Forgiven

forgiven

Title: Forgiven

Author: Ayachaan

Main cast: Kim Jonghyun, Kim Nara

Support cast: Lee Taemin, Kim Joana, Shin Se-kyung (just mention)

Length: Long oneshoot (> 4,500 words)

Genre: Romance, Sad

Rating: G

Disclaimer: I own the story and a little bit characters. Kim Jonghyun belong to himself, Kim Nara belong to Kak Nandits (@nandits). Don’t copy without permissions.

Note: Italic font adalah alur flashback dan author POV. FF ini sudah mengalami beberapa revisi oleh masukan beberapa orang. Makasih buat kak Nandits yang menyarankan nama Kim Joana. Pernah di-publish di wp pribadiku (November Rain).

HAPPY READING ^^

==============================

FORGIVEN

 

            Keheningan seolah menjadi raja bagiku dan seorang namja di depanku. Tak ada suara riuh rendah yang menjadi tanda terjalinnya percakapan antara kami. Aku memilih diam—atau lebih tepatnya menunggu dia bicara—setelah pernyataan frontalnya beberapa waktu lalu. Namun, sepertinya dia juga berpikir layaknya aku.

Kualihkan perhatian pada rinai hujan yang mengguyur Seoul siang ini. Hujan pertama yang kulihat di ujung musim dingin setelah banyaknya gundukan salju. Meskipun udara masih terasa dingin menusuk, namun hujan kali ini seperti menjadi pembuka musim semi.

“Nara-ya,” panggilnya.

Untuk beberapa saat aku enggan menoleh sebagai gerak refleks akan panggilannya. Mendadak saja ketakutan yang sejak tadi berusaha kuredam, memberontak keluar tanpa ampun.

“…mianhae,” lanjutnya.

Hatiku sontak mencelos kecewa. Pelan-pelan kuberanikan diri untuk memandang wajahnya. Alisnya tebal dan menaungi mata cokelat yang selalu berpendar cerah ketika berbicara denganku; rahangnya akan tercetak tegas saat dia mengulas senyum; rambut cokelat gelapnya yang lembut dan harum; bahunya yang tegap, selalu menjadi tempat ternyaman untukku menyandarkan diri.

“Nara-ya, kumohon bicaralah,” pintanya.

Aku terpekur sesaat. Sudah terlalu lama ‘kah aku mengatup mulut dan menghambat kinerja pita suaraku?

Aku menahan napas. “Jonghyun-ah,” ucapku tercekat. Rasanya suaraku tertahan begitu saja di kerongkonganku. “Waeyo?” lanjutku. Pertanyaan simple itu adalah satu-satunya tanya yang dapat diformulasikan otakku.

Dia nampak menarik napas sesaat sebelum berujar lancar. “Aku akan pergi ke Jepang sehari setelah pernikahanku dengan Se-kyung. Aku hanya ingin berpamitan denganmu.”

Hilang sudah semuanya. Tidak akan ada lagi mata teduh yang berpendar cerah untukku; serta aroma harum tubuhnya yang menjadi obat penenang ketika dia memelukku. Kupikir aku tidak akan pernah dibuat kecewa oleh orang yang paling kupercayai dan kusayangi. Tapi nyatanya keadaan justru berbanding terbalik. Kupikir kejadian pertama di bulan Desember lalu akan berlalu seiring dengan bergantinya musim dingin menjadi musim semi. Namun ternyata, dia telah memilih dan aku tidak menjadi yang terpilih.

Apakah dia lupa kisah kami setahun lalu?

***

Februari, Gyeoul (musim dingin).

            Suara riuh rendah terdengar dari sudut-sudut coffee-shop kecil itu. Lotte The Coffee adalah sebuah coffee-shop—yang jika dibandingkan dengan coffee-shop lainnya—berukuran lebih minimalis. Namun, jangan ragukan cita rasa kopi disini. Semua bahan-bahan dalam pembuatan kopi dipilih langsung oleh pemiliknya—yang juga penggemar kopi. Hal ini tentu saja bisa menjadi jaminan akan rasa yang ditawarkan.

            Tempat ini lebih sering melayani takeaway. Karenanya hanya ada lima meja dengan dua atau empat kursi yang menjadi teman sebuah counter di sudut kiri. Dindingnya dominan warna cokelat dengan sentuhan cream dan sedikit merah maroon, tertempel juga beberapa gambar tentang sejarah singkat kopi di Korea. Menu-menu yang ditawarkan oleh Lotte The Coffee selalu diperbaharui setiap harinya. List-nya tertera di sebidang papan tulis kecil dan ditulis dengan kapur warna-warni.

            “Annyeong, Noona.”

            Seorang gadis yang berada di balik counter menoleh saat merasakan pundaknya disentuh oleh seseorang. Ia menghentikan pekerjaannya menghaluskan kayu manis dan tersenyum. “Annyeong, Taemin,” sahutnya.

            Taemin terkekeh sesaat sebelum menempatkan dirinya di depan mesin kasir. Siap menerima pesanan pengunjung.

            “Saya pesan secangkir Americano dan dua buah Cinnamon Roll. Tolong tambahan kayu manis di kopinya,” pesan seorang pelanggan.

            Taemin sigap memberdayakan jemarinya di atas tombol-tombol mesin kasir sembari mengulang pesanan lelaki di depannya.

            “Take-away?” tanya Taemin. Dan lelaki itu menggeleng dalam diam.

            Taemin menyebut nominal harga yang harus dibayar. Sesaat kemudian, dengan senyum ramahnya dia berujar, “Silakan tunggu di meja nomor satu, kami akan segera mengantarkan pesanan Anda.”

            “Nara-noona, kayu manisnya sudah selesai?” bisik Taemin.

