siap ?” Kibum manatap sendu kearah Yoora, di saat dilihatnya semua persiapan tim medis sudah selesai. Dan hanya sebuah anggukan berserta senyuman yang Yoora dapat berikan. Menarik ujung baju hijau milik Kibum, memberikan isyarat pada lelaki itu untuk medekat kepadanya. Membisikan sesuatu pada telinga lelaki itu.

“oppa … bisakah kau membantuku untuk melihatnya nanti … sebelum aku menutup mataku kembali “ terdengar sangat lirih saat permintaan ini ia ajukan. Berharap dapat melihat malaikat kecil itu terlebih dulu jika saja ia tidak selamat dalam operasi ini nanti.

“hhmm … kau akan melihat dan menciumnya nanti.” Anggukan yakin diberikan Kibum untuk menenangkan peasaan gadis itu.

Jarum suntik itu kini mulai menembus permukaan kulit Yoora, kesadarannya semakin menurun dan menghilang ketika bius itu sudah mulai menjalar keseluruh tubuhnya. Operasi berjalan dengan lancar, namun itu tak bertahan lama setelah detak jantung Yoora semakin melemah setelah bayi itu dapat keluar dan melihat dunia.

Berbagai pertolongan medis akhirnya diberikan demi menyelamatkan nyawa Yoora, sedikit demi sedikit detak itu kembali berpacu dan Yoora mulai membuka matanya. Kibum tersenyum ketika melihat gadis itu membuka matanya, mengambil bayi yang baru saja di bersihkan oleh seorang suster untuk beralih kedekapannya. Menyerahkan bayi itu pada Yoora, meletakannya pada sisi ranjang dan mengecupnya singkat.

Tidak dapat berkata, Yoora tak dapat berkata apapun saat ia dapat melihat bayi laki-laki nan lemah itu berbaring di sebelahnya. Hanya air mata yang dapat ia tumpahkan mewakili perasaannya. Berkali-kali ia mengecup bayi itu.

oppa … jagalah ia, aku titipkan malaikat ini padamu. Beri ia kasih sayang yang berlimpah … jangan sekalipun ia merasakan apa yang kita rasakan. Oppa aku rasa waktuku tak banyak lagi … oppa aku ingin kau tahu bahwa aku mempertahankan malaikat ini adalah sebagai bukti betapa aku mencintaimu oppa … saa … raaang … haee opp … ppa …. “ kata-kata itu tersampaikan dengan terputus-putus dengan detak jantung yang semakin melemah. Mengucapkan kata cinta sebagai salam perpisahan yang sangat manis di telinga Kibum, mengecup kening gadis itu ketika mata indahnya sudah tertutup dengan rapat dan tak akan pernah terbuka kembali.

Sorang suster beralih mengambi bayi yang berada di dekapan sang dokter berniat membawanya keruang bayi, namun sesuatu tersadar saat di lihatnya bayi itu begitu lemah dan tanpa pergerakan apapun. Segera ia berteriak dan memanggil tim medis yang lain untuk segera memberikan pertolongan bagi bayi mungil tersebut.

Berkali-kali pertolongan di berikan pada bayi mungil itu namun tidak ada tanda-tanda bahwa detak jantungnya akan meningkat. Beberapa suster sudah memasang alat-alat medis untuk membantu bayi mungil itu untuk bertahan namun tidak ada reaksi apapun sejak tadi. Hingga akhirnya sebuah garis lurus terlihat pada monitor sebuah alat pendeteksi detak jantung tersebut.

Kibum melepas semua alat-alat yang tepasang pada anaknya tersebut. Meletakkan tangannya pada dada mungil itu untuk terus memberikan pertolongan dengan usahanya sendiri.

“bangunlah !! Buka matamu .. !!”

“Please don’t close your eyes.”

Tangan itu tak pernah lelah untuk memompa dada mungil yang ada di hadapannya. Memperjuangkan nyawa orang yang baru saja sangat ia cintai. Terus berdoa di dalam hatinya memanjatkan permohonan agar nafas itu terus dapat berhembus dari tubuh mungil yang ada di hadapannya.