            Nara mempercepat kerja tangannya di mesin penggiling kayu manis. “Sebentar lagi,” jawabnya pelan, enggan mengalihkan konsentrasi.

            Taemin mengangguk paham, lalu beranjak untuk menyiapkan pesanan lainnya.

            Nara menaruh serbuk kayu manis pada sebuah toples kaca, lalu berniat membawanya ke dapur bersama mesin penggiling yang hendak ia bersihkan. Tiba-tiba ia teringat akan seseorang yang meminta tambahan kayu manis pada kopinya. Ia bergegas menghampiri Taemin.

            “Taemin-ah, ini kayu manisnya.”

            Taemin menghentikan pekerjaannya memilah biji-biji kopi dan memandang Nara dengan pandangan bisakah-noona-yang-membuatkan-kopinya?

            “Ah, baiklah, aku mengerti Taemin,” kata Nara cepat. Puppyeyes Taemin barusan sudah lebih dari cukup. Tsk, andai saja Taemin bukan adik dari kakak iparnya… oh, tapi, biar saja, Taemin sudah banyak membantu sejak coffee-shop ini pertama kali dibuka.

 

            “Sillyemnida, ini pesanan Anda, maaf harus menunggu lama.”

            Nara menaruh secangkir Americano beserta piring kecil dengan dua buah Cinnamon Roll. Tak lupa ia membungkuk sebagai permintaan maaf.

            Lelaki itu mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku tipis yang penuh barisan nada. Mungkin dia seorang musisi, pikir Nara. Ia tak ambil pusing dan segera menjauh.

***

            “Ehem,” Taemin berdeham dengan suara nyaring yang disengajakan.

            Nara sigap menoleh pada namja berambut cokelat madu di sampingnya. Ia langsung dihadiahi Taemin tatapan tajam. Sesaat kemudian Taemin melirik ke arah sudut coffee-shop.

            “Aku akan memintanya pergi dengan baik-baik,” ujar Nara.

            Tanpa harus menggunakan kata-kata pun Nara sudah mengetahui maksud pandangan Taemin. Namja di sudut sana—yang duduk di meja nomor satu—sejak tadi siang belum juga berniat untuk beranjak pergi. Padahal, saat ini langit Seoul sudah sepenuhnya membiru gelap dan Lotte The Coffee hendak tutup.

 

            “Sillyemnida,” ucap Nara sembari menarik kursi di depan lelaki itu dan duduk disana.

            Lelaki itu tidak menjawab. Dia tetap menggoreskan pensilnya di atas kertas, membentuk barisan nada.

            “Sillyeimnida,” Nara mengulangi kata-katanya.

            Lelaki itu akhirnya mengangkat wajah, matanya yang cokelat gelap segera bersitatap dengan tatapan ramah Nara. Sesaat dia nampak tercengang, lalu mengulas senyum.

            “Maaf?” sahutnya.

            Nara tersenyum ramah—berusaha tidak memberikan kesan negatif pada pelanggannya.

            “Anda sudah duduk sejak tadi siang,” ucap Nara, ia melirik ke luar coffee-shop sebentar sebelum melanjutkan kata-katanya. “Dan sekarang sudah malam.”

            Lelaki berjaket kelabu itu menoleh ke arah kirinya dan dia menemukan langit Seoul sudah menjadi kanvas bagi lampu-lampu yang berpendar jingga.

            Dia kembali menatap Nara. “Mianhamnida,” lelaki itu membungkuk dalam duduk dan bergegas membereskan barang-barangnya.

            Nara ikut beranjak ketika lelaki itu mulai melangkah, berniat keluar dari coffee-shop.

            “Maafkan kami, lain kali Anda bisa datang kembali,” seru Nara tepat ketika lelaki itu telah berada satu langkah di luar pintu masuk.

            Dia mendadak berhenti, lalu berbalik pelan. “Apakah coffee-shop ini selalu menambahkan kayu manis pada setiap sajian kopinya?” tanya lelaki itu.

            Nara mengerutkan kening. Walaupun bingung, ia memilih untuk tetap menjawab. “Aniyo, kami hanya menambahkan kayu manis jika pelanggan memintanya.”

            “Oh, begitu.” Namja itu memangut-mangut.

            “Apakah kau suka kayu manis?” tanyanya lagi.

            Nara sedikit terperangah, namun kemudian mengulum senyumnya. Ia jarang sekali menemukan seseorang bertanya tentang kesukaannya pada kayu manis. Kebanyakan dari mereka tidak mengistimewakan kefanatikan Nara pada kayu manis. Sehingga tanggapan biasa-biasa saja selalu Nara dapatkan ketika ia mengungkit kesukaannya itu.

            “Ne, aku menyukainya, sangat menyukai kayu manis,” jawab Nara pasti.

            Lelaki itu tersenyum—bukan lagi senyum tentatif yang beberapa waktu lalu diperlihatkannya—kali ini, senyum itu nampak tulus bagi Nara.

            “Aku juga sangat menyukai kayu manis,” sahut lelaki itu dengan senyum yang lebih lebar.

            Nara tak bisa menahan untuk tidak tersenyum. Ia tersenyum lebar, bahkan mungkin terlalu lebar untuk kategori senyum bagi orang tak dikenal. Namun, Nara merasa seperti menemukan sepenggal puzzle yang telah lama hilang saat mengetahui kesamaan mereka.

            “Bolehkah saya berkunjung lagi ke sini?” pertanyaan lelaki itu menarik kembali perhatian Nara.

            “Tentu saja,” jawab Nara cepat. Sedikit nada bahagia terselip dalam kosakatanya, dan ia tak tahu dari mana nada itu berasal.

***

            Nara mengira pertemuan itu hanyalah sebuah bagian kecil dari untaian takdir yang digariskan Tuhan untuk kehidupannya. Namun, ketika lelaki itu kembali datang keesokan harinya—dan di hari-hari selanjutnya—Nara tahu akan ada hal yang berubah dari kesehariannya—sebentar lagi.

           

            “Kim Jonghyun imnida,” ucap lelaki itu, keesokan harinya.

            Dia membawa sebuah gitar akustik dan untuk pertama kalinya Nara mendengar nyanyiannya. Suara lembut yang merasuk dan menyentuh relung hati Nara tanpa permisi.

           

            “Aku membuat Cinnamon Chip Scone,” ucap Nara, di hari kesekian. Ia membawakan Jonghyun beberapa potong kue kecokelatan yang terbuat dari tepung gandum dengan lelehan caramel di atasnya. Dan tentu saja secangkir Americano dengan tambahan kayu manis.

            Jonghyun memang tak datang setiap hari—karena pekerjaannya. Ah, tebakan Nara benar kala itu, Jonghyun memang seorang musisi—tepatnya—dia seorang pencipta lagu.

            Hari-hari di penghujung musim dingin mendadak terasa hangat. Senyum cerah Nara beriringan dengan kehangatan musim semi yang mulai merayap. Kedekatan yang terjalin pelan-pelan, persis seperti kelopak cherry-blossoms yang melayang-layang sebelum akhirnya jatuh menyentuh tanah.

***

Maret, Bom (musim semi).

            Awal musim semi adalah saat-saat bermulanya hari-hari cerah di Seoul. Mentari tak lagi begitu malu-malu menampakkan sinarnya, udara berangsur-angsur hangat, langit kelabu mulai membiru, pertanda mekarnya cherry-blossoms.

            “Benar ‘kan kubilang, di minggu kedua musim semi, cherryblossoms sedang indah-indahnya,” seru Jonghyun.

            Nara yang berjalan di sampingnya mengangguk semangat. “Aku percaya padamu, Jjong,” sahutnya.

            Mereka berjalan berdampingan di sepanjang jalan taman seberang kantor KBS. Taman itu tak terlalu besar, tapi juga terlalu tidak kecil. Cukup untuk melepas penat, dan tentu saja, menikmati momen mekarnya cherryblossoms.

            Pohon-pohon cherry-blossoms di tanam berjajar di sepanjang jalan setapak yang melingkari taman itu. Setiap dua atau tiga pohon terdapat bangku taman yang terbuat dari tembaga beserta sebuah lampu taman di belakangnya.

            “Agak dingin, ya,” keluh Nara.

            Jonghyun menoleh dan sigap menarik tangan Nara keluar dari saku cardigan-nya, lalu merengkuhnya dalam genggaman. “Sudah lebih hangat?”

            “Ish, kau mencoba merayuku?” Kentara jelas rona merah jambu di pipi Nara. Namun, ia berusaha keras menyembunyikannya lewat ucapannya yang sarkastis.

            Jonghyun menahan tawanya. “Aku malas merayumu.” Nada bicara Jonghyun berbanding terbalik dengan esensi ucapannya; lembut.

            Nara menarik tangannya tanpa kata-kata lalu berjalan mendahului Jonghyun. Ia melangkah menuju sebuah jembatan kayu dan menyadarkan bobot tubuhnya di tepi jembatan. Gadis berambut hitam itu menatap ke bawah, ke arah sebuah sungai kecil di bawah jembatan. Jernihnya air sungai itu nampak hampir tertutup oleh kelopak-kelopak putih dengan flek-flek pink yang berjatuhan dari ranting pohon cherry-blossoms.

            Nara merasa hangat—tiba-tiba saja—ketika tangannya yang bertumpu di tepi jembatan di tumpuk oleh sepasang tangan lain. Ia ingin berbalik dan menoleh, tapi berat tubuh Jonghyun di belakangnya menghalangi Nara. Deru napas Jonghyun menerpa pipi Nara, membuat dada gadis itu berdentum tak terkendali. Bahkan, ia sendiri khawatir Jonghyun dapat mendengar detak jantungnya.

            “Nara-ya,” panggil Jonghyun dengan suara agak berat. Terdengar sebuah kegugupan yang berusaha keras dia tutupi.

            “Ne,” sahut Nara pelan.

            Jonghyun meremas tangan Nara. “Saranghae,” ucapnya tepat di telinga Nara.

            Nara bergeming. Ia tak pernah menyangka akan secepat ini pernyataan cinta keluar dari mulut Jonghyun. Ini terlalu cepat, hati kecil Nara menyadari hal itu. Namun, anehnya ia justru membalik telapak tangannya—semakin mempererat genggaman tangan mereka.

            Lalu dengan suara rendah ia berujar, “Nado.” Dan luruhan kelopak cherry-blossoms menjadi saksi terikatnya kasih antara mereka.

***

Juli, Yeoreum (musim panas)

            Hari-hari sejuk di musim semi perlahan meninggalkan Seoul lewat deru angin yang mulai terasa panas. Matahari memberikan sinar yang melimpah, lalu semua jadwal pekerjaan perlahan-lahan berkurang hingga kosong sama sekali. Kemudian janji-janji perjalanan mulai direncanakan bersama orang-orang terdekat.

            Jonghyun dan Nara melalui liburan musim panas mereka dengan membuat piknik kecil di taman. Atau ketika mereka rindu udara yang sedikit sejuk, kegiatan mendaki gunung menjadi pilihan mereka.

            “Jonghyun-ah, kita belum mencoba menghabiskan hari di pantai,” ucap Nara ketika ia dan Jonghyun membenahi Lotte The Coffee di salah satu malam musim panas.

            Jonghyun yang sedang menarik tirai sontak menoleh. “Bagaimana dengan Jeju?” tawarnya.