“ki bum-ah, sudahlah relakan ia.”

“ tidak … tidak hyung. Aku percaya ia dapat bertahan, percayalah padaku.” Nafas itu berderu sambil terus memompa dada seseorang berharap detak jantung itu dapat berdenyut kembali.

“oeekk … oeekkk “ sebuah mukzizat menjawah permohonan Kibum. Bayi itu menangis dan kembali.

***

Tepat pada hari ini dua tahun yang lalu untuk pertama kalinya mereka bertemu, dan untuk pertemuan pertama mereka suda merasakan apa yang dinamakan dengan ‘cinta pada pandangan pertama’. Namun semua cinta itu harus di pendam karena kenyataan yang pahit harus mereka terima.

Dan tepat hari ini juga mereka bahagia, dimana hadirnya seorang malaikat kecil yang sangat tampan di tengah-tengah mereka.

Dan tepat hari ini juga mereka merasakan apa arti perpisahaan yang sesungguhnya, di saat mereka tak akan pernah untuk bisa bertemu kembali.

END

Epilog

Apppaaa … “ seorang balita kecil berlari menghampiri sang ayah dan meraihnya dalam dekapannya.

“rindu appa, eum ?” sang ayah bertanya pada anaknya dan mencubit sedikit pipi gembul yang bernodakan coklat itu. Mengelapnya lembut menghilangkan noda-noda coklat tersebut pada pipi dan bibir anaknya.

“heemm … Min Jun cangaaaaaaa~~ttt lindu appa.” Balita itu melebarkan kedua tangannya lucu seolah menggambarkan betapa ia merindukan ayahnya.

“benarkah ?” sang ayah hanya terkekeh melihat putranya yang begitu lucu saat berada dalam dekapannya.

“kau sudah datang … huh, Min Jun sejak tadi begitu rewel bertanya kapan appa-nya akan pulang.” Seorang wanita paruh baya seolah mengadu pada lawan bicaranya ketika harus menghadapi pahlawan cilik berusia 3 tahun itu yang bergitu cerewet.

halmonie … “ balita itu meronta dalam dekapan ayahnya dan meminta turun untuk mendekat pada neneknya itu.

Begini lah sekarang kehidupan seorang Kim Kibum, kini ia memiliki keluarga. Keluarga yang sejak dulu ia impikan. Ada kedua orang tua Yoora yang kini menganggapnya sebagai pengganti Yoora, menerima kasih sayang yang besar dari seorang ibu walaupun bukan ibu kandungnya, dan menerima kasih sayang dari seorang ayah yang selama ini ia rindukan.

Bagaimana dengan kehidupan keluarganya dulu?. Tentu ia tidak dapat melupakan kakak tercintanya Lee Jinki dan ayah angkatnya. Mereka terus berhubungan begitu dekat hingga kini Jinki memiliki pendamping hidup dan baru saja di karuniai seorang malaikat cantik.

Lalu kemana perginya ibu yang telah melahirkannya. Entahlah, setelah wanita itu melihat Kim Min Jun untuk pertama kali ia pergi dan hingga sekarang Kibum terus mencari kemana perginya ibu kandungnya tersebut.

appa … bukankah kita akan belkunjung ke lumah Jinki samcheon, Jun lindu adik cantik.” Min Jun menarik ujung kemeja Kibum yang menjuntai saat di lihatnya sang ayah yang sedang asik berbicara dengan kakeknya yang duduk di ruang keluarga.

“bukankah kita baru ke sana 2 hari yang lalu.” Kibum mencubil hidung anaknya itu gemas.

“Aaaaaaa … pokoknya Jun ingin kecana !.” balita itu tiba-tiba duduk di hadapan ayah dan kakeknya menggoyang-goyangkan kakinya kasar seolah memberitahu bahwa ia sedang merajuk.

Sedangkan sang ayah hanya dapat mengeleng-gelengkan kepalanya dan sang kakek yang tersenyum melihat tingkah mengemaskan cucunya tersebut.

arraseo … kajja.” Kibum mengangkat tubuh anaknya itu dalam dekapannya dan berpamitan pada ayah dan ibunya.