            Nara menatap Jonghyun dengan mata berbinar cerah. Detik berikutnya anggukan penuh semangat diberikan Nara untuk kekasihnya itu. Jonghyun bergerak mendekati Nara, meraih puncak kepala gadis itu dan mengecup keningnya.

            “Kajja,”

            Nara memperhatikan tangannya yang nampak mungil dalam genggaman Jonghyun. Ia menyukai rasa hangat yang mengalir menyentuh hatinya lewat genggaman tangan Jonghyun. Dan ia berharap, tangan Jonghyun hanya akan menggenggam tangannya—selamanya.

***

Oktober, Gaeul (musim gugur).

            Sinar matahari yang terik dan udara yang membara mulai berkurang oleh arus sejuk angin musim gugur. Di sepanjang jalan daun-daun beragam warna bertebaran, mulai dari kuning, kuning kejinggaan, hingga kuning kemerahan yang nampak semarak.

            Nara dan Jonghyun menghabiskan waktu mereka dengan bergandengan tangan sembari menyusuri jalan di taman kota. Luruhan daun-daun maple menemani setiap langkah kaki mereka.

            “Cantik, ya,” seru Nara.

            Jonghyun semakin mengeratkan genggaman tangannya. “Jangan bilang baru kali ini kau begitu menikmati musim gugur?”

            Nara melirik Jonghyun dengan wajah sinis yang dibuat-buat. “Memang bukan! Tapi, ini kali pertama aku menghabiskan hari-hari musim gugur bersama seorang lelaki penyuka kayu manis.”

            Jonghyun menarik Nara hingga punggung gadis itu tersandar di batang pohon maple yang kokoh. Pandangan Jonghyun tajam menembus manik-manik mata Nara, kontan membuat gadis itu hilang kendali akan detak jantungnya.

            “Kau ingin melewati banyak musim gugur bersamaku?”

            Nara terdiam sesaat sebelum akhirnya mengulas senyum manis. “Ne, aku ingin melewati sebanyak mungkin musim gugur bersamamu.”

            Jonghyun tak lantas memberi tanggapan pada pernyataan Nara. Dia justru membiarkan instingnya mengendalikan setiap saraf dalam tubuhnya. Dan—mungkin—itulah yang disebut cinta ketika Jonghyun bergerak maju lalu mengecup kedua belah bibir Nara.

***

Desember, Gyeoul (musim dingin).

            Seharusnya—seperti janji mereka kala musim gugur—Jonghyun tetap ada di samping Nara ketika hari-hari sejuk bertransformasi menjadi butiran-butiran salju. Udara dingin yang menusuk seharusnya dapat menjadi perekat kasih diantara mereka. Namun, segala bentuk kalimat dengan awalan ‘seharusnya’ itu hanya akan menjadi tumpukan pengharapan.

            “Eomma telah memilihkan seorang wanita untukku,” ucap Jonghyun di bawah guguran salju ketika mereka berniat menghangatkan diri di sebuah café.

            Seakan ada ribuan jarum yang menghantam seluruh tubuh Nara ketika ia mendengar lanjutan kalimat Jonghyun.

            “Eomma bilang ia wanita yang baik. Dan aku….” Jonghyun nampak begitu sulit melanjutkan kalimatnya. Sementara Nara tak juga mampu memformulasikan sebuah tanggapan.

            “…aku akan berusaha mencintainya.”

            Nara membiarkan setetes airmata jatuh membentuk relief wajahnya. Untuk pertama kalinya, ia memperbolehkan Jonghyun melihat kerapuhan hatinya.

***

            Kusudahi ingatan tentang satu tahun lalu. Meskipun aku mengingat kenangan itu dengan jelas dan menyelami perasaan bahagia yang tercipta, hal sebaliknya justru terjadi pada Jonghyun.

Otaknya mungkin masih mengingatnya, tapi tidak dengan hatinya. Ingin sekali aku berteriak di depan wajah Jonghyun. Mana janjimu dulu Jjong? Bukankah kita berjanji untuk menghabiskan banyak musim gugur bersama? Ah, tidak hanya musim gugur, tapi juga musim-musim lainnya. Namun, segala kata-kata yang telah terencana itu luruh menjadi hembusan napas lelah ketika keluar dari kedua belah bibirku.

Tanganku terasa hangat. Kuangkat kepalaku dan aku menemukan Jonghyun menggenggam erat tanganku.

Mianhae, Nara-ya,” mohon Jonghyung dengan matanya yang nampak sayu.

Aku menggigit bibir, berusaha keras menahan emosiku agar tak berbuah airmata. Aku tidak ingin menangis disini. Keadaan ini sudah kuprediksikan tatkala Jonghyun menyebut tentang perjodohan ini untuk pertama kalinya. Maka tak ada alasan untukku menangis bukan? Tsk, tapi kenapa dada ini sesak sekali.

Jonghyun masih menggenggam erat tanganku. “Kau punya tempat tersendiri, Nara-ya,” ucapnya parau.

Apa gunanya kata-kata itu sekarang, Jjong? Toh, pada akhirnya kau tetap memilih untuk meninggalkanku. Walaupun setengah hatiku dapat menolelir keinginan Jonghyun berbakti pada Ibunya, bagian lain hatiku tetap berontak tak rela. Mengapa harus ada kandidat wanita selain aku?

“Nara-ya,” panggil Jonghyun. Aku mengikuti pergerakan tangannya yang menarik tanganku. Aku tersentak ketika dia mengecup punggung tanganku dengan sangat lembut. Kenapa kau bersikap seperti ini, Jjong? Kau membuat secercah harapan menyembul dari sudut hatiku.

Aku menarik paksa tanganku. Kutatap mata Jonghyun, berusaha mencari tambahan kekuatan dari tatapan matanya. Mana ketenangan yang selalu kudapatkan saat menembus mata cokelatmu, Jjong?

“Semoga kau bahagia. Selamat tinggal, Jonghyun-ah,” ucapku penuh penekanan. Detik selanjutnya aku telah berjalan keluar dari café dengan langkah yang kurasakan begitu gamang. Aku berharap Jonghyun mengejarku, mengatakan bahwa dia akhirnya ingin melakukan perlawanan terhadap petuah sang Ibu. Juga memberiku keyakinan bahwa kami bisa meyakinkan Ibu Jonghyun untuk menerima kehadiranku. Bahwa aku juga bisa menjadi menantu impian beliau.

Namun, hingga langkahku telah sejauh dua bangunan dari café tadi, tak jua kudapati sebuah tangan kokoh menghentikan langkahku. Aku berhenti melangkah, menahan napas dan sedikit mencondongkan tubuhku untuk menoleh ke belakang.

Aku mengenalinya. Siluet tegap seorang lelaki bermantel abu-abu dengan paduan denim dan sepatu converse. Tapi, kenapa sosok itu berjalan membelakangiku? Mengapa melangkah semakin menjauh?

Seluruh kekecewaanku tumpah ruah begitu saja. Jonghyun keluar dari café itu, tapi, tidak untuk mengejarku. Dia mungkin memilih pulang atau pergi untuk memulai kencan baru dengan calon wanitanya.

“Jonghyun-ah… kumohon, jangan pergi.”

Kata-kataku luruh bersamaan dengan isakan samar yang menyelip keluar. Emosiku sudah tak bisa dibendung lagi. Kubiarkan kakiku kembali melangkah, membawa serta kerapuhan hatiku.

***

            Kurapikan cangkir-cangkir putih bersih dan menyimpannya di lemari. Hari sudah sepenuhnya gelap dan geliat keramaian Seoul serta-merta berkurang oleh semakin tingginya singgasana bulan. Coffee-shop milikku pun sudah tak lagi menerima pengunjung—walaupun sebenarnya memang tak ada lagi pelanggan yang akan singgah. Jalanan di luar coffee-shop hanya diisi oleh lalu-lalang kendaraan serta segelintir pejalan kaki.

“Nara-noona,”

Aku menganggkat kepala dan menemukan wajah ramah Taemin tersenyum di depanku.

Noona sejak tadi melamun saja,” katanya datar.

Aku mengerutkan kening. “Aku sedang merapikan cangkir Taemin-ah,” kilahku.

“Hanya tanganmu yang melakukannya, tidak dengan pikiranmu, Noona. Sudah lah, lebih baik kau keluar dari balik counter dan menikmati ini bersamaku.” Taemin menggoyangkan sekotak pizza di tangannya.

Hei, kapan dia memesan pizza delivery itu? Tsk, mungkin benar yang dikatakan Taemin, aku terlalu larut dalam lamunan hingga tak menyadari hal-hal kecil yang terjadi di sekitarku.

Noona, ayo,” desak Taemin.

Aku terkesiap. “Tunggu sebentar, aku ambilkan orange juice dulu,” sahutku.

Aku duduk di depan Taemin setelah mengambil sekotak jus dan dua buah gelas. Taemin langsung mengambil gelasnya dan menuang jus, sementara aku mengambil sepotong pizza.

“Kau akan hadir besok, Noona?” Tanya Taemin hati-hati.

Aku tersentak mendengar pertanyaannya walau nada suara Taemin begitu rendah. Kupandangi wajah namja yang berumur satu tahun dibawahku itu. Kurasa seharusnya dia tidak perlu menanyakan hal itu. Aku terlalu malas mengingat segala detail dari perhelatan akbar besok.

“Hm, mianhae, Noona. Seharusnya aku tidak bertanya.” Taemin nampak salah tingkah.

Aku berusaha mengulas sebuah senyum tulus padanya. “Gwenchana. Tapi, kurasa aku… tidak akan datang,” jawabku untuk pertanyaan pertama Taemin.

Waeyo?” tanya Taemin lagi.

Aku menatapnya lekat. Astaga, terlalu polos ‘kah namja ini?

“Kau tidak tahu rasanya, Taemin-ah,” kataku pelan.

Taemin menegakkan tubuhnya. “Noona, aku memang tidak tahu, karena aku tidak pernah mengalaminya dan aku bukan wanita. Tapi, aku sudah menganggapmu kakakku sendiri. Aku tidak mau membiarkanmu berlarut-larut seperti ini,” ucap Taemin.

Sejenak aku terpana akan kedewasaan yang kentara dalam kata-kata Taemin. Aku tahu dia hanya ingin menghiburku. Namun, seperti apapun hiburan yang ditujuan padaku, otakku tetap tidak mampu menerjemahkannya sebagai impuls untuk tertawa. Rasanya semua inderaku mati rasa, tertimbun oleh rasa sesak.

“Hidup tidak pernah peduli pada pahit manis kisah yang terurai dalam perjalanannya. Tidak ada waktu untuk tinggal diam, Noona. Kau harus tetap berjalan maju, tanpa menoleh—bahkan sekadar melirik—masa lalu,” lanjut Taemin.

Aku tertunduk, mendadak saja aku seperti kehilangan wibawa ketika nasihat Taemin menyerbu gendang telingaku. Dibalik semua itu, aku menyerap analogi sederhana Taemin barusan.

Aku sadar, aku tak bisa terus larut dalam kubangan kecewa dan rasa sesak yang membelenggu. Hidupku masih panjang, ada beragam target pencapaian lain yang beberapa waktu lalu sempat kulupakan. Tapi, disaat aku berusaha meyakinkan diri, secercah tanya timbul-tenggelam dalam hatiku. Bisakah aku kembali seperti sedia kala—ketika aku belum bertemu Jonghyun?