“eemmm … appa bicakah kita ke tempat umma dulu cebelum beltemu adik cantik. Jun ingin belcelita pada umma, bahwa Jun cekarang tidak lagi cendili kalna adik cantik sudah menemani jun.” balita itu menatap ayahnya sambil bergelayut manja pada leher ayahnya yang mendekapnya sejak tadi.

“baiklah pangeran … kita berangkat sekarang ?” kibum mengangguk dan mengacak pelan puncak kepala anaknya tersebut.

“BELANGKAATTTTT … !! “ Kim Min Jun berteriak gembira sambil mengangkat ke atas sebelah tangannya yang terkepal.

Sekarang benar-benar …

E

N

D

Note Ryu : endinnggggggg ….. hahahahaaa. Senang akhirnya selesai juga ngetiknya. Oya kalau ada yang bingung Kibum ama Jinki itu dokter apa, anggap aja deh mereka dokter kandungan biar sesuai ama jalan cerita. Hehehehee *maksa banget :P. ya udah deh cukup sekian cuap2nya. Sampai berjumpa di ff selanjutnya dengan judul yang berbeda ya … bayyy..bayyyyyyyy

Oya jika ada kesalahan dalam hal apapun mohon dimaafkan ya .. J

*inget wajib komen ya abis baca .. hihihihiiii 😛

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

Advertisements

7 thoughts on “Don’t Close Your Eyes [2.2]”

  1. aogo ~ udah lama aku nunggu ff ini =D tapi, Ya Tuhan ~ kasian banget mereka 😥 kenapa pas banget mereka itu sodaraan ? Berarti semuanya salah nya si appa nya yoora dong yah ? =D

  2. yha!
    Ngenes banget sih mereka..
    Heuheu..
    Happy end.. Tpi tetep aja nyesek..
    Min jun pasti cakep.. Aku ngbayangin besarnya nanti seperti jun.k 2pm.. Wahahaha
    keep writing..

  3. Ryu-ssi, sebelumnya saya agak lupa ini ceritanya yang mana.. Alhamdulillah ya, Kibum mau bertanggung jawab…
    Tapi jadi miris begitu tau ternyata Kibum-Yoora kakak adik satu ayah. Mengharu biru baca paragraf selanjutnya sampai proses Yoora melahirkan..
    Syukurlah, happy ending pas baca epilog-nya. Jangan2 Min Jun sama anaknya Jinki nanti berjodoh 😉
    Ryu-ssi, saya suka ff-nya.. ditunggu karya lainnya, keep writing..! 🙂

  4. Tenyata dugaanku salah 😛 Tapi… Kibum ama Yoora kakak adik ternyata!!! Bener2 ga ketebak.
    Ceritanya ngenes bgt T.T menyntuh.. Keren…
    Tapi aku masih ngeliat byk typo, hhe. Keep writing yaa 😉

  5. Nangis beneran ya ampun ngenes banget hubungan mereka,,dan proses lahirannya huee banjir banjir T.T
    tapi syukurlah kibum bahagia ma orang tua yoora dan min jun..seenggaknya masih ada kebahagiaan untuk abang konci yeay..
    eh jangan2 ntar min jun cinlok(?) ma adik cantik lagi haduh bakal panjang urusan klo kya gitu hehe,,

    oke semangat ya buat next ff!! 😉

  6. Annyeon Ryu-ssi, maaf baru sempet RC, sibuk sm Dream Boys kita yg lg comeback.

    Referensi ttg pasien koma yg sedang mengandung adakah?
    Saya mau lihat^^

    oiya, saya merasa bagian yg di kamar operasi itu, tll singkat. Sehingga terkesan janggal buat saya, buat saya aja loh, kyknya yg lain gak ngerasa. *plak
    maaf, tll serius mikir.

    Nice FF, bikin saya nangis2 pagi buta..huweeee…

    Keep writing, ne?

Leave a Reply to widiaflame Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s