***

            Aku melirik seorang pejalan kaki yang berdiri di etalase coffee-shop. Sepertinya ia sedang menunggu taksi. Perhatianku tak sepenuhnya tertuju pada wanita muda itu, aku hanya memandanginya sebagai sebuah titik fokus tanpa berusaha memperhatikan dirinya.

Ketukan jemari yang menghantam permukaan meja sedikit-banyak membuyar lamunanku. Aku tahu namja bersenyum manis di depanku kini sedang menunggu responku. Dia termasuk dalam jajaran orang-orang dengan kemampuan bersabar di atas rata-rata, karena semenjak cerita panjang yang dia sampaikan dua puluh menit lalu, aku tak juga memberikan tanggapan verbal.

Aku melirik wajahnya dari ujung mataku dan ternyata dia juga sedang memandangku dengan intens. Wajahnya yang sedikit feminim itu menyiratkan kebosanan yang berusaha keras dia redam.

“Kenapa kau menceritakannya padaku?” akhirnya aku mengeluarkan sebuah tanggapan—yang tadinya susah payah kurangkai. Aku tak ingin suasana hatiku yang sebenarnya terbaca oleh siapapun—termasuk Taemin.

Taemin mengerutkan keningnya. “Eh?” dia tergagap sesaat—mungkin tak menyangka aku akan memberinya tanggapan seperti itu. “Kupikir kau memang harus mengetahuinya, Noona,” lanjut Taemin.

“Tsk, tidak ada gunanya, Taemin. Semuanya sudah berlalu sejak dua tahun silam,” sanggahku.

Taemin menyandarkan tubuhnya ke sandaran empuk sofa kecil yang didudukinya. Dia menghela napas pelan. “Berhentilah bersikap seolah kau baik-baik saja selama ini, Noona.”

“Aku memang baik-baik saja,” kilahku cepat.

Hei, itu benar! Aku baik-baik saja bukan? Selama dua tahun belakangan aku tetap makan teratur, berat badanku juga selalu berada di angka ideal. Aku mengelola coffee-shop dengan cukup baik. Terbukti dari beragam menu bakery baru hasil eksperimenku di dapur. Bahkan, dari hari ke hari, aku selalu mendapatkan tambahan pelanggan tetap. Nah, bukankah aku baik-baik saja?

“Kau gila kerja, Noona,” desis Taemin.

Aku tersentak mendengarnya. Taemin memang sering memintaku—atau tepatnya—menasihatiku untuk tidak terlalu memaksakan diri. Selain menumpahkan seluruh perhatianku pada coffee-shop ini, aku juga mulai kembali menulis. Beberapa waktu lalu, bersama seorang teman, aku menerbitkan sebuah novel. Dan sekarang, kata-kata Taemin barusan seperti sebuah panah yang melesat cepat lalu berhenti di depan wajahku, membuatku terperangah.

Aku menghindari kenyataan itu. Aku bekerja karena aku menyukainya dan aku… aku… mungkin aku berusaha menyibukkan diri.

Kudengar Taemin terkekeh pelan. Aku menatapnya dengan pandangan bingung.

“Hidupmu memang terus berlanjut, Noona, tapi tidak dengan hatimu. Benda itu masih saja diam di tempat, bukan begitu?”

Aku mendengus. “Berhentilah bicara seperti kau tahu segalanya, Taemin-ah.”

Taemin menggelengkan kepalanya. “Aku hanya berpikir, mungkin ini adalah ulah nasib. Kalian sedikit dipermainkan, sebelum akhirnya jalur hidup kalian kembali bersimpangan,” katanya dengan mimik sok serius.

Aku tak bisa menahan gelak tawaku. “Kau bercanda? Itu hanya bualanmu, Taemin-ah. Sebuah kalimat tentang pengharapan,” sahutku.

Taemin mendengus dan beranjak dari duduknya. Sebelum dia benar-benar berlalu melewatiku, namja ini meremas pundakku.

“Aku menyayangimu, Noona—seperti kakakku sendiri, kau tahu itu ‘kan? Aku hanya ingin kau bahagia,” ujarnya.

Taemin kemudian kembali ke balik counter dan mulai merapikan gelas-gelas yang masih tersisa. Aku terpekur sejenak, sebelum ikut bangkit dan menutup Lotte The Coffee dengan pikiran yang terus berputar dan hati yang mendadak hangat oleh kata-kata Taemin.

***

            Kuhirup udara sejuk yang terkesan dingin di awal musim gugur, membiarkan bau khas dedaunan kering memenuhi indera penciumanku. Semilir angin yang berembus pelan membawa helaian daun maple hingga beberapa menerpa tubuhku, sebelum kembali terbawa aliran angin.

Aku sedang duduk sendirian di sebuah bangku taman yang terbuat dari tembaga. Di depanku beberapa keluarga lalu-lalang meninggalkan tawa anak-anak mereka di sela-sela angin. Ada juga pasangan kekasih dengan jemari yang saling bertaut, masing-masing merapatkan diri untuk berbagi kehangatan dengan orang terkasih.

Senyum kecut terulas tipis di bibirku. Rasanya momen-momen seperti itu sudah berlalu sangat lama. Seolah hanya hadir dalam satu fase di hidupku, lalu pergi tanpa ada arus yang membawanya kembali.

Aku menghela napas pelan sembari merapatkan mantel kelabuku, udara dingin membuat napasku menjadi kepulan asap tipis. Kupejamkan mataku sembari menyandarkan punggung lelahku ke sandaran bangku taman. Aku menikmati beragam suara samar-samar yang tertangkap oleh indera pendengaranku sampai sebuah tepukan halus membuatku tersentak.

Aku segera membuka mata dan menegakkan tubuhku. Perlu beberapa saat hingga aku benar-benar menyadari ada sosok mungil berdiri di samping kakiku. Telapak tangannya berada di atas pahaku, menepuk-nepuknya dengan gerakan pelan. Ia tak menatap ke arahku, namun dari gelagatnya aku menangkap sesuatu yang salah telah terjadi pada gadis mungil ini.

Kusentuh tangan mungilnya untuk menghentikan tepukan gadis mungil ini. Ia menoleh dan memandangiku dengan mata cokelat beningnya.

Annyeong,” aku menyapanya.

Ia masih memandangiku dalam diam. Sesaat kemudian ia nampak meringis—astaga, ia mau menangis. Aku sigap meraih tubuh kecil itu dan mendekapnya dalam pelukanku. Kuelus punggungnya yang berbalut sweater putih serta jaket merah jambu. Berkali-kali aku bergumam, “Uljima, sayang… gwenchana,” di telinganya. Hal itu terus kuulangi hingga bahunya tak lagi bergetar.

Gadis mungil berambut hitam sebahu ini telah berhenti menangis, walau sesekali masih terisak. Aku mengelus rambutnya yang lembut dan mendudukkannya di pangkuanku.

“Adik kecil, kemana ibumu?” tanyaku lembut.

Ia menatapku dan menggeleng pelan.

“Ayahmu?” tanyaku lagi.

Ia kembali menggeleng.

Aku sudah bisa membuat kesimpulan sekarang, anak kecil ini pasti terpisah dari orangtuanya. Aku mengedarkan pandanganku ke setiap jengkal taman yang dapat dijangkau oleh penglihatanku. Namun, meskipun telah berlalu beberapa saat, tak jua ada sepasang orangtua yang nampak panik mencari anaknya.

Kuperhatikan gadis mungil yang kira-kira berusia dua tahun ini. Ia duduk tenang di pangkuanku sembari memainkan ujung scarf yang kukenakan.

“Adik kecil, bagaimana kalau kita berkeliling mencari orangtu—“

“Kurasa ia menyukaimu, Nara-ya,” sebuah suara menghentikan kata-kataku.

Aku membeku di tempat karena suara itu begitu kukenali. Suara yang membekas, tak pernah hilang dalam ingatanku meskipun waktu dua tahun telah membentangkan jarak di antara kami. Pelan-pelan aku menoleh dan mendapati dirinya sedang memandangku dalam sebuah senyuman. Kim Jonghyun, dia berdiri lagi di hadapanku.

***

            Hari ini berjalan seperti untaian mimpi bagiku. Aku tak pernah mengira akan ada kejadian seperti ini tatkala memutuskan untuk jalan-jalan di taman seorang diri. Dan kini, aku sedang duduk di bangku taman bersama Kim Jonghyun. Kami mengapit seorang gadis mungil—yang kuketahui bernama Joana. Lengan Jonghyun terjulur di sepanjang sandaran bangku taman, tanpa sadar seperti tengah melindungiku dan Joana.

Tidak ada yang bicara di antara kami. Aku diam dalam kegugupan dan rasa terkejut yang enggan sirna. Sementara Jonghyun, aku tak tahu pasti apa yang sedang dia pikirkan. Namun dibalik semua itu, si kecil Joana masih saja asyik bermain dengan ujung scarf-ku.

“Jadi, bagaimana bisa?” aku memutuskan untuk buka suara lebih dulu.

Kudengar Jonghyun menghela napas sebelum menjawab. “Pernikahanku tak sampai dua bulan. Wanita itu…,” Jonghyun berhenti sesaat. “…ia tak lebih dari wanita yang sudah bersuami. Ia membohongi Ibu dan aku hanya untuk kehidupan yang lebih baik. Aku langsung meminta cerai dari Se-kyung begitu mengetahui semuanya.”

Aku dapat mencerna cerita singkat Jonghyun karena beberapa minggu yang lalu Taemin juga bercerita hal yang sama, walau tak mendetail. Namun, ada satu ganjalan di hatiku. Aku merasa ada sisi rumpang dari kilasan hidup Jonghyun dua tahun lalu. Sepertinya Jonghyun mengerti apa yang kupikirkan sehingga dia melanjutkan kata-katanya.

“Aku memilih tetap tinggal di Jepang karena tawaran sebuah perusahaan rekaman. Dan untuk menemani kesendirianku, aku mengadopsi seorang balita,” katanya sembari melirik Joana.

Aku tersenyum. Jonghyun yang kukenal tidak pernah berubah sedikitpun. Tapi mengapa kau tidak kembali dan mencoba menemuiku, Jjong?

“Aku ingin langsung kembali ke Korea, sangat ingin—terutama untuk menemuimu. Tapi kupikir, aku akan menjadi seorang penjilat ludah ulung ketika aku kembali padamu setelah semua yang terjadi. Aku berusaha untuk menata kehidupanku kembali, dan ketika aku telah yakin, aku akan menemuimu—“

“Kau sudah menemuiku,” potongku sembari menatap mata cokelatnya. Kali ini kutemui lagi ketenangan yang selalu kudapatkan saat menembus matanya.

Ne, maafkan aku, Nara-ya. Maaf karena aku begitu menyakitimu,” ucap Jonghyun dengan suara serak.

Aku menggeleng pelan. “Semuanya sudah berlalu, Jonghyun-ah,” sahutku.

Jonghyun merogoh sesuatu dari balik tasnya. Dia lalu meraih tanganku dan meletakkan seikat kayu manis di telapak tanganku. Sebelah tangannya yang besar menggenggam tanganku dengan hangat, sementara tangannya yang lain menarik tangan Joana untuk saling menggenggam.

“Kayu manis ini, bisakah kita kembali menikmatinya bersama, Nara-ya? Bisakah aku, kau dan Joana memulai semuanya dari awal?” tanya Jonghyun dengan suara tercekat, dia nampak berusaha keras mengendalikan emosinya.

Kelenjar airmataku sudah tak mampu diajak bekerja sama. Cairan sebening kristal memenuhi penglihatanku, membuat wajah Jonghyun dan Joana menjadi samar-samar. Namun, meski demikian, aku tetap bisa melihat senyum hangat penuh pengharapan dari wajah mereka berdua.

Aku menahan napas dan mengangguk sembari terisak. Jonghyun sigap menghapus airmata yang jatuh di pipiku dengan ibu jarinya. Sementara Joana bergerak naik dan memelukku erat. Aku balik memeluk Joana sambil memandang Jonghyun yang menatapku lewat matanya yang memerah.

“Aku bahkan sudah punya anak sebelum aku menikah denganmu,” bisikku.

Jonghyun tak dapat menahan raut sumringah di wajahnya. Dia terkekeh dengan mata yang berkaca-kaca.

“Aku mencintamu, seluas angkasa, Nara-ya,” ucapnya sambil mengelus kepalaku.

Jonghyun bergerak mendekat dan mengecup keningku. Dia lalu ikut bergabung dalam pelukanku dan Joana.

“Aku juga mencintaimu, Jjong, lebih dari yang kau pikirkan,” ucapku di sela pelukan Jonghyun.

Sekarang, untuk kedua kalinya, Tuhan kembali membuat jalanku dan jalan Jonghyun bersimpangan. Dan karena ini juga adalah kali kedua takdir memihak padaku, aku tak akan membiarkan takdir merenggutnya kembali. Cukup sekali saja dan kini aku siap menggoreskan tinta penuh warna di lebaran baru kehidupanku.

FIN

Ayachaan #130101

PS: Untuk keperluan cerita maaf ya aku bikin karakter Shin Se-kyung rada jahat.

Oya, tetap kritik dan sarannya aku tunggu ya, kasih tahu bagian mana yang bisa aku perbaiki ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

21 thoughts on “Forgiven”

  1. Penggambaran suasananya keren, aku suka, mendetail tapi nggak bikin bosen juga~ Waktu baca FF ini, berasa di musim yang diceritain xD

    Mmm… Ada satu typo, kata “Jonghyun” jadi “Jonghyung”.

    Nice FF! Keep writing~

    1. Makasih yaa untuk koreksinya, nanti-nanti aku usahakan lagi biar gaada typo 🙂
      Makasih juga lho untuk penggambarannya yang menurut kamu pas… aku malahan takut ini ngebosenin gak ya? Haha 😀

      Sekali lagi makasih banyak yaa Tazkia ^^

  2. Ceritanya romantis bgt :3 aku suka XD
    Tapi boleh koreksi dikit ya : terlalu tidak kecil –> tidak terlalu kecil
    itu aja typonya 😉 overall ga pengaruh kok typonya, ceritanya bagus :3

    Ditunggu karya selanjutnya eonni 😉

    1. Makasih yaa untuk koreksinya, lain kali aku usahakan gak typo lagi 😀 Makasih juga untuk suka cerita ini Yongie, kekekek

  3. Yah Sekyung cuma nongol nama doang. Kalo misalkan nongol paling tambah seru yak #DUAR! *ditabok* kke~~
    kata-kata ‘rinai hujan’ mengingatkanku sama lagunya Acha-Irwansyah. BUahakakak!
    Cakep nulisnya, aku sukaaaa dan alamak jederr sweet sekali. Meskipun agak sulit membayangkan keteduhan dan kehangatan seorang Kim Jonghyun (soalnya diotak isinya Minho semua XD) tapi kereeen. Aku masih bisa bayangin muka Jonghyun HUWAAAAAA #plakh!
    suka suka sukaaaaak. Widih, itu cewe setia banget bok sampe ga punya waktu lagi buat mengganti si Ojjong muahahaha.
    Ditunggu karya selanjutnya yaaaak XDD

    1. Haha, nggak ah si Sekyung muncul bentaran aja, ntar makin runyam ceritanya 😀
      Gagal bayangin Jjong ya? ya nggak apa-apa deh kalo diganti jadi Mino *maksa*

      Makasih yaa Reene udah suka dan ninggalin komen ^^

  4. omo thor aku kira akhirnya sad ending ternyata engga hehe. bagus thor cheritanya pas dibagian jjong bilang mau nikah walaupun sekilas tp berasa bgt haha. good luck ya . .

  5. Dalem gitu Taeminnya dsni, sok srius mungkin kali ya #dicincang.

    Melupakan emg susah ye, dan Forgiven nyampeinnya pas bgt, gak berlebihan dan gak cengeng.

    dan endingnya, bikin forgiven makin pas taste-nya.

    keep writing!

    1. Haha, si Taemin dibikin sedikit lebi dewasa nggak apa-apa ya 😀
      Makasih yaa megian untuk nangkep apa yang bisa diwakili oleh Forgiven, makasih juga untuk komennya ^^

  6. wooaah.. Mreka sweet bgt, walau d.awal agk nyesek, tp akhir.a mreka balikan lg stelah lma brpisah..

  7. Ceritanya bagus deh gk bikin bosen, tp satu,knapa setiap adegannya jonghyun yg q bayangi malah onew ya?

  8. Mmmmmm
    Mungkin karna aku yang kurang suka ff sedih. Mmmm plus penggambaran suasana, mmmm aku bisa masuk ke dalamnya, tapi memang dasarnya aku gag suka ff sad. Jadi … Ya gitu deh thor.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s